Dewi Maut (Jilid ke-31)

Tio Sun mengangguk. Benar, mengapa dia ribut tentang keadaan nona ini? Apakah bedanya andaikata nona ini seorang miskin sekali ataukah seorang yang kaya raya? Mereka memasuki ruangan depan, disambut oleh dua orang pelayan wanita yang memberi hormat kepada nona majikan mereka dan kepada tamu itu. Dara itu mengajak Tio Sun memasuki sebuah ruangan besar, ruang tamu dan memerintahkan dua orang pelayannya untuk mempersiapkan hidangan.

“Ah, tidak perlu repot-repot, nona…” Tio Sun mencegah.

“Tidak repot, akan tetapi seharusnya. Bukankah taihiap sedang makan ketika taihiap mendengar wanita minta tolong? Nah, akupun belum makan malam maka sudah sepatutnya kalau saya mengajak taihiap makan malam bersama.”

Mereka duduk berhadapan terhalang meja dan Tio Sun makin heran melihat sikap dara ini yang demikien terbuka dan polos, tidak malu-malu seperti kebanyakan gadis yang dijumpainya. Akan tetapi ketika dia memandang dan kini wajah gadis itu nampak jelas disinari lampu gantung di atas mereka, Tio Sun terkejut bukan main. Gadis itu cantik! Cantik bukan main, seperti gambar seorang bidadari! Akan totapi matanya berwarna kebiruan dan rambutnya keemasan! Seorang gadis asing! Akan tetapi kulitnya yang kuning, tata rambutnya, pakaiannya, bicaranya adalah seratus prosen gadis pribumi. Hanya warna mata dan rambutnya! Dia memandang bengong!

“Eh, taihiap, engkau memandang apa?” Nona itu menegur ketika melihat Tio Sun terlongong seperti orang terkena pesona, senyumnya melebar dan di sebelah kiri mulutnya muncul lesung pipit yang manis sekali. Kini tampak jelas oleh Tio Sun betapa dara itu sebetulnya masih amat muda, akan tetapi agaknya memang mempunyai tubuh yang lebih besar daripada gadis-gadis biasa, karena biarpun tubuhnya yang padat itu seperti tubuh dara yang matang, namun wajahnya menunjukkan bahwa dia baru saja di ambang pintu kedewasaan, paling banyak tujuh belas tahun usianya.

“Maaf… eh, saya kira nona seorang gadis pribumi, akan tetapi…”

Nona itu menghela napas panjang. “Kaumaksudkan mataku biru dan rambutku agak keemasan?”

Lega hati Tio Sun dan dia mengangguk, karena rasanya amat tidak enak kalau dia yang harus mengatakan hal itu.

“Memang demikianlah” kata nona itu. “Kalau aku dikatakan gadis pribumi, hal itu benar, dan namaku adalah Souw Kwi Eng, akan tetapi kalau ada yang mengatakan bahwa aku seorang gedis asingpun, benar dan namaku adalah Maria de Gama. Ayahku seorang Portugis aseli akan tetapi ibuku seorang Tionghoa aseli pula.”

“Aihh, kiranya begitukah…?” Tio Sun memandang dengan penuh kagum dan terheran-heran karena baru sekarang ini dia bertemu dengan seorang peranakan yang berdarah campuran. Namun harus diakuinya bahwa belum pernah dia melihat yang begini mempesonakan, begini cantik jelita, kecantikan yang khas dan amat menawan hatinya yang berdebar-debar.

“Akan tetapi ayahku bukanlah seperti orang-orang kasar yang mengeroyokmu tadi, taihiap. Ayahku adalah seorang terpelajar, yang di negaranya termasuk seorang ahli pedang yang disegani, dan di sini dahulu terkenal sebagai pemilik kapal den juga kapten kapal. Adapun ibuku juga seorang pendekar wanita yang terkenal, karena ibuku adalah murid Panglima The Hoo yang terkenal itu. Ayah bernama Yuan de Gama, maka aku memakai nama Maria de Gama, sedangkan ibuku she Souw, maka akupun memakai nama keturunan Souw.”

Tio Sun kelihatan terkejut bukan main mendengar nama-nama itu. Dia pernah mendengar penuturan ayahnya tentang nama-nama itu.

Nona… apakah ibumu bernama Souw Li Hwa…?”

Wajah nona yang cantik itu berseri gembira. “Kau telah mengenal ibuku?”

Tio Sun menggeleng kepala. “Aku hanya mendengar dari ayah. Ketahuilah nona, bahwa ayahku bernama Tio Hok Gwan dan ayah adalah bekas pengawal setia dari mendiang Panglima Besar The Hoo, oleh karena itu ayah tentu saja mengenali murid beliau, yaitu ibumu yang bernama, Souw Li Hwa. Akan tetapi…” Dia memandang wajah yang cantik jelita itu dengan alis berkerut karena dia merasa sangsi, bahkan agak curiga memandang nona itu.

“Akan tetapi apakah, taihiap?”

“Menurut cerita ayahku, pendekar wanita Souw Li Hwa telah tewas, tenggelam bersama Yuan de Gama di atas kapal… bagaimana mungkin sekarang muncul seorang puterinya…?”

“Memang begitulah yang diketahui oleh semua orang, akan tetapi ada rahasia di balik semua itu, taihiap. Sebetulnya ayah merahasiakan keadaan kami ini, akan tetapi karena sekarang aku menghadapi malapetaka dan membutuhkan bantuanmu, apalagi setelah aku mengetahui bahwa engkau adalah putera seorang pengawal setia dari mendiang The-sucouw (kakek guru The), biarlah aku menceritakannya kepadamu.”

Dara itu lalu bercerita yang didengarkan oleh Tio Sun dengan penuh perhatian dan kekaguman. Tentu saja pembaca cerita “Petualang Asmara” juga terheran-heran mendengar pengakuan nona peranakan yang bernama Maria de Game alias Souw Kwi Eng itu, karena para pembaca tentu masih ingat betapa Souw Li Hwa, pendekar wanita perkasa murid Perdana Menteri The Hoo telah tewas bersama pemuda asing yang dicintainya, yaitu Yuan de Gama. Oleh karena itu, mari kita mendengarkan penuturan nona cantik yang mengaku sebagai puteri Souw Li Hwa itu.

Seperti telah diceritakan dalam cerita “Petualang Asmara”, Yuan de Gama, seorang pemuda Portutis yang gagah perkasa, sebagai seorang kapten kapal, tidak mau meninggalkan kapalnya yang terbakar dan tenggelam. Setiap orang kapten yang terhormat dan gagah perkasa harus sehidup semati dengan kapalnya, maka biarpun dia masih mempunyai kesempatan untuk menyelamatkan diri, meninggalkan kapalnya yang mulai tenggelam, Yuan de Gama berkeras tidak mau meninggalkannya. Dan seorang dara cantik jelita dan perkasa, murid Panglima The Hoo, yang bernama Souw Li Hwa, juga berkeras tidak mau meninggalkan Yuan de Gama yang dicintanya. Kedua orang muda yang saling mencinta ini saling berpelukan dan ikut tenggelam bersama kapal yang terbakar itu, disaksikan oleh ribuan pasang mata yang merasa terharu dan kagum sekali, termasuk mata pendekar-pendekar Cia Keng Hong, Yap Kun Liong, Panglima Besar The Hoo dan lain-lain.

Sudah dapat dipastikan kedua orang muda yang sallig mencinta itu akan mati tenggelam di lautan kalau saja pada saat kapal tenggelam itu tidak terjadi sesuatu yang amat luar biasa. Seorang laki-laki tua yang berpakaian nelayan, yang tidak mencampuri perang yang terjadi antara fihak pemberontak dan tentara pemerintah (baca Petualang Asmara) dan yang ikut pula menyaksikan terbakarnya kapal dan ikut tenggelamnya pasangan yang saling berpelukan itu bersana kapalnya, memandang peristiwa itu dengan air mata menitik turun di kedua pipinya yang keriputan. Akhirnya tanpa ada yang melihatnya, kakek tua renta yang perpakaian sebagai nelayan sederhana lalu meloncat dan terjun ke dalam air, menyelam dan lenyap.

Demikianlah, Yuan de Gama dan Souw Li Hwa yang sudah hampir mati lemas, tahu-tahu telah berada di darat, di tempat yang sunyi dalam hutan. Mereka ditolong dan diselamatkan oleh kakek nelayan itu. Mula-mula Yuan de Gama marah-marah karena hidupnya itu merupakan suatu hal yang amat memalukan, dan dia dapat dianggap seorang pengecut karena sebagai seorang kapten dia tidak mati tenggelan bersama tenggelamnya kapal. Hampir saja dia marah dan menyerang kakek itu, akan tetapi dicegah oleh Souw Li Hwa yang menangis dan menyatakan keinginan hidupnya bersama kekasihnya itu setelah ternyata mereka berdua masih hidup.

Adapun kakek itu dengan sabar dan tenang berkata, “Mungkin sekali kebiasaan bangsamu itu dianggap sebagai perbuatan gagah perkasa, namun di sini hanya akan dianggap sebagai perbuatan tolol, suatu pembunuhan diri yang konyol. Bagaimana nyawa manusia disamakan dengan tenggelamnya sebuah benda mati seperti kapal? Pula, engkau sudah memenuhi kebiasanan itu, sudah tenggelam bersama kapalmu, maka apakah salahnya kalau hal itu tidak membuat kau mati karena memang Thian belum menghendaki kau mati? Setelah sekarang kapalmu tenggelam dan kau dapat kuselamatkan di sini, apakah kau lalu akan membunuh dirimu sendiri bersama wanita yang amat setia kepadamu ini?”

Mendengar ucapan kakek nelayan se’derhana itu, Yuan de Gama tertegun dan tidak dapat membantah. Memang, kapalnya sudah tenggelam dan dia ternyata masih hidup, bukan atas kehendaknya karena dia ditolong dalam keadaan tidak sadar. Tak mungkin sekarang dia harus mengajak Souw Li Hwa untuk bersama-sama membunuh diri! Kematian gagah seorang kapten adalah tenggelam bersama kapalnya, bukannya membunuh diri secara konyol satelah kapalnya tidak ada lagi! Akhirnya Yuan de Game dapat melihat kebenaran itu dan tak lama kemudian dia saling rangkul dengan Souw Li Hwa yang menangis sesenggukan sehingga Yuan tidak dapat bertahan lagi untuk tidak mencucurkan air mata. Kakek nelayan itu tertawa bergelak saking girangnya dan demikianlah, mulai saat itu Yuan de Game dan Souw Li Hwa hidup sebagai suami isteri dan kakek nelayan itu yang ternyata memiliki kepandaian renang den bermain di dalam air seperti seekor ikan saja, menjadi pembantu mereka.

Yuan de Game masih merasa sungkan untuk muncul di tempat ramai dan ketahuan oleh orang-orang bahwa dia tidak lagi menjadi seorang kapten yang gagah perkasa maka dia mengajak untuk hidup sunyi di pantai laut dalam hutan, hanya ditemani oleh kakek nelayan itu.

Akan tetapi, setelah setahun kemudian Souw Li Hwa melahirkan anak kembar, terpaksa Yuan mengajak keluarganya pindah ke kota Yen-tai dan di situ dia hidup sebagai seorang pedagang yang dalam waktu beberapa tahun saja, telah menjadi kaya raya.

“Demikianlah, taihiap, aku diberi nama Maria de Gama alias Souw Kwi Eng, sedangkan kakak kembarku bernama Richardo de Game seperti kakek, alias Souw Kwi Beng. Kakek nelayan itu mengajar kami berdua ilmu di dalam air, sedangkan ibu mengajar kami ilmu silat. Dua tahun yang lalu kakek nelayan itu telah meninggal dunia karena usia tua.”

Mendengar penuturan itu, Tio Sun cepat bangkit dari kursinya, dan menjura dengan penuh hormat. “Maafkan kesangsian saya tadi. Kiranya nona adalah puteri pendekar Souw Li Hwa yang dipuji-puji oleh ayah, dan setelah mendengar siapa adanya nona, maka tentu saja saya siap untuk membantu nona.”

“Terima kasih, taihiap…”

“Maaf, harap nona tidak menyebut saya taihiap. Saya adalah putera ayah saya Tio Hok Gwan yang mengenal baik ibu nona, dan nama saya Tio Sun. Sekarang, perkenankan saya menghadap ibu nona untuk menyampaikan hormat saya…”

“Aihhh, kalau ibu berada di rumah, tentu sudah sejak tadi dia keluar. Tio-taihiap… eh, baik kusebut kau twako saja, ya?”

“Terserah, asal jangan menyebut taihiap, karena saya tidak pantas disebut taihiap.”

“Baiklah, Tio-twako. Ketahuilah bahwa ayah ibuku sudah setengah tahun ini pergi berkunjung ke barat, ke negeri ayahku di Portugal. Aku dan Beng-koko tidak boleh ikut dan diharuskan melanjutkan perdagangan ayah den menjaga rumah. Akan tetapi baru beberapa hari yang lalu terjadilah malapetaka itu.”

“Peristiwa apakaah yang terjadi, nona?”

“Kakakku diculik orang…” Dan wajah itu seketika menjadi muram, pandang matanya diliputi kegelisahan.

Tio Sun terkejut, akan tetapi pada saat itu, empat orang pelayan datang membawa hidangan yang segera diatur di atas meja. “Nanti saja kita lanjutkan, twako,”, kata Kwi Eng dan mereka lalu makan. Tio Sun yang kini sudah mengenal siapa adanya dara yang amat menarik hatinya ini tidak sungkan-sungkan lagi dan mereka makan tanpa bicara, kecuali kalau Kwi Eng menawarkan ini-itu kepada tamunya.

Setelah selesai makan den sisanya diasingkan oleh para pelayan, mereka kini duduk berdua lagi dan bercakap-cakap.

“Sekarang ceritakanlah bagaimana kakakmu dapat diculik orang, nona. Melihat kelihaianmu, tentu kakak kembarmu itupun seorang yang tidak akan mudah diculik orang begitu saja.”

“Dugaanmu memang benar, twako. Beng-koko memiliki kepandaian yang cukup, bahkah lebih pandai daripada aku. Selama belajar, aku hanya dapat mengatasi kakakku itu dalam ilmu di dalam air saja, akan tetapi dalam latihan ilmu silat, dia lebih pandai dariku. Akan tetapi yang menculiknya juga bukan orang biasa, melainkan gerombolan bajak laut Jepang yang diketuai oleh seorang yang lihai sekali yang bernama Tokugawa, dan terkenal sebagai seorang jagoan samurai yang menyeleweng menjadi kepala bajak. Di antara Tokugawa dan ayah ibu memang terdapat permusuhan, dimulai ketika Tokugawa dan anak buahnya merampok kapal milik ayah dan ayah bersama ibu segera merampasnya. Di dalam pertandingan satu lawan satu, Tokugawa dikalahkan oleh ibu. Semenjak itu, Tokugawa agaknya tergila-gila kepada ibu dan memiliki niat tidak baik, ingin membunuh ayah dan merampas ibu! Tentu saja ayah dan ibu menentangya dan selalu gerombolan Tokugawa dikalahkan. Kini, setelah ayah dan ibu pergi ke barat agaknya Tokugawa berani lagi bermain gila. Setelah dia dikalahkan untuk yang terakhir kalinya, dia Odak berani muncul lagi dan kabarnya menyembunyikan diri di Pulau Hiu yang kosong. Tiba-tiba, beberapa hari yang lalu dia muncul, tentu telah menggunakan akal sehingga dia berhasil menculik Beng-koko den mengiriin surat kepadaku. Inilah suratnya!”

Dengan wajah gelisah Kwi Eng lalu memperlihatkan sesampul surat yang ditulis dengan huruf-huruf kasar namun cukup jelas untuk dapat dibaca.

Kalau ingin melihat pemuda peranakan asing pulang dengan selamat, kirimkan kapal Angin Timur ke Pulau Hiu sebagai penukarnya.”

Di bawah huruf-huruf itu, terdapat sebuah gambar tengkorak hitam. “Apakah artinya gambar ini?” tanya Tio Sun setelah membaca surat itu.

“Itulah julukan Tokugawa, Si Tengkorak Hitam yang menjadi bendera gerombolannya.”

Setelah mengembalikan surat itu, Tio Sun bertanya, “Dan kapal Angin Timur itu adalah milik ayahmu?”

“Ya, kapal itu milik kami, kapal yang terbesar dan belum lama ini dibeli oleh ayah dari barat.”

“Kenapa kau tidak melaporkan kepada yang berwajib, nona? Bukankah sudah jelas ada bukti dengan surat itu?”

“Brakkkk!” Kwi Eng menggebrak meja sampai meja itu tergetar. “Itulah yang menjengkelkan dan menggemaskan! Kau tahu, twako, semua pembesar korup itu telah makan sogokan dari settap orang. Siapa saja yang mampu menyogoknya, tentu akan dilindungi, bahkan penjahat sekalipun tidak akan mereka ganggu selama penjahat itu melakukan sogokan dan membagi hasil!”

“Kaumaksudkan Tokugawa telah menyuap para pembesar?”

“Hal itu sudah diketahui oleh umum. Karena yang berani menentang hanya ayah dan ibuku, maka kini Tokugawa menentang kami dan berani mengganggu kami. Hal ini oleh para pembesar dianggap sebagai permusuhan pribadi dan mereka tidak mau mencampuri.”

“Hemmm… dan kapal itu amat berharga sehingga engkau merasa sayang untuk menukarnya dengan kakakmu?”

“Tio-twako!” Tiba-tiba dara itu bangkit berdiri dan memandang Tio Sun dengan sinar mata berapi. “Kaukira orang macam apa aku ini?”

Tio Sun cepat bangkit berdiri dan menjura. Hebat gadis ini, pikirnya. Penuh dengan semangat dan api! “Maafkan, nona. Aku tidak menyangka apa-apa, hanya bertanya untuk mengetahui bagaimana tanggapanmu terhadap surat ancaman bajak itu.”

Mereka duduk kembali dan Kwi Eng menarik napas panjang. “Engkau tentu tahu betapa sayangku kepada kakak kembarku itu, twako. Jangankan hanya sebuah kapal, biar seluruh harta benda kami akan kuserahkan untuk menebus keselamatan kakakku. Akan tetapi kau tidak tahu siapa adanya Tokugawa, kepala bajak yang seperti iblis itu. Dia tahu bahwa ayah dan ibu tidak ada, maka dia minta tebusan kapal dan aku tahu bahwa kalau kapal itu kuberikan, tetap saja Beng-koko tidak akan dia bebaskan begitu saja. Yang dia kehendaki adalah ibu atau… aku.”

“Maksudmu?”

Kwi Eng menundukkan mukanya. “Dahulu, Tokugawa pernah tergila-gila kepada ibu karena ibulah satu-satunya wanita yang pernah mengalahkannya dalam ilmu silat. Akan tetapi setelah niatnya itu gagal, dia pernah mengajukan lamaran kepada orang tuaku untuk minta… aku sebagai isterinya.”

“Hemm, manusia keparat!”

“Memang, dia kurang ajar sekali. Kini, dengan ditawannya kakakku, aku mengerti bahwa tentu dia akan menggunakan kakak sebagai sandera untuk memerasku, dan untuk memaksa menuruti kehendaknya itu.”

“Hemm… lalu bagaimana kehendakmu, nona?”

“Aku akan melawan! Aku akan melawan mati-matian!”

“Bagus kalau begitu!”

“Aku sudah siap, twako. Aku aku sudah mempersiapkan anak buah ayahku yeng terdiri dari lima puluh orang untuk menyerbu ke Pulau Hiu. Akan tetapi, selama ini aku selalu menunda niatku itu karena aku tahu bahwa baik kakakku maupun aku sendiri, tidak akan dapat mengalahkan Tokugawa. Bukannya aku takut kalah. Akan tetapi kalau sampai aku kalah, bukankah berarti hanya mati konyol dan kakakkupun tidak akan tertolong? Aku sedang menanti-nanti kembalinya ibu atau hendak mencari seorang pembantu yang memiliki kepandaian tinggi. Dan… agaknya Thian telah mengirim twako ke sini sehingga aku bertemu dengan twako. Dengan adanya twako yang membantu, twako tentu akan dapat menandingi Tokugawa dan kita akan depat menyelamatkan Beng-koko.”

“Kepandaianku tidak seberapa, nona, akan tetapi setelah mendengar penuturanmu, aku ingin berhadapan dengan Tokugawa si keparat kurang ajar itu dan aku mempertaruhkan nyawaku untuk menolong kakakmu.”

“Aku sudah melihat gerakanmu ketika kau dikeroyok tadi, twako, dan aku yakin bahwa engkau tentu akan mampu menandingi Tokugawa. Hanya saja, kurahap engkau berhati-hati dan tidak memandang rendah senjata pistol mereka.”

“Pistol?” Tio Sun belum pernah mendengar akan senjata ini.

“Agaknya engkau belum pernah melihat senjata itu. Tadi ketika kau dikeroyok, hampir saja engkau ditembak dengan pistol oleh Pedro si pengecut. Baiknya aku melihatnya dan mendahuluinya.”

“Hemm, jadi itukah sebabnya maka nona mempergunakan hui-to untuk melukai tangan si rambut merah itu? Dia hendak mempergunakan senjata pistol? Senjata rahasia apakah itu?”

“Sebuah senjata api, pelurunya digerakkan oleh obat peledak. Berbahaya sekali karena peluru itu cepat sekali menyambarnya, sukar dielakkan karena cepatnya.”

Tio Sun mengangguk-angguk. “Kiranya senjata api dengan obat peledak. Akan tetapi, aku pernah mendengar baha pemerintah melarang orang-orang membawa senjata seperti itu.”

“Memang benar demikian, maka tadipun aku mengancam Pedro dan kawan-kawannya. Akan tetapi siapa bisa melarang bajak-bajak yang hidupnya liar di atas lautan? Hanya baiknya, menurut pendengaranku, Tokugawa sebagai seorang bekas jagoan samurai, pantang mempergunakan senjata barat itu dan hanya mengandalkan pedang samunarinya yang amat dibanggakan. Mungkin di antara anak buahnya ada yang membawa pistol, akan tetapi jangan khawatir, akupun mempunyai beberapa buah pistol yang akan kubagi-bagikan kepada anak buahku. Aku sendiri lebih senang menggunakan hui-to daripada pistol yang sebetulnya kalan cepat karena pistol harus membidik dan mengisi obat peluru. Pendeknya, dengan bentuanmu, aku yakin akan dapat menyelamatkan Beng-koko, bahkan dapat membasmi Tokugawa dan anak buahnya.” Gadis itu kelihatan bergembira dan bersemangat sekali.

“Kapan kita berangkat, nona?”

“Besok sore, twako. Besok kupersiapkan anak buahku, lalu pada sore harinya kita berangkat dengan kapal Angin Timur. Kita bersikap seolah-olah memenuhi permintaan si jahanam Tokugawa. Akan kulihat bagaimana macam mukanya kalau dia melihat kita menyerbu pulau itu.”

Malam itu Tio Sun tidur di dalam sebuah kamar tamu di rumah Kwi Engm hetinya gembira sekali, dan malam itu tidurnya diisi mimpi indah dengan dara jelita yang amat menarik hatinya itu.

***

“Sebentar lagi baru air laut akan bergelombang besar,” kata Kwi Eng yang tiba-tiba muncul di dekat Tio Sun.

“Indah sekali pemandangannya, nona. Mengagumkan sekali.”

Malam itu bulan purnama muncul di langit yang cerah. Sinar bulan yang sejuk menerangi permukaan kapal yang melundur dengan tenangnya, dan Tio Sun yang berdiri di geladak kapal itu memandangi bayangan bulan yang menari-nari di atas permukaan air laut, mombuat jalur jalan keemasan. Air hanya berkeriput sedikit saa dan agaknya kalau tidak ada kapal yang meluncur itu, air laut mungkin akan diam seperti kaca.

“Sebentar lagi baru air laut akan bergelombang besar,” kata Kwi Eng yang tiba-tiba muncul di dekat Tio Sun.

“Indah sekali pemandangannya, nona. Mengagumkan sekali.”

Kwi Eng tertawa ditahan. “Memang demikianlah bagi yang belum pernah melihatnya. Hidup merupakan pengulangan-pengulangan yang membosankan sehingga baru hal-hal yang baru saja yang akan menarik hati. Coba twako tanyakan kepada setiap orang nelayan atau mereka yang biasa hidup di atas lautan, malam bulan purnama seperti ini same sekali tidak ada keindahannya. Para pelaut tentu lebih mengagumi keindahan di pegunungan, akan tetapi sebaliknya para penghuni gunung sama sekali tidak lagi depat menikmati tamasya alam di pegunungan.”

Tio Sun menghela napas panjang. “Agaknya engkau suka berfilsafat, nona.”

Kwi Eng tertawa lagi. “Mungkin hanya terpengaruh oleh kitab-kitab yang diajarkan oleh ibu kepadaku. Lihat, air laut mulai bergelombang, twako. Sehentar lagi gelombang akan cukup besar sehingga berdiri di sini tidak menyenangkan lagi. Apalagi bagi twako yang tidak biasa, jangan-jangan malah memabokkan. Mari kita masuk saja ke dalam, twako.”

Tio Sun melihat bayangan bulan tadi sudah pecah-pecah dan merasakan goyangan kapal ke kanan kiri. Dia mengangguk dan keduanya lalu memasuki bilik yang cukup besar di mana tersedia meja kursi.

“Bagaimana kau bisa tahu bahwa gelombang akan datang, nona? Padahal tadi tenang-tenang saja, bahkan air laut hampir tidak bergerak sama sekali.”

“Karena belum tiba saatnya, twako. Akan tetapi setiap malam terang bulan, air laut pasti bergelombang besar. Karena itu, para nelayan lebih senang mencari ikan di waktu malam gelap.”

Kwi Eng sengaja memberangkatkan kapal itu di malam hari agar tidak menarik perhatian orang-orang di pantai, karena dia tahu bahwa sudah pasti diantara anak buah bajak Tengkorak Hitam, ada yang memata-matai gerakannya. Dia mengerahkan anak buahnya kurang lebih lima puluh orang, sebagian besar adalah pribumi dan ada belasan orang anak buah bangsa asing yang bekerja di perusahsan ayahnya. Dia sendiri memakai pakaian ringkas, dengan sepatu yang hitam mengkilap, sepatu boot yang sampai di lututnya. Sebatang pedang tergantung di punggungnya dan Tio Sun memandang kagum karena dara itu benar-benar kelihatan gagah perkasa.

Malam itu gelombang amat besar dan kapal Angin Timur yang besar itu tidak dapat laju, harus menentang gelombang dan perlahan-lahan mendekati sebuah pulau yang terpencil jauh dari pulau-pulau lain. Menjelang pagi, ombak mereda dan kapal itu baru berani membuang sauh di dekat pulau, menanti sampai datangnya pagi. Setelah bola emas besar sekali itu muncul dari permukaan air di sebelah timur, membakar lautan menjadi merah menyala, barulah kapal itu bergerak lagi menuju ke pulau yang memanjang dan dari jauh kelihatan seperti seekor ikan hiu sedang meliuk. Yang berada di atas dek hanya Kwi Eng, Tio Sun dan beberapa orang anak buah yang bertugas memegang kemudi dan mengatur layar. Kapal besar itu kelihatan sunyi sekali dan kosong karena tidak ada sepuluh orang yang berada di atas geladak. Selebihnya, atas perintah Kwi Eng, menyembunyikan diri di bawah dan di balik bilik. Pembantu yang mengemudikan kapal itu sudah hafal akan tempat ini, maka dengan hati-hati dia dapat memilih jalan yang aman dan menempelkan kapal di tepi putlau yang airnya dalam. Di situ nampak beberapa buah perahu besar yang bercat hitam, dan beberapa orang yang tadinya berada di situ, berlari-lari ke daratan ketika melihat Kapal Angin Timur itu.

Tak lama kemudian, muncullah seorang laki-laki setengah tua, usianya kurang lebih lima puluh lima tahun, bertubuh pendek tegap, kelihatan kokoh kuat dengan sepasang lengannya yang pendek agak membengkok ke dalam. Dia memakai pakaian yang berlengan pendek sampai ke siku dan berkaki pendek sampai ke lutut sehingga nampaklah otot-otot di lengan dan kakinya yang melingkar-lingkar dan besar menggembung, tanda bahwa orang itu bertubuh kuat dan bertenaga besar. Rambutnya diikat di bagian atas dan dibiarkan terurai di belakang lehernya, dan di pinggangnya tampak sebatang pedang melengkung panjang, yaitu sebatang pedang samurai bergagang panjang. Kedua kakinya memakai sandal sederhana, dan mukanya tertutup kumis dan brewok yang membuat orang ini kelihatan menyeramkan. Inilah dia Tokugawa, kepala bajak laut Tengkorak Hitam yang amat ditakuti oleh para pemilik kapal karena kejamnya. Oleh karena itu, melalui perantara kepala bajak laut ini yang bukan lain adalah pembesar di kota Yen-tai sendiri, para pedagang dan pemilik kapal rela membayar uang sumbangan atau hadiah kepada kepala bejak ini agar kapal-kapal mereka dibebaskan dari gangguan Tengkorak Hitam. Tentu saja hal ini membuat Tokugawa menjadi seorang yang kaya raya dan hanya karena permusuhannya dengan Yuan de Gama dengan isterinya saja yang akhirnya membuat Tokugawa sampai terpaksa melarikan diri ke Pulau Hiu, di mana dia membangun sebuah rumah besar dan menjadikan pulau itu sebagai tempat persembunyiannya atau sebagai pusat dari gerombolan bajak Tengkorak Hitam.

Tokugawa tadinya adalah seorang jagoan samurai di Jepang. Golongan samurai ini amat termasyhur di Jepang yang muncul di abad ke sebelas. Pertama-tama muncul para pimpinan golongan-golongan yang menamakan dirinya sebagai pendekar yang disebut daimyo (yang bernama besar) dan para daimyo ini yang karena sifatnya seperti seorang jenderal pemimpin pasukan, maka muncullah golongan samurai (mereka yang mengabdi). Senjata para pendekar ini yang terutama adalah pedang panjang yang bergagang panjang pula, yang bentuknya agak melengkung. Banyak jagoan-jagoan samurai yang sudah tidak bertugas dalam pasukan seorang daimyo, lalu menjadi perantau dan sifat mereka yang amat menjunjung tinggi nama mereka sebagai jagoan samurai, mengutamakan kagagahan, seperti halnya para pendekar di Tiongkok.

Akan tetapi karena mabok akan wajah cantik wanita dan mabok akan kesenangan duniawi, berobahlah watak Tokugawa setelah tidak ada disiplin kelompok yang mengikatnya dan dia lalu dimusuhi oleh para jagoan samurai lainnya, karena dianggap sebagai seorang yang mencemarkan nama samurai. Tokugawa lalu melarikan diri dan akhirnya dia muncul sebagai kepala bajak yang disegani di sepanjang pantai Teluk Po-hai.

Benar seperti diceritakan oleh Kwi Eng kepada Tio Sun, bekas jagoan samurai ini ketika bentrok dengan Yuan de Gama dan bertanding satu lawan satu dengan Souw Li Hwa, samurainya tidak mampu menandingi Li Hwa dan tentu saja dia menjadi kagum bukan main. Di samping suka akan wanita dan kedudukan serta kehormatan, juga bekas jagoan samurai ini suka sekali akan kegagahan, maka melihat kegagahan Li Hwa, dia menjadi tergila-gila kepada nyonya itu! Akan tetapi ternyata dia selalu gagal menghadapi pendekar wanita dan suaminya itu, dan akhirnya ketika melihat puteri pendekar wanita itu yang sudah besar, dia mengalihkan harapannya kepada Kwi Eng karena dia tahu bahwa dara cantik inipun mewarisi kepandaian ibunya. Hal ini membuat Yuan de Gama dan Souw Li Hwa marah sekali dan dengan terang-terangan mereka ini memusuhi Tokugawa dan hendak membunuh serta membasmi gerombolannya. Tokugawa berkali-kali mengalami kekalahan dan akhirnya dia melarikan diri ke Pulau Hiu itu.

Ketika dia mendengar berita bahwa Souw Li Hwa yang ditakutinya itu bersama suaminya pergi ke barat timbul kembali niatnya dan akhirnya dia menggunakan pengeroyokan anak buahnya berhasil mengalahkan dan menculik Richardo de Gama, kakak kembar dari Kwi Eng dan membawanya sebagai tawanan ke Pulau Hiu. Mulailah dia melakukan pembalasan terhadap keluarga itu dengan jalan menggunaken Richardo, sebagai sandera dan dia minta ditukar dengan kapal Angin Timur, kapal terbesar di pantai itu! Kalau dia dapat memiliki kapal itu, tentu dia akan leluasa melakukan pembajakan, mengejar kapal-kapal lain yang tidak memberi sumbangan kepadanya! Dan tentu saja dia akan menggunakan pemuda itu untuk mendapatkan gadis yang dirindukannya, yaitu Kwi Eng si cantik jelita!

Dapat dibayangkan betapa girang hati Tokugawa ketika mendengar dari penjaga di pantai pulaunya bahwa kapal Angin Timur yang dinanti-nantinya telah muncul! Dan lebih girang lagi hatinya ketika dia mendengar laporan bahwa di antara delapan orang yang membawa perahu dan tampak di atas geladak itu terdapat Souw Kwi Eng, dara yang membuatnya tergila-gila sebagai pengganti ibu dara itu! Dia menggosok-gosok kedua tangannya. “Bagus, sekali tepuk dua lalat ini namanya, ha-ha-ha-ha!” Maka cepat dia mengumpulkan orang-orangnya yang berjumlah empat puluh orang lebih menuju ke pantai menyambut datangnya kapal itu.

Melihat munculnya musuh besar yang amat dibencinya itu, Souw Kwi Eng lalu mengerahkan khi-kangnya dan berseru dengan suara lantang, “Heiiiii…! Tokugawa, manusia curang! Hayo lekas bebaskan kakakku, baru aku akan menyerahkan kapal ini kepadamu. Kalau tidak, aku akan memutar kembali kapal ini!”

“Ha-ha-ha, nona manis. Engkau menjadi tamu kehormatan, silakan turun dulu dan kita bicara.”

“Siapa percaya omonganmu! Hayo lekas kau bebaskan kakakku!”

“Omongan seorang pendekar samurai boleh dipercaya seratus prosen seperti mempercaya pedangnya!” Tokugawa berseru agak marah karena kehormatannya tersinggung. Dia lalu memberi aba-aba dalam Bahasa Jepang kepada anak buahnya dan tak lama kemudian kelihatan seorang pemuda yang tampan dan yang mukanya persis Kwi Eng, hanya lebih besar dan tegap karena dia adalah seorang laki-laki yang gagah, juga matanya berwarna biru dan rambutnya keemasan. Pemuda ini adalah Souw Kwi Beng dan dia digiring ke pantai dengan kedua tangan terbelenggu ke belakang.

“Koko…!” Kwi Eng berseru girang ketika melihat kakaknya dalam keadaan selamat walaupun menjadi tawanan musuh.

“Moi-moi… jangan terjebak oleh jahanam Tokugawa! Jangan kaudengarkan omongannya yang palsu! Bawa anak buah sebanyaknya dan serbu saja, atau tunggu sampai ayah ibu pulang. Aku matipun tidak akan penasaran kalau kelak dia dan

gerombolannya terbasmi!”

Diam-diam Tio Sun kagum melihat pemuda itu yang demikian tabah dan bersemangat, persis seperti sikap dara jelita itu. Sudah berada di tangan musuh, berarti nyawanya berada di tangan musuh, masih berani bersikap menentang seperti itu.

“Ha-ha-ha-ha!” Tokugawa tertawa bergelak. “Nona manis, engkau tinggal pilih. Engkau serahkan kapal itu baik-baik dan menjadi tamu kehormatanku, atau kau boleh bawa pergi kapal itu akan tetapi lebih dulu kau akan melihat leher kakakmu kupenggal di sini, di depan matamu!” Tokugawa menggerakkan tangan kanannya dan “sratt!” pedang samurai yang melengkung penjang itu telah dihunusnya dan berkilauan tertimpa sinar matahari pagi. Sebatang pedang yang terbuat dari baja pilihan, pikir Tio Sun.

“Tokugawa, aku tidak takut akan ancamanmu. Aku memang mau menyerahkan kapal ini kepadamu sebagai penukar kakakku, akan tetapi suruh kakaku mendekat dan kau harus menjauhinya agar kau tidak bermain curang. Baru aku mau turun bersama kakakku.”

“Moi-moi, jangan…!” Kwi Beng berteriak penuh kekhawatiran.

“Biarlah, koko, matipun tidak mengapa, asal kita bersama. Pulau seorang jagoan samurai tentu tidak akan mencemarkan samurainya sendiri dengan jalan melanggar janji dan bertindak curang.”

“Ha-ha-ha?ha, kau benar, nona manis. Ha-ha-ha!” Tokugawa menyarungkan samurainya dan mendorong tubuh Kwi Bang ke arah pantai. “Kau sambutlah adikmu yang manis dan kalian akan kusambut sebagai tamu-tamu kehormatan, ha-ha-ha!”

Kwi Beng terhuyung dan menghampiri adiknya dengan kedua tangan masih terbelenggu ke belakang. Pada saat itu, Tio Sun mengeluarkan pekik melengking nyaring dan tubuhnya sudah melayang dari atas kapal ke derat, langsung dia menerkam dan menyerang Tokugawa!

Tokugawa terkejut bukan main, cepat dia menggerakkan lengannya yang amat kuat untuk menangkis. “Dukkk!” Benturan dua tenaga yang sama kuatnya itu membuat Tokugawa dan Tio Sun keduanya terlempar ke belakang. Tokugawa makin kaget dan cepat dia memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk menyerbu dan menangkap kakak beradik itu. Akan tetapi tiba-tiba berserabutan anak buah Kwi Eng keluar dari kapal dengan jumlah yang sama besarnya dengan jumlah anak buah bajak. Bahkan di antara mereka ada pula yang memegang pistol seperti juga anak buah Tokugawa. Kwi Eng sendiri cepat membebaskan kakaknya dari belenggu, menyerahkan sebatang pedang dan bersama kakaknya dia lalu barlari ke depan.

“Tahaaann…!” Tiba-tiba Tokugawa berseru sebelum anak buahnya bertempur melawan anak buah Kwi Eng. Dia mengangkat langan ke atas dan Kwi Eng juga cepat memberi aba-aba agar orang-orangnya menahan senjata.

“Nona Souw, engkau ternyata curang! Engkau menyembunyikan kaki tanganmu di dalam kapal yang katanya hendak kautukarkan dengan kakakmu!” Tokugawa berteriak, diam-diam matanya menghitung dan mengukur kekuatan lawan, kemudian mengerling tajam ke arah pemuda berpakaian kuning sederhana yang memiliki kekuatan dahsyat tadi.

“Tokugawa, manusia tak tahu malu, kau masih berani bicara tentang kecurangan orang lain? Engkau lari bersembunyi ketika ayah ibu kami masih berada di Yen-tai, kemudian engkau muncul ketika mareka melakukan perjalanan ke

luar negeri, dan engkau menculik kakakku. Adakah yang lebih curang dari itu? Sekarang aku datang dengan pasukanku untuk membasmimu, dan engkau bilang aku curang?”

“Bocah she Souw yang sombong! Karena aku kagum kepada ibumu dan karena aku cinta kepadamu maka aku tidak membunuh kakakmu, aku perlakukan dengan baik. Daripada engkau dan kakakmu mati konyol, lebih baik engkau menurut saja menjadi isteriku dan kita semua menjadi keluarga, bukankah kedudukan kita akan menjadi lebih kuat?”

“Jahanam hina! Manusia macam engkau ingin memperisteri aku? Lebih baik aku mati bersama kakakku daripada dijamah tangan kotormu yang berlumuran darah manusia tak berdosa itu. Kau orang hina dan curang, yang hendak bersembunyi di belakang samuraimu yang sudah berkarat!”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: