Pendekar Sadis (Jilid ke-36)

See-thian-ong amat terkenal, sungguhpun jarang dia memperlihatkan ilmu kepandaiannya, kalau tidak amat perlu. Murid-muridnya sudah cukup untuk “membereskan” setiap fihak yang berani menentangnya. Dan kalau sekali waktu dia mengeluarkan kepandaiannya, maka akibatnya amat mengerikan! Dalam ilmu silat, di antara ilmu-ilmu silat tinggi yang rata-rata amat ganas, dia memiliki ilmu yang amat aneh, yaitu tubuhnya dapat menggembung seperti bola karet ditiup dan kalau tubuhnya sudah menggembung seperti itu, penuh dengan hawa, maka jangankan hanya pukulan dan tendangan, bahkan senjata-senjata tajam tidak akan mampu melukai tubuhnya! Selain ini, juga dia ahli menggunakan senjata toya, tongkat atau sepotong kayu sekalipun. Di samping semua ilmu silatnya, juga dia pandai bermain sihir dan dapat menguasai lawan hanya dengan pandang mata atau bentakan suaranya yang berpengaruh! Pendeknya, See-thian-ong merupakan tokoh yang amat ditakuti orang karena lawan yang berani menentangnya tentu akan roboh atau tewas dalam keadaan mengerikan.

Dan kini, tokoh macam itulah yang hendak ditentang oleh Thian Sin! Dengan hati penuh keberanian, pemuda ini tiba di telaga besar Ching-hai. Dia berlaku hati-hati sekali dan lebih dulu menyelidiki di mana tempat tinggal datuk itu dan orang macam apa adanya. Dia bermalam di sebuah rumah penginapan dan di tempat inilah dia mencoba untuk mengajak pelayan rumah makan penginapan untuk bicara tentang See-thian-ong.

“Twako, aku adalah seorang pelancong dari utara yang tertarik akan berita tentang keindahan Telaga Ching-hai,” dia memulai ketika terbuka kesempatan bicara dengan pelayan itu.

“Ah, kongcu tidak salah kalau memilih tempat ini untuk berpesiar. Pada musim semi seperti ini, Telaga Ching-hai menjadi pusat tempat pelesir dari penduduk di seluruh penjuru di propinsi ini dan terutama penduduk kota Si-ning setiap hari memenuhi telaga. Kongcu dapat berperahu, mengajak penyanyi dan tukang musik, atau kongcu dapat bermain judi kalau kongcu suka, dan ada perahu…” dia berbisik, “yang menyediakan gadis-gadis cantik…”

Thian Sin tertawa berlagak seperti seorang kongcu tukang pelesir. “Aih, menyenangkan sekali! Akan tetapi aku juga mendengar berita yang menakutkan, tentang orang yang bernama See-thian-ong…”

Wajah pelayan itu berubah pucat. “Ssst, jangan kongcu sebut-sebut itu. Akan tetapi sesungguhnya tidak menakutkan, asal kongcu tidak menyebutnya dan tidak melakukan sesuatu yang mendatangkan keributan. Nama itu bahkan merupakan jaminan keamanan di mana-mana. Karena nama itulah maka di mana-mana tidak ada yang berani melakukan kejahatan. Sudah, kongcu tidak perlu bicara tentang itu…”

Melihat sikap pelayan itu, Thian Sin tidak mau mendesak karena maklum bahwa selain pelayan itu tidak akan berani bicara, juga mungkin saja dia dicurigai dan orang yang takut seperti pelayan ini bukan tidak mungkin untuk mencari muka dan melaporkan! Dia mengambil keputusan untuk melakukan penyelidikan sendiri ke telaga. Mustahil dia tidak akan dapat menemukan tempat tinggal tokoh itu, pikirnya.

Pada keesokan harinya, setelah matahari naik tinggi dan dia sudah mandi dan bertukar pakaian bersih, sebagai seorang kongcu atau seorang pelajar yang halus sikapnya dan amat tampan wajahnya, pergilah Thian Sin berjalan-jalan menuju ke telaga. Benar saja, biarpun matahari baru saja naik, di situ sudah terdapat banyak orang yang berdatangan untuk pesiar. Telaga itu besar sekali dan airnya jernih, berkilauan seperti cermin menampung sinar matahari pagi yang masih membuat jalan kemerahan panjang di atas air yang belum begitu bergerak karena tukang-tukang perahu masih sedang sibuk menawarkan perahunya di tepi telaga. Orang-orang yang pesiar agaknya masih lebih senang berjalan-jalan di sepanjang telaga, menikmati pemandangan yang indah, baik pemandangan tumbuh-tumbuhan, bunga maupun pemandangan lain, yaitu para pelancong itu sendiri, terutama gadis-gadisnya.

Thian Sin memilih sebuah perahu yang agak butut dan pemiliknya, tukang perahu tua yang kurus, agaknya enggan berebut penumpang dengan rekan-rekannya, maka pemilik perahu itu hanya jongkok di dekat perahu bututnya, menanti datangnya rejeki. Dan rejeki itupun datang ketika Thian Sin menghampirinya.

“Paman yang baik, maukah engkau mengantarku naik perahu berputar-putar di telaga?”

Wajah yang keruh itu seketika berseri. Rejeki besar datang! “Tentu saja, kongcu. Perahuku ini biarpun tua, akan tetapi tidak ada yang bocor dan dapat meluncur cepat sekali.”

Thian Sin tersenyum. “Aku sedang melancong dan melihat-lihat, bukan ingin berlumba, paman. Tidak perlu cepat-cepat!” Setelah tawar-menawar harga sewa perahu, akhirnya Thian Sin naik perahu itu, duduk di atas papan yang lebih dulu digosok sampai bersih oleh tukang perahu itu, dan meluncurlah perahu ke tengah telaga, dipandang oleh rekan-rekan tukang perahu dengan heran mengapa ada kongcu yang memilih perahu butut itu!

Di atas telaga itu masih sunyi. Namun, sebuah perahu tunggal di atas telaga yang amat luas itu merupakan pemandangan yang amat indah, mempunyai pesona tersendiri dan tentu akan menjadi obyek yang menggairahkan bagi seorang pelukis atau seprang penyair. Matahari yang masih cukup rendah itu bersinar dari depan, membuat bayangan orang dan perahu mengikuti perahu itu dengan lembut dan perjalanan perahu hanya mengakibatkan permukaan telaga terusik sedikit saja.

“Paman, coba bawa perahu ke sebelah kanan sana yang penuh pohon-pohon.”

“Tapi di sana sunyi sekali, kongcu.”

“Biarlah, aku justeru suka akan kesunyian.”

Tukang perahu itu mendayung perahunya perlahan-lahan menuju ke kanan, menjauhi pantai yang ramai itu, ke pantai yang penuh dengan pohon-pohon karena bagian itu merupakan sebuah hutan yang masih liar. Setelah mereka berada jauh dari keramaian orang, Thian Sin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang memang menjadi tujuan utamanya naik perahu milik tukang perahu tua ini.

“Paman, di sini sunyi, tidak ada orang yang mendengarkan kita, maukan paman memberi keterangan kepadaku tentang sesuatu?”

Kakek uang usianya sudah ada enam puluh tahun itu menatap wajah Thian Sin yang muda dari tampan, lalu bertanya sambil tersenyum, “Keterangan tentang apakah, kongcu? Tentu saja saya mau menjelaskan kalau saya tahu, mengapa mesti mencari tempat sunyi?”

“Karena setiap orang yang kutanya agaknya tidak ada yang berani menjawab sejujurnya, paman. Aku adalah seorang pelancong yang datang jauh dari utara dan aku mendengar hal ini menjadi tertarik sekali dan rasanya tidak akan puas sebelum memperoleh keterangan yang memuaskan.”

“Tentang apakah, kongcu?”

“Tentang orang yang bernama See-thian-ong…”

“Ahh…!” Kakek itu menjadi pucat wajahnya dan segera menoleh ke kiri kanan dan belakang.

“Tidak ada seorangpun manusia di sini, paman. Paman adalah seorang tua yang miskin, siapa yang mau menyusahkanmu? Karena itulah maka aku memilih dan menyewa perahumu, dan kuharap paman suka memberi keterangan kepadaku, untuk itu aku mau untuk menambah biaya sewa perahu.”

Kakek itu menarik napas panjang. “Kongcu benar, tidak ada orang lain di sini, dan aku sudah tua dan miskin. Takut apa? Nah, kongcu hendak tanya tentang apa?”

“Siapakah sebenarnya See-thian-ong itu dan mengapa semua orang takut membicarakannya?”

“Dia adalah seorang tokoh besar di daerah ini, kongcu, dia menguasai semua orang, dan semua orang agaknya tunduk kepadanya, atau setidaknya kepada anak buahnya karena dia sendiri jarang nampak di luar. Kabarnya dia memiliki kepandaian seperti dewa, bahkan pandai sihir sehingga semua orang takut. Katanya baru dibicarakan saja dia sudah dapat mengetahuinya, akan tetapi aku tidak membicarakan keburukan maka biarlah kalau didengar juga.”

“Hemm, di manakah rumahnya, paman?”

“Rumahnya tak jauh dari telaga, di sebelah barat telaga, di bagian yang sunyi, yang nampak merah-merah dari sini itu.” Kakek itu menunjuk ke kiri. “Di sana dia memiliki sebuah rumah besar, dan di sanalah anak buahnya yang puluhan orang banyaknya berkumpul, mereka semua ahli-ahli silat yang lihai, demikian kata orang.”

“Semua anak buahnya yang puluhan itu tinggal di sana?”

“Ya, di rumah-rumah yang dibangun di sekeliling rumah induk tempat tinggal See-thian-ong, merupakan sebuah perkampungan tersendiri. Pernah aku mengirim kayu bakar ke sana. Rumah-rumah yang indah dan mewah, kongcu.”

“Dan keluarganya?”

“Dia hanya hidup bersama para pembantunya dan kabarnya… dia mempunyai belasan orang selir karena katanya, dia tidak pernah beristeri, tidak mempunyai anak…”

“Hemm, begitukah?” Thian Sin merasa girang sekali karena dia telah memperoleh keterangan secukupnya. Setelah melihat banyak perahu-perahu mulai bergerak ke tengah, dan karena semua keterangan yang dikehendakinya sudah didapatkan maka dia lalu menyuruh tukang perahu mendayung kembali perahunya ke tepi yang ramai itu. Kini banyak perahu berseliweran dan mulailah terdengar suara musik di antara perahu-perahu itu, ada suara orang bernyanyi, suara tertawa dan banyak di antaranya nampak perahu-perahu yang indah, dihias dan ditumpangi oleh gadis-gadis cantik yang melambai-lambaikan tangan ke arah pria-pria muda yang berkendaraan sendirian. Mereka itu torkekeh genit, dan ada pula di antara mereka yang bernyanyi-nyanyi menurutkan irama yang-kim yang dimainkan oleh temannya. Suasana di tempat itu sungguh meriah sekali dan perahu-perahu berseliweran, terutama sekali di sekeliling perahu-perahu pelesiran yang ditumpangi wanita-wanita penghibur itu.

Karena si tukang perahu tua menduga bahwa tentu saja penyewa perahunya suka mendekati perahu itu, diapun mendayung perahunya mendekat. Dan begitu melihat Thian Sin yang amat tampan, muda dan sendirian pula di atas perahunya, riuh rendah wanita-wanita itu melambai kepadanya.

“Kongcu yang tampan… mengapa sendirian saja…”

“Aihh… kongcu seorang manusia ataukah dewa yang baru turun dari kahyangan?”

“Mari, kongcu… mari kami layani kongcu bersenang-senang… dengan kongcu, tidak usah bayarpun tidak mengapa…”

“Aduh gantengnya…”

Bermacam-macam teriakan mereka disertai lambaian tangan, saputangan dan lontaran kerling dan senyum memikat ke arah Thian Sin, dibarengi gelak tawa genit. Melihat ini, beberapa orang muda dalam perahu-perahu yang berdekatan menjadi iri hati. Ada sebuah perahu bercat merah yang ditumpangi empat orang muda lalu didayung oleh empat pasang tangan, didayung laju menabrak perahu yang dinaiki Thian Sin.

“Eh… eh… jangan nabrak…!” Tukang perahu tua berterian ketakutan. Perahu merah itu jauh lebih besar dan didayung oleh empat orang, maka sekali kena ditabrak tentu perahunya akan pecah, atau setidaknya tentu akan terguling bersama penumpangnya. Bagi dia sendiri bukan soal besar kalau hanya terguliung di telaga, akan tetapi kongcu yang menjadi penumpangnya itu!

Melihat ini, Thian Sin yang tidak tahu sebabnya mengapa perahu yang lebih besar itu hendak menabrak, mengira bahwa mereka itu tidak sengaja, maka diapun cepat merampas dayung dari tangan kakek tukang perahu dan menodongkan dayungnya ke luar perahu, hendak menyambut perahu besar itu dengan dayung. Tukang perahu tua itu terkejut sekali. Mana mungkin tangan kuat menahan perahu besar yang meluncur cepat itu. Selain tidak kuat, dayung itu bisa patah dan lengan tangan yang memegangnya dapat patah!

“Jangan, kongcu…!” teriaknya. Akan tetapi perahu itu sudah datang dan dengan tenang, cepat namun perlahan saja Thian Sin mendorongkan dayungnya, mengenai moncong perahu besar dan… perahu besar itu meluncur lewat perahu kecil, hanya selisih beberapa senti saja akan tetapi tidak menabrak. Melihat ini, tukang perahu yang tadinya sudah pucat itu menarik napas panjang dan mengira bahwa hal itu kebetulan saja.

“Aduhh… kita selamat…” katanya.

“Paman, mereka itu kenapa sih? Lihat, mereka datang lagi!”

Tukang perahu itu menengok dan mukanya menjadi pucat lagi. “Celaka, agaknya mereka itu iri kepada kongcu karena ulah perempuan-perempuan itu dan mereka menjadi marah, sengaja hendak menggulingkan perahu kita.” Bergegas tukang perahu itu mendayung perahunya hendak pergi dari situ.

“Jangan melarikan diri, paman. Biarkan mereka datang.” kata Thian Sin yang menjadi marah setelah dia tahu bahwa empat orang muda itu memang sengaja hendak menggulingkan perahunya. Kakek itu tertegun, akan tetapi melihat sinar mata yang mencorong dari pemuda itu, dia menjadi ketakutan. Sementara itu, laripun tiada gunanya karena perahu merah itu datang dengan cepat sekali, kini meluncur dan hendak menabrak perahu kecil itu dari belakang. Sedangkan para pelancong lain yang berada di perahu masing-masing menonton dengan hati tertarik dan ada di antaranya yang bersorak-sorak seperti menonton pertunjukan yang amat menyenangkan. Dengan gerakan tubuhnya, Thian Sin membuat perahunya berputar sehingga dia duduk di bagian perahu yang kini tepat akan ditabrak. Tukang perahu terkejut bukan main ketika perahunya terputar sedemikian rupa seperti dari bawah digerakkan oleh ikan yang besar dan pada saat itu, moncong perahu merah telah datang dekat sekali.

Sekali ini, Thian Sin tidak menggunakan dayung yang masih dipegang oleh si tukang perahu, melainkan menggunakan tangan kirinya. Akan tetapi dia menanti sampai moncong perahu besar itu sudah hampir menyentuh perahunya, dan berada demikian dekat sehingga nampak olehnya betapa empat orang pemuda itu memandangnya dengan mulut menyeringai girang. Tiba-tiba jari tangannya menyentuh moncong perahu, dia mengerahkan tenaga, mencengkeram moncong perahu itu dan sekali dia mengangkat dan mendorong, perahu merah itu seperti seekor kuda mengangkat kedua kaki depannya, terangkat lalu terbanting menelungkup dan terguling!

Terdengar jeritan-jeritan dan teriakan-teriakan kaget. Demikian cepatnya Thian Sin menggerakkan tangannya sehingga tidak ada seorangpun, kecuali si tukang perahu yang duduk dekat dengannya, yang tahu benar bagaimana perahu besar itu tiba-tiba terguling sendiri sedangkan perahu kecil yang ditabraknya sama sekali tidak apa-apa! Empat orang pemuda itu gelagapan dan berteriak-teriak minta tolong, karena mereka tidak pandai renang. Akhirnya mereka ditolong oleh tukang-tukang perahu, di bawah sorakan dan tertawaan para pelancong lain. Karena mereka basah kuyup, empat orang pemuda itu tidak banyak lagak lagi, lalu cepat minggir dengan perahu lain dan melarikan diri dari tempat itu!

“Eh, bagaimana bisa terjadi itu?”

“Luar biasa sekali!”

“Tentu ada setan air yang menolongnya!”

“Ah, dia tentu benar-benar dewa kahyangan…!” terdengar seorang wanita penghibur berseru.

Semakin ramailah keadaan di situ dan kini Thian Sin menjadi pusat perhatian orang, terutama sekali para pelacur itu yang agaknya hendak berlumba untuk merebut hati pemuda ganteng yang bernasib amat baik itu sehingga perahunya ditabrak perahu besar malah si penabrak itu sendiri yang terbalik.

Pada saat Thian Sin yang merasa jemu itu hendak menyuruh tukang perahu membawanya ke pinggir karena perahunya dikepung, tiba-tiba terdengar bentakan wanita yang nyaring dan berwibawa, “Minggir semua!”

“Wah, celaka, kongcu…!” Tukang perahu tua itu berbisik dengan muka pucat.

Mendengar ini, Thian Sin menoleh ke arah suara itu dan melihat betapa perahu-perahu pada minggir cepat-cepat untuk memberi ruang kepada sebuah perahu kecil yang datang dengan cekatan sekali.

“Silakan, nona…!”

“Silakan, siocia…!”

Suara mereka itu penuh dengan hormat dan Thian Sin memandang seorang dara yang mendayung perahu hitam kecil itu dan wajahnya segera berseri. Kiranya nona itu adalah So Cian Ling! Tentu saja dia mengenal nona ini, nona cantik manis dengan pakaian yang mewah dan pesolek, dengan wajahnya yang riang dan lincah, terutama sekali hidungnya yang mancung dan sepasang matanya yang amat jeli, yang pada saat itu menatap wajahnya dan bibir yang merah itu mulai tersenymn ketika perahu hitam itu akhirnya berhenti di dekat perahu yang ditumpangi Thian Sin! Pemuda ini memandang dengan jantung berdebar, bukan apa-apa, melainkan girang karena dia melihat jalan yang terbaik untuk dapat berhubungan dengan See-thian-ong tanpa menimbulkan curiga, yaitu lewat dara ini! Bukankah So Cian Ling ini murid tersayang dari See-thian-ong?

Thian Sin segera mengangkat kedua tangan di depan dada sambil berkata, “Selamat bertemu, Nona So Ciang Ling!”

Wajah ini segera menjadi cerah sekali, senyumnya lebar dan gembira.

“Aihhhhh…! Kiranya benar-benar Saudara Ceng yang muncul di tempat ini! Ah, siapa lagi yang dapat mendatangkan keributan kalau bukan engkau. Mari, mari… kau pindahlah ke perahuku dan kita mengobrol!”

“Akan tetapi… perahu ini kusewa…”

“Aih, sudahlah, kongcu. Tidak mengapa, siocia telah memanggilmu…” kata si tukang perahu.

“Hei, tukang perahu, engkau beruntung sekali perahumu disewa oleh kongcu ini!” kata So Cian Ling dan dia melemparkan sepotong ueng emas kepada tukang perahu itu. Uang itu jatuh ke lantai perahu mengeluarkan bunyi nyaring. “Nah, itu ongkosnya!”

“Terima kasih… ah, terima kasih atas kebaikan siocia yang mulia. Eh, kongcu, kau cepatlah pindah ke perahu siocia…” kata tukang perahu itu sambil mendorong-dorong perlahan ke pundak Thian Sin. Pemuda ini tersenyum, lalu bangkit berdiri dan melompat ke atas perahu So Cian Ling. Akan tetapi pada saat itu, So Cian Ling mendayung perahunya keras sekali sehingga perahunya meluncur jauh! Semua orang berteriak melihat ini, juga tukang perahu itu berteriak keras karena mengira bahwa tentu pemuda itu akan jatuh tercebur ke dalam air telaga! Pemuda itu telah maju tidak kurang dari lima meter jauhnya! Akan tetapi, mereka melihat betapa pemuda itu mengeluarkan seruan nyaring dan tubuhnya sudah berjungkir balik di udara dan meluncur ke arah perahu nona itu dan dapat turun dengan enaknya di atas perahu! Meliat ini, semua orang berseru kagum den So Cian Ling tertawa.

“Wah, engkau sungguh nakal!” kata Thian Sin, juga tersenyum karena dia tahu bahwa dara itu memang sengaja mencobanya. Andaikata dia tidak sedang mendekatinya karena dia ingin mengadakan hubungan dengan See-thian-ong lewat nona ini, tentu dia sudah mendongkol dan akan membalas.

“HI-HIK, siapa takut kau tercebur?”

So Cian Ling lalu mendayung perahunya dan melihat betapa perahu besar yang ditumpangi para pelacur itu menghalang dan para pelacur itu memandang kepada Thian Sin dengan mata melotot penuh kekecewaan seperti mata kucing-kucing yang melihat sepotong ikan dibawa pergi, dia lalu mendorong dengan dayungnya sambil berseru, “Minggir! Apa kalian ingin perahumu kujungkirkan?”

Nona ini mendorong perlahan, akan tetapi perahu besar itu menjadi terputar-putar cepat sekali. Terdengar jerit-jerit ketakutan dan semua pelacur itu segera mendekam di atas papan perahu sambil menjerit-jerit karena perahu itu terputar-putar keras, bahkan ada yang terkentut-kentut dan terkencing-kencing! Dua orang tukang perahu dengan sekuat tenaga berusaha untuk menghentikan perahunya, namun tidak berhasil.

“Sudahlah, kenapa main-main dengan perahu orang yang tak berdosa?” Thian Sin berkata dan dia mendoyongkan tubuhnya ke pinggir perahu. Perahu hitam kecil itu menjadi miring dan dengan sendirinya terputar mendekati perahu besar yang terputar. Dengan tangannya Thian Sin menahan dan seketika perahu besar itu berhenti dari putaran!

“Hi-hik!” Cian Ling mendayung perahunya meninggalkan mereka semua, bukan ke tepi, melainkan ke tengah telaga. Cepat sekali perahunya meluncur sehingga sebentar saja orang-orang itu hanya melihat sebuah titik hitam jauh di tengah danau yang luas itu. Semua orang menarik napas panjang dan menduga siapa adanya pemuda itu.

“Pantas, kiranya sahabat So-siocia…” akhirnya mereka berkata-kata sebentar kemudian tempat itu menjadi ramai kembali.

“Kau bilang perahu itu perahu orang yang tidak berdosa?” tiba-tiba dia memandang Thian Sin dan bertanya, matanya yang jeli itu menyelidiki wajah yang tampan itu.

“Tentu saja, apa dosa mereka kepadamu?”

“Kepadaku sih tidak, akan tetapi… eh, tak tahukah engkau siapa mereka itu?”

“Mereka? Mereka adalah wanita-wanita yang sedang melancong…”

“Aih… jangan kau pura-pura, Ceng Thian Sin!” Cian Ling berkata sambil mengerling tajam dan tersenyum mengejek. Diam-diam Thian Sin terheran-heran dan hampir dia tidak percaya bahwa ini adalah Nona So Cian Ling yang pernah ditemuinya dua kali dahulu itu. Dahulu, baik untuk pertama kalinya ketika dia bertemu dengan Cian Ling yang hendak membalas kepada Kakek Yap Kun Liong dan kedua kalinya ketika dia bertemu dengan dara ini di dalam pesta Tung-hai-sian, dara ini merupakan seorang gadis gagah perkasa yang keras dan serius. Akan tetapi yang dilihatnya sekarang adalah seorang gadis yang manis dan jenaka, juga yang murah senyum dan sikapnya penuh dengan daya pikat! Seperti langit dan bumu bedanya!

“Hayaaa… apa yang kaulihat pada mukaku? Apakah ada kotoran di mukaku?” Cian Ling mengusap mukanya yang berkulit putih halus itu.

“Ah, tidak… hanya… ah, kenapa kau bilang aku pura-pura?”

“Habis, engkau memang pura-pura sih! Apa benar engkau tidak tahu bahwa mereka itu adalah wanita-wanita pelacur?”

Thian Sin terbelalak. Memang tadipun dia sudah terheran-heran akan sikap wanita-wanita itu yang demikian beraninya akan tetapi karena memang dia belum pernah bergaul dengan pelacur dan pertama kali melihat pelacur hanya ketika Siangkoan Wi Hong menjamunya bersama Han Tiong dahulu, maka dia tidak menyangka demikian.

“Ah, kiranya begitukah? Aku sungguh tidak tahu. Akan tetapi, andaikata mereka itu benar pelacur-pclacur, habis apa dosanya?”

“Wah, apa dosanya? Mereka menjual cinta…”

“Berdosakah itu?”

“Jelas! Bercinta sih tidak mengapa, akan tetapi kalau dijual, mencinta demi uang, wah, itu namanya hina! Eh, benarkah engkau belum pernah bergaul dengan pelacur?”

Thian Sin mengerutkan alisnya. “Hemm, untuk apa?”

Tiba-tiba dara itu terkekeh dan menutupi mulutnya, sikapnya centil akan tetapi juga menarik hati sekali. Perahu yang tidak didayungnya itu meluncur tenang di tengah-tengah danau yang sunyi.

Thian Sin merasa mendongkol juga ditertawakan, tanpa dia ketahui mengapa dara itu tertawa.

“Eh, kenapa engkau tertawa?” tanyanya, suaranya mengandung kemengkalan hatinya. Dara itu menengok memandangnya dan agaknya menjadi semakin geli melihat dia marah.

“Ceng Thian Sin, berapa sih usiamu?” tiba-tiba dia bertanya tanpa menjawab pertanyaan mengapa dia tertawa tadi.

“Usia? Sembilan belas tahun, mengapa?”

“Hemm, benar kata Siangkoan-kongcu…”

“Apa yang dikatakan orang itu?” Thian Sin berkata, suaranya dingin.

“Dia berkata bahwa engkau adalah seorang pria yang benar-benar belum pernah bergaul dengan wanita pelacur, bahkan dengan wanita manapun. Bahwa engkau masih perjaka tulen. Benarkah itu?”

Wajah Thian Sin menjadi merah seperti udang direbus. Dia merasa ditertawakan dan merasa terbelakang dan dusun sekali. “Kalau benar, habis mengapa?”

“Kau memang hebat! Ilmu kepandaianmu tinggi sekali, engkau keturunan seorang pangeran, malah seorang pangeran yang jagoan dan pernah menggegerkan dunia, dan engkau malah mewarisi ilmu-ilmu mujiiat dari Cin-ling-pai, dan engkau… engkau masih perjaka tulen! Siapa bisa percaya itu? Akan tetapi aku percaya dan aku… aku kagum, Thian Sin.” Berkata demikian, dara itu lalu mengacungkan jempolnya dan ketika tangannya turun, tangan itu diletakkan ke atas paha kaki Thian Sin. Pemuda ini terkejut, akan tetapi dia diam saja, tidak berani berkutik sedikitpun dan seluruh tubuhnya seperti terasa dingin, bulu-bulu di tubuhnya seperti bangkit semua!

Melihat keadaan pemuda ini, So Cian Ling yang sejak pertemuan pertama sudah tergila-gila kepada Thian Sin, lalu mendekatkan tubuhnya sehingga terasa kehangatan tubuh gadis itu oleh Thian Sin. Lalu Cian Ling berbisik, “Kau… kau takut…?”

Thian Sin tetap menegakkan tubuhnya yang duduk di atas perahu, tapi dia menoleh ke arah muka yang begitu dekat dengan mukanya sehingga terasa kehangatan napas dari mulut dan hidung wanita itu. “Takut apa…?” Dia sudah memberani-beranikan diri, menekan debar jantungnya, namun tidak urung suaranya gemetar dan hampir tidak terdengar, seperti bisikan saja.

Gadis itu tersenyum, manis sekali senyumnya dan nampak deretan gigi yang teratur rapi dan putih bersih. Keharuman yang aneh keluar dari balik baju di lehernya. “Engkau… pemuda yang gagah perkasa, yang sakti, yang tampan, engkau… eh, takut kepada wanita, ya? Hi-hik…!”

Tersinggung rasa harga diri Thian Sin. Dia pernah bercinta, walaupun hanya saling dekap dan saling berciuman. Dia sudah pernah bercinta, terutama sekali yang terakhir dengan Loa Hwi Leng! Maka, mendengar kata-kata bisikan yang sifatnya mengejeknya itu, dia menjawab penasaran.

“Siapa takut kepada wanita? Huhh…!”

Cian Ling tertawa geli. “Benarkah? Benar engkau tidak takut padaku? Aku seorang gadis muda cantik, bukan? Dan amat dekat denganmu! Engkau tidak takut?”

“Tidak!”

“Kalau benar tidak takut, beranikah engkau menciumku?”

Thian Sin makin bingung dan malu, jantungnya berdebar keras. Menghadapi dara-dara sederhana dan malu-malu seperti Hwi Leng dahulu, dialah yang menyerang, dialah yang menggoda dan dialah yang menjadi guru. Akan tetapi kini, berhadapan dengan seorang dara seperti ini, yang begini berani, dia merasa kikuk dan malu-malu. Hal ini membuatnya penasaran karena di lubuk hati Thian Sin terdapat suatu ketinggian hati yang membuat ia enggan kalah oleh siapapun juga dan dalam hal apapun juga.

“Mengapa tidak berani? Akan tetapi, mengapa kita harus melakukan itu?” tanyanya, membayangkan keberanian akan tetapi juga keraguan.

Dengan bibir masih terbuka dalam senyum, dan mata memandang sayu dari balik bulu-bulu mata yang panjang, penuh daya pikat, dara itu berbisik, “Mengapa? Aih… karena kita saling menghendakinya, aku cinta padaku, Ceng Thian Sin. Nah, beranikah engkau menciumku?”

Thian Sin merasa ditantang, dan pula, dekatnya tubuh yang hangat itu, bibir yang setengah terbuka penuh tantangan itu, pandang mata sayu yang penuh daya tarik itu, telah mendatangkan gairah dalam hatinya. Diapun lalu merangkul dan mencium, tadinya sekedar memperlihatkan bukti bahwa dia tidaklah begitu “dusun” dan “hijau”. Akan tetapi begitu bibir mereka saling bertemu, dia tidak perlu lagi bersandiwara, dan tidak perlu lagi khawatir tidak akan dianggap jantan karena Cian Ling yang malah memagutnya, mendekapnya dan menciuminya dengan kemesraan yang menyesakkan napas Thian Sin. Tanpa disadarinya lagi, dia telah dibawa rebah oleh Cian Ling dan juga dalam keadaan setengah sadar, karena terbius oleh kenikmatan yang belum pernah dirasakannya, baik ketika bercintaan dengan Hwi Leng sekalipun. Thian Sin membiarkan dirinya hanyut oleh buaian nafsu. Dan dalam hal ini, Cian Ling merupakan seorang guru yang amat pandai, amat manis dan yang agaknya tak mengenal puas.

Setiap manusia di dunia ini, baik wanita maupun pria, yang hidup dalam keadaan normal dan biasa, kecuali mereka yang hidup diperuntukkan menjadi pendeta atau yang berpantang sanggama, sudah pasti akan sekali waktu mengalami hubungan pertama dalam hidupnya. Hubungan kelamin antara pria dan wanita untuk pertama kalinya sudah pasti akan terjadi pada setiap orang, dengan berbagai cara dan jalan. Dan agaknya sudah diterima oleh umum sebagai hal yang wajar dan biasa, terutama di dunia timur, bahwa kehilangan keperjakaan seorang pria bukanlah hal yang aneh dan patut diributkan, sebaliknya, kehilangan keperawanan seorang wanita dapat menimbulkan bencana, urusan, permusuhan, pembunuhan, bahkan dapat mempengaruhi kehidupan wanita itu selanjutnya! Hubungan antara pria dan wanita, hubungan yang menyangkut kelamin sekalipun, bukanlah merupakan hal yang aneh. Hubungan itu adalah wajar saja, seperti hubungan antara jantan dan betina pada semua makhluk, baik makhluk bergerak maupun tidak, baik tanam-tanaman, binatang-binatang, manusia-manusia. Jodoh dalam bentuk pertemuan antara Im dan Yang merupakan kewajaran, karena pertemuan antara jantan dan betina inilah yang menciptakan semua keadaan.

Demikian pula, hubungan kelamin antara pria dan wanita merupakan kewajaran, bahkan merupakan sarana bagi perkembangan manusia, bagi kelahiran manusia, oleh karena itu, sungguh sesat kalau menganggap hubungan itu sebagai sesuatu yang kotor! Sama sekali tidak. Hubungan itu adalah sesuatu yang suci, sesuatu yang bersih dan indah, sesuatu yang wajar dan tidak bertentangan hukum alam.

Akan tetapi, segala macam perbuatan di dunia ini, kalau dilakukan dengan dasar mengejar kesenangan, tentu menimbulkan penyelewengan-penyelewengan yang dianggap sebagai kejahatan. Dan perbuatan yang dilakukan dengan pamrih mencari kesenangan, sudah pasti akan mendatangkan gangguan-gangguan dalam hidup, mendatangkan awal daripada kesengsaraan. Umpamanya, makan adalah suatu gerakan wajar yang merupakan kepentingan hidup, kebutuhan jasmani, dan memang segala kebutuhan jasmani itu pelaksanaannya mengandung kenikmatan. Inilah berkah berlimpahan yang patut membuat manusia bersyukur. Akan tetapi, kalau dalam melakukan perbuatan makan ini kita mendasarkannya atas pamrih mengelar kesenangan, yaitu kenikmatan makan tadi, maka terjadilah penyelewengan. Kita lalu makan asal enak saja, tanpa mengingat lagi bahwa fungsi makan sebenarnya adalah untuk syarat hidup, untuk perut. Dan terjadilah akibat-akibat yang amat mengganggu seperti sakit perut dan sebagainya yang merupakan awal kesengsaraan! Demikian pula dengan perbuatan sebagai pelaksana hubungan kelamin antara pria dan wanita.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: