Pendekar Sadis (Jilid ke-37)

Gairah yang ada dalam hubungan seksuil adalah wajar. Rasa tertarik antara pria dan wanita adalah wajar. Rasa nikmat yang didapat dalam hubungan itupun adalah wajar, merupakan satu di antara berkah yang berlimpahan bagi manusia. Namung kalau kita melaksanakan perbuatan itu dengan dasar mengejar kenikmatan, mencari kesenangan, maka kita telah menyalahgunakan berkah itu. Dan timbullah perbuatan-perbuatan yang merupakan penyelewengan-penyelewengan hanya demi mencapai kesenangan belaka, seperti perjinaan-perjinaan dan sebagainya, yang kesemuanya itu dilakukan hanya karena dorongan nafsu berahi belaka, hanya untuk mencari kenikmatan belaka. Dan muncullah akibat-akibat seperti pelanggaran dari norma-norma kesusilaan manusia yang telah terbentuk. Akibat-akibat itu bermacam-macam, misalnya, kandungan di luar nikah, permusuhan karena memperebutkan wanita, permusuhan karena merasa dilanggar kehormatannya, permusuhan karena perkosaan, penyakit-penyakit kelamin, dan sebagainya lagi.

Kebijaksanaan sajalah yang dapat menertibkan semua ini. Kebijaksanaan yang timbul kalau kita berada dalam keadaan waspada dan sadar. Hanya dasar cinta kasih sajalah yang akan menghalalkan semua perbuatan hubungan seksuil ini. Dengan cinta kasih, maka segalanyapun baik. Dan cinta kasih itu bukan sekali-kali berarti hubungan seks! Sungguhpun hubungan seksuil merupakan sebagian daripada cinta kasih antara pria dan wanita dalam hubungan suami isteri, suatu pencurahan daripada kasih sayang dan kemesraam. Dan sebagai manusia tentu saja kita tidak mungkin terlepas daripada norma-norma kesusilaan, daripada hukum-hukum yang telah diterima oleh masyarakat. Kalau hukum itu mengatakan bahwa hubungan seksuil antara pria dan wanita barulah benar kalau dilakukan antara suami dan isteri yang sudah menikah secara sah, maka sudah tentu kita tidak mungkin dapat melepaskan dari ketentuan itu. Sebaliknya, andaikata masyarakat kita tidak mengadakan peraturan itu, tentu saja kitapun terikat oleh hukum tentang pernikahan. Semua hukum itu hanyalah menjaga ketertiban lahiriah belaka. Akan tetapi yang terpenting adalah ketertiban menyeluruh yang berpusat kepada batin.

Kenikmatan memiliki kekuatan besar sekali untuk mengikat manusia melalui kesenangan. Mengingat-ingat dan mengenangkan pengalaman yang nikmat selalu mendorong manusia untuk mengulang kenikmatan itu.

Di dalam perahu kecil itu, yang terapung di atas danau yang amat sunyi, Thian Sin terseret dalam buaian yang mendatangkan nikmat dan memabukkan. Cian Ling yang menemukan sesuatu yang selama ini selalu diimpikan dan dibayangkannya, mempergunakan kesempatan itu untuk memuaskan dirinya tanpa mengenal batas, menyeret Thian Sin ke dalam kenikmatan nafsu berahi! Setelah bertemu dengan Thian Sin dan merasa kagum, suka dan cocok sekali dengan pemuda putera pangeran ini, yang selain tampan, gagah dan menyenangkan, juga yang ia tahu memiliki ilmu kepandaian amat tinggi, timbul rasa cinta dalam hati Cian Ling. Ingin ia dapat mengikat dan memiliki pemuda itu, bukan hanya memiliki tubuhnya, melainkan juga memiliki hatinya, cintanya. Maka, dengan segala kelembutan kewanitaannya, ditambah segala pengalaman dan siasatnya dalam bermain cinta, Cian Ling hendak menaklukkan Thian Sin agar pemuda itu jatuh dan tidak akan mampu melepaskan diri dari cengkeramannya. Akan tetapi, setelah mereka tinggal di dalam perahu itu sampai semalam suntuk, bukannya Thian Sin yang bertekuk lutut, bahkan sebaliknya Cian Ling sendiri yang semakin tergila-gila! Pemuda itu memiliki pribadi yang amat kuat, memiliki kejantanan yang bahkan mengalahkan seorang wanita seperti Cian Ling yang sudah berpengalaman dalam hal bermain cinta. Maka, setelah mereka berada di dalam perahu itu, dan hanya minggir untuk mencari makanan, kadang-kadang keduanya berenang-renang di sekitar perahu, kadang-kadang mereka bercakap-cakap, bercanda dan bermain cinta di dalam perahu atau di air yang jernih selama dua hari, maka gadis itulah kadang-kadang menyatakan cintanya. Cian Ling sampai bersumpah menyatakan cintanya kepada Thian Sin. Sebaliknya, pemuda itu hanya tenang-tenang saja dan tersenyum penuh kemenangan. Dia menikmati hubungannya dengan Cian Ling, akan tetapi sama sekali dia tidak jatuh cinta. Dia suka kepada gadis itu, tentu saja. Siapakah orangnya, kalau dia laki-laki normal, yang tidak suka kepada seorang gadis yang cantik jelita, berkepandaian, dan memiliki gairah yang demikian besar, dan yang meminta pula? Aken tetapi, dalam pandangan Thian Sin, Cian Ling hanyalah seorang gadis yang selain menyenangkan, juga merupakan suatu jembatan untuk dia mendekati See-thian-ong!

Setelah dua hari dua malam berada di perahu itu, seperti sepasang suami isteri berbulan madu, akhirnya keduanya merasa bosan tinggal di atas danau dan merekapun mendarat. Inipun adalah kehendak Thian Sin yang ingin dapat bertemu dan memasuki sarang See-thian-ong.

Dari Cian Ling, dia sudah mendengar segalanya tentang See-thian-ong. Dan menurut penuturan gadis itu, dia tahu bahwa selain amat lihai ilmu silatnya, terutama ilmu tongkatnya, juga See-thian-ong amat pandai dalam ilmu sihir.

“Banyak sudah tokoh-tokoh kang-ouw yang memiliki ilmu silat tinggi, yang tingkat ilmu silatnya mungkin tidak kalah atau setidaknya setingkat dengan kepandaian suhu, terpaksa harus tunduk karena ilmu sihir dari suhu,” antara lain Cian Ling berkata.

Ketika mereka meninggalkan telaga, Cian Ling mengajaknya ke dalam sebuah hutan yang amat indah. Hutan itu berada di lereng yang penuh dengan pohon-pohon dan bunga-bunga, dan di tengah-tengah hutan terdapat padang rumput yang tidak tinggi dan dapat hidup subur, maka pandang rumput itu tebal sekali dan kalau diinjak rasanya seperti menginjak beludru tebal saja. Luar biasa indahnya tempat itu.

“Ini adalah tempat yang paling kusuka, Thian Sin. Kalau aku sedang kesal hati, di sinilah aku pergi untuk melupakan semua kekesalan hatiku. Dan sekarang, kau kuajak ke sini! Engkaulah laki-laki pertama yang kuajak ke tempat ini…”

Thian Sin tersenyum. Dia duduk di atas rumput, menyandarkan kepalanya di atas kedua pahanya. Mereka saling rangkul dengan sikap mesra.

“Cian Ling, engkau seorang gadis yang amat luar biasa. Akan tetapi… bagaimana engkau dapat menjadi murid See-thian-ong? Dan sepanjang pendengaranku tentang dia, dia itu suka sekali dengan wanita-wanita muda.” Thian Sin setengah memancing untuk mengetahui lebih banyak tentang hubungan antara wanita ini dan gurunya.

Cian Ling menarik napas panjang, seperti seekor kucing yang dipangku dan dibelai, karena Thian Sin dengan pandai menggunakan jari-jari tangannya untuk membelai anak rambut halus di sekitar tengkuk dan dahi itu. “Memang suhu seorang laki-laki yang aneh. Dan tentang wanita, yahh… dia suka sekali dan setiap hari, maksudku setiap malam, harus ada wanita muda cantik yang mendampinginya. Dia… dia kuat sekali, akan tetapi dibandingkan dengan engkau, dia bukan apa-apa…” Cian Ling menarik leher pemuda itu dan menciumnya… Thian Sin membiarkan gadis itu, kemudian melepaskan diri dan berkata lagi.

“Dan engkau begini cantik dan muda, mustahil kalau dia melepaskanmu…”

“Kau… kau cemburu?” Cian Ling bangkit duduk dan memandang tajam, akan tetapi bibirnya yang manis tersenyum.

Thian Sin menggeleng kepala sambil menunduk dan melihat gadis itu mengangkat muka memandangnya dari atas pangkuan. “Tidak, aku hanya menduga begitu saja.”

Cian Ling menarik napas panjang, nampaknya kecewa. “Aihhh… ingin aku melihat engkau cemburu. Kata orang, cemburu itu tandanya cinta.”

Thian Sin hanya tersenyum dan berkata singkat, penuh kecerdikan tersembunyi, “Nona manis, kalau aku tidak cinta padamu, masa aku mau menemanimu seperti ini?”

Cian Ling gembira sekali, bangkit duduk dan merangkul leher Thlan Sin, menciuminya penuh nafsu. Akan tetapi Thian Sin perlahan-lahan melepaskan diri dan berkata, “Duduklah yang baik dan kita bicara tentang gurumu. Aku ingin sekali mendengar tentang datuk barat itu.”

“Bukankah sudah hanyak aku bercerita tentang dia? Memang dugaanmu benar. Orang laki-laki seperti guruku itu, mana mau melepaskan aku? Terus terang saja, dialah yang pertama kali menggauliku. Dia adalah guruku, juga pengganti orang tuaku yang amat baik kepadaku, dan juga dialah laki-laki pertama yang pernah menyentuhku dan mengajariku tentang cinta seperti… seperti aku mengajarimu, Thian Sin.” Gadis itu tersenyum lebar.

Thian Sin tidak merasa cemburu, hanya merasa tak senang dan agak muak mendengar akan hubungan guru dan murid seperti itu. Guru tiada jauh bedanya dengan kedudukan seorang ayah, maka hubungan kelamin antara guru dan murid sungguh menimbulkan perasaan tidak enak baginya. Akan tetapi karena dia hendak menggunakan gadis ini sebagai jembatan untuk berkenalan dengan See-thian-ong dan mencari rahasianya agar dia mampu mengalahkannya, maka diapun tidak memberi komentar atas hal itu.

“Cian Ling, coba kaujelaskan. Dua macam ilmunya yang pernah kauberitahukan kepadaku itu, yaitu ilmu khi-kang yang membuat tubuhnya penuh dengan hawa sampai menggembung besar, dan ilmu tongkatnya, mana yang lebih berbahaya?”

“Thian Sin, sungguh menyesal sekali aku tidak dapat menjelaskan secara terperinci, karena biarpun aku merupakan murid tersayang dari suhu dan agaknya di antara semua muridnya akulah yang paling unggul, namun kedua ilmu itu merupakan ilmu simpanan suhu pribadi, tidak pernah diajarkan kepada orang lain. Bahkan Twa-suheng Ciang Gu Sik juga tidak diajar ilmu itu, padahal dia disebut sebagai murid kepala. Kalau dia diajari dua ilmu itu, tentu akupun akan kalah olehnya.”

“Sayang, aku ingin sekali tahu sampai dimana kehebatan dua ilmu itu.”

“Aku hanya dapat memberi tahu bahwa ilmu khi-kang yang membuat tubuhnya menggembung itu disebutnya ilmu Hoa-mo-kang. Kalau suhu sudah mengeluarkan ilmu ini, tubuhnya menggembung besar seperti balon terisi angin dan segala macam senjata tidak mampu menembus kulitnya dan selain itu, juga dengan hembusan khi-kang melalui pukulan-pukulannya, maka jarang ada lawan mampu menahannya.

Sedangkan ilmu tongkatnya dinamakan Giam-lo-pang-hoat (Ilmu Tongkat Malaikat Kematian) dan segala macam tongkat atau bahkan sepotong kayupun kalau berada di tangannya dan dimainkan dengan ilmu itu akan berubah menjadi senjata yang amat ampuh. Hanya itulah yang kuketahui, kekasihku.” Kemudian, gadis itu memegang tangan Thian Sin dan bertanya, “Engkau bertanya-tanya tentang suhu, sebenarnya mau apakah?”

Thian Sin sudah mempersiapkan diri untuk pertanyaan seperti itu yang memang sudah diduganya sekali waktu akan keluar dari mulut Cian Ling. Maka sambil memeluknya dan merebahkan gadis itu terlentang kembali ke atas pangkuannya, dia menjawab.

“Cian Ling, engkau tentu sudah mendengar akan riwayatku, kumaksudkan, riwayat mendiang ayahku, bukan?”

Gadis itu tertawa dan meraih dagu pemuda itu untuk dibelainya, pandang matanya penuh rasa kagum karena pertanyaan itu mengingatkan ia akan kenyataan yang membuat ia merasa bangga, yaitu bahwa pemuda yang telah menjadi miliknya ini, yang menyerahkan perjakanya, adalah putera Pangeran Ceng Han Houw yang namanya selalu mendatangkan rasa kagum dalam hatinya.

“Tentu saja! Siapa yang tidak pernah mendengar nama Pangeran Ceng Han Houw yang menggemparkan dunia, seorang pangeran muda yang tampan dan yang telah menjatuhkan hati seluruh wanita di dunia ini, yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan bahkan pernah dianggap sebagai seorang jagoan nomor satu di dunia…”

“Itulah yang kumaksudkan. Aku ingin memenuhi keinginan mendiang ayahku, dan akan kuperlihatkan kepada dunia bahwa puteranya ini mampu memenuhi cita-cita ayahnya, yaitu aku ingin mengalahkan semua datuk di empat penjuru. Dan, aku ingin sekali mencoba kepandaian See-thian-ong dan mengalahkannya.”

“Ahhh… untuk mengalahkan suhu, sungguh merupakan suatu hal yang amat sukar, kekasihku.”

“Aku hanya mengharapkan bantuanmu, Cian Ling. Siapa lagi yang dapat membantuku kecuali engkau dalam menghadapi suhumu itu.”

“Tentu saja aku mau membantumu dalam segala hal, akan tetgpi bagaimana aku dapat membantumu menghadapi suhu? Kalau suhu mengeluarkan dua macam ilmu itu, aku tidak berdaya sama sekali, dan pula… mana mungkin aku dapat melawan suhu yang begitu baik terhadap diriku seperti terhadap anak sendiri?”

“Hemm, seperti anak atau seperti kekasih?”

“Hi-hik, kau cemburu?”

Thian Sin tidak menjawab, melainkan merangkul dan dibalas oleh Cian Ling. Mereka tidak bicara lagi melainkan mengulang kembali apa yang telah sering mereka lakukan di dalam perahu selama dua malam itu. Agaknya tiada bosan-bosannya bagi mereka berdua untuk bermesraan dan menumpahkan rasa cinta berahi mereka.

Ketika mereka sedang berkasih mesra, Cian Ling dapat melihat bahwa suhengnya, yaitu Ciang Gu Sik, datang dan mengintai dari tempat yang tidak jauh dari situ, dari balik sebatang pohon. Karena Gu Sik datang dari arah belakang Thian Sin yang sedang asyik bermesraan itu, maka pemuda ini tidak melihatnya. Akan tetapi, Cian Ling dapat melihatnya, dan diam-diam gadis ini tersenyum. Kemudian gadis ini memperlihatkan sikap yang lebih mesra daripada biasanya, bahkan sengaja mengeluarkan suara-suara manja agar terdengar oleh Gu Sik.

Ciang Gu Sik, murid kepala dari See-thian-ong itu, seorang pemuda berusia kurang lebih tiga puluh enam tahun, adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi kurus, bermuka pucat dan matanya sipit sekali, pakaiannya kuning sederhana dan dia memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Karena dia dekat dengan sumoinya, maka tentu saja diapun tidak dilewatkan oleh Cian Ling dan antara suheng dan sumoi ini memang telah beberapa kali terjadi hubungan badan, seperti yang terjadi antara Cian Ling dan See-thian-ong. Di kalangan mereka, peristiwa seperti ini tidaklah dianggap aneh atau kotor. Mereka adalah tokoh-tokoh kaum sesat yang sama sekali tidak mau terikat oleh segala macam aturan dan susila. Akan tetapi, kalau Cian Ling hanya menganggap suhengnya itu sebagai seorang diantara para pria yang pernah menggaulinya dan tidak begitu mendatangkan kesan di dalam hatinya, sebaliknya Gu Sik telah jatuh cinta kepada sumoinya ini, mengharapkan kelak sumoinya mau menjadi isterinya.

Telah dua hari ini Ciang Gu Sik merasa gelisah. Dia mencari-cari sumoinya. Dia mendengar peristiwa di telaga di mana sumoinya bertemu dengan seorang pemuda yang tampan dan juga kabarnya memiliki kepandaian tinggi. Baginya, mendengar sumoinya bermain cinta dengan pemuda lain, bukanlah hal yang aneh sungguhpun dia mulai diamuk cemburu karena dia ingin menguasai tubuh dan hati sumoinya itu untuk dirinya sendiri. Akan tetapi biasanya, kalau sedang bermain glia dengan laki-laki lain, Cian Ling tidak pernah sembunyi-sembunyi, dan juga paling lama sehari semalam sumoinya itu tentu akan pulang. Tidak pernah ada pria yang dapat menahannya dalam pelukannya selama lebih dari satu hari satu malam. Dan sekarang, telah dua hari dua malam sumoinya tidak pulang, maka timbul kekhawatiran hatinya kalau-kalau terjadi sesuatu yang buruk pada sumoinya. Pada hari ke tiga pergilah dia mencari sumoinya. Dia tahu akan padang rumput di dalam hutan yang menjadi tempat kesayangan sumoinya itu, maka ke situlah dia pergi.

Ketika dia mengintai dan melihat sumoinya bermesraan dengan seorang pemuda tampan yang dikenalnya sebagai putera Pangeran Ceng Han Houw, tentu saja dia merasa cemburu sekali. Sumoinya itu pernah secara berterang menyatakan tertarik oleh pemuda itu, dan kini mereka telah bercinta-cintaan di tempat itu.

Dan sumoinya kelihatan begitu mesra dan amat mencinta pemuda itu! Kalau menurutkan hatinya yang panas oleh cemburu, ingin dia pada saat itu juga meloncat dan menyerang, membunuh Thian Sin. Akan tetapi, dia merasa sungkan kepada sumoinya. Oleh karena itu, dia menanti sampai kedua orang muda itu duduk kembali dalam keadaan pantas, barulah dia muncul sambil membentak marah, “Kiranya si pemberontak Ceng Thian Sin berada di sini!” Dan diapun sudah meloncat dan mencabut senjatanya, yaitu sebatang joan-pian (ruyung lemas), terbuat daripada emas.

Akan tetapi, Cian Ling meloncat dan menyambut suhengnya itu dengan berdiri tegak dan kedua tangannya bertolak pinggang, mukanya merah dan pandang matanya mengandung kemarahan sedangkan Thian Sin masih enak-enak saja duduk bersandar batang pohon, memandang tak acuh.

“Suheng, mau apa kau datang ke sini? Apakah engkau hendak menggangguku?”

Menghadapi sumoinya, Ciang Gu Sik yang berwajah pucat itu menjadi ragu-ragu. “Sumoi, dia itu adalah musuh kita, dan kini dia memasuki wilayah kita tanpa ijin dari suhu!”

“Dia bukan musuh. Lihat saja baik-baik. Kalau dia musuh masa sikapnya begini baik terhadap diriku? Kami saling mencinta dan harap kau tidak mengganggu. Dia memasuki tempat ini adalah karena ajakanku. Pergilah!”

“Sumoi, engkau harus ingat, dia ini di Lok-yang dan Su-couw… telah…”

“Sudahlah, suheng. Aku sedang bersenang-senang, kenapa kau berani menggangguku?”

“Sumoi, suhu tentu akan marah…”

“Suhu tidak akan marah padaku. Akan tetapi engkau yang cemburu, yang tolol!” Ciang Ling mencabut pedangnya. “Atau engkau hendak mengandalkan joan-pianmu itu untuk memaksa aku melawan?”

Melihat ini, Ciang Gu Sik semakin marah. Dua orang kakak beradik seperguruan itu berdiri saling berhadapan dengan senjata di tangan. Thian Sin hanya menonton saja, sikapnya tenang dan menanti perkemhangan selanjutnya. Akan tetapi, setelah mereka berdua sejenak beradu pandang yang penuh kemarahan, akhirnya Ciang Gu Sik menarik napas panjang dan menyimpan kembali senjatanya. “Baiklah, aku pergi, akan tetapi suhu tentu tidak senang melihat ini…” Dan setelah melempar pandang mata penuh kebencian kepada Thian Sin, laki-laki tinggi kurus bermuka pucat itu lalu membalikkan tubuhnya dan pergi dari situ dengan cepat.

“Suheng, kalau melapor yang bukan-bukan kepada suhu, aku tidak akan mau bicara denganmu lagi!” Cian Ling menyusulkan teriakannya kepada laki-laki itu. Setelah suhengnya tidak nampak lagi, gadis itu lalu menyarungkan pedangnya dan duduk di dekat Thian Sin, merebahkan kepalanya di atas pangkuan pemuda itu dan menarik napas panjang.

“Uuhhhhh, laki-laki pencemburu macam dia…!”

Thian Sin mengelus rambut gadis itu. “Engkau telah membikin sakit hatinya, Cian Ling.”

“Peduli amat! Orang macam dia yang pencemburu itu tidak patut dihadapi dengan manis.”

“Akan tetapi dia tentu akan melapor kepada See-thian-ong.”

“Apakah engkau takut?”

“Hemm, aku tidak takut, karena memang aku ingin sekali mencoba kepandaiannya. Akan tetapi, dia tentu akan datang membawa banyak anak buahnya…”

“Ih, engkau belum mengenal betul watak suhuku!” Cian Ling berkata mencela. “Dia adalah seorang datuk yang gagah perkasa dan tinggi kedudukannya. Kaumaksudkan dia mau mengeroyokmu? Jangan memandang rendah, Thian Sin. Guruku tidak pernah mengeroyok orang!”

“Kalau begitu, biar dia datang dan aku akan mencoba kepandaiannya.”

“Hemm, engkau akan kalah.”

“Kalau begitu, biar engkau melihat aku mati di tangannya.”

Cian Ling lalu merangkul. “Ih, kau begitu kejam, mengeluarkan kata-kata seperti itu? Kalau engkau mati, aku akan merana, aku akan berduka, aku akan kehilangan kekasihku. Aku amat mencintamu dan aku yang akan melindungimu, jangan kau khawatir!” Memang Thian Sin tadi sengaja hendak membuat wanita ini benar-benar tunduk kepadanya. Dia dapat menduga bahwa dengan wajah cantiknya, dengan tubuh mudanya, sedikit banyak wanita ini tentu memiliki pengaruh terhadap See-thian-ong, bahkan suhengnya tadipun tunduk kepadanya. Dengan kewanitaannya yang memiliki daya tarik luar biasa ini, tentu Cian Ling dapat menguasai suhengnya dan juga gurunya sendiri kalau benar seperti yang diceritakan Cian Ling bahwa See-thian-ong bukan hanya gurunya dan pengganti orang tuanya, melainkan juga mengenggapnya sebagai kekasih.

Dua orang muda itu seperti lupa akan segala, hanya menuruti gairah nafsu berahi dan mabuk dengan permainan cinta mereka. Mereka itu tiada ubahnya sepasang pengantin baru yang tahunya hanya makan minum dan bermain cinta. Cian Ling melayani kekasihnya dengan mencarikan buah-buahan, memanggang daging kelinci dan kambing hutan dan hubungan antara mereka menjadi semakin mesra saja.

Dan pada keesokan harinya, ketika matahari meneroboskan cahaya melalui celah-celah daun pohon dan menimpa tubuh mereka, menhgugah mereka dari tidur nyenyak karena kelelahan, mereka terbangun dengan gembira dan dengan sinar mata saling pandang penuh kemesraan. Thian Sin maklum bahwa kalau dia tidak hati-hati, dia bisa benar-benar jatuh cinta kepada wanita cantik yang merupakan wanita pertama yang pernah memilikinya. Akan tetapi, setelah mereka mandi di sumber air dalam hutan dan sarapan pagi dengan daging panggang, tiba-tiba muncullah See-thian-ong yang memang sudah mereka duga sewaktu-waktu tentu akan muncul juga.

Kemunculan datuk kaum sesat wilayah barat ini hebat sekali. Mula-mula terdengar suaranya, suara yang berat dan parau, namun yang datangnya entah dari mana, tahu-tahu terdengar suara itu seperti dekat sekali dengan mereka, memanggil nama muridnya. “Cian Ling… di mana kau…?”

Mendengar suara ini, agak berubah wajah gadis itu. Betapapun juga, diam-diam dara ini memang merasa jerih sekali terhadap suhunya yang sakti, dan diam-diam ia mengkhawatirkan keselamatan kekasihnya. Mendengar suara ini, iapun tidak berani berayal lagi dan menjawab sambil mengerahkan khi-kangnya, karena ia tahu bahwa suhunya itu masih jauh, mungkin masih berada di luar hutan, “Teecu di sini, suhu…!”

Berkata demikian, ia memberi isyarat kepada Thian Sin untuk berhati-hati. Pemuda itu tetap duduk di atas rumput, kelihatan tenang saja walaupun jantungnya berdebar tegang dan seluruh syaraf di tubuhnya telah siap siaga menghadapi segala kemungkinan.

Tiba-tiba ada angin bertiup dari arah selatan. Thian Sin cepat memandang dengan penuh perhatian ke arah itu. Terdengar suara berkerosakan seperti ada binatang buas datang dari tempat itu dan nampak daun-daun kering berhamburan seperti dilanda angin ribut. Melihat ini, Cian Ling sudah menghadap ke arah itu sambil merangkap kedua tangannya memberi hormat sambil berkata, “Suhu…!”

Pemberian hormat dari Cian Ling ini sederhana saja, tidak berlutut seperti kebiasaan murid terhadap gurunya. Hal ini saja sudah membuktikan bahwa hubungan antara guru dan murid ini lebih akrab daripada guru-guru dan murid-murid lainnya.

Thian Sin memandang penuh perhatian dan dia kagum juga ketika melihat bayangan seorang laki-laki tinggi besar datang dengan gerakan yang amat gagah dan tangkas. Apalagi setelah laki-laki itu berdiri tak jauh dari tempat itu, dia memandang kagum. Tidak seperti Pak-san-kui yang berpakaian seperti seorang kakek hartawan, See-thian-ong ini merupakan seorang kakek yang bertubuh tinggi besar dan gagah sekali. Usianya lebih muda daripada Pak-san-kui, belum ada enam puluh tahun, dan tubuhnya yang tinggi besar itu cocok dengan kulit mukanya hitam. Namun, bukan hitam buruk, melainkan hitam legam yang halus dan membuat dia nampak gagah, mengingatkan orang akan tokoh Thio Hwi, yaitu tokoh cerita Sam-kok yang gagah perkasa, dengan pakaian yang tidak terlalu mewah, mukanya yang hitam itu dihias sepasang mata yang lebar dan bundar, bersinar-sinar seperti mata harimau. Dari gerak-geriknya dan wajahnya terbayanglah kejantanan, kegagahan, kekasaran dan tidak suka berpura-pura. Rambutnya digelung ke atas, model rambut tosu dan tangan kirinya memegang sebatang tongkat. Inilah See-thian-ong yang amat terkenal itu, pikir Thian Sin tanpa bangun dari tempat duduknya. Dia memang sengaja bersikap tak acuh untuk membangkitkan penasaran dalam hati datuk itu.

“Apakah suhu datang karena dibakar oleh ocehan dari Ciang-suheng?” Cian Ling bertanya dan cara dara itu bertanya demikian terbuka juga menunjukkan bahwa ia memang sudah biasa bersikap biasa seperti itu terhadap gurunya.

Semenjak kemunculannya, sepasang mata yang terbelalak itu, sungguh mengingatkan Thian Sin akan mata tokoh Thio Hwi, selalu menatap kepada Thian Sin yang masih duduk di atas rumput. Menurut cerita Sam-kok, sepasang mata Thio Hwi juga selalu terbelalak dan tidak pernah atau jarang sekali dipejamkan sehingga pernah ketika tokoh Thio Hwi itu berjaga sambil tertidur, sepasang matanya tetap terbelalak, membuat pasukan musuh ketakutan karena mengira bahwa orang gagah ini tidak tidur!

“Ha-ha-ha-ha! Siapa mendengar ocehan orang? Aku hanya tertarik, mendengar dari suhengmu, bahwa putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw datang berkunjung! Dia itulah orangnya?”

“Benar, suhu, dia adalah Ceng Thian Sin, putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw jagoan nomor satu di dunia itu. Dia datang karena ingin berkenalan dengan suhu.”

“Ha-ha-ha, yang jelas, dia telah berkenalan denganmu! Dan aku tidak menyalahkan engkau, Cian Ling. Dia memang tampan dan ganteng, mungkin seperti itulah ayahnya dahulu, si penakluk wanita itu seperti dikabarkan orang. Akan tetapi jagoan nomor satu di dunia? Ha-ha, hal itu harus dibuktikan dulu. Orang muda, mendengar engkau putera Pangeran Ceng, mari kaulayani aku barang sepuluh jurus. Aku sudah mendengar akan sepak terjangmu selama ini.”

Thian Sin bangkit berdiri dan menjura. Dia dapat menilai watak kakek ini. Seorang datuk yang kasar akan tetapi jauh lebih gagah dibandingkan dengan Pak-san-kui yang mempunyai sifat licik. Boleh jadi datuk ini kasar dan kejam, tidak pedulian, dan mau menang sendiri saja, akan tetapi setidaknya dia ini jujur dan tidak curang. Tentu kakek ini sudah mendengar tentang dia, mendengar bahwa dia telah mengalahkan murid-muridnya dan juga mengalahkan putera Pak-san-kui maka kini tertarik dan hendak mengujinya. Dia harus berhati-hati. Kalau seorang datuk sakti seperti itu sudah tahu akan keunggulannya, maka tentu datuk itu tidak akan memandang rendah dan akan mengeluarkan kepandaiannya.

“Locianpwe, sungguh aku merasa beruntung sekali dapat berhadapan dengan locianpwe, karena sudah lama aku mendengar bahwa locianpwe adalah seorang di antara locianpwe di empat penjuru dunia yang memiliki kesaktian tinggi. Aku yang muda memang mengharapkan petunjuk darimu.” Setelah berkata demikian, Thian Sin menjura dan berdiri dengan sikap menanti, waspada dan tenang.

“Ha-ha-ha, bagus sekali! Ternyata engkau patut menjadi putera pangeran yang pernah menggeterkan dunia kang-ouw itu. Nah, bersiaplah, orang she Ceng! Biar muridku menjadi saksi siapa di antara kita yang lebih unggul, aku, See-thian-ong, ataukah engkau, yang menggantikan Pangeran Ceng Han Houw!” Ketika tertawa kakek itu kelihatan jauh lebih muda dari usianya, dan Thian Sin tahu bahwa seorang laki-laki penuh kejantanan seperti ini tentu dapat menarik hati banyak wanita.

Akan tetapi, sebelum kakek raksasa itu bergerak, Cian Ling sudah melangkah maju menghadapi suhunya dan berkata, “Suhu…!”

“Eh, ada apa manis?”

“Jangan suhu mencelakakan dia…!”

“Ha-ha-ha, kau khawatir aku merusak boneka mainanmu sayang? Jangan khawatir, di dunia ini masih banyak pemuda-pemuda yang lebih ganteng deripada dia.”

“Tapi aku… aku cinta padanya, suhu.”

Sepasang mata yang sudah lebar itu terbelalak. “Kau…? Cinta…? Uh, betapa bodohnya. Bukankah sudah sering kuajarkan kepadamu bahwa cinta adalah suatu kebodohan? Bahwa cinta hanya mendatangkan kesengsaraan hidup belaka? Aku tidak berjanji apa-apa, dan kita lihat saja bagaimana kesudahannya pibu ini nanti.” Dengan kasar dia lalu menggunakan tangannya mendorong muridnya ke samping. Terpaksa Cian Ling meloncat ke pinggir dan memandang dengan alis berkerut karena betapapun juga, ia tahu akan kesaktian gurunya dan akan keganasan ilmu dari gurunya. Dan ia masih belum puas dengan pemuda itu, tidak ingin kehilangan Thian Sin yang begitu menyenangkan hatinya.

Kakek itu menggerakkan tangan yang memegang tongkat dan benda itu menancap di atas tanah sampai setengahnya. “Nah, engkau boleh mempergunakan senjatamu pedang itu, akan kuhadapi dengan tangan kosong. Ini baru adil namanya mengingat usiaku lebih matang darimu. Majulah dan keluarkan podangmu, orang muda.”

Manusia sombong pikir Thian Sin. Diapun tidak mau kalah gertak, maka dia mengeluarkan pedangnya, bukan dicabut melainkan mangeluarkan berikut sarungnya dan diapun menancapkan pedang bersarung itu ke atas tanah. “Locianpwe, aku datang untuk minta petunjuk, dan dalam adu ilmu haruslah terdapat kejujuran dan keadilan. Kalau locianpwe tidak menggunakan senjata, akupun masih mempunyai tangan dan kaki untuk melayanimu.”

Kakek itu semakin terbelalak, lalu tertawa. “Ha-ha-ha, engkau tabah sekali. Agaknya karena engkau telah menguasai ilmu dari Cin-ling-pai, seperti yang telah kudengar, maka engkau berani memandang ringan kepadaku, ya? Nah, boleh mari kita mengadu tangan dan kaki. Majulah!”

“Aku yang muda dan hanya tamu, mana berani maju lebih dulu? Silakan, locianpwe!”

Sikap Thian Sin yang selalu mengalah ini sungguh merupakan tamparan bagi See-thian-ong. Biasanya, karena dia memiliki tingkat lebih tinggi, dialah yang mengalah sebagai sikap orang yang kepandaiannya lebih tinggi. Akan tetapi sekarang dia bertemu batunya, seorang pemuda yang bersikap mengalah kepadanya!

“Bocah sombong, sungguh engkau tidak mengenal siapa See-thian-ong!” bentaknya dan sikap Thian Sin itu berhasil membuat kakek ini marah dan memang inilah yang dikehendaki Thian Sin. Dia tidak ingin kakek itu main-main, melainkan memancing agar kakek itu mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk dapat diukurnya. Setelah mengeluarkan bentakan itu, tiba-tiba saja kakek itu menerjang dan kedua lengannya yang berkulit hitam berbulu panjang dan besar itu menyambar dari kanan kiri, kedua tangannya dengan telapakan tangan terbuka menyambar dari kanan kiri seperti orang hendak menepuk lalat, dan yang dijadikan lalatnya untuk dihimpit oleh kedua tangan yang lebar dan kuat itu adalah kepala Thian Sin!

“Parrrrr…!” Kedua tangan itu saling bertemu ketika Thian Sin dengan gerakan lincah sudah melangkah mundur mengelak. Akan tetapi, bertemunya kedua tangan kakek itu selain mendatangkan suara nyaring, juga mengepulkan asap dan tahu-tahu kedua tangan itu telah meluncur dengan serangan dahsyat dan ganas sekali, yang kanan mencengkeram ke arah kepala lawan sedangkan yang kiri dengan jari tangan terbuka menusuk ke arah lambung!

“Hemm…!” Thian Sin berseru, kagum karena serangan itu sungguh amat ganas dan cepat, sebelum kedua tangan datang sudah menyambar angin pukulan dahsyat. Diapun lalu mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang, sengaja menangkis kedua lengan itu dengan kedua tangannya.

“Plak! Deass…!”

“Ahh! Inikah Thian-te Sin-ciang?” Kakek itu berseru kaget ketika merasa betapa kedua lengannya yang disaluri penuh tenaga sin-kang itu dapat terpental terkena tangkisan pemuda itu. Maklumlah dia bahwa berita yang didengarnya tentang pemuda ini tidak kosong belaka. Tenaga Thian-te Sin-ciang tadi saja sudah membuktikan bahwa pemuda ini memiliki tenaga kuat sekali, jauh lebih kuat daripada tenaga murid-muridnya yang paling pandai sekalipun.

Thian Sin tidak mempedulikan seruan kakek itu dan diapun cepat membalas serangan lawan dengan ilmu Silat Pat-hong Sin-kun dan setiap sambaran tangannya, dia kerahkan tenaga Pek-in-ciang sehingga kedua tangan itu mengeluarkan uap putih! Dua ilmu ini dia pelajari dari Yap Kun Liong dan sekarang dia memiliki kesempatan untuk mempergunakannya dalam praktek melawan musuh yang tangguh.

Dihujani serangan oleh pemuda itu, See-thian-ong cepat menjaga diri, mengelak dan menangkis sambil memperhatikan gerakan orang. Dia kagum sekali karena dia tidak yakin mengenal ilmu silat itu. “Apa ini? Seperti Pat-kwa-kun, akan tetapi bukan! Dan uap putih ini… hemm, pernah aku mendengar tentang Pek-in-ciang. Inikah ilmu itu?”

Thian Sin mendesak terus tanpa menjawab, kemudian dia bahkan mengeluarkan ilmu-ilmu silat tinggi yang pernah dipelajarinya. Dia mengeluarkan beberapa jurus Thai-kek Sin-kun, San-in-kun-hoat dengan tenaga Thian-te Sin-ciang. Kakek itu semakin kagum, karena semua ilmu itu dikenainya sebaggi ilmu silat yang benar-benar amat bermutu. Berkali-kali dia memuji dan dia sungguh-sungguh terdesak, padahal pemuda itu hanya mengeluarkan beberapa jurus dari ilmu silat masing-masing itu. Thian Sin juga bukan seorang pemuda bodoh. Dia tahu bahwa lawannya adalah seorang datuk yang telah memiliki kematangan ilmu silat.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: