Dewi Maut (Jilid ke-40)

Para menteri yang setia menjadi amat khawatir menyaksikan perkembangan kekuasaan di istana ini. Mereka khawatir kalau-kalau terulang kembali dongeng-dongeng seperti yang terjadi dalam dongeng Hong-sin-pong, yaitu ketika Keisar Tiu-ong dirayu dan terjatuh ke dalam kekuasaan Tat Ki, seorang wanita cantik jelita yang amat kejam dan yang dalam dongeng disebut sebagai siluman rase! Mereka ini khawatir kalau-kalau kerajaan akan hancur di bawah kekuasaan Wang Cin yang tentu saja hanya mementingkan dirinya sendiri dan keluarganya, padahal menurut penyelidikan para menteri setia, Wang Cin adalah keturunan Mongol!

Dan memang benarlah. Wang Cin adalah seorang keturunan Mongol, bahkan diam-diam dia menganggap dirinya sebagai “darah” keturunan Jenghis Khan yang maha besar, dan kini diam-diam dia merencanakan agar dialah yang membangkitkan kembali kebesaran nenek moyangnya itu, menjadi yang dipertuan di Kerajaan Beng-tiauw!

Sudah banyak menteri-menteri setia dan panglima-panglima tua, patriot-patriot setia yang telah mengabdi kepada kerajaan semenjak jaman Yung Lo menjadi kaisar, mohon menghadapi kaisar muda itu untuk kembali memegang sendiri urusan kerajaan, jangan sepenuhnya mewakilkan kepada Thaikam Wang Cin. Akan tetapi, semua peringatan ini tidak ada gunanya dan Kaisar Ceng Tung tetap saja terlena di dalam pelukan hangat Azisha yang cantik molek! Hanya baiknya, kaisar ini sama sekali tidak marah, bahkan menghibur para menteri dan jenderal itu agar jangan khawatir, karena dia yakin benar bahwa Wang Cin amat pandai mengatur pemerintahan dan juga amat setia kepadanya. Tentu saja para pembesar itu hanya menarik napas panjang dan selama Wang Cin tidak memperlihatkan sikap sewenang-wenang dan merusak, mereka percaya kepada kata-kata junjungan mereka yang mereka cinta itu.

Dan Wang Cin memang cerdik. Dia sama sekali bukan tidak tahu akan perasaan tidak senang dari para jenderal dan menteri tua, maka dia bertindak hati-hati sekali, bahkan bersikap cukup “adil” mengatur pemerintahan secara benar, bahkan dalam urusan-urusan khusus, dia tidak ragu-ragu untuk memanggil menteri-menteri atau jenderal-jenderal yang ahli untuk memberikan nasihat mereka. Sikap ini membuat para menteri yang setia itu kehabisan akal, bahkan diam-diam lalu menganggap bahwa pilihan kaisar mereka ternyata tepat, maka menipislah kekhawatiran hati mereka yang setia kepada kerajaan itu.

Demikianlah, tujuh tahun telah lewat semenjak kaisar muda itu terjatuh ke dalam pelukan Azisha yang cantik dan kini setelah usianya meningkat, yaitu dua puluh dua tahun, wanita itu menjadi makin matang dan makin menarik hati saja sehingga sampai usia dua puluh tiga tahun itu, kaisar belum juga mau menikah dan hanya mempunyai belasan orang selir yang jarang sekali menerima perintah melayaninya, kecuali apabila Azisha sedang berhalangan.

Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kesal dan kecewa hati Thaikam Wang Cin karena sampai tujuh tahun lamanya, biarpun dia telah memanggil segala macam ahli obat, pertapa, peramal dan dukun-dukun, biarpun Azisha berhasil melayani kaisar selama tujuh tahun hampir tak pernah berhenti, tetap saja tidak ada hasilnya dalam kandungan Azisha! Padahal, dia mengharapkan agar keponakannya itu yang juga seperti dia mempunyai darah keturunan Jenghis Khan, dapat memperoleh seorang putera dari kaisar agar dengan mudah dia mengusulkan supaya Azisha diangkat menjadi permaisuri dan puteranya atau cucu keponakannya darah Mongol, kelak menjadi kaisar dan dia yang menjadi perdana menterinya! Akan tetapi, si tolol Azisha, demikian dia sering memaki-maki keponakannya yang dianggapnya tidak “becus”, setelah tujuh tahun lamanya tetap saja tidak mempunyai anak! Karena itu, diapun tetap menjadi seorang thaikam, betapapun besar kekuasaannya. Tidak mungkin menjadi perdana menteri! Dan karena itu pula, harus diambil cara lain agar dia dapat menjadi penguasa sepenuhnya, bahkan kalau mungkin mengangkat diri menjadi kaisar!

Maka pada suatu hari, setelah diam-diam dia mengadakan hubungan dengan seorang datuk kaum sesat yang dikenalnya, yang bukan lain adalah Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok agar menjadi pembantunya untuk berhasilnya rencana tarbesar yang diaturnya itu, Wang Cin dengan bantuan keponakannya, Azisha, membujuk kaisar untuk mengadakan pesiar dan sekalian melakukan “pembersihan” atau pemeriksaan ke daerah perbatasan Mongolia.

“Kekuasaan yang mulia tidak terbatas, akan tetapi hamba mendengar berita bahwa di perbatasan utara terdapat seorang kepala Suku Mongol yang memperlihatkan sikap menentang dan memberontak kedaulatan kerajaan paduka. Untuk memperlihatkan kebesaran paduka, hendaknya paduka mengerahkan pasukan dan menghajar gerombolan itu, dan sekalian paduka hamba persilakan untuk melihat kota kelahiran hamba dan tempat kelahiran keponakan hamba Azisha, yaitu di kota Huai-lai,” demikian Wang Cin berkata di antara bujukan-bujukannya.

“Hambapun sudah amat rindu akan kota kelahiran hamba itu, yang mulia,” Azisha berkata dengan suara merdu dan sikap manja. “Kalau paduka berkenan menginjakkan kaki paduka yang mulia di tanah kelahiran hamba, tentu hal itu akan mendatangkan rezeki besar bagi kota Huai-lai dan bagi hamba.”

Mula-mula Kaisar Ceng Tung tidak ada niat untuk pergi melakukan perjalanan itu, apalagi untuk menggempur Suku Bangsa Mongol yang memberontak sebaiknya diserahkan kepada angkatan perangnya. Akan tetapi dengan berbagai akal Wang Cin membujuk, dan terutama sekali bujuk rayu Azisha yang pandai pula mengucurkan air matanya kalau perlu, akhirnya kaisar menyatakan persetujuannya. Diam-diam dia terkesan juga oleh kesetiaan Wang Cin. Dia tahu bahwa Wang Cin dan Azisha adalah peranakan Mongol, akan tetapi kini Wang Cin mengusulkan untuk membasmi pemberontak Mongol. Hal ini baginya merupakan bukti betapa setianya Wang Cin kepadanya.

“Baiklah, Wang Cin. Dan karena engkau adalah seorang berasal dari perbatasan utara, tentu engkau lebih mengenal dan faham akan daerah itu. Oleh karena itu, kami mengangkatmu dalam rombongan ini sebagai komandan atau pemimpin tertinggi dari pasukan kita.”

Keputusan kaisar ini diumumkan dan tentu saja para jenderal tua menjadi terkejut bukan main dan merasa tersinggung sekali. Mereka adalah jenderal-jenderal yang telah puluhan tahun membela negara dan mengatur pasukan membersihkan musuh-musuh negara, akan tetapi di dalam rombongan pembersihan ke utara yang diikuti sendiri oleh kaisar, mengapa kaisar mengangkat seorang kebiri yang lemah dan dalam hal perang, sama sekali tidak mampu menggerakkan pedang apalagi mengatur barisan menjadi komandan atau panglima tertinggi? Hal ini dianggap penghinaan bagi mereka dan hampir saja terjadi tindakan kekerasan dari para jenderal, yaitu membunuh Wang Cin atau memberontak terhadap keputusan kaisar! Akan tetapi dua orang jenderal terkemuka yang sudah puluhan tahun mengabdi kepada negara, bahkan yang dahulu menjadi tangan kanan Jenderal Yung Lo yang kemudian menjadi kaisar, mencegah maksud rekan-rekannya itu. Dua orang jenderal ini adalah Jenderal Kho Gwat Leng, seorang jenderal yang bertubuh kurus kecil namun memiliki kegagahan dan wibawa luar biasa dan amat cerdik dan ahli dalam mengatur siasat perang. Dan kedua adalah Jenderal Tan Jeng Koan, seorang jenderal yang bertubuh tinggi besar, berkulit hitam dan berwatak jujur namun gagah perkasa seperti tokoh Thio Hui dalam cerita Sam Kok. Dua orang jenderal inilah yang melerai rekan-rekannya.

“Kita adalah perajurit-perajurit,” kata Jenderal Kho Gwat Leng yang sudah berusia enam puluh tahun lebih. “Seorang perajurit tugasnya adalah mempertahankan negara dari serbuan musuh luar. Baik atau buruk adalah negara kita dan junjungan kita, maka harus kita taati dan kita bela. Kalau junjungan kita kaisar menghendaki demikian, biarlah, dan kita mengamat-amati saja dan membela sampai titik darah terakhir. Lebih baik mati sebagai seorang perajurit pembela kaisar yang setia daripada hidup mulia sebagai pemberontak.”

“Kata-kata Kho-goanswe (Jenderal Kho) tidak meleset seujung rambutpun.” terdengar Jenderal Tan Jeng Koan berkata dengan suaranya yang mengguntur. “Sejak nenek moyang kami, semua adalah perajurit dan kami tidak akan mencampuri urusan negara kecuali ada yang mengancam keselamatan kaisar, itulah tugas kami.”

Anehnya, dan hal ini juga menggirangkan hati para jenderal itu, Wang Cin yang diangkat menjadi panglima tertinggi justeru memilih para jenderal tua yang setia ini untuk membantunya memimpin pasukan besar! Terobatilah kekecewaan mereka dan lenyap pula keraguan dan kecurigaan hati mereka.

Maka berangkatlah pasukan besar itu mengiringkan rombongan kaisar yang berada di dalam kereta bersama selirnya tercinta, Azisha dan beberapa orang selir lain di samping Wang Cin sebagai panglima perang yang berpakaian gagah biarpun gerak-geriknya seperti seorang wadam! Wang Cin mempunyai belasan orang pengawal pribadi dan di antara mereka ini, tanpa ada yang mengetahuinya, terdapat Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok, Sin-ciang Siauw-bin-sian, Liok-te Sin-mo Gu Lo it yang sudah menggabung setelah kekalahannya yang besar di Ngo-sian-chung, dan Bouw Thaisu! Adapun Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw telah berangkat lebih dulu sebagai utusan rahasia dari Wang Cin untuk menghubungi kepala suku pemberontak Mongol di perbatasan Mongolia! Bersama Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw, berangkat pula Go-bi Sin-kouw!

Kita tinggalkan dulu pasukan besar yang mewah di bawah pimpinan Panglima Besar Wang Cin yang dibantu oleh jenderal-jenderal tua di bawah pimpinan Jenderal Kho Gwat Leng dan Tan Jeng Koan yaitu sebanyak delapan orang yang terkenal sebagai Delapan Jenderal Besar bekas pembantu-pembantu Jenderal Yung Lo, dan mari kita menengok keadaan di perbatasan Mongol.

Memang keterangan Wang Cin benar bahwa di perbatasan itu, di sepanjang tembok besar, bahkan di sebelah dalam tembok besar, terdapat Suku Bangsa Mongol yang dipimpin oleh seorang ketua yang tidak pernah mau tunduk terhadap kedaulatan Pemerintah Beng. Akan tetapi tentu saja dia tidak menceritakan bahwa sesungguhnya ketua pasukan ini adalah seorang yang telah dihubunginya, bahkan yang diam-diam menjadi semacam sekutunya, sungguhpun ketua Suku Mongol ini tidak pernah bertemu dengannya dan hanya mengadakan hubungan melalui kurir belaka.

Siapakah ketua Suku Bangsa Mongol ini? Dia adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun, seorang yang benar-benar amat gagah perkasa, bertubuh seperti seekor singa dan dia benar-benar pantas menjadi seorang pemimpin suku bangsa yang hidupnya berkelana dan selalu menghadapi banyak kesulitan itu. Kepala suku ini namanya Sabutai, seorang gagah dan merupakan keturunan dari Jenderal Sabutai dari jaman Goan, yaitu ketika Bangsa Mongol sedang jaya-jayanya menguasai seluruh Tiongkok. Sabutai ini adalah seorang gagah perkasa yang memiliki kepandaian tinggi, karena gurunya, yaitu dua orang kakek dan nenek yang jarang terlihat orang, lebih menyerupai iblis daripada manusia!

Dahulu, di waktu Panglima Beser The Hoo masih sering mengadakan pembersihan keluar daerah, bahkan ketika Panglima Besar The Hoo memimpin armada berlayar sampai jauh ke selatan, di Sailan Panglima The Hoo pernah bentrok dengan dua orang jagoan, laki-laki dan perempuan yang berilmu tinggi. Akan tetapi berkat kepandaian Panglima The Hoo yang amat sakti, dua orang jagoan Sailan yang suka mengganas itu dapat dikalahkan, dan biarpun dapat melarikan diri, namun diduga tentu akan tewas karena telah menerima pukulan-pukulan sakti dari Panglima The Hoo. Akan tetapi, orang salah duga, karena mereka itu tidak mati, biarpun nyaris mati dan setelah mereka sembuh namun tubuh mereka keracunan oleh hawa beracun mereka yang membalik dan memukul diri sendiri, mereka lalu bertapa sampai puluhan tahun lamanya dan tahu-tahu mereka kini menjadi kakek dan nenek yang muncul di perbatasan utara, menjadi guru Sabutai dan mereka hendak membalas kepada Beng-tiauw! Kini, mereka hanya dikenal sebagai Pek-hiat Mo-ko (Iblis Jantan Darah Putih) dan Hek-hiat Mo-li (Iblis Betina Darah Hitam).

Sudah lama Sabutai mengincar ke selatan. Akan tetapi biarpun dia seorang berilmu tinggi dan yang pandai pula mengatur siasat perang, namun dia maklum bahwa dengan kekuatan pasukannya seperti sekarang ini, melakukan serbuan ke selatan hanya merupakan bunuh diri belaka. Oleh karena itu, dia selalu menanti kesempatan baik, dan setelah ada usaha dari Thaikam Wang Cin untuk mengadakan kontak dengan dia, tentu saja dia terima dengan baik. Penerimaan persekutuan rahasia ini hanya dia lakukan demi terlaksananya cita-citanya, karena sesungguhnya di dalam hatinya, orang gagah perkasa ini merasa muak terhadap Wang Cin, apalagi ketika dia mendengar akan segala sepak terjang Wang Cin di istana musuh-musuhnya itu. Dia menganggap orang macam Wang Cin amat berbahaya dan rendah, dan kalau saja dia tidak melihat kegunaan persekutuan ini sebagai jalan tercapainya cita-citanya, dia akan merasa suka sekali membunuh orang seperti thaikam itu dengan jari-jari tangannya sendiri yang amat kuat dan dahsyat!

Pada suatu malam, Sabutai duduk termenung di dalam kamarnya. Dia mempunyai seorang isteri yang amat cantik, seorang puteri Suku Bangsa Khitan yang mempersembahkan dirinya atas perintah kepala Suku Khitan kepadanya. Puteri ini masih muda, baru delapan belas tahun usianya dan sudah tiga tahun menjadi isterinya. Namun, yang membuat Sabutai kecewa adalah mengapa isterinya itu belum juga mengandung. Betapapun juga, dia amat mencinta isterinya dan dia tidak mau mengambil selir. Selain kekecewaan tidak mempunyai putera, juga dia tahu bahwa isterinya itu sesungguhnya tidak cinta kepadanya, dan hanya terpaksa saja menjadi isterinya. Semua sikap manis isterinya itu hanya demi kewajiban saja, dia memiliki tubuh isterinya, akan tetapi tidak memiliki hatinya. Hal inipun kadang-kadang membuat pria yang jantan dan gagah ini merasa kecewa dan berduka karena dia sungguh-sungguh mencinta Khamila, isterinya yang cantik rupawan itu.

Sabutai termenung dan di tangannya dia memegang sehelai surat yang diterimanya dari Wang Cin, pembesar thaikam yang pada waktu itu sedang berkuasa dan mempunyai pengaruh besar di Kerajaan Beng. Surat itu dibawa oleh utusan Wang Cin, yaitu tiga orang tokoh berilmu tinggi Hwa Hwa Cinjin, Hek I Siankouw, dan Go-bi Sin-kouw. Mereka diterima sebagai tamu-tamu agung dan diberi kamar-kamar yang mewah untuk tempat menginap.

Sudah berjam-jam lamanya Sabutai duduk termenung dengan surat itu di dalam tangannya. Dadanya terasa panas, kebenciannya terhadap Wang Cin memuncak ketika dia membaca betapa di dalam surat itu Wang Cin menerangkan siasatnya yang memancing rajanya sendiri ke utara untuk “diserahkan” kepada Sabutai! Sabutai adalah seorang gagah perkasa dan tentu saja dia amat membenci seorang pengkhianat besar macam Wang Cin. Akan tetapi, diapun melihat kesempatan baik sekali untuk membangun kembali kekuasaan Bangsa Mongol, maka dia termenung dan menggunakan kepala dingin untuk mengatur siasat. Menurut surat Wang Cin, orang kebiri itu akan sengaja menjerumuskan kaisar dan pasukan-pasukan pengawalnya agar dihancurkan oleh Sabutai, kaisarnya dan semua pengawal kaisar yang setia dibinasakan, kemudian dia akan kembali ke kota raja dan diam-diam akan mengatur dari dalam untuk membantu barisan Mongol yang dipimpin Sabutai menyerbu kota raja, kemuthan setelah dapat merampas kota raja, Wang Cin akan mengangkat diri menjadi kaisar sebagai seorang yang berdarah keturunan Jenghis Khan dan Sabutai tentu saja akan menerima bagian yang layak!

“Si keparat…!” Sabutai memaki di dalam hatinya. “Seorang, pengkhianat dan pengecut seperti dia, seorang yang sudah kehilangan kejantanannya, seorang kebiri yang berhati palsu, berani mengaku sebagai darah keturunan Jenghis Khan yang besar?” Dia merasa muak akan tetapi demi tercapainya cita-citanya untuk menyerbu ke selatan, cita-cita yang sudah dipupuk selama bertahun-tahun, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Tiba-tiba dia bertepuk tangan dan muncullah beberapa orang pengawalnya dari tempat-tempat tersembunyi. Sabutai lalu memerintahkan mereka untuk memanggil para pembantunya agar berkumpul di situ pada malam itu juga karena ada hal yang amat penting untuk dirundingkan.

Menjelang tengah malam, berkumpullah belasan orang pembantunya yang merupakan bekas kepala-kepala suku yang telah ditaklukannya dan yang kini menjadi para pembantunya. Setelah memerintahkan para pengawalnya untuk menjaga kamar-kamar tamu sehingga dia yakin bahwa perundingan itu tidak akan diintai dan didengarkan oleh tiga orang utusan yang dia tahu bukan orang-orang sembarangan itu, Sabutai lalu mengajak para pembantunya untuk berunding dan mengatur siasat untuk menghadapi uluran tangan Wang Cin yang khianat itu. Akhirnya, sampai hampir pagi, mereka telah bersepakat untuk mempergunakan pengkhianatan Wang Cin itu untuk memperoleh keuntungan, akan tetapi tentu saja Sabutai tidak sudi untuk selanjutnya mengadakan persekutuan dengan thaikam yang dianggapnya amat licik, curang dan berbahaya itu.

Pada keesokan harinya, setelah menjamu tiga orang utusan itu, Sabutai lalu menyerahkan surat balasannya dan kepada Wang Cin dia menjanjikan untuk menyambut dan menghancurkan kaisar dan pasukannya di dekat Huai-lai, lewat lembah Nan-kouw. Surat balasan itu dibawa sendiri oleh Hwa Hwa Cinjin untuk disampaikan kepada Wang Cin pribadi, sedangkan dua orang nenek, Hek I Siankouw dan Go-bi Sin-kouw, tinggal di markas Mongol yang dipimpin oleh Sabutai itu. Sabutai lalu membuat persiapan, mengumpulkan kekuatan barisan yang besar jumlahnya, kemudian dia memimpin sendiri seluruh barisan itu menuju ke selatan, melalui pegunungan yang sukar dan gurun-gurun pasir yang luas, melewati tembok besar dan bersembunyi di sekitar kota Huai-lai, di sepanjang lembah Nan-kouw untuk menanti datangnya rombongan kaisar seperti yang dimaksudkan dalam surat Wang Cin.

***

Di daerah padang rumput tak jauh dari tembok besar, di lereng pegunungan utara, pada pagi itu penuh dengan serombongan suku bangsa perantau yang terdiri dari campuran Bangsa Mancu dan Khitan. Mereka ini adalah Bangsa Nomad yang hidup dari peternakan dan mereka menggembala kuda yang baik untuk dijual ke daerah selatan. Kelompok keluarga yang terdiri dari hampir dua ratus orang ini menggiring ribuan ekor kuda pilihan dan mereka berhenti di tempat itu karena tempat itu amat subur rumputnya sehingga merupakan tempat peristirahatan yang amat baik.

Telah tiga hari lamanya mereka memasang perkemahan di padang rumput ini. Akan tetapi pada pagi hari ketiga itu tampak kesibukan dan kegelisahan di antara mereka ketika terdapat laporan bahwa dua orang penggembala kedapatan menggeletak, yang seorang tewas dan seorang lagi terluka parah sedangkan lebih dari seratus ekor kuda lenyap di malam itu.

Agaknya orang kedua itupun telah ditinggalkan karena disangka telah mati oleh para penyerangnya, dan orang inilah yang bercerita kepada kawan-kawan dan pemimpin mereka. Ternyata malam tadi, lewat tengah malam di waktu keadaan amat sunyi dan dingin, tiba-tiba muncul belasan orang bertopeng yang langsung menyerang mereka. Mereka berdua melakukan perlawanan mati-matian, akan tetapi akhirnya mereka roboh dan orang yang terluka parah dan disangka tewas pula itu hanya dapat melihat betapa belasan orang itu menggiring dan melarikan seratus ekor kuda yang mereka curi itu.

Tentu saja rombongan itu menjadi marah sekali. Siapa yang begitu berani mati mencuri kuda mereka di tempat terbuka seperti itu? Penjagaan dilakukan dengan ketat di malam-malam berikutnya karena biasanya, pencuri-pencuri kuda itu tidak akan puas sebelum dapat mencuri habis ribuan ekor kuda yang berharga mahal itu. Dengan bergilir mereka melakukan penjagaan di malam hari.

Malam berikutnya tidak terjadi sesuatu, akan tetapi dua hari kemudian, pada malam kedua semenjak peristiwa pencurian dan pembunuhan itu, tiba-tiba mereka diserbu oleh sedikitnya tiga puluh orang bertopeng yang rata-rata memiliki ketangkasan dan gerakan yang terlatih. Terjadilah pertempuran hebat dan keluarga rombongan itu tentu saja menjadi panik. Jerit dan tangis terdengar di antara teriakan-teriakan kemarahan dari mereka yang bertempur di bawah penerangan obor-obor dan api unggun.

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring. “Maling-maling kuda yang hina!” Dan muncullah seorang kakek yang berusia enam puluh tahun lebih, berpakaian sederhana akan tetapi bersih, berwajah gagah dan sekaligus membayangkan kelembutan, bahkan bentakannya tadi biarpun nyaring dan menggetarkan jantung, namun suaranya halus. Akan tetapi, begitu dia muncul dan menggerakkan kedua tangannya, empat orang bertopeng jatuh tunggang langgang! Para perampok atau pencuri kuda itu menjadi terkejut dan marah. Mereka maklum babwa kakek ini bukanlah anggauta rombongan peternak atau pedagang kuda itu, melainkan seorang yang dari kata-katanya sudah diketahui datang dari selatan. Maka pemimpin perampok yang terdiri dari tiga orang yang bertubuh tinggi besar dan bersenjata golok besar yang amat berat dan tajam, menggereng dan sekaligus tiga orang ini menerjang kakek itu dengan golok mereka, serentak menyerang dari tiga jurusan, yaitu depan, kiri dan kanan.

“Singg… singg… wuuuutttt…!” Tiga batang golok itu berdesing dan menyambar dengan kuat dan cepat sekali. Akan tetapi, kakek itu tetap saja berdiri tegak dan tenang seolah-olah tidak tahu bahwa ada bahaya maut mengancam nyawanya dari tiga jurusan. Akan tetapi, begitu tiga batang golok itu menyambar dekat, kakek itu kelihatan menggerakkan kedua tangan dan kaki kirinya dan… sungguh luar biasa sekali. Sukar diikuti pandang mata apa yang telah dilakukan oleh kaki kiri dan kedua tangan kakek itu, akan tetapi tahu-tahu penyerang dari depan mencelat goloknya dan orangnya roboh dan mengaduh-aduh, sedangkan dua orang penyerang dari kanan kiri terampas goloknya dan roboh pula! Kiranya kakek yang luar biasa itu menggunakan kakinya menendang pergelangan tangan penyerang dari depan dan dilanjutkan dengan gerakan kaki menendang lutut, sedangkan kedua tangannya dengan cepat sekali tadi telah menangkap golok itu, lalu mengangkat golok itu ke atas, kemudian menggunakan kedua sikunya menghantam dada kedua orang penyerang kanan kiri. Semua gerakarmya itu dilakukan dengan cepat dan kelihatan demikian mudahnya, padahal tiga orang pimpinan perampok itu adalah orang-orang kuat yang memiliki ilmu silat lumayan! Apalagi menangkap golok dengan tangan telanjang begitu saja, benar-benar membuktikan betapa kakek itu adalah seorang yang amat luar biasa!

Melihat betapa dalam segebrakan saja tiga orang pimpinan mereka roboh, bukan main kagetnya para perampok bertopeng itu dan tanpa dikomando lagi larilah mereka cerai-berai dan menghilang di dalam kegelapan malam. Dua orang yang roboh oleh kakek tadi, yang menyerang dari kanan kiri, juga sudah serentak meloncat bangun dan melarikan diri, akan tetapi peyerang dari depan yang kena tendang lututnya ketika bangkit berdiri, roboh terguling lagi dan mengeluh.

Para anggauta rombongan cepat mengepungnya dan beberapa batang senjata tajam sudah digerakkan, agaknya dalam kemarahan mereka, orang-orang itu hendak membunuh pemimpin para perampok bertopeng itu.

“Tahan, jangan bunuh dia!” Kakek itu berkata, suaranya halus namun penuh wibawa sehingga orang-orang yang sudah mengangkat senjata itu mundur dan memandang kepada kakek itu dengan heran. Kakek ini datang dari mana tidak ada orang yang tahu, datang-datang telah memperlihatkan kepandaian membantu mereka mengalahkan perampok, akan tetapi sekarang melarang mereka untuk membunuhnya. Sungguh aneh!

Yalu, pemimpin Suku Nomad campuran, seorang laki-laki tinggi besar bermuka hitam yang gagah, cepat menghampiri kakek itu dan berkata dengan lantang, “Locianpwe telah membantu kami mengusir perampok, akan tetapi mengapa mencegah kami membunuh kepala perampok ini?”

Mendengar orang tinggi besar muka hitam ini pandai berbahasa Han, kakek itu tersenyum dan berkata tenang, “Mereka telah dapat diusir dan orang ini tidak dapat melarikan diri karena sambungan lututnya terlepas. Haruskah kita membunuh lawan yang sudah tidak berdaya?”

“Locianpwe, harap suka mengampuni saya,” tiba-tiba orang itu berkata dan membuka topengnya. Kiranya dia adalah seorang Han pula yang berusia kurang lebih tiga puluh tahun.

Kakek itu mengerutkan alisnya, nampaknya tidak senang melihat orang Han sampai begitu merendahkan diri menjadi pencuri atau perampok kuda, sedangkan yang dirampoknya adalah rombongan suku bangsa yang miskin!

“Hemm, tidak malukah engkau dengan perbuatanmu yang hina ini?” bentaknya.

“Maaf… kami… kami bukanlah pencuri-pencuri kuda biasa… akan tetapi, kami adalah anggauta pasukan Raja Muda

Sabutai yang memerintahkan kami mencari kuda untuk memperlengkapi pasukan-pasukan kami…”

“Ahhhh…!” Yalu, kepala rombongan itu terkejut bukan main. “Raja Muda Sabutai terkenal sebagai seorang gagah perkasa yang hanya memusuhi Pemerintah Beng di selatan dan selamanya tidak pernah mau mengganggu suku bangsa di utara, apalagi mencuri kuda kami.”

“Maafkan kami, kawan…” orang itu berkata dengan muka merah, “kami telah bersalah… akan tetapi karena pasukan Raja Muda Sabutai sedang mengerahkan kekuatan menyeberang ke lembah Nan-kouw…” Tiba-tiba orang itu berhenti bicara.

Lanjutkan ceritamu dan aku akan membebaskan engkau.” Kakek itu berkata dan matanya memandang tajam sehingga orang itu menjadi ketakutan.

“Saya… saya tidak boleh bicara tentang itu…”

“Engkau sudah terlanjur bicara dan para sahabat ini hanyalah rombongan pedagang kuda, kami hanya ingin tahu apa yang terjadi di daerah ini, Raja Muda Sabutai sedang mengerahkan pasukannya ke lembah Nan-kouw? Apakah keperluannya? Hayo katakan, keteranganmu itu sebagai penebus nyawamu.”

Dengan muka pucat ketakutan orang itu berkata, “Barisan kami… akan… menyergap rombongan Raja Beng-tiauw yang akan lewat di sana…”

“Hemmmm…!” Kakek itu mengangguk-angguk. “Dari mana Raja Muda Sabutai dapat mengetahui bahwa rombongan kaisar akan lewat ke sana?”

“Hamba… saya mana tahu…? Hanya beritanya, ada datang tiga orang utusan dari selatan… dan raja muda kami lalu mempersiapkan barisan, kami ditugaskan untuk mengumpulkan kuda sebanyaknya guna perlengkapan…”

“Tiga orang utusan itu, siapa namanya?” Kakek yang aneh itu mendesak terus.

“Saya tidak tahu semua, hanya tahu bahwa yang kakek-kakek berjuluk Hwa Hwa Cinjin, sedangkan dua orang nenek lagi entah siapa…”

“Sudahlah, kau boleh pergi,” kakek itu berkata dan dengan terpincang-pincang pemimpin para pencuri kuda itu pergi meninggalkan tempat itu.

“Locianpwe, orang jahat seperti dia bagaimana dibebaskan begitu saja? Dan dia adalah anak buah Raja Muda Sabutai yang sedang melakukan kejahatan terhadap kaisar!” Yalu, pemimpin rombongan itu berkata, alisnya berkerut tanda tidak setuju.

Kakek itu memandang tajam. “Kalian tidak menyetujui tindakan Sabutai itu?”

“Tentu saja tidak! Kami bukan bangsa pemberontak, bahkan perbuatan Sabutai itu akan mencelakakan kami, karena pekerjaan kami berdagang kuda dengan orang-orang selatan di sebelah dalam tembok besar tentu tak mungkin dilanjutkan. Celakanya, kami tentu akan dianggap sekutu Sabutai dan akan dihukum pula oleh barisan Beng?”

“Bagus! Kalau begitu mari kita menentangnya dan kita menyelamatkan kaisar. Dengan demikian kaisar akan dapat membedakan siapa yang baik dan siapa yang jahat. Aku akan memimpin kalian melindungi kaisar sebelum terlambat.”

Yalu dan teman-temannya saling pandang dan mereka meragu, kemudian Yalu bertanya, “Siapakah locianpwe yang berilmu tinggi dan hendak membela kaisar ini?”

Kakek itu berkata sederhana, “Aku adalah ketua dari Cin-ling-pai, namaku Cia Keng Hong dan sejak dahalu aku sudah sering kali membantu kaisar dan bekerja sama dengan mendiang Panglima The Hoo.”

Yalu mengeluarkan teriakan girang, demikian pula para anak buahnya. “Locianpwe sahabat mendiang Panglima Besar The Hoo? Ah, kalau begitu kami telah bersikap kurang hormat.” Dan serta-merta Yalu dan anak buahnya menjatuhkan diri berlutut. “Hendaknya locianpwe ketahui bahwa kami dan ayah-ayah kami dahulu pernah membantu beliau ketika melawat ke utara. Harap locianpwe jangan khawatir, kami akan mengumpulkan teman-teman dan membantu locianpwe menolong dan melindungi kaisar, menentang Raja Muda Sabutai yang berniat memberontak.”

Tentu saja ketua Cin-ling-pai, Pendekar Sakti Cia Keng Hong menjadi girang. Seperti kita ketahui, kakek Cia Keng Hong yang mendengar penuturan puterinya, Cia Giok Keng, bahwa Lima Bayangan Dewa yang telah dapat ditewaskan dua di antaranya itu dibantu oleh tokoh-tokoh lihai, lalu turun gunung untuk menghadapi musuh-musuh tangguh itu dan untuk mencari kembali pusaka Cin-ling-pai yang hilang, yaitu pedang Siang-bhok-kiam. Dalam perjalanannya menyelidik, dia mendengar bahwa musuh-musuhnya itu pergi ke kota raja dan kemudian dia menyusul, dia mendengar pula bahwa mereka itu bergabung dengan rombongan kaisar yang melakukan perlawatan ke utara. Tentu saja dia menjadi heran sekali mendengar bahwa musuh-musuhnya itu bergabung dengan rombongan kaisar. Timbullah kekhawatirannya, karena dianggapnya sebagai hal yang tidak wajar dan mencurigakan kalau musuh-musuhnya itu kini bekerja sebagai pengawal-pengawal kaisar. Karena itu, diapun menyusul ke utara dan kebetulan dia bertemu dengan rombongan pedagang kuda yang dipimpin oleh Yalu dan mendengar keterangan yang amat berguna dari pemimpin para pencuri kuda. Kini dengan hati penuh kekhawatiran, pendekar itu dapat menduga bahwa masuknya para musuhnya dalam rombongan kaisar tentu ada hubungannya dengan gerakan Sabutai den bahwa kaisar tentu terancam bahaya besar, sungguhpun dia mendengar pula bahwa kaisar dikawal oleh pasukan yang dipimpin oleh para jenderal tua yang setia, di antaranya adalah Jenderal Kho Gwat Leng den Jenderal Tan Jeng Koan yang dia tahu merupakan jenderal-jenderal yang amat setia dari Kerajaan Beng.

Mengingat akan mendiang Panglima The Hoo yang mereka hormati dan junjung tinggi, Yalu dan kawan-kawannya lalu mulai mengumpulkan Suku-suku Bangsa Nomad di utara untuk bergabung dengan mereka menentang Sabutai dan menolong Kaisar Beng-tiauw yang terancam bahaya.

Sementara itu, rombongan Kaisar Ceng Tung sudah meninggalkan kota raja menuju ke utara. Perjalanan itu amat sukar, melalui pegunungan-pegunungan yang terjal, hutan-hutan yang liar den daerah-daerah yang tandus. Dari permulaannya saja pasukan-pasukan yang mengawal rombongan kaisar ini sudah terlantar, perlengkapannya kurang dan juga ransumnya kurang karena Thaikam Wang Cin yang diangkat menjadi panglima komandan pasukan pengawal ini melarang membawa perlengkapan terlalu banyak. “Di utara banyak dusun yang harus menunjukkan darma bhakti dan kesetiaannya kepada pemerintah. Perlu apa kita membawa benyak perbekalan?” demikian bantahnya ketika para jenderal mengajukan usul. “Hal itu hanya akan menimbulkan ketidaksenangan mereka karena seolah-olah kita tidak percaya kepada mereka.”

Biarpun alasan Wang Cin ini agaknya masuk di akal, namun sudah diperhitungkan oleh Wang Cin bahwa kaki tangannya di utara tentu sudah bergerak dan berusaha agar rombongan kaisar tidak mendapat ransum di utara, apalagi pada waktu itu musim panen belum tiba.

Kaisar sendiri, yang masih muda dan belum berpengalaman, apalagi yang sejak dewasa terus dibuai dalam rayuan Azisha yang cantik jelita, terseret oleh arus kenikmatan permainan cinta dengan selirnya itu yang sesungguhnya hanya merupakan pemuasan nafsunya sendiri belaka sehingga kaisar itu tidak tahu apa-apa. Di dalam perjalanan inipun Kaisar Ceng Tung selalu berada dalam pelukan selirnya, berdua di dalam kereta, dan kadang-kadang ditemani oleh Wang Cin yang pandai menghibur hati kaisar seolah-olah perjalanan itu merupakan tamasya yang amat menyenangkan. Kaisar sama sekali tidak tahu betapa pasukan pengawalnya menghadapi perjalanan yang amat sukar, dan betapa para jenderal tua yang setia itu selalu merasa gelisah kalau-kalau terjadi hal-hal yang tidak diharapkan menimpa rombongan ini sehingga membahayakan keselamatan kaisar.

Setelah melalui perjalanan yang amat lama dan amat melelahkan bagi para anggauta pasukan pengawal, akan tetapi amat meayenangkan bagi kaisar dan selirnya, dan amat menegangkan bagi Wang Cin yang mengharapkan terjadinya peristiwa hebat yang selain akan merubah jalannya sejarah juga akan mengangkatnya ke tingkat teratas sesuai dengan yang selama ini dicita-citakannya, rombongan itu tiba di kaki Pegunungan Nan-kouw dan di padang rumput mereka berkemah untuk melewatkan malam itu di situ dan memberi waktu kepada pasukan untuk beristirahat.

Malam itu, delapan jenderal tua yang dipimpin oleh Jenderal Kho Gwat Leng dan Jenderal Tan Jeng Koan menghadap Wang Cin yang sedang mengadakan perundingan dengan para pengawal pribadinya termasuk tiga orang dari Lima Bayangan Dewa dan Bouw Thaisu yang lihai. Kedatangan delapan jenderal itu mengejutkan Wang Cin dan para pengawalnya otomatis bangkit dari kursi masing-masing dan oleh isyarat Wang Cin mereka itu berdiri di pinggir, selalu siap membela majikan mereka. Dengan muka manis Wang Cin mempersilakan para jenderal mengambil tempat duduk di dalam perkemahannya itu dan menanyakan maksud kedatangan mereka.

“Wang-taijin, kami datang untuk mengajukan usul kepada taijin,” Jenderal Gwat Leng yang bertubuh kecil kurus itu berkata.

“Hemm, tentu baik saja, Kho-goanswe. Segala macam usul demi kebaikan kita semua tentu saja kami sambut dengan gembira,” jawab orang kebiri yang memperoleh kedudukan tinggi itu.

“Wang-taijin, kami semua telah melihat bahwa amat perlu perjalanan ini ditunda di sini sampai sedikitnya tiga hari,” kata Jenderal Kho Gwat Leng.

“Ah, tidak mungkin!” Wang Cin berseru penasaran. “Kota Huai-lai sudah dekat, mengapa setelah hampir tiba di tempat tujuan lalu ditunda?”

“Wang-taijin,” kata Jenderal Tan Jeng Koan yang bertubuh tinggi besar, berkulit hitam dan suaranya mengguntur itu. “Di depan adalah Lembah Nan-kouw yang terkenal sulit dilalui, juga tempat itu amat berbahaya apabila terdapat fihak musuh yang menghadang kita.”

“Hemm, Tan-goanswe, siapakah yang berani menghadang rombongan kaisar? Pula, andaikata ada penjahat yang bosan hidup berani mengganggu, apa artinya ada pasukan besar pengawal yang dipimpin oleh delapan pahlawan Beng yang tersohor?”

“Maaf, Wang-taijin,” Jenderal Kho Gwat Leng yang lebih halus sikapnya itu berkata. “Ucapan Tan-goanswe benar, dan juga pendapat Wang-taijin benar pula bahwa andaikata ada musuh menghadang, kami sudah siap menghadapinya. Akan tetapi, pasukan kita sudah amat lelah dan perbekalan sudah hampir habis, bahkan kami hampir kehabisan air, padahal perjalanan di depan melalui daerah pegunungan tandus yang sukar mencari air. Sebaiknya, kita menunda perjalanan selama dua tiga hari untuk menambah perbekalan, terutama ransum dan air.”

Wang Cin menggeleng-geleng kepalanya dan berjalan mondar-mandir di ruangan itu. Dengan menggendong kedua tangan di bawah punggung dan menggeleng kepala, lalu berkata setelah kemudian duduk menghadapi delapan orang jenderal itu. “Tidak, tidak! Tidak ada perlunya itu. Sri baginda kaisar tentu akan kesal hatinya kalau perjalanan dihentikan sampai tiga hari. Kita berangkat besok pagi, melewati pegunungan dan Lembah Nan-kouw dan setelah tiba di Huai-lai, barulah kita berhenti, mengaso dan makan sepuasnya. Apakah perajurit-perajurit Beng begitu lemahnya dan mementingkan makan dan minum saja?”

Mendengar ini, Jenderal Tan Jeng Koan mengepal tinju dan sudah hampir mendampratnya, akan tetapi Jenderal Kho Gwat Leng cepat memberi isyarat sehingga jenderal tinggi besar itu menahan kemarahannya.

“Terserah kepada Wang-taijin yang menjadi komandan pasukan, akan tetapi kalau sampai terjadi hal-hal yang merugikan kita, jangan lupa bahwa kami sudah memberi peringatan,” kata pula Jenderal Kho yang maklum bahwa berdebat melawan orang yang sudah dipercaya penuh oleh kaisar ini akan percuma saja. Para jenderal ini adalah bekas panglima-panglima pembantu Panglima Besar The Hoo dan sudah mengabdi sejak jaman Kaisar Yung Lo. Seperti umumnya para panglima kuno, kesetiaan mereka terhadap kaisar adalah mutlak, dengan membuta dan keputusan apapun yang diambil oleh Kaisar merupakan perintah yang akan mereka pertahankan dengan pertaruhan nyawa, sungguhpun kesadaran mereka membuat mereka maklum betapa kelirunya keputusan itu sekalipun! Para jenderal ini tentu saja maklum akan keadaan kaisar muda yang berada di bawah pengaruh Wang Cin itu, akan tetapi mereka tidak berani membantah keputusan kaisar, dan betapapun juga Wang Cin telah diangkat oleh kaisar menjadi komandan pasukan, menjadi atasan mereka yang harus mereka patuhi!

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: