Dewi Maut (Jilid ke-63)

Selain hidangan yang berlimpah-limpah dan tari-tarian serta nyanyian daerah yang diselenggerakan untuk menghibur para tamu, juga Sabutai mengadakan pertandingan silat dan gulat dengan hadiah-hadiah yang menarik. Hal ini dilakukan dengan harapan agar kelak puteranya menjadi seorang gagah perkasa, maka kelahirannya disambut dengan pertandingan-pertandingan ketangkasan, yaitu yang umum di antara mereka adalah silat terutama sekali gulat.

Banyak juga yang mendaftarkan diri untuk mengikuti pertandingan itu. Akan tetapi, Raja Sabutai kecewa melihat bahwa yang bertanding adalah orang-orang yang memiliki kepandaian biasa saja. Maka ketika menurut giliran maju seorang pegulat yang sudah cukup terkenal di antara para Suku Nomad, seorang pegulat yang tubuhnya seperti gajah, kokoh kuat dan kekar, berhadapan dengan seorang ahli silat bangsa Han di antara para tokoh perbatasan, Sabutai menjadi girang dan tertarik sekali.

“Akan kutambah hadiahnya!” dia berseru girang. “Siapa di antara kalian yang menang, selain hadiah yang telah disediakan untuk tiap pemenang, akan kutambah dengan sebuah hadiah lagi yang boleh dipilih oleh si pemenang di antara barang-barang sumbangan yang kuterima hari ini!” Dia menudingkan telunjuknya ke arah meja besar yang penuh dengan barang sumbangan yang ditumpuk di situ setelah dicatatkan satu demi satu oleh pembantu yang menerimanya. Tentu saja semua orang menjadi gembira dan tegang. Jarang dipertandingkan seorang ahli silat melawan seorang ahli gulat, dan kini timbullah pertaruhan-pertaruhan di antara mereka. Bagi yang belum mengenal kebiasaan mereka, tentu akan merasa heran mendengar betapa di antara para kepala Suku Nomad itu, selain mempertaruhkan kuda mereka yang terbaik, atau ternak mereka, juga ada yang mempertaruhkan anak perempuan mereka, bahkan ada pula yang mempertaruhkan isteri atau selir mereka!

Sabutai memandang penuh perhatian. Dia sudah mengenal jago gulat itu dan tahu akan ketangguhannya. Tentu saja bagi dia sendiri, jago gulat itu bukan apa-apa, karena dia tahu bahwa jago gulat itu hanya mengandalkan tenaga besar dan cara-cara meringkus dan melontarkan lawan, di samping memiliki tubuh yang kuat dan kebal seperti gajah. Akan tetapi yang menarik perhatiannya adalah ahli silat itu. Dia tidak mengenal tokoh-tokoh kang-ouw perbatasan ini secara dekat, dan melihat cara jago silat itu memasang kuda-kuda, dia maklum bahwa akan terjadi pertandingan yang seru dan menarik. Ahli silat itu mempunyai kuda-kuda yang kuat dan sikapnya begitu meyakinkan, dengan kedua lutut ditekuk seperti orang menunggang kuda, lengan kanan ditekuk di depan dada dengan tangan miring di depan dada, lengan kiri di depan pusar, juga ditekuk dan tangan kirinya miring di depan pusar. Dengan kuda-kuda seperti itu, maka bagian tubuh atas bawah telah terjaga rapat dan kedua tanganpun sudah siap untuk dipergunakan sewaktu-waktu melakukan penyerangan dari atas atau bawah.

Seorang wasit yang mewakili Raja Sabutai, yaitu seorang di antara panglimanya yang juga merupakan seorang ahli, baik dalam ilmu gulat maupun silat, memberi tanda dengan tangannya ke arah pembantunya yang segera membunyikan canang tanda dimulainya pertandingan itu. Si wasit lalu berdiri di sudut dan mulailah dua orang itu bergerak.

Memang menegangkan sekali pertandingan ini. Bukan seperti pertandingan antara dua orang jago gulat yang saling tubruk den saling cengkeram, bprusaha saling banting, mengandalkan ketepatan saat dan gerak reflex dibantu oleh penggunaan tenaga besar yang tepat pada waktunya, atau seperti pertandingan antara dua orang jago silat yang saling serang mengandalkan kecepatan den ketepatan pukulan atau tendangan, akan tetapi karena masing-masing menghadapi lawan yang memiliki kepandaian berbeda, mereka berdua menjadi hati-hati sekali. Si jago gulat berdiri dengan kedua lengan dikembangkan di kanan kiri tubuhnya, tangannya siap untuk menangkap atau mencengkeram di depan, kedua kakinya agak terpentang dan dia agak membungkuk, sikapnya seperti seekor orang hutan besar menghadapi lawan. Ke manapun lawan bergerak, dia memutar tubuh menghadapinya! Sedangkan si jago silat masih menanti-nanti saat yang tepat, memilih-milih sasaran untuk serangannya dan dia mengatur langkah, digesernya dan perlahan-lahan memutari tubuh si jago gulat dengan perlahan, merobah-robah kedudukan kedua tangannya sesuai dengan kedudukan kedua kakinya, apakah menghadapi lawan dengan miring ataukah langsung berhadapan.

“Hyaaaattt…!” Tiba-tibe si jago silat itu menyerang dari samping setelah dengan cepat dia melangkah ke samping kiri lawan, dengan pukulan cepat ke arah lambung.

“Hehhh!” Si jago gulat mengelak dan tangannya yang panjang mencengkeram ke arah rambut kepala lawan. Akan tetapi jago silat itupun sudah cepat melompat ke belakang menghindarkan diri, memutar tubuhnya dan menendang dari depan ke arah perut lawan.

“Dukkk!” Lengan yang besar itu menangkis dan ketika tangannya menyambar, kembali lawannya dapat menarik kaki sehingga sambaran itu luput.

Kembali ahli silat itu bergerak mengitari si ahli gulat yang tetap tenang, sama-sama mencari kesempatan. Tiba-tiba, sekali ini tanpa mengeluarkan teriakan, jago silat itu meloncat ke atas, kakinya melayang ke arah muka jago gulat itu dengan kerasnya. Jago gulat itu menghindarkan diri dengan elakan, akan tetapi dengan cepat sekali tangan kanan jago silat itu menghantam tengkuknya. Jago gulat yang melihat kecepatan ini kaget, dia miringkan tubuh mengelak, akan tetapi tetap saja pundaknya terkena pukulan.

“Bukkk!”

Dia terhuyung, akan tetapi pemukulnya juga cepat meloncat ke belakang karena tangannya bertemu dengan daging yang tebal dan keras! Karena berbesar hati telah dapat menghantam pundak, jago silat itu kini melakukan serangan bertubi-tubi dengan gerak cepat dan ternyata siasatnya berhasil baik. Berkali-kali dia dapat menggunakan kedua tangan atau kakinya untuk menghantam dan menendang lawan dan ada beberapa di antaranya yang mengenai tubuh lawan. Terdengar suara bak-bik-buk ketika pukulan-pukulan itu mengenai tubuh si jago gulat, akan tetapi pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan itu tidak merobohkan lawan, hanya membuat si jago gulat terhuyung.

Sorak-sorai dan tepuk tangan mulai terdengar, ada pula ejekan-ejekan terhadap si jago gulat, terutama mereka yang bertaruh memegang ahli silat itu. Tentu saja di depan Raja Sabutai, para tamu tidak berani bersikap melampaui batas, akan tetapi di dalam kesempatan seperti ini di tempat ini, bukan hal mustahil kalau gelanggang pertandingan menjadi gelanggang pertempuran antara para penjudi itu yang tentu saja dibela oleh anak buah masing-masing!

Pertandingan dilangsungkan terus dengan serunya. Jago silat itu telah berhasil memukul beberapa kali sehingga pukulan yang mengenai muka jago gulat itu membuat bibirnya pecah dan berdarah. Akan tetapi si ahli silat ketika menendang tulang kering kakinya bertemu dengan tulang kaki si jago guiat yang besar dan kuat, sehingga biarpun tulang kakinya yang kecil itu tidak patah, cukup mendatangkan rasa nyeri dan membuat dia agak terpincang!

Jago gulat itu menjadi marah sekali. Seperti seekor kerbau yang terluka, dia kini mulai aktip menyerang. Namun serangan-serangannya yang berupa cengkeraman dan tangkapan kedua tangan itu selalu dapat dialakkan oleh si jago silat yang lincah, selalu menubruk atau menangkap angin kosong belaka, dan sebagai jawabannya, tentu terdengar suara “Tak!” atau “Plak!” karena tangan jago silat itu berhasil memukul atau menampar. Kini lebih banyak darah lagi keluar ketika sebuah pukulan si jago silat tepat mengenai hidung si jago gulat sehingga muncratlah darah segar dari lubang hidung raksasa itu. Bagaikan serigala-serigala yang haus darah, para penonton berteriak-teriak penuh nafsu menjagoi pilihan masing-masing. Yang menjagoi ahli silat menjadi besar hati karena melihat jagonya lebih banyak membagi pukulan, sedangkan yang menjagoi si ahli gulat juga tidak putus harapan karena biarpun seringkali dipukul, si jago gulat yang kokoh kuat itu belum juga roboh, sedangkan si jago silat sebaliknya malah kelihatan lelah sekali. Hal ini karena si jago silat lebih banyak bergerak, sedangkan si jago gulat hanya berdiri dan bergerak sedikit sekali.

Setelah beberapa kali menerima hantaman den tendangan berturut-turut, tiba-tiba si jago gulat berhasil menangkap pergelangan lengan lawannya! Si jago silat meronta, namun percuma saja karena pegangan itu bukan main kuatnya. Karena maklum bahwa dia tidak akan mampu melepaskan diri, si jago silat lalu menggunakan sebelah tangannya lagi untuk menusuk mata lawan dengan jari tangan. Jago gulat itu miringkan mukanya, akan tetapi tetap saja pipinya kena ditusuk dan kembali darah mengucur.

“Haarrgghhh…!” Jago gulat mengeluarkan gerengan seperti seekor biruang. Dia maklum betapa bahayanya untuk terus memegang lengan lawannya itu, maka sekali dia merendahkan diri dan mengerahkan tenaga sambil memegang pinggang lawan, dia telah mengangkat tubuh si jago silat tinggi-tinggi di atas kepalanya. Terdengar pekik dan sorak-sorai menyambut kemenangan si jago gulat ini ketika tiba-tiba si jago gulat melontarkan tubuh jago silat yang tak berapa besar itu sehingga terlempar sampai jauh ke arah para tamu!

Jago silat itu berteriak kaget, maklum bahwa nyawanya terancam bahaya. Tubuhnya sudah tidak dapat dikuasainya lagi dan dia dilontarkan seperti peluru cepatnya, menimpa ke arah dua orang tamu yang duduk semeja di sudut yang agak sunyi. Akan tetapi, tiba-tiba seorang di antara dua tamu itu, yang berpakaian sederhana, berbangsa Han, bertubuh tinggi kurus dan bermata sipit, pakaiannya yang berwarna kuning itu penuh debu tanda bahwa dia telah melakukan perjalanan jauh, bangkit berdiri dan dengan tenangnya dia mengulur tangan kirinya den ketika tubuh si jago silat itu menimpa ke arah mejanya, dia menggerakkan tangan kirinya dan tahu-tahu tubuh itu mencelat ke atas mematahkan daya luncurnya, dan ketika turun kembali, disambutnya dengan tangan kiri dan si jago silat itu dapat turun dengan lunak dan sama sekali tidak terluka.

Si jago silat memandang pemuda berusia dua puluh tahun lebih yang berpakaian kuning sederhana itu dengan mata terbelalak, kemudian dia menjura sambil berkata perlahan, “Terima kasih,” dan berjalan terhuyung kembali ke tempatnya, disambut oleh penyesalan dan celaan teman-temannya yang merasa kecewa mengapa ahli silat yang sudah lebih banyak membagi pukulan itu sampai dapat terpegang kalah, dan lain-lain.

Sabutai bermata tajam sekali, dan dia mengenal orang pandai ketika melihat pemuda pakaian kuning tadi menerima tubuh si jago silat secara demikian mudahnya. Biarpun sebagian besar para tamu tidak tahu akan hal itu, namun dia sendiri mengerti bahwa orang yang memiliki sin-kang amat kuat saja yang akan mampu menyambut tubuh yang dilontarkan demikian kuatnya itu secara demikian rupa. Maka Sabutai lalu memberi perintah kepada seorang pengawalnya dan pengawal ini lalu cepat menghampiri dua orang tamu tadi tanpa diketahui orang lain.

Pengawal itu dengan suara perlahan menyampaikan perintah atau pesan Sabutai bahwa dua orang itu dipanggil menghadap Raja Sabutai itu karena hendak ditanya tentang suatu urusan penting sekali.

Dua orang pemuda itu saling pandang dan merasa girang karena memang kedatangan mereka di tempat ini adalah untuk bicara dengan Sabutai. Hanya kebetulan saja ketika mereka datang, tempat itu sedang penuh tamu karena Sabutai mengadakan pesta untuk merayakan kelahiran puteranya. Siapakah mereka itu? Tentu saja dari pakaian pemuda yang tadi secara mengagumkan menerima tubuh si jago silat, mudah diduga bahwa dia bukan lain adalah Tio Sun, sedangkan pemuda kedua yang berambut agak kuning keemasan sedangkan matanya agak biru itu bukan lain adalah Souw Kwi Beng atau Richardo de Gama! Seperti telah diceritakan di bagian depan, Tio Sun “ditangisi” oleh Kwi Beng agar pemuda ini suka menolongnya, yaitu untuk dapat menemaninya mencari In Hong yang dicinta oleh Kwi Beng dan untuk membantu perjodohannya dengan In Hong karena orang tuanya menyatakan tidak setuju. Sebetulnya, permintaan seperti ini jauh lebih berat daripada andaikata pemuda keturunan Portugis itu minta kepadanya membantu menghadapi musuh yang lihai. Akan tetapi, baru saja Tio Sun sendiri menderita “patah hati” karena ternyata gadis yang dicintanya, yang diam-diam dicintanya, yaitu Kwi Eng saudara kembar Kwi Beng, telah ditunangkan dengan Cia Bun Houw! Karena itu, dia merasa tidak tega kepada Kwi Beng dan dia memenuhi permintaan pemuda itu. Apalagi karena diapun ingin cepat-cepat menjauhi Kwi Eng sebelum luka di hatinya menjadi makin parah.

Mereka berdua pergi ke kota raja ketika mendengar bahwa Yap In Hong telah berada di kota raja, bahkan telah menjadi seorang puteri! Akan tetapi, seperti halnya Bun Houw yang datang ke kota raja, mereka mendengar akan peristiwa penculikan atas diri In Hong yang dilakukah oleh Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li. Tentu saja mereka menjadi terkejut bukan main dan karena Tio Sun pernah membantu Bun Houw dan Cia Keng Hong, maka dia sudah tahu ke mana harus mencari Sabutai. Menurut perkiraannya, kakek dan nenek yang menjadi guru Sabutai itu tentu berada bersama raja itu, maka dia lalu mengajak Kwi Beng untuk langsung pergi keluar tembok besar di utara dan mencari di mana adanya Sabutai dan kedua orang gurunya itu.

Inilah sebabnya mengapa dua orang muda itu kini berada di tempat pesta itu, dan secara tidak disengaja Tio Sun dapat menarik perhatian Sabutai sehingga kini dia dan Kwi Bang dipanggil oleh Sabutai yang tertarik menyaksikan kelihaian Tio Sun tadi.

Pertandingan masih berlangsung terus, akan tetapi Sabutai tidak memperhatikan lagi karena memang dianggapnya tidak begitu menarik. Dia kini dihadap oleh dua orang pemuda itu, dan dengan ramah Sabutai lalu menanyakan nama mereka, juga dia amat memperhatikan Kwi Beng yang matanya agak biru dan rambutnya agak keemasan itu.

“Nama saya Tio Sun dan sahabat saya ini bernama Souw Kwi Beng,” jawab Tio Sun setelah memberi hormat. “Karena kebetulan kami berdua lewat di sini dan mendengar akan perayaan yang diadakan oleh paduka di sini, maka kami lalu memberanikan diri datang menonton keramaian. Atas kelancangan ini, harap paduka sudi memaafkan kami.”

“Ahh…!” Sabutai makin tertarik karena ternyata bahwa pemuda itu amat hormat kepadanya dan pandai membawa diri. “Kami malah merasa girang dan beruntung menerima kedatangan ji-wi sicu yang pandai. Kalau boleh kami mengetahui, ji-wi hendak ke manakah dan ada keperluan apa sampai jauh-jauh ke tempat ini?”

“Kami berdua hendak mencari kedua locianpwe Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li,” kata Tio Sun dengan terang-terangan. Dia sudah mendengar bahwa Raja Sabutai ini sudah berbaik derigan kaisar, maka dia tidak khawatir memberitahukan maksud kedatangan mereka kepadanya. Apalagi karena mereka tadi tidak melihat adanya dua orang guru raja ini, bahkan ketika mereka bertanya-tanya kepada beberapa orang tamu, merekapun tidak ada yang tahu mengapa guru-guru raja itu tidak muncul di dalam pesta. Maka, terpaksa dia mengaku terus terang dengan harapan akan memperoleh keterangan dari raja ini.

“Ha…? Tahukah kalian siapakah dua orang tua yang kausebut tadi, Tio-sicu?” tanyanya, memandang dengan tertarik.

“Kami telah mendengar bahwa kedua locianpwe itu adalah guru-guru paduka. Oleh karena itulah maka sekalian kami mohon petunjuk paduka, di mana kami kiranya akan dapat bertemu dengan mereka.”

Sabutai menggeleng-geleng kepala dan memandang kagum. “Tio-sicu dan Souw-sicu, sungguh aku kagum sekali kepada kalian! Masih begitu muda sudah memiliki nyali harimau dan hati naga! Kalau tahu bahwa yang kalian cari itu adalah guru-guruku, akan tetapi kalian terang-terangan menanyakannya kepadaku, seolah-olah kalian berani menghadapi kami dengan bala tentara kami yang ribuan orang jumlahnya!”

Tio Sun menjura lagi dan berkata, “Adanya kami berdua berani datang ke sini, karena kami sudah mendengar akan nama paduka yang besar sebagai seorang yang dapat menghargai kegagahan.”

“Ha-ha, jangan kira kami tidak tahu akan maksud kedatangan kalian. Bukankah kalian mencari kedua orang guruku itu berhubung dengan diculiknya nona Yap In Hong?”

Tio Sun tidak terkejut mendengar ini karena dia sudah menduga akan kecerdikan Raja Sabutai. Akan tetapi Souw Kwi Beng terkejut sekali dan karena dia merasa bahwa “rahasia” mereka sudah ketahuan, maka dia segera berkata dengan gagah dan nyaring, “Benar! Nona Yap In Hong telah diculik dan kami sengaja datang mencari untuk menolongnya dan kalau perlu kami akan mengadu nyawa dengan para penculiknya, siapapun adanya mereka itu!”

Tio Sun kaget bukan main. Tak disangkanya bahwa pemuda itu akan mengeluarkan kata-kata yang begitu sembrono. Dia khawatir kalau-kalau Raja Sabutai menjadi marah dan berbahaya kalau begitu, maka dia cepat berkata, “Maafkan, sahabat saya ini amat mengkhawatirkan nona Yap yang amat dicintanya. Tentu paduka maklum…”

Memang tadinya muka Raja Sabutai sudah memperlihatkan kemarahan ketika mendengar kata-kata Kwi Beng, akan tetapi begitu mendengar ucapan Tio Sun, dia tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, apa yang tidak akan dilakukan oleh orang-orang muda yang mabok cinta! Lautan api akan ditempuhnya, barisan golok akan diterjangnya! Apakah kalian ini utusan pribadi kaisar untuk menyelamatkan nona Yap In Hong?”

Tio Sun cepat-cepat mendahului Kwi Beng. “Dapat dikata demikianlah, sri beginda. Ayah saya adalah seorang bekas pengawal yang amat setia dan karenanya, sayapun seorang yang selalu akan membela kaisar. Karena, nona Yap In Hong telah menjadi seorang puteri istana yang dipercaya oleh kaisar, maka tentu saja kaisar amat marah mendengar puteri itu diculik orang. Di antara banyak utusan kaisar yang mendapat perintah untuk mencari dan menyelamatkan nona Yap, termasuk kami berdua.”

Kwi Beng tentu saja merasa heran sekali mendengar ucapan ini. Mereka menjadi utusan kaisar? Heran dia mengapa Tio Sun harus membohong seperti itu. Dianggpanya perbuatan ini tidak bijaksana dan tidak gagah! Menunjukkan rasa takut dan hendak bersembunyi di balik nama kaisar. Akan tetapi dia segera mengerti ketika mendengar raja itu berkata, Ah, Kaisar Ceng Tung memang seorang yang mengenal budi! Aku telah memberitahu kepada beliau bahwa urusan culik?menculik ini sama sekali tidak ada sangkut?pautnya dengan aku, sungguhpun yang melakukannya adalah guru-guruku. Namun dalam hal ini, mereka berdiri sendiri, dan nanti kita bicarakan lebih lanjut tentang di mana kalian dapat bertemu dengan mereka, kalau kupandang kalian memang pantas untuk bertemu dengan mereka!” Sabutai lalu memerintahkan pelayan untuk menambah tendangan makanan dan arak, kemudian raja ini menjamu mereka. Ini merupakan suatu kehormatan yang besar sekali dan banyak pandang mata para tamu diarahkan ke meja itu dan menduga-duga siapa adanya dua orang muda yang tadinya diundang oleh Raja Sabutai dan kini mereka dijamu itu.

Setelah dua orang muda itu makan dan minum sampai kenyang, tiba-tiba terdengar sorak-sorai dan ternyata para tamu menyambut kemenangan seorang pegulat yang berkulit hitam, bertubuh seperti raksasa dan karena dia hanya mengenakan cawat saja maka kulit hitam yang berkeringat itu kelihatan berkilauan mengkilap. Nampak otot-otot membelit-belit seluruh tubuh yang amat kuat itu dan si pegulat hitam ini dinyatakan sebagai pemenang karena berturut-turut dia telah menangkan lima pertandingan dan kini dia mengangkat kedua tangan ke atas membuat isyarat menantang siapa lagi yang berani bertanding melawan dia di atas panggung!

Raja Sabutai memandang kepada pegulat hitam itu dan dia tersenyum. Dia mengenal pegulat itu yang berjuluk Biruang Hitam, seorang pegulat yang selain memiliki tenaga yang amat kuat, juga telah menguasai ilmu gulat dengan baiknya sehingga dalam hal ilmu gulat, dia sendiri akan sukar mengalahkan Biruang Hitam itu. Maka timbullah pikirannya untuk mempergunakan si Biruang Hitam itu menguji utusan Kaisar Ceng Tung ini.

“Tio-sicu, seperti kukatakan tadi, tidak sembarang orang dapat bertemu dengan kedua orang guruku itu. Apalagi menyelamatkan nona Yap In Hong! Hal itu merupakan tugas amat besar yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang pandai yang mempunyai tekad dan keberanian besar saja.”

“Kami berdua tidak berani mengaku sebagai orang-orang pandai, akan tetapi kalau paduka suka memberi tahu di mana kami dapat menjumpai locianpwe Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li, kami bertekad untuk menolong nona Yap In Hong dengan taruhan nyawa seperti yang dikatakan oleh adik Souw Kwi Beng tadi.”

“Ha-ha-ha, tidak begitu mudah, sicu. Untuk dapat berjumpa dengan kedua orang guruku itu sedikitnya harus mempunyai kepandaian seperti si Biruang Hitam itu. Nah, mampukah Tio-sicu menandingi dia?”

Tio Sun menoleh dan memandang ke arah raksasa hitam yang masih berdiri tegak dan memandang ke sekeliling menantang dengan sikap angkuh itu. Dia maklum bahwa betapapun juga, dia harus dapat meyakinkan hati raja ini agar dia dapat diberi petunjuk. Diapun sudah mendengar bahwa Sabutai paling suka nonton orang bertanding silat dan merasa simpati kepada orang yang pandai ilmu silat. Agaknya, tanpa memperlibatkan kepandaian, dia tidak akan bisa memperoleh petunjuk dari raja ini. Maka dia mengangguk dan berkata perlahan, “Akan saya coba untuk menandingi dia, sri baginda.”

Sabutai tertawa gembira dan dia bertepuk-tepuk tangan dengan keras sehingga semua orang menoleh kepadanya. Juga raksasa hitam itu cepat membalik ke arah Raja Sabutai dan memberi hormat.

“Saudara sekalian, kebetulan sekali ada seorang utusan dari selatan detang menghadiri pesta ini dan dialah yang sanggup untuk menandingi si Biruang Hitam!”

Mendengar ini, semua tamu bertepuk dan bersorak gembira. Tadi mereka sudah merasa khawatir bahwa pertunjukan adu silat dan gulat itu akan berakhir sampai di situ saja karena munculnya Biruang Hitam yang sudah berturut-turut mengalahkan lima orang lawan dan agaknya sudah tidak ada lagi yang berani maju. Maka mendengar bahwa ada utusan dari selatan yang hendak menandingi Biruang Hitam, tentu saja mereka menjadi gembira sekali, maklum bahwa mereka akan menyaksikan pertandingan yang hebat dan mungkin mati-matian karena jagoan dari selatan tentulah seorang ahli silat dan Biruang Hitam paling benci kepada orang selatan yang pandai silat!

“Nah, Tio-sicu, silakan,” kata Sabutai kepada Tio Sun.

Tio Sun bangkit, menjura kepada Sabutai dan memandang kepada Souw Kwi Beng. Pemuda ini mengerutkan alisnya dan berkata, “Tio-twako, hati-hatilah… dia kelihatan kuat sekali.”

Tio Swi mengangguk dan setelah sekali lagi menjura ke arah Sabutai, dengan langkah tenang dia lalu menghampiri panggung dan meloncat ke atas panggung, berhadapan dengan Biruang Hitam. Raksasa hitam ini menyeringai dan mengeluarkan suara menggereng seperti seekor biruang ketika melihat bahwa calon lawannya hanyalah seorang tinggi kurus dan berpakaian sebagai orang Han! Dia amat membenci orang Han, apalagi seorang Han yang pandai silat! Dan calon lawannya ini bertubuh kecil, terlalu kecil baginya! Tiga kali tubuh lawan ini dijadikan satu barulah sama dengan dia.

Tio Sun juga memandang lawannya dengan penuh perhatian. Seorang lawan yang berbahaya, pikirnya. Jelas bahwa Biruang Hitam ini mempunyai tenaga otot yang amat besar, mungkin lima kali lebih besar daripada tenaga manusia biasa. Dan kedua lengan yang hitam berbulu itu amat kuat dan panjang, dengan jari-jari tangan yang panjang dan yang dia dapat menduga tentu mempunyai kekuatan mencengkeram atau menangkap yang amat kuat. Celakalah kalau sampai kena dicengkeram oleh jari-jari tangan itu. Dia harus mengandalkan kecepatan gerakannya, karena betapapun kuatnya, raksasa hitam ini karena besarnya tubuh tentu lamban gerakannya dan dengan mengandalkan kegesitannya, mungkin dia akan menang. Pula, dia adalah putera seorang yang berjuluk Ban-kin-kwi (Iblis Bertenaga Selaksa Kati). Ayahnya, Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan, terkenal memiliki tenaga yang amat besar dan diapun telah mempelajari penghimpunan tenaga itu sehingga diapun merupakan seorang yang bertenaga besar. Namun, dalam hal tenaga luar, jelas bahwa dia tidak mungkin dapat menandingi raksasa di depannya itu.

“Aku telah siap!” katanya kepada raksasa itu yang kelihatan ragu-ragu. Agaknya Biruang Hitam itu mengerti maksud kata-katanya, karena dia segera mengeluarkan suara menggereng dahsyat dan kedua lengannya bergerak menyambar ke depan dari kanan kiri seperti terkaman seekor biruang yang marah.

“Wuuutttt…! Wuuutttt…!” Kedua tangannya yang lebar dengan jari-jari terbuka itu sampai mengeluarkan angin saking kuatnya dia menggerakkan kedua tangan dari kanan kiri yang mengadakan serangan cengkeraman itu. Namun dengan langkah ke belakang, Tio Sun dapat mengelak dengan mudah dan ketika raksasa hitam itu melanjutkan serangannya dengan menubruk ke depan, dia juga sudah dapat mengelak ke samping dengan lincahnya. Biruang Hitam menggereng marah dan kini dia menerjang lagi dengan pukulan kepalan tangan sebesar kepala Tio Sun sedangkan tangan kiri mencengkeram ke bawah, hendak menangkap kaki pendekar itu.

Kembali Tio Sun cepat mengelak dan dari samping dia sengaja memasang diri untuk ditubruk. Melihat betapa pemuda itu mengelak dengan tubuh terhuyuhg, si raksasa menjadi girang dan cepat dia menubruk dengan kedua lengan terpentang untuk mencegah pemuda itu mengelak ke kanan atau ke kiri. Memang ini yang dikehendaki oleh Tio Sun. Melihat betapa dada itu “terbuka”, secepat kilat dia menghantam dengan tangan kanannya sambil mengerahkan tenaga dengan maksud membuat raksasa itu roboh dengan satu kali pukulan.

Tentu saja gerakan Tio Sun ini amat cepatnya sehingga tidak tersangka-sangka oleh si Biruang Hitam yang lamban, maka sebelum dia tahu apa yang terjadi, dadanya sudah kena dipukul lawan.

“Bukkk!”

Pukulan yang keras bukan main mendarat di dada yang bidang itu. Akan tetapi akibatnya bukan tubuh tinggi besar itu yang roboh terjengkang, sebaliknya malah tubuh Tio Sun sendiri terdorong ke belakang dengan kerasnya! Pukulannya yang mengenai dada itu seolah-olah memukul bola karet yang amat kuat sehingga membalik dan akibatnya dia yang mencelat ke belakang dan tentu dia akan roboh terbanting kalau saja dia tidak cepat berjungkir balik sampai bersalto tiga kali ke belakang, baru dia dapat turun ke atas papan panggung dengan baik.

Sorak-sorai menyambut peristiwa ini karena semua orang melihat betapa si raksasa kena pukulan keras namun yang terlempar malah yang memukul! Si Biruang Hitam tertawa bergelak dan sudah maju lagi dengan kedua lengan dikembangkan, persis seperti seekor biruang yang berjalan dengan dua kaki belakangnya, hidungnya mendengus-dengus dan bibirnya yang tebal itu menyeringai.

Souw Kwi Beng yang melihat ini menjadi gelisah bukan main dan diam-diam dia meraba ke pinggangnya di mana terselip sebuah pistol kecil. Perbuatannya ini tidak terlepas dari pandang mata Raja Sabutai yang hanya tersenyum-senyum menonton pertandingan di atas panggung itu.

Semua mata ditujukan ke atas panggung dan semua jantung berdebar tegang melihat raksasa hitam itu kini telah menghampiri Tio Sun yang mundur-mundur dan memandang dengan sikap waspada sampai akhirnya pendekar itu tersudut. Biruang Hitam menggereng dan menubruk lagi, namun Tio Sun jauh lebih cepat, tubuhnya telah menyelinap melalui bawah lengan kiri lawan dan dia sudah melesat ke belakang raksasa itu. Biruang Hitam membalik dan menubruk lagi, kedua lengan yang panjang itu menyambar-nyambar ganas, namun selalu dapat dielakkan oleb Tio Sun yang mengasah otak bagaimana dia dapat merobohkan Biruang Hitam yang amat kuat dan tubuhnya kebal ini. Mungkin dia tadi kurang mengerahkan tenaga, pikirnya. Setelah memperhitungkan dengan masak-masak, untuk kesekian kalinya kembali dia mengelak ketika Biruang Hitam itu menubruk, akan tetapi sekali ini dia menggunakan gin-kangnya, mengelak sambil meloncat ke atas, kemudian sebelum lawan membalik, dari atas dia telah menghantamkan kedua kakinya ke tengkuk lawan.

“Bresss!” Kembali tubuh Tio Sun terlempar akan tetapi dia dapat melayang turun sedangkan Biruang Hitam kini terhuyung ke depan. Tio Sun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, cepat dia mengerahkan tenaga pada kedua tangannya dan menghantam dari belakang ke arah punggung dan lambung lawan.

“Bukk! Desss!”

Hantaman-hantaman itu hebat bukan main dan lawan biasa tentu akan roboh dan tewas. Akan tetapi Biruang Hitam memang kuat bukan main seolah-olah tubuhnya dilindungi oleh karet yang tebal. Dia tidak roboh, bahkan dia berhasil membalik dan meraih sehingga pundak Tio Sun kena dicengkeram oleh jari-jari tangan yang panjang dan kuat itu. Tentu saja Tio Sun yang tidak mengira sama sekali bahwa lawan tidak roboh, bahkan terguncangpun tidak oleh dua pukulannya tadi, terkejut ketika tahu-tahu pundaknya dicengkeram. Bukan main nyerinya, seolah-olah tulang pundaknya akan hancur oleh jari-jari tangan yang kuat itu. Maka dia cepat mengerahkah ilmu melemaskan badan, semacam Ilmu Jiu-kut-kang, membuat kulit pundaknya licin seperti belut dan dengan gerakan lincah dia merenggutkan tubuhnya dan meloncat mundur.

“Breetttt…!” Pundaknya terlepas dari cengkeraman akan tetapi baju di pundak itu robek dan hancur di tangan Biruang Hitam yang tertawa-tawa.

Tio Sun terkejut. Kiranya lawan ini lebih hebat daripada yang disangkanya. Timbul kemarahannya. Tadinya, dia hanya ingin mengalahkan lawan ini tanpa melukainya, karena dia memang tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan siapa juga di tempat itu. Akan tetapi pendekar ini maklum bahwa kalau dia tidak sungguh-sungguh dan berhati-hati dia sendiri bisa celaka, bahkan mungkin saja bisa tewas oleh manusia raksasa yang bertenaga gajah dan cara berkelahinya buas seperti harimau ini.

Di antara para tamu sudah ramai orang mengadakan pertaruhan pula, taruhan yang berjumlah tinggi dan tentu saja raksasa hitam itu menjadi jagoan unggul sehingga yang bertaruh atas diri Biruang Hitam berani mempertaruhkan isterinya untuk selir seorang lawan bertaruh! Ini berarti bahwa dia sudah yakin akan kemenangan Biruang Hitam. Akan tetapi hanya sebentar mereka yang bertaruh ini ramai menambah taruhan mereka karena seluruh perhatian mereka segera dicurghkan lagi ke atas panggung di mana Biruang Hitam sudah menghujani serangan kepada Tio Sun yang kembali hanya mengelak ke sana-sini mengandalkan kelincahan tubuhnya. Makin lama, Birulang Hitam menjadi makin marah karena semua pukulan, tendangan dan cengkeramannya hanya mengenai tempat kQsong belaka. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya akan tetapi tenaganya tidak menjadi kendur, bahkan dia makin bersemangat karena terdorong oleh kemarahannya.

Souw Kwi Beng yang menonton pertandingan itu kini bernapas lega. Tahulah dia bahwa kini Tio Sun berhati-hati sekali dan berganti siasat, mengandalkan kecepatan gerakannya untuk menghabiskan tenaga lawan. Dan melihat betapa lamban gerakan Biruang Hitam yang amat kuat itu, dia tidak khawatir bahwa Tio Sun akan dapat tertangkap lagi seperti tadi. Dugaannya ini memang benar. Tio Sun yang maklum akan berbahayanya apabila sampai dirinya tertangkap lawan menggunakan gin-kangnya dan dengan mudah dia mengelak terus sambil menanti datangnya kesempatan.

Kesempatan itu tiba selagi si Biruang Hitam menghentikan serangan dan menghapus keringatnya yang menetes dari dahi memasuki matanya. Saat itu Tio Sun memekik keras dan tubuhnya berkelebat, dengan jari tangan terbuka dia menampar ke arah muka lawan.

“Plakkk!” Hantaman telapak tangannya sengaja dijatuhkan ke atas hidung Biruang Hitam itu.

“Currr…!” Darah segar muncrat dari dalam hidung Biruang Hitam. Betapapun kebalnya, tidak mungkin bagi raksasa ini untuk membikin kebal hidungnya maka begitu kena dihantam dengan keras, darahnya mengucur.

“Oauurrgghh…!” Dia menggereng seperti binatang terluka dan mengamuklah Biruang Hitam. Dengan membabi buta dia menyerang sambil menggereng dan mendengus-dengus penuh kemarahan. Kalau saja kedua tangannya yang besar itu berhasil menangkap tubuh Tio Sun, tentu tubuh itu akan dicabik-cabik, tulang-tulangnya akan dipatah-patahkan dan otot-ototnya akan dicabuti! Namun Tio Sun tidak membiarkan dirinya disentuh, terus dia berkelebatan dan meloncat ke sana-sini untuk menghindarkan diri dari semua terkaman dan selain mengelak, juga dia selalu menggunakan setiap kesempatan untuk menghantam bagian-bagian yang dianggapnya tidak kebal.

“Plakkk!” Kini telinga kiri raksasa itu digaplok keras sekali. Tubuh raksasa itu terputar karena dia merasa kepalanya pening dan ada suara mengiang-ngiang memenuhi telinganya. Rasa nyeri membuat dia mengeluh dan menggereng, lalu menyerang lagi. Tio Sun mengelak menjauhi, kemudian ketika raksasa itu menubruk, dia melompat ke samping dan dari samping kakinya melayang ke bawah pusar, ke bagian tubuh yang paling penting dan berbahaya bagi seorang pria.

“Dukkk!” Tio Sun meringis dan menarik kembali kakinya yang merasa nyeri. Kakinya bertemu dengan benda yang keras seperti besi! Mungkinkah anggauta kelamin si Biruang Hitam ini sudah mengeras seperti besi? Tidak mungkin! Dan Tio Sun mengerti bahwa tentu di bawah cawat itu dipasangi alat pelindung dari besi.

Biruang Hitam menubruk dan kembali Tio Sun mengelak, kini memukul lagi ke arah telinga kanan.

“Plakkk!” Kembali tubuh itu terputar-putar dan kini tiba saatnya bagi Tio Sun untuk menghajar lawannya dan dia mengerahkan tamparan-tamparan pada kedua telinga, hidung, dan mata. Mulailah para tamu yang menjagoi pendekar ini bersorak-sorak dan tubuh Biruang Hitam kini sudah mulai lemah. Dengan kecepatan kilat, Tio Sun yang melihat kelemahan lawan, cepat menggunakan dua jari tangan menotok. Tadi, selagi lawan amat kuat, dia khawatir totokannya akan tidak mampu menembus kekebalan. Kini, setelah lawannya mulai lemah, dia mengerahkan tenaga dan dengan mudah dia menotok kedua pundak lawan yang telanjang tepat mengenai jalan darah dan dua lengan panjang itu kini tergantung lumpuh!

Tio Sun yang juga merasa lelah dan penasaran, lalu memperlihatkan tenaganya. Setelah kedua tangan yang berbahaya itu dibikin lumpuh, dia berani menerjang maju, menendang lutut lawan sehingga tubuh tinggi besar itu terguling, seperti kilat dia menangkap pinggang orang itu, mengerahkan tenaga dan mengangkat tubuh reksasa itu dengan kedua tangannya ke atas kepala dan melemparkannya ke bawah panggung. Tubuh raksasa itu jatuh berdebuk di atas tanah di luar panggung dan rebah pingsan di situ!

Sorak-sorai memenuhi tempat itu menyambut kemenangan Tio Sun dan wajah mereka yang menang bertaruh berseri-seri dan mereka membayangkan kesenangan-kesenangan yang didapatkan atas kemenangan itu. Raja Sabutai bangkit dari tempat duduknya ketika Tio Sun kembali ke situ, dan sambil mengangguk-angguk, Sabutai memuji, “Sungguh Tio-sicu amat lihai!”

Tio Sun menjura. “Biruang Hitam itu kuat sekali dan hanya kebetulan saja saya dapat mengalahkan dia.” Lalu dia menatap wajah raja itu tajam-tajam sambil berkata, “Saya harap sekarang paduka suka memberi petunjuk di mana adanya…”

“Nanti dulu, sicu. Duduklah. Pasta belum berakhir. Kepandaian Tio-sicu sudah kami saksikan dan memang sicu seorang yang memiliki kepandaian hebat. Akan tetapi kami belum melihat kepandaian Souw-sicu.”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: