Harta Karun Jenghis Khan (Jilid ke-8)

“Tidak… aku tidak berani… engkau tidak tahu betapa lihainya pamanku.” Gadis itu berkata dengan muka pucat dan mata liar memandang ke kanan kiri. “Engkau pergilah, Siang-ko, pergilah dulu… biarkan aku berpikir dengan matang… kedatanganmu terlalu tiba-tiba. Besok… besok atau lusa kita bertemu lagi, di sini… malam-malam begini… sekarang kau pergilah…”

Kok Siang menghela napas, tidak berani memaksa. “Baiklah, akan tetapi ingatlah selalu bahwa di dunia ini ada Bu Kok Siang yang akan melindungimu dengan taruhan nyawa, yang akan tetap mencintamu dan tidak memperdulikan riwayatmu yang sudah lalu. Nah, selamat tinggal, sampai jumpa besok atau lusa malam.”

“Baik, Siang-ko… kalau engkan melihat lampu merah di pondok ini, jendelanya terbuka, berarti aku menantimu di sini…”

Pemuda itu mengangguk, menggenggam kedua tangan itu, kemudian mcloncat keluar dan lenyap dalam kegelapan malam. In Bwee memandang ke arah lenyapnya pemuda itu dengan mata sayu, kemudian termenung-menung dan akhirnya iapun menangis lagi sendirian, menahan isaknya agar tidak menimbulkan suara. Peristiwa yang baru saja terjadi itu terlalu hebat baginya. Dan ia sama sekali tidak tahu bahwa ada bayangan yang mendekatinya, kemudian terdengar suara orang di balik jendela.

“Hemm, engkau diam-diam telah mempunyai pacar, ya? Baik, selesaikan tugasmu sampai berhasil dan engkau akan menikah dengan pacarmu itu, aku yang akan membujuk orang tuamu agar setuju. Akan tetapi kalau engkau mengkhianatiku, pacarmu itu akan kubunuh dan rahasiamu akan kuumumkan tidak hanya kepada ayah bundamu, akan tetapi kepada semua orang!”

“Paman…!” In Bwee berseru kaget sekali akan tetapi bayangan itu telah berkelebat lenyap dan In Bwee hanya dapat merenung dengan muka pucat. Kemunculan guru atau pamannya yang lihai itu seketika membuyarkan harapan dan khayalnya yang timbul bersama munculnya pemuda sastrawan itu. Sedikit harapan itu bagaikan awan tipis tersapu badai.

***

“Bu-kongcu…! Tunggu sebentar…!”

Bu Kok Siang yang sedang berjalan seorang diri di pagi hari itu, tentu saja mendengar teriakan suara wanita ini dan diapun cepat berhenti melangkah dan menoleh. Wajahnya segera berseri dan bibirnya tersenyum ketika dia melihat siapakah wanita yang memanggilnya itu. Kiranya yang memanggiinya itu adalah wanita cantik yang telah dikenalnya di dalam rumah makan, yang bernama Toan Kim Hong!

Setelah wanita itu tiba di depannya, Kok Siang cepat mengangkat kedua tangan memberi hormat sambil berkata, “Ah, kukira siapa, tidak tahunya nona Toan. Dan harap jangan menyebutku kongcu (tuan muda), membuat aku menjadi malu saja.”

“Selamat pagi, Bu… twako! Biar kusebut twako, biarpun mungkin aku lebih tua. Engkau tahu, wanita selalu ingin dianggap lebih muda.” kata Kim Hong tersenyum.

Kok Siang tertawa. “Dan memang nampaknya engkau jauh lebih muda dari pada aku, nona. Sepagi ini engkau hendak ke manakah? Dan mengapa nona sendirian saja? Mana saudara Ceng Thian Sin yang gagah perkasa itu?”

“Dia thiggal di kamarnya di hotel. Aku memang sengaja keluar hendak mencarimu.”

Pemuda itu mengangkat kedua alisnya dan memandang heran. “Lihiap… eh, nona mencari aku? Ya nasib mujur! Sungguh beruntung sekali. Ada keperluan apakah gerangan…?”

Kim Hong tertawa, manis sekali. “Kita sudah saling berkenalan, apakah kalau tidak ada urusan penting tidak boleh mencari dan mengunjungi? Tadi aku lewat di hotelmu dan engkau tidak ada, lalu kulihat engkau berjalan sendirian, seperti orang tergesa-gesa, maka kupanggil. Apakah aku mengganggumu? Kalau begitu biarlah aku pulang lagi saja.”

“Eh, eh… nanti dulu. Tentu saja aku girang dapat bertemu denganmu, nona. Akupun belum sempat mengunjungi rumah penginapan kalian, dan kebetulan berjumpa di sini. Nah, ke mana kita pergi sekarang untuk merayakan pertemuan ini?”

“Aku ingin bercakap-cakap denganmu, Bu-twako.”

“Kalau begitu, mari kita pergi ke taman umum di tepi sungai, di sana indah dan sepi. Tidak enak bercakap-cakap di tepi jalan seperti ini.”

Mereka lalu berjalan bersama menuju ke taman yang luas itu. Kota raja terkenal dengan taman-tamannya yang indah, akan tetapi hanya beberapa buah saja yang terbuka untuk umum, di antaranya taman di tepi sungai yang dikunjungi oleh dua orang muda itu Banyak mata yang bertemu dengan mereka di jalan memandang pasangan ini dengan kagum karena memang pasangan ini cocok sekali. Yang wanita cantik jelita, yang pria juga tampan dan ganteng. Dan keduanya tidak merasa canggung berjalan bersama, seolah-olah memang mereka telah menjadi sababat baik sejak dahulu. Di sepanjang perjalanan menuju ke taman bunga itu, Kim Hong mendapat kenyataan bahwa pemuda itu sudah hafal akan keadaan kota raja dan menunjukkan tempat-tempat penting kepadanya, seperti seorang penunjuk jalan yang pandai dan ramah.

Pagi itu di taman tepi sungai masih sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang mengunjungi dan berjalan-jalan di dalam taman, dan mereka itu tentulah pendatang-pendatang dari luar kota. Ada pula yang pesiar naik perahu di tepi sungai. Kim Hong dan Kok Sang memilih tempat duduk di tepi kolam ikan emas, di atas sebuah bangku panjang di mana mereka duduk berdampingan.

“Nah, sekarang kita berada di tempat sepi, berdua saja. Apakah yang hendak kaukatakan kepadaku, nona?”

“Bu-twako, bukan aku yang hendak mengatakan sesuatu, akan tetapi engkaulah yang sebaiknya mengatakan dengan terus terang kepadaku tentang dirimu…” kata Kim Hong sambil menatap wajah tampan itu dengan tajam dan penuh selidik.

Pemuda itu mengerutkan alisnya. “Maksudmu?”

Kim Hong memutar tubuhnya, sepenuhnya menghadapi pemuda itu dan pandang matanya mencorong, mengejutkan hati pemuda itu. “Bu-twako, kiranya tidak perlu lagi engkau bersandiwara. Kemunculanmu di restoran itu tentu bukan hal yang kebetulan saja. Engkau membawa suatu rahasia dan engkau tentu telah mengenal kami, setidaknya engkau mengetahui sesuatu tentang kami. Benarkah itu?”

Hening sejenak. Pemuda itu masih mengerutkan alisnya dan kini pandang matanya juga serius, berkilat dan penuh semangat, tidak lagi disembunyikan di balik kejenakaan dan kegembiraannya.

“Bagaimana engkau dapat menduga seperti itu, nona? Adakah sesuatu yang mencurigakan dalam tindak tandukku selama ini?” Dia memancing karena masih meragukan ucapan Kim Hong tadi yang dianggapnya hanya duga-dugaan belaka.

Kim Hong tersenyum, senyum yang mengandung ejekan. “Kaukira kami begitu bodoh? Engkau seorang yang memiliki ilmu silat yang tinggi, akan tetapi engkau bersikap bodoh dan berkelakar. Kemudian, dengan sengaja engkau melemparkan Hai-pa-cu Can Hoa yang kaurobohkan di restoran itu kepada kami. Ya, kami tahu bahwa dengan sengaja engkau melemparnya kepada kami, dan tentu saja ini berarti bahwa engkau ingin menguji kami dan berarti pula bahwa engkau telah tahu atau menduga sesuatu tentang kami. Nah, kuminta engkau bicara blak-blakan saja, kecuali kalau engkau hendak menganggap kami sebagai musuh.”

Sejenak pemuda itu memandang kagum, lalu menarik napas panjang. “Aihh, sungguh aku telah berlaku ceroboh sekali, tidak tahu menghadapi gunung Thai-san yang menjulang tinggi, tidak tahu bahwa nona amatlah cerdas dan pandai. Tentu sikapku itu telah memancing tertawa dalam hati kalian. Maafkanlah. Terus terang saja aku mengetahui ketika kalian menghadapi Siang-to Ngo-houw, dan biarpun aku tidak mendengar sendiri percakapan antara kalian dengan mereka, akan tetapi aku dapat menduga mengapa kalian dicari oleh mereka itu. Tentu karena urusan… peta rahasia dan kunci emas, bukan?”

Kim Hong tidak terkejut, melainkan tersenyum. Memang ia dan Thian Sin sudah menduga bahwa pemuda ini tentu ada kaitannya dengan urusan itu. “Bagus, kiranya engkaupun tersangkut. Tidak tahu engkau berdiri di pihak manakah?” katanya sambil melirik tajam.

Kok Siang menggelengkan kepala. “Tidak berdiri di pihak manapun, melainkan di pihakku sendiri. Aku hendak menyelidiki siapa yang telah membunuh pamanku.”

“Pamanmu?”

“Ya, Louw siucai adalah pamanku.”

“Ahhh…!”

“Engkau tentu pernah mendengarnya.”

Kim Hong mengangguk. “Sastrawan yang telah membantu keluarga Ciang menterjemahitan peta kuno itu?”

“Benar, dia itu pamanku. Paman membantu mereka menterjemahkan peta kuno dan beberapa hari kemudian dia terbunuh. Tentu pembunuhnya menghendaki agar dia tidak membocorkan rahasia tentang peta itu.”

“Hemm, mungkin saja Su Tong Hak, paman Ciang Kim Su yang kurasa bukan orang baik-baik itu.” kata Kim Hong.

“Akupun tadinya menduga demikian. Akan tetapi aku ingin tahu secara pasti agar tidak salah tangan. Aku harus membalas kematian pamanku itu. Dia amat mencintaku dan dia seperti ayahku sendiri. Aku sudah tidak mempunyai ayah bunda dan paman Louw itu kakak dari mendiang ibuku, merupakan pengganti orang tua bagiku. Dan dia dibunuh orang tanpa dosa!” Pemuda itu mengerutkan alis dan mengepal tinju.

Kim Hong merasa kasihan. “Jangan khawatir, Bu-twako, aku… kami akan membantumu. Kamipun sedang menyelidiki mereka, yaitu mereka yang merampas peta kuno itu. Kami adalah utusan dari petani Ciang Gun atau mendiang petani itu karena diapun dibunuh orang. Kami sedang menyelidiki perkara ini. Menurut keterangan Su Tong Hak, Ciang Kim Su juga lenyap. Kami merasa curiga. Tentu ada permainan kotor dalam urusan ini dan diapun bilang bahwa peta yang mereka bagi dua itu, yang berada di tangannya, juga dicuri orang. Kami sedang menyelidiki, di tangan siapa gerangan peta itu.”

“Hemm, dan kunci emas itu berada di tangan kalian, bukan? Aku sudah tahu bahwa rahasia itu meliputi peta dan kunci emas.”

“Ya, dan kami hendak menggunakan kunci emas itu untuk menjadi umpan memancing datangnya ikan yang menguasai peta.”

“Dan lihat, kurasa ada ikan-ikan yang datang!” tiba-tiba pemuda itu berkata sambil melirik ke arah kiri. Kim Hong juga melirik ke kiri dan memang benar ada sekelompok orang, sepuluh orang jumlahnya, mendatangi taman itu dan mereka itu nampaknya bukan seperti pelancong biasa.

“Hemm, agaknya benar, mereka tentu anak buah yang dikirim ke sini.” kata Kim Hong.

“Jangan khawatir, aku akan membereskan mereka kalau mereka berani mengganggumu!” Kok Siang berkata sambil bangkit berdiri. Akan tetapi Kim Hong memegang lengannya dan menariknya duduk kembali.

“Jangan, Bu-toako. Kalau mereka bergerak, tentu mereka itu bermaksud untuk menyerangku, menangkap atau merampas kunci. Mereka datang untuk aku, sama sekali tidak ada hubungannya dengan engkau. Kau duduk sajalah dan biar aku menghajar mereka.”

Ketika sepuluh orang itu tiba di situ, Kim Hong masih saling berpegang tangan dengan Kok Siang dengan maksud mencegah pemuda ini menghadapi orang-orang yang kelihatan kasar dan kuat-kuat itu. Seorang di antara mereka, yang rambutnya riap-riapan dan matanya agak juling, yang nampaknya sebagai pemimpin sepuluh orang itu, tertawa. Perutnya yang gendut itu bergoyang-goyang.

“Ha-ha-ha-ha, kiranya si manis ini mempunyai pacar di mana-mana, sering berganti pacar! Kawan-kawan, sekali ini kita tidak boleh gagal. Tangkap si manis ini dan bunuh saja pacar barunya!”

Kim Hong adalah seorang wanita yang pernah menyamar sebagai Lam-sin selama beberapa tahun, hal ini berarti bahwa ia pernah berkecimpung di dunia sesat, kaum penjahat, maka ucapan itu sesungguhnya tidak aneh atau asing baginya. Ia sudah terbiasa mendengar kata-kata kasar. Ucapan kasar tidak akan memarahkannya, akan tetapi tuduhan bahwa ia berganti-ganti pacar, bahwa Kok Siang adalah pacarnya yang baru, membuat kedua pipinya berobah merah. Hanya biasanya, Kim Hong tidak pernah memperlihatkan perasaan hatinya. Tidak ada seorangpun di dunia ini, kecuali Thian Sin tentunya, yang dapat menduga isi hatinya. Maka, biarpun pada saat itu ia sedang marah, namun wajahnya tetap berseri dan senyumnya bertambah manis.

Sepuluh orang itu telah mengepung bangku di mana Kim Hong dan Kok Siang tadi duduk dan dari gerakan kaki mereka tahulah Kim Hong bahwa biarpun orang-orang ini nampak kasar, namun mereka adalah ahli-ahli silat pilihan! Terutama sekali si mata juling itu ternyata memiliki kepandaian yang tinggi, dengan gerakan yang begitu ringan tanda bahwa gin-kangnya sudah mencapai tingkat yang tinggi. Maka diam-diam iapun terkejut sekali. Melihat gerakan si mata juling ini, agaknya akan merupakan lawan yang berat dan amat berbahaya bagi Kok Siang, maka iapun mengambil keputusan untuk menandingi sendiri pemimpin gerombolan ini. Maka, sebelum gerombolan itu menyerbu dan membahayakan Kok Siang, ia sudah melangkah maju mendekati pemimpin gerombolan itu sambil menudingkan telunjuknya ke arah hidung orang.

“Eh, mata juling gendut yang bermulut busuk! Kalau engkau dan anjing-anjingmu ini mampu menangkapku, biar aku berjanji akan memberi ciuman sepuluh kali kepadamu!”

Mendengar ucapan ini, si mata juling dan teman-temannya tertawa. “Ha-ha-ha, nona manis, sungguhkah itu? Memberi ciuman dengan suka rela? Ha-ha-ha!”

“Tentu saja, aku tidak pernah berbohong!” jawab Kim Hong dan mendengar ini, Kok Siang mengerutkan alisnya. Kenapa wanita cantik dan gagah perkasa ini melayani segala macam orang kasar seperti mereka?

Akal Kim Hong ini berhasil. Tadinya, kepala gerombolan yang sudah mendengar betapa pemuda sastrawan itu pernah mengalahkan Hai-pa-cu, bermaksud untuk lebih dulu mengeroyok dan membunuh si pemuda, baru kemudian, menawan gadis itu seperti yang telah diperintahkan kepadanya. Akan tetapi, mendengar ucapan Kim Hong dan melihat betapa manisnya gadis itu tersenyum kepadanya, dengan janji yang demikiain mesra, diapun tak mampu menahan gejolak hatinya lagi. Bagaimanapun juga, dia percaya kepada kepandaiannya sendiri dan kepada kekuaten anak buahnya yang sebenarnya adalah beberapa orang sutenya dan murid-muridnya.

“Ha-ha-ha, bagas sekali! Nona manis, engkau agaknya belum pernah mendengar nama Tiat-ciang Lui Cai Ko, maka berani menantangku. Bersiaplah untuk menciumku sepuasnya, ha-ha-ha!” Setelah tertawa bergelak, dia memberi isyarat kepada dua orang sutenya untuk membantunya, sedangkan kepada tujuh orang muridnya dia berkata tegas, “Bunuh kutu buku itu!”

Tujuh orang kasar itu adalah murid-murid pilihan dari Tiat-ciang Lui Cai Ko. Mendengar perintah suhu mereka, tujuh orang ini lalu mencabut pedang masing-masing dan dengan gerakan gagah mereka melintangkan pedang di depan dada, lalu memasang kuda-kuda yang nampak kokoh kuat. Kuda-kuda mereka bermacam-macam, ada yang memasang kuda-kuda dengan kedudukan kaki Jao-pian-se, Tu-li-se, Kung-se biasa atau Su-se, dengan kedudukan pedang yang bermacam-macam pula. Ada yang dilintangkan di depan dada, ada yang diangkat ke atas kepala, ada yang menuding ke bumi dan ada yang menjulang ke langit.

Akan tetapi, rata-rata mereka itu memiliki kuda-kuda yang indah dan kuat, tanda bahwa mereka telah memiliki ilmu pedang yang bukan sembarangan. Melihat ini, diam-diam Kok Siang terkejut juga. Dia pernah mendengar nama Tiat-ciang(Tangan Besi) Lui Cai Ko itu, seorang begal atau perampok tunggal yang pernah membuat nama besar di sebelah utara kota raja. Maka dia amat mengkhawatirkan keadaan Kim Hong dan karena dia dapat melihat dari gerakan para pengepungnya yang tujuh orang itu bahwa mereka adalah orang-orang yang merupakan lawan tangguh, maka Kok Siang tidak berani bersikap ceroboh. Diapun cepat mengeluarkan sepasang senjatanya, yaitu Im-yang Siang-pit (Sepasang Tangkai Pena Im Yang), yang kiri terbuat dari pada perak dan yang kanan terbuat dari pada emas. Dan sepasang pit ini memang benar-benar dapat dipergunakan untuk menulis di samping untuk senjata.

Melihat betapa pemuda itu mengeluarkan senjata sepasang pit itu, tiba-tiba seorang di antara para pengepung itu berseru, “Kiranya engkaua dalah Im-yang Siang-pit Bu Siucai!” Memang sebenarnya, nama pemuda sastrawan itu banyak dikenal di dunia kang-ouw. Yang membuat dia terkenal, pertama adalah gurunya dan ke dua adalah sepasang senjatanya itulah. Gurunya adalah datuk kaum sesat di utara, yaitu Pak-san-kui, biarpun pemuda ini tidak menerima datuk itu sebagai guru langsung. Pak-san-kui tertarik melihat bakat pemuda ini dan menurunkan beberapa macam ilmunya yang tinggi, sedangkan Bu Kok Siang juga hanya tertarik akan ilmu silat yang tinggi dari datuk itu, akan tetapi dia tidak suka melihat cara hidup gurunya sehingga setelah menerima pelajaran ilmu-ilmu yang tinggi, terutama ilmu Im-yang Siang-pit itu, diapun melepaskan diri dan tidak pernah mau berdekatan atau mencampuri urusan suhunya yang terkenal sebagai seorang datuk sesat. Dan di dunia kang-ouw, pemuda yang telah mempunyai titel siucai ini, yang menerima ilmu silat tinggi dari seorang datuk sesat, menggunakan senjatanya untuk menentang kejahatan itu sendiri. Maka nama julukannya adalah sepasang senjatanya itu yang lebih dikenal orang dari pada wajahnya. Kalau dia tidak mengeluarkan senjatanya itu, jarang ada yang mengenal mukanya.

“Hemm, bagus kalian mengenal senjataku. Lui Cat Ko adalah seorang perampok tunggal yang jahat, maka anak buahnya tentulah bukan manusia baik-baik!” kata Kok Siang sambil memasang kuda-kuda dan mengangkat pit emas di atas kepala, menunjuk ke langit, sedangkan pit perak dipegang ke bawah, menuding bumi. Inilah kuda-kuda yang dinamakannya Seng-thian Jip-te (Naik ke langit, Masuk ke tanah), pembukaan dari pada ilmu silat Im-yang Siang-pit.

Tujuh orang murid utama dari Tiat-ciang Lui Cai Ko itu menjadi marah mendengar ucapan ini dan dengan dahsyat merekapun mulai menerjang dengan pedang mereka. Setiap gerakan mereka cukup dahsyat karena memang Tiat-ciang Lui Cat Ko, selain terkenal memiliki sepasang tangan yang kuat dan keras seperti besi sehingga dia berjuluk Tiat-ciang, juga merupakan seorang ahli silat pedang yang tangguh.

Melihat datangnya serangan yang bertubi-tubi itu, yang membawa kilatan sinar pedang yang bergulung-gulung dan menyambar-nyambar ganas, Kok Siang cepat menggerakkan tubuhnya dan sekarang pemuda sastrawan ini baru memperlihatkan kepandaiannya. Gerakannya cepat bukan main dan ternyata sepasang senjatanya itu mengandung tenaga yang berlawanan. Sepasang senjatanya diputar melindungi tubuhnya dan setiap kali pedang lawan bertemu dengan kim-pit (Pit emas) maka terdengar suara nyaring dan pedang itu tentu terpental keras, sebaliknya kalau bertemu dengan ghi-pit (Pit perak) tidak terdengar suara, akan tetapi tenaga si pemegang pedang seperti lenyap, seolah-olah pedang mereka bertemu benda lunak atau seperti membacok atau menusuk air saja. Selain melindungi tubuhnya, juga sepasang pit itu mengirim serangan balasan berupa totokan-totokan ke arah jalan darah yang tidak kalah dahsyatnya, membuat tujuh orang itu berputaran saling melindungi teman sendiri. Terjadilah pertandingan keroyokan yang amat seru, namun sedikit juga pemuda sastrawan yang dikeroyok tujuh itu tidak nampak kewalahan!

Di lain pihak, Kim Hong yang dihadapi oleh Tiat-ciang Lui Cai Ko dan dua orang sutenya itu, menarik napas lega. Kalau si juling ini yang diduganya paling lihai telah menghadapinya dan tidak ikut mengeroyok, ia tidak begitu mengkhawatirkan keadaan pemuda itu. Apa lagi setelah ia melihat cara Kok Siang memutar sepasang pitnya, membuat ia merasa yakin bahwa pemuda itu akan dapat mengatasi para pengeroyoknya, walaupun tujuh orang pengeroyok itu tidak boleh dipandang ringan. Setelah ia tidak lagi mengkhawatirkan pemuda keponakan mendiang Louw-siucai itu, Kim Hong dengan tersenyum tenang menghadapi tiga orang calon lawannya. Tidak seperti tujuh orang yang bertugas membunuh Kok Siang, si juling bersama dua orang sutenya itu tidak mengeluarkan senjata. Mereka bertugas untuk menawan nona ini hidup-hidup, dan hal inipun diketahui baik-baik oleh Kim Hong. Para penjahat itu tidak membutuhkan dirinya, melainkan kunci emas, maka tentu saja mereka tidak akan membunuhnya sebelum mereka menemukan kunci emas itu!

Tiat-ciang Lui Cai Ko juga sudah mondengar bahwa nona ini pandai ilmu silat dan biarpun dia tidak merasa takut, akan tetapi diapun tidak berani memandang rendah. Maka diapun lalu menubruk ke depan sambil menampar dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya sudah mencengkeram ke arah pundak nona itu. Tamparan tangan kirinya itu antep sekali dan agaknya jagoan ini memang telah mengerahkan tenaga dan mempergunakan tenaga sakti Tiat-ciang-kang (Tenaga Tangan Besi) untuk menggertak. Telapak tangan orang she Lui ini nampak hitam kehijauan. Belasan tahun dia melatih kedua tangannya itu, setiap hari menggunakan telapak tangan untuk memukuli bubuk besi dan pada malam harinya merendam kedua tangan itu ke dalam adonan bubuk besi dengan racun yang membuat tangan itu selain kuat, juga beracun dan amat berbahaya bagi lawan. Demikian kuat dan kerasnya telapak tangan Lui Cai Ko ini sehingga kedua telapak tangannya tidak hanya mampu memukul hancur batu karang seperti sepasang palu besi yang kuat, akan tetapi juga mampu menangkis senjata tajam tanpa khawatir terluka! Itulah sebabnya maka dia terkenal dengan julukan Tiat-ciang (Si Tangan Besi).

“Wuuuttt…! Plakk!” Kim Hong mengelak dengan mudah dan membiarkan tamparan itu lewat, kemudian ketika cengkeraman tangan kanan itu sudah mendekati pundaknya, tangan kirinya menyambar dari bawah, bukan menangkis melainkan menampar dengan tangannya ke arah sambungan siku tangan kanan itu. Biarpun tamparan itu tidak dilakukan dengan sepenuh tenaga, namun sambungan siku bagian bawah yang seperti hanya diusap itu, tiba-tiba terasa nyeri dan lengan kanan itu seperti menjadi lumpuh seketika! Tentu saja Lui Cai Ko tidak dapat melanjutkan cengkeramannya, bahkan mengeluarkan seruan kaget dan cepat melompat ke belakang dengan mata terbelalak. Tak disangkanya bahwa wanita itu sedemikian hebatnya, dalam segebrakan saja membuat lengan kanannya terasa lumpuh! Hanya orang yang berilmu sangat tinggi sajalah yang begitu tenangnya menghadapi cengkeraman mautnya, bukan mengelak atau menangkis untuk menghadapinya, melainkan mendahului menyerang siku sehingga lengan itu menjadi lumpuh dan tentu saja serangan cengkeraman itupun gagal.

Kim Hong hanya berdiri tenang sambil tersenyum. Ia maklum akan kelihaian Tiat-ciang Lui Cai Ko ini, akan tetapi tentu saja ia tidak merasa gentar, yakin benar akan kelebihannya dibandingkan dengan tiga orang pengeroyoknya. Dua orang sute dari Si Tangan Besi segera menyerang dari kanan kiri, bukan menyerang untuk merobohkan, melainkan untuk membuat nona itu tidak berdaya dan dapat ditawan. Merekapun, seperti suheng mereka, mendapat perintah untuk menawan si nona cantik ini. Namun, Kim Hong dapat menghindarkan diri dari tubrukan kanan kiri itu dengan langkah-langkah ajaibnya. Dengan seenaknya saja kedua kakinya bergeser, melangkah mundur maju dan tubrukan-tubrukan mereka itu semua hanya mengenai tempat kosong saja walaupun tadinya nampak seolah-olah akan berhasil.

Kok Siang juga mengamuk dan sepasang pit-nya menyambar-nyambar seperti sepasang naga. Lewat tiga puluh jurus saja, dua orang di antara para pengeroyoknya telah roboh tertotok sehingga lima orang sisa pengeroyoknya menjadi agak gentar. Di lain pihak, Kim Hong mempermainkan tiga orang pengeroyoknya dengan langkah-langkah ajaibnya yang membuat Tiat-ciang Lui Cai Ko dan dua orang sutenya kewalahan dan juga semakin penasaran. Mereka menubruk dan mencoba untuk menangkap, akan tetapi jangankan orangnya, ujung baju gadis itupun tak pernah dapat tersentuh oleh tangan mereka. Hal ini membuat mereka menjadi penasaran dan marah sehingga kini mereka tidak hanya menubruk dan mencoba untuk menangkap saja, melainkan juga mulai menyerang dengan sungguh-sungguh untuk morobohkan nona yang amat lincah itu. Betapapun juga, makin ganas mereka bergerak, makin cepat pula nona itu mengelak, sehingga pandang mata mereka seperti kabur dan kadang-kadang mereka tidak tahu ke mana nona itu mengelak atau bergerak.

“Duk-duk-duk-dukk…!” Empat kali Lui Cai Ko terpaksa menangkis sambil mundur terdesak hebat. Padahal, sejak menampar sikunya tadi, baru sekaranglah Kim Hong membalas scrangan tiga orang lawannya yang bertubi-tubi sampai tigapuluh jurus itu! Dan sekali membalas, Kim Hong telah mendesak Si Tangan Besi dengan empat kali tamparan berturut-turut. Setiap tamparan mengandung tenaga sin-kang yang membuat tubuh si gendut yang rambutnya riap-riapan itu terhuyung-huyung. Melihat ini dua orang sutenya cepat menubruk dari kanan kiri membantu, akan tetapi Kim Hong menanti sampai keduanya menyerang dekat, lalu tiba-tiba tubuhnya meloncat ke atas dan kedua kakinya terpentang ke kanan kiri. Itulah tendangan yang istimewa sekali, yang sekaligus menghantam dada kedua orang yang menyerang dari kanan kiri itu, mendahului serangan mereka dengan tangan yang belum sampai!

“Dess! Desss!” Tubuh dua orang itu terlempar ke kanan kiri dan mereka menyeringai karena dada mereka terasa sesak dan napas mereka seperti berhenti. Sambil memegangi dada mereka bangkit dan mata mereka menjadi merah. Juga Lui Cai Ko marah sekali. Tak disangkanya bahwa dia, jagoan yang terkenal, dibantu oleh dua orang sutenya, bukan hanya tidak mampu menawan gadis ini, bahkan mereka bertiga sudah mengalami malu karena terpukul dan tertendang oleh gadis itu. Akan tetapi, ada kekuasaan yang lebih tinggi dari pada Lui Cai Ko yang membuat dia masih ingat akan perintah yang diberikan kepadanya. Dia tidak berani melanggar perintah itu hanya karena perasaan pribadi yang marah dan penasaran. Dia tidak berani mempergunakan senjata untuk menyerang, tidak berani melukai apa lagi membunuh wanita ini karena hal itu berarti melawan perintah dan dia merasa ngeri untuk mempertanggungjawabkan hal itu. Maka, biarpun dia merasa marah dan mendongkol sekali, terpaksa dia lalu membuka mulut dan terdengarlah suara suitan panjang dan nyaring keluar dari mulut si gendut ini. Kim Hong terkejut dan menduga-duga apa maksud tanda rahasia itu. Memanggil kawan? Dia tentu merasa kewalahan dan memanggil kawannya, pikir Kim Hong. Mungkinkah sekarang ia memperoleh kesempatan untuk berhadapan dengan kepala penjahat yang mendalangi ini semua dan yang menguasai peta? Jantungnya berdebar tegang dan iapun menanti saja. Ia mengerling ke arah Kok Siang dan melihat bahwa lawan pemuda itu kini tinggal empat orang lagi karena yang tiga telah roboh oleh pena sastrawan yang lihai itu, dan empat orang itupun kini mundur sambil mengepung setelah mendengar guru mereka mengeluarkan suara bersuit tadi.

Tak lama kemudlan muncullah banyak orang mengepung tempat itu dan Kim Hong benar-benar merasa heran dan terkejut melihat bahwa yang mengepung tempat itu adalah pasukan pemerintah! Yang memimpin pasukan itu adalah seorang perwira yang berpakaian indah dan gagah, berusia empatpuluh lima tahun dan bertubuh tinggi besar. Cepat Kim Hong meloncat mendekati Kok Siang yang juga memandang dengan heran.

“Berhenti semua dan lepas senjata!” Bentak perwira itu dengan suara yang agaknya sudah terbiasa mengeluarkan aba-aba atau perintah yang harus ditaati. “Yang berani bergerak dianggap pemberontak dan akan dihukum! Kalian telah menimbulkan perkelahian dan kekacauan di tempat umum, semua harus menyerah dan ikut bersama kami ke kantor untuk dibawa ke pengadilan!”

Kim Hong dan Kok Siang saling pandang, tiba-tiba Kok Siang berbisik halus sekali sehingga hanya gadis itulah yang mungkin dapat mendengarnya, “Aku tahu di mana peta yang aseli.”

Kim Hong terkejut. Otaknya bekerja dengan cepat. Ia tidak meragukan kebenaran omongan pemuda ini dan tentu karena melihat bahaya maka pemuda sastrawan ini membuka rahasia itu, atau karena sudah pereaya penuh kepadanya. Bagaimana pemuda ini dapat mengetahui di mana adanya peta yang aseli? Kalau begitu, yang kini menguasai peta tentu hanya menguasai peta palsu! Bagaimana mungkin terjadi demikian? Bukankah Ciang Kim Su dan pamannya, Su Tong Hak, telah membagi dua peta itu dan peta yang dibawa Ciang Kim Su itu adalah peta yang aseli? Apa yang sesungguhnya telah terjadi? Pikirannya yang cerdas segera mencari sebab-sebab dan dugaan-dugaan. Tentu ada hubungannya dengan mendiang Louw siucai! Di antara mereka yang pertama kali mengetahui akan rahasia peta itu, adalah Liuw Siucai. Bahkan dialah orang pertama yang sudah dapat mengetahui akan isi peta sesungguhnya, karena dialah yang menterjemahkannya! Akan tetapi, bagaimana siucai itu dapat menguasai peta aselinya? Apa yang telah terjadi? Ia tidak sempat untuk bertanya, karena di situ terdapat banyak orang dan pasukan itu telah mengepung ketat. Ketika ia melihat pasukan mengepungnya, timbul kemarahan di dalam hatinya. Akan tetapi Kok Siang bersikap lain.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: