Dewi Maut (Jilid ke-43)

Mendengar ini, kakek dan nenek itu terkejut bukan main, lalu si nenek mengeluarkan kata-kata dalam bahasa asing, kemudian kakek dan nenek itu menggerakkan tangan dan segumpal uap putih dan hitam menyambar ke arah Cia Keng Hong dan Cia Bun Houw. Serangan ini hebat sekali, karena selain uap itu mengandung racun berbahaya, juga di dalamnya terdapat senjata rahasia berbentuk jarum-jarum halus yang meluncur ganas dan tersembunyi.

“Houw-ji, awas…!” Keng Hong berseru, maklum akan bahayanya senjata rahasia itu. Akan tetapi, seperti juga ayahnya, dengan mudah saja Bun Houw menghindarkan diri dari serangan uap hitam dengan miringkan tubuh dan menggunakan pukulan tangan yang mengeluarkan angin dahsyat meruntuhkan uap hitam dan jarum-jarum di dalamnya.

“Hendak lari ke mana kalian?” Bun Houw membentak.

“Houw-ji, jangan kejar. Biarkan mereka pergi!” Keng Hong mencegah puteranya dan Bun Houw tidak melanjutkan pengejarannya.

Keng Hong yang sudah mendengar tentang puteranya ini dari penuturan Cia Giok Keng yang pulang ke Cin-ling-pai, kini menceritakan kepada pemuda itu tentang kaisar yang ditawan musuh dan tentang usahanya untuk menyelamatkan kaisar. Dia merasa girang mendengar bahwa Tio Sun yang gagah perkasa itu adalah putera Tio Hok Gwan sahabat baiknya.

Mendengar betapa beberapa kali usaha pendekar sakti ketua Cin-ling-pai itu dalam menyelamatkan kaisar gagal, Bun Houw dan Tio Sun menyatakan hendak membantu.

“Cia-locianpwe, biarlah saya dan adik Bun Houw menyelundup ke benteng musuh untuk menyelamatkan sri baginda kaisar,” kata Tio Sun penuh semangat. Sebagai putera seorang bekas pengawal kaisar yang setia, tentu saja pemuda ini ingin sekali membuktikan dharma baktinya terhadap kaisar.

Bun Houw juga menyetujui usul Tio Sun ini, akan tetapi Cia Keng Hong menggeleng kepalanya. “Berbahaya sekali…” orang tua sakti ini berkata perlahan.

“Ayah, kami tidak takut menghadapi bahaya untuk menyelamatkan kaisar!” Bun Houw berkata nyaring.

“Hemm, aku tahu. Akan tetapi bahayanya bukan hanya mengancam kalian berdua kalau kalian menyelundup ke sana, melainkan terutama sekali mengancam keselamatan nyawa kaisar.”

“Eh, mengapa begitu?” Bun Houw bertanya kaget.

“Apa maksud locianpwe?” Tio Sun juga bertanya karena merasa heran.

“Menurut penyelidikanku, biarpun menjadi tawanan musuh, kaisar mendapat pelayanan baik dan selama ini tidak pernah diganggu keselamatannya. Besar kemungkinan Sabutai hendak mempergunakan kaisar sebagai sandera, atau hendak membujuk kaisar agar dengan suka rela suka menyerahkan tahta kerajaan kepadanya. Maka, kalau dia melihat kalian mengancam, bukan tidak mungkin dia akan merobah sikapnya terhadap kaisar.”

Tio Sun dan Bun Houw mengangguk-angguk. “Habis, bagaimana baiknya, ayah? Tidak mungkin pula kita mendiamkan saja kaisar menjadi tawanan gerombolan liar.”

“Satu-satunya jalan hanya menyerbu secara terbuka. Akan tetapi kekuatan pasukan yang berhasil kukumpulkan tidak betapa besar dan kita masih menanti datangnya bala tentara kerajaan yang tak kunjung datang. Sementara itu, kembali kita kehilangan beberapa orang, termasuk Yalu, yang tewas dalam tangan kakek dan nenek iblis itu. Tak kusangka bahwa Sabutai mempunyai guru-guru yang demikian lihainya. Pantas dia berani mengadakan pemberontakan dan menawan kaisar.”

Dua orang pemuda itu maklum bahwa kalau mereka bertindak secara lancang, selain mereka sendiri terancam bahaya, juga mereka belum tentu dapat menolong kaisar, malah mungkin membahayakan nyawa kaisar. Oleh karena itu, mereka menyerahkan siasat kepada ketua Cin-ling-pai dan menyatakan hendak membantu sekuat tenaga. Tentu saja Cia Keng Hong merasa girang sekali memperoleh bantuan puteranya dan Tio Sun, hatinya menjadi besar, semangat dan harapannya timbul kembali untuk menyelamatkan kaisar.

***

Memang benar seperti dikatakan oleh Cia Keng Hong kepada puteranya dan Tio Sun bahwa Kaisar Ceng Tung mendapat pelayanan baik sekali oleh Sabutai. Bahkan lebih dari itu, kaisar memperoleh kebebasan di dalam gedung kecil yang dikelilingi taman indah, hanya dijaga oleh pasukan penjaga secara ketat di sekeliling taman itu sehingga tidak ada orang luar yang dapat masuk. Akan tetapi, kaisar sendiri dapat berjalan-jalan di dalam taman, dan apapun yang dibutuhkannya dapat segera terlaksana karena banyak terdapat pelayan-pelayan wanita yang selalu siap melaksanakan perintahnya.

Malam itu bulan purnama gilang-gemilang memenuhi permukaan bumi dengan sinarnya yang sejuk. Kaisar Ceng Tung nampak duduk seorang diri di dalam taman, duduk di atas bangku sambil termenung mehghadapi bunga-bunga yang mekar dan semerbak harum bermandikan sinar bulan purnama. Hatinya merasa lengang, sunyi dan merana karena malam yang indah dan sunyi ini mengingatkan dia akan kekasihnya, Azisha yang telah tewas. Malam yang seindah itu mengingatkan dia akan keindahan wajah kekasihnya, kemerduan suaranya dan kehangatan serta kelembutan tubuhnya, membuat dia merasa rindu sekali. Kaisar yang baru berusia dua puluh tiga tahun ini, yang masih amat muda, tersiksa oleh kerinduan akan belaian den kasih sayang wanita. Memang benar bahwa para pelayan yang disediakan oleh Sabutai untuk melayaninya terdiri wanita-wanita muda yang cantik-cantik, akan tetapi sebagai seorang kaisar yang berkedudukan tinggi dan mulia, jauh lebih tinggi daripada kedudukan Sabutai sebagai raja gerombolan liar itu, Kaisar Ceng Tung tidak sudi merendahkan dirinya dengan para pelayan itu. Pula, setelah selama ini dia setiap malam terbuai dalam pelukan seorang wanita secantik Azisha, mana mungkin dia tertarik oleh kecantikan biasa para pelayan itu?

Sinar bulan purnama secara ajaib menyulap keadaan di dalam taman yang setiap hari telah dilihatnya itu menjadi semacam taman impian yang luar biasa, mandi cahaya keemasan yang redup den sejuk menghijau, menimbulkan bayang-bayang tipis yang aneh namun indah mempesonakan. Rasa rindunya terhadap Azisha makin menekan dan kaisar yang muda ini diam-diam merintih di dalam batinnya. Dia telah kehilangan segala-galanya. Kehilangan kedudukannya, kehilangan kekasihnya, bahkan hampir kehilangan harapan karena sampai berbulan lamanya tidak ada usaha datang dari kota raja untuk membebaskannya. Baru sekarang dia dapat melihat kenyataan, baru terbuka matanya betapa dia selama ini telah pulas dalam pelukan Azisha, telah terlena dalam kepalsuan Wang Cin yang kini menjebloskannya. Menyesallah hati kaisar muda ini dan diam-diam dia bersumpah bahwa andaikata umumya masih panjang dan dia dapat memperoleh kembali kedudukannya, dia akan menebus semua kesalahannya terhadap rakyatnya, dia akan menjadi seorang kaisar yang baik.

Azisha…! Biarpun dia mendengar bahwa kekasihnya itu tewas karena hendak merayu Sabutai, dan biarpun dia sudah sadar bahwa wanita itu adalah kaki tangan Wang Cin yang sengaja diumpankan oleh Wang Cin untuk menundukkannya, namun tak mungkin baginya untuk melupakan wanita itu. Nama itu saja sudah mengandung kemesraan hebat, mengingatkan dia akan saat-saat penuh dengan kebahagiaan dan cinta kasih, penuh dengan kenikmatan dan harus diakuinya bahwa dia pernah jatuh cinta mati-matian kepada Azisha.

Tiba-tiba kaisar muda itu menggerak-gerakkan cuping hidungnya karena hidungnya mencium keharuman yang lain daripada keharuman bunga di sekelilingnya. Keharuman semerbak yang halus dan menyegarkan, yang mengingatkan dia akan keharuman yang keluar dari tubuh Azisha. Cepat dia menoleh ke kiri dan kaisar itu menahan napas, jantungnya berdebar dan matanya terbelalak. Di dalam sinar bulan yang kuning emas kehijauan itu dia melihat sesosok bayangan orang. Bayangan Azisha! Tak salah lagi! Tubuh yang ramping itu, lenggang yang lemah gemulai, wajah yang bersinar-sinar itu, siapa lagi kalau bukan Azisha?

Azisha…!” Kaisar berseru lirih dan mengulurkan kedua tangannya, jantungnya berdebar penuh kerinduan. Sesaat dia lupa bahwa wanita yang bernama Azisha telah tewas, dan bahwa tidak mungkin Azisha datang kepadanya malam hari ini.

Sosok bayangan wanita itu kini telah tiba di depannya, sejenak wanita ini berdiri dan memandang dengan sinar mata bercahaya dan bibir manis menahan senyum, kemudian ketika kaisar mengulangi panggilannya, dia menjatuhkan diri berlutut.

“Azisha…!”

Wanita itu menghela napas panjang, lalu terdengar suaranya halus, lembut, “Harap paduka maafkan, hamba bukanlah Azisha.”

Kaisar Ceng Tung terperanjat, lalu sadar bahwa memang tidak mungkin kalau wanita ini Azisha. Azisha sudah mati dan tidak mungkin arwahnya yang datang menggodanya. Biarpun dari tubuh yang berlutut itu keluar keharuman semerbak, akan tetapi keharuman yang berbeda dengan keharuman yang keluar dari tubuh Azisha, dan biarpun suara tadi halus merdu, namun logatnya berbeda dengan logat suara Azisha yang berdarah Mongol. Ah, tentu suasana malam terang bulan purnama telah membuat dia seperti gila, pikir kaisar itu dengan hati merasa malu. Wanita ini tentu hanya seorang di antara para pelayan. Kembali dia memandang penuh perhatian lalu menggeleng kepala, membantah suara hatinya sendiri. Tidak mungkin kalau pelayan, pikirnya. Pakaiannya bukan seperti pelayan, dan dandanan rambut yang panjang halus itu, hiasan rambutnya, pakaiannya, gerak-geriknya. Bukan, pasti bukan pelayan biasa!

“Siapa namamu?” perlahan dia bertanya sambil memandang kepala yang menunduk sehingga tidak nampak mukanya itu.

“Nama hamba Khamila,” jawab wanita itu lirih pula. Suaranya halus dan mengandung getaran penuh perasaan sehingga mengharukan bagi Kaisar Ceng Tung.

“Engkau seorang pelayan?”

Wanita itu menggelengkan kepalanya. Tepat, seperti dugaanku, pikir kaisar. Dia bukan pelayan. Habis, siapa? Dan mau apa?

“Kalau begitu, apa keperluanmu masuk ke taman ini?” Pertanyaan kaisar mulai mengandung kecurigaan dan penyelidikan.

“Ampunkan hamba, hamba sengaja datang untuk… melayani paduka…” Gemetar suara itu sekarang.

Kaisar Ceng Tung mengerutkan alisnya, tidak mengerti. “Melayani aku? Melayani bagaimana maksudmu?”

“Hamba ingin melayani paduka, apapun juga yang paduka kehendaki dari hamba, akan hamba lakukan dengan segala kerendahan dan kebahagiaan hati hamba.” Kini suara itu mulai agak lebih berani sehingga timbul keheranan kaisar dan dia ingin tahu lebih banyak.

“Akan tetapi, Sabutai telah menyediakan banyak sekali pelayan dan segala kebutuhanku telah dicukupi. Sudah ada pelayan begitu banyak, perlu apa engkau hendak melayani aku?”

“Mereka itu tidak akan mampu merawat paduka dalam kesepian paduka, tidak akan dapat mengobati kesengsaraan hati paduka yang merana…”

Kaisar Ceng Tung terkejut, menahan kemarahannya dan memandang heran penuh kecurigaan. “Perempuan muda, kalau engkau mengira bahwa dengan kecantikan engkau akan dapat menggoda dan menundukkan aku, engkau keliru. Siapa yang menyuruhmu datang menemuiku di sini?”

Dengan muka masih menunduk wanita itu menjawab, “Yang menyuruh hamba adalah perasaan hati hamba sendiri, hamba bersumpah bahwa tidak ada siapapun yang menyuruh hamba, harap paduka tidak menaruh kecurigaan karena niat hamba ini tulus ikhlas dan tidak menyembunyikan sesuatu.”

Kaisar Ceng Tung makin terheran. Kata-kata yang keluar dengan halus dan tenang itu sama sekali tidak mengandung keraguan dan kebohongan, juga kata-katanya teratur baik tanda bahwa wanita ini terpelajar, sungguhpun ada logat asing dalam kata-katanya. Timbullah keinginan tahunya dan dia berkata, “Kalau begitu, apakah yang mendorongmu menemui aku dan hendak melayaniku?”

“Yang mendorong hamba adalah rasa kagum dan iba. Hamba kagum akan kegagahan dan kejantanan paduka yang sedikitpun tidak mau menyerah, tidak merasa takut biarpun telah berada di dalam cengkeraman harimau, dan hamba merasa iba melihat nasib paduka, maka hamba datang ingin menghibur paduka…”

Jantung kaisar muda itu mulai berdebar, hatinya tertarik sekali karena menganggap hal ini amat mustahil dan luar biasa anehnya. “Bangkitlah dan ke sinilah!” perintahnya.

Wanita itu bangkit berdiri dan tegaklah tubuh yang langsing itu, tubuh muda yang penuh dengan lekuk-lengkung menggairahkan di balik pakaiannya yang terbuat dari sutera halus. Dengan langkah-langkah lemah-gemulai seperti seorang penari, wanita itu datang mendekat dan berdiri dekat sekali di depan kaisar yang juga telah bangkit berdiri, menundukkan kepalanya.

Kaisar memandang rambut kepala yang halus hitam dan panjang itu dan hidungnya mencium keharuman yang aneh. “Angkat mukamu…” katanya perlahan

Wanita itu mengangkat mukanya perlahan dan bukan main kagetnya kaisar ketika melihat wajah seorang wanita muda yang amat cantik jelita! Sepasang mata yang bersinar-sinar, yang tanpa sembunyi-sembunyi memandangnya dengan cinta kasih yang jelas nampak di dalam sinar matanya, dengan bibir merah tipis tersenyum malu-malu, raut muka yang amat cantik, sikap yang menantang.

“Kau… kau cantik sekali…” Kaisar Ceng Tung berbisik lirih, suaranya agak gemetar.

Wanita itu tersenyum, jelas bahwa dia kelihatan girang oleh pujian ini. “Terima kasih, dan hamba… hamba siap dengan segala kerelaan hati untuk melayani paduka, menghibur paduka…” Suara wanita itu gemetar, tanda bahwa saat itu diapun merasa tegang dan berdebar jantungnya. Jelas bahwa dia bukanlah seorang wanita yang sudah biasa merayu pria, bukan seorang wanita yang sudah biasa bermain gila dengan sembarang pria yang dijumpainya, bukan seorang wanita cabul penjaja cinta. Makin heranlah hati Kaisar Ceng Tung dan sampai lama dia yang mulai terpesona itu menatap wajah yang amat cantik itu, wajah seorang wanita yang usianya masih amat muda, kurang lebih delapan belas tahun!

Bulan purnama bercahaya sepenuhnya memenuhi taman itu. Menurut dongeng, Dewi Asmara memang bertempat tinggal di bulan, dan setiap bulan purnama, Dewi Asmara mengirimkan kekuasaan mujijatnya melalui sinar bulan purnama ke permukaan bumi. Sinar bulan yang sudah mengandung kekuasaan mujijat ini akan mempengaruhi setiap mahluk di atas bumi, memperkuat daya tarik antara lawan kelamin, mendorong rangsangan berahi karena memang sudah menjadi tugas Dewi Asmara untuk memperlancar semua mahluk untuk berkembang biak. Demikianlah dongengnya.

Dongeng itu entah benar atau tidak, terserah. Akan tetapi yang jelas, melihat wajah cantik jelita tertimpa cahaya bulan purnama yang keemasan, Kaisar Ceng Tung terpesona. Dia baru berusia dua puluh tiga tahun, masih amat muda dan sedang dalam keadaan duka merana dan penuh kerinduan karena kehilangan Azisha, kekasihnya. Kini, menghadapi seorang wanita yang kecantikannya tidak kalah oleh Azisha, yang datang-datang menyerahkan diri kepadanya, tentu saja dia terpesona dan tanpa disadarinya lagi, kedua tangannya bergerak dan di lain saat wanita itu telah didekapnya dengan ketat dan dua jantung berdetak keras.

“Kau… kau cantik jelita…” kata Kaisar Ceng Tung setelah dia mencium wanita itu, yang dibalas oleh wanita itu dengan gerakan malu-malu namun jelas memperlihatkan bahwa wanita itu benar-benar kagum dan suka kepada kaisar muda ini. “Akan tetapi… kalau ternyata engkau disuruh oleh Sabutai untuk merayuku… aku akan berobah benci padamu…”

Wanita itu membalik dan merangkul leher Kaisar Ceng Tung, memandang dengan sepasang matanya yang bening lembut lalu berkata, “Mengapa peduka masih tidak percaya? Hamba datang atas kehendak hamba sendiri, hamba berani bersumpah…”

“Khamila, siapakah engkau yang begini berani memasuki taman ini untuk bertemu dengan aku? Kalau Sabutai mengetahui…”

“Tidak akan ada yang berani mengganggu hamba, apalagi para penjaga itu, bahkan Sabutai sendiripun tidak akan mengganggu hamba…”

“Bagaimana engkau begitu yakin? Siapakah engkau ini yang begitu besar kekuasaannya?”

“Apakah paduka belum dapat menduga? Hamba adalah isteri Sabutai…”

“Ahhh…!” Kaisar Ceng Tung mendorong dengan kedua tangannya sehingga tubuh Khamila terhuyung ke belakang dan hampir saja roboh terjengkang. Wanita itu memandang dengan mata terbelalak den wajah pucat, akan tetapi dia melangkah maju lagi dan menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaisar itu.

“Harap paduka maafkan hamba… sesungguhnya hamba melakukan ini bukan sebagai penyelewengan melainkan dengan penuh kesadaran dan juga sepengetahuan suami hamba, Sabutai…”

“Apa…?” Kaisar Ceng Tung makin terkejut dan heran, juga amat tertarik. Melihat wanita itu berlutut dan memandang kepadanya dengan mata sayu, timbul rasa iba di hatinya, apalagi ketika dia teringat betapa mesra sikap wanita itu tadi dalam pelukannya dan betapa dia telah mendorongnya hampir roboh. “Ke sinilah, Khamila, dan ceritakan sebenarnya.”

Khamila bangkit berdiri dan tak lama kemudian dia telah dipangku dan dipeluk oleh kaisar yang duduk di atas bangku. Dengan suara lembut wanita cantik itu lalu menceritakan keadaannya, bahwa dia menjadi isteri Sabutai karena dipaksa, dan bahwa dia sama sekali tidak mencinta suaminya itu.

“Akan tetapi, dia sangat mencinta hamba dan dia menyayangkan bahwa sampai sekarang hamba belum mempunyai keturunan. Saking cintanya kepada hamba, dia tidak mau mengambil isteri lain, bahkan dia merencanakan untuk menyuruh hamba tidur dengan pria lain secara diam-diam, semata-mata agar hamba dapat memperoleh keturunan.”

“Ahhh…?” Kaisar Ceng Tung terkejut dan merasa heran sekali mendengar ini.

“Hamba tidak cinta kepadanya, mana mungkin hamba dapat melahirkan keturunannya? Dan hamba ngeri kalau harus melayani pria lain. Setelah hamba melihat paduka yang menjadi tawanan, begini gagah perkasa, begini tampan dan halus, seketika hamba jatuh cinta dan hamba berterus terang kepada Sabutai bahwa kalau hamba diharuskan melayani pria lain agar memperoleh keturunan, hanya padukalah orangnya yang hamba pilih. Dia setuju, bahkan merasa terhormat karena paduka adalah seorang raja yang jauh lebih besar daripada dia.”

Kaisar Ceng Tung mengangguk-angguk dan membelai leher yang halus itu. Gairahnya berkobar ketika wanita ini terang-terangan menyatakan cintanya. Tak lama kemudian, kaisar memondong tubuh yang ringan itu memasuki gedungnya, dan Khamila hanya merangkulkan lengan ke leher kaisar itu, menyembunyikan muka di dadanya dengan jantung berdebar. Dia tidak mau menceritakan bahwa kalau hubungan di antara mereka tidak menghasilkan keturunan, dia akan dibunuh oleh Sabutai!

Dengan penuh kemesraan, mulai malam hari itu, setiap malam Khamila datang mengunjungi Kaisar Ceng Tung dan baru kembali ke istana menjelang pagi. Kaisar Ceng Tung merasa terhibur dan diam-diam dia jatuh cinta kepada isteri Sabutai ini, demikian pula dengan Khamila yang baru pertama kali itu menyerahkan cinta kasihnya kepada seorang pria.

Kurang lebih satu bulan kemudian, Khamila tidak muncul lagi! Kaisar Ceng Tung menjadi gelisah dan sampai tiga malam lamanya dia menanti-nanti di taman dengan hati penuh kerinduan. Pada malam hari ketiga, ketika dia duduk melamun di atas bangku, tiba-tiba dia mendengar suara di belakangnya. Cepat dia menoleh dengan wajah girang, mengira bahwa Khamila yang muncul. Akan tetapi betapa kaget hatinya ketika dia melihat bahwa yang datang adalah Sabutai!

Cepat kaisar berdiri dengan sikap angkuh, memandang kepada musuhnya yang muncul sendirian itu. Sedikitpun Kaisar Ceng Tung tidak merasa takut, hanya kecewa melihat bahwa yang datang bukanlah Khamila yang ditunggu-tunggui, melainkan musuhnya ini.

Sabutai tersenyum lebar dan menjura dengan hormat. “Saya datang untuk mengucapkan terima kasih!”

Kaisar Ceng Tung mengerutkan alisnya. “Apa maksudmu?” tanyanya tenang.

“Karena paduka maka isteri saya kini mengandung dan akan melahirkan seorang anak, keturunan saya! Dan karena peristiwa ini pula maka isteri saya tidak akan mati, juga saya merasa makin hormat kepada paduka.”

Kaisar Ceng Tung memandang dengan mata terbelalak. “Dia… dia tidak akan mati? Apa maksudmu?”

Kembali Sabutai tersenyum. “Tidak tahukah paduka bahwa dia mendatangi paduka dengan taruhan nyawa? Kalau dia tidak berhasil, tidak mengandung dalam waktu satu bulan, dia akan saya bunuh sebagai seorang isteri yang melakukan jina, dan mungkin paduka tidak akan terbebas dari hukuman pula. Betapapun juga, syukur dia telah mengandung. Sekali lagi, terima kesih.” Sabutai menjura lagi, kemudian pergi dari situ dengan langkah lebar dan wajah berseri.

Beberapa saat lamanya Kaisar Ceng Tung berdiri seperti patung, kemudian dia menjatuhkan diri di atas bangku dengan tubuh lemas. Berkali-kali dia menghela napas panjang, merasa hatinya kosong den berduka. Rasa cintanya terhadap Khamila makin mendalam. Wanita itu telah mengandung keturunannya! Betapa mesra dan lembut perasaan hatinya terhadap wanita itu. Akan tetapi dia tahu bahwa tidak ada kemungkinan lagi baginya untuk bertemu dengan wanita itu. Sabutai tentu akan melarang keras. Dan dia tidak dapat berbuat sesuatu! Memperjuangkan haknya sebagai ayah kandung dari anak yang berada dalam kandungan Khamila? Tidak mungkin, karena hal ini hanya akan mencemarkan nama Khamila dan dia sendiri. Tak terasa lagi, dua tetes air mata membasahi pipi kaisar ini.

***

“Huh, engkau sudah menjadi gila agaknya…” Dia meremas tangannya sendiri. Suaranya lirih dan mengandung kegemasan. Sejak tadi dia duduk di bawah pohon di dalam hutan lebat itu, seorang diri saja dan kadang-kadang termenung, kadang-kadang berbisik-bisik seorang diri seperti orang yang gila.

Dia seorang gadis yang amat cantik jelita. Usianya paling banyak dua puluh tahun, karena biarpun melihat wajahnya masih kelihatan seperti seorang dara remaja yang tidak akan lebih dari lima belas tahun, namun di balik sinar matanya dan lekuk mulutnya terbayang kematangan seorang gadis yang telah dewasa. Sepasang matanya tajam dan bening, agak lebar dan dihias bulu mata yang panjang lentik dan yang membentuk bayang-bayang di pipi atasnya. Hidungnya kecil mancung, amat serasi dengan mulutnya yang indah bentuknya, dengan sepasang bibir yang tipis merah dan amat lunak, namun bibir yang seperti buah masak itu membayangkan kekerasan hatip terutama sekali lekuk dagunya. Rambutnya hitam panjang dan halus, digelung ke atas seperti bentuk bunga teratai dan ujung rambutnya dibiarkan terurai di belakang punggungnya. Panjang sekali rambut itu, karena biarpun sudah digelung, sisanya masih mencapai punggung. Agaknya kalau gelung dilepas, rambut itu akan mencapai bawah pinggul panjangnya. Pakaiannya sederhana potongannya, juga terbuat dari bahan yang kuat dan tidak mahal, jahitannyapun kasar, akan tetapi setelah menempel di tubuhnya, menjadi patut dan manis sekali. Hal ini adalah karena bentuk tubuhnya memang amat indah, padat dan dengan lekuk lengkung sempurna, bagian atas dan bawah yang padat agaknya dipisahkan dan dibatasi oleh pinggang yang ramping sekali. Sebatang pedang panjang tergantung di pinggang kirinya dan pedang ini menambah kegagahan di samping kecantikannya yang aseli tanpa bantuan bedak dan gincu. Seorang dara yang cantik jelita, manis, dan gagah perkasa.

Dia adalah Yap In Hong! Pada saat itu, In Hong yang sudah sejak tadi duduk termenung di bawah pohon, nampak kesal dan beberapa kali mengepal tinju, meremas tangan sendiri dan bersungut-sungut memaki diri sendiri.

Dia merasa marah kepada diri sendiri karena semenjak pertemuannya dengan Bun Houw dia merasa tidak sewajarnya, tidak seperti dulu-dulu lagi dan betapapun dia berusaha untuk melupakan pemuda itu, namun setiap saat dia teringat lagi, teringat akan semua peristiwa yang dialaminya bersama pemuda itu, terbayang akan wajahnya, sinar matanya, senyum dan kata-katanya! Di lubuk hatinya ada perasaan mesra dan kerinduan untuk berdekatan dengan pemuda itu, dan inilah yang membuat dia marah kepada diri sendiri sampai dia memaki dirinya sendiri gila. Memang tanpa disadarinya sendiri, dia telah tergila-gila, telah jatuh cinta kepada pemuda itu. Pemuda itu merupakan suatu kekecualian. Selama ini, sejak kecil telah ditanamkan di dalam hatinya akan kepalsuan kaum pria, akan kejahatan dan kesewenang-wenangan mereka terhadap kaum wanita sehingga ada dasar tidak suka di dalam hatinya terhadap kaum pria. Akan tetapi, begitu bertemu dengan Bun Houw, melihat sikap pemuda itu yang gagah perkasa, yang jauh daripada mempermainkan wanita, bahkan menolak bujuk rayu wanita, yang bersikap baik, halus dan sopan kepadanya, maka jatuhlah hatinya! Akan tetapi dia berusaha menyangkal hal ini dan selalu melawan perasaan hatinya. Celakanya, makin dilawan, makin beratlah rasa hatinya, makin kuat dorongan hasratnya untuk selalu berdekatan dengan Bun Houw.

Maka terjadilah perang di dalam hatinya sendiri dan akibatnya membuat gadis ini seperti orang bingung. Kadang-kadang dia menjauhi, akan tetapi tak lama kemudian kembali dia mendekati dan diam-diam membayangi perjalanan Bun Houw.

Bahkan dari jauh dia melihat Bun Houw yang bertemu dengan orang-orang gagah, kemudian dia berkesempatan pula menyelamatkan Souw Kwi Beng dari tangan Hui-giakang Ciok Lee Kim dan membunuh orang keempat dari Lima Bayangan Dewa itu. Akan tetapi dia selalu cepat menghindarkan pertemuan dengan Bun Houw, karena dia merasa malu kalau sampai ketahuan oleh pemuda itu bahwa dia selama ini membayangi pemuda itu! Apalagi ketika dari jauh dia melihat Cia Giok Keng puteri ketua Cin-ling-pai, kemudian melihat pula Yap Kun Liong kakak kandungnya, In Hong terkejut dan cepat menjauhkan diri tidak berani mendekat.

Betapapun juga, perasaan rindunya dan ingin berdekatan dengan Bun Houw membuat dia mengintai lagi dan akhirnya dia membayangi Bun Houw yang melakukan perjalanan ke utara bersama Tio Sun. Setelah Bun Houw dan Tio Sun membantu Cia Keng Hong mengusir dua orang kakek dan nenek yang amat lihai, dua orang pemuda itu masuk ke dalam perkemahan pasukan orang Mancu dan Khitan itu dan sampai berhari-hari lamanya tidak meninggalkan tempat itu.

“Bodoh kau!” Kembali In Hong mengomeli dirinya sendiri. Betapa dia tidak akan merasa jengkel dan gemas terhadap dirinya sendiri yang selama ini selalu berkeliaran di dalam hutan di sekitar perkemahan itu, menanti-nanti munculnya Bun Houw! Dia telah membiarkan dirinya tersiksa hidup berhari-hari di dalam hutan liar dan lebat, tanpa kawan, dengan hati penuh rasa rindu dan kejengkelan. Beberapa kali dia ingin memasuki perkemahan itu untuk bertemu dengan Bun Houw, akan tetapi rasa malu membuat dia mundur kembali. Dia telah melakukan penyelidikan sekedarnya dan telah mendengar bahwa kaisar menjadi tawanan Sabutai dan bahwa kelompok orang Mancu dan Khitan yang dipimpin oleh ketua Cin-ling-pai itu berniat untuk menyelamatkan kaisar, akan tetapi selalu terpukul mundur oleh pasukan Sabutai yang jauh lebih banyak dan kuat.

“Kalau begini terus, aku bisa gila benar-benar!” Akhirnya In Hong bangkit berdiri dan mengepal tinju, mengambil keputusan bahwa dia akan menemui Bun Houw! Dia sudah mempunyai alasan untuk mengatasi rasa malunya, yaitu bahwa dia akan membantu pemuda itu untuk menolong kaisar yang tertawan musuh!

Akan tetapi In Hong tidak ingin bertemu dengan orang-orang lain, apalagi dengan ketua Cin-ling-pai! Orang tua sakti itu pernah hendak menjodohkan dia dengan puteranya, ingin mengambil mantu padanya. Tentu saja dia merasa malu kalau kelihatan oleh ketua itu bahwa dan ingin membantu Bun Houw dan merasa senang kalau berdekatan dengan pemuda she Bun itu, seorang pemuda biasa saja! Kecuali kalau pemuda itu sudah menerimanya, kalau kemudian terpaksa bertemu dengan siapapun, tidak mengapa. Yang penting, dia harus bertemu dulu dengan Bun Houw untuk menyatakan keinginannya membantu usaha pemuda itu menolong kaisar.

Dia masih harus menanti sampai tiga hari, barulah pada suatu senja In Hong melihat Bun Houw keluar seorang diri dari daerah perkemahan itu. Dengan girang dia lalu muncul dari atas pohon, meloncat seperti seekor burung garuda ke depan Bun Houw yang memandang dengan kaget sekali, akan tetapi segera wajah pemuda ini berseri ketika dia mengenal siapa yang meloncat turun menghadang di depannya dari atas pohon itu.

“Hong-moi…!” Seruan yang keluar dari mulut Bun Houw ini mengandung getaran karena memang selama ini seringkali dia mengenangkan dara itu dengan penuh kerinduan hatinya, maka pertemuan yang tidak disangka-sangkanya ini secara tiba-tiba membuat dia terkejut dan girang bukan main. Hati yang penuh kerinduan membuat matanya melihat gadis itu lebih cantik dan gemilang daripada yang dibayangkan selama ini, membuat jantungnya berdebar penuh kagum, dan membuat dia lupa akan segala hal lain mengenai diri In Hong yang dikenalnya sebagai seorang gadis cantik jelita dan berilmu tinggi dan yang mengaku bernama Hong saja.

Hati gadis itupun girang sekali dan melihat wajah Bun Houw, mendengar suaranya, mendatangkan perasaan aneh di dalam dadanya, membuat jantungnya berdebar tegang dan ada perasaan malu-malu yang aneh sekali, yang membuat wajahnya menjadi merah dan tidak kuat dia menentang pandang mata itu. “Bun-twako… sudah berhari-hari aku menanti kesempatan ini… akhirnya kau muncul sendirian…” katanya lirih sambil menundukkan pandang mata, akan tetapi segera diangkatnya kembali mukanya dan dia memandang dengan sinar mata tajam berseri.

“Berhari-hari menanti…? Kenapa kau tidak langsung saja masuk ke perkemahan dan menemui aku?”

“Aku tidak ingin bertemu dengan yang lain-lain, terutama dengan ketua Cin-ling-pai, aku mau bicara dulu denganmu, Bun-twako.”

“Engkau sudah tahu keadaan kami…” Tiba-tiba Bun Houw teringat dan alisnya berkerut, wajahnya yang tadinya berseri itu berobah muram.

“Tentu saja aku tahu semua karena selama ini aku mengikutimu dari jauh, twako.”

“Hemm… aku tahu… engkau telah menyerang dan hampir membunuh Souw Kwi Eng…”

“Aku tidak kenal siapa itu Souw Kwi Eng, akan tetapi aku memang telah membunub Hui-giakang Ciok Lee Kim dan monolong Souw Kwi Beng…” kata In Hong terheran.

Bun Houw mengangguk-angguk, hatinya mulai panas karena teringat akan perbuatan kejam gadis ini. Tentu dia tidak mau mengakui perbuatan keji itu, pikirnya. “Aku tahu semua itu… sekarang engkau menemui aku ada keperluan apakah?”

In Hong makin terheran melihat perobahan sikap dan wajah pemuda itu. “Aku telah mendengar bahwa kaisar ditawan musuh dan aku tahu bahwa engkau hendak menolongnya, Bun-twako. Maka aku hendak menawarkan bantuanku, aku ingin membantumu.”

“Tidak…! Aku tidak mau…!” Bun Houw menggeleng kepala, suaranya kasar karena dia membayangkan gadis she Ma yang tewas secara mengerikan di dalam kamarnya, tewas oleh seorang wanita lihai yang tentu saja gadis cantik yang berdiri di depannya inilah orangnya!

Saking kaget dan herannya melihat sikap pemuda itu, In Hong melangkah maju mendekat, menatap wajah itu dengan penuh selidik lalu dia bertanya, “Bun-twako, engkau kenapakah?”

“Aku tidak membutuhkan bantuanmu!”

Bun Houw makin panas hatinya karena terdorong oleh rasa kecewa. Dia amat tertarik oleh dara perkasa ini, dia amat kagum kepada dara ini, bukan hanya kagum oleh kecantikannya yang luar biasa, juga terutama sekali oleh kepandaiannya, akan tetapi rasa kagumnya itu hancur oleh kekejaman gadis ini yang seperti iblis. “Engkau… engkau Dewi Maut, cantik jelita dan berilmu tinggi akan tetapi ganas dan kejam seperti iblis!”

“Twako…!” In Hong mengerutkan alisnya dan pandang matanya mulai mengeras. Seketika lenyaplah semua perasaan mesra di hatinya oleh sikap dan kata-kata Bun Houw itu. “Engkau boleh saja menolak bantuanku akan tetapi engkau tidak berhak memaki aku seperti itu!” bentaknya.

“Aku tidak memaki, hanya berkata sebenarnya. Engkau kejam dan ganas, dan aku tidak sudi kau bantu!”

“Orang she Bun yang sombong!” In Hong sudah naik darah dan kedua tangannya dikepal. “Kau kira aku ini siapa boleh kauhina begitu saja?”

Bun Houw juga marah. Kekecewaan hatinya melihat kenyataan bahwa dara yang dipujanya, yang diam-diam telah mencuri hatinya secara aneh ternyata adalah seorang iblis betina, membuat dia marah sekali. “Kau hendak membunuhku juga? Ha-ha, majulah, jangan mengira aku takut padamu!”

“Keparat…!” In Hong sudah hendak menyerang dan Bun Houw sudah siap melawan, akan tetapi tiba-tiba In Hong melangkah mundur dua tindak, mukanya pucat dan mulutnya yang berbentuk indah itu tersenyum, senyum yang menutupi hati yang terasa sakit. “Tidak… tidak sekarang… aku akan membiarkan kau hidup sementara untuk membuka matamu agar kau melihat betapa tololnya engkau yang telah menuduhku yang bukan?bukan…”

“Bukan menuduh melainkan kenyataannya kau telah membunuh gadis dusun itu secara kejam! Selain membunuh gadis dusun yang tak berdosa, engkaupun telah menyerang dan hampir membunuh Souw Kwi Eng! Kau tidak perlu mungkir lagi.”

“Hemm, betapa mudahnya sekarang aku menggerakkan tangan membunuhmu untuk menghentikan ocehanmu yang penuh kepalsuan ini. Akan tetapi tidak, biar kau melihat kenyataan dan kau menyesali fitnah ini, baru aku akan mencabut nyawamu!” Setelah berkata demikian, In Hong berkelebat dan lenyap di balik pohon-pohon.

Bun Houw hendak mengejar, akan tetapi cuaca sudah mulai gelap dan dia berdiri seperti patung di bawah pohon, hatinya masih panas dan dadanya bergelora, akan tetapi ada penyesalan menyelinap di dalam dadanya. Diam-diam dia menyesal bukan main. Gadis itu datang menawarkan bantuan, betapa baik niat hatinya. Akan tetapi, bagaimana dia dapat menerimanya, bagaimana dia dapat bekerja sama dengan gadis yang berwatak seperti iblis itu? Hanya karena cemburu, dan ini sudah jelas sekali, gadis itu hampir saja membunuh Kwi Eng, dan secara kejam membunuh gadis she Ma yang sama sekali tidak berdosa! Biarpun diam-diam dia amat kagum kepada gadis itu, namun mengingat akan kenyataan yang mengerikan ini dia harus mengeraskan hati dan memutuskan hubungan antara mereka!

Jauh di sebelah dalam hutan itu, di antara kegelapan malam yang hampir tiba, In Hong berdiri menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon besar, kedua tangannya mengepal tinju, matanya terpejam dan pipinya basah oleh beberapa butir air mata. Akan tetapi, setiap ada butiran air mata turun dari matanya, kepalan tangannya mengusapnya dengan keras. Dia tidak harus menangis! Ingin dia berteriak untuk memberi jalan keluar hatinya yang bergelora, yang menindih. Dia telah dihina orang! Dihina seorang laki-laki dan celakanya, laki-laki itu adalah laki-laki yang disangkanya pria yang istimewa, yang mcrupakan kekecualian, yang tidak sama bahkan kebalikan dari para pria yang dikutuk oleh gurunya. Hatinya sakit bukan main. Bun Houw telah menolak bantuannya, bahkan memakinya sebagai seorang wanita kejam seperti iblis! Bahkan telah berani menantangnya!

“Si keparat…!” desisnya di antara isak yang keluar dari dadanya. Orang macam dia berani menantang? Kalau dia tadi turun tangan, dalam beberapa jurus saja tentu akan dapat dibunuhnya laki-laki itu! Akan tetapi mengapa tidak dilakukannya hal itu? Padahal, kalau ada laki-laki lain bersikap kasar sedikit saja kepadanya, tentu dia tidak segan-segan untuk menurunkan tangan besi dan membunuhnya. Tidak, dia tidak akan turun tangan begitu mudah terhadap Bun Houw. Biar laki-laki itu terbuka matanya, bahwa semua tuduhannya itu bohong belaka, bahwa dia bukanlah iblis betina yang melakukan semua tuduhan itu, dan baru setelah laki-laki itu menyesal dan terbuka matanya, dia akan membunuhnya. Teringat akan itu semua, teringat betapa dia tersiksa batinnya karena rindu dan ingin berdekatan dengan Bun Houw, kemudian betapa sikap pemuda itu menghancurkan hatinya, jantungnya seperti ditusuk-tusuk dan merasa makin sakit. Apalagi kalau dia teringat betapa dia telah bersusah payah menolong pemuda itu ketika Bun Houw disiksa dan hampir mati di tangan dua orang Bayangan Dewa. Kalau tidak dia datang menolong, tentu pemuda itu kini sudah tewas. Dan pemuda itu membalas kebaikan itu dengan makian dan penghinaan!

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: