Pendekar Sadis (Jilid ke-44)

Thian Sin sudah setengah mabuk, bukan mabuk arak karena dengan kekuatan dalamnya yang luar biasa, dia dapat menahan pengaruh arak yang bagaimana keraspun. Akan tetapi dia mabok akan kecantikan dan rayuan wanita itu. Betapapun lihainya, pemuda ini dapat dibilang masih hijau dalam pengalamannya dengan wanita, dan memang dia memiliki kelemahan terhadap wanita. Maka melihat sikap yang demikian memikat dan penuh daya tarik dari Ang Bwe-nio, pemuda ini jatuh dan merasa tertarik sekali. Apalagi melihat wanita itu demikian beraninya, dengan jelas memberi tanda-tanda bahwa wanita itu takkan menolak untuk bermain cinta dengannya. Pada saat itu, sambil tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi mutiara yang putih dan rapi, Ang Bwe-nio kembali menyumpit sepotong daging dan hendak menyuapkannya ke mulut Thian Sin. Akan tetapi, Thian Sin sekali ini menarik mukanya ke belakang.

“Eh, kenapa taihiap?”

“Bwe-nio, sekali ini aku hanya mau menerima suapanmu kalau engkau melakukannya dengan mulut, bukan dengan sumpit,” kata Thian Sin berani sambil menatap tajam wajah yang cantik itu.

Sebetulnya Ang Bwe-nio bukanlah seorang wanita yang asing dengan kemesraan-kemesraan dalam permainan cinta, akan tetapi ia demikian pandainya sehingga mendengar permintaan Thian Sin ini, ia dapat bersikap seperti seorang wanita baik-baik yang tak pernah mendengar permintaan seperti itu. Wajahnya menjadi kemerahan tersipu-sipu malu. Ia mengerling dan cemberut, berkata sambil bersikap malu-malu dan takut-takut, “Iiiihhh… taihiap… mana bisa begitu…?”

“Kenapa tidak bisa? Engkau mempunyai mulut, bukan? Mulut yang manis sekali malah…”

“Aihhh… aku… aku… ah, malu dan takut… aku tidak mengerti…”

“Bwe-nio, engkau bukan anak kecil lagi, engkau seorang janda, tentu tahu apa yang kumaksudkan. Kalau engkau tidak mau menyuapkan dengan mulut, akupun tidak akan mau menerima pemberianmu.”

“Aihhh… taihiap…” Ang Bwe-nio mengeluh, akan tetapi kemudian iapun menggigit potongan daging itu dengan giginya yang putih, lalu mengajukan mukanya dengan bersuara “mmmmm” dan menutup kedua matanya. Melihat ini, Thian Sin terangsang hebat dan dirangkulnya wanita itu, diambilnya daging itu dari mulut Bwe-nio dengan mulutnya. Tentu saja dua mulut itu bertemu dalam sebuah ciuman yang mesra dan hangat dan penuh nafsu. Dan di lain saat mereka telah saling peluk, saling rangkul dan saling cium. Ang Bwe-nio mengeluarkan suara rintihan-rintihan kecil dari dalam lehernya dan memejamkan kedua matanya, akan tetapi membalas belaian dan ciuman pemuda itu dengan penuh gairah.

Akan tetapi, semua itu sebenarnya hanya permainan belaka darinya, karena dengan cerdik sekali, selagi Thian Sin menciumi seluruh bagian tubuhnya, diam-diam wanita cantik ini mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari balik kutangnya, dan selagi Thian Sin membenamkan mukanya di dadanya, wanita ini menaburkan bubuk putih ke dalam cawan arak pemuda itu!

“Kita pindah ke pembaringan…” Thian Sin berbisik di dekat telinga kiri wanita itu, suaranya tersendat-sendat penuh nafsu.

“Baik, taihiap, aku… aku mau… aku akan memberikan segala-galanya kepadamu, aku cinta padamu… ohhh… tapi nanti dulu… aku haus, mari kita minum dulu…”

Thian Sin tersenyum dan melepaskan rangkulannya. Dia melihat wanita itu mengisi cawannya yang tinggal setengahnya itu sampai penuh. “Minumlah, taihiap, setelah itu baru kita…” Pandang matanya penuh daya pikat.

“Katamu tadi engkau haus, engkau minumlah.” Thian Sin hendak meminumkan arak di cawannya itu kepada Bwe-nio, akan tetapi wanita itu nampak ketakutan dan menolak.

“Tidak, aku sudah terlalu banyak minum arak, sudah pusing kepalaku, aku mau minum air teh saja…” Wanita itu lalu menuangkan air teh ke dalam mangkok. Ia tidak tahu bahwa pada saat itu, Thian Sin memandang kepadanya dengan sinar mata yang aneh dan penuh wibawa, bibir pemuda itu berkemak-kemik dan kedua tangan pemuda itu diarahkan kepadanya.

Setelah menuangkan air teh, wanita itu mengangkat mangkok tehnya dan tersenyum menghadapi pemuda itu. “Taihiap…. kokoku yang tampan… marilah, mari kita minum dulu, setelah itu baru… ehmmm…” Ia tersenyum lebar dan sepasang mata yang indah jeli ini berkedip penuh arti. Senyumnya makin melebar ketika ia melihat pemuda itu minum arak dari cawan itu, ditenggaknya sampai habis, ia sendiripun hanya mencucuk sedikit air teh itu. Bwe-nio menahan ketawanya ketika melihat Thian Sin melepaskan cawan araknya, bangkit berdiri, terhuyung memegangi dahi lalu menghampiri pembaringan sambil berkata lirih, “Ke sinilah… sayang, ke sinilah…” Dan tergulinglah pemuda itu ke atas pembaringan, terlentang dalam keadaan tidur pulas atau pingsan!

Bwe-nio menghampiri pembaringan, memandang kepada wajah pemuda itu yang memejamkan mata, lalu ia menunduk dan mencium bibir pemuda itu. “Sayang… kau ganteng… terpaksa aku harus membunuhmu, kalau tidak, aku sendiri terbunuh…” Wanita itu lalu mengeluarkan sebatang pisau belati yang runcing tajam dari pinggangnya, kemudian mengayunkan pisau itu ke arah ulu hati pemuda yang sedang tidur terlentang itu.

“Wuuuuuttt… cesss…!” Sepasang mata yang indah itu terbelalak ketika melihat betapa pisau belatinya “menembus” tubuh pemuda itu dan mengenai kasur! Dan tubuh itu ternyata hanya seperti bayangan saja, tidak berdaging dan kini perlahan-lahan bayangan itupun lenyap.

“Sungguh tak kusangka, wajah secantik itu, tubuh seindah itu, dihuni oleh hati yang palsu.”

Mendengar suara ini, Ang Bwe-nio terkejut setengah mati dan hampir ia menjerit ketika ia menengok. Ia melihat Thian Sin masih duduk di atas bangku dekat meja dan kini dengan tenangnya minum arak dari cawannya! Mimpikah ia? Jelas bahwa tadi pemuda itu mabuk dan rebah di atas pembaringan dalam keadaan terbius. Lalu siapa tadi yang rebah kemudian “menghilang”? Dan bagaimana pemuda itu masih duduk di situ dan sama sekali tidak terpengaruh obat biusnya yang amat manjur itu? Obat biusnya itu telah teruji, jangan hanya seorang saja, biar diminum oleh tiga empat orangpun tentu mereka akan terbius semua. Dan tadi ia sudah memasukkan semua isi bungkusan ke dalam cawan dan isi cawan itu sudah ditenggak habis oleh Thlan Sin!

Tentu saja Ang Bwe-nio tidak tahu bahwa Ceng Thian Sin pernah mempelajari ilmu sihir dari kakek pertapa di Pegunungan Himalaya dan bahwa pemuda itu tadi tentu saja telah dapat mengetahui bahwa gadis cantik itu membawa sebatang pisau di pinggangnya. Ketika Thian Sin memeluknya dan menciuminya, pemuda yang berilmu tinggi ini sudah dapat merasakan adanya ganjalan pada perutnya, ganjalan yang terdapat di pinggang Bwe-nio dan dia sudah dapat meraba-raba, yaitu ketika dia membelai dan meraba-raba tubuh wanha itu. Maka tahulah dia bahwa wanita itu membawa pisau itu, biarpun kelihatannya dia dimabuk bafsu berahi, namun dia selalu waspada dan dapat melihat ketika Bwe-nio menaruh obat bubuk ke dalam cawan araknya. Maka, ketika Bwe-nio menuangkan air teh ke dalam mangkok, kesempatan itu dipergunakan untuk mengerahkan kekuatan sihirnya. Bwe-nio terkena sihir dan wanita ini melihat Thian Sin mabuk dan terhuyung ke pembaringan, padahal sebenarnya pemuda itu masih duduk di dekat meja.

“Bagus sekali! Jadi engkau merayuku dan pura-pura mencinta dengan hati mengandung kepalsuan, ya? Hendak membunuhku?” Thian Sin bangkit berdiri, pandang mata dan suaranya dingin seperti menusuk jantung terasa oleh Ang Bwe-nio. Wanita itu menjadi ketakutan, ia melepaskan pisaunya dan menjatuhkan diri berlutut di atas lantai.

“Taihiap… ampunkan aku…”

Thian Sin menyambar pisau yang amat tajam itu dan tersenyum. “Mengampunkanmu? Hemm… engkau ini wanita cantik yang berhati palsu dan jahat. Hampir saja aku mati olehmu dan engkau masih mengharapkan ampunan dariku? Tidak, wanita macam engkau sudah sepatutnya mampus!”

Dua kali pisau menyambar dan nampak sinar berkelebat di dekat leher Bwenio. Wanita itu menahan jeritnya ketika mendengar suara berkerincingan dan ternyata dua anting-antingnya telah putus oleh sambaran sinar itu. Wajahnya menjadi semakin pucat. Tahulah ia bahwa pemuda itu memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya dan melawanpun tidak akan ada artinya sama sekali.

“Ampun, taihiap…” Suaranya bercampur isak dan tubuhnya menggigil seperti orang diserang demam.

“Mudah saja mengampunimu, akan tetapi katakan, siapa yang menyuruhmu? Apakah pemilik rumah penginapan ini? Butarkah dia itu pamanmu?”

“Bukan… bukan dia, dia hanya terpaksa, seperti aku… diapun bukan pamanku. Aku diperintah oleh lima orang yang menguasai dunia hitam di daerah ini, yang dikepalai Hui-to Ji Beng Tat…”

“Dapatkah engkau memanggil mereka berlima itu ke sini? Aku ingin sekali tahu mengapa mereka menggunakan engkau untuk merayu dan merobohkan aku, bahkan membunuhku.”

“Dapat… dapat taihiap…!” Bwe-nio berkata dan timbul harapan di dalam hatinya. Memang tadinyapun ia sudah ingin menjerit untuk memanggil mereka. Ia tahu bahwa mereka berlima itu sudah siap berkumpul di rumah penginapan itu, untuk berjaga-jaga kalau ia gagal. Dan sekarang benar saja, ia telah gagal. Akan tetapi, ia tadi tidak berani menjerit karena kalau ia melakukan hal itu, sebelum mereka berlima datang, tentu ia akan dibunuh lebih dulu oleh Pendekar Sadis ini. Teringat akan semua perbuatan yang telah dilakukan oleh pendekar ini sudah merasa ngeri bukan main. Kini, mendengar betapa pendekar itu ingin bertemu dengan lima orang kepala itu, hatinya girang dan timbul harapannya. Mungkin saja ia dapat menyelamatkan diri kalau lima orang itu sudah muncul menghadapi pendekar ini.

“Panggil mereka baik-baik, seolah-olah engkau telah berhasil dengan usahamu. Awas, kalau engkau bertindak curang, aku akan membunuhmu sekarang juga,” kata Thian Sin dan pemuda ini telah merebahkan diri di atas pembaringan, pura-pura terbius.

Kalau saja ia tidak merasa yakin benar akan kelihaian pemuda itu, ingin rasanya Ang Bwe-nio lari dari pintu yang hanya tertutup saja daun pintunya tidak terkunci itu. Akan tetapi, ia tahu bahwa kalau ia melakukannya hal ini, tentu sebelum tiba di pintu ia akan roboh dan tewas secara mengerikan. Ia hanya mengangguk dan menelan ludah untuk menenangkan hatinya yang berdebar keras, kemudian ia bertepuk tangan tiga kali berturut-turut.

Thian Sin mendengar langkah-langkah kaki dari luar menghampiri pintu itu, dan tak lama kemudian daun pintu kamarpun terbuka. Lima orang memasuki kamar itu, dipimpin oleh seorang laki-laki tinggi besar bermuka brewok. Melihat betapa di pinggang orang brewok ini terdapat sebuah kantong berisi pisau-pisau kecil, Thian Sin yang melihat dari balik bulu matanya itu dapat menduga bahwa tentu orang inilah yang dijuluki Hui-to (Golok Terbang).

“Bagus, Bwe-nio, agaknya engkau sudah berhasil. Kenapa tidak kaubereskan sekali?” kata Si Golok Terbang ketika melihat pemuda itu rebah tak bergerak di atas pembaringan.

Akan tetapi Ang Bwe-nio dengan muka pucat menggeleng-geleng kepala. “Tidak… tidak berhasil… dia… dia…”

Pada saat itu, Thian Sin meloncat dari atas pembaringan dan dengan beberapa lompatan saja dia sudah berada di pintu. Tentu saja lima orang itu terkejut bukan maing cepat mencabut senjata masing-masing. Akan tetapi pendekar itu tertawa dan menutupkan pintu, lalu menguncinya, dengan tenang sekali.

“Bagus, kalian berlima audah datang di sini. Nah, kita bisa bicara dengan baik.” Thian Sin menghampiri dengan sikap tenang, tidak peduli lima orang itu bersiap-siap menyerangnya, lalu dia duduk di atas bangku dekat meja, mengisi cawan dengan arak dari guci dan meminumnya.

“Nah, kita sekarang bisa bicara. Ang Bwe-nio ini telah berusaha untuk merayuku dan membunuhku, akan tetapi ia telah gagal. Dan menurut pengakuannya, kalian berlimalah yang memerintahnya melakukan percobaan itu. Nah, apa yang kalian bilang sekarang?”

“Pendekar Sadis, ia boleh jadi gagal, akan tetapi kami berlima tidak akan gagal,” kata Hui-to Ji Beng Tat dengan geram.

“Begitukah? Dengan golok terbangmu itu? Engkau tentu Hui-to Ji Beng Tat. Kenapa kalian hendak membunuhku?”

“Karena engkau telah mengacau wilayah kami!”

“Hemm, tahukah kalian siapa aku?”

“Pendekar Sadis!”

“Ya, pembasmi para penjahat dan sekarang kalian telah datang untuk menyerahkan nyawa. Bagus sekali, aku tidak perlu susah-susah mencari kalian lagi.”

“Keparat sombong!” teriak kepala penjahat yang bertubuh kecil bongkok dan tiba-tiba saja di sudah menggerakkan tangannya, menyerang dengan jarum-jarum beracun yang disambitkan dari jarak dekat. Thian Sin tahu bahwa sinar hitam itu adalah jarum-jarum kecil yang mungkin sekali beracun, akan tetapi dia memang telah bersikap waspada sejak tadi. Dengan pengerahan tenaga Thian-te Sin-ciang dia melindungi tubuhnya dan tangannya menyambar ke depan muka untuk melindungi mukanya dari sambaran jarum-jarum itu. Semua jarum runtuh ke atas lantai, terkena tangan dan juga yang mengenai tubuhnya. Melihat ini, Si Kecil Bongkok terkejut setengah mati, akan tetapi kini pendekar itu telah bangkit dan melangkah menghampirinya. Si Kecil Bongkok yang tadi telah mencabut pedangnya, menyambutnya dengan tusukan kilat. Namun, Thian Sin tidak mengelak, bahkan tangan kirinya menyambar ke depan menangkap pedang itu. Pedang itu ditangkap begitu saja! Melihat ini, tentu saja Si Kecil Bongkok menjadi girang dan berusaha menarik pedangnya untuk melukai tangan lawan yang memegang pedang. Akan tetapi, pedangnya seperti terjepit baja, sama sekali tidak dapat digerakkan. Kemudian, sekali Thian Sin mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang, terdengar suara “krek” dan pedang itu telah patah-patah! Melihat ini, Si Kecil Bongkok terbelalak ketakutan.

Pada saat itu, Hui-to Ji Beng Tat dan tiga orang kawannya yang lain tidak tinggal diam saja, mereka sudah menerjang maju dan menyerang Thian Sin dari lima jurusan. Tempat itu sempit, akan tetapi Thian Sin sama sekali tidak menjadi gugup. Kedua tangannya bergerak memutar dan senjata empat orang itupun beterbangan terlepas dari pegangan masing-masing. Mereka itu adalah kepala-kepala penjahat yang tingkat kepandaiannya masih jauh sekali dibandingkan dengan Thian Sin, maka tentu saja ditangkis dengan kedua lengan yang penuh dengan tenaga Thian-te Sin-ciang, mereka itu tidak mampu mempertahankan senjata masing-masing. Thian Sin lalu mencabut pisau tajam yang dirampasnya dari Ang Bwe-nio tadi, pisau yang dimaksudkan untuk membunuhnya. Sebelum lima orang itu dapat menyerangnya lagi, tubuhnya bergerak ke depan, pisau itu berubah menjadi sinar berkilat menyambar leher Si Kecil Bongkok. Si Kecil Bongkok ini berusaha mengelak, namun kurang cepat dan tahu-tahu tubuhnya terjengkang roboh dan kepalanya tertinggal di tangan kiri Thian Sin! Kiranya pemuda ini tadi sudah membabat leher lawan dan menjambak rambutnya sehingga begitu leher itu terbabat putus tubuhnya terjengkang dan kepalanya tertinggal di tangannya, dijambak rambutnya! Sungguh mengerikan sekali melihat tubuh tanpa kepala itu, dengan leher berlubang dan menyemburkan darah, sedangkan kepala Si Kecil Bongkok itu dengan mata melotot tergantung pada rambutnya yang riap-riapan dan dicengkeram tangan kiri Thian Sin!

Ang Bwe-nio menjerit dan terbelalak dengan muka pucat, lalu dengan lemas ia menjatuhkan diri duduk di atas pembaringan. Sementara itu, empat orang kepala penjahat menjadi amat marah sekali di samping rasa ngeri. Dengan nekad mereka sudah menyerbu dengan senjata mereka. Akan tetapi, dengan amat tenang Thian Sin melayani mereka, tangan kiri mencengkeram kepala Si Kecil Bongkok tadi, tangan kanan menggunakan pisau kecil untuk menangkis. Sekali menangkis, pisaunya sudah melesat dari bawah dan menerobos di antara pertahanan lawan dan kembali pisau itu menyambar leher. Orang ke dua berusaha menangkis, namun tangkisannya tembus dan leher itupun terbabat oleh pisau kecil dan tubuhnya terjengkang, kepalanya terlempar, akan tetapi sebelum jatuh ke atas tanah, sudah disambar oleh tangan kiri yang memegang kepala pertama tadi.

“Bwe-nio, kaupeganglah dulu kepala-kepala ini!” Thian Sin berseru dan melemparkan dua buah kepala itu ke atas pembaringan di mana Bwe-nio sedang duduk ketakutan.

“Ayaaaaauuuwww…!” Bwe-nio menjerit dan dengan muka pucat dan mata terbelalak, seluruh tubuhnya menggigil ketika ia memandang kepada dua buah kepala yang matanya melotot lebar memandangnya itu. Tilam tempat tidur itu sudah berlepotan darah yang keluar dari kepala itu.

Tiga orang yang lain masih mati-matian melawan Thian Sin. Namun, satu demi satu, dua orang lagi kehilangan kepala mereka melayang ke atas pembaringan, membuat Ang Bwe-nio hampir pingsan melihatnya. Tinggal Hui-to Ji Beng Tat yang masih nekad melakukan perlawanan menggunakan golok besarnya. Diapun sudah ketakutan dan terdesak oleh pisau kecil yang seperti beterbangan haus darah dan mencari kepala itu. Tiba-tiba Hui-to Ji Beng Tat mengeluarkan teriakan keras dan tubuhnya sudah mencelat ke arah pintu. Tangan kirinya bergerak dan sinar terang berturut-turut menyambar ke arah Thian Sin. Itulah golok terbang atau hui-to yang membuat namanya terkenal di daerah itu.

Akan tetapi, senjata-senjata terbang itu tidak ada artinya bagi Thian Sin. Dengan menangkis dengan tangan kirinya, semua golok itu runtuh dan pada saat itu, Hui-to Ji Beng Tat telah mempergunakan kesempatan untuk melarikan diri. Dia sudah berhasil membuka daun pintu, akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan Thian Sin, “Pengecut, hendak lari ke mana kau?” Dan pemuda ini sudah melemparkan pisau rampasannya yang meluncur cepat sekali.

“Creppp…!” Pisau itu menancap sampai dalam sekali, sampai ke gagangnya, di tengkuk Hui-to Ji Beng Tat. Kepala penjahat ini terpelanting, akan tetapi sebelum tubuhnya roboh, Thian Sin sudah meloncat di belakangnya, menangkap gagang pisau kecil, menggerakkannya sedemikian rupa sehingga ketika tubuh itu roboh, kepalanya tertinggal di tangannya karena lehernya sudah putus!

Ang Bwe-nio sudah tidak dapat mengeluarkan kata-kata lagi ketika kepala yang ke lima itu menggelinding di atas pembaringan. Seperti mayat hidup ia hanya dapat memandang kqada Thian Sin yang kini melangkah menghampirinya sambil tersenyum. Pisau di tangan pemuda itu sama sekali tidak terkena darah, demikian pula pakaiannya, sedikitpun tidak terkena darah. Hal ini saja sudah membuktikan betapa lihainya pemuda ini.

“Nah, sekarang tiba giliranmu, Bwe-nio!” kata Thian Sin menghampiri dan tubuh wanita itu menggigil, mulutnya sudah tidak dapat mengeluarkan suara lagi saking takutnya.

“Wajahmu cantik akan tetapi hatimu jahat. Ingin aku melihat jantungmu, apakah berbulu atau tidak!” Berkata demikian, Thian Sin membuat gerakan seperti hendak menusuk.

Ang Bwe-nio menjerit. “Ampun… jangan… bunuh aku…”

“Hemm, engkau begitu sayang nyawamu? Akan tetapi kalau kubiarkan kau hidup, tentu engkau akan menggunakan kecantikanmu untuk merayu dan mencelakakan laki-laki saja. Kalau begitu, biar kubiarkan kau hidup, akan tetapi kecantikanmu harus lenyap!” Tiba-tiba nampak sinar berkelebat, darah mengucur dan Ang Bwe-nio menjerit-jerit sambil mendekap hidungnya. Batang hidung yang kecil mancung itu telah buntung dan lenyap, hanya lubang mengerikan saja yang nampak di tempat hidungnya berdiri. Sambil mendekap mukanya yang berdarah, wanita itu berlari keluar dari kamar itu, tidak peduli lagi apakah ia akan dibunuh kalau lari keluar. Sambil tersenyum, Thian Sin membawa lima buah kepala itu pada rambut mereka, dan diapun keluar dari dalam kamar yang sudah banjir darah yang keluar dari leher lima batang tubuh tanpa kepala itu.

Pemilik rumah penginapan dan para pembantunya berada di ruangan depan rumah penginapan itu, dan mereka terbelalak melihat Ang Bwe-nio berlari-lari keluar menutupi muka dengan kedua tangan dan darah bercucuran diantara sela-sela jari tangannya. Dan mereka itu terkejut ketika melihat pemuda tampan itu keluar pula dan membawa lima buah kepala! Pemilik rumah penginapan menjerit dan berusaha melarikan diri, akan tetapi tiba-tiba sebuah kepala melayang terbang mengejarnya.

“Dukkkk!” Kepala yang terbang melayang itu menghantam kepala pemilik rumah penginapan yang roboh dan pingsan karena kepalanya menjadi benjol dibantam kepala lain itu. Thian Sin tertawa dan melemparkan kepala yang lain di atas meja penerima tamu, kemudian diapun pergi dari situ tanpa mempedulikan apa-apa lagi.

Peristiwa ini amat menggemparkan dan nama Pendekar Sadis makin terkenal.

Semua orang bergidik menyaksikan kekejaman yang luar biasa ini dan terutama sekali para penjahat menjadi kecil nyalinya. Nama Pendekar Sadis menjadi semacam momok yang menakutkan bagi dunia hitam, dan di samping mereka itu berjaga-jaga agar jangan sampai bertemu dengan pendekar itu, juga banyak penjahat yang mengadakan perundingan bagaimana untuk menghadapinya dan membalas semua kekejaman yang telah dilakukan oleh pendekar itu terhadap para penjahat.

***

Ada perbedaan besar antara mendiang Raja Sabutai dan Raja Agahai yang kini mengepalai beberapa bangsa Nomad itu. Raja Sabutai dahulu dicintai rakyatnya karena raja yang gagah perkasa itu juga mencinta rakyatnya, menggembleng rakyatnya, menjadi rakyat yang gagah dan raja itu selalu berusaha untuk meningkatkan kehidupan rakyatnya bahkan bercita-cita membawa rakyatnya ke dalam kebesaran dengan menundukkan raja-raja bangsa lain, bahkan pernah hampir saja berhasil mengalahkan Kerajaan Tiongkok di selatan. Dan biarpun kekuasaannya muntlak dan seluruh rakyatnya cinta dan taat kepadanya, Raja Sabutai tidak pernah bersikap sewenang-wenang terhadap rakyatnya dan tidak pernah mengejar kesenangan diri sendiri dan mengorbankan rakyatnya.

Tidak demikian dengan Raja Agahai. Raja ini adalah seorang yang lemah, malas dan juga hanya mengejar kesenangan diri sendiri saja, menjadi hamba nafsu, senang bermewah-mewah dan senang mengumpulkan harta kekayaan dan membiarkan diri terseret ke dalam pemuasan nafsu berahi dengan memaksa gadis-gadis bangsanya menjadi selirnya yang selalu bertambah itu. Tentu saja dia tidak mendapat hati dalam batin rakyatnya. Diam-diam, rakyatnya membencinya, akan tetapi rakyatnya tidak berani berbuat apa-apa, karena Raja Agahai mengandalkan pasukannya. Raja ini memanjakan pasukannya dan biarpun dia tidak mempedulikan rakyatnya, namun dia bersikap royal terhadap pasukannya. Oleh karena ini, dia ditaati oleh pasukannya yang juga mencontoh perbuatannya dan menindas rakyat dengan tindakan sewenang-wenang. Dengan demikian, terdiapat perpisahan antara rakyat dan tentara. Tidak seperti di jaman Raja Sabutai dahulu, di mana tentara dan rakyat menjadi kesatuan yang tak terpisahkan. Ketika itu, tentaranya kuat karena dukungan rakyat, sedangkan rakyatnya merasa aman tenteram karena merasa memiliki pelindung, yaitu pasukan kerajaan. Kini, rakyat memandang pasukan seperti orang memandang penjahat, dengan rasa takut-takut karena biasanya, setiap berdekatan atau berkenalan dengan tentara, berarti mereka akan menemui kesulitan dan kekerasan, atau setidaknya mereka tentu akan terganggu dan menderita kerugian.

Raja Agahai memerintah rakyatnya dengan tangan besi melalui pasukan-pasukannya. Pasukan-pasukannya itu kini seperti tentara bayaran saja, yang menjadi tentara karena menghenraki kehidupan yang layak dan kekuasaan yang melebihi rakyat biasa, bukan sekali-kali menjadi tentara karena panggilan tugas membela negara dan bangsa. Keadaan seperti itu tentu saja membuat kerajaan kecil ini menjadi lemah dan kekuasaannya terhadap suku-suku bangwa lain tidak lagi seperti dahulu ketika masih dipimpin Raja Sabutai. Kini, suku-suku bangsa lain mulai bangkit, apalagi karena suku bangsa Mancu pedalaman mulai membentuk diri menjadi bangsa yang kuat sehingga kekuasaan suku bangsa yang dipimpin oleh Raja Agahai mulai terdesak. Akhirnya, Raja Agahai terpaksa mencari tempat menetap di dekat perbatasan selatan, tidak dapat lagi berpindah-pindah seperti dahulu.

Puteri Khamila, bekas permaisuri Raja Sabutai, sering kali mengingatkan adik misan suaminya ini, akan tetapi Raja Agahai malah menjadi marah. Karena permaisuri mendiang Raja Sabytai ini merupakan satu-satunya orang yang berani mencelanya, menegur dan menentangnya, apalagi ketika pada suatu hari Puteri Khamila menentang secara terang-terangan ketika Raja Agahai dengan kekerasan memaksa seorang pelayan wanita sang puteri untuk menjadi selirnya, maka Raja Agahai lalu menyuruh tangkap Putri Khamila. Puteri yang usianya sudah enam puluh lima tahun itu dipenjarakan!

Para komandan tua dan pembesar yang mengingat akan kebaikan sang puteri tua ini, merasa tidak setuju, akan tetapi tak seorangpun berani menentang keputusan Raja Agahai. Juga rakyat yang mencinta sang puteri ini hanya dapat membelanya. Hanya baiknya, para pejabat yang mengurus penjara, masih ingat akan kebaikan permaisuri Raja Sabutai ini, maka sang puteri inipun diperlakukan dengan baik sehingga tidak terlalu menderita sengsara. Pada waktu itu, Puteri Khamila telah dipenjarakan selama dua tahun! Puteri yang sudah tua ini siang malam hanya berdoa untuk mengharap kedatangan puteranya, yaitu Pangeran Oguthai atau Ceng Han Houw, yang tidak pernah didengar beritanya selama belasan tahun itu. Tak seorangpun yang berani mengabarkan kepadanya bahwa pangeran yang ditunggu-tunggunya itu, putera tunggalnya yang amat dicintanya, telah tewas oleh pengeroyokan pasukan kerajaan di selatan, yang dibantu pula antara lain oleh pasukan yang dikirim roleh Raja Agahai.

Juga politik Raja Agahai terhadap Kerajaan Beng di selatan sekarang menjadi amat lunak. Mengharapkan bantuan pasukan Beng-tiauw untuk menghadapi persaingan dengan bangsa Mancu dan suku-suku bangsa lainnya, ia rela untuk menyatakan takluk kepada Kerajaan Beng dan mengirim upeti setiap tahun, karena sebagai imbalannya, dia juga menerima barang-barang indah dari selatan, yaitu kerajaan itu.

Dalam keadaw seperti itulah ketika Ceng Thian Sin tiba di kerajaan kecil itu! Pada waktu itu, karena hubungan baik antara kerajaan itu dan Kerajaan Beng, maka banyak juga orang-orang Han dari selatan berdatangan ke situ untuk berdagang. Mereka ini membawa barang-barang dari selatan, kain-kain sutera dan sebagainya, menjualnya atau lebih tepat menukarnya dengan barang-barang berharga dari utara, seperti kulit-kulit binatang, rempah-rempah, akar-akar obat yang berharga, dan sebagainya lagi. Perdagangan ini amat ramai dan kerajaan kecil itu hampir setiap hari didatangi banyak pedagang yang datang menyeberang Tembok Besar. Hal ini amat menguntungkan Thian Sin karena dia dapat dengan mudah memasuki pintu gerbang kerajaan kecil itu tanpa dicurigai sedikitpun.

Marah sekali hati Thian Sin ketika dia mendengar berita bahwa neneknya telah dipenjara! Di waktu kecil, ayahnya mengajarkan bahasa suku bangsa itu kepadanya, dan kini tibalah waktunya dia memanfaatkan pengertian ini. Dengan kepandaiannya berbahasa daerah, dia dapat menghubungi banyak orang dan mendengar bahwa neneknya ditahan dalam sebuah rumah penjara. Bukan dicampurkan dengan orang-orang penjara lainnya, melainkan mendiami sebuah rumah, akan tetapi rumah itu dijaga siang malam dingan ketat. Sang puteri selalu tinggal di dalam rumah itu, tidak pernah diperbolehkan keluar sehingga melewatkan penghidupan yang amat kesepian, hanya dilayani oleh dua orang pelayan yang sudah tua pula.

Thian Sin maklum bahwa tidak mungkin dia melawan Raja Agahai secara berterang. Dia hanya seorang diri saja dan raja itu dilindungi oleh ribuan orang tentera. Pula, kalau dia menyelundup dan melawan Raja Agahai dengan berterang, andaikata dia berhasil membunuhnya juga, tentu akibatnya amat tidak baik bagi neneknya. Maka diapun segera mempergunakan akal. Dia melihat betapa semua pejabat dan pegawal pemerintah kini mudah sekali makan sogokan. Sebelum memasuki kerajaan itu, dia sudah mempersiapkan diri dan membawa bekal untuk keperluan itu. Make diapun lalu mempergunakan perak untuk menyogok para penjaga rumah penjara Sang Puteri Khamila.

Pada waktu itu, orang-orang Hen yang berdatangan di negeri itu dipandang dengan hormat, tentu saja karena Raja Agahai telah menyatakan tunduk kepada Kerajaan Beng. Oleh karena itu, permintaan Thian Sin kepada para penjaga dengan memberi sogokan, agar dia boleh menghadap sang puteri tua, tidak mendatangkgn kecurigaan melainkan keheranan.

“Sobat, mau apakah engkau hendak menghadap sang puteri?” tanya komandan jaga.

“Aku membawa beberapa macam barang dagangan, sutera-sutera dan permata yang tentu akan disukai oleh seorang puteri.”

“Ah, akan tetapi sang puteri tidak akan datang membelinya! Beliau berada dalam penahanan, tidak mempunyai uang untuk membeli barang mahal,” bantah si penjaga dengan heran.

“Tidak bisa belipun tidak mengapalah. Ketika masih kecil, aku pernah melihat sang puteri yang cantik dan agung, dan kini aku ingin sekali bertemu kembali dan menghadap beliau, sekedar untuk menawarkan dagangan sambil melihat sekali wajah beliau.”

“Ah, orang muda. Beliau sekarang sudah tua dan lemah. Akan tetapi, asal jangan terlalu lama dan jangan sampai ketahuan orang luar, baiklah, kau boleh menghadap. Biar kulaporkan dulu apakah beliau bersedia menerimamu.” Kepala jaga itu lalu masuk dan melaporkan. Puteri Khamila merasa heran sekali mendengar bahwa ada seorang Han, seorang pedagang muda yang mohon menghadap untuk menawarkan barang dagangan. Ia tidak mempunyai uang, dan pula, untuk apa ia membeli barang-barang indah? Akan tetapi, Puteri Khamila bukan seorang bodoh. Kalau ada orang Han yang ingin berjumpa dengannya, tentu membawa sesuatu yang penting. Maka, iapun memperkenankan orang muda itu datang menghadap.

Ketika Thian memasuki ruangan rumah itu, jantungnya berdebar tegang. Rumah itu sunyi sekali dan ketika dia dipersilakan masuk ke dalam ruangan belakang, dia melihat seorang nenek tua berambut putih duduk di atas sebuah kursi. Mudah saja mengenal neneknya. Biarpun baru satu kali dia melihat neneknya, yaitu ketika dia masih kecil dan diajak ayahnya mengunjungi nenek ini, namun dia tidak dapat melupakan wajah yang cantik dan agung itu. Nenek itu sudah tua, rambutnya sudah putih semua, kulit mukanya keriputan, akan tetapi kulit itu masih halus dan sikapnya kelika duduk di kursi itu seperti sikap seorang ratu duduk di atas singgasana saja. Begitu agung, yang berada di situ hanya dua oran pelayan yang duduk bersimpuh di kanan kiri kursi.

Ketika dengan perlahan Thian Sin melangkah masuk dan sepasang mata yang membayangkan kedukaan itu menatap wajahnya, kedua tangan nenek itu mencengkeram lengan kursi dan matanya terbelalak, mengeluarkan sinar akan tetapi diliputi keraguan.

“Siapakah engkau…?” Suara itu agak gemetar dan penuh harap dan puteri itu berbahasa Han yang cukup baik, “dan apa maksudmu datang menemui aku?”

Thian Sin merasa terharu sekali dan dia berkata dengan halus, “Apakah saya dapat bicara dengan bebas dan leluasa dengan paduka?”

Puteri Khamila memandang ke arah daun pintu yang sudah ditutupkan kembali itu, lalu mmgangguk. “Jangan khawatir, dua orang pelayan ini adalah orang-orang setia dan para penjaga itu betapapun juga tidak berani melakukan pengintaian. Bicaralah!”

Thian Sin melangkah maju, lalu menjatuhkan diri berlutut di depan nenek itu sambil berkata dengan hati terharu, “Nenek yang baik, saya adalah Ceng Thian Sin, putera dari Pangeran Ceng Han Houw atau Pangeran Oguthai.”

“Oohhh… ah, sudah kuduga… ah, wajahmu begitu sama dengan dia…! Ah, cucuku, ke sinilah… ke sinilah…”

Thian Sin maju mendekat dan nenek itu lalu merangkul dan mendekap kepalanya sejenak. Akan tetapi ia segera dapat menguasai hatinya, mendorong halus kepala pemuda itu dari rangkulannya, memandang wajah itu sampai lama lalu berkata, “Ah, betapa bahayanya… bagaimana engkau dapat menyelundup ke sini, cucuku? Ah, ketika engkau ke sini dahulu, engkau masih kecil… tapi wajahmu mirip benar dengan ayahmu. Engkau tahu, selama ini aku… aku…”

“Saya sudah tahu segalanya, nek.”

“Dan mana ayahmu? Ibumu? Kenapa selama ini mereka tiada berita?”

Thian Sin mengepal tinjunya. Neneknya belum tahu akan malapetaka yang menimpa ayah bundanya itu, dan hatinya makin sakit terhadap Raja Agahai. “Maaf, nek, saya membawa berita buruk sekali. Ayah dan ibuku… mereka sudah tewas…”

“Ahhh…?” Nenek itu bangkit berdiri dan menutupi mulut dengan kedua tangannya agar menjeritnya tidak keluar, matanya terbelalak dan mukanya pucat sekali, lalu ia terhuyung dan tentu akan jatuh kalau saja Thian Sin tidak cepat meloncat dan merangkul neneknya. Nenek itu menangis sambil menyandarkan mukanya di dada cucunya, menangis terisak-isak sampai baju pemuda itu menjadi basah oleh air mata. Thian Sin diam saja, tidak mengeluarkan kata-kata, karena dia maklum bahwa menghibur neneknya di saat itu tidak ada gunanya sama sekali. Bahkan dia membiarkan neneknya menangis sepuasnya. Dan memang, Puteri Khamila mengeluarkan semua perasaan dukanya yang ditahan-tahan di waktu itu. Harapannya hanya satu, yaitu kedatangan puteranya untuk membebaskannya dan membikin beres kerajaan yang dikotori oleh Agahai itu. Akan tetapi siapa tahu, putera dan mantunya telah tewas, maka hancurlah semua harapannya.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: