Dewi Maut (Jilid ke-30)

Pada masa itu, semenjak tewasnya Timur Leng yang amat terkenal di barat, yaitu pada tahun 1404, hubungan dagang dengan Negara Iran dan lain negara barat dapat dilakukan melalui darat. Oleh karena itu, maka perkembangan armada Kerajaan Beng dipandang tidak begitu perlu lagi dan perdagangan melalui lautan dilakukan oleh bangsa-bangsa lain, yaitu bangsa kulit putih dan Jepang. Pemerintah Beng hanya menerima barang-barang ini di pantai-pantai sehingga banyak timbul kota-kota besar di pantai lautan yang makin lama menjadi makin ramai dengan perdagangan dengan bangsa-bangsa asing ini. Betapapun juga, bangsa-bangsa asing itu yang masih terkesan oleh kebesaran den kekuatan bala tentara yang dahulu dipimpin oleh Panglima The Hoo dan para pembantunya, tidak ada yang berani bermain gila atau mengacau secara berterang, apalagi karena perdagangan mereka mendatangkan banyak untung, yaitu dengan mengangkut rempah-rempah dan hasil bumi lain dari pedalaman, serta menjual barang-barang luar negeri yang masih merupakan benda-benda aneh di masa itu.

Di pantai-pantai selatan dan timur, banyak kota-kota dan dusun-dusun pelabuhan yang menjadi ramai, setiap hari didatangi perahu-perahu asing yang membawa barang-barang dagangan dan pajak mereka cukup dengan pemberian-pemberian terhadap para pembesar setempat.

Kota Yen-tai merupakan sebuah kota pelabuhan yang ramai di pantai Lautan Po-hai yang banyak disinggahi kapal-kapal dari luar negeri. Banyak terdapat pedagang-pedagang di temput ini, di kotanya banyak pula berkeliaran orang-orang asing yang rambutnya beraneka warna, demikian pula matanya, ada yang berwarna biru, keemasan, dan kuning muda rambutnya, dan mata mereka berwarna biru atau coklat. Tidak ada di antara mereka yang berambut dan bermata hitam. Pakaian mereka juga beraneka warna, dan mereka ini adalah pekerja-pekerja kapal atau pedagang-pedagang yang datang bersama kapal-kapal yang berlabuh, ada pula yang menetap di kota itu sebagai pedagang. Akan tetapi jarang kelihatan wanita bangsa asing, semuanya pria, tua dan muda, dengan muka penuh brewok dan gaya mereka yang bagi penduduk setempat tampak kasar dan biadab! Ada pula orang-orang yang muka serta kulitnya sama dengan pribumi, akan tetapi tubuh mereka pendek-pendek dan pakaian mereka agak berbeda. Mereka ini adalah orang-orang Jepang yang terdiri dari banyak pulau-pulau

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali keadaan Yen-tai sudah ramai karena semalam banyak kapal asing berlabuh di pantai. Pagi-pagi sudah tampak kesibukan di kota itu, ada yang menurunkan barang dari kapal-kapal dan ada pula yang menaikkan rempah-rempah dan hasil-hasil bumi lainnya, juga barang-barang kerajinan dari pedalaman, terutama sutera dan barang-barang ukiran, yang serba indah dan mahal.

Di antara banyak sekali orang yang beraneka macam bahasanya, bermacam pula pakaiannya, terdapat seorang pemuda yang berusia kurang lebih dua puluh satu tahun, bertubuh tinggi tegap dan bersikap gagah namun amat sederhana gerak-gerik dan pakaiannya yang berwarna kuning itu, dengan sebatang pedang di pinggangnya, pemuda itu adalah Tio Sun, putera tunggal dari Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan bekas pengawal panglima Besar The Hoo yang paling dipercaya. Seperti kita ketahui, secara kebetulan Tio Sun menolong Yap Mei Lan dan diapun tertawan oleh orang-orang liar yang dipimpin Jeng-hwa Sian-jin Si Ahli Sihir dan hampir saja dia celaka oleh kawanan Jeng-hwa-pang di dalam hutan itu kalau saja tidak tiba-tiba muncul seorang yang luar biasa sektinya, tokoh tua yang sudah tidak pernah muncul di dunia kang-ouw yaitu Bun Hwat Tosu.

Pemuda ini mewakili ayahnya untuk membantu Cin-ling-pai mencari musuh-musuh besar Cin-ling-pai, yaitu Lima Bayangan Dewa yang telah menyerbu mengacau Cin-ling-pai, membunuh murid-murid Cin-ling-pai dan mencuri Siang-bhok-kiam. Karena dia sudah tahu akan nama-nama Lima Bayangan Dewa, Tio Sun menyelidiki dan akhirnya dia mendengar berita bahwa Liok-te Sin-mo Gu Lo It, orang kedua dari Lima Bayangan Dewa, tinggal di sekitar pantai Po-hai. Berita inilah yang membawa Tio Sun pergi ke pantai Po-hai dan pada pagi hari itu tibalah dia di kota Yen-tai.

Dengan tenang Tio Sun melangkah dan berjalan di atas jalan raya, mengagumi keramaian kota itu dan terheran-heran melihat banyaknya orang-orang asing yang warna rambut, mata dan kulitnya amat mengerikan hatinya itu! Memang belum pernah dia bertemu dengan orang asing kulit putih, sungguhpun sudah banyak dia mendengar tentang mereka dari ayahnya.

Gembira hati Tio Sun menyaksikan kota pantai yang amat ramai itu. Seringkali dia berhenti untuk menonton keramaian, melihat orang-orang berdagang dan mendengarkan kata-kata yang terdengar agak kaku dan asing keluar dari mulut orang-orang berkulit putih itu. Juga ia melihat-lihat banyak barang yang aneh dan indah dipamerkan di toko sepanjang jalan. Akan tetapi setelah setengah hari berjalan-jalan melihat kota yang ramai ini, akhirnya dia merasa bosan juga dan akhirnya menjelang senja itu dia berjalan-jalan di tepi pantai laut yang hawanya lebih sejuk karena angin bertiup dan agak sunyi tidak terdapat terlalu banyak orang.

Tio Sun memasuki sebuah warung di tepi laut, warung yang agak sunyi dan ketika dia masuk, hidungnya disambut oleh bau arak wangi yang memenuhi tempat itu. Suara tertawe bergelak disusul munculnya dua orang asing kulit putih keluar dari dalam warung makan itu, keduanya membawa seguci arak. Sambil tertawa-tawa mereka bicara dalam bahasa yang sama sekali tidak dimengerti oleh Tio Sun. Ketika berpapasan, Tio Sun mendapat kenyataan betapa tingginya dua orang itu. Dia sendiri sudah terhitung seorang pemuda yang bertubuh jangkung, akan tetapi ternyata tubuhnya hanya mencapai pundak kedua orang raksasa berkulit putih dan bermata biru itu.

Tio Sun segera melupakan mereka dan dia duduk di atas sebuah bangku, memesan makanan dan minuman kepada pelayan. Tidak banyak tamu sore itu di warung ini, hanya beberapa orang yang pakaiannya seperti nelayan dan ketika mereka itu bicara tentang hasil penangkapan ikan maka jelaslah apa pekerjaan mereka itu.

Ketika Tio Sun sedang makan, tiba-tiba terdengar suara jeritan wanita, yang kedengaran agak jauh dari situ. Seketika Tio Sun bangkit berdiri. Jerit itu terulang lagi. “Toloooooonggg…!”

Tio Sun menggeser bangkunya, siap untuk lari keluar. Akan tetapi para nelayan yang juga menghentikan percakapan mereka dan memperhatikan jeritan itu, menoleh ke arah Tio Sun dan seorang di antara mereka yang usianya sudah lima puluh tahun lebih berkata, “Harap kongcu jangan memperhatikan dan mencampuri urusan kotor itu.”

Tio Sun memandang heran, “Mengapa kau berkata demikian, lopek?” Dan pada saat itu kembali jerit tadi terulang.

Kakek nelayan itu hanya menarik napas panjang dan tidak menjawab, lalu terdengar ucapan pelayan warung. “Omongan paman nelayan ini benar, kongcu. Tentu keributan itu dilakukan oleh setan-setan kulit putih pemabok itu, dan yang menjerit itu hanyalah perempuan-perempuan lacur. Memalukan sekali dan kongcu akan mtndapat malu saja kalau mencampuri urusan pelacur-pelacur dengan setan-setan pemabok itu. Kalau melihat itu, lebih baik kita tulikan telinga dan butakan mata.”

“Tolonggggg…!”

“Bagaimana kita dapat menulikan telinga dan membutakan mata kalau mendengar jerit wanita minta tolong?” Tio Sun berkata dan tanpa menanti jawaban dia sudah berlari keluar, langsung ke kanan dari mana dia tadi mendengar suara jeritan itu. Cuaca senja sudah mulai remang-remang akan tetapi dia masih dapat melihat dua orang laki-laki yang sedang menarik dan menyeret seorang wanita di dekat pantai, agaknya hendak memaksa wanita itu naik ke sebuah perahu.

“Keparat…!” Tio Sun berlari cepat di sepanjang pantai yang sunyi itu, otot-otot tubuhnya sudah menegang dan hatinya panas oleh kemarahan.

“Plak-plak!” Dua kali Tio Sun menggerakkan tangannya menampar pundak dua orang raksasa bule itu. Dua orang itu terhuyung dan melepaskan lengan gadis yang tadi mereka tarik-tarik. Tamparan itu keras sekali namun hanya membuat mereka terhuyung, maka tahulah Tio Sun bahwa dua kedua orang raksasa bule itu bertubuh kuat sekali. Gadis itu sambil menangis menjatuhkan diri berlutut di depan Tio Sun.

“Harap taihiap menolong saya… mereka hendak menculik saya…”

Tio Sun memandang. Gadis itu adalah seorang gadis berpakaian nelayan sederhana, namun kesederhanaan pakaiannya dan air mata yang membasahi mukanya itu tidak mengurangi kemanisan wajahnya den kepadatan tubuhnya yang muda.

“Nona, kau minggirlah…” kata Tio Sun dengan tenang, lalu dia melangkah menghadapi dua orang raksasa bule yang kini sudah melangkah maju dengan muka mereka merah sekali, mata mereka melotot dan memandang Tio Sun penuh kemarahan. Mula-mula mereka itu mengeluarkan kata-kata keras dalam bahasa asing itu, telunjuk mereka menuding-nuding, akan tetapi Tio Sun sama sekali tidak mengerti artinya. Kemudian seorang di antara mereka, yang rambutnya kemerahan, berkata dalam bahasa pribumi yang kaku namun sikapnya jelas menunjukkan kemarahannya, “Kau berani merampas perempuan kami?”

Tio Sun teringat akan cerita pelayan warung dan para nelayan tadi, maka dia dapat menduga bahwa agaknya dua orang kelasi barat yang mabok ini menganggap gadis itu sebagai seorang pelacur, maka dengan sikap tenang karena mengira akan kesalahpahaman mereka, dia menjawab, “Kalian salah sangka. Nona ini adalah seorang wanita baik-baik, maka kalian tidak boleh kurang ajar terhadapnya.”

“Kurang ajar? Apa kurang ajar?” Si rambut merah itu membentak dan mengepal tinjunya yang besar, matanya juga merah melotot marah. “Kami cinta padanya, kami… kami akan membayar!”

Tio Sun mengerutkan alisnya. “Kalian orang-orang kasar yang mabok. Jangan mengganggu wanita dan pergilah!”

Si rambut merah melangkah maju dengan langkah lebar, sedangkan temannya yang berambut pirang hanya menonton sambil tersenyum-senyum memandang rendah, yakin bahwa temannya tentu akan memberi hajaran kepada pemuda kecil lemah yang mencampuri urusan mereka itu.

Si rambut merah menuding-nuding dengan isyarat agar Tio Sun pergi dari situ, suaranya parau dan kasar, kemarahannya membuat dia makin sukar mengeluarkan bahasa yang belum dikuasainya benar-benar itu. “Pergi kamu… pergi… dia perempuan kami…!”

Melihat keributan itu, beberapa orang yang datang mendekati untuk menonton, dan seorang nelayan tua berkata kepada Tio Sun, “Orang muda, sebaiknya kau pergi dan tidak mencampuri urusan mereka. Ketahuilah, mereka itu adalah dua orang terkuat di antara mereka yang mempunyai banyak anak buah. Jangan kau mencari penyakit…”

Sementara itu, seorang kakek nelayan lain yang kurus dan berpakaian butut lari mendatangi, dan melihat kakek ini, gadis nelayan tadi lalu menjerit dan lari menubruk kakek itu. “Ayahhh…!”

“Kui-ji… kau kenapa…?” Nelayan tua itu bertanya sambil mengelus rambut kepala anaknya.

Akan tetapi gadis itu tidak dapat menjawab, hanya menangis.

Nelayan tua yang tadi memperingatkan Tio Sun berkata, “Kalian cepat pergi…! Lekas…!”

Ayah dan anak itu terkejut dan keduanya hendak menyingkir dari tempat itu, akan tetapi raksasa berambut pirang dengan beberapa langkah lebar sudah mendekat, lalu lengannya yang panjang dengan jari-jari tangannya yang besar itu menangkap pergelangan tangan gadis manis itu.

“Ha-ha-ha, jangan pergi… jangan pergi… kau manis…” kata raksasa asing itu sambil tertawa.

Sang ayah kini mengerti bahwa anak perempuannya menjadi kebiadaban para kelasi asing itu, maka dengan marah dia memukul.

“Bukkk…………!” Dada yang bidang itu menerima pukulan dengan enak saja, sedikitpun tidak terguncang dan tangan kiri yang lebar itu mendorong sehingga si kakek terjengkangkang jauh.

“Ayahhh………!”

“Keparat……!” Tio Sun melangkah maju.

“Orang muda, mari kita pergi. Kalau mereka mengamuk……!” Nelayan itu berkata ketakutan.

Tio Sun menjadi marah sekali. Di bertolak pinggang, memandang ke sekeliling. Terutama ke arah beberapa orang nelayan yang berdiri di sekitar tempat itu dengan wajah ketakutan. “Kalian ini laki-laki ataukah pengecut yang tak tahu malu! Melihat gadis bangsa kita dihina dan hendak dipermainkan orang-orang asing biadab ini, kalian sama sekali tidak mengulurkan tangan membantu, malah ketakutan dan hendak menyingkir, dan lebih celaka lagi, kalian melarang aku untuk menolongnya. Apakah kalian tidak mau hidup sebagai laki-laki?”

Tidak ada seorangpun yang dapat menjawab. Mereka itu hanya nelayan-nelayan yang tahunya hanya mencari nafkah setiap hari di lautan, dan mereka semua sudah maklum akan kekuasaan dan kekasaran orang-orang berkulit putih ini. Orang-orang kulit putih itu ada kalanya amat baik dan ramah terhadap pribumi, apalagi dalam hal perdagangan. Akan tetapi sikap mereka itu rata-rata kasar dan keras, apalagi kalau dihalangi kehendak mereka, keramahan berobah menjadi kekerasan dan kekejaman. Dan rata-rata mereka itu terdiri dari jagoan-jagoan berkelahi yang bertubuh kuat dan berani, bahkan agaknya mereka itu mempunyai kesukaan untuk berkelahi sehingga para nelayan yang sering kali mengalami pemukulan mereka, kini menjadi takut. Lebih-lebih lagi ketika laporan mereka kepada yang berwajib bahkan merugikan mereka sendiri karena agaknya ada pertalian persahabatan yang erat antara pembesar-pembeear setempat dengan orang-orang bule tinggi besar itu. Dan kenyatannya memang demikian. Para pembesar sudah menerima banyak sumbangan dan hadiah dari raksasa-raksma ini, maka tentu saja sebagai seorang yang baik hati para pembesar ini merasa sungkan untuk bersikap memusuhi dan setiap ada pengaduan mereka ini menyalahkan yang mengadu dan memberi nasihat agar sebagai “tuan rumah” para pribumi suka mengalah terhadap para tamu yang banyak mendatangkan keuntungan bagi “rakyat” ini. Tentu saja hanya di mulut mereka ini mengucapkan demi rakyat, padahal sudah tentu, seperti yang sudah lajim terjadi di seluruh dunia, mereka itu hanya mementingkan dirinya sendiri dan demi kepadatan kantong mereka sendiri.

Inilah sebabnya mengapa para nelayan bersikap ketakutan dan teguran Tio Sun itu hanya membuat muka mereka menjadi merah akan tetapi tidak ada seorangpun berani menentang dua orang raksasa kulit putih itu.

Sebaliknya, ucapan Tio Sun itu membikin marah si rambut merah. “Setan, engkau perlu dihajar!” bentaknya dan dia sudah menerjang Tio Sun dengan pukulan-pukulan kedua tangannya yang bertubi-tubi dan pukulan-pukulannya ternyata keras sekali!

Tio Sun tentu saja sudah siap dan waspada, dengan mudahnya dia menggerakkan tubuh sedikit saja namun cukup membuat pukulan kanan kiri yang bertubi-tubi datangnya itu menyambar angin kosong belaka. Ketika pukulan yang kesekian kalinya meluncur mengarah dagunya, kepalan kanan si rambut merah yang besar sekali itu menyambar, Tio Sun menggerakkan tangan menangkis dengan tangan kirinya. Tangkisan ini membuat tulang bawah lengan kirinya bertemu dengan amat kerasnya dengan tulang atas lengan kanan si rambut merah.

“Dukkkk… aughhhh…!” Si rambut merah berteriak kesakitan dan memegangi lengan kanannya. Tulang bawah lengan merupakan bagian yang lebih kuat daripada tulang atas lengan, biarpun keduanya terlatih sekalipun, apalagi Tio Sun mempergunakan tulang bawah lengannya dengan pengerahan tenaga sin-kang, tentu saja membuat lawannya yang terpukul tulang atas lengannya itu merasa nyeri bukan main seolah-olah tulang lengannya retak-retak rasanya.

Akan tetapi rasa nyeri ini tidak berlangsung lama dan kemarahan si rambut merah memuncak. Dia mengeluarkan suara gerengan disambung maki-makian dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh Tio Sun, kemudian raksasa rambut merah itu menerjang seperti seekor kerbau mengamuk, kepalanya di depan, tubuhnya agak membungkuk dan kedua lengannya merapat tubuh, kedua kepalan tangan yang besar itu silih berganti menyambar dengan pukulan-pukulan keras yang mengarah bagian muka dan tubuh atas Tio Sun.

Tentu saja serangan sederhana yang hanya mengandalkan tenaga kasar ini merupakan serangan yang sama sekali tidak berbahaya bagi Tio Sun. Dengan amat mudahnya pemuda ini mengelak dan menangkis, kemudian satu kali tanganya menyambar dia sudah berhasil memukul leher dekat pundak kiri lawan dengan tangan kanan yang dimiringkan.

“Ngekkk!”

Raksasa muka merah itu terjungkal, mengaduh dan memijit-mijit lehernya yang terpukul. Akan tetapi ternyata dia bertubuh kuat sekali karena dia sudah bangkit kembali, merogoh saku celana dan mengeluarkan dua buah senjata kalung besi yang ketika digenggamnya melingkari celah-celah jari kedua tangannya sehingga kini kepalannya tertutup oleb ujung-ujung besi yang menonjol dan agak meruncing. Dapat dibayangkan betapa kepala akan dapat pecah dan tubuh akan terluka parah kalau sekali saja terkena pukulan tangan yang diperlengkapi dengan senjata istimewa ini.

“Mampus kamu! Wuuutttt… siyuuuutt…!” Kembali si rambut merah menyerang dengan ganas. Kedua matanya sudah menjadi merah dan lagaknya persis seekor lembu jalang yang mengamuk karena terluka.

Kalau tadi si rambut merah menggunakan cara bertinju menurut aturan karena dia merasa yakin bahwa dengan kepandaiannya bermain tinju dia akan dapat mengalahkan lawan yang kelihatan kecil lemah ini, kini dia tidak lagi memperhatikan aturan dan menggunakan segala akal curang dalam cara berkelahi untuk mencari kemenangan, maka kini dia tidak lagi memukul ke arah tubuh atas saja, melainkan dia memukul ke arah lambung, pusar dan lain-lain, bahkan kedua kakinya yang memakai sepatu boot itupun ikut pula menyerang. Betapapm juga, bagi Tio Sun, gerakan raksasa ini masih terlalu lambat dan kacau tidak teratur, pokoknya asal menyerang saja maka sudah tentu amat mudah dihadapi oleh pemuda gemblengan ini. Dia membiarkan lawan menyerang membabi buta sampai dia mundur empat langkah, kemudian ketika musuh terus menyerbu, dia melangkah ke kiri, membiarkan tubuh lawan agak terdorong ke depan dan dengan gerakan kaki cepat sekali, dia melangkah maju sehingga kini dia berada di sisi belakang lawan. Cepat kakinya bergerak menyentuh lutut kanan lawan, dibarengi dengan tamparan jari tangan terbuka ke arah tengkuk.

Si rambut merah kembali terjungkal, kini roboh dan menyeringai kesakitan, kepalanya pening, pandang matanya berkunang-kunang dan dia melihat ribuan bintang beterbangan di sekelilingnya, dan kakinya yang kanan menjadi salah urat di bagian lutut sehingga dia tidak mampu bangun kembali.

Semua nelayan yang menyaksikan pertempuran ini dari tempat aman, melongo dan terheran-heran mengapa ada pemuda yang begitu berani menentang si rambut merah yang terkenal kuat dan pemberani itu. Bahkan raksasa rambut merah ini pernah dikeroyok oleh belasan orang nelayan pribumi tanpa merasa takut dan tidak kalah pula! Juga si rambut pirang bengong keheranan, hampir tidak percaya bahwa temannya yang cukup jagoan itu dikalahkan sedemikian mudahnya oleh si pemuda kecil lemah ini. Keheranannya berobah menjadi kemarahan besar ketika dia tahu bahwa temannya itu terluka cukup parah karena buktinya tidak mampu bangkit kembali. Dia lalu mencabut sebatang pisau belati, kemudian tanpa banyak cakap lagi dia menyerang Tio Sun dengan senjata pisaunya yang mengkilap. Melihat ini, para nelayan menjadi pucat wajahnya. Pemuda itu tentu akan tewas!

Akan tetapi tentu saja serangan pisau yang menyambar ke arah perutnya itu merupakan serangan yang tidak ada artinya bagi Tio Sun. Akan tetapi pemuda ini juga sama sekali tidak ada niat di hatinya untuk membunuh dua orang ini, karena dia masih menganggap bahwa kesalahan mereka itu hanya timbul karena mungkin terjadi salah pengertian belaka. Mungkin karena kurang pandai bicara atau belum begitu menguasai bahasa daerah, orang-orang asing ini salah menduga dan mengira gadis nelayan itu seorang perempuan pelacur yang boleh dipermainkan sesukanya asalkan dibayar! Dia sama sekali tidak tahu bahwa dalam keadaan mabok seperti itu, dua orang asing ini memang menganggap semua perempuan pribumi suka kepada mereka dan boleh mereka ajak bermain cinta dengan hadiah uang.

Karena tidak ingin membunuh, maka Tio Sun juga hanya mengelak dari sambaran pisau itu. Sampai lima kali dia terus mengelak sambil berkata, “Kau pergilah dan jangan ganggu wanita!”

Akan tetapi mana mungkin si rambut pirang yang sudah marah dan mabok itu mau menerima begitu saja? Dia menyerang makin ganas karena terbawa oleh rasa penasaran, betapa lawannya dapat mengelak dengan mudah, bahkan sambil menasihatinya! Pada saat itu, kelasi barat yang berambut merah sudah berhasil bangkit, terpincang-pincang dan meniup peluitnya. Terdengar bunyi peluit melengking nyaring berkali-kali dan para nelayan yang mendengar peluit ini menjadi terkejut. Mereka maklum apa artinya bunyi peluit ini. Kelasi asing itu memanggil kawan-kawannya dan mereka menjadi takut kalau-kalau terbawa-bawa, maka mereka lalu melarikan diri dari pantai itu untuk pergi melapor kepada yang berwajib agar pemuda itu tidak sampai dikeroyok dan mati secara mengerikan.

Tadinya Tio Sun tidak mengerti apa artinya tiupan peluit nyaring itu. Akan tetapi ketika dia melihat belasan orang asing datang berlarian ke tempat itu, dia mengerti bahwa itu tentulah teman-teman dua orang ini yang datang memenuhi panggilan suara peluit tadi. Marahlah hatinya dan dia berkata kepada dua orang itu, “Gadis itu dan ayahnya sudah pergi. Perlu apa ribut-ribut lagi? Mundurlah, kalian dan aku tidak akan memperpanjang urusan ini!”

Ucapan Tio Sun itu dianggap sebagai sikap ketakutan oleh dua orang asing itu, maka si rambut pirang memperhebat serangan pisaunya, dan si rambut merah terpincang-pincang memberi isyarat kepada kawan-kawannya agar lebih cepat datang.

“Keparat!” Tio Sun membentak dan pada saat pisau menyambar untuk ke sekian kalinya, dia hanya miringkan sedikit tubuhnya, pada saat pisau itu meluncur dekat dadanya dia cepat menggerakkan tangannya yang dimiringkan, membacok ke arah lengan yang memegang pisau itu.

“Dukkk… plak!” Pisau terpental dan pukulan ke arah lengan itu disusul tamparannya yang mengenai bawah telinga lawan. Si rambut pirang terpelanting dan mengaduh-aduh, kepalanya seperti pecah rasanya.

Pada saat itu, sebelas orang kulit putih lain yang merupakan anak buah dua orang kelasi jagoan ini, sudah tiba di situ dan tanpa banyak cakap lagi mengepung dan menyerang Tio Sun dari berbagi jurusan, dengan senjata macam-macam, besi pelindung kepalan, pisau dan rantai.

“Kalian orang-orang biadab yang jahat!” Tio Sun berseru dan kini pemuda ini mengamuk. Gerakannya tangkan dan cepat, membagi-bagi pukulan dan tendangan di antara mereka, sehingga ramailah pertempuran itu. Para pengeroyok itu jatuh bangun dan setiap kali kaki atau tangan Tio Sun bergerak pasti ada seorang pengeroyok yang terjungkal atau terpelanting, setidaknya terhuyung-huyung sambil mengaduh-aduh. Tidak ada yang tahu betapa sejak tadi ada sepasang mata jeli yang menonton pertempuran keroyokan itu dengan mata berseri-seri dan mulut mengeluarkan kekagumannya melihat ketangkasan Tio Sun. Mata jeli ini milik seorang dara muda yang memiliki kecantikan yang khas. Melihat pakaiannya, dia adalah seorang dara pribumi yang berkecukupan, akan tetapi kalau orang memperhatikan dia di tempat terang, tidak di tempat gelap seperti sekarang ini karena senja telah tua, orang akan melihat bahwa sepasang matanya lebar, tidak seperti dara wanita pribumi, dan warnanya kebiruan! Juga rambutnya tidaklah hitam seperti biasa, melainkan agak keemasan! Mata dan rambutnya seperti orang asing itu, akan tetapi bentuk tubuhnya seperti wanita pribumi, demikian pula pakaiannya! Karena inilah maka dia memiliki kecantikan yang khas dan aneh, memiliki daya tarik tersendiri, berbeda dari dara-dara umumnya.

Tio Sun yang mengamuk dengan sibuknya, juga karena waktu itu cuaca sudah mulai gelap, sama sekali tidak melihat betapa orang asing berambut merah tadi kini mengeluarkan sebuah benda mengkilap, yang dipegang dengan tangan kanannya, kemudian membidikkan benda itu ke arah pundak Tio Sun yang masih mengamuk diagan hebatnya, merobohkan semua pengeroyoknya dengan pukulan dan tendangan terukur agar tidak sampai membunuh orang.

Ketika dara yang menonton pertempuran itu dari tempat tersembunyi melihat si rambut merah mengeluarkan benda itu, dia kelihatan kaget sekali dan dengan geraken cepat dia sudah mencabut sebatang hui-to (pisau terbang) yang bentuknya mungil dan dihias ronce-ronce merah, kemudian secepat kilat dia menggerakkan tangannya. Pisau kecil itu maluncur cepat, mengeluarkan suara berdesing dan tepat mengenai tangan si rambut merah yang memegang pistol dan sedang membidikkan pistol itu ke punggung Tio Sun.

“Crepp… auwww…!” Pistol itu terlepas dari tangan si rambut merah yang berteriak kesakitan karena pisau kecil beronce merah itu telah menancap di tangannya.

“Pedro…! Berani kau dan kaki tanganmu mengacau di sini, bahkan hendak menggunakan senjata api? Kalau aku menangkapmu dan mengajukanmu ke depan pengadilan, apakah kalian tidak akan celaka semua?”

Si rambut merah yang disebut Pedro oleh dara cantik itu makin terkejut. Dia menoleh, memandang kepada dara itu dan semua teman-temannya yang sudah jatuh bangun oleh hajaran Tio Sun juga terkejut. Mereka semua memandang kepada nona itu yang kini berdiri dengan tegak dan gagahnya bertolak pinggang dan memandang marah kepada si rambut merah.

“Maaf… nona De Gama… maafkan kami…” Pedro kini berkata sambil memegangi tangannya yang terluka.

“Kalian memang berani mati!” Nona itu menghardik lagi, sikapnya penuh wibawa dan kata-katanya seperti menusuk jantung tiga belas orang itu. “Sudah berapa kali kami memperingatkan pimpinanmu agar kalian tidak membikin ribut di sini, dan terutama tidak boleh mengganggu penduduk pribumi. Kembalikan pisauku!” bentaknya.

Sambil menggigit bibirnya Pedro mencabut pisau terbang yang menancap di tangan kanan itu dengan tangan kirinya, kemudian dia melangkah maju, menyerahkan pisau kecil itu, wajahnya masih merah karena mabok, akan tetapi pandang matanya penuh rasa jerih. Dara itu menerima kembali pisaunya, lalu berkata dengan sikap dingin dan memerintah, “Kalian pergilah!”

“Terima kasih, nona.” Pedro membungkuk dengan hormat, mengambil pistolnya dan memberi isyarat kepada teman-temannya untuk pergi. Semua temannya juga memberi hormat kepada dara muda itu.

“Pedro, lain kali kalau engkau mendarat dengan membawa pistol, aku tidak akan mengampunimu lagi.” Nona itu menyusulkan kata-kata ancaman.

Pedro membalik, lalu membungkuk, kemudian merekapun pergi menuju ke perahu-perahu yang mereka naiki dan mereka dayung ke tengah lautan di mana terdapat kapal mereka yang berlabuh.

Mereka berdiri saling berhadapan dan berusaha untuk meneliti wajah masing-masing menembus kesuraman cuaca hampir malam, Tio Sun memandang penuh kekaguman. Dara ini masih muda dan cantik sekali, akan tetapi mempunyai wibawa begitu besar den sanggup mengusir belasan orang laki-laki kasar tadi dengan kata-kata dan ancaman saja, juga dia melihat hui-to yang tadi menancap di tangan si rambut merah dan biarpun dia tidak melihat cara gadis itu menyerang si rambut merah, namun dia maklum juga bahwa dara ini selain cantik jelita dan berpengaruh, juga tentu memiliki kepandaian tinggi. Di lain fihak, nona itupun memandang Tio Sun dengan kagum, menatap wajah yang membayangkan kesederhanaan, kejujuran dan kegagahan itu, wajah yang biarpun tidak dapat dikatakan tampan, namun juga tidak buruk dan cukup jantan.

Tio Sun yang masih memandang kagum, juga diam-diam dia terheran-heran. Nona ini adalah seorang gadis pribumi, akan tetapi tadi telah menggunakan bahasa orang asing, bahasa orang biadab itu ketika bercaka-cakap dengan mereka! Hal ini tentu saja menambah kekagumannya dan kini dia menjura dengan hormat sambil berkata, “Banyak terima kasih atas bantuan nona yang telah berhasil menyuruh mereka pergi sehingga keributan ini dapat dihentikan.”

Dara itu tersenyum dan balas memberi hormat. “Engkau begini sopan den ramah, taihiap (pendekar besar), sungguh mengherankan bagaimana dapat bentrok dengan mereka?”

Kembali Tio Sun terkejut. Ternyata gadis ini dapat bicara dalam bahasa daerah yang baik sekali! Hal ini membuktikan bahwa dia benar-benar berhadapan dengan seorang gadis pribumi, akan tetapi bagaimana tadi gadis ini dapat bicara dalam bahasa asing terhadap gerombolan orang kasar itu? Dia makin kagum akan kepintaran gadis ini, maka dia cepat menjawab, “Nona, sebetulnya tidak ada urusan pribadi antara saya dengan mereka. Saya sedang makan di warung sana ketika saya mendengar jerit seorang wanita. Saya cepat lari ke sini dan melihat seorang gadis nelayan sedang ditarik-tarik oleh dua orang di antara mereka tadi, yaitu yang berambut merah dan pirang tadi. Mereka agaknya sedang mabok, maka melihat gadis nelayan itu berteriak minta tolong dan mereka menggunakan kekerasan, saya lalu mencegah. Kemudian datang teman-teman mereka dan saya dikeroyok.”

“Dan tikus-tikus itu akan mati semua sekiranya taihiap menghendaki. Betapa tidak tahu diri mereka itu!”

Tio Sun terkejut karena ucapan ini jelas menunjukkan betapa tajam pandang mata dara ini dan ini saja sudah jelas membuktikan bahwa dara ini tentu pandai ilmu silat sehingga tahu bahwa dia tadi melayani pengeroyokan mereka itu dengan menggunakan tenaga terukur agar jangan sampai kesalahan tangan membunuh mereka.

“Ah, nona terlalu memuji…!” katanya, akan tetapi dia sendiri merasa heran mengapa hatinya menjadi begini girang mendengar nona ini menyebutnya “taihiap” dan mengetahuinya bahwa dia tadi tidak bersungguh-sungguh menghajar belasan orang itu? Biasanya, pujian-pujian baginya hanya akan menimbulkan perasaan muak karena sejak kecil dia sudah digembleng ayahnya sehingga dia menganggap pujian orang lain sebagai suatu hal yang amat berbahaya. Jangan mendengarkan pujian, demikian kata ayahnya, karena pujian itu merupakan racun yang dapat membuatmu menjadi tinggi hati dan sombong sehingga mengurangi kewaspadaan. Kini, nona ini memujinya dan baru pertama kali selama hidupnya dia merasa girang dan bangga!

“Saya tidak memuji hanya bicara tentang apa adanya. Taihiap berilmu tinggi dan sudah lama sekali saya ingin bertemu dengan seorang pendekar seperti taihiap yang banyak saya dengar dari cerita ibu saya. Menurut ibu, seorang pendekar sakti yang budiman seperti taihiap akan selalu siap membantu orang yang dilanda malapetaka, benarkah itu?”

Tio Sun merasa tidak enak juga mendengar dia dianggap sebagai seorang pendekar sakti yang budiman! Sudah terlampau berlebihan pujian ini! Akan tetapi karena sikap dara itu jujur dan tidak dibuat-buat, dia menjawab juga, “Nona, saya bukan seorang pendekar sakti budiman, akan tetapi sebagai seorang manusia, tentu saja saya selalu siap untuk menolong manusia lain yang dilanda malapetaka.”

“Kalau begitu, harap taihiap sudi menolong saya yang sedang dilanda malapetaka dan menderita kegelisahan hebat ini!” Berkata demikian, nona itu tiba-tiba lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Tio Sun.

Tentu saja pemuda itu menjadi terkejut bukan main. “Ah, nona… Jangan berbuat demikian… tentu saja saya selalu siap sedia membantumu… harap jangan berlutut seperti ini.” Tio Sun memegang kedua lengan yang kecil itu dan menarik nona itu untuk bangun, Akan tetapi alangkah kagetnya ketika dia mendapat kenyataan bahwa sedikitpun nona itu tidak dapat diangkatnya naik. Nona itu ternyata telah mengerahkan ilmu memberatkan tubuh!

“Saya tidak akan bangkit kalau taihiap belum berjanji akan menolong saya.”

“Janji baru dapat diberikan kalau saya sudah mendengar urusannya, nona. Bagaimanapun juga saya hanya akan membantu fihak yang benar.” Tio Sun yang maklum bahwa gadis ini sengaja hendak mengujinya, lalu mengerahkan sin-kangya. Gadis itu mempertahankan diri, akan tetapi Tio Sun adalah putera tunggal Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan yang memiliki ilmu menghimpun tenaga selaksa kati yang amat hebat. Maka dara itu akhirnya tidak kuat bertahan dan tubuhnya dapat diangkat oleh Tio Sun. Akan tetapi, biarpun dengan dipegang kedua lengannya dia dapat diangkat, tetap saja dia dalam keadaan berlutut seolah-olah tubuhnya menjadi kaku seperti batu! Tio Sun terkejut dan kagum sekali. Tidak salah dugaannya bahwa nona ini memiliki kepandaian yang tinggi juga!

Harap nona tidak sungkan-sungkan dan mari kita bicara,” katanya sambil melepaskan kedua lengan itu. Nona itupun turun keadaan berdiri dan di dalam kegelapan malam itu dia memandang dengan wajah berseri penuh harapan.

“Di sini bukan tempat bicara. Marilah saya persilakan taihiap untuk singgah di rumahku dan di sana kita dapat berbicara dengan leluasa, dan saya akan menceritakan malapetaka apa yang menimpa diri saya.”

Tio Sun mengangguk. Kalau seorang gadis yang memiliki kepandaian begini hebat, dan juga mempunyai pengaruh terhadap orang-orang kasar tadi sampai dapat dilanda malapetaka, tentulah telah terjadi hal yang amat hebat. Mereka lalu berangkat menuju ke rumah gadis itu, akan tetapi Tio Sun lebih dulu mengajak nona itu singgah di warung untuk membayar makanan yang tadi dipesannya dan yang belum dimakan sampai habis. Pemilik warung yang sudah mendengar akan perkelahian Tio Sun dikeroyok oleh banyak orang asing itu menyambut sambil membungkuk hormat, akan tetapi sikapnya menjadi makin menghormat ketika dia melihat nona itu datang bersama Tio Sun.

“Ah, kiranya Souw-siocia (nona Souw)… silakan duduk, nona…” kata pemilik warung dan dara itu mengucapkan terima kasih dan menanti di luar sampai Tio Sun selesai membayar harga makanan.

Diam-diam nona itu menjadi semakin kagum dan girang. Tidak salah lagi, pikirnya. Seperti inilah seorang pendekar budiman yang seringkali dia mendengar diceritakan oleh ibunya akan tetapi yang belum pernah dijumpainya.

Tio Sun di lain fihak tercengang ketika nona itu mengajaknya memasuki pekarangan sebuah bangunan yang besar dan megah.

“Inikah rumahmu, nona?” tanyanya dengan ragu-ragu.

Nona itu tersenyum. “Harap jangan perdulikan rumah, taihiap. Engkau datang untuk bicara dengan aku, bukan dengan rumah, bukan?”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: