Dewi Maut (Jilid ke-34)

Hemmm…” Hanya begitulah Tio Sun menjawab sambil menundukkan mukanya, tidak tahan melihat betapa Kwi Eng sambil tersenyum-senyum bicara kepada Bun Houw yang jalan berendeng demikian dekatnya sehingga seolah-olah lengan mereka saling bersentuhan. Dan Bun Houw demikian gagahnya, demikian tampannya, juga memiliki kepandaian demikian tingginya. Putera ketua Cin-ling-pai pula. Seorang pemuda gagah perkasa, putera pendekar sakti yang dijunjung tinggi dan dihormati oleh semua orang kang-ouw. Sedangkan dia? Hanya putera seorang bekas pengawal miskin dan tidak terkenal. Tio Sun makin menunduk, berusaha mengusir rasa tidak enak dan sakit yang berada di rongga dadanya.

Malam itu mereka melewatkan malam di sebuah hutan di tepi sungai karena menurut nasihat Tio Sun, lebih baik berhati-hati menyelidiki tempat Lima Bayangan Dewa yang selain lihai tentu juga memiliki banyak anak buah itu. Dia sendiri lalu membuat api unggun, dan kedua orang saudara Souw pergi menangkap beberapa ekor kelinci dan ayam hutan. Kwi Eng segera sibuk menguliti dan memanggang kelinci dan ayam hutan, sedangkan Bun Houw sudah duduk bersama Kwi Beng dan Tio Sun bercakap, saling menceritakan pengalaman masing-masing di dekat api unggun. Ketika Tio Sun bercerita tentang pengalamannya menolong seorang gadis cilik kemudian bertemu dengan Bun Hwat Tosu, Bun Houw dan Kwi Beng merasa kagum sekali. Terutama Bun Houw yang sudah sering mendengar dari ayahnya bahwa di jaman itu, Bun Hwat Tosu merupakan seorang di antara tokoh-tokoh sakti yang jarang muncul di dunia persilatan, yang merupakan seorang manusia setengah dewa. Tentu saja Bun Houw sama sekali tidak pernah mengira bahwa gadis cilik yang diselamatkan kawannya itu sebetulnya adalah Yap Mei Lan, anak dari Yap Kun Liong yang masih terhitung suhengnya itu!

“Aku mendengar dari ayah bahwa ilmu kepandaian bekas ketua Hoa-san-pai itu seperti dewa. Dan Yap Kun Liong suheng juga menerima sebagian dari ilmu-ilmunya dari kakek dewa itu,” kata Bun Houw kagum. “Untung sekali engkau dapat bertemu dengan beliau, Tio-twako.”

“Akan tetapi engkau sendiripun murid seorang manusia dewa, Houw-te. Aku pernah mendengar dari ayah yang mengenal baik keadaan Cin-ling-pai bahwa engkau sejak kecil telah menjadi murid Kok Beng Lama di Tibet yang kepandaiannya sukar dibicarakan saking tingginya.”

“Ahhh, engkau terlalu memuji, twako. Memang, suhu Kok Beng Lama seorang sakti luar biasa, akan tetapi aku yang muda dan bodoh mana bisa mewarisi seluruh kepandaiannya? Sayang bahwa begitu pulang ke Cin-ling-pai, terdapat malapetaka itu sehingga aku terus saja berangkat menyelidiki Lima Bayangan Dewa, tidak sempat mengunjungi enciku yang tinggal di Sin-yang dan mengunjungi Yap-suheng yang tinggal di Leng-kok. Sungguh menggemaskan sekali Lima Bayangan Dewa itu.”

“Mereka itu pengecut kalau berani bergerak selagi ayahmu tidak berada di Cin-ling-san, Houw-ko,” Kwi Beng ikut pula bicara.

“Aiiiihhh…!” Tiga orang pemuda itu terkejut sekali, Bun Houw sudah mencelat dan diikuti oleh Tio Sun dan Kwi Beng. Yang menjerit adalah Kwi Eng dan kini dara itu sudah tidak kelihatan lagi, hanya kelihatan bayangan orang berkelebat ke barat.

Bun Houw yang memiliki gerakan paling ringan dan cepat sudah meloncat seperti terbang cepatnya, disusul oleh Tio Sun dan Kwi Beng lari paling akhir karena pemuda peranakan ini biarpun juga memiliki kepandaian cukup tinggi, masih kalah jauh kalau dibandingkan dengan Bun Houw dan kalah setingkat oleh Tio Sun.

“Aihhh… apa kau gila…?” Kwi Eng menjerit dan kelihatan terdesak hebat oleh serangan sesosok bayangan yang bertubuh ramping. Bayangan wanita! Ketika Bun Houw tiba di tempat itu, dia melihat Kwi Eng terancam bahaya maut dan cepat dia menerjang dan sempat menangkis pukulan maut yang sudah mengancam kepala Kwi Eng.

“Dukkkk…! Aihhhh…!” Bayangan wanita itu terkejut ketika pukulannya tertangkis dan dia terhuyung ke belakang, lalu dia meloncat sambil terkekeh dan lenyap ditelan kegelapan malam. Bun Houw tidak dapat melihat wajahnya, akan tetapi melihat bentuk tubuh wanita itu dan melihat caranya bergerak dan menyerang, jantungnya berdebar tegang karena dia yakin siapa adanya wanita yang menyerang Kwi Eng tadi. Melihat Kwi Eng terhuyung, cepat dia menyambar, mendukungnya dan membawanya kembali ke tempat tadi, diikuti oleh Tio Sun dan Kwi Beng yang menjadi khawatir sekali.

Bun Houw dengan hati-hati merebahkan Kwi Eng di dekat api unggun. Hatinya lega ketika memeriksa dan ternyata Kwi Eng tidak menderita luka parah, hanya mengalami tamparan yang membuat pipi dan lehernya terdapat tanda jari tangan yang merah, tanda bahwa tamparan itu keras sekali. Kwi Eng masih nanar, akan tetapi dia dapat bangkit duduk dan mukanya merah sekali.

“Keparat, dia entah orang gila entah setan!” dia memaki sambil meraba leher dan pipinya yang terasa panas.

“Eng-moi, apakah yang terjadi?” Kakaknya bertanya, kelihatan marah melihat adiknya dipukuli orang.

“Aku sendiri tidak tahu dengan jelas. Seperti kalian tahu, aku baru memanggang daging dan aku hendak membuang isi perut kelinci dan ayam hutan agak jauh dari sini agar tidak mendatangkan bau tidak enak. Kulihat kalian masih sibuk bercakap-cakap. Ketika aku tiba di sana…” Dia menuding ke arah gerombolan pohon tak jauh dan yang gelap, “aku membuang isi perut itu dan tiba-tiba saja lenganku disambar orang dan aku dibawa lari seperti terbang cepatnya!”

Siapa dia? Bagaimana orangnya?” Tio Sun bertanya dan Bun Houw hanya mendengarkan, bahkan menundukkan mukanya karena dia sudah mulai menduga siapa orang yang mengganggu Kwi Eng itu dan sedang menduga-duga mengapa terjadi hal itu.

“Aku tidak dapat melihat mukanya karena gelap, akan tetapi yang jelas dia adalah seorang wanita, agaaknya masih muda dan cantik karena cahaya api unggun sebentar menimpa pipinya. Dia kuat sekali karena betapapun aku meronta, aku tidak dapat melepaskan diri, malah dia lalu menampariku dan berbisik penuh ancaman. Tentu saja aku melawan, akan tetapi gerakannya lihai bukan main sehingga betapapun aku mengelak dan menangkis, tetap saja aku kena ditampar beberapa kali,” Kwi Eng kembali meraba leher dan pipinya. “Dan… kalau saja Houw-koko tidak keburu datang, aku… aku agaknya sudah terpukul mati, aku merasa betul bahwa iblis itu menghendaki kematianku dan kepandaiannya begitu hebat!” Kwi Eng bergidik.

“Bagaimana kau tahu kepandaiannya amat hebat?” kakaknya mendesak.

“Kau tahu, koko, ketika dia menarikku, aku sudah mengerahkan tenaga, aku diam-diam mencabut tusuk kondeku. Kau tahu tusuk kondeku itu adalah pemberian ibu, terbuat dari baja tulen seperti pedang, diselaputi emas luarnya. Aku menusuknya di tempat gelap, tepat pada lambungnya dan kaulihatlah ini…” Dara itu mengeluarkan sebatang tusuk konde yang telah patah menjadi dua!

“Ihhhh…!” Kwi Beng berteriak ngeri. Membayangkan lawan yang lambungnya ditusuk dengan senjata itu malah senjatanya patah, benar-benar mengerikan sekali.

“Adik Kwi Eng, kau tadi mengatakan bahwa iblis itu berbisik penuh ancaman. Bisikan apakah yang dikatakan kepadamu?” Tiba-tiba Tio Sun bertanya.

Kwi Beng dan Bun Houw juga memandang dan Kwi Eng kelihatan gugup, bahkan lalu mengerling den menatap wajah Bun Houw sampai lama. Pemuda ini mengerutkan alisnya, hatinya menjadi tidak enak dan akhirnya dia menunduk.

“Aku sendiripun merasa heran sekali memikirkan apa yang dibisikkan oleh iblis betina itu.” Kwi Eng akhirnya berkata lirih. “Suaranya halus dan bisikannya jelas terdengar olehku kelika dia menampariku. Dia berkata, berani kau mendekati dia? Kubunuh kau kalau kau berani jatuh cinta padanya!”

“Ehhhh…! Gila!” Kwi Beng berkata marah dan memandang ke kanan kiri.

“Hemmm, siapakah yang dimaksudkannya itu?” Tio Sun juga berkata sambil mengerling ke arah Bun Houw yang makin menundukkan mukanya. Mendengar penuturan ini, Bun Houw makin yakin siapa wanita yang telah menyerang Kwi Eng itu dan dia merasa heran, terkejut, bingung dan penasaran. Tentu dara bernama Hong itu! Akan tetapi mengapa demikian? Mengapa Hong bersikap seperti itu? Apa artinya semua itu? Cemburu? Ah, mengapa cemburu?

“Houw-koko, apakah kau mengenal iblis itu?” Tiba-tiba Kwi Eng bertanya kepada Bun Houw dan pemuda ini terkejut, tersentak dari lamunannya.

“Aku tidak tahu…” dia menggeleng ragu. “Aku tidak melihat suatu sebab yang membuat orang dapat bersikap seperti itu kepadamu. Mungkin dia seorang gila, atau siapa tahu dia adalah seorang mata-mata Lima Bayangan Dewa…”

“Atau mungkin juga dia salah melihat orang, kau disangka orang lain, adik Kwi Eng,” kata pula Tio Sun yang merasa tidak enak melihat Bun Houw kelihatan bingung. “Sudahlah, karena tidak ada akibat yang terlalu hebat, mari kita makan dan beristirahat. Malam ini kita harus berjaga-jaga, siapa tahu kalau-kalau dia muncul kembali.”

Kwi Eng melanjutkan pekerjaannya memanggang daging, kini tidak berani terlalu jauh dari teman-temannya. Setelah mereka makan daging dan cukup kenyang, Bun Houw yang masih merasa tidak enak dan menduga bahwa boleh jadi dara bernama Hong itu yang melakukan perbuatan kasar terhadap Kwi Eng karena orang aneh seperti dia sukar diduga sebelumnya apa yang akan dilakukannya, mengusulkan untuk mencari penginapan di dalam dusun di luar hutan saja.

Mereka lalu melanjutkan perjalanan keluar dari hutan sambil membawa obor. Maksud Bun Houw mencari penginapan di dusun adalah untuk menghindari gangguan “iblis” tadi, karena hatinya masih khawatir akan keselamatan Kwi Eng. Ketika dia menangkis pukulan iblis tadi, dia memperoleh kenyataan betapa kuatnya tenaga lengan iblis betina itu dan kalau mereka tinggal di dalam hutan yang terbuka, sukarlah baginya untuk terus melindungi Kwi Eng.

Benar saja, tepat di luar hutan, mereka mendapatkan sebuah dusun kecil yang dihuni oleh puluhan keluarga petani. Tentu saja di dusun kecil seperti itu tidak terdapat rumah penginapan, akan tetapi Kwi Eng yang pandai bicara ramah dan juga mempunyai banyak uaug bekal itu berhasil mendapatkan sebuah rumah besar tempat tinggal seorang petani yang agak kaya untuk menampung dan memberi kamar kepada mereka berempat untuk satu malam itu. Petani yang kecukupan ini she Ma dan hidup bersama seorang istri, dua orang anak gadis yang sudah dewasa dan dua orang pelayan.

Keluarga she Ma ini ternyata ramah sekali dan dengan gembira mereka menyambut empat orang tamu mereka, bahkan menjamu mereka dengan nasi, lauk pauk dan minuman, memaksa mereka berempat makan walaupun mereka menyatakan bahwa mereka sudah makan di hutan. Memang kehidupan di dusun jauh bedanya dengan di dalam kota. Orang-orang kota biasanya terlalu mementingkan diri sendiri, hidup memisahkan diri, dan saling tidak mengacuhkan keadaan orang lain, jarang sekali nampak keakraban dan kegotongroyongan. Berbeda dengan kgbidupan di dusun di mana mereka lebih saling bergaul dengan akrab, senasib sependeritaan dan selalu bersikap ramah apabila kedatangan tamu. Demikian pula, keluarga she Ma ini, ketika mendengar permintaan Kwi Eng untuk dapat bermalam di situ malam itu, mereka gembira sekali, apalagi ketika melihat bahwa Kwi Eng adalah seorang dara yang demikian cantik jelita dan mempunyai kecantikan yang khas, sedangkan tiga orang pemuda itu begitu gagah-gagah dan tampan, terutama sekali Bun Houw dan Kwi Beng.

Diam-diam timbullah keinginan besar di dalam hati suami isteri Ma. Sudah lama mereka itu ingin sekali memperoleh mantu-mantu yang sesuai dengan keadaan mereka. Sebagai petani yang paling kaya di dusun itu, tentu saja mereka menganggap pemuda-pemuda dusun itu kurang memenuhi syarat untuk menjadi mantu-mantu mereka. Kini muncul pemuda-pemuda kota yang demikian gagah dan tampan, tentu saja timbul harapan di dalam hati mereka dan sang ibu segera memberi nasihat kepada dua orang puterinya untuk keluar dan ikut pula melayani para tamu makan minum dan bersikap ramah dan manis kepada para tamunya. Tentu saja tidak lupa mereka itu berhias diri untuk menarik perhatian para pemuda kota itu, terutama Kwi Beng dan Bun Houw.

Kwi Eng yang dapat mengerti sikap ibu dan dua orang anak gadisnya itu merasa geli dan juga kasihan. Sikap mereka begitu polos dan kaku sehingga amat menyolok mata ketika perawan pertama dengan manisnya melayani Bun Houw sedangkan adiknya dengan sikap memikat melayani Kwi Beng. Beberapa kali Kwi Eng menutup mulutnya menahan ketawa melihat betapa Kwi Beng dan Bun Houw menjadi merah mukanya dilayani oleh perawan-perawan dusun yang berbedak tebal dan memakai minyak wangi semerbak itu.

Karena keramahan fihak tuan rumah sekeluarga, mereka berempat merasa tidak enak untuk menolak dan biarpun mereka sudah kenyang makan daging kelinci dan ayam hutan tadi, kini mereka makan dan minum lagi sekedarnya hanya untuk menyenangkan hati keluarga tuan rumah.

Demikian pula setelah mereka makan, keluarga itu mengajak para tamunya bercakap-cakap di ruangan depan, dan kembali dalam kesempatan ini, dua orang anak gadis keluarga itu memperlihatkan sikap manis dan tertarik sekali kepada Bun Houw den Kwi Beng. Tentu saja dua orang pemuda ini menjadi sungkan dan malu-malu, dan baru mereka merasa terbebas ketika Tio Sun akhirnya minta perkenan dari keluarga itu untuk mengaso. Kwi Eng memperoleh kamar sendiri, sedangkan tiga orang pemuda itu tidur menjadi satu di dalam sebuah kamar besar sederhana di bagian belakang rumah itu. Menjelang tengah malam, semua orang terkejut ketika mendengar jerit melengking yang mengerikan. Sebagai orang-orang berkepandaian tinggi, tentu saja tiga orang pemuda itu cepat meloncat keluar dari kamar mereka, dan bertemu dengan Kwi Eng yang juga sudah meloncat keluar kamarnya. Lalu mereka mendengar suara tangis dari kamar dua orang gadis puteri tuan ruinah. Tentu saja mereka terkejut dan cepat mendatangi kamar itu dan dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka ketika melihat bahwa gadis pertama she Me telah rebah tak bernyawa lagi di atas pembaringannya dan di dahinya terdapat tanda tiga buah jari tangan menghitam. Jelas bahwa gadis ini tewas terbunuh orang yang memiliki kepandaian tinggi! Ketika melihat empat orang itu, suami isteri Ma dan anaknya yang kedua menangis makin riuh rendah.

Tanpa diminta, Tio Sun dan tiga orang temannya sudah menggunakan kepandaian mereka untuk meloncat dan melakukan pengejaran, mencari di luar belakang dan di atas genteng rumah, namun tidak nampak bayangan orang lagi. Mereka kembali ke kamar itu di mana semua keluarga masih menangis.

“Apakah sesungguhnya yang telah terjadi?” Tio Sun bertanya kepada tuan rumah. “Mengapa puteri ji-wi tahu-tahu meninggal seperti ini?”

Sambil menangis orang she Ma itu menjawab bahwa mereka suami isteri juga tidak tahu, akan tetapi menurut penuturan gadis mereka yang kedua, anak pertama mereka itu dibunuh oleh seorang wanita!

“Seorang wanita?” Bun Houw bertanya dengan suara terkejut sekali. Jentunguya berdebar tegang dan dia langsung bertanya kepada gadis Ma yang muda dan yang masih menangis itu, “Nona, harap ceritakan, apa yang telah terjadi dan siapa yang membunuh encimu?”

“Saya… saya terbangun oleh suara dalam kamar kami…” gadis itu bercerita dengan air mata bercucuran. “Lampu kami bernyala kecil… dan… dan saya melihat bayangan seorang wanita di kamar… ada bau harum bunga… dan saya mendengar suara wanita itu berkata kepada enci…” Dia melihat lagi terisak-isak.

Ibunya memeluknya dan berkata, “Kau tenanglah dan ceritakan dengan jelas…”

“Saya… mendengar jelas, wanita itu… bayangan itu berkata, “Kau berani menggoda pemuda itu, kau harus mati!” Enci menjerit den bayangan itu berkelebat lenyap… seperti iblis… melalui jendela. Saya menghampiri enci dan… dan…” gadis itu menangis lagi sesenggukan.

Kwi Eng, Kwi Beng, dan Tio Sun saling pandang dengan mata terbelalak, sedangkan Bun Houw yang merasa jantungnya berdebar dan tengkuknya meremang menundukkan mukanya sambil mengepal tinju tangannya. Benarkah? Benarkah wanita iblis itu adalah wanita yang telah mengancam Kwi Eng dan kini membunuh puteri tuan rumah ini? Benarkah nona Hong yang cantik jelita, gagah perkasa, penolong dan penyelamatnya itu, dia itukah iblis betina ini? Agaknya tidak mungkin salah lagi! Siapa lagi kalau bukan dia yang berkepandaian begitu tinggi sehingga Kwi Eng sendiripun tidak berdaya? Akan tetapi mengapa dia melakukan hal itu? Mengapa? Karena cinta kepadanya dan karena cemburu melihat sikap puteri tuan rumah manis kepadanya? Cemburu? Begitu kejamnya? Dia bergidik.

Tio Sun menyentuh lengannya dan pemuda itu memberi isyarat kepadanya. Bun Houw mengangkat muka, melihat betapa tiga orang temannya itu memandang kepadanya dengan sinar mata tajam penuh selidik. Dia menghela napas dan keluar dari kamar itu bersama tiga orang temannya.

Setelah tiba di ruangan depan rumah itu, Tio Sun memandang kepada Bun Houw dengan tajam lalu berkata, “Houw-te, agaknya pembunuhan ini ada hubungannya dengan penyerangan atas diri adik Kwi Eng. Apakah engkau dapat monduga siapa yang melakukannya?”

Melihat mereka bertiga memandang penuh selidik, Bun Houw menghela napas dan menjawab, “Sungguh, aku sendiri menjadi bingung. Ada seorang pendekar wanita yang kukenal, akan tetapi agaknya tidak mungkin dia berobah menjadi iblis betina. Aku tidak dapat percaya. Tidak, tentu ada apa-apa yang aneh di balik semua ini” Bun Houw tetap tidak mau mengaku. Bagaimana mungkin dia menceritakan tentang nona Hong yang amat dikagumi dan yang telah menyelamatkan nyawanya itu? Terus terang saja, di sudut hatinya memang ada dugaan bahwa nona itulah yang melakukan ancaman terhadap Kwi Eng den pembunuhan malam ini, karena betapapun juga, dia tahu bahwa nona perkasa itu memiliki watak aneh dan hati yang keras, tidak dapat memberi ampun kepada musuhnya. Akan tetapi mengapa menyatakan cemburu secana demikian ganas? Dan benarkah perbuatan itu dilakukan karena cemburu? Apakah nona Hong yang panuh rahasia itu jatuh cinta kepadanya? Semua pertanyaan ini mengaduk otaknya dan karena belum terdapat bukti-bukti nyata, biarpun dia mulai menduga demikian, dia tidak mau merusak nama gadis panolongnya itu.

Betapapun juga dia masih tidak mau percaya bahwa dara cantik jelita itu telah membunuh gadis she Me yang sama sekali tidak berdosa itu. Dia bergidik. Bagaimana kalau benar nona Hong yang membunuhnya? Betapa kejamnya. Seperti iblis betina saja! Dia menjadi makin penasaran dan ingin sekali dia bertemu dengan gadis itu untuk ditanyainya. Teringat dia betapa ganasnya nona itu ketika hendak membasmi anak buah Lembah Bunga Merah. Seorang gedis yang cantik jelita, berilmu tinggi dan amat ganas menghadapi musuh-musuhnya. Akan tetapi membunuh gadis she Ma yang tidak berdosa dengan darah dingin begitu saja? Sungguh keterlaluan! Bun Houw merasa terisksa batinnya di antara keraguan dan rasa penasaran. Benarkah nona Hong yang membunuhnya? Seorang dara seperti bidadari, seperti seorang dari kahyangan! Mengapa begitu kejam? Seperti Dewi Maut saja, bidadari yang bertugas mencabut nyawa sebagai pembantu Giam-lo-ong!

Dapat dibayangkan betapa bingungnya hati pemuda itu. Dia amat kagum kepada In Hong dan merasa berhutang budi karena harus diakuinya bahwa kalau bukan nona itu yang menyelamatkannya dari tangan musuh-musuhnya, tentu dia sekarang sudah mati. Akan tetapi peristiwa penyerangan terhadap diri Kwi Eng dan pembunuhan terhadap gadis she Ma itu menunjukkan seolah-olah gadis yang dikaguminya itu seorang ibils betina yang kejam. Tangannya sudah merogoh kantong menyentuh burung hong kumala yang diterimanya dari nona itu. Saking gemas dan bencinya hampir saja dia meremas benda itu, akan tetapi dia ingat bahwa belum ada bukti nyata bahwa nona itulah yang melakukan semua kekejian ini. Kelak dia pasti akan menyelidiki dan membongkar rahasia ini!

Karena hatinya amat terganggu oleh peristiwa itu, dan juga karena tiga orang temannya agaknya mencurigainya, maka dengan dalih mencari dan mengejar pembunuh itu, Bun Houw mengajak tiga orang temannya meninggalkan rumah keluarga Ma dan malam itu juga mereka meninggalkan dusun itu dan berusaha mencari jejak pembunuh, namun semua usaha mereka sia-sia belaka.

***

Ngo-sian-chung (Kampung Lima Dewa) adalah sebuah dusun kuno yang terletak di lembah muara sungai Huang-ho. Di dusun itu, di dekat sungai, terdapat bukit kecil di mana orang dapat melihat adanya lima buah batu gunung besar yang berjajar dan jika dilihat dari kejauhan mirip lima orang sedang duduk bercakap-cakap. Karena itulah mungkin maka dusun itu disebut Dusun Lima Dewa. Akan tetapi, belasan tahun yang lalu ketika seorang datuk kaum sesat datang dan menetap di dusun itu, lambat-laun para penghuni dusun pindah ke lain tempat dan akhirnya dusun itu seolah-olah menjadi “milik pribadi” datuk kaum sesat itu yang bukan lain adalah Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok. Dia ini sebetulnya adalah seorang yang berilmu tinggi peranakah Mongol, ayahnya seorang Han akan tetapi ibunya seorang wanita Mongol. Ayahnya adalah seorang petualang yang berkepandaian tinggi dan ketika bertualang di dadrah Mongol ayahnya itu menikah dengan puteri kepala Suku Bangsa Mongol. Oleh karena itu, biarpun dia memakai nama keturunan ayahnya dan mempunyai nama Han, akan tetapi wajahnya yang tampan itu mirip orang Mongol dari seperti juga orang Mongol, dia tidak begitu suka kepada Bangsa Han, bangsa ayahnya sendiri, dan lebih setia kepada Bangsa Mongol yang dianggapnya bangsa paling besar dan mulia di dunia.

Phang Tui Lok menerima ilmunya dari seorang sakti, dan dia adalah sute dari mendiang Ban-tok Coa-ong, seorang datuk kaum sesat yang pada puluhan tahun yang lalu amat terkenal di dunia persilatan. Seperti kita ketahui, di dalam cerita Petualang Asmara, Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok tewas di tangan Pendekar Sakti Cia Keng Hong ketua Cin-ling-pai, dan oleh karena ini maka Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok menaruh dendam kepada Cin-ling-pai dan semenjak dia tinggal di Ngo-sian-chung, dia selalu mencari kesempatan uatuk membalas sakit hatinya itu. Namun, dia bukanlah seorang bodoh dan ceroboh. Dia maklum betapa lihainya ketua Cin-ling-pai, maka dia selalu mencari kesempatan yang baik dan menyusun kekuatan.

Setelah dia dapat mengumpulkan harta dan menjadi “majikan” dusun Ngo-sian-chung itu, mulailah dia mengumpulkan teman-teman yang dia tahu juga merupakan musuh-musuh dari ketua Cin-ling-pai sehingga akhirnya dia berhasil menarik empat orang lihai lainnya dan bahkan mengangkat saudara dengan mereka ini dan mereka menggunakan julukan Lima Bayangan Dewa, sesuai dengan Ngo-sian-chung yang menjadi sarang atau pusat pertemuan mereka. Setelah merasa kuat, maka Pat-pi Lo-sian mengajak empat orang saudara angkatnya itu untuk menyerbu Cin-ling-pai dan seperti telah dituturkan di bagian depan cerita ini, mereka berhasil membunuh Cap-it Ho-han murid-murid kepala Cin-ling-pai dan Phang Tui Lok sendiri sebagai saudara tertua dan yang terpandai, berhasil merampas pedang Siang-bhok-kiam.

Setelah berhasil menggegerkan dunia kang-ouw dengan penyerbuan mereka ke Cin-ling-pai itu, Lima Bayangan Dewa maklum bahwa tentu fihak Cin-ling-pai tidak akan tinggal diam, maka merekapun lalu mengumpulkan teman-teman segolongan untuk bersiap-siap menghadapi musuh besar mereka. Bahkan Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok sendiri lalu membujuk dua di antara Lima Bayangan Dewa, yaitu Liok-te Sin-mo Gu Lo It yang tadinya tinggal di pantai timur, dan Toat-beng-kauw Bu Sit yang tadinya di selatan untuk tinggal di Ngo-sian-chung. Selain mengumpulkan tokoh-tokoh besar golongan sesat yang juga memusuhi Cin-ling-pai, juga Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok yang masih terhitung keluarga para bangsawan Mongol, diam-diam menghubungi seorang pembesar istana yang pada waktu itu sedang berkuasa besar, yaitu seorang pembesar thaikam (pembesar kebiri) yang berpengaruh di istana kaisar. Kini dusun Ngo-sian-chung tidaklah seramai dahulu lagi, sebagian besar penghuni aseli dusun itu, yang sudah tinggal di situ selama beberapa keturunan, telah pergi dari situ dan pindah ke dusun lain semenjak Lima Bayangan Dewa menguasai dusun itu. Mereka ini, orang-orang dusun yang lemah, tidak mau terlibat dengan urusan orang-orang kang-ouw yang mengandalkan kepandaian dan kekerasan untuk melewati hidup. Mereka yang masih tinggal di situ adalah orang-orang yang memperoleh keuntungan dengan adanya Lima Bayangan Dewa dan bekerja menjadi kaki tangan mereka

Pada pagi hari itu, empat orang muda memasuki dusun Ngo-sian-chung dengan sikap tenang namun penuh kewaspadaan. Mereka itu adalah Bun Hoow, Tio Sun, Kwi Beng dan Kwi Eng. Setelah mereka pada malam hari itu gagal mencari dan mengejar pembunuh rahasia yang telah membunuh gadis she Ma, mereka merasa tidak enak untuk kembali ke dusun dan mereka melanjutkan perjalanan menuju ke Ngo-sian-chung. Karena Ngo-sian-chung memang sudah dekat, berada di lembar muara sungai Huang-ho, maka pada keesokan harinya, pagi-pagi mereka telah memasuki dusun itu dengan sikap penuh kewaspadaan karena mereka menduga bahwa mereka tentu tiba di sarang Lima Bayangan Dewa yang mereka cari-cari.

Dugaan mereka memang tepat. Mereka sedang memasuki sarang naga yang amat berbahaya. Tidak percuma tempat itu dijadikan sarang Lima Bayangan Dewa dan biarpun pagi hari itu empat orang muda ini memasuki pintu gerbang dusun yang sunyi seolah-olah tempat itu aman den kosong, seolah-olah tidak terdapat bahaya sama sekali, namun sesungguhnya kedatangan mereka sudah sejak malam tadi diketahui oleh para penghuni Ngo-sian-chung dan pagi ini. empat orang itu memang dibiarkan memasuki dusun seperti empat ekor domba yang dibiarkan masuk ke dalam jebakan dan di sekeliling tempat itu, secara bersembunyi, telah menanti segerombolan harimau yang kelaparan dan yang memandangi gerakan empat ekor domba itu!

Sebetulnya, sebelum mereka memasuki dusun itu, Tio Sun menyatakan tidak setujunya karena dia menganggap perbuatan mereka ini terlalu ceroboh. “Lima Bayangan Dewa yang telah melakukan perbuatan menentang Cin-ling-pai tentu selalu telah siap menghadapi lawan,” katanya kepada Bun Houw. “Kalau kita masuk secara berterang, bukankah hal itu amat berbahaya? Mereka sudah tahu bahwa kita hanya berempat, dan kita tidak tahu sampai di mana kekuatan mereka.”

“Tio-twako,” Bun Houw menjawab malam tadi. “Mereka itu adalah orang-orang dari golongan sesat, ketika mereke menyerbu Cin-ling-pai, mereka sengaja menanti ketika ayah dan ibu tidak berada di sana, dan mereka memancing para suheng dari Cap-it Ho-han meninggalkan Cin-ling-san. Akan totapi, kedatanganku adalah untuk menuntut balas, maka aku pantang masuk secara menggelap. Aku menyesal sekali telah membawa twako dan kedua adik Souw ke dalam bahaya ini.”

“Ah, Houw-koko mengapa berkata demikian?” Kwi Beng membantah. “Kita adalah keturunan pendekar, bahaya, sakit dan kematian dalam membela kebenaran bukan apa-apa bagi kita.”

Tio Sun menarik napas panjang. “Maaf Houw-te, aku hanya memperingatkan, sama sekali bukan berarti bahwa aku takut. Kalau begitu, marilah kita masuk dusun itu.”

Demikianlah, pagi itu mereka memasuki dusun dengan sikap tenang akan tetapi hati-hati dan penuh kewaspadaan. Mereka tidak melihat adanya fihak musuh yang memang sudah mengawasi setiap gerak-gerik mereka sambil bersembunyi, namun mereka seperti dapat merasakan kehadiran musuh yang tidak nampak itu.

Pada waktu itu, orang tertua dari Lima Bayangan Dewa, yaitu Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok tidak berada di Ngo-sian-chung. Dia bersama orang ketiga, yaitu Sin-ciang Siauw-bin-sian Hok Ho Siang, beberapa hari yang lalu berangkat ke kota raja atas panggilan pembesar thaikam di istana yang membutuhkah tenaga bantuan mereka. Oleh karena itu yang menjaga Ngo-sian-chung adalah Liok-te Sin-mo Gu Lo It, orang kedua dari Lima Bayangan Dewa. Dan beru saja rombongan Hui-giakang Ciok Lee Kim juga tiba di situ, yaitu Toat-beng-kauw Bu Sit, Hwa Hwa Cinjin, Hek I Siankouw, dan Bouw Thaisu sehingga Ngo-sian-chung penuh dengan orang-orang yang berilmu tinggi! Di samping tiga orang Bayangan Dewa dan tiga orang tamu mereka yang bahkan lebih lihai daripada mereka ini, masih terdapat anak buah Ngo-sian-chung yang hampir tiga puluh orang jumlahnya ditambah lagi beberapa orang pembantu den kaki tangan Hui-giakang Ciok Lee Kim yang ikut datang dari Lembah Bunga Merah.

Sebetulnya Liok-te Sin-mo Gu Lo It yang pada saat itu menjadi wakil tuan rumah, telah memimpin barisan pendam yang telah siap dengan anak panah dan senjata rahasia mereka. Kalau dia memberi aba-aba untuk menghujankan senjata rahasia, kemudian dia bersama para temannya yang lihai itu menyerbu, kiranya empat orang muda itu akan menghadapi bahaya yang amat besar. Akan tetapi ketika mereka mengintai itu, para tamu dari Lembah Bunga Merah segera mengenal Bun Houw! Mereka terkejut sekali karena mereka sudah menyaksikan sendiri kelihaian pemuda ini, dan biarpun mereka telah berhasil menangkap pemuda itu, menyiksanya secara hebat, akan tetapi kini tampaknya pemuda itu sudah sembuh same sekali! Tiga orang muda lain yang ikut datang bersama Bun Houw, tidak mereka kenal akan tetapi mereka itu memandang rendah dan menduga bahwa ini agaknya adalah murid-murid Bu-tong-pai yang hendak membalas dendam kepada Hui-giakang Ciok Lee Kim. Oleh karena itu, Ciok Lee Kim lalu menahan suhengnya dan menyentuh lengan Liok-te Sin-mo Gu Lo It sambil berbisik-bisik.

“Pemuda yang di depan itu lihai sekali, dan agaknya dia utusan Cin-ling-pai. Akan tetapi dia belum mengaku. Dan tiga yang lain itu, boleh jadi murid-murid Bu-tong-pai. Tidak baik kalau membunuh mereka, dan pemuda bernama Bun Houw itu harus dipaksa mengaku.”

“Tepat sekali, memang mereka itu harus ditawan hidup-hidup untuk dimintai keterangan. Kita harus mengetahui gerak-gerik musuh, jangan sampai terjebak oleh Cin-ling-pai.” Toat-beng-kauw Bu Sit membenarkan pendapat sucinya.

Sebetulnya siasat yang dipergunakan oleh dua orang tokoh Lima Bayangan Dewa ini mengandung niat lain yang bersumber kepada keinginan pribadi. Begitu Ciok Lee Kim melihat wajah dan bentuk tubuh Kwi Beng, dengan matanya yang bening kebiruan dan rambutnya yang agak pirang, wanita ini sudah menjadi tergila-gila dan dia akan merasa sayang sekali kalau pemuda seperti itu dibunuh begitu saja. Dia sudah membayangkan betapa akan senang hatinya kalau dia dapat ditemani oleh pemuda setampan itu untuk beberapa malam lamanya. Demikian pula Toat-beng-kauw Bu Sit si wajah monyet, begitu dia melihat Kwi Eng yang cantik jelita, yang memiliki kecantikan yang khas dan aneh namun amat menarik itu, dia sudah mengilar dan tergila-gila. Betapapun juga, dia harus dapat menguasai gadis yang demikian cantiknya!

Gu Lo It bukan tidak tahu akan watak sumoi dan sutenya ini, akan tetapi karena memang usul mereka itu tepat dan diapun ingin sekali mengetahui siapa sebenarnya pemuda tampan yang menurut cerita dua orang adik angkatnya itu memiliki kepandaian yang amat tinggi, maka dia mengangguk dan lalu diaturlah siasat untuk menghadapi empat orang penyerbu muda yang demikian tenang dan beraninya memasuki sarang Lima Bayangan Dewa.

Setelah empat orang muda itu tiba di tengah-tengah dusun Ngo-sian-chung dan di antara rumah-rumah yang agaknya kosong, tiba-tiba terdengar sorak-sorai dari empat penjuru dan tahulah mereka bahwa mereka telah terjebak dan terkurung.

“Awas dan siap, kita harus saling melindungi!” Bun Houw berbisik dan tiga orang temannya mengangguk lalu mereka berdiri saling membolakangi, menghadapi empat penjuru dengan seluruh urat saraf di tubuh mereka menegang, siap menghadapi segala kemungkinan yang akan menimpa mereka.

Kini tampaklah orang-orang muncul dari balik-balik rumah dengan gendewa terpentang dan anak panah siap ditodongkan ke arah mereka. Sedikitnya ada tiga puluh orang bersenjata lengkap, kebanyakan dari mereka menodongkan anak panah, muncul dan mengurung empat orang muda yang sudah siap dan tidak bergerak di tengah-tengah lapangan yang cukup luas itu.

Dengan sikap tenang Bun Houw berkata, suaranya nyaring sekali sehingga bukan hanya dapat terdengar oleh semua pengepung, melainkan juga dapat terdengar sampai jauh di empat penjuru, “Kami datang bukan hendak mengganggu orang-orang yang tidak berkepentingan, maka harap suruh Lima Bayangan Dewa untuk keluar!”

Tiba-tiba terdengar suara wanita tertawa mengejek, “Heh-heh-hi-hi-hik! Jadi engkau belum mampus?” Ciok Lee Kim meloncat keluar.

“Dan engkau datang untuk mengantar nyawa? Jangan harap sekarang engkau akan dapat lolos dari tanganku, pemuda sombong!” Bu Sit juga menyusul sucinya, meloncat keluar dengan sikap sombong karena dia yakin bahwa dengan bantuan teman-temannya mereka akan dapat menangkap empat orang itu dengan mudah. Biarpun dia berkata kepada Bun Houw, namun matanya yang bulat seperti mata monyet, bulat kecil, mengincar wajah Kwi Eng karena empat orang muda itu kini membalik dan menghadapi tokoh yang menjadi musuh-musuh besar dan yang baru muncul itu. Melihat dua orang ini, tentu saja darah Bun Houw menjadi panas. Teringat dia betapa dia disiksa secara hebat oleh mereka ini. Akan tetapi sebagai seorang pendekar muda gemblengan orang-orang sakti, dia dapat menahan diri dan hanya memandang dengan tersenyum ketika melihat dua orang yang telah dikenalnya itu muncul diikuti oleh Bouw Thaisu yang amat lihai, Hwa Hwa Cinjin, Hek I Siankouw, dan seorang laki-laki berhidung besar berjubah hitam, bertopi dan bertubuh kokoh kuat berusia kurang lebih enam puluh tahun.

Bun Houw menduga bahwa laki-laki ini agaknya merupakan seorang di antara Lima Bayangan Dewa, dan kalau benar demikian, mana yang dua lagi? Dia ingin bprhadapan dengan mereka berlima sekaligus agar dia dapat membuat perhitungan secara serentak.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: