Dewi Maut (Jilid ke-47)

Bouw Thaisu sejenak memandang kepada Cia Keng Hong, kemudian berkata, “Kiranya engkau yang bernama Cia Keng Hong, ketua dari Cin-ling-pai.” Dia mengangguk-angguk. “Pinto ada peninggalan pesanan dari mendiang Thian Hwa Cinjin, biarlah lain kali saja pinto sampaikan, sekarang tidak ada waktu.” Dia lalu melangkah pergi, menyambar jenazah Hwa Hwa Cinjin, diikuti oleh Hek I Siankouw yang juga memanggul jenazah Go-bi Sin-kouw. Sebentar saja bayangan kedua orang kakek dan nenek yang lihai itu sudah lenyap dari tempat itu.

Yo Bi Kiok sejak tadi memandang kepada ketua Cin-ling-pai dengan mata mendelik dan muka merah. Dia tidak memperdulikan lagi kakek dan nenek yang melarikan diri itu. Ketika Cia Keng Hong yang merasa akan pandang mata itu menoleh kepadanya, Yo Bi Kiok tersenyum mengejek, wajahnya dingin sekali.

Melihat ini, berdebar jantung In Hong. Dia telah mengenal gurunya dengan baik dan tahu benar bahwa saat ini gurunya marah bukan main dan tentu akan terjadi hal yang hebat. Akan tetapi yang dihadapi gurunya adalah Cia Keng Rong, kakek ketua Cin-ling-pai yang sudah terkenal di seluruh dunia akan kesaktiannya. Maka diapun tidak berani mencegah keduanya dan dia hanya mendekati kaisar dan Khamila yang masih duduk di tempat tadi dengan sikap tenang.

“Hemmm, kiranya inikah yang telah terkenal di seluruh dunia, ketua dari Cin-ling-pai yang pernah diobrak-abrik oleh Lima Bayangan Dewa!” Terdengar Yo Bi Kiok berkata, suaranya mengandung penuh ejekan.

Cia Keng Hong tersenyum. Dia adalah searang pendekar sakti, pendekar besar, ketua perkumpulan yang telah terkenal akan kegagahannya, maka diapun bukan seperti kanak-kanak yang mudah dibakar hatinya. Mendengar ucapan itu, dia memandang Bi Kiok seperti memandang seorang anak nakal. “Dan kiranya engkaulah yang telah merusak anak sahabat baikku, Yap In Hong adik Yap Kun Liong ini…”

Aku merusak keluarga Kun Liong atau akan membikin mampus padanya, kau perduli apa? Apakah kau hendak membela Yap Kun Liong?” Yo Bi Kiok membentak makin marah karena dia diingatkan kepada Kun Liong, satu-satunya pria di dunia ini yang pernah dan selalu dicintanya, akan tetapi yang telah menyakitkan hati karena menolaknya.

Cia Keng Hong menggeleng kepalanya. “Aku tidak hendak membela siapa-siapa, hanya sayang bahwa engkau telah menyeleweng, padahal engkaulah kiranya yang telah mewarisi pusaka bokor emas milik mendiang Panglima Besar The Hoo itu.”

Yo Bi Kiok tertawa. “Tak kausangka, ya? Engkau sama bodohnya dengan para datuk yang pernah memperebutkannya. Dan dengan kepandaian yang kuperoleh ini, dengan mudah aku akan dapat mengalahkan engkau, orang she Cia!”

“Subo, harap subo bersabar. Apa perlunya mencari keributan lagi?” In Hong yang merasa betapa sikap gurunya itu keterlaluan sekali, tak dapat tinggal diam lagi dan menegur dengan halus.

Yo Bi Kiok menoleh kepadanya. “Huh, kau penakut! In Hong, mari kita bawa tawanan itu kembali kepada Raja Sabutai.” Sambil berkata demikian, tanpa menghiraukan lagi kepada kakek itu, dia menghampiri Kaisar Ceng Tung.

Akan tetapi tiba-tiba Cia Keng Hong melangkah maju dan menghadang di depan Yo Bi Kiok. “Pangcu dari Giok-hong-pang, engkau tidak boleh membawa pergi kaisar karena aku akan mengantar beliau kembali ke kota raja!”

Tiba-tiba Bi Kiok menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya dengan sikap penuh ancaman kepada Cia Keng Hong. “Orang tua…” geramnya. “Mengingat akan nama baikmu, aku masih berlaku sabar dan tidak menyerangmu! Akan tetapi sekarang engkau malah menantangku!”

“Tidak ada siapa-siapa yang kutantang, akan tetapi sri baginda kaisar telah berhasil lolos dari tawanan. Itu baik sekali dan aku akan mengawalnya ke kota raja.”

“Enak saja kau bicara! Akulah yang menentukan dia hendak dibawa ke mana! Dan aku akan membawanya kembali kepada Raja Sabutai.”

“Tidak! Terpaksa aku akan menentangmu, Yo-pangcu.”

“Subo, biarlah sri baginda kaisar dikawal ke kota raja oleh Cia-locianpwe, dan kita mengantar Ratu Khamila kembali,” In Hong berkata dan Cia Keng Hong menoleh ke arah gadis itu dengan pandang mata senang.

Akan tetapi, pada saat itu dia mendengar sambaran angin yang dahsyat sekali, dari arah Yo Bi Kiok berdiri. Tahulah pendekar sakti ini bahwa ketua Giok-hong-pang itu telah menyerangnya. Dia tadi sudah menyaksikan gerak-gerik Yo Bi Kiok dan mengenal sebagian dari gerakan yang bersumber pada ilmu kepandaian Panglima The Hoo, maka dia segera menduga bahwa tentu wanita inilah yang telah mewarisi ilmu-ilmu dari bokor emas itu.

Yo Bi Kiok telah menyerang dengan pukulan kilat yang bertubi-tubi, juga mengandung tenaga sakti yang hebat sekali, Cia Keng Hong tidak berani memandang rendah, juga pendekar ini mengerahkan tenaga saktinya, menggerakkan kedua tangannya menangkis.

“Wuuuutttt… plak-plak-duk-duk-dukk!”

Berkali-kali kedua pasang lengan yang sama-sama mengandung tenaga sakti itu bertemu dan akibatnya kedudukan kaki Yo Bi Kiok tergeser mundur sampai dua langkah jauhnya! Wanita itu terkejut bukan main. Ketua Cin-ling-pai itu hanya menangkis saja berkali-kali, namun tenaga tangkisan itu telah membuat dia terdorong ke belakang. Padahal baru menangkis, belum menyerang!

“Orang she Cia yang sombong, lihat pedangku ini!”

“Singggg…!” Tampak sinar kilat ketika Lui-kong-kiam dicabut.

Cia Keng Hong lalu memungut sebatang ranting dari atas tanah, sebatang ranting yang panjangnya tidak melebihi lengannya. “Yo-pangcu, bukankah itu Lui-kong-kiam yang dahulu pernah menjadi milik Liong Bu Kong?” tanyanya sambil memandang pedang bersinar kilat yang berada di tangan ketua Giok-hong-pang itu.

Yo Bi Kiok tersenyum mengejek. “Dia mampus di tanganku seperti juga engkau akan mati di tanganku sekarang, orang she Cia. Hayo kaukeluarkan pedangmu Siang-bhok-kiam yang terkenal itu!”

Cia Keng Hong menghela napas panjang. Dia merasa betapa wanita ini seperti seorang anak kecil saja. “Yo Bi Kiok, sembarang rantingpun cukuplah untuk menghadapi pedangmu itu.”

Tentu saja Yo Bi Kiok menjadi marah sekali. Selama ini, kecuali ketika bertemu dengan pendeta Lama tinggi besar yang seperti setan itu, dia tidak pernah menemui tandingan. Kini, kakek Cin-ling-pai ini menghadapi pedangnya dengan hanya sebatang ranting! Tentu saja dia merasa dipandang rendah dan dihina sekali.

Sambil berteriak mengeluarkan suara lengkingan tajam tinggi dan panjang, tubuhnya menerjang ke depan, pedang kilatnya menjadi sinar bergulung-gulung. In Hong memandang dengan khawatir. Dia tahu akan kelihaian ketua Cin-ling-pai itu, akan tetapi hanya menggunakan ranting menghadapi pedang subonya, benar-benar merupakan bunuh diri!

Tampak sinar hijau di antara sinar kilat itu, sinar hijau yang meluncur dan membelit-belit di antara sinar kilat, disusul suara berdencingan dan tiba-tiba terdengar jeritan Yo Bi Kiok yang meloncat ke belakang dan dia mengusap lengan kanannya yang kena disabet oleh ranting itu, sakitnya bukan kepalang dan menimbulkan goresan panjang, padahal lengan bajunya tidak robek!

Yo Bi Kiok memandang terbelalak, hidungnya kembang-kempis dan kemarahannya memuncak. Kemudian dia menjerit dan menyerang lebih hebat daripada tadi.

“Suboooo… jangan…!” In Hong yang melihat kehebatan serangan ini, serangan maut yang juga merupakan serangan mengadu nyawa karena dalam serangan ini, seluruhnya dicurahkan kepada penyerangan tanpa memperhatikan pertahanan sama sekali.

“Cringgg… ceppppp!!” Ranting di tangan Cia Keng Hong patah menjadi dua, akan tetapi, pedang Lui-kong-kiam itu terlepas dari tangan pemiliknya dan menancap di atas tanah di depan kaki Yo Bi Kiok.

Sejenak wanita itu terbelalak, hampir tidak mempercayai pandangan matanya sendiri bahwa pedangnya benar-benar sampai dapat terpukul lepas dari tangannya. Tahulah dia bahwa pendekar di depannya ini benar-benar memiliki kesaktian yang luar biasa, maka dia menjadi malu sekali. Dia menyambar pedangnya, kemudian lari dari situ dan dari tenggorokannya keluar suara yang sukar ditentukan apakah itu suara ketawa ataukah suara menangis!

Cia Keng Hong menghela napas dan menoleh kepada In Hong yang memandangnya dengan penuh kagum. “Gurumu itu tinggi sekali ilmunya, sayang dia dikuasai oleh watak yang ganas dan aneh, mendekati kegilaan,” katanya.

“Memang dia mendekati kegilaan oleh perasaan hatinya yang gagal karena ditolak oleh Kun Liong koko,” kata In Hong.

“Ahhhhh… begitukah…?” Cia Keng Hong menggeleng-geleng kepalanya. Dia tidak merasa heran karena dia tahu bahwa akibat cinta gagal banyak mendatangkan bencana pada manusia, sejak jaman gurunya masih muda (baca cerita Siang-bhok-kiam) sampai pengalamannya sendiri.

“In Hong,” katanya teringat kepada orang tua gadis itu dan memanggil nama gadis itu dengan mesra. “Kau telah melakukan perbuatan baik sekali dengan melindungi sri baginda. Sekarang, aku akan mengawal sri baginda kaisar kembali ke kota raja.”

In Hong mengangguk. Dia tunduk dan kagum kepada kakek ini sekarang, tidak hanya kagum akan kepandaiannya yang benar-benar hebat, akan tetapi juga kagum akan sikapnya. “Baiklah, locianpwe. Saya akan mengantar ratu kembali ke benteng Raja Sabutai.”

Cia Keng Hong menghampiri sri baginda dan menjura dengan hormat. “Marilah, sri baginda, hamba mengawal paduka kembali ke kota raja.”

Kaisar Ceng Tung saling pandang dengan Khamila dan wanita cantik itu sudah bercucuran air mata. Mereka saling pandang, juga kaisar itu kelihatan berduka dan terharu sekali. Kemudian, Khamila mengeluarkan suara jerit lirih dan mereka saling rangkul. In Hong menundukkan kepala dan Keng Hong membalikkan tubuhnya dengan alis berkerut. Tentu saja dia tidak tahu apa yang terjadi antara dua orang ini, seorang tawanan dan seorang isteri dari si penawan. Akan tetapi hal itu bukan urusannya dan dia tidak ingin mengetahuinya, akan tetapi telinganya tetap saja mendengar isak tangis Khamila.

“Sri baginda… terpaksa… terpaksa saya harus meninggalkan paduka…” terdengar Khamila terisak.

“Khamila, tidak bisakah… kau ikut dengan aku untuk selamanya?” suara kaisar penuh kelembutan dan permohonan seperti suara seorang pemuda biasa merayu dan membujuk kekasihnya.

“Tidak mungkin, paduka juga tahu… betapa baiknya Sabutai… sudah menjadi kewajibanku untuk kembali kepadanya… selamat tinggal, sri baginda.”

“Khamila… ah, perpisahan ini… mungkinkah pertemuan ini yang penghabisan? Bila kita dapat berjumpa kembali…?”

“Agaknya hanya di alam baka kita dapat saling bertemu kembali, baginda. Biarlah kalau di dunia ini kita tidak dapat berjodoh, di dalam kehidupan kelak hamba akan menjadi pelayan paduka, menjadi…”

“Ssstttt… di dalam pertemuan antara kita kelak, aku ingin menjadi suamimu, Khamila…” Kaisar muda yang lagi gandrung asmara itu lalu melepaskan sebuah kalung dari lehernya dan mengalungkan benda itu ke leher Khamila sambil barbisik, “Khamila, kalung ini pemberian ibundaku dan hanya boleh diberikan kepada permaisuriku.”

Khamila menggenggam kalung yang melingkari lehernya itu, matanya yang berair memandang terbelalak. “Tapi… tapi… kita…”

“Kita berpisah, akan tetapi hati kita tidak. Kau akan kukenang sebagai satu-satunya isteriku yang tercinta, biar aku lahiriah akan dilayani seribu orang wanita sekalipun.”

“Ah, sri baginda…” Khamila menangis dan makin terharu dan beratlah hatinya untuk berpisah.

“Kaumintalah kebijaksanaan suamimu, Sabutai, agar jika engkau melahirkan seorang putera, di samping nama pemberian Sabutai, juga diberi alias nama pemberianku, yaitu Ceng Han Houw.”

Khamila membisikkan nama itu untuk menghafalnya sambil mengangguk, kemudian berbisik, “Kalau perempuan?”

“Terserah kepadamu.”

Setelah mendekap sekali lagi mereka berpisah. Khamila digandeng tangannya oleh In Hong dan pergi dari situ, dlikuti pandang mata kaisar yang berdiri dengan muka pucat. Ratu Khamila juga beberapa kali menoleh dan agaknya dia tentu akan lari kembali kepada kekasihnya kalau saja tidak digandeng dengan kuat oleh In Hong. Setelah bayangan dua orang wanita itu lenyap, barulah kaisar menghela napas panjang dan bertanya kepada kakek Cin-ling-pai yang masih menantinya itu, “Cia-locianpwe, apakah yang lebih menyedihkan daripada dua orang yang saling mencinta terpaksa harus berpisah?”

Cia Keng Hong yang semasa mudanya juga banyak mengalami suka dukanya cinta, dapat memaklumi perasaan kaisar saat itu, akan tetapi dengan jujur dia mengingatkan. “Maaf, sri baginda, akan tetapi hamba kira bahwa cinta antara pria dan wanitapun hanya merupakan sebagian saja daripada hidup yang luas ini, apalagi bagi paduka sebagai kaisar, karena di sana masih menanti tugas yang menyangkut kehidupan rakyat senegara. Dan kedudukan paduka kini telah dipegang oleh lain orang.”

Ini merupakan berita baru bagi kaisar dan dia cepat mendekati Keng Hong, memandang tajam dan bertanya, “Siapa dia?”

“Beliau itu bukan lain adalah Pangeran Cing Ti, adik paduka sendiri yang dipaksa oleh para pembesar yang tidak setia kepada paduka, macam Wang Cin dan kawan-kawannya itu.:

Kaisar mengerutkan alisnya. “Sungguh benar kata orang bijak jaman dahulu bahwa lebih mudah membedakan mana binatang buas dan mana yang jinak, karena manusia sukar ditentukan keadaan hatinya dari wajahnya. Locianpwe, engkau yang sejak dahulu sudah menjadi sahabat dan pembantu mendiang Panglima Besar The Hoo, yang sudah kuketahui sejak kecil akan kesetiaanmu terhadap negara dan bangsa, ceritakanlah apa yang terjadi semenjak aku ditawan oleh Sabutai.”

Cia Keng Hong lalu menuturkan semua yang dialaminya dan diketahuinya melalui penyelidikannya selama ini. Diceritakannya betapa pasukan orang-orang Mancu dan Khitan yang dipimpinnya tidak berhasil menolong sri baginda yang ditawan karena tidak ada bantuan sama sekali dari fihak kota raja, kemudian betapa dia pergi menyelidiki kota raja dan tahu bahwa pembesar-pembesar yang berkuasa, yang menjadi sekutu Wang Cin, sengaja membiarkan kaisar tertawan tanpa ada usaha untuk menolong, kemudian malah mereka itu menentang para pembesar yang setia dan memaksa pengangkatan Pangeran Cing Ti sebagai pengganti kaisar.

Kaisar mengangguk-angguk dan kini kedukaannya karena perpisahan dengan Khamila itu sama sekali telah terlupakan olehnya! Kini pikirannya terisi penuh dengan persoalan kerajaan, maka persoalan lain terusir sama sekali.

Demikianlah keadaan pikiran manusia pada umumnya. Kita dipermainkan oleh pikiran yang selalu mengejar pengalaman yang menyenangkan dan menjauhi yang tidak menyenangkan. Selama keinginan mengejar kesenangan ini masih menguasai kita, maka kita tidak akan pernah merasa tenteram. Kalau sudah terpegang kesenangan yang kita kejar-kejar itu, maka hal itu bukan hanya berhenti sampai sekian saja karena pikiran kita sudah bergerak lagi mengejar kesenangan yang lain. Padahal setiap kesenangan itu selalu disanding oleh kekecewaan, kebosanan, dan kedukaan, juga ketakutan. Kita sendirilah yang membuatnya, bukan orang lain. Sumber segala kedukaan berada di dalam diri kita sendiri. Juga sumber dari segala kebijaksanaan dan kebahagiaan juga berada di dalam diri kita sendiri. Oleh karena itu, memandang atau mengawasi diri sendiri, mengamatinya setiap saat lahir batin kita membuat kita mengenal diri sendiri yang akan menimbulkan pengertian dan kesadaran. Pengertian mendalam ini akan mengakibatkan terjadinya perobahan mujijat dalam diri kita.

“Bagaimana dengan para petugas kami yang setia?” kaisar beetanya.

“Sebetulnya masih banyak menteri dan jenderal yang setia terhadap paduka, akan tetapi karena paduka tidak ada dan mereka tidak menghendaki perang saudara, tidak berani bertindak tanpa perintah paduka, maka sekarang hamba ingin mengantar paduka kepada mereka di kota raja.”

“Hemm, baiklah. Mari kita berangkat, Cia Keng Hong locianpwe.”

***

Kita tinggalkan dulu Kaisar Ceng Tung yang sedang menuju ke kota raja untuk memulihkan kembali keadaan kota raja yang kacau karena penggantian kaisar secara paksa itu, dan mari kita mengikuti perjalanan In Hong yang mengantar Ratu Khamila kembali ke benteng Sabutai.

Di dalam perjalanan kembali ke tempat suaminya ini, sering kali Khamila menangis dan dihibur oleh In Hong. “Paduka telah melakukan hal yang baik sekali dengan membantu membebaskan sri baginda kaisar, mengapa paduka selalu berduka?”

Khamila menarik napas panjang. “Enci Hong, engkau benar. Aku telah membebaskan orang yang kucinta dari bahaya, seharusnya aku bergembira. Akan tetapi… ah, perasaan mementingkan kesenangan sendiri belum juga mau meninggalkan aku. Padahal… demi keselamatannya, demi nama baiknya dan… demi negara terpaksa aku harus berpisah darinya… yang ada hanya ini…” Dia mengelus perutnya akan tetapi segera teringat bahwa dia harus merahasiakan kandungannya itu dari siapapun juga, maka tangannya yang mengusap perut itu terus menuju ke ikat pinggangnya dan dia mengeluarkan sesampul surat. “Hanya ini yang diserahkan padaku…” katanya pula dan In Hong kini baru mengerti bahwa kaisar menyerahkan sesampul surat kepada Khamila.

“Untuk siapa?” tanyanya.

“Untuk suamiku, untuk Sabutai. Sri baginda kaisar dalam suratnya ini menyatakan terima kasih atas kebaikan Sabutai.” Dia menarik napas panjang lagi dan menyimpan surat itu ke dalam ikat pinggangnya, lalu memandang In Hong dan berkata dengan suara sungguh-sungguh. “Aih, sering kalau aku memandangmu, timbul rasa iri di dalam hatiku, enci Hong.”

“Iri hati? Kedudukan paduka begitu tinggi, sedangkan saya hanyalah seorang manusia pengembara.”

Justeru itulah! Engkau memiliki kebebasan dan aku tidak! Engkau bebas pergi ke manapun menurut kesukaan hatimu, engkau bebas menentukan semua perbuatanmu sendiri, bebas memilih jalan hidupmu sendiri, dan terutama bebas memilih kawan hidupmu sendiri. Aku? Ah, aku hanya seperti barang berharga yang dijual dan aku tidak boleh memilih pembeli. Aku tidak pernah mengenal cinta kasih sebelum berjumpa dengan Kaisar Ceng Tung. Perjumpaan yang amat terlambat, yang hanya mendatangkan kebahagiaan sejenak namun segera disusul perpisahan selamanya yang akan mendatangkan duka saja.”

Ucapan itu membuat In Hong termenung. Benarkah dia bebas dan bahagia? Bebas, memang benar akan tetapi dia yang sejak dahulu bebas tidak lagi dapat memakan kesenangan dari kebebasannya itu. Hanya orang yang tidak bebas seperti Khamila itu, yang akan dapat membayangkan betapa senangnya orang kalau bebas! Akan tetapi bahagia? Dan cinta kasih? Memilih kawan hidup sendiri? Otomatis tangannya meraba pedang Hong-cu-kiam karena dia teringat akan wajah Bun Houw. Heran dia, mengapa sering benar, di waktu pikirannya kosong termenung, di waktu dia mengenang akan nasib orang yang dilanda cinta kasih, dia selalu teringat kepada pemuda itu? Tak disadarinya pula, kedua pipi gadis ini menjadi merah dan dadanya berdebar aneh. Sekarang dia tidak lagi marah kepada pemuda itu, karena ternyata pemuda itu tidak menuduhnya membunuh orang secara sembarangan saja, bukan fitnah kosong, melainkan karena semua itu adalah perbuatan subonya yang mungkin saja oleh Bun Houw disangka dia. Akan tetapi, Bun Houw yang dia tahu amat setia kepada negara itu, tentu akan terkejut dan terheran-heran mendengar bahwa dia yang menyelundupkan kaisar, yang menyelamatkan kaisar keluar dari tahanan, padahal ketua Cin-ling-pai sendiri dengan pasukannya tak pernah berhasil menolong kaisar. Ingin dia bertemu dengan pemuda itu dan melihat bagaimana sinar mata pemuda itu memandangnya kalau mendengar tentang jasanya terhadap kaisar itu!

Oleh karena keinginan yang timbul di dalam hatinya inilah yang membuat In Hong tersentak kaget kemudian wajahnya menjadi makin berseri kemerahan ketika dia mendengar suara yang sudah amat dikenalnya, “Hong-moi…!”

In Hong segera menoleh ke kiri dan hampir saja dia lari menyambut pemuda yang muncul dari balik semak-semak itu kalau saja dia tidak ingat bahwa hal itu amat memalukan. Maka dia cepat mengambil sikap dingin biasa, bahkan seolah-olah dia masih menyimpan kemarahannya dahulu.

“Hong-moi…!”

In Hong memandang wajah tampan yang selama ini sering terbayang di depan matanya itu. Heran dia, karena wajah itu kini tidak merah lagi seperti dulu, pandang matanya tidak menyinarkan kemarahan dan penyesalan seperti pada pertemuan mereka yang terakhir.

“Hemm, mau apa engkau menghadang perjalanan kami?”

Bun Houw hendak membuka mulut, akan tetapt ketika dia melihat Khamila, dia cepat menjura dan berkata, “Maaf, bukankah paduka ini ratu dari Raja Sabutai?”

Khamila memandang wajah tampan itu penuh perhatian, lalu dia mengangguk. “Enci Hong, siapakah dia ini?”

“Dia orang she Bun, dia… dia kenalan saya,” jawab In Hong sederhana. Lalu dia bertanya lagi, “Bun-ko, engkau mau apa menjumpaiku?”

“Aku… aku telah mendengar akan perbuatanmu yang amat gagah berani dan mulia, engkau telah membebaskan sri baginda kaisar! Hebat, aku kagum padamu, Hong-moi!”

In Hong menatap wajah itu dan jantungnya berdebar keras. Pandang mata pemuda itu memang seperti yang dia bayangkan tadi, penuh kagum dan takjub, akan tetapi, sinar penyesalan masih belum meninggalkan sinar mata itu, penyesalan karena dia disangka membunuh gadis dusun itu! Maka hatinya menjadi dingin kembali. “Hemm, kalau sudah begitu mengapa?” tanyanya, dingin dan angkuh.

Dengan wajah berseri Bun Houw memberi hormat dan berkata, “Perbuatanmu itu hebat dan mulia, aku ingin menghaturkan terima kasih, Hong-moi. Apalagi aku mendengar betapa engkau mempergunakan Hong-cu-kiam untuk melindungi sri baginda kaisar. Aku kagum dan bangga sekali!”

“Bun-taihiap, apakah engkau sudah bertemu dengan sri baginda kaisar?” Tiba-tiba Khamila bertanya.

Bun Houw mengangguk membenarkan.

“Bagaimana kesehatan beliau?” tanya pula ratu itu sehingga Bun Houw terheran-heran melihat betapa ratu musuh ini begitu menaruh perhatian atas kesehatan diri kaisar yang pernah ditawan suaminya! Dia memang sudah berjumpa dengan ayahnya, akan tetapi karena tergesa-gesa, ayahnya tidak menceritakan secara lengkap, apalagi tentang hubungan kasih antara ratu musuh itu dengan kaisar.

“Terima kasih, kesehatan beliau baik-baik saja.”

“Hemm, jadi engkau mendengar semua itu dari Cia-locianpwe, ketua Cin-ling-pai?” kini In Hong bertanya.

“Benar, Hong-moi. Aku sungguh kagum mendengarnya dan aku cepat-cepat menyusul ke sini untuk membantumu apabila engkau menghadapi kesukaran. A… eh, Cia-locianpwe juga yang mengutus aku karena beliau tergesa-gesa berangkat ke kota raja bersama semua pengawal.”

“Perlu apa engkau menyusul aku? Engkau sudah tidak sudi bekerja sama dengan aku. Lupakah engkau?”

Bun Houw mengerutkan alisnya karena ucapan nona itu mengingatkan dia akan hal-hal yang tidak menyenangkan. “Akan tetapi… sebagai penyelamat kaisar… engkau harus dibantu…”

“Dan engkau masih menganggap aku sebagai pembunuh gadis dusun tak berdosa itu?”

“Hemmm… tentang itu… eh, bukti-bukti menunjukkan demikian. Siapa lagi kalau bukan… sudahlah, Hong-moi, aku tidak lagi mau membicarakan hal itu. Yang penting sekarang aku harus membantumu mengawal Ratu Khamila kembali ke benteng Raja Sabutai sesuai yang diperintahkan oleh… oleh Cia-locianpwe.”

In Hong menjadi marah. “Siapa sudi bekerja sama dengan engkau? Aku seorang pembunuh. Nih, kauterima kembali pedangmu, bisa kotor terjatuh ke tangan seorang pembunuh terkutuk seperti aku. Dan Giok-hong itu kembalikan padaku!”

Bun Houw mendekap saku bajunya. Perhiasan yang dia terima dari gadis itu selalu dibawanya, menjadi teman yang tak pernah terpisah. “Tidak akan kukembalikan. Tidak boleh!”

“Huh, kalau begitu nih terima pedangmu!”

“Tidak, akupun tidak mau menerimanya kembali.”

Sejenak mereka berdua saling pandang, sama-sama memperlihatkan kekerasan hatinya, kemudian In Hong mendengus dan menyimpan kembali pedang yang sesungguhnya amat disayangnya itu. “Huh, sesukamulah. Akan tetapi karena engkau seorang yang bersih, seorang yang suci, jangan dekat-dekat dengan pembunuh seperti aku. Lupakah engkau bahwa aku adalah Dewi Maut, kejam seperti iblis seperti pernah kaukatakan?” Dada gadis itu makin panas dan naik turun bergelombang karena dia teringat akan sikap Bun Houw kepadanya. “Mari kita pergi saja!” Dia menyambar tangan Ratu Khamila agak kasar dan mengajak ratu itu pergi meninggalkan Bun Houw yang masih berdiri bengong karena dia memang bingung melihat sikap In Hong dan dia memang mulai merasa ragu-ragu. Benarkah dara ini, yang telah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan kaisar, seperti yang dia dengar dari ayahnya, benarkah dara segagah ini melakukan perbuatan serendah itu, membunuh gadis dusun yang lemah tak berdosa?

Dia mengikuti terus dan selagi In Hong berhenti, memutar tubuh dan hendak membentak, tiba-tiba terdengar suara berisik dan tahu-tahu tempat itu telah dikurung oleh ratusan orang perajurit Sabutai, dikepalai oleh Hek-hiat Mo-li dan Pek-hiat Mo-ko yang berdiri memandang seperti patung yang hidup, menyeramkan sekali. Mereka berdua tidak berkata apa-apa, hanya komandan pasukan itu yang cepat memberi hormat kepada Ratu Khamila dan berkata, “Hamba diutus oleh sri baginda untuk mengawal paduka kembali ke benteng.”

Puteri Khamila mengerutkan alisnya. “Akupun sedang hendak kembali ke benteng dikawal oleh enci Hong dan Bun-taihiap ini.” Puteri Khamila memandang kepada In Hqng dan Bun Houw dengen sinar mata melindungi, keudian mengangguk kepada mereka. “Mari, enci Hong dan Bun-taihiap, mari ikut bersamaku menemui suamiku, Sri Baginda Sabutai dan semua hal akan menjadi terang dan beres. Aku yang akan bertanggung jawab dan membela kalian kalau kalian dipersalahkan.”

Tadinya In Hong dan Bun Houw sudah siap untuk melawan, akan tetapi In Hong diam-diam khawatir akan keselamatan Bun Houw, karena dia tahu betul betapa hebatnya kepandaian kakek dan nenek guru Sabutai itu, apalagi di situ masih ada ratusan orang perajurit yang sudah mengepung mereka berdua. Maka diapun mengangguk, dan Bun Houw juga tidak banyak membantah. Jangankan baru memasuki benteng Sabutai, biarpun disuruh memasuki nEraka, kalau bersama nona Hong itu, dia akan bersedia! Maka, berangkatlah mereka, diiringkan oleh ratusan orang perajurit yang seolah-olah “mengawal” mereka, kembali ke benteng di mana Sabutai sendiri telah menanti.

Wajah Sabutai yang tadinya keruh itu menjadi berseri seketika setelah dia melihat isterinya melangkah masuk ke ruangan itu dengan agungnya. Dia cepat bangkit berdiri, memegang tangan isterinya dan menuntunnya duduk di atas kursi kebesaran, di sampingnya sambil berkata, “Engkau harus menjaga kesehatanmu, jangan banyak terkena angin.”

Khamila memandang suaminya dengan mata merah membasah karena tangis tadi, lalu berbisik, “…hamba… kaisar…”

Raja Sabutai tersenyum dan menyentuh tangan isterinya. “Aku memang bermaksud membebaskannya…” Dia mengangguk dan tersenyum sehingga legalah hati Khamila.

Sementara itu, In Hong melirik ke seluruh ruangan. Dia tidak melihat Bouw Taisu dan Hek I Siankouw. Akan tetapi subonya sudah berada di situ, duduk di atas kursi dengan muka dingin dan mata membayangkan kemarahan. Tentu saja subonya marah kepadanya, dan masih merasa penasaran dan malu karena dikalahkan oleh ketua Cin-ling-pai! Dua orang kakek dan nenek guru Sabutai kini telah mengambil tempat duduk di belakang raja itu. Adapun pembesar Wang Cin juga hadir di situ, bersama anak buahnya yang kini hanya tinggal tiga orang yang dapat dia andalkan, yaitu tiga orang Bayangan Dewa. Mereka itu agaknya belum tahu apa yang telah menimpa diri empat orang undangan pembantu mereka, tidak tahu akan kematian Go-bi Sin-kouw dan Hwa Hwa Cinjin yang jenazah-jenazahnya dibawa pergi oleh Bouw Thaisu dan Hek I Siankouw.

Komandan pasukan pengawal tadi melaporkan kepada rajanya tentang sang ratu yang ditemukan di dalam hutan bersama In Hong den pemuda yang kini ikut pula dibawa menghadap dan menyerahkan keputusannya kepada raja. Karena laporan itu dilakukan dalam bahasa mereka sendiri, baik In Hong maupun Bun Houw tidak tahu artinya, akan tetapi melihat wajah Khamila yang tenang-tenang saja bahkan kelihatan lega, hati merekapun tidak khawatir.

Setelah mendengarkan pelaporan komandang pasukan itu, Sabutai lalu memberi isyarat menyuruh mundur semua pasukan sehingga ruangan ini sekarang menjadi sunyi, hanya ada mereka dan Wang Cin bersama tiga orang Bayangan Dewa, Raja Sabutai, isterinya dan dua orang gurunya saja. Raja Sabutai kini menghadapi In Hong, memandang kagum kemudian dia berkata, “Nona Hong, engkau sungguh menepati janji, terus mengawal isteri kami sampai ke manapun sehingga telah kembali pula ke sini dengan selamat. Sayang engkau mempergunakan akal untuk meloloskan kaisar keluar dari benteng. Kenapa engkau tidak terang-terangan saja minta ijin dariku? Apakah engkau tidak tahu bahwa memang kami tidak mempunyai niat untuk membunuhnya? Kalau memang kami bermaksud membunuhnya, sudah sejak lama dia kami bunuh!”

In Hong melirik ke arah Khamila, kemudian dia menjura dan berkata dengan gagah, “Saya telah melakukan hal itu, dan memang saya menyelundupkan kaisar keluar dari tempat tahanan. Setelah saya mengaku, maka terserah atas kebijaksanaan paduka!” Ucapan gagah ini sekaligus juga menyatakan bahwa dia tidak takut akan akibat dari perbuatannya itu.

Mendengar ini, tentu saja Bun Houw merasa khawatir sekali. Dia salah duga, mengira bahwa In Hong hendak menyerahkan diri menerima segala hukuman, maka cepat dia berkata, “Harap paduka maafkan kelancangan saya. Akan tetapi sepanjang pengetahuan saya, bukanlah nona Hong yang meloloskan kaisar, melainkan isteri paduka, sang ratu! Sebagai seorang pengawal yang setia, tentu saja nona Hong menyertai sang ratu ketika beliau meloloskan tawanan keluar dari benteng, maka tidak semestinya kesalahan ditimpakan kepada nona Hong.”

Semua orang memandang kepada pemuda itu, dan Raja Sabutai memandang dengan mata menyelidik. Sementara itu, Khamila berbisik kepada suaminya bahwa dia sudah menanggung keselamatan mereka dan agar pemuda yang menjadi sahabat baik nona Hong itu jangan diganggu.

“Mereka saling mencinta…” bisik ratu itu akhimya.

Sabutai tersenyum dan mengertilah dia kini mengapa pemuda itu mati?matian mempertahankan dan membela nona Hong. Juga In Hong terheran?heran bagaimana Bun Houw dapat menduga demikian tepat tentang larinya kaisar bersama Ratu Khamila. Dia tidak mengira bahwa pemuda ini adalah putera pendekar sakti Cia Keng Hong dan telah mendengar penuturan ayahnya tentang kaisar yang melarikan diri dibantu oleh Ratu Khamila itu.

“Orang muda, siapakah engkau?” Raja Sabutai bertanya, diam?diam dia menaksir apakah pemuda itu pantas menjadi kekasih seorang pendekar wanita seperti In Hong.

“Nama saya… Bun Houw.” Bun Houw masih menyembunyikan she?nya, karena dia teringat betapa In Hong sendiripun mengira dia she Bun. Pula, di tempat seperti ini, perlu apa memperkenalkan diri yang sesungguhnya? Yang terpenting, kaisar telah lolos dan dia hanya berada di situ untuk melindungi In Hong dan juga untuk mencari tiga orang musuh besarnya, yaitu tiga orang Bayangan Dewa yang kabarnya berada di situ. Sejak tadipun dia sudah memandang?mandang ke arah tiga orang kakek yang duduk di belakang seorang pembesar Han yang dia kira tentulah Wang Cin dan tiga orang kakek itu agaknya adalah orang?orang yang selama ini dicarinya, maka dia memandang penuh perhatian sampai dia ditanya oleh Raja Sabutai.

Tiba?tiba Wang Cin berkata, “Sri baginda, harap sri baginda berhati?hati. Tidak salah lagi bahwa nona Hong tentulah seorang mata?mata dari kerajaan, dan pemuda ini tidak syak lagi juga seorang mata?mata. Oleh karena itu, sudah seharusnya kalau mereka berdua ditangkap dan dihukum mati karena mereka terang?terangan telah meloloskan kaisar itu dari tahanan!”

“Apa yang dikatakan oleh Wang?taijin benar sekali” Tiba?tiba Pat?pi Lo?sian Phang Tui Lok berkata sambil bangkit berdiri. “Sudah sejak dahulu hamba semua tahu bahwa nona In Hong itu adalah mata?mata musuh dan tentu sekali waktu akan mengkhianati paduka. Juga pemuda ini adalah seorang jahat yang masih mempunyai perhitungan dengan hamba karena dia bersama nona Hong telah membunuh dua orang saudara hamba.”

Melihat betapa para pembantu Wang Cin agaknya memusuhi In Hong dan Bun Houw, hati Raja Sabutai tertarik sekali. Memang raja ini, di samping ambisinya untuk menjadi raja besar yang akan membangkitkan kembali kejayaan Bangsa Mongol, juga merupakan orang yang keranjingan ilmu silat, amat suka menyaksikan pertandingan silat. Maka melihat sikap kedua fihak ini yang agaknya bermusuhan, dia lalu bertanya kepada pemuda yang buru datang itu.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: