Harta Karun Jenghis Khan (Jilid ke-16) Tamat

Kim Hong tadinya menghadapi Tiat-ciang Lui Cai Ko dengan tenang, bertangan kosong dan dengan senyum mengejek. “Nah, gendut, sekarang kita berhadapan satu lawan satu! Keluarkanlah semua kepandaianmu!”

Tiat-ciang Lui Cai Ko masih hendak borlagak karena dia melawan seorang gadis cantik. Dia masih merasa malu kalau harus mengeluarkan senjata, maka diapun tertawa dan berkata. “Nona yang manis, kalau sekali ini aku dapat meringkusmu, engkau akar kutelanjangi dan kuperkosa di sini juga!” Dan sebelum kata-katanya habis, dia sudah menubruk ke depan, tangan kirinya menyambar ke arah dada sedangkan tangan kanan menyusul kaki kanan yang menendang, mencengkeram ke arah pundak. Serangan yang amat hebat dan sekaligus telah menggunakan kedua tangan dan sebelah kaki. Akan tetapi, Kim Hong yang memiliki tingkat kepandaian jauh lebih tinggi itu, dengan mudahnya berloncatan mengelak dan ketika tubuhnya turun, kakinya mencuat dengan gerakan kilat yang sama sekali tidak dapat diikuti oleh pandang mata lawan.

“Wuuuuttt… plakk!” Dan sepatunya yang kecil dan terkena lumpur itu telah mengenai dagu lawan, membuat tubuh Tiat-ciang Lui Cai Ko terjengkang dan nyaris jatuh terbanting kalau saja dia tidak cepat menggulingkan tubuhnya! Setelah bergulingan, dia meloncat bangun lagi. Wajahnya merah, matanya berapi-api dan mulutnya menyeringai, seperti orang tertawa! Dia merasa malu dan marah bukan main. Dalam segebrakan saja dia telah dirobohkan lawan! Kini diapun tahu bahwa gadis ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Sebagai seorang ahli silat tinggi, dia mengerti bahwa Kim Hong ini adalah seorang yang memiliki gin-kang luar biasa hebatnya, membuat gerakannya cepat sekali, tak dapat diikuti dengan pandang mata, maka tentu merupakan lawan yang berbahaya sekali, walaupun agaknya tenaga wanita ini tidak begitu besar dan tendangannya tadipun tidak begitu kuat. Sungguh pendapat yang didasari kesombongan kosong belaka sehingga membuat dia tidak waspada. Dia tidak melihat bahwa kalau King Hong menghendaki, sekali tendangan tadi saja sudah akan mampu meremukkan tulang gerahamya! Gadis itu memang sengaja hendak mempemainkan, maka belum menurunkan tenaga dalamnya.

“Wuuut! Wuuut!” Tiat-ciang Lui Cai Ko menggunakan kedua tangan meraba pinggangnya dan ternyata kini tangan kirinya memegang sebatang pisau yang panjangnya ada tiga puluh senti, ujungnya berkarat dan berwarna kehijauan, tanda bahwa pisau itu direndam dalam cairan beracun! Dan tangan kanannya memegang sebatang sabuk atau cambuk baja yang ujungnya memakai kaitan seperti mata kail! Sungguh senjata-senjata yang amat berbahaya dan hebat, pikir Kim Hong. Akan tetapi karena ia sudah dapat mengukur sampai di mana kepandaian lawan, iapun tidak merasa perlu untuk mengeluarkan sepasang pedangnya dan hanya menanti dengan sikap tenang, dengan kedua kaki ditekuk di bagian lutut dan kedua lengan tergantung lepas di kanan kiri, akan tetapi biarpun nampaknya santai saja, sebenarnya seluruh urat syaraf di tubuhnya telah siap siaga dan tubuh itu telah dipenuhi dengan tenaga sin-kang yang tinggi dan kuat.

“Hi-hik, itu senjatamu? Pisau penyembelih babi cocok dengan perutmu yang gendut, dan matamu menjadi juling itu tentu karena terlalu sering memutar cambuk itu. Hati-hati, jangan-jangan kaitan cambukmu akan mengenai matamu sendiri, dari juling menjadi buta!” Kim Hong mengejek tanpa memperdulikan serangan lawan yang sudah menyambar sebelum kata-katanya habis itu. Dengan hanya sedikit menggerakkan leher, mukanya ditarik ke belakang dan sambaran pisau pada lehernya itu lewat beberapa senti di depan lehernya. Ketika pada detik berikutnya cambuk baja itu melecut dari atas, ke arah ubun-ubun kepalanya, Kim Hong menggeser kakinya, melangkah sambil memutar dan cambuk itu hanya menyambar lewat dan ujungnya yang dipasangi kaitan itu mengenai tanah yang tertutup batu karang. Terdengar suara keras dan debu mengepul, batu karang hancur pinggirnya kena hantem ujung cambuk.

Tentu saja Tiat-ciang Lui Cai Ko menjadi penasaran dan semakin marah. Dia menyerang kalang kabut dan seperti biasanya orang yang dihimpit kemarahan, kewaspadaannya berkurang dan dia hanya menuruti nafsu amarah, menyerang tanpa menggunakan perhitungan lagi. Cambuknya meledak-ledak menyambar dari atas dan bawah, pisaunya juga berkilauan menyambar-nyambar. Namun, dengan amat mudahnya Kim Hong selalu dapat menghindarkan diri, belum juga balas menyerang karena dara ini ingin mempermainkan lawan sampai sepuasnya sebelum turun tangan.

Sementara itu, melihat betapa tiga orang itu sudah berkelahi, Phang-taijin yang hampir kehabisan perajurit dan juga kehabisan nyali itu, diam-diam memerintahkan sisa pasukannya yang tinggal enam belas orang itu untuk mengawalnya naik ke tebing dan melarikan diri. Akan tetapi, baru saja dia maju beberapa langkah diiringkan oleh para perajurit, menuju ke jalan darurat menuju naik ke tebing, tiba-tiba tubuh In Bwee berkelebat dan gadis ini sudah mendahuluinya dan menghadangnya sambil bertolak pinggang.

“Orang she Phang, engkau hendak lari ke mana? Siapapun tidak boleh pergi dari sini!” kata In Bwee dengan sikap keren. Melihat ini, Phang-taijin membelalakkan matanya.

“Nona Bouw, apa engkau tidak tahu siapa aku maka berani melarangku pergi? Ingat, aku bisa menangkapmu dan menuduhmu melawan pejabat!” Phang-taijin menggertak dan bersikap galak.

In Bwee tersenyum manis. Dara ini sekarang berbesar hati. Biarpun dibandingkan dengan tiga orang teman lain ilmu silatnya masih terlalu rendah, akan tetapi sebagai murid Pat-pi Mo-ko, pandangannya sudah cukup tajam untuk dapat menilai bahwa keadaan teman-temannya berada di atas angin. Ia teringat akan ucapan Kok Siang tadi yang menyanggupi untuk membereskan dan memberi hukuman yang keras untuk pembesar yang bersekongkol dengan penjahat ini, maka ketika melihat pembesar itu hendak melarikan diri, iapun segera menghadang dan mencegahnya untuk membantu kekasihnya.

“Orang she Phang, pada saat sekarang, engkau masih hendak mengandalkan kedudukanmu? Siapapun tahu bahwa engkau bukanlah pejabat lagi melainkan penjahat atau kaki tangan penjahat, dan urusan di sini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan pemerintah.”

Karena yang menghadang hanya seorang gadis, Phang-taijin lalu menyuruh enam belas orang perajutit itu maju. “Hajar gadis lancang ini!” katanya.

Enam belas orang perajurit itu sebenarnya sudah kehabisan semangat seperti bola kempis, dan menurut kehendak hati mereka, satu-satunya keinginan mereka, adalah melarikan diri dari tempat yang berobah menjadi seperti neraka ini. Akan tetapi mereka takut untuk membangkang perintah, apa lagi melihat bahwa gadis itu hendak menghalangi mereka melarikan diri. Maka mereka lalu menjadi nekat dan menyerbu. In Bwee menyambut mereka dengan gerakan kaki tangannya dan terdengar para perajurit itu mengaduh-aduh ketika tubuh mereka terbanting ke sana sini.

Ketika Kok Siang melihat kekasihnya dikeroyok oleh para perajurit, dia menjadi marah dan khawatir. Dia mengeluarkan teriakan melengking dan sepasang siangkoan-pit di tangannya bergerak cepat. Nampak sinar perak berkelebat di depan mulut Hai-pa-cu Can Hoa yang menjadi silau dan di lain saat, sebuah tendangan dengan keras mengenai pergelangan tangan kanannya, membuat goloknya terlempar dan sebelum Si Macam Tutul Laut itu sempat memperbaiki posisinya, sinar emas berkelebat dan menyambar tenggorokannya.

“Aughhh…!” Tubuh yang tinggi besar itu terjengkang dan Hai-pa-cu Can Hoa roboh dan tewas tak lama kemudian karena pit emas di tangan Kok Siang telah menembus tenggorokan dan menotok jalan darah maut. Kok Siang tidak melihat lagi keadaan lawan yang sudah roboh itu dan cepat dia meloncat ke arah kekasihnya. Akan tetapi kekhawatirannya tadi sama sekali tak beralasan karena kini belasan orang itu sudah dirobohkan semua oleh In Bwee, bahkan belum terkena pukulan atau tendangannya sudah menjatuhkan diri dan pura-pura luka tidak dapat melawan lagi. Tinggal Phang-taijin yang berdiri dengan muka pucat dan kedua kaki menggigil lemas, tanpa mampu mengeluarkan suara.

Melihat betapa Kok Siang sudah merobohkan lawannya, Kim Hong merasa bahwa sudah terlampau lama ia mempemainkan lawan. Ketika cabuk atau cambuk baja itu menyambar lagi ke arah kepalanya, tiba-tiba ia mengeluarkan suara melengking dan sinar hitam menyambar, menyambut cambuk itu dan tahu-tahu ujung cambuk itu sudah terbelit oleh ujung rambutnya. Pisau yang menyambar dari arah kanannya itu dielakkan, kemudian tangan kirinya dari bawah menghantam ke atas dan tepat mengenai dada lawan.

“Ngukkk!” Tiba-tiba saja tubuh yang perutnya gendut sekali itu menjadi lemas, napasnya terengah, kedua tangan melepaskan senjeta dan mendekap ke arah atas perut gendutnya, matanya semakin juling melihat ke arah perut dan akhirnya diapun roboh terkulai. Pukulan satu kali dari jari tangan halus Kim Hong tadi telah menyalurkan kekuatan sin-kang dan merusak jantung lawan sehingga pukulan itu sudah cukup untuk merenggut nyawa Tiat-ciang Lui Cai Ko yang sebenarnya masih kalah jauh dibandingkan dengan Toan Kim Hong.

Kini mereka bertiga menonton perkelahian antara Thian Sin dan Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng dan memang pertandingan ini sajalah yang nampak paling seru dan seimbang. Memang pada waktu itu, Thian Sin sedang berada dalam puncak kelihaiannya. Biarpun dia bertangan kosong dan lawannya yang berilmu tinggi itu menggunakan sepasang pedangnya dengan amat hebatnya, namun Thian Sin sama sekali tidak pernah terdesak. Tubuhnya seperti menyelinap dan beterbangan di antara dua sinar pedang yang bergulung-gulung itu. Amat mengerikan dipandang kalau diingat betapa sedikit saja tergores sinar itu, tubuh bisa koyak-koyak! Akan tetapi juga amat indahnya. Setelah lewat puluhan jurus dan sepasang pedang yang amat diandalkannya itu tidak mampu mendesak lawan, Pat-pi Mo-ko mulai merasa gentar dan juga takjub sekali. Belum pernah selama hidupnya dia bertemu dengan lawan sehebat ini. Kini mengertilah dia mengapa datuk-datuk kaum sesat di empat penjuru dunia beberapa tahun yang lalu kalah semua melawan Pendekar Sadis. Kiranya memang hebat bukan main ilmu kepandaian pemuda ini, hebat dan juga aneh, hampir semua gerakan pemuda ini tidak dikenalnya. Karena merasa kewalahan untuk dapat mendesak lawan, akhirnya Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk menjaga diri saja. Sepasang pedang itu diputar sedemikian rupa sehingga andaikata ada hujan lebat dari atas sekalipun menimpa dirinya, tidak akan ada setetes air yang mampu mengenai tubuhnya. Demikian rapat sinar pedang bergulung-gulung menyelimutinya, seolah-olah telah berobah menjadi benteng baja yang menutupi tubuhnya dan yang melindunginya dari ancaman apapun dari luar.

Melihat siasat lawan ini, Thian Sin maklum bahwa kalau dia tidak mengeluarkan ilmu simpanannya, akan makan waktu terlalu lama menjatuhkan lawan tangguh ini. Dia lalu diam-diam mengerahkan tenaganya, lalu pada saat lawan mundur, dia merendahkan dirinya dan tiba-tiba dari mulutnya keluar suara melengking nyaring yang menggetarkan jantung lawan, disusul oleh tubuhnya yang tadi merendah itu kini tiba-tiba meluncur ke depan dengan kecepatan kilat dan dengan kekuatan dahsyat sekali. Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng terkejut ketika merasa ada angin hebat melanda dirinya. Dia berusaha untuk menggerakkan sepasang pedangnya menyambut ke depan, ke arah bayangan lawan yang meluncur itu.

“Bressss…!” Sukar diikuti dengan pandang mata terjadinya benturan itu akan tetapi tahu-tahu tubuh Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng yang tinggi besar itu terpelanting dan terjengkang lalu terguling-guling, menabrak batu karang besar dan berhenti. tidak bergerak lagi. Sebatang pedang, pedangnya sendiri, menembus lehernya sampai ke tengkuk, pedang ke dua masih terkepal tangan kiri. Kiranya dalam benturan tadi, saking hebatnya daya serang Thian Sin, pedang kanan itu membalik dan menembus leher sendiri. Tewaslah Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng dan habislah sudah komplotan jahat yang berlindung di balik kedudukan Jaksa Phang di kota raja itu!

***

Kota raja geger ketika pada suatu pagi, tubuh Jaksa Phang tergantung tinggi-tinggi di depan kantornya dengan kaki tangan terikat dan ikatan tangannya itu digantungkan di atas wuwungan bagian depan sehingga nampak dari jalan. Hal ini menarik banyak perhatian, apa lagi karena sehelai kain putih yang lebar tergantung dan tubuh jaksa Phang itu penuh dengan tulisan yang rapi dan indah. Ketika orang-orang menolongnya dan membaca tulisan itu, keadaan menjadi semakin geger den berita itu segera menjalar luas di kota raja. Isi tulisan itu membuka rahasia jaksa itu tentang perbuatan-perbuatannya yang korup dan jahat, tentang persekutuannya dengan penjahat-penjahat dan betapa kantor kejaksaan dijadikan tempat persembunyian penjahat besar Pat-pi Mo-ko!

Berita ini sumpai ke dalam istana dan kaisar sendiri menjadi marah dan malu, lalu memerintahkan untuk menangkap jaksa Phang itu, dipecat dan dijatuhi hukuman berat. Mudah kita duga bahwa yang melakukan perbuatan itu tentulah Bu Kok Siang orangnya!

Setelah Thian Sin muncul dan membebaskan dia, Kim Hong dan In Bwee, kemudian mereka dapat membasmi para datuk sesat bersama anak buahnya, Thian Sin lalu mengajak mereka bertiga, sambil membawa Phang-taijin sebagai tawanan, menuju ke guha di mana terdapat pintu tadi. Kok Siang menotok roboh jaksa itu dan melemparnya ke sudut, kemudian Thian Sin mengeluarkan kunci emas yang aseli dari sakunya dan ternyata kunci itu tepat sekali memasuki lubang kunci dari emas di tengah-tengah daun pintu baja. Thian Sin memasukkan kuncinya dan memutar-mutar, tiba-tiba terdengar suara keras dan semua orang sudah terkejut dan berhati-hati, takut kalau-kalau terjadi longsor batu-batu karang lagi seperti tadi. Akan tetapi ternyata ketika suara keras itu berhenti, lantai di sebelah kanan daun pintu itu amblong dan berlubang. Kiranya kunci itu hanya menggerakkan alat rahasia yang sudah dipasang di situ di mana terdapat batu besar yang digerakkan oleh alat baja bergeser dan menurun. Di balik batu besar itu terdapat lubang dan inilah tempat rahasia penyimpanan harta karun. Bukan di belakang daun pintu, karena belakang pintu itu tidak ada apa-apanya, hanya ada dinding tebing batu karang. Setelah rasa kagetnya hilang, Thin Sin lalu memeriksa lubang dan di sini mereka menemukan empat buah peti kuno berukir.

“Ah, inilah harta karun itu!” Thian Sin berseru dan empat orang itu merasa gembira bukan main, seperti sekumpulan anak-anak yang menemukan sesuatu yang menarik. Mereka lalu mengeluarkan empat buah peti kuno itu dan ketika empat buah peti itu dibuka, ternyata berisi emas dan permata intan berlian ratna mutu manikam, logam mulia dan batu mulia berkilau-kilauan menyilaukan mata!

Bagaikan anak-anak kecil yang melihat mainan bagus, mereka merakup benda-benda itu, dipermainkannya di antara jari-jari tangan dengan sepasang mata bersinar-sinar dan wajah berseri-seri. “Bukan main! Kalau benda sebanyak ini sampai terjatuh ke tangan mereka, sungguh sayang!” akhirnya Kok Siang berkata.

“Harta karun Jenghis Khan ini rahasianya ditemukan oleh keluarga Ciang, maka kita harus menyerahkan kepada yang berhak, yaitu Ciang Kim Su.” kata Kim Hong dengan suara tegas. Mendengar ini, tiba-tiba Kok Siang menjura kepada wanita itu.

“Nona Toan, sungguh bijaksana sekali ucapan itu dan aku merasa takluk. Seorang seperti nona ini dan juga Ceng-taihiap, barulah pantas disebut pendekar!”

“Sayang, orang yang berhak sudah tidak ada lagi!” kata Thian Sin.

“Apa maksudmu, Thian Sin?” Kim Hong bertanya dan Kok Siang bersama In Bwee juga memandang heran.

“Aku sudah melihat pemuda petani itu. Dia disiksa untuk dipaksa mengaku tentang peta aseli. Tentu saja dia sendiri tidak tahu dan penyiksaan itu membuat dia terluka parah dan ketika aku mangunjunginya di dalam sel tahanannya di kompleks kejaksaan itu, dia meninggal dunia tanpa dapat ditolong lagi.”

“Ahhh…!” In Bwee berseru dan merasa kasihan sekali. Karena menemukan harta karun Jenghis Khan, keluarga petani yang terdiri dari ayah ibu dan anak itu semua telah tewas! Agaknya jalan pikiran In Bwee ini terasa juga oleh tiga orang pendekar itu. Kok Siang menggeleng-geleng kepalanya.

“Jenghis Khan terkenal dengan kekerasan dan kekejamannya, dan harta karunnya inipun ternyata membawa kutuk bagi para penemunya. Untung sekali sekarang terjatuh ke tangan kalian, sepasang pendekar budiman. Mudah-mudahan saja harta karun itu akan dapat bermanfaat dan mendatangkan kebaikan bagi banyak orang melalui tangan kalian berdua.”

“Harta karun ini milik kita bersama sekarang, Bu-twako.” kata Kim Hong. “Kita bersama yang telah mendapatkannya, oleh karena itu kita semua pula yang berhak memilikinya. Kita akan bagi rata…”

“Tidak, aku tidak mau! Sejak kecil aku menjadi anak orang kaya, dan aku bahkan sering kali melihat betapa kekayaan tidak selalu mendatangkan kebahagiaan. Tidak, aku ingin hidup seadanya dan miskin… di samping Siang-koko…” Dan gadis itu lalu memegang lengan pemuda pujaannya itu sambil memandang mesra.

Kok Sing tersenyum. “Baik Bwee-moi, ataupun aku tidak berhak sama sekali, juga tidak membutuhkan. Aku sendiri bukan orang miskin. Aku menerimanya dari paman Louw, dan paman Louw sama sekali tidak berhak. Pula, mendiang pamanku itu memalsu peta, bukan karena ingin menguasai yang aseli, melainkan karena curiga kepada Su Tong Hak dan ingin menolong dan menyerahkannya kelak kepada yang berhak, yaitu Ciang Kim Su. Maka, setelah sekarang jatuh ke tangan kalian yang memang berjasa dan hanya karena adanya kalian maka harta ini dapat ditemukan, maka kalian berdualah yang berhak memilikinya, Ceng-taihiap dan Nona Toan.”

Thian Sin menghela napas dan memandang kagum kepada Kok Siang dan In Bwee. “Ahh, sungguh jarang dapat ditemukan di dalam dunia ini orang-orang seperti kalian berdua. Biasanya, di mana terdapat harta, tentu terjadi perebutan. Untuk memiliki harta, manusia tidak segan melakukan segala macam kejahatan dan kekejaman. Akan tetapi kalian malah menolaknya. Kami sendiri juga tidak membutuhkan harta. Akan tetapi karena harta karun ini telah terjatuh ke tangan kita, sudah seharusnya kalau kita pergunakan untuk kebaikan. Memerangi kejahatan bukan merupakan suatu hal yang mudah dan ringan, juga kadang-kadang membutuhkan banyak biaya. Oleh karena itu, harta karun Jenghis Khan yang saya yakin tentu sudah bergelimang darah ini, yang sekarang saja telah membunuh puluhan orang di luar guha, akan dapat kita pakai untuk menebus dosa-dosanya, untuk manfaat banyak orang dan untuk biaya memerangi kejahatan. Engkaupun berhak memperoleh bagianmu, Bu-siucai.”

Akan tetapi Kok Siang menggeleng kepalanya sambil tersenyum lalu merangkul leher In Bwee yang memegang lengannya. “Tidak, taihiap. Dalam peristiwa perebutan harta karun Jenghis Khan ini, aku telah memperoleh bagianku sendiri, telah memperoleh harta karun yang tiada keduanya di dunia ini, yang jauh lebih berharga dari pada semua harta dalam empat peti itu, yalah Bwee-moi!”

Thian Sin dan Kim Hong tersenyum saling pandang, sedangkan In Bwee menjadi merah mukanya dan tersenyum bangga dan bahagia. Pendekar Sadis dan kekasihnya tidak mau memaksa lagi dan merekapun lalu meninggalkan tempat itu, membawa empat peti harta karun dan juga membawa Phang-taijin sebagai tawanan. Mereka mempergunakan kereta yang tertinggal di atas tebing dan pada malam itu juga, Kok Siang membereskan Phang-taijin, menulis surat pembeberan rahasia busuk pembesar itu dan menggantungkan pembesar korup dan suratnya ke wuwungan depan rumah gedung pembesar itu. Ketika Kok Siang melakukan hal ini, dia ditemani oleh In Bwee, Thian Sin dan Kim Hong. Akan tetapi Pendekar Sadis dan kekasihnya tidak mau mengganggu dan membiarkan sasterawan perkasa itu untuk memuaskan hatinya dengan melakukan hukuman itu sendiri.

Setelah selesai melakukan tugas terakhir dalam urusan harta karun Jenghis Khan itu, mereka berkumpul di tempat sunyi di luar kota raja, di mana telah menanti sebuah kereta yang akan membawa Pendekar Sadis dan kekasihnya meninggalkan kota raja pada malam hari itu juga. Empat buah peti harta karun itu telah disusun rapi di dalam kereta, ditutupi dan tidak nampak dari luar.

HK JK Episode 76

Dua pasang orang muda itu kini saling berhadapan di bawah sinar bulan purnama. Cuaca dan pemandangan indah sekali, mendatangkan rasa kegembiraan luar biasa walaupun ada sedikit rasa haru karena mereka hendak saling berpisahan.

“Kami harap saja kalian akan dapat menjadi pasangan yang baik dan berbahagia.” kata Kim Hong sambil memeluk In Bwee dan gadis hartawan ini mengusap air matanya karena selama beberapa hari menjadi kenalan Kim Hong ia merasa amat kagum dan sayang kepada pendekar wanita itu.

“Mudah-mudahan saja kami akan dapat menjadi pasangan berbahagia seperti ji-wi.” Kata In Bwee.

“Bagaimana rencanamu selanjutnya dengan nona Bouw, Bu-siucai?” Thian Sin bertanya.

“Kami akan minta persetujuan orang tua Bwee-moi dengan terang-terangan. Dan kami sudah bersepakat bahwa andaikata orang tuanya tidak menyetujui, kami berdua akan pergi begitu saja!”

Kim Hong dan Thian Sin tertawa. “Aih, mudah-mudahan tidak. Kami kira, orang tua adik Bwee akan cukup bijaksana untuk dapat melihat bahwa mereka telah mempunyai seorang calon mantu yang hebat!” kata Kim Hong.

“Dan bagaimana dengan ji-wi (kalian berdua)?” tanya Bu Kok Siang.

“Kami akan pulang dan beristirahat.” Jawab Thian Sin.

“Di mana… ah, ji-wi sudah menjelaskan bahwa ji-wi takkan memberitahukan tempat tinggal ji-wi kepada siapapun juga. Biarlah, kami hanya berdoa semoga kelak kita masih akan dapat saling bertemu pula.” kata Kok Siang.

Setelah bersalaman dan saling memberi hormat, akhirnya Thian Sin dan Kim Hong memasuki kereta dan Thian Sin melarikan kuda-kuda penarik kereta, diikuti oleh pandang mata Kok Siang dan In Bwee, sampai kereta itu lenyap ditelan kegelapan di sudut sana. Mereka merasa terharu dan kehilangan, akan tetapi ketika mereka teringat bahwa mereka bersama, lenyaplah rasa kehilangan itu dan sambil bergandeng tangan merekapun kembali ke kamar mereka di rumah penginapan di mana mereka menyewa dua buah kamar untuk mereka. Dan dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka ketika melihat bahwa di kamar Kok Siang terdapat sebuah di antara empat peti harta karun itu, dengan isi yang masih penuh dan utuh! Dan di atas peti itu terdapat tulisan:

SEMOGA KALIAN BERBAHAGIA.

Kedua orang itu saling pandang dan akhirnya In Bwee menubruk calon suaminya sambil menangis, terharu akan kebaikan hati Pendekar Sadis dan kekasihnya.

Sementara itu, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, dua sosok tubuh berada di dalam sebuah perahu layar, dan perahu itu dengan perlahan meninggalkan pantai menuju ke laut bebas. Sebuah perahu layar yang berukuran sedang saja, tidak ada anak perahunya kecuali mereka berdua.

Diatas dek perahu terdapat tiga buah peti kuno berukir indah. Mereka itu adalah Thian Sin dan Kim Hong yang sedang berlayar menuju pulang, ke tempat tinggal mereka yaitu di Pulau Teratai Merah, membawa hasil petualangan mereka, yaitu tiga peti terisi harta karun Jenghis Khan! Mereka akan pulang dan beristirahat, tanpa mereka sadari bahwa mereka akan menghadapi pengalaman-pengalaman yang lebih menyeramkan lagi dalam kisah petualangan mereka “SILUMAN GUHA TENGKORAK”! Kita akan berjumpa kembali dengan sepasang pendekar ini dalam kisah yang menyeramkan itu, di mana selain ilmu silat, juga ilmu sihir dipergunakan! Sampai jumpa!

TAMAT

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: