Pendekar Sadis (Jilid ke-38)

Dia tidak mau dipancing seperti ketika menghadapi Pak-san-kui, yaitu dipancing untuk mengeluarkan semua ilmu-ilmunya agar dapat dipelajari oleh datuk itu. Maka dia mencampur-campurkan semua ilmu silatnya sehingga membuat lawannya bingung dan kagum sekali. Karena maklum bahwa dia tidak akan mampu mempelajari ilmu-ilmu silat tinggi yang diselang-seling itu dan tahu bahwa kalau dia hanya bertahan saja, besar kemungkinan dia akan terkena pukulan yang cukup ampuh dan berbahaya, kini See-thian-ong mengambil keputusan untuk menyudahi pertandingan.

Tiba-tiba dia mengeluarkan teriakan yang parau menggetarkan bumi dan pohon-pohon di sekeliling tempat itu dan berdiri dengan kedua kaki dan tangan terpentang lebar. Pada saat itu, Thian Sin sudah melakukan serangan pukulan ke arah dada kakek itu. Melihat kakek itu berdiri dengan dada terbuka, dan melihat betapa menyusul suara teriakan itu, tubuh Si Kakek mulai menggembung, tahulah Thian Sin bahwa kakek itu telah mempergunakan ilmunya yang mujijat, yaitu yang oleh Cian Ling disebut sebagai Ilmu Hoa-mo-kang. Akan tetapi dia tidak peduli dan memukul terus, untuk menguji sampai di mana kehebatan ilmu itu. Dia melihat betapa kakek itu sama sekali tidak mengelak atau menangkis, bahkan menyerahkan dadanya untuk dipukul.

“Blukk…!” Pukulan tangan kanan Thian Sin yang menggunakan sepenuhnya tenaga Thian-te Sin-ciang itu tepat mengeng dada dan telinga Thian Sin seperti mendengar suara tambur dipukul dan tangannya yang memukul itu tadi terpental kembali seperti memukul bola yang amat keras dan kuat. Tubuhnya sendiri sampai terhuyung terbawa oleh kembalinya tenaga Thian-te Sin-ciang melalui tangannya dan untuk menjaga keseimbangan tubuhnya, dia sudah berloncatan jungkir balik mematahkan tenaga yang membalik itu.

“Ha-ha-ha, bagaimana pendapatmu dengan ilmuku, orang muda? Dapatkah engkau melawannya?” See-thian-ong tertawa pula, puas dan girang hatinya melihat lawannya terkejut menghadapi ilmunya.

“Locianpwe, ilmumu memang hebat, akan tetapi jangan mengira bahwa aku sudah kalah.” Setelah berkata demikian, pemuda itu menerjang ke depan lagi, dan kini dia menggunakan kedua tangannya untuk menyerang bagian-bagian tubuh yang tidak terlindung oleh Hoa-mo-kang itu, seperti mata, hidung, bagian muka, lalu bagian tubuh yang turangnya menonjol dan tidak terlindung oleh daging, seperti tulang pundak, tenggorokan, sambungan siku, lutut dan sebagainya.

“Ah, kau memang cerdik!” Kakek itu berseru dan repot melindungi bagian-bagian yang terserang itu. Akan tetapi karena tubuhnya sudah menggembung, maka mudah saja baginya, dengan hanya menggerakkan sedikit tubuhnya, maka bagian-bagian yang terserang adalah bagian yang terlindung hawa Hoa-mo-kang. Dan kini, begitu tubuhnya terpukul, otomatis tangannya membalas serangan dari samping.

“Blunggg… desss!” Ketika tangan Thian Sin dengan kekuatan menyambar ke arah pundak untuk membikin patah tulang pundak kiri, kakek itu miringkan tubuhnya sehingga pukulan itu mengenai dadanya, dan pada saat yang sama tangannya sudah menampar punggung Thian Sin. Tubuh pemuda itu terpelanting dan bergulingan saking kerasnya pukulan lawan. Akan tetapi untung baginya bahwa dia tadi sedang mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang sehingga tubuhnyapun menjadi kebal, terlindung oleh tenaga itu. Dia tidak terluka, sungguhpun guncangan tenaga hantaman yang keras itu sempat membuat isi dadanya tergetar dan napasnya menjadi agak sesak!

“Ha-ha-ha!” See-thian-ong tertawa girang dan bangga.

Thian Sin menjadi penasaran dan juga marah. Dia sudah menerjang lagi, menusukkan telunjuk dan jari tengah ke arah sepasang mata lawan. Ketika lawannya miringkan tubuh, dia menghantam ke arah tenggorokan. Kakek itu menaikkan tubub dan miring, sehingga kembali pukulan itu luput dan mengenai dada, dan pada saat itu kakek itu menggunakan kedua tangannya untuk mencengkeram tengkuk dan punggung Thian Sin dengan jalan merangkulnya seperti seekor beruang. Akan tetapi, tiba-tiba kakek itu mengeluarkan teriakan keras.

“Aughhhhh…!” Kakek itu terkejut bukan main karena begitu kedua tangannya mencengkeram, tenaga Hoa-mo-kang itu memberobot keluar melalui kedua tangannya dan tersedot masuk ke dalam tubuh pemuda itu!

“Thi-khi-i-beng…!” teriaknya dan tiba-tiba saja tubuhnya seperti bola terisi penuh angin yang bocor, mengempis kembali dan seluruh tenaganya lenyap sehingga dengan sendirinya tenaga sedot Thi-khi-i-beng juga tidak berguna lagi dan terlepaslah kedua tangan yang melekat itu. Kakek itu cepat melempar tubuh ke belakang dan sebelum pemuda itu dapat menyerangnya, dia telah bergulingan ke arah tongkatnya dan meloncat lagi, dengan tongkat di tangan!

Mukanya berubah merah sehingga menjadi semakin hitam, dan sepasang matanya seperti mengeluarkan api. Peristiwa tadi, dalam segebrakan ketika dia dikejutkan oleh Thi-khi-i?beng, sungguh merupakan tamparan baginya. Biarpun dia belum dapat dikatakan kalah, namun segebrakan tadi menunjukkan bahwa fihak lawan lebih unggul! Tak mungkin dia dapat dikalahkan oleh seorang pemuda remaja seperti itu.

“Orang muda she Ceng, engkau memiliki banyak sekali ilmu tangan kosong yang hebat?hebat, bahkan Thi-khi-i-beng yang baru sekarang kusaksikan sendiri sempat mengejutkan hatiku. Nah, aku sudah terlanjur memegang tongkat, mari kita main-main dengan senjata!”

Thian Sin maklum bahwa kakek itu tentu akan mengeluarkan ilmu tongkatnya yang menurut Cian Ling merupakan ilmu simpanan kakek itu yang amat hebat di samping Ilmu Hoa-mo-kang tadi. Dia tadi sudah tahu akan Ilmu Hoa-mo-kang yang amat dahsyat, akan tetapi dengan Thi-khi-i-beng, dia akan dapat menghadapi Hoa-mo-kang sehingga dia tidak perlu lagi takut terhadap ilmu kakek itu. Kini, kakek itu akan mengeluarkan ilmu simpanannya, maka hal itu baik sekali baginya untuk menguji karena sebelum dia mengambil sikap keras untuk menentang See-thian-ong ini, dia harus lebih dulu dapat mengukur sampai di mana kelihaian lawan. Maka diapun meraih pedang berikut sarungnya yang tadi dia tancapkan di atas tanah dan di lain detik sudah nampak sinar perak berkilauan ketika dia mencabut Gin-hwa-kiam dari sarungnya.

“Aku akan melayani locianpwe dan mohon petunjuk,” katanya dengan sikap merendah.

Akan tetapi karena tadi dalam gebrakan terakhir dia merasa dirugikan, kini meLhat sikap merendah itu bagi See-thian-ong seperti ejekan saja, maka sambil mengeluarkan bentakan keras diapun mulai menyerang dengan tongkatnya. Tongkat itu terbuat dari kayu biasa saja, akan tetapi begitu digerakkan oleh tangan yang besar dari See-thian-ong, berubahlah tongkat itu menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar dan mengeluarkan bunyi aneh, juga gerakan-gerakannya amat aneh. Tahu-tahu ujung tongkat itu telah melakukan totokan bertubi-tubi sehingga ketika Thian Sin menangkis dan mengelaknya, ujung tongkat itu secara berantai telah melakukan tiga belas kali totokan sambung menyambung ke arah jalan-jalan darah maut di sebelah depan tubuh lawan!

Thian Sin terkejut bukan main. Tidak keliru keterangan Cian Ling. Memang ilmu silat kakek ini menjadi luar biasa hebatnya setelah dia memegang tongkat! Belum pernah dia melihat ilmu tongkat sehebat ini, dan ujung tongkat itu tergetar menjadi banyak sekali. Inilah yang membuat ilmu tongkat kakek itu amat berbahaya, karena ujungnya yang tergetar dan kelihatan menjadi banyak itu sukar diketahui mana yang aseli dan mana bayangan-bayangannya. Hal ini membuat tongkat itu amat berbahaya. Juga Thian Sin teringat akan ilmu Siang-bhok Kiam-sut (Ilmu Pedang Kayu Harum) yang pernah dipelajarinya dari ibu kandungnya. Siang-bhok Kiam-sut juga memiliki dasar yang membuat sebatang pedang kayu sama ampuhnya dengan sebatang pedang pusaka. Akan tetapi gerakannya jauh berbeda dengan ilmu tongkat kakek ini sehingga dia tetap belum dapat menyelami dan dalam gebrakan pertama itu, dia terdesak hebat. Thian Sin berlaku hati-hati sekali, memutar pedang Gin-hwa-kiam dengan Ilmu Thai-kek Sin-kun yang mengandung daya tahan amat kuat untuk melindungi dirinya dari ancaman bayangan ujung tongkat yang amat cepat itu.

Melihat betapa ilmu tongkatnya yang amat dibanggakan itu kembali dapat mendesak lawan, kegembiraan See-thian-ong bangkit lagi. Dia mulai tertawa-tawa dengan girang dan sengaja menggunakan tongkatnya untuk mempermainkan lawan. Memang hebat sekali ilmu tongkatnya itu. Tongkat itu di tangannya itu seolah-olah hidup dan menyambar-nyambar dari segala jurusan. Memang, dengan mengandalkan daya tahan Thai-kek Sin-kun, Thian Sin masih dapat melindungi dirinya seperti terkurung benteng baja. Akan tetapi tidak mungkin dalam suatu pertandingan dia hanya membela diri saja tanpa membalas serangan. Namun, setiap kali dia membalas, bahkan telah dicobanya Ilmu Pedang Siang-bhok Kiam-sut, tetap saja setiap kali dia menyerang dia malah hampir saja celaka kena disambar tongkat sehingga kembali dia harus cepat-cepat berlindung dalam gerakan Thai-kek Sin-kun untuk menyelamatkan dirinya. Memang benar dia telah mempelajari Siang-bhok Kiam-sut, tetapi ketika dia mempelajarinya, dia masih kecil dan dasar kepandaiannya belum matang sehingga ilmu itupun kurang terlatih, atau kurang dapat dikuasai inti sarinya.

Sesungguhnya, ilmu silat apapun juga mengandung daya guna sendiri-sendiri dan hanya kematangan dalam menguasai suatu ilmu itulah yang membuat ilmu itu menjadi berguna dan kuat. Andaikata Thian Sin sudah benar-benar menguasai Siang-bhok Kiam-sut dengan sempurna, belum tentu dia akan merasa terdesak oleh Ilmu Tongkat Giam-lo Pang-hoat yang dimainkan oleh See-thian-ong itu. Ilmu silat hanya merupakan dasar gerakan saja yang mengandung unsur-unsur menyerang atau membela diri. Ketangguhan seseorang bukan tergantung sepenuhnya dari macam ilmu silatnya, melainkan tergantung kepada dirinya sendiri, kepada kematangannya menguasai ilmu yang dimilikinya itu. Tidak dapat dikatakan mana yang lebih kuat antara Siang-bhok Kiam-sut dan Giam-lo Pang-hoat, akan tetapi kalau yang dimainkan Siang-bhok Kiam-sut itu Thian Sin yang masih mentah dalam ilmu itu, dan yang mainkan Giam-lo Pang-hoat adalah See-thian-ong pencipta ilmu itu, tentu saja Thian Sin kalah jauh! Buktinya, dahulu tokoh Cin-ling-pai yang merupakan pendiri Cin-ling-pai dan orang pertama yang menguasai Siang-bhok Kiam-sut, dengan pedang kayu harumnya dan ilmu pedangnya itu belum pernah bertemu tanding!

Kepandaian manusia memang ada batasnya, atau lebih tepat lagi, kemampuan manusia untuk menguasai suatu kepandaian akan ilmu pengetahuan adalah terbatas sekali. Kalau seseorang menghendaki agar dia menjadi ahli dalam suatu ilmu, dia harus mencurahkan seluruh perhatian dan kekuatan pikirannya untuk mempelajari dan memperdalam ilmu itu. Dan hal ini baru mungkin terjadi kalau memang pada dasarnya ada minat dan rasa cinta terhadap ilmu tertentu itu. Jadi, syarat bagi seorang ahli membutuhkan tiga dasar, yaitu bakat, minat dan cermat. Bakat dalam arti kata kecenderungan kemampuan alamiah terhadap ilmu tertentu itu, dan bakat ini seolah-olah terbawa lahir oleh seseorang sehingga sebelum dia itu tahu apa-apa tentang suatu ilmu, dia telah memiliki kemampuan yang lebih besar dibandingkan dengan orang lain apablia dihadapkan pada ilmu itu. Minat adalah rasa cinta atau rasa suka akan ilmu yang dipelajarinya itu karena tanpa adanya minat atau rasa tertarik atau rasa suka ini, tentu saja dia tidak akan bersemangat mempelajarinya. Kemudian yang terakhir adalah cermat, atau ketekunan dalam mempelajarinya. Bakat memudahkan seseorang untuk mempelajari suatu ilmu, minat mendatangkan gairah belajar, dan cermat menuntun kepada ketertiban belajar. Ketiganya ini digabungkan menjadi satu, maka akan berhasillah seseorang menjadi ahli. Satu saja di antara ketiganya ini tidak ada, akan sukarlah untuk menjadi ahli dalam arti kata yang sedalam-dalamnya.

Thian Sin adalah seorang pemuda yang memiliki bakat besar sekali dalam ilmu silat. Ketika masih kecil sekali, hal ini dapat nampak. Begitu belajar, secara naluriah gerakannya sudah cekatan dan patut. Dan dia memang mempunyai minat yang besar sekali terhadap ilmu silat. Akan tetapi, pengalamannya membuat dia dalam usia muda sudah dijejali oleh banyak sekali ilmu silat tinggi sehingga dia tidak sempat untuk mematangkan satupun di antara ilmu-ilmu itu. Oleh karena ketidakmatangan inilah, maka begitu dia berhadapan dengan lawan yang sudah matang ilmunya seperti See-thian-ong ini, dia menjadi kewalahan dan terdesak terus.

Cian Ling yang sejak tadi mengikuti jalanannya pertandingan, memandang gelisah setelah melihat pemuda itu terdesak hebat oleh tongkat gurunya. Tadi ketika dua orang itu bertanding dengan tangan kosong, berkali-kali Cian Lin menahan seruan kagum melihat betapa pemuda itu bukan saja dapat menandingi gurunya, bahkan mampu mendesak dan bahkan pada gebrakan terakhir gurunya itu nyaris kalah! Akan tetapi, setelah kini gurunya menggunakan tongkatnya, ia melihat betapa Thian Sin terdesak hebat dan sinar pedang perak itu semakin lama menjadi semakin kecil dan suram, didesak dan dihimpit oleh sinar tongkat di tangan suhunya yang terus terkekeh-kekeh dengan senang. Ia sudah mengenal gurunya, mengenal kekejaman hati gurunya yang tidak mengenal ampun itu. Tentu saja ia merasa amat khawatir akan keselamatan Thian Sin. Ia belum ingin kehilangan pemuda yang amat menyenangkan hatinya itu. Melihat betapa gurunya tertawa-tawa dan mendesak terus, bahkan beberapa kali ia melihat ujung tongkat gurunya itu menghajar pangkal lengan kiri dan paha kanan kekasihnya, Cian Ling tidak mampu lagi menahan hatinya.

“Suhu, jangan celakai dia…!”

“Ha-ha-ha, dia belum kalah, heh-heh, bukankah begitu, orang muda?” Kakek itu mengejek. Akan tetapi dia sungguh kecelik kalau mengira bahwa Thian Sin mengaku kalah. Pemuda ini memang sudah terkena pukulan beberapa kali, akan tetapi dengan pengerahan Thian-te Sin-ciang, tubuhnya kebal dan hanya terasa kulit dagingnya saja memar, akan tetapi tidak sampai menderita luka parah dan dia masih terus dapat melakukan perlawanan tanpa pernah mengendur sedikitpun juga. Mendengar pertanyaan yang mengandung ejekan itu, dia menahan kemarahannya.

“AKU memang belum kalah, locianpwe!” katanya.

“Ha-ha-ha, agaknya kalau belum mampus engkau tidak akan merasa kalah!” Kakek itu memutar tongkatnya lebih keras dan Thian Sin terkejut sekali karena tanpa dapat dihindarkannya lagi, dadanya kena ditotok atau didorong oleh tongkat itu yang bergerak secara aneh sekali.

“Dukk…!” Dia tidak terluka parah karena tenaga Thian-te Sin-ciang melindunginya, akan tetapi guncangan oleh totokan yang amat keras itu membuat napasnya seperti terhenti dan dia terpelanting.

“Thian Sin…!” Cian Ling berteriak, akan tetapi pemuda itu sudah bangkit kembali. Thian Sin maklum bahwa kalau dia hanya menggunakan ilmu-ilmunya yang biasa, dia takkan mampu menang. Teringatlah dia akan ilmu peninggalan ayah kandungnya. Tidak percuma selama ini, terutama ketika berada di rumah Pak-san-kui, dia mempelajari ilmu ayahnya itu dengan tekun, terutama sekali gerakan dari Ilmu Hok-te Sin-kun. Kini, melihat kakek itu sambil tertawa-tawa menubruknya lagi sambil memutar tongkat, tiba-tiba Thian Sin mengeluarkan pekik melengking, dan tahu-tahu tubuhnya sudah berjungkir balik! Kedua kakinya dengan gerakan aneh menendang-nendang menyambut tongkat, sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah pusar, tangan kanan yang memegang pedang menggerakkan pedang membabat kaki lawan. Dia hanya menggunakan kepala saja untuk menunjang tubuhnya yang sudah berjungkir balik.

“Eh…?” Kakek itu terkejut sekali ketika tiba-tiba tongkatnya bertemu dua buah “tongkat” lain berupa kaki pemuda itu dan merasa ada sambaran angin dahsyat menyerang dari bawah. Dia cepat meloncat, akan tetapi tidak sempat mengelak dari hantaman tangan kiri Thian Sin. Pemuda itu tadi mencengkeram, akan tetapi melihat lawan meloncat, lalu mengubah cengkeramannya menjadi pukulan dengan tenaga Hok-liong Sin-ciang yang dahsyat.

“Dessssss!” Perut kakek itu terkena pukulan. Memang kakek itu cepat mengerahkan sin-kang melindungi perut, namun tenaga Hok-liong Sin-ciang itu adalah tenaga mujijat maka tubuhnya terlempar dan terbanting roboh dengan keras sekali!

“Heiii…!” Saking kagetnya kakek itu berseru heran, akan tetapi ketika dia bangkit berdiri, mukanya menjadi merah saking marah dan malunya. Dia telah terpukul roboh! Dan diapun pernah mendengar akan ilmu-ilmu aneh dari Pangeran Ceng Han Houw, maka dia menduga bahwa ilmu jungkir balik tadi tentulah ilmu ayah pemuda itu.

“Itulah jurus peninggalan ayah kandungku, locianpwe!” Thlan Sin berkata dalam keadaan tubuhnya masih berjungkir balik, merasa girang bahwa jurus ilmu-ilmu silat peninggalan ayahnya demikian ampuhnya sehingga dapat membuat kakek tangguh itu roboh.

“Aku belum kalah!” teriak See-thian-ong dan diapun sudah menerjang lagi, lalu disambungnya dengan kata-kata yang penuh getaran aneh, “Berjungkir balik seperti itu tentu membuat kepalamu pening!”

Tongkat itu sudah digerakkan lagi dan kini kakek itu menyerang dengan hati-hati. Thian Sin menyambut dengan kedua kakinya dan mulailah dia melakukan ilmu silat aneh dari ayah kandungnya. Akan tetapi, tiba-tiba saja kepalanya terasa pening bukan main. Benarlah kata-kata kakek itu tadi, berjungkir balik seperti itu membuat kepalanya terasa pening! Akan tetapi, dia segera teringat bahwa tidak biasa dia merasa pening kalau memainkan Ilmu Hok-te Sin-ciang, dan tahulah dia bahwa kepeningan itu datang dari pengaruh ucapan kakek itu. Sebagai anak angkat dan murid seorang sakti seperti Pendekar Lembah Naga, tentu saja Thian Sin sudah pernah digembleng oleh ayah angkatnya itu tentang bagaimana harus menghadapi kekuatan yang tidak wajar cepat dia mengerahkan khi-kangnya dan mengeluarkan suara melengking dan segera kepeningan kepalanya itu menjadi lenyap dan dia dapat menyambut serangan lawan dengan baiknya, bahkan dia dapat membalas dengan serangan dari atas menggunakan dua kakinya, dibantu oleh kedua tangannya dari bawah. Kembali kakek itu terkejut. Dia dapat merasakan getaran tenaga khi-kang dalam lengkingan suara pemuda itu yang membuyarkan pengaruh sihirnya terhadap pemuda itu, dan kini dia kembali kewalahan menghadapi ilmu jungkir balik yang aneh itu.

Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan suara aneh seperti orang membaca doa atau mantera, dan dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Thian Sin ketika melihat betapa tubuh lawannya itu perlahan-lahan lenyap! Mula-mula nampak suram-suram dan makin lama bayangan kakek itu menjadi semakin tipis. Sukar baginya untuk melawan bayangan yang hampir tidak nampak ini dan terpaksa dia meloncat dan berdiri di atas kedua kakinya lagi sambil memutar pedangnya. Akan tetapi, kini bayangan lawan itu sudah tidak nampak lagi walaupun gerakannya masih terasa dan tertangkap oleh pendengarannya. Thian Sin kaget dan berusaha mengerahkan khi-kang sambil membentak. Namun sia-sia belaka, kakek itu benar-benar telah menghilang dan masih terus menghujani dengan serangan. Thian Sin berusaha mengandalkan pendengaran telinganya untuk mengelak dan menangkis, akan tetapi tidak mungkin dia dapat melawan orang yang pandai menghilang ini, yang memiliki ilmu tongkat demikian aneh dan lihainya. Setelah berhasil mengelak dan menangkis beberapa kali akhirnya lehernya tertotok keras sekali. Biarpun dia sudah mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang, tetap saja dia terpelanting keras dan merasa nanar. Dia cepat mengerahkan tenaga Thi-khi-i-beng untuk menjaga diri dan membalas pukulan lawan, akan tetapi tiba-tiba pundaknya tertotok dan ternyata yang menotoknya itu adalah tongkat yang diluncurkan dan karena tongkat itu tidak dipegang orang, maka tentu saja Thi-khi-i-beng tidak dapat menyerap apa-apa dan jalan darah thian-hu-hiat tertotok dengan tepat dan keras, mengakibatkan tubuh pemuda itu menjadi lemas dan lumpuh sama sekali!

“Ha-ha-ha-ha, akhirnya engkau terpaksa harus mengakui keunggulanku, orang muda!” Kakek itu tertawa dan kini kakek itupun dapat nampak kembali oleh Thian Sin. Pemuda ini memandang dengan sinar mata penuh penasaran.

“Locianpwe telah menggunakan ilmu siluman!” katanya memprotes.

“Ha-ha-ha, dan sekarang aku akan membuatmu menjadi siluman tanpa kepala!” kata kakek itu yang segera memungut pedang Gin-hwa-kiam yang terlepas dari tangan pemuda itu, agaknya bermaksud untuk memenggal kepala Thian Sin. Kakek ini melihat pemuda itu merupakan seorang lawan yang amat berbahaya dan kelak dapat mengancam kedudukannya, maka dia mengiambil keputusan untuk membunuhnya saja.

“Suhu, tahan…!” Cian Ling sudah menjerit dan gadis ini sudah menubruk tubuh Thian Sin, melindunginya dari ancaman gurunya. “Suhu tidak boleh membunuhnya!”

“Heh-heh, siapa yang melarangku dan mengapa tidak boleh?”

“Suhu, dia datang untuk mengadu ilmu dengan suhu sebagai orang muda minta petunjuk, bukan sebagai musuh. Adu pibu batasnya hanya kalah atau menang, dia sudah kalah mengapa harus dibunuh? Dan ke dua, suhu tidak bisa membunuhnya karena aku cinta padanya!”

“Ho-ho-ha-ha-ha! Cintamu hanya sedalam kulit, dan apa susahnya mencari pemuda yang lebih ganteng daripada dia? Dan aku membunuhnya bukan karena bermusuhan, melainkan mengingat bahwa dia telah memberontak, pernah membikin kacau di Su-couw dan di Lok-yang. Kalau aku membunuhnya, bukankah itu berarti kita akan memperoleh jasa telah membunuh seorang pemberontak?”

“Hemm, See-thian-ong, harap locianpwe tidak bicara tentang pemberontakan! Siapakah yang memberontak! Antara locianpwe dan aku ada persamaan bukan? Memang aku telah menyiksa si busuk Phoa-taijin itu, orang macam dia mana ada harganya dijadikan sekutu? Akhirnya hanya akan mencelakakan sekutu-sekutu saja. Locianpwe, kalau locianpwe, Pak-san-kui Locianpwe dan juga Lam-sin, bersama-sama dengan aku membantu kekuatan dari utara, bukankah kita merupakan persekutuan yang lebih kuat lagi? Mendiang kakekku, Raja Sabutai di utara juga memiliki pasukan yang kuat dan aku dapat mengumpulkan mereka kalau waktunya tiba. Akan tetapi, jangan mengira bahwa kata-kataku ini hanya untuk melindungi nyawaku. Kalau locianpwe mau membunuhku silakan, aku bukan orang yang takut mati.”

Sejenak kakek hitam tinggi besar itu tertegun. Kakek ini paling suka akan kegagahan dan kejujuran dan memang dia sudah kagum sekali terhadap kegagahan pemuda ini. Akan tetapi dia juga khawatir akan kegagahan yang kelak akan mengancam kedudukannya itu. Tiba-tiba dia mendapatkan pikiran yang baik sekali. Kekalahannya melawan pemuda itu terutama sekali karena pemuda itu memiliki ilmu jungkir balik tadi, ilmu yang pernah didengarnya menjadi ilmu simpanannya mendiang Pangeran Ceng Han Houw.

“Ceng Thian Sin, di dunia kang-ouw dikenal dengan istilah balas membalas budi dan dendam-mendendam. Nyawamu berada di tanganku, dan kalau sekali ini aku mengembalikan nyawamu, lalu apa yang dapat kauberikan kepadaku sebagai balasannya?”

Thian Sin adalah seorang pemuda cerdik dan diapun tahu bahwa kelemahan satu-satunya bagi para datuk ilmu silat seperti Pak-san-kui dan juga See-thian-ong ini, kalau bukan kedudukan tinggi tentu juga ilmu silat. Akan tetapi dia pura-pura tidak tahu dan bertanya, “Locianpwe, apakah yang dapat kuberikan kepada locianpwe? Harta milikku hanya pedang itu, dan beberapa macam ilmu silat yang telah dikalahkan olehmu.”

“Ha-ha-ha, memang ilmu apapun yang kaukeluarkan, tidak mungkin engkau dapat menandingi See-thian-ong! Akan tetapi, di antara semua ilmu itu, aku tertarik sekali melihat ilmumu jungkir balik tadi. Nah, bagaimana kalau engkau memberi tahu padaku tentang ilmu jungkir balik itu sebagai pengganti nyawamu?”

Thian Sin menarik napas panjang. “Ilmu itu adalah peninggalan dari mendiang ayahku, Ceng Han Houw dan merupakan ilmu pusaka. Akan tetapi karena locianpwe dapat dikatakan orang sendiri, biarlah kuberikan kalau locianpwe hendak mempelajarinya. Bebaskan aku, dan kitab ilmu itu akan kupinjamkan kepada locianpwe.”

Girang sekali hati kakek itu. Dia bersikap memandang rendah ilmu itu padahal sebenarnya dia ingin sekali mempelajarinya. Dengan cepat tongkatnya bergerak dan bagaikan seekor ular mematuk, ujung tongkat itu dua kali mengenai leher dan pundak Thian Sin, dan pemuda itu seketika dapat bergerak kembali.

“Thian Sin, engkau sembuh kembali!” Cian Ling berkata dengan girang sambil memegang lengan pemuda itu.

“Dan engkaupun ikut bertanggung jawah, Cian Ling. Maka engkaupun berjasa dan engkau boleh minta upah sepuasnya dari pemuda ini, ha-ha-ha! Nah, keluarkanlah kitab itu, Thian Sin.”

Thian Sin segera mengeluarkan kitab peninggalan ayahnya itu, kitab pelajaran Ilmu Silat Hok-te Sin-kun dan menyerahkannya kepada See-thian-ong sambil berkata, “Locianpwe, kitab ini adalah tulisan ayah sendiri dan merupakan kitab pusaka bagiku maka aku hanya dapat meminjamkannya kepadamu selama tiga bulan saja. Setelah lewat tiga bulan, harap locianpwe mengembalikannya kepadaku.”

“Ha-ha, tentu saja. Tidak ada ilmu yang membutuhkan waktu demikian lamanya untuk kupelajari!” katanya sambil membuka-buka kitab itu. Thian Sin memungut pedangnya dari atas tanah dan menyarungkannya kembali, lalu mengebut-ngebutkan pakaiannya yang kotor, dibantu oleh Cian Ling.

“Apakah selama suhu mempelajari kitabnya itu dia boleh tinggal bersamaku?” Cian Ling bertanya.

Gurunya tertawa. “Tentu saja! Dia menjadi tamu kita dan engkau boleh melayaninya sepuasmu, ha-ha-ha!” Setelah berkata demikian, sekali melompat kakek itu lenyap di balik pohon-pohon.

“Untung engkau selamat, Thian Sin,” Cian Ling berkata sambil merangkulnya.

Thian Sin balas merangkul dan menarik napas panjang. “Karena bantuanmu, Cian Ling. Engkau telah menolong dan aku berhutang budi padamu, entah bagaimana dapat membalasmu.”

“Ihh, masa kau tidak tahu bagaimana harus membalasnya? Asal engkau selalu bersikap manis, dan mencintaku, biar harus berkorban nyawa untukmupun aku rela, kekasihku.”

Demikianlah, melalui Cian Ling akhirnya Thian Sin berhasil berhadapan dengan See-thian-ong bahkan telah berhasil menguji kepandaian datuk itu. Diapun tahu bahwa kalau datuk itu tidak mempergunakan sihir, dia akan mampu melawan dan menandinginya, bahkan mengalahkannya. Hanya ilmu sihir datuk itulah yang amat berbahaya dan tidak dapat dilawannya, maka, jalan satu-satunya untuk dapat mengalahkan datuk barat ini hanyalah menghadapi dan mengalahkan sihirnya. Semenjak hari itu, Thian Sin diajak pulang ke Si-ning oleh Cian Ling. Gadis ini tinggal di Si-ning, di mana terdapat sebuah rumah besar milik See-thian-ong, di mana kakek itu tinggal bersama selir-selirnya. Dan di sisi rumah besar itu terdapat pavilyun-pavilyun kecil di mana tinggal So Cian Ling di bangunan kecil sebelah kanan sedangkan Ciang Gu Sik tinggal di bangunan sebelah kiri. Masih ada lagi beberapa orang murid See-thian-ong yang tinggal di bangunan sebelah belakang dan mereka itu menjadi murid merangkap pelayan-pelayan yang mengurus rumah gedung guru mereka.

Ciang Gu Sik, murid kepala yang telah lama jatuh cinta kepada Cian Ling, tentu saja merasa mendongkol, cemburu dan panas hatinya melihat betapa pemuda putera pangeran itu menjadi tamu dan tinggal bersama dengan sumoinya itu. Akan tetapi dia tidak dapat berbuat sesuatu karena hal itu telah disetujui oleh gurunya.

So Clan Ling semakin tergila-gila kepada Thian Sin. Selama petualangannya dengan kaum pria, yaitu semenjak dara itu dipaksa menyerahkan dirinya kepada gurunya, dan kemudian, dengan watak yang terbentuk oleh pendidikan gurunya ia menjadi tidak peduli akan urusan susila dan mendekati pria mana saja yang dikehendakinya, baru sekali ini ia benar-benar jatuh cinta! Bukan cinta nafsu berahi belaka, melainkan sungguh-sungguh jatuh cinta kepada Thian Sin dan timbul keinginan hatinya untuk selamanya tidak akan berpisah lagi dari pemuda itu. Karena inilah, maka semua permintaan Thian Sin dilaksanakannya dengan hati penuh kerelaan dan kesetiaan. Juga, ketika Thian Sin bertanya bagaimana dia dapat menghadapi ilmu sihir dari See-thian-ong dapat “menghliang” itu, Cian Ling lalu berusaha sedapatnya untuk memecahkan rahasia gurunya. Dia sendiri memang sudah pernah mempelajari ilmu sihir dari gurunya. Akan tetapi sihirnya itu hanya terbatas pada mempengaruhi pikiran orang saja. Dengan ilmu sihirnya ini, Cian Ling dapat menundukkan laki-laki yang berani menolaknya, dan membuat laki-laki itu bertekuk lutut dan jatuh cinta padanya. Akan tetapi ilmu sihir mempengaruhi pikiran orang lain ini akan terbentur batu kalau berhadapan dengan orang yang kuat batinnya. Buktinya, semua ilmu sihir dari See-thian-ong yang sifatnya mempengaruhi pikiran orang lain dan membalikkan pandangan atau pendengaran orang lain melalui pikiran, dapat dibuyarkan oleh Thian Sin melalui pengerahan khi-kangnya. Akan tetapi, ilmu sihir membuat dirinya lenyap dari pandangan mata lawan itu berbeda lagi dan Cian Ling sendiri belum pernah mempelajarinya. Menurut suhunya, ilmu itu tidak mudah dimiliki orang, melainkan dapat dimiliki melalui pertapaan bertahun-tahun dan melalui pantangan-pantangan yang amat berat. Ilmu itu termasuk ilmu hitam, yang berdekatan dengan kekuatan-kekuatan gaib alam halus atau dengan lain kata-kata ilmu bantuan roh atau setan.

Ketika Thian Sin minta kepadanya agar gadis itu suka memberi tahu kepadanya tentang rahasia ilmu menghilang dari See-thian-ong itu, Cian Ling mula-mula menjadi bingung sekali. “Kekasihku, sungguh mati aku sendiri tidak pernah mempelajari ilmu itu. Ilmu itu terlalu jahat dan terlalu sulit dan cara memperoleh ilmu itu amat mengerikan, di antaranya bahkan harus tidur satu peti dengan mayat. Mana aku berani mempelajarinya? Dan aku tidak tahu bagaimana caranya melawan ilmu itu.”

Thian Sin kecewa sekali dan dengan sikap marah dia menjawab, “Cian Ling, kalau benar engkau cinta padaku, engkau harus dapat memecahkan rahasia ilmu itu. Aku penasaran dikalahkan suhumu hanya karena ilmu itu, maka aku harus dapat menghadapi dan menandinginya. Kalau engkau tidak dapat memecahkan rahasia ilmu itu kepadaku, apa artinya aku dekat denganmu?”

Karena takut kehilangan cinta pemuda itu, Cian Ling minta waktu tiga hari dan pergilah gadis ini menemui gurunya. Dengan segala kepandaiannya merayu, Cian Ling mendekati gurunya. Mula-mula See-thian-ong mentertawakannya.

“Heh-heh-heh, apa artinya ini, muridku yang manis? Bukankah engkau mempunyai putera pangeran itu untuk bersenang-senang? Kenapa tiba-tiba engkau mendekati aku Si Tua Bangka?”

Cian Ling merangkul leher kakek itu. “Aih, jangan berkata begitu, suhu. Bukankah sebelum aku berdekatan dengan pria manapun juga, suhu yang merupakan pria pertama dalam hidupku? Suhu merupakan suhuku, orang tuaku, juga cinta pertamaku. Terlalu lama dengan pemuda itu membuat aku bosan, dan aku sudah rindu sekali kepadamu, suhu.” Dengan amat pandainya, gadis yang muda ini akhirnya membuat datuk itu menyerah ke dalam gelora nafsu yang membuatnya menjadi buta, tidak dapat membedakan lagi mana yang sungguh-sungguh dan mana yang palsu. Dan dengan amat cerdiknya, setelah merayu gurunya selama dua hari, membuat gurunya mabuk karena di dalam hati kecilnya memang datuk ini amat sayang kepada Cian Ling, gadis ini membawa urusan ilmu menghilang itu dalam percakapan.

“Aku melihat ilmu menghliang dari suhu itu amat berguna dan hebat. Ah, kalau saia aku dapat memiliki ilmu itu… betapa senangnya,” kata Cian Ling ketika mereka rebah berdampingan di atas pembaringan dan Cian Ling membelai rambut suhunya yang panjang dan sudah bercampur uban itu.

“Heh-heh, bukankah sudah kukatakan bahwa mempelajarinya amat sukar dan juga memakan waktu lama? Untuk apa ilmu itu bagimu? Ilmu yang kuajarkan padamu sudah cukup.”

“Tapi, melihat betapa suhu baru dapat menundukkan putera pangeran itu setelah menghilang, terasa olehku betapa pentingnya menguasai ilmu itu.”

“Ha-ha-ha-ha, siapa bilang bahwa hanya dengan ilmu itu saja aku dapat mengalahkannya? Hanya karena dia memiliki peninggalan ilmu dari ayahnya, ilmu jungkir balik bernama Hok-te Sin-kun itu sajalah yang membuat dia lihai. Akan tetapi Ilmu Hok-te Sin-kun telah mulai dapat kukuasai, tanpa ilmu menghilang sekalipun dia akan mudah dapat kutundukkan!”

“Tapi… tapi aku ingin sekali mempunyai ilmu menghilang itu, suhu!”

“Untuk apa?”

“Bayangkan saja betapa senangnya. Dengan ilmu itu aku akan dapat memasuki rumah orang tanpa diketahui, dan memasuki kamar-kamar para pengantin baru dan menyaksikan pemandangan yang amat bagus tanpa diketahui orang.” Ucapan gadis ini bagi orang biasa tentu akan dianggap cabul dan menunjukkan betapa hati gadis itu penuh dengan kecabulan. Akan tetapi tidak demikianiah anggapan orang-orang di golongan sesat itu. Kakek itu tertawa bergelak, senang sekali.

“Ha-ha-ha, sungguh jalan pikiranmu sama benar dengan jalan pikiranku. Dahulu, ketika aku haru saja berhasil memiliki ilmu itu, akupun suka memasuki kamar pengantin baru dan menikmati pemandangan dari apa yang mereka lakukan, dan kalau aku tertarik, aku lalu menggunakan si pengantin pria setelah membuat dia tidak berdaya. Ha-ha-ha, engkau memang cocok dan berjodoh menjadi muridku. Tapi, mempelajari ilmu itu sungguh tidak mudah. Mana mungkin engkau dapat bertahan untuk bertapa selama tiga tahun, menjauhi segala kesenangan, menjauhi pria?”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: