Pendekar Sadis (Jilid ke-45)

Akhirnya nenek itu dapat mengeluarkan suara keluh-kesah dalam tangisnya, “Oguthai… anakku, betapa tega engkau meninggalkan ibumu… lalu siapakah yang akan datang untuk membuat perhitungan kepada Agahai, siapa yang akan membebaskan rakyat kita dari si lalim itu…”

“Jangan khawatir, nek. Saya mewakili ayah ibu datang ke sini justeru untuk keperluan itulah. Sayalah yang akan menghancurkan Agahai berikut kaki tanganya, karena kematian ayah ibu juga sebagian adalah perbuatan Agahai dan kaki tangannya.”

Seketika nenek itu menjadi marah dan lupa akan kedukaannya. “Ahh, keparat! Si bedebah yang tak mengenal budi! Dia sudah diangkat menjadi raja, kini bertindak kejam! Ceritakanlah, bagaimana terjadinya sampai ayah bundamu tewas?”

Nenek itu duduk kembali, tangisnya sudah berhenti dan ia mendengarkan dengan penuh perhatian ketika Thian Sin bercerita tentang kematian ayah bundanya yang dikeroyok oleh banyak pasukan, yaitu pasukan Beng dibantu oleh orang-orang Agahai dan orang-orang dari beberapa tokoh datuk kaum sesat.

“Saya telah mempelajari limu sebanyak-banyaknya, nek. Dan sekarang tibalah waktunya bagi saya untuk membasmi musuh-musuh yang telah menewaskan ayah ibu, dan pertama-tama saya akan membasmi Agahai!”

“Akan tetapi, engkau hanya seorang diri dan kedudukannya amat kuat, dia memanjakan pasukan sehingga pasukannya amat taat kepadanya. Tak mungkin engkau menentang secara berterang begitu saja…”

“Karena itulah saya menjumpai nenek, untuk mohon petunjuk.”

“Bagus, itu namanya bekerja dengan teliti dan tidak sembrono. Nah, dengarlah baik-baik, cucuku. Biarpun kekuasaanku telah habis sama sekali, akan tetapi sesungguhnya sebagian besar dari pejabat tua masih setia kepadaku, den hanya karena takut kepada Agahai sajalah mereka itu tidak dapat berbuat apa-apa. Ada seorang panglima tua yang dahulu amat setia kepada kakekmu, dan sekarang dia hanya diberi jabatan sebagai menteri urusan hiburan. Dia itu amat bijaksana dan cerdik. Kau pergilah kepadanya den bekerja sama dengan dia, tentu dia mempunyai jalan yang baik. Tunggu, kubuatkan surat untuknya.”

Nenek itu lalu menuliskan huruf-huruf di atas saputangan putih dan memberikan surat itu kepada Thian Sin. Setelah diberi tahu tentang nama dan tempat tinggal menteri hiburan itu, dan setelah diberi nasihat-nasihat oleh neneknya, juga diberi sebuah kalung peninggalan Raja Sabutai yang dikalungkan di leher Thian Sin, pemuda itu lalu keluar meninggalkan rumah tahanan itu dengan hati lapang dan penuh harapan. Tadinya dia sendiri memang bingung den tidak tahu bagaimana dia akan dapat membalas dendam kepada Raja Agahai, akan tetapi kini terbukalah jalan ydng luas baginya.

Dengan mudah dia dapat mengunjungi Abigan, yaitu menteri urusan hiburan, seorang tua yang dahulu pernah menjadi panglima yang setia dari Raja Sabutai. Hanya karena bekas panglima ini terkenal dan dikagumi para tentara sajalah maka Agahai masih memakainya dan diberi kedudukan yang tidak penting, yaitu menteri urusan hiburan. Dia mengurus apabila kerajaan mengadakan pesta-pesta, menyambut tamu-tamu den sebagainya.

Ketika menerima kunjungan Thian Sin, tadinya Abigan mengira bahwa Thian Sin seorang pemuda biasa dari selatan yang datang bertamu ke kerajaan kecil ini, akan tetapi begitu Thian Sin menyerahkan surat dari Nenek Khamila, menteri itu terkejut. Apalagi membaca surat perkenalan itu yang menyatakan bahwa pemuda ini adalah putera tunggal Pangeran Ceng Han Houw atau Pangeran Oguthai, dia terkejut, terharu dan juga girang. Segera diajaknya Thian Sin ke sebelah dalam, pemuda ini diberi kamar dan kedatangannya dirahasiakan. Dengan cepat Abigan mengadakan kontak dengan kawan-kawan yang sehaluan, yaitu yang menentang Raja Agahai dengan diam-diam. Mereka berdatangan ke rumah menteri hiburan ini dan diperkenalkan dengan Thian Sin. Mereka lalu mengadakan rapat rahasia dan mengatur rencana untuk “memasukkan” Thian Sin ke dalam istana, bahkan diberi akal agar pemuda itu mendapat kepercayaan dari Raja Agahai.

Thian Sin memperoleh banyak keterangan tentang Raja Agahai dalam rapat itu. Dia mendengar bahwa raja itu sebenarnya hanya seorang yang lemah, dan yang menguasai raja itu adalah seorang Koksu yang bernama Torgan, seorang Mancu yang amat cerdik dan juga pandai ilmu silat dan ilmu gulat. Torgan inilah yang mengatur segala-galanya dalam pemerintahan. Torgan ini pula yang membikin mabuk Raja Agahai dengan segala macam kesenangan, terutama wanita-wanita. Selir paksaan dari Raja Agahai amat banyak, tak terhitung lagi banyaknya. Akan tetapi, dari sekian banyaknya selir, baru seorang saja yang berhasil mempunyai keturunan, seorang anak laki-laki yang baru terlahir sebulan yang lalu. Dan di antara para selirnya, yang paling dikasihi adalah seorang selir berbangsa Biaw, justeru bukan selir yang melahirkan anak. Semua ini dipelajari Thian Sin.

“Kebetulan sekali, minggu ini pesta besar-besaran oleh keluarga raja untuk merayakan usia sebulan dari pangeran tunggal itu,” kata Menteri Abigan. “Ini merupakan kesempatan baik untuk memperkenalkan Ceng-kongcu kepada Sri Baginda. Akan tetapi, sebagai apa? Sebagai seorang pedagang muda? Kurang tepat dan tentu akan menimbulkan kecurigaan Koksu Torgan yang bermata tajam dan amat cerdik itu. Andaikata sebagai anak keluargaku dari Mancu dan menyamar sebagai pemuda Mancu, bahasa Ceng-kongcu tentu akan ketahuan, karena kaku. Ah, kita harus berhati-hati, terutama sekali terhadap Torgan yang cerdik. Jangan sampai sebelum tujuan tercapai, kita gagal di tengah jalan.”

“Aku ada akal!” kata Thian Sin. “Bukankah di istana, akan diadakan pesta untuk merayakan kelahiran pangeran? Nah, bagaimana kalau taijin memperkenalkan aku sebagai seorang pemain sulap?”

“Tukang sulap? Apakah kongcu dapat bermain sulap? Hati-hati, Torgan seorang yang pandai sekali, tidak mudah ditipu.”

“Harap cu-wi lihat, kalau kedua tanganku berubah menjadi ular seperti ini, apakah dia belum percaya bahwa aku seorang tukang sulap?” Tiba-tiba Thian Sin menggerakkan kedua lengannya dan… semua orang yang hadir dalam rapat itu berseru kaget karena kedua lengan pemuda itu benar-benar telah berubah menjadi ular yang menggerakkan lidah keluar masuk dan menggeliat-geliat mengerikan.

“Bagus! Sulap yang mengagumkan!” kata Abigan dengan kagum.

Thian Sin tertawa, menurunkan kedua lengannya lagi dan lenyaplah ular-ular itu. Ini hanya sulap biasa saja. Aku masih mampu mainkan suling dan menyanyikan sajak-sajak dan tentang permainan sulap lain, masih banyak macamnya. Misalnya ketrampilan tangan seperti ini!” Thian Sin memegang kedua sumpitnya dan dengan sumpit itu dia melemparkan mangkok yang penuh sayuran ke atas. Mangkok itu melayang ke atas disusul oleh mangkok ke dua yang juga penuh sayur. Dan dia menerima dengan dua batang sumpit itu. Dua batang sumpit itu tepat menerima dua buah mangkok sayur, menyangga di bawahnya dan dengan gerakan pergelangan tangannya, dia membuat dua mangkok itu berputar-putar di atas sumpit tanpa sedikitpun ada kuah sayur yang tumpah. Dan beberapa kali dia melemparkan dua buah mangkok itu ke atas dan diterima oleh ujung sumpit. Tentu saja semua yang melihat kepandaian ini bertepuk tangan memuji. Mereka sudah sering melihat pemain sulap memperlihatkan ketrampilan seperti ini, akan tetapi tidak dengan mangkok yang berisi sayur dengan kuahnya.

Thian Sia menghentikan demonstrasinya. “Selain sulap, juga aku dapat menghibur raja dengan permainan suling dan bernyanyi.” katanya sambil tersenyum.

Melihat kepandaian putera Pangeran atau cucu dari mendiang Raja Sabutai ini, Menteri Abigan menjadi girang, kagum dan juga terharu, usaha pangeran ini pasti berhasil, pikirnya. Demikian pula para rekannya yang menaruh kepercayaan besar kepada pangeran keturunan Raja Sabutai yang dikenal sebagai Ceng-kongcu ini.

Mereka lalu mengadakan perundingan dan mengambil keputusan bahwa langkah-langkah mereka diatur seperti berikut. Pertama, tentu saja memperkenalkan Ceng-kongcu kepada Raja Agahai sebagai penghibur dalam pesta dengan permainan sulap, suling dan nyanyi sajak. Ke dua, mereka semua akan diam-diam mengerahkan pengikut-pengikut masing-masing untuk bersiap-siap turun tangan apabila pemuda itu berhasil membunuh Raja Agahai, yaitu dengan mengepung istana dan melucuti atau membasmi semua pasukan pengawal. Ke tiga, mereka akan menyelidiki siapa para perwira dan anak buahnya yang dahulu ikut mengeroyok Pangeran Ceng Han Houw.

***

Keluarga Raja Agahai mengadakan pesta untuk merayakan kelahiran pangeran pertama yang sudah sebulan usianya. Berbeda sekali keadaan pesta yang diadakan raja ini dengan Raja Sabutai dahulu. Kalau Raja Sabutai berpesta, sebagai seorang raja dan juga seorang tokoh besar dunia kang-ouw di dunia utara sebagian besar undangannya adalah tokoh-tokoh kang-ouw pula. Akan tetapi, Raja Agahai hanya mengundang kepala-kepala suku bangsa dan juga wakil-wakil dari pasukan penjaga tapal batas di Tembok Besar yaitu pasukan Beng-tiauw. Ada pula orang-orang Han yang biasa hilir mudik ke kerajaan ini, membawa dagangan-dagangan, dan menjadi langganan keluarga raja, menjadi tamu pula. Selain para undangan, juga para pembantu Raja Agahai yang tinggi kedudukannya, hadir bersama isteri masing-masing. Di antara mereka tentu saja terdapat penasihat raja, yaitu Koksu Torgan. Bahkan Koksu Torgan inilah yang mengatur penjagaan dengan ketat. Kedua matanya yang lebar dan liar itu, di bawah sepasang alis tebal tiada hentinya memandang ke kanan kiri, menyelidiki para tamu dengan penuh kecurigaan sehingga siapapun juga yang bertemu pandang dengan koksu ini akan merasa kikuk dan tidak nyaman hatinya.

Raja Agahai sendiri dengan senyum bahagia duduk bersanding dengan para isterinya yang rata-rata masih muda-muda dan cantik-cantik, aken tetapi isterinya atau selirnya, yang berbangsa Biauw itu, yang memang amat cantik dan yang usianya paling banyak baru sembilan belas tahun, duduk paling dekat di sebelah kiri Sang Raja. Kecantikan seliri ini memang menyolok sekali, bukan hanya wajahnya yang cantik jelita den manis, akan tetapi bentuk tubuhnya amat menggairahkan, ditambah lagi sikapnya yang memang menarik, bukan dibuat-buat, melainkan karena memang sudah pembawaannya wanita ini memiliki sikap yang menarik dan merangsang. Selir yang beruntung mendapatkan keturunan itu, duduk di sebelah kanan Sang Raja, tentu saja karena melahirkan seorang putera, sekakigus kedudukannya naik dan ia dipandang sebagai isteri yang paling berjasa. Anak kecil berusia satu bulan itu ditidurkan di sebuah pembaringan kecil, dijaga dua orang inang pengasuh. Dan tak jauh dari situ, di atas meja besar, dikumpulkanlah semua barang hadiah atau sumbangan dari para tamu, sumbangan yang lebih ditujukan kepada Raja Agahai daripada kepada anak kecil berusia sebulan itu.

Setelah semua tamu datang berkumpul, Menteri Abigan yang sejak pagi sekali sudah sibuk mengatur pesta itu yang menjadi bagiannya atau tugasnya, menghadap Raja Agahai dan berkata. “Sri baginda, tukang sulap yang akan menghibur pesta ini telah siap menanti.”

“Ha-ha-ha, bagus sekali, suruh dia datang menghadapku lebih dulu sekarang. Aku ingin melihat dan bertemu dengannya.”

Menteri Abigan memberi isyarat kepada pembantu-pembanttinya, dan tak lama kemudian, Thian Sin diiringkan beberapa orang petugas menuju ke panggung di mana keluarga raja itu duduk berkumpul.

“Ah, dia masih muda dan tampan sekali, Abigan!” kata raja itu ketika melihat seorang pemuda bangsa Han memberi hormat di depannya dengan sikap yang selain hormat, juga amat ramah, dengan senyum yang menarik.

“Banyak terima kasih atas pujian Sri baginda yang mulia, dan semogalah menjadi berkah bagi hamba!” kata Thian Sin dengan suara yang diatur bersajak, dan juga dia mengucapkannya dengan suara seperti orang berdeklamasi! Mendengar Thian Sin mengeluarkan kata-kata yang indah dalam bahasa daerah, dengan suara merdu seperti bernyanyi pula, raja dan para selir menjadi tertarik. Raja Agahai tertawa gembira.

“Bagus! Bagus sekali, engkau pandai berbahasa daerah, tentu saja kabarnya engkau pandai bersajak, menyanyi dan bermain sulap, tentu saja pandai segala bahasa. Eh, orang muda yang pandai, coba katakan, menurut pendapatmu, nama apakah yang patut kami berikan kepada putera kami ini?”

Thian Sin sudah memperoleh keterangan segala-galanya mengenai keadaan keluarga itu, bahkan pilihan nama untuk putera raja itu, yang belum diumumkan, telah bocor dan dapat diketahui olehnya melalui para pembantu Menteri Abigan. Dia mendengar bahwa Raja Agahai hendak memberi nama Temuyin kepada puteranya. Sungguh merupakan suatu kesombongan karena nama ini adalah nama raja terbesar dalam sejarah bangsa Mongol, karena Temuyin ini adalah nama kecil dari Raja Jenghis Khan!

Mendengar ini, Thian Sin mengambil sikap sungguh-sungguh. “Nama untuk putera paduka, ditentukan oleh para dewata, seorang manusia biasa seperti hamba, mana berani lancang menerkanya?” katanya kemudian dengan nada suara indah. Kemudian, pemuda ini mengerahkan tenaga sakti ilmu sihirnya, memandang kepada raja dan melanjutkan. “Akan tetapi, Sri Baginda yang mulia. Hamba melihat cahaya di sekitar tubuh putera paduka, ah, benar… cahaya cemerlang menyilaukan mata, dan cahaya seperti itu hanya dimiliki oleh raja besar pertama dari bangsa Mongol yang gagah perkasa tiga abad yang lalu…”

RAJA Agahai tadi memandang sepasang mata yang mencorong dari pemuda itu, lalu dia ikut menoleh ke arah pembaringan puteranya dan… dia terbelalak melihat betapa benar saja ada cahaya terang meliputi seluruh tubuh puteranya itu! Cahaya yang mencorong menyilaukan mata! Kemudian, mendengar ucapan bahwa cahaya seperti itu hanya dimiliki raja besar pertama dari bangsa Mongol pada tiga abad yang lalu, hatinya girang bukan main. Karena raja pertama yang dimaksudkan itu, siapa lagi kalau bukan Raja Besar Jenghis Khan yang di waktu kecilnya bernama Temuyin? Dan memang dia hendak memberi nama Temuyin kepada puteranya, disamakan dengan nama raja besar itu!

“Bagus… bagus… memang engkau seorang yang amat pandai. Eh, siapakah namamu, orang muda yang cerdas dan pandai?”

“Nama hamba adalah Hauw Lam, Sri Baginda.” jawab Thian Sin tanpa memberi she atau nama keturunan pada nama itu. Akan tetapi Raja Agahai tidak memperhatikan, atau mengira bahwa pemuda ini she Hauw bernama Lam. Dia tidak berpikir lebih panjang bahwa nama itu berarti Anak Laki-laki Berbakti.

“Baik, kami girang sekali engkau mau menghibur pesta ini, Hauw Lam. Nanti setelah tiba waktunya, engkau boleh menghibur para tamu dengan permainanmu.”

Pada saat itu, tiba-tiba saja muncul Koksu Torgan. Dengan sinar matanya yang tajam dia memandang kepada pemuda tampan yang bercakap-cakap dengan rajanya itu, dan melihat rajanya tertawa-tawa gembira, kemudian melihat sinar mata yang mencorong dari pemuda itu, koksu ini mengerutkan alisnya yang bercampur uban dan cepat menghampiri.

Melihat datangnya Sang Koksu, Raja Agahai tertawa. “Ah, Koksu, kebetulan engkau datang. Lihat, pemuda tukang sulap ini sungguh seorang yang hebat dan menyenangkan sekali. Dia akan menghibur para tamu, memeriahkan pesta ini dengan pertunjukan sulap dan permainan suling dan sajak.”

Hanya koksu inilah satu-satunya orang yang tidak bersikap sangat hormat kepada raja, tidak berlebih-lebihan seperti sikap orang lain karena dia yakin benar akan pengaruh dan kekuasaannya. Dengan alis berkerut dia memandang wajah pemuda itu tanpa menjawab ucapan raja.

“Siapakah yang memperkenalkan pemuda ini kepada Paduka?” Dia balik bertanya akan tetapi masih terus mengamati Thian Sin.

“Menteri Abigan yang membawanya,” kata Raja.

“Hamba yang melihat kebagusan permainannya dan hamba yang memperkenalkannya kepada Sri Baginda, Koksu,” kata menteri tua itu dengan hormat.

Koksu itu mengeluarkon suara dari hidung, seperti orang mendengus. “Hemm, kami tidak mengenal pemuda ini dan karenanya tidak percaya kepadanya. Akan tetapi kami mengenalmu, Menteri Abigan. Tentu engkau sudah mengerti bahwa segala yang dilakukan pemuda ini menjadi tanggung jawabmu, tanggung jawab seluruh keluargamu kalau sampai dia melakukan yang tidak baik!” Setelah berkata demikian, koksu ini sekali lagi menatap tajam wajah Thian Sin, kemudian menjura kepada raja dan meninggalkan panggung itu. Diam-diam Thian Sin mencatat dalam hatinya bahwa orang itu amat berbahaya dan perlu segera disingkirkan. Akan tetapi ada suatu hal lain yang mendebarkan hatinya, yaitu selir bangsa Biauw itu. Selir muda dan cantik ini, selama dia tadi menghadap kaisar, memandang kepadanya dengan sinar mata yang jelas mengandung kekaguman dan kemesraan! Senyum itu! Kerling mata itu! Begitu penuh daya pikat dan begitu penuh janji. Tahulah Thian Sin bahwa selir muda dari raja tua itu menaruh hati kepadanya. Inipun merupakan jalan yang amat baik, pikirnya sambil diam-diam tersenyum puas.

Sikap koksu tadi agaknya mengurangi kegembiraan Sang Raja yang memberi isyarat kepada Menteri Abigan untuk mengajak Thian Sin mundur dari situ. Setelah mereka mundur dari situ, melalui seorang pembicara, raja lalu mengumumkan nama dari puteranya, yaitu Pangeran Temuyin! Tentu saja pengumuman ini disambut dengan tepuk tangan, ada yang memuji pilihan yang tepat itu, ada pula yang diam-diam mencela bahwa tidak pantaslah seorang raja kecil seperti Agahai ini menamakan puteranya Temuyin, nama pendiri Dinasti Goan yang telah tumbang itu. Akan tetapi tentu saja tidak ada yang berani mencela.

Setelah pengumuman itu, pestapun dimulailah. Thian Sin sendiri juga dijamu oleh Menteri Abigan dan pemuda ini makan minum sepuasnya. Di tengah-tengah perjamuan itu, para tamu saling bicara sendiri dan keadaan menjadi bising, apalagi ditambah dengan adanya suara musik yang dimainkan orang untuk memeriahkan suasana pesta. Berbeda dengan kalau mendiang Raja Sabutai mengadakan pesta di mana selalu diadakan pertunjukkan silat, kini yang dipertunjukkan adalah tari-tarian dari para penari-penari muda yang cantik dan genit, suasana menjadi meriah sekali ketika di antara para tamu yang sudah terlalu banyak minum arak itu ada yang ikut pula menari bersama para penari genit itu. Terdengar suara ketawa di sana-sini dan suasana menjadi amat gembira. Setelah beberepa tarian dimainkan, akhirnya Menteri Abigan sebagai pengatur acara hiburan, mengumumkan dengan suara lantang.

“Hadirin yang terhormat, kini Sri Baginda Raja yang kita cintai berkenan menghibur cu-wi (anda sekalian) dengan menampilkan seorang muda yang ahli bermain sulap, meniup suling dan membuat sajak. Inilah dia, pemuda yang cerdas den menarik, Hauw Lam!”

Terdengar tepuk sorak ketika Thian Sin muncul ke atas panggung, dan ternyata yang bertepuk sorak itu adalah keluarga raja yang dipelopori oleh selir suku bangsa Biauw itu! Thian Sin menjura ke arah tempat duduk raja dan keluarganya sambil tersenyum manis. Wajahnya yang tampan itu agak merah, karena selain dia tadi minum arak agak banyak juga diapun sebetulnya merasa canggung harus berhadapan dengan demikian banyaknya orang sebagai seorang pemain panggung. Dia merasa seolah-olah dia telah menjadi seorang badut!

“Cu-wi yang terhormat,” kata Thian Sin dengan lagak menarik, suaranya seperti orang bernyanyi. “Hari ini adalah hari keramat dan kepada keluarga Sri Baginda yang amat berbahagia kami mengucapkan selamat! Saya sebagai seorang pengembara, hanya dapat menyumbangkan seekor burung dara!” Setelah mengeluarkan kata-kata bersajak ini, dengan suara yang menarik sekali, tiba-tiba Thian Sin berseru. “Lihatlah, seekor burung dara terbang ke angkasa!” Dan tiba-tiba saja, seperti keluar dari lengan bajunya, di tangan kanannya yang diangkat tinggi-tinggi itu terdapat seekor burung dara putih menggeleparkan sayapnya dan ketika dilepaskan, burung itu terbang ke udara sampai tinggi dan lenyap.

“Aku tidak melihat burung dara!” Tiba-tiba terdengar suara mengguntur dan Thian Sin cepat menengok. “Jangan mengeluarkan permainan menipu! Tidak ada kulihat burung dara!” Kiranya yang bicara itu adalah Koksu Torgan yang memandang kepada Thian Sin dengan sepasang matanya yang tajam dan berpengaruh itu. Tahulan Thian Sin bahwa orang ini adalah lawan yang cukup berbahaya, yang tidak terpengaruh oleh daya sihirnya tadi. Akan tetapi, Thian Sin adalah seorang pemuda yang cerdik sekali. Dia menjura dengan hormat kepada orang tua itu dan tersenyum ramah.

“Ah, maafkan saya, Koksu. Paduka adalah Koksu Torgan yang bijaksana, mengatakan tidak tahu burung dara berada di mana!” Lalu Thian Sin menghadapi semua tamu dan bertanya dengan suara ramah dan lagak yang lucu. “Mohon tanya kepada cu-wi yang mulia, apakah tadi ada seekor burung dara?”

“Ada…! Ada…!” Terdengar jawaban di sana-sini yang disusul oleh yang lain, bahkan para selir raja sendiripun berteriak mengatakan ada.

Thian Sin menghadapi Koksu Torgan sambil membentang lengan dan mengangkat bahu seolah-olah tidak berdaya melawan pendapat banyak orang. “Maaf, Koksu, kalau tadi Koksu belum melihat burung-burung dara, sekarang hamba persembahkan untuk Anda!” Tiba-tiba Thian Sin membuat gerakan dengan tangannya dan berteriak nyaring, “Inilah seekor burung bangau botak untuk Koksu!” Dan sungguh mengherankan, di tangannya telah terdapat seekor burung bangau besar yang kepalanya botak, dan pemuda itu mengulurkan tangannya, menyerahkan burung jelek itu kepada Sang Koksu. Tentu saja sekali ini Thian Sin mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencoba “kekuatan” koksu itu dan ternyata koksu itu terpengaruh. Matanya terbelalak melihat burung bangau yang hendak mematuknya itu, maka dia undur tiga langkah.

“Ilmu setan…!” gumamnya dan diapun terus menjauh.

“Sayang, bangau, begini buruk rupamu sehingga Sang Koksu tidak menghendakimu! Nah, terbanglah melayang, kembali ke sarang!” Dan bangau itupun terbang ke atas lalu lenyap! Semua orang bersorak dan bertepuk tangan memuji, sedangkan koksu itu memandang dengan penuh kecurigaan. Didekatnya Menteri Abigan dan koksu ini berbisik kepadanya.

“Menteri Abigan, dari mana engkau menemukan bocah setan ini?”

“Bocah setan mana…? Ah, dia bukan bocah setan, melainkan seorang pemuda yang pandai dan menarik sekali, Koksu.”

“Bodoh! Dia itu amat berbahaya!” Koksu berkata lirih dan diam-diam Menteri Abigan merasa terkejut sekali. Koku ini sungguh amat cerdik dan berbahaya dan dia mengkhawatirkan keselanatan cucu Puteri Khamila itu.

Akan tetapi yang dikhawatirkan itu nampak tenang-tenang dan gembira saja. Memang hati Thian Sin merasa tenang karena kini dia telah menguji kekuatan batin Sang Koksu dan dia mengerti bahwa biarpun dia tidak akan mampu menguasai koksu itu sepenuhnya, namun koksu itu bukan ahli sihir dan juga tidak perlu mengkhawatirkan kekuatan batinnya. Betapapun juga, melihat Sang Koksu, berbisik-bisik dengan Menteri Abigan, kemudian koksu itu memanggil komandan jaga seolah-olah memberi perintah sesuatu, dan melihat betapa penjagaan semakin diperketat, tahulah dia bahwa koksu itu menaruh curiga kepadanya dan dia tidak boleh turun tangan pada saat itu, karena tentu akan menghadapi pengeroyokan ratusan orang pengawal.

Maka Thian Sin lalu memainkan mangkok-mangkok dengan sepasang sumpit seperti yang pernah dia perlihatkan kepada Menteri Abigan dan rekan-rekannya den permainan inipun mendapatkan sambutan tepuk tangan.

“Cu-wi, sekarang saya hendak memperlihatkan permainan yang menarik. Kalau tidak salah, saya tadi melihat ada kacang goreng di antara hidangan itu, bukan? Nah, sekareng, biarlah saya menjadi sasaaran dan cu-wi semua yang duduk di sebelah depan, boleh menyambitkan kacang itu kepada saya. Semua kacang itu akan saya sambut dengan kedua tangan!”

Terdengar seruan-seruan tidak percaya dari para tamu. Akan tetapi karena mereka tertarik, maka ada beberapa orang mulai menyambitkan beberapa buah kacang kepada pemuda itu. Dan benar saja. Pemuda itu menyambut kacang-kacang itu dengan kedua telapak tangan dikembangkan keluar. Anehnya, kacang-kacang itu beterbangan ke arah dua telapak tangan itu, ke bagian tubuh manapun mereka menyambit. Melihat ini, semua tamu menjadi tertarik dan beterbanganlah kacang-kacang yang banyak sekali seperti hujan ke arah tubuh Thian Sin. Dan sungguh mengherankan sekali, semua kacang itu beterbangan hanya menuju ke arah kedua telapak tangannya dan jatuh di depan kaki Thian Sin sehingga sebentar saja di situ telah bertumpuk banyak kacang goreng! Hal ini amat menggembirakan sehingga beberapa orang selir raja ikut pula menyambit! Terutama sekali selir bangsa Biauw itu yang menyambit dengan sikap yang menarik sekali dan dengan senyum simpul penuh daya pikat!

“Plakkk!” Tiba-tiba ada sambitan yang keras mengenai telapak tangan kiri Thian Sin dan pemuda itu melirik. Kiranya yang menyambitnya adalah koksu. Tahulah dia bahwa koksu ini memang memiliki kelebihan dariapda orang lain, akan tetapi dia tidak khawatir. Karena sambitan koksu itupun tersedot oleh kekuatan yang dikerahkannya pada dua telapak tangannya, maka diapun dapat mengukur tenaga koksu itu. Sebaliknya, diam-diam Sang Koksu terkejut bukan main. Dia adalah orang yang berpengalaman, baik dalam hal sastera maupun silat. Maka kini diapun menduga bahwa pemuda ini bukan pemuda sembarangan. Selain pandai sihir, pemuda inipun pandai ilmu silat tinggi! Makin curiga hatinya. Tidak mungkin kalau seorang pemuda dengan ilmu kepandaian seperti itu hanya menjual kepandaiannya dengan menjadi seorang tukang sulap penghibur tamu! Tentu ada niat tertentu sembunyi dalam pertunjukkannya ini! Dia tadi sudah mengerahkan pasukan pengawal untuk memperketat penjagaan, terutama sekali untuk menjaga keselamatan rajanya.

“Cukup…! Cukup…! Sayang sekali kalau makanan dibuang-buang begitu saja!” kata Thian Sin sambil tertawa dan… kacang-kacang yang masih melayang membalik ke arah para penyambitnya. Akan tetapi tenaga membalik ini tidak terlalu kuat sehingga tidak sampai melukai yang menyambit, melainkan membuat mereka tertawa-tawa karena kacang-kacang itu ada yang mengenai kepala, muka dan tubuh mereka.

“Sekarang saya hendak memainkan suling. Harap cu-wi jangan mentertawakan, permainan suling saya ini hanya permainan dusun, dan untuk selingan saya akan membacakan sajak!”

Semua orang menghentikan ketawa mereka dan keadaan menjadi sunyi, seolah-olah semua orang terpesona oleh daya pikat yang keluar dari pemuda ini. Semua orang termasuk keluarga raja, seolah-olah dengan sungguh-sungguh hendak mendengarkan permainan suling dan pembacaan sajak dari pemuda yang makin lama makin menarik hati mereka itu. Mereka tidak lagi melihat Thlan Sin sebagai orang Han, karena biarpun pemuda itu memakai pakaian Han, akan tetapi pemuda itu bicara bahasa daerah dengan lancar sekali dan sama sekali tidak kaku seperti orang-orang Han lainnya.

“Pertama-tama, perkenankan saya memainkan lagu ‘Sebatangkara’.” Dan mulailah dia meniup sulingnya. Sejak kecil, Thian Sin memang suka bermain suling dan dia berbakat sekali. Bakat meniup suling ini menjadi makin sempurna dengan tenaga khi-kang yang dimilikinya sehingga ketika meniup, bukan sekedar tupan angin belaka, melainkan tiupan yang mengandung tenaga khi-kang yang kuat. Dia meniup lagu yang sedih dengan sulingnya, maka terdengarlah suara suling yang melengking tinggi rendah mengalun dan menggetarkan jantung para pendengarnya. Para pendengar itu seolah-olah dapat menangkap keluh-kesah, rintihan dan ratap tangis yang memilukan terkandung dalam lengkingan suara suling yang mengalun itu. Suasana menjadi sunyi, semua semua orang tenggelam ke dalam perasaan, hanyut dalam buaian suara suling, bahkan tak terasa lagi, beberapa orang selir raja menyentuh-nyentuh bawah mata mereka dengan saputangan. Dengan nada yang makin merendah seperti tangis yang kehabisan suara dan napas, akhirnya suling berhenti dan sebelum semua orang yang dihanyutkan perasaannya itu normal kembali, terdengarlah pemuda itu menyanyi, lagunya seperti yang dimainkan suling tadi, kata-katanya satu-satu dan jelas, dengan suara yang menggetar penuh perasaan pula.

Bagai awan tunggal di angkasa

terbawa angin semilir lembut

tanpa tujuan tiada pangkalan

sebatangkara tanpa harapan

ayah bunda tewas bersama

dikeroyok anjing serigala

dendam membara membakar dada

haruskah diam seribu kata

biar diri banjir air mata?

atau menjadi kilat bercahaya

menggelepar gegap-gempita

membersihkan noda dan dosa

hutang dibayar budi dibalas?”

Semua orang menjadi terharu mendengar nyanyian ini, apalagi karena dinyanyikan penuh perasaan. Para selir raja memandang bengong dan tak terasa lagi ada yang menangis, menyembunyikan mata dan hidung di balik saputangan-saputangan sutera harum. Para tamu juga terpesona, sejenak terdiam. Mereka adalah orang-orang utara dan mereka tidak merasa heran tentang orang-orang yang mati dikeroyok anjing serigala. Akan tetapi kepedihan dan kedukaan hati seorang anak yang agaknya ditinggal mati ayah bundanya yang dikeroyok anjing serigala, baru sekarang ini terasa menusuk hati mereka. Menteri Abigan memandang dengan wajah pucat. Cucu Puteri Khamila itu terlalu berani! Nyanyiannya itu terlalu mendekati kenyataan, terlalu mengandung sindiran. Untung agaknya Raja Agahai tidak sadar dan dialah yang pertama-tama bertepuk tangan memuji yang segera dituruti oleh semua orang. Pecahlah sorak-sorai dan tepuk tangan memuji kepandaian pemuda itu. Akan tetapi ada satu orang yang tidak bertepuk tangan, dan orang ini adalah Koksu Torgan! Tentu saja Thian Sin juga tidak lengah dan diam-diam dia mengikuti gerak-gerik koksu ini.

Dia melihat betapa di tengah-tengah tepuk sorak itu, Torgan menghampiri Raja Agahai dan bicara dengan asyik kepada raja itu yang mendengarkannya dengan alis berkerut den pandang mata penuh selidik ke arah Thian Sin. Pemuda ini mengerahkan kekuatan pendengarannya dan mendengar bisikan-bisikan koksu itu kepada rajanya.

“Harap Paduka hati-hati. Pemuda itu pandai sihir, pandai silat dan sastera. Jelas dia bukan orang biasa dan kedatangannya yang menyamar sebagai tukang sulap ini tentu mengandung maksud yang tidak baik. Hamba akan mengawasi dia!” Demikian antara lain dia mendengar bisikan koksu itu kepada rajanya.

Akan tetapi Thian Sin mengambil sikap tidak peduli dan dia sudah siap meniup lagi sulingnya, akan tetapi sekarang dia meniup dan mainkan lagu-lagu yang gembira sehingga wajah para tamu kembali cerah, terbawa oleh suara suling itu. Setelah menghentikan tiupan sulingnya, Thian Sin lalu menyanyikan lagu itu dengan kata-kata yang memang sudah dirangkai dan dihafalkan sebelumnya.

Kuhaturkan nyanyian ini

sebagai doa dan puji

kepada Pangeran Temuyin

semoga berbahagia abadi

bagaikan cahaya bulan

bertahta di angkasa

bebas dari rintangan

awan yang lewat di bawahnya

akan tetapi… ya Tuhan…”

“Ada yang tidak beres…! Tiba-tiba pemuda itu menghentikan sajaknya dan mengeluarkan seruan ini dengan mata terbelalak memandang ke arah tempat ayunan di mana pangeran yang masih bayi itu diletakkan. Kemudian, pemuda ini lari menghampiri tempat itu, dan karena perbuatannya ini begitu tiba-tiba, bahkan Koksu Torgan sendiri tidak menduganya dan tahu-tahu pemuda itu telah tiba di dekat ayunan itu, menjenguk ke dalam.

“Heii… mundur, jangan mendekati Pangeran!” Koksu Torgan berteriak sambil meloncat menghampiri dan para pengawal juga sudah memburu ke tempat itu. Akan tetapi Thian Sin dengan gerakan begitu cepatnya, sehingga tidak nampak oleh siapapun telah menjaman pundak bayi itu dan pemuda ini berseru.

“Celaka… Pangeran telah diracuni orang…!” Tentu saja ucapannya ini mendatangkan kejutan luar biasa. Raja Agahai sendirl meloncat menghampiri, demikian pula semua isterinya atau selirnya, tidak ketinggalan selir suku bangsa Biauw yang cantik jelita itu.

Semua orang memandang kepada bayi itu dan terkejutlah mereka. Bayi itu pucat sekali dan matanya mendelik, napasnya senin-kemis terengah-engah! Ibunya menjerit-jerit dan suasana menjadi panik. Dalam keadaan berjubel dan panik itu, tiba-tiba selir bangsa Biauw itu merasa pinggulnya dibelai dan dicubit tangan nakal. Ia terkejut sekali dan cepat menoleh dan ia melihat wajah tampan itu tersenyum. Ternyata Thian Sin telah berada di belakangnya dan jelaslah bahwa pemuda ini yang tadi mencubit dan membelai bukit pinggulnya. Wajah selir ini menjadi merah sekali dan ia menahan senyumnya, matanya yang jeli itu mengerling penuh teguran. Thian Sin tersenyum dan kembali jari-jari tangannya mengelus punggung dan pinggul. Seliri itu, agaknya takut ketahuan orrang, lalu menjauhi Thian Sin dan mendesak mendekati ayunan.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: