Dewi Maut (Jilid ke-48)

“Orang muda, benarkah engkau membunuh saudara mereka? Kalau benar, mengapa?”

“Maaf sri baginda. Mereka itu adalah orang-orang jahat yang tadinya berlima, menamakan diri Lima Bayangan Dewa yang dengan cara amat curang telah menyerbu Cin-ling-pai, di waktu ketuanya tidak ada, membunuh anak murid Cin-ling-pai dan mencuri pedang pusaka Siang-bhok-kiam dari Cin-ling-pai. Selain itu juga bersekutu dengan orang-orang jahat, dan kini bahkan menjadi kaki tangan pengkhianat ini!” Dengan berani Bun Houw menuding ke arah Wang Cin. “maka sudah sepatutnyalah kalau saya, sebagai orang yang menjunjung tinggi kegagahan, menentang mereka dan dalam pertandingan saya berhasil merobohkan saudare mereka termuda yang bernama Toat-beng-kauw Bu Sit ketika orang itu hendak melakukan pemerkosaan terhadap seorang gadis yang tidak berdosa.”

“Bohong kau!” Pat-pi Lo-sian membentak marah.

“Dan aku yang membunuh Hui-giakang Ciok Lee Kim ketika nenek cabul itu berbuat tidak patut terhadap seorang pemuda.” In Hong kint juga bersikap berani.

“Sri baginda, harap tangkap mereka dan hukum mampus! Mereka berdua berani menghina saya dan menentang sri baginda!” Wang Cin menuding dengan marah.

In Hong melirik kepada subonya yang hanya memandang ke kanan kiri dengan wajah dingin. Diam-diam gadis ini merasa ngeri. Subonya adalah seorang yang aneh luar biasa, sukar diketahui isi hatinya. Kalau subonya berfihak kepada Wang Cin celakalah, pikirnya. Sementara itu, Bun Houw juga sudah siap-siap untuk mengamuk dan melindungi In Hong. Sebaliknya, In Hong tidak mengerti apa yang akan dilakukannya andaikata Raja Sabutai hendak menangkap Bun Houw saja. Apakah dia akan melindungi pemuda ini? Dia tidak depat menjawab saat itu. Betapapun juga, kedua orang muda ini sudah merasa tegang dan mereka menanti saat yang menentukan sambil memandang wajah Sabutai yang tersenyum-senyum misterius. In Hong menaksir keadean. Kakek dan nenek di belakang raja itu amat lihai dan kiranya Bun Houw bukanlah lawan seorang di antara mereka. Apalagi ditambah tiba Bayangan Dewa, para perwira dan banyak perajurit, tentu mereka berdua tidak akan mampu menyelamatkan diri. Kecuali kalau gurunya berada di fihaknya, kalau demikian masih mending, sungguhpun agaknya, dengan kekuatan mereka bertiga sekalipun amatlah sukar lolos dari benteng yang kuat ini.

Agaknya keputusan itu juga merupakan hal yang amat sulit bagi Raja Sabutai. Dia tadi mendengar bisikan isterinya bahwa antara In Hong dan Bun Houw terdapat hubungan cinta kasih, maka kalau dia menyuruh tangkap dan bunuh pemuda itu, tentu berarti dara perkasa yang dikaguminya itu akan membela mati-matian. Akan tetapi kalau tidak ditangkap, seolah-olah dia tidak menghargai bantuan Wang Cin dan kawan-kawannya dalam penyerbuannya ke selatan yang hampir berhasil akan tetapi sekarang mengalami kemunduran hebat itu. Pada saat dia meragu, tiba-tiba Khamila menyentuhnya. Dia menoleh dan ternyata isterinya menyerahkan sesampul surat. “Harap paduka baca ini dulu…” bisik Khamila.

Sabutai tertarik sekali dan hatinya tegang ketika mengenal surat yang datang dari Kaisar Ceng Tung itu. Dia membuka sampulnya, mengangkat tangan kiri sebagai isyarat agar semua orang diam dan menunda pembicaraan, kemudian dia mulai membaca surat yang ditulis dengan huruf-huruf halus dan indah itu.

Raja Sabutai yang saya hormati,

Anda mengetahui betapa Wang Cin yang khianat telah melemahkan saya dengan racun berupa Azisha yang seperti ular itu, sehingga saya sampai terjebak dan menjadi tawanan anda. Akan tetapi saya kagum kepada anda yang berbahagia dan yang memiliki seorang ratu yang amat mulia. Semoga anda hidup berbahagia dengan keluarga anda.

Kini saya telah bebas. Saya akan menemui bala tentara saya dan menghentikan perang antara kita. Mengingat akan kebaikan anda dan ratu, maka apabila anda suka mundur dan menarik pasukan, anda akan tetap menjadi sahabat kami dan saya akan menjadi wali dari putera anda kelak. Sebaliknya, apabila anda melanjutkan penyerbuan ke selatan, kami akan membasmi semua pasukan anda dan akan mempersilakan ratu untuk hidup terhormat dan terpuji di dalam istana kami.

Sekian dan kemudian terserah kebijaksanaan anda.

Tertanda,

Kaisar Ceng Tung

Sabutai menyimpan surat itu dan tersenyum lebar sambil melirik ke arah isterinya. Kemudian dia memandang mereka semua seorang demi seorang, kemudian yang terakhir kepada Wang Cin, dan berkatalah dia dengan suara lantang. “Kami memutuskan agar urusan ini ditunda dulu. Nona Hong dan pemuda ini tetap menjadi tamu-tamu kami yang diawasi dan tidak diperkenankan keluar dari benteng. Juga harap Wang-taijin dan para pembantunya tidak sembarangan turun tangan menimbulkan keributan. Kami hendak melihat perkembangannya. Hendak kulihat apakah benar-benar kaisar muda itu berkepandaian begitu hebat untuk merampas kembali kedudukannya dan menarik mundur pasukan seperti yang dijanjikannya. Ha-ha-ha!” Sabutai tertawa, lalu mengajak isterinya memasuki ruangan sebelah dalam. Persidangan itu bubar dan sepasukan pengawal lalu mengantar Bun Houw ke dalam sebuah kamar tamu dan selanjutnya pemuda ini terus dikawal dan diawasi. Demikianpun In Hong dan Yo Bi Kiok maklum bahwa mereka diam-diam diawasi oleh kakek den nenek guru Sabutai. Semenjak peristiwa kekalahan Yo Bi Kiok dari Cia Keng Hong, guru ini bersikap dingin terhadap muridnya dan tidak pernah menegur, akan tetapi In Hongpun diam saja karena makin lama makin terbukalah matanya betapa subonya itu memiliki watak yang aneh, tidak lumrah, kadang-kadang ganas dan amat kejam sehingga dia merasa tidak senang dan juga berduka, karena sesungguhnya, subonya itulah yang selama ini dianggapnya sebagai orang yang paling baik baginya.

Sementara itu, dengan bantuan Cia Keng Hong, Kaisar Ceng Tung cepat mengadakan kontak dengan para menteri dan jenderal yang setia kepadanya. Untung baginya, kebetulan sekali bala tentara yang dikerahkan ke utara untuk menghalau pasukan-pasukan Sabutai, dipimpin oleh Jenderal Bao Ciang, scorang jenderal yang setia kepadanya dan menjadi sahabat baik pendekar Cia Keng Hong. Mula-mula kaisar oleh Cia Keng Hong disembunyikan lebih dulu dan dia sendiri pergi menghadap Jenderal Bao Ciang. Di tempat ini, Cia Keng Hong berjumpa dengan Yap Kun Liong yang seperti banyak orang-orang gagah dari seluruh penjuru beramai-ramai menjadi sukarelawan membantu bala tentara pemerintah untuk menghadapi pemberontak dari utara.

Sebelum bicara dengan Jenderal Bao Ciang, Cia Keng Hong menemui Kun Liong lebih dulu dan dari Yap Kun Liong inilah dia menyelidiki keadaan jenderal itu sekarang sehingga dia merasa yakin bahwa Jenderal Bao inipun tidak setuju akan pengangkatan Cing Ti yang dipaksa menggantikan kedudukan Kaisar Ceng Tung yang tertawan pemberontak.

Dengan singkat Cia Keng Hong lalu bercerita kepada Yap Kun Liong betapa adik kandung Kun Liong yang bernama In Hong telah berhasil menyelamatkan dan meloloskan kaisar dari dalam tahanan pemberontak.

Kun Liong terkejut dan girang bukan main. Tadinya dia sudah merasa kehilangan adiknya yang dianggapnya telah menyeleweng dan menjadi seorang yang kejam seperti gurunya, Yo Bi Kiok. Akan tetapi siapa tahu kini malah berjasa besar!

“Supek, di manakah dia sekarang?”

“Dia menjadi pengawal ratu, isteri Sabutai. Dia kembali ke benteng Sabutai, dan aku sudah menyuruh Bun Houw untuk menyusul dan melindunginya kalau-kalau ada bahaya mengancamnya. Karena aku sendiri harus cepat membantu sri baginda kaisar menghubungi para jenderal…”

“Kalau begitu saya akan menyusul ke sana, supek.”

“Sebaiknya begitulah.”

Kun Liong memberi hormat dan berkelebat pergi, diikuti pandang mata Cia Keng Hong yang merasa kasihan sekali kepada pendekar itu. Dia tahu bahwa sampai sekarang, kematian isteri Kun Liong yang mengakibatkan banyak malapetaka itu masih juga belum terbongkar rahasianya dan tentu usaha penyelidikan semua terhenti oleh adanya perang melawan pemberontakan. Bahkan penyelidikan puteranya dan dia sendiri tentang pedang pusaka Siang-bhok-kiampun terhenti. Semua kepentingan pribadi memang terpaksa harus dikesampingkan untuk mendahulukan kepentingan negara dan bangsa. Apalagi menghadapi ancaman dari orang-orang Mongol yang pernah menjajah tanah air selama hampir satu abad lamanya itu.

Kemudian Cia Keng Hong pergi menghadap Jenderal Bao dan dalam pertemuan antara dua sahabat lama, karena keduanya dahulu merupakan pembantu-pembantu Panglima Besar The Hoo, terdapat kegembiraan besar dan di sini Cia Keng Hong menjajagi isi hati Jenderal Bao, karena biarpun dia sudah mendengar keterangan dari Kun Liong, namun dalam urusan diri kaisar dia harus berhati-hati. Setelah dia yakin benar bahwa jenderal ini benar-benar masih setia kepada Kaisar Ceng Tung, Cia Keng Hong memancing. “Akan tetapi, Bao-goanswe, bukankah Kaisar Ceng Tung adalah kaisar yang lemah sekali, yang mudah saja dipermainkan oleh thaikam yang khianat, dan mudah tunduk oleh selirnya yang bernama Azisha?”

Jenderal Bao mengerutkan alisnya yang tebal. “Memang benar, akan tetapi saya mengenal betul watak beliau sejak kecil, Cia-taihiap! Beliau adalah seorang yang sesungguhnya memiliki budi baik, dan seorang yang memiliki kecerdasan dan kemampuan besar untuk menjadi seorang kaisar yang baik. Pribadinya baik, dia gagah berani menentang segala kesukaran. Kalau dia berobah lemah, hal itu adalah karena pengaruh si laknat Wang Cin, si kebiri pengkhianat itu. Betapapun juga, pengangkatan Kaisar Cing Ti hanya terpaksa karena Kaisar Ceng Tung tidak ada beritanya, mungkin sudah tewas di dalam tahanan dan untuk itu, kami telah bersumpah untuk membalas dendam, untuk membasmi Sabutai dan semua anak buahnya!” Dia memukulkan tinjunya yang besar ke atas meja.

“Seandainya Kaisar Ceng Tung ternyata masih hidup dan berhasil meloloskan diri dari tawanan, bagaimana, Bao-goanswe?”

Mata yang lebar itu memandang tajam. “Tidak mungkin! Sudah terlambat. Mereka yang berambisi mencari kedudukan tinggi sudah memperjuangkan agar Kaisar Ceng Tung tidak ditolong selana ini dan agar mereka dapat mengangkat kaisar lain yang dapat mereka permainkan. Kelompok pengganti orang-orang macam Wang Cin memang banyak terdapat di istana dan tak lama lagi kaisar baru akan jauh lebih lemah lagi daripada Kaiar Ceng Tung.”

“Akan tetapi seandainya Kaisar Ceng Tung masih hidup dan lolos?”

“Tidak mungkin! Harapan kosong belaka!”

“Goanswe, lupakah goanswe kepada ajaran Panglima The Hoo bahwa dalam setiap keadaan kita tidak boleh sekali-kali berputus asa? Kalau belum ada bukti-bukti bahwa Kaisar Ceng Tung telah meninggal dunia, mengapa goanswe mengatakan tidak mungkin dan harapan kosong belaka? Jawablah, andaikata beliau masih hidup dan sekarang dapat muncul di sini, apa yang akan kaulakukan?”

Jenderal itu bangkit berdiri, menatap wajah pendekar itu penuh selidik, tiba-tiba memegang dan menekan tangan pendekar itu dengan tangannya yang besar dan kuat, dan matanya menjadi basah. “Cia-taihiap! Engkau satu-satunya orang yang paling kuhormat karena kegagahanmu dan kupercaya karena kesetiaanmu, katakanlah. Benarkah beliau masih hidup?”

“Duduklah, goanswe. Lebih baik kaujawab dulu pertanyaanku tadi. Apa yang akan kaulakukan kalau beliau masih hidup dan muncul di sini?”

“Demi Tuhan! Aku akan membantu beliau memperoleh kembali singgasana beliau karena itu adalah haknya! Kalau Sri Baginda Kaisar Ceng Tung masih hidup, maka kaisar yang baru itu tidak sah!”

“Hemm, bagaimana akan kaulakukan hal itu begitu mudahnya? Kaisar yang baru memiliki banyak pendukung dan tentu akan terjadi perang saudara.”

“Tidak! Sebagian besar bala tentara berada di bawah komandoku. Dan sisa pasukan di dalampun dipimpin oleh sahabat-sahabatku yang setia kepada Kaisar Ceng Tung. Hanya ada beberapa orang jenderal yang mengepalai pasukan-pasukan pengawal dan pasukan-pasukan pinggiran yang tidak berarti kekuatannya. Aku akan lebih dulu mengadakan pembersihan, menekan mereka atau menyingkirkan mereka kalau perlu. Akan tetapi betulkah…?” Dia memandang penuh harap.

Cia Keng Hong sudah merasa yakin sekarang. Dia mengangguk dan berkata, “Lekas sediakan pasukan penjemput dan kereta.”

Jenderal Bao merangkul Cia Keng Hong dan kepalan tangannya yang besar menghapus dua titik air matanya. “Kau hebat, taihiap! Kau hebat sekali telah menyelamatkan kaisar! Usaha puluhan ribu perajurit tidak berhasil, akan tetapi engkau seorang diri dapat…”

“Ssssstt… jangan tergesa-gesa memuji. Engkau akan mendengar sendiri dari beliau siapa yang menyelamatkan beliau. Mari!”

Malam itu juga, Jenderal Bao Ciang sendiri bersama Cia Keng Hong memimpin pasukan menjemput Kaisar Ceng Tung. Setelah berhadapan dengan kaisar, Jenderal Bao menjatuhkan diri berlutut sambil meruntuhkan beberapa titik air mata! Akan tetapi, dengan manis budi dan tenang kaisar itu berkata, “Bangkitlah, jenderalku yang setia! Dan mulai saat ini, perintahkan untuk menarik mundur semua pasukan, jangan lagi mengejar pasukan Sabutai.”

Jenderal itu bangkit dan memberi hormat, terkejut menerima perintah pertama yang aneh itu.

“Siap, sri baginda. Akan tetapi, bolehkah hamba menerima penjelasan?”

Kaisar tersenyum angkuh. “Kalau dia diserang, dia akan mempertahankan mati-matian dan mungkin akan mengorbankan banyak pasukan kita yang kini perlu kita kerahkan ke selatan. Dan aku menjamin bahwa kalau dia tidak diserang, dia akan mundur. Dia telah tahu kini akan kekuatan kita dan kekalahannya merupakan pelajaran baginya. Dia kelak dapat menjadi sahabat yang baik.” Kaisar tersenyum lagi, teringat akan suratnya dan akan pengaruh Khamila atas diri suaminya. Cia Keng Hong yang tidak tahu akan urusan sedalam-dalamnya, diam-diam juga merasa heran sekali.

Kaisar lalu diiringkan ke dalam benteng dan taat akan perintah kaisar, Jenderal Bao menarik kembali semua pasukan yang mengurung benteng. Sabutai hanya meninggalkan sedikit pasukan untuk melakukan pengintaian. Hal inipun segera diketahui oleh Sabutai yang tertawa dan mengangguk-angguk. “Hebat…” kata Raja Mongol ini. “Memang dia hebat, jauh hebat daripada aku, dalam banyak hal… dalam banyak hal…” dia teringat akan kandungan di dalam perut istrinya dan tersenyum lebar penuh kebanggaan bahwa dia akan menjadi ayah dari seorang anak keturunan kaisar yang demikian hebat!

Setelah berunding dengan kaisara, Jenderal Bao yang dibantu oleh Cia Keng Hong yang kini bertindak sebagai pengawal kaisar pribadi untuk sementara, segera melaksanakan rencananya. Tentang kembalinya Kaisar Ceng Tung masih dirahasiakan dan jenderal itu menyusun kekuatan untuk mengembalikan singgasana kepada Kaisar Ceng Tung. Para menteri dan jenderal yang setia kepada Kaisar Ceng Tung tentu saja menyambut dengan penuh kegembiraan, akan tetapi di fihak para pengejar ambisi yang telah mengangkat Kaisar Ceng Ti secara paksa, tentu saja dengan mati-matian mempertahankan Kaisar Ceng Ti, karena turunnya kaisar baru dari tahta dan kembalinya kaisar lama ke istana berarti hilangnya kedudukan baru mereka yang mulia!

Kembali merupakan bukti yang nyata betapa semenjak sejarah tercatat orang, semua pertikaian, semua permusuhan dan semua peperangan terjadi sebagai akibat daripada pengejaran ambisi dan cita-cita, baik perorangan maupun kelompok yang sesungguhnya sama saja, karena kelompok hanyalah merupakan sekumpulan orang-orang lemah yang tidak percaya kepada diri sendiri lalu menggantungkan kepercayaan mereka kepada beberapa gelintir orang dan mengeoper ambisi beberapa gelintir orang itu sebagai tujuan cita-cita mereka sendiri. Betapa banyak terjadi sejak dahulu. Raja demi raja ditumbangkan dari kekuasaannya oleh raja lain yang pada gilirannya selalu terancam akan digulingkan pula oleh kekuasaan lain yang ingin mencapai apa yang dicita-citakannya, apa yang diinginkannya dan yang dinamakan cita-cita atau ambisi. Cita-cita atau ambisi bukan lain hanyalah keinginan kita akan sesuatu yang tidak ada, sesuatu yang lain daripada yang ada sekarang, yang lain daripada apa yang berada di tangan kita, lain daripada apa yang kita miliki, yang kita anggap jauh lebih bagus dan lebih menyenangkan daripada yang ada sekarang. Dengan pandangan seperti ini, mata yang ditujukan kepada hal-hal yang belum ada, yang dianggap lebih menyenangkan, tentu saja yang ada sekarang tampak sama sekali tidak menyenangkan, atau bahkan tidak nampak sama sekali. Jelaslah bahwa cita-cita atau ambisi itu hanyalah pengejaran kesenangan belaka, kesenangan yang dibayang-bayangkan akan membuatnya bahagia. Padahal kalau yang dinamakan cita-cita itu tercapai, kepuasan hanya dirasakan sebentar saja karena mata sudah mulai lagi memandang jauh, bercita-cita yang lain lagi, mengejar kesenangan yang lain lagi, yang dianggap lebih daripada yang telah diperolehnya itu. Demikianlah, hidup lalu menjadi gelanggang pengejaran cita-cita yang akibatnya hanya dua, yaitu kalau tidak tercapai menjadikan kecewa dan putus asa, kalau tereapai menjadikan bosan dan mengejar yang lain lagi. Dan lebih celaka lagi, pengejaran-pengajaran demi tercapainya cita-cita atau ambisi yang pada hakekatnya hanyalah kesenangan terselubung itu, seringkali dilakukan dengan cara bagaimana saja, kadang-kadang kotor dan kejam bukan main, demi untuk memperoleh yang dicita-cita atau dikejarnya.

Betapapun cara pengejaran keinginan itu diperhalus, dijaga agar tidak menyeleweng daripada kebenaran, tetap saja di dalamnya mengandung unsur untuk kepentingan diri pribadi, dan karena setiap orang mengejar keinginan masing-masing, maka tentu saja tidak mungkin dapat dlielakkan lagi terjadilah bentrokan-bentrokan, sikut-sikutan, jegal-jegalan demi untuk memperoleh apa yang diinginkan. Seperti sekelompok kanak-kanak memperebutkan layang-layang yang putus talinya. Apapun akan mereka lakukan demi memperoleh layang-layang itu. Oleh karena cita-cita inilah maka timbul perbuatan-perbuatan yang rendah, timbul perang dan permusuhan dan timbul cara-cara yang kotor dan keji, timbul pegangan kejam bahwa cita-cita atau tujuan menghalalkan segala cara! Dan kalau sudah begitu, celakalah manusia.

Demikian pula dengan kerajaan di mana terjadi perebutan tahta itu. Fihak menteri dan jenderal yang bersimpati kepada Ceng Tung, yang masih setia kepada kaisar lama ini, menggunakan segala daya upaya dan kekuatan mereka untuk menggeser kaisar baru dan mendudukkan kembali Kaisar Ceng Tung ke singgasana. Sedangkan mereka yang berkedudukan tinggi, para pendukung atau pengangkat Kaisar Ceng Ti, mempertahankan kedudukan kaisar baru ini yang sebetulnya hanya dipergunakan sebagal “alat” untuk mencapai keinginan mereka sendiri, yaitu memperoleh pangkat dan kemuliaan, maka terjadilah ketegangan dan kekacauan di dalam istana kaisar.

Karena maklum bahwa tentu akan timbul usaha fihak lawan untuk membunuh Kaisar Ceng Tung, maka kaisar ini disembunyikan di dalam rumah gedung seorang pembesar bernama Liang Kun Ong, seorang pembesar berdarah bangsawan dan masih terhitung keluarga biarpun agak jauh dengan Kaisar Ceng Tung dan yang termasuk seorang yang setia kepada kaisar ini. Dan tentu saja pendekar sakti Cia Keng Hong selalu mengawal kaisar karena pendekar inipun maklum bahwa sebelum kaisar itu menduduki kembali singgasananya, maka keselamatannya tidak terjamin. Sementara itu, Jenderal Bao cepat memperjuangkan kembalinya Kaisar Ceng Tung melalui saluran-saluran yang resmi.

Malam itu sunyi sekali dan Kaisar Ceng Tung sudah beristirahat. Seperti biasa selama tinggal di dalam gedung itu yang sudah berjalan belasan hari, Cia Keng Hong tidur di sudut kamar, hanya teraling tirai dari pembaringan yang menjadi tempat tidur Kaisar Ceng Tung. Akan tetapi, tentu saja Cia Keng Hong hanya menidurkan tubuhnya saja, sedangkan kewaspadaannya tidak pernah tidur, nyenyak sehingga andaikata ada sedikit suara saja, suara yang tidak wajar, tentu dia sudah meloncat dan tahu-tahu sudah berada di dekat pembaringan kaisar untuk melindunginya. Hal seperti ini tidak mengherankan bagi seorang ahli ilmu silat tinggi, karena kewaspadaan seakan-akan sudah mendarah daging di seluruh urat syarafnya seperti telah menjadi semacam naluri yang biasanya hanya dimiliki oleh binatang-binatang yang peka perasaannya.

Tentu saja bukan hanya Cia Keng Hong seorang yang menjadi pengawal menjaga keselamatan Kaisar Ceng Tung. Cia Keng Hong merupakan pengawal pribadi yang selalu berdekatan dengan kaisar, akan tetapi masih ada lagi sepasukan istimewa, yaitu pasukan pengawal Kuku Garuda yang dahulupun menjadi pengawal-pengawal dalam istana Kaisar Ceng Tung dan ketika terjadi penggantian kaisar, pasukan ini meloloskan diri karena mereka masih setia kepada Kaisar Ceng Tung. Mereka itu tersebar dan menjadi buronan, ada yang bergabung dengan barisan yang berada di bawah kekuasaan jenderal-jenderal yang setia kepada Kaisar Ceng Tung, akan tetapi ada pula yang kembali ke dusun. Kini yang dapat dikumpulkan oleh Jenderal Bao hanya ada dua puluh orang dan mereka ini dengan senang hati menerima tugas melindungi dan mengawal Kaisar Ceng Tung di dalam gedung Pangeran Liang Kun Ong.

Biarpun sudah ada dua puluh orang pengawal Kuku Garuda yang boleh dipercaya ini, yang rata-rata memiliki kepandaian cukup tinggi, namun Cia Keng Hong tidak pernah lengah karena dia maklum bahwa kalau fihak musuh mengirim seorang pembunuh bayaran yang tinggi tingkat kepandaiannya, dengan mudah saja pembunuh itu akan dapat melalui penjagaan para pengawal itu. Oleh karena itu, biarpun pada malam hari yang sunyi dan dingin itu penjagaan seperti biasa dilakukan dengan ketat, tetap saja Cia Keng Hong yang kelihatan tidur pulas itu sebenarnya masih dalam keadaan “waspada”.

Bunyi kentongan ronda malam menyatakan bahwa waktu itu sudah persis tengah malam. Telinga pendekar sakti yang masih tidur itu jelas mendengar dan kewaspadaannya membuat dia mengerti bahwa suara itu adalah suara kentongan yang menunjukkan waktu, maka diapun terus tidur dengan napas teratur. Akan tetapi, ketika ada suara berkeresekan di atas genteng gedung, seketika pendekar ini membuka mata! Di lain saat tubuhnya sudah berkelebat seperti terbang cepatnya dan tahu-tahu dia telah berada di tepi pembaringan kaisar yang ternyata masih tidur pulas. Dengan pendengarannya yang tajam ketua Cin-ling-pai ini mengerti bahwa yang datang lebih dari

satu orang, maka dia cepat mengambil keputusan. Tanpa membangunkan kaisar, tangannya bergerak menotok pundak Kaisar Ceng Tung sehingga kaisar itu tertotok lemas dalam keadaan tidur, kemudian Cia Keng Hong memondong tubuh kaisar, disembunyikan di bawah kolong pembaringan dan dia sendiri lalu naik ke atas pembaringan itu, menggunakan selimut kaisar menutupi tubuhnya sebatas leher ke bawah, menggantikan tempat kaisar! Dengan cara ini dia hendak menjebak fihak musuh tanpa membahayakan kaisar, karena kalau dia melakukan perlawanan berterang, dia khawatir bahwa fihak musuh akan menyerang dari berbagai jurusan yang tentu saja akan amat menyukarkan baginya melindungi kaisar sebaiknya.

Suara berkeresekan makin dekat dan kini tiba tepat di atas genteng kamar itu. Tiba-tiba dia mendengar suara jerit-jerit tertahan di luar kamar, di mana biasanya terdapat dua orang pengawal yang menjaga siang malam secara bergilir, suara ini disusul pula dengan suara-suara yang sama, seperti orang yang tidak sempat menjerit lagi lalu roboh dari luar jendela sebelah kiri dan dari atas genteng.

Hemm, mereka telah mulai turun tangan, pikir Cia Keng Hong, seluruh urat syarafnya menegang dan semua panca inderanya siap sedia.

“Sing-sing-singgg…!”

Tepat seperti yang telah diduganya semula, sinar-sinar merah halus itu meluncur cepat sekali dari tiga jurusan! Dalam waktu bersamaan, sinar-sinar merah halus itu menyerang ke arah pembaringan, ke arah tubuhnya dari luar jendela dan dari dua arah di atas genteng! Andaikata dia masih berjaga dengan berdiri di dekat pembaringan, akan repot jugalah kalau dia harus menyelamatkan kaisar menghalau sinar-sinar merah yang datangnya dalam saat berbareng dari tiga jurusan bertentangan itu. Dia tahu apa sinar-sinar itu, dan kedua tangannya bergerak dari bawah selimut, jari-jari tangannya menjepit jarum-jarum halus yang berbau harum. Jarum yang mengandung racun halus dan kalau memasuki kulit akan mendatangkan kematian seketika!

Matanya memandang cepat, melihat betapa di atas genteng, di dua tempat itu berlubang, juga daun jendela terbuka sedikit, dan kini terdengar suara “krekkk!” dan daun pintu kamar terbuka dari luar, pegangan daun pintunya hancur berantakan dicengkeram sebuah tangan yang memiliki tenaga amat kuat! Melihat bahwa yang masuk ke kamar ini seorang yang memiliki tenaga dahsyat, maka Cia Keng Hong menendang selimut yang menutupi tubuhnya. Berbareng dengan terbangnya selimut merah ke arah pintu, kedua tangannya bergerak dan meluncurlah sinar-sinar merah yang sama dengan tadi, akan tetapi suara berdesingnya jauh lebih nyaring lagi karena jarum-jarum itu kini diterbangkan oleh sambitan ketua Cin-ling-pai yang memiliki tenaga yang jauh lebih kuat, meluncur ke arah tiga jurusan, yaitu ke jendela dan lubang-lubang di atas genteng.

Terdengar pekik-pekik kesakitan di atas genteng dan di luar jendela kamar, sedangkan orang tinggi besar yang baru saja menerjang masuk ke kamar dan pintu, berseru kaget ketika tiba-tiba ada selimut merah menerjangnya seolah-olah selimut itu mempunyai nyawa saja!

“Wuuuuttt-plakkk… breettttt…!” Selimut itu ditangkis oleh orang tinggi besar dan cabik-cabik, lalu dilemparnya ke samping. Akan tetapi saat itu, Cia Keng Hong telah meloncat dan berdiri di depan orang tinggi besar ini. Mereka saling pandang! Sejenak pendekar sakti Cia Keng Hong memandang tajam penuh selidik kepada kakek tinggi besar yang berwajah gagah menyeramkan itu, dan dia memutar otak mengingat-ingat, kemudian dia berkata dengan heran, “Hemm, bukankah engkau Tiat-ciang-pangcu?” Kini dia teringat dan menyambung, “Tidak salah lagi, engkau adalah Ouw-pangcu dari Bayankara!”

“Cia-taihiap…!” Kakek itu juga berseru kaget dan mukanya berobah.

Memang orang itu adalah ketua dari perkumpulan Tiat-ciang-pang (Perkumpulan Tangan Besi) yang dahulu terkenal sebagai perkumpulan pejuang dari utara, berpusat di Pegunungan Bayankara, dan terkenal dengan kelihaian tangan mereka karena ketuanya memiliki Ilmu Tangan Besi yang amat ditakuti orang (baca cerita Siang-bhok-kiam).

“Ouw-pangcu,” kata Cia Keng Hong, suaranya dingin dan pandang matanya tajam menusuk. “Apakah Tiat-ciang-pang kini telah menjadi begitu merosot dan rendah sehingga mau diperalat orang untuk melakukan pekerjaan hina seperti ini, melakukan penyerangan kepada orang secara menggelap?”

Kakek tinggi besar itu kelihatan bingung. “Apa… apa artinya ini? Kami memang diperalat, akan tetapi diperalat oleh kaisar dan para pembesar untuk membasmi komplotan pengkhianat yang kabarnya bersembunyi di dalam gedung ini. Mengapa yang berada di sini malah Cia-taihiap? Mana komplotan pengkhianat itu?”

“Ouw-pangcu!” Cia Keng Hong yang mengenal tokoh ini sebagai seorang pejuang dahulu, berkata tegas, “Yang menjadi komplotan pengkhianat adalah mereka yang memperalat pangcu.”

Muka kakek itu berobah. “Apa… apa maksudmu, taihiap?”

Tahukah pangcu siapa yang berhak menjadi kaisar? Siapakah sesungguhnya kaisar? Kalau kaisar lama, Sri Baginda Ceng Tung masih ada dan dalam keadaan selamat dan sehat, apakah kaisar yang sekarang ini sah?”

“Cia-taihiap, apa maksud kata-katamu itu? Bukankah Sri Baginda Kaisar Ceng Tung telah tewas di tangan pemberontak Mongol dan sekarang yang menjadi penggantinya adalah Sri Baginda Kaisar Cing Ti?”

“Nah, itulah buktinya bahwa yang memperalat pangcu itulah yang sebenarnya pengkhianat. Sri Baginda Ceng Tung masih hidup dan sehat, saya sendiri yang mengawalnya ketika beliau lolos dari tawanan orang-orang Mongol, akan tetapi ternyata kawanan pengkhianat telah mengangkat seorang kaisar lain, bahkan kini memperalatmu untuk membunuh Kaisar Ceng Tung.”

“Ahhh…?” Ouw Kian terkejut setengah mati dan kedua tangannya gemetar. “Saya… saya disuruh membunuh Sri Baginda Kaisar Ceng Tung?”

Cia Keng Hong mengangguk, lalu mengambil kaisar yang masih tidur pulas di bawah tempat tidur dan membaringkan kaisar di atas pembaringan kembali. Melihat ini, Ouw Kian menjatuhkan diri berlutut, membentur-benturkan dahinya di atas lantai dengan air mata bercucuran membasahi mukanya yang keriputan! “Celaka… aku layak mampus…! Cia-taihiap… bunuhlah aku yang berdosa ini…”

Pada saat itu terdengar suara ribut-ribut di luar dan bentakan-bentakan keras dari para pengawal, “Tangkap pembunuh…!”

Cia Keng Hong menjawab dari dalam. “Harap di luar tenang. Kaisar dapat diselamatkan dan singkirkan mayat orang-orang di luar jendela dan di atas genteng.”

Terdengar para pengawal berseru girang dan lega. Mereka adalah para pengawal yang melihat enam orang teman mereka tahu-tahu telah tewas di tempat penjagaan masing-masing di sekitar kamar kaisar. Mendengar suara Cia Keng Hong, mereka menjadi lega dan segera memeriksa tiga tempat itu dan benar saja, di masing-masing tempat mereka menemukan mayat dua orang asing yang dadanya bengkak-bengkak merah terkena jarum-jarum halus!

Sementara itu, di dalam kamar itu, Cia Keng Hong menguras keterangan dari Ouw Kian, siapa saja yang memperalatnya. Dengan jujur Ouw Kian lalu membeberkan persekutuan yang mendukung Kaisar Cing Ti dan dicatat secara

diam-diam oleh Cia Keng Hong, kemudian setelah kakek itu mengakhiri pembongkaran rahasia persekutuan itu, Cia Keng Hong lalu berkata, “Ouw-pangcu, biarpun engkau telah melakukan suatu kedosaan yang besar sekali, melakukan usaha untuk membunuh kaisar, namun kesalahanmu ini adalah karena engkau diperalat orang dan kaulakukan di luar kesadaranmu. Oleh karena itu, sebagai imbalan semua keteranganmu, aku membebaskanmu. Pergilah!”

Kakek itu memandang Cia Keng Hong dengan muka pucat. “Cia-taihiap, keputusanmu ini jauh lebih berat bagiku daripada kalau engkau membunuhku sekarang juga.”

“Ouw-pangcu, pergilah.”

Kakek itu mengangguk-angguk. “Baik, aku pergi dan aku pergi hanya untuk membalas kepada orang yang telah membodohi dan memperalatku. Taihiap, selamat tinggal dan terima kasih bahwa taihiap telah menghalangiku melakukan perbuatan terkutuk malam ini!” Kakek itu lalu melangkah keluar dari pintu kamar itu dan Cia Keng Hong berkata ke arah para penjaga di luar.

“Biarkan sahabatku itu keluar! Dia bukan musuh!”

Tentu saja para penjaga itu terheran-heran karena mereka tadi tidak melihat ada orang masuk, tahu-tahu sekarang ada yang keluar dari dalam kamar. Akan tetapi mereka percaya penuh kepada pendekar sakti itu, maka tidak ada yang berani membantah dan membiarkan kakek yang menyeramkan itu keluar dari gedung.

Cia Keng Hong lalu menyuruh seorang penjaga untuk minta kedatangan Janderal Bao Ciang di malam itu juga dan setelah Jenderal Bao datang, dia menceritakan semua peristiwa yang terjadi malam itu, juga dia menyebutkan nama-nama para pembesar yang merupakan komplotan pendukung Kaisar Cing Ti sehingga Jenderal Bao menjadi makin girang, karena kini dengan mudah dia dapat melakukan pembersihan.

“Sebaiknya sekarang juga sri baginda kaisar dipindahkan ke dalam Markas Pasukan agar lebih aman dan lebih mudah menjaga beliau,” kata jenderal itu dan Cia Keng Hong segera menyetujui. Kaisar lalu digugah, diceritakan tentang peristiwa penyerangan itu dan malam itu juga dikawal oleh Cia Keng Hong sendiri untuk pindah ke dalam markas pasukan kepercayaan Jenderal Bao.

Dan malam itu terjadilah peristiwa hebat di dalam istana. Tiga orang pembesar tinggi yang dekat dengan kaisar telah dibunuh oleh seorang jagoan mereka sendiri dan si jagoan yang mengamuk itupun dapat ditewaskan. Mendengar ini, mengertilah Cia Keng Hong bahwa Ouw Kian benar-benar telah menebus dosanya terhadap kaisar dan telah membalas dendam kepada orang-orang yang memperalatnya. Diam-diam pendekar ini bersyukur bahwa orang gagah itu akhirnya dapat insyaf dan mati sebagai seorang gagah perkasa yang mempertahankan kebenaran.

Demikianlah, dengan bantuan dari Cia Keng Hong, akhirnya Jenderal Bao berhasil juga mempengaruhi sebagian besar para pembesar di istana dan setelah menang suara, terutama sekali karena sebagian besar kekuatan militer telah dihimpun oleh Jenderal Bao Ciang, maka pada suatu hari Kaisar Ceng Tung dinaikkan kembali ke singgasananya dan Kaisar Cing Ti diturunkan!

285

“Tahukah pangcu siapa yang berhak menjadi kaisar? Siapakah sesungguhnya kaisar? Kalau kaisar lama, Sri Baginda Ceng Tung masih ada dan dalam keadaan selamat dan sehat, apakah kaisar yang sekarang ini sah?”

“Cia-taihiap, apa maksud kata-katamu itu? Bukankah Sri Baginda Kaisar Ceng Tung telah tewas di tangan pemberontak Mongol dan sekarang yang menjadi penggantinya adalah Sri Baginda Kaisar Cing Ti?”

“Nah, itulah buktinya bahwa yang memperalat pangcu itulah yang sebenarnya pengkhianat. Sri Baginda Ceng Tung masih hidup dan sehat, saya sendiri yang mengawalnya ketika beliau lolos dari tawanan orang-orang Mongol, akan tetapi ternyata kawanan pengkhianat telah mengangkat seorang kaisar lain, bahkan kini memperalatmu untuk membunuh Kaisar Ceng Tung.”

“Ahhh…?” Ouw Kian terkejut setengah mati dan kedua tangannya gemetar. “Saya… saya disuruh membunuh Sri Baginda Kaisar Ceng Tung?”

Cia Keng Hong mengangguk, lalu mengambil kaisar yang masih tidur pulas di bawah tempat tidur dan membaringkan kaisar di atas pembaringan kembali. Melihat ini, Ouw Kian menjatuhkan diri berlutut, membentur-benturkan dahinya di atas lantai dengan air mata bercucuran membasahi mukanya yang keriputan! “Celaka… aku layak mampus…! Cia-taihiap… bunuhlah aku yang berdosa ini…”

Pada saat itu terdengar suara ribut-ribut di luar dan bentakan-bentakan keras dari para pengawal, “Tangkap pembunuh…!”

Cia Keng Hong menjawab dari dalam. “Harap di luar tenang. Kaisar dapat diselamatkan dan singkirkan mayat orang-orang di luar jendela dan di atas genteng.”

Terdengar para pengawal berseru girang dan lega. Mereka adalah para pengawal yang melihat enam orang teman mereka tahu-tahu telah tewas di tempat penjagaan masing-masing di sekitar kamar kaisar. Mendengar suara Cia Keng Hong, mereka menjadi lega dan segera memeriksa tiga tempat itu dan benar saja, di masing-masing tempat mereka menemukan mayat dua orang asing yang dadanya bengkak-bengkak merah terkena jarum-jarum halus!

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: