Dewi Maut (Jilid ke-36)

Melihat ini Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw mendongkol sekali. Tiga orang dari Lima Bayangan Dewa, fihak yang mereka bantu, diam-diam telah melarikan diri semua. Maka Hwa Hwa Cinjin memberi isyarat kepada tokouw berpakaian hitam itu, lalu merekapun meloncat ke belakang dan melarikan diri.

“Hemm, aku ingin bertemu dan bertanding sendiri kelak berhadapan dengan ketua Cin-ling-pai!” Bouw Thaisu berkata dan diapun meninggalkan Kun Liong yang sibuk dikeroyok banyak anak buah Ngo-sian-chung.

“Cici, suheng, harap tahan mereka, aku hendak mencari dan menolong kedua saudara Souw!” Bun Houw berteriak dan tubuhnya mencelat dan lenyap dari tempat itu. Melihat ini, Giok Keng girang dan kagum sekali, sedangkan Kun Liong menarik napas panjang. Murid ayah mertuanya itu benar-benar amat lihai sekarang. Kini dengan enak saja Tio Sun, Giok Keng, dan Kun Liong menghadapi pengeroyokan dua puluh lebih orang-orang Ngo-sian-chung dan Lembah Bunga Merah. Diam-diam Kun Liong memperhatikan dan dia merasa lega bahwa biarpun masih kelihatan amat galak dan ganas, akan tetapi Cia Giok Keng bukanlah gadis belasan tahun yang lalu, yang seolah-olah merupakan harimau betina haus darah. Dahulu, menghadapi musuh-musuhnya, apalagi anak buah Lima Bayangan Dewa yang merupakan musuh besar, tentu gadis itu akan memperlihatkan sikap kejam tak mengenal ampun lagi, tentu ujung sabuk merah itu akan mencari sasaran jalan darah kematian, sedangkan pedang Gin-hwa-kiam tentu akan berlepoton darah sampai ke gagangnya. Akan tetapi sekarang, biarpun masih ganas, Giok Keng hanya merobohkan para pengeroyok tanpa menimbulkan kematian. Demikian pula Tio Sun membuat Kun Liong diam-diam kagum karena biarpun masih muda, Tio Sun juga jelas tidak menghendaki kematian terhadap para pengeroyoknya, hanya menjatuhkan mereka dengan mematahkan tulang dan mendatangkan luka yang ringan saja.

Sementara itu, Bun Houw sudah mencari di seluruh perkampungan Ngo-sian-chung, namun sia-sia belaka. Akhirnya terpaksa dia menangkap seorang wanita anggauta keluarga anak buah Ngo-sian-chung dan menghardik, “Hayo cepat katakan di mana adanya Toat-beng-kauw But Sit dan Hui-giakang Ciok Lee Kim!” Sengaja menempelkan pedangnya di leher wanita yang tentu saja menjadi ketakutan sekali.

“Hamba… hamba tidak tahu… tadi… mungkin… ke hutan di sebelah sana…”

Bun Houw melepaskannya dan cepat dia berlari seperti terbang menuju ke dusun kecil di sebelah timur dusun itu. Ketika dia tiba di tepi sungai, di atas lapangan rumput yang tebal menghijau dan sunyi sekali, lapangan yang dihimpit oleh sungai dan hutan kecil, tiba-tiba dia berdiri seperti patung dan matanya terbelalak, mukanya pucat, kemudiah perlahan-lahan menjadi merah sekali. Dia melihat Toat-beng-kaw Bu Sit sedang menanggalkan bajunya sambil tertawa-tawa, sedangkan di atas rumput rebah Kwi Eng yang sudah tidak berpakaian! Pakaian gadis itu tertumpuk di sebelah dan dia melihat dara itu terbelalak memandang si muka monyet dengan air mata bercucuran, akan tetapi agaknya dalam keadaan tertotok karena tidak mampu bergerak sama sekali!

Saking marahnya, Bun Houw mengayun pedang pemberian In Hong ke depan. Terdengar suara berdesing nyaring dan Bu Sit terkejut sekali. Cepat dia menoleh dan melihat sinar terang menyambar, dia mengelak, akan tetapi karena dia sedang membuka baju atasnya, pedang itu menerobos bajunya dan terus mcluncur ke depan, menancap ke atas tanah berumput sampai ke gagangnya. Tentu saja Bu Sit menjadi pucat sekali wajahnya ketika mengenal siapa yang datang.

“Hyaaaaaatttt…!” Dalam kemarahan yang sukar dilukiskan hebatnya, Bun Houw sudah meloncat dan seperti seekor garuda terbang saja dia menerjang Bu Sit dengan kedua tangan di depan, jari-jarinya terbuka seperti cakar garuda.

“Heiittt…!” Bu Sit yang sudah melempar jubahnya itu menyambar senjatanya, yaitu joan-pian atau pecut baja, lalu dia menggerakkan pecut itu. Terdengar suara meledak, pecut itu dengan tepat menghantam tubuh Bun Houw yang melayang datang, akan tetapi Bun Houw menggerakkan tangan menangkap ujung pecut baja! Bu Sit hampir tidak dapat percaya. Pemuda itu menangkap ujung pecut baja! Padahal perbuatan ini lebih berbahaya daripada menangkap pedang telanjang. Dia mengerahkan tenaga, mendengarkan pecutnya untuk membikin telapak tangan Bun Houw pecah atau mungkin tangan itu akan putus. Namun sia-sia belaka dan tahu-tahu pecutnya sendiri sudah melingkar di lehernya!

“Augghhkkkk…!” Bu Sit mendelik karena lehernya terbelit pecutnya sendiri, menghentikan pernapasan. Dia melihat lawannya berdiri di depannya, maka dia lalu menggerakkan kedua tangannya, dikepal dan menghantam ke arah perut dan dada Bun Houw.

“Bukkk! Dessss…!” Sedikitpun tubuh pemuda itu tidak bergoyang, akan tetapi pergelangan tangan kanan Bu Sit yang memukul dada tadi menjadi patah tulangnya!

“Auukhhh… auukhhhhh…!” Toat-beng-kauw Bu Sit mendelik, lidahnya terjulur keluar. Mengingat akan penyiksaan Toat-beng-kauw kepadanya, masih belum begitu memarahkan hati Bun Houw, akan tetapi melihat si muka monyet ini menelanjangi Kwi Eng dan hampir saja memperkosanya, membuat dia menjadi mata gelap dan marah sekali. Akan tetapi, terngiang di telinganya segala nasihat orang tuanya, maka dia terengah-engah menahan kemarahan dan melepaskan libatan pecut itu yang dirampasnya dari tangan Bu Sit.

Begitu dilepaskan libatan lehernya, Bu Sit memegangi leher dengan kedua tangan, megap-megap seperti seekor ikan dilempar ke darat, kemudian tanpa malu-malu lagi dia menjatuhkan dirinya berlutut!

“Ampun… ampunkan aku…”

Bun Houw meludah penuh kejijikan. Kemudian, teringat akan keadaan Kwi Eng, dia menoleh dan dia seperti silau melihat keadaan tubuh dara itu yang rebah terlentang dalam keadaan polos sama sekali. Cepat dia melempar pandang matanya ke bawah, menghindari penglihatan itu, lalu mengambil pakaian Kwi Eng, tanpa memandangnya lalu melemparkan pakaian itu menutupi tubuh Kwi Eng, kemudian dengan muka masih berpaling dan pandang mata terbuang ke samping dia membebaskan totokan tubuh Kwi Eng.

Terdengar sedu-sedan dari leher dara itu dan Kwi Eng mengenakan pakaiannya cepat-cepat, kemudian dia terpincang-pincang berloncatan dengan sebelah kaki ke arah pedang Bun Houw yang menancap di tanah, mencabut pedang itu dan terpincang-pincang menghampiri Bu Sit.

Bu Sit bukanlah seorang yang bodoh. Sama sekali tidak. Dia adalah seorang datuk kaum sesat yang amat cerdik. Dia masih berlutut setengah menangis minta-minta ampun, seolah-olah tidak melihat dara yang hampir diperkosanya tadi sekarang terpincang-pincang menghampirinya dengan pedang di tangan! Akan tetapi, begitu Kwi Eng telah tiba dekat dan mengayun pedang ke arah lehernya, cepat sekali Bu Sit mengelak dengan menggulingkan tubuh dan ketika pedang menyambar, dia meloncat bangun dan sudah menangkap kedua tangan Kwi Eng, memutarnya ke belakang tubuh dan kini jari tangannya mengancam ke ubun-ubun kepala dara itu.

“Ha-ha-ha, majulah dan gadis ini akan mampus dengan kepala berlubang!” Bu Sit mengancam Bun Houw.

Bun Houw memandang pucat, tak mengira bahwa orang termuda dari Lima Bayangan Dewa itu akan melakukan hal securang itu.

“Serang dia, Houw-ko! Jangan perdulikan aku! Serang dia dan bunuh si jahanem ini keparat!” Kwi Eng berteriak-teriak sambil memandang pemuda itu.

“Cobalah, majulah dan jari-jari tanganku akan menembus ubun-ubunnya, otaknya akan bereeceran keluar!” Bu Sit menghardik.

Bun Houw masih memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak, tidak tahu harus berbuat bagaimana. Tentu saja dia tidak mau memenuhi permintaan Kwi Eng, menyerang dan membunuh Bu Sit karena dia tahu bahwa sebelum dia berhasil membunuh penjahat keji itu, tentu Kwi Eng akan tewas lebih dulu.

“Jangan maju, selangkah saja aku akan bunuh dia!” Bu Sit berkata lagi dan kini dia menyeret Kwi Eng mundur-mundur menjauhi Bun Houw yang diam tak bergerak.

Kwi Eng meronta, akan tetapi sia-sia saja. “Houw-koko, kauserang dia, kaubunuh dia! Aku lebih suka mati daripada diculik dan dibawanya!”

Akan tetapi Bun Houw tetap tidak bergerak, seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang dan siap untuk menyerang apabila dia diberi kesempatan. Akan tetapi dengan jari-jari tangan Bu Sit menempel di ubun-ubun Kwi Eng, bagaimana mungkin dia berani bergerak? Betapapun cepat gerakannya, tak mungkin dapat menang cepat dengan jari tangan yang sudah menempel di ubun-ubun itu.

“Ha-ha-ha, sampai bagaimanapun engkau tidak akan mampu menandingi Lima Bayangan Dewa, ha-ha-ha…” Pada saat itu, tampak sinar hijau menyambar seperti sinar halilintar dari belakang, mengenai punggung Bu Sit yang masih telanjang karena tadi si muka monyet ini telah menanggalkan bajunya.

“… ha-ha-ha… augghhhh…!” Suara ketawa dari Bu Sit disambung pekik melengking, matanya yang kecil bulat terbelalak, mulutnya menyeringai kesakitan, mukanya pucat dan kini dia mengangkat tangan kanannya ke atas untuk menghantam kepala Kwi Eng!

Akan tetapi, kesempatan yang hanya beberapa detik ini cukuplah bagi Bun Houw. Kalau tadi jari-jari tangan Bu Sit menempel di ubun-ubun dara itu, dia tidak berani bergerak. Sekarang, setelah iblis itu menerima serangan sinar hijau dari belakang yang membuatnya terkejut dan mengangkat tangan baru akan memukul kepala Kwi Eng, cukuplah kesempatan itu bagi Bun Houw. Bagaikan terbang dia meloncat ke depan, tangannya bergerak dan hawa pukulan dahsyat menyambar, membuat tangan Bu Sit yang memukul itu tertahan di udara dan di lain saat Bun Houw sudah menyambar pinggang Kwi Eng, dipondongnya dan dengan telapak tangan itu keluar serangkum hawa pukulan yang amat panas mengarah dada lawan.

Pada saat itu, Bu Sit berdiri limbung, dengan muka pucat sekali. Dalam keadaan sehat saja tak mungkin dia dapat menahan pukulan Bun Houw ini, apalagi dalam keadaan seperti ini, yaitu setelah dia mengalami luka yang amat hebat di punggungnya.

“Dessss…!” Tubuhnya terjengkang dan terbanting ke atas tanah, roboh dan tak dapat bergerak lagi karena dia telah tewas seketika, isi dada dan perutnya hancur oleh getaran hawa pukulan dahsyat tadi.

Bun Houw memandang ke sekeliling, terutama ke arah belakang Bu Sit dari mana tadi datang sinar hijau, akan tetapi dia tidak melihat sesuatu. Dengan lengan kiri masih merangkul Kwi Eng, dia menggunakan kakinya membalikkan tubuh Bu Sit dan tampaklah olehnya betapa punggung laki-laki bermuka monyet itu penuh dengan lubang-lubang kecil dan luka-luka kecil itu melepuh dan membengkak berwarna kehijauan. Dia tahu bahwa Bu Sit terkena serangan senjata rahasia beracun, agaknya seperti senjata pasir beracun, akan tetapi dia tidak tahu bahwa Toat-beng-kauw Bu Sit telah menjadi korban serangan Siang-tok-swa (Pasir Racun Harum), yaitu senjata rahasia khas dari Giok?hong?pang!

Tiba-tiba suara isak tertahan membuat dia memandang Kwi Eng yang masih dia peluk pinggangnya. Dia tetkejut melihat dara itu menangis dan baru teringat bahwa dia masih merangkul pinggang yang ramping itu, maka dilepaskannyalah rangkulannya. Kwi Eng terhuyung dan hampir jatuh, maka cepat Bun Houw memegang lengannya, menahannya.

“Ah, kau… kau terluka, adik Kwi Eng?” Bun Houw bertanya penuh kekhawatiran.

Kwi Eng menggigit bibirnya. “Hanya… hanya kakiku… agaknya patah tulang pergelangan kakiku… terpukul gagang tombak tadi…” Dia lalu duduk di atas tanah.

Bun Houw cepat berlutut memeriksa. Ternyata benar. Tulang pergelangan kaki kiri dara itu patah! “Ah, benar saja kakimu yang kiri ini… tulangnya patah. Harus cepat diobati, Eng-moi. Kautahankan rasa nyeri sedikit…” Dara itu mengangguk dan Bun Houw lalu menyingkap pipa celana kaki kiri itu. Berdebar juga hatinya ketika jari-jari tangan meraba kulit kaki yang halus sekali, halus lunak dan hangat itu, dengan kulit tipis putih, begitu tipis dan halusnya sehingga seolah-olah dia melihat urat-urat darah di bawahnya. Namun dia mengusir semua ingatan tentang yang indah-indah itu dan cepat dia menotok jalan darah di dekat lutut, kemudian dia meraba pergelangan kaki yang tulangnya patah, dengan cekatan dan tanpa ragu-ragu lagi dia menarik dan membenarkan letak tulang yang patah itu, kemudian mengambil bungkusan obat penyambung tulang, setelah mencampur obat dengan air, lalu menaruh o:bat di sekeliling pergelangan kaki itu, dibalutnya pergelangan kaki itu dengan kain yang dia ambil dari robekan bajunya dan sebagian sabuknya, dibalut dengan kuat-kuat dan kanan kiri kaki diganjal dengan kayu sehingga kedudukan tulang yong patah itu tidak akan berobah lagi. Semua ini dikerjakan oleh Bun Houw tanpa berkata-kata dan dengan cepat sekali. Dia kagum karena sedikitpun tidak terdengar keluhan dari dara itu dan setelah selesai membalut, dia mengangkat muka memandang. Dara itu ternyata sedang menatapnya dengan bulu-bulu mata terhias butiran air mata!

“Sakit…?” Kini Bun Houw bertanya.

Kwi Eng menggeleng kepala. “Sedikit…” bisiknya, akan tetapi dia lalu menahan tangis, bibirnya yang merah itu tergetar dan akhirnya dia menangis sesenggukan dan menutupi mukanya dengan kedua tangan. Butiran-butiran air mata mengalir turun melalui celah-celah jari tangannya.

Bun Houw menjadi bingung dan dia mengusap pundak dara itu untuk menghibur. “Bahaya telah lewat, musuh telah tewas. Mengapa kau berduka, Eng-moi? Kau kan tidak… belum… tertimpa bahaya…”

Tangis itu makin mengguguk. Bun Houw memegang kedua pundak dara itu, mengguncangnya halus dan berkata, “Eng-moi, kenapakah? Katakan kepadaku, mengapa kau begini berduka?”

Perlahan-lahan Kwi Eng mengangkat mukanya. Dari tirai air mata dia memandang. Dua pasang mata bertemu, bertaut ketat den dua pasang sinar saling melekat, saling menyelami dan perlahan-lahan Kwi Eng berkata dengan suara menggetar, “Houw-koko, kau… kau telah… menyelamatkan aku… dari malapetaka yang lebih hebat daripada maut… Houw-koko, bagaimana aku dapat membalas budimu…?”

“Hushhhh… perlukah hal itu dibicarakan lagi, moi-moi? Engkau yang membantu aku menghadapi musuh-musuhku, sampai-sampai engkau hampir mengorbankan nyawa, dan sekarang kau bicara tentang budi? Sudahlah, mari kita kembali ke tempat kawan-kawan. Aku yakin semua penjahat telah terbasmi. Tahukah engkau siapa yang datang membantu kita? Enciku Cia Giok Keng den suhengku Yap Kun Liong!”

Kwi Eng mengangguk den berusaha untuk berdiri dengan satu kaki. “Ah, jangan pergunakan kakimu yang patah tulangnya. Mari kupondong.” Bun Houw lalu menggunakan kedua lengannya, memondong tubuh dara itu. Kwi Eng menyandarkan kepalanya di dada Bun Houw dan sejenak pemuda ini memejamkan matanya ketika hidungnya mencium bau harum dari rambut dan muka yang begitu dekat dengan mukanya.

“Houw?koko…!”

Bun Houw melangkah perlahan den menjawab, “Hemmm…?” Jantungnya berdebar karena tubuh yang hangat itu terasa begitu ketat di kedua lengan dan dadanya, maka dalam keadaan seperti itu sukar dia mengeluarkan kata-kata.

“Di dunia ini… hanya ada dua orang pria yang telah melihatku… yang seorang telah mampus… dan orang kedua adalah engkau… dan aku bersumpah, tidak akan ada laki-laki ketiga yang akan melihatku…”

Bun Houw terkejut, juga bingung. “Apa… apa yang kaumaksudkan, moi-moi?”

Tiba-tiba Kwi Eng sesenggukan lagi dan kedua lengannya seperti dua ekor ular merayap dan merangkul leher pemuda itu. Tentu saja Bun Houw menjadi berdebar-debar, seluruh tubuhnya tergetar oleh gelora darah mudanya. Otomatis pelukan kedua tangannya makin dipererat seolah-olah dia hendak mendekap tubuh dara yang cantik jelita itu makin ketat. Rasa rindu akan seorang wanita yang selama ini ditahannya, rindunya kepada Yalima, wanita pertama yang dicintanya, kini seolah-olah memperoleh pelepasan pada diri Kwi Eng!

“Koko… engkaulah satu-satunya pria yang melihat aku… seperti tadi… dan hanya engkaulah yang boleh melihatku seperti itu… untuk selama hidupku.”

“Hemmm… maksudmu?”

“Engkau telah menyelamatkan diriku dari bencana yang amat hebat, engkau telah melihat aku dalam keadaan seperti tadi… semua itu hanya dapat kutebus dengan penyerahan jiwa ragaku, koko… jika kau sudi menerimanya…”

Hampir saja pondongan itu terlepas saking kagetnya hati Bun Houw. Kiranya demikian “mendalam” perasaan hati dara ini. Kiranya Kwi Eng hendak menyatakan bahwa dara yang cantik ini jatuh cinta kepadanya!

“Maksudmu… kau… kau cinta padaku?” Dia menjelaskan sambil memandang. Kwi Eng juga mengangkat muka memandang. Dua muka saling berdekatan. Otomatis langkah kaki Bun Houw terhenti dan tiba-tiba kedua lengan Kwi Eng yang merangkul leher itu menarik leher Bur Houw makin kuat sehingga muka pemuda itu makin menunduk dan tak terhindarkan lagi, sukar dikatakan siapa yang lebih dulu bergerak, muka yang tampan dan cantik itu saling bertemu, dua mulut dengan bibir yang penuh gairah hidup saling berciuman, terdorong oleh getaran perasaan hati mereka. Mereka lupa diri, lupa keadaan, seperti dalam mabok sehingga seolah-olah ciuman itu takkan pernah berakhir, seolah-olah dalam ciuman itu mereka hendak saling mempersatukan diri, selamanya tidak akan terpisah lagi. Namun kebutuhan akan napas dan gelora perasaan yang melonjak membuat mereka terpaksa melepaskan bibir dengan napas terengah-engah, sejenak mereka saling pandang, pipi mereka menjadi merah sekali, pandang mata mereka menjadi sungkan dan malu, Kwi Eng menunduk dan Bun Houw menengadah, degup jantung mereka dapat saling mereka rasakan karena dada mereka berdekapan.

“Eng-moi…”

“Koko…”

“Jangan… tak benar ini…”

“Mengapa tak benar…? Aku rela…”

“Tidak boleh… kita baru saja bertemu dan saling berkenalan…”

“Bagiku engkau sudah selamanya kukenal…”

“Sudahlah, harap kau jangan bicara tentang urusan kita ini dulu, moi-moi. Kau tahu bahwa tugasku masih jauh daripada selesai, aku… aku tidak mungkin bisa membagi perhatian terhadap soal lain. Kita tunda saja dulu urusan ini, maukah kauberjanji?”

Kembali dua pasang mata saling bertemu dan Kwi Eng tersenyum. Senyum penuh kebahagiaan karena ciuman tadi baginya sudah lebih dari cukup sebagai tanda bahwa pemuda yang telah menjatuhkan cinta kasihnya ini, ternyata juga mencintanya. Kalau tidak demikian, tidak mungkin terjadi ciuman seperti tadi! Terasa benar olehnya menembus sampai ke dasar hatinya. Maka dia mengangguk sambil tersenyum. Bukan main manisnya dan penuh daya pikat sehingga terpaksa Bun Houw harus mengangkat kepala memandang ke atas. Tidak kuat dia untuk memandang wajah yang demikian manisnya, demikian dekatnya, bibir yang segar merah basah, sedikit terbuka, mulut yang seolah-olah menantang, dan yang diciptakan untuk dicium penuh kasih sayang, memandang kesemuanya ini tanpa menciuminya! Dan Kwi Eng kembali tersenyum. Senyum kemenangan seorang wanita yang mempunyai naluri kewanitaannya, yang tahu benar saat seorang pria bertekuk lutut tanpa syarat! Rangkulannya makin ketat dan sambil tersenyum-senyum, mata yang masih basah air mata itupun tersenyum malu-malu, dara ini menyembunyikan mukanya di dada kekasih pujaan hatinya!

Pada saat itu, ketika Bun Houw melanjutkan langkahnya dan matanya memandang ke depan, dia melihat berkelebatnya bayangan orang di antara pohon-pohon. Dia cepat mengejar dengan pandang matanya dan dilihatnya bayangan itu berdiri tegak di samping sebatang pohon, bayangan seorang wanita dengan sinar mata berapi-api yang ditujukan kepada tubuh Kwi Eng yang dipondongnya. Tentu saja dia segera mengenal gadis yang berdiri dengan sinar mata berapi-api itu.

“Hong-moi…!” Tak terasa lagi dia berseru memanggil. Akan tetapi bayangan itu berkelebat, dan lenyap di balik pohon-pohon di dalam hutan di tepi sungai itu.

“Eh, kau memanggil siapa, Houw-koko?” Kwi Eng bertanya dan memandang ke kanan kiri.

Bun Houw mengerutken alisnya. “Pendekar wanita yang pernah menolongku, Eng-moi. Seperti kulihat dia tadi berkelebat di dalam hutan. Akan tetapi mungkin juga aku salah lihat…” Namun hatinya merasa yakin bahwa gadis penolongnya itulah yang dilihatnya tadi. Dengan sinar mata tajam penuh kemarahan dan kebencian ditujukan kepada Kwi Eng. Bun Houw mengerutkan alisnya dan makin kuat dugaannya. Tidak salah lagi. Tentu gadis itulah yang pernah menyerang Kwi Eng, dan bahkan yang telah membunuh gadis she Ma itu. Jantungnya berdebar penuh ketegangan. Andaikata benar demikian, alasannya hanya satu, yaitu cemburu! Gadis yang bernama Hong itu agaknya selalu membenci setiap orang wanita yang berdekatan dengan dia! Cemburu, berarti gadis itu cinta kepadanya! Bun Houw bergidik dan kalau tadinya dia merasa amat tertarik kepada In Hong, kini dia mulai merasa jijik dan tidak suka. Dicinta oleh seorang wanita yang demikian besar cemburunya, yang demikian kejamnya, sungguh mengerikan. Biarpun cantik seperti dewi, akan tetapi selalu melakukan kekejaman seperti setan, Dewi Maut! Biarpun gadis itu amat cantik, amat tinggi ilmunya, dan sudah pernah menolongnya, menyelamatkannya dari bahaya maut, akan tetapi kalau sekejam itu perangainya, dia kelak akan menegurnya kalau dia sempat bertemu lagi dengan Si Dewi Maut itu. Akan tetapi… kematian Bu Sit tadi! Siapakah yang melepas pasir beracun dan merobohkan Bu Sit, dengan demikian menyelamatkan Kwi Eng? Apakah bukan Si Dewi Maut itu pula?

Memang tidak keliru dugaan Bun Houw. Bayangan yang berkelebat di antara pohon-pohon dan yang tadi sejenak memandang tajam ke arah Bun Houw yang memondong Kwi Eng, adalah In Hong. Baru saja gadis perkasa ini juga menyelamatkan Kwi Beng dari ancaman maut di tangan Hui-giakang Ciok Lee Kim.

Seperti kita ketahui, Kwi Beng, seperti juga Kwi Eng yang dipancing menjauhi gelanggang pertempuran oleb Bu Sit, juga dipancing oleh Hui-giakang Ciok Lee Kim si nenek cabul yang tergila-gila oleh ketampanan pemuda itu. Kemudian pemuda itupun roboh pingsan dan dipondong serta dilarikan oleh Ciok Lee Kim, dibawa ke dalam hutan di belakang dusun Ngo-sian-chung. Ketika tiba di tempat sunyi, Ciok Lee Kim menyandarken pemuda itu dan dia merayu Kwi Beng. Makin dipandang, makin tergila-glia Si Kelabang Terbang itu kepada pemuda ini.

Kwi Beng yang sudah siuman akan tetapi dalam keadaan lemas tertotok, memandang marah dan memaki, “Perempuan iblis, setelah aku kalah, kaubunuhlah aku!” bentaknya dan berusaha menggerakkan kaki dan tangannya, akan tetapi anggauta badannya itu seperti lumpuh.

Ciok Lee Kim membelai pipi dan leher pemuda itu. “Aihh, sayang kalau orang seperti engkau ini dibunuh. Orang muda yang ganteng, aku suka sekali kepadamu. Kaulayanilah aku dan bersumpah akan menjamin keselamatanmu dan selamanya engkau akan menjadi kekasihku, sahabatku, dan muridku.”

“Cih, perempuan tak tahu malu!” Kwi Beng memaki. “Kau sudah gila!”

“Hi-hik, memang aku sudah gila, tergila-gila kepadamu, sayang. Apa perlunya mati sia-sia dalam usia begini muda? Biarpun aku lebih tua darimu, aku adalah seorang ahli dalam permainan cinta, dan kau akan menjadi muridku, kau akan menikmati hidup dan apapun permintaanmu akan kupenuhi, sayang.” Ciok Lee Kim berlutut, merangkul dan menciumi. Dia benar-benar sudah tergila-gila melihat mata kebiruan dan rambut agak pirang itu. Sepuluh jari tangannya yang sudah mulai keriputan itu kini mulai meraba-raba.

“Bedebah! Tua bangka gila! Pergilah, atau bunuhlah aku!” Kwi Beng merasa jijik dan muak sekali, akan tetapi tentu saja dia tidak dapat mencegah jari-jari tangan wanita itu menggerayangi tubuhnya, hal yang membuat pemuda itu merasa ngeri dan jijik sekali.

Sudah sejak tadi ada sepasang mata jeli dan tajam yang menonton peristiwa ini. Bahkan sejak Ciok Lee Kim memasuki hutan memondong tubuh Kwi Beng yang pingsan, pemilik mata jeli itu sudah membayanginya. In Hong yang melihat peristiwa ini, diam-diam merasa kagum kepada Kwi Beng. Untuk ke sekian kalinya dia tercengang, dan setelah dia kagum melihat murid-murid Bu-tong-pai yang gagah perkasa, kemudian melihat Bun Houw yang lebih baik mati daripada tunduk kepada rayuan wanita, kini dia melihat Kwi Beng yang sama sekali tidak mau tunduk terhadap rayuan Ciok Lee Kim. Rasa kagum dan simpatinya sudah timbul dan tentu saja sekaligus menimbulkan perasaah muak dan marah kepada Si Kelabang Terbang itu. Memang sadah lama dia merasa benci kepada Hui-giakang Ciok Lee Kim yang dianggapnya wanita tak tahu malu, jahat dan keji. Kini, melihat betapa Ciok Lee Kim secara tak tahu malu menggerayangi tubuh pemuda yang terang-terangan menolak rayuannya itu, dan betapa jari-jari tangan nenek itu mulai membuka kancing baju Kwi Beng, In Hong tidak dapat menahan rasa jijiknya.

“Iblis betina cabul tak tahu malu!” bentaknya sambil meloncat dekat

Ciok Lee Kim terkejut bukan main, segera diapun meloncat berdiri sambil membalikkan tubuhnya. Di antara Lima Bayangan Dewa yang pernah bertemu dan berkenalan dengan dara perkasa ini hanyalah Toat-beng-kauw Bu Sit. Ciok Lee Kim belum pernah melihatnya, maka kini melihat bahwa yang muncul hanya seorang gadis muda belia yang cantik jelita, dia memandang rendah dan menjadi marah bukan main, kemarahan yang didorong rasa jengah dan malu karena perbuatannya merayu pemuda itu ketahuan orang lain. Dengan gerakan galak dan angkuh dia mencabut keluar sepasang senjatanya, yaitu sepasang saputangan sutera merah dan begitu kedua tangannya bergerak, terdengar suara bersiutan dan saputangan itu diputarnya sedemikian cepat sehingga lenyap bentuknya dan berubah menjadi dua gulungan sinar merah. Dengan demonstrasi tenaga sin-kang ini agaknya Ciok Lee Kini hendak menakut-nakuti gadis muda itu. Sungguh menggelikan! Dia tidak tahu siapa adanya wanita muda ini, dan tentu saja bagi Yap In Hong, murid tunggal ketua Giok-hong-pang yang telah mewarisi ilmu-ilmu simpanan dari bokor pusaka Panglima The Hoo, permainan nenek itu seperti permainan kanak-kanak saja.

“Bocah yang bosan hidup, siapakah kau mengantar nyawa sia-sia dengan mencampuri urusanku?” bentak Ciok Lee Kim, karena biarpun dia marah sekali, timbul pula keinginan tahunya siapa adanya gadis muda yang begini berani mengganggunya. Padahal banyak orang kang-ouw sudah menggigil baru mendengar namanya saja.

“Hui-giakang Ciok Lee Kim, setelah engkau lari terbirit-birit dari Lembah Bunga Merah, kiranya engkau bersembunyi di Ngo-sian-chung, hanya untuk melanjutkan perbuatannya yang tidak tahu malu. Tak perlu kau tahu aku siapa, hanya yang jelas, akulah yang akan mengantar nyawa kelabangmu terbang ke neraka.”

Tentu saja Ciok Lee Kim menjadi marah bukan main mendengar ucapan yang memandang rendah den menghina ini. Sepasang matanya melotot, mulutnya mengeluarkan teriakan yang merupakan lengking tinggi nyaring den tahu-tahu tubuhnya sudah mencelat ke depan, seperti seekor burung terbang saja dan bayangan tubuhnya yang berkelebat itu didahului oleh sinar merah dari kanan kiri, yaitu gerakan saputangannya yang di dalam tangannya dapat berobah lemas atau kaku menurut penyaluran tenaganya. Kini ujung saputangan merah yang kiri menotok ke arah ubun-ubun kepala In Hong sedangkan yang kanan menotok ke arah buah dada kiri. Serangan maut yang amat berbahaya dan Kwi Beng yang menyaksikan ini, menjadi terkejut bukan main dan mengkhawatirkan nasib dara yang agaknya hendak menolongnya itu.

Gerakan Ciok Lee Kim memang hebat. Wanita ini mendapat julukan Si Kelabang Terbang, mungkin dijuluki kelabang karena jahatnya sehingga pantas menjadi kelabang yang beracun, dan gerakannya memang amat cepat, gin-kangnya amat tinggi seolah-olah dia pandai terbang. Maka serangannya yang ditujukan kepada In Hong dalam keadaan merah itupun hebat bukan main, cepat laksana kilat menyambar.

Akan tetapi, In Hong yang memiliki tingkat kepandaian jauh lebih tinggi daripada Ciok Lee Kim, hanya berdiri dengan tenang den menanti datangnya serangan lawan itu seperti seorang dewasa memandang lagak seorang kanak-kanak saja layaknya. Begitu serangan dengan dua helai saputangan itu tiba, In Hong menggerakkan kedua tangannya, yang satu menyampok saputangan yang menotok ubun-ubun kepala, sedangkan tangan kedua menangkis saputangan yang menotok dada terus dilanjutkan dengan dorongan tangannya dengan pengerahan tehaga sakti.

“Desss… brukkkk!” Tubuh Ciok Lee Kim terbanting ke atas tanah dan wajah nenek itu menjadi luar biasa sekali, kaget, heran, tak percaya, dan juga kesakitan karena pantatnya yang tepos (tipis) itu terbanting keras ke atas tanah sehingga seperti remuk rasa ujung bawah tulang pinggulnya! Akan tetapi semua perasaan ini dilebur menjadi satu, menjadi perasaan kemarahan yang meluap-luap. Dia melupakan rasa nyeri di pantatnya dan sudah meloncat lagi dengan amat cepat, terus dia menerjang kalang kabut dengan mengerahkan seluruh tenaga dan kecepatannya, mengeluarkan semua jurus-jurus simpanannya yang paling ampuh. Amat indah nampaknya karena bayangan nenek ini lenyap, yang nampak hanya bayangan dan saputangannya yang seperti dua ekor kupu-kupu merah beterbangan cepat mengelilingi tubuh In Hong yang masih berdiri tegak dan hanya kadang-kadang saja kedua tangannya bergerak menangkis. Kwi Beng menonton dengan melongo. Dia melihat seolah-olah In Hong merupakan seorang dewi yang sedang menari-nari. Tarian menangkap sepasang kupu-kupu agaknya!

Padahal nenek itu sudah melakukan penyerangan yang amat dahsyat dan mati-matian, akan tetapi anehnya, dara itu hanya bergerak sedikit saja, kedua kakinya bahkan jarang melangkah, hanya kedua lengannya saja bergerak-gerak seperti orang menari dan semua serangan tidak ada yang mengenai sasaran.

“Nenek menjemukan, mampuslah!” Tiba-tiba gadis itu berseru nyaring dan tiba-tiba nampak sinar yang amat menyilaukan mata, sinar emas yang entah dari mana datangnya tahu-tahu berada di tangan dara itu dan sekali sinar emas itu berkelebat, hampak darah memancar dan tubuh nenek itu roboh, lehernya hampir putus terkena sambaran sebatang pedang yang dengan cepat sekali telah lenyap menjadi sabuk dara itu!

Dengan langkah ringan In Hong menghampiri Kwi Beng, menotoknya dan seketika Kwi Beng terbebas dari totokan. Dia bangkit dan memandang mayat Ciok Lee Kim dengan mata terbelalak, kemudian dia memandang gadis itu dengan mata kagum. Bukan main cantiknya dara ini, cantik jelita dan gagah perkasa, belum pernah dia melihat seorang gadis seperti ini! Cepat Kwi Beng maju dan menjura dengan hormat kepada In Hong.

“Saya Souw Kwi Beng menghaturkan terima kasih atas budi pertolongan lihiap yang gagah perkasa. Kalau tidak ada pertolongan lihiap, tentu saat ini saya telah menjadi mayat.”

In Hong balas memandang dan tersenyum. “Belum tentu iblis ini akan membunuhmu. Betapapun juga, kau seorang laki-laki jantan dan siapapun tentu akan menentang iblis tak tahu malu ini!” Dengan gemas In Hong menggunakan kakinya menendang mayat Ciok Lee Kim sehingga diam-diam Kwi Beng bergidik, merasa betapa dara cantik jelita yang seperti dewa ini amat ganas terhadap musuh! Namun, rasa kagumnya mengusir kengerian ini dan dia memandang dengan rasa kagum yang tidak disembunyikannya sehingga In Hong yang menangkap pandang mata itu menjadi agak merah kedua pipinya yang tentu saja menambah kejelitaannya.

“Lihiap sungguh memiliki kepandaian seperti Dewi Kwan Im! Dia ini adalah Hui-giakang Ciok Lee Kim, orang keempat dari Lima Bayangan Dewa. Kepandaiannya amat dahsyat, akan tetapi lihiap dapat membunuhnya hanya dalam waktu singkat, bahkan kalau saya tidak salah lihat, libiap hanya satu kali saja mempergunakan pedang! Bukan main! Sungguh kepandaian lihiap seperti dewi…”

“Sudah, saudara Souw, urusan ini tidak perlu dibicarakan lagi dan harap kaulupakan saja semua ini.” Berkata demikian, In Hong membalikkan tubuhnya dan hendak pergi dari situ.

“Nanti dulu, lihiap! Betapa mungkin saya melupakan… peristiwa ini, melupakan lihiap yang sudah melepas budi pertolongan kepada saya? Harap lihiap sudi memperkenalkan diri.”

In Hong mengerutkan alisnya. Pemuda ini tampan dan gagah sekali, akan tetapi mengapa begitu bertemu lantas menaruh perhatian dan kekaguman yang begitu berlebihan? Dia teringat kepada Bun Houw dan dia lalu menjawab singkat, “Namaku Hong, dan pertemuan kita sampai di sini saja. Selamat berpisah.”

“Hong-lihiap… harap jangan pergi dulu…! Saya… kalau boleh… saya ingin berkenalan lebih erat denganmu, karena… saya kagum sekali dan saya ingin memperkenalkan Hong-lihiap kepada adikku, kepada teman-teman di sana. Lihiap, percayalah, saya tidak mempunyai niat yang buruk, melainkan terdorong oleh kekaguman hati dan mudah-mudahan saja saya akan berkesempatan untuk membalas budi kebaikan lihiap…”

“Cukup!” Tiba-tiba In Hong berkata agak keras dan dengan wajah dingin. “Saudara Souw Kwi Beng terlalu membesar-besarkan urusan kecil ini. Sudah, aku mau pergi!”

“Nona Hong…!” Kwi Beng memanggil.

Pada seat itu, muncul Tio Sun yang dari jauh sudah berteriak girang melihat Kwi Beng. Melihat munculnya Tio Sun, In Hong lalu berkelebat dan sekali bergerak saja dia sudah lenyap dari depan Kwi Beng yang menjadi bingung, mencari-cari dengan pandang matanya namun tetap saja tidak nampak bayangan nona yang amat lihai itu. Dia merasa menyesal dan kecewa sekali, merasa kehilangan sesuatu yang amat berharga den berulang-ulang dia menarik napas panjang.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: