Pendekar Sadis (Jilid ke-34)

“Baik, ayah,” jawab Han Tiong yang diam-diam merasa prihatin sekali. Dia tahu bahwa hati adiknya itu hancur, bukan hanya oleh kematian keluarga Ciu, akan tetapi juga karena patah hati. Adiknya itu mencinta Lian Hong, dan melihat kenyataan betapa Lian Hong dijodohkan dengan dia tentu saja hati Thian Sin menjadi sakit. Biarlah dia tidak perlu menceritakan hal itu kepada ayah bundanya, dan kelak, kalau Lian Hong sudah dapat ditemukan, baru dia akan bicara tentang hal ini kepada ayah bundanya. Kalau perlu, dia akah mengalah dan mundur, membiarkan Thian Sin berbahagia di samping Lian Hong. Tentu saja kalau gadis itu memang menghendakinya, yang penting sekarang adalah menemukan dara itu.

Tiga hari kemudian, barulah Han Tiong berangkat, dibekali cukup uang dan nasihat-nasibat oleh ayah bundanya yang mengantar kepergiannya dengan pandang mata prihatin. Dan karena Han Tiong sendiri tidak tahu di mana adanya Lian Hong atau ke mana perginya, maka satu-satunya jalan baginya hanyalah mengunjungi Lok-yang kembali, atau setidaknya dia akan mencari di sekitar daerah Propinsi Ho-nan.

Memang tepat dugaan Han Tiong. Thian Sin nekat malam itu minggat meninggalkan Lembah Naga karena patah hati! Dia tidak merasa perlu lagi tinggal di Lembah Naga. Untuk apa? Lian Hong sudah menjadi calon isteri kakaknya, dan malah dia tidak boleh membantu kakaknya mencari dara itu! Kalau dia tinggal di Lembah Naga, setiap hari dia hanya akan menyesali dirinya sendiri saja. Tidak, dia harus pergi! Dia harus mempelajari ilmu-ilmu peninggalan ayahnya. Dia memang putera kandung Pangeran Ceng Han Houw yang dicap pemberontak. Dia memang anak orang jahat, dan sekarang dia telah menjadi pemberontak pula setelah dia membunuh pasukan pemerintah. Biarlah dia hidup sendiri dengan segala kejelekannya. Dan dia akan membalas dendam kematian keluarga Ciu, juga dendamnya sendiri. Telah terlalu sering hatinya dibikin sakit oleh para penjahat dan betape dia selama ini selalu menahan-nahan dendamnya. Beberapa kali dia harus merasa kecewa dalam hidupnya. Ayahnya dan ibunya dibunuh orang, dan karena teringat bahwa ayah bundanya dibunuh oleh para pasukan pemerintah itulah maka dia malam itu mengamuk dan membunuhi para prajurit itu dengan penuh kebencian, bukan semata-mata karena ingin membela keluarga Ciu. Berapa kali dia patah hati karena putus cinta. Pertama dengan Cu Ing yang dipisahkan darinya dengan paksa. Ke dua, dia kehilangan Loa Hwi Leng yang terbunuh oleh orang-orang Jeng-hwa-pang. Dia sakit hati dan mendendam kepada banyak orang! Kepada pasukan kerajaan yang membunuh orang tuanya dan membunuh keluarga Ciu, kepada Raja Agahai pamannya di utara yang ikut pula mencelakakan orang tuanya, kepada Jeng-hwa-pang, kepada See-thian-ong, kepada Lam-sin, Pak-san-kui dan masih banyak lagi, dan pendeknya, kepada semua penjahat di dunia ini!

“Aku akan basmi mereka!” berkali-kali dia berkata ketika dia lari di malam hari itu, menuju ke selatan dan dengan cerdik dia mengambil jalan liar, bukan jalan umum karena dia tahu bahwa mungkin sekali kakaknya akan menyusul dan mencarinya. Dia harus pandai menyembunyikan diri dan tidak sampai berjumpa dengan kakaknya, karena dia tahu bahwa kalau sampai dia berhadapan muka dengan Han Tiong, dia tidak mungkin dapat membantah lagi kalau kakaknya itu mengajaknya pulang.

Sekali ini, kepergiannya memang sudah direncanakan sejak dia pulang dan menghadap ayah angkatnya bersama Han Tiong. Maka dia tidak lupa membawa kitab-kitab peninggalan ayahnya. Selama ini dia belum sempat mempelajarinya, karena ayah angkatnya melarangnya. “Ilmu milik mendiang ayah kandungmu memang hebat, Thian Sin, akan tetapi sayang, ilmu itu mengandung pengaruh yang amat tidak baik. Sifat ayahmu banyak dipengaruhi oleh ilmu-ilmunya itulah.” Demikian ayah angkatnya berkata dan selama ini dia mentaati dan tidak pernah menyentuh kitab-kitab itu. Akan tetapi, kini die membawa kitab-kitab itu dan dia harus mempelajarinya. Dia sudah pernah membalik-balik lembarannya dan dapat mengerti dengan mudah. Juga kunci-kunci rahasia kitab itu masih diingatnya baik. Kitab-kitab tulisan ayah kandungnya itu memang mengandung rahasia-rahasia yang hanya depat dipecahkan olehnya, dengan menggunakan kunci-kunci rahasia yang pernah diajarkan ayahnya kepadanya.

Pertama-tama dia akan mencari Pak-san-kui. Datuk kaum sesat ini adalah ayah Siangkoan Wi Hong dan sekarang, tanpa adanya Han Tiong di sampingnya, dia akan menghajar Siangkoan Wi Hong dan akan membunuhnya! Juga dia akan menantang Pak-san-kui yang sudah mengirim anak buahnya ikut mengeroyok dan membunuh keluarga Ciu Khai Sun. Dia sudah banyak mendengar tentang Pak-san-kui, bahkan ayah angkatnya sudah banyak bercerita tentang datuk kaum sesat di daerah utara ini. Dia tahu bahwa Pak-san-kui tinggal di kota Tai-goan, di Propinsi Shan-si dan ke sanalah dia kini menuju.

Pade saat itu, Ceng Thian Shin telah berusia sembilan belas tahun. Wajahnya memang tampan sekali, gerak-geriknya halus. Dilihat sepintas lalu saja, dia lebih pantas menjadi seorang pemuda pelajar yang lemah. Siapa mengira bahwa pemuda ini menyembunyikan ilmu silat yang amat hebat, banyak macam ilmu silat tinggi dikuasainya dan dia merupakan seorang pendekar sakti yang amat lihai. Pedang Gin-hwa-kiam pemberian neneknya disembunyikannya di balik jubahnya dan dia melakukan perjalanan cepat menyusup-nyusup hutan, naik bukit dan menuruni jurang, mengambil jalan liar agar tidak sampai dapat disusul oleh kakaknya.

Pak-san-kui adalah seorang kakek yang usianya sudah enam puluh tahun lebih, hampir tujuh puluh tahun malah, dan dia memang diakui sebagai datuk oleh kaum sesat atau golongan hitam di deerah utara. Namanya adalah Siangkoan Tiang dan di kota Tai-goan di mana dia hidup sebagai seorang hartawan besar, dia lebih dikenal sebagai Siangkoan-wangwe (hartawan Siangkoan). Rumah gedungnya besar seperti istana, dikelilingi pagar tembok yang tebal seperti benteng dan di depan pintu gerbangnya selalu terdapat penjaga-penjaga yang berpakaian seragam kuning, pakaian ahli-ahli silat yang gagah. Pak-san-kui Siangkoan Tiang ini tidak seperti para datuk lainnya, tidak mempunyai perkumpulan yang dipimpinnya. Akan tetapi jangan dikira bahwa dia tidak mempunyai anak buah! Dia mempunyai tidak kurang dari lima puluh orang anak buah yang menjadi pesuruh-pesuruh atau tukang-tukang pukulnya yang rata-rata memiliki ilmu silat lumayan karena tentu saja sebagai seorang datuk, Pak-san-kui tidak sudi mempunyai anak buah yang lemah! Dan biarpun dia tidak mempunyal perkumpulan dan tidak membuka perguruan, namun dia mempunyai kurang lebih sepuluh orang anak buah yang dipilihnya dari semua anak buahnya, yang merupakan orang-orang berbakat, lalu mengambil mereka sebagai muridnya. Sebagian besar dari anak-anak buah itu adalah bekas-bekas penjahat di daerah utara yang takluk kepada datuk ini. Murid-murid kepala yang paling diandalkan oleh Pak-san-kui adalah Pak-thian Sam-liong, tiga orang kakek berusia lima puluh tahun yang terkenal dengan ilmu gabungan mereka, yaitu Sha-kak-tin (Barisan Segi Tiga). Pakaian tiga orang murid kepala inipun ringkas dan gagah, berwarna putih-putih dengan sabuk biru dan kemanapun mereka pergi, tiga orang ini selalu membawa pedang di punggung mereka.

Di bawah murid kepala ini, terdapat beberapa orang murid lagi yang cukup tangguh dan mereka semua inilah pelaksana-pelaksana yang mewakili Pak-san-kui dalam berurusan dengan segala golongan di daerah utara. Pak-san-kui bukan hanya terkenal kaya rayag, akan tetapi dia juga mempunyai hubungan yang amat erat dengan para pembesar di kota-kota, sampai di kota raja! Pengaruhnya luas sekali dan dialah, atau setidaknya murid-muridnya yang dipercayalah, yang menjadi semacam jembatan bagi setiap orang yang memerlukan bantuan para pembesar itu. Melalui Pak-san-kui maka pembesar itu suka memberi jasa-jasa baik terhadap para pedagang, para hartawan yang membutuhkan bantuan pembesar-pembesar itu dengan imbalan yang cukup besar. Dan semua hubungan itu melalui Pak-san-kui! Tentu saja sebagai jembatan, Pak-san-kui memperoleh tanda terima kasih dari kedua fihak. Selain itu, juga Pak-san-kui telah menundukkan semua gerombolan penjahat sehingga dari mereka inipun dia memperoleh banyak sumbangan sebagai tanda takluk. Bahkan semua rumah judi, rumah pelacuran, dan rumah pemadatan yang besar-besar, berada di bawah kekuasaan Pak-san-kui. Maka tidaklah mengherankan kalau pengaruhnya besar dan kekayaannya makin lama semakin besar juga.

Seperti telah kita kenal, hartawan ini mempunyai seorang putera saja, yaitu Siangkoan Wi Hong yang tampan, halus dan pandai main musik, bersajak, akan tetapi juga lihai ilmu silatnya itu. Jarang ada orang sempat menyaksikan ilmu silat kakek hartawan ini. Akan tetapi didesas-desuskan bahwa kepandaiannya seperti malaikat, dan huncwe panjang bergagang emas yang selalu dibawanya ke mana-mana itu merupakan senjata yant amat awnpuh. Dan hartawan ini memang lebih patut menjadi hartawan daripada ahli silat tinggi, karena tubuhnya yang jangkung, wajahnya yang terpelihara baik-baik dan tampan, sikapnya yang ramah, pakaiannya yang mewah, semua itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia adalah seorang datuk yang sakti.

Amat mudah bagi Thian Sin untuk menemukan rumah gedung Pak-san-kui di kota Tai-goan itu. Setiap orang, siapapun juga yang ditanyainya, tentu tahu di mana letak rumah gedung itu walaupun orang lebih mengenal Pak-san-kui sebagai Siangkoan-wangwe. Tadinya Thian Sin sendiri bingung melihat yang ditanya tentang Pak-san-kui tidak tahu, akan tetapi ketika pemilik restoran di mana dia makan mendengar disebutnya Pak-san-kui, dia cepat berkata bahwa yang dicari pemuda itu tentulah Siangkoan-wangwe. Dan Thian Sin segera membenarkan karena dia teringat bahwa nama putera Pak-san-kui adalah Siangkoan Wi Hong.

“Ya, benar. Siangkoan-wangwe, di mana rumahnya?” Semua orang dengan cepat memberi keterangan di mana adanya rumah gedung hartawan itu, dan di luar tahunya Thian Sin, pemilik restoran diam-diam telah mengutus seorang pegawainya untuk memperingatkan kepada hartawan itu atau anak buahnya bahwa ada seorang pemuda tampan asing yang mencarinya. Mudah diketahui bahwa pemuda yang mencari itu tentulah seorang asing yang datang dari jauh, pertama karena logat bicaranya berbeda, ke dua, kalau pemuda itu orang daerah Tai-goan, tak mungkin tidak tahu di mana adanya rumah Siangkoan-wangwe!

Karena adanya laporan inilah maka ketika Thian Sin berhadapan dengan para penjaga pintu gerbang rumah gedung yang berpakaian serba kuning itu dan mendengar bahwa dia minta berjumpa dengan Siangkoan-wangwe, dia dipersilakan memasuki pintu gerbang, akan tetapi begitu dia masuk, daun pintu gerbang dari besi itu ditutup rapat dan dia telah dikurung oleh beberapa orang penjaga yang membawa tombak dan golok!

Thian Sin bersikap tenang sekali. Setelah kini merantau seorang diri dan seorang diri pula menghadapi bahaya, dia bersikap tenang. Dia tahu bahwa dia telah berani memasuki gua macan, oleh karena itu dia tidak mau menuruti perasaan hatinya. Dia sudah memperoleh pelajaran pahit dan sekarang dia harus bersikap cerdik. Dia bukan seorang tolol yang nekat mencari mati dengen menantang Pak-san-kui begitu saja. Dia harus pandai bersiasat. Maka, dikepung oleh beberapa orang yang berpakaian kuning itu, dia tersenyum saja.

“Hemm, beginikah caranya Pak-san-kui yang terkenal itu menyambut seorang tamu yang hendak bertemu dengannya? Menyambut dengan pengeroyokan seperti sikap seorang tukang pukul murahan saja?” katanya mengejek dan sengaja menaikkan nada suaranya, agar terdengar oleh orang-orang yang berada di dalam gedung besar itu!

Dan pancingannya itu memang berhasil. Dari dalam gedung muncullah seorang pemuda tampan yang membawa yang-kim, dan bukan lain dia adalah Siangkoan Wi Hong. “Aha, kiranya si pemberontak berani muncul di sini!” kata Siangkoan Wi Hong dengan suara mengejek, akan tetapi dia tersenyum dan memandang kepada Thian Sin dengan sinar mata menunjukkan kekagumannya. Memang putera Pak-san-kui ini merasa kagum kepada Thian Sin yang dianggapnya seorang pemuda yang pandai bersajak, penuh keberanian, dan mempunyai ilmu kepandaian hebat. Dia sendiri harus mengakui bahwa dia tidak mampu menandingi putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw ini!

Melihat munculnya putera Pak-san-kui itu, Thian Sin tersenyum pula dan membungkuk. “Nah, kalau puteranya yang keluar menyambut masih mendingan! Siangkoan-kongcu, jangan sembarangan bicara tentang pemberontak, nanti engkau bisa mendapat marah dari ayahmu. Ada banyak macam pemberontak di dunia ini dan yang palong berhahaya adalah para pemberontak yang bersembunyi dan tidak melakukan pemberontakannya secara berterang!” Thian Sin teringat akan pengakuan Phoa-taijin, maka dia berani menyindir dengan kata-kata itu. Dia merasa yakin bahwa datuk utara, ayah dari pemuda di depannya ini tentu bersekutu dengan orang-orang Mancu yang merencanakan pemberontakan.

“Bocah sombong! Engkau telah berani memberontak dan mengacau di Lok-yang dan Su-couw, dan sekarang berani muncul di sini, menjual lagak? Tangkap dia!” bentak Siangkow-kongcu yang sudah meloncat maju. Beberapa orang penjaga sudah mengurung pula, siap untuk menyerang Thian Sin yang sudah terkurung di tengah-tengah. Akan tetapi Thian Sin bersikap tenang dan masih tersenyum, sama sekali tidak kelihatan gentar.

“Aku tidak percaya bahwa Siangkoan Wi Hong, putera tunggal Pak-san-kui yang terkenal lihai itu kini hendak mengandalkan pengeroyokan anak buahnya yang tidak berarti untuk menyambut seorang tamu yang hendak bicara!”

Ucapan ini membuat Siangkoan Wi Hong meragu. Kalau dia melanjutkan pengeroyokan, sungguh sama saja dengan menjatuhkan namanya sendiri di depan mata para anak buahnya! Akan tetapi, pada saat itu, terdengar suara tertawa dari dalam gedung dan tiba-tiba saja muncul seorang kakek bertubuh jangkung yang memegang sebatang huncwe panjang.

Biarpun selama hidupnya belum pernah berjumpa dengan Pak-san-kui, akan tetapi Thian Sin sudah memperoleh gambaran tentang datuk ini dari kakaknya yang pernah bertemu ketika masih kecil, maka begitu kakek itu muncul, dia sudah dapat menduganya dan cepat dia menjura dengan sikap hormat, menyembunyikan kebencian hatinya di balik senyum ramah.

“Siangkoan-locianpwe suka keluar sendiri, ini berarti suatu kehormatan besar begiku!” katanya sambil memberi hormat.

Kakek itu tertawa dan matanya terbelalak kagum. “Inikah putera Pangeran Ceng Han Houw yang telah membikin geger dan telah membuntungi orang she Phoa itu? Ha-ha-ha, sungguh pentas menjadi putera pangeran yang pernah merebut gelar Jagoan Nomor Satu di dunia! Hei, Ceng Thian Sin, engkau sungguh menyenangkan sekali, tepat seperti yang telah diceritakan oleh puteraku. Mari, mari, kita ke lian-bu-thia karena sebelum bicara lebih lanjut aku ingin sekali menguji kepandaianmu.”

Thian Sin menyembunyikan kekhawatirannya. Dia tahu bahwa dia berada di tempat berbahaya, dan sekali masuk, entah dia akan dapat keluar lagi atau tidak. Maka sambil tersenyum diapun berkata, “Saya sama sekali tidak dapat percaya bahwa seorang datuk seperti Siangkoan-locianpwe akan sudi untuk menjebak dan mencelakai seorang pemuda tanpa nama seperti saya ini!”

Kakek itu menghembuskan asap dari pipa tembakaunya dan tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, berani dan lihai dan cerdik pula! Orang muda, apa kaukira kau akan mampu lolos dari jangkauan huncweku kalau aku menghendaki nyawamu? Perlu apa aku mesti pakai menjebak seperti perbuatan seorang pengecut? Masuklah dan aku sendiri menjamin bahwa tidak akan ada yang mengganggumu, apalagi menjebakmu. Kita adalah orang-orang segolongan, atau setidaknya, mendiang Pangeran Ceng Han Houw andaikata sekarang masih hidup, tentu merupakan seorang sahabatku yang paling baik.”

Lega rasa hati Thian Sin. Ternyata siasatnya ketika dia bicara tentang pemberontakan sambil menyinggung keadaan Pak-san-kui tadi berhasil. Kakek itu tidak akan memusuhinya, bahkan agaknya, melihat sikapnya, akan menariknya sebagai sekutu atau sahabat. Baik, dia akan melihat keadaan dan tidak akan terburu nafsu membalas dendam kematian keluarga Ciu. Sekarang dia tidak mempunyai siapapun juga, maka dia harus pandai menjaga diri sendiri dan berlaku cerdik.

“Baiklah, locianpwe, aku percaya penuh kepada ucapan seorang besar seperti locianpwe.” Dan dengan sikap tenang diapun melangkah masuk mengikuti kakek itu. Di belakangnya berjalan Siangkoan Wi Hong yang juga amat kagum kepada pemuda remaja ini.

Lian-bu-thia itu luas sekali, dindingnya putih bersih dan dihias tulisan-tulisan yang bergaya gagah. Di sudut ruangan itu terdapat sebuah rak senjata yang penuh dengan senjata-senjata selengkapnya. Juga terdapat alat-alat untuk latihan silat, bahkan ada patok-patok bunga bwee untuk latihan kuda-kuda dan langkah-langkah silat, ada karung-karung terisi bubuk pasir dan bubuk besi untuk latihan mengeraskan tangan dan sebagainya. Hawa dalam ruangan lian-bu-thia (ruangan bermain silat) itu cukup segar karena dikelilingi jendela beruji besi. Lantainya juga bersih dan tidak licin. Pendeknya, lian-bu-thia yang terawat dan baik sekali.

Ketika mereka memasuki lian-bu-thia itu terdapat tiga orang kakek setengah tua yang sedang latihan silat dan mereka ini ternyata adalah Pak-thian Sam-liong! Melihat guru dan juga majikan mereka masuk bersama Siangkoan-kongcu dan seorang pemuda, mereka segera memberi hormat dan mengenakan pakaian mereka yang tadi mereka buka dan mereka hanya memakai celana. Akan tetapi ketika ini melihat dan mengenal Thian Sin, mereka terkejut sekali dan memandang dengan alis berkerut.

Akan tetapi dengan sikap gembira sekali, Pak-san-kui lalu melepaskan mantelnya yang terbuat dari bulu tebal dan dia menyerahkan huncwenya kepada seorang di antara Pak-thian Sam-liong yang segera mengisinya dengan tembakau dari sebuah kantong tembakau yang diberikan oleh kakek itu kepadanya. Baju sutera hartawan itu mewah sekali dan dia tersenyum memandang kepada Thian Sin.

“Ceng-sicu, aku telah mendengar bahwa sebagai putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw, engkau memiliki ilmu silat yang hebat sekali!”

“Ah, berita itu terlalu dilebih-lebihkan, locianpwe,” Thian Sin berkata merendah, sikap yang memperlihatkan kecerdikannya. Sebelum dia tahu sampai di mana kehebatan kepandaian musuh ini, dia harus bersikap hati-hati, pikirnya, apalagi dia berada di dalam rumah datuk ini.

“Hemm, sama sekali tidak dilebih-lebihkan kalau engkau sudah dapat mengalahkan tiga orang muridku dan juga puteraku. Bahkan kabarnya engkau telah mewarisi ilmu-ilmu dari Cin-ling-pai, sungguh luar biasa. Semuda ini kabarnya telah memiliki Thi-khi-i-beng, benarkah itu?”

“Locianpwe terlalu memuji,” kata Thian Sin.

“Ha-ha-ha, oleh karena itu, untuk membuktikan apakah benar semua berita yang kuterima itu, apakah benar engkau sedemikian lihainya ataukah hanya murid-muridku dan puteraku saja yang tolol, maka sungguh kebetulan sekali engkau datang. Sebelum kita bicara lebih lanjut, marilah kita main-main barang beberapa jurus dan harap engkau tidak perlu untuk mengeluarkan seluruh ilmu kepandaianmu.” Setelah berkata demikian, kakek itu melangkah ke tengah ruangap lian-bu-thia, menggapaikan tangan ke arah muridnya yang mengisi huncwe tadi. Sang murid cepat mengantarkan huncwe gurunya dan dengan penuh hormat lalu menyalakan geretan api dan membakar tembakau di ujung huncwe sehingga tak lama kemudian nampak asap putih mengepul dan tercium bau tembakau yang harum.

Pak-san-kui mengepulkan asap dari hidungnya dan mengangguk kepada Thian Sin. “Ceng Thian Sin, kau majulah dan mari kita main-main!”

Thian Sin segera melangkah maju dan bersikap waspada. Memang dia ingin sekali mencoba sampai di mana kelihaian orang tua ini, seorang di antara para datuk. Kalau dia mampu menandinginya, dia tentu akan membunuh datuk ini, untuk membalaskan kematian keluarga Ciu. Akan tetapi kalau datuk ini terlalu pandai dan terlalu lihai baginya, dia akan menggunakan akal. Sambil tersenyum dia lalu menjura dan berkata, “Aku yang muda hanya melayani kehendak locianpwe, silakan, locianpwe!”

“Baik-baik, kau siaplah, orang muda!” Tiba-tiba kakek ini melangkah maju, tangan kirinya menyambar sembarangan saja ke arah kepala Thian Sin. Biarpun tangan itu hanya menyambar perlahan saja, namun ada angin sambaran yang amat kuat mendahului tangannya. Thian Sin menggeser kaki ke belakang untuk mengelek, akan tetapi sebelum dia membalas serangan oembarangan itu, tahu-tahu tangan yang sudah dielakkannya dan lewat itu masih terus menyambar ke arah kepalanya, bahkan kini dua jari dari tangan itu menusuk ke arah matanya dengan kecepatan kilat! Tentu saja dia terkejut bukan main, karena lawannya itu tidak melangkah maju, akan tetapi bagaimana tangannya masih terus depat mengejarnya? Ketika dia memendang sambil meloncat cepat ke kiri untuk mengelak, kiranya lengan kiri kakek itu dapat diulur panjang sampai hampir dua kali panjang lengan biasa! Itulah ilmu yang amat luar biasa dan amat berbahaya, pikirnya. Maka sambil mengelak tadi, diapun sudah membalas dengan tamparannya dengan menggunakan Ilmu Thian-te Sin-ciang! Dari tangannya sampai terdengar suara bersuit keras saking hebatnya pukulan itu. Memang Thian Sin yang maklum bahwa dia menghadapi lawan yang amat tangguh, telah mempergunakan semua tenaganya dalam mengirim serangan balasan ini.

Agaknya kakek ini sudah menduga akan tamparan ini dan diapun sengaja menangkis dengan lengan kirinya yang sudah ditarik kembali tentu saja sambil mengerahkan tenaganya karena dia maklum bahwa pemuda ini hebat bukan main.

“Dukkk…!” Keduanya tergetar dan terpaksa mundur selangkah. Kakek itu memandang kagum sekali.

“Itukah Thian-te Sin-ciang? Bukan main hebatnya!” katanya memuji sambil tersenyum. Sudah lama dia mendengar akan ilmu ini dan hari ini dia benar-benar menghadapi ilmu itu yang dilakukan oleh seorang pemuda gemblengan. Akan tetapi Thian Sin mengira bahwa kakek itu memandang rendah kepadanya, maka diapun lalu mainkan Ilmu Silat San-in Kun-hoat yang hebat, yaitu ilmu pusaka dari Cin-ling-pai. Menghadapi desakan serangan ilmu silat tinggi ini, apalagi kalau setiap pukulannya mengandung tenaga Thian-te Sin-ciang, kakek itu mengeluarkan seruan kagum dan kini diapun bergerak aneh, tubuhnya kadang-kadang berputar untuk mengelak dan lagi-lagi tangannya kirinya dengan lemas yang dapat terulur panjang itu membalas dengan serangan yang tak terduga-duga.

“Ha-ha. Inikah San-in Kun-hoat? Bagus sekali!”

Thian Sin merasa penasaran. Ilmu silatnya dapat dikenal orang, maka diapun lalu menggantinya dengan teriakan dari ilmu silat yang baru saja dipalajarinya dari Kakek Yap Kun Liong, yaitu Ilmu Silat Pat-hong Sin-kun. Pukulan-pukulannya seperti angin cepatnya dan tubuhnya berputaran, menyerang lawan dari delapan penjuru. Memang Pat-hong Sin-kun (Ilmu Silat Sakti Delapan Penjuru Angin) ini amat cepatnya.

“Eh, eh, apa ini? Seperti gerakan Pat-kwa…” Kakek itu menebak-nebak heran akan tetapi harus diakui bahwa dia lihai sekali karena semua serangan Thian Sin dapat dielakkannya dengan tangkisan atau dengan putaran-putaran tubuh secara aneh, bahkan setiap pukulan selalu dibalasnya dengan kontan. Namun, Thian Sin juga selalu dapat menangkis semua pukulan itu dan dia tetap waspada karena sebegitu jauhnya, kakek itu belum pernah menggunakan huncwenya untuk menyerang. Padahal, seperti yang pernah dia dengar, huncwe itulah yang merupakan senjata maut kakek itu, maka kini perhatian Thian Sin selalu ditujukan ke arah huncwe itu.

Dan dugaannya memang tepat. Ketika kakek itu agak repot menghadapi Pat-hong Sin-kun, tiba-tiba saja setelah mengelak, huncwenya menyambar. Thian Sin cepat mengelak, akan tetapi ketika huncwe itu lewat di atas kepalanya, tiba-tiba saja ada api menyambar ke arah mukanya. Api itu keluar dari tempat tembakau dan merupakan bunga api yang menyambar cepat sekali ke arah matanya! Tentu saja Thian Sin menjadi terkejut bukan main dan ketika dia dengan kecepatan kilat melempar tubuh ke belakang, tangan kiri kakek itu yang mulur panjang telah menampar punggungnya! Tamparan yang dilakukan ketika dia mengelak dari sambaran api sehingga tubuh yang lagi dilempar ke belakang itu tidak mungkin mengelak lagi dan untuk menangkispun tidak sempat lagi, maka pemuda itu hanya dapat mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang melindungi punggungnya.

“Plakk!”

Thian Sin melompat untuk mengurangi tenaga tamparan itu, dan kakek itupun berseru heran ketika tamparannya itu merasa betapa kulit punggung itu lemas dan lunak seperti karet. Tahulah dia bahwa punggung itu terlindung oleh tenaga sin-kang yang amat kuatnya dan sama sekali tidak terluka oleh pukulannya tadi. Dia menjadi semakin kagum, tahulah dia bahwa Ilmu Thian-te Sin-ciang yang disohorkan dunia kang-ouw itu ternyata tidak kosong belaka.

Thian Sin merasa penasaran. Memang benar dia belum kalah, akan tetapi karena dia telah terkena satu kali tamparan, maka berarti dia yang terdesak. Kini dia maju dan menyerang lagi dengan Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun! Begitu dia mulai mainkan ilmu silat yang amat indah dan juga amat kuat ini kakek itu sudah berseru kagum.

“Wah, inilah Thai-kek Sin-kun! Bukan main!” Dan diapun mencoba untuk membobolkan benteng pertahanan ilmu silat itu dengan serangan-serangan huncwenya, sambil mencoba untuk mengacaukan garis pertahanan lawan dengan lengan kirinya yang dapat mulur itu. Namun, pertahanan Thian Sin amat kuatnya sehingga ke manapun juga huncwe dan tangan kiri itu menyerang, dia selalu sudah dapat menyambutnya dengan tangkisan kuat ataupun dengan elakan yang indah. Kedua lengannya berani menangkis huncwe itu karena dilindungi tenaga Thian-te Sin-ciang.

BEBERAPA kali kakek itu memuji. Biarpun dia telah mengerahkan tenaganya, namun belum juga dia mampu merobohkan lawan. Memang, dia tidak sepenuhnya mainkan huncwenya, melainkan huncwenya itu hanya lebih banyak menggertak saja dan dia menyerang dengan tangan kirinya. Hal ini adalah karena dia merasa malu kalau harus merobohkan lawan dengan huncwenya, padahal pemuda itu juga bertangan kosong.

Memang hal ini juga yang dimaklumi oleh Thian Sin. Setiap kali kakek ini menggunakan huncwenya, dia memandang silau oleh hamburan api yang muncrat ke sana-sini, dan gerakan huncwe itu memang aneh bukan main, bahkan kalau kakek itu mau, agaknya pertahanan Thai-kek Sin-kun juga tidak mampu mempertahankan dirinya. Akan tetapi kakek itu selalu menahan huncwenya dan melanjutkan dengan serangan tangan kiri yang cukup aneh dan ampuh itu.

Setelah lewat lima puluh jurus, kakek itu kini menggerakkan huncwenya dengan aneh. Huncwe itu diputar-putar, menjadi gulungan sinar api yang menyilaukan mata. Terpaksa Thian Sin mencurahkan perhatiannya untuk menghadapi huncwe ini dan kembali dia kecurian! Lengan kiri kakek itu memanjang dan menghantamnya dari belakang, kini bukan ditujukan ke punggung, melainkan ke tengkuknya! Tentu saja hal ini amat berbahaya, maka pada saat terakhir, Thian Sin sudah mengerahkan Thi-khi-i-beng.

“Plakkk! Aughhhhh…!” Kakek itu mengeluarkan teriakan kaget, lalu disambungnya, “Wah, ini Thi-khi-i-beng, ya?” Dan huncwenya menyambar, lalu ada rasa panas pada tengkuk Thian Sin sehingga sesaat tenaga Thi-khi-i-beng membuyar dan kakek itupun sudah dapat menarik kembali tangan kirinya! Kiranya kakek itu mampu memunahkan Thi-khi-i-beng dengan bantuan api huncwenya!

“Ha-ha, hebat sekali kau, Ceng Thian Sin! Semuda ini sudah banyak ilmunya yang hebat-hebat! Tapi jangan harap kau akan dapat menangkan aku, orang muda. Keluarkan pedangmu di balik jubah itu, dan mari hadapi huncweku dengan senjata!”

Kembali Thian Sin terkejut. Bukas saja kakek ini berhasil memunahkan Thi-khi-i-beng, akan tetapi juga tahu akan pedangnya dan menantangnya menggunakan pedang. Apa artinya dia menggunakan pedang kalau Thian-te Sin-ciang, Thi-khi-i-beng dan Thai-kek Sin-kun saja tidak mampu mengalahkan kakek ini? Dan kakek itu agaknya belum mengeluarkan ilmu huncwenya yang sungguh-sungguh! Mengertilah Thian Sin bahwa dia memang masih kalah oleh kakek ini, maka dia menekan rasa penasaran di dalam hatinya dan dia berkata dengan suara ramah dan merendah, “Saya datang bukan dengan maksud memusuhi locianpwe, mengapa saya harus mempergunakan pedang?”

Kakek itu tertawa bergelak, “Ha-ha-ha-ha, kata-katamu memang enak didengar. Akan tetapi aku sudah mendengar betapa ganasnya engkau menggunakan pedangmu ketika engkau mengamuk di Lok-yang dan Su-couw. Nah, orang muda, engkau berpedang dan aku memegang huncwe, kita lihat siapa lebih unggul!”

“Ayah, agaknya dia tidak berani kalau-kalau pedangnya akan melukai dirinya sendiri, ha-ha!” Siangkoan Wi Hong tertawa, sengaja membakar hati Thian Sin. Thian Sin sudah siap dengan siasatnya dan menekan semua kemarahan dan kebencian, akan tetapi ternyata dia masih belum kuat dan mendengar ejekan ini, tangan kanannya bergerak dan nampaklah sinar perak ketika Gin-hwa-kiam tercabut. Melihat pedang yang tipis dan pendek ini, Pak-san-kui tertawa.

“Ha-ha-ha, kiranya pedang seorang wanita! Eh, Ceng Thian Sin, apakah pedang itu pedang tanda mata dari seorang kekasihmu?”

“Harap locianpwe jangan menghina!” Thian Sin berteriak, menahan diri agar tidak memaki kakek itu. “Ini adalah pedang pemberian nenekku! Nah, sambutlah!” Diapun lalu menggerakkan pedang itu dan karena dia tidak mempelajari ilmu pedang khusus, maka diapun lalu mainkan Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun yang kalau dimainkan dengan pedang dapat menjadi Thai-kek Sin-kiam. Cukup hebat gerakannya dan begitu pedang diputar nampak gulungan sinar perak.

“Hemm!” Kakek itu mendengus dan nampak kecewa, lalu menggerakkan huncwenya dan begitu huncwe bergerak, terkejutlah Thian Sin. Sudah diduganya memang bahwa senjata huncwe ini adalah keistimewaan kakek itu, akan tetapi tak pernah disangkanya demikian hebat huncwe itu. Baru belasan gebrakan saja dia sudah tidak mampu balas menyerang. Gerakan huncwe itu merupakan gulungan api! Dan selain cepat, juga amat aneh sehingga sukar diikuti. Dia mempertahankan dengan memutar pedang melindungi tubuhnya, akan tetapi tiba-tiba, setelah lewat dua puluh jurus, terdengar suara keras sekali dan pedangnya terpental, hampir terlepas dari pegangan tangannya, kemudian huncwe itu sudah datang dekat sekali dengan mukanya, seperti hendak membakarnya, maka dia melempar tubuh ke belakang, berjungkir balik dan baru dapat menghindarkan diri. Kakek itu tertawa. “Orang muda she Ceng, jangan kau terlalu pelit! Yang kaukeluarkan sejak tadi adalah ilmu-ilmu dari Cin-ling-pai. Mengapa engkau tidak mengeluarkan ilmu peninggalan ayah kandungmu? Jangan dikira aku tidak tahu. Aku sudah mendengar bahwa Ceng Han Houw pernah merajai dunia persilatan karena dia memiliki ilmu silat jungkir balik yang amat lihai. Hayo, kaukeluarkantah ilmu itu dan kita bertanding sungguh-sungguh!”

Thian Sin kaget bukan main. Tak disangkanya bahwa kakek ini tahu pula akan hal itu. “Sayang, aku baru saja meninggalkan Lembah Naga dan belum sempat mempelajari ilmu-ilmu itu. Tunggulah setahun lagi, kalau aku sudah melatih ilmu-ilmu itu, aku akan mencarimu dan kita bertanding lagi, locianpwe.”

“Ha-ha-ha, siapa mau kaubohongi? Kalau kudesak engkau, tentu engkau terpaksa akan mengeluarkan ilmu simpanan itu untuk kulihat!” Setelah berkata demikian, kembali huncwe maut itu bergerak dengan kecepatan kilat.

Thian Sin memutar pedang melindungi dirinya dan berusaha melawan sekuat tenaga. Namun, dia hanya dapat bertahan sampai tiga puluh jurus saja dan tiba-tiba kembali terdengar suara keras. Kini huncwe atau gulungan sinar api itu berputar-putar dan pedangnya seperti “terlibat” dan ikut berputar, kemudian, tiba-tiba saja pedangnya terlepas dan huncwe itu menyambar. Dia mengelak untuk disambut tangan kiri dan dia cepat mengerahkan Thi-khi-i-beng, akan tetapi terasa panas pada punggungnya dan Thi-khi-i-beng itu membuyar, lalu dia menggunakan tenaga Thian-te Sin-ciang untuk melindungi punggungnya yang dicengkeram tangan kiri lawan. Akan tetapi, jari-jari tangan itu meremas dan memutar sedemikian rupa sehingga otot-ototnya terkena remasan dan tiba-tiba saja Thian Sin roboh dengan lemas. Kakek itu tertawa dan dengan marah Thian Sin berusaha untuk bangun, akan tetapi setiap kali dia menggerakkan tubuhnya, dia menahan rasa nyeri yang amat sangat di punggungnya dan roboh lagi. Punggungnya itu seolah-olah patah tulangnya dan dengan punggung seperti itu, maka tentu saja dia tidak mampu menggerakkan lagi tangan kakinya karena setiap gerakan kaki tangan sudah tentu mengandalkan kekuatan dari punggung.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: