Dewi Maut (Jilid ke-35)

“Aku telah mengenal Hui-giakang Ciok Lee Kim dan Toat-beng-kauw Bu Sit, dua orang berwatak pengecut di antara Lima Bayangan Dewa,” kata Bun Houw dengan lantang dan berani, “akan tetapi mana yang tiga lagi? Apakah tiga orang Bayangan Dewa yang lain begitu pengecut untuk selalu menyembunyikan diri dan mengajukan orang-orang lain?”

“Hemmm, kalau begitu robah saja julukan Bayangan Dewa menjadi Bayangan Tikus yang penakut dan pengecut!” Kwi Eng menyambung dengan suara mengejek.

“Bocah she Bun yang sombong!” Liok-te Sin-mo Gu Lo It membentak sambil melangkah maju. “Dari sumoi dan sute aku telah mendengar bahwa engkau menyamar sebagai pengawal Kiam-mo Liok Sun, akan tetapi sebenarnya engkau dari Cin-ling-pai! Sebelum engkau mampus, hayo kauperkenalkan dulu siapa adanya tiga orang muda yang kauajak mengantar nyawa ke sini. Apakah kalian bertiga juga murid-murid Cin-ling-pai?”

Tio Sun memandang dengan sinar mata berapi dan dia menjawab, “Ketahuilah, manusia-manusia iblis. Aku bernama Tio Sun dan ayahku adalah Tio Hok Gwan. Kami sekeluarga telah biasa menentang dan membasmi manusia-manusia iblis macam kalian.”

Semua orang terkejut karena mereka tentu saja sudah mendengar nama besar Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan.

“Dan kami kakak beradik bernama Souw Kwi Beng dan Souw Kwi Eng. Ibu kami adalah pendekar wanita Souw Li Hwa murid mendiang Panglima Besar The Hoo! Hayo kalian lekas berlutut dan menyerah daripada terpaksa kami membunuh kalian!” Kwi Beng juga membentak dengan suara nyaring.

Kembali para tokoh kang-ouw yang memusuhi Cin-ling-pai itu terkejut. Nama Souw Li Hwa memang tidak mereka kenal, akan tetapi siapakah yang tidak mengenal nama The Hoo yang ditakuti lawan disegani kawan? Dan dua prang muda ini adalah putera-puteri murid The Hoo, hal ini saja sudah membuat mereka memandang dengan sinar mata lain dan tidak berani memandang rendah. Akan tetapi, tetap saja mata Si Kelabang Terbang Ciok Lee Kim dan Monyet Pencabut Nyawa Bu Sit seperti akan keluar dari rongganya saking kagumnya setelah kini mereka berdiri dekat dengan kakak beradik kembar itu yang ternyata memiliki ketampanan dan kecantikan yang benar-benar amat menjatuhkan hati mereka dan menimbulkan nafsu berahi karena memang keelokan mereka itu khas dan belum pernah mereka temukan dalam petualangan mereka bercinta dengan macam-macam orang!

Liok-te Sin-mo Gu Lo It yang ditemani tidak hanya oleh dua orang sumoi dan sutenya, akan tetapi juga oleh tiga orang sakti Bouw Thaisu, Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw, belum lagi anak buah Ngo-sian-chung ditambah anak buah Lembah Bunga Merah, tentu saja sama sekali tidak merasa gentar, bahkan dia memandang rendah empat orang muda itu.

“Bagus!” katanya mengejek. “Kiranya kalian adalah keturunan orang-orang pandai, akan tetapi sayang sekali bahwa guru-guru atau ayah-ayah kalian amat sembrono, mengirim kalian orang muda hijau datang ke sini. Orang muda she Bun, kalau engkau benar dari Cin-ling-pai, apa maksud kedatanganmu di sini mengajak tiga orang temanmu ini?”

“Siapakah engkau?” Bun Houw balas bertanya sambil memandang penuh selidik. “Suruh tiga orang lain dari Bayangan Dewa untuk keluar menemui aku!”

“Ha-ha-ha, betapa sombongnya! Aku adalah Liok-te Sin-mo Gu Lo It, orang kedua dari Lima Bayangan Dewa. Dengan adanya kami bertiga dan tiga orang sahabat kami yang mulia ini, sudah cukup. Orang pertama dan ketiga dari kami sedang ada urusan keluar, maka kausampaikan saja kepada kami apa yang menjadi keperluan dan kehendakmu.”

Bun Houw agak kecewa bahwa dua orang di antara Lima Bayangan Dewa tidak hadir. Kini dia mengepal tinju dan membentak, “Liok-te Sin-mo, kalian Lima Bayangan Dewa telah bertindak pengecut, selagi ketua Cin-ling-pai tidak ada, kalian berani menyerbu dan mengacau Cin-ling-pai. Sekarang aku datang untuk minta kembali pusaka Cin-ling-pai, Siang-bhok-kiam dan nyawa Lima Bayangan Dewa.”

“Ha-ha-ha, sungguh sombong kau, keparat!” Liok-te Sin-mo adalah seorang yang berwatak keras dan kasar, maka mendengar ucapan Bun Houw, dia tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Cepat dia memberi isyarat kepada teman-temannya dan kepada para anak buahnya.

Sambil bersorak riuh, anak buah Ngo-sian-chung dibantu anak buah Lembah Bunga Merah maju menyerbu dengan senjata mereka, mengepung dan mengeroyok empat orang muda itu. Sedangkan Liok-te Sin-mo Gu Lo It, sesuai dengan rencana, mundur dan bersama teman-temannya mereka menonton lebih dulu untuk menilai siapa di antara empat orang muda itu yang paling lihai dan siapa pula yang lebih lemah agar lebih mudah bagi mereka untuk melakukan pengeroyokan yang menguntungkan. Akan tetapi, karena sudah maklum dari pelaporan dua orang adik angkatnya akan kelihaian Bun Houw, maka seperti telah direncanakan, Bouw Thaisu, Hwa Hwa Cinjin, dan Hek I Siankouw sudah menggerakkan tubuh mereka dan tiga orang sakti ini mengurung dan mengeroyok Bun Houw!

Bun Houw sendiri maklum dari pengalamannya di Lembah Bunga Merah, bahwa tiga orang tua ini memang hebat sekali kepandaiannya, maka diapun malah merasa lega bahwa mereka langsung mengeroyoknya sehingga kawan-kawannya akan menghadapi pengeroyokan lawan yang tidak selihai mereka bertiga ini. Maka diapun cepat meraba pinggangnya dan nampaklah sinar pedang yang sudah dipegang di tangan kanannya. Pedang ini pedang pemberian In Hong, sebatang pedang yang cukup baik. Sebetulnya, berkat gemblengan dari suhunya, Kok Beng Lama, Bun Houw dapat menghadapi lawan yang betapa lihainyapun dengan kedua tangan kosong saja, akan tetapi karena dia tahu betapa hebat kepandaian tiga orang pengeroypknya yang juga mempergunakan senjata, maka dia tidak mau bersikap ceroboh memandang rendah, dan dia sudah mengeluarkan pedang itu untuk melakukan perlawanan mati-matian.

Sementara itu, Tio Sun juga sudah mengeluarkan dua senjatanya yang ampuh, yaitu sebatang pedang di tangan kanan dan sebatang joan-pian, yaitu sabuk yang dapat dipergunakan sebagai cambuk, kemudian dia sudah mengamuk hebat, dalam waktu singkat saja sudah merobohkan dua orang pengeroyoknya. Kwi Beng dan Kwi Eng, dua saudara kembar yang tentu saja memiliki perasaan yang amat dekat dan saling membela, telah mengamuk pula dengan pedang di tangan, saling melindungi dan keduanya sudah memutar pedang dengan tangan kanan, sedangkan tangan kiri mereka melemparkan hui-to, yaitu pisau terbang yang mereka lempar dengan kegapahan seorang ahli sehingga masing-masing juga sudah merobohkan dua orang pengeroyok dengan hui-to mereka.

Melihat ini, tiga orang Bayangan Dewa menjadi kaget juga. Akan tetapi begitu melihat tiga orang mude itu menggerakkan senjata, Liok-te Sin-mo Gu Lo It maklum bahwa di antara mereka, putera Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan itulah yang paling lihai, maka diapun lalu meloncat ke depan, menyerang Tio Sun dengan kedua ujung lengan bajunya yang merupakan senjatanya yang istimewa, karena kedua ujung lengan baju hitam itu dipasangi baja-baja yang kuat dan tersembunyi sehingga tidak kelihatan oleh lawan, akan tetapi kalau mengenai tubuh lawan sama bahayanya dengan senjata tajam manapun juga. Melihat gerakan orang kedua dari Lima Bayangan Dewa ini, Tio Sun cepat menyambut dan di antara mereka segera terjadi pertandingan yang amat hebat dan seru, akan tetapi atas isyarat Gu Lo It, beberapa orang anak buahnya sudah turun tangan pula membantu sehingga Tio Sun kembali dikepung dan sekali ini dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan andalannya karena pengepungan itu dipimpin oleh Liok-te Sin-mo Gu Lo It yang amat lihai.

Sementara itu, Ciok Lee Kim den Bu Sit girang bukan main ketika mendapat kenyataan bahwa biarpun dua orang kakak beradik kembar itu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi pula, namun dibandingkan dengan dua orang muda lainnya, mereka ini paling lunak den kedua brang ini segera terjun ke dalam medan pertempuran, dan otomatis Bu Sit sudah menggerakkan pecut bajanya menahan pedang di tangan Kwi Eng, sedangkan Ciok Lee Kim mainkan dua helai saputangan suteranya menandingi Kwi Beng sambil tersenyum-senyum penuh gairah!

Dengan cara memecah-mecah, pertandingan dibagi menjadi empat dan memang Liok-te Sin-mo dan kawan-kawannya merupakan orang-orang yang selain berilmu tinggi, juga pandai bersiasat. Andaikata pertempuran itu dilakukan dengan pengeroyokan umum, maka dengan gabungan kepandaian mereka, terutama dengan adanya Bun Houw yang amat lihai dan Tio Sun yang juga bukan orang lemah, maka fihak para pengeroyok akan mengalami kesukaran dan tentu akan banyak anak buah mereka yang dirobohkan empat orang muda itu. Akan tetapi, setelah dipecah-pecah dan setiap orang muda dikepung oleh fihak lawan yang disesuaikan, tentu saja mereka berempat menjadi repot juga! Terutama sekali Kwi Beng dan Kwi Eng! Tingkat kepandaian Kwi Beng dan Kwi Eng masih kalah jauh kalau dibandingkan dengan tingkat kepandaian Ciok Lee Kim dan Bu Sit. Tanpa dikeroyokpun mereka berdua akan kalah oleh dua orang Bayangan Dewa itu. Apalagi kini mereka dikeroyok oleh lima orang yang dipimpin oleh dua orang lihai itu!

“Awas! Jangan lukai dia, tangkap hidup-hidup!” Pesan Ciok Lee Kim kepada lima orang pembantunya yang mengeroyok Kwi Beng dan dia sendiri menujukan sambaran kedua ujung saputangan suteranya ke arah jalan darah untuk menotok pemuda itu dan untuk menangkapnya. Kwi Beng repot sekali melindungi dirinya, dan tidak ada kesempatan menyerang sama sekali.

Hati-hati jangan sampai kulitnya yang putih itu lecet!” Bu Sit tertawa-tawa memesan lima orang pembantunya pula, dan dia sendiri dengan pecut baja di tangannya yang meledak-ledak, beberapa kali hampir dapat merampas pedang di tangan Kwi Eng. Dara ini menjadi semakin marah sekali, mukanya merah dan matanya berapi-api mendengar kata-kata Bu Sit yang ditujukan kepadanya, kata-kata bujuk rayu, pujian dan lain-lain ucapan yang menusuk hati dan cabul.

Bun Houw sendiri dikeroyok oleh Bouw Thaisu, Hwa Hwa Cinjin, dan Hek I Siankouw, masih ditambah oleh sepuluh orang anak buah Ngo-sian-chung yang menyerangnya dari lingkungan luar. Pemuda ini sama sekali tidak menjadi gentar. Gerakannya tangkas den cepat laksana kilat menyambar sehingga diam-diam tiga orang tokoh tua itu terkejut dan kagum bukan main. Sekarang, setelah pemuda itu dalam keadaan bebas, tidak dirintangi oleh orang seperti ketika di Lembah Bunga Merah dahulu, ketika dia dipeluk mati-matian oleh murid Ciok Lee Kim, maka baru ternyata oleh tiga orang tokoh tua ini betapa lihainya pemuda ini. Mereka terkejut bukan main dan mulai menduga-duga siapa gerangan adanya pemuda ini. Mereka tadinya hendak membalas dendam kepada Cia Keng Hong ketua Cin-ling-pai dan mereka membayangkan bahwa tingkat kepandaian ketua Cin-ling-pai itu tentu tidak berselisih jauh dengan tingkat mereka sendiri. Akan tetapi sekarang, seorang pemuda Cin-ling-pai memiliki ilmu kepandaian yang begini hebat sehingga Bouw Thaisu sendiri, orang yang terpandai di antara mereka, diam-diam merasa sangsi apakah dia akan dapat menang melawan pemuda ini kalau pertandingan itu dilakukan satu lawan satu! Beberapa kali lengannya tergetar kalau ujung lengan bajunya bertemu dengan jari-jari tangan kiri pemuda itu, tanda bahwa tenaga sin-kang pemuda itu luar biasa kuatnya, mungkin lebih kuat daripada tenaganya sendiri! Hal ini dianggapnya luar biasa dan tentu tidak akan dipercayanya kalau dia tidak mengalaminya sendiri! Maka dengan hati penuh penasaran, Bouw Thaisu, Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw mengeluarkan kepandaian mereka sehingga betapapun lihainya Bun Houw, dia menjadi repot juga dan hatinya mulai merasa khawatir akan keselamatan teman-temannya. Dia melihat betapa Tio Sun juga terdesak oleh para pengeroyoknya, sedangkan kedua orang kakak beradik Souw juga amat repot dan terancam bahaya.

Memang Tio Sun juga mendapatkan tanding yang berat dalam dari orang kedua dari Lima Bayangan Dewa. Akan tetapi, dengan ilmunya Ban-kin-kiat, andaikata Liok-te Sin-mo Gu Lo It tidak dibantu oleh lima orang anak buah Lima Bayangan Dewa yang memiliki kepandaian lumayan, agaknya pemuda ini masih akan mampu mengalahkan lawannya. Memang hebat bukan main pertandingan antara Tio Sun dan Liok-te Sin-mo. Orang kedua dari Lima Bayangan Dewa ini terkenal sebagai seorang yang memiliki tenaga besar, maka merupakan lawan yang cocok sekali karena Tio Sun juga mewarisi tenaga mujijat yang amat kuat dari ayahnya. Berkali-kali pecut baja di tangan pemuda ini bertemu dengan ujung lengan baju yang dipasangi potongan baja dan akibatnya, terdengar suara nyaring sekali, bunga api berpijar dan kedua orang itu terbuyung ke belakang. Para pengeroyoknya, seperti juga para pengeroyok yang membantu tiga orang kakek mengepung Bun Houw, tidak lagi berani menyerang terlalu dekat karena pedang dan joan-pian di tangan Tio Sun merupakan tangan-tangan maut yang amat mengerikan. Sudah banyak anak buah yang roboh oleh Tio Sun dan Bun Houw, maka mereka itu hanya bertugas sebagai pengacau saja agar memecah-belah perhatian para muda yang perkasa itu.

Yang merasa paling tidak enak dalam pertempuran itu adalah Bun Houw. Diam-diam dia merasa menyesal mengapa tiga orang muda itu dia perbolehkan membantunya menyerbu Ngo-sian-chung, karena sebelumnya diapun maklum akan behayanya pekerjaan ini, bahkan Tio Sun sendiripun sudah menyatakan betapa fihak lawan amat berbahaya dan lihai. Bagi dirinya sendiri, dia akan rela mengorbankan nyawa kalau perlu demi untuk mencari Siang-bhok-kiam dan membasmi musuh-musuh Cin-ling-pai, untuk mencuci penghinaan yang diderita oleh orang tuanya. Akan tetapi, tiga orang muda itu, terutama Kwi Eng, hanyalah orang-orang muda yang merasa bersahabat dengan dia dan dengan orang tuanya. Kalau sampai kini mereka menjadi korban, benar-benar membuat dia merasa tidak enak sekali.

Pikiran ini membuat Bun Houw menjadi marah terhadap para musuhnya. “Tio-twako…! Adik Kwi Beng dan Kwi Eng…! Larilah kalian bertiga, biar aku sendiri yang membasmi mereka!” Teriaknya dengan suara nyaring sekali, pedangnya berkelebat seperti halilintar membabat ke arah tubuh Bouw Thaisu dan Hek I Siankouw dengan kekuatan yang amat hebat sehingga pedang itu mengeluarkan suara mengaung seperti ribuan ekor lebah beterbangan. Dua orang sakti ini terkejut, maklum betapa berbahaya sambaran pedang ini sehingga mereka tidak berani menangkis, dan cepat mereka meloncat ke belakang untuk menyelamatkan diri.

Akan tetapi, pedang itu meluncur lepas dari tangan Bun Houw, merupakan sinar panjang berkelebat dan terbang dengan cepat, menyambar tubuh tiga orang pengeroyok, merobohkan mereka itu dengan leher hampir putus akan tetapi masih terus “terbang” seperti seekor naga hidup, membuat gerakan memutar dan kembali ke arah Bun Houw yang begitu pedang dilepaskan lalu menghantam ke arah kanan kiri, depan belakang dengan kedua kepalan tangannya sambil mengeluarkan pekik melengking amat dahsyatnya. Sambaran kedua tangannya yang memukul ini membuat Hwa Hwa Cinjin yang menggerakkan kebutannya dengan pengerahan tenaga lwee-kang sebagai seorarig ahli lwee-keh yang kuat, tak dapat menahan dan kakek ini terhuyung dengan muka pucat, sedangkan empat orang pengeroyok lain roboh pula seperti pohon-pohon ditebang! Itulah jurus Hong-tian-lo-te (Badai Mengamuk di Bumi) yang amat hebat, merupakan jurus mujijat dan ampuh yang sekali dari ilmu pedangnya.

Ketika pedang yang telah merobohkan tiga orang pengeroyok itu “terbang” membalik, Bun Houw sudah menangkapnya kembali dan karena para pengeroyoknya gentar dan terpaku menghadapi jurus Hong-tian-lo-te yang mujijat tadi, dia cepat meloncat ke depan, merobohkan dua orang pengeroyok yang sedang mengepung Tio Sun. Hal ini membuat kepungan yang mendesak Tio Sun menjadi bobol dan Tio Sun dapat menguasai keadaannya lagi, akan tetapi segera Bouw Thaisu, Hwa Hwa Cinjin, Hek I Siankouw dan para pembantu lainnya sudah mengepung Bun Houw lagi dengan serangan-serangan maut dan kepungan ketat.

Bun Houw gelisah sekali melihat betapa Kwi Beng dan Kwi Eng didesak dan dipancing sehingga menjauhi tempat dia bertempur. Dan memang demikianlah siasat yang dijalankan oleh para tokoh kaum sesat itu. Kwi Beng terus didesak oleh Ciok Lee Kim dan dipaksa menjauhi tempat itu, demikian pula Kwi Eng terus didesak oleh Bu Sit sampai keluar dari lapangan itu dan tidak kelihatan oleh kawan-kawanannya. Ketika Kwi Eng dengan kemarahan meluap-luap mencoba untuk membuka jalan darah, menerobos dari kepungan, dia berhasil melukai dua orang pengeroyok yang membantu Bu Sit, akan tetapi tiba-tiba pergelangan tangannya terasa sakit, terbelit ujung cambuk baja di tangan Bu Sit. Orang termuda dari Lima Bayangan Dewa ini tertawa mengejek, sekali dia menarik senjatanya, Kwi Eng menjerit dan pedangnya terlepas, karena pergelangan tangan kanannya seperti hendak patah rasanya. Pada saat itu, seorang pengeroyok lain menggunakan gagang tombak memukul ke arah kakinya dari belakang. Serangan ini tak dapat dihindarkan oleh Kwi Eng. Terdengar suara tulang patah dan dara ini mengeluh perlahan lalu terguling, tulang kaki kirinya dekat pergelangan telah patah.

“Desss!” Bu Sit menendang orang yang mematahkan tulang kaki Kwi Eng itu. “Keparat, kau lukai dia?” bentaknya. Para pengeroyok itu menjadi ketakutan dan mereka lalu mundur dan membantu teman-teman yang lain, yang masih mengeroyok tiga orang muda lainnya, sedangkan Bu Sit sudah menubruk Kwi Eng, ditotoknya pundak dara itu, kemudian dia memondong tubuh Kwi Eng dan dibawa lari keluar dari dusun menuju ke sebuah hutan kecil di lembah sungai.

“Adik Beng…! Di mana Eng-moi…?” Bun Houw yang dikepung ketat itu masih sempat berteriak dan bertanya kepada Kwi Beng yang dilihatnya makin didesak menjauhinya oleh Si Kelabang Terbang Ciok Lee Kim.

Akan tetapi Kwi Beng hampir tidak sempat menjawab. “Tidak tahu…!” hanya demikianlah dia mampu menjawab karena

Ciok Lee Kim dengan dua helai saputangan suteranya sudah membuat dia terengah-engah kehabisan napas dan pandang matanya berkunang.

“Pemuda ganteng, marilah kau ikut aku bersenang-senang…” Ciok Lee Kim berbisik dan saputangannya yang berbau harum itu mengelus dagu Kwi Beng. Sudah sejak tadi Ciok Lee Kim membentak para pembantunya untuk mundur dan kini dia seorang diri mendesak Kwi Beng yang sudah kewalahan. Kwi Beng kini juga kehilangan adiknya dan dia mulai bingung, memandang ke sana ke mari untuk mencari adiknya. Tentu saja sikapnya ini amat tidak menguntungkan karena dengan penuh perhatian saja daya tahannya sudah mulai lemah menghadapi hujan totokan kedua saputangan Ciok Lee Kim, apalagi sekarang dia memecah perhatiannya.

“Cus-cus… plakk!” Dua kali ujung saputangan itu menotok jalan darah di leher dan pundak, sedangkan telapak tangan Ciok Lee Kim menampar belakang telinga dan tanpa mengeluh lagi Kwi Beng roboh pingsan dalam pelukan Ciok Lee Kim dan seperti juga Bu Sit, wanita yang tak dapat menahan diri setiap kali melihat pemuda tampan ini lalu memondong tubuh Kwi Beng dengan girang dan membawanya pergi dari dusun itu. Andaikata melihat bahwa fihak mereka terancam bahaya oleh musuh, tentu saja dua orang Bayangan Dewa itu tidak akan meninggalkan gelanggang pertempuran dan betapapun mereka tergila-gila kepada orang-orang muda yang menjadi korban mereka itu, tentu mereka akan membantu teman-teman untuk menundukkan fihak musuh. Akan tetapi mereka tadi sudah melihat jelas bahwa biarpun pemuda she Bun dan pemuda putera pengawal Tio Hok Gwan itu memiliki kepandaian tinggi, namun merekapun sudah terkurung dan terdesak, tinggal menanti robohnya saja maka mereka berdua tidak perlu lagi membantu.

Memang Si Kelabang Terbang Ciok Lee Kim dan si kepala monyet Bu Sit tidak keliru dengan dugaan mereka bahwa fihak musuh sudah terdesak hebat. Bun Houw sendiri yang memiliki kepandaian amat tinggi, kini mulai terdesak hebat. Dia makin marah dan menyesal kalau mengingat bahwa yang mengurungnya bukan orang-orang Lima Bayangan Dewa, melainkan tiga orang tokoh tua yang berilmu tinggi. Maka mulailah dia mengambil keputusan untuk menurunkan tangan maut terhadap tiga orang musuhnya ini. Tadinya dia selalu menghindarkan serangan maut karena dia selalu ingat akan pesan ayah ibunya agar jangan sampai menanam bibit permusuhan dengan golongan lain dan hanya menghadapi Lima Bayangan Dewa saja. Sebagai contoh, ayahnya menceritakan betapa ayahnya dehulu terlalu banyak menentang golongan sesat sehingga akibatnya, sampai tuapun dia masih dimusuhi orang!

“Tahan…!” bentak Bun Houw sambil memutar pedang yang berobah menjadi gulungan sinar berkilauan sehingga musuh-musuhnya cepat mundur. “Sam-wi tiga orang tua mengapa bersikeras mencampuri urusan kami dari Cin-ling-pai dengan Lima Bayangan Dewa? Saya sama sekali bukan takut, hanya saya tidak ingin menanam bibit permusuhan dengan orang-orang yang bukan dari Lima Bayangan Dewa.”

Bouw Thaisu mengangguk-angguk, hatinya kagum bukan main karena baru sekarang selama hidupnya, dia bertemu lawan yang begini muda namun yang ternyata memiliki ilmu kepandaian yang amat hebatnya. “Orang muda, kalau tidak ada alasan kuat yang memaksa aku orang tua mati-matian menghadapimu, tentu aku akan malu sekali mengeroyok seorang pemuda seperti engkau yang sepantasnya menjadi cucuku. Ketahuilah, seorang sahabat baikku yang melebihi saudara kandungku sendiri, yaitu Thian Hwa Cinjin, telah tewas di tangan keluarga ketua Cin-ling-pai! Kami di waktu muda pernah bersumpah bahwa kami akan saling membela, maka mendengar kematiannya, tentu saja aku tidak mau melanggar sumpah dan sebelum aku mati, aku harus menghadapi ketua Cin-ling-pai dan keluarganya.”

Bun Houw mengerti bahwa kembali hal ini adalah sebagai akibat dari orang tuanya yang terlalu banyak menentang golongan hitam.

“Dan kau boleh mengetahui bahwa pinto (aku) adalah sute dari Toat-beng Hoat-su yang biarpun tewas di tangan mendiang The Hoo, akan tetapi juga menjadi musuh dari ketua Cin-ling-pai dan golongannya. Dan Hek I Slankouw ini merupakan tangan kananku, sehidup semati denganku.”

Bun Houw mengerutkan alisnya. “Sam-wi adalah tiga orang tua yang berilmu tinggi, akan tetapi mengapa berpandangan picik dan dikuasai oleh dendam kosong yang tidak ada artinya? Apakah sam-wi tidak tahu bahwa sam-wi diperalat oleh Lima Bayangan Dewa?”

“Cukup, kalau kau takut, menyerahlah, orang muda yang sombong!” Hwa Hwa Cinjin yang biarpun sikapnya halus akan tetapi sebenarnya hatinya dipenuhi rasa penasaran dan malu karena menghadapi seorang pemuda saja, biarpun telah mengeroyok bersama Hek I Siankouw dan Bouw Thaisu masih belum dapat menang, sudah menerjang lagi dengan kebutannya.

“Wiir… siuuuuttt…!” Ujung kebutan menyambar ke arah mata Bun Houw, akan tetapi begitu dielakkan, seperti ekor ular yang hidup saja ujung kebutan itu sudah membalik dan menotok ke arah ulu hati!

“Kalau begitu, maaf kalau aku menjadi sebab kematian sam-wi!” Bun Houw membentak, tiba-tiba tangan kirinya mendorong dan ujung kebutan itu seperti digerakkan tangan yang tidak kelihatan, membalik dan menotok ke arah dada Hwa Hwa Cinjin sendiri!

“Aihhh…!” Bukan main kagetnya hati kakek ini dan cepat dia menggerakkan tangan menarik kebutannya yang hendak menyerang dirinya sendiri.

“Singgg… tranggg… aihhhh!” Hek I Siankouw menjerit karena pedangnya yang sudah dia gerakkan untuk menyusul serangan Hwa Hwa Cinjin tadi kini kena disentil oleh kuku jari tangan kiri Bun Houw, pedang itu tergetar dan selagi nenek itu terkejut, pedang di tangan kanan Bun Houw sudah menyambar ke arah lehernya!

“Plakkk…! Hemm, kau hebat, orang muda!” Bouw Thaisu sempat menangkis pedang yang mengancam nyawa Hek I Siankouw tadi dengan tangkisan ujung lengan bajunya, akan tetapi ketika dia melihat, ternyata ujung lengan bajunya itu terobek!

Kini Bun Houw yang sudah marah sekali itu telah mengerahkan Thian-te Sin-ciang yaitu ilmu sin-kang simpanan yang dia latih selama bertahun-tahun di bawah gemblengan Kok Beng Lama. Thian-te Sin-ciang ini merupakan ilmu tangan kosong yang amat mujijat, mengandung tenaga dahsyat dan ketika pemuda ini diuji oleh ayahnya sendiri. tenaga Thian-te Sin-ciang ini bahkan mampu menghadapi Thi-khi-i-beng, yaitu ilmu sin-kang yang tiada taranya, yang dapat menyedot hawa murni lawan! Maka tidaklah terlalu mengherankan ketika pemuda perkasa ini mulai mengerahkan Thian-te Sin-ciang, dia sekaligus mampu membuat tiga orang lawannya yang amat lihai itu terdesak mundur! Akan tetapi, kini mereka bertiga sudah maju lagi dan kehebatan Bun Houw bahkan membuat mereka menjadi makin berhati-hati dan kini mereka melakukan penyerangan secara teratur bahkan saling membantu karena mereka maklum bahwa biarpun mereka bertiga maju bersama, tanpa kerja sama dan saling bantu, amatlah berbahaya bagi mereka!

Bun Houw menjadi makin gelisah. Bukan gelisah memikirkan dirinya sendiri, melainkan gelisah karena tidak lagi melihat Kwi Beng dan Kwi Eng, dan Tio Sun agaknya sudah kewalahan dan tentu tak lama lagi akan roboh. Celaka, pikirnya dan kini dia benar-benar menyesal mengapa dia menyeret mereka bertiga ke tempat berbahaya ini. Kalau sampai tugasnya gagal, dia tidak begitu menyesal karena dia sudah melakukannya dengan sepenuh hati dan dengan pengorbanan nyawa, akan tetapi kalau sampai tiga orang muda itu tewas, bukan hanya dia yang akan menyesal, bahkan ayah ibunya juga tentu akan menyalahkan dia!

“Ayah…! Ibu…! Maafkan kegagalanku…!” Tiba-tiba dia berteriak dan mengamuk makin hebat, pedangnya merobohkan empat orang anak buah Ngo-sian-chung sekaligus sehingga tiga orang tua lihai itu makin berhati-hati.

“Adikku, jangan putus asa. Encimu datang membantumu!” Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat didahului sinar merah yang panjang yang melakukan totokan ke arah pelipis Hek I Siankouw dan sinar kilat seperti perak menyambar ke arah leher Bouw Thaisu!

“Keng-cici (kakak Keng)…!” Bun Houw berteriak, girang bukan main karena biarpun bayangan itu belum kelihatan jelas siapa orangnya, dia sudah mengenal sinar merah panjang dari sabuk merah muda dan sinar pedang Gin-hwa-kiam yang putih seperti perak itu.

Hek I Siankouw dan Bouw Thaisu terkejut, maklum bahwa serangan itupun tak boleh dipandang ringan, maka mereka cepat mengelak dan membalas. Akan tetapi, Cia Giok Keng, wanita itu, adalah seorang wanita yang luar biasa lincah dan beraninya. Biarpun dibandingkan dengan adiknya, kepandaiannya belumlah dapat menandingi, namun sebagai puteri dari Pendekar Sakti Cia Keng Hong dan pendekar wanita Sie Biauw Eng, tentu saja kepandaian Cia Giok Keng cukup hebat.

Kegembiraan hati Bun Houw membuat gerakannya makin kuat dan tamparan tangan kirinya yang penuh dengan tenaga mujijat, Thian-te Sin-ciang menyerempet pundak Hwa Hwa Cinjin, membuat tosu tua itu terhuyung.

“Mampuslah…!” Cia Giok Keng melihat tosu itu terhuyung sudah menerjang dengan sabuk sutera dan pedangnya.

“Hayaaaaa…!” Hwa Hwa Cinjin terkejut akan kegalakan wanita ini yang sama sekali tidak memberi kesempatan padanya. Akan tetapi dia sudah memutar kebutannya menangkis dan sekaligus membelit ujung pedang Gin-hwa-kiam.

“Plakk!” Ujung sabuk sutera merah menotok lehernya membuat tosu itu merasa separoh tubuhnya seperti lumpuh.

“Sratttt…!” Giok Keng yang cerdik secara tiba-tiba menarik pedangnya dan ujung tali kebutan putus, bulu kebutannya berhamburan. Hal ini mengejutkan Hwa Hwa Cinjin dan dia meloncat ke belakang, mengambil sikap mempertahankan diri.

“Enci, aku tidak perlu dibantu. Kaubantulah Tio-twako… dia terdesak!” Bun Houw berkata.

Giok Keng menoleh. Dia tidak mengenal siapa pemuda jangkung berpakaian kuning yang didesak oleh seorang kakek dibantu oleh banyak anak buahnya itu. Akan tetapi dia menduga bahwa tentu pemuda itu teman adiknya, maka sekali meloncat dia sudah tiba di gelanggang pertempuran di mana Tio Sun terdesak, dan sabuk merahnya yang dikawani pedang peraknya mengamuk, merobohkan tiga orang pengeroyok dalam waktu singkat saja. Kepungan ketat terhadap diri Tio Sun menjadi kacau dan kini pertandingan berjalan makin seru dan mati-matian. Tio Sun berterima kasih dan girang sekali sedangkan Liok-te Sin-mo yang sudah hampir depat mengalahkan Tio Sun menjadi marah sekali, cepat dia meneriaki anak buahnya agar makin ketat mengepung dua orang itu.

Bun Houw masih gelisah memikirkan kedua orang saudara Souw. Tio Sun sudah mending keadaannya, karena dia tahu bahwa encinya juga bukan orang sembarangan dan dengan bantuan encinya, tentu Tio Sun dapat membela diri lebih baik.

“Bun Houw, kau terlalu sembrono!” sambil membantu Tio Sun, Giok Keng berteriak menegur adiknya. “Pengecut-pengecut macam ini selalu main keroyok dan curang!”

Bun Houw tersenyum. Kakaknya itu sejak dahulu galaknya bukan main! Masa, baru saja datang dan masih menghadapi pengeroyokan musuh begitu banyaknya, eh, masih ada kesempatan untuk marah-marah dan menegurnya.

“Cici, maaf!” Teriaknya kembali. “Tapi setelah engkau datang, mari kita basmi mereka. Yang kau hadapi itu adalah Liok-te Sin-mo Gu Lo It!”

Mendengar bahwa kakek yang bertubuh tinggi besar, berjubah hitam dan kepalanya memakai topi, ujung lengan bajunya dipasangi baja, yang amat lihai ini adalah orang kedua dari Lima Bayangan Dewa, Giok Keng terkejut dan kemarahannya memuncak, wajahnya merah, matanya berapi-api. “Kiranya Si Iblis Kuburan!” bentaknya dan dia menggerakkan kedua senjatanya makin cepat lagi mendesak Liok-te Sin-mo. Kakek ini marah dan mendongkol bukan main. Julukannya adalah Iblis Bumi, akan tetapi wanita yang cantik jelita, gagah dan galak ini memakinya Iblis Kuburan. Belum pernah dia dihina orang seperti ini.

“Keparat, siapa engkau?” bentaknya sambil mengelak dari sambaran ujung sabuk merah dan menangkis tusukan pedang Tio Sun dengan ujung lengan baju kiri.

“Aku she Cia, mewakili ayah untuk memenggal leher Lima Bayangan Monyet!” bentak Cia Giok Keng sambil menyerang makin hebat.

Kini terkejutlah semua tokoh itu. Kiranya wanita ini adalah puteri Cia Keng Hong, dan melihat hubungan antara wanita ini dengan pemuda itu, jelas bahwa pemuda itu kiranya adalah putera ketua Cin-ling-pai! Pantas begitu lihai!

“Bagus…! Jadi engkau Cia Giok Keng yang membunuh sahabatku Thian Hwa Cinjin…?”

Tiba-tiba Bouw Thaisu meloncat tinggi, meninggalkan Bun Houw dan dari atas dia sudah mengebutkan kedua lengan bajunya ke arah kepala dan dada Giok Keng.

“Enci, awass…!” Bun Houw terkejut dan memperingatkan kakaknya.

“Plak-plak, cringgg… bresss…!”

Serangan Bouw Thaisu tadi memang hebat bukan main. Biarpun Giok Keng sudah mengelak, namun ujung lengan baju dari kakek ini seperti hidup. Tio Sun sudah cepat memapaki dengan pedangnya, akan tetapi juga pedangnya terpukul ke samping seperti pedang Giok Keng dan totokan sabuk merah Giok Keng pada pundak kakek itu seperti mengenai baja tebal saja. Ujung lengan baju kiri Bouw Thaisu sudah mengancam ubun-ubun kepala Giok K6hg dengan pukulan maut.

Tiba-tiba saja ujung lengan baju itu terpental kembali dan lengan kakek itu bertemu dengan sebuah lengan lain yang dengan cepat menangkis. Kakek itu terpental dan hampir terbanting roboh. Dia terkejut bukan main dan melihat. Ternyata seorang laki-laki gagah dan tampan, berusia hampir empat puluh tahun, telah berdiri di situ sambil memandangnya dengan sikap tenang.

“Kau…? Huh…!” Demikian kata Giok Keng, dan wanita ini tidak memperdulikan lagi laki-laki yang sebenarnya telah menyelamatkan nyawanya itu, dan dengan kemarahan hebat Giok Keng kini menyerang Bouw Thaisu yang masih bengong terlongong dan kaget bukan main. Tangkisan laki-laki yang masih belum tua ini telah membuat seluruh tubuhnya seperti digerayangi tenaga mujijat yang membuat napasnya sesak. Maka ketika Giok Keng menyerang, dia cepat meloncat jauh ke belakang.

“Yap-suheng…!” Bun Houw berteriak girang. Biarpun sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan laki-laki gagah perkasa itu, dia masih mengenalnya.

“Sute, engkau sekarang hebat sekali!” Yap Kun Liong, pria itu, memujinya sambil tersenyum, kemudian sekali tubuhnya berkelebat, Kun Liong sudah meloncat dan menyerang Bouw Thaisu yang dia lihat tadi gerakannya paling lihai. Bouw Thaisu terpaksa menyambut serangannya dan keduanya segera bertanding mati-matian tidak mempergunakan senjata karene Bouw Thaisu menggunakan sepasang lengan baju sedangkan Kun Liong hanya menggunakan kedua lengannya saja. Terdengar suara dak-duk-dak-duk ketika lengan mereka saling bertemu bagaikan dua pasang lengan baja yang amat kuat dan berkali-kali Bouw Thaisu tergetar tubuhnya dan terbuyung ke belakang!

Melihat datangnya wanita dan pria yang gagah perkasa itu, Liok-te Sin-mo Gu Lo It terkejut dan takut setengah mati. Dia mengerti bahwa Bun Houw dan Giok Keng adalah putera-puteri ketua Cin-ling-pai yang berilmu tinggi, dan setelah mendengar teguran Bun Houw tadi, dia dapat menduga siapa adanya laki-laki perkasa yang kini mendesak Bouw Thaisu. Dia sudah mendengar akan nama Yap Kun Liong, maka gentarlah hatinya dan diam-diam dia memaki sumoi dan sutenya yang tidak nampak batang hidungnya lagi.

“Maju semua…! Kepung dan keroyok…!” teriaknya dan anak buahnya yang sesungguhnya juga merasa gentar, apalagi terhadap sikap Giok Keng yang demikian ganas mainkan pedang dan sabuk merahnya, terpaksa maju mengurung lagi. Jumlah mereka masih ada dua puluh orang lebih, maka pengepungan mereka cukup memberi kesempatan kepada Liok-te Sin-mo untuk diam-diam melarikan diri!

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: