Dewi Maut (Jilid ke-28)

Yok-mo yang sejak tadi mendengarkan perbantahan itu, ingin cepat-cepat terbebas dari dua orang muda dan tua yang sama-sama tiak disenanginya itu. Dia mengangguk. “Benar, kalau obat itu palsu dan tidak mujarab, aku tentu akan segera tahu. Akupun ingin melihat apakah dia tidak membohongi orang-orang tua.”

“Kalau aku bohong, apa sukarnya bagi Lama ini untuk membunuhku?” In Hong membantah.

Kok Beng Lama merasa kalah bicara. Dia mengangguk-angguk lalu duduk bersila. “Kau kesinilah dan duduk bersila di depanku,” dia berkata dengan nada memerintah.

In Hong girang sekali dan cepat dia duduk bersila di depan kakek itu. Si kakek menarik napas panjang. Duduk berhadapan demikian dekatnya dengan dara muda yang cantik jelita ini membuat dia teringat akan puterinya dan tiba-tiba dia menangis! Tentu saja In Hong menjadi terkejut dan mengangkat muka. Melihat kakek itu menangis terisak-isak dan air matanya bercucuran, In Hong bergidik dan merasa serem. Tentu ada suatu hal yang amat hebat menimpa diri kakek sakti ini yang membuat terguncang batinnya dan membuat kakek setua itu dapat menangis mengguguk seperti ini. Karena gemblengan paksaan, In Hong menjadi scorang dara yang berhati dingin, akan tetapi pada dasarnya dia memiliki watak yang lincah, halus dan perasa seperti mendiang ibunya. Maka kini menghadapi keadaan kakek tua renta itu, tak dapat dicegah lagi air matanyapun bercucuran!

Hal ini amat menguntungkan In Hong. Kok Beng Lama yang sudah agak sinting itu, merasa seolah-olah berhadapan dengan puterinya. Dia merangkul dan mengeluh. “Anakku… ah, anakku…” Dan In Hong balas merangkul. Sejenak mereka saling berpelukan sambil menangis.

Gila…! Gendeng orang-orang kang-ouw ini…” Yok-mo yang menonton pertunjukan aneh itu menggeleng-geleng kepala berkali-kali.

“Harap… harap kauberikan ilmu itu kepadaku…” In Hong berbisik, hatinya masih terharu sekali. Hal ini adalah kakeg itu tadi menyebutnya “anakku” yang tentu saja mengingatkan dia bahwa dia telah tidak berayah ibu lagi, bahkan dia belum pernah melihat atau tidak ingat lagi bagaimana wajah ayahnya dan ibunya. Maka, mendengar kakek ini menganggap dia sebagai anaknya, tentu saja mengingatkan dia kepada ayahnya menimbulkan keharuan.

“Terimalah, anakku… terimalah… kaubuka seluruh jalan darahmu, buka pusarmu dan jangan melawan aku… aku akan memasukkan Thian-te Sin-kang kepadamu yang menjadi dasar Ilmu Pukulan Thian-te Sin-ciang…”

In Hong bersila dan “membuka” semua jalan darah dan pusarnya. Tiba-tiba kedua telapak tangan yang amat lebar dari pendeta itu menyentuh ubun-ubun kepalanya dan pusarnya. Terasa olehnya hawa yang hangat dan amat kuat mamasuki tubuhnya, berputaran di seluruh tubuh untuk kemudian berkumpul di pusar, bercampur dengan hawa sakti miliknya sendiri. Tubuhnya tergetar, kemudian menggigil dan berkelojotan. Hampir dia tidak kuat menahan, kemudian terdengar bisikan suara kakek itu, “Perlahan-lahan kerahkan tenaga dari pusar, kuasai tenaga yang meliar itu sampai berputaran di pusar, pusatkan kekuatan dan seturuh perhatianmu…”

Dengan membuta In Hong mentaati perintah ini, dan dia terus mendengarkan perintah kakek itu yang merupakan petunjuk dan teori pengendalian tenaga Thian-te Sin-kang. Hampir tiga jam mereka duduk bersila berhadapan dan akhirnya In Hong dapat menguasai tenaga sakti mujijat yang liar itu. Keadaan itu hampir sama dengan menaklukkan seekor kuda liar. Mula-mula kuda itu meronta dan melawan, meloncat dan hendak membedal, akan tetapi setelah akhirnya dapat dijinakkan, menjadi penurut dan bergerak ke mana saja menurut kemauan yang menguasainya.

Setelah membuka matanya dan wajahnya, masih pucat sekali, In Hong dengan penuh perhatian mendengarkan petunjuk-petunjuk tentang teori Thian-te Sin-ciang. Cukup ruwet teori ilmu silat ini, akan tetapi sebagai seorang gadis yang cerdas dapat menerima dan menghafal teori itu dalam waktu dua jam. Tentu saja teori itu membutuhkan latihan, akan tetapi dengan dasar tenaga sin-kang Thian-te Sin-kang yang telah dikuasainya, dia akan dapat melatih ilmu itu dengan cepat.

Kok Beng Lama bangkit berdiri dengan tubuh agak lemas dan mukanya pucat. Dia telah menggunakan banyak tenaga, bahkan kehilangan banyak sin-kang, namun hatinya puas karena anak perempuan yang seperti anaknya ini dapat menerima ilmu demikian cepatnya.

“Sudah cukup… kau telah menguasai Thian-te Sin-ciang asal kau rajin berlatih…”

Hati In Hong masih diliputi keharuan. Dia tadi merasa betapa kakek itu menurunkan ilmu kepandaiannya penuh kasih sayang seperti kepada anaknya sendiri. Dan, memang demikianlah keadaannya. Andaikata tidak ada kasih sayang ini, kiranya tidak mudah untuk menerima penyaluran tenaga mujijat seperti Thian-te Sin-kang tadi. Maka kini In Hong menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu sambil berkata, “Locianpwe, teecu menghaturkan banyak terima kasih kepada locianpwe.”

“Hushh, ingat. Kita bukan guru dan murid, bukan apa-apa, bukan sanak bukan kadang bukan tidak saling mengenal. Hayo cepat kauobati muridku.”

In Hong tidak berani, bersikap kasar lagi. Dia mengangguk, lalu mengeluarkan obat penawar Siang-tok-swa, menghampirl Lie Seng dan memeriksa. Diam-diam dia menyesal sekali atas perbuatan gurunya yang terlalu kejam. Anak ini terkena Siang-tok-swa di dada, muka dan perutnya! Cepat dia menaruhkan obat bubuk yang dicampur air dan diborehkan ke tempat-tempat yang terluka dan menghitam itu, kemudian dia memasak sebungkus obat lalu obat itu diminumkannya kepada Lie Seng. Diam-dam dara inipun kagum bukan main karena sejak tadi dia tidak mendengar anak itu mengeluh sedikitpun! Benar-benar seorang bocah yang luar biasa dan sudah patut menjadi murid seorang sakti seperti pendeta Lama itu.

Sejam kemudian, hari sudah mulai sore dan Yok-mo memeriksa keadaan Lie Sang. Dia mengangguk-angguk. “Lama, kau percayalah. Obat boreh dan obat minum itu benar-benar manjur sekali dan agaknya memang khusus dibuat untuk mengobati luka karena Siang-tok-swa. Muridmu sudah hampir sembuh dan dalam waktu dua hari saja kurasa dia sudah akan terbebas dari pengaruh racun.”

Kok Bang Lama tertawa girang sekali. “Ha-ha-ha, tidak percuma kalau begitu aku menyerahkan ilmu kepadamu, nona. Ha-ha-ha!”

In Hong lalu menyerahkan obat untuk Lie Seng kepada Yok-mo, kemudian dia berpamit setelah menjura kepada Yok-mo dengan ucapan terima kasih, kemudian memberi hormat kepada Kok Beng Lama sambil berkata, “Biarpun teecu bukan murid locianpwe, namun teceu berjanji bahwa Ilmu Thian-te Sin-ciang tidak akan teecu pergunakan secara sembarangan dan akan merupakan ilmu simpanan teecu. Sekali lagi teecu menghaturkan terima kasih.”

“Ha-ha-ha, kalau kaupergunakan dengan sembarangan, apa sukarnya bagiku untuk mencarimu dan mencabutnya kembali berikut nyawamu? Ha-ha-ha!”

In Hong menjura lalu membalikkan tubuhnya dan berkelebat lenyap dari tempat itu. Yok-mo bengong dan menggeleng-geleng kepala. “Nona itu dahsyat bukan main, sinar dingin di wajahnya menunjukkan dendam kebencian yang mendalam. Kini ditambah ilmu pemberianmu, Lama, sama dengan memberi sayap kepada seekor harimau.”

Akan tetapi Kok Beng Lama tidak memperhatikan ucapan itu. Hatinya terlampau girang melihat Lie Seng tertolong karena dia telah menganggap bocah itu sebagai muridnya. Memang Kok Beng Lama telah berobah sekali dibandingkan dengan wataknya sebelum dia mengalami pukulan batin yang hebat. Dulu tidak mudah bagi siapapun untuk menjadi murid kakek sakti ini. Akan tetapi kini, begitu bertemu dengan Lie Seng, tanpa tanya-tanya dulu apakah bocah itu mau atau tidak menjadi muridnya, tanpa menyelidiki lebih dulu siapa bocah itu dan anak siapa, dia sudah begitu saja menganggap bocah itu sebagai muridnya! Dan tanpa menanyakan nama In Hong, sama sekali tidak mengenalnya, dia sudah begitu saja menyerahkan ilmu yang merupakan satu di antara ilmu-ilmunya yang paling rahasia dan ampuh!

Ah, untung engkau keburu datang, lihiap!” pemuda murid Bu-tong-pai itu berseru dengan suara lega. “Aku khawatir dia sudah dalam sekarat…”

In Hong terkejut mendengar sambutan murid Bu-tong-pai itu dan cepat dia mengikuti masuk dalam kuil tua. Dan benar saja, orang yang tersiksa itu rebah dengan mata tertutup, muka kehitaman dan napas tinggal satu-satu. Dua orang murid Bu-tong-pai yang menjaga di situ juga kelihatan girang melihat datangnya penolong mereka. Cepat mereka itu membantu In Hong mencari dan memasak air, kemudian dengan paksa mereka membantu In Hong mencekokkan obat yang dibawa oleh In Hong itu ke dalam perut pemuda yang sekarat melalui mulutnya yang dibuka dengan paksa.

Mereka berempat menunggu dengan hati tegang, ingin menyaksikan bagaimana pengaruh obat ymg didapatkan dari Yok-mo yang terkenal itu. Satu jam mereka menanti penuh ketegangan, karena mereka seolah-olah melihat pemuda itu bergulat dengan elmaut. Detik jantung pemuda itu amat lemah dan napasnya Senin Kemis, kadang-kadang menggeliat-geliat seperti orang dalam sekarat.

Tiba-tiba terdengar suare berkeruyuk dari perut Bun Houw. Empat orang muda itu memperhatikan. Suara berkeruyuk itu sambung-menyambung dan perut pemuda itu bergerak-gerak, terus bergerak dan kini naik ke dada. Tiba-tiba pemuda itu muntah dan cepat sekali In Hong melompat dan membantu pemuda itu duduk sehingga pemuda itu dapat muntah ke pinggir dalam keadaan setengah rebah miring. Lengan In Hong terkena muntahan yang ternyata adalah darah hitam yang berbau busuk!

Tiga orang murid Bu-tong-pai itu benar-benar merasa kagum sekali melihat betapa tekun den penuh perhatian In Hong merawat Bun Houw. Padahal wanita sakti penolong mereka itu sama sekali tidak mengenal pemuda itu, seperti juga tidak mengenal mereka. Juga mereka melihat betapa sinar mata yang biasanya dingin itu menjadi berseri ketika melihat bahwa pernapasan Bun Houw kini menjadi lebih tenang dan detik jantungnya lebih kuat, tanda bahwa obat itu memang manjur sekali.

“Dia tertolong, dan kalian bertiga boleh pergi sekarang,” kata In Hong setelah melihat Bun Houw tidur nyenyak dengan napas tenang dan muka pemuda itu tidak begitu menghitam lagi.

Dua orang gadis Bu-tong-pai itu memandang dengan mata terharu dan pemuda yang menjadi suheng mereka memandang kagum.

“Lihiap, kami akan kembali ke Bu-tong-pai untuk melapor kepada suhu kami. Setelah menerima pertolongan lihiap dan berkumpul beberapa lama, mustahil kalau kami tidak memperkenalkan diri. Saya bernama Sim Hoat, ini adalah sumoi Lim Soan Li, dan dia itu adalah sumoi Coa Gin Hwa. Kami masih tinggal di Bu-tong-san karena belum tamat belajar dari suhu kami, ketua Bu-tong-pai Thian Cin Cu Tojin. Sudilah kiranya lihiap memperkenalkan nama, karena tanpa ada pertolongan lihiap, kami bertiga tentu sudah tidak hidup lagi. Kami berhutang budi dan tentu suhu akan marah kalau kami tidak dapat memberi tahu kepada beliau siapa lihiap yang telah menyelamatkan nyawa kami.”

In Hong mengerutkan alisnya. Sudah berkali-kali dia mengalami bahwa jika orang mengenalnya sebagai murid ketua Giok-hong-pang, orang akan menggolongkan dia sebagai orang sesat atau golongan hitam. Dan merasa malu untuk digolongkan dengan kaum sesat yang selalu mengumbar nafsu tidak segan-segan melakukan kejahatan. Tidak, dia bukan orang macam itu!

“Terima kasih atas kebaikan sam-wi. Akan tetapi aku tidak punya nama dan peristiwa kecil itu tidak perlu mengikat kita. Sebaiknya kita melupakan saja hal yang telah lalu dan aku tidak pernah menolong sam-wi. Baik ikatan budi maupun ikatan dendam hanya merepotkan hidup saja. Pergilah dan di antara kita tidak ada hubungan apa-apa lagi.”

Tiga orang murid Bu-tong-pai itu saling pandang dan menarik napas panjang. Banyak terdapat orang sakti yang berwatak aneh di dunia ini, akan tetapi penolong mereka ini masih begini muda, lebih muda dari mereka, aken tetapi berwatak begini dingin dan aneh, seolah-olah tidak suka berhubuhgan dengan manusia lain, akan tetapi yang jelas sanggup mengorbankan apa saja untuk menolong orang lain yang sama sekali belum dikenalnya. Seorang dara yang luar biasa! Apalagi bagi Sim Hoat pemuda Bu-tong-pai ini, dia sekaligus sudah jatuh cinta kepada dara luar biasa yang selain sakti juga amat cantik jelita ini! Terpaksa mereka lalu berpamit, memberi hormat meninggalkan kuil dalam hujan lebat itu untuk pergi ke Bu-tong-pai dan melaporkan kepada suhu mereka tentang kematian suheng mereka di Lembah Bunga Merah dan tentang kegagahan mereka membalas dendam.

Setelah mereka itu pergi, In Hong merawat Bun Houw seorang diri dengan tekun dan penuh perhatian. Setiap kali dia mencekokkan pel hitam yang dicampur air matang ke dalam perut pemuda itu, Bun Houw muntahkan darah hitam. Sampai dua hari pemuda itu terus muntah setiap habis makan pel, akan tetapi setelah dicekoki pel yang ketujuh, dia tidak muntah lagi dan mukanya sudah menjadi bersih dari warna hitam! Pada hari ketiga, mukanya mulai agak kemerahan dan kini napasnya sudah teratur sehat dan detik jantungnya juga sudah menjadi kuat. Tentu saja In Hong menjadi girang sekali. Tiga hari tiga malam lamanya dia tidak tidur maka kini saking lelahnya, dia tertidur menyandar tembok tidak jauh dari Bun Houw yang masih rebah tidak sadar di atas lantai.

Sehabis memberi minum pel yang kedelapan di siang hari, In Hong tertidur sambil duduk bersandar tembok. Saking lelahnya, dia telah tidur setengah hari dan siang telah terganti senja hampir golap, namun dia masih juga belum bangun. Di dalam tidurnya In Hong bermimpi. Dia diajak berjalan-jalan di dalam sebuah taman bunga yang indah, penuh bunga-bunga mekar semerbak harum, tangannya digandeng oleh Bun Houw den dia mandah saja. Bahkan dia merasakan suatu kebahagiaan yang belum pernah dialami sebelumnya. Wajah Bun Houw berseri-seri, demikian tampan, sikapnya demikian gagah dan melindungi. Dia sudah begitu hafal akan wajah Bun Houw yang setiap saat dipandangnya itu, hafal akan garis dan lekak-lekuk wajah itu, dan kini wajah pemuda itu demikian dekat dengan wajahnya, mata yang bersinar-sinar tajam itu memandang mesra, seolah-olah membelainya dengan pandang mata, dan senyum yang menawan itu khusus ditujukan kepadanya. Dia menjadi malu, perasaan malu yang luar biasa, perasaan malu dan jengah yang amat mengguncang hatinya, mengusap kalbu dan mendatangkan perasaan bahagia yang sukar dituturkan dengan kata-kata. Akan tetapi tiba-tiba pemude itu mengeluh, In Hong terkejut dan… dia tersadar, membuka mata, memandang ke kenan, ke arah pemuda yang tadi masih rebah tak sadar, karena sebelum tidur seluruh perhatiannya tercurah kepada Bun Houw, maka biarpun dia tidur nyenyak sekali, sedikit saja pamuda itu mengeluh sudah cukup untuk menyadarkannya.

Kenapa kau tidak membunuhku? Bunuh saja aku, tidak ada gunanya kausiksa dan kaubujuk. Kau… perempuan hina dina, perempuan keparat jahanam!” Pemuda itu memaki-maki, pandang matanya penuh kebencian ditujukan ke arah In Hong. Di dalam ruangan kuil itu sudah mulai gelap.

In Hong lalu meloncat bangun, menjenguk keluar jendela butut untuk mengira-ngira waktu. Cuaca sudah mulai gelap, sudah tiba waktunya pemuda itu menelan pel hitam kesembilan, pal yang terakhir dan dia girang sekali karena pemuda itu kini sembuh, buktinya sudah sadar dan sudah penuh semangat hidup kembali, sudah dapat marah-marah dan memaki-maki! Dia tahu bahwa pemuda itu mengira dia seorang di antara para musuh-musuh yang menyiksanya, maka makian itu tidak menyakitkan hati, bahkan menggelikan.

Tanpa thenjewab, In Hong mengambil air matang dari panci butut di sudut ruangan, menuangkan ke dalam mangkok, mengambil obat pel terakhir dan menghampiri Bun Houw.

Seperti biasa, tanpa bicara apa-apa dia meletakkan mangkok di atas lantai, menggenggam pel di tangan kanan dan lengan kirinya menyangga punggung pemuda itu dan diangkatnya pemuda itu untuk bangkit setengah duduk. Akan tetapi Bun Houw yang dirangkul itu meronta. “Aku tidak sudi…! Lepaskan, kau pemmpuan hina…!” Pemuda itu menggerakkan tangannya hendak memukul, akan tetapi dia mengeluh dan kedua lengannya tergantung lemas karena luka di kedua pundaknya masih belum sembuh benar sehingga sedikit gerakan saja membuat tulang-tulang pundaknya seperti ditusuk-tusuk rasanya.

“Tenanglah, engkau harus menelan pel sebutir lagi dan engkau akan sembuh sama sekali. Buka mulutmu, telah pel ini dan minum air ini.”

Akan tetapi Bun Houw menggeleng kepalanya dan memandang wajah yang cantik itu dengan sinar mata penuh kebencian dan kemarahan. “Perempumn hina, percuma saja Thian mengaruniai padamu wajah secantik ini, temyata engkau hanya seorang manusia berhati iblis, seperti ular beracun, hamba dari nafsu yang cabul!” Bun Houw mengira bahwa gadis yang amat cantik ini tentu saudara seperguruan dari Ai-kwi dan Ai-kiauw.

Wajah In Hong menjadi merah sekali. Kalau saja bukan pemuda ini yang memakinya seperti itu, kalau saja dia tidak tidak tahu benar bahwa pemuda ini salah sangka, kalau saja dia masih seperti In Hong beberapa hari yang lalu, makian itu sudah cukup baginya untuk membunuh laki-laki ini! Huh, laki-laki berani memaski dia secara demikian menghina! Akan tetapi kini dia tahu betul bahwa pemuda ini bukanlah laki-laki perusak wanita, bahkan sebaliknya, dia mempertahankan diri terhadap bujuk rayu wanita-wanita cabul dan hina. Makiannya itu hanya menunjukkan betapa pemuda ini di saat terakhir pun masih tetap tidak sudi melayani bujuk rayu itu, masih tetap mempertahankan kegagahannya dengan menentang maut! Makin kagumlah hati In Hong.

“Orang she Bun, engkau salah kira…” Dia berkata lirih. “Engkau sudah bukan tawanan lagi, dan aku hanya membantumu menelan pel kesembilan ini yang telah menyelamatkan nyawamu dari ancaman racun kelabang hitam.”

Bun Houw mendengarkan suara ini dan matanya perlahan-lahan terbuka lebar. Dia memandang wajah itu, yang tidak begitu jelas karena cuaca yang mulai gelap, dan dia memandang ke sekeliling dan mendapat kenyataan bahwa dia berada di sebuah ruangan kuil yang rusak.

“Kau… kau… siapakah…? Kau… bukan… seorang di antara mereka…?”

Ing Hong tersenyum dan giginya yang putih sempat berkilau di dalam gelap. Dia menggeleng kepalanya. “Telanlah dulu pel ini, dan minum air di mangkok ini…” katanya lirih.

Bun Houw masih bingung, akan tetapi kini mulailah kesadarannya kembali. Siapapun adanya wanita ini, jelas bahwa wanita ini tidak berniat buruk terhadap dirinya, bukan meracuni ataupun merayu. Bukan demikian sikap orang merayu, biarpun lengan wanita ini merangkul punggungnya. Dan kalau wanita ini hendak membunuhnya atau meracuninya, bukan demikian pula sikapnya. Dan lagi, setelah mengalami siksaan seperti itu, apalagi yang ditakutinya. Dia lalu membuka bibirnya menerima pel yang dimasukkan ke dalam mulutnya, pel yang berbau sedap dan terasa pahit, kemudian menelan pel itu bersama air dari mangkok yang ditempelkan di bibirnya oleh wanita itu. Kemudian wanita itu merebahkan dia kembali ke atas lantai.

Tanpa bicara In Hong mengembalikan mangkok kosong ke sudut ruangan, lalu membuat api dari kayu-kayu kering di sudut ruangan itu, agak jauh dari Bun Houw. Dengan alat seadanya yang disediakan oleh murid-murid Bu-tong-pai, dia memasak bubur dan semua pekerjaan ini dilakukan dengan mulut tertutup, biarpun dia maklum bahwa sepasang mata selalu mengikuti setiap gerakannya, memandanginya di bawah penerangan api unggun yang kemerahan. Sepasang mata yang memandang penuh keheranan, penuh pertanyaan dan keraguan. Sepasang mata itu terus memandanginya seperti mata seorang anak kecil memandang orang yang baru pertama kali dijumpainya, ketika In Hong menyuapkan bubur ke mulut pemuda itu. Akhirnya sepasang mata itu tertutup kembali, tertidur nyenyak.

In Hong lalu makan pula, makan bubur dengan sayur asin sederhana sebagai lauknya, akan tetapi karena hatinya lega dan perutnya lapar, rasanya belum pernah dia makan selezat itu. Kemudian dia pun tidur tidak jauh dari Bun Houw, tidur dengan nyenyak tanpa mimpi semalam suntuk.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali In Hong sudah bangun. Tubuhnya terasa segar dan cepat dia keluar dari kuil, kini berlatih ilmu yang baru saja dipelajarinya dari pendeta Lama raksasa itu. Dia bersila dan mengumpulkan hawa murni, menggerak-gerakkan sin-kang yang sudah terkumpul di dalam pusar, melatih perlahan-lahan sehingga “kuda liar” yang amat kuat itu tunduk kepada kemauannya dan dia dapat mengalirkan Thian-te Sin-kang itu sampai ke ujung-ujung jari tangannya, akan tetapi belum dapat sepenuhnya.

Setelah merasa cukup berlatih, dia lalu pergi ke sumber air di tengah hutan, menanggalkan pakaiannya dan mandi sampai bersih. Segar bukan main rasanya, lenyap seluruh sisa kelesuan dan kelelahan tubuhnya. Sambil berdendang In Hong mencuci pula rambutnya yang dianggapnya tentu kotor. Tiba-tiba dia berhenti di tengah-tengah dendangnya dan mukanya teran panas. Dia menengok ke kanan kiri, menarik napas lege karena tidak ada orang lain yang melihat dan mendengarnya, cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya membersihkan seluruh tubuh lalu memakai kembali pakaiannya, duduk memeras air dari rambutnya yang hitam panjang, mengurai rambut itu agar cepat kering sambil melamun.

Baru sadar dia akan keadaan dirinya sendiri. Dia berdendang? Belum pernah dia melihat dirinya sendiri seperti ini! Sejak kecil dia tidak pernah bernyanyi, sungguhpun dia tahu bahwa dia pandai menirukan semua nyanyian yang didengarnya dinyanyikan oleh para anggauta Giok-hong-pang dan bahwa suaranya cukup merdu. Tidak pernah selama hidupnya dia merasa begini gembira, begini bebas, begini lapang dadanya. Belum pernah selama hidupnya dia melihat pagi seindah itu, secerah itu sinar keemasan matahari pagi, semerdu itu suara kicau burung dan gemericik air dari sumber air, secantik itu daun-daun hijau terhias embun dan bunga-bunga beraneka warna, senyaman itu tarikan napasnya, membawa bau sedap pohon-pohonan dan keharuman bunga-bunga. Mengapa begini? Mengapa setelah melihat pemuda she Bun… dia terkejut dan cepat dia meloncat bangun ketika teringat kepada pemuda itu. Tentu telah bangun pemuda itu! Seperti orang takut kehilangan sesuatu yang amat berharga, In Hong meloncat den berlari cepat ke arah kuil, memegangi rambutnya yang masih terurai lepas dan terbang melambal-lambai di belakang tubuhnya ketika dia berlari cepat.

Dengan berindap-indap dia memasuki kuil, seolah-olah khawatir kalau mengejutkan pemuda itu dan dia menarik napas lega ketika melihat betapa Bun Houw masih rebah terlentang di atas lantai. Dia lalu duduk dengan perlahan, menyanggul rambutnya yang menjadi agak kering karena dibawa lari tadi, sambil menatap wajah pemuda itu. Betapa hafal dia sudah akan wajah yang tampan dan gagah itu, wajah agak kurus dan pucat karena banyak menderita dan hanya makan bubur sedikit setiap hari selama lima hari ini. Akan tetapi warna gelap sudah lenyap sama sekali dan kini wajah itu kelihatan makin tampan, ada warna merah sedikit pada pipi den bibir itu, tanda bahwa dia sudah sehat benar, hanya tinggal memulihkan tenaga saja. Hati In Hong dilanda rasa iba melihat pakaian yang kotor itu, rambut yang kusut dan pundak yang masih dibalut. Ada bekas-bekas darah pada pakaiannya dan keadaan pemuda itu sungguh mengharukan. Pakaian itu perlu dicuci, pikir In Hong yang sudah membayangkan betapa dia akan dengan senang hati mencucikan pakaian pemuda itu.

Tiba-tiba In Hong menghentikan lamunannya dan memandang penuh perhatian. Jantungnya berdebar tegang. Pemuda itu menggeliat, tubuhnya yang kuat seperti tubuh seekor harimau itu menggeliat dan menegang, akan tetapi ketika kedua lengannya direnggangkan, dia menahan rintihan dan membuka mata karena kedua pundaknya terasa nyeri.

Begitu membuka mata, seperti orang yang baru sadar dari mimpi buruk, Bun Houw bangkit duduk, menggigit bibir ketika merasa pundaknya kembali nyeri. Dia menoleh ke kanan kiri, lalu ke arah kaki tangan dan pundaknya dan kini dia menatap wajah In Hong yang duduk dengan tenang-tenang saja itu dengan mata penuh selidik. Seperti teringat sebuah mimpi, Bun Houw mengenal wajah ini yang pernah dilihatnya secara remang-remang, lalu dia menoleh ke sudut di mana terdapat panci dan mangkok, ke sudut lain di mana terdapat bekas api unggun dan dia teringat.

“Kau… eh, nona… apakah yang telah terjadi dengan diriku? Di mana aku sekarang ini berada…?” Tanyanya, kesadarannya membuat dia bingung melihat betapa dia yang tadinya ditawen dan disiksa oleh dua orang musuh besarnya itu tahu-tahu bisa berada di sini terbebas dari belenggu dan tubuhnya terasa sehat sama sekali, kecuali rasa nyeri pada kedua tulang pundaknya yang masih terbalut.

Dengan sikap dingin, bukan dingin sewajarnya seperti yang sudah menjadi sikapnya sejak kecil menurut gemblengan gurunya, melainkan sekali ini dingin buatan, seperti orang acuh tak acuh, seperti orang memandang rendah, In Hong menjawab lirih, “Di dalam sebuah kuil rusak…” Lalu dia menunduk dan merapikan bajunya, kemudian merapikan rambutnya yang tadi digelung, dan dipasangnya tusuk konde burung hong kumala di rambutnya.

Bun Houw tentu saja melihat betapa cantik jelitanya dara yang duduk di depannya itu, akan tetapi pada saat itu dia lebih memperhatikan keadaan luar kuil dari jendela ruangan itu yang terbuka karena hatinya masih diliputi keheranan besar. Dia melihat pohon-pohon lebat dan tahulah dia bahwa kuil tua ini berada di tengah hutan.

“Hemmm… di dalam sebuah kuil tua di tengah hutan. Dan… bagaimana aku bisa berada di sini? Bukankah tadinya aku berada dalam kamar tahanan di Lembah Bunga Merah?”

In Hong tidak menjawab, hanya memandang dan dua pasang mata saling bertemu, sejenak bertaut dan akhirnya In Hong menundukkan mukanya. Melihat dara itu tidak menjawab, timbul pula kecurigaan Bun Houw dan dia menduga-duga. Apakah dara ini murid Hui-giakang Ciok Lee Kim? Akan tetapi tidak mungkin, karene jelas bahwa dara ini memperlakukan dirinya dengan baik, memberi obat dan menyiapkan bubur!

“Ah, tentu ada yang menolongku keluar dari tempat itu, betapapun anehnya, hal itu mengingat bahwa aku tersiksa dan dibelenggu, kedua tulang pundakku dikait dengan besi kaitan…” Tiba-tiba dia teringat akan bayangan rahasia mimiliki gerakan cepat luar biasa, yang telah menyelamatkan dan membebaskan tiga orang tawanan Lembah Bunga Merah, yaitu tiga murid-murid Bu-tong-pai. “Nona, apakah engkau yang telah membebaskan tiga orang anak murid Bu-tong-pai dari Lembah Bunga Merah?” Dia memandang tajam penuh selidik.

In Hong mengangkat muka, ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata penuh selidik itu, dia merasakan sesuatu yang aneh pada jantungya. Dia berdebar malu, dan… bangga! Sungguh dia hampir tidak mengenal diriya sendiri, perasaannya sendiri, mengapa sekarang menjadi begini aneh? Dia hanya mengangguk dan menunduk lagi.

Kalau begitu… agaknya engkau pula yang telah menolong aku, nona?” pertanyaan ini diajukan oleh Bun Houw dengan pandang mata penuh keheranan, hampir tidak percaya. Mana mungkin seorang gadis muda seperti ini, yang begini cantik jelita, begini pendiam dan agaknya pemalu, dapat menolong dia yang sudah terbelenggu dan dikait tulang punggungnya dari tangan lima orang sakti dan anak buah Lembah Bunga Merah?

Akan tetapi kembali dara itu mengangguk!

Hening sejenak karena Bun Houw terlalu heran dan terkejut sehingga sampai lama dia hanya bengong saja memandang wajah dara itu. Kalau yang menolongnya itu gurunya, Kok Beng Lama misalnya, atau ayahnya dan ibunya sendiri, masih tidak terlalu aneh. Akan tetapi dara ini! Dan bukan hanya menolongnyg keluar dari tahanan yang berbahaya itu, malah sudah menyembuhkannya, padahal dia masih ingat betul betapa dia tersiksa hebat oleh rasa nyeri dan tahu bahwa dia keracunan, bahkan menurut Hui-giakang Ciok Lee Kim dia hanya dapat bertahan hidup tiga hari saja! Buktinya sekarang dia sudah sembuh! Gadis ini pulakah yang menyembuhkannya? Tiba-tiba dia teringat dan cepat Bun Houw bangkit berdiri ketika dia melihat dara itu yang agaknya merasa tidak enak dipandanginya terus seperti itu telah bangkit berdiri di dekat jendela, memandang keluar, membelakanginya.

“Kalau begitu… aku telah kautolong, nona. Kau telah menyelamatkan nyawaku…! Betapa hebat dan besar budimu terhadap diriku, nona. Bagaimana aku harus mengatakan terima kasihku?” Kata Bun Houw gagap karena hatinya terharu, tahu betul dia betapa bahayanya menolong dia dari lembah maut itu, bahaya yang hanya dapat ditempuh dengan taruhan nyawa.

“Mengapa bingung-bingung?” In Hong menjawab tanpa menoleh. “Sudah saja jangan menyatakan terima kasih, aku tidak membutuhkan itu…”

Bun Houw menjadi makin bingung. Sikap gadis ini sungguh aneh. Melihat budinya yang demikian besar, jelas bahwa dara ini adalah seorang yang berhati milia, akan tetapi mengapa sikapnya demikian dingin? Jangan-jangan ada maksud tertentu di balik pertolongannya itu! Akan tetapi tak mungkin…!

“Sudikah engkau menceritakan bagaimama engkau dapat membebaskan aku dari tahanan itu, nona?”

In Hong membalikkan tubuhnya. Karena dia berdiri miring, sinar matahari yang menerobos masuk dari jendela tua itu menimpa separuh mukanya dan kelihatan cantik bukan main. Rambut yang baru saja dicuci itu berkilauan, anak rambut banyak yang bergumpal-gumpal kacau dan awut-awutan di sekitar dahi, pelipis dan leher. Manisnya sukar dilukiskan!

“Apa yang dapat diceritakan? Aku melihat engkau ditawan dan disiksa, lalu aku menggunakan kesempatan selagi lima orang sakti itu tidak menjagamu, aku merobohkan semua penjaga, anak buah Lembah Bunga Merah, lalu membawamu ke sini.” Kata-kata yang keluar dari mulut dara itu begitu bersahaja, seolah-olah menceritakan hal yang biasa saja, demikian penuh kerendahan hati sehingga Bun Houw menjadi makin terheran-heran dan kagum.

“Akan tetapi… apakah tidak ada di antara mereka yang merintangimu?”

In Hong mengangguk. “Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw menghadangku, akan tetapi aku dapat melewati mereka dengan selamat.”

Bun Houw terbelalak. Kakek den nenek pertapa itu lihai bukan main, dan tentu dara ini memanggulnya ketika melarikan dia, namun toh dapat membebaskan diri dari mereka. Bukan main!

Cepat dia menjura dengan penuh hormat yang dibalas oleh In Hong dengan kaku dan sembarangan. “Ah, kiranya aku berhadapan dengan seorang pendekar wanita yang amat lihai! Sungguh beruntung sekali, karena tanpa pertolonganmu aku tentu tewas di tangan mereka. Terimalah ucapan terima kasihku yang sedalam-dalamnya, nona.”

Melihat pemuda itu kembali menjura dengan hormat, In Hong membalas dan berkata. “Sudah kukatakan, aku tidak membutuhkan terima kasih.”

“Dan aku telah keracunan, Toat-beng-kauw Bu Sit menusukkan jarum dengan racun kelabang hitam di tengkukku, sakitnya bukan main, seperti ribuan ekor semut menggigit dari dalam tubuhku, sampai aku tidak tahan… dan… aku tidak berdaya, tulang pundakku dikait baja pengait dan Hui-giakang Ciok Lee Kim mengatakan bahwa aku hanya dapat hidup tiga hari saja. Akan tetapi sekarang…” Bun Houw melihat kaki tangan dan pundaknya, “tidak ada bekas-bekasnya lagi! Agaknya engkau pula yang telah menyembuhkan aku dari ancaman racun kelabang hitam itu, nona?”

“Bukan aku, melainkan Yok-mo. Aku pergi ke puncak Gunung Cemara di mana tinggal Yok-mo, ahli obat gila. Aku memaksa dia memberikan obat untukmu dan ternyata kau sembuh.”

“Dan nona meninggalkan aku di sini ketika pergi mencari obat?”

“Tidak, tiga anak murid Bu-tong-pai menjagamu di sini. Setelah aku kembali membawa obat, baru mereka pulang ke Bu-tong-pai.”

“Aihhhh… dua kali engkau menyelamatkan nyawaku, nona!” Kembali Bun Houw menjura dengan terheran-heran dan kagum sekali.

“Sudahlah, capek aku kalau terus-mencrus membalas penghormatanmu!” In Hong mengomel dan cemberut, akan tetapi sebetulnya belum pernah dia merasa demikian girang hatinya.

Sungguh hebat… sunguh mengherankan sekali… engkau yang masih begini muda… bolehkah aku mengetahui namamu yang mulia dan terhormat, nona?”

“Hemm, pertemuan antara kita hanya kebetulan saja. Aku hanya tahu engkau seorang she Bun, dari percakapan mereka di Lembah Bunga Merah. Biarlah aku mengenalmu sebagai orang she Bun, dan engkau tidak perlu mengetahui namaku…”

“Aih, mengapa begitu, nona?” Bun Houw bertanya dengan heran lagi, dan diam-diam diapun tidak ingin memperkenalkan namanya. Dia tahu betapa bahayanya kalau namanya dikenal orang, apalagi kalau sampai dikenal oleh Lima Bayangan Dewa, sedangkan nona jelita ini begini aneh dan penuh rahasia. “Habis, bagaimana aku harus mengingatmu, harus memanggilmu, kalau aku tidak tahu namamu, nona?”

In Hong tereenyum. “Jangan mengingat, jangan memanggil…”

Melihat sikap yang dingin, kata-kata yang singkat ini, Bun Houw menjadi khawatir sekali kalau-kalau penolongnya itu marah. Maka dia lalu membelokkan percakapan dan dia bertanya, “Aku sudah tidak mempunyai harapan ketika ditusuk jarum beracun itu, akan tetapi buktinya aku sembuh, sungguh hebat obat itu, bagaimana macamnya dan bagaimana pula cara kerjanya ketika engkau mengobatiku, nona?”

“Aku menerima sembilan butir pel hitam dari Yok-mo. Ketika kau menelan pel pertama sampai keenam, setiap kali menelan pel hitam itu kau muntah darah hitam yang berbau busuk, akan tetapi mulai dengan pel ketujuh engkau tidak muntah lagi.”

“Aihh… sungguh menjijikkan… akan tetapi mengapa lantai ini bersih?”

“Aku sudah membersihkannya setiap kali kau muntah…”

“Ahhh…! Dan hona merawatku, menjagaku, memberi obat, menyuapkan bubur selama tiga hari tiga malam… dan…”

Serasa hampir meledak jantung di dalam dada In Hong melihat pemuda itu memandangnya dengan mata terbelalak penuh keharuan, penuh rasa syukur dan terima kasih.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: