Pendekar Sadis (Jilid ke-47)

“Ahhh…!” Wanita cantik itu nampak ketakutan sekali. “Tapi… tapi mengapa aku berada di kamar ini bersamamu…?”

“Aku telah menyelamatkanmu dari hukuman mati. Aku yang minta kepada Sri Baginda agar engkau tidak dihukum karena engkau hanya diperalat oleh Koksu. Aku menyanggupi Sri Baginda untuk membebaskan engkau dari pengaruh sihir itu, dan kini engkau telah terbebas dan engkau telah teringat dan sadar kembali. Kalau tidak ada aku, Nona Leng Ci, engkau sekarang tentu telah menjadi setan tanpa kepala.”

“Aihhh…” Leng Ci menggerakkan tangannya dan otomatis tangannya itu memegang lehernya. Sepasang mata yang indah itu memandang kepada Thian Sin, rasa takut dan ngeri masih membayangi mukanya dan dengan suara mengandung rasa takut ia berkata, “Ah, kalau begitu… engkau telah menyelamatkan nyawaku… tapi… tapi bagaimana selanjutnya? Apakah Sri Baginda mau mengampuniku…?”

Thian Sin tersenyum. “Aku yang menanggung, engkau takkan diganggu oleh Sri Baginda. Akan tetapi, setelah aku menolongmu dan sekarang aku menjamin keselamatanmu, lalu imbalan atau hadiah apa yang hendak kauberikan kepadamu?”

Wanita itu melangkah maju menghampiri. Wajahnya serius sekali. Hal ini adalah menyangkut kehidupannya, keselamatannya dan setelah ia teringat akan segala yang telah terjadi, maka harapan satu-satunya ia gantungkan kepada pemuda ini yang agaknya dapat mempengaruhi raja dan merupakan satu-satunya orang yang mungkin dapat menyelamatkannya.

“Kongcu… tolonglah saya… imbalannya apa saja yang kongcu kehendaki, pasti saya akan berikan! Perhiasan? Akan saya serahkan semua milik saya.”

Thian Sin tersenyum. “Perhiasan? Agaknya aku bisa memperoleh yang lebih banyak dari raja. Tidak, nona manis, aku tidak butuh perhiasan.”

“Lalu apa yang dapat kuserahkan? Aku tidak punya apa-apa lagi…!” Leng Ci berkata dengan bingung dan rasa khawatirnya bertambah.

Thian Sin tersenyum, girang hatinya melihat wanita itu dicekam ketakutan hebat.

“Nona Leng Ci, ketika belum terjadi sesuatu dan aku diperkenalkan kepada raja, aku melihat sinar matamu ketika memandangku, gerak bibirmu ketika tersenyum padaku, kemudian ketika kuraba dan kubelai pinggulmu engkau sama sekali tidak marah atau berteriak, apakah artinya semua itu?”

menerima pertanyaan seperti ini, pertanyaan yang langsung menyerang perasaan hatinya, seketika wajah yang tadinya pucat itu kini berubah merah sekali. Sesaat ia lupa akan rasa takutnya dan dengan sikap menarik sekali ia cemberut, matanya mengerling penuh tantangan mesra, dan bibirnya memperlihatkan ejekan-ejekan yang membuat bibir itu makin menggairahkan, lalu katanya lirih, “Habis, engkau mengartikan bagaimana? Aku tidak tahu…”

“Bukankah itu berarti bahwa engkau tertarik kepadaku? Bahwa kalau aku yang juga amat tertarik dan jatuh cinta padamu mengulurkan tangan kepadamu dan mengajakmu saling menumpahkan kasih sayang dan bermain cinta, engkau akan menerimanya dengan girang?”

Menghadapi kata-kata yang luar biasa beraninya, yang membuka segalanya tanpa pura-pura lagi itu, Leng Ci menundukkan mukanya dan ia merasa malu sekali. Malu bercampur tegang karena memang harus diakuinya bahwa ia amat tertarik kepada pemuda tampan yang amat pandai mengambil hati orang ini.

“Ihhh… siapa jatuh cinta…?” Hanya ini yang dapat diucapkannya sambil tunduk dan dari bawah, kedua matanya mengerling demikian tajamnya melebihi sepasang pedang pusaka yang langsung menembus jantung Thian Sin.

“Nona Leng Ci, kalau saya menolong nona, menyelamatkan nona dari ancaman hukuman mati, dan sekarang melindungi nona dari raja, hal itu bukan sekali-kali karena saya mengharapkan balasan. Melainkan karena saya memang tertarik dan jatuh cinta kepadamu yang cantik menarik ini.

Tentu saja ada harapan di dalam hati ini agar nona juga dapat membuka perasaan hati nona yang kalau saya tidak salah taksir, juga tertarik kepada saya. Nah, sekarang bagaimana? Maukah engkau menyambut uluran tanganku ini? Akan tetapi, penyambutan yang suka rela, dengan sepenuh perasaan, bukan karena terpaksa, bukan pula karena hanya sekedar membalas jasa…” Sambil menghentikan kata-katanya dan memandang dengan sinar mata penuh ajakan, Thian Sin mengembangkan kedua lengannya ke depan, ke arah wanita itu.

Biarpun wajahnya merah sekali dan kepalanya masih ditundukkan, malu sekali dan tidak dibuat-buat, namun Leng Ci melangkah maju dan masuk ke dalam pelukan Thian Sin, membiarkan kedua lengan itu melingkari tubuhnya dan iapun tidak menolak ketika pemuda itu menariknya sehingga ia terduduk di atas pangkuan pemuda itu.

“Engkau senang begini?” tanya Thian Sin. “Bukan hanya untuk membalas budi?” Wanita itu tersenyum manis dan sepasang matanya mengeluarkan cahaya mesra, akan tetapi tubuhnya gemetar dan ia berkata, “Tapi… tapi… Sri Baginda…”

Thian Sin melepaskan rangkulannya dan menurunkan wanita itu, lalu bangkit berdiri.

“Ah, kiranya dalam keadaan begini engkau masih teringat kepada Sri Baginda? Jadi engkau mencinta raja dan tidak mau mengkhianatinya?”

“Bukan, bukan, kongcu! Siapa mencinta tua bangka itu? Dia memaksaku menjadi selir, setelah pasukannya membasmi perkampungan kami, bahkan orang tuaku tewas dalam serbuan itu. Aku dipaksanya menjadi selir, dan hanya untuk menyelamatkan diri dan untuk menikmati kehidupan mulia dan mewah saja aku bersikap manis kepadanya. Siapa sih yang sudi berdekatan dengan tua bangka mata keranjang itu? Akan tetapi… aku teringat dia karena takut. Bagaimana kalau dia mengetahui hubungan kita?”

“Aku tertarik dan suka padamu, dan aku berani menempuh bahaya untuk mendapatkan cintamu. Kalau engkau takut, kembalilah sana kepada raja!”

“Tidak… tidak, kongcu… ah, tentu saja aku lebih suka padamu. Biarlah kalau engkau mau melindungiku, aku akan mentaati segala kehendakmu, biar aku mati hidup bersamamu.” Wanita itu menubruk dan merangkulnya. Melihat wanita ini telah menjadi jinak, Thian Sin tersenyum.

“Bagus! Nah, mulai sekarang ini, engkau harus taat kepadaku, mengerti?”

Wanita cantik itu mengangguk dan menahan isaknya ketika Thian Sin mendekap dan menciumnya, bahkan membalas peluk cium itu dengan hangat. Thian Sin memondongnya dan segera keduanya tenggelam dalam buaian natsu berahi yang amat panas. Semenjak pergi meninggalkan So Cian Ling, wanita terakhir yang menjadi kekasihnya, telah lebih dari setengah tahun Than Sin tidak pernah berdekatan atau berhubungan dengan wanita. Dia menggembleng diri bertapa dan memperdalam ilmunya selama berbulan-bulan dan menahan nafsunya. Sedangkan Leng Ci adalah seorang wanita muda yang selama ini harus melayani seorang pria tua yang sebenarnya dibencinya dan baru sekarang selama hidupnya dia bertemu dan berhubungan dengan seorang pria muda tampan yang menarik hatinya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila pertemuan antara mereka seperti seekor ikan kekeringan bertemu dengan air danau yang segar, di mana ikan itu dapat berenang sepuasnya.

DENGAN dalih “mengobati” Leng Ci, Sin dapat bersenang-senang sepuas-puasnya dengan wanita itu, bahkan Raja Agahai sendiri tidak berani mengganggunya. Raja itu hanya dapat bertanya dari luar pintu saja menanyakan keadaan selirnya tercinta.

“Sedikit lagi Sri Baginda,” jawab Thian Sin dari dalam. “Harap Paduka bersabar dan jangan diganggu…”

“Tapi, Torgan telah dihukum mati. Bagaimana dia dapat mengganggu lagi?” bantah Sang Raja yang sudah merasa rindu kepada selirnya itu.

“Justeru itulah!” jawab Thian Sin cepat, “Rohnya yang jahat itu membalas dendam dan mempertahankan pengaruhnya atas diri selir Paduka.”

Dengan alasan ini, Thian Sin dapat berdiam berdua saja dengan wanita itu, bahkan para dayang yang melayani mereka, mengantar makan minum dan sebagainya, hanya diperbolehkan sampai di pintu saja dan tidak terus masuk, mereka itu hanya dapat melihat selir raja itu rebah terlentang di balik kelambu!

Tentu saja semua ini hanyalah permainan Thian Sin yang dibantu oleh Leng Ci. Kini wanita itu sepenuhnya berpihak kepadanya, tunduk dan taat karena memang wanita itu sudah jatuh cinta betul-betul kepada Thian Sin. Dan di waktu malamnya, Thian Sin meninggalkan Leng Ci di dalam kamar, menyuruh wanita itu mengunci semua pintu dan jendela, sedangkan dia sendiri keluar melalui jendela dan mengadakan pertemuan dengan Menteri Abigan dan rekan-rekannya yang mempersiapkan segala untuk kepentingan rencana pemberontakan mereka menentang Raja Agahai. Dengan cerdiknya, Menteri Abigan mulai menyadarkan para panglima dan pembesar akan kelaliman Agahai, dan melalui beberapa orang panglima yang berpihak kepada komplotan ini mulai memindah-mindahkan tugas penjagaan sehingga pada saat yang sudah direncanakan, para pengawal yang menjaga istana adalah sebagian besar orang-orang mereka!

Tiga hari kemudian, setelah rencana mereka matang, Thian Sin memberi tahu kepada para dayang di luar pintu agar mereka memberi tahu kepada Raja Agahai bahwa dia kini sudah siap menerima kunjungan raja dan bahwa selir raja itu sudah sembuh sama sekali.

Tentu saja berita ini amat menggirangkan hati Raja Agahai yang pada pagi hari itu sudah mulai kehabisan kesabarannya menanti-nanti. Betapapun juga, ada rasa cemburu di dalam hatinya mengingat betapa selirnya yang tercinta, yang cantik jelita dan manis itu, telah berada di dalam kamar berdua saja dengan tukang sulap muda dan tampan itu selama dua malam tiga hari. Maka, begitu mendengar berita dari para dayang, Raja Agahai cepat bergegas mendatangi kamar itu dan mengetuk pintu kamar.

Karena keinginan tahu yang amat besar, ditambah dengan rasa rindu terhadap selirnya, maka Raja Agahai menjadi lengah dan dia setengah berlari menuju ke kamar tamu itu tanpa minta perlindungan para pengawal pribadinya. Dia sudah tidak sabar lagi, selain ingin segera melihat dan mengetahui keadaan kekasihnya, juga ingin segera dapat memeluk kembali.

“Silakan masuk!” terdengar suara Thian Sin, “Daun pintu tidak terkunci.” Raja Agahai mendorong daun pintu dan memasuki kamar itu, sedangkan para dayang yang duduk di luar pintu sudah menjatuhkan diri berlutut ketika raja itu muncul.

Ketika Raja Agahai memasuki kamar itu dan daun pintu kamar ditariknya tertutup kembali dan dia melangkah maju menembus tirai sutera hijau itu, dia melihat sesuatu di dalam cuaca remang-remang dalam kamar, sesuatu yang membuat dia terbelalak dan langkah kakinya seketika terhenti. Dia tidak percaya akan apa yang dilihatnya itu, maka digosok-gosoknya matanya dan dia kini melangkah lagi maju menghampiri untuk dapat melihat lebih jelas lagi. Akan tetapi, penglihatan itu tidak berubah, masih seperti tadi, yaitu Thian Sin duduk di tepi pembaringan dan selirnya, Leng Ci yang cantik jelita dan manis, selirnya yang tercinta itu, dengan pakaian dalam yang tipis yang kusut, seperti juga rambutnya, duduk di atas pangkuan pemuda itu! Seperti seekor kucing manja, wanita itu duduk di atas pangkuan, bergantung kepada leher pemuda itu dengan kedua lengannya yang berkulit halus, mengangkat mukanya dekat dengan muka pemuda itu dan memandang penuh kemesraan! Dan Thian Sin, seolah-olah tidak melihat kedatangan raja itu, lalu menunduk dan di lain saat keduanya sudah berciuman dengan mesra sekali, dan raja itut melihat betapa kedua lengan selirnya merangkul semakin ketat. Mereka berciuman lama sekali dan baru Thian Sin menghentikan ciumannya ketika mendengar sang Raja membentak.

“Keparat! Apa artinya ini?” Raja Agahai yang tadinya menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Thian Sin yang dianggap penyelamat puteranya dan pembongkar rahasia pengkhianatan Torgan, kini masih meragu. Siapa tahu apa yang dilakukan pemuda itu adalah dalam rangka pengobatan dan penyembuhan selirnya!

Thian Sin mengangkat muka memandang, tersenyum mengejek. Leng Ci yang masih duduk di atas pangkuan pemuda itu dan masih merangkul lehernya, juga menengok dan Sang Raja terheran. Belum pernah dia melihat selirnya itu berwajah sedemikian cantiknya, dengan sepasang mata yang redup dan sayu, entah karena kehausan ataukah kepuasan, akan tetapi sepenuhnya selirnya itu membayangkan seorang wanita yang sedang dalam puncak berahi.

Thian Sin mengecup bibir Leng Ci lalu berkata, “Manist si tua bangka telah datang, kau istirahatlah dulu, dan lihat apa yang akan kulakukan padanya.” Leng Ci tersenyum, mengangguk, lalu turun dari atas pangkuan dan duduk di tengah-tengah pembaringan. Baju dalamnya tersingkap dan nampak bukit buah dadanya yang biasanya amat dikagumi oleh Raja Agahai. Akan tetapi, wajah Agahai telah berubah sebentar pucat dan sebentar merah saking kaget dan marahnya mendengar ucapan Thian Sin tadi.

“Hauw Lam! Apa artinya ini?” Kembali dia membentak.

Thian Sin turun dari pembaringan dan melangkah maju dengan sikap tenang akan tetapi mulutnya tersenyum mengejek dan sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong yang menakutkan Sang Raja.

“Artinya, Agahai, sudah jelas. Yaitu bahwa Leng Ci telah menjadi kekasihku, bahwa kini tibalah saat terakhir dari kejayaan dan kelalimanmu. Selama ini engkau telah buta, tidak tahu dengan siapa engkau berhadapan!”

Mendengar kata-kata kasar dan melihat sikap yang sama sekali berubah ini Raja Agahai terkejut bukan main. Dia memandang dengan mata terbelalak.

“Apa artinya ini…? Siapa… siapa engkau…?”

“Hemm, raja lalim, manusia jahat dan busuk, engkau sungguh tolol. Si Torgan itu lebih cerdik, akan tetapi dia telah kau hukum mati. Ha-ha, sungguh engkau manusia yang paling busuk di dunia ini. Selirmu Leng Ci sama sekali tidak pernah berhubungan dengan aku, menjadi kekasihku. Dan Torgan tidak pernah berbuat apa-apa terhadap anakmu. Akulah yang telah membuat anakmu sakit dan melemparkan fitnah kepada Torgan. Mengertikah engkau sekarang, Agahai?”

Tentu saja Raja Agahai menjadi terkejut dan marah bukan main. “Tapi… mengapa? Apa yang terjadi?” Raja itu berteriak bingung.

“Kepadamu aku mengaku bernama Hauw Lam dan memang aku adalah seorang hauw-lam (putera berbakti). Dahulu, pernah aku datang mengunjungi tempat ini, sebagai seorang anak berusia sepuluh tahun dan ketika itu namaku adalah Ceng Thian Sin…”

Raja Agahai undur selangkah. “Apa… kau? Ceng… Ceng Thian Sin…!”

“Ha-ha-ha, baru engkau teringat sekarang?”

“Thian Sin! Engkau… cucu keponakanku sendiri…!”

“Tak perlu bersandiwara lagi, Agahai. Ayah bundaku tewas karena pengeroyokan, dan engkau juga memegang peran dalam pembunuhan itu. Engkau mengirim pasukan pilihan untuk ikut mengeroyoknya. Engkau hutang nyawa ayah bundaku!”

Mendengar ini, baru Raja Agahai sadar bahwa dirinya terancam bahaya. Cepat dia membalikkan tubuhnya hendak keluar dari kamar itu. Akan tetapi tiba-tiba ada bayangan berkelebat den tahu-tahu Thian Sin telah berdiri di depannya, menghadang antara dia dan pintu. Marahlah Agahai. Betapapun juga, dia bukan seorang pria lemah. Dicabutnya pedang dari pinggangnya.

“Pengkhianat busuk!” bentaknya dan pedangnya menyambar. Akan tetapi, dengan tenang saja Thian Sin menggerakkan tangannya menyambut pedang itu, mencengkeram pedang dengan tangan kirinya.

“Kraakkk!” Pedang itupun patah-patah, seolah-olah terbuat daripada benda yang lunak saja.

Agahai memandang dengan mata terbelalak dan kini wajahnya menjadi pucat.

“Pengawal…!” teriaknya dengan lantang memanggil para pengawal pribadinya. Akan tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Sunyi saja di luar kamar itu, hanya terdengar suara beradunya senjata agak jauh dari situ, dan suara hiruk-pikuk orang berkelahi.

Thian Sin tersenyum. “Semua pengawal dan pembantumu pada saat ini sedang diserbu dan dibasmi. Engkau harus berhadapan dengan aku tanpa bantuan siapapun!”

Raja Agahai menjadi ketakutan dan karena ingin meloloskan diri, dia menjadi nekat. Sambil mengeluarkan suara seperti seekor srigala kelaparan, dia meloncat dan menerkam pemuda itu dengan kedua tangan menyerang dari kanan kiri.

“Plakk!” Thian Sin menampar, tidak mengerahkan tenaga terlalu besar dan raja itu terpelanting, pipi kanannya bengkak dan membiru. Sejenak Agahai nanar dan matanya liar, seperti mata seekor harimau yang tersudut. Thian Sin berdiri dengan bertolak pinggang, menghadang di depan pintu, tersenyum, namun senyum yang mengandung kebencian mengerikan.

Agahai sudah bangkit lagi dan mundur-mundur, seperti hendak melakukan ancang-ancang untuk menyerang lagi. Akan tetapi, raja yang cerdik dan licik ini tiba-tiba meloncat ke belakang, ke arah pembaringan! Thian Sin terkejut, akan tetapi Raja Agahai telah dapat menerkam tubuh Leng Ci, menarik dan mencekik leher wanita itu.

“Kalau kau maju, ia akan kupatahkan batang lehernya!” Dia mengancam kepada Thian Sin, sedangkan Leng Ci meronta-ronta tak berdaya. “Hayo buka pintu dan minggir, biarkan aku lewat!” Diam-diam Thian Sin kagum juga akan kecerdikan raja itu, akan tetapi tiba-tiba dia tertawa. Suara ketawanya demikian mengerikan dan aneh karena memang dia mengerahkan tenaga khi-kang dalam suaranya. Raja Agahai memandang dengan heran dan merasa aneh, akan tetapi inilah kesalahannya. Begitu dia memandang dengan peranan tertarik, dia sudah terperangkap dan berada dalam pengaruh kekuasaan ilmu sihir yang dikerahkan pemuda itu.

“Ha-ha-ha, Agahai, apakah engkau sudah gila? Lihat baik-baik apa yang kaucengkeram itu? Yang kaucekik hanya sebuah bantal!”

Agahai terkejut dan cepat dia memandang kepada Leng Ci yang tadi diringkus dan dicekiknya. Dan hampir dia berteriak kaget dan penuh kekecewaan karena ternyata benar, yang diringkusnya itu bukan lain hanyalah sebuah bantal! Kemarahan yang meluap-luap membuat dia mengangkat “bantal” itu dan melemparkannya dengan tenaga sepenuhnya ke arah dinding.

Kini Thian Sin yang terkejut bukan main. Tentu saja yang diringkus oleh raja itu sama sekali bukan bantal, melainkan tubuh Leng Ci yang denok! Dan ketika tubuh itu dilemparkan oleh raja, Thian Sin yang tidak menyangkanya sama sekali tidak mampu lagi mencegah. Terdengar suara keras ketika tubuh itu terbanting dan menghantam dinding. Ketika tubuh itu terjatuh ke lantai, sudah tidak bergerak lagi dan dari kepala yang mengalirkan darah, dari kedudukan leher yang terkulai, tahulah Thian Sin bahwa mata indah yang terbuka lebar itu tidak melihat apa-apa lagi. Leng Ci telah tewas dengan kepala retak!

“Agahai, manusia busuk! Manusia keparat kau! Kaubunuh ia… ah, kaubunuh Leng Ci…!” Thian Sin marah sekali. Dia belum pernah jatuh cinta dalam arti kata yang sesungguhnya sehingga permainannya dengan Leng Ci itupun tak dapat dikatakan cinta, melainkan lebih terdorong oleh nafsu berahi belaka. Akan tetapi, melihat Leng Ci yang sama sekali tidak berdosa itu harus tewas dalam keadaan demikian menyedihkan, dan semua itu karena ulahnya, sehingga Leng Ci dapat dibilang mati karena dia, hal ini membuat Thian Sin merasa berduka dan marah sekali.

Diterjangnya Raja Agahai. Raja ini mencoba untuk membela diri dan berteriak-teriak memanggil pengawal-pengawal. Namun tidak ada seorangpun pengawal yang datang, dan diapun tentu saja tidak berdaya sama sekali menghadapi tamparan-tamparan Thian Sin. Terdengar suara keras berkali-kali dan ketika raja itu terpelanting dengan muka yang bengkak-bengkak dan berdarah Thian Sin masih menyusulkan tendangan-tendangan yang membuat raja itu jungkir balik dan jatuh bangun. Akan tetapi pemuda ini tidak menggunakan tenaga saktinya, karena dia tidak mau membunuh Agahai begitu saja. Dia masih belum selesai berurusan dengan raja ini, maka betapapun marah dan menyesalnya atas pembunuhan terhadap diri Leng Ci, dia tidak membunuh raja itu, hanya menyiksanya dengan tamparan-tamparan dan tendangan-tendangan. Yang membuat pemuda ini menyesal adalah, bahwa terbunuhnya Leng Ci sesungguhnya karena dia. Raja itu membunuhnya tanpa sengaja, mengira bahwa yang dicengkeramnya tadi benar-benar bantal sehingga dilemparkan bantal itu saking kecewanya.

Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka, dan Thian Sin menghentikan pemukulan-pemukulannya terhadap raja itu ketika melihat bahwa yang muncul adalah Ratu Khamila, neneknya. Kiranya sesuai dengan rencana yang sudah diatur oleh Menteri Abigan dan rekan-rekannya, bekas Ratu Khamila yang dipenjara ini dibebaskan dan dibawa ke istana, setelah para pasukan pemberontak menguasai istana dan para pengawal Raja Agahai yang setia, sebagian besar dibinasakan dan sebagian pula yang menyerah lalu ditangkap. Istana dibersihkan dari pengikut-pengikut Agahai dan kini istana dikuasai oleh pasukan penjaga pemberontak. Setelah itu, barulah Ratu Khamila dibebaskan dan dijemput, dibawa ke istana. Dan ratu ini, bersama Menteri Abigan dan beberapa orang panglima dan pengawal, datang ke kamar Thian Sin di mana pemuda itu sedang menghajar Raja Agahai.

Raja Agahai yang melihat munculnya Ratu Khamila dan beberapa orang menteri dan panglima, maklum bahwa dia terancam. Dia belum tahu apa yang terjadl di luar tidak tahu bahwa para pengawalnya sudah terbasmi. Namun, melihat kenyataan bahwa tidak ada seorangpun pengawal yang muncul ketika dia berteriak-teriak minta tolong, diapun sudah dapat menduga apa yang telah terjadi. Maka kini melihat munculnya Puteri Khamila, tahulah dia bahwa permainan telah berakhir dan bahwa dia telah kalah. Pemuda itu adalah putera tunggal Pangeran Oguthai atau Pangeran Ceng Han Houw dan pemuda itu sudah tahu bahwa dia ikut dalam pengeroyokan pangeran itu dan isterinya sampai mati. Tiada harapan lagi baginya, maka diapun tidak banyak tingkah lagi.

“Agahai, sudah tahukah engkau akan dosa-dosamu?” kata Ratu Khamila dengan suara halus namun penuh teguran. Ratu ini tidak merasa begitu sakit hatinya ia ditawan seperti ketika ia mendengar bahwa puteranya tewas oleh pengeroyokan yang sebagian dilakukan orang-orangnya Agahai.

Agahal yang sudah putus asa itu tertawa. “Hemm, kalian lihat saja nanti kalau pasukan-pasukanku bergerak dan menghancurkan kalian semua!”

Seolah-olah menjawab kata-kata Agahai, tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk dan teriakan-teriakan banyak orang yang datangnya dari luar istana. Dan seorang pengawal datang tergopoh-gopoh, melapor kepada Menteri Abigan, didengarkan oleh Thian Sin dan juga oleh Agahai.

“Taijin, di luar istana penuh pasukan dan rakyat. Mereka itu berteriak-teriak menuntut penjelasan akan apa yang terjadi di dalam istana. Suasana buruk sekali, di antara mereka itu terjadi perpecahan. Agaknya masih banyak di antara mereka yang mendukung dia!” kata pengawal itu sambil menuding ke arah Agahai dengan penuh kebencian. Mendengar ini, Agahai tertawa bergelak. Wajahnya menyeramkan sekali. Wajah yang bengkak-bengkak dan matang biru, berdarah-darah pula, dan kini wajah itu terangkat dan bergoyang-goyang ketika tertawa, seperti iblis dalam dongeng.

Tiba-tiba Thian Sin menangkap leher bajunya, menotoknya sehingga raja itu tidak mampu bergerak lagi, lalu menyeretnya keluar. “Silakan mengikuti saya ke menara istana, saya akan bicara dengan mereka!” Mendengar ini, Ratu Khamila mengangguk dan juga para menteri dan panglima itu mengikuti dari belakang. Thian Sin membawa bekas raja itu naik ke loteng menara dan tak lama kemudian nampaklah dia bersama raja itu di atas menara, di panggung atas bersama Ratu Khamila dan para menteri yang setia. Melihat ini, pasukan dan rakyat yang berjubel di luar istana, semua memandang ke arah panggung menara itu.

Teriakan-teriakan yang simpang-siur terdengarlah.

“Hidup Puteri Khamila…!”

“Hidup Raja Agahai…!”

Dari teriakan-teriakan ini saja jelaslah bahwa memang telah terjadi perpecahan, di antara rakyat dan pasukan. Keadaan sungguh gawat dan ada ancaman perang saudara. Biarpun dia sudah tertotok dan tidak berdaya, Raja Agahai tersenyum mendengar teriakan-teriakan yang jelas menyanjungnya itu, dan masih ada secercah harapan di wajahnya. Akan tetapi, ketika Thian Sin menariknya agar lebih tinggi berdiri sehingga seluruh orang yang berada di bawah melihatnya dengan jelas, melihat mukanya yang bengkak-bengkak, penghias kepalanya yang khas sebagai raja itu sudah tidak ada lagi dan rambutnya awut-awutan, ada rasa khawatir pula di dalam hatinya.

“Rakyatku, pasukanku, dengarlah!” Tiba-tiba terdengar suara Puteri Khamila, suaranya halus namun cukup nyaring sehingga terdengar oleh semua orang dan keadaan menjadi sunyi karena semua orang yang berada di bawah ingin sekali mendengar apa yang hendak dikatakan oleh bekas ratu ini.

“Kalian semua tentu masih ingat kepada putera tunggalku, putera tunggal mendiang Raja Sabutai yang kalian cinta, yaitu Pangeran Oguthai, bukan?”

Terdengar sorakan menyambut pertanyaan ini. Tentu saja tiada seorangpun di antara mereka yang tidak tahu siapa adanya Pangeran Oguthai yang pernah berkunjung bersama isteri dan puteranya, dan betapa pangeran yang sakti dan membuat semua orang bangga itu menolak ketika hendak diminta membantu pemerintahan Raja Agahai.

Puteri Khamita mengangkat kedua tangannya ke atas dan semua orangpun diamlah. Keadaan menjadi sunyi kembali, “Sekarang dengarlah baik-baik, rakyatku. Kalian tentu tahu betapa Agahai yang menjadi raja, telah menyalahgunakan kekuasaan, merampasi anak gadis dan isteri orang, mengejar kesenangan untuk dirinya sendiri tanpa mempedulikan rakyatnya. Lihat, betapa kita telah menjadi lemah dan yang lebih celaka lagi, Agahai tidak segan-segan untuk bertindak khianat dan curang. Aku yang menentang dan menasihatinya agar dia menghentikan penyelewengannya, telah dia tahan sebagai seorang penjahat! Akan tetapi, hal ini tidak menyakitkan hatiku. Yang lebih menyakitkan adalah bahwa dia telah menyuruh pasukan, bersekongkol dengan pasukan Beng dari selatan, untuk mengeroyok dan membunuh Pangeran Oguthai dan isterinya!”

Semua orang terkejut, baik yang pro maupun yang anti kepada Agahai. Tak disangkanya raja mereka itu melakukan hal yang kejam ini.

“Untung bahwa putera Pangeran Oguthai, yang pernah berkunjung ke sini ketika masih kecil, dapat lolos dari pengkhianatan itu. Dan kalian hendak tahu siapa pemuda ini? Dia inilah Ceng Thian Sin, putera tunggal Pangeran Oguthai! Dialah keturunan langsung dari mendiang Raja Sabutai!”

Puteri Khamila meneriakkan ucapan ini, walaupun bertentangan dengan suara hatinya. Hanya ia sendiri yang tahu bahwa Thian Sin sama sekali bukan keturunan Sabutai melainkan keturunah Kaisar Beng-tiauw!

Mendengar ini, semua orang bersorak-sorai! Kemudian Thian Sin yang maju dan dengan suara lantang, diapun berkata, “Saudara-saudara sekalian! Setelah mendengar keterangan Puteri Khamila yang menjadi nenekku, apakah masih ada yang membela Agahai lagi? Dia seorang raja lalim! Dia malah telah membunuh Koksu Torgan yang membantunya! Dan dia baru saja rmmbunuh selirnya yang berbangsa Biauw itu! Dan kedatanganku di sini selain untuk membalas kematian ayah bundaku, juga untuk menyelamatkan rakyat orang tuaku dari cengkeraman raja lalim macam Agahai ini! Nah, katakanlah, siapa yang hendak membelanya? Para panglima telah berpihak kepada kami dan istana telah kami duduki. Siapa hendak membelanya?”

Tidak ada yang menjawab. Semua orang maklum bahwa memang raja mereka itu tidak sebaik mendiang raja yang lalu, dan telah melakukan hal-hal yang membuat rakyat tidak puas dan membuat mereka menjadi bangsa lemah yang tersudut.

“Nah, kalau begitu, aku menyerahkan kepada kalian apa yang harus kita lakukan dengan Agahai yang telah membunuh ayahku Pangeran Oguthai, dan yang telah melakukan penindasan terhadap kalian. Apa yang harus kita lakukan?”

“Bunuh dia!”

“Bunuh Agahai raja lalim!”

“Jangan ampunkan dia!”

Teriakan itu makin lama makin banyak disusul oleh yang lain-lain dan akhirnya hampir semua di antara orang-orang itu berteriak-teriak untuk membunuh Agahai. Mendengar ini, menggigil seluruh tubuh Agahai dan habislah harapannya. Dan inilah yang dikehendeki oleh Thian Sin. Dia lalu mengangkat tubuh Agahai tinggi-tinggi dan terdengarlah suaranya yang lantang.

“Kalau begitu, kuserahkan kepada kalian! Terserah apa yang akan kalian lakukan dengan binatang busuk ini!” Dan sekali menggerakkan kedua lengang melayanglah tubuh Agahai ke bawah dan pada saat itu diapun membebaskan totokannya. Terdengar jerit mengerikan, jerit dari mulut Agahai yang tidak merasa ngeri karena melayang ke bawah melainkan ngeri melihat ratusan pasang tangan seperti cakar-cakar harimau hendak mengkoyak-koyak tubuhnya. Dan memang tubuhnya terkoyak-koyak ketika dia disambut oleh orang-orang yang mendendam kepadanya itu. Semua orang ingin memukulinya, menendangnya, menjambaknya sehingga akhirnya tubuhnya terkoyak-koyak habis, dan hanya darah dan potongan daging-daging saja yang tinggal setelah semua orang memuaskan nafsu dendam mereka terhadap raja lalim itu.

Bersama dengan tewasnya Agahai, tewas pulalah para pembantunya den para panglima yang dahulu memimpin pasukan dan ikut mengeroyok Pangeran Ceng Han Houw. Thian Sin menyaksikan sendiri hukuman pancung kepala terhadap pasukan dan komandannya itu, akan tetapi ketika para panglima yang setia kepadanya hendak menangkapi keluarga Agahai, Puteri Khamila melarangnya.

“Betapapun juga, Agahai adalah keluarga mendiang Raja Sabutai, dan karena hanya dia yang berdosa, maka biarlah keluarganya dibebaskan daripada hukuman.” Thian Sin tidak membantah keputusan neneknya ini, karena diapun sudah puas menyaksikan semua pengeroyok ayah bundanya telah dijatuhi hukuman mati.

Bahkan setelah tujuannya datang ke tempat ini telah terlaksana, yaitu membalas dendam atas kematian orang tuanya terhadap Raja Agahai, Thian Sin tidak ingin tinggal lebih lama lagi di tempat itu. Para menteri dan panglima yang tahu bahwa putera Pangeran Ceng Han Houw itu adalah seorang pemuda yang sakti, mengajukan usul kepada Puteri Khamlia agar pemuda itu dapat menjadi raja, menggantikan Agahai dan hal itu dianggap sudah sepatutnya dan sah karena walaupun pemuda itu mempunyai seorang ibu bangsa Han, namun dia adalah keturunan langsung dari Raja Sabutai. Tentu saja hanya Puteri Khamila yang tahu bahwa pemuda itu sama sekali tidak mempunyai darah Raja Sabutai sedikitpun juga! Namun usul ini amat berkenan di hati Sang Puteri, maka iapun mencoba untuk membujuk kepada Thian Sin untuk menerima usul itu. Akan tetapi, dengan tegas Thian Sin menolaknya, kemudian bahkan memperingatkan kepada para menteri agar mengangkat Ratu Khamila sebagai ibu suri dan juga sebagai pejabat raja sebelum memilih pengganti raja, dan kemudian menyerahkan kepada kebijaksanaan Ratu Khamila untuk memilih raja.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: