Dewi Maut (Jilid ke-38)

Kini, melihat Giok Keng yang menggeletak dengan wajah pucat seperti mayat, yang dalam keadaan pingsan saja masih jelas membayangkan penderitaan batin yang hebat, timbul pertanyaan di hati Kun Liong. Bagaimana andaikata dahulu mereka itu menjadi suami isteri? Tentu tidak akan timbul peristiwa yang membuat mereka berdua menderita batin begitu hebat!

Ooohhhhh… Seng-ji (anak Seng)… di mana kau…?”

Giok Keng mengeluh dan menggerakkan tubuhnya, membuka matanya. Ketika melihat Kun Liong, dia nampak kaget sekali, dan meloncat bangkit duduk, kemudian meloncat berdiri dengan mata berapi-api.

“Sumoi, aku melihat kau rebah pingsan maka…”

“Yap Kun Liong, manusia iblis! Engkau yang membunuh suamiku, engkau yang membunuh mertuaku, engkau yang menculik Lie Seng!” Dan Giok Keng sudah menerjang maju dan menghantam dada Kun Liong dengan kepalan tangan kanannya.

“Dukkkk!!” Pukulan yang keras itu diterima oleh Kun Liong tanpa melawan sedikitpun, tanpa mengerahkan tenaganya dan dia terjengkang roboh, lalu bangun kembali dengan muka pucat.

“Keng-moi, kalau kau menyalahkan aku… biarlah aku menerima salah…”

“Memang kau bersalah! Memang kau yang menjadi biang keladi semuanya! Memang kau yang merusak hidupku! Kau harus dlhajar!” Giok Keng menerjang lagi, mengamuk kalang-kabut dan memberikan pukulan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya.

“Dessss…!” Kun Liong terpelanting keras oleh pukulan ini. Namun dia tidak mengeluh dan bangkit lagi.

“Bukkkk!” Tendangan kaki Giok Keng mengenai lambungnya dan dia terlempar. Giok Keng meloncat, mengejar dan memukulinya, menamparnya, menendangnya sampai Kun Liong babak belur dan matang biru seluruh muka, leher dan tubuhnya. Akan tetapi Kun Liong sama sekali tidak mau melawan, bahkan sambil menahan rasa nyeri dia bangkit lagi dan berdiri.

“Kaubunuhlah aku, Giok Keng… dan aku tidak akan melawan. Aku memang telah menghancurkan hidupmu, aku salah…”

“Pengecut! Keparat! Hayo kaulawan aku, mari kita selesaikan dengan taruhan nyawa. Engkau atau aku yang mampus di sini!”

Melihat Giok Keng menghunus pedang yang berkilauan seperti perak, Kun Liong mengangkat dadanya. “Bagus, kautusuklah. Aku sajalah yang mati untuk menebus dosaku terhadapmu, Giok Keng. Untuk apa hidup bagiku, hidup yang penuh dengan derita, duka dan dosa ini? Kautusuklah!”

“Kun Liong, hayo kaulawan aku…!” Giok Keng menjerit.

Kun Liong menggeleng kepala sambil tersenyum, dari ujung bibirnya mengalir sedikit darah. Mukanya matang biru oleh bekas tamparan dan pukulan Giok Keng. Melihat ini, Giok Keng menjadi makin penasaran.

“Kau… kau tidak melawan… kau… menyerahkan nyawa?”

Kun Liong mengangguk.

“Kalau begitu kau… mampuslah…!”

Giok Keng melangkah maju, mengangkat pedangnya. Kun Liong memandang dengan sikap tenang, sama sekali tidak gentar menghadapi kematian yang hanya akan membuat dia menyusul isterinya.

“Ouhhh…!” Pedang terlepas dari tangan Giok Keng dan wanita ini terkulai lemas, dan tentu sudah terjatuh kalau tidak cepat dipeluk oleh Kun Liong. Wanita itu pingsan lagi.

Kun Liong kembali merebahkan Giok Keng di atas rumput dan dia duduk sambil menutupi mukanya dengan kedua tangan. Dia tidak menyesal telah diperlakukan seperti itu oleh Giok Keng, bahkan agak lega hatinya bahwa setidaknya dia telah memberi kesempatan kepada Giok Keng untuk melampiaskan rasa dendam dan sakit hatinya, telah memberi kesempatan kepada wanita itu untuk menghukumnya. Dia akan menanti sampai Giok Keng sadar, dan kalau hendak dilanjutkan membunuhnya, dia akan bersedia tanpa melawan!

Karena batinya tertindih dan dia menutupi muka dengan kedua tangannya, Kun Liong tidak tahu bahwa Giok Keng sudah siuman dan membuka matanya. Wanita ini membuka matanya tanpa bersuara, kini memandang kepada Kun Liong dengan muka pucat dan mata sayu. Melihat muka yang bengkak-bengkak, pinggir bibir yang berdarah, teringatlah dia akan semua yang telah dilakukannya tadi. Dia setelah kini nafsu amarah yang membuatnya seperti buta tadi lenyap, terbukalah mata batinnya dan dia melihat jelas kini betapa dia telah berbuat keterlaluan! Teringat kini dia betapa Kun Liong telah menderita amat hebatnya, setelah kematian isterinya yang dibunuh oleh orang lain, kehilangan anak tunggalnya. Melihat Kun Liong yang telah dihajarnya habis-habisan tanpa melawan sedikitpun juga itu, bahkan yang menyerahkan nyawanya, kini duduk menjaganya dengan kedua tangem menutupi muka, tak terasa lagi kedua mata Giok Keng menjadi basah.

“Kun Liong…” dia berkata lirih, suaranya seperti orang merintih dan dia bangkit duduk.

Kun Liong terkejut, menurunkan kedua tangannya, memandang. Keduanya duduk saling berpandangan, dan dari pandang mata ini Kun Liong merasakan sesuatu yang membuat dia merasa jantungnya seperti disayat-sayat. Pandang mata Giok Keng penuh rasa iba, penuh rasa penyesalan, penuh permohonan maaf.

“Giok Keng…”

Keduanya saling berpegang tangan dan keduanya menangis sesenggukan.

“Kun Liong, kauampunkan aku…”

“Tidak, Giok Keng, tidak… kaulah yang harus mengampunkan aku…”

Giok keng menangis, mengguguk dan menyandarkan dahi di pundak suhengnya itu, sedangkan Kun Liong mengusap rambut kepala yang kusut itu. Hati mereka seperti diremas-remas rasanya.

Aku telah buta tadi… aku telah gila oleh kemarahan dan kedukaan… Kun Liong… mengapa justeru engkau… orang yang selamanya kukagumi, kupuja dalam hati… mengapa justeru engkau yang terlibat dalam malapetaka yang menimpa keluargaku? Ah, mengapa…?”

“Giok Keng, semenjak semula aku sudah tidak percaya. Aku mengenal siapa kau… engkau memang keras hati, akan tetapi di balik kekerasan hatimu kau berbudi mulia, engkau gagah perkasa dan adil. Tidak mungkin engkau memiliki kekejian membunuh Hong Ing, tapi… tapi mertuaku yang seperti gila karena duka… ah, suamimu menjadi korban dan… dan…”

“Sudahlah, Kun Liong. Sebenarnya akupun sudah menyadari bahwa semua peristiwa ini bukan karena kesalahan kita berdua, sungguhpun kuakui bahwa aku marah-marah kepada isterimu karena sikap adikmu. Aku… aku tahu betapa hebat penderitaanmu, Kun Liong, aku… aku menyesal sekali dan aku kasihan kepadamu…”

Kun Liong bangkit berdiri dan membalikkan tubuhnya, memejamkan mata.

“Kau… kasihan kepadaku? Jangan! Aku sudah merusak hidupmu. Akulah yang amat kasihan kepadamu, Giok Keng, maka aku rela menebus kesalahanku dengan nyawa sekalipun.”

Giok Keng juga meloncat berdiri, lari berputar menghadapi Kun Liong. Mereka berdiri saling pandang dengan mata basah. “Nasib kita mengapa begini buruk, Kun Liong? Mengapa kita berdua mengalami semua ini?”

Kun Liong tak mampu menjawab, hanya memegang kedua tangan wanita itu. Jari-jari tangan mereka saling genggam seolah-olah mereka hendak saling minta bantuan memikul penderitaan batin mereka. Melihat Giok Keng tersedu-sedu, air mata mengalir pula dari kedua mata Kun Liong.

Giok Keng mengangkat muka memandang wajah Kun Liong. Kedua pipinya bengkak dan mata kirinya membiru, ujung bibirnya pecah. Dengan tangan gemetar, Giok Keng menyentuh bengkak-bengkak itu. “Aku… ah, aku telah gila… kautentu tersiksa lahir batin oleh perbuatanku tadi…”

“Jangan ulangi lagi hal itu, Giok Keng. Malah merupakan obat penawar bagiku.”

“Kun Liong, aku bersumpah untuk mencari pembunuh Hong Ing sampai dapat, dan juga untuk mencari Mei Lan dan mengembalikan kepadamu.”

“Dan aku bersumpah untuk membasmi Lima Bayangan Dewa, dan mencari pembunuh mertuamu sampai dapat, dan mencari Lie Seng untuk kukembalikan kepadamu.”

Giok Keng tersedu dengan hati terharu, lalu tiba-tiba melepaskan tangannya dan berkata, “Kun Liong, sampai… sampai jumpa…” Dia lalu lari secepatnya meninggalkan tempat itu.

Kun Liong berdiri seperti patung di tempat itu, memandang sampai bayangan Giok Keng lenyap. Apa yang telah terjadi antara mereka? Dia bengong dan kedua tangannya masih tergetar, masih merasakan getaran jari-jari tangan Giok Keng tadi. Pipinya masih merasai sentuhan jari-jari tangan yang gemetar dari Giok Keng.

Apa yang terjadi antara mereka? Pertanyaan ini bertubi-tubi menghantam dinding kalbunya. Mengapa timbul keinginan hatinya untuk menghibur Giok Keng, untuk mengembalikan Giok Keng ke dalam kehidupan bahagia, untuk membela dan melindunginya? Mengapa dia merasa amat berkasihan kepada wanita itu, yang dia tahu mengalami kekosongan batin dan dia mengisi kekosongan itu? Mengapa pula dia seperti mengharapkan hiburan dari Giok Keng sehingga sentuhan jari tangan gemetar pada pipinya itu tadi menggores dalam-dalam di hatinya?

“Apakah aku sudah gila? Apakah dia sudah gila?” demikian Kun Liong berbisik-bisik sambil pergi meninggalkan hutan itu.

Tidak, para pembaca budiman. Kun Liong tidak gila. Giok Kengpun tidak gila. Dan pengarangpun tidak gila! Memang belas kasihan adalah getaran yang mendekatkan hati kepada cinta kasih. Di mana ada belas kasihan, berlarianlah iblis-iblis kemarahan, kebencian, iri hati dan lain-lain sehingga memungkinkan terujudnya cinta kasih. Dan hati yang penuh dengan cinta kasih, selalu ada belas kasihan. Keduanya itu tak terpisahkan.

***

“Koko, bagaimana engkau sampai dapat terbebas dari tangan Si Kelabang Terbang yang cabul itu? Siapakah sebetulnya wanita yang menolongmu itu?” Kwi Eng bertanya kepada kakaknya. Mereka bermalam di sebuah rumah penginapan di kota Yen-an, karena mereka belum berani pulang ke Yen-tai di mana mereka tentu dianggap pelarian dan pemberontak.

“Dia hebat sekali, Eng-moi. Seorang dewi, seorang bidadari yang cantik jelita dan gagah perkasa. Aihhhh… hebat sekali dia, adikku!”

Kwi Eng tersenyum. “Ihh, kau sudah bertekuk lutut kepadanya, kau jatuh cinta dan tergila-gila kepadanya, koko!”

Kwi Beng memandang kepada adiknya dengan mata terbelalak. “Begitukah? Ah, agaknya benar demikian. Siapa pula orangnya yang tidak jatuh cinta kepada seorang dara seperti dia? Sayang dia diliputi rahasia dan keanehan, dia tidak mau memperkenalkan diri dengan jelas, hanya mengaku bernama Hong. Akan tetapi bagiku, nama itu sudah cukup dan memang mengingatkan aku akan burung dewata itu, burung hong yang terbang melayang-layang di antara awan-awan di angkasa raya, sukar dicapai tangan…”

“Idiihhh… kalau orang jatuh cinta memang menjadi pengkhayal dan tiba-tiba saja menjadi ahli filsafat dan sajak!”

“Jangan main-main, adikku. Aku benar-behar jatuh cinta kepada Hong-moi dan aku akan mencari dia sampai dapat. Aku akan menceritakan kepada ayah dan ibu agar mereka suka mengerahkan segala daya upaya untuk menemukan Hong-moi dan melamarnya menjadi calon isteriku. Amboiii… betapa akan bahagianya hidup di samping burung dewata itu…”

“Hi-hik, dan engkau akan dibawanya terbang ke angkasa raya di antara gumpalan-gumpalan awan putih…” adiknya menggoda.

“Hush, jangan main-main. Aku serius. Dan kau sendiri kulihatpun tergila-gila kepada Bun Houw. Hayo kausangkal kalau berani!”

Tiba-tiba kedua pipi yang sudah kemerahan itu menjadi makin merah. Bukan karena godaan ini, melainkan karena dia teringat akan peristiwa asyik-masyuk dan mesra antara dia dan Bun Houw. Kwi Eng memejamkan matanya sehingga dua baris bulu matanya yang panjang lentik itu menjadi satu, membentuk bayang-bayang indah di atas pipi bawah matanya. Dia memejamkan mata dan mulutnya terenyum, mukanya terasa panas ketika dia membayangkan dan mengenangkan ciuman itu!

“Beng-koko, aku lebih baik mati saja kalau tidak bisa menjadi isterinya!”

Kwi Beng terkejut. Kiranya adiknya yang bengal inipun serius sekali! Hatinya menjadi terharu dan dia memegang tangan adiknya. “Moi-moi, aku doakan semoga akan terkabul cita-citamu dan menjadi isteri Cia Bun Houw yang gagah perkasa itu. Aku akan ikut merasa bangga kalau engkau bisa menjadi isterinya, moi-moi. Akan tetapi, seperti juga aku, apakah engkau tidak mengharap terlampau tinggi? Kita ini hanyalah peranakan-peranakan barat. Dan aku menjangkau burung hong di angkasa, sedangkan engkau menjangkau putera ketua Cin-ling-pai. Apakah kita tidak akan seperti si cebol merindukan bulan?”

Kwi Eng cemberut memandang kakaknya. “Koko, engkau telah terlalu merendahkan diri sendiri. Aku yakin bahwa Houw-koko cinta padaku.”

“Eh, bagaimana kau bisa tahu? Apakah karena dia telah menolong dan menyelamatkanmu? Adikku yang baik, seorang pendekar seperti dia, siapapun akan ditolongnya dan hal itu sama sekali bukanlah tanda jatuh cinta.”

“Engkau seorang laki-laki, tentu tidak tahu. Akan tetapi aku yakin akan cintanya, koko.” Kwi Eng tersenyum dan mengenangkan ciuman itu dengan mata bersinar-sinar.

“Begitukah? Syukurlah kalau begitu, adikku. Mudah-mudahan engkau berhasil. Andaikata aku gagal menjadi jodoh Hong-moi, akan tetapi melihat engkau bahagia, maka aku rela. Kebahagiaanmu lebih penting bagiku, adikku.”

Kwi Eng memeluk kakaknya. “Tidak, akupun tidak akan berbahagia kalau melihat engkau gagal, koko. Kita sehidup semati, senasib sependeritaan.”

Kwi Beng menarik napas panjang dan mengelus rambut kepala adiknya. Dia mengerti apa yang dirasakan oleh adiknya yang cantik itu, perasaan yang mungkin hanya terasa oleh mereka berdua, atau oleh orang-orang yang dilahirkan kembar, suatu getaran yang menghubungkan batin mereka berdua.

Beberapa hari kemudian, dengan girang kedua orang kakak beradik kembar ini mendengar akan kedatangan orang tua mereka di Yen-tai. Mereka cepat memasuki kota itu dan seperti biasa, terjadilah “jalan damai” yang sudah lajim terjadi di seluruh dunia ini, di mana ada manusia-manusia yang menyalahgunakan kekuasaannya. Yuan de Gama dan isterinya setelah mendengar urusan anak-anaknya, cepat menghubungi tikoan dan para pembesar setempat, menghaturkan maaf dan tentu saja bukan maaf melalui kata-kata dan sikap yang memegang peran penting, melainkan meaf yang dinyatakan dalam keadaan tertutup dan yang hanya dibuka setelah berada di dalam kamar para pembesar itu, dan setelah dibuka mereka itu masing-masing dengan wajah girang menghitung jumlah emas dan perak yang akan menambah perbendaharaan mereka.

Dari manakah timbulnya peristiwa-peristiwa penyuapan dan penyogokan yang telah menjalar di seluruh dunia ini? Suap dan sogok dalam bentuk apapun juga, bentuk harta benda, kedudukan, nama besar, wanita, kehormatan dan sebagainya terjadi di seluruh dunia dan agaknya telah ada semenjak sejarah berkembang. Semua ini terjadi karena manusia memegang kekuasaan dan karena manusia itu selalu memiliki kelemahan, yaitu menjadi hamba dari nafsu-nafsu keinginannya, maka manusia yang memegang kekuasaan melihat bahwa kekuasaannya itu merupakan alat yang amat berguna untuk mencapai apa yang diinginkannya! Dipergunakanlah kekuasaannya untuk memaksakan kehendaknya kepada orang lain, yaitu demi terlaksananya apa yang diinginkan dan dibutuhkannya. Padahal, selama manusia mengejar keinginan, maka tidak akan ada habisnya kebutuhan hidupnya. Dan untuk memenuhi ini, manusia tidak segan-segan melakukan apapun juga sehingga timbullah pencurian, perampokan, penipuan, pemerasan dan termasuk penyuapan dan pemogokan yang menjadi akibat dari pemerasan.

Oleh karena itu, segala tindak korup di dunia ini tidak akan dapat dihentikan oleh apapun juga selama manusia menjadi hamba dari nafsu-nafsu keinginannya sendiri. Selama manusia belum mengenal diri pribadi dan tidak sadar bahwa dirinyalah sumber segala kebusukan. Dunia akan menjadi sebuah tempat yang berbeda sekali apabila kita sudah tidak lagi dikejar atau mengejar kebutuhan! Sandang pangan dan tempat tinggal memang merupakan keperluan mutlak bagi manusia hidup, namun sayang, bukan yang tiga itulah sesungguhnya yang kita kejar-kejar, yang menjadi kebutuhan kita, melainkan kesenangan, kepuasan yang tidak ada ukurannya lagi akan besar dan banyaknya.

Maka bahagialah mereka yang TIDAK MEMBUTUHKAN APA-APA. Bukan berarti menolak dan memantang segala sesuatu, melainkan tidak mencari dan tidak akan mengejar. Kalau ada, boleh, kalau tidakpun tidak akan mengejar, karena pengejaran ini yang menimbulkan segala macam bentuk kejahatan di dunia.

Yuan de Gama dan isterinya, Souw Li Hwa, bukan orang-orang yang suka menyuap pembesar. Kiranya tidak ada orang, betapapun kayanya dia, yang suka membuang-buang uang untuk menyuap dan menyogok kanan kiri. Hal ini dilakukan dalam keadaan terpaksa, karena itu merupakan satu-satunya jalan untuk keluar dari kesulitan yang sengaja ditekankan oleh mereka yang memegang kedudukan.

Mendengar akan peristiwa anak-anak mereka yang membasmi sarang bajak laut musuh besar mereka Tokugawa, yang kemudian mengakibatkan kemarahan tikoan, maka Yuan de Gama cepat-cepat mengambil jalan damai itu, menggunakan kekayaan untuk menghabiskan persoalan yang tentu akan menjadi berlarut-larut kalau dilawan dengan kekerasan.

Lain kali, kalau ayah dan ibu tidak berada di rumah, kalian jangan bertindak ceroboh dan menanti saja sampai kami pulang,” Yuan de Game menegur kedua orang anaknya setelah dia berhasil membereskan urusan itu dengan emas dan perak.

“Ayah, kalau kakak diculik gerombolan Tokugawa, masa aku harus tinggal diam saja?” Kwi Eng membantah ayahnya.

“Anak-anak kita tidak bersalah,” kata Li Hwa dengan sabar kepada suaminya. “Agaknya engkau lupa bahwa kita bukan tinggal di barat, di mana petugas hukum lebih baik daripada di sini, suamiku. Seolah-olah engkau sudah lupa saja akan semua pengalaman kita dahulu.”

Yuan de Gama memegang tangan isterinya penuh kasih sayang. “Engkau seorang pendekar wanita, isteriku sayang, tentu saja pandanganmu selalu demikian, yaitu menggunakan kekerasan menghadapi kejahatan. Ahh, kalau saja aku tidak kasihan kepadamu yang tidak betah tinggal di barat, tentu akan kuboyong semua keluarga kita ke sana.”

“Kalau ayah ingin tinggal di barat, biar kami berdua tinggal di sini saja!” Kwi Eng tiba-tiba berkata dengan sikap manja? “Kami lahir di sini dan mencintai tanah ini, dan kami bahkan telah bertemu dengan para pendekar yang amat mengagumkan hati kami.”

Yuan de Gama tertawa. Dia paling sayang kepada anaknya yang perempuan ini, yang selalu dimanjanya karena anak itu mirip sekali dengan isterinya. “Ha-ha-ha, darah ibumu lebih kuat mengalir di tubuhmu daripada darahku, Maria. Tentu saja engkau cinta negara dan bangsa ini.”

Akan tetapi Souw Li Hwa memandang kedua orang anaknya itu penuh perhatian, lalu bertanya, “Bertemu dengan pendekar-pendekar? Siapa mereka dan di mana?”

“Kami belum menceritakan pengalaman-pengalaman kami yang amat hebat kepada ibu dan ayah,” jawab Kwi Beng. “Sesungguhnya ketika ayah dan ibu pergi, kami berdua telah mengalami hal-hal yang amat luar biasa…”

“Keributan di Pulau Hiu melawan anak buah Tokugawa itu?” tanya Yuan de Gama, diam-diam merasa girang dan kagum bahwa kedua orang anaknya itu mewarisi keberanian dan kepandaian ibu mereka.

“Ahhh, itu sih pengalaman kecil tidak berarti!” kata Kwi Eng.

“Akan tetapi dalam pertempuran kami melawan anak buah Tokugawa, kami sudah bertemu dengan seorang pendekar yang mengenal baik nama ibu. Dia adalah Tio-twako, yang bernama Tio Sun dan tahukah ibu siapa dia? Dia adalah putera tunggal dari seorang bekas pengawal yang setia dari suhu ibu…” kata Kwi Beng.

“Ah, putera Ban-kin-kwi?” Souw L Hwa bertanya, segera dapat menduga setelah mendengar she orang itu.

“Benar, dia amat lihai dan tanpa bantuan dia, sukar bagiku untuk menolong Beng-koko. Mula-mula aku yang bertemu dengan Tio-twako, ibu.” Dan Kwi Eng lalu menceritakan pertemuannya dengan Tio Sun ketika pemuda perkasa ini dikeroyok oleh orang-orang mabok dan dia yang sedang kebingungan karena kakaknya diculik Tokugawa, melihat kelihaian Tio Sun lalu belajar kenal dan minta bantuannya.

Girang sekali hati Souw Li Hwa mendengar betapa putera dari bekas pengawal suhunya itu telah menolong menyelamatkan puteranya. “Di mana dia sekarang, mengapa tidak kalian tahan supaya bertemu dengan kami di sini?”

“Dia sudah pergi, ibu, bersama para pendekar yang lain. Ibu den ayah tentu terkejut sekali mendengar pengalaman kami selanjutnya,” kata Kwi Beng.

“Beng-koko, biar aku yang bercerita kepada ibu!” Kwi Eng memotong kata-kata kakaknya. Kwi Beng tersenyum dan menggerakkan pundaknya, kebiasaan yang merupakan ciri khas dari ayahnya!

“Pertama-tama ibu dan ayah berdua agar jangan kaget. Kami berdua telah bertemu dengan putera ketua Cin-ling-pai yang bernama Cia Bun Houw!”

“Aihhh…!” Souw Li Hwa terkejut dan Yuan de Gama juga tercengang karena tidak menyangka bahwa anak-anaknya akan berjumpa dengan putera Pendekar Sakti Cia Keng Hong.

“Juga dengan seorang pendekar wanita yang kepandaiannya seperti dewi kahyangan, namanya nona Hong. Sayang kami tidak tahu siapa nama lengkapnya dan murid siapa dia itu.” Kwi Bang yang sudah tidak sabar itu segera memperkenalkan dara yang menjadi pujaan hatinya.

“Dan selain putera ketua Cin-ling-pai, juga kami bertemu dengan puterinya…”

“Apa? Cia Giok Keng?” Souw Li Hwa bertanya dan Kwi Eng mengangguk.

“Aihh, singa betina itu masih muncul di dunia kang-ouw?” Yuan de Gama juga bertanya dengan kagum.

“Masih ada lagi, ibu,” Kwi Eng berkata lagi, gembira menyaksikan betapa ayah dan ibunya dilanda kekagetan yang bertubi-tubi, “dan ibu pasti tidak dapat menduga siapa dia.”

Suami isteri itu bengong terlongong mendengar semua cerita itu, kadang-kadang menahan napas kalau mendengar bagian-bagian yang menegangkan, apalagi ketika mendengar betapa nyaris puteri mereka diperkosa oleh Toat-beng-kauw Bu Sit. Setelah ada kesempatan bicara, Yuan de Game tertawa. “Ha-ha-ha, ternyata kalian berdua adalah petualang-petualang seperti juga ibu kalian!”

“Aihh, apakah bapaknya juga bukan seorang petualang besar? Kalau bukan, masa jauh-jauh dari begian dunia lain di barat datang ke sini dan menikah dengan seorang wanita pribumi?” Souw Li Hwa mencela suaminya dan Yuan de Gama hanya tertawa.

“Ibu, Eng-moi jatuh cinta kepada penolongnya, kepada Cia Bun Houw!” tiba-tiba Kwi Beng berkata.

Sebelum ayah dan ibu itu hilang kagetnya, Kwi Eng juga sudah membalas kakaknya, “Dan Beng-koko tergila-gila kepada burung… eh, nona Hong yang menyelamatkannya dari Hui-giakang Ciok Lee Kim!”

“Eng-moi bilang lebih baik mati kalau tidak menjadi isteri Cia Bun Houw!” Kwi Beng kembali membalas.

“Dan Beng-ko bersumpah untuk mencari nona Hong yang seperti dewi itu!” Kwi Eng membalas.

Ayah dan ibu itu saling pandang dan Souw Li Hwa mendengar suaminya menarik napas panjang. “Aha…! Sampai lupa aku bahwa anak-anakku telah menjadi dewasa!”

“Engkau sih hanya ingat berdagang saja!” Souw Li Hwa mencela. Kemudian, dia memandang kedua orang anaknya dan berkata, “Beng-ji dan Eng-ji, jangan kalian main-main dengan urusan cinta. Hati yang muda memang mudah sekali tergelincir dan tertarik akan yang indah-indah. Jangan lantas menentukan bahwa kalian jatuh cinta kalau kalian hanya tertarik oleh seseorang karena kegagahan dan keelokan wajahnya.”

“Tidak, ibu. Aku dan dia… Houw-koko itu, kami… sudah saling mencinta. Dan… aku diselamatkan olehnya dalam keadaan seperti itu, ibu. Aku telah bersumpah bahwa hanya ada dua pria saja yang melihatku dalam keadaan seperti itu, yang pertama adalah iblis yang telah mampus itu, dan kedua adalah calon suamiku.”

“Dan bagiku juga tidak ada wanita seperti dia, ibu. Aku harus berjodoh dengan dia, kalau tidak… hidupku tentu akan merana.” Kwi Beng juga berkata.

Souw Li Hwa mengerutkan alisnya dan memandang kepada suaminya dengan sinar mata marah. Melihat ini, Yuan de Gama yang amat mencinta isterinya lalu tersenyum dan berkelakar, “Nah, nah, kenapa marah-marah kepadaku? Mereka sudah dewasa dan jatuh cinta, apa salahnya?”

“Apa salahnya? Inilah akibat perbuatanmu, tahu!”

“Eh, eh! Kok jadi aku yang kausalahkan, isteriku yang manis?”

“Yuan de Gama, ini adalah gara-gara engkau mengajarkan Bahasa Portugis kepada mereka, lalu kausuruh mereka baca buku-buku roman itu!”

“Aihhhh…! Cinta kasih mana bisa dipelajari dari buku? Kalau memang tidak ada rasa di hati, masa mereka begitu mati-matian?”

“Sudahlah, kita harus urus hal ini. Anak-anak kita baru saja berkenalan dengan mereka dan dengan dunia kang-ouw. Anak-anak kita belum berpengalaman. Aku akan mengajak mereka pergi berkunjung ke Cin-ling-pai. Pertama untuk memberi hormat kepada Cia-taihiap dan keluarganya, kedua untuk mempererat hubungan. Setelah ada ikatan hubungan persahabatan, baru kita boleh pikir-pikir tentang hubungan perjodohan itu.”

“Kita ke Cin-ling-pai, ibu? Horaaaayyyyy…!” Kwi Eng sudah girang sekali dan berloncatan, akan tetapi meringis karena kaki kirinya belum sembuh sama sekali dan dia terpincang-pincang duduk kembali di atas kursinya.

“Dan kita selidiki tentang nona Hong itu,” kata pula Kwi Beng dan ibunya mengangguk.

“Memang sebaiknya begitu, pula, engkau sudah terlalu lama terkurung di sampingku, isteriku sayang. Padahal dahulu engkau adalah seorang pendekar wanita yang biasa terbang bebas. Biarlah kau kukeluarkan dari kurungan untuk sementara, bersama anak-anakmu. Dengan kau di samping mereka, hatiku takkan merasa gelisah. Aku akan menjaga rumah di sini mengurus pekerjaan.”

“Dagang lagi…!” isterinya mencela.

“Bukan hanya itu! Kalau aku pergi ke pedalaman, tentu hanya akan menimbulkan hal-hal yang tidak baik dan tidak enak saja. Engkau tentu mengerti akan hal ini, isteriku yang tercinta. Ataukah, engkau tidak bisa berpisah dariku, padahal baru saja kita melakukan perjalanan bulan madu kedua sampai berbulan-bulan ke barat?” Yuan de Gama memeluk dan mencium isterinya di depan anak-anaknya karena hal ini memang biasa bagi mereka.

“Phuahhh…! Siapa yang tidak dapat berpisah?” Li Hwa mencela akan tetapi setelah membalas ciuman suaminya itu. Kedua orang anaknya tertawa, sudah biasa mereka menyaksikan ayah dan ibu mereka itu bergurau, bercinta, dan kadang-kadang pura-pura bereckcok, padahal semua itu hanya sebagai tanda kasih sayang satu sama lain.

Ibu dan dua orang anaknya itu lalu bersiap-siap. Mereka akan menanti sampai kaki kiri Kwi Eng sembuh sama sekali, baru akan melakukan perjalanan. Sebagai keluarga kaya, mereka akan melakukan perjalanan dengan berkuda, karena ketiganya pandai menunggang kuda dan tentu saja mereka akan membawa bekal secukupnya, karena perjalanan dari Yen-tai ke Cin-ling-san bukan merupakan perjalanan yang dekat.

Daya tarik yang saling mempengaruhi pria den wanita adalah suatu kewajaran dan pembawaan dalam diri manusia, seperti terdapat pada mahluk apapun di permukaan bumi ini. Daya tarik ini menimbulkan rasa suka, rasa cinta antara pria den wanita, membuat masing-masing ingin saling mendekati, saling sentuh, saling belai den saling berkasih mesra, sedekat mungkin sehingga menimbulkan keinginan untuk bersatu badan dan hati. Hal ini sudah wajar, sudah benar, dan sudah merupakan sifat alamiah yang ada pada diri manusia.

Hubungan kelamin seperti yang lajimnya dikenal dengan sebutan sex bukanlah hal yang kotor, bukanlah suatu hal yang menjijikkan atau memalukan. Sebaliknya malah, sex merupakan hal yang amat indah, yang suci, asalkan timbul dari naluri yang wajar, timbul dari gairah yang memang ada dalam diri manusia, timbul dari rasa cinta antara pria dan wanita karena daya tarik alamiah itu. Hubungan sex adalah suatu hal yang terhormat, suatu kenikmatan hidup yang patut dan layak dialami oleh setiap orang manusia, asal saja dilakukan dengan wajar dan dengan mata terbuka, dengan penuh kesadaran dan BUKAN DALAM KEADAAN DIMABOK NAFSU sehingga menjadi perbuatan membuta den menjadi hamba daripada nafsu berahi belaka. Kalau sudab begini, maka berobahlah sifatnya hubungan kelamin, menjadi kotor den najis, menjadi sumber dari kenikmatan palsu yang membawa kepada jurang kedukaan den kesengsaraan lahir batin.

Kenikmatan hubungan kelamin adalah suatu kurnia hidup, suatu keindahan hihup, merupakan bagian dari kehidupan dan cinta kasih, tidak terpisah-pisah. Sex bukanlah yang mutlak terpenting dalam hidup, bukan pula hal yang diremehkan. Akan tetapi, seperti segala sesuatu dalam hidup, apabila sex sudah merupakan suatu kebutuhan yang dicari-cari, yang dikejar-kejar, maka hal itu akan hanya membawa kita ke dalam jurang kesesatan langkah yang akhirnya akan menghancurkan kita sendiri. Sia-sia belaka mereka yang mencari kesucian dengan menjauhi dan menganggap hubungan sex sebagai suatu pantangan, lalu bertapa, atau menyendiri, akan tetapi di dalam hatinya tersiksa karena digerogoti oleh nafsunya sendiri! Nafsu apapun bukan harus dipantang, bukan harus ditekan, melainkan semestinya dipandang, dimengerti! Bagaikan api, nafsu bukan harus ditutup karena api itu tidak akan padam, seperti api dalam sekam yang sewaktu-waktu akan membakar pula. Api nafsu itu semestinya dipandang dan dari pandangan ini timbul kewaspadaan, timbul kesadaran, dan api itu akan menjadi nikmat dan manfaat hidup, bukan merusak.

Hubungan kelamin yang merupakan sesuatu yang amat indah dan murni, di mana manusia kehilangan akunya, akan berobah menjadi nafsu berahi yang membakar dan memperbudak jika pengalaman ini disimpan di dalam ingatan! Dengan mengingat-ingat, mengenangkan kenikmatan dalam hubungan atau pengalaman itu, timbullah nafsu berahi yang mendesak dan menggelora batin, yang membuat kita menjadi hambanya dan mulailah kita mengejar dan mencari, ingin mengalami lagi kenikmatan itu dan dengan demikian, kenikmatan ini menjadi satu di antara kepentingan-kepentingan hidup yang dikejar-kejar untuk didapatkan, maka mulailah pula langkah-langkah sesat kita ambil demi untuk memperolehnya!

Maka sudah jelaslah bahwa hubungan kelamin baru benar apabila dilakukan oleh sepasang manusia yang saling mencinta sebagai puncak daripada kasih mesra yang saling ditujukan sebagai tanda bersatunya badan dan hati. Apabila hubungan ini dilakukan oleh sepasang manusia tanpa dasar cinta kasih, maka itu hanyalah dorongan nafsu berahi belaka dan tidak dapat dihindarkan lagi tentu akan mengakibatkan duka dan kesengsaraan, penyesalan dan kekecewaan.

Di manapun, bilamanapun, siapapun dapat saja mengalami hal-hal yang berhubungan dengan asmara antara pria dan wanita, dan siapapun juga yang belum sadar akan diri sendiri, belum mengenal diri pribadi dan segala kelemahannya, betapapun cintanya dia, betapapun terpelajarnya dia dapat saja menjadi korban yang amat lemah dari cengkeraman nafsu berahi.

Gadis yang cantik manis dan masih muda belia itu menangis seorang diri di bawah sebatang pohon besar, terlindung dari perkampungan oleh serumpun bambu kuning yang tumbuh dengan suburnya dan sedikitnya mempunyai kelompok yang terdiri dari dua puluh batang lebih. Angin Pegunungan Cin-ling-san bertiup lembut, namun cukup menggerak-gerakkan daun-daun bambu yang lincah sehingga menimbulkan desau dan desah gemersik daun yang resah, seresah hati dan pikiran dara muda belia yang menangis lirih itu. Biarpun suara tangisnya lirih, namun guncangan pundaknya yang keras menandakan bahwa tangisnya keluar dari hati yang sedang remuk.

Gadis ini adalah Yalima, gadis Tibet yang kini tinggal di Cin-ling-san, yang oleh In Hong ditinggalkan di Cin-ling-pai karena menurut In Hong, Yalima harus dijodohkan dengan Cia Bun Houw karena menurut pengakuan Yalima, pemuda putera Cin-ling-pai itu adalah pacar gadis Tibet itu.

Biarpun ketua Cin-ling-pai, yaitu Cia Keng Hong, bersikap cukup manis biarpun jarang bicara terhadap gadis Tibet ini, dan biarpun dia diperlakukan dengan sikap yang cukup ramah dan dihormati oleh para pelayan dan anak murid Cin-ling-pai karena dia dianggap sebagai seorang “sahabat baik” dari Cia Bun Houw, namun Yalima merasa tidak betah tinggal di situ. Hal ini terutama sekali karena dia merasa benar bahwa sesungguhnya dirinya tidak disuka di tempat itu, dan kadang-kadang rasa tidak suka ini tercermin keluar dari wajah nyonya ketua atau ibu Bun Houw!

Memang sebenarnya demikianlah. Di dalam hati kecil Sie Biauw Eng, nenek yang menjadi isteri ketua Cin-ling-pai itu, terdapat rasa tidak puas mendengar bahwa puteranya berpacaran dengan Yalima, bahwa puteranya ingin memperisteri gadis Tibet yang bodoh, lemah dan buta huruf itu. Sungguh tidak sesuai menjadi isteri puteranya, menjadi mantunya! Nenek perkasa ini memang maklum bahwa pendapatnya yang demikian itu adalah tidak benar sama sekali, bahwa perjodohan adalah berdasarkan suka sama suka, bardasarkan kasih sayang, dan segala macam kedudukan, kepandaian dan harta kekayaan sama sekali tidak ada hubungannya dengan itu. Namun, sebagai seorang wanita, sukar baginya untuk merelakan puteranya yang dianggapnya paling tampan, paling lihai dan paling hebat itu berjodoh dengan seorang gadis dusun Suku Bangsa Tibet yang pada waktu itu dalam pandangan umum merupakan bangsa setengah biadab!

Yalima menangis, di dalam hatinya dia mengeluh dan mengadukan nasibnya kepada para dewa yang dipujanya, para dewa yang tinggal di puncak-puncak Pcgunungan Himalaya, yang tahu akan segala derita manusia dan yang bertugas mengatur nasib manusia! Diam-dam dia menyesali dirinya sendiri yang lemah, yang telah tergelincir sehingga kini dia menghadapo malapetaka, menghadapi aib dan mungkin sekali akan menerima kemarahan hebat dari ketua Cin-ling-pai dan isterinya! Semua yang dialaminya selama dia tinggal di Cin-ling-san empat lima bulan lamanya, teringat dengan jelas menjadi bayang-bayang di antara linangan air matanya.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: