Harta Karun Jenghis Khan (Jilid ke-5)

Tentu saja kalau dibandingkan satu lawan satu, tingkat kepandaian Kim Hong masih jauh lebih tinggi, baik dalam ilmu silat maupun tenaga sin-kang, terutama sekali dalam hal gin-kang karena memang gadis ini memiliki ilmu meringankan tubuh yang sukar dicari bandingannya. Akan tetapi karena mereka itu maju berlima dan membentuk barisan golok yang amat tangguh itu, Kim Hong yang bertangan kosong mengalami kesulitan juga untuk menundukkan mereka. Ia tetap tidak mau mengeluarkan pedangnya, karena merasa bahwa ia belum terdesak, hanya belum mampu merobohkan mereka.

“Heh, bandel, kenapa tidak menggunakan siang-kiammu itu?” berkali-kali Thian Sin berseru, akan tetapi Kim Hong hanya tersenyum saja.

“Darah lima ekor tikus ini terlalu busuk untuk mengotori pedang-pedangku!” akhirnya ia menjawab dan jawaban ini membuat Siang-to Ngo-houw menjadi semakin marah.

“Perempuan sombong!” Si jangkung berteriak marah dan memimpin adik-adik seperguruannya untuk mendesak semakin ganas. Akan tetapi tiba-tiba teriakannya itu yang disusul dengan tusukan golok ke arah dada Kim Hong, berobah menjadi teriakan kesakitan ketika tiba-tiba ada sinar hitam berkelebat dan terdengar suara meledak kecil yang diakibatkan oleh lecutan ujung rambut Kim Hong yang menotok pergelangan tangan yang memegang golok.

“Aduhhh…!” Golok itu terlepas dari pegangan tangan yang tiba-tiba terasa lumpuh dan sebelum si jangkung dapat memperbaiki posisinya, sebuah tendangan kaki kiri Kim Hong mengenai pahanya.

“Dess…!” Si jangkung terlempar dan menyeringai kesakitan, berusaha bangkit, akan tetapi jatuh terduduk lagi karena bekas tendangan pada pahanya itu membuat pahanya memar, matang biru dan rasa nyeri menusuk-nusuk sampai ke jantung!

Empat orang yang lain menjadi terkejut dan marah. Mereka bergerak cepat dan memang ilmu barisan Lima Teratai mereka itu sudah terlatih baik, bahkan sudah terlatih kalau-kalau ada di antara mereka yang terluka. Barisan itu memang berlima, akan tetapi mereka telah melatih sedemikian rupa sehingga dapat mereka mainkan berempat, bertiga, atau bahkan berdua tanpa menjadi kaku dan canggung. Kini, empat orang itu berkelebatan dan gerakan mereka berbeda dari gerakan ketika mereka berlima tadi, akan tetapi tidak mengurangi ketangguhan mereka.

Bagaimanapun juga, kini Kim Hong tidak hanya menghadapi mereka dengan kaki tangan kosong, melainkan ia telah mempergunakan senjatanya yang ampuh, yaitu rambutnya! Senjata ini bahkan lebih ampuh dari pada senjata lain, karena selain tidak terduga-duga datangnya, digerakkan oleh kepala, juga senjata ini dapat menjadi kaku atau lemas tergantung penggunaan tenaga sin-kang yang dikerahkan oleh gadis perkasa itu. Empat orang itu biarpun telah lama berkecimpung di dunia persilatan dan telah banyok menghadapi lawan tangguh, akan tetapi baru sekaranglah mereka bertemu lawan seperti itu, dan melihat betapa suheng mereka telah roboh, maka merekapun menjadi panik. Hal ini dapat terasa oleh Kim Hong, terasa dalam gerakan kerja sama yang tidak serapi tadi. Banyak terdapat lowongan-lowongan dan gadis perkasa itupun segera merempergunakannya.

“Hiaaaattt…!” Ia melengking dan tubuhnya menerjang ke depan, melompat ke atas dan kaki kirinya meneadang ke arah sepasang golok yang menyambutnya. Pemegang golok itu berteriak kesakitan dan sepasang goloknya terlempar, akan tetap sebelum dia dapat mengelak, kaki kanan Kim Hong sudah tiba.

“Bukkk!” Orang itu terlempar ke belakang dan terbanting keras, terjengkang dan napasnya terasa sesak, dadanya terasa jebol. Sampai lama dia hanya dapat terengah-engah sambil menekan dadanya.

“Haiiitttt…!” Kim Hong melengking lagi, rambutnya menyambar seperti seekor ular hitam, tepat menotok pundak seorang pengeroyok yang tiba-tiba saja berobah menjadi patung, tidak mampu bergerak dengan tangan kanan mengacungkan golok ke atas dan tangan kiri menusukkan golok ke depan. Kim Hong yang berhasil menotoknya dengan ujung rambutnya, segera menggerakkan tangan kiri menampar. “Plakkk!” Tubuh orang ke tiga inipun terpelanting dan sepasang goloknya terlempar, matanya menjadi juling dan dia duduk dengan kepala bergoyang-goyang karena bumi terasa berpusing di depannya.

“Hyaaaaattt…!” Kembali Kim Hong mengeluarkan suara lengkingan panjang, tubuhnya sudah melayang ke atas. Dua orang lawannya yang sudah menjadi gentar sekali itu menyambut tubuhnya dengan tusukan dan bacokan golok. Akan tetapi tiba-tiba tubuh yang ramping itu membuat gerakan salto di udara dan tahu-tahu dua orang itu kehilangan lawan mereka! Sebelum mereka sadar bahwa lawan yang amat lincah seperti burung walet itu berada di belakang mereka, tahu-tahu rambut kepala mereka dijambak oleh sepasang lengan yang kecil halus namun kuat.

“Dukkk…!” Keduanya mengeluh dan roboh, di kepala mereka tumbuh sebutir telur angsa dan kepala mereka terasa nanar dan pandang mata terasa berkunang!

Terdengar tepuk tangan dan Kim Hong menoleh sambil tersenyum memandang kepada kekasihnya yang bertepuk tangan memujinya. Bulan sudah naik tinggi dan sinarnya semakin cerah. Langit bersih sekali sehingga cuaca menjadi semakin terang.

“Bagus sekali cara engkau menjatuhkan mereka, Kim Hong.” kata Thian Sin memuji.

Yang dipuji girang sekali dan bangga. “Ah, latihan yang menyenangkan. Tubuh terasa enak sekali!” kata Kim Hong sambil menggeliat seperti seekor kucing malas, muka diangkat seperti memandangi bulan, dada yang sudah membusung itu makin dibusungkan, pinggang ditekuk, kedua lengan yang masih tersingsing lengan bajunya itu diangkat ke atas dan ke belakang, menyanggul rambut yang tadi terlepas.

Di antara semua keindahan gerakan wanita, satu di antaranya yang paling mempesonakan hati pria adalah kalau wanita itu membereskan rambut kepalanya dengan mengangkat kedua lengan ke atas dan ke belakang! Gerakan ini mengandung kelembutan, keindahan dan kehalusan wanita sepenuhnya, bahkan nampak pada saat itu seperti gerakan yang penuh gairah yang menantang. Thian Sin merasa betapa bulu tengkuknya meremang dan ini tandanya bahwa dia telah terangsang memandang kekasihnya seperti itu. Diapun melangkah maju dan dipeluknya pinggang yang ramping dan sedang meliuk itu, ditariknya tubuh itu dan didekapnya kuat-kuat, lalu diciumnya mulut yang agak terbuka itu. Terdengar Kim Hong mengeluarkan suara seperti seekor kucing dan kedua lengan yang sedang menyanggul rambut itupun melingkar di leher Thian Sin, membuat rambut yang belum selesai disanggul itu terlepas dan terurai lagi. Mereka berdua tidak memperdulikan lagi lima orang yang telah dirobohkan tadi, tenggelam dalam buaian asmara, saling berangkulan, saling berciuman. Bahkan kesempatan itu dipergunakan oleh lima orang Siang-to Ngo-houw untuk bangkit perlahan-lahan, menahan keluhan sambil menyeringai, kemudian perlahan-lahan merekapun melarikan diri dari tempat itu.

“Eh, kita harus menangkap seorang!” Tiba-tiba Thian Sin melepaskan ciumannya. Akan tetapi Kim Hong menahan dengan rangkulannya, lalu gadis itu menggunakan tangan kiri melepas sebuah tusuk konde di atas telinga, mengayun tangannya. Terdengar jerit kesakitan dan seorang di antara Siang-to Ngo-houw terjungkal roboh dan tidak mampu bangkit lagi. Empat orang temannya melarikan diri dan agaknya melupakan seorang kawan mereka yang roboh. Sedangkan Kim Hong sudah menarik muka Thian Sin lagi, melanjutkan permainan mereka yang tertunda tadi, tenggelam dalam kemesraan dan pencurahan kasih sayang.

Bagi yang belum mengenal kedua orang muda ini tentu akan merasa heran melihat keadaan mereka. Akan tetapi, bagi pembaca yang sudah mengikuti perjalanan hidup mereka dalam cerita Pendekar Sadis, tentu tidak akan merasa heran. Latar belakang kehidupan mereka demikian suram dan gelapnya, pengalaman-pengalaman pahit getir telah membuat hati kedua orang muda ini terasa hambar akan segala peraturan yang dibuat oleh manusia, termasuk pernikahan. Mereka berdua itu saling menyinta, cinta yang tidak dibuat-buat, cinta yang memang timbul dari dalam hati mereka, bebas dari ikatan peraturan-peraturan umum. Mereka mengenal watak dan cacat masing-masing. Mereka saling mencinta dengan mata terbuka. Mereka tidak mau mengikat diri dengan pernikahan, walaupun di dalam hati mereka terdapat kasih sayang mendalam yang agaknya tidak memungkinkan mereka tertarik kepada orang lain. Kemesraan bisa saja timbul di antara mereka, di manapun juga, di saat apapun juga dan mereka tidak akan menyembunyikan perasaan mesra itu. Mereka berani bermesraan di manapun karena mereka berdua sudah tidak begitu mau memperdulikan lagi soal-soal peraturan dan hukum yang mereka anggap palsu dan pura-pura. Kalau mereka saling menyayang dan timbul gairah untuk saling memperlihatkan kasih sayang, untuk saling meraba memeluk dan mencium, mengapa harus disembunyi-sembunyikan? Mereka menganggap hal itu wajar dan tidak merugikan orang lain! Inilah sebabnya, maka biarpun sudah beberapa tahun hidup bersama di pulau kosong, sebagai suami isteri, mereka belum pernah menikah dalam arti kata disaksikan upacaranya oleh orang-orang lain, baik berdasarkan hukum agama, tradisi atau umum.

Tentu banyak orang yang akan mengernyitkan hidung dan mencibirkan bibir melihat keadaan mereka itu. Tentu banyak yang memberi komentar : tak tahu malu, tidak sopan, jorok dan cabul, kotor dan sebagainya. Di samping itu, mungkin ada pula yang membenarkan. Akan tetapi, bukan di situlah letaknya kebenaran. Bukan di dalam sehelai surat nikah, di dalam upacara agama, di dalam upacara tradisi, atau di dalam kesaksian para handai taulan letaknya kebahagiaan perjodohan. Melainkan di dalam cinta kasih! Apa artinya memiliki surat-surat lengkap, dengan upacara yang megah, dengan perayaan yang meriah, dengan penghormatan yang berlebihan, kalau di dalam sebuah pernikahan tidak terdapat cinta kasih? Bahkan banyak sekali suami isteri yang saling tidak merasa cocok, namun memaksa diri untuk hidup bersama karena adanya ikatan berupa surat atau upacara atau hukum-hukum itu. Akibatnya, biarpun pada lahirnya, oleh orang-orang lain, mereka nampak sebagai suami isteri yang hidup serumah dan rukun sampai kakek nenek, namun pada hakekatnya batin keduanya menderita hebat! Mau terbang menghindar, kaki sudah terikat oleh segala hukum dan pendapat umum.

Karena itu, tidak begitu penting mempertimbangkan benar tidaknya orang menjadi suami isteri dengan surat, dengan upacara, dan sebagainya. Yang terpenting adalah bahwa perjodohan merupakan pendekatan antara dua orang, pria dan wanita, untuk hidup bersama dan hal ini baru benar kalau dilakukan dengan dasar saling mencinta! Hanya ini syarat utamanya, yang lain-lain itu hanya embel-embel yang tidak begitu penting bagi kebahagiaan bersuami-isteri. Syarat utama itu, yalah cinta kasih kedua fihak, harus dipenuhi lebih dahulu, baru orang boleh memikirkan syarat-syarat lain yang umum.

Antara Thian Sin dan Kim Hong kadang-kadang terdapat ketidakcocokan karena memang keduanya memiliki kekerasan hati yang membuat mereka kadang-kadang tidak mau saling mengalah dan terjadi bentrokan. Namun, pada hakekatnya, di dasar atau lubuk hati mereka, kedua orang ini saling mencinta dengan amat mendalam sehingga pertentangan-pertentangan yang ada selalu dapat dikalahkan oleh rasa saling menyayang itu. Dan selain cinta kasih kedua pihak, juga di antara keduanya sudah terdapat suatu kepekaan bersama sehingga hanya dengan saling pandang saja mereka dapat menjenguk isi hati masing-masing.

Setelah mencurahkan kasih sayang yang timbul pada saat itu, keduanya menjadi lebih tenang dan Kim Hong melepaskan diri dari pelukan kekasihnya, lalu menengok, memandang ke arah seorang di antara Siang-to Ngo-houw yang dirobohkarmya dengan tusuk konde tadi. “Akan kita apakan dia itu?”

“Dia penting sekali untuk membawa kita kepada kepalanya, kepada yang mengutusnya, atau kepada pemilik atau pemegang peta itu.” kata Thian Sin dan keduanya lalu menghampiri orang itu.

Sambitan tusuk konde tadi menembus paha dan orang itu tidak mampu bangkit berdiri, hanya duduk sambil memijit-mijit pahanya, menggigit bibir menahan rasa nyeri. Dia menyumpah-nyumpahi empat orang saudaranya yang meninggalkannya begitu saja. “Bedebah! Pengkhianat mereka itu! Tidak mempunyai setia kawan sama sekali, keparat!” demikian dia menyumpah-nyumpah akan tetapi dia memandang dengan cemas ketika melihat Thian Sin dan Kim Hong menghampirinya. Baru sekarang dia tahu bahwa dua orang muda itu adalah orang-orang yang memiliki kepandaian hebat sekali. Baru gadis itu saja sudah mampu merobohkan mereka berlima, belum lagi pemuda itu! Mulailah dia menduga-duga siapa gerangan pasangan muda mudi yang demikian lihainya.

“Nah, engkau sudah membuktikan kelihaian kami?” Kim Hong mengejek. “Sekarang lebih baik engkau mengaku terus terang!”

“Aku telah kalah dan telah ditinggalkan teman-temanku, kalian mau bunuh, terserah. Mengaku apa lagi?” Orang itu mencoba untuk menutupi rasa takutnya dengan sikap gagah. Siang-to Ngo-houw terkenal sebagai orang gagah, maka diapun harus bersikap gagah.

“Sobat, kalian Siang-to Ngo-houw datang dan berusaha membunuh kami, berusaha merampas kunci emas yang ada padaku,” kata Thian Sin. “Akan tetapi kami masih menaruh kasihan, tidak membunuh kalian. Maka, ceritakaniah, siapa yang mengutus kalian? Siapakah yang telah menguasai peta rahasia itu? Katakan dan kami akan membebaskanmu.”

Wajah yang sudah pucat itu kelihatan semakin ketakutan. Orang itu menoleh ke kanan kiri, sikapnya ngeri dan ketakutan, lalu dia menggelengkan kepala keras-keras. “Tidak! Tidak ada yang mengutus kami. Aku tidak tahu!”

Thian Sin dan Kim Hong sudah cukup berpengalaman untuk dapat mengerti bahwa orang ini amat takut kepada yang mengutusnya. Lalu Thian Sin berkata kembali, “Sobat, engkau tentu tidak asing dengan Hwa-i Kai-pang, bukan?”

Orang itu nampak terkejut dan memandang kepada wajah Thian Sin dengan mata terbelalak. “Bagaimana engkau tahu?” dia balas bertanya.

“Aku mengenal dasar-dasar gerakan Ngo-lian Pang-hoat dalam ilmu golok kalian. Tentu kalian masih mempunyai hubungan dengan Hwa-i Kai-pang, atau lebih tepat lagi dengan Lo-thian Sin-kai tokoh utama Hwa-i Kai-pang itu.”

“Dia adalah mendiang suheng kami! Siapa… siapakah engkau?”

Thian Sin maklum bahwa orang yang amat takut kepada kepalanya ini perlu dibuat gentar agar suka mengaku. “Aku adalah kenalan lama Hwa-i Kai-pang, dahulu aku dikenal sebagai Pendekar Sadis…”

“Ahhhh…!” Orang itu terbelalak dan berusaha menjauh seperti tiba-tiba melihat seekor ular yang amat berbabaya. “Pendekar… Sadis…?”

Diam-diam Thian Sin merasa girang melihat ketakutan terbayang di wajah itu. “Benar, dan engkau mengerti bahwa sebaiknya mengaku dari pada harus merasakan tanganku!” Dia sengaja mengancam.

“Tapi… tapi… aku takut…”

“Dan tidak takut kepada Pendekar Sadis?” kembali Thian Sin menghardik.

“Ahhh… ampunkan nyawaku… kami… kami disuruh…” Tiba-tiba terdengar suara berdesing-desing dan dua orang pendekar itu cepat meloncat untuk menghindarkan diri dari sambaran anak panah kecil yang meluncur dengan kecepatan kilat ke arah dada mereka tadi. Akan tetapi, pada saat itu terdengar pekik mengerikan dan orang yang mereka tanyai tadi terjengkang, berkelojotan dengan anak panah menembus dadanya!

“Setan…!” Kim Hong yang memiliki gerakan cepat itu sudah melayang ke arah dari mana datangnya anak panah tadi, akan tetapi ia tidak dapat menemukan orang. Selain cuaca remang-remang yang menjadi penghalang, juga agaknya pelepas anak panah itu memiliki kecepatan yang hebat pula, maka secepat itu telah menghilang. Ketika Kim Hong kembali lagi, ia melihat Thian Sin melepaskan tubuh yang tadi diperiksanya itu. Tubuh itu terkulai lemas tanda tidak bernyawa lagi.

“Orangnya sudah pergi, terlalu gelap untuk dapat mengejarnya. Kaukira siapa yang melakukannya? Teman-temannya tadi?”

Thian Sin menggelengkan kepala. “Tentu orang lain. Anak panah itu menembus jantung, bahkan mematahkan tulang iga. Jelas bahwa tenaga orang yang melepaskannya amat kuat, lebih kuat dari pada tenaga bekas-bekas lawanmu tadi. Dan ini membuktikan bahwa yang mengutus Siang-to Ngo-houw tadi, atau orang yang menguasai peta rahasia itu, bukanlah orang sembarangan. Kita berhadapan dengan penjahat besar yang mempunyai banyak pembantu lihai, maka kita harus berhati-hati.”

Kim Hong menarik napas panjang, menyesal. “Akan tetapi ke mana kita harus mencarinya? Satu-satunya orang yang dapat menghubungkan kita kepadanya telah dibunuh.”

“Tiada jalan lain kecuali menunggu. Dia telah mengirim Siang-to Ngo-houw dan gagal, kurasa seorang penjahat besar seperti dia tentu tidak mudah putus asa dan akan mengutus pembantu lain yang lebih cakap dan lebih kuat. Kita menanti saja. Umpan kunci emas masih ada pada kita dan tentu kakap-kakap besar akan berdatangan. Kita hanya tinggal waspada saja melihat ikan macam apa yang akan menyambar umpan.”

Thian Sin dan Kim Hong meninggalkan mayat itu dan kembali ke rumah penginapan mereka. Karena tahu akan lihai dan berbahayanya musuh, ada sedikit ketegangan dalam hati mereka. Akan tetapi ketegangan ini membuat mereka menjadi semakin akrab, merasa semakin dekat dan harus saling melindungi. Semua ini membuat mereka akhirnya menumpahkan perasaan masing-masing dalam keadaan amat mesra, sehingga malam itu mereka sama sekali sudah melupakan ketegangan dan ancaman bahaya, hanyut dalam kemesraan.

Selama dua hari tidak terjadi sesuatu dan hal ini membuat Thian Sin dan Kim Hong merasa kecewa dan tidak sabar. Ikan yang dinanti-nanti tak kunjung muncul! Thian Sin tidak percaya bahwa kepala penjahat itu menjadi jerih. Perbuatannya membunuh seorang di antara Siang-to Ngo-houw itu saja sudah membuktikan bahwa kepala penjahat itu tidak menjadi jera dan jerih. Pasti akan muncul, pikirnya penuh keyakinan.

Malam itu mereka berdua pergi ke rumah makan terbesar di kota raja. Rumah makan ini terkenal sekali dengan masakan ikan-ikan laut. Rumah makan besar itu sudah setengah penuh ketika Thian Sin dan Kim Hong memasukinya, disambut oleh seorang pelayan dengan ramah dan pelayan itu menyodorkan daftar masakan.

Thian Sin dan Kim Hong tersenyum-senyum gembira membaca daftar masakan itu. Daftar yang sungguh luar biasa dan amat berbeda dengan yang terdapat di restoran-restoran lainnya. Selain terbuat dari kain yang indah, juga tulisannya amat indah, daftar itu memuat nama-nama masakan yang aneh-aneh.

“Jantung ular laut?” Kim Hong membaca sambil terbelalak. “Benarkah itu?”

“Ah, paling-paling hanya daging belut laut. Coba lihat ini. Masak Burung Hong Merah! Bukan main! Aku berani bertaruh bahwa ini tentu hanya masak ayam saus tomat, tentu saja kemerahan.”

“Wah, ini ada Ca Kaki Biruang, ada Otak Ki-lin goreng, Sup Naga Hitam, dan Panggang Daging Srigala!” Teriak Kim Hong.

“Ha-ha, biruangnya tentu hanya babi, ki-lin itu tak salah lagi tentu babi hutan, naga hitam itu boleh jadi hanya daging ular hitam saja, dan srigala itu, apa lagi kalau bukan anjing?”

Mereka tertawa-tawa dan ketika pelayan datang, mereka bertanya dan memang sebagian besar dugaan Thian Sin tadi benar adanya. “Selain untuk penambah selera, juga untuk menguji kecerdasan tamu yang suka menduga-duga.” kata si pelayan sambil tersenyum ramah. Maka sibuklah Kim Hong memillh masakan yang namanya serem-serem dan aneh-aneh itu. Ada yang disebut “siluman laut bongkok” yang ternyata hanyalah udang besar saja! Rajawali leher panjang ternyata hanya bebek! Betapapun juga, setelah hidangan dikeluarkan, sepasang muda mudi ini harus mengakui bahwa masakan di rumah makan itu memang istimewa lezatnya.

Ketika mereka berkelakar tentang nama-nama hebat dari masakan-masakan itu, seorang pemuda yang telah lebih dulu duduk tak jauh dari meja mereka, memandang kepada mereka dengan wajah ramah. Thian Sin melihat ini dan diam-diam dia memuji wajah yang tampan dan sepasang mata yang kelihatan cerdas itu. Akan tetapi, ketika pernah satu kali Kim Hong bertemu pandang mata dengan pemuda itu, ia tersenyum dan kedua pipinya menjadi agak merah. Sebagai wanita, ia segera merasa betapa sinar mata yang ditujukan kepadanya itu penuh dengan kekaguman dan kegairahan yang tidak disembunyikan. Kalau saja si pemandang tidak berkenan di hatinya, tentu Kim Hong sudah marah, akan tetapi, ada sesuatu pada wajah pemuda itu yang menarik hatinya, wajah tampan dan halus, sinar mata tajam dan dagu yang membayangkan kegagahan. Seorang pemuda yang tentu bukan orang sembarangan, pikirnya. Pula, melihat betapa pemuda itu diam-diam memperhatikan mereka dan tersenyum serta bersikap ramah bersahabat terhadap mereka, diam-diam di dalam hati Thian Sin dan Kim Hong sudah timbul kecurigaan. Mereka saling pandang dan tahu akan isi hati masing-masing yang menaruh curiga terhadap pemuda tampan itu. Siapa tahu, itulah ikan kakap yang mereka nanti-nanti selama dua hari ini! Secara sambil lalu, mereka mulai memperhatikan pemuda itu. Seperti juga mereka, pemuda itu memesan beberapa macam masakan dan kelihatannya cukup royal, sungguhpun tidak sangat gembul karena masakan-masakan itu hanya dicicipi sedikit-sedikit saja. Akan tetapi pemuda itu sungguh kuat sekali minum arak. Sudah ada sepuluh cawan diminumnya, dan mukanya masih nampak berseri, sama sekali tidak menjadi pucat atau merah seperti biasanya kalau orang mulai terpengaruh arak.

Pemuda itu berusia kurang lebih duapuluh tiga tahun, pakaiannya seperti pelajar, sederhana walaupun terbuat dari sutera yang cukup halus. Ketika itu, guci kecil araknya sudah kosong dan diapun menggapai kepada seorang pelayan yang lewat dekat. Setelah pelayan mendekat, dengan suara yang cukup lantang sehingga dapat terdengar oleh Thian Sin dan Kim Hong, pemuda itu bertanya, sambil memandang catatan pada daftar makanan, “Bung, selain Arak Bunga Surga seperti yang kausuguhkan tadi, apakah ada Arak Dewa Panjang Usia yang disimpan di dalam kamar pusaka dengan kunci emas?” Suaranya berlagu, terdengar lucu seperti orang membaca sajak sehingga beberapa orang menengok dan tersenyum. Pelayan itu sendiri tertawa.

“Ha-ha-ha-ha, kongcu pandai sekali membuat nama yang bagus. Biar saya usulkan kepada majikan agar menambahkan nama itu. Arak Dewa Panjang Usia! Bagus sekali!” kata si pelayan. “Akan tetapi sayang, arak yang ada di sini, yang terbaik hanyalah Arak BungA Sorga tadi.”

“Baiklah, tambah seguci lagi.” kata si pemuda yang wajahnya bulat itu. Alisnya yang hitam tebal itu bergerak-gerak, matanya berkilat dan senyumnya berseri. “Awas, jangan keliru mengambilkan Arak Bunga Neraka, ya?”

Beberapa orang tertawa keras atas kelakar pemuda ini. Thian Sin dan Kim Hong saling pandang. Bagi mereka, yang terpenting adalah disebutnya “kunci emas” tadi oleh si pemuda. Tak salah lagi, tentu pemuda ini mempunyai hubungan dengan urusan yang sedang mereka selidiki. Seorang utusan lainkah? Kalau benar demikian, sungguh luar biasa sekali kepala penjahat itu. Bermacam-macam saja pembantunya. Ataukah pemuda ini tidak sengaja dan hanya kebetulan saja menyebut kunci emas tadi? Kelihatannya begitu tenang saja, tidak memperlihatkan tanda-tanda hendak menghubungi mereka. Pemuda itu minum lagi sambil menyumpit hidangan di depannya, kemudian dengan lagak orang mabok, menggoyang-goyang kepala sedikit padahal matanya masih bening, diapun bernyanyi.

“Mengganyang kaki biruang

melahap sup naga

mengunyah daging srigala

minum arah bunga sorga!

betapa enak tak terkira

akan tetapi biruang naga dan srigala

mengepung diri kita!

betapa mengerikan jadinya! Hiiiiiihh!”

Kembali terdengar orang tertawa di sana sini mendengar sajak yang lucu ini. Kim Hong juga memandang dan memang pemuda tampan itu nampak lucu ketika menggoyang-goyang kepala sambil membaca sajak itu. Apa lagi kata terakhir yang membayangkan ketakutan itu, diucapkan dengan mata terbelalak dan muka membayangkan kengerian.

Thian Sin berbisik, “Dia inikah…?”

Kim Hong menggeleng. “Entah, tapi dia lucu.”

Pada saat itu nampak seorang gadis muda memasuki rumah makan, disambut dengan penuh kehormatan oleh kepala pelayan sendiri. “Selamat sore, nona. Silahkan duduk. Apakah nona sudah pesan seperti biasa? Untuk beberapa orangkah?”

Gadis itu tersenyum dan jantung Thian Sin berdebar. Gadis yang manis dan memiliki daya pesona yang kuat! Terutama sekali lesung pipit di pipi kiri dan tahi lalat kecil di bawah mata kanan itu. Sungguh menyegarkan mata! Usia gadis itu kurang lebih dua puluh satu tahun dan melihat dandanannya, tentu seorang nona yang kaya raya. Pinggangnya tidak seramping pinggang Kim Hong, akan tetapi dada dan pinggul yang membusung itu mendatangkan gairah. “Kali ini aku sendirian saja, Kwa-lopek. Sediakan masakan kesukaanku, cepatan sedikit karena aku tidak akan lama di sini.” jawab gadis itu dan dari percakapan antara gadis itu dan si kepala pelayan, mudah diduga bahwa tentu gadis ini amat dikenal dan merupakan seorang langganan yang baik dari restoran besar ini. Thian Sin juga melihat betapa beberapa orang yang berada di situ, mengangguk dengan hormat kepada si nona manis.

“Lopek, aku ingin duduk di meja ini, tidak begitu panas di sini, memperoleh angin dari luar. Malam ini panas sekali!” katanya sambil mengipasi leher dengan kipasnya. Bau harum menyambar ke arah meja Thian Sin dari gerakan kipas itu.

Meja yang dipilih adalah meja yang berdekatan dengan meja Thian Sin, di antara meja pendekar itu dan meja pemuda yang bersajak tadi. Akan tetapi meja itu dipakai oleh dua orang laki-laki bersama isteri mereka. Ketika mendengar bahwa nona itu memilih meja mereka, empat orang itu cepat-cepat bangkit berdiri dan berkata kepada kepala pelayan, “Biarlah hidangan kami dipindahkan ke meja lain agar meja ini dapat dipakai oleh nona…”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: