Dewi Maut (Jilid ke-32)

Hebat bukan main hinaan ini bagi seorang jagoan samurai. Tio Sun menjadi terkejut mendengar kata-kata dara itu, karena kata-kata itu luar biasa tajamnya menusuk perasaan.

“Bocah bermulut lancang! Kau menghina Tokugawa? Ayahmu sendiri seorang pengecut, bersembunyi di balik nama seorang kapten gagah perkasa yang tewas bersama kapalnya, tapi diam-diam melarikan diri dan hidung dengan sembunyi-sembunyi…! Kalau memang kalian keluarga gagah, hayo lawan Tokugawa satu lawan satu!”

Tio Sun mengangguk dan dia melangkah maju menghadapi Tokugawa. “Tokugawa, akulah lawanmu. Kita bertanding satu lawan satu ataukah hendak main keroyokan?”

“Siapa kau?” Tokugawa membentak dengan suara yang agaknya keluar dari dalam perutnya yang gendut.

“Namaku Tio Sun.”

“Kenapa kau mencampuri urusan ini? Apakah engkau kaki tangan bayaran dari keluarga berdarah campuran ini? Sungguh memalukan sekali seorang pendekar menjadi antek orang asing!”

“Tokugawa, mulutmu kotor seperti pecomberan!” Kwi Eng membentak, akan tetapi Tio Sun tersenyum kepadanya.

“Tokugawa, dengarlah baik-baik. Ayahku adalah seorang bekas pengawal yang paling dipercaya dari mendiang Panglima Besar The Hoo, oleh karena itu, biarpun aku tidak bekerja kepada pemerintah, namun melihat bahwa engkau adalah kepala bajak laut yang jahat dan mengganggu ketenteraman, sudah menjadi kewajibanku untuk menentang dan membasmimu.”

“Keparat, bocah sombong engkau. Sudah bosan hidup agaknya. Hyaaaaattttt…!”

Dengan tiba-tiba Tokugawa menyerang dengan kedua lengannya yang pendek-pendek namun kuat sekali itu. Caranya menyerang seperti seekor kerbau hendak menyeruduk, kepalanya di depan dan kedua lengannya menyambar dari kanan kiri, agaknya hendak meringkus tubuh Tio Sun yang dibandingkan dengan dia hanya kecil saja sungguhpun jauh lebih jangkung.

Tio Sun yang maklum bahwa orang ini mungkin ahli bermain pedang, akan tetapi bukan ahli berkelahi dengan tangan kosong, hanya mengandalkan tenaga kasarnya saja, maka dia sengaja tidak mau mengelak, melainkan menangkis pula dengan kedua lengannya yang dikembangkan ke kanan kiri.

“Plak! Plakk!”

Untuk kedua kalinya mereka mengadu tenaga, kini dengan kedua lengan, dan akibatnya, lengan mereka terpental. Akan tetapi, tiba-tiba Tio Sun menjadi terkejut bukan main karena entah bagaimana, tahu-tahu tangan Tokugawa telah dapat menangkap lengannya, dengan cara yang aneh dan cepat lengannya diputar dan sebelum Tio Sun sempat membebaskan diri, tubuhnya sudah terlempar!

Untung pemuda ini memiliki gin-kang yang baik sekali dan cepat dia dapat menguasai keseimbangan tubuhnya sehingga dia dapat terhindar dari bantingan, dan dari kejaran Tokugawa yang sudah tertawa-tawa.

“Keparat, siapa takut padamu?” kini Souw Kwi Beng hendak meloncat ke depan, akan tetapi adiknya memegang lengannya dan menoleh ke arah Tio Sun.

“Tio-twako, maukah kau mewakili kami memberi hajaran kepada bejak sombong ini?” katanya.

Plak! Desss!” Tokugawa yang kini terkejut ketika tubuhnya terkena tamparan dan perutnya tercium ujung kaki lawan ketika dia hendak mengejar lawan yang telah dibantingnya itu. Keduanya lalu meloncat bangun lagi, saling pandang dengan sinar mata saling mengukur dan marah seperti lagak dua ekor ayam jago yang berlaga hendak saling terjang.

Tio Sun merasa kecelik. Biarpun mungkin Tokugawa tidak memiliki ilmu pukulan yang membahayakan, namun ternyata kepala bajak ini memiliki kepandaian gulat dan gerakan seperti Ilmu Kim-na-jiu yang mengandalkan kecepatan kedua tangan dan mematahkan kedudukan kaki lawan. Tahulah dia bagaimana harus menghadapi lawan yang pandai Ilmu Kim-na-jiu (Ilmu Silat Cengkeraman dan Pegangan) ini. Sama sekali tidak boleh merapat atau mengadu tangan! Maka Tio Sun lalu menerjang dengan cepat sekali, mengirim pukulan-pukulan mengandalkan kecepatan gerakannya dan sama sekali tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk merapat.

“Bukkk…desss…!” Tubuh Tokugawa terpelanting, akan tetapi tubuhnya menang kuat dan kebal sehingga hantaman tangan kiri Tio Sun yang mengenai pundak kanannya disusul tendangan pemuda itu yang mengenai lambungnya tidak membuat si kate kekar ini kalah. Dia terpelanting dan bergulingan lalu meloncat dekat lawan, langsung dia menerkam seperti seekor burung garuda menyambar anak kambing.

Kini Tio Sun mengelak cepat, meloncat ke kiri dan sengaja berlaku sedikit lambat sehingga lawan lewat dekat di sampingnya. Sikunya menyambar disusul tamparan pada tengkuk lawan.

“Plakkk…desss…!” Kembali tubuh Tokugawa terjungkal dan bergulingan, akan tetapi tetap saja dia meloncat bangun lagi. Kedua matanya menjadi merah, mulutnya mengeluarkan busa dan jenggot serta kumisnya bergerak-gerak, dari mulutnya terdengar bunyi kerot gigi beradu. Kedua tangannya direnggangkan dengan jari-jari tangan terbuka, buku-buku jari tangannya mengeluarkan bunyi berkerotokan dan tiba-tiba tampak sinar kilat menyambar ketika dia mencabut samurainya yang gemerlapan saking tajamnya itu. Setelah mencabut samurainya, agaknya bangkit semangat jagoan samurai dalam diri Tokugawa. Sikapnya menjadi gagah sekali, gagah dan tenang, agaknya dia telah mampu menguasai kemarahannya setelah melihat samurainya yang diagungkannya itu. Kedua tangan memegang gagang samurai yang panjang, tubuhnya agak membongkok, kedua kakinya memasang kuda-kuda, matanya terang dan tajam memandang gerak-gerik lawan, dan sedikitpun dia tidak bergerak seolah-olah telah berobah menjadi arca batu.

Tio Sun juga sudah mencabut pedangnya. Pemuda itu sama sekali tidak berani memandang rendah karena biarpun cara memegang pedang lawannya begitu aneh, menggunakan dua tangan, namun sikap lawannya, pasangan kuda-kudanya, gerakgeriknya, jelas membayangkan keahlian. Pula, selama hidupnya belum pernah dia bertemu dengan lawan yang menggunakan pedang samurai, maka dia tidak tahu bagaimana sifat ilmu pedang ini. Oleh karena itu, setelah menghunus pedangnya dan memegang pedang dengan tangan kanan, Tio Sun juga memasang kuda-kuda yang gagah, kaki kiri tegak, kaki kanan diangkat den ditekuk lututnya sehingga ujung sepatu kanan menyentuh lutut kiri, pedangnya di depan tubuh menuding ke bawah, ujungnya menyentuh tanah den tangan kiri di atas kepala menuding ke langit, mata mengerling ke kanan, ke arah lawan dengan pandang mata tajam. Inilah pembukaan kuda-kuda yang disebut Menunjuk Bumi dan Langit yang merupakan pembukaan pertahanan yang amat kuat.

Melihat lawannya tidak dapat dipancing untuk menyerang lebih dulu, Tokugawa yang menjadi penasaran itu lalu menggerakkan pedangnya. “Singgg… hyyyaaaatttt!” Dia berlari ke depan, pedangnya digerakkan dengan cepat sekali, terputar-putar berobah menjadi gulungan sinar pedang kilat yang bergulung-gulung dan mengeluarkan bunyi dahsyat.

“Sing-singggg… wuuutt-wuuutt-wuutt…!”

Tio Sun cepat mengelak den kini dia mulai mengerti akan kedahsyatan ilmu pedang yang dimainkan oleh dua tangan itu. Pedang itu melengkung dan panjang lagi berat, digerakkan oleh kekuatan dua buah tangan maka tentu saja amat hebat dan dahsyat, sekali saja mengenai tubuh lawan pasti berarti maut dan gerakan lawan itu sembilan puluh prosen berupa serangan, den sedikit sekali mementingkan pertahanan karena tentu menurut perhitungan Tokugawa, serangannya yang dahsyat dan bertubi-tubi tanpa memberi kesempatan kepada lawan itu pasti membuat lawan tidak mampu balas menyerang. Jadi inti gerakan Tokugawa itu adalah semata-mata menekan lawan dan tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk membalas!

Tio Sun sejak kecil digembleng oleh ayahnya sendiri dan ayahnya itu, Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan, adalah seorang bekas pengawal Panglima Besar The Hoo sehingga telah melakukan ribuan pertempuran dan telah memiliki pengalaman vang luas sekali menghadapi orang-openg pandai dari berbagai aliran. Karena tidak mungkin baginya untuk menceritakan semua teori aliran-aliran ilmu silat yong demikian banyaknya, maka dia hanya memesan kepada puteranya itu agar setiap kali menghadapi lawan yang tidak dikenal ilmunya, janganlah terburu nafsu untuk mengalahkan lawan itu sebelum tahu benar-benar akan kelemahan-kelemahannya. Terburu nafsu ini mungkin akan mencelakakan diri sendiri karena dalam keadaan terdesak, lawan itu mungkin memiliki suatu ilmu simpanan yang akan berbalik mencelakakan penyerangnya.

Oleh karena itu, biarpun Tio Sun sudah tahu bahwa lawannya lebih menekankan penyerangan sehingga pertahanannya menjadi lemah, dia tidak mau tergesa-gesa membalas serangan lawannya, apalagi karena dia maklum bahwa lawannya ini memiliki ilmu yang aneh-aneh dan tentu saja sebagai seorang tokoh sesat telah memiliki pengalaman pertempuran yang amat luas. Oleh karena itu, dia hanya mengelak dan kadang-kadang menangkis dan setiap kali tangkisan, pedangnya tentu terpental karena tenaga sebelah tangannya, betapapun kuatnya, tidak mampu menandingi tenaga kedua tangan Tokugawa.

“Sing-sing-wuuut-wuuuttt… trang-cringggg…!”

Sampai lewat lima puluh jurus Tio Sun kelihatan seolah-olah terdesak oleh Tokugawa dan anak buah Tokugawa sudah menyeringai dan tersenyum-senyum girang. Mereka itu agaknya maklum bahwa pemuda itu adalah “jagoan” yang dibawa oleh musuh, dan kalau sang jagoan itu sudah dirobohkan, tentu akan mudah membasmi pasukan lawan yang sudah kehilangan jagoannya yang diandalkan. Akan tetapi, di fihak Kwi Eng dan Kwi Beng, hanya para anak buah mereka saja yang kelihatan gelisah melihat Tio Sun terus didesak mundur, bahkan sering kali samurai yang tajam bukan main itu hanya berselisih sedikit dari tubuh jagoan mereka! Akan tetapi Kwi Eng dan Kwi Beng menonton dengan tenang-tenang saja. Dua orang muda ini adalah putera-puterl pendekar wanita Souw Li Hwa dan mereka itu dapat melihat betapa Tio Sun bertanding dengan hati-hati dan tenang, tanda bahwa pemuda itu memang berkepandaian tinggi dan tidak sembarangan main seruduk saja yang kemudian akan mengakibatkan kekalahan di fihaknya.

Kini mulailah Tio Sun dapat mempelajari inti gerakan lawan. Juga dengan girang dia melihat betapa lawannya sudah mulai berkeringat dan napasnya mulai memburu. Hal ini tidak mengherankan karena Tokugawa telah berusia lima puluh tahun lebih, menggerakkan samurainya dengan kedua tangan dan dengan sepenuh tenaga, ditambah lagi cara hidupnya yang tidak sehat, maka tentu saja ketangkasan dan daya tahannya tidak seperti di waktu dia masih menjadi seorang jagoan samurai di negerinya. Diapun maklum bahwa lawannya ini hebat bukan main, tidak boleh dipandang ringan saja. Dahulu pernah dia memandang ringan kepada Souw Li Hwa dan dia kalah, hampir saja dia tewas. Maka kini dia harus bersikap hati-hati. Setelah mendesak selama lima puluh jurus dan sama sekali tidak ada tanda-tanda bagi lawan untuk kewalahan menghadapi samurainya, bahkan gerakan lawan makin lama makin cepat dan ringan, Tokugawa lalu menggunakan siasat. Dia sengaja memperberat napasnya dan memperlambat gerakannya.

Betapapun juga, Tio Sun adalah seorang pemuda yang baru saja keluar dari rumah ayahnya, seperti seekor burung yang baru keluar dari sarang. Biarpun dia telah mempelajari banyak teori, akan tetapi dia belum banyak pengalaman, maka dia tidak tahu bahwa lawannya itu berpura-pura kehabisan tenaga. Dia menjadi girang sekali melihat kelambatan gerakan samurai, maka mulailah dia menyerang!

“Heiiiiittttt…!” Pedangnya meluncur seperti kilat.

“Cring-cringgg… ciuuuutttt…!” Samurai itu menangkis dua kali dan tiba-tiba dari pinggir gagangnya meluncur sebatang paku ke arah Tio Sun.

“Aduhhh…!” Tio Sun terpekik karena kaget ketika tahu-tahu paku itu menancap di pundak kirinya. Pedangnya berkelebat cepat laksana kilat dan kini Tokugawa yang berteriak, tangannya berdarah dan terpaksa dia melepaskan samurainya. Pada saat itu Tio Sun yang telah terluka pundaknya itu secepat kilat menusukkan pedangnya ke arah dada lawan. Tokugawa miringkan tubuhnya membiarkan pedang itu menancap di pundaknya akan tetapi pada saat itu, kedua tangannya menyambar dan dia sudah berhasil menangkap kedua pergelangan tangan Tio Sun! Cengkeramannya itu kuat sekali dan Tio Sun maklum bahwa agaknya tidak mungkin melepaskan kedua lengarmya dari cengkeraman itu, maka diam-diam dia lalu mengerahkan sin-kangnya untuk memberatkan tubuhnya.

Tokupwa tertawa bergelak. Jagoan samurai ini maklum bahwa bagi ahli silat, yang berbahaya adalah kedua tangannya, maka kini dia telah berhasil menangkap kedua pergelangan tangan lawan, membuat lawannya tidak berdaya. Dia sama sekali tidak berani melepasken lengan lawan, karena maklum bahwa begitu terlepas, tangan itu akan dapat mengirim

pukulan maut dengan cepat sekali dan hal ini amat membahayakan dirinya. Maka setelah kini berhasil menangkap lengan lawan, dia tertawa, “Ha-ha-ha, hayo, kaulepaskan dirimu kalau bisa! Dan bersiaplah kau untuk mampus kubanting!”

Souw Kwi Beng dan Souw Kwi Eng memandang dengan kaget sekali. Tadi mereka sama sekali tidak khawatir karena ilmu silat pemuda yang membantu mereka itu ternyata tinggi sekali. Akan tetapi sekarang, dengan kedua pergelangan tangan dicengkeram, ilmu silat tidak ada gunanya lagi, karena kedua lengan tak dapat digerakkan. Kwi Beng dan Kwi Eng merasa heran mengapa pemuda itu tidak mau menggunakan kakinya untuk menendang. Dan Tokugawa juga bahkan mengharapkan lawannya itu menggerakkan kaki menendangnya. Akan tetapi Tio Sun berpendapat lain. Setelah bertempur, dia maklum bahwa dia dapat mengatasi ilmu silat kepala bajak ini, akan tetapi yang amat diandalkan oleh lawannya dan tidak dapat diatasinya hanyalah ilmu gulat yang aneh. Maka dia tidak mau mengangkat kaki menendang, karena dia menduga bahwa pada saat dia menendang, maka kekuatan bawah tubuhnya lenyap dan dia akan mudah diangkat dan dibanting oleh lawan yang bertenaga gajah ini. Dan dugaannya memang benar, Tokugawa juga menanti-nanti saat itu.

Karena dia mendapat kenyataan bahwa lawannya tetap tidak mau menendangnya bahkan kelihatan seperti memasang kuda-kuda yang kokoh kuat, Tokugawa tertawa, kemudian tiba-tiba mengeluarkan suara dari perut dan kedua lengannya bergerak, otot-otot sebesar jari tangan di sekitar lengannya menonjol.

“Haaaaaiiiiikkkkk… hyaaaaatttt…!” Dia mengerahkan seluruh tenaganya, dengan ilmu gulat dia berusaha mengangkat tubuh pemuda itu untuk dilemparkannya atau dibantingnya. Akan tetapi, sedikitpun kedua kaki Tio Sun tidak terangkat! Pemuda ini adalah putera tunggal, juga murid dari Tio Hok Gwan yang berjuluk Ban-kin-kwi (Setan Bertenaga Selaksa Kati), maka tentu saja dia sudah melatih diri dengan ilmu kebanggaan keluarganya ini sehingga kini jangankan baru tenaga seorang Tokugawa, biar kepala bajak itu menggunakan bantuan sepuluh orang kaki tangannya, belum tentu akan mampu mengangkat tubuh Tio Sun!

Tentu saja Tokugawa menjadi penasaran sekali. Dia adalah seorang jagoan samurai yang terkenal memiliki tenaga hebat dan jarang ada lawan yang mampu menandingi tenaganya. Akan tetapi sekarang, setelah menguasai kedua lengan lawan ini, seorang pemuda yang masih amat muda, bertubuh kecil saja, seorang pemuda yang belum ternama, dia tidak mampu mengangkatnya!

Saking marahnya, dia mengerahkan seluruh tenaga dalam dan tenaga otot, perutnya mengeluarkan gerengan seperti seekor harimau terluka.

“Auggghhhh… haaaiiiikkkkk… prott!”

Kwi Eng sebagai seorang gadis yang wataknya jenaka dan periang, tidak mampu menahan kegelian hatinya mendengar suara terakhir tadi, karena suara berperopot itu keluar dari pantat Tokugawa!

“Hi-hi-hik, tak tahu malu…!” Kwi Eng terkekeh sambil menutupi hidungnya, menjepitnya dengan ibu jari dan telunjukiya.

Pada saat itu, Tio Sun nengeluarkan pekik dahsyat melengking, tanda bahwa dia telah mengerahkan Ban-kin-keng (Tenaga Selaksa Kati) sepenuhnya dan tiba-tiba saja tubuh Tokugawa terangkat ke atas dan sekali Tio Sun menggerakkan kedua lengannya, terlepaslah pegangan kedua tangan Tokugawa dan tubuh kepala bajak itu terlempar ke depan sampai enam tujuh meter jauhnya, terbanting ke atas tanah berdebuk dan mengebullah debu di atas tanah yang tertimpa tubuhnya itu. Sebelum Tokugawa sempat merangkak bangun, tampak sinar menyambar dibarengi suara ledakan, “Tar-tar…!” Dan tubuh itu roboh kembali dengan kepala pecah disambar pecut baja, yaitu joan-pian yang merupakan pecut yang dipakai oleh Tio Sun sebagai ikat pinggang!

Tentu saja peristiwa ini mengejutkan hati para bajak laut dan serentak mereka menyerbu ke depan didahului oleh tembakah-tembakan dari pistol beberapa orang anak buah bajak. “Tio-twako, awas pistol…!” Kwi Eng menjerit, akan tetapi Tio Sun yang sudah bersikap waspada, cepat meloncat ke belakang, kemudian bertiarap di dekat Kwi Eng dan Kwi Beng yang merupakan seorang jagoan tembak, menyambar sepucuk pistol dari tangan seorang anak buahnya, lalu bersama para anak buahnya yang memegang pistol dia lalu maju. Terjadilah tembak-menembak, akan tetapi hanya sebentar saja karena Kwi Eng yang tahu bahwa fihak lawan sudah kehabisan peluru tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk mengisi kembali senjata api mereka dan sudah mengerahkan anak buahnya menyerbu ke depan. Dia sendiri bersama kakaknya dan Tio Sun sudah meloneat ke depan dan mengamuklah tiga orang muda ini dengan hebatnya.

Perang tanding kini terjadi dengan amat seru. Akan tetapi sebentar saja para bajak yang sudah kehilangan kepalanya itu menjadi kocar-kacir. Banyak di antara mereka yang tewas dan sebagian lagi berhasil melarikan diri dari Pulau Hiu dengan perahu-perahu mereka. Kwi Eng hendak mengerahkan anak buahnya untuk melakukan pengejaran, akan tetapi dicegah oleh Tio Sun.

“Nona, tidak perlu mereke dikejar. Niat kita hanya menyelamatkan kakakmu dan hal itu sudah berhasil, sedangkan Tokugawa telah tewas.”

Kwi Beng membenarkan pendapat Tio Sun ini dan mereka lalu membakar bekas sarang gerombolan bajak laut itu, kembali lagi ke kapal membawa teman-teman yang tewas atau luka dalam pertempuran tadi dan kembali ke pantai daratan.

Dengan hati penuh rasa kagum, kakak beradik kembar itu setelah tiba di dalam gedung mereka, menghaturkan terima kasih kepada Tio Sun yang diterima oleh pemuda sederhana ini dengan sikap merendahkan diri. Kwi Beng juga girang mendengar bahwa pemuda ini ternyata adalah putera pengawal setia dari Panglima Besar The Hoo, guru dari ibunya sendiri.

“Tio-twako hendak pergi ke manakah maka kebetulan dapat lewat di Yen-tai dan dapat bertemu dengan Eng-moi dan menolongku?” Kwi Beng bertanya.

Tio Sun menarik napas panjang. “Sebetulnya aku sedang memikul tugas yang amat penting sebagai wakil dari ayahku yang sudah tua dan yang tidak suka lagi mencampuri urusan dunia. Karena ayah merasa penasaran akan peristiwa dan malapetaka yang menimpa keluarga ketua Cin-ling-pai yang amat dihormati dan disayangnya, maka ayah menyuruh aku untuk pergi melakuken penyelidikan dan membantu Cin-ling-pai.”

Kwi Beng den Kwi Eng kelihatan terkejut dan tertarik sekali. “Apakah twako maksudkan Pendekar Sakti Cia Keng Hong ketua Cin-ling-pai?” tanya Kwi Beng.

Tio Sun tidak merasa heran kalau dua orang kakak beradik ini telah mendengar akan nama Cia Keng Hong. Siapakah yang tidak mendengar nama besar ketua Cin-ling-pai yang merupakan pendekar atau tokoh besar di dunia persilatan pada masa itu?

“Jadi ji-wi (anda berdua) sudah mengenal beliau?”

“Mengenal sih belum,” jawab Kwi Eng. “Akan tetapi ibu sering kali bercerita kepada kami tentang pendekar-pendekar sakti dan budiman di dunia kang-ouw, di antaranya adalah Cia Keng Hong locianpwe, ayahmu bekas pengawal Tio Hok Gwan, dan pendekar Yap Kun Liong. Karena ibu sering bercerita, kami mengenal nama-nama besar itu sungguhpun belum pernah berjumpa dengan mereka dan baru sekarang secara kebetulan kami dapat bertemu den berkenalan dengan twako.”

“Apakah yang telah terjadi dengan Cin-ling-pai? Malapetaka apa yang dapat menimpa ketua Cin-ling-pai yang menurut ibu memiliki kepandaian yang amat tinggi?” tanya Kwi Beng.

“Peristiwa itu terjadi sewaktu Cia-locianpwe (orang tua sakti Cia) den isterinya tidak berada di Cin-ling-san. Lima orang datuk sesat dari dunia hitam yang agaknya menaruh dendam kepada keluarga Cia-locianpwe menggunakan kesempatan itu untuk menyerbu dan mengacau Cin-ling-pai, mencuri pedang pusaka Siang-bhok-kiam den membunuh tujuh orang dari Cap-it Ho-han di Cin-ling-pai.” Tio Sun mulai dengan penuturannya dan kemudian dia menceritakan semua peristiwa yang terjadi di Cin-ling-san sebagaimana yang didengar dari ayahnya.

Dua orang kakak beradik itu mendengarkan dengan penuh perhatian, dan dengan hati diliputi penuh rasa penasaran karena cara Lima Bayangan Dewa yang mengganggu Cin-ling-pai itu mereka anggap amat pengecut.

“Dengan menyebutkan nama asing kami, jelas bahwa pembesar korup ini tidak mempunyai niat yang baik,” kata Kwi Beng.

“Pembesar busuk!” Kwi Eng memaki. “Sungguh dia berani menghina kita setelah ayah ibu tidak ada di sini. Lupakah dia betapa ibu sudah membersihkan Yen-tai dari gangguan para penjahat dan betapa sudah banyak dia makan uang hadiah dari ayah?”

Tio Sun merasa khawatir sekali. “Kalau sekiranya dia mempunyai niat buruk, lebih baik ji-wi tidak usah datang menghadapnya.”

“Kita tidak mempunyai pilihan lain,” Kwi Beng berkata. “Kalau tidak datang tentu dianggap membangkang dan memberontak. Biarlah kami berdua datang untuk mendengar apa yang akan dikatakannya.”

“Dan aku akan membawa bekal untuk menutup mulutnya kalau perlu,” kata Kwi Eng. Mereka lalu mempersiapkan segalanya, tidak lupa sekantong terisi uang emas, kemudian minta kepada Tio Sun agar menanti sebentar di gedung mereka. Tak lama kemudian berangkatlah kakak beradik itu menghadap pembesar setempat, diantar pandang mata penuh kekhawatiran oleh Tio Sun.

Sampai hampir sore dua orang kakak beradik itu belum juga pulang dan hati Tio Sun telah merasa gelisah sekali. Tak lama kemudian, datang seorang anggauta atau anak buah keluarga itu berlarian dengan terengah-engah dia menceritakan betapa Kwi Eng dan Kwi Beng telah ditangkap dengan tuduhan memberontak, bahkan para anak buahnya yang malam tadi menyerbu Pulau Hiu juga ditangkap semua!

“Celaka…!” Tio Sun berseru kaget dan pada saat itu, sepasukan perajurit keamanan kota datang menyerbu gedung tempat tinggal Kwi Eng dan Kwi Beng.

“Tio-taihiap, larilah… kalau tidak taihiap tentu akan ditangkap pula!” kata orang yang datang pertama tadi.

Tio Sun maklum bahwa tidak mungkin dia melawan perajurit-perajurit pemerintah. Dia putera bekas pengawal setia dari kerajaan, maka tentu saja tidak mungkin bagi dia untuk melawan perajurit pemerintah, sungguhpun sekali ini para perajurit itu dipergunakan oleh seorang pembesar yang agaknya sewenang-wenang.

“Kalau begitu, hayo kau ikut aku melarikan diri!” Tio Sun menyambar lengan orang itu dan membawanya lari lewat pintu belakang setelah mengambil buntalan pakaian dan pedangnya. Karena dia dapat bergerak cepat sekali, biarpun dia mengajak seorang anak buah Kwi Beng, dia dapat lolos melalui tembok belakang ketika para perajurit menyerbu gedung itu, menangkapi pelayan dan menyita gedung seisinya.

Apakah sesungguhnya yang telah terjadi atas diri Souw Kwi Beng den Souw Kwi Eng? Mereka berdua pergi menghadap Ciang-tikoan, akan tetapi begitu mereka tiba, segera keduanya dikepung oleh sepasukan perajurit dan ditangkap dengan tuduhan telah membunuhi para nelayan di Pulau Hiu! Tentu saja Kwi Beng menjadi marah sekali dan hampir saja dia mengamuk kalau tidak dilarang oleh Kwi Eng.

“Kita difitnah, Beng-ko den kita dapat membela diri di pengadilan. Kalau kita menentang, berarti kita memberontak terhadap penguasa setempat yang mewakili pemerintah.” Demikian kata Kwi Eng dan gadis ini lalu menyerahkan bungkusan uang emas kepada kepala pasukan agar disampaikan kepada Ciang-tikoan. Akan tetapi mereka tetap saja ditawan, dibelenggu dan dihadapkan kepada tikoan, sedangkan kantong terisi uang itu entah ke mana larinya!

Dengan suara keren tikoan membentak kedua orang kakak beradik yang sudab dipaksa berlutut di depannya itu. “Kalian ini keturunan orang-orang asing berani membuat keonaran di daerah kami? Kalian telah mengandalkan kekuatan, membunuhi para nelayan di Pulau Hiu den merampok harta benda mereka.”

Dua orang kakak beradik itu mengangkat muka dan memandang kepada tikoan itu dengan heran dan penasaran. Ciang-tikoan ini sudah mengenal baik orang tua mereka, sudah pernah datang ke gedung mereka dan sudah banyak memperoleh hadiah, akan tetapi sikapnya sekarang ini seolah-olah seperti belum pernah kenal saja, seperti menghadapi dua orang penjahat!

“Maaf, taijin (sebutan pembesar). Kami sama sekali tidak merasa membunuhi nelayan, apalagi merampok harta mereka,” jawab Kwi Beng.

“Brakkk!” Tikoan menggebrak mejanya. “Kau masih berani membohong, Richardo de Gama? Beberapa orang nelayan dari Pulau Hiu berhasil lolos dan mereka menjadi saksi-saksi utama. Kau tidak mengaku bahwa malam tadi kalian berdua membawa anak buah, dan naik kapal Angin Timur menyerbu Pulau Hiu dan membunuhi banyak nelayan tak berdosa di sana?”

“Tidak! Itu hanya fitnah semata!” Kwi Eng menjawab dengan suara lantang. “Sayalah yang membawa anak buah naik kapal Angin Timur menyerbu Pulau Hiu, akan tetapi sama sekali bukan untuk membunuhi nelayan, melainkan untuk menolong kakak saya ini yang diculik oleh gerombolan bajak laut yang dipimpin oleh Tokugawa.”

“Ha, jadi kalian sudah mengaku telah menyerbu Pulau Hiu, bukan? Sudah ada bukti dan pengakuan, jadi sudah jelas dosa kalian! Jangan mencoba memutarbalikkan kenyataan, ya? Di Pulau Hiu tidak ada bajak, yang ada hanya beberapa orang petani dan nelayan Bangsa Jepang dan pribumi yang hidup tenteram.”

“Taijin! Mereka itu benar-benar para bajak yang dipimpin oleh Tokugawa!” Kwi Beng berseru.

Ciang-tikoan mengangkat tangannya. “Kau hendak membantah? Mana buktinya bahwa ada bajak laut di sana? Kalau ada bajak laut tentu sudah kusuruh basmi!”

“Tapi benar-benar kakak saya diculik, taijin!” Kwi Eng membantah.

“Diam! Tanpa bukti, kalian tidak boleh bicara seenaknya saja. Karena masih mengingat kebaikan orang tua kalian, aku tidak akan menyuruh hukum rangket kepada kalian, akan tetapi kalian telah melakukan pembunuhan besar-besaran ini harus diadili di kota raja sebagai pemberobtak-pemberontak!”

“Taijin…!” Kwi Beng berteriak marah.

“Kau akan memberontak pula di sini?” pembesar itu mengangkat tangan dan para perajurit pengawal sudah mengurung pemuda yang terbelenggu kedua tangannya di belakang tubuh itu.

“Tidak, taijin, kami tidak akan memberontak dan kami tidak pernah memberontak,” Kwi Eng berkata dengan suara halus. “Jika perbuatan kami di Pulau Hiu itu tidak berkenan di hati taijin, harap Ciang-taijin sudi memaafkan dan suka memandang muka orang tua kami memberi ampun. Tentu saja atas budi kebaikan taijin ini kami tidak akan melupakan.” Dengan halus Kwi Eng membujuk dan menjanjikan “balas jasa” yang besar.

Ciang-taijin mengurut kumisnya yang panjang melengkung ke bawah seperti kumis anjing laut jantan itu. “Ha-ha, kebaikan apa yang dapat dilakukan kalian ini, peranakan-peranakan asing yang sudah berani memberontak? Seluruh rumah dan seisinya telah kami sita sebagai milik pemerintah dan kalian akan diadili di kota raja. Pengawal, kurung mereka sambil menanti saat mereka dikirim sebagai tawanan pemberontak ke kota raja.”

“Penasaran! Tidak adil…!” Kwi Bang meloncat berdiri akan tetapi belasan orang pengawal sudah meringkusnya kembali.

“Beng-ko, tenanglah dan jangan melawan,” kata Kwi Eng dan mereka lalu digusur keluar dari ruangan itu.

“Tangkap semua anak buahnya yang menyerbu ke Pulau Hiu!” Ciang-taijin memerintah pasukannya.

Mengapa pembesar she Ciang itu demikian keras dan menekan terhadap dua orang muda itu? Ada beberapa sebab yang mendorong pembesar itu berlaku sedemikian rupa terhadap Kwi Beng dan Kwi Eng. Pertama-tama, memang terdapat rasa tidak puas dan tidak senang di dalam hati pembesar itu terhadap keluarga Yuan de Gama, apalagi setelah Souw Li Hwa selalu menentang para penjahat dan bajak yang berkeliaran di Yen-tai. Lebih-lebih lagi setelah terjadi bentrok antara keluarga pendekar ini dengan Tokugawa, diam-diam Ciang-tikoan menjadi makin tidak senang. Tokugawa adalah “tangan kanannya” secara rahasia dan dari bajak laut inilah segala keinginan hati Ciang-tikoan dapat terlaksana. Mau kekayaan? Mau wanita-wanita muda yang cantik? Mau membunuh orang yang tidak disukainya? Hanya tinggal menyuruh para bajak itu, tanggung beres! Maka kemudian Souw Li Hwa dan suaminya yang menentang kejahatan, dianggap sebagai ancaman yang dapat menggoyahkan kedudukannya. Hanya dia tidak berani secara terang-terangan menentang karena Souw Li Hwa dan suaminya merupakan orang-orang gagah dan berpengaruh, pula tidak ada alasannya. Kini, suami isteri perkasa itu pergi, dan terjadi peristiwa pembasmian di Pulau Hiu, Ciang-tikoan mendapat kesempatan baik untuk membalas dan melampiaskan semua kebenciannya. Dia kehilangan Tokugawa, maka dia segera mebangkap Kwi Beng dan Kwi Eng dengan tuduhan pemberontak, dan tentu saja rumah gedung seisinya itulah yang merupakan dorongan besar pula untuk menangkap dua orang muda itu. Dia tidak khawatir kalau kelak orang tua dua muda-mudi kembar itu pulang, karena sudah ada bukti dan banyak saksi betapa dua orang kakak beradik membunuhi orang-orang yang disebutnya “nelayan-nelayan tak berdosa” di Pulau Hiu.

Semenjak sejarah berkembang, tidak perduli di negara manapun di bagian dari dunia ini, terdapat banyak sekali pembesar-pembesar seperti Ciang-tikoan ini. Terutama sekali di waktu pusat pemerintahan sedang kalut dan pengawasan dari atasan kurang ketat, maka para pembesar setempat lalu mempergunakan kekuasaannya untuk bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat jelata. Segala sesuatu kebutuhan rakyat yang harus terlebih dulu mendapatkan ijin dari pera pembesar, pasti dipersulit sedemikian rupa, sehingga rakyat yang membutuhkan ijin itu secara terpaksa harus mengeluarkan sebagian miliknya untuk “memberi hadiah” atau istilah umumnya sogokan atau suapan kalau dia menghendaki pekerjaannya dapat lancar dan ijin yang dibutuhkannya dapat diberi oleh pembesar yang berwenang. Tentu saja ada pembesar-pembesar yang betul-betul merupakan pemimpin rakyat, pelindung rakyat yang bijaksana dan menunaikan tugas kewajibannya dengan baik, yang berhati bersih dan tidak menyalahgunakan kekuasaan dan kedudukannya, akan tetapi sayang, pembesar seperti ini hanya dapat dihitung dengan jari tangan saja!

Mengapa keadaan di Yen-tai dan di kota-kota lain di seluruh Tiongkok yang dikuasai Kerejaan Beng-tiauw seperti itu, penuh dengan para pembesar yang menyalahgunakan kedudukannya untuk memenuhi kesenangan diri pribadi tanpa menghiraukan nasib rakyatnya? Hal ini adalah karena pengaruh dari keadaan di pemerintahan pusat, yaitu di Kota Raja Peking, di mana pusat pemerintahan di tangan kaisar, juga mengalami kekacauan dan kelemahan.

Seperti tercatat dalam sejarah, Peking dibangun oleh Kaisar Yuang Lo yang gagah perkasa. Bukan saja kaisar ini membangun tembok besar, terutama di bagian timumya, akan tetapi juga membangun kota raja yang tadinya menjadi kota raja Bangsa Mongol itu, dibongkar dan dirobah secara hebat sehingga merupakan sebuah kota raja yang terbesar dan termegah di dunia. Kerajaan Beng-tiauw mengalami kejayaannya sewaktu Kaisar Yung Lo yang memegang kendali pemerintahan, yang dilakukannya dengan tangan besi dan dengan adil, tidak segan-segan menghukum para pejabat yang bersalah sehingga sebagian besar pejabat melakukan tugasnya dengan baik. Pada masa itu, rakyat dapat mengecap kenikmatan hidup di bawah pemerintahan yang adil.

Dalam tahun 1425, di dalam perjalanan pulang dari penyerbuan musuh di Mongolia luar, Kaisar Yung Lo meninggal dunia. Kedudukan kaisar diwariskan kepada putera mahkota, yaitu Kaisar Hung Shi yang sudah sakit-sakitan dan kaisar inipun meninggal dunia setelah menjadi kaisar selama sepuluh bulan saja.

Kembali kedudukan kaisar diwariskan kepada cucu Yung Lo yang bernama Hian Tek Ong, seorang kaisar yang mencoba mempertahankan kebesaran kakeknya. Akan tetapi Kaisar Hian Tek Ong inipun hanya memegang kekuasaan selama sebelas tahun saja. Kini singgasana diserahkan kepada seorang buyut dari Yung Lo, seorang pangeran yang baru berusia delapan tahun, yang menjadi Kaisar Cheng Tung. Penggantian kekuasaan yang berusia pendek ini melemahkan Kerajaan Beng-tiauw, karena dengan perobahan kaisar berarti terjadi pula perobahan politik den wibawa. Apalagi karena kaisar yang tetakhir ini, Cheng Tung, masih kanak-kanak sehingga pemerintah dipegang dalam kekuasaan ibu suri yang tentu saja sebagai seorang wanita kurang pandai mengatur pemerintahan dan seperti biasa, yang berkuasa di istana sesungguhnya adalah para thaikam yaitu para pembesar yang bertugas di dalam istana dan para petugas pria ini semua dikebiri agar jangan sampai terjadi hal-hal yang melanggar susila antara para petugas ini dengan para wanita istana.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: