Pendekar Sadis (Jilid ke-50)

Inilah ciri dan penyalahgunaan kekuasaan dan hal ini terjadi semenjak jaman kuno sampai sekarang, di seluruh dunia. Kalau toh ada perbedaannya, maka perbedaan itu hanya terletak pada caranya saja. mungkin kasar, mungkin pula halus. Namun pada hakekatnya kekuasaan disalahgunakan untuk mencari kemuliaan diri sendiri, kemakmuran diri sendiri dan kesenangan diri sendiri. Karena kekuasaan merupakan senjata mutlak untuk memperoleh kesenangan, maka tidak mengherankan kalau seluruh manusia di dunia ini lalu memperebutkan kekuasaan, dan perebutan kekuasaan ini melahirkan permusuhan, dari permusuhan pribadi, sampai permusuhan golongan, antara saudara, antara suku sampai kepada antara bangsa dan negara! Setelah kita melihat dengan jelas bahwa kekuasaan itu merusak kehidupan, maka satu-satunya jalan bagi kita hanyalah melepaskan tangan dan tidak ikut memperebutkan kekuasaan lagi!

Para penjaga keamanan kota kini boleh tinggal, enak-enak dan bersenang-senang. Bahkan para perajurit penjaga tidak perlu lagi berkeliaran dari toko-toko untuk minta sumbangan karena mereka itu sudah dijamin oleh orang-orang Hwa-i Kai-pang! Betapapun juga, kini kota raja nampak aman dan tenteram dan Hwa-i Kai-pang seolah-olah menjadi semacam pasukan istimewa yang menjamin keamanan di dalam kota raja. Tentu saja hal ini hanya kelihatannya saja, karena banyak penghuni yang mengeluh dan merasa diperas dan ditekan oleh orang-orang berbaju kembang itu.

Pada suatu hari, di tanah lapang dekat dengan pasar sebelah selatan kota raja, banyak orang berkerumun dan kadang-kadang mereka itu bertepuk tangan dan bersorak memuji. Seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun bersama seorang gadis berusia tujuh belas tahun sedang membuka pertunjukkan silat untuk menarik perhatian orang-orang. Mereka adalah penjual-penjual koyo, yaitu obat luka, penyambung tulang dan obat memulihkan otot-otot yang keselio, juga menyembuhkan sakit pegal linu dan sebagainya. Permainan silat tukang obat itu, terutama sekali permainan silat puterinya yang manis menarik perhatian dan memancing tepuk tangan memuji tadi. Pada akhir pertunjukkan, Si Ayah membuka baju atasnya, kemudian dengan bertelanjang dada dan punggung, dia menghadap ke empat penjuru.

“Untuk membuktikan keampuhan koyo kami, biarlah saya akan memperlihatkan betapa koyo itu dapat menyembuhkan luka bekas pukulan dengan cepat.”

Puterinya mengambil sebatang toya kuningan, dan dengan toya ini, mulailah dara itu mengayun toya dan memukuli tubuh ayahnya, pada punggung dan dadanya. Nampak tanda-tanda matang biru pada dada dan punggung itu dan para penonton merasa ngeri juga. Biarpun pukulan-pukulan keras itu agaknya tidak sampai melukai sebelah dalam tubuh, namun jelas bahwa kulit punggung dan perut serta dadanya menjadi matang biru. Atas isyarat ayahnya, dara itu menghentikan pukulan-pukulannya dan tukang obat itu lalu berjalan berkeliling mendekati para penonton melihat keadaan kulit punggung dan dadanya itu dari dekat. Setelah itu, dibantu oleh puterinya dia lalu menempelkan koyo-koyo pada luka-luka itu. Sambil membiarkan koyo-koyo itu bekerja, kini si dara kembali memperlihatkan kemahirannya bermain toya. Toya yang dimainkan dengan cepat itu kelihatannya berubah menjadi banyak sekali, menyambar-nyambar di sekeliling tubuh si dara manis. Para penonton memuji dan bertepuk tangan.

Setelah dara itu menghentikan permainan silatnya, ayahnya lalu membuka koyo-koyo itu dan semua penonton kembali memuji karena memang benar sekali, warna biru-biru pada kulit dada dan punggung itu lenyap sudah.

“Cu-wi telah menyaksikan kemanjuran koyo ini! Cu-wi perlu menyediakan koyo seperti ini di rumah, untuk menjaga kalau-kalau cu-wi sendiri, atau anak-anak cu-wi, terjatuh dan terluka atau membengkak. Harganya murah saja karena koyo ini adalah buatan kami sendiri, maka cu-wi tidak dapat memperolehnya di toko-toko dan kami tidak setiap hari lewat di kota raja ini…”

Dara itu membawa baki terisi bungkusan koyo dan berjalan berkeliling. Banyak penonton yang membeli koyo, bukan hanya karena mereka sudah menyaksikan sendiri kemanjuran obat itu, melainkan juga karena kagum akan kemahiran ayah dan anak itu bersilat, dan karena dara yang manis itu memang menarik hati. Sebentar saja seluruh persediaan koyo itu telah habis dibeli orang! Dara itu menjadi girang dan berkali-kali ia menjura dan mengucapkan terima kasih sambil tersenyum manis, juga penjual koyo itu mengucapkan terima kasih kepada para pembeli.

“Cu-wi sekalian telah begitu baik hati untuk membantu kami membeli koyo kami sampai habis. Untuk kebaikan cu-wi ini, biarlah kami mainkan beberapa jurus ilmu silat lagi,” kata si tukang koyo.

Akan tetapi tiba-tiba para penonton itu mundur dan membuka jalan bagi dua orang pengemis baju kembang. Semua orang merasa khawatir karena biasanya kalau ada pengemis Hwa-i Kai-pang mencampuri sesuatu urusan, tentu akan timbul keributan. Mereka itu adalah dua orang pengemis yang usianya masih muda, baru tiga puluh tahun lebih dan melihat sikap mereka, jelas nampak bahwa mereka itu sudah biasa berbuat ugal-ugalan dan biasa pula ditakuti orang sehingga mereka memasuki lingkaran itu dengan tersenyum mengejek.

Seorang di antara mereka yang pipi sebelah kirinya ada bekas luka memanjang dari hidung ke telinga kiri, melangkah maju memasuki lingkaran itu dan menghampiri si penjual koyo yang memandang dengan heran karena dia sebagai orang luar tidak mengenal para pengemis Hwa-i Kai-pang, lalu berkata dengan suara galak, “Hei, tukang penjual koyo! Apakah engkau sudah mendapat ijin dari Hwa-i Kai-pang untuk berdagang di sini dan memamerkan sedikit kepandaian ilmu silatmu?”

Menerima pertanyaan yang kasar dan nadanya merendahkan ini, tukan obat yang sudah berpengalaman itu maklum bahwa pengemis-pengemis ini memang mau mencari keributan. Dia adalah seorang pendatang, seorang tamu, maka dia bersikap sabar.

“Maaf, karena tidak mengerti peraturan, maka kami membuka pertunjukan untuk menjual koyo guna menyambung biaya perjalanan kami.”

“Huh, enak saja bicara!” kata pengemis ke dua yang mukanya hitam dan kasar. “Siapapun juga, sebelum mendapatkan ijin dari pemerintah atau dari Hwa-i Kai-pang, tidak boleh sembarangan membuka pertunjukan di sini!”

“Kami telah terlanjur karena tidak tahu akan peraturan itu, harap maafkan. Lain kali kami akan minta ijin lebih dulu,” kata tukang penjual obat itu dengan sikap merendah.

“Mana ada aturan begitu? Sudah mengeduk uang baru minta maaf. Hayo serahkan setengah dari pendapatan kalian kepada kami, baru bisa bicara tentang maaf!” kata Si Muka Codet.

Tukan obat itu mengerutican alisnya, dan dara itu yang merasa penasaran sudah berkata dengan suara keras, “Mana bisa? Keuntungan kamipun tidak ada setengahnya, bagaimana dapat diminta setegahnya?”

“Aha, nona, siapa tidak tahu bahwa koyo kalian ini hanya terbuat dari tahi kerbau dan tanah lumpur? Kalian membuat koyo tanpa modal dan biarpun membayar kepada kami setengahnya sekalipun, kalian masih kebagian keuntungan yang cukup banyak!” kata Si Muka Hitam sambil tersenyum cengar-cengir secara kurang ajar sekali.

Mendengar ini, kemarahan tukang obat itu tak dapat ditahannya lagi, “Harap ji-wi tidak main-main. Kami ayah dan anak melakukan perjalanan merantau dan mengandalkan biaya perjalanan dengan menjual obat. Kami bukanlah pemeras-pemeras yang mengambil keuntungan terlalu banyak. Karena kami tidak mengenal peraturan di sini, maka kami telah melanggar dan harap ji-wi suka memaafkan. Biarlah kami memberi sekedar sumbangan kepada ji-wi.” Berkata demikian, tukang obat itu yang belum tahu dengan pengemis macam apa ia berhadapan, telah menyerahkan beberapa potong uang kecil kepada mereka.

“Plakk!” Si Codet menampar tangan itu sehingga beberapa potong uang kecil itu terlempar.

“Hemm, siapa main-main? Engkaulah yang main-main dan kurang ajar menghina kami, memberi kami beberapa potong uang kecil. Apa kaukira kami ini orang-orang kelaparan? Dan memang aku mau main-main, yaitu main-main dengan puterimu ini. Biarlah jumlah yang setengahnya dari uang pendapatan itu kauganti saja dengan puterimu ini yang harus melayani kami berdua selama satu malam. Akur, bukan?”

Inilah penghinaan yang sudah jauh melewati batas! Tukang obat itu adalah seorang kang-ouw yang banyak merantau di dunia kang-ouw, maka mendengar ucapan ini, tahulah dia bahwa yang bersembunyi di balik pakaian pengemis ini adalah orang-orang jahat yang bermoral bejat. Maka diapun melompat maju dan bertolak pinggang. “Sobat, aku orang she Liang bukanlah seorang pengecut yang tidak berani membela kehormatan dengan nyawa. Kalian sengaja hendak menghina kami, nah, majulah, jangan dikira aku takut berhadapan dengan penjahat-penjahat bertopeng pengemis macam kalian ini!”

Dua orang pengemis itu melotot. “Eh, monyet! Berani engkau menghina Hwa-i Kai-pang?” Sudah biasalah bagi orang-orang yang mengandalkan nama perkumpulan, sedikit-sedikit menyinggung kepada perkumpulannya di mana dia bersandar. “Apakah engkau sudah bosan hidup?” bentak Si Codet dan diapun sudah menyerang dengan pukulan keras ke arah muka tukang obat itu. Akan tetapi, tukang obat itu mengelak dan balas memukul ke arah lambung. Si Codet menangkis.

“Dukk…!” Dua lengan bertemu dan akibatnya mereka sama-sama terhuyung dan merasa lengan mereka nyeri. Ini menandakan bahwa tenaga kedua orang ini berimbang. Si Codet yang merasa sebagai jagoan dan selama ini di kota raja belum pernah ada orang berani menentangnya, merasa penasaran dan menyerang lagi dengan cepatnya. Seperti para anggauta Hwa-i Kai-pang lainnya, dia juga mengandalkan ilmu silatnya. Ta-houw Ciang-hoat (Ilmu Silat Memukul Harimau). Gerakannya memang dapat cepat sekali dan setiap pukulannya mengandung tenaga yang cukup kuat. Tukang obat itu harus mengeluarkan semua kepandaian untuk mengimbangi serangan-serangan lawannya yang ternyata tangguh itu. Mereka saling serang dan keadaan mereka seimbang, walaupun tukang obat itu merasa sibuk juga menghadapi ilmu silat yang lihai itu.

Melihat betapa temannya belum juga mampu mengalahkan Si Tukang Obat, Si Muka Hitam menyerbu ke depan. Akan tetapi, dara itu berseru marah. “Pengecut jangan main keroyok!” Dan iapun menerjang ke depan menyambut Si Muka Hitam. Karena maklum betapa lihainya para pengemis ini, tukang obat itu berseru kepada puterinya agar mundur.

“Cin-ji, mundurlah, biarkan aku menghadapi mereka!”

Akan tetapi, tentu saja dara itu tidak mau mundur dan dengan cepat ia sudah menyerang Si Muka Hitam yang melayaninya sambil tertawa-tawa. Dan memang benarlah, kepandaian dara itu masih terlampau rendah untuk menandingi Si Muka Hitam, apalagi ia kalah tenaga. Setiap tangkisan Si Muka Hitam itu, lengannya terasa nyeri sekali dan ia terhuyung. Akhirnya, sebuah tendangan dari Si Muka Hitam mengenai lutut dara itu yang membuatnya terpelanting roboh. Kakinya terkilir dan dara itu tidak dapat berdiri lagi.

“Ha-ha-ha, malam nanti kupijiti kakimu yang terkilir, manis!” kata Si Muka Hitam yang kini cepat membantu temannya menghadapi Si Tukang Obat yang sudah terdesak. Melawan Si Codet seorang saja, dia sudah terdesak, apalagi setelah Si Muka Hitam maju. Mulailah Si Tukang Obat menerima pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan yang membuatnya babak bundas dan jatuh bangun. Namun, dia masih terus melawan sungguhpun setiap kali dia bangkit, hanya untuk menjadikan dirinya menjadi bulan-bulanan tendangan dan pukulan belaka.

“Ha-ha-ha, nah cobalah sekarang obati luka-lukamu dengan koyo itu! Ha-ha-ha!” Si Muka Hitam tertawa-tawa.

“Hayo kau ikut bersama kami!” Si Codet maju dan menangkap lengan dara yang masih duduk di atas tanah karena kakinya terkilir dan ia tidak mampu bangkit berdiri. Ketika lengannya ditangkap, dara itu meronta-ronta sambil menangis. Akan tetapi, semua orang yang tadinya menjadi penonton, kini mundur dan tidak ada seorangpun yang berani melerai, apalagi menolong dara dan ayahnya itu.

Dunia sudah kacau, dunia sudah gila

binatang buas berkedok manusia

merajalela di kota raja seenaknya

tanpa ada yang berani merintanginya!”

Semua orang terheran-heran melihat seorang pemuda tampan berpakaian sasterawan, membawa kipas dan mengebut-ngebutkan kipas mengusir panas, membaca sajak dengan suara merdu, mendekati tempat dua orang pengemis Hwa-i Kai-pang itu bereaksi. Dua orang pengemis inipun melihat Si Pemuda dan mereka menjadi marah sekali.

“Heh, engkau inilah yang agaknya sudah gila. Hayo pergi, atau kupatahkan tulang-tulangmu bersama kipasmu!” bentak Si Muka Hitam yang sudah merasa lelah memukuli Si Tukang Obat dan kini agaknya hendak mencari sasaran lain untuk memamerkan kekuatannya.

Akan tetapi Thian Sin, pemuda itu, tidak mempedulikan Si Muka Hitam, melainkan menghampiri dara yang sudah dilepaskan oleh Si Codet yang kini juga memandang marah kepada Thian Sin yang dianggapnya mencampuri urusannya. Thian Sin tidak mempedulikan dua orang pengemis itu, melainkan menggunakan kipasnya yang ditutup untuk menotok ke arah kaki kiri dara itu.

“Tuk-tukk!” Dua kali dia menotok dan dara itu merasa betapa kakinya sembuh kembali! Maka cepat iapun bangkit berdiri dan memandang heran kepada pemuda itu.

Thian Sin menjura kepada dara itu. “Nona, dua ekor anjing belang ini telah memukuli ayahmu dan bersikap kurang ajar kepadamu, mengapa engkau diam saja, nona. Engkau adalah seorang gadis yang pandai ilmu silat, mengapa dihina orang diam saja? Hayo kauhajar dua ekor anjing belang yang kurang ajar ini!” Berkata demikian, tanpa dilihat orang lain, Thian Sin mengedip kepada dara itu. Entah apa yang menyebabkan dara itu seketika menjadi percaya sekali kepada Thian Sin. Mungkin melihat sikap aneh dari pemuda ini, dan mungkin pula melihat betapa dongan totokan kipasnya saja pemuda itu sudah mampu membuat kakinya yang terkilir menjadi sembuh kembali. Akan tetapi dara itu sudah meloncat ke depan menyerang kepada pengemis muka codet.

“Cin-ji… hati-hati…!” Ayahnya yang babak-belur itu memperingatkan karena dia tahu bahwa puterinya itu sama sekali bukan tandingan pengemis-pengemis yang lihai itu. Akan tetapi betapa kaget hatinya melihat betapa pukulan tangan dara itu dengan tepat mengenai leher pengemis muka codet.

“Plakkk!” Pukulan itu cukup keras sehingga kepala Si Codet itu sampai miring dan tubuhnya terhuyung ke belakang.

“Bagus nona! Itu aniing belang muka hitam minta bagian!” seru Thian Sin dengan suara gembira. Semua orang yang melihat peristiwa ini menjadi terheran-heran, juga tukang obat sendiri. Kini, mendapatkan semangat baru karena hasil pukulannya tadi dan mendengar dorongan pemuda sasterawan, dara itu menyerang dengan tendagan kaki ke arah perut Si Muka Hitam.

“Desss…!” Si Muka Hitam terjengkang dengan mata terbelalak dan muka merah, memegangi bagian perutnya yang tertendang karena terasa nyeri. Si Codet dan Si Muka Hitam sudah bangkit lagi, mata mereka terbelalak karena tanpa ada yang tahu, mereka tadi tentu saja tidak membiarkan dirinya ditampar dan ditendang oleh nona itu, akan tetapi sungguh luar biasa, setiap kali mereka hendak menggerakkan tangan atau kaki untuk menangkis atau mengelak, tubuh mereka mogok dan tidak dapat digerakkan sehingga tentu saja pukulan dan tendangan gadis itu selalu tepat mengenai sasaran dan tubuh mereka terpelanting atau terhuyung, mereka mampu bergerak lagi!

Dara itu menjadi gembira bukan main melihat betapa setiap pukulan dan tendangannya mengenai sasaran. Maka dia terus menyerang kedua orang pengemis itu bergantian, dengan tamparan-tamparan dan tendangan-tendangan sekuatnya. Akibatnya, tubuh kedua orang pengemis itu iatuh bangun seperti ketika ayahnya dihajar tadi.

Sementara itu, tentu saja semua itu disebabkan oleh Thian Sin yang mempergunakan kepandaiannya sehingga kedua orang pengemis itu tidak berdaya. Dan mulutnya terus memberi anjuran kepada dara itu, “Terus, nona. Hantam terus! Atau lebih baik gunakan kaki saja. Mereka itu tidak pantas bersentuhan dengan tanganmu, lebih baik gunakan sepatu menghajar muka mereka!”

Dan dara itu pun menurut. Agaknya Thian Sin melihat bahwa dara itu memiliki ilmu tendangan yang baik sekali, maka dia memberi anjuran demikian. Dan kini, orang-orang melihat betapa kedua kaki dara itu bergantian menyambar-nyambar dan setiap kali menyambar, tentu mengenai muka kedua orang pengemis sehingga hidung dan mulut mereka berlumuran darah! Dua orans pengemis itu kini mencabut pedang masing-masing. Akin tetapi, tetap saja setiap kali tendangan tiba, mereka tidak mampu bergerak dan akhirnya, setelah muka mereka bengkak-bengkak dan berdarah, keduanya lari meninggalkan tempat itu.

“Heiii, ini pedang kalian tertinggal!” Thian Sin berseru dan mengambil dua batang pedang mereka yang memang tadi terlepas dari pegangan dan mereka tinggalkan. Sekali mengayun tangannya, Thian Sin melepaskan dua batang pedang itu yang menyambar seperti dua batang anak panah ke arah dua orang pengemis itu.

Terdengar dua orang pengemis itu menjerit dan mendekap telinga kiri mereka yang telah buntung disambar pedang mereka sendiri dan kini mereka melarikan diri seperti dikejar setan saking merasa ngeri takutnya!

Thian Sin cepat menghampiri tukang obat. “Paman, cepat kau ajak puterimu keluar dari kota ini. Cepat sebelum mereka ini datang. Biarkan aku menghadapi mereka!”

Tukang obat itu tadi telah maklum bahwa pemuda inilah yang membantunya, dan diapun dapat menduga bahwa pemuda ini adalah seorang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian hebat sekali. Maka diapun memberi hormat dan mengajak puterinya berlutut di depan Thian Sin.

“Taihiap telah menolong kami, mohon tahu siapa nama taihiap yang mulia.”

Thian Sin tersenyum dan membangkitkan mereka, “Bangunlah dan pertilah cepat. Namaku, tidak ada artinya, kelak kalian akan tahu sendiri. Sudahlah, paman. Pergilah cepat kalau paman ingin melihat puterimu selamat.”

Tukang obat itu kembali menghaturkan terima kasih, kemudian membawa barang-barang mereka dan pergi bersama puterinya yang merasa berterima kasih dan kagum sekali kepada Thian Sin. Pemuda ini tidak pergi, malah duduk di atas tanah dengan tenang. Melihat ini, orang-orang yang merasa takut akan pembalasan para pengemis, sudah meninggalkan tempat itu, takut terbawa-bawa. Dan beberapa orang memberi nasihat kepadanya agar cepat pergi. Akan tetapi pemuda itu menggeleng kepala dan tertawa. “Aku memang menanti mereka,” katanya seenaknya lalu pemuda ini bernyanyi-nyanyi gembira. Orang-orang menjadi semakin khawatir, akan tetapi karena takut tersangkut, akhirnya mereka pergi dan hanya berani nonton dari jarak jauh saja.

Tak lama kemudian, muncul lima orang pengemis yang usianya kurang lebih lima puluh tahun bersama Si Muka Hitam yang kepalanya sudah dibalut dan telinganya yang buntung tertutup kain pembalut. Si Muka Hitam tidak bicara hanya menuding ke arah Thian Sin. Lima orang pengemis itu meloncat dengan gerakan ringan sekali dan mereka telah berdiri mengepung Thian Sin. Sikap mereka itu hati-hati sekali dan dari gerakan mereka tahulah Thian Sin bahwa kepandaian mereka jauh lebih tinggi daripada tingkat dua orang pengemis yang dihajarnya melalui kaki nona penjual koyo tadi. Akan tetapi dia masih enak-enak saja, tersenyum-senyum memandang kepada mereka.

“Inikah manusianya yang berani menghina anggauta Hwa-i Kai-pang?” bentak seorang di antara mereka.

“Manusia bosan hidup!” teriak yang ke dua.

“Bocah setan, hayo mengaku siapa namamu sebelum kami mengantarkanmu ke neraka jahanam!” tertak orang ke tiga.

Thian Sin masih berdiri sambil tersenyum, menurunkan kedua tangannya yang tadi bertolak pinggang dan kini dia menggerak-gerakkan kedua tangannya sambil menengadah dan bersajak dengan suara merdu, kepalanya juga bergerak-gerak menurutkan irama kata demi kata yang keluar dari mulutnya.

Yang lemas mengalahkan yang kaku,

yang halus mengalahkan yang kasar,

yang lunak mengalahkan yang keras,

yang lemah mengalahkan yang kuat?

Siapa bilang?

Hwa-i Kai-pang menyalahgunakan kekuatan

yang macam ini harus dihadapi

dengan kaku, kasar, keras, kuat

dan berani!”

Lima orang itu menjadi marah sekali, akan tetapi juga terheran-heran melihat ada seorang pemuda yang begini berani menantang Hwa-i Kai-pang di kota raja! Baru mengingat akan kekuasaan dan pengaruh Hwa-i Kai-pang sudah membuat partai-partai persilatan besar tidak berani bersikap sembarangan, apalagi hanya seorang manusia saja. Belum lagi diingat bahwa perkumpulan ini dilindungi oleh pemerintah sehingga menentang Hwa-i Kai-pang bisa berhadapan dengan pasukan keamanan pemerintah!

“HAYO mengaku siapa namamu agar engkau tidak mampus sebagai manusia tanpa nama!”

“Huh, manusia ini agaknya sudah gila dan tidak berani mengakui nama sendiri!”

Thian Sin tersenyum, lalu menjawab dengan suara tetap merdu seperti orang bernyanyi.

Namaku memang tidak berharga

namun kalian anjing-anjing hina

terlampau rendah untuk mengenalya!”

Inilah penghinaan yang sudah dianggap keterlaluan oleh lima orang pengemis itu. Mereka itu adalah lima orang anggauta Hwa-i Kai-pang yang tingkatnya sudah cukup tinggi, yaitu anggauta tingkat tiga yang sudah merupakan pengurus-pengurus perkumpulan itu. Bukan hanya itu saja, juga mereka ini telah menjadi satu pasukan yang disegani dalam Hwa-i Kai-pang, yaitu Ngo-lian-tin (Barisan Lima Teratai). Di dalam Hwa-i Kai-pang, selain terdapat ilmu silat tongkat yang merupakan inti dari ilmu tongkat para pimpinan perkumpulan itu, yaitu yang dinamakan Ta-houw Sin-pang (Ilmu Tongkat Sakti Memukul Harimau) yang juga dapat diubah menjadi Sin-ciang (Tangan Sakti), juga terdapat semacam ilmu tongkat yang bernama Ngo-lian Pang-hoat (Ilmu Tongkat Lima Teratai). Para pengurus Hwa-i Kai-pang semua menguasai Ilmu Tongkat Lima Teratai ini, akan tetapi hanya mulai dari tingkat tiga sajalah yang mampu mempergunakan ilmu tongkat itu untuk membentuk Ngo-lian-tin, yaitu semacam barisan atau kerja sama dari lima orang yang mempergunakan Ngo-lian Pang-hoat untuk mengeroyok lawan dengan kerja sama yang amat teratur, baik dan tangguh sekali.

Mendengar penghinaan Thian Sin yang memaki mereka sebagai anjing-anjing hina yang terlampau rendah untuk mengenal namanya, lima orang itu tak dapat menahan kemarahan mereka lagi. Tongkat di tangan mereka bergerak disusul gerakan tubuh mereka dan dengan gerakan indah namun gagah sekali mereka itu telah mengepung Thian Sin dari lima jurusan, dengan tongkat yang digerakkan secara berantai dan saling “mengisi” sehingga merupakan kekuatan yang dahsyat. Namun, Thian Sin masih tersenyum saja. Hatinya gembira bukan main bahwa akhirnya dia dapat berhadapan dengan orang-orang Hwa-i Kai-pang. Sebetulnya, dia tidak mempunyai urusan dengan Hwa-i Kai-pang dan yang dicarinya adalah dua orang tokoh besarnya yang kini menjadi ketuanya. Akan tetapi mengingat bahwa mereka ini adalah anak buah dari dua orang tokoh Hwa-i Kai-pang yang menjadi musuhnya itu, maka hatinya gembira untuk melayani mereka.

“Mari, mari, ingin kulihat bagaimana kalian membadut dengan tongkat-tongkat butut itu!” katanya dengan nada penuh ejekan.

Tiba-tiba lima orang itu mengeluarkan seruan keras dan tongkat mereka sudah menyambar, menusuk dari lima penjuru. Gerakan mereka memang cepat dan kuat, dan yang diserang adalah bagian-bagian tubuh yang berbahaya dan cara menyerangnya juga bertubi-tubi, susul-menyusul sehingga merupakan kerjasama yang baik dan serangan itu amatlah berbahaya bagi lawan. Thian Sin maklum akan hal ini, akan tetapi karena dia hendak mempermainkan mereka, diapun mempergunakan kegesitannya, mengelak dan menangkis setiap tusukan tanpa berusaha merusak tongkat mereka, bahkan dia memperlihatkan diri seperti orang terdesak. Tiba-tiba tongkat-tongkat yang luput menusuk tubuhnya itu membuat gerakan aneh dan tahu-tahu lima batang tongkat itu telah membentuk sebuah kurungan yang menghadangnya dan menutup semua jalan keluarnya, karena tongkat-tongkat itu malang-melintang saling tindih dan saling sambung membuat sebuah ruang di tengah-tengah di mana Thian Sin berdiri. Pemuda itu seolah-olah telah terkurung atau tertangkap oleh lima batang tongkat itu! Thian Sin menekan tongkat-tongkat itu dan meloncat ke atas, akan tetapi tongkat-tongkat itu melayang mengikutinya dan tahu-tahu seperti hendak “meringkus” kedua kakinya. Melihat ini, Thian Sin berjungkir-balik, menghalau tongkat-tongkat itu dengan kedua tangan dan meminjam tenaga mereka untuk meloncat lagi ke depan, sehingga dia terlepas dari kepungan tongkat. Akan tetapi, lima orang itu bergerak cepat, berloncatan lagi dan tahu-tahu dia telah terkurung lagi!

Diam-diam Thian Sin merasa kagum. Memang indah sekali dan juga tangguh sekali gerakan dari Ngo-lian-tin ini, dan tongkat mereka ini memang sudah mencapai tingkat yang cukup kuat sehingga jago-jago silat biasa saja jangan harap akan mampu melawan mereka. Bahkan pendekar yang sudah pandaipun akan bingung menghadapi kepungan tongkat-tongkat yang dapat bergerak otomatis dan amat rapi bekerja sama ini. Ketika kembali dia terkepung oleh tongkat-tongkat yang saling tindih itu, dia mengangkat kedua tangannya ke atas.

“Hei, jembel-jembel busuk. Aku muak dengan main-main ini. Dengarlah, aku akan menyerah asal kalian membawaku menghadap ketua kalian!”

“Menghadap ketua kami sebagai mayat!” bentak seorang di antara mereka dan tanpa merusak “kurungan” itu, dia sudah menarik tongkatnya dan menggunakan tongkatnya menusuk ke arah pusar pemuda itu yang nampaknya sudah terkurung dan tidak mampu bergerak lagi.

Thian Sin tersenyum dan mendiamkan saja bawah perutnya ditusuk. Dia hanya menurunkan sedikit tubuhnya dan menerima tusukan tongkat itu dengan perutnya sambil mengerahkan sedikit tenaga.

“Krekkk!” Dan tongkat yang bertemu dengan perutnya itupun patah-patah menjadi tiga potong saking kerasnya pengemis yang memegangnya tadi menusuk. Terkejutlah pengemis itu, juga empat orang kawannya. Mereka menarik tongkat masing-masing dan kini kembali mereka menyerang, ada yang memukul kepala, ada yang menusukkan tongkatnya, semua itu dilakukan dengan beruntun, juga pengemis yang kehilangan tongkatnya itu menerjang dengan pukulan tangannya.

Terdengar suara keras patahnya tongkat-tongkat itu dan ternyata empat batang tongkat itu semua patah-patah, sedangkan pengemis yang menghantamkan tangannyapun berteriak kesakitan karena tulang jari tangannya juga patah! Kini mereka berlima yang masih berdiri mengepung Thian Sin memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak. Pemuda itu tersenyum tenang.

“Bagaimana? Apakah kalian masih belum puas dan hendak main-main terus? Ataukah mau membawaku menghadap ketua kalian sebagai tawanan?”

Lima orang pengemis itu bukanlah orang-orang bodoh. Mereka sudah tahu bahwa sesungguhnya pemuda ini adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian hebat sekali. Kekalahan mereka merupakan tamparan bagi mereka, maka kalau mereka dapat membawa pemuda ini sebagai tawanan, hal itu bukan hanya berarti menebus kekalahan yang memalukan itu, akan tetapi juga mereka tidak akan mendapat kemarahan dari ketua mereka. Dan bertapapun lihainya pemuda ini, kalau sudah berhadapan dengan dua orang ketua mereka, akan dapat berbuat apakah?

“Sebagai tawanan katamu? Jadi engkau mau untuk kami tangkap, kami ikat dan kami bawa kepada ketua kami?” tanya pengemis berhidung pesek yang agaknya menjadi pemimpin mereka berlima.

Thian Sin berpikir bahwa agaknya tidak akan mudah baginya untuk bertemu dengan dua orang musuh besarnya itu. Biarpun dia dapat memancingnya, namun yang akan keluar tentulah para pembantunya dan dua orang itu sebagai orang yang berkedudukan tinggi, ketua Hwa-i Kai-pang yang agaknya telah menjadi perkumpulan yang besar dan berpengaruh sekali di kota raja, agaknya tidak akan sembarangan keluar dari sarang dan untuk mencari mereka ke sarang merekapun bukan merupakan hal mudah karena menurut penyelidikannya, kai-pang itu kini dekat dengan pemerintah dan tentu saja akan bisa memperoleh bantuan pasukan penjaga, dan kalau sudah demikian, akan semakin sukarlah baginya untuk dapat berhadapan dengan mereka. Maka diapun mengambil keputusan cepat.

“Baik, kau boleh, bawa aku sebagai tawanan, boleh mengikat kedua tanganku kalau perlu,” jawabnya. Lima orang pengemis itu menjadi girang. Mereka lalu mempergunakan tali yang kuat untuk mengikat kedua pergelangan Thian Sin ke belakang tubuhnya. Baru saja ikatan yang amat kuat itu selesai, Thian Sin sudah berkata.

“Akan tetapi, jangan kalian main-main. Lihat, aku akan dapat melepaskan diri dengan mudah kalau kalian main gila.” Dan sekali dia menggerakkan kedua tangan… ternyata kedua tangannya itu telah terlepas dari ikatan tali tanpa membuat tali itu putus! Tali itu jatuh ke atas tanah begitu saja. Tentu saja lima orang pengemis itu terkejut bukan main dan muka mereka menjadi pucat sekali. Mereka tidak tahu bahwa pemuda ini tadi telah mempergunakan kekuatan sihirnya sehingga biarpun mereka merasa telah membelenggu kedua tangan itu, sebenarnya kedua tangan pemuda itu sama sekali tidak terikat, maka dentan mudah Thian Sin dapat membebaskan kedua tangannya. Bagi pemuda ini diikat atau tidak sama saja karena biarpun kedua tangannya terikat secara sungguh-sungguh sekalipun, dengan mudah dia akan dapat membikin putus tali-tali itu.

“Tidak… kami tidak main-main…” kata Si Hidung Pesek.

“Nah, ikatlah lagi baik-baik kalau begitu dan antar aku menemui ketua kalian.”

Lima orang pehgemis itu lalu mengikat lagi kedua pergelangan tangan Thian Sin ke belakang tubuhnya, kemudian pemuda ini lalu mereka giring menuju ke sarang mereka. Di sepanjang perjalanan, banyak orang menonton iring-iringan ini. Tidak aneh melihat orang-orang Hwa-i Kai-pang menganiaya orang. Akan tetapi sekali ini lain. Pemuda itu tidak kelihatan berduka atau ketakutan. Sebaliknya malah, lima orang pengemis yang menggiringnya itu, yang oleh banyak orang terkenal sebagai tokoh-tokoh tinggi Hwa-i Kai-pang, berjalan di depan dan belakang pemuda itu dengan wajah muram dan pendiam, nampak serius sekali, sedangkan si pemuda yang menjadi tawanan mereka itu tersenyum-senyum, bahkan kelihatan bernyanyi-nyanyi kecil! Tentu saja hal ini membuat semua orang menjadi terheran-heran dan ada yang mengira bahwa pemuda tampan yang berpakaian mewah itu tentu telah menjadi gila!

Tempat yang menjadi pusat atau sarang Hwa-i Kai-pang sekarang jauh berbeda dengan dahulu sebelum perkumpulan pengemis itu dekat dengan kekuasaan kaisar. Tempat itu berada di luar pintu gerbang sebelah timur, merupakan bangunan yang cukup besar, terdiri dari rumah-rumah kecil mengelilingi bangunan besar yang menjadi tempat tinggal dua orang ketua mereka. Dan di sekeliling perumahan itu terdapat pagar tembok yang tinggi dan tebal, seperti keadaan sebuah benteng saja. Pintu tembok itupun tebal dan dijaga ketat oleh pengemis-pengemis yang lagaknya seperti penjaga di pintu gerbang istana saja, setiap orang pengemis memegang sebuah tongkat.

Diam-diam Thian Sin merasa girang bahwa dia telah mempergunakan siasat membiarkan dirinya ditawan ini. Harus diakuinya bahwa biarpun dengan mudah dia akan dapat melewati tembok itu dan menyerbu ke dalam, namun belum tentu dia akan bisa mencari dua orang ketua itu kalau mereka menyembunyikan diri atau melarikan diri. Dengan akainya yang sekarang, dia malah akan dibawa menghadap mereka, jadi dia tidak perlu mencari lagi! Jantungnya berdebar tegang ketika dia dibawa melalui lorong di mana terdapat pengemis-pengemis yang berjaga-jaga.

Beberapa orang pengemis tua memandang heran dan ada yang bertanya kepada lima orang tokoh pengemis yang menangkap pemuda itw. Mereka menjawab dengan singkat bahwa pemuda itu adalah tawanan mereka yang hendak mereka hadapkan kepada ketua. Jawaban ini saja sudah dapat dimengerti oleh para rekan mereka itu bahwa tangkapan itu adalah orang penting maka harus dihadapkan dengan ketua sendiri. Betapapun juga, para tokoh Hwa-i Kai-pang dari tingkat tiga ke atas menjadi tertarik dan merekapun ikut pula mengawal pemuda itu memasuki bangunan besar untuk menghadap ketua. Mereka semua ingin mendengar dan melihat karena mereka dapat menduga bahwa pemuda itu tentulah orang yang penting maka oleh lima orang rekan itu dibawa menghadap ketua.

Pada waktu itu, Hwa-i Kai-pang merupakan perkumpulan yang kuat. Para anggauta pimpinan terdiri dari dua orang ketuanya, para murid tingkat dua yang jumlahnya ada enam orang, yaitu murid-murid kepala yang digembleng oleb dua orang ketua itu sendiri, lalu lima belas orang murid yang ilmu silatnya lebih rendah daripada murid-murid kepala, akan tetapi lima belas orang murid tingkat tiga ini telah membentuk Ngo-heng-tin yang tangguh dan biasanya merupakan inti kekuatan Hwa-i Kai-pang kalau menanggulangi urusan yang memerlukan kekerasan. Kini, melihat adanya seorang pemuda yang tampan dan kelihatan gagah menjadi tawanan dan diajukan kepada ketua, hal yang jarang terjadi, semua murid tingkat dua dan tiga yang kebetulan berada di tempat itu segera berkumpul dan ikut pula menghadap. Tentu saja murid-murid lain yang lebih rendah tingkatnya tidak berani ikut memasuki ruangan di mana terdapat ketua mereka. Murid-murid tingkat rendah ini tidak berani menghadap tanpa dipanggil. Pada waktu itu, yang kebetulan berada di sarang ada tiga orang murid tingkat dua dan sepuluh orang murid tingkat tiga, atau dua Ngo-lian-tin berikut yang menawan Thian Sin.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: