Harta Karun Jenghis Khan (Jilid ke-11)

“Kenapa tidak?” jawab pemuda itu dan senyumnya melebar. “Hadapilah segala sesuatu dalam hidup ini dengan senyum! Kematianpun rasanya ringan jika dihadapi dengan senyum. Sama-sama menggerakkan mulut, dan sama-sama tidak akan mampu merobah keadaan, mengapa tidak memilih senyum di antara senyum dan tangis? Ha-ha, kalau dipikir lucu juga, ya?”

Diam-diam kekaguman Kim Hong terhadap pemuda ini melonjak. Seorang pemuda yang hebat, pikirnya. Seorang pemuda yang ahli sastra, memiliki ilmu silat yang tidak rendah, juga memiliki keberanian yang mengagumkan, hampir menyamai Thian Sin, dan patut dijadikan seorang sahabat baik. Di samping itu, masih menyimpan rahasia peta yang amat menarik itu!

“Apanya yang lucu?” tanyanya untuk menanggapi sikap gembira yang mengagumkan hatinya itu.

“Masa tidak lucu? Kita dikeroyok penjahat di taman, lalu pasukan pemerintah datang untuk menangkap semua orang yang berkelahi, termasuk kita. Tapi, pasukan pemerintah malah menjebak kita dan menawan kita dengan cara kaum penjahat, menggunakan jebakan dan obat bius. Dan sekarang kita telah dibelenggu di sini, seperti penjahat-penjahat besar! Sungguh lucu dan aneh. Siapakah yang jahat? Para pengeroyok itu, pasukan pemerintah, apakah kita?”

“Tentu saja kita!” Kim Hong menjawab sambil tersenyum. “Buktinya kita yang dibelenggu dan ditelikung seperti babi akan disembelih di sini!”

“Ha-ha-ha, seperti babi akan disembelih? Kurang tepat penggambaranmu itu, nona. Kita terlalu kurus kalau disamakan dengan babi, tidak berdaging dan penyembelihnya hanya akan menemukan kulit dan tulang belaka!”

Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan masuklah beberapa orang pria ke dalam kamar yang luas itu. Kalau tadinya Kim Hong dan Kok Siang menduga bahwa mereka berada di tangan pasukan dan yang memasuki ruangan itu tentulah komandan, mereka kecelik. Yang masuk adalah delapan orang yang berpakaian biasa saja, sungguhpun kebanyakan dari mereka besikap keren dan menyeramkan. Kim Hong memandang penuh perhatian dan iapun tahu siapakah mereka itu. Ada empat orang pria berusia empat puluh tahun yang dikenalnya sebagai sisa dari Siang-to Ngo-houw, lima jagoan yang kehilangan seorang anggautanya karena tewas oleh anak panah yang hendak membungkam mulut orang itu, kemungkinan besar dilepas oleh kepala mereka sendiri. Kemudian Kim Hong mengenal Hai-pa-cu Can Hoa yang pernah membikin ribut di rumah makan dan dihajar oleh Kok Bu Siang itu. Juga Jiat-ciang Lui Cai Ko yang perutnya gendut, matanya juling dan rambutnym riap-riapan nampak pula di antara mereka. Kim Hong tidak heran pula melihat munculnya Su Tong Hak di antara mereka dan kini orang itu memperlihatkan air mukanya yang sesungguhnya, tanpa kedok manis seperti ketika ia dan Thian Sin mengunjunginya. Pedagang ini sekarang kelihatan sekali betapa mukanya penuh dengan nafsu, mulutnya menyeringai, matanya berkilat penuh kecerdikan dan tahulah Kim Hong bahwa selama ini paman dari Ciang Kim Su ini memang bersekongkol dengan para penjahat. Adapun orang yang ke delapan, yang bertubuh tinggi besar berkulit hitam, berusia lima puluh tahun lebih, mudah saja diduganya. Siapa lagi orang ini kalau bukan Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng, pikir Kim Hong. Dari gerak-gerik dan pandang matanya, Kim Hong dapat menduga bahwa orang ini memiliki kepandaian tinggi dan mungkin orang ini pula yang membuatnya gagal mendobrak pintu ketika ia terjeblos ke dalam kamar rahasia itu, yang memiliki hawa pukulan amat kuat.

Sementara itu, Kok Siang juga memandang mereka penuh perhatian. Dia sungguh merasa terkejut ketika melihat bahwa yang menjebaknya bukanlah pasukan pemerintah, melainkan orang-orang jahat itu. Dan pemuda yang cerdik inipun tahu bahwa tentu jaksa itu bersekutu dengan para penjahat ini. Akan tetapi dia berpura-pura bodoh dan begitu melihat mereka masuk, diapun berteriak-teriak.

“Heiii! Apa-apaan ini? Penasaran! Kami tidak berdosa, kenapa ditangkap? Di mana adanya keadilan? Dan siapa kalian ini? Kenapa bukan komandan pasukan yang datang? Kami menuntut keadilan!”

Hai-pa-cu Can Hoa yang bertubuh tinggi besar, kumis dan jenggotnya malang melintang tak terpelihara itu sudah melangkah maju mendekati Kok Siang, tangan kirinya yang besar itu bergerak menampar.

“Plakk! Plakk!” Dua kali muka Kok Siang ditampar dengan keras dan karena Kok Siang sendiri juga masih terpengaruh oleh totokan sehingga ia tidak mampu mengerahkan sin-kang, maka tentu saja tamparan itu harus diterimanya dengan mandah dan pipi kanannya menjadi merah membengkak.

“Wah, bukankah engkau ini bajingan yang pernah mengacau di rumah makan? Ha-ha, sobat, kiranya engkaupun seorang pengecut, beraninya hanya setelah aku terjebak dan dibelenggu. Coba lepaskan belenggu ini dan aku akan membuat engkau tak mampu bangun kembali!”

“Siucai sombong!” Kembali tangan kanan Can Hoa bergerak menampar dua kali. “Plak! Plakk!”

“Cukuplah!” Tiba-tiba kakek hitam tinggi besar yang sejak masuk tadi memandang kepada Kim Hong, berkata dan Hai-pa-cu Can Hoa menghentikan tamparannya. Kakek hitam itu lalu menghampiri Kok Siang yang kini kedua pipinya telah menjadi merah dan agak membengkak oleh tamparan-tamparan Hai-pa-cu Can Hoa tadi. Sejenak mata yang lebar dan tajam itu seperti hendak menembus dada Kok Siang, kemudian terdengar kakek itu berkata, suaranya dalam dan tenang, namun penuh wibawa.

“Apa engkau yang dikenal sebagai Im-yang Siang-pit Bu Siucai dari Thian-cin?”

Seperti juga Kim Hong, pemuda ini sudah dapat menduga siapa adanya kakek hitam tinggi besar ini. Dia belum pernah jumpa dengan kakek ini, akan tetapi nama besarnya sudah lama didengarnya dan bahkan belum lama ini dia tahu bahwa Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng adalah paman dari gadis yang dicintanya, yaitu Bouw In Bwee! Jadi inilah orangnya yang telah menindas kekasihnya itu. Dan dia hampir merasa yakin bahwa orang ini pulalah, atau setidaknya juga kaki tangannya, yang telah membunuh pamannya sendiri, yaitu Louw siucai! Akan tetapi dia menekan perasaannya dan ketika dia ditanya, diapun mengangguk.

“Benar.” jawabnya. “Teman-temanku menyebutku Im-yang Siang-pit Bu Siucai, dan aku datang dari Thian-cin. Tidak tahu siapakag engkau! Dan bagaimana kami yang tadinya menjadi tangkapan pasukan pemerintah, kini bisa terjatuh ke tangan kalian?”

“Tutup mulutmu yang lancang dan jawab saja semua pertanyaan!” bentak Hai-pa-cu dengan sikap galak. Jagoan dari Yen-tai ini nemang merasa sakit hati kepada Kok Siang yang pernah menghajar dan mempermainkannya, membuatnya malu di restoran tempo hari. Kalau tidak takut kepada Pat-pi Mo-ko, tentu dia akan menghajar habis-habisan den mungkin membunuh pemuda yang dibencinya itu.

“Bu Siucai,” kata pula Pat-pi Mo-ko, suaranya tenang akan tetapi mengandung nada yang penuh ancaman. “Tahukah engkau siapa aku?”

Kok Siang menggeleng kepalanya. “Tidak, aku tidak tahu. Yang kukenal hanyalah penjahat kecil yang pernah mengacau di rumah makan ini, dan juga si juling yang mengeroyok kami di taman. Yang lain-lain, aku tidak tahu…”

“Engkau berhadapan dengan Pat-pi Mo-ko!” kata kakek hitam itu, dan matanya berkilat ketika dia melihat pemuda yang terbelenggu itu nampak terkejut.

“Ah…! Tapi… tapi mengapa aku ditangkap? Dan bukankah yang menangkapku adalah pasukan pemerintah?” Kok Siang berpura-pura bodoh.

“Itu bukan urusanmu. Yang jelas, engkau telah berani menentangku dan siapapun yang berani menentangku di dunia ini, tentu dia sudah bosan hidup. Bu Siucai, namamu terkenal di Thian-cin sebagai seorang gagah yang tidak pernah lancang tangan. Sekarang engkau muncul di kota raja, apakah kehendakmu?” Sepsang mata itu memandang tajam penuh selidik.

Kok Siang bukan seorang yang bodoh. Dia sudah menduga bahwa Louw siucai, pamannya itu, tentu terbunuh oleh iblis-iblis ini, maka kalau dia mengaku bahwa dia adalah keponakan Louw siucai yang hendak mencari pembunuh pamannya, sama saja dengan membunuh diri.

“Apa yang hendak kulakukan di kota raja? Tentu saja melancong, apa lagi?”

“Hemm, kalau engkau tidak bergulang-gulung dengan nona ini, mungkin aku dapat percaya omonganmu.” Pat-pi Mo-ko menuding ke arah Kim Hong.

“Ah, nona ini? Kami berkenalan secara kebetulan saja, di rumah makan. Tentu jagoan Yen-tai itu sudah menceritakan kepadamu. Pat-pi Mo-ko, namamu terkenal sebagai orang besar, maka harap kau suka membebaskan kami yang tidak bersalah apa-apa. Terutama nona ini. Bagaimana kalau dunia kang-ouw mendengar bahwa Pat-pi Mo-ko yang besat itu menawan seorang nona muda dengan cara menjebaknya dan bersekongkol dengan pasukan pemerintah?”

“Tutup mulutmu! Kau sudah bosan hidup?” Hai-pa-cu Can Hoa membentak dan mendekat, akan tetapi Kok Siang hanya tersenyum saja. Dia tadi memang sengaja hendak menggerakkan harga diri Pat-pi Mo-ko, memanaskan hatinya.

Akan tetapi kakek iblis hitam itupun cerdik dan tidak mudah dibakar hatinya. Dia lalu menghampiri Kim Hong dan Kok Siang mengikuti gerakan kakek itu dengan jantung berdebar tegang dan khawatir. Dia tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri, akan tetapi dia tahu benar betapa berbahayanya bagi seorang gadis cantik seperti Kim Hong kalau terjatuh ke tangan orang-orang macam ini. Ada bahaya penghinaaan yang lebib hebat dari pada kematian bagi gadis itu. Akan tetapi, dia yang tentu saja tidak akan mampu melindungi Kim Hong dengan kekuatan badannya yang sudah tidak berdaya, merasa yakin bahwa dia akan mampu menyelamatkan Kim Hong dalam saat terakhir, karena dia masih memegang kunci rahasia yang amat penting, yaitu peta yang aseli! Dengan ini dia akan dapat menebus diri Kim Hong, kalau perlu.

“Nona, engkau bernama Toan Kim Hong dan menjadi sahabat dan kekasih Pendekar Sadis, bukan? Hemm, kasihan Pendekar Sadis, tidak tahu bahwa kekasihnya main gila dengan setiap orang pemuda ganteng seperti Bu Siucai di luaran!” Pat-pi Mo-ko tersenyum menyeringai, agaknya girang sekali mendapat kenyataan bahwa kekasih Pendekar Sadis mempermainkan pendekar itu. Hal ini saja sudah dapat menimbulkan dugaan dalam hati Kim Hong dan Kok Siang bahwa penjahat ini agaknya membenci Thian Sin. Akan tetapi, tanpa diketahui oleh siapapun juga, diam-diam Kok Siang terkejut setengah mati mendengar disebutnya Pendekar Sadis. Diapun merasa seperti pernah mendengar nama Ceng Thian Sin ketika mereka saling berkenalan di rumah makan, akan tetapi sama sekali dia tidak pernah menduga bahwa pemuda itu adalah Pendekar Sadis yang pernah menggegerkan seluruh kota raja! Akan tetapi, dia dapat menyembunyikan keheranannya dan pura-pura tidak terpengaruh sama sekali oleh sebutan itu.

Akan tetapi, Kim Hong sama sekali tidak mau memberi jawaban dan hanya memandang dengan senyum mengejek, dan pandang matanya menghina sekali. Melihat ini Tiat-ciang Lui Cai Ko yang bermata juling itu mendekat.

“Twako, biarlah kusiksa dulu gadis ini biar mau bersikap lunak dan mau menjawab pertanyaanmu!” Agaknya sudah gatal-gatal rasa tangan penjahat ini untuk menyiksa Kim Hong. Jari-jari tangannya sudah terbuka dan siap mencengkeram. Akan tetapi Pat-pi Mo-ko tersenyum dan menggeleng kepalanya.

“Sabarlah, Cai Ko. Belum tiba waktunya untuk itu.” Dan kepala penjahat ini menghadapi Kim Hong lagi. “Nona, biarpun engkau tidak mengaku, kami sudah tahu bahwa engkau dan Pendekar Sadis datang sebagai utusan mendiang petani Ciang Gun, membawa kunci emas dan engkau tahu tentang rahasia harta karun Jenghis Khan itu. Marilah kita bicara secara terbuka saja karena kita sudah sama- sama tahu akan hal itu. Kami telah menggeledah dan tidak temukan kunci emas di tubuhmu atau pakaianmu. Nah, katakan. Di manakah adanya kunci emas itu? Apakah dibawa oleh Pendekar Sadis?”

Diam-diam Kim Hong merasa mendongkol sekali. Kiranya dalam keadaan pingsan tadi tubuhnya telah digeledah, tentu saja digerayangi tangan-tangan yang kotor dan kurang ajar itu. Untung tidak terjadi sesuatu dengan dirinya. Hal ini tentu saja karena kepala penjahat ini masih membutuhkan keterangan-keterangannya, masih melihat manfaat pada dirinya. Akan tetapi kalau sekarang ia masih selamat, hal itu hanya soal waktu saja. Kalau ia sudah tidak dibutuhkan lagi, tentu ia akan dilempar kepada orang-orang kasar itu, untuk disiksa, diperkosa dan dipermainkan, seperti segumpal daging dilempar kepada anjing-anjing kelaparan. Atau mungkin Pat-pi Mo-ko ini sendiri yang akan mempeloporinya, melihat sinar mata yang juga penuh mengandung nafsu ketika memandangnya itu. Akan tetapi, ia sengaja tidak mau membuka mulut dan otaknya dikerjakan. Apa perlunya ia menjawab? Iblis ini tahu bahwa kunci emas masih berada di tangan Pendekar Sadis, jadi iblis itu tidak akan dapat berbuat sesuatu dan kiranya tidak akan mengganggunya secara sangguh-sungguh sebelum kunci itu didapatnya. Mungkin ia akan dijadikan umpan untuk memancing datang Pendekar Sadis. Hampir Kim Hong tersenyum. Tanpa dipancing sekalipun, Thian Sin pasti akan datang untuk menolongnya. Hal ini ia yakin benar. Akan tetapi iapun merasa khawatir karena sekali ini mereka menghadapi penjahat-penjahat yang selain kejam, juga kuat dan curang sekali. Ia sendiri sudah amat berhati-hati dan kalau saja tidak ada pasukan pemerintah yang turun tangan, belum tentu ia akan begitu lengah sehingga dapat ditangkap begitu saja!

Melihat gadis itu tinggal diam, Pat-pi Mo-ko tersenyum. Kalau lain orang, tentu sudah marah sekali. Akan tetapi iblis ini bukan penjahat sembarangan dan karena itu dia dijadikan semacam raja tanpa mahkota oleh para penjahat lain di kota raja. Dia cerdik sekali.

“Nona, apa gunanya nona bersikap diam dan membisu? Biarpun Pendekar Sadis memegang kunci emas, apa gunanya kalau dia tidak memiliki peta rahasia itu! Dan petanya berada di tangan kami! Kini engkau sudah berada di dalam kekuasaan kami. Pendekar Sadis akhirnya tentu akan menyerahkan kunci itu kalau memang dia sayang kepadamu.”

Kim Hong hanya tersenyum mengejek saja, memandang dengan sinar mata menghina, bahkan lalu membuang muka. Sikapnya sungguh memandang rendah sekali.

Pat-pi Mo-ko bangkit berdiri, mukanya agak merah walaupun dia masih belum memperlihatkan kekecewaan dan kemarahannya. “Baiklah, mari kita lihat siapa yang lebih keras hati di antara kita. Kami melihat bahwa engkau bermain cinta dengan sasterawan ganteng ini di taman. Nah, karena dia ini tidak ada gunanya bagi kami, maka biarlah engkau melibat ia tersiksa dan mampus di depan matamu. Hendak kulihat, apakah engkau akan tega melihat kekasih barumu ini tersiksa sampai mati dan tetap menutup mulut?”

Kim Hong yang membuang muka tadi telah memandang ke arah Kok Siang. Dilihatnya pemuda itu berkedip memberi isyarat agar jangan mau tunduk, akan tetapi diam-diam hati Kim Hong merasa khawatir. Pemuda itu merupakan orang yang amat penting, terpenting malah karena pemuda itu menguasai peta aseli atau mengetahui tempat peta aseli itu. Tentu saja pemuda itu sekali-kali tidak boleh tewas begitu saja. Betapapun juga, ia tidak mau tunduk oleh gertakan dan hendak dilihatnya dulu apakah benar iblis ini seorang yang memenuhi kata-katanya, bukan hanya penjahat besar mulut yang suka main gertak belaka. Inipun perlu baginya untuk mengenal watak dan sifat Pat-pi Mo-ko yang merupakon seorang lawan tangguh dan licik sekali.

Dan Pat-pi Mo-ko agaknyapun bukan orang yang suka h~ cakap. Tanpa menoleh kepada Kim Hong untuk melihat apa reaksi kata-katanya terhadap gadis itu, diapun sudah memberi isyarat kepada para pembantunya. Hai-pa-cu Can Hoa segera melangkah maju dan mulutnya menyeringai puas sekali. Inilah yang dinanti-nantinya. Kebenciannya kepada sesterawan muda itu kini akan terpuaskan, dendamnya akan terbalas.

“Heh-heh-heh, semalam aku memang sudah mimpi melihat engkau terbakar hangus. Aku tidak mau memulai dengan siksaan-siksaan kecil, melainkan langsung saja membakarmu. Eh, kutu buku busuk, pernahkah engkau dipanggang hidup-hidup?”

Kok Siang tentu saja tahu apa yang dihadapinya. Akan tetapi dia adalah seorang pendekar sejati yang tidak takut menghadapi apapun juga. Maka, melihat wajah yang menyeringai itu, diapun tersenyum lalu menjawab dengan suara lantang.

“Pernah memang aku melihat, akan tetapi engkau yang dipanggang di api neraka, sehingga si Macan Tutul Laut berobah menjadi bangkai macan hangus, ha-ha-ha!”

“Keparat!” bentak Hai-pa-cu (Macan Tutul Laut) Can Hoa dan dengan tangan membentuk cakar dia hendak menyerang pemuda yang terbelenggu di atas dipan besi itu.

“Can Hoa!” terdengar Pat-pi Mo-ko membentak dan jagoan dari Yen-tai itu tidak melanjutkan serangannya melainkan menarik sebuah pipa besi mononjol di bawah dipan. Terdengar suara berkerotokan dan dari dalam lubang rahasia muncullah sebuah panci baja terisi minyak yang sudah bernyala, minyak bernyala itu berada tepat di bawah dipan dan sebentar saja Kok Siang sudah merasa betapa dipan yang ditidurinya berobah menjadi hangat, lalu panas, makin lama semakin panas. Dalam waktu beberapa menit saja, seluruh tubuhnya sudah menjadi basah, membasahi pakaiannya dan uap mengepul dari dipan itu. Akan tetapi, tidak terdengar sedikitpun keluhan dari mulut pemuda itu. Dia hanya memejamkan kedua matanya dan karena dia tidak mampu mengerahkan sin-kang, diapun hanya menyerahkan nasib kepada Tuhan saja. Akan tetapi, hawa panas itu ternyata menolongnya karena dia merasa betapa pengaruh totokan itu telah pudar dan bebas. Maka diapun mengumpulkan tenaga sin-kang dan mengerahkan hawa di tubuhnya untuk melawan rasa panas sehingga keadannya tidaklah sehebat tadi, penderitaannya berkurang, walaupun kalau dilanjutkan, akhirnya dia tentu akan terbakar hangus.

Tiba-tiba terdengar suara Kim Hung lantang, akan tetapi nadanya masih mencemoohkan dan memandang rendah. “Huh, biar kau bakar dia, biar kau cincang dia, apa hubungannya dengan kami? Kalau dia kalian bunuh, aku akan menganggap dia mati karena aku, maka kalian berhutang nyawa kepadaku!”

Mendengar ini, Pat-pi Mo-ko memberi isyarat dan dengan kecewa sekali Hai-pa-cu Can Hoa menyingkirkan panci minyak bernyala itu dengan menarik pipa besi. Panci bersama api bernyala itu lenyap dalam lubang rahasia. Dan Kok Siang bahkan makin tersiksa lagi. Setelah tadi mengerahkan sin-kang melawan panas yang luar biasa, kini tiba-tiba saja api itu disingkirkan dan diapun menggigil! Kim Hong melihat hal ini, akan tetapi tahu bahwa pemuda itu telah terhindar dari bencana. Diam-diam dicatatnya di dalam hati tentang perbuatan Hai-pa-cu Can Hoa ini.

Pat-pi Mo-ko menghampiri Kim Hong. “Aku tidak ingin menanam kebencian di hatimu, nona. Nah, mari kita bicara dengan baik. Benarkah engkau den Pendekar Sadis telah menemukan kunci emas itu? Hanya kunci emas saja? Tidak bersama petanya?”

Kim Hong teringat akan pemberitahuan Kok Siang tentang peta palsu dan diam-diam iapun tertawa di dalam hati, mentertawakan iblis ini. Pertanyaan yang diajukan oleh iblis ini, tentang peta membuktikan kebenaran omongan Kok Siang dan agaknya iblis ini sudah tahu pula bahwa yang dikuasainya itu hanyalah peta palsu belaka!

Su Tong Hak yang agaknya juga menaruh perhatian kepada seluruh peristiwa itu, tiba-tiba saja ikut bicara. “Nona, sebaiknya kalau kalian bekerja sama. Bouw-sicu. Kalian akan depat ikut menikmati hasilnya. Kalau menentang, berarti akan membuang nyawa dengan sia-sia dan tidakkah sayang sekali seorang muda seperti nona mati konyol?”

“Ha-ha-ha, ucapan berbau busuk!” terdengar suara Kok Siang. Semua orang menoleh karena terkejut. Pemuda yang baru saja tersiksa itu sudah dapat tertawa dan mengejek lagi! “Mati muda dalam kebenaran adalah matinya seorang gagah, akan tetapi matinya seorang jahat dalam kehinaan sama dengan matinya seekor babi!”

Kim Hung juga memandang kepada pedagang itu dan membentak. “Su Thong Hak! Engkau pengkhianat tak tahu malu, sudah mencelakakan keluarga kakakmu senndiri sampai Ciang Gun dan isterinya terbunuh, juga keponakanmu Ciang Kim Su terbunuh. Sekarang masih berani membuka mulut di depanku?”

Bentakan dan ejekan Kim Hong dan Kok Siang sungguh mengejutkan hati orang she Su ini, apalagi bentakan Kim Hong yang mengingatkan dia akan perbuatannya yang kejam itu. “Tidak… tidak…!” Dia menggeleng kepala. “Aku tidak membunuh mereka… dan Kim Su tidak mati…”

“Diam!” Pat-pi Mo-ko membentak dan orang itu surut ke belakang dengan mata terbelalak dan muka pucat. Tentu saja Kim Hong mencatat semua ini di dalam hatinya.

“Nah, nona Toan, kami bemaksud baik dan berniat untuk kerja sama dengan engkau dan Pendekar Sadis. Maka, harap kauceriterakan semua yang kalian ketahui tentang rahasia harta pusaka ini.”

Kim Hong maklum bahwa baginya tidak ada jalan lain kecuali menceritakannya, karena menceritakan hal itupun tidak ada salahnya. Akan tetapi ia tetap bersikap angkuh. “Hemm, Pat-pi Mo-ko, engkau tentu mengerti bahwa dunia kita berlainan, kita saling berselisih jalan, engkau berkecimpung dalam dunia sesat dan kami bukanlah orang-orang yang suka mengejar harta dengan kejahatan. Mana mungkin kita dapat bekerja sama?”

Si tinggi besar itu menarik napas panjang dan berkata dengan suara bersungguh hati. “Nona Toan, engkau tentu maklum bahwa tidak ada orang di dunia ini mau menempuh jalan sesat yang penuh dengan bahaya kalau tidak terpaksa. Kalau kita berhasil memperoleh harta karun Jenghis Khan dan bagianku lebih dari cukup, untuk apa lagi aku mengambil jalan sesat? Aku akan mencuci tangan dan hidup makmur dan tenteram dengan harta itu.”

“Hemm, hal itu masih harus dibuktikan. Akan tetapi, engkau bicara tentang kerja sama. Apakah begini caramu bekerja sama, Pat-pi Mo-ko? Yang diajak kerja sama harus terlentang di dipan penyiksaan dengan kaki tangan terbelenggu dan tubuh tertotok?”

“Maafkan dulu, nona. Engkau adalah seorang yang lihai dan dalam keadaan bebas akan mendatangkan banyak repot bagi kami. Aku harus yakin dulu bahwa engkau benar-benar mau bekerja sama, dan setelah aku yakin barulah kita akan bicara seperti antara sahabat dan rekan yang bekerja sama. Nah, sekarang ceritakanlah. Ceritamu akan menjadi pertimbangan apakah benar engkau mau bekerja sama denganku.”

Seorang penjahat yang matang dan cerdik sekali. Seorang lawan yang tangguh dan berbahaya, pikir Kim Hong.

“Baiklah. Denjarkan. Kami berdua tidak sengaja mencampuri urusan harta karun Jenghis Khan ini. Di An-keng kami melihat kakek Ciang Gun dikejar-kejar dan diserang anak buah Liong-kut-pian Ban Lok. Kami turun tangan, akan tetapi tidak berhasil menyelamatkan kakek petani itu walaupun kami dapat membunuh Liong-kut-pian dan dari kakek itu kami menerima kunci emas dan kami ditugaskan untuk mencari puteranya, Ciang Kim Su, membantunya untuk mencari harta karun yang menjadi haknya. Sampai di sini, kami mendengar dari orang she Su ini bahwa peta itu dibagi dua antara dia dan Kim Su dan bahwa peta bagiannya hilang dan Kim Su pun lenyap entah ke mana. Nah, selanjutnya tentu engkau sudah tahu sampai aku terjebak olehmu waktu ini.”

Pat-pi Mo-ko mengerutkan alisnya yang tebal. “Kakek Ciang Gun itu tidak memberikan sebuah peta lain kepada kalian berdua?” tanyanya sambil memandang tajam. Kim Hong maklum apa artinya pertanyaan ini. Kembali bukti kebenaran dan pemberitahuan Kok Siang tentang peta tulen. Penjahat ini bukan hanya mencari emas, melainkan juga peta aselinya! Ia menggeleng kepala dan berkata. “Kami justeru hendak mencari peta itu yang katanya hilang dan kami yakin bahwa engkaulah yang menguasai peta itu, bukan?”

Pat-pi Mo-ko mengangguk. “Memang benar.”

“Akan tetapi peta itu tiada gunanya kalau engkau tidak memiliki kunci emasnya, bukankah begitu?” Kim Hong memancing karena kiranya tidak perlu disembunyiken lagi kenyataan bahwa mereka saling memperebutkan peta dan kunci emas.

Kakek itu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah benda. “Sudah ada padaku.”

Kim Hong terkejut, bahkan Kok Siang mengeluarkan seruan heran melihat bahwa benda di tangan kakek itu adalah sebuah kunci emas! Kim Hong segera mengenal kunci emas palsu yang biasanya dibawa oleh Thian Sin! Tentu saja jantungnya berdebar tegang. Bagaimana mungkin kunci emas itu, kunci emas yang palsu dapat dikuasai oleh kakek ini.

“Dari mana engkau memperoleh kunci emas itu?”

Kakek itu tersenyum. “Tak perlu kau tahu, pokoknya kunci emasnya telah berada padaku.”

Hening sejenak dan dengan pandang matanya yang tajam Kim Hong menatap wajah orang. Ia dapat melihat bahwa di dalam mata kakek ini tidak ada sinar tanda kebanggaan atau kemenangan, maka hatinyapun lega. Entah bagaimana kunci itu dapat diambilnya, akan tetapi ia merasa yakin bahwa Thian Sin dalam keadaan selamat. Kalau kakek ini mampu merobohkan atau membunuh Thian Sin, tentu kakek ini akan merasa bangga sekali, akan membual di depannya atau setidaknya akan nampak dalam sinar matanya.

“Hemm, Pat-pi Mo-ko, peta sudah ada padamu juga kunci emasnya sudah ada padamu. Kenapa pula engkau masih mengganggu dan menjebakku? Apa artinya perbuatanmu yang curang ini?”

Kakek hitam tinggi besar itu nampak kecewa dan penasaran sekali. Dia menjatuhkan diri duduk di atas bangku dekat dipan dimana Kim Hong terbelenggu dan sambil menetap tajam wajah Kim Hong dia menggeleng kepala. “Peta yang dibagi dua antara Ciang Kim Su dan Su Tong Hak itu adalah peta palsu! Sudah kuselidiki menurut peta dan aku tidak dapat menemukan apa-apa.”

“Ha-ha-ha-ha!” Terdengar Kok Siang tertawa bergelak dan diam-diam Kim Hong merasa kaget dan khawatir sekali. Apakah pemuda itu tidak dapat melihat suasana sehingga berani tertawa, mentertawakan iblis yang sedang dilanda kekecewaan dan penasaran itu? Benar saja, Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng menoleh ke arah pemada itu dan mukanya yang hitam itu menjadi semakin hitam karena marah, matanya mengeluarkan sinar kilat dan Kim Hong takkan merasa heran kalau iblis itu segera turun tangan membunuh Kok Siang.

“Orang she Bu, kenapa kau tertawa?” Suara iblis itu terdengar tenang saja, akan tetapi di balik ketenangan itu jelas terbayang kemarahan besar.

Kok Siang yang sudah terbebas dari totokan oleh hawa panas tadi, masih tertawa geli, kemudian berkata. “Siapa tidak akan tertawa mendengar kelucuan itu? Harta karun Jenghis Khan, sudah mengorbankan banyak nyawa, tenaga dan pikiran, dan ternyata hanya merupakan lelucon dari Jenghis Khan! Ha-ha, raja itu memang hebat, pandai, kuat, gagah, keras, kejam dan juga seorang pelawak besar!”

Pat-pi Mo-ko bangkit dari tempat duduknya, dan pada saat itu, Kim Hong yang melihat bahwa kemarahan iblis itu mungkin saja akan berarti tewasnya Kok Siang yang mengeluarkan ejeken bukan pada saat yang tepat itu, segera berkata. “Hemm, Pat-pi Mo-ko, ternyata engkau yang sudah menjadi seorang tokoh kawakan di dunia kang-ouw, mudah saja ditipu orang. Kiranya tidak sukar untuk menyelidiki di mana adanya peta yang tulen.”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: