Harta Karun Jenghis Khan (Jilid ke-14)

Pat-pi Mo-ko adalah seorang yang sudah kenyang akan asam garam di dunia kang-ouw maka diapun tahulah bahwa tidak ada gunanya untuk menggertak dua orang muda ini lagi.

“Bagus, katakanlah bahwa pendapat kalian benar. Aku tidak dapat membunuh kalian, akan tetapi jangan mengira bahwa aku tidak dapat memaksa kalian bicara. Ada hal-hal lain yang lebih hebat dari kematian!” Dia lalu menghampiri dipan di mana Kim Hong menggeletak terlentang dengan kaki dan tangan dibelenggu rantai besi. “Bu-siucai, hendak kulihat apakah engkau tetap hendak menutup mulut kalau melihat gadis ini diperkosa dan dihina di depan matamu!” Lalu jari-jari tangannya bergerak ke depan.

“Breeetttt…!” Terdengor kain robek dan pakaian luar yang menutup tubuh Kim Hong terkoyak-koyak oleh jari-jari tangan yang hitam besar dan kuat itu. Nampaklah kulit tubuh yang putih mulus di balik pakaian dalam yang tipis!

Akan tetapi, demikian hebatnya kekuatan dalam yang dikuasai oleh Kim Hong sehingga tidak ada segarispun uratnya bergerak. Ia hanya memejamkan matanya dan wajahnya tidak memperlihatkan perobahan apapun! Tidak demikian dengan Kok Siang yang menoleh dengan mata terbelalak dan muka pucat. Dia melihat tubuh pendekar wanita itu, yang kini terancam bahaya yang amat hebat.

“Siapa di antara kalian yang man menikmati tubuh wanita ini?” teriak Pat-pi Mo-ko keluar, ke arah para penjaga. Tidak ada yang menjawab, akan tetapi belasan orang penjaga itu mendekat dengan mulut menyeringai dan muka merah. Mereka memandang ke arah tubuh itu dengan mata penuh gairah dan nafsu berahi! Thian Sin yang sudah berada di antara para penjaga itu mengepal tinju, akan tetapi wajahayapun tidak memperlihatkan tanda sesuatu.

“Masih belum mau bicara, Bu-siucai? Bagaimana kalau kubuka sedikit lagi?” Tangan itu kembali bergerak, terdengar kain robek dan kini penutup dada Kim Hung terbuka sama sekali. Tubuhnya bagian depan dari perut ke atas nampak! Gadis itu tetap memejamkan matanya dan wajahnya tetap biasa saja! Demikian hebat gadis ini sehingga dalam keadaan seperti itu, ia masih dapat bersikap tenang dan seolah-olah ia telah dapat mematikan rasa.

Kok Siang membuang muka dan mengeluarkan suara kutukan. “Demi Tuhan, Mo-ko, engkau bukan manusia! Jangan lanjutkan!”

“Ha-ha-ha, kalau engkau tidak mau mengaku tentang peta itu, aku akan menyuruh dua orang perajurit untuk memperkosanya di depan matamu, Bu-siucai!”

“Bu-toako, jangan dengarkan dia! Dia akan mampu menghina tubuhku, akan tetapi tidak dapat menjamah hatiku. Paling-palling aku mati, atau kalau tidak, hinaan ini tentu akan dibayarnya dengan bunga berlipat ganda! Jangan mengaku, karena sekali engkau mengaku, nyawa kita akan tidak ada harganya lagi!” demikiin Kim Hong berkata, suaranya tetap tenang, sama sekali tidak gemetar.

“Hemm, biarpun hatiku berat sekali rasanya, agaknya engkau benar, nona.” jawab Kok Siang.

Pat-pi Mo-ko menjadi semakin marah. Dia sudah menggerakkan tangan lagi untuk merenggut penutup tubuh terakhir, akan tetapi tiba-tiba Su TOng Hak mendekatinya dan berbisik, “Pemuda itu tentu akan menyerah kalau melihat kekasihnya yang terancam!”

Mendengar ini, tiba-tiba Pat-pi Mo-ko tertawa. “Ha-ha-ha, engkau benar juga!” dan sambil tertawa-tawa kakek hitam tinggi besar itu lalu berlari keluar dari dalam ruangan itu. Tak lama kemudian dia sudah kembali sambil menarik tangan seorang gadis setengah menyeeretnya. Gadis itu bermuka pucat dan matanya merah bekas menangis, rambutnya dan pakaiannya kusut.

“Murid durhaka, lihat siapa itu, dan selamatkan nyawanya! Dia akan kubebaskan kalau dia mau mengaku tentang peta aseli!” kata Pat?pi Mo-ku sambil mendorong gadis itu ke depan, ke arah dipan di mana Kok Siang rebah terlentang.

“Siang-koko…!” Gadis itu menubruk, berlutut dan menangis di dekat dipan.

“Bwee-moi… engkaukah ini? Hemm, akhirnya engkau juga merasakan kekejaman iblis yang menjadi guru dan pamanmu sendiri?” kata Kok Siang sambil mengerutkan alisnya. In Bwee merangkulnya dan menangis di dada pemuda itu.

“Siang-koko… demi keselamatanmu, menyerah sajalah, katakanlah kepadanya tentang peta itu… ah, koko, kalau engkau mati, akupun tidak mau hidup lagi… berikanlah peta itu dan mari kita pergi berdua, tidak mencampuri urusan ini dan aku rela hidup melarat asal selalu bersamamu, koko…”

Gadis itu menangis dan Kim Hong mengerutkan alisnya. Ia tidak mencela gadis itu bahkan kagum akan cinta gadis itu terhadap Kok Siang. Akan tetapi gadis itu telah memperlihatkan kelemahannya dan hal ini merusak siasat mereka berdua yang hendak mempertahankan peta. Siapa tahu, demi cintanya kepada gadis itu, Kok Siang akhirnya akan menyerah dan kalau sudah begitu, percuma sajalah semua siasat mereka dan akhirnya mereka semua akan celaka!

“Huh, tolol!” Ia membentak. “Apakah kalau peta itu diberikan, iblis itu mau melepaskan kita bertiga? Jangan kira begitu enak, ya? Dia akan segera membunuh kita untuk menutup mulut seperti yang dilakukannya terhadap diri Ciang Kim Su dan juga Louw siucai!” Ia sengaja menyebut nama Louw siucai untuk membakar semangat Kok Siang. Dan ia berhasil. Kok Siang yang tadinya ragu-ragu melihat dan mendengar tangis kekasihnya, kini nampak bersinar-sinar matanya.

“Mo-ko, muslihat apapun yang kaulakukan, peta itu takkan kuberikan kepadamu!” teriak Kok Siang. “Bwee-moi, jangan kecil hati. Kita lawan iblis itu, kalau perlu dengan pengorbanan nyawa dari pada dia berhasil dan akhirnya kita dibunuhnya juga!”

“Keparat!” Pat-pi Mo-ko marah sekali dan dengan langkah lebar dia menghampiri muridnya dengan tangan kanan menyambar. Akan tetapi, dibangkitkan oleh kata-kata kekasihnya, In Bwee meloncat dan mengelak, lalu menyerang guru dan pamannya sendiri yang biasanya amat ditakutinya itu. Tentu saja kakek itu menjadi kaget dan marah sekali. Jelaslah baginya bahwa muridnya ini sekarang telah berpihak kepada musuh secara berterang. Dia telah menangkap muridnya, ketika mendengar laporan bahwa muridnya itu diam-diam pada malam buta mengunjungi Pendekar Sadis. Dia membayangi dan melihat muridnya bicara dengan Pendekar Sadis, maka murid itu pada waktu pulang lalu ditangkapnya dan dijadikan tawanan.

Kini, melihat In Bwee melawan, cepat diapun turun tangan dan tentu saja gadis itu bukan lawannya. Dalam beberapa gebrakan saja, dia telah berhasil merobohkan In Bwee dengan dua kali totokan, membuat gadis itu roboh dengan tubuh lemas dan tak mampu bangkit kembali, rebah miring dengan kaki dan tangan seperti lumpuh rasanya.

“Murid murtad! Biar kekasihmu melihat engkau diperkosa di depan matanya kalau begitu!”

Tiat-ciang Lai Cai Ko yang perutya gendut dan matanya juling, rambutnya riap-riapan itu segera maju dan menyeringai. “Heh-heh, twako, kalau memang gadis ini hendak diperkosa, serahkan saja kepadaku untuk melaksanakannya. Telah lama aku tergila-gila kepadanya, hanya karena mengingat dia itu muridmu maka aku tidak berani mengganggu. Sekarang, ia berkhianat dan berpihak kepada musuh, kalau memang mau diperkosa, biar aku yang…”

“Boleh, lakukanlah! Tapi di sini dan sekarang juga, biar kekasihnya dapat melihatnya!” kata kakek tinggi besar berkulit hitam itu.

Tiat-ciang Lui Cai Ko adalah seorang begal tunggal yang usuanya sudah empat puluh lima tahun, kejam dan sudah biasa dengan kekerasan. Dia sudah kebal perasaannya, tidak mengenal malu lagi maka biarpun di situ terdapat banyak orang yang menyaksikan, dia tidak malu-malu dan sambil tertawa bergelak dia maju menghampiri tubuh In Bwee yang menggeletak di atas lantai dengan lemas itu.

“Mo-ko, manusia iblis! Tega engkau terhadap murid dan keponakan sendiri?” Kok Siang berteriak-teriak.

“Brett…!” Sebagian dari baju In Bwee terkoyak dalam genggaman tangan Tiat-ciang Lui Cai Ko. Semua mata mereka yang hadir, juga para penjaga, terbelalak dan jantung mereka berdebar tegang membayangkan apa yang akan mereka saksikan di dalam ruangan itu. In Bwee sendiri yang tidak lagi mampu bergerak, hanya terbelalak seperti seekor kelinci yang berada dalam cengkeraman kuku harimau.

“Ha-ha-ha, engkau sungguh manis sekali. Aha, sungguh besar untungku malam ini!” Tiat-ciang Lui Cai Ko merangkul, meremas dan menciumi muka gadis itu yang hanya dapat mengeluh akan tetapi tidak mampu bergerak untuk melawan. Semua orang yang melihat adegan ini, terbelalak, ada yang menelan ludah, ada yang membuang muka, ada yang tertawa-tawa dengan mata melotot hampir keluar dari rongga matanya. Si Tangan Besi Lui Cai Ko adalah orang yang sudah kebal, tidak tahu malu sama sekali dan dia beraksi seolah-plah di tempat itu tidak ada orang lain. Tangannya meraih dan hendak menanggalkan sisa pakaian In Bwee.

“Tahan…!” Tiba-tiba Kok Siang berteriak, matanya terbelalak, mukanya pucat. “Mo-ko, aku mengaku…!”

Akan tetapi Tiat-ciang Lui Cai Ko seperti tidak mendengar ini dan hendak melanjutkan perbuatannya. Baru setelah Mo-ko sendiri melangkah dan menepuk pundaknya, dia berhenti dan memandang kecewa, akan tetapi tidak berani membantah.

“Tiat-ciang, kau mundurlah.” kata Pat-pi Mo-ko. Tiat-ciang Lui Cai Ko bangkit dan mundur, matanya melotot ke arah Kok Siang, kelihatan kecewa, mendongkol dan marah. Daging yang sudah tersentuh bibir itu, sebelum dapat digigit dan dikunyah lalu ditelannya, telah direnggut orang dan terlepas!

Kim Mong mengerutkan alisnya, akan tetapi hanya dapat memandang kepada sasterawan muda itu. Habislah harapannya. Ia tahu bahwa Kok Siang dan In Bwee hanyalah orang biasa yang jalan pikiran dan perasaannya sudah tercetak sejak kecil sehigga sama dengan jalan pikiran dan perasaan umum pada waktu itu. Wanita diperkosa merupakan hal yang paling hebat bagi mereka, merupakan malapetaka yang tak dapat diperbaiki lagi, seperti kematian, bahkan dianggap lebih hebat dari pada kematian. Karena inilah maka Kok Siang tidak tahan mempertahankan ketika melihat kekasihnya hendak diperkosa di depan matanya. Betapa bodohnya. Apakah kalau pemuda itu sudah mengaku lalu In Bwee terbebas dari pada ancaman pemerkosaan atau pembunuhan?

“Mo-ko, aku mau mengaku tentang peta yang aseli, akan tetapt engkau harus berjanji bahwa engkau tidak akan membiarkan nona Toan dan In Bwee diperkosa orang. Kalau engkau tidak mau berjanji, biar apapun yang terjadi, jangan harap aku akan mau mengaku.” kata Kok Siang dengan suara lantang.

“Baik, aku berjanji bahwa mereka berdua tidak akan diperkosa.” kata Pat-pi Mo-ko dan wajahnya nampak berseri gembira sekali.

“Ingat, Mo-ko. Bagi seorang yang berkedudukan tinggi seperti engkau, biar hanya sebagai seorang datuk sesat, janji merupakan sumpah yang lebih berharga dari pada nyawa. Aku percaya bahwa engkau tidak akan melanggar janjimu itu, disaksikan oleh semua orang yang mendengarnya.”

Wajah hitam itu semakin hitam dan sepasang mata itu mendelik. “Bu-siucai. Kaukira aku ini orang apa maka akan melanggar janji sendiri?”

“Bagus, kalau begitu aku akan mengaku dengan hati lapang. Dengarlah baik-baik. Aku adalah keponakan dari mendiang Louw Siucai.”

Semua orang terkejut, terutama sekali Su Tong Hak dan Hai-pa-cu Can Hoa yang menjadi pelaksana dari pembunuhan terhadap Louw siucai. “Hemm, kiranya begitukah?” kata Pat-pi Mo-ko mengangguk-angguk dan dia dapat menduga apa yang telah terjadi “Lanjutkan ceritamu.”

“Paman Louw melihat gelagat tidak baik ketika Su Tong Hak dan keponakannya datang minta diterjemahkannya peta itu. Paman sama sekali tidak menginginkan benda orang lain, akan tetapi dia tahu bahwa Su Tong Hak bukan manusia baik-baik dan bahwa keponakannya, pemuda dusun itu akan tertipu. Maka, diam-diam paman minta waktu sehari untuk menterjemahkannya dan menukar peta yang aseli itu dengan peta palsu. Petanya yang aseli disembunyikannya dengan maksud kelak akan dikembalikan kepada yang berhak. Akan tetapi, pemuda dusun itu lenyap. Paman menulis surat kepadaku dan memberi tahu tentang tempat peta aseli disembunyikan. Ternyata aku terlambat dan paman telah terbunuh oleh kaki tanganmu.”

“Dan peta itu? Di mana…?” Pat-pi Mo-ko seolah-olah tidak mendengar cerita itu karena pikirannya segera terpusat kepada peta aseli.

“Di suatu tempat, di kebun rumah mendiang paman Louw.”

“Katakan di mana agar kami dapat membuktikan kebenaran omonganmu! Kalau engkau membohong, tentu janjiku takkan berlaku dan aku akan menyuruh dua orang wanita ini diperkosa di depan matamu sampai keduanya mampus, sebelum engkau disiksa sampai mati pula!”

“Di kebun itu ada sebatang pobon tua dekat rumpun bambu, pada cabang yang ke tiga dari bawah terdapat lubang. Di situlah disimpannya peta itu, dalam peti kecil.”

Mendengar ini, Pat-pi Mo-ko lain memerintahkan para pembantunya untuk melakukan pengajaan ketat. “Bunuh saja mereka ini kalau ada tanda-tanda mereka hendak memberontak. Juga kalau Pendekar Sadis berani muncul, bunuh mereka ini dengan alat rahasia dalam kamar!” Pesannya dengan suara lantang. Kemudian, dengan membawa pasukan penjaga yang lima puluh orang banyaknya, Pat-pi Mo-ko sendrii pergi menuju ke rumah Louw siucai di pinggiran kota raja untuk mencari peta seperti yang diceritakan oleh Bu Kok Siang itu.

Malam hari itu juga, Pat-pi Mo-ko datang kembali dengan kegirangan yang meluap-luap. Peta itu telah ditemukan! Dengan wajah berseri diapun memasuki ruangan tempat ditahannya tiga orang muda itu. Dia mengeluarkan peta yang aseli itu dan membebernya di depan Kok Siang dan Kim Hung yang memandang dengan mata berapi.

“Ha-ha-ha, sudah dapat olehku. Ha-ha-ha! Akhirnya harta pusaka itu, harta karun Jenghis Khan, terjatuh ke dalam tanganku!” Kakek hitam itu menyimpan kembali gulungan peta ke dalam tahuh, dan tiba-tiba dia berkata kepada dua orang pembantunya, yaitu Hai-pa-cu Can Hoa dan Tiat-ciang Liu Cai Ko, “Sekarang, kalian bunuh bocah she Bu dan gadis she Toan ini! Kalau tidak, mereka itu akan menjadi perintang saja!”

Tentu saja Kok Siang terkejut mendengar ini dan In Bwee yang sudah dapat bergerak itu menjerit dan menubruk kaki pamannya sambil menangis. “Paman, jangan bunuh dia… ah, jangan bunuh dia…!”

Pat-pi Mo-ko menggerakkan kakinya dan tubuh keponakan dan muridnya itu terlempar. “Huh, murid durhaka. Masih baik aku tidak menyuruh bunuh engkau sekali!”

“Paman, jangan bunuh dia… atau bunuh saja aku sekalian bersamanya!” In Bwee menangis.

“Engkau tidak percaya padaku, Bu-twako! Omongan orang macam dia itu mana bisa dipercaya? Begitu peta dikuasainya, tentu kita segera dibunuh!” kata Kim Hong, sama sekali tidak menyesal karena gadis perkasa ini yakin bahwa pada saat itu, Thian Sin tentu sudah bersiap-siap untuk menolongnya. Tadi, lapat-lapat ia mendengar suara burung ekor merah. Burung itu hanya terdapat di sekitar kepulauan yang berada di Laut Timur, terutama di Pulau Teratai Merah di mana mereka tinggal. Karena suara burung itu tidak dikenal oleh semua orang yang berada di situ ketika berbunyi, maka ialah satu-satunya orang yang mengenalnya dan tahu bahwa itu adalah tanda rahasia dari Thian Sin yang tentu berada di sekitar tempat tahanan itu. Maka iapun merasa lega dan tenang saja. Kekasihnya itu tidak mungkin membiarkan ia celaka tanpa turun tangan.

Kok Siang marah sekali. Dengan mata mendelik dia memandang kepada Pat-pi Mo-ko, lalu berkata dengan suara nyaring. “Pat-pi Mo-ko, kiranya selain jahat dan kejam, engkau juga seorang pengecut yang suka menjilat ludah sendiri! Engkau telah berjanji…”

“Ha-ha-ha, bagaimana janjiku, kutu buku? Semua orang tadi sudah mendengar akan bunyi janjiku itu! Aku berjanji bahwa kalau engkau memberi tahu tentang peta, aku tidak akan membiarkan dua orang gadis ini diperkosa, bukan? Nah, siapa yang hendak memperkosa mereka? Aku tidak berjanji bahwa aku tidak akan membunuh engkau dan sahabat Pendekar Sadis ini! Jadi, kalau sekarang aku menyuruh bunuh kalian, aku tidak menyalahi janji! Ha-ha-ha!”

Kok Siang hanya dapat memandang dengan mata mendelik. Tak disangkanya bahwa datuk sesat itu demikian curangnya, akan tetapi tentu saja dia tidak mampu membantah lagi. Diapun bukan pengecut yang takut mati, maka melihat sikap Kim Hong yang tenang, diapun merasa malu kalau harus banyak ribut untuk mempertahankan nyawanya.

Pada saat itu, Su Tong Hak melangkah maju mendekati Pat-pi Mo-ko. “Kurasa tidak benar kalau membunuh mereka sekarang.”

“Su Tong Hak! Engkau tadi telah memberi nasihat baik sekali untuk memaksa pemuda itu mengaku. Akan tetapi sekarang, kenapa engkau melarang aku membunuh mereka? Mereka itu berbahaya sekali!”

Su Tong Hak tersenyum dan meraba-raba kumisnya yang kecil panjang. “Pat-pi Mo-ko, aku melarangmu dengan perhitungan yang amat matang. Coba dengarkan baik-baik pendapatku. Pemuda itu sama sekali belum waktunya untuk dibunuh. Biarpun kita telah mendapatkan peta itu, akan tetapi siapa berani menanggung kalau peta itu benar-benar aseli? Siapa tahu kalau itupun hanya palsu saja dan yang aseli masih dia sembunyikan di tempat lain?”

Pat-pi Mo-ko nampak terkejut dan menoleh, memandang kepada pemuda sasterawan itu yang hanya tersenyum mengejek. Kakek tinggi besar hitam ini mengangguk-angguk, dapat melihat kebenaran pendapat pedagang yang cerdik itu.

“Maka, membunuhnya sekarang sungguh tidak menguntungkan. Kita selidiki dulu apakah peta ini benar, baru kita boleh membunuhnya. Demikian pula dengan nona itu. Bukankah ia itu sahabat baik Pendekar Sadis? Kalau ia masih berada di tangan kita, setidaknya ia berguna untuk menjadi sandera, untuk mencegah Pendekar Sadis mengganggu kita sampai usaha kita berhasil. Bagaimana pendapat ini, tepatkah?”

Sejenak Pat-pi Mo-ko menunduk dan mengerutkan alisnya yang tebal, kemudian dia menepuk-nepuk pundak Su Tong Hak dan tertawa lebar. “Ha-ha-ha, engkau sungguh berbakat untuk menjadi penasihat. Bagus sekali, aku setuju! Malah kita harus bawa mereka itu bersama ke tempat harta karun seperti yang ditunjukkan oleh peta ini, dan di sanalah nasib mereka itu ditentukan! Ha-ha-ha!”

***

Thian Sin yang manyamar sebagai perajurit penjaga dan menyaksikan, mendengar semua itu, tentu saja mengalami ketegangan dan kegelisahan yang hebat. Beberapa kali tubuhnya menegang dan beberapa kali hampir saja dia tidak mampu menahan gelora hatinya yang seolah-olah mendorongnya untuk turun tangan. Ketika dia melihat pakaian luar Kim Hong dirobek, dia hanya mengepal tinju saja. Dia tahu bahwa Pat-pi Mo-ko hanya menggertak. Akan tetapi ketika dia melihat In Bwee hampir saja diperkosa, dia menggigit bibirnya untuk menahan hatinya. Dia maklum bahwa dia harus kuat menghadapi semua itu. Keadaan masih tidak menguntungkan baginya. Kalau dia menyerbu, mungkin saja dia mampu menghadapi pengeroyokan mereka. Akan tetapi amatlah berbahaya bagi keselamatan tiga orang itu. Dia tidak akan mampu melindungi mereka karena di situ banyak terdapat orang-orang pandai yang tak mungkin dapat dirobohkan dalam waktu singkat sehingga selagi dia dikeroyok, Kim Hong, Kok Siang den In Bwee tentu mudah terbunuh lawan. Dan dia tidak menghendaki hal itu terjadi. Terutama sekali dia tidak ingin kehilangan Kim Hong! Maka dia menanti sampai saat yang paling memuncak dan yang akan memaksanya turun tangan. Kalau masih ada harapan, dia akan sabar menanti.

Diapun terkejut bukan main ketika mendengar pengakuan Kok Siang tentang peta aseli itu. Ah, tak disangkanya bahwa pengakuan Kok Siang ketika mereka berdua itu terjatuh ke dalam air, ternyata bukan hanya siasat pemuda itu, melainkan memang satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri mereka. Kini mengertilah dia mengapa Kim Hong bertahan mati-matian. Kiranya kunci rahasia itu berada di tangan Kok Siang yang menyimpan peta rahasia yang aseli. Dan kunci emasnya yang aseli ada padanya! Kini Kok Siang telah mengaku, tempat itu tentu akan ditemukan oleh Mo-ko. Akan tetapi Thian Sin masih dapat tersenyum geli karena dia tahu bahwa usaha Mo-ko yang telah mendapatken peta aseli itu tetap saja akan sia-sia karena kunci emas yang aseli berada padanya!

Ketika melihat Kim Hong dan Kok Siang hendak dibunuh, dia sudah hampir meloncat ke depan. Akan tetapi hatinya lega ketika dia mendengar Su Tong Hak yang membujuk datuk sesat itu dengan alasan yang amat kuat. Diam-diam Thian Sin mengerti bahwa Su Tong Hak memang merupakan orang yang amat cerdik. Pedagang itu kini menginjak dua perahu, keduanya memungkinkan dia untuk memperoleh keuntungan. Di satu pihak, pedagang itu menyelundupan dia dan menganggap dia sekutunya, tentu dengan harapan untuk selain ada teman menghadapi ancaman Mo-ko yang serakah, juga kalau sampai pihak Mo-ko gagal dan Pendekar Sadis yang menang, setidaknya pedagang itu dapat mengharapkan bagian. Sebaliknya, kalau Pat-pi Mo-ko yang menang, saudagar inipun masih bisa mengharapkan bagian. Maka dia manyelundupkan dan tidak membuka rahasia Thian Sin, akan tetapi di lain pihak, iapun membantu Mo-ko, diantaranya dengan nasihat kejinya untuk memperkosa In Bwee dalam usaha memaksa pengakuan Kok Siang.

Ketika melihat Pat-pi Mo-ko membawa pasukan pergi untuk mengambil peta aseli seperti yang ditunjukkan oleh Kok Siang, Thian Sin tidak ikut membayangi. Sebenarnya, dia telah memperoleh kesempatan baik untuk membayangi datuk itu ke tempat penyimpanan peta aseli dan merampasnya, kalau perlu membunuh kakek tinggi besar hitam itu. Akan tetapi kalau Kim Hong, Kok Siang dan juga In Bwee masih menjadi tawanan, apa artinya itu? Yang penting adalah melindungi mereka. Oleh karena itu, Thian Sin hanya menanti dalam persembunyiannya. Biarlah Pat-pi yang mengambilkan peta itu untuknya, bahkan biarkan datuk itu dengan anak buahnya mencarikan tempat penyimpanan harta karun Jenghis Khan itu untuknya!

Demikianlah, ketika pada koesokan harinya, rombongan besar Pat-pi Mo-ko berangkat menuju ke tempat penyimpanan harta karun, diam-diam Thian Sin juga membayangi rombongan itu. Tiga orang tawanan muda itupun dibawa dengan kereta dalam keadaan terbelenggu kaki tangannya. Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng sendiri mengepalai pasukan ini dengan menunggang kereta bersama tiga orang tawanannya. Para pembantu utamanya, yaitu Hai-pa-cu Can Hoa dan Tiat-ciang Lui Cai Ko, naik kuda dan mengawal di kanan kiri kereta. Su Tong Hak tidak ketinggalan, juga duduk di atas kereta di dekat kusir.

Kereta ke dua berjalan di belakang dan di dalam kereta ini duduk Phang-taijin, pembesar yang menjadi sekutu Pat-pi Mo-ko! Setelah mendengar bahwa peta aseli terjatuh ke tangan sekutunya, jaksa ini tak dapat menahan keinginan hatinya untuk ikut menyaksikan pengambilan harta pusaka atau harta karun Jenghis Khan! Seratus orang perajurit pengawal memperkuat rombongan itu, sebagian mengawal di depan, sebagian di belakang. Mereka itu bukan hanya mengawal untuk menjaga agar jangan ada pihak lawan, terutama sekali Pendekar Sadis yang masih mendatangkan rasa gentar di dalam hati Pat-pi Mo-ko, akan tetapi juga dipersiapkan untuk bekerja di tempat penyimpanan harta karun, kalau-kalau untuk itu dibutuhkan banyak tenaga untuk menggali dan sebagainya.

Perjalanan itu cukup jauh dan merupakan perjalanan yang menarik karena tempat itu ternyata berada di luar Tembok Besar! Mula-mula jantung Thian Sin berdebar tegang ketika rombongan itu menyeberang Tembok Besar di sebelah utara kota raja karena jalan itu menuju ke Lembah Naga! Akan tetapi ternyata rombongan itu membelok ke timur. Kalau dari luar Tembok Besar itu dilanjutkan ke utara sampai kaki Pegunungan Khing-an-san di tepi Sungai Huang-ho, di sanalah letaknya Lembah Naga tempat tinggal ayah angkatnya, Si Pendekar Lembah Naga Cia Si Liong! Akan tetapi, ternyata perjalanan ini tidak sejauh itu dan setelah menunda perjalanan semalam di sebuah dusun, pada keesokan harinya mereka tiba di tempat tujuan, yaitu di kota Ying-kouw, sebuah kota pelabuhan yang letaknya di Teluk Cili atau Teluk Po-hai sehelah utara!

Setelah tiba di kota Ying-kouw, kehadiran Jaksa Phang ternyata amat berjasa dan berguna. Pembesar setempat menyambutnya dengan hormat, memberi tempat penginapan yang layak, bahkan menjamu mereka dengan makan minum. Kepada para pembesar setempat Jaksa Phang menjelaskan bahwa dia sebagai jaksa kota raja sedang menyelidiki sebuah perkara pencurian dan menurut penyelidikan, harta yang dicuri itu dilarikan menuju ke tempat ini. Tentu saja para pembesar di kota Ying-kouw terkejut dan bersedia untuk membantu sedapat mungkin. Akan tetapi Jaksa Phang menolak, mengatakan bahwa untuk menemukan harta curian itu dia sudah mempersiapkan para pembantunya, juga pasukan. Sementara itu, tiga orang muda yang menjadi tawanan, yang oleh Jaksa Phang dikatakan sebagai orang-orang yang tersangkut dalam pencurian besar-besaran itu, dimasukkan tahanan dan dijaga ketat sekali. Malam itu, diam-diam Pat-pi Mo-ko bersama Jaksa Phang, juga para pembantunya, Su Tong Hak, Hai-pa-cu Can Hoa dan Tiat-ciang Lui Cai Ko, mempelajari peta aseli yang sudah diterjemahkan itu.

Ternyata menurut catatan dalam peta kuno itu, harta karun yang dimaksudkan itu berada di dalam sebuah di antara guha-guha yang banyak terdapat di tepi pantai yang curam, di luar kota Ying-kouw sebelah timur. Semalam itu mereka tidak dapat tidur, dengan hati tegang mereka menanti datangnya pagi karena mereka ingin cepat-cepat menemukan harta karun Jenghis Khan itu.

Pagi itu cerah sekali. Langit bersih, tiada segumpalpun awan menghalangi cahaya matahari pagi yang muncul dari permukaan laut, kemudian makin meninggi merobah sinar kemerahan menjadi keemasan, kemudian makim meninggi dan sinar itu berobah pula menjadi keperakan. Dan matahari pagi itu agaknya menenangkan lautan yang semalam menggelora dan menyerbu jauh ke pantai. Kini ombak mulai kembali ke lautan dan permukaan laut menjadi tenang, hanya ada keriput-keriput kecil yang membuat bayangan jalan putih matahari itu bergoyang-goyang lucu.

Dari atas tebing, rombongan itu memandang ke bawah. Dari tempat setinggi kurang lebih tiga ratus meter itu, lautan nampaknya semakin lembut dan tenang, seperti permukaannya tertutup beludru biru yang terhampar luas sampai ke kaki langit. Menjenguk dari atas tebing mendatangkan rasa ngeri, membuat bulu tengkuk meremang dan menimbulkan rasa takut. Rasa takut melihat tempat tinggi, seperti juga perassan takut akan apapun juga, timbul oleh bayangan pikiran yang membayangkan hal-hal yang mengerikan. Kalau kita berdiri di atas tebing melihat ke bawah, tidak akan timbul rasa takut kalau saja kita tidak membayangkan sesuatu. Akan tetapi, begitu pikiran membayangkan bagaimana ngerinya kalau sampai tergelincir dan terjatuh dari tempat yang sedemikian tingginya, maka otomatis bulu tengkuk meremang dan muncullah rasa takut yang membuat jantung berdebar dan kaki gemetar.

Tiga orang muda yang menjadi tawanan dikurung oleh pasukan yang dipimpin oleh komandan pasukan, juga oleh Hai-pa-cu Can Hoa dan Tiat-ciang Liu Cai Ko, sedangkan Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng sendiri melakukan pemeriksaan dan dengan hati-hati sekali dia menuruni tebing yang curam itu, bergantungan pada batu-batu dan akar-akar pohon. Sementara itu, dengan kaki dan tangan terikat rantai panjang, tiga orang muda itu duduk berkumpul. Seperti biasa pada beberapa hari selama menjadi tawanan ini, Kim Hong nampak tenang saja, memandang kepada Kok Siang yang duduk bersandar batu dan In Bwee yang duduk menyandarkan kepalanya di dada kekasihnya. Semenjak In Bwee dijadikan tawanan pula bersama kekasihnya, gadis ini selalu mendekati Kok Siang den nampak sudah begitu pasrah, ingin sehidup semati dengan pemuda itu yang dari pandang matanya juga amat menyayangnya. Malam tadi, ketika dua orang muda yang saling berkasihan itu menyatakan ingin mati bersama, Kim Hong menghibur mereka.

“Jangan putus asa lebih dulu, harapan masih banyak bagi kita untuk lolos.” katanya berbisik sehingga tidak terdengar jelas oleh para penjaga di luar kamar tahanan mereka yang agaknya sudah jemu menjaga.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: