Pendekar Sadis (Jilid ke-35)

“Ayah, kenapa tidak dibunuh saja orang ini?” Tiba-tiba Siangkoan Wi Hong berkata sambil meloncat maju dengan yang-kim yang berbahaya itu di tangannya. Thian Sin maklum bahwa sekali pukul saja, dia sudah tidak berdaya menghindar dan nyawanya akan melayang. Akan tetapi dia kini rebah terlentang dengan sinar mata terbelalak penuh keberanian, seolah-olah dengan sinar matanya itu dia menantang maut!

“Ha-ha, jangan dibunuh. Aku sudah berjanji bahwa dia masuk ke sini dalam keadaan hidup, maka keluarnya dari sinipun dalam keadaan hidup. Akan tetapi hidup yang bagaimana? Ha-ha-ha, ingin aku melihat bagaimana wajah Pangeran Ceng Han Houw, jagoan nomor satu itu kalau dapat melihat puteranya yang tampan gagah, berubah menjadi seorang manusia tapadaksa yang tidak berguna sama sekali.”

Thian Sin merasa ngeri juga membayangkan ancaman ini. Tentu kakek itu akan membuatnya sebagai seorang manusia dengan cacad yang membuat dia selama hidupnya tidak berguna. Itu lebih hebat daripada kalau dia dibunuh! Maka diapun cepat mempergunakan akal.

“Pak-san-kui, kalau ayahku masih hidup, atau kalau aku sudah mempelajari ilmu-ilmu dari ayahku, aku yakin engkau tidak akan berani bersikap seperti ini!”

Pak-san-kui memandang kepadanya dan mengangguk-angguk. “Mungkin sekali, akan tetapi sayang, ayahmu telah tidak ada lagi dan engkau ternyata hanya merupakan murid Cin-ling-pai yang baik sekali, sama sekali tidak mewarisi kepandaian ayahmu. Dan engkau sudah membuat Phoa-taijin menjadi manusia yang hidup tidak matipun tidak, maka akupun hendak membikin engkau seperti dia.”

“Orang macam Phoa-taijin itu tidak dibunuhpun masih untung! Apa gunanya orang seperti dia yang begitu ceroboh? Menggunakan perampok-perampok tolol untuk menjalankan siasat, kemudian membasmi keluarga Ciu. Tahukah locianpwe siapa Ciu Khai Sun? Dia tokoh besar Siauw-lim-pai dan apa artinya itu? Artinya bahwa gerakan sekutu locianpwe itu akan mendapat tentangan yang besar dan kuat. Kalau Phoa-taijin cerdik, tentu dia mempergunakan orang-orang yang lebih lihai agar usaha merampok itu berhasil baik, dan juga tidak nanti membunuh orang Siauw-lim-pai! Locianpwe, aku adalah putera Pangeran Ceng Han Houw, karena itu aku membunuh sebanyak mungkin pasukan pemerintah. Apakah kenyataan ini tidak cukup membuka mata bahwa aku adalah seorang sekutu locianpwe yang cukup baik, bahkan jauh lebih baik daripada orang she Phoa yang tolol itu?”

Kakek itu mendengarkan dengan alis berkerut, akan tetapi wajahnya mulai berubah dan sinar matanya berseri. “Dan andaikata benar omonganmu, dan aku menjadikan engkau sekutu, lalu apa gunanya engkau bagiku?”

“Locianpwe, mendiang ayahku adalah seorang jagoan nomor satu di dunia. Tentu locianpwe sudah mendengar akan ilmu-ilmu yang dimilikinya, ilmu-ilmu hebat dan mujijat Hok-lion Sin-ciang (Tangan Sakti Penakluk Naga), dan ilmu dengan jungkir balik yang disebut Hok-te Sin-kun (Silat Sakti Balikkan Bumi).”

Wajah kakek itu makin berseri dan dia mengangguk. “Hanya dongeng saja! Buktinya, putera tunggalnyapun tidak mampu mainkan dua ilmu itu!”

“Sudah kukatakan bahwa karena selama ini aku ikut di Lembah Naga dan mempelajari ilmu-ilmu Cin-ling-pai, maka aku tidak sempat mempelajarinya. Akan tetapi kalau locianpwe berminat, bebaskanlah dulu aku dan kita dapat bicara.”

“Ayah, hati-hati terhadap anak ini, dia pandai bicara pula,” kata Siangkoan Wi Hong.

Akan tetapi kakek itu yang haus akan kepandaian silat yang hebat tidak peduli dan dia sudah menggerakkan tangan, menotok ke beberapa bagian punggung Thian Sin. Pemuda ini dapat bergerak kembali lalu bangkit berdiri dan menjura. “Locianpwe telah mengambil keputusan yang tepat sekali dan menguntungkan kedua fihak.”

“Ceng Thian Sin, jelas untung bagi fihakmu, akan tetapi aku tidak melihat apa keuntungannya bagi ayah!” kata Siangkoan Wi Hong.

“Siangkoan-twako, engkau tahu bahwa aku bukan seorang laki-laki yang suka membohong. Aku tidak takut mati, tadi aku hanya menawarkan kerja sama yang baik dan menguntungkan kedua fihak. Aku mempunyai kitab-kitab ayahku itu dan kutawarkan kepada Siangkoan locianpwe.”

“Di mana kitab-kitab itu?” tanya Pak-san-kui dengan girang.

“Nanti dulu, locianpwe. Locianpwe tentu akan dapat mempelajari ilmu-ilmu ayahku itu, hal ini kutanggung dengan taruhan nyawa. Akan tetapi apa imbalannya? Seorang gagah bukan memberi ilmu dengan cuma-cuma, juga tidak menerima ilmu secara cuma-cuma pula.”

“Hemm, apa yang kaukehendaki? Aku sudah membebaskanmu!”

“Ah, itu bukan imbalan namanya. Di antara kita tidak ada permusuhan, bahkan mengingat akan keadaanku yang tentu dianggap pemberontak oleh pemerintah, kita ini mempunyai persamaan, bukan? Sungguhpun locianpwe bekerja di dalam selimut dan aku di luar selimut.”

“Ha-ha-ha-ha, engkau memang cerdik. Nah, apa yang kauminta sebagai penukar ilmu-ilmu peninggalan Pangeran Cepg Han Houw?”

“Locianpwe, di antara ilmu-ilmu locianpwe, yang amat menarik dan mengagumkan hatiku adalah ilmu huncwe dari locianpwe tadi. Maka, aku mau menukar kedua ilmu peninggalan ayahku dengan ilmu huncwe dari locianpwe.”

“Ha-ha-ha, engkau memang cerdik bukan main! Selama hidupku, belum pernah ada orang yang mampu menandingi ilmu huncweku ini, dan sekarang engkau ingin mempelajarinya. Ha-ha-ha, baiklah, kita tukar dua ilmu itu!”

“Ayah…!” Siangkoan Wi Hong berseru kaget. Dia sendiri sebagai putera datuk itu belum diberi pelajaran ilmu itu yang menurut ayahnya tidaklah mudah dan selain harus memiliki bakat yang amat baik, juga membutuhkan waktu yang amat lama sekali dan di samping itu harus menjadi ahli mengisap asap tembakau pula! Padahal Siangkoan Wi Hong tidak suka mengisap pipa tembakau, oleh karena itu selama ini dia belum pernah mempelajari ilmu simpanan ayahnya itu.

“Aku sudah berjanji!” Ayahnya memotong. “Dan kita masing-masing mempelajari ilmu-ilmu itu selama enam bulan. Setujukah engkau, Ceng Thian Sin?”

“Baik, locianpwe. Enam bulan sudah cukup bagiku!” Pemuda itu lalu menanggalkan jubahnya, tidak melihat betapa Siangkoan Wi Hong tersenyum-senyum karena pemuda ini sudah dapat menangkap siasat ayahnya. Menurut ayahnya, untuk dapat mempelajari ilmu huncwe itu secara sempurna, seorang yang berbakat baik sekalipun membutuhkan waktu sedikitnya tiga tahun! Dan kini ayahnya berjanji akan mengajarkan ilmu itu selama setengah tahun saja. Mana mungkin Thian Sin akan dapat menguasainya dalam waktu setengah tahun? Sebaliknya, ayahnya adalah seorang yang bakatnya luar biasa sekali dalam ilmu silat. Ilmu silat apapun, setelah dilatihnya dua tiga kali saja tentu sudah dapat ditangkap sarinya dan dapat dikuasainya! Sekali ini, Thian Sin kena batunya dan bertemu dengan seorang datuk yang selain lihai juga amat cerdik.

Akan tetapi, ayah dan anak ini sama sekali tidak menduga bahwa Thian Sin memiliki kecerdikan yang akan mengejutkan mereka. Biarpun selama ini, sejak kecilnya, Thian Sin dididik oleh orang-orang yang mengutamakan kebajikan dan menjauhi kepalsuan dan kejahatan, namun dasarnya dia memiliki kecerdikan yang luar biasa dan kalau dia menghendaki, dia mampu menciptakan siasat dan muslihat yang amat cerdik. Dia menerima janji enam bulan itu dengan hati girang, karena dia merasa yakin bahwa kitab-kitab peninggalan ayahnya itu tidak akan dapat dipelajari oleh siapapun kecuali oleh dia yang tahu akan kuncinya. Bahkan, makin lama dipelajari orang begitu saja, orang itu akan tersesat semakin jauh. Sedangkan bagi dia, sama sekali dia tidak ingin belajar mainkan huncwe itu, melainkan dia ingin mengenal inti gerakannya, mengenal kekuatannya dan juga bagian-bagiannya yang lemah sehingga dia akan lebih mampu menghadapinya kelak!

Thian Sin kini merobek pinggiran jubahnya, dan ternyata dua buah kitab tipis digulungnya dan disembunyikannya di dalam atau di balik jahitan jubah itu, di antara dua kain jubah dirangkapkan.

“Nah, inilah kitab-kitab peninggalan ayah, locianpwe. Mulai hari ini, locianpwe boleh mempelajarinya bersama aku, karena aku sendiri juga belum sempat mempelajarinya, dan di samping itu harap locianpwe mulai memberi petunjuk kepadaku tentang ilmu huncwe itu.”

Sambil membuka-buka dua buah kitab penuh tulisan tangan dan lukisan tangan dari mendiang Pangeran Ceng Han Houw yang cukup jelas itu, Pak-san-kui berseri-seri wajahnya den mengangguk-angguk. “Tentu saja, anak yang baik, aku akan mengajarkan ilmu huncwe kepadamu.” Dia merasa girang sekali karena sedikit keraguannya bahwa kitab itu palsu lenyap oleh pernyataan Thian Sin yang mempelajarinya juga bersamanya. Agaknya pemuda yang gagah perkasa ini amat jujur, suatu sifat yang amat buruk dan lemah dari kaum pendekar, berbeda dengan mereka dari golongan hitam yang selalu mengutamakan kecerdikan!

Demikianlah, mulai hari itu, Thian Sin diterima di dalam gedung besar indah itu sebagai seorang tamu, bahkan Siangkoan Wi Hong yang tadinya menaruh curiga, setelah melihat betapa penukaran ilmu sungguh sama sekali tidak merugikan ayahnya bahkan menguntungkan, kini kembali tertarik lagi kepada Thian Sin dan menganggapnya sebagai seorang sahabat baik. Malah dia sering mengajak Thian Sin berlatih untuk memperdalam ilmu silatnya, karena dia tahu bahwa pemuda itu memang pandai bukan main. Ayahnya sendiri dengan terus terang mengatakan bahwa andaikata ayahnya tidak memiliki ilmu huncwe yang lihai itu, kirahya akan sukar untuk mengalahkan pemuda ini!

Setiap hari Pak-san-kui dan Thian Sin mempelajari ilmu-ilmu dari kitab peninggalan Ceng Han Houw, mula-mula Ilmu Hok-liong Sin-ciang, ilmu ini adalah ilmu silat yang gerakannya aneh sekali, dan dengan lahapnya, Pak-san-kui menghafalkan jurus-jurus ilmu silat ini yang hanya terdiri dari delapan belas jurus saja, akan tetapi di dalam delapan belas jurus ini terkandung bermacam gerakan yang amat lihai kalau dipakai menyerang.

Yang dirahasiakan oleh Pangeran Ceng Han Houw dan hanya diketahui kuncinya oleh Thian Sin dalam ilmu Hok-liong Sin-ciang ini adalah bagian yang melindungi tubuh di waktu menyerang. Memang serangan itu sama kuat dan lihainya, hanya bedanya, ilmu yang aseli memiliki bagian yang melindungi tubuh sendiri di waktu menyerang, dan karena bagian ini dirahasiakan, maka yang dipelajari oleh Pak-san-kui hanyalah bagian yang menyerang saja dan tanpa disadarinya, tentu saja selagi melakukan serangan ini maka ada bagian tubuh yang terbuka dan tidak terlindung. Saking girangnya melihat betapa hebatnya jurus serangan itu, Pak-san-kui tidak tahu bahwa serangan itu mengandung kelemahan yang hebat pula! Hanya dalam waktu sebulan saja dia telah dapat menghafal delapan belas jurus itu dan merasa sudah sempurna, tinggal melatihnya saja.

Juga Thian Sin memiliki bakat yang sama besarnya dengan Pak-san-kui, bahkan dia tidak kalah cerdiknya. Diam-diam dia menggunakan kunci latihan itu dan dia dapat melakukan gerakan yang lebih sempurna, karena mencakup segi perlindungan diri. Perbedaannya terletak pada letak kaki atau tangan di waktu menyerang. Sebagai contohnya, pada jurus ke empat kaki kanan menerjang dari samping dengan menyilang. Di waktu menendang ini, menurut kitab itu, lengan kiri diangkat sebagai keseimbangan tubuh, padahal menurut kuncinya, yang diangkat adalah lengan kanan sehigga lengan kiri dapat diturunkan dan menjaga selangkangan yang terbuka dan pada detik tendangan dilakukan tentu saja terbuka dan tidak terlindung. Akan tetapi di waktu dia melakukan latihan di depan Pak-san-kui, tentu saja Thian Sin tidak memperlihatkan hal ini. Dan kalau Pak-san-kui kelihatan girang karena sudah menguasai semua jurus, Thian Sin sengaja memperlihatkan bahwa dia belum menguasai sepenuhnya dan di sinilah letak kecerdikan pemuda itu!

Pada bulan ke dua, karena dia sendiri merasa sudah dapat menguasai Hok-liong Sin-ciang, Pak-san-kui lalu mengajak Thian Sin untuk mulai dengan pelajaran dari kitab ke dua, yaitu ilmu Hok-te Sin-kun! Ilmu ini jauh lebih rumit karena mengandung ilmu bersamadhi yang aneh, yaitu dengan kepala di bawah dan kedua kaki di atas! Thian Sin menurut saja, biarpun dia sendiri belum dapat melatih ilmu Hok-liong Sin-ciang dengan baik.

Maka, pada bulan ke dua, mulailah mereka berdua melatih diri dengan siulian menurut kitab pelajaran Hok-te Sin-kun, yaitu jungkir balik. Dan sementara itu, hampir setiap hari Pak-san-kui mengajarkan ilmu silat huncwe itu, karena memang maksudnya bukan ingin mempelajari bagaimana untuk dapat bermain ilmu silat itu, melainkan untuk mencari kelemahan-kelemahannya. Dan kakek itu adalah seorang datuk, tentu saja diapun tidak mau menyembunyikan ilmunya, bahkan dia bermain silat huncwe secepatnya sehingga akan sukarlah bagi Thian Sin untuk mempelajarinya. Dan pemuda ini memang dapat melihat betapa hebat dan tangguhnya ilmu silat ini, di samping gerakan-gerakannya yang aneh. Akan tetapi dia mulai dapat melihat bahwa pada dasarnya, ilmu silat itu adalah ilmu silat pedang yang hebat. Huncwe yang panjangnya sampai tiga kaki itu digerakkan seperti pedang, jadi pada hakikatnya tidak berbeda dengan ilmu silat yang-kim yang dimainkan oleh Siangkoan Wi Hong. Ilmu silat yang-kim itu pada dasarnya juga ilmu pedang yang disesuaikan dengan yang-kim. Ini pun merupakan ilmu pedang yang disesuaikan dengan huncwe sehingga tusukan pedang menjadi totokan huncwe. Hanya hebatnya, ditambah lagi dengan penggunaan panasnya huncwe dan api yang keluar dari mulut huncwe, juga asap yang dapat dipergunakan untuk menyerang lawan.

Kunci-kunci yang terdapat dalam ilmu Hok-te Sin-kun ini lebih hebat lagi. Memang dilihat begitu saja, cara Thian Sin bersamadhi tidak ada bedanya dengan yang dilakukan Pak-san-kui dalam melakukan latihan menurut kitab itu. Akan tetapi sesungguhnya terdapat perbedaan yang amat besar. Berjungkir-balik dengan kepala di bawah dan kedua kaki di atas, dengan punggung tegak lurus, merupakan kedudukan tubuh yang baik sekali untuk membantu gerakan perjalanan darah ke dalam otak, juga untuk “menurunkan” hawa murni dari bawah pusar ke otak melalui punggung. Akan tetapi, perjalanan darah ini harus berjalanan dengan sewajarnya, dibantu dengan pernapasan yang panjang dan tanpa paksaan sama sekali, dengan pikiran yang kosong dan membiarkan hawa yang panas dari pusar itu perlahan-lahan menjalar turun sampai ke ubun-ubun kepala. Akan tetapi, kalau demikian adanya pelajaran yang sebenarnya, yang kuncinya sudah dipegang oleh Thian Sin, kalau menurut kitab yang menyesatkan itu, si pelatih diharuskan menekan tenaga dari tiantan itu turun dan menembus jalan darah secara paksa.

Mula-mula Pak-san-kui memang merasa girang sekali karena setelah berlatih seperti itu, dia merasa betapa hawa sakti itu dapat digerakkannya jauh lebih mudah daripada kalau dia bersamadhi sambil duduk bersila. Akan tetapi, setelah dia berlatih selama seminggu, dia merasa agak pening pada kepalanya dan setelah berlatih, maka pandang matanya berkunang-kunang. Sedangkan pada Thian Sin, tidak nampak tanda apa-apa. Akan tetapi dia menghibur diri dan menganggap bahwa ini adalah tanda bahwa latihannya berhasil! Lalu dia mulai berlatih dengan ilmu silat aneh Hok-te Sin-kun itu, yaitu bersilat dengan kepala di bawah, menggunakan kedua kaki sebagai penyerang utama dan kedua tangan sebagai penyerang pembantu. Dan karena memang kakek ini sudah memiliki dasar ilmu silat yang tinggi, maka gerakan-gerakan itu tidaklah sukar baginya. Sebaliknya, diam-diam Thian Sin juga mempelajari ilmu silat ini menurut catatan yang sebenarnya, yaitu menurut petunjuk dalam kitab yang sudah diubahnya menurut kunci yang telah dipelajarinya sejak kecil dan dia mulai merasakan hasilnya. Tubuhnya menjadi semakin ringan, tenaga sin-kang di tubuhnya terasa mengalir dengan cepat dan amat kuat di seluruh tubuhnya, akan tetapi hal ini tidak dia nyatakan sehingga kakek itu sendiripun tidak mengetahuinya.

Lewat empat bulan lebih, hampir lima bulan. Thian Sin sudah merasa yakin bahwa dia telah mempelajari dengan teliti dan melihat kelemahan-kelemahan pada ilmu silat huncwe dari Pak-san-kui dan dia menganggap bahwa waktunya telah tiba baginya untuk memperlihatkan diri dengan sesungguhnya dan mengalahkan kakek itu! Dia sudah tinggal cukup lama di situ dan sudah memperoleh tambahan ilmu dengan mempelajari ilmu huncwe yang walaupun tidak dapat dikuasainya sepenuhnya namun telah dipelajarinya gerak-geraknya dan kelemahan-kelemahannya itu.

Di samping itu, diapun telah mempelajari dua ilmu peninggalan ayahnya, biarpun belum sempurna benar, akan tetapi jelas jauh lebih baik daripada Pak-san-kui sendiri yang memperoleh ilmu-ilmu itu dengan cara yang terbalik bahkan tersesat!

Dan dia akan memperlihatkan kemenangan atau keunggulannya itu kepada Siangkoan Wi Hong dan Pak-thian Sam-liong! Maka dia memilih saat ketika putera dan murid-murid kepala Pak-san-kui itu pada suatu sore nonton latihan-latihan mereka dan memang dia sudah mempersiapkan segala-galanya. Maka ketika Pak-san-kui yang tadinya bercakap-cakap dengan murid-murid kepalanya setelah menerima laporan tentang segala tugas yang dilakukan oleh murid kepala ini yang berhubungan dengan pekerjaan mereka, Pak-san-kui lalu berkata, “Thian Sin, mari kita berlatih. Diam-diam telah hampir lima bulan engkau di sini dan mari kauperilhatkan apa yang telah kauperoleh selama ini!” Kakek itu tertawa dan melirik ke arah puteranya. Diam-diam Thian Sin tergetar. Dalam lirikan itu dia seperti melihat sesuatu dan tentu ada apa-apanya di balik ajakan berlatih ini! Apakah di dalam hati kakek itu juga terdapat keinginan yang sama dengan keinginannya sendiri, yaitu hendak menjatuhkan dalam latihan itu?

“Baik, locianpwe!” katanya dan dia mengangkat tempat air minumnya, lalu minum beberapa teguk air jernih itu, baru dia meloncat ke tengah ruangan lian-bu-thia itu. Pak-thian Sam-liong dan Siangkoan Wi Hong segera mengatur tempat duduk, menyingkirkan meja di pinggir dan mereka sendiri lalu duduk nonton karena merekapun ingin sekali mellhat apa yang selama ini dilatih oleh pemuda itu dan Pak-san-kui.

“Mari kita lebih dulu berlatih ilmu Hok-liong Sin-ciang!” kata kakek itu dengan gembira sambil menyelipkan huncwenya di ikat pinggangnya. Biarpun tembakau di huncwenya masih belum padam, akan tetapi karena tidak dihisap maka asapnya hanya sedikit saja. Dia sudah siap dengan kuda-kuda dari Ilmu Silat Hok-liong Sin-ciang menurut petunjuk dalam kitab, wajahnya gembira sekali karena dia yakin bahwa dalam ilmu silat baru ini dia tentu dapat mengalahkan Thian Sin yang dia lihat belum sempurna benar gerakannya, maslh kaku. Juga dia tahu bahwa perhatian pemuda itu terhadap Hok-liong Sin-ciang harus dibagi perhatiannya untuk mempelajari ilmu huncwe yang belum ada sepersepuluhnya dipelajari oleh pemuda itu, bahkan boleh dibilang pemuda itu belum mempelajari apa-apa selama ini kecuali hanya nonton saja dia bermain silat dengan huncwenya. Dan dia tidak dapat dipersalahkan, tidak dapat dikatakan licik karena dia telah mainkan semua jurus simpanannya yang ada dengan huncwenya, tentu saja terlalu cepat dan tidak mungkin dapat ditangkap semua oleh pemuda itu!

Thian Sin hanya mengangguk dan diapun cepat menyerang dengan jurus-jurus Hok-liong Sin-ciang yang dilatihnya bersama dengan kakek itu. Pak-san-kui mengelak dan membalas serangan itu dengan gerakan yang sama anehnya, bahkan dari tangannya keluar hawa pukulan yang mengeluarkan suara bersuitan saking kerasnya. Namun, Thian Sin dapat menangkis dan balas menyerang. Mereka saling serang dengan jurus-jurus Hok-liong Sin-ciang itu dan keduanya ternyata sama tangguhnya. Akan tetapi, Thian Sin segera dapat melihat lowongan-lowongan pada setiap kali kakek itu menyerang. Dia melihat betapa kedudukan kaki atau tangan kakek itu terbalik, maka ketika dia melihat kakek itu menggunakan jurus ke sebelas untuk menyerangnya, dengan pukulan tangan kiri dari samping dibarengi pukulan tangan kanan dari atas, padahal seharusnya dari bawah, dia melihat lowongan dan sambil mengelak, kakinya menyambar ke arah lambung yang “terbuka”.

“Plak! Plak! Aihhh…!” Pak-san-kui terhuyung ke belakang, dan biarpun dia tadi dalam gugupnya masih mampu menangkis, namun kedudukannya terguncang dan dia terhuyung ke belakang. Wajah kakek itu menjadi merah karena jelas nampak oleh siapapun juga bahwa dalam hal ilmu baru itu dia kalah oleh pemuda ini!

“Hyaaaaattt…!” Tiba-tiba dia sudah berjungkir balik dan mainkan ilmu kedua, yaitu Hok-te Sin-kun. Tanpa mengeluarkan kata apapun Thian Sin juga menggerakkan tubuhnya berjungkir balik dan mainkan Hok-te Sin-kun. Kini terjadilah pertandingan yang membuat Siangkoan Wi Hong dan tiga orang kakek Pak-thian Sam-liong menjadi bengong dan terheran-heran bercampur kagum. Dua orang itu telah saling serang mempergunakan sepasang kaki yang dibantu sepasang tangan, dan sambaran kaki mereka itu mendatangkan angin yang amat dahsyat! Itu adalah ilmu yang amat hebat. Mereka semua tidak tahu betapa wajah kakek itu menjadi pucat, sedangkan wajah Thian Sin merah dan nampak berseri, sepasang matanya nampak mencorong. Ini tandanya bahwa tenaga yang dipergunakan oleh Pak-san-kui adalah tenaga yang terbalik dan salah! Setelah saling serang dengan hebatnya, tiba-tiba kedua kaki mereka beradu.

“Desss…!” Dan akibatnya tubuh Pak-san-kui terdorong dan tentu dia sudah jatuh terbanting kalau dia tidak cepat meloncat bangun. Mukanya pucat sekali dan dia menyeringai karena merasa betapa kepalanya berdenyut pening. Itulah akibatnya karena dia terlampau banyak menggunakan tenaga terbalik yang memukul dirinya sendiri itu! Sebagai seorang ahil silat kelas tinggi, seketika maklumlah kakek ini bahwa selama ini dia tertipu! Kalau tidak tertipu, tidak mungkin dia kalah dalam kedua ilmu itu oleh Thian Sin! Dan pula, pertemuan kaki tadi memberi tahu padanya bahwa dia telah salah mempergunakan tenaga, padahal semua itu menurut petunjuk kitab. Tahulah dia bahwa dia telah tertipu, maka dengan marah dia berkata.

“Thian Sin, sekarang ini mari kita lihat kemajuanmu mempelajari ilmu huncwe!” Setelah berkata demikian, dia sudah maju menyerang dengan huncwenya!

Thian Sin terkejut sekali, maklum bahwa agaknya kakek ini sudah curiga, buktinya begitu menyerang terus saja menggunakan jurus-jurus maut terampuh dari huncwenya! Dia cepat mengelak ke sana-sini, dan karena dia sudah memperhatikan dengan teliti ketika dia mempelajari ilmu ini, dia mengenal setiap gerakan dan tahu akan inti kekuatan huncwe itu.

Dia membalas dengan serangan-serangan Thian-te Sin-ciang karena hanya ilmu inilah yang membuat tubuhnya kebal dan tamparannya cukup kuat untuk membuyarkan serangan huncwe. Agaknya kakek itu juga maklum hal ini dan tidak lagi mengherankan mengapa pemuda itu kini mainkan ilmu silat itu, dan tahulah dia bahwa memang saat inilah yang ditunggu-tunggu oleh pemuda itu untuk melawannya mati-matian. Maka diapun lalu mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, sekali ini mengambil keputusan untuk membunuh pemuda ini yang dianggap amat berbahaya baginya.

“Cringgg…!” Tiba-tiba nampak sinar perak berkelebat dan Thian Sin telah menangkis huncwe itu. Kini, tiba-tiba huncwe itu diputar sedemikian rupa oleh Pak-san-kui dan nampaklah gulungan sinar api! Ternyata kakek itu telah mempergunakan jurus-jurus yang paling ampuh, yaitu dengan bantuan api huncwenya yang tangguh, dan kini dari mulutnya bahkan menyambar asap hitam yang baunya amat keras!

Thian Sin sudah maklum akan hal ini, dan dia sudah menanti-nanti, bahkan bersiap untuk menghadapi jurus ini. Tiba-tiba dia mengeluarkan bentakan dengan suara aneh dan dari mulutnya itu menyambar air ke arah kepala huncwe. Itulah air yang tadi diminumnya sebelum dia mulai menghadapi Pak-san-kui! Air itulah yang dipergunakannya untuk menghadapi api huncwe lawan. Dia tahu, dan hal ini telah dipelajarinya selama berbulan-bulan, bahwa satu-satunya kelemahan huncwe itu adalah terhadap air! Dan begitu kepala huncwe tersiram air, terdengar suara “Cessss” dan apinya tentu saja menjadi padam nampak asap hitam yang baunya keras bukan main dan pada saat itu Thian Sin sudah berjungkir balik, pedangnya dilemparkan dari bawah ke arah perut lawan, ditusul kedua tangannya menotok ke arah kaki dan kakinya sendiri menyerang ke depan dengan amat cepatnya! Itupun merupakan serangan gabungan yang sudah dipelajari dan diperhitungkan selama berbulan-bulan ini.

“Tringg…!” Pedang itu tertangkis huncwe dan Si Kakek meloncat menghindarkan totokan pada kakinya, akan tetapi dia disambut oleh tendangan kaki.

“Blukkk!” Kedua kaki Thian Sin menendang dada dengan amat kerasnya dan akibatnya tubuh kakek itu terlempar dan terbanting, dan diapun roboh pingsan!

Siangkoan Wi Hong dan tiga orang kakek Pak-thian Sam-liong berteriak marah dan segera menyerang dengan senjata mereka, pemuda itu menggunakan yang-kim untuk menyerang dan dua orang kakek itu menggunakan pedang mereka. Sementara itu, Thian Sin yang mengerahkan tenaga ketika merobohkah kakek tadi, merasa tubuhnya tergetar hebat dan napasnya agak terengah. Perlawanan tenaga kakek itu sungguh amat hebat dan dia tahu bahwa kalau dia harus melayani empat orang itu, dia bisa celaka, apalagi kalau para penjaga nanti datang mengeroyok, maka dia segera menyambar pedangnya dan menangkis terus meloncat keluar. Gerakannya cepat sekali dan biarpun empat orang itu berteriak-teriak sambil mengejar, namun Thian Sin sudah dapat melarikan diri keluar rumah dan terus lari dengan cepat. Sementara itu, malam telah tiba dan kegelapan menolong pemuda itu dapat menyelamatkan diri dari para pengejarnya. Hatinya lega bukan main. Biarpun dia sangsi apakah dia berhasil membunuh kakek itu, namun setidaknya dia telah merobohkannya dan dia yakin bahwa kalau dia sudah matangan Hok-liong Sian-ciang dan Hok-te Sin-kun dengan sempurna, setelah dia tahu akan kelemahan-kelemahan ilmu huncwe maut itu, dia tidak takut lagi terhadap datuk utara itu!

Sementara itu, Siangkoan Wi Hong dan Pak-thian Sam-liong tidak melanjutkan pengejaran, karena mereka sendiripun masih terlalu kaget melihat betapa Pak-san-kui dapat dirobohkan pemuda itu dan hal ini cukup membuat mereka berhati-hati untuk mengejar pemuda selihai itu, yang menghilang di dalam cuaca yang sudah mulai gelap. Mereka lalu kembali untuk cepat menolong Pak-san-kui. Kakek itu masih pingsang akan tetapi setelah memeriksanya, hati Siangkoan Wi Hong agak tenang karena ayahnya tidak tewas, melainkan pingsan dan terluka cukup parah, antara lain dua buah tulang iganya retak-retak! Tentu saja setelah siuman, kakek itu menyumpah-nyumpah dan berjanji akan mencari pemuda yang telah merobohkannya itu, yang dianggapnya amat curang. Tahulah kini kakek itu bahwa lawannya sungguh seorang pemuda yang selain lihai, juga amat cerdik seperti setan sehingga “tukar menukar” ilmu itu hanya tipu muslihat saja. Dia memperoleh ilmu yang palsu, sedangkan pemuda itu berhasil mencari kelemahan-kelemahan huncwenya sehingga dia dapat dirobohkan.

Setelah pengalaman pahit itu, Pak-san-kui menyempurnakan ilmu huncwenya bahkan kini diapun menggembleng puteranya dengan ilmu huncwe maut, juga dua ilmu dari Thian Sin itu mereka selidiki bersama, mereka cari bagiannya yang berguna dan oleh Pak-san-kui ilmu-ilmu itu dikembangkan dan dicampur dengan ciptaannya sendiri.

***

Setelah berhasil merobohkan Pak-san-kui, hati Thian Sin terasa agak terhibur juga. Bukan hanya karena dia merasa dapat mengungguli seorang di antara datuk-datuk sesat yang pada waktu itu sedang merajai dunia persilatan, akan tetapi terutama sekali karena sedikit banyak dia telah dapat membalaskan kematian keluarga Ciu. Dia akan berusaha terus membasmi semua penjahat di dunia ini dengan mati-matian untuk membalaskan semua sakit hati yang bertumpuk di dalam hatinya, akan tetapi sebelum dia memulai usaha itu, dia harus yakin lebih dulu bahwa dia dapat mengalahkan semua penjahat, dan untuk mengukur hal itu, tiada jalan lain kecuali mengukur kepandaiannya melawan empat datuk kaum sesat! Dan sekarang, dia harus dapat mencari See-thian-ong! Dia harus dapat mengalahkan See-thian-ong pula, sebelum dia mulai dengan usahanya membasmi seluruh penjahat dari permukaan bumi!

Siapakah See-thian-ong (Raja Wilayah Barat) itu? Dia adalah seorang kakek yang usianya kurang lebih lima puluh lima tahun, bertubuh tinggi besar seperti raksasa berkulit agak kehitaman. Dia memang gagah perkasa, kelihatan menyeramkan seperti tokoh Thio Hwi dalam cerita sejarah Sam Kok dan wataknya juga sesuai dengan tubuhnya yang tinggi besar. Din seorang yang kasar, kalau bicara tanpa tedeng aling-aling, terbuka, jujur dan juga wataknya keras, akan tetapi kadang-kadang dia dapat juga bersikap lembut. Hat ini adalah karena dia dulunya seorang bekas pendeta Lama, yaitu pendeta budhis dari Tibet. Karena dia melakukan pelanggaran berat, dia dikeluarkan dari Tibet dan dengan mengandalkan kepandaiannya, dia merantau ke timur dan memperdalam ilmu silatnya di sepanjang perjalanan, bahkan lalu berganti agama dan menganut Agama To yang menjurus ke arah ilmu gaib. Dia malah mempelajari ilmu sihir dari para pertapa di sepaniang perjalanan sehingga ketika akhirnya dia tiba di daerah Telaga Ching-hai, dia berkeliaran di sekitar telaga itu dan segera terkenal sebagai seorang yang amat ahli dalam ilmu silat maupun dalam ilmu sihir. Satu demi satu jago silat dijatuhkannya dan akhirnya tidak ada seorangpun ahli silat, baik golongan bersih maupun kotor, yang mampu mengalahkannya dalam waktu satu tahun, selama dia berkellaran di daerah Telaga Ching-hai di Propinsi Ching-hai itu. Akhirnya, namanya makin terkenal dan diapun disebut orang sebagai See-thian-ong, nama julukan yang terus dipakainya dan setiap kali memperkenalkan diri, diapun menggunakan nama itulah! Tidak ada seorangpun yang tahu siapa nama sebenarnya, dan dia hanya merupakan seorang kakek raksasa berpakaian seperti tosu yang amat lihai.

Akhirnya, beberapa tahun belakangan ini See-thian-ong telah menetap di kota Si-ning di dekat telaga besar Ching-hai, bahkan rumahnya bukanlah di dalam kota, melainkan dia bagian luar kota Si-ning, dekat telaga dan merupakan daerah yang cukup sunyi. Dan karena dia amat lihai, tentu saja di antara para penjahat yang takluk kepadanya lalu mengangkatnya menjadi guru. Akan tetapi, dalam hal memilih murid See-thian-ong amat teliti. Kalau tidak berbakat, dia tidak mau mengajarkan ilmu silat kepada sembarang orang, dan biarpun akhirnya dia menerima tidak kurang dari lima puluh orang sebagai anggautanya atau pembantunya dan yang disebut juga murid-muridnya, namun dia tidak pernah mau mengajar mereka sendiri dan hanya menyerahkan kepada murid-muridnya yang harus mengajar para anggauta atau pembantu itu. Dan di antara murid-muridnya yang termasuk pilihan, pertama-tama adalah So Cian Ling, dara cantik manis pesolek yang lihai itu dan ke dua yang merupakan murid kepala dan bertugas mewakili See-thian-ong dalam segala hal, adalah Ciang Gu Sik yang berusia tiga puluh lima tahun itu.

Akan tetapi, See-thian-ong mempunyai watak yang mata keranjang atau suka kepada wanita muda dan cantik! Dia tidak pernah menikah, akan tetapi banyak simpanannya wanita cantik. Bahkan muridnya sendiri, So Cian Ling, adalah seorang di antara kekasihnya! Akan tetapi karena wanita ini juga menjadi muridnya, maka jaranglah dia menyuruh murid ini melayaninya, apalagi karena sebagai pengganti dirinya, So Cian Ling telah banyak mencarikan gadis-gadis cantik untuk gurunya yang tak pernah mengenal puas itu.

Seperti juga para datuk lainnya, kehidupan See-thian-ong terjamin oleh para tokoh kaum sesat yang setiap bulan memberi sumbangan kepadanya. Kalau tidak memberi sumbangan kepada See-thian-ong, jangan harap mereka itu dapat membuka praktek pekerjaan mereka, baik pekerjaan itu merupakan pencurian, pencopetan, perampokan, perjudian, pelacuran dan sebagainya lagi. Pendeknya, nama See-thian-ong merupakan semacam “pelindung” agar mereka dapat bekerja dengan tenang. Karena sumbangan ini datang dari boleh dibilang seluruh penjahat di daerah Propinsi Chiang-hai, maka penghasilan kakek raksasa ini tentu saja amat besar dan membuatnya hidup sebagai seorang yang cukup kaya raya, sungguhpun dia, berbeda dengan murid-muridnya, selalu nampak berpakaian dan bersikap sederhana.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: