Dewi Maut (Jilid ke-42)

Wang Cin maklum bahwa fihaknya terdesak. Dia berada di guha harimau, maka dia tidak boleh main-main. Andaikata dia boleh mengandalkan ketangguhan tiga belas orang pengawalnya dan ratusan orang sisa pasukan, akan tetapi apa dayanya berada di antara puluhan ribu anak buah Sabutai? Maka dia mengangguk dan mereka melanjutkan pertemuan yang tadinya menegangkan itu dengan makan minum, dan nama Azisha sama sekali tidak pernah disinggung lagi dalam percakapan. Bahkan Sabutai dan Wang Cin membicarakan tentang beberapa kali terjadinya usaha penyerbuan pasukan Beng?tiauw dibantu oleh beberapa kelompok suku bangsa perantau di utara, untuk membebaskan kaisar. Namun karena jumlah para penyerbu itu kecil sekali dibandingkan dengan kekuatan barisan anak buah Sabutai, semua usaha penyerbuan itu dapat dihancurkan dan para penyerbu dipaksa untuk mundur.

“Para penyelidik kami melaporkan bahwa di kerajaan terjadi pergolakan, akan tetapi sayang, para sekutu taijin agaknya membelakangi taijin dan saya mendengar bahwa mereka semua telah mengangkat seorang kaisar baru, yaitu Cing Ti.”

Muka Wang Cin menjadi merah mendengar kata-kata ini. “Kalau begitu, mengapa kita tidak segera menyerbu ke selatan? Bengcu harap percava kepadaku bahwa di sana masih banyak sekutu yang akan membantu kita dari dalam. Kaisar Cing Ti sama saja dengan Kaisar Ceng Tung, diapun membenci bangsa kita. Sebelum kita berhasil merampas tahta kerajaan, bangsa kita akan selalu dianggap sebagai musuh dan tidak mungkin Kerajaan Goan-tiauw yang jaya dapat bangkit kembali.”

Sabutai tersenyum. “Mungkin taijin mahir dalam urusan pemerintahan, akan tetapi mengenai urusan perang, serahkan saja kepada saya. Kalau sudah tiba saatnya, tentu saya akan menyerbu ke selatan.”

Biarpun hatinya penasaran, namun Wang Cin tidak berani mendesak lagi dan terpaksa dia dan para pengawalnya harus bersabar menjadi tamu-tamu yang keadaannya tidak lebih daripada tawanan-tawanan yang selalu diawasi sungguhpun diperlakukan dengan hormat.

Apa yang dikatakan oleh Sabutai tentang pergolakan di kota raja itu memang benar. Setelah diterima berita bahwa Kaisar Ceng Tung disergap dan ditawan oleh pasukan pemberontak Sabutai, kota raja menjadi geger, apalagi ketika mendengar bahwa delapan orang jenderal tewas dalam melindungi kaisar. Akan tetapi anehnya, keributan tentang berita ditawannya kaisar segera tenggelam, kalah oleh keributan tentang siapa yang harus menjabat kedudukan kaisar yang sementara kosong itu! Memang sudah menjadi watak manusia yang haus akan kesenangan, haus akan kekuasaan dan kemuliaan duniawi. Untuk mencapai kesenangan-kesenangan yang dirindukan itu, manusia tidak segan?segan berobah menjadi mahluk sebuas-buasnya, kalau perlu menyingkirkan, merobohkan dan membunuh manusia-manusia lain yang menghalang di tengah jalan, yang dianggapnya sebagai perintang tercapainya apa yang dikejar-kejar, yaitu kesenangan, kekuasaan, dan kemuliaan.

Usaha untuk mencoba menolong dan membebaskan Kaisar Ceng Tung hanya dilakukan sembarangan saja, seolah?olah hanya untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi di kota raja, yaitu perebutan kekuasaan yang akhirnya jatuh ke tangan Cing Ti yang mengangkat diri menjadi kaisar pengganti Ceng Tung yang dianggap sudah tewas!

***

Untuk ke sekian kalinya, pasukan kecil itu dipukul mundur oleh barisan penjaga di benteng Sabutai karena jumlah mereka jauh lebih kecil. Kakek gagah perkasa yang memimpin penyerangan itu mengamuk, seperti seekor naga, akan tetapi betapapun gagahnya dia, tidak mungkin dia dapat membobol penjagaan puluhan ribu orang pasukan Sabutai dan anak buahnya, yaitu pasukan yang terdiri dari orang?orang Nomad, pedagang dan penggembala kuda, telah terpukul mundur. Mereka terpaksa melarikan diri memasuki hutan?hutan dan kakek itu berdiri termenung dengan wajah penasaran.

Beberapa orang pimpinan orang Nomad menghadapnya dan di antara mereka ada yang luka-luka. Orang yang tertua di antara mereka berkata, “Saya kira tidak ada gunanya lagi, taihiap. Kedudukan Sabutai terlalu kuat, orang-orangnya terlalu banyak. Tanpa adanya bantuan pasuka Kerajaan Beng, mana mungkin kita dapa menyelamatkan kaisar? Setiap penyerbuan hanya merupakan bunuh diri dan kita sudah kehilangan ratusan orang anak buah.”

Cia Keng Hong, kakek pendeker yang gagah perkasa itu, menarik napas panjang, alisnya berkerut dan dia mengepal tinju. “Sungguh gila! Kenapa dari selatan tidak datang bala bantuan sedangkan sisa pasukan mereka telah lama kembali ke selatan minta bala bantuan? Apakah mereka sudah tidak memperdulikan lagi kaisar mereka yang tertawan musuh?”

Seperti kita ketahui, Cia Keng Hong telah membantu Suku Nomad yang terdiri dari Bangsa Mongol dan Khitan, yang dipimpin oleh Yalu, ketika rombongan ini sedang menggiring kuda mereka dan diganggu perampok yang ternyata adalah anak buah Sabutai juga. Kemudian, Cia Keng Hong memimpin mereka dan teman?teman mereka yang berhasil dikumpulkan untuk mencoba menolong rombongan kaisar ketika rombongan kaisar terjebak di Lembah Nan?kouw, di lorong yang sempit. Akan tetapi, karena jumlah musuh yang jauh lebih banyak, pasukan orang Nomad ini terpukul mundur dan Cia Keng Hong tidak berhasil menyelamatkan kaisar sehingga kaisar menjadi tawanan Sabutai. Dengan hati penuh duka dan juga kagum Cia Keng Hong menyempurnakan jenazah delapan orang jenderal yang gugur secara gagah perkasa itu, kemudian pendekar ini menyusun kekuatan, bergabung dengan pasukan pemerintah yang menjaga di tapal batas dan berusaha untuk menyerang benteng Sabutai dan menolong kaisar yang ditawan. Akan tetapi, usaha yang berkali?kali dilakukan itu gagal terus, dan dengan sia?sia dia menanti bala bantuan dari selatan yang tak kunjung datang. Malam hari itu, kembali mereka telah gagal dan para pemimpin Suku Nomad mulai merasa putus asa dan mulai merasa berat untuk mengorbankan orang-orang mereka lebih banyak lagi demi kepentingan Kaiser Beng, sedangkan bala bantuan dari Kerajaan Beng tidak kunjung datang.

Setelah melihat sikap pasukan orang?orang Nomad yang membantunya menentang Sabutai, dan mendengar pendapat-pendapat, para pemimpin mereka yang mulai merasa putus asa karena banyaknya korban di kalangan mereka dan gagalnya penyerbuan mereka terhadap benteng Sabutai yang amat kuat itu, Cia Keng Hong lalu berkata kepada mereka, ditujukan kepada Yalu, pemimpin suku pedagang kuda yang pernah dibantunya ketika suku ini diserbu oleh pencuri-pencuri kuda.

“Aku dapat mengerti akan keadaan kita, dan aku ikut prihatin melihat jatuhnya banyak korban. Akan tetapi, kita telah melangkah jauh, menentang kemaksiatan dan pemberontakan, sudah banyak pula korban yang jatuh bagaimana kita dapat mundur begitu saja? Harap kalian tenang dan menanti di sini, aku besok akan berangkat ke selatan untuk mencari bala bantuan. Percayalah, aku dahulu sudah banyak membantu kerajaan, bahkan pernah bekerja sama dengan mendiang Panglima Besar The Hoo, maka tentu aku akan berhasil mendatangkan barisan besar untuk menggempur benteng Sabutai dan menyelamatkan sri baginda kaisar.”

Yalu dan teman-temannya tentu saja merasa setuju dan girang. Mereka hanya merasa jerih kalau harus menyerang benteng yang kuat itu lagi, akan tetapi kalau hanya menanti, kemudian memperoleh kesempatan membalas kematian teman-teman dan anak-anak buah mereka, tentu saja mereka merasa girang. Maka berundinglah para pimpinan itu dengan Cia Keng Hong yang sudah mengambil keputusan untuk berangkat sendiri ke selatan.

Selagi mereka melakukan perundingan dengan serius, tiba-tiba terdengar suara gaduh, disusul suara suitan-suitan yang menjadi tanda bahwa tempat itu kedatangan musuh! Tentu saja para pemimpin Suku Bangsa Nomad itu terkejut sekali, akan tetapi dengan tenang Cia Keng Hong berkata, “Harap jangan gugup. Kalian perintahkan anak buah masing-masing untuk mundur dan berpencar. Aku akan lebih dulu pergi memeriksa apa yang terjadi!” Baru saja habis kata-kata ini, orangnya sudah lenyap dari situ karena pendekar sakti itu telah mempergunakan ilmu kepandaiannya untuk melesat keluar perkemahan dengan cepat sekali!

Seperti juga dengan lain pemimpin yang cepat berlarian keluar, Cia Keng Hong merasa lega ketika mendengar bahwa ribut-ribut itu bukan disebabkan oleh serbuan musuh, melainkan hanya dua orang mata-mata musuh yang telah dikepung!

“Mereka itu lihai bukan main sampai kami kewalahan dan banyak sudah kawan-kawan yang roboh oleh mereka.”

Mendengar laporan ini, Cia Keng Hong menjadi marah dan penasaran, dia lalu mempercepat larinya menuju ke tempat di mana anak buah Suku Bangsa Nomad itu sedang berteriak-teriak mengepung dua orang. Ketika tiba dekat, Cia Keng Hong terkejut bukan main.

Dia tidak mengenal kakek dan nenek yang sedang duduk di atas tanah, saling beradu punggung dan kini mereka berdua menggerak-gerakkan tongkat butut mereka di atas tangan sambil bernyanyi-nyanyi itu. Nyanyian itu diucapkan dalam bahasa asing, dan biarpun dia tidak menguasai bahasa itu, Cia Keng Hong yang berpengalaman luas mengenal Bahasa Sailan. Dua orang kakek dan nenek berkebangsaan Sailan muncul di tempat itu, sungguh mengherankan. Akan tetapi yang mengejutkan hati pendekar sakti ini bukan kenyataan bahwa mereka adalah orang-orang asing dari barat itu, melainkan menyaksikan kelihaian mereka yang luar biasa. Mereka itu kelihatannya hanya memukul-mukulkan tongkat butut ke atas tanah di depan mereka, sama sekali tidak memperdulikan pengeroyokan puluhan orang yang menyerang mereka kalang-kabut dengan senjata mereka. Akan tetapi kenyataannya, tidak ada sebuahpun senjata para pengeroyok yang mengena tubuh mereka karena selalu tertangkis oleh tongkat butut dan bayangan tongkat sedangkan setiap kali tongkat mereka memukul tanah, pasir dan tanah muncrat meluncur ke depan, mengenai para pengeroyok dan hebatnya, pasir dan tanah ini sudah sanggup merobohkan banyak sekali orang-orang yang mengeroyok itu! Sekali pandang saja tahulah Cia Keng Hong bahwa dua orang tua itu adalah orang-orang yang amat lihai, gerakan tongkat mereka mengeluarkan angin menderu sehingga semua senjata lawan terhalau, dan tanah dan pasir yang beterbangan merobohkan para pengeroyok itu adalah akibat pencokelan dengan ujung tongkat dan tentu saja ada tenaga sin-kang yang amat kuat tersalur di tangan mereka untuk dapat melakukan serangan balasan itu. Apalagi kalau dia memandang ke arah wajah mereka yang tertimpa sinar layung matahari senja itu, dia makin kaget karena wajah putih kapur dari kakek itu, dan wajah hitam hangus dari nenek itu, adalah akibat dari hawa beracun yang agaknya dilatih oleh dua orang tua itu, seperti yang kadang-kadang dapat ditemukan di antara tokoh-tokoh kaum sesat yang berilmu tinggi.

“Harap kalian semua mundur!” Cia Keng Hong berseru dan mendengu seruan pendekar tua yang mereka kagumi itu, semua pengeroyok mundur sambil menyeret belasan orang yang telah menjadi korban sambaran tanah dan pasir. Ternyata tanah dan pasir itu menyambar muka dan tubuh mereka demikian kerasnya sehingga menembus kulit daging, seperti peluru-peluru kecil dari baja saja! Mereka semua memandang kepada Cia Keng Hong penuh harapan, karena merekapun maklum bahwa dua orang kakek itu tentu merupakan orang-orang luar biasa yang tidak mungkin dapat dilawan oleh tenaga biasa, dan agaknya hanya Pendekar Sakti Cia Keng Hong saja yang akan dapat menghadapi mereka. Maka semua orang segera mundur dan duduk menonton, membuat lingkaran lebar. Juga Yalu dan teman-temannya yang sudah tiba di situ memberi isyarat agar orang-orang mereka diam saja jangan mengganggu Cia Keng Hong, akan tetapi juga harus siap menghadapi segala kemungkinan.

Cia Keng Hong melangkah maju, dan kebetulan saja dia kini berhadepan dengan kakek bermuka putih yang masih duduk bersila, sedangkan nenek itupun masih duduk di belakangnya, beradu punggung dan bersila pula. Kakek itu mengangkat muka memandang dan sejenak mereka beradu pandang dengan penuh selidik. Karena Cia Keng Hong tidak mengenal mereka, juga tidak tahu apakah maksud kedatangan mereka, maka dia tidak berani bersikap kasar.

“Ji-wi locianpwe, harap ji-wi suka memaafkan kalau para teman kami bersikap kasar terhadap ji-wi, karena tidak mengenal ji-wi locianpwe. Kalau boleh kami bertanya, siapakah ji-wi locianpwe yang terhormat dan apakah maksud kedatangan ji-wi?”

Mendengar suara yang mengandung wibawa dan tenaga khi-kang kuat itu, si kakek bermuka putih memandang tajam, bahkan nenek muka hitam itupun menoleh dan kini sekali bergerak, tubuhnya yang tadi bersila membelakangi kakek itu, tahu-tahu telah pindah ke sebelah si kakek dan ikut memandang tajam.

Kakek itu lalu terkekeh dan tongkatnya bergerak memukul tanah. Kini bukan pasir dan tanah halus yang berhamburan, melainkan segumpal tanah keras terbang ke arah muka Cia Keng Hong! Pendekar ini mengerutkan alis, menggerakkan tangannya dan sekali sampok saja gumpalan tanah itu meluncur ke depan si kakek dan amblas masuk ke dalam tanah saking kerasnya pendekar ini menyampok. Kakek dan nenek itu kelihatan terkejut dan memandang makin tajam penuh selidik.

“Engkau siapa?” Kakek itu bertanya tanpa menjawab pertanyaan Cia Keng Hong tadi.

“Nama saya Cia Keng Hong,” jawab pendekar itu dengan sikap tenang.

Akan tetapi mendengar nama ini, kakek dan nenek itu sama sekali tidak tenang, bahkan terkejut sekali, memandang kepada Cia Keng Hong dengan mata terbelalak.

“Engkau Cia Keng Hong ketua Cin-ling-pai?” Nenek itu bertanya, suaranya tinggi mendesis seperti ular marah.

“Benar,” Keng Hong mengangguk.

“Kau dahulu kaki tangan si keparat The Hoo?” Kakek itupun membentak sehingga Keng Hong menjadi kaget. Kiranya dua orang ini adalah bekas musuh-musuh mendiang Panglima Besar The Hoo.

“Saya dahulu sahabat mendiang Panglima The Hoo,” dia menjawab dan kini balas memandang penuh selidik.

“Dan kau yang memimpin orang-orang ini menyerbu benteng Mongol?” kembali kakek itu bertanya.

Keng Hong mengangguk. “Secara curang, Sabutai telah menawan Kaisar Beng, maka kami berusaha untuk membebaskan beliau.”

“Ha-ha-ha-ha!” Kakek bermuka putih itu tertawa, sehingga mulutnya terbuka dan tidak nampak sebuahpun gigi. “Cia Keng Hong manusia sombong! Kau tadi tanya siapa kami dan apa keperluan kami datang ke sini? Bukalah mata dan telingamu baik-baik. Kami adalah Hek-hiat Mo-li dan Pek-hiat Mo-ko dan calon Kaisar Sabutai adalah murid kami. Kedatangan kami di sini adalah untuk membunuh engkau dan membasmi semua anak buahmu!”

Mendengar bahwa dua orang tua itu adalah guru Sabutai, marahlah Yalu. Dia tadi bersama teman-temannya telah mempersiapkan pasukan anak panah, maka begitu mendengar siapa adanya dua orang itu yang datang mengacau itu, Yalu sudah memberi isyarat kepada pasukan panahnya. Belasan batang gendewa dipentang dan anak-anak panah dilepaskan. Terdengar suara berdesing-desing ketika belasan batang anak panah menyambar ke arah dua orang tua yang masih duduk bersila berdampingan itu. Mereka hanya terkekeh, sama sekali tidak mengelak atau menangkis.

“Suuingggg… wirrr… takk-takk-takkk!” Semua anak panah tepat mengenai sasaran, yaitu tubuh kakek dan nenek itu, akan tetapi betapa kaget hati Yalu dan kawan-kawannya melibat semua anak panah yang mengenai tubuh mereka itu seperti mengenai dua buah arca besi dan patah-patah, runtuh ke atas tanah di sekitar tubuh kedua orang tua itu!

“Serang…!” Yalu berteriak dan bersama tiga orang temannya, yaitu kepala-kepala Suku Nomad yang bertubuh tinggi besar dan kuat, dia sudah menerjang ke depan. Terlambat Cia Keng Hong mencegah, karena empat orang tinggi besar itu sudah menyerbu dengan golok di tangan membacok dengan ganas.

Terdengar dua orang tua itu terkekeh, lalu tiba-tiba mereka meloncat dan nampak segulungan sinar ketika mereka menggerakkan tongkat.

“Cring-cring-tranggg…!” Empat batang golok yang menyambar itu bertemu dengan gulungan sinar, seperti dibelit oleh sinar itu dan terdengar teriakan mengerikan ketika senjata-senjata itu seperti dipaksa membalik dan menghunjam dada pemegangnya sendiri!

Cia Keng Hong menjadi marah sekali. Cepat dia meloncat ke depan, kedua tangannya menyerang dengan pukulan tangan terbuka ke arah kakek dan nenek itu.

“Ihhhh…!” Hek-hiat Mo-li memekik.

“Aihh…!” Pek-hiat Mo-ko juga berteriak. Keduanya meloncat ke belakang dan robohlah empat orang pimpinan Suku Nomad itu, dengan golok menembus dada dan tewas seketika! Keng Hong memandang dengan penuh penyesalan. Akan tetapi, para suku Nomad yang melihat pemimpin mereka tewas, menjadi marah sekali. Sambil berteriak-teriek mereka mendekat dengan sikap mengancam. Keng Hong yang maklum bahwa kalau mereka maju berarti hanya mengantar nyawa secara sia-sia belaka, lalu mengangkat tangan dan berseru nyaring penuh wibawa, “Mundur semua! Biarkan aku menghadapi dua iblis ini!”

Semua orang mentaati dan mengurung tempat itu. Sedangkan Keng Hong yang maklum bahwa dua orang lawannya itu lihai sekali, sudah mengeluarkan suara melengking nyaring dan panjang seperti pekik seekor burung rajawali yang menantang musuh, kemudian dengan tangan kosong tubuhnya sudah mencelat ke depan dan menyerang nenek dan kakek itu dengan jurus-jurus maut dari Ilmu Silat San-in-kun-hoat. Dalam segebrakan saja pendekar ini telah menghantam ke arah ulu hati Pek-hiat Mo-ko dan sekaligus tangannya menampar ke arah ubun-ubun kepala nenek Hek-hiat Mo-li dan sukar dikatakan mana di antara kedua serangan ini yang lebih berbahaya karena keduanya adalah gerakan maut yang kalau mengenai sasaran sukar bagi lawan untuk membebaskan diri dari maut. Kedua orang tua yang amat lihai itu terkejut, akan tetapi ternyata kakek dan nenek tua yang kelihatan sudah pikun itu masih memiliki kesigapan yang mengagumkan. Mereka berdua tidak saja dapat meloncat sambil mengelak, malah lompatan mereka itu membuat mereka berpencar dan mengurung Keng Hong dari depan belakang, kemudian secara langsung mereka membalas. Mereka berdua mengeluarkan teriakan-teriakan mengerikan dan Hek-hiat Mo-li sudah menghantamkan tangan kanannya dari belakang ke arah punggung Keng Hong. Sedangkan Pek-hiat Mo-ko juga menampar dengan telapak tangan ke arah dada pendekar sakti itu. Dari telapak tangan Hek-hiat Mo-li mengepul asap hitam, sedangkan dari tangan Pek-hiat Mo-ko mengepul asap atau uap putih! Itulah bukti betapa hebatnya sin-kang mereka dan tangan beracun mereka.

Cia Keng Hong mengenal lawan tangguh. Secara otomatis kuda-kuda kedua kakinya bergerak ke kiri seperempat lingkaran sehingga kalau tadi kedua lawan berada di depan dan belakang, kini yang di depan menjadi di sebelah kanannya sedangkan yang tadinya di belakang menjadi di sebelah kirinya. Kedua lengannya dikembangkan ke kanan kiri dan dengan tepat sekali dia telah menyambut pukulan kedua orang lawannya dari kanan kiri itu dengan dorongan tangannya yang terbuka sambil mengerahkan tenaga sin-kang.

“Plak! Plakk!”

Hek-hiat Mo-li terpekik dan terhuyung dua langkah ke belakang, sedangkan Pek-hiat Mo-ko hanya terhuyung satu langkah ke belakang. Kedua kaki Cia Keng Hong sendiri ambles ke tanah sampai beberapa senti dalamnya. Diam-diam pendekar ini terkejut, maklum bahwa tenaga kedua orang lawan itu hampir setingkat kuatnya dengan tenaganya sendiri, dan ternyata si kakek itu sedikit lebih kuat daripada si nenek.

“Cia Keng Hong, engkau akan mampus di tanganku!” teriak Pek-hiat Mo-ko.

“Biar kau menyampaikan tantangan kami kepada The Hoo si keparat yang berada di neraka!” Hek-hiat Mo-li juga berteriak.

Dua orang tua itu lalu menancapkan tongkat masing-masing di atas tanah, kemudian mereka menggosok-gosok kedua tangan mereka sehingga nampak uap mengepul makin tebal dan terasa ada hawa panas datang dari tubuh nenek itu, akan tetapi dari tubuh kakek itu menyambar hawa dingin! Kembali Keng Hong terkejut, namun dia tidak kehilangan ketenangannya den berdiri di tengah-tengah, kedua kakinya memasang kuda-kuda yang kokoh kuat, yaitu kedua kaki terpentang lebar, lutut ditekuk den tubuh tegak seperti seorang yang menunggang kuda. Memang pasangan kuda-kuda itu adalah yang disebut “Menunggang Kuda”, kokoh kuatnya seperti kedua kaki telah berakar di bumi, namun ringannya seperti kaki burung yang siap terbang. Tangan kanan di pinggang kanan, jari-jarinya terbuka dan membentuk cakar garuda, sedangkan jari-jari tangan kiri lurus di depan dada kiri. Seluruh tubuhnya sama sekali tidak bergerak, seolah-olah dia telah menjadi patung, dan hanya sepasang matanya yang masih tajam itu mengerling ke kanan kiri, mengikuti gerak-gerik kedua orang musuhnya yang lihai itu.

“Yieeeehhh…!” Hek-hiat Mo-li sudah menerjang dari kiri, menggunakan kedua tangannya yang berobah hitam itu untuk mencengkeram.

“Aarrggghhhh…!” Pek-hiat Mo-ko juga mengeluarkan suara gerengan seperti biruang, kedua tangannya menyerang pula dengan pukulan-pukulan tangan kosong dari kanan.

Keng Hong maklum bahwa dengan menancapkan tongkat di tangan lalu menyerang dengan tangan kosong, tentu kakek dan nenek itu lebih mengandalkan kelihaian tangan mereka yang jelas mengandung hawa beracun yang jahat. Maka dia tidak berani memandang rendah dan melihat betapa serangan nenek itu lebih dulu sedetik, dia cepat menghadapinya dengan memutar tubuh ke kiri tanpa mengalihkan kedua kakinya yang terpentang lebar. Dengan tangan berputar, jari-jarinya menuding ke atas dan ke bawah, dia memapaki serangan nenek yang mencengkeramnya. Pendekar sakti ini menggunakan gerakan “Menyembah Langit dan Bumi”, suatu gerakan yang amat ampuh, apalagi karena dilakukan dengan pengerahan tenaga sin-kang yang kuat sehingga dari gerakan kedua tangannya itu menyambar hawa pukulan dahsyat. Akan tetapi, pendekar ini hanya menangkis saja karena dari sambaran angin di sebelah kanannya, dia maklum bahwa serangan Pek-hiat Mo-ko sudah tiba pula.

“Desss! Plakk!” Tubuh nenek itu mencelat ke belakang dan Keng Hong sudah memutar tubuh ke kanan, melengkungkan tubuh ke kiri dan meluruskan kaki kanan sehingga tubuh atasnya menjauh. Dia melihat pukulan kedua tangan kakek itu datang mengancamnya dengan hebat, tangan kanan kakek itu menusuk ke arah matanya sedangkan tangan kiri digerakkan seperti sebatang golok menusuk ke arah ulu hatinya! Datangnya serangan amat cepat, didahului uap putih yang mengeluarkan hawa dingin sekali! Untuk mengelak sudah tidak ada waktu, maka Keng Hong lalu menyambut serangan ke matanya dengan tangan kiri, sedangkan tusukan ke dadanya dia terima begitu saja! Dia tidak berani menggunakan tangan kanannya karena tangan itu perlu dia persiapkan untuk menghadapi serangan nenek dari belakangnya.

“Plakk! Bukk!” Tangan kanan kakek bermuka putih itu bertemu dengan tangan kiri Cia Keng Hong, sedangkan jari-jari tangan kiri kakek itu menghantam dengan jari-jari terbuka ke dada pendekar sakti ketua Cin-ling-pai. Akibatnya hebat! Kakek bermuka putih itu terbelalak, mukanya yang putih itu menjadi makin pucat dan matanya bergerak liar, mulutnya mengeluarkan teriakan-teriakan aneh dalam bahasa asing. Kiranya Cia Keng Hong telah mempergunakan ilmunya yang amat hebat, yaitu Thi-khi-i-beng, sehingga begitu kedua tangan Pek-hiat Mo-ko bertemu dengan tangan kiri dan dadanya, kedua tangan kakek muka putih itu melekat dan langsung saja tenaga sin-kangnya membanjir keluar, tersedot melalui tangan dan dada ketua Cin-ling-pai!

Akan tetapi Keng Hong juga merasa khawatir karena sin-kang yang memasuki tubuhnya itu mengandung racun yang berhawa dingin, mengendalikan tenaganya agar tidak menyedot terlampau banyak dan Thi-khi-i-beng itu hanya dipergunakan untuk menundukkan lawan saja.

“Ahhhhh…!” Pek-hiat Mo-ko mengeluarkan pekik nyaring dan mukanya menunjukkan kekagetan dan kengerian. Melihat ini, Hek-hiat Mo-li dapat menduga bahwa temannya itu terancam bahaya, apalagi dia melihat betapa kedua tangan temannya seperti melekat pada tubuh ketua Cin-ling-pai, maka sambil mengeluarkan suara melengking nyaring nenek inipun menyerang hebat dengan pukulan tangannya ke arah tengkuk Keng Hong.

“Wuuuuttt… plak! Plak!” Kembali Keng Hong menghadapi musuhnya yang tidak kalah lihainya daripada kakek itu dengan penggunaan Thi-khi-i-beng yang tersalur di seluruh tubuhnya. Tangan kanannya menyambut hantaman nenek itu sehingga kedua tangan mereka bertemu dan saling menempel, sedangkan tamparan tangan kanan nenek itu ke arah punggungnya dia biarkan saja karena Ilmu Thi-khi-i-beng menyambut pukulan itu, membuat tangan si nenek melekat di punggungnya.

Aihhhh…!” Hek-hiat Mo-li juga memekik ngeri ketika merasa betapa tenaga sin-kangnya membanjir keluar tanpa dapat dicegahnya, sedangkan ketika dia hendak menarik kedua tangannya, ternyata dua tangan itu sudah melekat pada tubuh lawan dan tidak dapat ditariknya lepas!

Akan tetapi, pada saat dua orang kakek dan nenek itu terkejut dan khawatir sekali menghadapi ilmu aneh yang selamanya belum pernah mereka hadapi itu, ilmu yang membuat kedua tangan mereka melekat pada tubuh lawan dan yang membuat tenaga sakti mereka membanjir keluar, di lain fihak Cia Keng Hong juga terkejut dan maklum bahwa kalau dia melanjutkan penggunaan Thi-khi-i-beng, dia sendiri tidak urung akan celaka karena tenaga sin-kang yang membanjir keluar dari tubuh dua orang lawannya itu mengandung hawa beracun yang amat jahat dan berlawanan sifatnya, yaitu hawa beracun dari kakek itu amat dingin sebaliknya tubuh nenek itu mengeluarkan hawa yang amat panas. Di sebelah dalam tubuhnya bisa keracunan dan rusak oleh dua hawa beracun yang saling berlawanan ini.

Pendekar sakti dari Cin-ling-pai ini tentu saja tidak sudi untuk mengadu nyawa dengan kedua orang lawannya, maka dia cepat merendahkan tubuh dengan menekuk kedua lututnya, kemudian dengan berbareng dia melepaskan tenaga sakti Thi-khi-i-beng dan pada saat itu juga tubuhnya meluncur ke depan sehingga terlepaslah dia dari kedua orang lawannya.

Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li yang merasa betapa tenaga mujijat yang membuat tangan mereka melekat itu tiba-tiba lenyap, kalah cepat dan sebelum mereka sempat memukul, tubuh lawan yang sakti itu telah meluncur ke depan. Mereka menjadi marah sekali, akan tetapi juga agak jerih karena mereka maklum bahwa lawan ini memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi dan aneh. Dengan hati-hati dan dengan mata mengandung sinar berapi, nenek dan kakek itu kembali menerjang Keng Hong dengan pukulan-pukulan yang dikerahkan sekuatnya, mengandung hawa beracun bergulung-gulung berbentuk uap hitam dan putih. Cia Keng Hong yang sudah maklum bahwa tingkat kepandaian dua orang lawan ini tidak banyak selisihnya dengan tingkatnya sendiri, menghadapi mereka dengan waspada dan hati-hati, kini bersilat dengan dasar ilmu silat tinggi Thai-kek-sin-kun sehingga tubuhnya seolah-olah berobah menjadi bayang-bayang saja yang sukar sekali dapat disentuh oleh kedua orang lawan.

Tiba-tiba Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li mengeluarkan pekik panjang dan mereka merobah gerakan mereka. Keng Hong terkejut sekali. Kini dua orang itu tidak bergerak menyendiri, melainkan mereka bersilat dengan gerakan bergabung! Pek-hiat Mo-ko berputaran dan kaki tangannya menghujankan serangan dari kanan ke kiri, sedangkan Hek-hiat Mo-li berputar dari kiri ke kanan. Gerakan mereka saling membantu dan saling mengisi sehingga Keng Hong menjadi sibuk menghadapi lawan yang seolah-olah merupakan seorang lawan yang dapat memecah diri menjadi dua, yang gerakan-gerakannya demikian otomatis sambung-menyambung, saling melindungi dan saling membantu. Dia terkejut dan kagum sekali karena dia maklum bahwa dua orang ini telah menciptakan semacam ilmu silat mujijat yang dimainkan secara berbareng oleh dua orang. Dia percaya bahwa kalau dua orang ini bersilat seperti itu, mereka kuat sekali dan biar menghadapi pengeroyokan banyak orangpun akan mampu saling melindungi. Dia sendiri mulai terdesak dan dua kali sudah dia terkena pukulan pada pundak kirinya dan totokan pada pangkal lengannya. Untung dia masih sempat melindungi bagian yang terpukul dan tertotok itu dengan sin-kang, kalau tidak tentu dia sudah terluka keracunan. Betepapun juga, pendekar sakti ketua Cin-ling-pai ini terdesak hebat dan harus diakuinya bahwa baru sekarang selama puluhan tahun ini dia bertemu tanding yang demikian lihainya.

Hanya karena Cia Keng Hong mahir ilmu silat sakti Thai-kek-sin-kun sajalah maka dia masih mampu bertahan, sungguhpun dia terdesak dan tidak mampu melakukan serangan balasan. Sayang, pikirnya. Kalau Siang-bhok-kiam berada di tangannya, dia tidak akan gentar menghadapi dua orang ini, den tentu dia tidak akan terdesak seperti sekarang ini.

“Desss…! Plak-plak…!” Kembali Cia Keng Hong terpaksa menerima dua kali tamparan Hek-hiat Mo-li yang mengenai punggung den pundaknya setelah dia menangkis hantaman Pek?hiat Mo?ko. Sekali ini, hebatnya tamparan membuat kepalanya pening dan tubuhnya terhuyung dan dadanya sesak. Untung baginya bahwa tangkisannya yang keras sebelumnya telah membuat tubuh Pek-hiat Mo-ko terpelanting. Kalau tidak, dalam keadaan terhuyung itu tentu sukar baginya untuk menyelamatkan diri.

Melihat betapa jago mereka terhuyung-huyung, sedangkan pertempuran itu berjalan lambat sehingga mereka memandang rendah kepada kakek dan nenek itu, empat orang anggauta pasukan Mancu menyerbu dengan tombak di tangan, langsung menyerang kakek dan nenek itu.

“Jangan…!” Cia Keng Hang membentak, namun terlambat. Empat orang itu telah menyerang dan menusukkan tombak mereka.

“Trakk-trakkk… desss!”

Empat batang tombak itu memang mengenai tubuh kakek dan nenek yang menerimanya sambil tersenyum mengejek dan patah-patahlah empat gagang tombak itu, kemudian begitu kedua tangan Hek-hiat Mo-li dan Pek-hiat Mo-ko bergerak, empat orang Mancu itu berteriak mengerikan dan tubuh mereka terlempar dengan kepala pecah dan tewas seketika itu juga!

Keng Hong yang masih merasa pening itu menjadi marah sekali. Dia meloncat ke depan, kedua tangannya memukul dengan tangan terbuka, sambil mengerahkan sin-kangnya. Angin pukulan menyambar dahsyat ke arah tubuh Hek-hiat Mo-li dan Pek-hiat Mo-ko. Akan tetapi dua orang tua itu sudah siap siaga, mereka menekuk lutut, mengerahkan tenaga dan mendorongkan kedua tangan ke depan, masing-masing menyambut pukulan Cia Keng Hong.

Desss! Desss…!” Tubuh Cia Keng Hong kembali terjengkang dan terhuyung ke belakang. Tidak kuat dia menghadapi tenaga yang bergabung itu dan pendekar ini merasa dadanya sesak dan mencium bau darah, tanda bahwa dia menderita luka yang biarpun tidak parah dan tidak berbahaya akan tetapi mengurangi daya tempurnya. Sedangkan tubuh kedua lawannya hanya bergoyang-goyang saja.

“Cia Keng Hong, bersiaplah untuk mampus!” Hek-hiat Mo-li berseru keras dan bersama temannya dia sudah siap untuk menyerang lagi.

“Ayah, biarkan saya mengambil bagian!” Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu telah muncul seorang pemuda tampan yang bukan lain adalah Cia Bun Houw! Tak lama kemudian muncul pula seorang pemuda lain yang berpakaian sederhana berwama kuning, pemuda ini adalah Tio Sun yang datang bersama Cia Bun Houw.

Seperti telah dituturkan di bagian depan Cia Bun Houw bersama Tio Sun berpisah dari encinya, dari Kwi Beng dan Kwi Eng untuk pergi melakukan penyelidikan terhadap musuh-musuh Cin-ling-pai yang telah melarikan diri ke utara. Di dalam perjalanan itu, mereka mendengar pula akan peristiwa hebat yang menimpa kaisar, yang kabarnya tertawan oleh musuh. Juga mereka mendengar berita angin bahwa para musuhnya kini bekerja kepada Thaikam Wang Cin yang menjadi biang keladi jatuhnya malapetaka atas diri kaisar yang tertawan gerombolan liar. Maka dua orang muda perkasa ini lalu mengambil keputusan untuk menyusul ke utara, kini dengan dua tujuan. Pertama untuk mencari musuh-musuh Cin-ling-pai, kedua untuk berusaha membantu dan menyelamatkan kaisar. Demikian, pada hari itu mereka tiba di dalam hutan yang menjadi markas dari pasukan-pasukan Mancu dan Khitan yang dipimpin oleh Cia Keng Hong dan secara kebetulan sekali melihat betapa ketua Cin-ling-pai dikeroyok oleh dua orang tua yang amat lihai. Tentu saja Bun Houw menjadi kaget dan marah, lalu meloncat mendahului Tio Sun untuk membantu ayahnya.

Lega hati Cia Keng Hong melihat munculnya pemuda ini. Dia sudah pernah menguji kepandaian Bun Houw dan maklum bahwa tingkat kepandaian puteranya yang telah menerima gemblengan manusia sakti Kok Beng Lama kini telah cukup tinggi untuk menghadapi seorang lawan seperti kakek dan nenek ini. Dia tahu bahwa tingkat kepandaian Pek-hiat Mo-ko masih lebih tinggi sedikit daripada tingkat kepandaian si nenek, maka dia cepat menghadapi kakek itu dan berkata kepada puteranya, “Houw-ji, (anak Houw), kaulawanlah Hek-hiat Mo-li dan hati-hatilah terhadap hawa beracun dari tangannya yang mengandung tenaga Yang-kang yang cukup kuat.”

“Jangan khawatir, ayah,” Bun Houw berkata dan pemuda yang merasa penasaran dan marah melihat ayahnya tadi terdesak, langsung saja bergerak cepat, menyerang Hek-hiat Mo-li dengan tamparan tangan kiri ke arah kepala nenek itu.

Hek-hiat Mo-li adalah seorang tokoh tua yang sudah puluhan tahun malang melintang di dunia persilatan bagian barat, sudah banyak menghadapi lawan-lawan tangguh. Tentu saja dia memandang rendah kepada seorang pemuda yang menurut taksirannya tidak akan lebih dari dua puluh tahun usianya itu. Maka, melihat tamparan yang datang dengan perlahan itu, dia hanya terkekeh dan mengangkat lengan kanan untuk menangkis sambil mengerahkan hawa mujijatnya sehingga gerakan tangan itu didahului oleh uap hitam, lalu disusul tangan kirinya yang menusuk dengan jari-jari terbuka ke arah lambung lawan sebagai serangan balasan.

“Dess… takkk!”

Hek-hiat Mo-li terkejut bukan main dan cepat dia meloncat ke belakang. Ketika dia menangkis, dan tusukan tangannya juga tertangkis oleh pemuda itu, kedua tangannya bertemu dengan tangan pemuda yang memiliki tenaga dahsyat sekali. Akan tetapi gerakan tangan itu, dan kedahsyatan tenaga yang menggetar-getar itu, membuat dia terbelalak karena dia mengenal gerakan tangan sakti itu. Pernah dia dan Pek-hiat Mo-ko hampir celaka oleh gerakan tangan seperti itu, ketika mereka merantau sampai ke Tibet.

“Apa hubunganmu dengan Kok Beng Lama…?” bentaknya dan mendengar bentakan ini, Pek-hiat Mo-ko juga menunda gerakannya menyerang Cia Keng Hong dan ikut memandang ke arah pemuda itu.

Bun Houw tersenyum. “Kok Beng Lama adalah suhuku, mau apa kau tanya-tanya?”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: