Dewi Maut (Jilid ke-37)

“Aihhh, kau berhasil membunuhnya? Hebat sekali, Beng-te, hebat sekali kau!” Tio Sun berteriak girang ketika melihat mayat Ciok Lee Kim yang menggeletak di situ dengan leher hampir putus.

Kembali Kwi Beng menarik napas panjang dan dia kini malah duduk di atas rumput, termenung seperti orang kehilangan semangat.

“Eh, apa yang terjadi, adik Beng? Kau kenapakah?”

Kwi Beng mengangkat muka memandang sahabatnya itu. “Hampir saja aku mati di sini, Tio-twako. Kalau tidak ada dewi yang menolongku, tentu aku sudah mati oleh iblis betina itu.” Dia menuding ke arah mayat Ciok Lee Kim.

“Hehh? Jadi bukan kau yang membunuhnya? Dewi? Dewi siapa?”

“Dewi Maut agaknya…” Kwi Beng berkata karena masih ngeri membayangkan kehebatan nona cantik tadi.

“Harap jangan main-main, Beng-te. Siapakah yang telah membunuh iblis ini?”

“Aku sendiri tidak mengenalnya dengan baik. Ketika aku terancam maut dan sudah tidak berdaya, tiba-tiba saja muncul seorang gadis cantik jelita yang amat lihai. Dia mempermainkan Si Kelabang Terbang seperti mempermainkan anak kecil, kemudian sekali dia mencabut pedang dan hanya satu kali pedangnya bergerak dan… mampuslah iblis itu. Kemudian dia pergi…” Kembali pemuda ini termangu-mangu.

“Siapa dia? Siapa gadis yang amat lihai itu?”

Kwi Beng menggeleng kepala. “Aku tidak berhasil menahannya. Setelah membunuh iblis itu, dia lalu pergi, hanya meninggalkan namanya, yaitu Hong.”

“Hong begitu saja?”

Kwi Beng mengangguk dan termenung lagi.

“Kita harus bersyukur bahwa engkau selamat dan iblis betina ini tewas, adik Kwi Beng. Akan tetapi di mana adik Eng? Aku sedang mencarinya, dan tadipun terpisah ketika melawan Bu Sit.”

Mendengar ini, seketika timbul semangat Kwi Beng. Dia amat mencinta adiknya, dan mendengar bahwa adiknya lenyap, seketika dia lupa akan urusannya sendiri, lupa akan kerinduannya terhadap dara penolongnya yang seperti dewi tadi. Dia meloncat berdiri dan berseru, “Celaka! Kita harus mencarinya, twako!”

Akan tetapi Tio Sun tidak menjawab dan pemuda ini berdiri seperti patung, mukanya agak pucat, memandang ke depan. Kwi Beng cepat memandang pula dan wajahnya berseri gembira melihat bahwa yang dipandang itu adalah Bun Houw yang datang berjalan cepat sambil memondong Kwi Eng!

Tio Sun merasa betapa ada sesuatu yang menusuk ulu hatinya. Melihat Kwi Eng di dalam pondongan Bun Houw, dan gadis itu merangkulkan kedua lengan ke leher pemuda itu dan menyandarkan muka di dadanya. Begitu mesra! Hanya inilah yang tampak dan teringat oleh Tio Sun, yang membuat rongga dadanya terasa sesak dan hatinya terasa panas!

Akan tetapi Kwi Beng melihat hal lain. Cepat dia menyongsong dan berteriak, “Eng-moi, kau terluka…?”

Kwi Eng melepaskan rangkulan kedua lengannya dari leher Bun Houw dan mengangkat muka. Kedua pipinya merah sekali, matanya bersinar, wajahnya berseri dan bibirnya tersenyum. “Hanya tulang kaki kiriku… patah…”

“Tulang kakimu patah?” Kwi Beng bertanya penuh kekhawatiran, akan tetapi juga penuh keheranan. Tulang kakinya patah mengapa masih bisa tersenyum-senyum dan berseri-seri wajahnya?

Melihat Kwi Beng dan Tio Sun, Bun Houw menjadi malu dan cepat dia menyerahkan Kwi Eng kepada kakak kembarnya. Kwi Beng cepat memondong adiknya yang masih berseri dan bercerita kepadanya. “Hampir aku celaka oleh si laknat muka monyet itu, untung datang Houw-koko yang berhasil membunuhnya…”

“Ah, Hui-giakang juga sudah tewas? Sungguh sayang…” Tiba-tiba Bun Houw yang melihat mayat wanita itu berseru.

“Sayang?” Tio Sun bertanya heran. “Mengapa sayang?”

“Tio-twako, aku terpaksa merobohkan Toat-beng-kauw tanpa dapat menanyainya lebih dulu dan sekarang tahu-tahu Hui-giakang juga sudah mati. Padahal aku membutuhkan keterangan mereka tentang Siang-bhok-kiam… akan tetapi, masih ada Liok-te Sin-mo. Tentu suheng dan enci berhasil membekuknya. Mari kita ke sana!”

“Beng-koko, siapa yang membunuh iblis betina itu? Engkau ataukah Tio-twako?” tanya Kwi Eng yang kini dipondong okh kakaknya sendiri.

“Bukan aku bukan pula Tio-twako, melainkan seorang dewi.”

“Eh? Dewi? Dewi siapakah?”

“Seorang gadis yang amat lihai, dan kalau tidak ada dia yang menolongku, tentu kakakmu ini sudah menjadi mayat.”

“Ihhhh…! Seperti keadaanku, kalau tidak ada Houw-koko…”

Mendengar percakapan itu, Bun Houw bertanya, “Adik Kwi Beng, siapakah gadis yang menolongmu dan membunuh Hui-giakang itu?” Sebetulnya dia sudah dapat menduganya, akan tetapi dia mendesak untuk merasa yakin.

“Dia seorang yang aneh sekali, setelah membunuh iblis itu lalu pergi dan hanya meninggalkan namanya, yaitu Hong.”

“Aih, dia… ya, tentu saja, siapa lagi…” Bun Houw menggumam.

Kwi Eng mengerutkan alisnya. “Houw-koko, apakah yang kaupanggil nona Hong tadi?”

Bun Houw mengangguk. “Dia seorang pendekar wanita yang amat lihai akan tetapi penuh rahasia, tidak mau mengenal orang.” Berkata demikian, Bun Houw meraba hiasan rambut burung hong yang berada di saku bajunya sebelah dalam. Benar-benar seorang nona yang amat aneh, dan lihai, dan ganas, dan… benarkah sekejam itu membunuh gadis she Ma karena cemburu?

Mereka tiba di Ngo-sian-chung dan ternyata pertempuran sudah berhenti. Banyak anak buah Ngo-sian-chung malang melintang, ada yang tewas dan banyak yang terluka, selebihnya melarikan diri. Liok-te Sin-mo Gu Lo It, Bouw Thaisu, Hwa Hwa Cinjin, Hek I Siankouw, berhasil melarikan diri.

“Enci Keng…!” Bun Houw lari menghampiri kakaknya dan memberi hormat.

“Bun Houw…!” Giok Keng merangkul dan memeluk adiknya.

Adapun Yap Kun Liong yang duduk di tempat yang agak jauh sambil termenung karena sejak tadi Giok Keng sama sekali tidak mau memandangnya, apalagi bicara dengannya, kini dihampiri oleh Tio Sun, Kwi Beng yang memondong Kwi Eng. Mereka bertiga tidak mau mengganggu pertemuan kakak dan adik yang penuh kemesraan itu, dan mendengar bahwa pendekar yang datang membantu itu adalah Yap Kun Liong, yang mereka bertiga sudah lama dengar dari orang tua masing-masing dan yang mereka kagumi, kini mereka menghampiri pendekar itu. Kun Liong menerima kedatangan tiga orang muda itu sambil tersenyum tenang.

“Apakah kami berhadapan dengan Yap Kun Liong taihiap yang mulia?” Tio Sun bertanya penuh hormat. Juga Kwi Beng menurunkan adiknya dan mereka berdua memberi hormat.

Kun Liong menggerakkan tangannya. “Harap kalian jangan terlalu sungkan. Agaknya kalian bertiga orang-orang muda adalah sahabat-sahabat sute Bun Houw, dan melihat gerakanmu tadi, apakah hubunganmu dengan Tio Hok Gwan locianpwe?”

Tio Sun makin kagum. Tadi dia berkesempatan untuk mengamuk bersama pendekar ini dan kakak perempuan Bun Houw, dan agaknya dalam gerakan-gerakannya pendekar ini sudah mengenal ilmu ayahnya! “Memang sudah lama ayah menceritakan saya tentang taihiap, maka sungguh gembira hari ini saya dapat bertemu dengan Yap-taihiap.”

“Aih, jadi engkau putera Tio-lo-enghiong?” Kun Liong berseru girang, kemudian dia memandang Kwi Beng dan Kwi Eng, alisnya agak berkerut melihat warna mata dan rambut dua orang kakak beradik yang wajahnya sama?sama tampan dan cantik itu yang menunjukkan bahwa dua orang muda ini adalah peranakan?peranakan barat. “Dan siapakah kalian berdua?”

“Ayah dan ibu mengenal paman dengan baik sekali!” Kwi Eng yang lebih lincah dan berani itu sudah berseru sambil memegangi lengan kakaknya karena dia tidak berani menggunakan kakinya yang masih belum sembuh. “Ayah dan adalah sahabat?sahabat dari paman Yap Kun Liong yang gagah perkasa.”

Kun Liong menjadi kaget dan juga bingung. “Siapa? Siapakah ayah bundamu?”

Kini Kwi Beng yang menjawab, “Ayah adalah Yuan de Gama sedangkan ibu…”

“Souw Li Hwa…! Ya Tuhan…! Mereka… mereka… kusangka mereka sudah tidak ada lagi…” Dia makin bingung karena dia sendiri yang membujuk?bujuk kedua orang itu meninggalkan kapal namun mereka tidak mau, dan dengan matanya sendiri dia menyaksikan betapa Yuan de Gama dan Souw Li Hwa tenggelam bersama kapalnya.

Ayah dan ibu tidak tewas dengan kapal itu, paman, tertolong seorang nelayan pandai dan sampai sekarang masih hidup. Kami berdua adalah putera?puteri mereka, kakak kembarku ini bernama Richardo de Gama atau Souw Kwi Beng dan saya bernama Maria de Gama atau Souw Kwi Eng.”

Bukan main girangnya hati Kun Liong mendengar ini dan dia melangkah maju, memegangi lengan Kwi Eng dan Kwi Beng, menatap wajah keduanya dan dia mengangguk?angguk. “Engkau persis ibumu, tapi matamu persis mata ayahmu… aih, betapa bahagia rasa hatiku mendengar bahwa mereka masih hidup…” Suara Kun Liong tergetar karena terharu.

Tiga orang muda itu lalu menengok ke arah Cia Giok Keng. “Kami belum menghadap Cia?lihiap puteri ketua Cin?ling?pai…” kata Tio Sun, akan tetapi tidak perlu lagi karena kini Bun Houw yang menggandeng tangan encinya sudah menghampiri Kun Liong dengan air muka muram dan merah, pandang matanya marah, sedangkan Giok Keng jelas habis menangis karena matanya masih merah, dan kedua pipinya basah.

“Yap?suheng…!” begitu tiba di situ Bun Houw menghadapi Kun Liong dan berkata dengan suara keras dan kaku.

“Sudahlah, adikku, sudahlah…!” Giok Keng memegang tangan adiknya dan berusaha mencegah, akan tetapi agaknya Bun Houw tidak mampu mengendalikan kemarahannya lagi. Tadi dia mendengar penuturan encinya tentang kematian kakak iparnya, Lie Kong Tek yang membunuh diri untuk menebus “dosa” encinya yang sebetuinya tidak berdosa. Dapat dibayangkan betapa hancur hati pemuda ini ketika mendengar betapa encinya dituntut oleh Kun Liong dan gurunya, Kok Beng Lama, dituduh membunuh isteri suhengnya atau puteri gurunya itu.

“Sute, engkau hendak bicara apakah?” Kun Liong bertanya, biarpun dia sudah dapat menduga akan kemarahan pemuda ini, dia bertanya dengan sikap tenang.

“Yap?suheng, perbuatanmu yang telah menjatuhkan tuduhan kepada enci Keng tanpa bukti?bukti nyata itu sungguh tak kusangka dapat dilakukan oleh seorang seperti suheng! Apakah suheng tidak menyadari bahwa kematian Lie?cihu (kakak ipar Lie) disebabkan oleh suheng, seolah?olah suheng yang membunuhnya dengan tangan suheng sendiri?”

“Houw?te, jangan… jangan bicara demikian…” Giok Keng merangkul adiknya dan menangis. “Kau… kau tidak tahu…”

“Biarlah, enci!” Bun Houw berkata sambil melepaskan rangkulan encinya. “Aku tidak bisa mendiamkannya saja, dan kalau Yap?suheng sudah berobah menjadi begitu kejam, biarlah aku tewas di tangannyapun tidak mengapa!”

“Sute, apakah maksudmu dengan kata?kata itu?” Kun Liong bertanya, memandang tajam penuh selidik, akan tetapi menekan kemarahannya mengingat bahwa Bun Houw hanyalah seorang pemuda yang masih amat muda dan kini sedang dicengkeram oleh kedukaan dan kemarahan mendengar akan nasib yang menimpa kakak kandungnya.

“Maksudku, aku tidak akan menerima begitu saja suheng menyebabkan kematian cihu dan membuat hidup enciku menderita. Mari kita selesaikan hal ini antara kita sebagai laki?laki jantan!” Bun Houw menantang den melompat ke depan, siap untuk menghadapi suhengnya yang selama ini amat dikaguminya.

“Sute, yang memaksaku menuntut encimu adalah ayah mertuaku, yaitu gurumu sendiri. Apakah engkaupun akan menantang gurumu kelak?” tanya Kun Liong dengan suara tenang dan sikap sabar.

“Suhu tidak akan bertindak demikian kalau tidak suheng yang memberi tahu!”

Kun Liong menarik napas panjang. “Sute, peristiwa yang telah terjadi itu sungguh amat menyedihkan, terlalu menyedihkan. Kalau engkau menyalahkan aku, biarlah, aku menerima salah, akan tetapi jangan harap aku akan dapat melayani tantanganmu yang mentah itu…”

Kun Liong lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi dari situ.

“Yap Kun Liong! Berhenti kau…!”

Bun Houw membentak, akan tetapi Kun Liong tidak menoleh.

“Bun Houw, jangan… aihhh, jangan…! Ingat, kita masih mempunyai tugas yang lebih penting. Pula, Kun Liong tidak bersalah…”

“Tapi, enci…” Bun Houw bersikeras.

“Bun Houw! Kau tidak mentaati encimu?” Melihat encinya marah, Bun Houw menjadi lemas, menunduk dan memegang kedua tangan encinya.

“Maaf, enci, aku terlalu marah dan hancur hatiku mengingat akan nasibmu.”

“Kau sungguh terlalu! Kau hanya ingat akan kedukaan kita sendiri, lupa bahwa Kun Liong lebih dahulu kehilangan isterinya yang dibunuh orang secara kejam.” Wanita itu menghapus air matanya, “Dan kau telah berani menghinanya!”

Bun Houw menunduk. “Maafkan, enci… maafkan…”

“Sudahlah. Aku melihat Lima Bayangan Dewa, biarpun telah dua orang di antara mereka tewas, namun yang tiga masih hidup dan malah mereka dibantu orang?orang yang begitu pandai. Hal ini tidak mungkin dapat kita hadapi sendiri saja. Aku akan kembali ke Cin?ling?pai melaporkan hal ini kepada ayah.”

“Baik, enci. Aku akan menyelidiki mereka.”

“Akan tetapi jangan ceroboh seperti tadi, Bun Houw. Kalau saja tidak datang aku kemudian datang pula Kun Liong, tentu teman?temanmu itu akan terancam bahaya hebat.”

Setelah mendengar tiga orang itu memperkenalkan diri, Giok Keng lalu meninggalkan tempat itu. Tio Sun, Kwi Beng dan Kwi Eng tadi hanya terbelalak mendengarkan dan menonton saja, sama sekali tidak berani mencampuri, bahkan setelah Kun Liong dan Giok Keng pergi, mereka tidak berani bertanya?tanya kepada Bun Houw yang kini menjadi amat keruh wajahnya. Penuturan encinya hanya diambil singkatnya saja, maka dia sendiripun belum tahu benar duduknya persoalan, akan tetapi hati siapa tidak akan berduka mendengar betapa suhunya kini berhadapan dengan keluarganya sebagai dua fihak yang bertentangan?

Kedua adik Souw sebaiknya sekarang beristirahat. Saudara Kwi Beng, melihat tulang pergelangan kaki adikmu patah, maka harap kau suka membawa adikmu ke tempat aman dan merawatnya sampai sembuh. Setelah itu, kalian sebaiknya menanti sampai orang tua kalian pulang. Aku hendak melanjutkan penyelidikanku, mengejar Lima Bayangan Dewa yang tinggal tiga orang itu.”

“Akan tetapi, aku ingin membantumu, Houw?koko!” Kwi Eng berkata, suaranya agak manja dan penuh permohonan.

Bun Houw tersenyum memandang dara itu. “Terima kasih, Eng?moi. Akan tetapi, tulang kakimu itu sedikitnya dua pekan baru dapat bersambung kembali, itupun kalau terus mempergunakan obat penyambung tulang yang baik. Selain itu, fihak musuh amat lihai, mempunyai banyak teman yang berilmu tinggi. Enciku benar, aku tidak boleh ceroboh dan sekarang aku hanya hendak menyelidiki lebih dulu. Kalau keadaan musuh terlalu kuat aku harus minta bantuan ayah ibuku.”

“Aku akan menyertaimu, Houw?te.”

Bun Houw memandang Tio Sun dengan girang. Kepandaian putera Ban?kin?kwi ini cukup tinggi sehingga merupakan pembantu yang amat baik. “Terima kasih, twako. Nah, kaubawalah adikmu pergi ke tempat aman, saudara Kwi Beng. Kami berdua hendak berangkat sekarang juga. Lain hari kita pasti saling dapat berjumpa kembali.”

Bun Houw dan Tio Sun segera berangkat.

“Houw-koko…!” Kwi Eng berseru memanggil.

Bun Houw berhenti, menoleh. Dara itu menangis!

“Selamat tinggal Eng-moi, sampai jumpa kembali,” kata Bun Houw.

Dengan suara terisak, Kwi Eng berkata, “Kalau… kalau terlalu… lama kau tidak datang… aku akan mencarimu…”

Bun Houw hanya mengangguk dan melanjutkan perjalanannya bersama Tio Sun. Dia hanya merasa kasihan kepada Kwi Eng dan sama sekali dia tidak tahu betapa pemuda yang berjalan di sebelahnya itu memandang ke depan dengan pandang mata kosong, dengan hati yang tertusuk dan semangatnya seperti tertinggal bersama Kwi Eng, dara yang telah menjatuhkan hatinya itu.

***

Pria itu berjalan di dalam hutan sambil menundukkan mukanya. Wajahnya yang tampan dan gagah nampah keruh dan muram, pandang matanya sayu diliputi kedukaan mendalam. Yap Kun Liong, pria itu, merasa seolah-olah semangatnya melayang-layang, tubuhnya kosong dan pikirannya membayangkan semua hal yang lalu dalam hidupnya. Semenjak kecil, hidupnya yang merupakan sebuah perahu kecil itu selalu dihantam dan dilanda ombak penghidupan yang membadai, yang mengombang-ambingkannya, kadang-kadang hampir menenggelamkannya. Selama ini dia masih dapat mengatasi itu semua, biarpun perahu hidupnya pecah-pecah, koyak-koyak, namun masih belum tenggelam.

Semenjak peristiwa terakhir yang amat meremukkan hatinya, yaitu kematian isterinya disusul peristiwa di Cin-ling-pai di mana Giok Keng juga kehilangan suaminya yang membunuh diri, dia menjadi seorang pelamun dan pendiam. Hidupnya berobah sama sekali dan di dalam perjalanannya mencari anaknya, Yap Mei Lan, dia lebih banyak duduk melamun di tempat-tempat sunyi, di mana tidak ada seorangpun manusia lain mengganggu lamunannya.

Kita manusia tidak menyadari bahwa hidup pasti merupakan medan pertentangan antara susah dan senang, lebih banyak dukanya daripada sukanya, lebih banyak kecewanya daripada puasnya, karena tanpa kita sadari sendiri, kita memang telah mengikatkan diri dengan lingkaran setan yang berupa sebab akibat dan im-yang (atau dewi unsur), yang dapat juga disebut kebalikan-kebalikan. Kita selalu menghendaki yang satu tapi menolak yang lain, kita selalu mengejar kesenangan namun menghindari kesusahan, mencari?cari kepuasan menolak kekecewaan dan sebagainya. Padahal, suka duka, senang susah, puas kecewa tidaklah pernah terpisah-pisah, seperti sebuah tangan yang mempunyai dua permukaan, yaitu telapak tangan dan punggung tangan. Mencari yang satu sudah pasti akan bertemu dengan yang lain. Sudah menjadi kebiasaan kita sejak kecil, menjadi suatu hal yang kita terima sebagai sudah semestinya dan seharusnya, yaitu bahwa di dalam segala gerak perbuatan kita, selalu didasari atas pamrih demi kepentingan, kepuasan, kesenangan diri pribadi. Dan setiap perbuatan yang didasari pamrih seperti itu adalah palsu, hanyalah suatu alat belaka untuk mencapai keinginan kita, dan perbuatan seperti itu, betapapun baik kelihatannya, sudah pasti menimbulkan konflik, pertentangan lahir dan batin. Mari kita tengok diri sendiri, mari kita perhatikan diri kita sendiri, bukan orang lain. Kita lihat saja segala gerak tubuh, gerak pikiran, dan gerak mulut atau kata-kata kita. Tidakkah kesemuanya itu mengandung kepalsuan belaka? Sikap kita bersopan-santun kepada tamu misalnya, kalau kita mau memandang diri sendiri secara bebas, kita akan melihat bahwa kesopanan kita itu bukan timbul dari kasih atau keakraban, melainkan merupakan bentuk penjilatan karena tamu itu lebih tinggi atau lebih kaya atau lebih pintar, atau bentuk perendahan diri karena takut, dan sebagainya. Kalau kita melakukan sesuatu demi orang lain sekalipun, di situ tersembunyi pamrih, agar kita dipuja, agar kita menjadi orang baik, agar kita kelak menerima balas jasa.

Tidak dapatkah kita hidup dengan wajar, apa adanya, tanpa segala kepalsuan ini? Tidak dapatkah kita melakukan segala macam gerak tanpa dasar kepentingan diri pribadi? Hal ini hanya mungkin apabila terdapat CINTA KASIH di dalam diri kita! Dengan cinta kasih, segala apapun yang kita lakukan, yang kita pikirkan, yang kita ucapkan, adalah BENAR, karena CINTA KASIH adalah KEBENARAN. Tanpa cinta kasih, matahari akan kehilangan sinarnya, tumbuh-tumbuhan akan kehilangan warnanya, bunga-bunga akan kehilangan harumnya, dunia akan kehilangan keindahannya. Dengan adanya cinta kasih, kita tidak membutuhkan lagi kebahagiaan karena CINTA KASIH adalah KEBAHAGIAAN!

Namun sayang! Yang kita miliki bukanlah cinta kasih yang murni, yang suci, yang sejati, yang tidak ada kebalikannya, melainkan kita hanya mengenal cinta terhadap seseorang atau sesuatu benda hidup atau benda mati, suatu yang abstrak dan yang kita puja-puja. Cinta kasih macam ini sesungguhnya bukanlah cinta kasih, melainkan hanya alat untuk menyenangkan diri pribadi, untuk mencari kepuasan seksuil, kepuasan lahirlah, kepuasan hiburan, atau juga kepuasan batiniah yang seaungguhnya hanya morupakan harapan-harapan untuk masa depan belaka! Tentu saja cinta kasih macam ini, yang sesungguhnya bukan cinta kasih melainkan nafsu-nafsu keinginan untuk kesenangan diri pribadi belaka, cinta kasih macam ini mengandung dwi unsur, yaitu senang dan susah, puas dan kecewa, dan karenanya mendatangkan pertentangan yang tiada habis-habisnya. Sebab dan akibat adalah suatu lingkaran setan yang tiada putus-putusnya, akibat dapat menjadi suatu sebab untuk akibat berikutnya, dan si sebab itupun dapat menjadi akibat dari sebab sebelumnya. Celakalah kita kalau mengikatkan diri terjebak dalam lingkaran setan ini. Sebab akibat berada di dalam tangan kita sendiri! Kitalah yang menentukan apakah sebab akibat itu akan berlarut-larut ataukah akan habis sampai di situ saja! Kalau kita menghadapi setiap peristiwa dalam hidup kita dan menyelesaikannya setiap saat, setiap detik peristiwa itu timbul, dan menghabiskannya sampai di situ saja, tanpa mengingat yang lalu dan tanpa membayangkan masa depan, maka sebab akibat sebagai rantai akan pecah berantakan dan lenyap!

Marilah kita belajar untuk mengenal diri sendiri, setiap saat, dengan memandang penuh kewaspadaan dan kesadaran terhadep diri sendiri, setiap saat pula, dengan perhatian sepenuhnya tercurah pada setiap gerak perbuatan, kata-kata dan pikiran kita sendiri tanpa campur tangan. Dengan perhatian setiap saat, perhatian sepenuhnya, yang timbul dari pengertian yang mendalam, maka pandang mata kita akan menembus sampai sedalamnya, pengertian kita akan bangkit dan kita akan bebas dari segala ikatan karena kita mengerti bagaimana bahayanya ikatan-ikatan itu, dan kebebasan diri dari segala ikatan memungkinkan kita mengenal apa artinya CINTA KASIH tadi. Bukan cinta kasih terhadap sesuatu, atau terhadap semua, yang ada hanya cinta kasih saja. Cinta terhadap seseorang, terhadap semua orang, terhadap alam, kemesraan, semua itu tidak terpisah-pisah dan sudah tercakup di dalamnya.

Kun Liong, seorang pendekar sakti yang sudah banyak menerima gemblengan hidup biarpun dia berilmu tinggi dan berjiwa pendekar, namun dia belum sadar akan hal ini, oleh karena itu, betapapun gagah perkasanya dia, tetap saja dia terseret dan terjebak di dalam lingkaran setan sebab akibat itu sehingga hidupnya menjadi permainan suka duka yang sesungguhnya hanyalah merupakan penonjolan si aku yang dikecewakan atau sebaliknya aku yang dipuaskan! Kalau saja dia mau mengenal diri pribadi setiap saat, maka segala ilmu di dunia ini sudah berada di dalam diri!

Kun Liong terbenam di dalam kedukaan karena dia mengingat akan sikap Giok Keng dan Bun Houw. Dua orang sumoi dan sutenya itu, putera-puteri ketua Cin-ling-pai yang boleh dibilang juga gurunya, jelas amat membencinya! Dan dia tidak dapat menyalahkan mereka. Dia tidak mungkin dapat menyalahkan Bun Houw yang menghinanya, karena dia dapat membayangkan betapa hancur dan sakit rasa hati pemuda itu mendengar bahwa kakak iparnya sampai membunuh diri karena encinya didakwa membunuh orang. Padahal dia sendiri kini merasa yakin bahwa bukan Giok Keng yang membunuh isterinya. Sejak peristiwa itu terjadi, dia memang sudah tidak percaya kalau Giok Keng membunuh isterinya! Dia mengenal benar wanita ini, seorang wanita yang biarpun keras hati, namun gagah perkasa dan tidak mungkin mau melakukan perbuatan yang rendah, keji dan curang. Apalagi membunuh isterinya dalam keadaan pingsan. Tak mungkin dilakukan oleh Cia Giok Keng! Akan tetapi ayah mertuanya, tak dapat menahan kemarahan dan telah memaksa Giok Keng dan menuntut kepada ketua Cin-ling-pai sehingga terjadi peristiwa yang demikian menyedihkan, yaitu suami Giok Keng membunuh diri untuk menebus “dosa” isterinya!

Akan tetapi, diapun tidak menyalahkan mertuanya yang kemudian bahkan menjadi terguncang batinnya dan berobah ingatannya oleh peristiwa-peristiwa itu! Ah, semua itu terjadi karena aku, pikirnya sedih. Karena diriku yang sial dan selalu mendatangkan malapetaka bagi orang lain, sejak dahulu! Mula-mula, di waktu dia masih kecil, dia telah mendatangkan malapetaka bagi ayah bundanya sendiri (baca cerita Petualang Asmara), kemudian hubungannya dengan banyak orang, terutama dengan dara-dara cantik, diapun hanya mendatangkan malapetaka bagi mereka. Teringat akan semua ini, Kun Liong menutupi mukanya dengan kedua tangan dan dia duduk seperti patung dalam keadaan demikian sampai lama sekali. Dia telah kehilangan segala-galanya dalam hidupnya. Dia kehilangan isteri yang dibunuh orang, sekaligus kehilangan anak kandungnya yang lari entah ke mana, kemudian kehilangan mertuanya yang menjadi gila, kini kehilangan hubungan dengan Cin-ling-pai sekeluarga.

Ketika dia menutupi mukanya, terbayanglah wajah Giok Keng yang kurus pucat, dan perasaan iba memenuhi hatinya. Aihh, dia menjadi sumber segala kesengsaraan hidup orang-orang lain. Kalau demikian, apa pula artinya hidup baginya? Tiba-tiba dia menurunkan kedua tangannya dan mengepal tinju. Kalau dia mati, agaknya dunia ini akan lebih tenteram! Perlu apa dia hidup?

“Perlu mencari pembunuh isteriku!” demikian dia membentak, seperti menjawab pertanyan hatinya sendiri, “Aku harus dapat mencari pembunuh isteriku, dan harus dapat menemukan kembali Mei Lan anakku!” Dengan tekad yang tiba-tiba muncul seperti sinar-sinar terang yang menerangi ruang hatinya yang gelap pekat tadi, Kun Liong meloncat dan lari secepatnya seperti terbang atau seperti sudah miring otaknya!

Akan tetapi, baru saja dia tiba di tepi hutan, Kun Liong cepat meloncat jauh tinggi ke atas dan tubuhnya lenyap di dalam daun-daun yang lebat dari pohon yang amat tinggi itu. Dia melihat berkelebatnya orang dari jauh dan ketika bayangan itu tiba dekat, dia terkejut sekali karena mengenal bayangan itu yang bukan lain adalah Cia Giok Keng! Seperti juga dia, wanita itu berjalan seperti orang yang kehilangan semangat, sungguhpun Giok Keng mempunyai tujuan tertentu dalam perjalanannya, yaitu dia hendak kembali ke Cin-ling-san untuk melaporkan kepada ayahnya tentang kematian dua Bayangan Dewa dan tentang bantuan orang-orang pandai yang agaknya bergabung dengan mereka.

Begitu melihat Giok Keng, makin mendalam rasa iba hati yang melanda perasaan Kun Liong. Wanita ini menjadi sengsara hidupnya karena dia! Tanpa disadarinya, seperti dalam mimpi, Kun Liong lalu bergerak dan membayangi Giok Keng dari jauh agar jangan sampai wanita itu melihatnya.

Mereka sudah meninggalkan hutan, dan tiba-tiba terdengar teriakan dari arah kiri, “Nona Giok Keng…!”

Giok Keng terkejut sekali. Siapakah yang menyebutnya nona dan mengenal namanya? Dia berhenti den menanti datangnya orang yang berlari-lari itu dan setelah dekat, ternyata orang itu adalah seorang tua yang menjadi pelayan ayahnya. Pantas saja orang itu menyebutnya “nona” biarpun dia sudah menikah dan sudah mempunyai anak, karena memang sejak dia kecil A-kiong ini sudah menjadi pelayan ayahnya. Begitu tiba di depan Giok Keng, A-kiong lalu menjatuhkan dirinya berlutut dan menangis!

“Eh, A-kiong… apakah yang terjadi?” tanya Giok Keng, wajahnya yang sudah layu itu menjadi makin pucat.

“Celaka, nona… celaka sekali…”

“Tenanglah dan jangen menangis!” Giok Keng menghardik. dan A-kiong menyusuti air matanya. “Sekarang ceritakan yang jelas!”

“Saya disuruh oleh taihiap untuk pergi menyusul Lie-kongcu ke Sin-yang…” A-kiong bereerita dan dia selalu menyebut Cia Keng Hong dengan sebuatan taihiap. “Lie-kongcu puteramu itu dibawa oleh Hong Khi Hoatsu ke Sin-yang dan saya disuruh menyusul untuk membantu dan melayani di sana.”

Giok Keng mengangguk. Dia tidak merasa heran karena memang sudah sepatutnya kalau guru suaminya itu membawa Lie Seng ke Sin-yang, selain untuk menghibur hati orang tua itu, juga tentu orang tua itu hendak mendidik Lie Seng.

“Saya telah tiba di Sin-yang… akan tetapi… ah, celaka sekali, nona…!” Kembali dia menangis dan tidak dapat melanjutkan ceritanya.

“Diam! Hayo ceritakan! Kayak anak kecil saja kau, A-kiong!” bentak Giok Keng marah. Sudah kambuh kembali kekerasan hati wanita ini melihat sikap lemah dari pelayannya.

“Setibanya di sana saya mendengar dari para tetangga… bahwa… bahwa… semua pelayan rumah dari nona, dan Hong Khi Hoatsu… mereka semua telah… dibunuh orang, sedangkan Lie-kongcu telah diculik oleh pembunuh-pembunuh itu…”

Terdengar jerit melengking tinggi dan A-kiong terguling karena tidak kuat mendengar pekik yang menggetarkan seluruh isi dadanya itu. “Am… pun… nona…” ratapnya sambil berlutut.

Giok Keng menutupi mukanya, berdiri menunduk dan terdengar kata-katanya tergetar hebat, “Kau pulanglah… pergilah ke Cin-ling-pai… ceritakan semua kepada ayah ibu…!” Setelah berkata demikian, kembali terdengar lengking tinggi seperti jerit kesakitan seekor burung hong dan tubuh Giok Keng sudah berkelebat lenyap dari depan A-kiong yang masih berlutut dan menangis sesenggukan seperti anak kecil. A-kiong mengangkat muka memandang ke kanan kiri, kemudian bangkit berdiri dan berjalan tersaruk-saruk menuju ke Cin-ling-san. Dalam waktu beberapa hari saja orang tua yang usianya sudah lima puluh tahun lebih ini menjadi makin tua tampaknya.

Giok Keng lari memasuki hutan. Dia tadi menahan-nahan hatinya di depan A-kiong, dan kini setelah dia memasuki hutan yang sunyi, dia lalu menjatuhkan diri di atas an seperti anak kecil sambil menutupi mukanya. Dia menangis mengguguk, memanggil-manggil nama suaminya dan Lie Seng, dan menangis lagi, air matanya bercucuran dan diusapinya dengan lengan baju.

Di balik sebatang pohon besar, Kun Liong berdiri dengan muka pucat dan beberapa butir air mata mengalir turun dari kedua matanya, dibiarkannya saja menuruni kedua pipinya. Dia telah mendengar semua dan dia makin merasa kasihan kepada wanita ini. Betapa hebat penderitaan batin Giok Keng. Suaminya membunuh diri di depan matanya, dan kini guru suaminya yang seperti ayah mertua sendiri mati terbunuh orang, anaknya diculik pula. Betapa hampir sama penderitaan wanita itu dengan penderitaannya sendiri. Isterinya juga mati, anaknya juga hilang dan ayah mertuanya gila!

Seperti disayat pisau rasa hati Kun Liong melihat Giok Keng menangis bergulingan di atas rumput seperti anak kecil, kemudian dia merintih perlahan melihat tubuh Giok Keng tak bergerak lagi dan dia tahu bahwa wanita itu roboh pingsan saking sedihnya.

“Aduhh… kasihan sekali kau, Giok Keng…”

Kun Liong menghampiri tubuh wanita itu dan cepat menolongnya, memondongnya dan merebahkannya di tempat yang kering. Pakaian wanita itu basah dan kotor, rambutnya kusut dan mukanya pucat sekali. Dia mameriksa nadinya sebentar dan maklum bahwa kalau dia menyadarkan wanita ini begitu saja, hal itu amat tidak baik bagi jantungnya. Wanita ini mengalami tekanan batin yang amat hebat dan tangis tadi, juga pingsannya ini merupakan peringan yang baik malah. Maka dia hanya merapikan pakaian Giok Keng, merebahkannya terlentang dan mengurut punggung serta tengkuknya sampai pernapasan wanita itu menjadi rata dan teratur seperti orang sedang tidur, kemudian dia duduk menjaganya. Melihat wanita ini rebah terlentang di depannya, memandangi wajah yang cantik dan mengandung sinar kegagahan itu, Kun Liong menarik napas panjang dan teringatlah dia akan peristiwa di waktu dahulu, belasan tahun yang lalu. Dahulu, ayah bunda gadis ini mempunyai niat untuk menjodohkan Giok Keng dengan dia (baca cerita Petualang Asmara). Akan tetapi entah bagaimana, semenjak bertemu telah terjadi keributan antara dia dan Giok Keng yang galak. Dan akhirnya, Giok Keng sendiri yang minta diputuskannya tali perjodohan yang diikatkan oleh orang tuanya itu karena Giok Keng terbujuk oleh rayuan seorang pemuda sesat, yaitu Liong Bu Kong putera Kwi Eng Niocu. Untung bahwa perjodohan antata dia dan pemuda sesat itu belum berlangsung dan akhirnya Giok Keng maklum akan kesesatan pemuda yang menjatuhkan hatinya itu. Dan akhirnya, karena dia sendiri telah saling jatuh cinta dengan Pek Hong Ing, maka Giok Keng lalu berjodoh dengan Lie Kong Tek.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: