Harta Karun Jenghis Khan (Jilid ke-4)

“Baiklah, sekarang sebaiknya engkau pulang ke dusun dan membuat laporan kepada ayahmu tentang peta ini, dan sekilian kalian mencari kunci emas itu. Kalau belum kalian temukan, mungkin masih terpendam di tempat di mana kalian menemukan peta.”

“Akan tetapi peta itu…”

“Sebaiknya kita bagi dua saja, Kim Su. Ingat, benda ini amat berharga dan kalau kaubawa semua, sungguh amat berbahaya bagimu. Biarlah kita potong menjadi dua bagian, kita masing-masing membawa sepotong. Kaubawa yang sepotong pulang ke dusun, kemudian bersama ayahmu mencari kunci emas itu. Kalau sudah ketemu, engkau ayah dan ibumu datanglah ke sini dan kita bersama akan pergi mencari harta karun itu. Semua biaya perjalanan mencarinya akan kutanggung.”

Ciang Kim Su menyetujui pendapat ini dan demikianlah, peta itu dipotong menjadi dua dan mereka masing-masing menyimpan sepotong. Kemudian, pemuda dusun itu pulang ke dusun naik kuda pemberian pamannya dan membawa bekal secukupnya, jauh bedanya dengan keadaannya di waktu dia datang ke kota raja.

“Demikianlah apa yang telah terjadi,” Su Tong Hak mengakhiri ceritanya yang didengarkan dengan penuh perhatian oleh Thian Sin dan Kim Hong.

“Lalu ke mana perginya Ciang Kim Su?” tanya Kini Hung. “Kenapa dia tidak pernah pulang ke dusun sehingga ayahnya mencarinya?”

Pedagang itu menggeleng kepala. “Aku tidak tahu aku sendiripun menanti-nantinya dan tidak pernah ada berita darinya.”

“Hemm, sungguh aneh sekali.” kata Thian Sin sambil mengerutkan alisnya dan diam-diam dia mengkhawatirkan nasib pemuda dusun itu. Paman pemuda itu, yang kini duduk di depannya, mempunyai sikap yang palsu dan patut dicurigai, maka di dalam hatinya, dia tidak mau percaya begitu saja akan apa yang diceritakan oleh pedagang itu.”

“Dan paman masih memegang sepotong dari peta yang dibagi dua itu?” tanyanya.

Pedagang itu memandang tajam, alisnya berkerut. Lalu dia menggeleng kepala keras-keras. “Tidak lagi! Peta harts karun itu membawa malapetaka! Baru sebulan setelah Kim Su pergi, rumahku kemalingan dan selain uang dan barang berharga, juga potongan peta itu dicurinya.”

“Bohong…!” Kim Hong berseru dengan marah. “Mungkin kaubunuh keponakanmu itu dan kaurampas potongan peta yang ada padanya!”

Thian Sin hendak mencegah namun sudah tidak keburu dan anehnya, pedagang itu tidak merasa takut, bahkan nampak marah dan bangkit dari duduknya sambil bertolak pinggang. “Apa kau bilang? Kalian datang membawa kunci emas dan mengaku utusan dari kakak iparku, datang-datang berani kau menuduhku yang bukan-bukan? Ah, jangan-jangan kalian inilah penjahat-penjahat yang telah membunuh keponakanku dan selain merampas kunci emas dari ayahnya, juga merampas sebagian peta itu dan kini datang untuk mendapatkan potongan lainnya dariku!”

Thian Sin bangkit menyabarkan kekasihnya lalu berkata kepada pedagang itu, “Paman Su, kami sungguh diutus oleh mendiang paman Ciang Gun…”

“Mendiang?”

“Ya, dia terbunuh oleh Liong-kut-pian Ban Lok dan kaki tangannya…”

“Ban Lok? Si keparat! Berani dia…!” Saudagar itu menahan kata-katanya seperti baru sadar bahwa sikapnya itu menunjukkan bahwa dia mengenal baik kepala penjahat itu. “Lalu… apa yang terjadi?” tanyanya, menahan rasa kagetnya.

“Sebelum meninggal, paman Ciang Gun menyerahkan kunci emas ini kepada kami dan memesan agar kami mencari puteranya di sini.”

“Tapi peta itu…”

“Kami akan cari sampai dapat.”

“Kalau sudah dapat?”

“Akan kami cari harta karun itu untuk kami serahkan kepada yang berhak.”

“Akulah yang berhak. Akulah keluarga terdekat dari keluarga Ciang.”

“Bukan engkau, akan tetapi Ciang Kim Su.” Kata Kim Hong yang masih marah.

“Akan tetapi dia… dia telah mati!”

Tiba-tiba Thian Sin memegang lengan tangan pedagang itu. Pedagang itu meronta dan agaknya dia juga kuat dan menguasai ilmu silat sehingga dia berhasil melepaskan pegangan itu karena Thian Sin juga memegang secara biasa saja. “Bagaimana kau bisa tahu?” bentak Thian Sin yang belum mau memperlihatkan kepandaiannya.

“Ku… kurasa demikian, karena kalau dia masih hidup, di mana dia? Mengapa tidak memberi kabar kepadaku? Orang muda, marilah kita bekerja sama. Serahkan kunci emas itu kepadaku dan aku akan mengusahakan kembalinya peta dan…”

“Tidak! Kami akan mencari sendiri dan memenuhi pesan mendiang Ciang Gun yang telah menjadi korban, bersama isterinya pula dan putera tunggalnya juga masih belum ketahuan bagaimana nasibnya.”

“Tapi… tanpa peta, apa gunanya kunci emas itu?”

“Kami akan mencarinya.”

“Ke mana? Peta itu telah hilang.”

“Bagaimana nanti sajalah. Akan tetapi, mungkin saja kita masih akan saling bertemu!” Setelah berkata denlikian, Thian Sin dan Kim Hong lalu meninggalkan pedagang itu yang masih memandang dengan bengong.

Setelah tiba di luar gedung itu, Thian Sin dan Kim Hong tentu saja tahu bahwa tak lama kemudian, ada tiga bayangan orang mengikuti mereka dari jauh. Mereka tidak merasa heran karena memang mereka sudah menduga bahwa Su Tong Hak bukanlah orang baik-baik dan tiga bayangan orang itu tentulah kaki tangan pedagang itu yang hendak memata-matai mereka. Mereka berpura-pura tidak tahu dan langsung kembali ke rumah penginapan mereka. Memang sesungguhnya kunjungan mereka kepada Su Tong Hak itupun hanya merupakan gerakan pancingan saja untuk memancing keluar kakap-kakap yang ada hubungannya dengan rahasia peta harta karun. Bagaimanapun juga, dua orang pendekar ini masih merasa ragu-ragu di mana adanya peta itu sekarang. Benarkah yang sepotong masih berada di tangan Kim Su yang lenyap tanpa meninggalkan jejak itu? Dan di mana adanya yang sepotong lagi? Mereka tahu bahwa tanpa peta itu, memang kunci emas tidak ada gunanya, sebaliknya, si pemegang petapun tidak akan berhasil tanpa memiliki kunci emas. Inilah sebabnya mengapa mereka menanti. Mereka merasa yakin bahwa dengan memegang kunci emas, akhirnya mereka pasti akan dicari oleh pemilik peta!

***

Mereka tidak usah menanti terlalu lama. Malam itu juga para penjahat telah mulai beraksi. Pada malam hari itu, karena maklum bahwa mereka menghadapi urusan besar dan ancaman bahayat, Thian Sin dan Kim Hong tidak tidur seranjang seperti biasanya. Di dalam kamar itu terdapat dua buah tempat tidur berdampingan, hanya terhalang sebuah meja kecil dan keduanya duduk bersila di atas pembaringan masing-masing. Menjelang tengah malam, tanpa mengeluarkan suara, Kim Hong meniup padam lampu penerangan yang terletak di atas meja dan kamar itupun menjadi gelap.

Lima bayangan orang berkelebat di atas genteng rumah penginapan itu. Gerakan mereka amat gesit, tanda bahwa mereka berlima telah memiliki gin-kang yang cukup tinggi. Bagaikan lima ekor kucing saja, mereka bergerak di atas genteng dan kemudian satu demi satu mereka melayang turun dari atas genteng. Ketika kaki mereka menginjak tanah, tidak terdengar suara sedikitpun. Mereka adalah lima orang laki-laki bertubuh kuat yang dipimpin oleh seorang yang tubuhnya jangkung. Di punggung mereka nampak terselip sepasang golok tipis yang kadang-kadang mengeluarkan cahaya berkilauan kalau tertimpa sinar lampu. Mereka tidak pernah mengeluarkan suara, dan si jangkung hanya memberi aba-aba dengan isyarat tangan saja. Tak lama kemudian mereka telah berada di luar jendela dan pintu kamar yang dihuni oleh Thian Sin dan Kim Hong.

Tanpa mengeluarkan suara, mereka berlima mengeluarkan saputangan hitam dan memasang saputangan itu di depan hidung dan mulut sebagai kedok.

Kemudian, mereka menyalakan hio dan bau yang harum aneh berhamburan dari asap hio. Melalui celah-celah daun pintu di bawah, juga dari celah-celah jendela, mereka memasukkan hio-hio yang terbakar itu ke dalam kamar sehingga mulailah asap-asap harum memenuhi kamar.

Beberapa menit kemudian, terdengarlah gerakan di dalam kamar itu. Suara orang terbatuk-batuk kecil, kemudian disusul suara menguap. Suara itu jelas menunjukkan bahwa yang berada di dalam kamar adalah seorang pria dan seorang wanita. Tentu saja lima orang berkedok saputangan hitam itu menjadi girang dan mereka saling pandang dengan sinar mata berkilat dan berseri. Batuk-batuk dan menguap? Itu membuktikan bahwa asap hio mereka yang mengandung obat bius kuat itu telah mengenai sasaran dan berhasil. Memang orang akan lebih dulu terbatuk-batuk, kemudian setelah menguap takkan dapat tertahan lagi, pasti jatuh pulas seperti pingsan saja!

Mereka menanti sampai kurang lebih sepuluh menit dan pada waktu itu, kamar telah penuh dengan asap hio. Mereka juga mendengarkan dengan penuh perhatian dan agak kecewa karena tidak mendengar suara orang mendengkur yang menjadi tanda mutlak bahwa orang-orang di dalam kamar itu telah tidur pulas. Akan tetapi, tidak semua orang tidur mendengkur. Biasanya, hanya orang-orang yang gendut sajalah yang tidur mendengkur dan mereka tahu bahwa pria dan wanita yang berada di dalam kamar itu sama sekali tidak gendut. Setelah hio-hio itu terbakar habis dan padam, dan asap harum mulai melayang keluar dari celah-celah jendela, si jangkung memberi isarat dengan tangan. Mereka lalu membongkar daun jendela dengan amat mudahnya karena mereka memiliki tenaga yang kuat.

Nampak sinar-sinar berkilau ketika lima orang itu menghunus golok-golok mereka dengan kedua tangan dan dengan sepasang golok di tangan merekapun berloncatan memasuki kamar melalui jendela, muka mereka terlindung oleh saputangan hitam yang sudah diberi penawar obat bius. Melihat ada tubuh terseilmut membujur di atas dua buah pembaringan itu, lima orang pendatang ini menjadi ganas. Dengan isyarat si jangkung, mereka lalu menyerbu dengan golok terangkat dan dalam sekejap mata saja sepuluh batang golok di tangan mereka itu sudah membacok dan menusuk ke arah dua batang tubuh terseilmut yang nampak remang-remang di atas dua buah pembaringan.

Terdengar suara crak-crok-crak-crok disusul seruan-seruan kaget dan heran ketika lima orang itu merasa betapa golok-golok mereka bertemu dengan “tubuh” yang lunak, yaitu guling dan bantal yang ditutupi seilmut!

“Celaka, kita terjebak. Keluar!” kata si jangkung dengan suara mendesis karena marah. Dan pada saat itu terdengarlah suara ketawa dari atas genteng, suara ketawa yang merdu dari seorang wanita dan suara ketawa mengejek seorang pria!

Lima orang itu menjadi marah dan dengan gerakan cepat mereka berlima sudah meloncat keluar dari dalam kamar yang masih penuh dengan asap itu, kemudian mereka langsung berloncatan ke atas wuwungan rumah dengan sepasang golok masih berada di tangan masing-masing. Dan di sana, di atas wuwungan, diterangi oleh bulan muda dan bintang-bintang, nampak seorang pemuda dan seorang gadis berdiri dengan kaki terpentang lebar dan kedua tangan bertolak pinggang, tersenyum-senyum mentertawakan mereka. Si jangkung merenggut saputangan hitam dari mukanya, diturut oleh empat orang kawannya ketika mereka mengejar ke depan.

Melihat gerakan lima orang itu yang cukup gesit menandakan bahwa mereka itu bukan penjahat-penjahat sembarangan melainkan orang-orang yang telah memiliki kepandaian tinggi, Thian Sin lalu mengacungkan sebuah kunci emas ke atas kepala sambil berkata, “Kalau kalian datang untuk mencari ini, ikutilah kami!” Dan diapun meloncat turun bersama Kim Hong, lalu melarikan diri menjauhi tempat ramai itu menuju ke pinggir kota yang sunyi, di bagian yang dipergunakan orang untuk bercocok tanam. Di situ sunyi sekali dan cuaca hanya remang-remang diterangi bulan muda dan bintang-bintang. Lima orang itu tentu saja menjadi penasaran dan agaknya melihat berkilaunya kunci emas tadi, semangat mereka bertambah dan merekapun melakukan pengejaran. Kejar mengejar ini dipergunakan oleh Thian Sin dan Kim Hong untuk mengukur ilmu berlari cepat lima orang itu dan mereka berdua harus mengakui bahwa lima orang itu benar-benar cukup lihai. Mereka menjadi girang karena makin lihainya lawan yang datang mencari mereka, hal itu dapat diartikan bahwa semakin dekatlah mereka dengan orang yang menguasai peta yang mereka cari!

Thian Sin dan Kim Hong berdiri tegak menanti lima orang calon lawan yang kinipun mulai mengerti bahwa dua orang muda mudi yang dikejarnya itu bukan orang sembarangan. Dan melihat cara mereka menipu di dalam kamar, kemudian melihat cara mereka berdua lari, lima orang ini maklum bahwa ternyata pemilik kunci emas itu adalah dua orang muda yang lihai. Maka, sambil mengejar tadi, si jangkung memberi peringatan kepada teman-temannya agar berhati-hati.

Setelah saling berhadapan, Thian Sin dan Kim Hong kini dapat melihat wajah mereka dengan jelas, walaupun dalam cuaca remang-remang. Dan mereka berdua itu merasa heran karena wajah mereka itu bukan wajah penjahat yang kasar. Wajah orang-orang yang bersikap tenang, pantasnya wajah jagoan-jagoan yang merasa yakin akan kepandaian sendiri, akan tetapi, melihat sepak terjang mereka ketika menyebarkan obat asap bius dan ketika mereka menyerang guling dan bantal yang diseilmuti, sungguh merupakan perbuatan kejam sekali.

“Hemm, kalian ini lima orang maling kecil, tentu hendak merampas kunci emasku ini, bukan?” Thian Sin kembali mengacungkan kunci emas itu di tangan kanannya.

Si jangkung menghardik, suaranya nyaring dan penuh kepercayaan kepada diri sendiri, “Kalau sudah tahu begitu, orang muda, lebih baik kauserahkan kunci itu kepada kami dan kalian boleh pergi dengan selamat.”

“Wah, wah, lima ekor tikus sawah, yang hanya maling-maling kecil ini sombong sekali!” kata Kim Hong.

“Kalian hanyalah pesuruh-pesuruh rendah,” kata Thian Sin. “Kalau memang menghendaki kunci, suruhlah kepala kalian, atau orang yang memegang peta rahasia itu untuk menemui kami. Kami sudah bosan berurusan dengan anak buah rendahan!”

Lima orang itu jelas kelihatan marah sekali dan golok-golok di tangan mereka itu tergetar. “Orang muda yang sombong!” bentak si jangkung, “Kalian berdua tidak tahu dengan siapa kalian berhadapan! Kami adalah Siang-to Ngo-houw (Lima Harimau Bergolok Pasangan) dan bukan sekedar golongan rendahan!”

Thian Sin dan Kim Hong tidak pernah mendengar nama julukan Siang-to Ngo-houw ini karena memang sudah bertahun-tahun mereka tidak lagi berkecimpung di dunia kang-ouw. Tentu saja nama ini tidak berarti apa-apa bagi mereka.

“Siang-to Ngo-houw, kami hanya mau bicara tentang kunci emas kepada orang yang memiliki peta rahasia itu. Apakah kalian menguasai peta itu? Kalau benar, keluarkanlah dan mari kita bicara!” kata pula Thian Sin.

“Tidak perlu banyak cakap. Serahkan kunci emas itu atau terpaksa kita harus menggunakan kekerasan untuk merampasnya!” teriak pula si jangkung.

“Hi-hik, masih mengancam lagi. Padahal, bisanya hanya menggunakan asap bius dan membacoki bantal guling seperti maling-maling kecil.” Kim Hong berkata mengejek lalu berpaling kepada kekasihnya. “Perlu apa melayani segala maling-maling kecil? Mereka ini tentu hanya kaum rendahan saja!”

“Serbu!” Si jangkung sudah memberi komando karena tidak sabar lagi melihat sikap dua orang yang jelas memandang rendah kepada mereka itu.

Thian Sin menyimpan kunci emasnya dan hendak bergerak, akan tetapi Kim Hong sudah berkata kepadanya, “Biarkan aku menghadapi mereka sendiri!”

“Ah, bukan waktunya untuk main-main, Kim Hong!” Thian Sin membantah. Dia melihat bahwa lima orang ini tidak boleh dipandang ringan dan biarpun dia tahu betapa lihainya kekasihnya itu, dan kalau menghadapi mereka ini satu lawan satu tentu tidak sukar bagi Kim Hong untuk merobohkan mereka semua, akan tetapi kalau mereka itu maju berlima, kiranya bukan tidak berbahaya bagi kekasihnya.

“Siapa main-main? Justeru sudah lama aku tidak latihan menghadapi lawan tangguh. Biarkan aku, Thian Sin, sekali ini saja ya…?” Kalimat terakhir itu terdengar demikian manja dan penuh keinginan sehingga Thian Sin terpaksa tersenyum sambil melangkah mundur.

“Bandel! Sesukamulah, tapi jangan salahkan aku kalau kau tergores golok!” Biarpun mulutnya berkata demikian, akan tetapi tentu saja diapun siap waspada, tidak mungkin dia membiarkan kulit halus kekasihnya itu tergores golok orang.

Kim Hong tersenyum manis dan kalau saja gadis itu tidak sedang menghadapi perkelahian, tentu Thian Sin akan merangkul dan menciumnya karena senyuman itu adalah senyuman khas dari kekasihnya kalau lagi senang hatinya dan sedang mencumbu. Tentu senyum itu sebagai tanda terima kasih yang akan dibayar kalau kesempatan memungkinkan nanti. Lalu gadis itu melompat ke depan, dengan gaya yang menantang sekali ia lalu menggulung kedua lengan bajunya, sehingga nampaklah lengan yang bulat dan berkulit putih halus. Demikian tipis dan halusnya kulit lengan Kim Hong ini sehingga kalau saja cuaca tidak segelap itu akan nampak urat-urat halus membayang di balik kulitnya. Nampaknya demikian halus dan lunak, akan tetapi jangan sekali-kali mengira demikian karena kedua lengan itu dapat terisi tenaga yang amat hebat dan sedemikian kuatnya sehingga mampu menangkis senjata tajam tanpa terluka!

“Tahan…!” Tiba-tiba si jangkung berseru kepada teman-temannya. Bagaimanapun juga, nama Siang-to Ngo-houw terlalu besar untuk dikotori dengan pengeroyokan terhadap seorang gadis muda yang bertangan kosong. Di kota raja, nama Siang-to Ngo-houw sudah terkenal sekali. Mereka ini adalah bekas tokoh-tokoh besar di perkumpulan Hwa-i Kai-pang yang bertugas di luar kota raja. Baru setelah Hwa-i Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang) mengalami musibah, yaitu dengan terbunuhnya dua orang pimpinannya, yaitu Lo-thian Sin-kai dan Hek-bin Mo-kai sehingga perkumpulan itu menjadi berantakan, maka kelima orang ini datang ke kota raja. Kedua orang pemimpin Hwa-i Kai-pang ini terbunuh oleh Pendekar Sadis dan hanya itulah yang diketahui oleh Siang-to Ngo-houw. Mereka sama sekali tidak pernah mengira bahwa Pendekar Sadis pembunuh dua orang suheng mereka itu adalah pemuda yang kini berhadapan dengan mereka inilah!

Seperti telah diceritakan dalam cerita Pendekar Sadis, dua orang pimpinan Hwa-i Kai-pang itu dibunuh oleh Pendekar Sadis Ceng Thian Sin karena mereka berdua pernah membantu pengeroyokan sehingga tewasnya ayah bunda pendekar itu. Dan karena hanya sedikit saja orang yang mengenal muka Pendekar Sadis, maka lima orang jagoan inipun hanya mendengar namanya saja akan tetapi tidak mengenal Thian Sin.

Siang-to Ngo-houw adalah sute dari Lo-thian Sin-kai, dan memiliki tingkat kepandaian yang tidak banyak selisihnya dengan bekas tokoh Hwa-i Kai-pang itu. Tentu saja mereka itu lihai sekali, apa lagi kalau mereka maju berlima karena mereka telah menciptakan bersama suatu ilmu silat gabungan yang amat dahsyat. Mereka kembali ke kota raja setelah dua orang pimpman Hwa-i Kai-pang tewas dan melihat bahwa perkumpulan itu sudah tidak begitu baik lagi namanya, maka lima orang inipun tidak lagi mau membangunnya, bahkan mereka lain membantu tokoh sesat yang pada waktu itu paling terkenal di kota raja, yaitu Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng. Inilah sebabnya, maka sebagai tokoh-tokoh besar yang terkenal dan memiliki ilmu tinggi yang mereka andalkan, si jangkung yang memimpin adik-adiknya itu merasa malu untuk mengeroyok seorang gadis yang bertangan kosong, sehingga dia berteriak menahan adik-adiknya sebelum mereka itu sempat menggerakkan golok mereka. Empat orang adiknya memandang kepada si jangkung dengan sinar mata penuh pertanyaan. Akan tetapi si jangkung lalu menghadapi Kim Hong den mengangkat dada untuk menunjukkan kegagahan.

“Nona, Siang-to Ngo-houw memang sudah biasa maju bersama, akan tetapi belum pernah mengganggu wanita yang bertangan kosong. Maka, kami minta agar kalian berdua menyerahkan kunci atau maju bersama dengan menggunakan senjata.”

Melihat sikap ini, Kim Hong malah mentertawakan. “Hik-hik, lagaknya! Apa sudah lupa betapa tadi yang berjuluk Siang-to Ngo-houw sama sekali tidak bersikap jantan, tidak seperti Lima Ekor Harimau akan tetapi lebih pantas menjadi Lima Ekor Tikus yang curang dan pengecut, menggunakan obat bius den menyerang orang-orang yang sedang tidur pulas? Hi-hik, kini berlagak lagi! Sungguh tidak lucu, malah menjemukan. Hayo tak perlu cerewet lagi, ingin kulihat apakah ilmu kalian juga sebesar kecurangan kalian!”

“Perempuan sombong!” Teriakan ini dilakukan oleh dua orang di antara lima tokoh sesat itu dan merekapun sudah menerjang maju dengan sambaran sepasang golok mereka. Terdengar bunyi berdesingan ketika empat batang golok itu menyambar dengan dahsyat menghujankan serangan maut ke arah tubuh Kim Hong. Akan tetapi, hanya dengan sedikit gerakan tubuh saja, sambaran golok-golok itu dapat dielakkan dengan mudah oleh Kim Hong den hanya mengenai tempat kosong saja. Tiga orang lainnya kini tidak ragu-ragu lagi, apa pula mereka juga amat marah dan merasa terhina oleh ejekan Kim Hong tadi. Mereka mengeluarkan suara bentakan den mulailah lima orang itu mengurung Kim Hong sambil membuat langkah-langkah lebar memutari gadis itu. Mereka yang dapat menduga bahwa seorang gadis muda yang demikian tabahnya menantang mereka pasti memiliki kelihaian, kini segera menggerakkan ilmu yang mereka andalkan, yaitu Ngo-lian To-tin (Barisan Golok Lima Teratai). Langkah-langkah mereka teratur dan mereka itu merupakan rangkaian yang bekerja sama secara otomatis. Kadang-kadang sambil melangkah mengitari lawan, terdengar golok mereka bersiutan, digerakkan menembus udara, kadang-kadang berdencing karena saling sentuh sehingga suasana menjadi menegangkan.

Akan tetapi Kim Hong berdiri dengan tenang saja, same sekali tidak bergerak den hanya sepasang matanya yang bergerak-gerak mengikuti gerakan lima orang pengepungnya dan tentu saja pendengarannya juga mengikuti setiap gerakan orang yang berada di belakangnya. Seluruh urat syarafnya sudah siap siaga dan menegang, walaupun tubuhnya nampak tenang-tenang seenaknya saja. Gadis ini maklum bahwa lima orang pengepungnya bukanlah lawan ringan dan sama sekali tidak boleh dipandang rendah. Akan tetapi ia masih belum merasa perlu untuk mengeluarkan sepasang pedangnya, yaitu Hok-mo Siang-kiam (Sepasang Pedang Penaluk Iblis) yang berwarna hitam dan yang selalu disimpannya di balik baju itu. Sebagai seorang yang berilmu tinggi, kalau tidak amat terpaksa, Kim Hong tidak akan mau mempergunakan pedang.

“Hiaaattt…!” Tiba-tiba si jangkung mengeluarkan teriakan nyaring dan sepasang goloknya sudah menyambar dengan gerak tipu Hong-cui-pai-hio (Angin Meniup Runtuh Dedaunan), sepasang golok itu berkelebat saling susul, yang kiri menyambar leher dan yang kanan menusuk lambung. Serangan ini dilakukan ketika dia berada di sebelah kanan dari Kim Hong.

“Hemm…!” Kim Hong menggeser kaki mengelak dan cara mengelaknya memang istimewa sekali, kakinya tidak terangkat, melainkan menggeser atau meluncur seolah-olah di bawah sepatunya terdapat roda yang membuat tubuhnya dapat meluncur. Akan tetapi cepatnya bukan main sehingga serangan sepasang golok itu gagal total. Akan tetapi, kiranya serangan pertama dari si jangkung ini merupakan pembukaan atau aba-aba, karena kini mereka berlima sepenuhnya mulai menggerakkan Ngo-lian To-tin atau Barisan Golok Lima Teratai itu dan memang hebat sekali gerakan mereka. Sepuluh batang golok itu bekerja sama dengan demikian rapi dan cekatan, susul menyusul dan bertubi-tubi, seolah-olah digerakkan oleh satu otak saja, saling bantu dan ke manapun tubuh Kim Hong mengelak, tentu ia sudah dipapaki oleh lain golok. Dan susunan serangan mereka itupun makin lama makin kuat dan berbahaya!

“Ciaaattt…!” Seorang di antara mereka yang berada di depan Kim Hong, menggunakan jurus Sin-eng Hoan-sin (Garuda Sakti Memutar Tubuh), sepasang goloknya itu tiba-tiba meluncur dengan gerakan membalik, amat berbahaya sekali dan saking cepatnya, sepasang golok itu lenyap bentuknya berobah menjadi dua berkas sinar yang menyilaukan mata. Kim Hong cepat mengelak dan sekali ini dengan loncatan ringan ke kiri, di mana ia disambut oleh sepasang golok yang dimainkan dengan jurus Kim-liong-hian-jiauw (Naga Emas Mengulur Cakar) dengan sepasang golok itu menusuk secara berantai. Kembali Kim Hong mengelak ke belakang di mana ia disambut pula oleh scrangan golok yang lebih berbahaya karena penyerangnya menggunakan jurus Giok-tai-wi-yauw (Sabuk Kemala Melilit Pinggang), sebuah gerakan yang indah sekali dan golok itu seolah-olah melengkung melalui belakang pinggang dan langsung menuju ke pinggang lawan. Untuk kesekian kalinya Kim Hong mengelak dan lawan ke lima yang berada di belakangnya sudah menyambutnya dengan sebuah tendangan kilat yang disusul oleh sambaran golok ke leher. Sepasang golok itu membuat gerakan menggunting dari kanan kiri dan itulah jurus yang dinamakan Ji-liong-jio-cu (Sepasang Naga Berebut Mustika).

Menghadapi serangan bertubi-tubi yang dilakukan dengan gencar, cepat dan kuat, juga saling membantu ini, yang maksudnya untuk menutup jalan keluarnya dan tidak memberi kesempatan kepadanya untuk balas menyerang melainkan dipaksa untuk mengelak terus, Kim Hong lalu mengeluarkan suara melengking nyaring dan iapun sudah mainkan ilmu silat tangan kosong yang dinamakan Kong-jiu-jip-pek-to (Tangan Kosong Menyerbu Ratusan Golok) dan tubuhnya berkelebatan secara cepat bukan main! Lima orang jagoan itu terkejut sekali melihat betapa tubuh lawan mereka itu kadang-kadang lenyap dan demikian cepat gerakan gadis itu sehingga membuat mata mereka menjadi silau dan kabur pandangannya. Hebatnya, gadis itu kadang-kadang berani menyampok golok dengan tangan kosong dan tangan itu terasa demikian lunak seperti kapas sehingga tidak terluka oleh golok, namun di bawah kelunakan itu terkandung tenaga yang luar biasa kuatnya! Maklumlah Siang-to Ngo-houw bahwa mereka menghadapi seorang gadis yang benar-benar amat lihai, maka mereka bergerak dengan hati-hati sekali. Kerja sama mereka yang amat rapi itu tetap saja dapat mengimbangi ilmu silat istimewa dari Kim Hong dan membuat gadis itu masih sulit untuk dapat merobohkan seorang di antara mereka karena mereka itu selalu dalam posisi saling bantu dan saling melindungi. Memang lima orang itu telah memiliki ilmu silat yang kuat sekali. Seperti juga ilmu kepandaian mendiang suheng mereka, yaitu Lo-thian Sin-kai tokoh nomor satu dari Hwa-i Kai-pang, mereka memiliki dua macam ilmu silat yang menjadi andalan mereka. Pertama adalah ilmu silat tangan kosong yang disebut Ta-houw Sin-ciang-hoat (Ilmu Silat Sakti Pemukul Harimau) yang membuat tangan mereka menjadi sedemikian kerasnya sehingga kepalan tangan mereka itu mampu mengalahkan harimau dan memecahkan kepala binatang itu. Dan yang ke dua adalah ilmu yang berdasarkan ilmu silat tongkat Ngo-lian Pang-hoat (Silat Tongkat Lima Teratai). Ilmu ini mereka robah menjadi Ngo-lian To-hoat (Silat Golok Lima Teratai) dan dengan ilmu golok ini, mereka berlima telah menciptakan Ngo-lian To-tin (Barisan Go. lok Lima Teratai) yang amat tangguh itu.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: