Dewi Maut (Jilid ke-33)

Ketika Kaiser Cheng Tung sudah mulai dewasa, dia sudah terbiasa oleh pengaruh para thaikam ini, dan boleh dibilang dia berada dalam cengkeraman yang membius dari seorang thaikam yang paling dipercayanya, yaitu Thaikam Wang Cin, seorang yang berasal dari kota Huai Lai di utara, di daerah Mongol.

Demikianlah, karena kaisarnya seperti boneka, hanya tahu menandatangani saja semua hal yang disetujui dan direncanakan oleh Wang Cin, maka pemerintahannya sangat lemah. Orang semacam Wang Cin mana memikirkan keadaan rakyat? Setiap gerak perbuatannya selalu bersumber kepada kepentingan pribadinya. Dengan adanya pemerintah pusat seperti ini, tentu saja para pejabat di daerah menjadi raja-raja kecil yang berdaulat penuh dan sewenang-wenang seperti yang dilakukan oleh Ciang-tikoan di Yen-tai yang tentu saja cukup cerdik untuk “menempel” para pembeser di kota raja, terutama mencari muka terhadap yang dipertuan Wang Cin.

Kedua saudara Kwi Eng dan Kwi Beng menjadi korban dari kesewenang-wenangan pembesar lalim ini dan beberapa hari kemudian, dua orang kakak beradik ini dalam keadaan terbelenggu kaki tangannya, diberangkatkan menuju ke kota raja dalam sebuah kereta milik mereka sendiri yang dirampas dan dikawal ketat oleh tiga losin orang perajurit, dipimpin oleh seorang perwira yang membawa surat-surat laporan tentang “dosa-dosa” dua orang tawanan itu untuk disampaikan kepada pembesar atasan di kota raja yang berwenang mengadili perkara-perkara besar.

Banyak rakyat memandang dengan mata merah bahkan ada yang mengucurkan air mata melihat dua orang muda yang dermawan dan budiman itu menjadi orang-orang pesakitan diseret ke dalam kereta dan dibawa pergi dari tempat tinggal mereka. Akan tetapi, seperti biasa, rakyat kecil hanya mampu menangis dan mengeluh, paling-paling hanya mampu mengepal tinju dengan diam-diam karena mereka tahu bahwa mereka itu tidak berkuasa atas kehidupan mereka sendiri!

Dapat dibayangkan betapa marahnya hati Kwi Beng ketika dalam keadaan terbelenggu kuat dia bersama adiknya diseret ke dalam kereta itu. Mereka duduk berhadapan dan saling pandang.

“Moi-moi, kalau saja kita memberontak sejak pertama kali dipanggil…” Kwi Beng menyatakan penyesalannya.

“Tenanglah, koko. Belum tentu kita akan celaka, kita bersabar saja sambil melihat perkembangannya. Tentu akan terdapat kesempatan bagi kita, dan lagi… aku percaya bahwa Tio-twako tidak akan tinggal diam saja.”

Seorang pengawal menghardik dan melarang mereka bicara. Kereta lalu diberangkatkan dan sebelum tirai kereta diturunkan oleh pengawal, Kwi Eng sempat melihat berkelebatnya bayangan seorang pemuda jangkung berpakaian kuning di antara rakyat yang menonton dan legalah hati gadis ini. Kwi Beng hanya memandang heran mengapa ada senyum di bibir adiknya itu dalam keadaan seperti itu!

***

Beberapa hari kemudian pasukan yang mengawal kereta berisi dua oran tawanan itu tiba di kota Cin-an. Di sini para pengawal berganti kuda dan membawa perlengkapan dan bekal makanan baru dari para pembesar di Cin-an. Setelah bermalam di kota Cin-an, pasukan melanjutkan perjalanan pada keesokan harinya menuju ke utara, ke kota raja. Sorenya, mereka sudah tiba di tepi Sungai Huang-ho di mana telah tersedia perahu-perahu besar untuk menyeberangkan mereka. Akan tetapi karena hari telah mulai gelap, mereka berhenti dan berkemah di dekat sungai sambil beristirahat. Seperti biasa, dua orang tawanan itu menerima makanan dan minuman dan mereka diperbolehkan makan minum dengan kedua pergelangan tangan dibelenggu di depan tubuh mereka dan dipasangi rantai baja yang panjang dan berat. Demikian pula kedua kaki mereka dibelenggu dengan rantai panjang.

Biarpun kedua orang kakak beradik ini dijaga ketat sekali, namun di sepanjang perjalanan mereka diperlakukan dengan baik dan sopan. Hal ini adalah karena si perwira yang memimpin pasukan pengawal itu tahu siapa adanya mereka berdua ini, tahu pula bahwa ibu dua orang muda itu adalah seorang pendekar wanita yang amat lihai, demikian pula ayah mereka adalah seorang asing yang berpengaruh dan dermawan. Akan tetapi diapun maklum betapa penting dan beratnya perkara yang membuat mereka dikirim ke kota raja, yaitu tuduhan memberontak dan membunuhi banyak nelayan tidak berdosa! Tentu saja diapun tahu bahwa yang dimaksudkan dengan “nelayan-nelayan tidak berdosa” itu sesungguhnya adalah Tokugawa dan kawanan bajak laut. Akan tetapi sebagai seorang bawahan, dia tidak dapat berbuat apa-apa dan tidak berani menentang atasannya.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali rombongan itu melakukan penyeberangan, menggunakan perahu besar yang telah tersedia di pantai sungai yang amat luas itu. “Sekarang tiba kesempatan bagi kita, koko. Kau bersiaplah. Rantai tangan kaki kita ini cukup panjang, memudahkan kita bergerak di air.”

“Akan tetapi juga cukup berat untuk membuat kita tenggelam,” bisik kembali Kwi Beng.

“Kita harus berani mengambil resiko. Kesempatan ini yang terbaik dengan mengandalkan kepandaian kita di air,” bisik lagi Kwi Eng dan karena perwira pengawal mendekati mereka, keduanya menghentikan bisikan dan hanya saling pandang dan mereka telah bersepakat untuk mempergunakan kesempatan penyeberangan itu untuk melarikan diri.

Ketika perahu besar yang menyeberang itu mulai meluncur ke tengah sungai, nampak sebuah perahu kecil juga meluncur cepat sekali seiring dengan perahu besar itu. Perahu ini ditumpangi dan didayung oleh seorang pemuda berpakaian kuning yang tidak mencurigakan. Para pengawal yang melihat pemuda ini mengira bahwa dia adalah seorang nelayan atau seorang pelancong saja. Akan tetapi Kwi Eng menyentuh lengan kakaknya ketika dia mengenal bahwa pemuda itu bukan lain adalah Tio Sun.

Akan tetapi Tio Sun tidak segera turun tangan melainkan terus saja mengikuti perahu itu sampai tiba di dekat pantai sebelah utara. Di pantai selatan dia tidak berani turun tangan karena tempat itu ramai dan dekat dengan kota Cin-an, berbeda dengan pantai utara yang sunyi. Setelah perahu besar yang membawa dua orang sahabatnya sebagai tawanan itu berada kurang lebih tiga ratus meter lagi dari pantai, tiba-tiba Tio Sun meloncat ke atas perahu besar dan tanpa banyak suara lagi dia meloncat ke arah Kwi Eng dan Kwi Beng yang duduk di atas dek terjaga oleh lima orang pengawal.

“Heii, siapa kau…?” Seorang pengawal membentak dan suasana menjadi geger. Para perajurit pengawal meloncat bangun dan mencabut senjata masing-masing. Akan tetapi pada saat itu, Kwi Eng dan Kwi Beng sudah bangkit berdiri, dengan kaki tangan mereka yang terbelenggu itu mereka berhasil menampar den menendang roboh lima orang penjaganya.

Tio Sun menggunakan pedangnya mematahkan belenggu kaki tangan mereka dengan cepat dan merobohkan setiap orang pengawal yang mencoba untuk menghalanginya. “Cepat menyingkir…!” Tio Sun berkata sambil menyerahkan dua batang pedang yang sengaja dibawanya kepada Kwi Eng dan Kwi Beng.

Perwira pengawal berteriak mengumpulkan anak buahnya dan mulailah mereka itu maju mengepung dan mengeroyok.

“Apakah kalian berani hendak memberontak?” Perwira muda itu berseru. “Harap ji-wi jangan menambah dosa ji-wi.”

“Kalian mundurlah!” Kwi Beng yang maklum akan kebaikan perwira itu berseru. “Kalian tahu bahwa kami bukan pemberontak, melainkan Ciang-tikoan yang bersekutu dengan bajak-bajak laut! Mundurlah!”

“Kami hanya menjalankan tugas, kalau sampai kalian lolos tentu kami dihukum!” sang perwira membantah dan terus mengepung ketat.

Kwi Eng, Kwi Beng, dan Tio Sun mengamuk dengan pedang mereka. “Jangan membunuh orang, mereka hanya petugas-petugas biasa,” kata Kwi Eng dan tentu saja hal ini disetujui oleh Tio Sun yqng juga segan untuk memusuhi dan membunuh perajurit pemerintah. Maka mereka itu hanya menggunakan pedang mereka untuk menghalau semua serangan senjata lawan, dan hanya merobohkan para pengeroyok dengan tendangan kaki atau tamparan tangan kiri saja.

Akan tetapi tiga losin orang perajurit pengawal itu yang tentu saja merasa takut kalau sampai tawanan itu lolos, dengan nekat mengeroyok terus tanpa memperdulikan keselamatan mereka sendiri dan hal ini membuat tiga orang muda itu merasa repot juga. Andaikata mereka bertiga itu mau membagi-bagi pukulan maut dan merobohkan para pengeroyoknya, agaknya mereka akan berhasil membasmi puluhan orang itu. Akan tetapi, tanpa membunuh para pengeroyok yang nekat itu, tentu saja amat sukar bagi mereka untuk meloloskan diri, bahkan kalau pertandingan itu dilanjutkan, tentu mereka akan terancam bahaya oleh hujan serangan itu.

“Tio-twako, kau pergilah dulu dengan perahumu!” teriak Kwi Eng den mereka kini mulai bergerak ke pinggir perahu besar.

“Tidak, aku tidak akan meninggalkan kalian!” jawab Tio Sun sambil mengelak dari sambaran dua batang golok dan menggerakkan kakinya menendang roboh seorang pembokong dari belakang.

“Twako, pergilah dulu dengan perahumu, kami akan mengambil jalan dalam air,” kata Kwi Beng dan kini mengertilah Tio Sun. Teringat dia akan penuturan Kwi Eng betapa kedua orang saudara kembar itu pernah belajar ilmu di dalam air dari nelayan yang dahulu pernah menyelamatkan ayah ibu mereka, maka dia mengangguk dan mengamuk dengan pedangnya sampai semua pengeroyokdya dipaksa mundur.

Setelah tiba di tepi perahu besar dan melihat perahu kecilnya masih berada di dekat perahu besar itu, dia berseru, “Berhati-hatilah kalian! Aku pergi dulu!” Sekali mengayun tubuhnya Tio Sun sudah meloncat keluar dari perahu besar, tepat di atas perahunya yang segera didayungnya menuju ke seberang sungai.

Kwi Beng dan Kwi Eng juga mencontoh perbuatan Tio Sun tadi, mereka mengamuk dan makin mendekati pinggiran perahu, kemudian setelah merobohkan beberapa orang pengeroyok, merekapun cepat meloncat keluar dari perahu besar, langsung terjun ke dalam air dengan kedua tangan lebih dulu.

“Cluppp! Cluppp!” Bagaikan dua ekor ikan lumba-lumba saja mereka terjun tanpa menimbulkan banyak suara dan airpun tidak muncrat banyak, tanda bahwa keduanya memang ahli bermain di air. Lenyaplah kedua orang muda itu dari permukaan air dan para pengawal yang bergegas menuju ke pinggir perehu sambil membawa anak panah, tidak melihat mereka lagi.

Akan tetapi perwira pasukan pengawal itu bersikap tenang-tenang saja. “Cepat jalankan kembali perahu ke seberang. Mereka tentu sudah ditangkap kembali di sana!”

Semua anak buahnya merasa heran mendengar ucapan ini dan mereka bersicepat meluncurkan perahu besar di tepi sungai sebelah utara. Ketika tiba di tempat itu, benar saja mereka melihat tiga orang muda tadi sudah dikepung dan dikeroyok oleh kurang lebih lima puluh orang perajurit yang bersenjata lengkap! Tentu saja mereka menjadi girang dan serentak mereka berbondong-bondong mendarat dan bantu mengeroyok pula.

Ternyata siasat dari tiga orang muda itu sia-sia belaka. Mereka tidak memperhitungkan kecerdikan Ciang-tikoan. Pembesar ini tentu saja mengerti akan kelihaian dua orang tawanannya, mendengar pula akan keahlian mereka bermain di air, maka diam-diam dia mengutus seorang pembantu secara rahasia menghubungi rekannya di Cin-an untuk menjaga di seberang sungai kalau-kalau dua orang tahanannya itu mencoba untuk meloloskan diri ketika diseberangkan, mengingat akan kelihaian mereka bermain di air. Dan memang dugaannya tepat sekali, maka pembesar di Cin-an telah mempersiapkan pasukan dari lima puluh orang yang bersembunyi di pantai sungai sebelah utara. Begitu Tio Sun yang telah mendarat lebih dulu dengan perahunya itu menyambut dua orang temannya yang muncul dari dalam air seperti dua ekor ikan itu, mereka langsung menyergap dan terjadilah pengeroyokan hebat di tepi sungai sebelah utara itu.

Tentu saja mereka bertiga menjadi kaget sekali, dan mereka melawan mati-matian. Akan tetapi, setelah perahu besar pasukan pengawal mendarat pula dan pengeroyokan menjadi makin ketat, mereka benar-benar terdesak hebat dan keadaan mereka amat berbahaya, kalau tidak tertawan kembali tentu akan tewas, atau setidaknya terluka hebat di bawah pengeroyokan lebih dari lima puluh orang itu.

Mereka tanpa dikomando telah membela diri secara saling melindungi, berdiri saling membelakangi dan dengan senjata pedang mereka, dibantu oleh joan-pian di tangan kiri Tio Sun, mereka menangkis semua senjata yang datang bagaikan hujan dan sekali ini terpaksa mereka menggunakan senjata untuk merobohkan pengeroyokan, sungguhpun pedang mereka itu hanya ditujukan kepada bagian-bagian tubuh yang tidak berbahaya. Belasan orang pengeroyok sudah roboh dengan pundak, lengan atau kaki terluka parah akan tetapi pengeroyokan masih cukup ketat dan tiga orang itu mulai menjadi lelah sekali, bahkan Kwi Beng telah terluka pahanya, dan Kwi Eng telah terluka pangkal lengan kirinya. Namun mereka tidak mau menyerah karena ketiganya maklum bahwa urusan telah menjadi semakin berat sehingga kalau mereka tertawan kembali, hukuman mereka tentu akan jauh lebih berat lagi, mungkin akan dihukum mati sebagai pemberontak-pemberontak hina.

“Tio-twako, kau larilah…!” Tiba-tiba Kwi Eng berkata kepada Tio Sun.

Benar, kau pergilah, twako dan jangan mengorbankan diri untuk urusan kami!” Kwi Beng juga berkata.

Hati Tio Sun rasanya seperti ditusuk, dia merasa terharu dan juga kagum akan kegagahan dua orang kakak beradik ini yang dalam keadaan seperti itu masih ingat kepadanya dan tidak mau membawa-bawanya mengalami kecelakaan.

“Tidak! Aku akan membela kalian sampai titik darah terakhir!” bentaknya dan pedang serta joan-pian di tangannya bergerak cepat maka robohlah tiga orang pengeroyok. Akan tetapi karena dia mencurahkan seluruh perhatian untuk merobohkan lawan sebanyak mungkin dalam kemarahannya ini, Tio Sun tak dapat menghindarkan bacokan golok dari samping yang mengenai pundaknya.

“Tio-twako…!” Kwi Eng menjerit ketika melihat darah muncrat dari pundak pemuda itu.

Tio Sun membalikkan pedangnya dan penyerangnya itu menjerit roboh ketika lengannya terbabat pedang hampir putus.

“Tidak apa-apa, nona.” Tio Sun tersenyum dan mereka bertiga terus mengamuk biarpun mereka telah terluka semua.

“Bunuh saja tiga pemberontak ini!” Tiba-tiba terdengar komandan pasukan Cin-an berteriak marah. Tadinya perintah atasannya hanyalah untuk membantu para pengawal dari Yen-tai untuk menangkap kembali tawanan itu jika melarikan diri, akan tetapi kini melihat betapa tiga orang itu memberontak dan merobohkan banyak anak buahnya, dia menjadi khawatir dan marah sekali, maka dia mengeluarkan perintah untuk membunuh mereka. Dengan adanya perintah ini, para perajurit kini mendesak makin ketat dan senjata mereka datang bagaikan hujan menyerang tiga orang muda yang membela diri mati-matian itu.

“Twako, kitapun harus membuka jalan darah!” terdengar Kwi Eng berteriak dan terpaksa Tio Sun tidak membantah. Karena kini para pengeroyok menghendaki nyawa mereka, tentu saja mereka bertiga harus pula menjaga dan menyelamatkan diri, kelau perlu dengan jalan membunuh para pengeroyok. Tio Sun menggerakkan pedang dan joan-piannya secara hebat, demikian pula Kwi Beng dan Kwi Eng mengamuk dengan pedang mereka dan terdengarlah pekik-pekik mengerikan ketika beberapa orang perajurit roboh untuk tidak bangun kembali! Pertandingan menjadi makin seru dan kini merupakan pertempuran mati-matian, namun karena tiga orang muda itu sudah terluka dan fihak pengeroyok amat banyaknya, mereka makin terdesak dan makin terkurung sehingga ruang gerak mereka menjadi makin sempit.

Pada saat yang amat kritis dan berbahaya bagi keselamatan tiga orang muda itu, tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan nyaring dan keadaan para pengeroyok di sebelah luar menjadi kacau-balau. Ketika Tio Sun melirik, dia kaget dan juga kagum sekali melihat seorang pemuda tampan dan gagah mengamuk, hanya menggunakan kedua tangan kosong saja melempar-lemparkan para perajurit seperti orang melempar-lemparkan rumput kering saja, sama sekali tidak memperdulikan hujan senjata tajam yang menyambar ke tubuhnya. Para perajurit terkejut dan gentar karena pendatang baru ini benar-benar amat lihai, bacokan-bacokan senjata tajam hanya ditangkis oleh lengan yang kulitnya seperti baja kerasnya dan setiap kali tangan kaki pemuda ini bergerak, mereka terlempar sampai beberapa meter jauhnya!

“Hai, pemberontak dari mana berani menentang pasukan pemerintah?” Komandan pasukan menerjang ke depan, akan tetapi pedangnya ditangkap oleh tangan kiri pemuda itu dan sekali remas pedang itu patah-patah. Kemudian pemuda itu menangkap komandan ini pada pinggangnya dan mengangkatnya, tinggi-tinggi.

“Pasukan pemerintah yang hanya menyalahgunakan kedudukannya tiada bedanya dengan penjahat-penjahat! Pergilah kalian!” Pemuda itu melemparkan komandan itu sampai jauh dan jatuh terbanting sampai pingsan. Tentu saja semua perajurit menjadi makin gentar, kurungan mereka melonggar.

“Sam-wi yang terkurung, tidak lekas lari mau tunggu apa lagi?” Pemuda tampan itu berseru dan mendahulul lari, cepat diikuti oleh Tio Sun, Kwi Beng dan Kwi Eng. Karena mereka berempat mempergunakan ilmu berlari cepat, sebentar saja para perajurit sudah kehilangan jejak mereka.

Di tengah sebuah hutan, empat orang muda itu berhenti. Ketika pemuda tampan itu hendak melanjutkan larinya tanpa memperdulikan tiga orang yang telah ditolongnya, Tio Sun cepat mengejar dan berseru, “Sahabat yang gagah harap suka berhenti dulu!”

Pemuda tampan itu menoleh dan melihat pandang mereka penuh harapan, terpaksa dia berhenti.

“Sam-wi sudah beruntung dapat terbebas dari kepungan para pasukan itu, ada urusan apalagikah dengan aku?”

Tio Sun, Kwi Beng dan Kwi Eng cepat menghampiri dan kini mereka berhadapan. Sepasang mata pemuda tampan itu terbelalak dan jelas dia kelihatan kaget, heran dan bingung ketika dia memandang kepada Kwi Beng dan Kwi Eng secara bergantian. “Aihh… kiranya kalian bukan… bukan…” Dia tidak melanjutkan kata-katanya karena hatinya merasa sangsi. Melihat pakaian dan bentuk tubuhnya, pemuda tampan dan dara jelita ini jelas orang-orang Han, akan tetapi, mengapa matanya kebiruan dan rambutnya agak pirang?

Kwi Eng adalah seorang gadis peranakan barat yang tak dapat disamakan dengan gadis-gadis pribumi yang biasanya bersikap pendiam dan pemalu. Apalagi dia bersama kakak kembarnya mewakili pekerjaan ayahnya sehingga dia sudah biasa bergaul dan tidak malu-malu lagi, bersikap polos dan jujur di samping juga memiliki kecerdasan sehingga dia sudah dapat maklum mengapa pemuda gagah perkasa yang menolong mereka itu kelihatan begitu kaget, heran dan bingung. Cepat dia melangkah maju dan mengangkat kedua tangan di depan dada sambil tersenyum manis sekali dan berkata, “Harap saudara yang gagah perkasa dan yang telah menyelamatkan kami tidak menjadi curiga. Biarpun mungkin warna mata dan rambut kami kakak beradik kembar agak berbeda, namun kami berdua adalah berdarah Han, kakak kembarku ini bernama Souw Kwi Beng dan aku sendiri bernama Souw Kwi Eng. Sedangkan dia itu adalah Tio-twako bernama Tio Sun. Kami bertiga telah kena fitnah dan hendak dibawa ke kota raja sebagai tawanan pemberontak, maka pertolonganmu merupakan budi yang amat besar bagi kami.”

Mendengar ucapan lancar dan tidak kaku, pemuda itu merasa lega. Gadis ini luar biasa cantiknya, cantik dan aneh, akan tetapi kata-katanya jelas menunjukkan bahwa dia seorang Han tulen.

Melihat pemuda yang usianya masih amat muda dan sikapnya seperti pemalu itu namun yang telah memiliki kepandaian sedemikian hebatnya, Tio Sun yang merasa kagum sudah maju dan berkata, “Saudara yang muda memiliki kelihaian yang amat mengagumkan hati kami, dan sudah menyelamatkan kami dari bahaya maut. Bolehkan kami mengetahui she dan namamu yang mulia?”

Pemuda itu kelihatan meragu. Dia tadi menolong karena melihat tiga orang muda itu terancam bahaya, sama sekali tidak mempunyai keinginan lainnya. Akan tetapi menyaksikan keramahan mereka, terutama sekali keramahan dara jelita yang dengan mata birunya memandangnya dengan sinar mata penuh rasa kagum dan terima kasih, dia merasa tidak enak kalau pergi begitu saja setelah mereka memperkenalkan nama masing-masing. Akan tetapi diapun tidak ingin memperkenalkan namanya, maka dia lalu teringat akan nama yang diperkenalkan kepada gadis aneh bernama “Hong” saja yang baru dijumpainya, maka dia lalu menjura dan berkata, “Nama saya Houw, she… Bun.”

Pemuda ini bukan lain adalah Cia Bun Houw, putera ketua Cin-ling-pai. Seperti telah diceritakan di baglan depan, Bun Houw berpisah dengan In Hong, atau lebih tepat lagi dara itu yang meninggalkannya karena tidak mau melakukan perjalanan bersama setelah Bun Houw suka mencegahnya membunuh musuh-musuhnya di perjalanan. Bun Houw merasa kecewa sekali bahwa dara yang telah menjadi penolongnya itu meninggalkannya, akan tetapi kerena teringat akan tugasnya mencari dan menyelidiki musuh-musuh besarnya, yaitu Lima Bayangan Dewa, diapun melanjutkan perjalanannya dan pada hari itu dia menyeberangi Sungai Huang-ho dan kebetulan melihat tiga orang muda yang terancam bahaya oleh pengeroyokan para perajurit itu, lalu turun tangan menolong mereka.

Tio Sun merasa makin kagum dan heran. Pemuda tampan ini sikapnya begitu sederhana, masih amat muda dan agaknya dia belum pernah mendengar nama pemuda ini di dunia kang-ouw, akan tetapi melihat kepandaiannya tadi, biarpun hanya bergebrak dengan para perajurit, dia dapat menduga bahwa pemuda ini bukan orang sembarangan, tentulah murid seorang yang sakti.

“Bun-enghiong masib begini muda akan tetapi telah memiliki kepandaian luar biasa, sungguh membuat kami merasa kagum sekali. Kalau sekiranya tidak menjadikan halangan dan kalau kiranya kami cukup pentas menjadi sahabatmu, kami ingin sekeli bersahabat dengan Bun-enghiong,” kata Tio Sun.

Souw Kwi Beng yang sejak tedi diam saja kinipun berkata, “Kami kakak beradik kembarpun akan merasa terhormat sekali kalau bisa menjadi sahabat Bun-taihiap.”

Bun Houw merasa kikuk sekali. Tiga orang muda ini jelas merupakan orang-orang gagah yang sopan dan terpelajar, maka akan keterlaluanlah di fihaknya kalau dia tidak melayani uluran tangan mereka. Pula, dara bermata biru itu benar-benar mempesonakan! Selama hidupnya baru sekarang dia berhadapan dengan seorang dara yang begitu jelita, matanya bening lebar kebiru-biruan dan rambutnya agak pirang dan berkilauan halus.

Bun Houw menjura dengan hormat. “Tentu saja saya suka sekali bersahabat dengan sam-wi (kalian bertiga). Mengapakah kalian tadi dikeroyok perajurit di tepi sungai dan di mana sam-wi tinggal?”

“Mari kita duduk di tempat yang teduh agar leluasa bicara,” kata Tio Sun dan mereka lalu memilih tempat di bawah pohon yang rindang, duduk di atas batu-batu di bawah pohon itu.

Secara singkat Kwi Eng yang pandai bicara itu lalu menceritakan urusannya, mula-mula dengan Tokugawa ketika kepala bajak itu menculik kakak kembarnya dan dia dengan bantuan Tio Sun berhasil menyelamatkan kakaknya. Kemudian betapa dia difitnah oleh pembesar setempat sebagai pemberontak dan pembunuh kaum nelayan yang bukan lain hanya bajak-bajak laut. Sampai mereka ditangkap dan akan dikirim ke kota raja, kemudian mereka berusaha meloloskan diri dan dikeroyok di tepi Sungai Huang-ho.

Bun Houw menarik napas panjang. “Sudah kudengar akan kekacauan yang mulai terjadi di mana-mana karena lemahnya pemerintah pusat di kota raja. Jadi ji-wi adalah putera-puteri seorang ayah bangsa barat dan ibu bangsa pribumi? Pantas saja keadaan ji-wi agak lain.”

“Biarpun kedua saudara Souw ini putera orang barat, akan tetapi ayahnya bukan orang sembarangan, karena ayahnya adalah Yuan de Gama, seorang tokoh bangsa barat yang disegani dan dihormati. Apalagi ibunya. Ibunya adalah pendekar wanita terkenal, Souw Li Hwa murid mendiang Panglima Besar The Hoo…”

“Ahhhh…!” Bun Houw kaget bukan main mendengar ini. Tentu saja diapun sudah pernah mendengar dari ayah dan ibunya tentang Yuan de Gama dan Souw Li Hwa yang dikabarkan mati tenggelam secara gagah bersama kapalnya.

“Kau pernah mendengar nama ayah dan ibu, Bun-taihiap?” tanya Kwi Eng sambil memandang tajam.

Bun Houw menggeleng kepala. “Saya terkejut mendengar nama mendiang Panglima Besar The Hoo.” Kemudian dia memandang kepada Tio Sun. “Tio-twako agaknya juga bukan keturunan sembarangan dan ternyata engkau seorang pendekar yang suka menolong orang lain yang sedang tertimpa malapetaka seperti yang telah kaulakukan terhadap kedua orang saudara Souw ini.”

Merah wajah Tio Sun menerima pujian ini, dan dia menarik napas panjang. “Persoalan yang kuhadapi tadi benar-benar membuat aku bingung, Bun-hiante. Terus terang saja, ayahku adalah seorang bekas pengawal kepercayaan Panglima Besar The Hoo, ayahku bernama Tio Hok Gwan…”

“Ban-kin-kwi…?” Bun Houw kelepasan bicara karena tentu saja mengenal baik nama ini, nama seorang sahabat baik

ayahnya!

“Kau sudah mendengar pula julukan ayah? Ayah seorang bekas pengawal yang setia, tentu saja akupun segan untuk melawan perajurit pemerintah. Akan tetapi melihat sikap Ciang-tikoan yang sewenang-wenang, terpaksa aku menentangnya. Sekarang, setelah terjadi peristiwa ini, kedua orang saudara Souw tidak mungkin lagi kembali ke Yen-tai, dan inilah yang membikin aku menyesal sekali.”

“Ah, mengapa menyesal, twako? Kami berdua tidak menyesal. Biarlah kami tidak dapat kembali ke Yen-tai dan menanti sampai ayah ibu pulang dari barat. Kami berdua malah telah mengambil keputusan untuk membantu Tio-twako dalam mencari musuh-musuh Cin-ling-pai itu dan mengerahkan seluruh kemampuan kami untuk mencari Lima Bayangan Dewa yang menjadi musuh-musuh besar Cin-ling-pai. Ayah dan ibu tentu akan bangga kalau mendengar akan sikap kami ini,” kata Kwi Eng.

Dapat dibayangkan betapa terkejut dan heran rasa hati Bun Houw mendengar percakapan mereka itu. Dan sampai bengong memandang mereka tanpa mampu mengeluarkan kata-kata. Kwi Eng yang kebetulan memandang kepada pemuda itu tiba-tiba menjadi merah mukanya dan menunduk karena melihat betapa pemuda tampan itu memandang kepadanya dengan mata terbelalak seolah-olah hendak menelannya bulat-bulat!

“Bun-taihiap, engkau… mengapakah?” Kwi Eng yang tidak pemalu itu menegur halus.

Bun Houw terkejut, mukanya menjadi merah sekali dan dia memandang kepada mereka bertiga dengan mata bersinar-sinar. “Sungguh mati saya amat terkejut mendengar betapa sam-wi menyebut-nyebut soal Lima Bayangan Dewa dan hendak membela Cin-ling-pai. Kalau boleh saya bertanya, apakah hubungan antara sam-wi dengan Cin-ling-pai?”

Kini Tio Sun dan dua orang saudara kembar itu yang menatap wajah Bun Houw dengan tajam penuh selidik. “Bun-hiante… tahu soal… Lima Bayangan Dewa dan Cin-ling-pai?” Tio Sun bertanya.

Bun Houw mengangguk. “Tentu saja, dan saya bahkan tersangkut secara langsung. Akan tetapi sebelum aku dapat menceritakan hal itu, harap sam-wi lebih dulu menerangkan apa hubungan sam-wi dengan Cin-ling-pai?”

Tio Sun menghadapi Bun Houw, memandang dengan sinar mata tajam sejenak, lalu berkata, “Biarpun baru berjumpa pertama kali dan tidak mengenal benar siapa adanya dirimu, Bun-hiante, akan tetapi aku telah percaya benar kepadamu, maka biarlah aku mengaku terus terang. Seperti telah kukatakan kepadamu, aku adalah putera dari bekas pengawal Panglima The Hoo, ayahku bernama Tio Hok Gwan dan ayah adalah seorang sahabat baik dari Cia Keng Hong locianpwe, ketua Cin-ling-pai. Agaknya tentu engkau telah mendengar kegemparan di dunia kang-ouw dengan adanya penyerbuan Lima Bayangan Dewa di Cin-ling-san yang membunuh anak-anak murid Cin-ling-pai bahkan telah mencuri pedang pusaka Siang-bhok-kiam. Nah, mengingat akan hubungan persababatan yang amat baik dengan Cin-ling-pai, ayah lalu mengutus aku untuk mewakili ayah, membantu Cin-ling-pai mencari Lima Bayangan Dewa dan kalau mungkin merampas kembali pedang pusaka Siang-bhok-kiam. Demi persahabatan itu, aku melupakan kebodohanku sendiri, melakukan penyelidikan sampai di Yen-tai di mana aku bertemu dan berkenalan dengan kedua orang saudara Souw ini yang ternyata adalah cucu murid sendiri dari mendiang Panglima The Hoo.”

“Adapun kami berdua, setelah terjadi peristiwa di Yen-tai, kami juga sudah sepakat untuk membantu Tio-twako mencari Lima Bayangan Dewa, karena ibu kami pernah bercerita kepada kami tentang kegagahan ketua Cin-ling-pai yang patut kami bantu pula,” kata Kwi Eng.

Mendengar ini, Bun Houw segera bangkit dari atas batu dan dia lalu memberi hormat kepada tiga orang itu dengan menjura. Hal ini mengejutkan dan mengherankan mereka yang segera bangkit pula untuk membalas penghormatan itu. Dengan suara terharu Bun Houw lalu berkata, “Atas nama Cin-ling-pai, saya menghaturkan banyak terima kasih atas bantuan sam-wi yang demikian budiman.”

“Eh, siapakah sesungguhnya Bun-taihiap?” tanya Tio Sun yang kembali menyebut taihiap karena dia menduga bahwa pemuda ini tentulah bukan orang sembarangan.

“Maafkan kalau saya tadi kurang berterus terang. Sebetulnya saya she Cia dan bernama Bun Houw…”

Aih…! Kiranya Cia-taihiap, putera dari ketua Cin-ling-pai?” Tio Sun berteriak girang. “Pantas saja demikian lihai, kiranya Cia-taihiap sendiri orangnya! Maafkan kalau kami bersikap kurang hormat.”

“Putera Pendekar Sakti Cia Keng Hong…?” Kwi Eng berseru dan memandang dengan wajah bersinar penuh kekaguman. Juga Kwi Bang memandang kagum dan hal ini membuat Bun Houw menjadi makin sungkan dan malu.

“Harap sam-wi jangan berlebihan. Marilah kita duduk kembali dan bicara dengan leluasa.”

Mereka duduk kembali dan Bun Houw lalu memandang mereka dengan bergantian. “Tidak kukira bahwa ayah mempunyai demikian banyak sahabat yang diam-diam membela Cin-ling-pai dan hal ini amat mengharukan hatiku. Akan tetapi sebelum kita bicara, di antara kita adalah orang segolongan, apalagi sam-wi adalah penolong-penolong Cin-ling-pai, maka harap tinggalkan saja sebutan taihiap yang tidak pada tempatnya. Tio-twako, harap kau suka menyebutku adik saja, dan kedua adik Souw juga hendaknya menyebutku kakak saja. Bukankah sebagai orang-orang segolongan kita boleh dibilang bersaudara atau bersahabat baik?”

Tiga orang gagah itu menjadi girang melihat sikap putera ketua Cin-ling-pai yang berilmu tinggi akan tetapi bersikap sederhana dan tidak tinggi hati itu.

“Baiklah, Houw-te (adik Houw),” kata Tio Sun.

“Terima kasih, Houw-ko,” kata Kwi Eng dan Kwi Bun hampir berbareng.

Bun Houw menghela napas. “Niat kalian untuk membantu kami amat baik dan tentu saja saya merasa amat bersyukur. Akan tetapi apakah kalian tahu di mana tinggalnya Lima Bayangan Dewa dan ke mana kalian hendak mencari mereka?”

“Tadinya kami mendengar bahwa seorang di antara mereka yang bernama Liok-te Sin-mo Gu Lo It tinggal di pantai Laut Timur, akan tetapi setelah kami selidiki, ternyata dia sudah pergi ke pedalaman dan kami hendak mencari jejaknya di pedalaman.”

“Pedalaman Tiongkok berarti merupakan daerah yang puluhan ribu mil luasnya, bagaimana kita dapat menyelidiki mereka? Pula, tingkat kepandaian Lima Bayangan Dewa itu amat tinggi sehingga kalau sam-wi membantu kami, besar bahayanya sam-wi akan menghadapi malapetaka. Bukan aku tidak tahu terima kasih, akan tetapi ayahku yang telah menugaskan aku menghadapi mereka tentu akan marah kepadaku kalau aku membiarkan orang lain menjadi korban kejahatan Lima Bayangan Dewa. Maka, kuharap sam-wi suka kembali saja,” Bun Houw berkata dengan suara sungguh-sungguh.

“Adik Cia Bun Houw mengapa berkata demikian?” Tio Sun membantah dengan suara keras. “Biarpun kepandaianku masih amat rendah, akan tetapi aku bukan orang yang takut menghadapi bahaya. Ayah sudah menugaskan kepadaku, bagaimana bisa pulang sebelum lecet kulitku, sebelum patah tulangku? Demi melaksanakan tugas yang diperintah ayah, selembar nyawaku menjadi taruhan!”

“Kami berduapun tidak mempunyai tempat tinggal lagi sebelum orang tua kami pulang, maka harap Houw-ko tidak menolak bantuan kami yang juga tidak takut bahaya dalam menentang kejahatan!” Kwi Eng berkata, sikapnya gagah sekali dan Bun Houw menjadi makin kagum saja.

“Kalau begitu besar tekad sam-wi, saya tidak berani mencegah dan saya makin berterima kasih. Ketahuilah bahwa saya sendiri telah memperoleh jejak mereka, bahkan telah bertemu dengan dua orang di antara mereka. Sayang saya tidak berhasil merobohkan mereka dan sekarang mereka telah melarikan diri. Menurut penyelidikan saya, Lima Bayangan Dewa itu kini agaknya berkumpul di Ngo-sian-chung, tidak jauh dari sini, di lembah muara Huang-ho.”

“Bagus! Kalau begitu mari kita berempat menyerbu ke sana, Houw-te!” Tio Sun berseru penuh semangat.

“Mereka itu selain lihai juga amat curang, maka kita harus berlaku hati-hati sekali!” Bun Houw menerangkan. “Belum lama ini aku sendiri terjebak dan hampir tewas oleh mereka, kalau tidak tertolong oleh seorang sahabat. Dan saya minta kepada sam-wi agar nama saya dirahasiakan sebagai putera Cin-ling-pai, karena selama ini saya hanya dikenal sebagai seorang she Bun bernama Houw. Sebelum berhasil meringkus atau membasmi mereka, saya tidak akan menggunakan nama sendiri, dan hanya kepada sam-wi saja yang saya tahu adalah putera-puteri sahabat dari ayah maka saya memperkenalkan diri secara sesungguhnya.”

Empat orang muda itu lalu melanjutkan perjalanan sepanjang Sungai Huang-ho menuju ke timur. Kwi Eng yang berwatak terbuka dan tidak pemalu, dengan terang-terangan mengatakan sikap kagumnya terhadap putera ketua Cin-ling-pai ini, selalu berjalan di dekat Bun Houw dan ada saja hal yang dibicarakan, nampaknya begitu akrab dan sedikitpun Kwi Eng tidak menyembunyikan rasa tertarik dan sukanya. Di lain fihak, karena memang Kwi Eng amat cantik jelita, memiliki daya tarik yang keras, tentu saja Bun Houw juga senang sekali berdekatan dan bercakap-cakap dengan gadis ini. Kwi Beng sebagai saudara kembar memilki hubungan jiwa yang amat dekat dengan adiknya, maka tentu saja dia segera dapat merasakan debaran jantung adiknya yang mulai disentuh asmara itu. Sambil berjalan di dekat Tio Sun, Kwi Beng berbisik kepada pendekar muda itu tentang adiknya, menunjuk dengan gerakan mukanya ke depan, “Tio-twako, lihat betapa cocoknya mereka berdua… aihhh, betapa akan senang hatiku kalau saja adikku bisa menjadi jodohnya kelak…”

Kwi Beng sama sekali tidak mengira bahwa bisikannya itu sebenarnya merupakan ujung pisau berkarat yang menghujam di ulu hati Tio Sun! Dia sama sekali tidak pernah menduga bahwa sebetulnya Tio Sun inilah yang sudah bertekuk lutut, jatuh hati kepada adiknya semenjak saat mereka saling jumpa. Tio Sun sudah jatuh cinta kepada Kwi Eng, dara jelita yang bermata lebar kebiruan dan berambut hitam agak pirang keemasan itu!

Hanya karena Tio Sun orangnya pendiam dan pemalu, maka sedikitpun tidak pernah tampak perasaan cinta itu, baik pada pandang matanya, kata-katanya maupun gerak-geriknya.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: