Pendekar Sadis (Jilid ke-42)

“Kalau begitu, kami hendak pergi sekarang!” kata Cia Sin Liong yang memberi isyarat kepada isterinya, puteranya dan juga Lian Hong untuk pergi dari tempat itu. Lian Hong memandang kepada nenek itu dan hatinya merasa kasihan juga. Betapapun juga, nenek itu pernah menyelamatkannya dari malapetaka yang lebih hebat daripada maut, dan melihat betapa nenek itu sekarang terpaksa mengalah dan agaknya tidak berani, ia merasa kasihan.

“Locianpwe, terima kasih atas segala kebaikan locianpwe dan maafkan saya,” katanya, kini tidak lagi menyebut subo.

Nenek itu menarik napas panjang. “Lian Hong, nasibmu baik sekali. Engkau akan hidup beruntung bersama mereka. Pergilah,” katanya dan suaranya bernada sedih.

Cia Sin Liong mengajak keluarganya pergi dan barulah di tengah perjalanan, keluarganya mendengar penuturan Lian Hong tentang pertolongan yang diberikan oleh nenek itu yang membunuh anggauta Bu-tek Kai-pang sendiri. Mendengar ini, Cia Sin Liong menghela napas panjang.

“Nenek itu aneh sekali. Kepandaiannya cukup hebat dan tidak berselisih banyak dengan kemampuanku, dan gerak-geriknya seperti bukan penjahat, akan tetapi mengapa ia menjadi datuk kaum sesat?”

Pendekar ini dan sekeluarganya tidak tahu betapa sepeninggalnya mereka, nenek itu lalu memberi peringatan kepada para pengikutnya agar mulai saat itu, para pengikutnya tidak melibatkan diri dalam permusuhan dengan orang-orang kang-ouw yang baru. “Kini banyak orang pandai berkeliaran, kalau bertemu dengan muka baru, jangan kalian sembarangan turun tangan melainkan beritahu kepadaku. Terutama sekali kalau bertemu dengan orang yang bemama Ceng Thian Sin, putera Pangeran Ceng Han Houw itu!” Kemudian, nenek itu pulang ke rumahnya dan di dalam kamarnya, nenek ini duduk termenung dan menangis! Teringat akan sikap keluarga Cia yang amat angkuh dan memandang rendah kepadanya, ia merasa penasaran dan juga berduka.

Sementara itu, Cia Sin Liong hendak mengajak isteri, putera dan calon mantunya pulang ke Lembah Naga. Akan tetapi, di tengah jalan, Han Tiong tidak mau melanjutkan perjalanan. Dari percakapan di sepanjang perjalanan itu dia tahu akan niat hati orang tuanya, yaitu dia akan segera dinikahkan dengan Lian Hong. Tentu saja hal ini adalah sesuatu yang amat diharapkan, akan tetapi pada saat itu dia belum ingin menikah lebih dulu sebelum dia berhasil menemukan Thian Sin. Dia merasa amat tidak enak untuk menikah dengan gadis yang dia tahu juga dicinta oleh Thian Sin itu, tanpa kehadiran adiknya yang amat disayangnya itu. Dia akan enak-enak menikah dan berbahagia, akan tetapi bagaimana nasib Thian Sin dia masih belum tahu.

“Ayah dan ibu harap pulang dulu dan biar Hong-moi ikut bersama ayah dan ibu. Aku sendiri belum akan pulang kalau belum bertemu dengan Sin-te. Aku harus mencarinya sampai dapat. Aku mengkhawatirkan dia, ayah!”

“Dia bukan anak kecil dan dia sudah memiliki bekal kepandaian yang cukup, perlu apa mengkhawatirkan dia?”

“Ayahmu benar, Tiong-ji. Engkau harus pulang, kalau tidak, tentu Lian Hong akan semakin khawatir dan berduka. Kita sudah berkumpul sekeluarga sekarang, dan kita harus dapat menghibur hati Lian Hong. Mari ikut pulang dan kita segera melangsungkan pernikahan kalian.”

“Maaf, ayah dan ibu. Bagaimana mungkin aku bersenang hati kalau Sin-te masih belum kuketahui bagaimam nasibnya. Berilah waktu kepadaku, aku akan mencarinya sampai dapat, baru aku akan pulang bersamanya dan baru kita bicara tentang pernikahan. Aku mohon kepada ayah dan ibu untuk mengijinkan aku pergi.”

Suami isteri itu saling pandang. Mereka tahu akan isi hati putera mereka. Mereka tahu betapa besar kasih sayang putera mereka ini terhadap adik angkatnya. Dan diam-diam merekapun bangga akan cinta dan setia hati putera mereka ini. Akhirnya Bhe Bi Cu bertanya kepada Lian Hong dengan suara halus, “Ah, Han Tiong memang keras hati. Bagaimana pendapatmu, Lian Hong?”

Gadis itu sejak tadi menundukkan mukanya saja. Ia teringat akan Thian Sin dan terbayanglah semua peristiwa dalam taman di waktu pemuda itu menyatakan cinta kasih kepadanya. Dan betapapun juga, ia merasa girang mendengar sikap tunangannya yang amat menyayang adiknya itu, yang tidak hanya memikirkan kesenangan dirinya sendiri. Oleh karena itu, dengan suara tegas iapun menjawab, “Saya kira pendapat Tiong-koko amatlah bijaksana dan saya… dalam keadaan berkabung ini… saya… belum dapat berpikir tentang pernikahan…”

Suami isteri itu menarik napas panjang dan merasa kasihan kepada gadis yang dalam waktu seketika saja telah kehilangan segala-galanya, orang tuanya, rumah dan harta miliknya.

“Baiklah, Han Tiong. Engkau boleh pergi mencari adikmu. Kami bertiga akan menanti kembailmu ke Lembah Naga, mudah-mudahan bersama dengan adikmu.”

Maka berpisahlah Han Tiong dari orang tua dan tunangannya. Dia pergi mencari adiknya, sedangkan mereka bertiga kembali ke Lembah Naga.

***

Kita kembali mengikuti perjalanan Ceng Thian Sin. Hati pemuda ini merasa besar setelah dia berhasil mengalahkan Pak-san-kui dan kemudian See-thian-ong, walaupun kemenangannya itu hanyalah kemenangan yang tipis saja dan yang diakhirinya dengan melarikan diri ketika hendak dikeroyok. Belum tiba waktunya bagi dia untuk benar-benar mengalahkan dan membasmi penjahat-penjahat itu, datuk-datuk kaum sesat itu. Akan tiba saatnya dia membasmi seluruh penjahat dari permukaan bumi ini. Yaitu kalau ilmunya sudah sempurna sehingga dia menjadi jagoan tanpa tanding atau jagoan nomor satu di dunia ini, seperti yang dicita-citakan ayahnya dahulu.

Dengan tekad yang bulat untuk menyempurnakan ilmu kepandaiannya, pergilah Thian Sin ke Pegunungan Himalaya. Dia pernah mendengar dari mendiang ayahnya dahulu bahwa mendiang ayahnya mempelajari ilmu-ilmu yang ditulisnya dalam kitab-kitab itu dari seorang manusia dewa yang kabarnya bertempat tinggal di Himalaya, akan tetapi yang belum pernah ada orang yang menjumpainya. Ayahnya sendiri belum pernah bertemu langsung dengan maha guru yang disebut Bu Beng Hud-couw itu, melainkan bertemu dengan badan halusnya atau bayangannya saja. Dia harus dapat bertemu dengan Bu Beng Hud-couw, atau setidaknya menghubungi badan halusnya. Dan untuk itu, dia harus pergi ke Himalaya, untuk menyempurnakan ilmu-ilmu peninggalan ayahnya dan menemui pertapa-pertapa sakti yang dapat memberi petunjuk selanjutnya kepadanya.

Setelah melakukan perjalanan merantau di daerah Pegunungan Himalaya dan menghadapi bahaya-bahaya maut, bukan hanya bertemu dengan binatang-binatang buas, akan tetapi juga terancam kelaparan dan kedinginan yang amat hebat, akhirnya pada suatu hari Thian Sin diserang angin badai yang amat hebat sehingga dia amat tergesa-gesa mencari tempat perlindungan dan dari bawah, dilihatnya sebuah mulut guha di atas puncak. Dengan susah payah, melawan angin yang seolah-olah hendak menerbangkannya ke jurang, angin besar yang membuat pohon-pohon raksasa tumbang, Thian Sin berhasil mencapai guha itu dan setelah dia berada di dalam guha, maka selamatlah dia dari serangan angin yang masih menghembus lewat di depan mulut guha sambil mengeluarkan suara mengerikan.

Lewat kurang lebih satu jam, setelah angin badai itu mereda, barulah Thian Sin memperhatikan guha yang telah menyelamatkannya itu. Guha itu cukup lebar, ada empat meter lebarnya, dan dalamnya tidak kurang dari lima meter. Dia masuk ke dalam dan ternyata guha itu membelok ke kiri. Ketika dia masuk terus ke kiri, di sudut guha itu, dalam cuaca yang remang-remang, nampaklah olehnya sesosok tubuh yang kurus kering sedang duduk bersila dengan kedua kaki di atas kedua paha dan kedua tangan terletak di atas lutut. Dia terkejut dan mendekat. Orang itu tidak bernapas lagi! Ketika dia menyentuh lengan yang hanya tulang terbungkus kulit itu, terasa dingin seperti biasa tubuh mayat! Orang ini telah mati! Akan tetapi, kalau sudah mati, kenapa tidak roboh dan masih dapat duduk bersila dengan punggung demikian lurus tegak? Dan kulit lengan itupun masih lemas, belum kaku, belum beku. Cepat Thian Sin meraba pergelangan tangan orang itu. Urat nadinya tidak berdetik lagi. Dia masih penasaran dan meraba dada sambil mengerahkan semua perasaan halusnya. Jantung orang itu masih bekerja, walaupun amat lemah dan lambat! Orang ini belum mati, sungguhpun tiga perempat mati.

Thian Sin segera mengambil guci kecil berisi arak yang terdapat dalam bungkusan pakaian dan bekalnya. Dibukanya tutup guci dan ditempelkannya bibir guci arak ke bibir kakek itu, dan dengan lembut diangkatnya dagu orang itu agar menengadah. Mula-mula bibir itu mengeras dan seperti melawan, akan tetapi ketika tetes pertama dari arak itu mengenal bibir, tiba-tiba saja bibir itu menyedot dan… guci arak itu menempel pada bibir dan isinya seperti disedot oleh tenaga yang amat kuat sehingga sebentar saja isinyapun habis, semua memasuki perut orang itu melalui mulutnya! Thian Sin terkejut dan maklumlah dia bahwa yang disangka mayat seperempat hidup ini ternyata adalah seorang yang pandai! Maka setelah menurunkan guci kosongnya, diapun lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.

“Harap Locianowe suka memafkan teecu atas kelancangan teecu,” katanya menghormat.

Kakek itu berdahak lalu terbatuk-batuk kecil dan tubuhnya bergerak. Matanya terbuka dan sepasang mata yang mencorong memandang ke arah Thian Sin, lalu terdengar suaranya yang pelan dan kaku, suara orang yang sudah puluhan tahun tidak pernah bicara, “Aih, engkau telah menggagalkan aku memasuki keadaan abadi. Ah, bukan salahmu, melainkan salahnya badan ini yang tidak dapat menahan bau arak. Ha-ha-ha-ha, agaknya inilah karmaku… hemmm…”

Hampir semua orang bicara tentang karma. Segala sesuatu yang terjadi menimpa dirinya, yang terjadi berlawanan dengan yang diharapkannya, lalu dihiburnya dengan pendapat bahwa itu sudah menjadi karmanya atau sudah nasibnya. Apakah sesungguhnya yang dimaksudkan dengan karma itu? Menurut penjelasan kitab-kitab tulisan orang jaman dahulu, karma adalah hukum sebab akibat. Segala akibat mempunyai sebabnya, dan segala macam perbuatan manusia sudah pasti akan mendatangkan akibat, cepat atau lambat. Itulah hukum karma. Semua perbuatan baik tentu akan berakibat baik, perbuatan jahat akan berakibat jahat bagi yang melakukannya. Atau dengan kata lain, siapa menanam dia akan menuai dan akan makan buah daripada hasil tanamannya sendiri.

Akan tetapi sungguh sayang. Seperti juga segala macam pelajaran kebatinan atau filsafat lainnya di dunia ini, pengetahuan tentang hukum karma inipun hanya menjadi pengetahuan mati belaka, menjadi teori yang hanya dipakai untuk bahan perdebatan dan membanggakan pengetahuan saja. Orang sudah tahu bahwa menanam pohon perbuatan jahat akan memetik buah yang buruk, namun orang tetap saja setiap saat menanam pohon perhuatan yang jahat-jahat! Jadi jelas bahwa pengetahuan mati tidak ada gunanya. Dunia sudah penuh dengan segala ajaran ayat-ayat yang suci dan yang menuntun manusia ke arah jalan baik, namun manusia tetap saja bergelimang kejahatan.

Karma adalah mata rantai yang tiada habisnya. Sebuah sebab menimbulkan akibat, dan akibat ini berubah menjadi sebab yang mendatangkan akibat lain lagi. Demikian seterusnya dan kita terbelenggu oleh rantai karma atau sebab akibat… Putusnya rantai ini adalah pada kita sendiri! Seseorang menghina saya. Itu dapat saja menjadi sebab yang mengakibatkan saya marah dan memakinya. Akibat ini, yaitu saya marah dan memakinya, dapat menjadi sebab lain yang mendatangkan akibat lain lagi, yaitu si orang itu marah-marah dan mungkin memukul saya. Dan mulai terjadilah lingkaran yang tiada putusnya dari hukum karma itu, rantai yang sambung-menyambung dan mengikat kita. Akan tetapi, kalau orang itu menghina saya dan saya hanya mengamati saja penuh perhatian, penuh kewaspadaan, tidak terjebak dalam permainan si aku, dan tidak menimbulkan reaksi, maka mata rantai itupun pytus dan tidak berkelanjutan. Jadi, kesadaran setiap saat, pengamatan setiap saat terhadap diri sendiri dan terhadap segala sesuatu yang terjadi setiap saat di sekeliling kita, inilah yang penting. Bukan pengetahuan tentang hukum karma lalu bersandar kepadanya.

Pengetahuan tentang memetik buah dari perbuatan sendiri inipun dapat menyesatkan. Dapat mendorong kita untuk melakukan perbuatan baik dengan pamrih agar kelak dapat memetik buahnya yang baik atau lezat. Kalau sudah begini, kalau perbuatan yang kita namakan perbuatan baik itu dilakukan dengan sengaja agar kelak memperoleh hasil yang menyenangkan, apakah perbuatan itu dapat disebut perbuatan baik lagi? Bukankah itu hanyalah perbuatan palsu, hanya merupakan suatu usaha untuk memetik sesuatu yang menguntungkan dan menyenangkan? Tidak ada perbuatan baik yang dilakukan dengan sengaja, dengan kesadaran bahwa yang dilakukannnya itu adalah baik. Hanya sinar cinta kasih sajalah yang melahirkan perbuatan baik, perbuatan yang wajar, tidak disengaja untuk berbaik-baik, melainkan perbuatan yang didasari oleh cinta kasih. Dan cinta kasih ini selalu menimbulkan rasa belas kasih kepada sesama. Di mana ada cinta kasih, di situ semua perbuatan yang dilakukan pasti bersih daripada keinginan untuk memperoleh kesenangan bagi diri sendiri, baik kesenangan lahir maupun kesenangan batin.

“Locianpwe, teecu mohon petunjuk…” kata Thian Sin dengan girang karena dia merasa yakin telah bertemu dengan orang pandai. “Teecu Ceng Thian Sin merasa berbahagia sekali dapat bertemu dengan locianpwe di sini, harap locianpwe sudi memperkenalkan diri.”

Kakek itu menarik napas panjang melonjorkan kedua kakinya yang agaknya terasa pegal-pegal. “Ah, apa artinya nama? Kalau orang-orang nacan aku masih mencari nama, perlu apa mengasingkan diri di tempat seperti ini. Orang muda, engkau sudah menyeret aku kembali ke dunia penuh perasaan ini, dan aku merasa lapar sekali, perutku minta diisi. Apa engkau membawa makanan untukku?”

“Ah, ada, lociahpwe.” Thian Sin cepat membuka bungkusannya dan mengeluarkan roti kering yang dibawanya bersama daging kering. Kakek itu segera menyambar roti dan daging kering lalu makan dengan lahapnya, dipandang oleh Thian Sin yang merasa kagum karena kakek itu dapat menghabiskan seperempat potong saja. Diapun menyerahkan guci air yang diminum oleh kakek itu dengan lahap. Setelah kenyang, baru kakek itu bicara.

“Kedatanganmu yang tiba-tiba ini mendatangkan dua hal bagiku, orang muda. Pertama, engkau mendatangkan kehidupan lagi bagi tubuh yang hampir mati ini, dan ke dua, engkau menarik kembali semangatku dari alam yang amat nikmat. Akan tetapi biarlah, memang agaknya aku masih harus bertahan beberapa lama lagi. Apa maksudmu, seorang pemuda remaja seperti engkau datang ke tempat sunyi seperti ini?”

“Locianpwe, terus terang saja, teecu merantau ke Pegunungan Himalaya ini untuk mematangkan ilmu, dan selain mencari guru-guru yang pandai, juga teecu ingin sekali bertemu dengan seorang locianpwe yang berjuluk Bu Beng Hud-couw.”

Kakek itu tertawa. “Bu Beng Hud-couw? Ha-ha, akupun bernama Bu Beng, dan entah ada berapa ribu pertama di daerah ini menggunakan nama Bu Beng. Orang-orang macam kita sudah tidak mengenal nama, maka disebut Bu Beng (Tanpa Nama).”

Mendengar ini, Thian Sin mengerutkan alisnya dan merasa kecewa, juga penasaran. “Akan tetapi, locianpwe, yang disebut Locianpwe Bu Beng Hud-couw itu benar ada, beliau adalah guru dari mendiang ayah teecu, bahkan teecu telah mempelajari ilmu-ilmu ciptaan beliau. Teecu ingin berjumpa dan menghadap beliau untuk memperoleh penjelasan tentang ilmu-ilmu itu.”

“Oho, sungguh menarik. Coba kauceritakan lebih jelas lagi, barangkali aku akan dapat menolongmu.”

Mendengar ini, dengan hati girang Thian Sin lalu bercerita tentang Bu Beng Hud-couw seperti yang pernah dia dengar dari ayahnya, dan tentang ilmu-ilmu yang diwariskannya. Kakek itu mengagguk-angguk, lalu berkata, “Tentang ilmu silat, aku orang tua tidak tahu banyak. Akan tetapi tentang kemunculannya seperti yang dialami oleh mendiang ayahmu, ah, hal itu mudah saja. Setiap orangpun dapat saja mengalaminya kalau memang kemauannya cukup keras.”

“Locianpwe, kalau begitu teecu mohon petunjuk agar teecu dapat bertemu dengan Sukong.”

Kakek itu tertawa lagi dan nampak betapa mulutnya sudah tidak punya gigi sebuahpun, akan tetapi tadi dia masih mampu makan roti dan daging kering! “Mudah saja… ha-ha, memang engkau berjodoh denganku, orang muda. Aku bisa mengajarimu bagaimana agar engkau dapat memanggil yang bernama Bu Beng Hud-couw itu! Tapi, untuk apa engkau hendak memanggilnya?”

“Untuk minta penjelasan tentang ilmu-ilmu yang diciptakannya dan yang sedang teecu pelajari.”

“Apakah engkau tidak dapat mempelajarinya dengan baik?”

“Teecu sudah mempelajarinya, dan teecu kira sudah benar, hanya teecu belum puas kalau belum memperoleh petunjuk langsung dari beliau, seperti yang pernah dialami oleh mendiang ayah teecu.”

“Bagus, bagus! Mudah saja, ha-ha-ha, mudah saja.” Dia berhenti sejenak, lalu bertanya lagi, “Berapa usia Bu Beng Hud-couw itu?”

“Entahlah, menurut ayah, beliau adalah manusia dewa yang tak dapat mati, usianya tentu sudah tiga ratus tahun lebih.”

Kakek itu tertawa geli. “Mana ada manusia yang tidak bisa mati? Dewa sekalipun bisa mati! Tapi tidak mengapalah. Nah, mulai sekarang, engkau boleh menggunakan bagian depan guha ini, bersamadhi dan mengerahkan seluruh perhatianmu, memusatkan kepada bayangan Bu Beng Hud-couw, dan mengulangi mantra, seperti yang akan kuajarkan kepadamu.”

“Tapi teecu belum pernah melihatnya, bagaimana dapat membayangkannya?”

“Bodoh, siapa pernah melihatnya? Bayangkan saja seorang kakek yang sepantasnya berusia tiga ratus tahun dan sepatutnya disebut Bu Beng Hud-couw, tentu dia akan muncul.”

Demikianlah, mulai saat itu, Thian Sin bertapa di dalam gua di puncak, menerima petunjuk dari kakek tanpa nama yang kurus kering itu. Bersamadhi dengan tekunnya, mencurahkan segenap perhatian, ditujukan kepada banyagan seorang kakek yang sepatutnya menjadi Bu Beng Hud-couw, dan bibirnya terus sampai ke hatinya, membisikkan mantram terus-menerus, diulang-ulang.

Mantram adalah pengulangan kata-kata yang dianggap suci atau yang dianggap mengandung arti yang mendalam. Dan suara yang diulang-ulang ini memang mengandung pengaruh yang amat hebat bagi batin manusia. Setiap orang dapat membuktikannya sendiri pengulangan suara yang terus-menerus, apalagi pengulangan kata-kata yang dianggap suci, mendatangkan pengaruh yang amat hebat, yang dapat membius dan melumpuhkan batin, membuat batin menjadi hening, dan mempunyai daya kekuatan yang menyihir diri sendiri. Dalam keadaan hening seperti ini, seluruh perhatian Thian Sin diarahkan kepada bayangan seorang kakek yang diharap-harapkan. Seperti yang pernah dialami oleh mendiang ayahnya, Ceng Han Houw, dua puluh tahun yang lalu, kini Thian Sin juga dapat “bertemu” dengan seorang kakek yang dianggapnya sebagai Bu Beng Hud-couw, yang memberi petunjuk kepadanya dalam mempelajari ilmu-ilmu Hok-liong Sin-ciang dan Hok-te Sin-kun, juga samadhi dengan jungkir balik.

Selama enam bulan Thian Sin menggembleng diri di dalam guha itu, bukan hanya menyempurnakan latihannya atas ilmu-ilmu peninggalan ayah kandungnya, akan tetapi juga melatih diri dengan ilmu-ilmu yang pernah dilihatnya dari pengalamannya ketika melawan Pak-san-kui dan See-thian-ong. Di samping ini, diapun menerima petunjuk dalam menghimpun kekuatan sihir oleh kakek penghuni gua itu yang merasa suka kepada Thian Sin yang pandai mengambil hati.

Enam bulan lewat dengan amat cepatnya dan pada suatu pagi, Thian Sin berpamit dari kakek pertapa yang tidak dikenal namanya itu, meninggalkan guha turun dari puncak. Akan tetapi, kalau orang melihatnya enam bulan yang lalu dan membandingkannya dengan keadaannya pada pagi hari ini, orang itu tentu akan terheran-heran. Thian Sin yang menuruni puncak di pagi hari ini sungguh jauh berbeda dengan Thian Sin enam bulan yang lalu. Memang dia masih tampan sekali, masih rapi pakaiannya, masih gagah aikapnya. Akan tetapi ada perbedaan pada pandang matanya yang mencorong itu, ada sesuatu yang menyeramkan dan aneh pada pandang matanya dan ada sesuatu yang berbeda pada mulutnya yang selalu tersenyum, karena senyumnya itu bukan senyum yang hangat, melainkan senyum dingin, senyum seperti orang memandang rendah atau mengejek. Gerak-geriknya lebih halus daripada enam bulan yang lalu, sikapnya lebih tenang dan matang, kini penuh kepercayaan kepada diri sendiri. Dan ketika dia menuruni puncak itu, larinya cepat seperti terbang saja!

Tujuan pertama adalah mengunjungi neneknya, yaitu Sang Ratu Khamila, ibu kandung dari ayahnya. Paman dari ayahnya, yaitu yang kini menjadi raja, Raja Agahai, adalah seorang yang bertanggung jawab atas kematian ayah bundanya. Raja Agahai adalah seorang di antara musuh-musuh besarnya yang harus dibalasnya lebih dulu! Maka, tanpa ragu-ragu lagi berangkatlah Thian Sin menuju ke daerah di sebelah utara Tembok Besar itu. Dia tidak mau melewati Lembah Naga, melainkan mengambil jalan memutar dari barat, melalui Propinsi Tibet, Ching-hai dan Kan-su. Daerah yang amat luas, melalui banyak padang pasir dan pegunungan, hutan-hutan lebat. Perjalanan yang amat jauh dan sukar, namun ditempuhnya dengan seenaknya saja.

Di manapun dia berada, setiap kali bertemu dengan penjahat-penjahat yang melakukan perbuatan jahat, Thian Sin tidak pernah tinggal diam. Dia tentu turun tangan dan memberi hajaran yang amat keras, bahkan amat kejam kepada para penjahat. Dia menyiksa, membikin cacad, membunuh secara yang amat kejam dan mengerikan kepada penjahat-penjahat yang ditemukannya dalam perjalanannya. Karena itu, maka sebentar saja namanya menjadi amat terkenal sekali dan mulai muncullah julukan Pendekar Sadis! Dan Thian Sin memang pantas disebut Pendekar Sadis. Di luarnya, dia kelihatan sebagai seorang pelajar yang halus dan sopan santun, juga ramah-tamah gerak-gerik dan tutur- sapanya, amat tampan wajahnya. Juga suara suling yant ditiupnya amat halus dan merdu, mudah menggugurkan hati gadis yang manapun juga. Akan tetapi, kalau dia sudah turun tangan terhadap penjahat, celakalah penjahat itu, karena penjahat itu akan mengalami malapetaka mengerikan, kalau tidak mati, setidaknya tentu cacad dan tersiksa hebat!

Pada suatu hari, tibalah Thian Sin di kota Si-ning, yaitu kota besar di Propinsi Ching-hai, setelah sepekan lamanya dia berpesiar di Telaga Ching-hai atau yang juga disebut Telaga Koko Nor yang amat luas dan indah. Di telaga itu, ketika dia pesiar sepekan lamanya, diapun menghajar banyak penjahat sehingga namanya menjadi semakin terkenal. Bahkan ketika dia melanjutkan perjalanan ke Si-ning, berita tentang nama Pendekar Sadis sudah mendahuluinya dan para penjahat dan bahkan para orang kang-ouw di daerah Si-ning sudah mendengarnya belaka dan nama itu sudah menimbulkan kegemparan.

Dalam usahanya menentang para penjahat, memang Thian Sin tidak mau berlaku setengah-setengah, juga dia tidak perlu menyembunyikan diri, sungguhpun dia jarang mau memperkenalkan nama aslinya. Pada pagi hari itu, setelah memperoleh sebuah kamar di rumah penginapan di kota Si-ning, Thian Sin lalu keluar berjalan-jalan. Seorang pemuda tampan seperti seorang siucai yang lemah lembut dan sopan. Takkan ada yang mengira bahwa pemuda tampan ini adalah Si Pendekar Sadis yang namanya membuat semua penjahat panas dingin dan juga merah mukanya saking marah dan dendamnya.

Ketika dia berjalan melalui sebuah gedung po-koan (bandar judi) di mana diadakan perjudian, ada sesuatu yang menarik hatinya dan membuatnya menahan langkahnya, kini melangkah perlahan-lahan dan memandang penuh perhatian. Biasanya, Thian Sin tidak pernah mempedulikan rumah-rumah perjudian seperti itu. Dia tahu bahwa bandar-bandar judi adalah orang-orang yang suka bermain curang, menipu uang para penjudi. Akan tetapi dia tidak peduli karena kalau ada orang menjadi korban judi yang curang, maka hal itu adalah kesalahan si orang itu sendiri. Sekarang, dia tertarik karena melihat seorang kakek yang mukanya pucat dan wajahnya membayangkan kegelisahan besar, setengah memaksa dan menarik-narik lengan seorang gadis cilik memasuki po-koan itu. Gadis itu usianya paling banyak lima belas tahun, berwajah manis akan tetapi kelihatan ketakutan dan agaknya hendak menolak diajak masuk. Akan tetapi kakek itu membujuk dan membentaknya, dan dari percakapan mereka, Thian Sin dapat mendengar bahwa kakek itu adalah ayah dari si dara remaja. Hatinya tertarik sekali dan mencium sesuatu yang tidak wajar. Maka, setelah dua orang itu memasuki rumah perjudian, diapun lalu menyelinap di belakang rumah besar itu dan di lain asat dia sudah meloncat melampaui pagar tembok di belakang rumah judi, lalu menyelinap ke dalam dengan kecepatan seperti bayangan setan saja.

“Ayah, aku takut…” Dara remaja itu berbisik ketika ia diajak ayahnya memasuki rumah perjudian itu.

“Hussshhh… tidak apa-apa, jangan takut.”

“Ayah, aku takut, biar aku pulang saja. Ah, di sana banyak orang, semua laki-laki…”

“Siapa bilang? Ada juga wanitanya yang main judi. Eh, anakku, apakah engkau tidak mau menolong ayahmu? Kalau engkau tidak menolongku, tentu aku celaka dan masuk penjara…”

Dibujuk oleh ayahnya, anak perempuan itu memberanikan diri dan membiarkan dirinya digandeng ayahnya memasuki rumah di samping bukan ruangan besar di mana berkumpul banyak orang yang sedang asyik berjudi sehingga tidak ada yang memperhatikan masuknya kakek dengan anak perempuan itu.

Tiba-tiba muncul seorang laki-laki muda yang kurus dan mukanya seperti tikus, matanya juling. Dia tersenyum melihat kakek itu dan menegur, “Eh, engkau sudah kembali, A Piang? Dan ini… ia inikah anakmu?” Senyumnya menyeringai dan matanya makin menjuling.

“Benar, di mana cukong?” tanya A Piang kepada seorang tukang pukul rumah judi itu.

“Terus saja, dia sudah menanti di dalam kamarnya,” kata Si Juling menyeringai.

Kakek yang bernama A Piang itu lalu menarik tangan anaknya diajak ke belakang dan tak lama kemudian dia sudah mengetuk pintu sebuah kamar. Di depan kamar terdapat dua orang yang sedang duduk berjaga-jaga dan tidak peduli ketika mereka melihat bahwa yang datang adalah A Piang bersama seorang anak perempuan yang kelihatan ketakutan.

“Siapa di luar?” terdengar suara berat di dalam kamar.

“Saya… saya A Piang…” Kakek itu menjawab.

“Hemm, sudah habis-habisan mencariku, ada apa?” tanya suara itu tanpa menyuruhnya masuk atau membuka pintu.

“Saya datang… eh, mengantar anak perempuan saya…”

Hening sejenak. Lalu terdengar suara itu berseru kepada seorang diantara dua penjaga itu. “A Siong, bagaimana anaknya itu? Cukup berhargakah?”

Seorang di antara dua penjaga itu memandang kepada gadis itu, lalu menjawab, “Lumayan juga, loya. Masih muda sekali!”

“Bagus. Masuklah, A Piang, kamarku tidak dikunci,” terdengar suara itu.

Sambil menarik tangan puterinya, A Piang mendorong daun pintu dan mereka memasuki sebuah kamar yang besar dan mewah, kamar yang berbau asap tembakau karena hartawan pemilik rumah judi itu sedang menghisap huncwe (pipa tembakau) yang mengeluarkan asap tebal. Dia seorang pria berusia kurang lebih empat puluh tahun, bajunya yang tebal dan indah itu terbuka kancingnya karena agak panas di dalam kamar itu sehingga nampak kulit dadanya yang berbulu. Sepasang matanya lebar dan berkilauan, apalagi ketika dia memandang kepada gadis itu.

“A Piang berapa banyak hutangmu kepada bandar?” Laki-laki itu bertanya, akan tetapi matanya terus menatap gadis itu dengan penuh perhatian.

“Empat puluh lima tail… loya…”

“Hemm, dan engkau hendak gadaikan anakmu ini untuk berapa banyak dan untuk berapa hari?”

“Saya… saya sudah memberi tahu pembantu loya… saya butuh enam puluh tail… dipotong hutang dan sisanya saya hendak pakai untuk mencoba peruntungan saya lagi… dan biarlah anak saya bekerja sebagai pelayan di sini selama satu bulan…”

“Sebulan? Dan anakmu sudah mau?”

Kakek A Piang menoleh kepada anaknya yang menunduk. “Kui Cin… kau dengar sudah… kautolonglah ayahmu, kau hanya bekerja di sini satu bulan lalu kujemput pulang, nak. Kaudengarlah dan taati semua perintah loya ini… maukah engkau menolongku, nak? Kalau tidak, tentu ayahmu akan masuk penjara…”

Kui Cin, gadis itu, mengangguk. Tentu saja ia mau menolong ayahnya. Kalau cuma bekerja sebagai pelayan, apalagi hanya satu bulan, tentu saja ia sanggup. Sejak kecil ia sudah biasa bekerja keras. “Baiklah, ayah, asal sebulan kemudian ayah menjemputku di sini.”

“Nah, anak saya sudah mau, loya. Ia anak yang berbakti dan baik…”

“Bagus, jadi aku harus menambah lima belas tail. Nih, terimalah!” Majikan rumah judi itu lalu menyerahkan sejumlah uang yang diterima dengan jari-jari menggigil oleh Kakek A Piang. “Tapi, anakmu tentu sudah tahu bahwa bekerja di sini. Ia harus mentaati semua perintahku. Ia tidak boleh membantah dan harus melakukan segala pekerjaan yang kuperintahkan. Mengerti?”

“Mengerti, loya, mengerti. Engkau akan taat, bukan, Kui Cin?”

“Baiklah, ayah. Aku akan bekerja keras di sini.”

“Nah, pergilah, dan mudah-mudahan rejekimu baik sekali ini dan bisa menang, A Piang!” kata majikan itu. A Piang lalu menepuk pundak puterinya beberapa kali dan pergilah dia keluar dari dalam kamar itu. Daun pintu ditutupkan lagi dari luar oleh para penjaga dan A Piang yang sudah gila judi itu tidak membawa sisa uang itu pulang, melainkan langsung saja memasuki ruangan lebar di mana terkumpul banyak orang yang sedang berjudi itu.

Semenjak jaman purba sampai sekarang, perjudian merupakan semacam penyakit yang amat berbahaya bagi manusia. Ada pula yang menganggap perjudian sebagai permainan, sebagai kesenangan atau iseng-iseng saja yang sama sekali tidak membahayakan. Akan tetapi, segala macam kesenangan yang dapat menyesatkan manusia selalu dimulai dengan iseng-iseng. Dari iseng-iseng ini lalu lambat laun menjadi kebiasaan yang tak mudah dilepaskan… Oleh karena dalam kesenangan berjudi ini terdapat permainan dengan harapan-harapan sendiri, dan ada hubungannya dengan keuntungan berupa uang secara langsung, maka besar sekali pengaruh dan kekuatannya untuk membuat orang menjadi mabok dan lupa segala.

Perjudian merupakan permainan dari pengumbaran nafsu manusia yang paling besar, yaitu nafsu tamak ingin memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Orang yang kalah berjudi selalu akan berusaha untuk mengejar kekalahannya itu dengan bayangan-bayangan kemenangan sebesarnya sehingga kekalahannya dapat diraihnya kembali. Orang yang sedang menang berjudi selalu akan berusaha untuk menambah kemenangannya itu sebanyak mungkin. Dan di dalam perjudian ini, ketamakan dan kebesaran si aku dikembangbiakkan menjadi amat luas. Di antara teman baik, saling membayar makanan dalam jumlah agak besarpun akan dilakukan dengan senang hati dan rela, namun di dalam perjudian, biarpun jumlah sedikit saja sudah cukup untuk membuat dua orang teman baik itu menjadi cekcok dan bentrok, tidak mau saling mengalah. Judi memupuk iri hati dan kekejaman, memperkuat dan memperbesar si aku, memupuk nafsu ingin menang sendiri. Betapa banyaknya sudah contoh-contoh dalam kehidupan masyarakat, keluarga-keluarga yang berantakan karena kepala keluarganya kegilaan judi. Orang-orang yang tadinya hidup jujur dan setia, dapat berubah menjadi curang dan jahat setelah dia menjadi penjudi, tentu saja kalau dia sudah menjadi korban dan menderita kalah terus-menerus.

A Piang adalah seorang duda yang hanya mempunyai seorang anak, yaitu Kui Cin. Dia dan anaknya berdagang kecil-kecilan di pasar dan kehidupan mereka sebenarnya sudah dapat dibilang cukup, bahkan hasil perdagangan kecil-kecilan itu lebih untuk dimakan dan dipakai. Akan tetapi, celaka sekali, A Piang terpikat oleh perjudian dan beberapa bulan kemudian, dia telah menjadi setan judi yang malas untuk bekerja lagi. Kui Cin berusaha sedapat mungkin untuk mengingatkan ayahnya dan mengurus pekerjaan mereka. Akan tetapi, kekalahan demi kekalahan menimpa diri A Piang dan akhirnya, semua dagangannya habis di meja judi tanpa dia dapat berbelanja lagi. Perdagangan itu terhenti dan kini, perabot-perabot rumah mulai tanggal satu demi satu, sampai akhirnya rumahpun digadaikan!

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: