Dewi Maut (Jilid ke-49)

Sementara itu, di dalam kamar itu, Cia Keng Hong menguras keterangan dari Ouw Kian, siapa saja yang memperalatnya. Dengan jujur Ouw Kian lalu membeberkan persekutuan yang mendukung Kaisar Cing Ti dan dicatat secara

diam-diam oleh Cia Keng Hong, kemudian setelah kakek itu mengakhiri pembongkaran rahasia persekutuan itu, Cia Keng Hong lalu berkata, “Ouw-pangcu, biarpun engkau telah melakukan suatu kedosaan yang besar sekali, melakukan usaha untuk membunuh kaisar, namun kesalahanmu ini adalah karena engkau diperalat orang dan kaulakukan di luar kesadaranmu. Oleh karena itu, sebagai imbalan semua keteranganmu, aku membebaskanmu. Pergilah!”

Kakek itu memandang Cia Keng Hong dengan muka pucat. “Cia-taihiap, keputusanmu ini jauh lebih berat bagiku daripada kalau engkau membunuhku sekarang juga.”

“Ouw-pangcu, pergilah.”

Kakek itu mengangguk-angguk. “Baik, aku pergi dan aku pergi hanya untuk membalas kepada orang yang telah membodohi dan memperalatku. Taihiap, selamat tinggal dan terima kasih bahwa taihiap telah menghalangiku melakukan perbuatan terkutuk malam ini!” Kakek itu lalu melangkah keluar dari pintu kamar itu dan Cia Keng Hong berkata ke arah para penjaga di luar.

“Biarkan sahabatku itu keluar! Dia bukan musuh!”

Tentu saja para penjaga itu terheran-heran karena mereka tadi tidak melihat ada orang masuk, tahu-tahu sekarang ada yang keluar dari dalam kamar. Akan tetapi mereka percaya penuh kepada pendekar sakti itu, maka tidak ada yang berani membantah dan membiarkan kakek yang menyeramkan itu keluar dari gedung.

Cia Keng Hong lalu menyuruh seorang penjaga untuk minta kedatangan Janderal Bao Ciang di malam itu juga dan setelah Jenderal Bao datang, dia menceritakan semua peristiwa yang terjadi malam itu, juga dia menyebutkan nama-nama para pembesar yang merupakan komplotan pendukung Kaisar Cing Ti sehingga Jenderal Bao menjadi makin girang, karena kini dengan mudah dia dapat melakukan pembersihan.

“Sebaiknya sekarang juga sri baginda kaisar dipindahkan ke dalam Markas Pasukan agar lebih aman dan lebih mudah menjaga beliau,” kata jenderal itu dan Cia Keng Hong segera menyetujui. Kaisar lalu digugah, diceritakan tentang peristiwa penyerangan itu dan malam itu juga dikawal oleh Cia Keng Hong sendiri untuk pindah ke dalam markas pasukan kepercayaan Jenderal Bao.

Dan malam itu terjadilah peristiwa hebat di dalam istana. Tiga orang pembesar tinggi yang dekat dengan kaisar telah dibunuh oleh seorang jagoan mereka sendiri dan si jagoan yang mengamuk itupun dapat ditewaskan. Mendengar ini, mengertilah Cia Keng Hong bahwa Ouw Kian benar-benar telah menebus dosanya terhadap kaisar dan telah membalas dendam kepada orang-orang yang memperalatnya. Diam-diam pendekar ini bersyukur bahwa orang gagah itu akhirnya dapat insyaf dan mati sebagai seorang gagah perkasa yang mempertahankan kebenaran.

Demikianlah, dengan bantuan dari Cia Keng Hong, akhirnya Jenderal Bao berhasil juga mempengaruhi sebagian besar para pembesar di istana dan setelah menang suara, terutama sekali karena sebagian besar kekuatan militer telah dihimpun oleh Jenderal Bao Ciang, maka pada suatu hari Kaisar Ceng Tung dinaikkan kembali ke singgasananya dan Kaisar Cing Ti diturunkan!

285

“Tahukah pangcu siapa yang berhak menjadi kaisar? Siapakah sesungguhnya kaisar? Kalau kaisar lama, Sri Baginda Ceng Tung masih ada dan dalam keadaan selamat dan sehat, apakah kaisar yang sekarang ini sah?”

“Cia-taihiap, apa maksud kata-katamu itu? Bukankah Sri Baginda Kaisar Ceng Tung telah tewas di tangan pemberontak Mongol dan sekarang yang menjadi penggantinya adalah Sri Baginda Kaisar Cing Ti?”

“Nah, itulah buktinya bahwa yang memperalat pangcu itulah yang sebenarnya pengkhianat. Sri Baginda Ceng Tung masih hidup dan sehat, saya sendiri yang mengawalnya ketika beliau lolos dari tawanan orang-orang Mongol, akan tetapi ternyata kawanan pengkhianat telah mengangkat seorang kaisar lain, bahkan kini memperalatmu untuk membunuh Kaisar Ceng Tung.”

“Ahhh…?” Ouw Kian terkejut setengah mati dan kedua tangannya gemetar. “Saya… saya disuruh membunuh Sri Baginda Kaisar Ceng Tung?”

Cia Keng Hong mengangguk, lalu mengambil kaisar yang masih tidur pulas di bawah tempat tidur dan membaringkan kaisar di atas pembaringan kembali. Melihat ini, Ouw Kian menjatuhkan diri berlutut, membentur-benturkan dahinya di atas lantai dengan air mata bercucuran membasahi mukanya yang keriputan! “Celaka… aku layak mampus…! Cia-taihiap… bunuhlah aku yang berdosa ini…”

Pada saat itu terdengar suara ribut-ribut di luar dan bentakan-bentakan keras dari para pengawal, “Tangkap pembunuh…!”

Cia Keng Hong menjawab dari dalam. “Harap di luar tenang. Kaisar dapat diselamatkan dan singkirkan mayat orang-orang di luar jendela dan di atas genteng.”

Terdengar para pengawal berseru girang dan lega. Mereka adalah para pengawal yang melihat enam orang teman mereka tahu-tahu telah tewas di tempat penjagaan masing-masing di sekitar kamar kaisar. Mendengar suara Cia Keng Hong, mereka menjadi lega dan segera memeriksa tiga tempat itu dan benar saja, di masing-masing tempat mereka menemukan mayat dua orang asing yang dadanya bengkak-bengkak merah terkena jarum-jarum halus!

Sementara itu, di dalam kamar itu, Cia Keng Hong menguras keterangan dari Ouw Kian, siapa saja yang memperalatnya. Dengan jujur Ouw Kian lalu membeberkan persekutuan yang mendukung Kaisar Cing Ti dan dicatat secara

diam-diam oleh Cia Keng Hong, kemudian setelah kakek itu mengakhiri pembongkaran rahasia persekutuan itu, Cia Keng Hong lalu berkata, “Ouw-pangcu, biarpun engkau telah melakukan suatu kedosaan yang besar sekali, melakukan usaha untuk membunuh kaisar, namun kesalahanmu ini adalah karena engkau diperalat orang dan kaulakukan di luar kesadaranmu. Oleh karena itu, sebagai imbalan semua keteranganmu, aku membebaskanmu. Pergilah!”

Kakek itu memandang Cia Keng Hong dengan muka pucat. “Cia-taihiap, keputusanmu ini jauh lebih berat bagiku daripada kalau engkau membunuhku sekarang juga.”

“Ouw-pangcu, pergilah.”

Kakek itu mengangguk-angguk. “Baik, aku pergi dan aku pergi hanya untuk membalas kepada orang yang telah membodohi dan memperalatku. Taihiap, selamat tinggal dan terima kasih bahwa taihiap telah menghalangiku melakukan perbuatan terkutuk malam ini!” Kakek itu lalu melangkah keluar dari pintu kamar itu dan Cia Keng Hong berkata ke arah para penjaga di luar.

“Biarkan sahabatku itu keluar! Dia bukan musuh!”

Tentu saja para penjaga itu terheran-heran karena mereka tadi tidak melihat ada orang masuk, tahu-tahu sekarang ada yang keluar dari dalam kamar. Akan tetapi mereka percaya penuh kepada pendekar sakti itu, maka tidak ada yang berani membantah dan membiarkan kakek yang menyeramkan itu keluar dari gedung.

Cia Keng Hong lalu menyuruh seorang penjaga untuk minta kedatangan Janderal Bao Ciang di malam itu juga dan setelah Jenderal Bao datang, dia menceritakan semua peristiwa yang terjadi malam itu, juga dia menyebutkan nama-nama para pembesar yang merupakan komplotan pendukung Kaisar Cing Ti sehingga Jenderal Bao menjadi makin girang, karena kini dengan mudah dia dapat melakukan pembersihan.

“Sebaiknya sekarang juga sri baginda kaisar dipindahkan ke dalam Markas Pasukan agar lebih aman dan lebih mudah menjaga beliau,” kata jenderal itu dan Cia Keng Hong segera menyetujui. Kaisar lalu digugah, diceritakan tentang peristiwa penyerangan itu dan malam itu juga dikawal oleh Cia Keng Hong sendiri untuk pindah ke dalam markas pasukan kepercayaan Jenderal Bao.

Dan malam itu terjadilah peristiwa hebat di dalam istana. Tiga orang pembesar tinggi yang dekat dengan kaisar telah dibunuh oleh seorang jagoan mereka sendiri dan si jagoan yang mengamuk itupun dapat ditewaskan. Mendengar ini, mengertilah Cia Keng Hong bahwa Ouw Kian benar-benar telah menebus dosanya terhadap kaisar dan telah membalas dendam kepada orang-orang yang memperalatnya. Diam-diam pendekar ini bersyukur bahwa orang gagah itu akhirnya dapat insyaf dan mati sebagai seorang gagah perkasa yang mempertahankan kebenaran.

Demikianlah, dengan bantuan dari Cia Keng Hong, akhirnya Jenderal Bao berhasil juga mempengaruhi sebagian besar para pembesar di istana dan setelah menang suara, terutama sekali karena sebagian besar kekuatan militer telah dihimpun oleh Jenderal Bao Ciang, maka pada suatu hari Kaisar Ceng Tung dinaikkan kembali ke singgasananya dan Kaisar Cing Ti diturunkan!

Seperti terbukti di dalam sejarah, nasib Kaisar Cing Ti, adik dari Kaisar Ceng Tung ini, amatlah menyedihkan. Dia naik ke atas tahta kerajaan di waktu kakaknya yang menjadi kaisar tertawan musuh dan dia naik karena dorongan dan setengah paksaan para pembesar yang berlomba mencari kedudukan. Kemudian, dia diturunkan dan dianggap sebagai seorang keluarga kaisar yang melakukan perbuatan khianat terhadap kaisar sehingga Kaisar Cing Ti ini lalu diasingkan, bahkan kelak setelah dia meninggal dunia, jenazahnya tidak berhak dikubur di dalam kedudukan sebagai kaisar, melainkan dikuburkan dalam sebuah kuburan terpencil yang berada di belakang Taman Pancuran Kumala, beberapa li jauhnya di sebelah barat Kota Raja Peking, jauh dari tanah pekuburan para raja dari Kerajaan Beng-tiauw yang lain, seolah-olah kenyataannya bahwa Cing Ti pernah menjadi kaisar di jaman kerajaan itu hendak dihapus dari sejarah!

Setelah Kaisar Ceng Tung kembali menduduki singgasananya, kaisar muda ini tentu saja amat berterima kasih kepada Cia Keng Hong dan ingin memberi anugerah pangkat besar, akan tetapi pendekar sakti ini menghaturkan terima kasihnya dan mohon maaf karena dia sama sekali bukan membela kaisar untuk mencari kedudukan! Dengan halus dia menolak anugerah itu, kemudian mohon diri dan kembali ke Cin-ling-pai.

***

Suasana di ruangan besar itu amat menegangkan. Menegangkan urat syaraf mereka semua, dari Raja Sabutai sampai kepada para perajurit yang mengepung dan menjaga ruangan itu dengan ketat dan dengan senjata lengkap di tangan. Ada tiga ratus orang perajurit yang menjaga di sekitar ruangan itu, menutup setiap lubang sehingga tidak ada kemungkinan bagi siapapun yang berada di dalam ruangan itu untuk lolos keluar! Terutama sekali bagi mereka yang berada di dalam ruangan itu, yang kini berkumpul untuk menghadapi lawan masing-masing karena Raja Sabutai telah mengumumkan bahwa permusuhan di antara kedua golongan itu akan diselesaikan dengan mengadu kedua golongan itu dengan adil! Akan diadakan pibu (adu kepandaian) yang adil dan menentukan antara fihak para pembantu Wang Cin dan fihak Bun Houw dan In Hong sebagai fihak kedua, sedangkan para jagoan Raja Sabutai menjadi fihak ketiga! Jadi semua ahli yang memiliki kepandaian di dalam ruangan itu kini terpecah menjadi tiga bagian.

Raja Sabutai dengan wajah berseri hadir tanpa isterinya, karena Ratu Khamila tidak suka nonton adu manusia ini. Akan tetapi semua panglimanya hadir, dan juga semua jagoan Mongol termasuk kakek dan nenek guru raja itu yang selain hadir sebagai guru dan orang-orang yang diandalkan dari fihak raja, juga sebagai pengawal pribadi Raja Sabutai.

Bun Houw duduk di atas bangku tidak jauh dari In Hong dan Yo Bi Kiok. Jantung pemuda ini berdebar keras dan dia merasa tidak tenang. Sejak tadi dia melihat gadis itu duduk dengan tenang dan seolah-olah tidak akan terjadi sesuatu, bahkan wajahnya membayangkan ketenangan yang dingin. Juga wanita cantik setengah tua yang menjadi guru gadis yang dikaguminya itu duduk tenang, wajahnya yang lebih dingin lagi bahkan menjadi mengerikan karena membayangkan suatu ancaman bagi siapapun yang berani menentangnya, dan mulut yang kecil manis itu mengulum senyum penuh ejekan, yang tidak ditujukan kepada orang-orang tertentu. Akan tetapi mata mereka ditujukan kepada Raja Sabutai yang pagi hari itu kelihatan gembira sekali.

“Hong-moi…” Akhirnya Bun Houw tak dapat menahan lagi kegelisahan hatinya dan dia berbisik memanggil gadis itu. Akan tetapi In Hong tidak menjawab, juga tidak menoleh.

“Hong-moi…” Bun Houw memanggil lagi, maklum bahwa tidak mungkin gadis yang berkepandaian tinggi itu tidak mendengar bisikannya. In Hong mengerutku alisnya, melirik tanpa menoleh, sebuah tanda bahwa dia telah mendengar. Bun Houw tidak merasa menyesal gadis itu agaknya tidak memperdulikannya, bahkan dia berkata lagi.

“Hong-moi, harap kau jangan mencampuri urusanku dengan Bayangan Dewa. Mereka adalah lawanku, jangan kaumembahayakan dirimu sendiri.”

In Hong menoleh den sejenak mereka saling pandang. Tiba-tiba In Hong merasa betapa jantungnya berdebar aneh dan tanpa disadarinya, seluruh wajahnya berobah merah sekali dan dara itu tidak tahu betapa subonya melirik kepadanya dan subonya mengulum senyum melihat keadaannya itu. Entah bagaimana, dia merasa malu dan cepat menundukkan mukanya. Kemudian untuk menutupi perasaan malu yang aneh ini, yang tidak dikenal dan tidak dimengertinya, In Hong mengangkat muka memandang lagi dan kini sinar metanya mengandung kemarahan!

“Aku adalah Dewi Maut, kejam seperti iblis, pembunuh gadis tidak berdosa, kenapa engkau memperdulikan aku? Bun-ko, engkau datang ke sini karena terbawa-bawa olehku, maka sebaiknya engkau tidak ikut-ikut dalam pertandingan ini. Biar aku yang menghadapi mereka. Mereka itu berbahaya dan lihai, apalagi kakek dan nenek di belakang sri beginda itu!”

“Hong-moi…!” Bun Houw hendak membantah.

“Sudahlah!” In Hong membuang muka dan terpaksa Bun Houw menghentikan desakannya karena suaranya mulai menarik perhatian semua orang, babkan Raja Sabutai sendiri mulai memandang ke arahnya.

Bun Houw kini melirik dan memandang ke arah orang-orang yang akan menjadi lawannya. Selama beberapa hari ini dia telah mencari keterangan dan tahulah dia siapa tiga orang tua yang berdiri di belakang Wang Cin itu. Mereka itu musuh-musuh besarnya, musuh besar Cin-ling-pai yang memang selama ini dicarinya. Kakek berkuncir panjang yang berwajah tampan gagah dan kelihatan masih muda itu, yang berpakaian serba putih adalah orang pertama dari Lima Bayangan Dewa, yaitu yang bernama Phang Tui Lok dan berjuluk Pat-pi Lo-sian. Dia itulah yang datang ke Cin-ling-pai selagi empat orang kawannya memancing pergi Cap-it Ho-han dari Cin-ling-pai dan dia pula yang mencuri pedang Siang-bhok-kiam. Dialah yang terlihai di antara Lima Bayangan Dewa.

Kemudian kakek berjubah hitam, kepalanya bertopi, bertubuh kokoh kuat dan yang hidungnya besar itu adalah orang kedua dari Lima Bayangan Dewa yang bernama Liok-te Sin-mo Gu Lo It sedangkan hwesio tua gendut memegang tasbeh hijau itu adalah Sin-ciang Siauw-bin-siang Hok Hosiang. Di samping tiga orang yang diincarnya itu, ada pula beberapa orang pengawal pribadi Wang Cin yang tidak dia perhatikan, dan kini dia melirik ke arah Raja Sabutai. Raja itu sendiri kelihatan gembira sekali seolah-olah sedang berada dalam suasana suatu pesta meriah! Yang diperhatikan oleh Bun Houw adalah nenek berwajah kehitaman dan kakek berwajah putih yang berdiri seperti arca di belakang raja itu. Dia sudah mendengar nama Hek-hiat Mo-li dan Pek-hiat Mo-ko yang kabarnya memiliki kepandaian amat tinggi itu. Selain dua orang kakek dan nenek yang kabarnya menjadi guru Sabutai yang juga lihai, di situ masih terdapat beberapa orang Mongol tinggi besar yang kelihatannya kuat dan memiliki kepandaian.

“Eh, orang she Bun!” Tiba-tiba ada suara orang berbisik, suaranya mendesis tajam. Bun Houw menoleh dan ternyata yang bicara kepadanya adalah Yo Bi Kiok, wanita setengah tua yang cantik itu. Dia tahu bahwa wanita itu adalah guru dari In Hong, maka dia memandang dan mendengarkan penuh perhatian.

“Hayo kau minta maaf kepada muridku atas tuduhanmu yang bukan-bukan itu. Dia bukan seorang kejam seperti iblis, juga tidak membunuh orang. Hayo minta maaf kau!”

“Subo, jangan ikut mencampuri…” In Hong berbisik pula mencela subonya.

Bun Houw mengerutkan alisnya. “Akan tetapi…”

“Tidak ada tapi, hayo minta maaf!” Yo Bi Kiok mendesak.

Bun Houw merasa mendongkol. Tidak biasa dia didesak dan dipaksa orang seperti itu, maka sikap yang angkuh dan keras dari Yo Bi Kiok itu malah membuat dia berkeras tidak mau minta maaf dan dia menggeleng kepala.

“Subo, sudahlah…” In Hong kembali mencela gurunya dan pada saat itu Raja Sabutai sudah mengangkat tangan kanan ke atas, tanda bahwa semua orang diminta untuk diam dan dia mau bicara.

“Saudara sekalian harap maklum bahwa pertemuan ini diadakan pertama-tama untuk merayakan kemenangan seorang sahabatku yang kukagumi, yaitu Kaisar Ceng Tung yang telah dapat menduduki singgasananya kembali dan berhasil mengalahkan semua pengkhianat di dalam kerajaannya! Silakan saudara sekalian mengangkat cawan untuk kehormatan dan keselamatan Kaisar Ceng Tung!”

Tentu saja Bun Houw menjadi terkejut dan juga terheran-heran menyaksikan sikap dan mendengar ucapan Raja Sabutai itu, akan tetapi dengan girang dia lalu mengangkat cawan arak yang memang sejak tadi disuguhkan di meja depan mereka semua. Semua orang mengangkat cawan dan minum arak, termasuk Yo Bi Kiok setelah nyonya ini melirik ke arah Wang Cin dengan senyum mengejek.

“Pyarrr…!” Tiba-tiba mendengar suara mangkok pecah dan nampak sebuah cawan arak menggelinding di atas lantai. Cawan itu dibanting oleh Wang Cin yang kini sudah bangkit berdiri dengan marah sekali, matanya ditujukan ke arah Raja Sabutai dan tubuhnya yang gendut itu menggigil, mukanya merah padam. Suasana menjadi sunyi karena semua orang menahan napas dengan hati tegang menyaksikan betapa dua orang sekutu itu kini berhadapan sebagai musuh.

“Sabutai, engkau sungguh merupakan seorang sekutu yang khianat!” bentak Wang Cin, suaranya melengking tinggi, saking marahnya suaranya menjadi seperti suara wanita, yaitu satu di antara ciri-ciri orang kebiri yang sedikit demi sedikit berobah sifatnya menjadi kewanita-wanitaan. “Bagaimana dengan tak tahu malu engkau berani menyuruh aku untuk memberi selamat atas kemenangan Ceng Tung dan secara tidak langsung memaki aku?”

Raja Sabutai tersenyum mengejek. “Eh, Wang-taijin, salahkah aku kalau mengatakan bahwa engkau adalah seorang pengkhianat yang gagal? Engkau adalah seorang palsu, dan aku sudah benci kepadamu semenjak pertama kali, hanya karena kita bekerja sama maka aku masih dapat menahan diri membiarkan kehadiranmu yang memuakkan. Aku memang sejak semula kagum kepada Ceng Tung dan muak kepadamu. Sekarang, engkau merupakan seorang pengkhianat yang sudah tidak ada harganya lagi, dan Kaisar Ceng Tung berhasil manduduki tahta kerajannya lagi dan memegang janjinya kepadaku. Sudah sepatutnya kalau kita, apalagi seorang renah seperti engkau, mengucapkan selamat kepada Kaisar Ceng Tung yang gagah perkasa.”

Makin marahlah Wang Cin. Dia adalah seorang yang pernah mencapai kedudukan tinggi sekali, kepercayaan kaisar dan hampir menjadi orang kedua di kerajaan, dan sekarang dia dihina oleh seorang raja liar, raja pemberontak! “Sabutai, raja liar yang rendah…! Kau… kau… hayo serbu dan bunuh dia!” bentaknya sambil monoleh dan memerintah para pengawal dan pembantunya.

Akan tetapi tidak ada seorangpun yang berani bergerak. Tentu saja, para pengawalnya, juga termasuk tiga orang Bayangan Dewa, bukanlah orang-orang tolol yang mau membunuh diri secara konyol menyerang seorang raja di dalam bentengnya sendiri! Mereka semua adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada Wang Cin atas perhitungan rugi untung, maka setelah kini malihat Wang Cin kalah dan gagal, tentu saja mereka tidak sudi untuk membuang nyawa sia-sia untuk pembesar kebiri itu.

Memang demikianlah adanya “kesetiaan” yang didengung-dengungkan manusia di seluruh dunia itu! Apakah sesungguhnya kesetiaan itu? Apakah artinya kalau orang bersetia dan berani mengorbankan nyawanya demi untuk rajanya, untuk negaranya, untuk agamanya dan lain-lain? Apakah artinya itu? Kalau kita mau membuka mata dan menjenguk keadaan batin sendiri akan nampaklah dengan nyata bahwa sesungguhnya sebutan kesetiaan itu merupakan sebutan lain saja penonjolan diri pribadi, atau dapat juga dilihat bahwa yang mendorong “kesetiaan” itu hanyalah keinginan menonjolkan diri sendiri dan kesetiaan itu hanya merupakan suatu cara untuk memperoleh keuntungan diri pribadi, biarpun keuntungan itu bukan berupa benda lagi, melainkan dalam bentuk “nama besar” atau “nama baik”, kepahlawanan, dan sebagainya lagi.

Mereka yang “setia” kepada Wang Cin juga tidak ada bedanya. Mungkin saja mereka itu tadinya benar-benar setia, yaitu ketika mereka masih menaruh harapan bahwa kalau perjuangan Wang Cin itu berhasil kelak, mereka tentu akan menerima ganjaran-ganjaran besar. Akan tetapi, setelah mereka sekarang melihat bahwa tidak ada manfaatnya dan tidak ada untungnya lagi untuk terus “setia” kepada Wang Cin, tentu saja kesetiaan merekapun lenyap seperti awan tipis ditiup angin badai. Jelaslah bahwa di dalam apa yang dinamakan kesetiaan itu tersembunyi pamrih demi keuntungan diri pribadi, baik keuntungan jasmani maupun keuntungen rohani yang sesungguhnya sama saja, karena keduanya bersumber kepada kepentingan diri pribadi.

Sunyi menyambut perintah Wang Cin yang tidak mendapat sambutan sama sekali itu. Kesunyian yang amat menyakitkan hati Wang Cin, yang benar-benar merasa kecewa dan mukanya berobah pucat, matanya terbelalak hampir tidak percaya memandang kepada para jagoannya yang diam seperti patung, ada yang menatap lantai, ada yang menatap langit-langit, seolah-olah mereka tidak tahu akan keheranan pembesar kebiri itu!

“Ha-ha-ha-ha!” Raja Sabutai tertawa bergelak. “Wang Cin, jangan kau mimpi yang bukan-bukan! Orang-orang yang tadinya membantumu bukanlah orang-orang bodoh atau orang-orang buta yang tidak depat melihat kenyataan. Engkau sekarang seperti seekor macan ompong tua yang tinggal kulitnya saja! Orang-orangmu hanya mempunyai dua pilihan, yaitu ikut bersama kami ke utara dan membantu kami atau melarikan diri menjadi buruan pemerintah Beng-tiauw, menjadi penjahat-penjahat dan perampok-perampok, akan tetapi tentu tidak ada yang sudi ikut denganmu karena hal itu berarti ikut ke neraka. Ha-ha-ha!”

“Sabutai, manusia palsu kau!” Wang Cin marah sekali, lalu meneabut pedangnya dan lari menyerang Raja Sabutai. Tidak ada seorangpun berani bergerak, bahkan para pengawal Raja Sabutaipun tidak bergerak tanpa perintah rajanya, dan mereka hanya memandang sambil tersenyum karena mereka maklum bahwa rajanya bukaniah seorang lemah yang perlu dilindungi terhadap serangan seorang pembesar kebiri macam Wang Cin.

“Sabutai, mampuslah kau…!” Wang Cin yang sudah putus harapan dan marah sekali itu menaiki tangga dan menyerang ke arah Raja Sabutai yang duduk sambil tertawa, pedang di tangannya diangkat tinggi-tinggi.

Biarpun Wang Cin pernah pula mempelajari ilmu silat, akan tetapi pembesar ini sudah puluhan tahun lamanya tidak pernah berlatih, dan pedang yang dibawa-bawanya itu hanya merupakan hiasan belaka, tidak pernah dimainkan satu kalipun, maka tentu saja gerakannya kaku dan baru lari sebentar begitu saja napasnya sudah ngos-ngosan. Ketika dia tiba di depan meja Raja Sabutai dan mengayun pedangnya, tiba-tiba kaki Raja Sabutai yang masih tersenyum lebar itu menyambar dari bawah, cepat dan kuat sekali menendang ke arah perut yang gendut itu.

“Bukkkkk!!” Wang Cin terpekik, pedangnya terlempar, tubuhnya terjengkang dan terbanting ke belakang, berdebuk menimpa lantai.

“Seret babi ini keluar dan habisi dia!”

Raja Sabutai memerintah dan empat orang pengawal menubruk maju, masing-masing memegang tangan atau kaki lalu menyeret tubuh gendut itu keluar. Wang Cin menjerit-jerit seperti babi disembelih, memaki-maki lalu menangis akan tetapi setiap gerakan dan setiap suaranya hanya mendatangkan perasaan muak saja karena seluruhnya membayangkan sifat pengecut yang menyebalkan. Dari jauh terdengar jerit melengking dari bekas pembesar kebiri yang pernah mempermainkan Kaisar Ceng Tung itu.

Setelah gema lengking terakhir itu mereda, Sabutai yang masih tersenyum lalu berkata, ditujukan kepada semua orang. “Sekarang, seperti yang telah kami janjikan, mari kita selesaikan semua urusan pribadi, semua permusuhan pribadi, diselesaikan secara terhormat dan adil, cara orang-orang gagah agar seluruh dunia tidak akan menganggap bahwa Raja Sabutai tidak menghargai kegagahan orang! Sekarang, siapa yang mempunyai rasa penasaran dan mempunyai tuntutan kepada seseorang atau orang-orang lain, dipersilakan untuk menyatakan di depan kami secara terang-terangan!” Setelah berkata demikian, Raja Sabutai memandang ke sekeliling, terutama kepada bekas pembantu-pembantu Wang Cin dan kepada Bun Houw, In Hong, dan Yo Bi Kiok.

Tiga orang Bayangan Dewa saling lirik, akan tetapi mereka tidak bergerak. Mereka bertiga adalah orang-orang yang mempunyai dua maksud tersembunyi ketika mereka datang ke tempat itu sebagai pembantu-pembantu Wang Cin. Pertama, untuk menyembunyikan diri dari pengejaran fihak Cin-ling-pai dan mencari perlindungan, kedua untuk mengejar kemuliaan, membonceng pengkhianatan Wang Cin. Kini Wang Cin sudah tamat riwayatnya, maka mereka tidak berani banyak berlagak lagi, apa pula karena empat orang kawan mereka yang mereka andalkan, yaitu Go-bi Sin-kouw dan teman-temannya, telah pergi entah ke mana. Betapapun juga, mereka bertiga percaya akan kemampuan sendiri dan tidak merasa gentar, apalagi karena di antara fihak lawan yang paling tinggi ilmunya hanyalah Yo Bi Kiok, dan sesungguhnya mereka tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan ketua Giok-hong-pang itu. Maka mereka masih merasa tenang saja menanti perkembangan selanjutnya.

Suasana yang sunyi itu dipecahkan oleh suara nyaring dari Bun Houw yang mengangkat tangan kanan ke atas dan berkata, “Saya mempunyai tuntutan, mohon perkenan dari baginda untuk saya sampaikan!”

Semua orang memandang kepada pemuda yang bersikap sederhana akan tetapi gagah dan tampan itu dan karena semua orang sudah mendengar bahwa pemuda yang baru datang itu mempunyai permusuhan dengan para pembantu Wang Cin yang telah mereka kenal sebagai orang-orang lihai, maka suasana mulai menjadi tegang.

Raja Sabutai tersenyum lebar. “Ketahuilah kalian semua bahwa yang bicara adalah pendekar muda Bun Houw yang baru saja tiba. Dia adalah seorang sahabat nona Hong yang telah kita kenal.”

In Hong hendak membantah akan tetapi sebelum dia mengeluarkan suara, sudah terdengar tepuk tangan para hadirin yang dipolopori oleh Raja Sabutai sendiri, maka In Hong diam saja.

“Orang muda, katakanlah apa yang menjadi tuntutanmu dan kepada siapa!” Raja Sabutai berkata lagi sambil melirik ke arah tiga orang Bayangan Dewa, Di dalam hatinya raja ini agak kecewa mengapa dua orang kakek dan dua orang nenek yang dia tahu amat lihai, yang selama ini menemani para pembantu Wang Cin, telah lenyap ketika terjadi pertempuran yang terakhir menghadapi serbuan pasukan Beng-tiauw yang tadinya mengurung benteng. Bahkan menurut keterangan dua orang gurunya, Bouw Thaisu memiliki kepandaian yang paling tinggi di antara para pembantu Wang Cing akan tetapi sekarang Bouw Thaisu juga telah pergi entah ke mana, bersama Go-bi Sin-kouw, Hwa Hwa Cinjin, dan Hek I Siankouw.

“Maaf, sri baginda. Sebetulnya, urusan saya ini tidak ada sangkut-pautnya dengan paduka atau dengan orang lain, akan tetapi oleh karena musuh-musuh saya itu berada di sini, maka terpaksa saya menyusul pula ke sini dan sekarang atas perkenan peduka, saya akan menuntut secara terang-terangan. Yang saya tuntut adalah mereka bertiga itulah, yang menamakan diri Lima Bayangan Dewa dan yang sekarang tinggal tiga orang lagi. Mereka itu adalah Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok, Liok-te Sin-mo Gu Lo It, dan Sin-ciang Siauw-bin-sian Hok Hosiang. Mereka bertiga itu telah dengan curang mencuri pedang pusaka milik Cin-ling-pai dan telah membunuh sebelas orang Cap-it Ho-han murid-murid utama Cin-ling-pai secara kejam. Oleh karena itu, saya menuntut agar pedang Siang-bhok-kiam dikembalikan kepada saya dan saya menantang mereka untuk bertanding agar saya dapat menebus kematian para murid Cin-ling-pai!”

Raja Sabutai mendengarkan tuntutan ini dan dia menjadi gembira, menoleh ke arah tiga orang kakek itu dan berkata, “Nah, kalian telah mendengar tuntutan. Kalian boleh membela diri dan menjawab. Silakan!”

Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok mewakili dua orang sutenya, melangkah maju menghadapi Bun Houw dan terdengarlah suaranya yang tenang dan lantang, penuh suara dan nada meremehkan, “Maaf, sri baginda. Perkenankan saya bicara dengan orang muda she Bun ini.” Raja Sabutai mengangguk-angguk.

“Orang she Bun, sebelum aku menjawab tuntutanmu, lebih dulu kami bertiga ingin mengetahui, ada hak apakah engkau menuntut urusan kami dengan Cin-ling-pai? Sepanjang pengetahuan kami, engkau hanyalah seorang pengawal dari Kiam-mo Liok Sun pemilik tempat perjudian di Kiang-shi. Engkau tidak berhak untuk mencampuri urusan kami dengan Cin-ling-pai!”

Sudah berada di ujung lidah Bun Houw untuk mengaku bahwa dia adalah putera ketua Cin-ling-pai, akan tetapi karena dia sudah terlanjur menyembunyikan keadaan diri sebenarnya, pula diapun tidak mau mendatangkan keributan dengan kenyataan baru itu, maka dia menjawab, “Ketahuilah, Pat-pi Lo-sian! Aku adalah terhitung murid dari Cin-ling-pai, oleh karena itu, pedang Siang-bhok-kiam merupakan pusaka yang kuhormati dan Cap-it Ho-han termasuk suheng-suhengku, maka sudah semestinya kalau aku menentangmu!”

Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok adalah seorang kakek yang sudah banyak makan garam, sudah banyak pengalaman dan dia amat cerdik. Dia maklum bahwa kedudukan dia dan dua orang sutenya sebagai bekas pengawal Wang Cin amatlah tidak menguntungkan, karena hal itu saja membuat mereka berada di tempat yang tidak begitu disuka oleh Raja Sabutai. Dan diapun maklum bahwa In Hong adalah seorang yang lihai, dan kalau benar gadis itu merupakan sahabat pemuda ini dan ikut turun tangan, maka keadaan bagi dia dan adik-adiknya akan makin berbahaya. Menghadapi pemuda itu, dia sama sekali tidak khawatir, bahkan memandang rendah. Akan tetapi, kalau menghadapi In Hong satu lawan satu, bukan merupakan hal yang tidak berbahaya, maka dia lalu berkata dengan cerdik, “Orang she Bun! Agaknya engkau sudah tahu bahwa Lima Bayangan Dewa terdiri dari lima orang bersaudara. Terus terang saja, kami berlima memang memusuhi Cin-ling-pai karena kami hanya membalaskan kematian suheng kami, Ban-tok Coa-ong, dan memang sejak dahulu kami menanam hati dendam terhadap Cin-ling-pai. Sudah sewajarnya kalau engkau sebagai anak murid Cin-ling-pai kini membela Cin-ling-pai pula. Akan tetapi engkau tentu maklum pula bahwa Lima Bayangan Dewa selalu bekerja bersama-sama, dan karena kini jumlah kami tinggal tiga orang, maka Tiga Bayangan Dewapun biasa bekerja sama tidak terpisah-pisah. Entah bagaimana engkau akan menghadapi kami bertiga. Tentu saja kalau engkau tidak berani menghadapi kami bertiga…”

“Pat-pi Lo-sian, tidak perlu engkau bersikap sombong dan memancing-mancing!” Bun Houw memotong. “Tentu saja aku yang sudah berani membela Cin-ling-pai, berani pula menghadapi kalian bertiga, karena akupun tahu bahwa Lima Bayangan Dewa adalah orang-orang pengecut.”

“Tidak, Bun-ko!” Tiba-tiba In Hong berseru dan cepat gadis ini menghadapi Raja Sabutai sambil berkata, “Maafkan saya, sri baginda. Akan tetapi sesungguhnya, sayalah yang lebih dulu bentrok dengan Lima Bayangan Dewa! Sejak semula, sebelum saudara Bun Houw ini bertemu dengan mereka, saya yang berniat untuk merampas kembali pedang Siang-bhok-kiam dari tangan mereka. Kini, setelah berhadapan dengan mereka, sayapun tidak akan membiarkan saudara Bun Houw seenaknya turun tangan sendiri merampas pedang, karena saya juga berhak untuk mengadu kepandaian merampas pedang pusaka Cin-ling-pai.”

“Heh-heh, sayapun tentu saja ingin melihat seperti apa sih pedang pusaka yang disohorkan orang itu dan sayapun tidak mau ketinggalan meramaikan pertemuan ini, sri baginda!” Yo Bi Kiok tiba-tiba berkata pula.

Raja Sabutai menggosok-gosok kedua tangannya, kelihatan makin gembira. Memang raja ini suka sekali nonton orang pibu, maka makin ramai dan makin banyak yang mengambil bagian dalam pertandingan mengadu ilmu, makin gembiralah hatinya.

“Sam-wi lo-sicu,” katanya kepada Pat-pi Lo-sian bertiga. “Ternyata hebat juga pedang Siang-bhok-kiam yang kalian rampas itu sehingga semua orangpun ingin memilikinya. Kalian telah mendengarkan pendapat nona Hong dan gurunya. Nah, bagaimana?”

Pat-pi Lo-sian terkejut sekali ketika tadi mendengar ucapan Yo Bi Kiok. Akan tetapi dia cerdik sekali dan sambil menghadapi Yo Bi Kiok dia menjura ke arah ketua Giok-hong-pang itu dan berkata, “Maaf, Yo-pangcu. Dahulu pernah Yo-pangcu mengatakan bahwa pangcu telah menawan Lie Seng, bocah cucu ketua Cin-ling-pai itu, bahwa pangcu hendak menukarkan bocah cucu musuh besar kami itu dengan pedang Siang-bhok-kiam. Akan tetapi sayang keburu terjadi perang dan…”

Memang Pat-pi Lo-sian cerdik bukan main. Dia tadi mendengar bahwa pemuda tampan ini adalah anak murid Cin-ling-pai, maka melihat gelagat bahwa ketua Giok-hong-pang itu hendak turun tangan menentang mereka, maka cepat dia mengatakan hal tentang ditawannya cucu ketua Cin-ling-pai oleh Yo Bi Kiok agar diketahui oleh murid Cin-ling-pai itu. Akalnya ini berhasil karena tentu saja Bun Houw terkejut bukan main mendengar ucapan itu.

“Yo-pangcu! Kauapakan Lie Seng…?” bentaknya marah, hatinya khawatir sekali mendengar bahwa keponakannya itu tertangkap oleh wanita cantik berwajah dingin ini.

“Ha-ha-ha-ha!” Pat-pi Lo-sian tertawa untuk menambah minyak pada api itu. “Ketika kami menyerbu Sin-yang, membalas dendam kepada puteri ketua Cin-ling-pai, di mana kami berhasil menewaskan empat orang murid utama Cin-ling-pai dan besan dari ketua Cin-ling-pai, kami tentu tidak akan berhasil tanpa bantuan Yo-pangcu. Mengingat akan kerja sama yang sudah, kiranya sekarang Yo-pangcu tidak akan membalik dan membantu fihak musuh kita bersama.”

“Kau…!” Bun Houw marah sekali dan kalau saja dia tidak ingat bahwa dia berada di dalam benteng Raja Sabutai, tentu dia sudah menyerang Yo Bi Kiok yang hanya tersenyum-senyum saja itu, senyum penuh ejekan.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: