Dewi Maut (Jilid ke-52)

Singgg… Wuuuttt! Murid durhaka!” Kembali pedang Lui-kong-kiam membabat ke arah In Hong yang meloncat mundur. “Bukk… aihhhh!” In Hong yang kurang cepat mengelak itu kena ditendang kaki kiri gurunya dan dia terguling. Sesungguhnya tidak akan semudah itu Yo Bi Kiok dapat menendang muridnya sampai terguling kalau saja In Hong berada dalam keadaan biasa. Namun gadis itu memang sedang tertekan hebat batinnya. Hanya dengan hati berat dan sakit dia terpaksa melemparkan pedangnya kepada kakak kandungnya tadi, dan dia menonton dengan wajah pucat, kedua kaki gemetar dan jantung berdebar penuh ketegangan, merasa seolah-olah dia sendiri yang menyerang gurunya, orang yang sejak kecil memelihara, mendidik, dan menyayangnya. Karena keadaan seperti itulah maka ketika diserang secera hebat oleh gurunya In Hong hanya dapat menghindarkan pedang, tidak menyangkanya akan ditendang oleh gurunya sampai terguling. Dan cepat bagaikan kilat, Yo Bi Kiok sudah menubruk dan menusukkan pedangnya ke arah tubuh muridnya!

“Bi Kiok, terlalu engkau!” Kun Liong sudah membentak marah sekali, gerakannya lebih cepat sedetik daripada gerakan pedang Yo Bi Kiok yang menusuk In Hong.

“Cringggg… ceppp!”

“Aihhhhhhh…!?” Tubuh ketua Giok-hong-pang itu terguling dan pedang Lui-kong-kiam terlepas dari pegangannya. Dia jatuh miring dan menggunakan tangan kiri mendekap lambungnya yang mengucurkan darah dari luka bekas tusukan pedang Hong-cu-kiam tadi.

“Bi Kiok…!” Yap Kun Liong terbelalak dan cepat dia berlutut dekat tubuh wanita itu. “Bi Kiok, kau… ampunkan aku…!” Pendekar ini merasa menyesal bukan main karena tadi dia terpaksa menyerang wanita itu untuk menyelamatkan nyawa adiknya. Kalau tidak terpaksa seperti keadaan tadi, bagaimanapun juga tentu dia akan mengalah dan tidak akan tega melukai apalagi membunuh wanita yang dia tahu hidup sengsara karena cintanya kepadanya tidak dibalasnya itu.

Yo Bi Kiok tersenyum, mengeluh dan darah masih menetes-netes dari celah-celah jari tangannya, membasahi bajunya.

“Kun Liong… aku cinta padamu… uuh, Kun Liong…”

Wanita itu mengulur tangan kanannya dan Kun Liong menangkap tangan itu, menekapkan tangan itu ke dadanya. “Ampunkan aku, Bi Kiok…”

Tiba-tiba wanita itu tertawa. “Hi-hi-hik, heh-heh, aku… tidak menyesal, Kun Liong. Aku tewas di tanganmu, sungguh menyenangkan sekali.”

“Maafkan aku, ampunkan aku…”

“Heh-heh, kau minta maaf? Minta ampun? Ha-ha, Yap Kun Liong… aku… aku tidak pernah minta ampun kepadamu… ahhhh… sungguhpun… aku telah menusukkan pedang itu ke dada isterimu… ah, puas hatiku! Aku membunuhnya, Kun Liong… heh-heh, kau terkejut…? Aku aku membunuh Hong Ing yang telah merampas engkau dariku… ha-ha-ha, dan bocah itu… siapa namanya? Lie Seng… ha-ha, putera Giok Keng itu… aku telah membunuhnya dengan Siang-tok-swa…!”

“Bi Kiok!” Kun Liong yang tadi melepaskan tangan itu dan terbelalak memandang dengan muka pucat, kini berseru keras, seruan yang penuh dengan kejijikan dan penyesalan mengapa wanita yang ketika masih gadis merupakan seorang yang manis dan gagah itu kini berobah menjadi iblis yang demikian kejamnya. “Kau… kau kejam sekali!”

“Heh-heh-heh… aku… kejam…? Bukan aku, melainkan engkau yang kejam, Kun Liong… oughhhh… kalau tidak karena kekejamanmu kepadaku… aku tidak… tidak akan… ahhh, Kun Liong… aku tidak kuat lagi, aku… aku mati dan… kau harus ikut bersamaku!”

“Suheng…!”

“Koko, awas…!”

Bagaikan seekor burung cepatnya, tubuh Kun Liong mencelat ke atas, berjungkir balik sampai lima kali, akan tetapi karena jaraknya yang amat dekat dan karena tangan kiri yang berlumuran darah itu tadi tak tersangka-sangka telah menggenggam pasir beracun, maka betapapun cepat Kun Liong mengelak, tetap saja ada sebagian pasir harum beracun yang menembus kulit dadanya. Tubuh pendekar ini jatuh lagi menimpa mayat Yo Bi Kiok yang mati dengan mata terbelalak. Pendekar itu terkulai dan pingsan!

“Yap-suheng…!” Bun Houw menubruk ke depan dan hendak memeriksa dada suhengnya, akan tetapi In Hong sudah berlutut dan berkata kepadanya, “Minggirlah, biarkan aku menolong kakakku!” Suara dara itu kaku dan keras, tanda bahwa dia marah kepada Bun Houw.

Bun Houw maklum bahwa gadis ini tentu saja lebih ahli untuk menolong luka yang terkena Siang-tok-swa, maka dia bangkit berdiri dan melangkah mundur, hanya menonton ketika jari-jari tangan yang mungil dan kuat itu merobek baju di dada Kun Liong, kemudian memeriksa dada kanan yang penuh dengan bintik-bintik hijau bekas terkena Siang-tok-swa itu.

“Lekas kaucarikan tempat memasak obat, dan masak obat ini!” Tanpa menoleh dan dengan sikap seolah?olah seorang nyonya majikan memerintah jongosnya, In Hong menyerahkan sebungkus obat kepada Bun Houw. Pemuda itu cepat menerimanya dan dengan petunjuk seorang pengawal dia lari ke dapur dan memasak obat itu dengan air dua mangkok. Sementara itu, In Hong menggunakan obat bubuk lain lagi untuk dicampur air dan diborehkan ke dada yang terluka. Kemudian dia menotok beberapa jalan darah di dada dan pundak kakaknya, dan menempelkan telapak tangannya pada tempat yang terluka, lalu mengerahkan tenaga saktinya menyedot. Tak lama kemudian, beberapa butir pasir halus sekali telah menempel di telapak tangannya dan cepat disimpannya pasir-pasir berbahaya itu. Ketika Bun Houw datang membawa obat, dengan bantuan pemuda itu In Hong lalu meminumkan obat itu kepada Kun Liong yang sudah mulai sadar.

“Uhhhh…!” Begitu sadar Kun Liong lalu meloncat ke atas akan tetapi dia terhuyung.

“Koko, engkau belum boleh banyak bergerak.” In Hong berkata.

Kun Liong memejamkan mata sejenak, tubuhnya yang berdiri tegak itu agak bergoyang, kemudian dia membuka mata memandang ke sekelilingnya, lalu kepada mayat Yo Bi Kiok. Dia menghampiri mayat itu, dengan jari tangannya dia menutupkan kelopak mata dan mulut mayat itu, baru kemudian dia duduk bersila di atas lantai, mengerahkan sin-kang mengusir sisa racun dan mengumpulkan hawa murni untuk memulihkan tenaganya.

“Hebat…!” Tiba-tiba terdengar Raja Sabutai berkata, memecah kesunyian yang tadi mencekam keadaan di situ semenjak terjadi peristiwa hebat itu. “Sungguh ilmu kepandaian hebat-hebat yang telah diperlihatkan tadi. Kami merasa kagum sekali!”

Bun Houw lalu melangkah maju dan menjura kepada Raja Sabutai. “Terima kasih atas kebijaksanaan paduka. Sekarang, urusan pribadi telah selesai dan musuh-musuh Cin-ling-pai telah tewas. Maka kami hendak mohon diri dan mohon agar pedang pusaka kami dikembalikan kepada kami.” Sambil berkata demikian, pemuda ini mengerling ke arah Pek-hiat Mo-ko karena pedang Siang-bhok-kiam terselip di pinggang kakek bermuka putih itu.

Raja Sabutai menoleh kepada gurunya, tersenyum lebar dan menjawab, “Pek-hiat Mo-ko ini adalah guruku, dan dia mempunyai omongan untuk disampaikan kepadamu, Bun… eh, Cia-sicu. Bukankah engkau sesungguhnya adalah putera ketua Cin-ling-pai yang terkenal bernama Cia Keng Hong itu? Nah, terserah kepada suhu Pek-hiat Mo-ko dan subo Hek-hiat Mo-li tentang pedang Siang-bhok-kiam itu.” Raja ini memandang dengan mata bersinar gembira karena dia ingin sekali melihat apakah tiga orang Han yang lihai ini akan mampu menandingi kedua orang gurunya. Sesungguhnya Raja Sabutai tidak tertarik oleh pedang kayu itu dan diapun tidak tertarik oleh urusan-urusan pribadi, akan tetapi karena dia ingin sekali melihat kedua orang gurunya bertanding dengan Yap In Hong, Yap Kun Liong atau Cia Bun Houw, maka dia tidak melarang ketika Pek-hiat Mo-ko tadi berbisik-bisik kepadanya tentang pedang itu.

Berkerut alis tebal di atas mata yang bersinar-sinar itu ketika Bun Houw kini langsung menentang pandang mata nenek dan kakek yang menyeramkan itu. “Urusan perebutan pedang pusaka adalah urusan pribadi antara Lima Bayangan Dewa dan Cin-ling-pai,” katanya lantang. “Sama sekali tidak menyangkut orang lain. Locianpwe hanya bertugas menyimpan pedang dan menyerahkannya kepada fihak yang menang. Oleh karena itu, saya harap dengan sangat dan minta dengan hormat agar locianpwe suka menyerahkan pedang pusaka kami itu kepada saya.”

“Hoh-hoh, nanti dulu, orang muda!” Pek-hiat Mo-ko tertawa dan melangkah maju, sikapnya memandang rendah. “Mengembalikan pedang kayu ini adalah perkara mudah. Akan tetapi lebih dulu jawablah pertanyaan-pertanyaan dengan jujur.”

“Silakan bertanya, locianpwe,” kata Bun Houw sambil mengamati wajah yang rusak itu, dan dari logat bicara kakek ini dia dapat menduga bahwa kakek ini tentulah seorang asing.

“Siapakah namamu yang sesungguhnya?”

“Nama saya Cia Bun Houw,” menjawab demikian, Bun Houw merasa tengkuknya dingin dan tahulah dia bahwa tengkuknya itu disambar sinar mata In Hong. Akan tetapi perasaan ini dilawannya dengan kenyataan bahwa gadis itupun tadinya hanya dikenal sebagai nona Hong saja, sama sekali dia tidak pernah mimpi bahwa gadis itu adalah Yap In Hong, adik kandung Yap Kun Liong!

“Engkau putera dari Cia Keng Hong ketua Cin-ling-pai?” tanya lagi Pek-hiat Mo-ko dengan suaranya yang mengandung getaran dingin menyeramkan.

“Benar.”

“Bukankah Cia Keng Hong itu adalah pendekar yang dahulu terkenal sebagai sahabat baik, bahkan tangan kanan dari Panglima Besar The Hoo?” tanya lagi kakek yang sukar ditaksir berapa usianya itu karena mukanya yang putih itu seperti muka mayat.

Kepahlawanan merupakan suatu kebanggaan bagi tiap orang gagah di dunia kang-ouw. Kenyataan bahwa ayahnya adalah seorang pahlawan pembela nusa bangsa, juga bahwa ayahnya merupakan sahabat baik dari Panglima Besar The Hoo yang telah terkenal di seluruh dunia bahkan amat disegani dan ditakuti kawan dan lawan itu, tentu saja dia tidak hendak menyangkalnya.

“Benar,” jawabnya pula. “Bahkan, biarpun mendiang Panglima Besar The Hoo telah meninggal dunia, ayahku tetap setia setiap saat menyediakan jiwa raganya untuk membela tanah air dan sekarang ayah membantu kaisar memperoleh kembali singgasananya yang dirampas oleh pengkhianat-pengkhianat.”

“Ho-ho, bagus kalau begitu! Nah, dengarlah baik-baik, orang muda. Sampaikan kepada ayahmu itu, kepada Cia Keng Hong ketua Cin-ling-pai, bahwa pedang Siang-bhok-kiam akan kami bawa terus dan hanya akan kami serahkan kalau Panglima The Hoo sendiri yang datang menemui kami dan mengambilnya!”

Bun Houw terbelalak dan suasana menjadi sunyi sekali. Setelah dapat menekan ketegangan hatinya, barulah Bun Houw menjawab, suaranya mengandung rasa penasaran. “Permintaan locianpwe sungguh tidak masuk akal. Panglima The Hoo telah meninggal dunia, bagaimana bisa menemui locianpwe kecuali kalau locianpwe menyusul beliau?” Jawaban ini sekaligus mengandung ejekan.

“Hih-hih, bocah itu lancang mulut. Ketuk saja kepalanya!” Tiba-tiba Hek-hiat Mo-li berseru, suaranya tinggi melengking dan mengandung getaran panas.

“Ho-ho, bocah lancang! Siapa tidak tahu bahwa The Hoo telah mati? Akan tetapi mustahil tidak ada muridnya atau keturunannya? Setidaknya masih ada ayahmu yang menjadi tangan kanan dan sahabat baiknya. Nah, pedang ini kami simpan sambil menanti wakil dari The Hoo untuk mengambilnya.”

Bun Houw menjadi marah sekali. “Biarlah sekarang juga aku menjadi wakilnya!” bentaknya.

“Dan aku juga!” In Hong juga berseru dan sudah meloncat ke dekat Bun Houw yang mengerlingnya, juga gadis itu melirik dan mereka saling bertemu pandang dalam kerling mereka.

“Bagus…! Akan tetapi kami lebih senang berhadapan dengan Cia Keng Hong, tua sama tua, bukan dengan bocah-bocah ingusan!” kata Pek-hiat Mo-ko.

Tahan…!” Tiba-tiba terdengar suara yang menggetarkan seluruh ruangan itu. Kiranya Yap Kun Liong yang berseru itu dan kini pendekar ini telah bangkit berdiri dan dengan perlahan melangkah maju. Wajahnya masih pucat, akan tetapi dia telah terbebas dari racun, hanya tinggal tenaganya yang belum pulih karena dia memeras semua tenaganya untuk mengusir hawa beracun dari Siang-tok-swa.

“Heh-heh-heh, kau orang yang sudah lemah karena lukamu mau bicara apa?” Pek-hiat Mo-ko berkata mengejek.

Yap Kun Liong menjura ke arah Raja Sabutai dan berkata, “Harap paduka maafkan kami bertiga. Sama sekali bukan maksud kami untuk membikin ribut di dalam benteng paduka ini.” Kemudian dia memandang kepada Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li, lalu berkata, “Ji-wi locianpwe sungguh bersikap jujur, dan maafkan kedua orang adikku ini. Sudah menjadi kewajiban kami untuk menyampaikan tantangan ji-wi locianpwe kepada supek Cia Keng Hong, dan kepada para murid dan keturunan mendiang Panglima The Hoo. Kami bertiga tidak berhak mencampuri urusan antara ji-wi dan mendiang Panglima The Hoo. Akan tetapi agar jelas, hendaknya ji-wi suka menerangkan mengapa ji-wi mendendam kepada mendiang Panglima The Hoo agar kalau ditanya kami dapat memberitahukan.”

“Ho-ho, kau ternyata lebih cerdik dan sopan! Ketahuilah, kami berdua datang dari Sailan dan kami pernah dilukai dan hampir tewas oleh Panglima The Hoo. Oleh karena itu, belum puas hati kami sebelum membalas kekalahan kami puluban tahun yang lalu itu kepada keturunannya, muridnya, ataupun sahabatnya yang mewakilinya mengambil pedang Siang-bhok-kiam.”

Yap Run Liong berpikir sejenak, kemudian berkata, “Kami tidak ingin mengganggu sri baginda raja, dan mengingat bahwa urusan ini merupakan urusan pribadi, ke manakah wakil mendiang Panglima The Hoo boleh datang mencari ji-wi untuk mengambil pedang?”

“Ho-ho, kaukira kami akan mengandalkan pasukan murid kami untuk membantu kami? Ha-ha-ha, orang muda, sampaikan kepada Cia Keng Hong bahwa kami akan menanti kedatangan wakil Panglima The Hoo di Lembah Naga, di mana kami berdua akan bertapa dan menanti dengan tidak sabar.”

“Lembah Naga? Di mana itu?”

“Di tikungan Sungai Luan-ho, di kaki Pegunungan Khing-an-san.”

Yap Kun Liong mengangguk. “Baiklah, Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li,” jawabnya dan kini sikap menghormatnyapun lenyap. “Akan kami sampaikan kepada supek Cia Keng Hong.”

Kemudian, mewakili dua orang adiknya dia lalu menghadap Raja Sabutai dan berkata, “Sekali lagi terima kasih kami haturkan atas kebijaksanaan paduka, dan perkenankan kami sekarang untuk pergi dari benteng ini dan membawa jenazah Yo Bi Kiok.”

Raja Sabutai mengangguk-angguk. “Sampaikan kepada Kaisar Ceng Tung bahwa kami menerima uluran tangannya, dan dalam bulan ini juga kami akan kembali ke utara. Nona Hong, untuk membalas jasa-jasamu sebagai pengawal dan sahabat sang ratu, beliau minta kepadaku untuk menyampaikan terima kasih dan tanda mata ini. Terimalah!”

In Hong merasa terharu juga mengingat akan kebaikan Khamila, maka dia melangkah maju dan tidak menolak ketika Raja Sabutai mengalungkan seuntai kalung mutiara ke lehernya.

“Terima kasih, sri baginda, dan semoga paduka dan Sang Ratu Khamila hidup berbahagia.”

Mereka berpamit lagi kemudian dengan diantar sepasukan pengawal kehormatan, mereka bertiga meninggalkan benteng itu dan Kun Liong memondong mayat Yo Bi Kiok yang masih lemas.

Setibanya di luar benteng, di dalam sebuah hutan yang sunyi, Kun Liong lalu mengubur jenazah wanita itu, dibantu oleh Bun Houw dan In Hong. Ketika In Hong berlutut di depan kuburan itu, tak tertahankan lagi dua titik air mata membasahi pipina yang segera diusapnya dengan punggung tangan. Sementara itu, terdengar Bun Houw berkata kepada Yap Kun Liong, dengan nada suara terheran dan penasaran, “Yap-suheng, kenapa suheng tidak membolehkan saya untuk mewakili ayah menghadapi dua orang kakek dan nenek iblis itu untuk merampas kembali Siang-bhok-kiam? Saya tidak takut melawan mereka.”

“Aku percaya, sute. Akan tetapi, kalau hal itu kaulakukan juga, berarti kita membiarkan diri dalam bahaya besar dan hal itu merupakan kebodohan yang sembrono. Kakek dan nenek itu amat lihai dan biarpun engkau dan Hong-moi-moi belum tentu kalah, akan tetapi harus kauingat bahwa mereka adalah guru-guru dari Raja Sabutai. Tidak mungkin raja akan membiarkan saja kedua orang gurunya ditentang, apalagi dikalahkan orang di hadapannya. Kalau pasukan maju mengeroyok, mana mungkin kita dapat melawan? Bahkan meloloskan diripun akan sukar, apalagi karena kesehatanku belum pulih. Kalau sampai terjadi demikian, kita tidak bisa lolos dan pedang tidak dapat terampas, bukankah hal itu amat celaka dan menyesalpun tiada gunanya lagi. Yang lebih hebat lagi, kita akan dicap sebagai pengacau di benteng, dan ini amat bertentangan dengan kehendak kaisar. Setelah mereka berdua menantang dan akan menanti di Lembah Naga, bukankah hal itu lebih mudah lagi?”

Bun Houw mengangguk-angguk dan benar-benar dia kagum akan pandangan yang luas dari pendekar itu.

“Koko, mengapa engkau masih mau mengurus jenazah subo?” Tiba-tiba In Hong juga mengajukan pertanyaan. “Setelah semua pengakuannya itu… setelah ternyata bahwa dia yang membunuh go-so (kakak ipar)… dia yang menghancurkan hidupmu, akan tetapi engkau masih merawat jenazahnya. Mengapa?” Dara itu kini memandang wajah kakaknya dengan penuh kagum dan bangga. Kakaknya ini benar-benar seorang pendekar sakti yang hebat, bukan hanya hebat ilmunya seperti yang telah diperlihatkannya ketika bertanding melawan gurunya, akan tetapi juga hebat perangainya.

Kun Liong menghela napas lalu duduk di atas tanah berumput, memandang sejenak kepada adiknya dan kepada Bun Houw. Dia tahu bahwa adiknya berhati keras dan aneh, bahwa adiknya tidak mau dijodohkan begitu saja dengan Bun Houw. Dan di dalam hatinya dia tidak ingin melihat adiknya mengalami guncangan batin akibat cinta seperti yang banyak dialaminya selama ini. Teringat dia akan semua pengalamannya, akan semua petualangannya ketika masih muda dahulu, petualangannya dalam asmara dengan banyak gadis cantik. Semua peristiwa itu, kematian isterinya, kekejaman Yo Bi Kiok, semua adalah akibat dari petualangannya itulah (baca cerita Petualang Asmara).

Adikku, dan juga engkau, sute. Dengarlah dan agar kalian tidak usah heran mengapa sampai detik ini aku menaruh hati kasihan kepada Yo Bi Kiok, pembunuh dari isteriku yang tercinta. Dia membunuh isteriku bukan karena permusuhan pribadi, bukan karena kebencian pribadi, melainkan karena… cinta kasihnya kepadaku.”

“Ahhh…!” Bun Houw yang belum tahu akan riwayat suhengnya itu berseru kaget dan heran, akan tetapi In Hong yang sudah tahu hanya menunduk.

“Karena cintanya kepadaku, dia merasa cemburu dan iri kepada isteriku. Ah, kasihan Bi Kiok. Dia menjadi seperti gila karena cinta, cinta yang sebetulnya sama sekali bukanlah cinta. Orang yang mencinta tentu ingin melihat orang yang dicintanya hidup berbahagia! Akan tetapi tidak demikian dengan cinta Bi Kiok. Dia mencinta diri sendiri dan cinta macam itu hanya menimbulkan kedukaan, kebencian dan kejahatan belaka. Betapapun juga, dia telah mengakui perbuatannya dan… dan rasa penasaran besar itu telah terbongkar. Rahasia yang hebat itu telah terbongkar dan legalah hatiku karena sekarang terbukti keyakinan hatiku selama ini bahwa encimu, sute, bahwa Giok Keng tidak berdosa. Akan tetapi… ah, diapun ikut berkorban hebat, suaminya tewas dan sekarang puteranya…” Yap Kun Liong menundukkan mukanya, penuh penyesalan mengapa peristiwa yang menimpa dirinya itu merembet kepada keluarga Giok Keng.

“Sungguh hebat…!” dia melanjutkan. “Aku kehilangan isteri dan puteriku karena perbuatan Bi Kiok, akan tetapi akibatnya, encimu yang tidak tahu apa-apa telah kehilangan suami dan sekarang juga puteranya terbunuh oleb Bi Kiok. Aih, Bi Kiok, mengapa hatimu menjadi seganas itu? Kasihan anak itu… yang tidak berdosa.”

“Koko, anak itu tidak mati oleh Siang-tok-swa.”

Kun Liong mengangkat muka dan memandang adiknya dengan mata terbelalak, penuh harapan dan keheranan. “Apa… apa maksudmu? Lie Seng…”

“Dia tidak mati. Aku sendiri yang telah mengobatinya,” jawab In Hong.

“Lie Seng tidak mati? Ya Tuhan, syukurlah…!” Bun Houw juga berseru girang ketika memandang wajah gadis itu, akan tetapi ketika pandang mata mereka bertemu dan melihat kemarahan di pandang mata gadis itu, dia menunduk kembali, mukanya menjadi merah.

“Ketika aku pergi kepada Yok-mo di Gunung Cemara untuk mencari obat, di sana aku bertemu dengan anak laki-laki yang hampir mati karena terluka oleh Siang-tok-swa. Aku lalu mengobatinya dan dia sembuh, dia tidak mati. Aku yakin bahwa dia itulah anak yang kaumaksudkan, koko.”

Kun Liong menjadi girang sekali. “Bagaimana dia bisa berada di sana? Dan bagaimana pula secara kebetulan kau berada di tempat itu, moi-moi? Ceritakanlah!”

“Aku… aku pergi mencarikan obat…” gadis itu menunduk.

“Dia mencarikan obat untuk aku yang hampir mampus, suheng,” tiba-tiba Bun Houw menjawab cepat. “Aku menderita luka-luka parah oleh Bayangan Dewa dan kalau tidak ada adikmu ini, agaknya sekarang aku sudah mati.”

“Ahhh…!” Kun Liong makin girang dan memandang adiknya yang menjadi merah mukanya.

“Bohong! Dia memang terluka dan aku mencarikan obat kepada Yok-mo. Di sana aku bertemu dengan seorang pendeta yang datang membawa anak laki-laki yang luka-luka oleh Siang-tok-swa itu. Kami berebutan untuk memperoleh pertolongan Yok-mo. Pendeta itu lihai bukan main dan aku lalu menukar obatku untuk menyembuhkan anak itu dengan pelajaran Ilmu Pukulan Thian-te Sin-ciang…”

“Hehh…?” Tiba-tiba Bun Houw meloncat ke atas mengejutkan In Hong dan Kun Liong. “Kalau begitu dia adalah suhu!”

Kini Kun Liong juga kaget. “Apa? Gak-hu (ayah mertua)?”

In Hong menjadi bingung mondengar Bun Houw menyebut guru kepada pendeta itu dan kakaknya menyebut ayah mertua. Hal ini sama sekali tidak disangka-sangkanya. “Dia seorang pendeta Lama berjubah merah, bertubuh tinggi besar dan…”

“Dia suhu!” Bun Houw berseru.

“Jelas, dia adalah gak-hu. Aih, sungguh kejadian yang kebetulan sekali!” Kun Liong berkata dengan wajah girang. “Kalau begitu, putera encimu itu berada di tangan gak-hu dan keselamatannya terjamin, sute.”

Bun Houw mengangguk dan memandang kepada In Hong, kemudian berkata, “Kalau begitu, engkau terhitung adalah sumoiku sendiri.”

In Hong menggeleng kepala. “Dia berpesan bahwa aku tidak boleh mengaku dia sebagai guru, dan memang demikianlah perjanjiannya.” Diam-diam gadis ini kagum sekali. Pantas saja Cia Bun Houw ini demikian lihainya, kiranya pemuda putera ketua Cin-ling-pai ini adalah murid pendeta Lama sakti itu!

“Urusan encimu audah beres, sute, sekarang aku harus pergi untuk mencari anakku. Anakku melarikan diri ketika ibunya terbunuh dan sampai kini tidak kuketahui ke mana perginya. Engkau pulanglah ke Cin-ling-pai untuk melaporkan soal Siang-bhok-kiam kepada ayahmu dan sampaikan pula berita pengakuan Yo Bi Kiok kepada keluargamu, jangan lupa beritakan tentang Lie Seng yang sudah berada di tangan gak-hu itu kepada ibumu. Aku sendiri akan mencari jejak puteriku, dan… kalau kau suka, adikku, marilah kau ikut bersamaku…” Dia memandang kepada adiknya dengan sinar mata penuh kasih. Isterinya telah tewas, puterinya telah hilang dan kini dia menemukan kembali adiknya yang agaknya telah kembali ke jalan benar.

Akan tetapi In Hong menggeleng kepalanya. “Aku masih mempunyai urusan, koko. Biarlah kalau urusanku sudah selesai, aku pasti akan pergi ke Leng-kok dan selanjutnya aku akan hidup di sana bersama kakakku.”

Kun Liong melangkah maju dan memegang kedua tangan adiknya, digenggamnya kedua tangan adiknya dengan mesra. “In Hong, adikku. Keadaan telah memaksa kita saling berpisah. Kakakmu ini telah mengalami banyak penderitaan hidup. Mudah-mudahan saja engkau tidak akan seperti kakakmu. Hanya pesanku, jangan terlalu menurutkan perasaan, adikku, bersikaplah bijaksana dan mudah-mudahan kalau sekali waktu cinta menguasai dirimu, semoga cintamu itu bukan seperti cinta kasih mendiang Bi Kiok kepada kakakmu. Mengertikah engkau, adikku?”

In Hong terharu. Ingin dia merangkul kakak kandungnya itu, akan tetapi dia menggigit bibir mengeraskan hatinya, lalu mengangguk.

Kun Liong melepaskan tangan adiknya. “Nah, kalau begitu,selamat tinggal, selamat berpisah sampai jumpa kembali dalam keadaan yang lebih baik lagi.”

Pendekar ini sekali lagi menengok ke arah gundukan tanah kuburan Yo Bi Kiok, menghela napas panjang lalu pergi dari situ, diikuti pandang mata sepasang orang muda itu.

***

Mereka berdiri, saling berhadapan dan sejenak mereka saling pandang penuh selidik, bahkan kemudian pandang mata In Hong dibayangi rasa marah dan penasaran.

“Kau…”

“Kau…”

Keduanya terdiam karena kata itu keluar dengan berbareng.

“Hemm, kiranya engkau Cia Bun Houw!” In Hong kemudian berkata dan membuang pandang mata ke atas, ke arah daun pohon di ujung yang dikibarkan oleh angin.

“Ya…”

“Engkau putera ketua Cin-ling-pai yang terkenal di seluruh dunia itu!”

“Ya…”

“Engkau pura-pura menyamar sebagai pengawal pemilik rumah judi untuk menyelidiki keadaan Bayangan Dewa.”

“Ya…”

“Engkau berpura-pura bodoh dan tidak memiliki kepandaian sampai akupun tertipu.”

“Ya… tapi…”

“Sungguh cerdik sekali!”

“Hemm…”

“Kiranya yang terhormat putera ketua Cin-ling-pai, seekor harimau berpakaian kulit domba.”

“Ahh…”

“Dan pendekar muda sakti putera ketua Cin-ling-pai itu memberikan pedang pusakanya kepada…”

“Kepada seorang dara pendekar yang lihai…”

“Seorang Dewi Maut yang kejam, yang membunuh gadis dusun yang tidak berdosa!”

“Eh, aku salah lihat… eh, salah duga…”

“Seorang putera ketua Cin-ling-pai yang berpandangan tajam mana mungkin salah lihat? Karena memang gadis itu dianggapnya kejam, ganas dan tidak berperi kemanusiaan!”

“Eh, dengar dulu…”

“Jadi Cia Bun Houw si pendekar muda sakti itu adalah murid pendeta Lama…”

“Ya, suhu Kok Beng Lama.”

“Pendeta Lama yang sakti dari Tibet?”

“Ya…”

“Dan Cia Bun Houw si pendekar sakti itu adalah seorang pemuda perayu wanita, seorang hidung belang yang mata keranjang!”

“Heiii…”

“Cia Bun Houw itu adalah seorang laki-laki yang tidak setia, yang mudah berganti kekasih!”

“Eh, nanti dulu! Hong-moi, jangan kau menuduh yang bukan-bukan.”

“Seorang pendekar sakti yang menggunakan kepandaiannya merayu untuk menjatuhkan hati seorang gadis dusun yang bodoh…”

“Heiii, aku tidak merayu gadis dusun she Ma itu. Dialah yang… ah, sudahlah. Hong-moi, mengapa engkau menuduhkan semua itu kepadaku?”

“Siapa menuduh? Aku hanya membicarakan kenyataan, bukan seperti engkau yang sebelum jelas perkaranya sudah menuduhku membunuh orang tak berdosa.”

“Hong-moi, aku mengaku salah. Aku memang tadinya menyangka engkau yang melakukan pembunuhan kejam itu terhadap gadis she Ma karena agaknya bukti-bukti tadinya menunjukkan demikian. Kiranya subomu yang melakukan hal itu den maafkanlah aku. Harap saja kesalahanku itu tidak menyakitkan hatimu terus sehingga engkau membenci dan menuduhku yang bukan-bukan.”

“Sekali lagi, aku tidak menuduh yang bukan-bukan. Apakah engkau hendak menyangkal bahwa engkau merayu seorang gadis dusun, kemudian engkau melupakan dia, bahkan menerima ikatan jodoh dengan gadis lain yang belum pernah kaulihat selamanya?”

“Ehhh…?” Bun Houw terbelalak dan tentu saja dia teringat kepada Yalima yang manis, yang ditinggalkannya di Tibet. Akan tetapi tidak mungkin In Hong tahu akan hal itu dan diapun tidak akan membicarakan hal itu dengan siapapun juga. Peristiwa dengan Yalima dianggapnya sudah lewat dan merupakan masa kanak-kanak baginya. Baru sekarang dia sadar bahwa sesungguhnya tidak ada ikatan cinta kasih di dalam batinnya terhadap gadis Tibet itu. Kalau toh akan dinamakan cinta, agaknya itulah cinta monyet, cinta remaja yang tidak mendalam, hanya karena saling tertarik oleh rupa dan karena biasa bergaul secara akrab saja. “Hong-moi, harap kau jangan menuduh yang bukan-bukan.”

“Sekali lagi, aku tidak menuduh yang bukan-bukan. Apakah engkau hendak menyangkal bahwa engkau merayu seorang gadis dusun, kemudian engkau melupakan dia, bahkan menerima ikatan jodoh dengan gadis lain yang belum pernah kaulihat selamanya?”

“Ehhh…?” Bun Houw terbelalak dan tentu saja dia teringat kepada Yalima yang manis, yang ditinggalkannya di Tibet. Akan tetapi tidak mungkin In Hong tahu akan hal itu dan diapun tidak akan membicarakan hal itu dengan siapapun juga. Peristiwa dengan Yalima dianggapnya sudah lewat dan merupakan masa kanak-kanak baginya. Baru sekarang dia sadar bahwa sesungguhnya tidak ada ikatan cinta kasih di dalam batinnya terhadap gadis Tibet itu. Kalau toh akan dinamakan cinta, agaknya itulah cinta monyet, cinta remaja yang tidak mendalam, hanya karena saling tertarik oleh rupa dan karena biasa bergaul secara akrab saja. “Hong-moi, harap kau jangan menuduh yang bukan-bukan.”

Sinar mata In Hong membayangkan rasa kemarahan dan penasaran. “Cia Bun Houw! Apakah kau berani menyangkal bahwa engkau melupakan gadis dusun dan secara tak tahu malu menerima ikatan jodoh dengan seorang gadis lain?” Wajah In Hong menjadi merah. Tentu saja dara ini merasa penasaran dan marah. Sudah jelas pemuda ini meninggalkan dan melupakan Yalima, lalu mengikatkan diri dengan dia sebagai calon isteri, dan sekarang pemuda ini hendak menyangkal.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: