Dewi Maut (Jilid ke-45)

Tubuh Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li terdorong ke belakang oleh tangkisan itu dan mereka harus berjungkir balik dua kali ke belakang agar jangan sampai terjengkang atau terbanting oleh hawa pukulan yang dahsyat dari tangkisan itu. Mereka terkejut sekali dan siap menyerang dengan tongkatnya.

“Subo…!” In Hong berseru dan seruan ini membuat Raja Sabutai cepat mengeluarkan kata-kata mencegah kedua orang gurunya dalam Bahasa Mongol. Kakek bermuka putih dan nenek bermuka hitam itu lalu kembali ke tempat duduk masing-masing, akan tetapi pandang mata mereka masih marah dan penuh curiga kepada wanita cantik yang baru datang itu.

Wanita yang baru datang itu memang Giok-hong-cu Yo Bi Kiok, ketua dari Giok-hong-pang di Telaga Setan. Burung batu kumala yang menghias rambutnya amat indah, membuat dia kelihatan seperti seorang ratu yang memakai mahkota, pedang panjang tergantung di pinggang dan gagang dua batang pedang pendek tersembul di pinggangnya. Wanita setengah tua yang masih cantik ini kelihatan gagah dan penuh wibawa.

Raja Sabutai yang merasa tertarik dan kagum kepada In Hong, menjadi terkejut dan juga kagum melihat wanita cantik yang disebut subo oleh nona itu, apalagi melihat betapa wanita itu sekali tangkis dapat membuat dua orang gurunya terdorong ke belakang. Cepat dia berkata kepada Yo Bi Kiok, “Jadi toanio adalah subo dari nona Hong yang gagah perkasa ini?” Pertanyaan ini diajukan dengan pandang mata tajam penuh selidik, dan diam-diam Raja Sabutai merasa heran bagaimana nyonya cantik itu dapat memasuki tempat itu dan menerobos penjagaan yang amat ketat.

“Benar, sri baginda. Dia adalah murid saya,” jawab Giok-hong-cu Yo Bi Kiok sambil menjura.

“Muridmu datang menawarkan bantuannya kepada kami dan sedang kami uji kepandaiannya. Toanio datang seperti ini ada maksud hati apakah?” Biarpun di dalam hati merasa tidak senang melihat kedatangan nyonya ini secara paksa dan tanpa minta perkenan terlebih dahulu, namun dia membutuhkan bantuan orang-orang pandai, maka Sabutai menahan sabar, apalagi karena dia maklum bahwa orang-orang sakti di dunia kang-ouw memang tidak suka memakai banyak peraturan.

“Saya bersama pasukan Giok-hong-pang sedang mencari murid saya ini, dan mendengar bahwa murid saya memasuki benteng paduka, maka saya menyusul ke sini. Saya setuju sekali dia membantu paduka, bahkan saya sendiripun dengan seluruh pasukan Giok-hong-pang siap membantu paduka. Akan tetapi kalau paduka hanya ingin menguji murid saya, kiranya tua bangka-tua bangka ini bukan sekedar menguji. Tua bangka-tua bangka seperti mereka hendak mengeroyok seorang bocah seperti murid saya, sungguh tidak adil, maka saya akan membantu murid saya agar dua lawan dua dan barulah adil. Tentu saja kalau mereka berani!”

Mendengar ini, Raja Sabutai mengangguk dengan girang. “Bagus! Memang adil kalau begitu dan kami juga ingin sekali melihat kepandaian ketua Giok-hong-pang yang hendak membantu kami.” Raja ini lalu memandang kepada Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw yang kelihatan meragu. Tentu saja mereka telah mendengar nama ketua Giok-hong-pang yang baru saja menggegerkan dunia kang-ouw itu, sungguhpun baru sekarang mereka melihat orangnya. Betapapun juga, tosu dan tokouw yang berilmu tinggi itu tidak merasa takut, apalagi mereka memang mengandalkan ilmu silat pasangan yang mereka ciptakan bersama.

“Siancai…!” Hwa Hwa Cinjin berkata halus. “Kiranya yang datang adalah Giok-hong-pangcu! Kami tadi sudah mengatakan kepada muridmu, bahwa kami memang selalu maju bersama. Baik menghadapi lawan satu orang atau sepuluh orang, bagi kami sama saja asal kami maju berdua. Bukan sekali-kali kami ingin mengeroyok muridmu.”

“Subo, biarlah teecu menghadapi mereka sendiri, teecu tidak takut,” In Hong berkata.

“Apa? Tentu saja kau tidak takut, akan tetapi mana mungkin aku diam saja? Kaulihatlah, gurumu akan membereskan mereka!” Yo Bi Kiok berkata dan tiba-tiba dia berseru nyaring. “Tua bangka-tua bangka tak tahu malu, sambutlah seranganku!” Tubuhnya sudah berkelebat lenyap dan hanya bayangannya saja yang tahu-tahu sudah menyambar ke arah Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw secepat kilat.

Kakek dan nenek itu terkejut sekali karena sambil melompat secepat itu, ketua Giok-hong-pang ini telah melancarkan pukulan bertubi ke arah mereka dengan gerakan yang amat aneh dan juga kuat sekali. Maka mereka cepat bergerak dan mainkan ilmu silat gabungan yang mereka ciptakan berdua, yaitu ilmu silat tangan kosong yang dapat pula dimainkan dengan senjata, yaitu yang mereka namakan Im-yang-lian-hoan-kun. Ilmu silat ini sengaja mereka ciptakan untuk dimainkan bersama dan terdiri dari dua macam silat dan tenaga yang saling bertentangan namun saling membela. Kalau mereka mainkan ilmu silat ini dengan tangan kosong, Hwa Hwa Cinjin mengambil peran sebagai pemain ilmu silat yang mengandung tenaga keras sedangkan Hek I Siankouw mainkan ilmu yang berdasarkan tenaga halus (Im). Akan tetapi sebaliknya kalau mercka mainkan ilmu ini dengan senjata, Hwa Hwa Cinjin yang bersenjata hudtim bulu monyet maju menggunakan tenaga Im sedangkan Hek I Siankouw yang memegang sebatang pedang hitam menggunakan tenaga Yang. Karena ilmu ini mereka ciptakan berdua, tentu saja mereka dapat bekerja sama amat baiknya, saling melindungi seolah-olah mereka itu terdiri dari dua badan dengan satu hati dan pikiran.

“Plak-plak! Duk-duk-duk-dukk!” bertubi-tubi datangnya pukulan kedua tangan Yo Bi Kiok, serangan dengan jurus-jurus yang amat aneh dan cepat. Namun karena kedua orang kakek dan nenek itu bekerja sama sehingga mereka seolah-olah memiliki empat mata, mereka dapat saling melindungi dan menangkis semua serangan itu. Akibat adu tenaga ini, mereka terhuyung ke belakang, akan tetapi Yo Bi Kiok juga terhuyung dengan kaget sekali karena pertemuan tenaga antara kedua tangannya dengan tangan mereka yang menangkis itu membuat tenaganya buyar dan dia menjadi bingung menghadapi tenaga Im dan Yang, yaitu tenaga lemas dan keras yang dipergunakan kedua orang lawannya secara saling membantu. Maklumlah dia bahwa kedua orang itu, biarpun andaikata maju satu lawan satu bukan merupakan lawan berbahaya, akan tetapi setelah maju berdua ternyata dapat bekerja sama baik sekali dan merupakan lawan yang tangguh. Mengertilah dia mengapa dua orang itu berkeras untuk maju bersama. Ketua Giok-hong-pang ini belum lama telah mengalami peristiwa yang amat memalukan, yaitu ketika dia dipermainkan oleh Kok Beng Lama, maka kini menghadapi kakek dan nenek yang berkepandaian luar biasa itu dia tidak ingin gagal dan kedua tangannya sudah meraba gagang pedang panjang dan sepasang pedang pendek.

Tiba-tiba In Hong meloncat ke dekat subonya dan berbisik, “Subo, sri baginda melarang penggunaan senjata dalam adu kepandaian ini, biar teecu menghadapi Hek I Siankouw!” Tanpa menanti jawaban gurunya, In Hong sudah meloncat ke depan dan menyerang Hek I Slankouw dengan pukulan tangan kirinya. Akan tetapi, tepat pada saat Hek I Siankouw menghindarkan serangan ini dengan tubuh berputar, tiba-tiba Hwa Hwa Cinjin sudah melayangkan tangan menampar ke arah tengkuk In Hong. Elakan dan serangan ini datangnya begitu otomatis, seolah-olah Hek I Siankouw sendiri yang membalas serangan dengan menggunakan tangan Hwa Hwa Cinjin! Hampir saja tengkuk In Hong kena ditampar dan biarpun dia sudah miringkan tubuhnya, tetap saja pundaknya tercium ujung jari tangan Hwa Hwa Cinjin dan terasa panas sekali!

Pada saat itu terdengar suara melengking nyaring dan Yo Bi Kiok sudah menyerang kakek itu dengan dahsyatnya. Hwa Hwa Cinjin mengelak dan Hek I Siankouw membantunya menangkis. Melihat cara kerja sama yang amat cepat dan serba otomatis itu, In Hong cepat membantu subonya dan terjadilah pertandingan yang amat seru dan hebat. Sesungguhnya, apabila pertandingan itu dilakukan satu lawan satu, baik Hwa Hwa Cinjin maupun Hek I Siankouw bukanlah lawan guru dan murid Giok-hong-pang ini, dan kiranya mereka tidak akan dapat meanahan lebih dari tiga puluh jurus. Akan tetapi, dengan kerja sama amat baiknya dalam ilmu Im-yang-lian-hoat-kun, mereka berdua dapat menghadapi Yo Bi Kiok dan In Hong dengan amat baiknya. Guru dan murid ini tidak dapat bertempur saling bantu seperti kedua orang lawannya, melainkan bertanding mengandalkan gerakan dan tenaga sendiri masing-masing. Beberapa kali mereka mencoba untuk memancing atau memaksa kedua orang kakek dan nenek itu agar berpisah, agar pertandingan dapat dilakukan menjadi dua kelompok, namun mereka selalu gagal karena kakek dan nenek itu tidak mau saling meninggalkan dan terus bergerak mengelak, menangkis atau membalas serangan secara otomatis dan saling melindungi.

“Tiat-po-san…!” Tiba?tiba Yo Bi Kiok berbisik kepada muridnya sambil menubruk ke arah Hek I Siankouw.

In Hong maklum akan maksud subonya. Dia dan subonya memiliki ilmu kekebalan yang disebut Tiat-po-san (Ilmu Kebal Baju Besi), yaitu pengerahan sin-kang untuk melindungi tubuh dengan hawa murni sehingga pada suatu saat berani menerima pukulan karena tubuh di bagian tertentu yang terpukul itu menjadi kebal seperti besi. Tentu subonya ingin merobohkan lawan dengan Tiat-po-san, membarengi pukulan lawan yang dibiarkan mengenai tubuh yang kebal sambil melancarkan serangan balasan. Akan tetapi, In Hong tidak ingin tubuhnya sampai terpukul lawan sungguhpun belum tentu lawan akan cukup kuat untuk menembus pertahanan Tiat-po-san. Dia teringat akan ilmu pukulan ampuh yang dia terima dari pendeta Lama yang amat sakti itu sebagai penukaran obatnya untuk menyembuhkan luka-luka akibat Siang-tok-swa yang diderita oleh anak laki-laki murid pendeta Lama itu.

“Hyaaaatttt…!” In Hong mengeluarkan suara melengking tingal sesuai dengan ajaran yang diterimanya dari pendeta Lama, dan karena gurunya menyerang Hek I Siankouw, maka dia lalu menyerang Hwa Hwa Cinjin dengan pukulan Thian-te Sin-ciang. Angin pukulan dahsyat menyambar ganas ke depan, bukan hanya mengejutkan Hwa Hwa Cinjin yang diserangnya, melainkan juga Hek I Siankouw memekik dan Yo Bi Kiok sendiri terbelalak.

Pada saat itu, Hwa Hwa Cinjin sudah melindungi Hek I Siankouw yang diserang oleh Yo Bi Kiok tadi, menangkiskan serangan Yo Bi Kiok terhadap Hek I Siankouw dan tokouw ini otomatis lalu menggerakkan tangan memukul ke arah lambung Yo Bi Kiok. Akan tetapi, Yo Bi Kiok yang sudah mengerahkan Tiat-po-san tidak mengelak atau menangkis, melainkan langsung saja membalas pukulan itu dengan tamparan ke arah dada nenek baju hitam itu. Tentu saja hal ini sama sekali tidak disangka oleh Hek I Siankouw yang sudah kegirangan karena pukulannya mengenai lambung, akan tetapi pada saat itu dia terkejut merasa betapa pukulannya bertemu dengan lambung yang keras seperti baja dan dia sendiri terancam pukulan lawan ke arah dada. Cepat dia miringkan tubuhnya dan selagi Hwa Hwa Cinjin hendak turun tangan melindunginya, tiba-tiba datang pukulan dahsyat bukan main dari In Hong yang menggunakan Thian-te Sin-ciang!

Plakk! Dessss…!” Hek I Siankouw miringkan tubuhnya sehingga pukulan Yo Bi Kiok mengenai pundaknya, membuat dia terpelanting. Sedangkan Hwa Hwa Cinjin yang berusaha mengelak sambil menangkis pukulan In Hong, tetap saja terlempar dan terbanting jatuh sampai bergulingan, bahkan Yo Bi Kiok yang hanya kena sambaran hawa pukulan muridnyapun terhuyung dengan kaget dan heran sekali.

Raja Sabutai bertepuk tangan memuji. “Cukup…!” teriaknya, “Kami menerima bantuan guru dan murid Giok-hong-pang!”

Biarpun fihak Wang Cin masih penasaran, namun mereka tidak berani melanjutkan pertandingan itu. Apalagi, dua di antara tiga Bayangan Dewa sudah mengenal kelihaian Yo Bi Kiok, dan menyaksikan pukulan terakhir yang dilakukan oleh In Hong tadi, bahkan Bouw Thaisu sendiri menjadi terkejut sekali dan jerih.

Demikianlah, mulai hari itu, In Hong dan Yo Bi Kiok diterima menjadi pengawal-pengawal Raja Sabutai, bahkan lima puluh orang perajurit wanita para anggauta Giok-hong-pang yang sudah siap di luar bentengpun lalu diterima menjadi pasukan pembantu dan diperlakukan dengan hormat di dalam benteng sebagai pasukan istimewa.

Yo Bi Kiok yang seperti juga In Hong telah dapat menarik rasa suka di hati Raja Sabutai, diberi kamar yang mewah tak jauh dari kamar raja sendiri, dan ketua Giok-hong-pang ini lalu mengajak muridnya ke dalam kamarnya agar mereka dapat bicara empat mata.

Begitu memasuki kamar dan menutupkan pintunya, Yo Bi Kiok memegang tangan muridnya dan tertawa girang. “Bagus, engkau telah memperoleh kemajuan pesat, kini dapat menjadi pembantu Raja Sabutai. Sungguh tepat tindakanmu ini, muridku. Selagi muda engkau memang harus mencari kedudukan dan aku sudah mendengar akan kekuatan Raja Sabutai yang telah menawan kaisar. Kalau kelak dia berhasil merampas kerajaan dan menjadi kaisar, engkau tentu memperoleh kedudukan tinggi pula.”

In Hong diam-diam merasa terkejut. Sama sekali bukan itulah maksudnya menyelundup ke dalam benteng ini. Dia memasuki benteng ini sesungguhnya dengan niat melindungi kaisar yang tertawan di samping hendak menentang Bun Houw. Akan tetapi dia hanya mendengarkan gurunya bicara terus, tidak berani membantah.

“Begitu mendengar akan peristiwa ini, aku lalu mengajak semua anak buah kita ke sini untuk membantu Raja Sabutai. Inilah saatnya yang amat tepat untuk mencari kedudukan. Setelah berhasil nanti, jangan khawatir, muridku, aku akan membantumu agar engkau dapat menikah dengan pemuda tampan itu…”

“Ehh? Apa maksud subo…?” In Hong terkejut dan memandang gurunya dengan sinar mata tajam penuh selidik.

Yo Bi Kiok tersenyum lebar sehingga wajahnya yang masih cantik itu kelihatan makin muda. Hanya terhadap muridnya ini saja Yo Bi Kiok dapat bersikap sewajarnya dan dapat bersikap gembira. Terhadap lain orang, bahkan terhadap para anak buahnya, dia selalu memperlihatkan sikap dingin, keras dan ganas.

“In Hong, kaukira aku tidak tahu? Sudah lama aku membayangimu dengan diam-diam, dan aku tahu apa yang terjadi antara engkau dan pemuda she Bun itu.”

“Tidak… tidak ada apa-apa…” In Hong menjadi merah sekali mukanya dan dia mencoba untuk menyangkal dan menggeleng kepala.

Yo Bi Kiok memandang dengan senyum masih menghias wajahnya. “Aihh, muridku. Bukankah engkau menganggap gurumu ini sebagai pengganti orang tuamu pula? Coba katakan, ke mana perginya burung hong kumala di kepalamu, dan dari mana engkau memperoleh pedang di pinggangmu itu?”

“Ini… ini… memang kutukar…” In Hong menjawab gugup, tangan kiri meraba rambut di kepalanya, tangan kanan meraba gagang pedang Hong-cu-kiam.

“Hemm… tak perlu kau malu-malu terhadap gurumu, In Hong. Aku setuju dengan pilihanmu itu. Melihat dia seorang pemuda yang baik, bukan seperti pria-pria lain yang berwatak palsu. Engkau jangan mengulang sejarah gurumu. Engkau tidak boleh gagal dalam bercinta. Engkau tidak boleh selemah gurumu di waktu muda dahulu. Apa yang telah kau pilih harus kaupertahankan mati-matian. Oleh karena itu, melihat engkau kurang tegas, aku telah turun tangan menyerang setiap orang wanita yang berani jatuh cinta kepada pemuda pilihanmu itu.”

“Ohhhh…!” In Hong memandang gurunya dengan mata terbelalak. “Jadi… jadi subo telah membunuh orang?”

“Hemm, apa salahnya? Gadis dusun itu kurang ajar dan tak tahu malu, berani dia mencoba-coba untuk menggoda pemuda pilihanmu, dia pantas dibunuh.”

In Hong menunduk, teringat dia akan kemarahan Bun Houw kepadanya. Kiranya tuduhan pemuda itu bukan fitnah kosong belaka, melainkan benar-benar ada orang terbunuh, hanya yang membunuh adalah subonya yang disangka dia.

“Kenapa, muridku? Apakah engkau tidak senang dengan bantuanku?”

In Hong masih menunduk. Dia menggeleng kepala dan mengerutkan alisnya, lalu berkata, “Teecu hanya tidak ingin subo mencampuri urusan dengan… dia itu…”

“Hi-hi-hik!” Yo Bi Kiok tertawa sambil merangkul muridnya. “In Hpng, engkau seperti anakku sendiri, aku ingin melihat engkau berbahagia. Bagaimana aku tidak boleh mencampuri? Jangan kau khawatir aku akan mengusahakan agar engkau berjodoh dengan dia.”

“Sudahlah, subo. Teecu tidak suka bicara tentang urusan itu.”

“Baiklah, sekarang kita bicara tentang urusan kita di sini. Kita harus membantu Raja Sabutai sekuat kita. Dan kaisar yang tertawan itu harus dibunuh. Biar aku menemui Raja Sabutai sekarang juga! Mari kau ikut!”

In Hong terkejut bukan main. Jantungnya berdebar keras. Entah apa yang mendorongnya, akan tetapi dia sama sekali tidak setuju dengan niat gurunya, bahkan dia telah mengambil keputusan bulat untuk melindungi kaisar sedapatnya! Dia tidak suka membantu raja liar itu, apalagi melihat betapa raja itu dibantu oleh orang-orang yang tidak disukanya seperti Go-bi Sin-kouw, Bayangan Dewa dan teman-teman mereka itu. Akan tetapi, dia tidak berani secara berterang menentang subonya, maka tanpa banyak cakap dia mengikuti subonya menghadap Raja Sabutai.

Raja Sabutai yang didampingi oleh isterinya, Khamila yang kelihatan cantik jelita dan wajahnya bercahaya seperti yang biasa nampak pada wajah seorang calon ibu muda, menyambut kedatangan Yo Bi Kiok dan In Hong dengan girang, akan tetapi jelas bahwa raja ini tidak pula melepaskan kewaspadaannya, karena selain ditemani oleh isterinya, juga di dalam ruangan itu nampak Hek-hiat Mo-li dan Pek-hiat Mo-ko yang duduk seperti arca, dan di sekeliling ruangan itu nampak pula belasan orang pengawal yang melakukan penjagaan.

“Ahhh, silakan duduk, pangcu, dan kau, nona Hong.” Raja Sabutai berkata dengan girang, “Perkenalkan ini adalah isteriku, Khamila.”

Yo Bi Kiok dan muridnya memandang kagum kepada ratu yang muda dan cantik itu, sedangkan Khamila juga mengangguk sambil tersenyum kepada mereka berdua, terutama kepada In Hong dia memandang kagum.

“Harap sri baginda suka memaafkan bahwa saya mohon menghadap dan mengganggu waktu paduka,” Yo Bi Kiok berkata.

“Ah, pangeu mengapa bersikap sungkan? Sebagai pembantu kami, tentu saja kalian boleh menghadap sewaktu-waktu. Akan tetapi apakah tidak beristirahat lebih dulu?”

“Ada keperluan penting sekali yang harus saya sampaikan kepada paduka,” kata Yo Bi Kiok.

“Ceritakanlah.” Raja Sabutai memandang tajam karena dia dapat melihat betapa sikap ketua Giok-hong-pang itu amat serius.

“Menurut pendapat saya, tidak ada gunanya lagi paduka menahan kaisar sebagai seorang sandera, dan kini tiba saatnya untuk segera berangkat menyerbu ke selatan.”

“Eh, bagaimana kau dapat berkata demikian, pangcu? Apa alasannya?”

“Pertama, karena kini Kerajaan Beng telah mengangkat seorang kaisar baru.”

“Hehhh…?” Raja Sabutai berseru kaget. “Kenapa tidak ada berita dari para penyelidik kami?”

“Memang hal itu dirahasiakan, akan tetapi saya yang baru saja datang dari selatan tahu akan hal itu. Yang diangkat menjadi kaisar adalah Kaisar Ceng Ti. Oleh karena itu, yang paduka tawan sekarang ini bukan lagi kaisar, maka tidak ada harganya lagi untuk dijadikan sandera, lebih baik dibunuh saja.”

“Ihhh…!” Khamila cepat menutupi mulutnya yang berteriak kecil tadi dengan saputangannya, akan tetapi In Hong yang sejak tadi memandangnya, melihat betapa ketika mendengar ucapan gurunya ini, ratu itu menjadi pucat sekali mukanya, matanya terbelalak dan bibirnya gemetar.

Raja Sabutai menengok kepada isterinya, menyentuh lengan isterinya sebagai tanda menghibur, kemudian dia menoleh lagi kepada Yo Bi Kiok sambil berkata, “Harap kaulanjutkan, Yo-pangcu. Bagaimana menurut rencanamu?”

“Bekas kaisar itu hanya menjadi penambah beban saja. Dan sebaliknya, sekarang juga paduka mengerahkan pasukan untuk menyerbu ke selatan selagi keadaan belum begitu dikuasai oleh pimpinan kaisar baru yang saya dengar amat lemah. Hal ini adalah karena terjadi perpecahan di antara para pembesar, sebagian ingin mempertahankan kedudukan Kaisar Ceng Tung yang tertawan di sini, sebagian lagi adalah pendukung Kaisar Ceng Ti. Selagi keadaan musuh lemah karena pertikaian sendiri, bukankah hal itu merupakan kesempatan yang baik sekali?”

Sampai beberapa lama Raja Sabutai mengerutkan alisnya yang tebal, kemudian dia berkata, “Sebetulnya aku masih meragu untuk menyerbu ke selatan yang amat kuat pertahanannya dan tadinya aku ingin mengambil jalan yang lebih aman, yaitu dengan menjadikan Kaisar Ceng Tung sebagai sandera. Akan tetapi dengan adanya perobahan ini, tentu saja amat baik sekali seperti yang kau usulkan, pangcu. Kita serbu Kerajaan Beng!”

“Dan Kaisar Ceng Tung…?” Yo Bi Kiok bertanya.

“Untuk sementara biarlah dia kami tahan dulu…”

“Akan tetapi hal itu berbahaya, Sri baginda.” Yo Bi Kiok membantah. “Tentu akan muncul orang-orang yang berusaha untuk membebaskannya. Kalau kita semua pergi berperang dan dia tidak dijaga kuat-kuat…”

“Biarlah saya akan menjaganya!” Tiba-tiba In Hong berkata menawarkan diri.

Yo Bi Kiok mengangguk-angguk. “Sebaiknya begitu. Harap paduka jangan khawatir, kalau murid saya ini yang tinggal di sini menjaganya, tidak akan ada orang yang dapat membebaskannya.”

Raja Sabutai memandang kepada In Hong dan mengangguk-angguk. “Kami percaya kepada nona Hong, dan selain menjaga agar Kaisar Ceng Tung jangan sampai lolos, juga kami menyerahkan keselamatan isteri kami kepada perlindungan nona Hong.”

In Hong mengangkat kepala memandang sang ratu. Khamila juga memandang kepadanya dan di antara kedua orang wanita muda ini terdapat rasa simpati, maka In Hong segera menjawab, “Saya akan melindungi keselamatan isteri paduka dengan taruhan nyawa!”

“Bagus! Legalah hatiku kalau begitu. Suhu dan subo,” Kini Raja Sabutai menoleh ke arah dua orang kakek dan nenek yang sejak tadi hanya mendengarkan sambil duduk melenggut saja. “Bagaimana pendapat suhu dan subo tentang penyerbuan ke selatan?”

Kakek dan nenek itu mengangguk dengan malas. “Kami hanya setuju saja…!” jawab mereka acuh tak acuh.

Maka sibuklah Raja Sabutai mengumpulkan para panglimanya, juga memanggil Wang Cin dan menyatakan rencananya menyerbu ke selatan. Tentu saja Wang Cin menjadi girang sekali dan diapun mempersiapkan semua anak buahnya untuk membantu penyerbuan Raja Sabutai ke selatan.

Dalam kesempatan bertemu dengan muridnya, Yo Bi Kiok berbisik kepada In Hong, “Muridku, dengar baik-baik. Kau harus melindungi kaisar dan sedapat mungkin selamatkan dia keluar benteng.”

In Hong memandang terbelalak, namun hatinya girang bukan main. Kiranya gurunya ini di depan Raja Sabutai hanya bersiasat saja, sebenarnya tidak ingin membunuh kaisar, malah hendak menyelamatkannya. Akan tetapi saking herannya dia bertanya, “Tapi, subo…”

“Hushhh…!” ketua Giok-hong-pang itu mencela muridnya yang membantah, “kita tidak boleh menyia-nyiakan setiap kesempatan. Kalau Sabutai berhasil, itu baik sekali, kalau tidak, kita dapat mencari kedudukan melalui kaisar itu.”

Hati In Hong kecewa lagi dan diam-diam dia mulai mengenal watak gurunya yang ternyata amat mementingkan dirinya sendiri sehingga untuk membela dia yang dianggapnya telah jatuh cinta kepada Bun Houw, gurunya tidak segan-segan membunuh gadis dusun yang dikira mencinta pemuda itu, dan kini kaisarpun hanya dijadikan jalan untuk mencapai kepentingannya pribadi. Diam-diam di dalam hati gadis ini timbul rasa tidak suka dan penentangan, akan tetapi, tentu saja dia tidak berani menyatakan dengan terang-terangan. Hanya dia merasa heran, mengapa sebelum ini dia menganggap gurunya sebagai satu-satunya orang yang baik, yang semua tindakannya dia anggap benar belaka. Mengapa sekarang dia melihat hal-hal yang dianggapnya tidak patut dan tidak benar dalam tindakan gurunya? Mulailah hati In Hong merasa bimbang. Mulailah dia memikirkan dan mencari akal untuk dapat menyelamatkan kaisar, dari tangan Sabutai dan dari tangan subonya sendiri. Dan dia menggantungkan harapannya kepada Khamila, isteri Raja Sabutai. Wanita cantik jelita itu berwajah ramah, sinar matanya lembut.

Dua hari kemudian, mulailah Raja Sabutai yang telah mengerahkan pasukannya itu bergerak ke selatan. Sebagai pimpinan Suku Bangsa Nomad, dan karena khawatir akan keselamatan isterinya, dalam penyerbuan ini, Khamila dan Kaisar Ceng Tung yang menjadi tawananpun dibawa dan selalu berada di bagian belakang di dalam pasukan perbekalan yang juga bertugas mengatur ransum para anak buah pasukan. Yang bertugas menjaga keselamatan Khamila dan menjaga agar kaisar tawanan tidak sampai lolos adalah In Hong, dibantu oleh dua losin pengawal.

Ketika fihak kerajaan mendengar akan gerakan pasukan Sabutai ini, tentu saja merekapun lalu bergerak mengirim bala tentara. Di perbatasan, para komandan pasukan kerajaan bertemu dengan pasukan kecil yang dipimpin oleh Cia Keng Hong dan puteranya, dan dengan gemas Cia Keng Hong dan puteranya mengerti bahwa kerajaan sama sekali tidak memperdulikan nasib Kaisar Ceng Tung, bahkan sama sekali tidak ada pengiriman pasukan dari kerajaan untuk menyelamatkan kaisar yang tertawan. Tahulah pendekar ketua Cin-ling-pai itu bahwa terjadi pergolakan dan perebutan kekuasaan di kota raja, apalagi ketika dia mendengar bahwa bukan saja tidak ada usaha menyelamatkan Kaisar Ceng Tung, bahkan kini para pembesar mengangkat seorang kaisar baru dan seolah-olah menganggap Kaisar Ceng Tung sudah mati! Dan kini, setelah Sabutai bergerak mengancam kerajaan, barulah bala tentara dikerahkan!

Sebetulnya, di dalam hati, Cia Keng Hong marah kepada para pembesar di kota raja. Akan tetapi karena diapun melihat bahaya dari Sabutai yang bergerak ke selatan, dan karena dia tidak ingin mencampuri pula urusan perebutan tahta kaisar, maka pendekar inipun mengerahkan pasukannya untuk membantu bala tentara kota raja menghadapi musuh. Yang penting baginya adalah membela negara menghadapi musuh Bangsa Mongol yang hendak menjajah itu!

Bentrokan pertama antara pasukan Sabutai dengan pasukan kerajaan terjadi di perbatasan. Dan biarpun mendapai bantuan Cia Keng Hong, Cia Bun Houw, Tio Sun dan orang-orang Mancu dan Khitan, pasukan kerajaan terdesak mundur dan mengalami pukulan hebat! Di dalam perang besar seperti itu, kepandaian perorangan dari Cia Keng Hong, Cia Bun Houw dan Tio Sun tidak begitu besar artinya. Apalagi di fihak musuh juga banyak sekali terdapat orang pandai seperti tiga orang tokoh Bayangan Dewa, Hwa Hwa Cinjin, Hek I Siankouw, Go-bi Sinkouw, Bouw Thaisu dan terutama sekali Yo Bi Kiok, Hek-hiat Mo-li dan Pek-hiat Mo-ko. Fihak kerajaan terlalu memandang rendah kepada Sabutai sehingga bala tentara yang dikirimkan itu jauh daripada mencukupi, kalah banyak jumlahnya dan memang kalah kuat para perajuritnya. Pasukan Sabutai terdiri dari perajurit-perajurit gemblengan yang selain terlatih kehidupan yang keras dan sukar, juga bersemangat besar untuk menegakkan kembali kerajaan bangsa mereka, Bangsa Mongol yang pernah menjadi bangsa yang jaya.

Memang hebot gerakan Sabutai dan ternyata tidak kecewa dia mengaku sebagai keturunan Jenderal Sabutai yang pernah menjadi tokoh militer di jaman kejayaan Kerajaan Goan-tiauw, yaitu ketika Bangsa Mongol menguasai seluruh Tiongkok. Dia menggunakan siasat yang amat hebat sehingga pasukannya bergerak seperti kilat ke selatan, merobohkan semua rintangan sehingga semua pertahanan pasukan Kerajaan Beng terus-menerus dipukul mundur sampai akhirnya pasukan-pasukan pemberontak Mongol ini berhasil tiba di benteng pertama Kota Raja Peking!

Cia Keng Hong prihatin sekali melihat keadaan ini dan dia bersama puteranya dan Tio Sun telah membantu mati-matian, merobohkan dan membunuh entah berapa banyak pasukan musuh. Namun mereka tidak berdaya karena fihak Mongol memang jauh lebih kuat daripada jumlah pasukan kerajaan yang bertahan. Hal ini adalah karena kerajaan sedang kacau dan para pembesar militerpun telah terpecah-pecah oleh suasana perebutan kekuasaan.

Baru setelah bala bantuan datang, yaitu pasukan-pasukan yang ditarik dari semua jurusan, kekuatan pasukan kerajaan terkumpul dan terpusatkan dalam pertahanan, maka gerakan pasukan Sabutai dapat dibendung, bahkan mulai dihalau mundur dari daerah lingkungan kota raja. Dan di dalam pasukan bala bantuan yang kuat ini muncul pula banyak tokoh kang-ouw yang gagah perkasa yang selalu dalam saat negara terancam bahaya tentu muncul meninggalkan tempat-tempat persembunyian mereka untuk menyumbangkan jiwa raganya tanpa pamrih untuk kepentingan diri pribadi. Dan di antara para orang gagah ini terdapat pula Yap Kun Liong! Biarpun pendekar ini tadinya sibuk dengan urusan pribadinya sendiri, menyelidiki dan mencari hilangnya Yap Mei Lan, puterinya, juga mencari hilangnya Lie Seng, putera Cia Giok Keng, di samping menyelidiki kematian isterinya, mencari pembunuhnya, akan tetapi begitu mendengar bahwa pasukan Mongol menyerbu ke selatan dan telah tiba di benteng pertama pertahanan Kota Raja Peking, pendekar inipun segera melupakan semua urusan pribadinya dan terus saja menggabungkan diri dengan pasukan kerajaan yang datang dari berbagai jurusan itu, menyumbangkan tenaganya melawan musuh.

Berkali-kali Sabutai mengalami kekalahan sehingga akhirnya dia menarik mundur sisa pasukannya yang hanya tinggal separuhnya! Dia mundur sampai di luar perbatasan kota raja dan membuat pertahanan kokoh di sebuah benteng yang telah dirampasnya ketika dia menyerbu ke sclatan.

Sementara itu, In Hong telah menjadi sahabat baik dari Khamila. Dia tahu bahwa ada sesuatu di antara isteri Raja Sabutai itu dengan Kaisar Ceng Tung yang menjadi tawanan. Hal ini diketahuinya ketika kaisar muda itu jatuh sakit karena cemas memikirkan betapa pasukan Mongol makin mendekati kota raja, Khamila memperlihatkan perhatian luar biasa, bahkan dengan perantaraan In Hong minta agar mengirimkan buah-buah segar kepada kaisar itu. Tentu saja In Hong menjadi heran dan akhirnya dia dapat menduga bahwa isteri Sabutai itu merasa simpati kepada kaisar.

“Kasihan sekali sri baginda kaisar,” pada suatu petang In Hong sengaja memancing di depan Khamila. “Dia menjadi tawanan yang tak berdaya dan hanya mendengar betapa kerajaannya terancam keruntuhan.”

Mendengar ucapan In Hong ini, Khamila memandang tajam, kemudian bertanya lirih, “Hong-lihiap, engkau adalah seorang wanita yang gagah perkasa dan berilmu tinggi. Bagaimanakah pendapatmu tentang Kaisar Ceng Tung itu? Dia telah tertawan, akan tetapi dia tidak pernah sudi menyerah, tidak pernah mau tunduk dan sama sekali tidak takut mati.”

Jelas terasa oleh In Hong betapa kekaguman besar terkandung dalam kata-kata ini, maka dia menjawab, “Dia memang seorang kaisar yang besar, seorang jantan yang mengagumkan.” In Hong memandang tajam, lalu melanjutkan, “Sayang dia menjadi tawanan yang tidak berdaya. Seorang gagah seperti beliau itu sepatutnya tidak menjadi tawanan.”

“Maksudmu… sepatutnya dia bebas?”

In Hong memandang. Dua orang wanita yang sama cantik jelitanya akan tetapi jelas memiliki sifat yang berlawanan itu, yang seorang penuh kelembutan dan kelemahan, yang seorang keras dan gagah, akan tetapi keduanya cantik jelita menggairahkan itu, untuk beberapa lamanya saling pandang. Akhirnya Khamila membuka mulut berkata, “Kalau begitu, engkau yang menjaganya, engkau yang mengepalai para pengawal di sini, kenapa engkau tidak membebaskannya?”

In Hong tidak kaget mendengar pertanyaan aneh ini. Memang tidak aneh kalau isteri dari Raja Sabutai yang menawan kaisar itu bertanya demikian. Dia sudah menduga bahwa wanita itu suka kepada kaisar, sungguhpun mimpipun tidak pendekar wanita ini bahwa kandungan dalam perut ratu yang hamil muda ini adalah keturunan kaisar yang menjadi tawanan itu!

“Bagaimana saya dapat membebaskan beliau? Para penjaga tentu akan mencegah dan pula… sungguhpun saya tidak takut menghadapi mereka, saya masih harus menjaga keselamatan paduka…”

“Kaubebaskanlah beliau biar aku yang menanggung kalau sampai terjadi apa-apa…” kini wajah puteri itu merah, dan matanya sayu.

“Bagaimana kalau paduka juga ikut lolos?”

“Ehhh…?” Sepasang mata yang lebar dan indah itu terbelalak. “Apa maksudmu…?”

“Saya kira, kaisar hanya dapat diselamatkan kalau paduka suka membantu. Kalau paduka yang keluar dari benteng ini, dikawal oleh saya dan seorang pembantu saya, yaitu kaisar yang menyamar, tentu tidak akan ada pengawal yang berani mencegah atau bercuriga. Kemudian, kalau saya sudah berhasil mengantar kaisar dengan selamat ke kota raja, saya pasti akan membawa paduka kembali kepada Raja Sabutai.”

“Ahhh…!” Sejenak sepasang mata itu berseri dan bersinar mengingat bahwa dia akan berkesempatan dekat dengan kaisar yang dicintanya, dengan ayah dari anak yang dikandungnya, akan tetapi dia masih ragu-ragu karena, betapapun juga, dia tidak dapat meninggalkan Sabutai yang menjadi suaminya yang amat baik hati itu. “Tapi… bagaimana kalau suamiku mencegahnya? Suhu dan subonya seperti iblis-iblis mengerikan, belum lagi para pembantu Wang Cin itu…”

“Kita harus cerdik, dan kita bergerak kalau mereka itu keluar dari benteng menyambut musuh.”

Akhirnya Khamila dapat terbujuk juga karena wanita ini ingin sekali memperlihatkan bukti cintanya kepada ayah dari anak yang dikandungnya itu, bukti yang mutlak tentang cintanya sebelum mereka saling berpisah, mungkin untuk selamanya. Dia setuju dan kedua orang wanita yang sifatnya berlawanan ini menjadi akrab dan sama-sama mengatur siasat.

Kemudian In Hong yang sudah memperkenalkan diri sebagai seorang yang berpura-pura berfihak kepada Sabutai untuk menolong kaisar itu membicarakan kepada kaisar tentang rencananya dengan Ratu Khamila. Tentu saja kaisar menjadi girang dan terharu sekali, dan dia segera sembuh dari sakitnya mendengar bahwa terbuka kesempatan baginya untuk lolos dari tawanan.

Saat yang dinanti-nanti oleh In Hong, Khamila, dan Kaisar Ceng Tung tiba tidak lama kemudian. Bala tentara Kerajaan Beng yang telah menyelidiki bahwa musuh membuat pertahanan di dalam benteng yang kokoh itu, datang menyerbu. Sabutai mengerahkan pasukannya yang tinggal separuhnya, dan melakukan pertahanan di benteng itu, ada pula sebagian yang menjaga pintu-pintu benteng sehingga tidak mudah bagi bala tentara Beng untuk membobolkan benteng yang amat kuat itu.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: