Dewi Maut (Jilid ke-39)

Mula-mula terjadi kurang lebih dua bulan yang lalu. Dia telah tinggal hampir tiga bulan di Cin-ling-san dan setiap hari dia merindukan Bun Houw dan menanti-nanti kembalinya pemuda yang dikaguminya itu. Akan tetapi yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang dan sikap ibu pemuda itu terhadap dirinya dirasakannya kurang manis, bahkan kadang-kadang dia menerima omelan kalau dia kurang rajin membantu para pelayan. Mulailah dia membayangkan betapa akan susah hatinya kalau kelak dia sudah menjadi isteri Bun Houw, menjadi mantu dari nyonya tua yang agaknya tidak suka kepadanya itu! Sebagai mertua, tentu nyonya itu akan lebih galak lagi sikapnya! Teringat dia akan cerita-cerita rakyat bangsanya tentang nasib mantu-mantu yang tidak disuka mertuanya, diperlakukan lebih rendah dan lebih kejam daripada budak belian! Mulailah dia merasa bimbang hati, dan mulailah terasa olehnya betapa jauh perbedaan tingkat antara dia dan Bun Houw. Dahulu, di waktu Bun Houw masih ikut dengan gurunya, Kok Beng Lama seorang pendeta yang hidup sederhana, perbedaan ini tidak nampak benar. Akan tetapi sekarang, di rumah ketua Cin-ling-pai, melihat betapa keluarga Bun Houw adalah keluarga pendekar dan ketua perkumpulan yang begitu dihormat oleh para anak murid dan pelayan, melihat betapa para pelayan perempuan di rumah itupun rata-rata memiliki kepandaian silat dan pandai pula membaca, mulailah dia melihat betapa rendah kedudukannya dibandingkan dengan Bun Houw.

Demikianlah, dua bulan yang lalu ketika dia mendapat marah dari nyonya ketua karena kebodohannya ketika diajar menulis membaca oleh seorang pelayan. Yalima lari ke tempat sunyi di balik rumpun bambu kuning ini dan menangis dengan amat sedihnya. Dia rindu akan kampung halaman, rindu kepada ayah bundanya, akan tetapi mana mungkin dia pulang ke Tibet? Andaikata dia nekat pulang juga, tidak urung akan dihajar oleh ayahnya dan dipaksa menjadi selir seorang bangsawan tua, menjadi semacam barang permainan, disayang sewaktu masih baru dan ditendang serta disia-siakan kalau sudah bosan!

Selagi dia menangis sedih itu, tiba-tiba terdengar teguran halus, “Yalima, mengapa engkau menangis seorang diri di sini?”

Yalima terkejut, akan tetapi ketika dia mengangkat muka memandang dan mengenal bahwa yang menegurnya itu adalah Kwee Tiong, pemuda yang selalu bersikap baik dan halus kepadanya, dia menunduk lagi dan menangis makin sedih, seolah-olah datang seorang sahabat baiknya yang berbela sungkawa atas nasibnya.

Kwee Tiong segera berlutut di dekat dara itu. Semenjak Yalima tinggal di situ pemuda ini memang sudah terpikat dan tergila-gila, menganggap bahwa dara itu memiliki kecantikan yang amat luar biasa, kecantikan yang khas dan aneh namun yang amat menarik hatinya. Diam-diam Kwee Tiong juga menganggap bahwa dara Tibet itu, yang jelas merupakan seorang gadis dusun, tidak pantas menjadi isteri Cia Bun Houw, putera seorang ketua Cin-ling-pai yang terkenal. Bun Houw pantasnya berjodoh dengan seorang puteri istana atau setidaknya seorang puteri bangsawan, hartawan atau puteri seorang pendekar lain. Dan Yalima, bunga dusun yang segar dan murni itu, lebih pantas menjadi jodohnya! Kwee Tiong adalah putera tunggal dari mendiang Kwee Kin Ta, telah berusia dua puluh lima tahun dan belum menikah. Pemuda ini tidak terlalu tampan, juga tidak buruk, sedang saja akan tetapi seperti rata-rata pemuda Cin-ling-pai, dia memiliki sifat-sifat kegagahan.

“Yalima, apakah yang menyusahkan hatimu? Percayalah, aku akan suka menolongmu, Yalima.”

Mendengar suara yang begitu halus dan penuh getaran, Yalima mengangkat muka memandang, menghapus air matanya dan dia menggeleng kepala. “Tidak ada apa-apa, kongcu (tuan muda)… aku hanya… hanya tidak kerasan di sini… dan aku rindu kampung halamanku…”

“Ahh, jangan menyebut aku kongcu. Engkau tahu bahwa aku hanyalah anak murid di sini, dan mendiang ayahku dahulupun hanya murid dan juga pelayan. Aku orang biasa seperti juga engkau, Yalima. Kau tahu namaku Kwee Tiong dan kausebut saja kakak kepadaku.”

“Terima kasih, Kwee-koko.” Mendengar kata-kata yang halus dan sikap yang ramah ini sudah agak terobatilah rasa hati Yalima dan dia kini dapat tersenyum sedikit sungguhpun kedua pipinya masih basah air mata. Melihat wajah yang demikian cantiknya, pipi yang basah itu kemerahan, mata yang lebar dan jeli itu seperti mata seekor kelinci ketakutan minta perlindungan, mulut yang kecil itu dengan bibir penuh kemerahan seperti buah ang-co kemerahan yang sudah masak dan berkulit tipis sekali sehingga agaknya kalau tergigit sedikit saja tentu akan pecah dan mengeluarkan cairan yang manis, jantung Kwee Tiong berdebar keras dan hatinya dipenuhi keharuan yang mendalam. Dikeluarkannya saputangannya, dan dengan gerakan halus penuh kasih sayang diusapnya kedua pipi yang basah air mata itu, kemudian saputangan itu dia berikan kepada Yalima sambil tersenyum berkata, “Nih, kaukeringkanlah mata dan hidungmu.”

Yalima terbelalak, memandang dengan hati penuh rasa syukur dan keharuan, sehingga air matanya kembali bercucuran. Dia menerima saputangan itu, menyusuti air matanya dari kedua pipinya, menyusut hidungnya sampai saputangan itu menjadi basah semua! Dia akan mengembalikan saputangan itu, akan tetapi ketika Kwee Tiong menerimanya, dia menarik kembali saputangan itu sambil berkata, “Akan kucuci lebih dulu, kongcu… eh, koko, besok setelah bersih kukembalikan.”

“Tidak usah…” Kwee Tiong menarik saputangannya akan tetapi dipertahankan oleh Yalima.

“Saputanganmu kotor, koko…”

“Tidak, sebaliknya malah. Aku ingin menyimpannya bersama… bekas air matamu, Yalima.”

Merah seluruh muka dara itu dan dengan tangan gemetar dia melepaskan saputangannya. Dengan mata terbelalak keheranan dia melihat Kwee Tiong mencium saputangan basah itu sebelum menyimpannya di dalam saku bajunya.

“Kwee… koko… mengapa kaulakukan itu…?” Yalima bertanya, hatinya tergetar keras.

“Mengapa? Karena… karena aku cinta padamu, Yalima. Engkau cantik seperti bidadari, engkau segar seperti bunga di puncak gunung, wajah seperti daun bambu kuning itu, dan engkau… sendirian dan patut dilindungi mati-matian.”

“Kwee-koko…! Apa artinya ini?” Yalima masih memandang terbelalak, terkejut bukan main karena sungguh tak disangkanya bahwa pemuda yang dikiranya hanya baik dan kasihan kepadanya itu ternyata mencintanya sedemikian rupa!

“Artinya? Aku cinta padamu dan aku akan melindungimu dengan taruhan nyawaku. Akan tetapi… ah, engkau… engkau adalah calon jodoh Cia-kongcu…” Kwee Tiong membalikkan tubuhnya memandang ke lain jurusan, suaranya tergetar penuh kedukaan.

Wanita juga adalah seorang manusia biasa, dari darah dan daging, dengan hati dan perasaan yang amat lemah dan halus. Wanita selalu haus akan kasih sayang orang lain, terutama kasih sayang pria. Telah lama sekali, semenjak berpisah dari Bun Houw, Yalima mengalami banyak kesengsaraan dan rasa rindunya terhadap Bun Houw tak pernah terobati karena selama itu dia tidak pernah bertemu dengan Bun Houw.

Dahulu, di waktu dia masih berada di Tibet, Yalima bertemu dengan Bun Houw dan tentu saja dia tertarik sekali, bukan hanya karena Bun Houw amat tampan, akan tetapi karena di perkampungannya, dia melihat pemuda-pemuda Tibet tidak ada yang segagah Bun Houw. Pemuda-pemuda sekampungnya adalah orang-orang pegunungan yang sederhana, tidak pandai berlagak, maka tentu saja Bun Houw kelihatan menonjol dan sekaligus memikat hatinya. Kini, di Cin-ling-pai, dia melihat banyak sekali pemuda perkasa, biarpun tidak mudah mencari seorang pemuda seperti Bun Houw, namun dibandingkan dengan para pemuda di Pegunungan Tibet, para pemuda Cin-ling-pai merupakan pemuda-pemuda yang jauh lebih unggul dalam segala-galanya!

Sejak sejarah berkembang sampai kini, hati wanita memang amat lemah terhadap sikap manis dan bujuk rayu pria. Memang sudah menjadi naluri wanita dan segala jenis mahluk betina untuk memancing perhatian dan pujian dari lawan jenisnya, untuk memperkuat daya tariknya terhadap golongan jantan dan akan banggalah hatinya kalau golongan jantan terpikat oleh kecantikannya.

Wanita haus akan pujian pria, hal ini wajar sungguhpun kaum wanita suka menyembunyikannya, bahkan kadang-kadang berdalih marah-marah kalau dipuji, sungguhpun di dalam hatinyat pujian dari mulut dan pandang mata pria merupakan peristiwa yang paling mengesankan di dalam hatinya. Yalimapun demikian pula. Apalagi dia, seorang dara remaja yang sedang dewasa, bagaikan bunga sedang mekar semerbak, mempunyai daya tarik yang tersembunyi di dalam keindahannya, warnanya dan keharumannya agar menarik datangnya kumbang jantan. Yalima sedang kesepian dan rindu akan rayuan dan pujian Bun Houw yang tidak pernah datang, apalagi pada saat itu dia sedang merasa sengsara hatinya karena merasa tidak disuka. Padahal, tidak disuka ini merupakan kedukaan paling hebat bagi wanita. Tidak disuka berarti tidak dibutuhkan, padahal wanita haus akan perasaan dibutuhkan ini, apalagi dibutuhkan oleh pria, dibutuhkan oleh anak-anaknya. Dalam keadaan “kosong” seperti itu, muncullah Kwee Tiong dalam hidupnya, tentu saja merupakan embun pagi bagi setangkai bunga yang kekeringan, merupakan curahan hujan bagi pohon yang kehausan!

Mula-mula hubungan mereka hanya sebagai sahabat yang akrab dan karib sekali. Yalima mulai bergembira hatinya karena Kwee Tiong pandai menghiburnya. Dengan usianya yang sudah dua puluh lima tahun, sudah cukup dewasa dan matang, Kwee Tiong bahkan lebih pandai merayu dibandingkan dengan Bun Houw yang masih hijau. Dan Kwee Tiong betul-betul jatuh cinta kepada Yalima sehingga akhirnya runtuhlah pertahanan Yalima, runtuhlah sisa-sisa kesetiaannya terhadap Bun Houw yang hendak dipertahankannya. Hal ini bukan berarti bahwa Yalima adalah seorang wanita yang tidak setia, melainkan karena jalinan cintanya dengan Bun Houw masih belum kuat benar, atau yang lebih terkenal dinamakan cinta monyet, atau cinta muda-mudi yang masih mentah dan yang hanya sekedar tertarik oleh lahir belaka, belum mendalam sampai ke batin sehingga mudah luntur! Sebaliknya, getaran sayang Kwee Tiong terasa oleh Yalima, menjatuhkannya dan bujukan-bujukan Kwee Tiong membuat Yalima gadis dusun itu menjadi mabok kepayang. Kwee Tiong maklum akan bahayanya hal ini. Dia jatuh cinta kepada pacar Cia Bun Houw! Akan tetapi, karena cintanya memang bukan hanya cinta berahi belaka, dia berani menghadapi segala akibatnya, bahkan dia lalu membujuk dan merayu Yalima sehingga Yalima akhirnya runtuh dan menyerahkan dirinya dengan suka rela dan dengan gairah yang menggelora. Terjadilah hubungan badan di antara kedua orang muda itu! Hal ini disengaja oleh Kwee Tiong karena dia maklum bahwa hanya inilah satu-satunya jalan agar Yalima menjadi isterinya!

Kwee Tiong lupa bahwa jalan menuruti nafsu adalah jalan yang tak mengenal mundur lagi. Sekali melangkah, harus dilanjutkan dengan langkah-langkah lain, karena nafsu berahi adalah seperti api yang membakar dan terus menjalar makin membesar. Sekali dituruti secara membuta, akan makin menggelora. Demikian pula halnya dengan Kwee Tiong dan Yalima. Hubungan pertama kali yang hanya disaksikan oleh tumbuh-tumbuhan, terutama oleh rumpun bambu kuning membuat pertahanan mereka bobol dan hubungan itu dilanjutkan terus-menerus setiap kali ada kesempatan. Hanya rumpun bambu kuning itulah yang menjadi saksi betapa mesranya keadaan mereka, betapa mereka telah lupa diri, lupa keadaan dan kehilangan pertimbangen, kehilangan kesadaran, hanya memejamkan mata menulikan telinga menurut nafsu berahi yang membakar dan yang memperhamba mereka berdua.

Dan pagi hari itu, Yalima menangis seorang diri di dekat rumpun bambu kuning! Setelah dua bulan mereka melakukan hubungan gelap seperti itu, kini terasalah suatu kelainan pada dirinya. Naluri kewanitaannya memberi tahu kepada dara yang bodoh ini akan perobahan itu dan pagi hari itu, sambil menanti munculnya kekasihnya, ia menangis lirih namun hatinya seperti disayat-sayat rasanya. Dia telah mengandung!

Betapa banyaknya di dunia ini terjadi peristiwa seperti yang dialami oleh Yalima. Betapa banyaknya gadis-gadis di dunia ini yang terbujuk oleh nafsu berahi, mengadakan hubungan kelamin di luar pernikahan dan mengandung! Lebih celaka lagi, betapa banyaknya akibat-akibat yang amat mengerikan dan hebat terjadi sebagai lanjutan dari peristiwa ini. Bunuh diri, pengguguran, pembunuhan dan sebagainya! Betapa lemah dan piciknya manusia!

Salahkah Yalima dan gadis-gadis seperti dia itu? Berdosakah mereka? Siapakah yang bersalah kalau terjadi hal seperi itu? Si gadiskah? Si pemudakah? Atau keadaan? Pergaulan? Pendidikan?

Tidak ada gunanya menyalahkan siapapun juga, karena kalau diusut, semuanya salah! Memang kehidupan manusia, cara hidup manusia seperti yang kita hayati selama ribuan tahun ini salah dan palsu adanya! Kita hidup seperti mesin, kita hidup seperti alat-alat mati, kita hidup hanya menurut garis-garis yang telah ditentukan oleh manusia-manusia lain, manusia-manusia terdahulu yang merupakan tradisi, ketahyulan, hukum-hukum yang mati dan kaku. Kita hidup dituntun, dibimbing, dikurung dan dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan contoh-contoh dan pola-pola yang telah dibangun oleh “peradaban” sejak ribuan tahun. Peradaban yang sesungguhnya tidak beradab! Segala sesuatu dalam hidup, baik buruknya dipandang dari segi hukum dan ketentuan umum, sehingga segalanya palsu adanya! Kesopanan dipandang dari pakaian dan sikap yang sesungguhnyapun hanya pakaian yang tak nampak, dan ini sudah menjadi pendapat umum yang mati. Padahal kesopanan letaknya di dalam batin, bukan di dasi atau sepatu! Demikian pula, kebenaran, kebajikan, budi dan lain-lain ditukar dari pendapat umum yang hanya memperhatikan lahiriah belaka! Padahal sumbernya adalah di dalam batin, dan hanya diri sendirilah yang dapat mengerti apakah kesopanan yang dilakukan itu, apakah kebajikan dan lain sebagainya yang dilakukan itu palsu belaka, pura-pura belaka, ataukah wajar! Kalau wajar dan tulus, tanpa pamrih, tanpa diikat oleh aturan-aturan lahiriah, itu barulah benar!

Hukum pula yang menentukan bahwa hubungan kelamin baru benar kalau dilakukan setelah pria dan wanita itu menikah! Atau baru benar kalau dilakukan oleh orang-orang yang berjual beli dan sudah disyahkan pemerintah! Benarkah demikian? Kalau kita mau membuka mata batin, mau mempelajari diri sendiri, menjenguk hati dan pikiran sendiri, memandangnya dengan bebas, kiranya akan terlihat bahwa tidak benarlah demikian itu. Biarpun sudah disyahkan oleh hukum pernikahan, biarpun sudah disebut suami isteri oleh umum, kalau hubungan itu dilakukan tanpa adanya cinta kasih, melainkan hanya sebagai alat untuk mencari kepuasan dan kesenangan diri pribadi belaka, maka hubungan kelamin macam itu pun kotor dan palsu adanya! Sama saja dengan perbuatan menolong orang lain yang oleh pandangan umum disebut baik, akan tetapi kalau di dalam batinnya pertolongan itu dilakukan dengan pamrih, dilakukan sebagai alat untuk mencari pujian, untuk mencari balas jasa, maka “pertolongan” macam itupun kotor dan palsu adanya! Jadi yang mutlak menjadi mutu setiap perbuatan adalah dasarnya, dasar batiniahnya.

Pengarang tidak hendak mengatakan bahwa perbuatan Yalima dan Kwee Tiong itu benar! Sama sekali tidak! Hanya hendak mengajak pembaca untuk membuka mata melihat segala kepalsuan dalam hidup, termasuk kepalsuan dalam urusan hubungan sex! Kwee Tiong dan Yalima patut dikasihani. Mereka berdua hanyalah menjadi akibat dari keadaan hidup kita sejak dahulu sampai sekarang. Mereka berdua belum mengerti, dan pengertian ini, baik bagi yang muda maupun bagi yang tua, hanya terdapat kalau kita sudah mengenal diri sendiri setiap saat! Pengenalan diri sendiri mendatangkan kewaspadaan dan kewaspadaan ini menghentikan segala perbuatan yang tidak benar!

Kita tidak berhak membenarkan atau menyalahkan Yalima dan Kwee Tiong! Setiap perbuatan yang dilakukan oleh manusia, menjadi tanggung jawab si manusia itu sendiri, setiap buah dari pohon yang ditanam akan dipetik oleh tangan si penanam itu sendiri. Yang pasti, segala macam bentuk kesenangan yang dicari-cari, dikejar-kejar, dinikmati dan mendatangkan kepuasan sementara, sudah pasti disertai oleh kedukaan karena suka duka merupakan saudara kembar yang tak terpisahkan!

“Yalima…!”

Yalima terkejut karena lamunannya yang jauh sekali tadi membuat dia seolah-olah melayang di angkasa dan ada hasrat aneh di hatinya untuk terjun dari angkasa itu, sehingga tubuhnya akan hancur lebur dan dia akan terbebas dari siksa batin yang amat menakutkan itu.

“Koko…!” Dia berlari dan menubruk kekasihnya sambil menangis sesenggukan.

“Tenanglah, Yalima. Apa yang terjadi? Apakah kau dimarahi oleh subo (ibu guru) lagi?”

“Tidak… tidak… akan tetapi kita celaka… aku celaka, koko…”

“Eh, eh, celaka bagaimana? Aku berada di sini dan aku selalu mencintamu, selalu akan menjaga dan melindungimu, Yalima.”

“Koko… aku… telah mengandung…”

“Heiiiiiiii…?” Kwee Tiong terkejut bukan main, matanya terbelalak dan wajahnya pucat, akan tetapi hanya sebentar saja karena dia lalu merangkul Yalima, memeluk pinggangnya dan mengangkat dara itu diputar-putarnya sambil tertawa-tawa gembira!

“Eh, eh, turunkan aku…!” Yalima menjerit dan setelah dia diturunkan, dia memegang kedua tangan kekasihnya itu sambil berkata dengan air mata berlinang. “Koko, apakah engkau sudah gila? Bagaimana engkau bisa bergembira seperti itu mendengar bahwa aku telah mengandung? Kita berdua, atau setidaknya aku tentu akan celaka…”

“Tentu saja kita berbahagia dan gembira! Kita akan mempunyai anak! Siapa pula yang akan mencelakakan kita?”

“Cia loya dan nyonya…”

“Hushh! Guruku itu adalah seorang pendekar sakti yang budiman, demikian pula isterinya. Kau tidak perlu khawatir, akulah yang akan memberi tahu kepada mereka, dan aku pula yang akan menanggung segala hukumannya kalau memang kita berdua dipersalahkan!”

Yalima menyandarkan mukanya di dada kekasihnya. Dia merasa agak terhibur akan tetapi tetap saja dia merasa menyesaL “Ah, koko, mengapa kita melakukan hal itu? Sekarang kita tertimpa aib dan malu…”

Memang kusengaja, kekasihku. Aku sendiripun tahu bahwa perbuatan kita itu tidak benar dan akan membawa kita kepada aib, malu dan duka. Akan tetapi, aku terlalu cinta padamu, aku tidak ingin melihat engkau menjadi isteri orang lain, maka aku menempuh jalan nekat itu. Biarlah, kini aku yang akan menanggung. Sekarang juga aku akan menghadap suhu dan subo, dan kau kembalilah ke tempat kerjamu, bekerjalah seperti biasa dan jangan takut.” Kwee Tiong mencium mulut kekasihnya, lalu meninggalkannya dengan langkah gagah. Yalima terisak dan dia lalu berlari kecil kembali ke rumah ketua Cin-ling-pai, hatinya masih terasa tidak enak sekali dan diam-diam dia merasa amat menyesal mengapa dia telah melakukan hal itu dengan Kwee Tiong. Rasa takut menerkam hatinya, bukan hanya takut akan hukuman, melainkan terutama sekali takut akan ketahuan semua orang sehingga dia, akan merasa malu dan rendah. Bagaimana kalau Bun Houw pulang, dan tahu akan hal ini? Dia sudah tidak mengharapkan diri Bun Houw lagi, akan tetapi betapa akan malunya kalau dia bertemu dengan bekas pemuda pujaan hatinya itu.

Demikianlah, derita batin yang menimpa seseorang sungguh tidak sepadan dengan kenikmatan dari kesenangan yang dialaminya! Memang benar bahwa senang itu hanya selewat saja, namun susahnya lebih lama terderita! Maka, orang yang sudah sadar dan waspada akan segala gerak-geriknya sendiri, tidak mudah terjebak dan terpikat oleh kesenangan yang hanya merupakan bayangan pikiran belaka. Pikiran yang mengingat-ingat segala kesenangan seolah-olah mengunyah-ngunyahnya sehingga menimbulkan nafsu keinginan untuk mengejar kesenangan itu. Namun, siapa yang telah waspada akan hal ini, akan dapat melihat betapa palsunya semua itu dan pengertian akan kepalsuan inilah yang akan menjadi pengrobah dari seluruh jalan hidupnya.

Wajah Cia Keng Hong menjadi merah bukan main, matanya mengeluarkan sinar berapi ketika dia mendengar pelaporan Kwee Tiong yang dengan terus terang menyatakan bahwa dia bersama Yalima telah melanggar dosa dan bahwa kini Yalima telah mengandung!

“Keparat tak tahu malu! Engkau mencemarkan nama baik Cin-ling-pai saja!” Cia Keng Hong membentak den tangannya sudah bergerak hendak memukul. Akan tetapi secepat kilat Sie Biauw Eng memegang lengannya.

“Tenanglah, dan mari kita pertimbangkan persoalan ini sebaiknya. Kwee Tiong, kau sudah mengakui kesalahanmu?”

“Sudah, teecu sudah merasa bersalah dan teecu siap menerima segala macam hukuman, hanya hendaknya adik Yalima tidak dipersalahkan karena teeculah yang membujuknya,” jawab Kwee Tiong dengan suara tegas den sikap tenang.

“Dan kau siap melakukan apa saja sebagai hukumanmu?”

“Teecu siap, biar dihukum matipun teecu akan menerimanya.”

“Kalau begitu, kautunggu di sini, jangan pergi ke mana-mana sampai kami keluar lagi.” Nenek Sie Biauw Eng lalu menggandeng tangan suaminya den diajaknya masuk ke dalam.

Setibanya di dalam, Keng Hong menarik napas panjang dan mengepal tinjunya. “Bedebah! Berani dia main gila seperti itu? Dan gadis itu adalah kekasih Houw?ji!”

“Aihh, kenapa engkau berpandangan sesingkat itu, suamiku? Kalau Yalima mencinta Houw-ji, tentu dia tidak akan berbuat itu dengan Kwee Tiong. Jelas bahwa gadis Tibet itu tidak mencinta Bun Houw, melainkan mencinta Kwee Tiong.”

“Hemm, apa kau hendak mengatakan bahwa mereka itu tidak mendatangkan aib kepada Cin-ling-pai dan aku harus diam saja?”

“Mereka memang bersalah, akan tetapi apakah kita juga tidak bersalah? Kita kurang memperhatikan Yalima sehingga dia mempunyai kesempatan berbuat seperti itu. Lupakah kau bahwa kalau ada anak yang menyeleweng, maka orang tuanya yang bersalah besar karena kurang mendidik dan kurang memperhatikan? Dan karena Yalima berada di sini, maka kita berdualah yang menjadi wakil orang tuanya.”

Keng Hong meraba-raba jenggotnya dan pikirannya melayang kepada pengalaman dirinya sendiri ketika masih muda. Pernah pula dia terjebak bujuk rayu seorang wanita sehingga diapun pernah melakukan hubungan kelamin di luar nikah (baca cerita Pedang Kayu Harum).

“Hemm… habis apa yang harus kita lakukan dengan mereka?”

“Mereka sudah berbuat, dan Yalima sudah mengandung. Peristiwa itu tidak bisa dicegah dan diperbaiki lagi, paling-paling kita bisa merusaknya. Akan tetapi apa gunanya hubungan itu dirusak? Lebih baik disempurnakan, dan mereka dinikahkan. Bukankah itu jalan terbaik?”

Keng Hong mengangguk-angguk. “Hemm… akan tetapi terlalu enak bagi Kwee Tiong. Sebagai seorang murid Cin-ling-pai dia harus menerima hukuman atas perbuatannya.”

“Jangan, suamiku. Ampunkanlah dia, karena dia sudah melakukan suatu kebaikan bagi diri anak kita…”

“Eh, apa maksudmu?”

“Bayangkan saja, bagaimana kalau yang berdiri di tempat Kwee Tiong itu Bun Houw? Untung bahwa belum sejauh itu hubungan anak kita dengan Yalima yang ternyata adalah seorang dara yang amat lemah sehingga tidak mampu mempertahankan godaan nafsu dan merendahkan harga dirinya, dengan mudah menyerahkan kehormatannya biarpun kepada pria yang dicintanya.”

Keng Hong mengangguk-angguk. “Baiklah, akan tetapi aku tetap akan mencobanya, apakah dia benar-benar seorang yang jantan dan patut menerima Yalima sebagai isterinya. Hayo kita keluar.”

Kwee Tiong masih duduk berlutut di atas lantai ketika suami isteri tua itu keluar.

“Kwee Tiong…!”

Suara Cia Keng Hong mengejutkan karena tegas dan keras, menandakan kemarahannya.

“Suhu…!”

“Kaupanggil Yalima menghadap ke sini bersamamu!”

“Ba… baik, suhu… harap suhu dan subo mengampuni dia…” Kwee Tiong lalu pergi ke belakang dan tak lama kemudian dia sudah datang lagi menggandeng tangan Yalima yang berjalan dengan muka menunduk. Keduanya lalu berlutut di depan suami isteri itu. Yalima terisak perlahan, tubuhnya gemetaran den mukanya pucat sekali.

Yalima, benarkah engkau telah mengandung akibat hubunganmu dengan Kwee Tiong ini?” Biauw Eng bertanya, suaranya halus.

Yalima terisak dan mengangguk, tidak kuasa mengeluarkan kata-kata dan tidak berani mengangkat mukanya.

“Dan kau merasa bersalah?”

Kembali Yalima mengangguk. Dia takut dan malu sekali, dan penyesalannya makin hebat. Mengapa dia tidak bunuh diri saja tadi? Akan habislah semua derita, semua rasa malu ini!

Biauw Eng memberi isyarat kepada suaminya. Cia Keng Hong lalu membentak Kwee Tiong, “Kwee Tiong, kau benar-benar mencinta Yalima?”

“Kalau tidak, mana teeeu berani berbuat itu dengan dia? Teecu mencintanya lahir batin.”

“Kau berani berkorban nyawa untuknya?”

“Teecu berani dan siap!”

“Nah, karena kau sudah merasa berdosa, maka engkau harus dihukum. Engkau korbankan lengan kananmu untuk Yalima!”

“Tidak…! Jangan…! Ahhh… loya, bunuh sajalah hamba… jangan hukum Kwee-koko… karena hamba yang bersalah…” Tiba-tiba Yalima menangis dan menubruk Kwee Tiong.

Nenek dan kakek itu saling lirik dan ada cahaya berseri pada lirikan mata mereka.

“Kwee Tiong, apakah engkau seorang laki-laki sejati?” bentak Cia Keng Hong.

“Yalima, minggirlah. Suhu telah mengampunkan kita… terima kasih atas kebaikan hati suhu!” Kwee Tiong mendorong tubuh Yalima dengan halus, kemudian dia meloncat ke belakang, cepat sekali mencabut pedang dengan tangan kiri lalu menyabetkan pedang itu ke arah pangkal lengan kanannya.

Yalima menjerit. “Trangggg…!” Pedang itu terlepas dan terjatuh dari tangan kiri Kwee Tiong sebelum menyentuh lengan kanannya. Kiranya ketua Cin-ling-pai tadi telah menggerakkan tangannya dan angin pukulan dahsyat membuat pedang itu terlepas dan terjatuh.

Kwee Tiong menjatuhkan diri berlutut. “Suhu, apa artinya ini…?” tanyanya.

“Kami hanya ingin melihat apakah benar kalian saling mencinta. Kami ampunkan kalian, bahkan dalam pekan ini juga kalian akan kami nikahkan. Akan tetapi, melihat keadaan Cin-ling-pai dalam perkabungan, pernikahan itu akan dilakukan dengan sederhana saja.”

“Suhu…! Subo…! Terima kasih…!” Suara Kwee Tiong tergagap karena pemuda yang gagah ini sudah menangis saking gembiranya.

“Sudahlah… sudahlah, pergilah kalian dari sini dan bersiap-siaplah untuk pernikahan itu…” kata Sie Biauw Eng.

Setelah suami isteri tua ini masuk ke dalam, barulah Kwee Tiong bangkit, memondong tubuh Yalima dan membawanya berlarian keluar dari tempat itu dengan hati penuh rasa bahagia.

Beberapa hari kemudian, dirayakanlah pernikahan itu secara amat sederhana hanya dihadiri oleh para anak murid Cin-ling-pai saja, tidak ada seorangpun tamu dari luar. Hal ini adalah mengingat bahwa Cin-ling-pai dalam beberapa bulan ini mengalami hal-hal yang amat buruk, selain tercurinya pedang pusaka, matinya Cap-it Ho-han yang tujuh orang itu, disusul pula tewasnya empat orang lagi dari Cap-it Ho-han dan juga tewasnya Hong Khi Hoatsu dan lenyapnya Lie Seng.

Dua hari setelah pernikahan itu dilangsungkan, muncul Cia Giok Keng. Wanita ini hanya mengerutkan alis mendengar dari ibunya tentang peristiwa Kwee Tiong dan Yalima, kemudian dia menceritakan kepada ayah ibunya tentang matinya dua orang di antara Lima Bayangan Dewa, dan tentang orang-orang berilmu seperti Bouw Thaisu, Hwa Hwa Cinjin, Hek I Siankouw yang membantu Lima Bayangan Dewa, dan bahwa pedang pusaka Siang-bhok-kiam belum juga ditemukan.

Wajah Cia Keng Hong yang biasanya selalu tenang itu kini kelihatan marah sekali. “Hemm… kiranya Lima Datuk Kaum Sesat yang dahulu itu biarpun telah tewas, roh jahatnya masih saja merajalela dan membujuk kawan-kawannya untuk mengacau dunia! Kalau para tua bangka itu keluar dan mengacau, dunia tidak akan menyalahkan aku kalau keluar pula untuk menghadapi mereka!”

“Aku ikut! Aku ingin sekali membagi-bagi pukulan kepada cacing-cacing busuk itu!” Sie Biauw Eng berseru.

“Dalam keadaan segawat ini, tidak baik kalau Cin-ling-pai ditinggalkan sama sekali. Karena kita berdua pergi bersama yang lalu, maka dapat terjadi malapetaka di sini. Kita harus membagi tenaga, isteriku. Kau menjaga Cin-ling-pai bersama Keng-ji, dan aku akan mencari mereka!”

Sie Biauw Eng terpaksa membenarkan pendapat suaminya ini, maka biarpun hatinya penasaran, akhirnya dia membiarkan suaminya pergi. Untuk pertama kalinya sejak belasan tahun hidup tenteram di Cin-ling-pai, kini Pendekar Sakti Cia Keng Hong meninggalkan tempat kediamannya, turun gunung untuk membantu puteranya karena dia maklum betapa lihai adanya musuh-musuh itu yang terdiri dari saudara-saudara dan sahabat-sahabat para datuk kaum sesat yang dahulu telah menjadi musuh-musuhnya.

Giok Keng tidak lama berdiam di Cin-ling-pai. Dia segera pamit untuk mencari Lie Seng yang lenyap terculik musuh. Ibunya tidak dapat menahannya, maklum betapa hebat penderitaan batin puterinya itu, dan dia hanya memesan agar supaya puterinya itu berhati-hati. Dengan penuh keharuan Giok Keng memeluk dan menciumi Lie Ciauw Si, puterinya yang baru sepuluh tahun usianya itu, yang menangis hendak ikut dengan ibunya. Setelah menghibur dan memberi nasihat dan pengertian kepada Ciauw Si, berangkatlah Cia Giok Keng meninggalkan Cin-ling-pai. Di depan ibunya dia menyatakan hendak mencari Lie Seng, akan tetapi di dalam hatinya, dia hendak mencari pembunuh Hong Ing dan mencari Mei Lan yang melarikan diri karena dia. Sedangkan nasib Lie Seng dia serahkan ke tangan Tuhan dan dia percaya bahwa Kun Liong akan berusaha mencari puteranya itu!

***

Kaisar Ceng Tung diangkat meniadi kaisar ketika dia berusia delapan tahun, yaitu sebagai pengganti ayahnya yang mangkat, yaitu Kaisar Shian Tek. Tentu saja seorang bocah berusia delapan tabun tidak tahu apa-apa, apalagi memegang tampuk pemerintahan negara besar sebagai seorang kaisar! Maka ketika Kaisar Ceng Tung diangkat menjadi kaisar, kekuasaan terjatuh mutlak ke tangan ibu suri. Sebagai seorang kaisar, yang pada waktu itu dianggap sebagai seorang suci, utusan Tuhan sendiri, tentu saja Kaisar Ceng Tung menjadi dewasa tidak seperti anak-anak biasa. Dia hidup di dalam lingkungan istana yang penuh dengan kemuliaan dan kemewahan, dikerumuni panghormatan dan peraturan, dan sama sekali dia terasing dari hubungan dengan dunia luar atau dengan kehidupan rakyat biasa. Hal ini membuat kaisar ini seperti boneka hidup saja dan dia tunduk sepenuhnya kepada ibu surinya. Setelah dia menjadi dewasa, mulailah dia dapat memperlihatkan kekuasaannya sebagai seorang kaisar yang “maha kuasa” di dalam istana dan negara. Mulailah terjadi perebutan di antara para thaikam, yaitu bangsawan-bangsawan tinggi yang dikebiri, syarat mutlak yang merupakan keharusan bagi para ponggawa di dalam istana, dan ibu suri untuk menguasai hati kaisar muda itu. Karena pandainya membujuk, maka akhirnya Kaisar Ceng Tung terjatuh ke dalam kekuasaan seorang pembesar thaikam yang cerdik, yaitu seorang thaikam berasal dari utara yang bernama Wang Cin. Wang Gin mempunyai beberapa orang kaki tangan, yaitu para thaikam lain di dalam istana, dan akhirnya kekuasaan ibu suri tersisihkan dan semua kepercayaan kaisar muda terjatuh ke tangan Wang Gin inilah. Secara teoritis, Kaiser Ceng Tung adalah kaisar yang memegang tampuk pemerintahan, akan tetapi secara praktis, Thaikam Wang Cin inilah yang berkuasa memutuskan segala macam hal, karena apapun yang hendak diputuskan oleh kaisar, selalu kaisar yang muda itu minta petunjuk dan nasihat Wang Cin.

Bahkan hampir semua urusan yang melalui tangan kaisar, tanpa diperiksa oleh kaisar ini terus saja disampaikan kepada Thaikam Wang Cin ini untuk diambil keputusan dan kaisar hanya tinggal menandatangani dan memberi cap saja!

Betapapun juga, semenjak kanak-kanak, Kaisar Ceng Tung telah mempelajari kesusasteraan dan sebagai seorang terpelajar, tentu saja tidak akan mudah bagi seorang penjilat seperti Wang Cin untluk membujuk dan memeluknya dalam pengaruh pembesar kebiri itu, kalau hanya dengan bujukan dan omongan manis. Tidak, untuk urusan sebesar ini, Thaikam Wang Cin terlalu cerdik. Melihat betapa kaisar telah mulai dewasa, dia lalu menggunakan seorang gadis muda peranakan Mongol, gadis cantik jelita yang masih terhitung keponakannya sendiri, untuk memikat hati kaisar. Untuk siasat ini, memang Wang Cin telah mempersiapkan segala-galanya untuk bertahun-tahun lamanya, bahkan semenjak kaisar itu naik tahta pada usia delapan tahun. Pada waktu itu, biarpun dia masih menjadi seorang thaikam rendahan saja, sudah ada rencana besar ini di dalam benaknya dan dia telah mendidik keponakannya itu yang baru berusia tujuh tahun, yang bernama Azisha, dengan amat cermat dan dia sengaja mendatangkan ahli-ahli pendidik sehingga Azisha menjadilah seorang dara yang selain cantik jelita, namun juga ahli dalam segala macam kesenian, bernyanyi, menari, pekerjaan tangan, melukis, bersajak, dan bahkan ahli pula dalam membawa diri untuk merayu!

Mula-mula, sebagai keponakan Wang Cin yang mulai meningkat pangkatnya, tentu saja keluarga kaisar tidak keberatan menerima seorang dara secantik Azisha sebagai dayang keraton. Akan tetapi, berkat kelihaian Wang Cin, maka thaikam yang licik ini mendekati kaisar yang mulai dewasa, menceritakannya tentang Azisha dan tentang kepandaian wanita-wanita Mongol dalam hal melayani pria, segala kecabulan yang membangkitkan berahi diceritakannya, dan akhirnya jatuhlah kaisar dalam pelukan Azisha yang biarpun masih seorang perawan, namun semenjak kecil telah dijejali pelajaran tentang bermain cinta dan merayu pria!

Demikianlah, dalam usia enam belas tahun saja kaisar sudah tergila-gila dan hampir tidak pernah dia dapat meninggalkan pelukan dan rayuan Azisha yang memang cantik jelita. Dan kepercayaannya terhadap Wang Cin bertambah, tentu saja atas bujukan Azisha, sehingga dalam tahun itu juga, yaitu tahun 1443, dia menyerahkan semua kekuasaan kepada Wang Cin! Wang Cin inilah yang menjadi penguasa yang sesungguhnya, yang memerintah dan mengatur pemerintahan, menerima laporan dan membagi-bagi perintah. Adapun Kaisar Ceng Tung hanya bersenang-senang dengan selirnya yang tercinta, mabok kemewahan, kesenangan dan berahi.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: