Pendekar Sadis (Jilid ke-53)

Pek-lian-kauw selalu menghasut di dusun-dusun, rakyat miskin dengan mengatakan betapa rakyat sengsara hidupnya, ditindas, dan menonjolkan pula, betapa mewahnya kehidupan orang-orang kaya dan pembesar-pembesar yang korup di kota-kota dan kota raja. Dengan perbandingan-perbandingan yang menyolok ini, yang ditambahi pula bumbu-bumbu, Pek-lian-kauw menghasut rakyat jelata untuk menentang, untuk memberontak terhadap orang kaya, terhadap pembesar, terhadap pemerintah. Kemiskinan rakyat merupakan sumber pertumbuhan perkumpulan semacam Pek-lian-kauw itulah. Rakyat yang kecewa atau tidak puas akan keadaan hidupnya, merupakan makanan empuk bagi perkumpulan semacam itu, mudah dihasut.

Oleh karena itu, mengejar-ngejar Pek-lian-kauw, membasminya dengan kekuatan senjata, sama saja dengan membabat rumput pada daunnya saja. Karena akarnya masih, maka dalam waktu singkat saja rumput-rumput itu akan tumbuh lagi, bahkan lebih subur mungkin. Sebuah pemerintahan yang baik, di bawah bimbingan pemimpin-pemimpin yang bijaksana, tentu akan lebih mempelajari sebabnya daripada terkecoh oleh akibatnya, tentu akan lebih memperhatikan akarnya daripada mengacuhkan rumputnya.

Sebabnya atau akarnya terletak kepada kesengsaraan atau kemelaratan rakyat jelata. Kalau pemerintah memperhatikan keadaan kehidupan rakyat jelata, di dusun-dusun, di gunung-gunung, kalau pemerintah dapat meningkatkan kehidupan mereka yang miskin dengan pendapatan yang memadai, sehingga semua rakyat dapat memperoleh sandang pangan papan yang layak, kalau perbedaan antara si kaya dan si miskin tidak begitu menyolok, kalau semua pejabat yang memeras dan korupsi diberantas dan diganti orang-orang yang bijaksana, maka rakyat akan hidup tenteram, tenang dan tidak kecewa. Nah, kalau sudah begini, maka tanpa diberantaspun, perkumpulan-perkumpulan macam Pek-lian-kauw itu akan mati sendiri. Rakyat tentu akan terbuka matanya bahwa perkumpulan semacam itu hanya menghasut belaka untuk mempergunakan kekuatan mereka, kekuatan rakyat, untuk memberontak dan mengambil alih kekuasaan, atau lebih jelas lagi perkumpulan itu hendak mempergunakan kekuatan rakyat untuk merebut kedudukan, demi kepentingan beberapa gelintir pemimpin perkumpulan itu sendiri tentu saja. Dan rakyat tentu akan menentangnya.

Tok-ciang Sian-jin Ciu Hek Lam adalah seorang tokoh besar yang memiliki ilmu kepandalan tinggi. Akan tetapi semenjak Jeng-hwa-pang diserbu oleh putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw yang kemudian dibantu oleh keturunan Cin-ling-pai, dia merasa tidak aman hidupnya. Dia masih merasa ngeri kalau membayangkan kelihaian putera Pangeran Ceng Han Houw itu. Dan diapun mengerti bahwa pemuda yang mengandung sakit hati atas kematian ayah bundanya itu tentu akhirnya akan mencarinya. Maka larilah dia, setelah Jeng-hwa-pang dibasmi, ke kota raja di mana dia mempunyai banyak sahabat dan dapat menyembunyikan dirinya. Beberapa tahun lamanya tidak ada orang mencarinya maka dia mulai merasa tenang.

Akan tetapi, kemudian terdengar munculnya seorang pemuda yang dijuluki Pendekar Sadis karena kekejamannya membasmi orang-orang jahat. Tok-ciang Sian-jin teringat kepada Thian Sin, putera Ceng Han Houw itu, dan dia sudah dapat menduga bahwa agaknya Pendekar Sadis adalah Ceng Thian Sin putera pangeran yang pernah menggegerkan dunia persilatan sebagai jagoan nomor satu itu! Dan diapun menjadi panik dan ketakutan, apalagi ketika dia mendengar bahwa Hwa-i Kai-pang telah diobrak-abrik oleh Pendekar Sadis, bahkan Lo-thian Sin-kai dan Hek-bin Mo-kai juga telah dibunuhnya secara mengerikan. Makin yakinlah hatinya bahwa pemuda itu tentulah Ceng Thian Sin dan diapun tahu bahwa pemuda itu tentu akan mencarinya, tentu tahu pada akhirnya bahwa diapun menjadi satu di antara pengeroyok dan pembunuh Pangeran Ceng Han Houw.

Tok-ciang Sian-jin merasa tidak aman lagi tinggal di kota raja dan diapun lari ke satu-satunya tempat yang dirasanya aman baginya, yaitu ke sarang Pek-lian-kauw. Memang sudah lama dia mempunyai hubungan baik dengan Pek-lian-kauw. Setelah dia menempati sebuah pondok di dalam komplek sarang Pek-lian-kauw dan beberapa oreng tokoh Pek-lian-kauw yang cukup lihai sebagai teman, hatinya menjadi tenteram juga. Betapapun juga putera Sang Pangeran Ceng Han Houw yang diduganya tentulah Si Pendekar Sadis itu hanya seorang diri saja, maka dengan bantuan Pek-lian-kauw, bukan saja dia akan mampu menandingi Pendekar Sadis, bahkan kalau pemuda itu berani muncul, dia tentu akan berusaha agar pendekar itu dikeroyok dan tewas seperti mendiang ayahnya.

Sarang Pek-lian?kauw yang berada di lereng Pegunungan Tai-hang-san dan tidak jauh dari daerah kota raja itu memang merupakan tempat yang amat baik bagi perkumpulan ini. Dan agaknya untuk tidak menarik perhatian pemerintah, maka perkumpulan itu tidak mendirikan sebuah benteng, melainkan mempergunakan sebuah dusun untuk menjadi sarang mereka. Mereka mendirikan rumah-rumah di antara penduduk dusun, dan ada pula yang mendirikan rumah-rumah di hutan-hutan tepi dusun itu, akan tetapi di antara rumah-rumah ini terdapat hubungan rahasia dan setiap saat tempat itu terjaga oleh anak buah Pek-lian-kauw yang bersembunyi di tempat-tempat rahasia. Para penduduk dusun Tiong-king itupun kesemuanya telah dipengaruhi dan biarpun mereka masih merupakan penduduk dusun biasa, namun sesungguhnya mereka itu telah menjadi anggauta-anggauta yang setia dari Pek-lian-kauw yang menjanjikan perbaikan nasib bagi mereka kalau kelak “perjuangan” Pek-lian-kauw berhasil.

Pada suatu pagi, seorang wanita yang manis memasuki perkampungan Pek-lian-kauw itu dan karena ia membawa kulit harimau dan mengatakan bahwa wanita itu adalah isteri mendiang Hok-houw-kwi (Setan Penakluk Harimau), yaitu pemburu yang biasa menjual kulit harimau dan ular besar kepada para pimpinan Pek-lian-kauw, maka ia diterima tanpa banyak kecurigaan. Bahkan Kim Lan yang membawa dua gulung kulit harimau itu segera dibawa menghadap kepada Thian Hwa Lo-su, yaitu kakek yang pada waktu itu menjadi pemimpin atau ketua cabang Pek-lian-kauw di daerah itu. Adapun pusat Pek-lian-kauw masih berada di selatan, di Propinsi Hok-kian. Thian-hwa Lo-su ini adalah seorang sahabat baik dari Tok-ciang Sian-jin, dan dia memimpin Pek-lian-kauw cabang daerah itu dengan bantuan lima orang sutenya. Dengan hadirnya Tok-ciang Sian-jin di tempat itu, tentu saja dia merasa gembira dan berarti memperoleh tenaga yang boleh diandalkan, yang akan membuat Pek-lian-kauw cabang daerah itu menjadi semakin kuat.

Pada waktu itu, Thian-hwa Lo-su sedang bersama lima orang sutenya dan juga Tok-ciang Sian-jin hadir pula. Mereka sedang menerima kunjungan seorang tokoh Pek-lian-kauw dari Hok-kian. Tokoh ini adalah seorang tosu Pek-lian-kauw yang bernama Giok-lian-cu, seorang tosu tinggi kurus yang mukanya seperti tikus akan tetapi matanya amat berwibawa dan memang tokoh ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi di samping ilmu sihir yang cukup kuat. Giok-lian-cu ini datang membawa pesan dari para pimpinan Pek-lian-kauw pusat untuk memperingatkan para pengurus cabang bahwa mereka itu kurang tekun berusaha menarik dukungan rakyat.

“Bagaimana dapat dikatakan kami kurang berusaha?” Thian-hwa Lo-su membantah. “Kami setiap hari sudah membujuk dan menghibur rakyat di dusun-dusun, dan sudah banyak yang menjadi pengikut kami. Seperti di dusun Tiong-king ini, dari anak-anak sampai kakek-kakek, laki-laki maupun wanita, semua mendukung gerakan kita!” Dia merasa agak penasaran kalau dikatakan bahwa para pimpinan cabang kurang giat atau rukun bekerja.

“Siancai… harap Lo-heng jangan salah mengerti dan dapat menyelami apa yang dimaksudkan para pimpinan kita,” kata Giok-lian-cu sambil tersenyum. Kalau tersenyum, mukanya semakin mirip dengan muka tikus karena bentuk muka itu memang meruncing dan panjang, sedangkan muka itu dicukur licin, hanya disisakan beberapa helai kumis jarang. “Coba Lo-heng jawab, selain berusaha membujuk dan mengambil hati rakyat dengan janji-janji muluk, apakah juga kawan-kawan di daerah ini berusaha untuk mencegah dan menghalangi adanya kemakmuran rakyat? Apakah ada usaha untuk mengacaukan pembagian air sawah, merusak tanaman, meracuni sungai-sungai agar ikan-ikan banyak mati, juga mengadakan kekacauan-kekacauan berselubung sehingga rakyat hidup dalam kekurangan, kelaparan dan kegelisahan?”

Para pimpinan Pek-lian-kauw daerah itu terbelalak. Selama mereka menerima “gemblengan” di pusat belum pernah mereka mendengar akan usaha seperti itu. “Tapi mengapa? Bukankah kita malah harus berbaik dengan rakyat miskin? Mengapa kita harus membuat kehidupan mereka menjadi semakin memburuk…?”

“Ha-ha-ha, agaknya Lo-heng lupa bahwa rakyat harus dibuat semenderita mungkin, karena dengan demikian, dengan adanya kegagalan panen, kegagalan para nelayan, kekacauan dan ketidakamanan, maka semakin besar pula rakyat akan tidak puas dan membenci pemerintah. Kaisar dianggap sebagai utusan Thian, dan kalau sampai panen gagal dan kehidupan sukar, berarti bahwa Thian marah kepada kaisar maka menjatuhkan hukuman. Ini lebih mudah untuk mendorong rakyat untuk memberontak dan menjadi pengikut-pengikut kita.”

Para pimpinan Pek-lian-kauw mengangguk-angguk dan mereka merasa kagum akan siasat baru yang dibawa oleh rekan ini dari pusat. Mereka lalu menyatakan kesanggupan mereka untuk mempergiat usaha mereka membuat rakyat di wilayah kekuasaan mereka menjadi semakin melarat, dan kalau perlu mereka akan membasmi hartawan-hartawan yang suka menderma, menghancurkan atau membakar persediaan pangan, meracuni sungai yang banyak ikannya dan meracuni tanaman-tanaman agar mati sebelum mengeluarkan hasil.

Akhirnya mereka itu minum arak dari cawan mereka sambil berseru, “Hidup Pek-lian-kauw! Demi kemakmuran rakyat kalau pemerintah telah digulingkan dan Pek-lian-kauw yang berkuasa!”

Rapat pimpinan dilanjutkan dengan makan minum untuk menjamu tamu dari pusat itu. Dan biarpun para pimpinan Pek-lian-kauw itu terdiri dari orang-orang yang mengenakan jubah pendeta, akan tetapi mereka semua tidak pernah pantang makan barang berjiwa maupun minuman keras. Bahkan merekapun tidak pernah pantang bersenang-senang dengan wanita. Karena itu, dalam perjamuan itupun terdapat beberapa orang wanita muda, yaitu wanita-wanita dari dusun-dusun yang telah menjadi pendukung mereka, tentu saja dipilih yang manis-manis melayani mereka makan minum. Para gadis yang telah dipilih oleh pimpinan Pek-lian-kauw itu rata-rata telah lama menjadi kekasih mereka pula, dan sewaktu-waktu dapat dipanggil untuk menghibur para pimpinan Pek-lian-kauw. Gadis ini merasa seolah-olah mereka itu terpilih dan merasa bangga karena selain mereka merasa dipakai oleh para orang terkemuka, juga mereka tentu saja dihadiahi banyak barang berharga, pakaian indah dan emas permata. Karena itu, dalam melayani mereka makan minum gadis-gadis itupun bersikap genit-genit, apalagi terhadap tamu itu, walaupun pendeta tamu itu tak dapat dikatakan memiliki wajah dan bentuk badan yang menarik hati wanita.

Pada pagi hari itulah, selagi para pimpinan Pek-lian-kauw menjamu Giok-lian-cu, tokoh Pek-lian-kauw pusat itu, muncul Kim Lan yang menawarkan dua gulungan kulit harimau kepada para pimpinan Pek-lian-kauw. Anggauta Pek-lian-kauw yang mengenal suami wanita ini dan bahwa ketua mereka suka sekali mengumpulkan kulit binatang buas, segera membawa Kim Lan masuk ke ruangan di mana mereka sedang berpesta, apalagi melihat bahwa wanita penjual kulit harimau ini amat manis.

Melihat anggautanya datang membawa seorang wanita yang tidak mereka kenal, Thian-hwa Lo-su mengerutkan alisnya. Betapa sembrono anak buahnya itu. “Siapa yang kaubawa menghadap ini?”

“Maaf, suhu, ia adalah isteri mendiang Hok-houw-kwi si pemburu yang pernah menjual kulit binatang buas ke sini, dan ia sekarang membawa dua gulung kulit harimau…”

Kecurigaan segera lenyap dari sepasang mata ketua Pek-lian-kauw itu dan kini dia memandang dengan penuh perhatian, juga dengan pandang mata lembut ketika melihat betapa wanita itu memiliki wajah yang manis dan pakaiannya yang ketat itu menonjolkan tubuh yang padat dan menggairahkan. Juga pandang mata wanita itu mengandung kerling tajam, tanda bahwa wanita itu tidak berdarah dingin. Dan terutama sekali, baru sekarang tuan rumah ini melihat betapa pandang mata tamunya berkilat. Kalau tadi tamunya menghadap para pelayan itu dengan sikap tak acuh dan jemu, kini kedatangan wanita itu membangkitkan gairah tamunya. Dan memang, dibandingkan dengan gadis dusun yang sudah terbiasa melayani mereka dan bersikap genit-genit itu, wanita penjual kulit harimau ini jauh lebih unggul, baik dalam hal kemanisan wajah, kepadatan tubuh yang nampak menyembunyikan kekuatan dan kehangatan, maupun dalam sikap yang nampak alim.

“Ah, jadi engkau adalah isteri Hok-houw-kwi? Pinto mengenal baik suamimu itu. Apa, sudah mendiang? Duduklah nyonya muda, duduklah dan ceritakan kapan suamimu itu meninggal dunia,” kata Thian-hwa Lo-su dengan sikap ramah.

Kim Lan menolak dengan sikap malu-malu, akan tetapi setelah dibujuk oleh para tokoh Pek-lian-kauw yang lain akhirnya duduklah ia di sebuah kursi, setelah ia menarik kursi itu agak menjauh dari meja dan dari para tokoh Pek-lian-kauw yang sedang duduk menghadapi masakan di atas meja yang panjang dan lebar itu. Diam-diam ia mengerling ke arah mereka dan dengan mudah ia dapat mengenal Tok-ciang Sian-jin seperti yang didengarnya dari Thian Sin. Seorang kakek berusia hampir tujuh puluh, masih nampak kuat dan tubuhnya tinggi kurus, mukanya pucat agak kehijauan, sepasang mata yang sipit seperti terpejam, dan jubahnya kuning. Yang berwajah dan bertubuh seperti itu hanya orang ini, maka tentu inilah Tok-ciang Sian-jin, pikirnya. Pendeta yang selalu menatapnya, yang tinggi kurus pula, mukanya seperti tikus, tentu bukan Tok-ciang Sian-jin. Maka, iapun cepat mencurahkan perhatian kepada tugasnya dan setelah duduk, ia diam saja menundukkan mukanya yang manis.

“Ceritakanlah, nyonya, bagaimana suamimu meninggal? Apakah meninggal ketika memburu binatang buas? Sudah lama sekali dia tidak pernah mengirim kulit binatang ke sini,” desak pula ketua cabang Pek-lian-kauw itu sambil tersenyum melihat betapa Si Muka Tikus itu nampak makin tertarik setelah mendengar bahwa suami wanita ini telah meninggal dunia.

Didesak demikian, tiba-tiba saja sepasang mata Kim Lan yang bening itu menjadi basah dan ia menjawab dengan suara gemetar memancing rasa iba, “Suami saya… dan ayah saya… telah dibunuh oleh si keparat Pangeran Toan.” Ia sengaja memaki nama pangeran itu karena iapun tahu bahwa orang-orang Pek-lian-kauw ini amat membenci kaum bangsawan, hartawan, dan juga pemerintah.

“Toan-ong-ya…?” tanya ketua cabang Pek-lian-kauw itu dan semua orang memandangnya dengan penuh perhatian.

“Benar, totiang,” kata wanita itu sambil menahan isaknya.

“Ahhh…! Tapi bukankah pangeran keparat ini baru-baru saja dibunuh oleh Pendekar Sadis? Demikian yang kami dengar!” Tiba-tiba Tok-ciang Sian-jin berkata dan diam-diam Kim Lan bergidik mendengar suara ini, suara yang mengandung getaran yang mengguncangkan jantungnya. Pendekar Sadis telah memberi tahu kepadanya bahwa pendeta ini memiliki kepandaian yang amat lihai.

“Saya juga sudah mendengar akan hal itu dan saya bersyukur karenanya. Siapapun yang membunuhnya, sakit hati saya akan kematian suami dan ayah saya telah terbalas!” katanya dan ia dapat membuat suaranya terdengar lega dan bersyukur.

“Eh, nyonya muda, kau belum menceritakan mengapa suamimu dan ayahmu dibunuh oleh pangeran itu, dan kapankah terjadinya hal itu?”

“Ayah saya dan suami saya dibunuh oleh kaki tangan pangeran itu, kurang lebih empat bulan yang lalu karena… karena… ketika saya diutus suami saya menjual kulit harimau ke sana, pangeran itu hendak memaksa saya menjadi selirnya… saya melarikan diri, dikejar kaki tangan pangeran itu. Ayah dan suami saya membela, akan tetapi mereka dibunuh dan saya berhasil melarikan diri dan bersembunyi. Setelah mendengar pangeran keparat itu dibunuh orang barulah saya berani keluar dari tempat persembunyian saya lagi.”

Semua orang mengangguk-angguk. Akan tetapi ketua cabang Pek-lian-kauw itu tiba-tiba mengajukan pertanyaan, “Kalau mereka sudah mati, bagaimana engkau bisa memperoleh dua gulung kulit harimau ini?”

Hemm, ketua perkumpulan ini cerdik juga, pikir Kim Lan. Ia harus berhati-hati, karena kalau sampai bocor rahasianya, tentu ia akan mati tanpa dapat menghindarkan diri dari bahaya maut lagi.

“Setelah mendengar pangeran keparat itu tewas, saya berani keluar lagi dan bersama teman-teman pemburu yaitu bekas teman-teman suami saya, saya lalu melanjutkan pekerjaan suami saya. Kami berhasil menjebak dua ekor harimau dan karena kami memburu di hutan-hutan yang berdekatan dengan tempat ini, yaitu di lereng Tai-hang-san sebelah barat, saya lalu teringat kepada pesan suami saya untuk menjual hasil buruan, terutama kulit harimau ke dusun Tiong-king, di mana katanya ada ketua perkumpulan yang suka membelinya.”

“Hemm, dia mengatakan ketua perkumpulan? Perkumpulan apa?” tanya ketua Pek-lian-kauw dengan kaget.

“Saya tidak tahu namanya, totiang, hanya dikatakan bahwa di dusun ini saya boleh minta menghadap ketuanya untuk menawarkan kulit-kulit ini. Maka saya berani datang ke sini karena menurut keterangan suami saya dahulu, para pendeta di sini berani membayar mahal dan juga bahwa mereka… semua manis budi dan gagah perkasa.”

“Ha-ha-ha-ha!” Tiba-tiba pendeta muka tikus itu tertawa. “Sayang suamimu telah meninggal nyonya, kalau belum, tentu aku akan suka berkenalan dengan dia.”

Melihat sikap tamunya, ketua cabang Pek-lian-kauw tertawa. “Lo-te, kalau suaminya sudah meninggal, masih ada isterinya, bukankah boleh juga untuk berkenalan?”

Mereka semua tertawa, kecuali Tok-ciang Sian-jin. Pendeta ini memang sejak dahulu tidak suka kepada wanita. Dia lebjh suka untuk mengajak seorang pria tampan menemaninya tidur. Dan mendengar bahwa suami dan ayah wanita ini terbunuh oleh Toan-ong-ya yang baru saja terbunuh oleh Pendekar Sadis, dia tidak merasa enak hati sungguhpun dia tidak dapat menghubungkan wanita ini dengan Pendekar Sadis.

“Nyonya muda, jangan khawatir. Dua gulung kulit harimau itu tentu akan kami beli dan kami akan membayar berapa saja harga yang kauminta. Akan tetapi, mengingat bahwa mendiang suamimu adalah sahabat baik kami, maka engkaupun merupakan sahabat baik kami dan engkau kami anggap sebagai seorang tamu yang terhormat. Mari masuk dan minum bersama kami, nyonya!” Dan kepada para pelayan itu Thian-hwa Lo-su berteriak agar disediakan mangkok, sumpit dan cawan bersih.

“Ah, mana saya berani, totiang… ? Saya… tidak seharusnya saya…”

“Nyonya, kami dengan sungguh hati menghormatimu sebagai isteri bekas sahabat dari Thian-hwa Lo-su, mengapa engkau hendak menolaknya? Apakah engkau tidak mau menerima kebaikan kami?” Tiba-tiba pendeta yang bermuka tikus itu berkata sambil tersenyum penuh arti. Sekali pandang saja Kim Lan yang sudah berpengalaman itu maklum apa yang berkecamuk dalam benak kepala yang seperti kepala tikus itu dan di dalam hatinya iapun tersenyum puas. Memang inilah yang dicarinya. Tanpa dapat mengait seorang di antara para pimpinan Pek-lian-kauw dengan kecantikannya, mana mungkin ia akan dapat menyelidiki tentang keadaan Tok-ciang Sian-jin itu? Dan Si Muka Tikus ini agaknya bukan seorang yang berkedudukan rendah, buktinya dia dapat bicara seolah-olah dia berkuasa di situ.

Mendengar ucapan tamunya ini, Thian-hwa Lo-su girang sekali. Terbuka jalan baginya untuk meyenangkan hati tamunya dan hal ini amat perlu karena dengan demikian maka tentu orang penting ini akan membuat laporan baik ke pusat tentang dirinya. “Ha-ha-ha, engkau sungguh beruntung sekali, nyonya, telah menyenangkan hati tamu agung kami. Perkenalkanlah, Lo-te ini adalah Giok-lian-cu, seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali dan engkau tidak akan rugi berkenalan dengan dia.”

Dengan lagak seorang wanita “baik-baik”, Kim Lan akhirnya menerima ajakan makan minum itu dengan sikap malu-malu. Akan tetapi setelah makan minum beherapa cawan arak, wanita ini mulal tersenyum manis sekali kepada Si Muka Tikus. Wajahnya yang manis menjadi kemerahan, senyumnya makin lebar, tidak malu-malu lagi seperti tadi sehingga kalau tersenyum nampak deretan gigi putih rapi dan kadang-kadang nampak ujung lidahnya yang merah meruncing.

Giok-lian-cu, tosu Pek-lian-kauw yang seperti juga rekannya, biarpun sudah memakai pakaian pendeta namun masih menjadi hamba nafsu yang amat lemah, sudah menjadi tergila-gila kepada Kim Lan. Seorang janda yang sudah empat bulan ditinggal suaminya! Tentu saja bayangan ini lebih menarik daripada wanita-wanita dusun yang melayani mereka makan minum itu, yang biarpun tidak bersuami, namun setiap malam melayani para pimpinan Pek-lian-kauw di tempat itu secara bergilir.

Dan Kim Lan pandai jual mahal, bersikap seperti seorang wanita yang belum tahu apa-apa, dan hanya dengan bujukan dan seperti orang setengah terpaksa karena takut akhirnya ia membiarkan diririya digandeng dan setengah ditarik-tarik oleh tosu muka tikus itu memasuki kamar tamu yang sudah disediakan untuknya oleh para rekan-rekannya. Para tosu pimpinan cabang Pek-lian-kauw mengiringi mereka berdua yang masuk kamar itu dengan ketawa gembira, membuat Kim Lan mudah saja menjadi merah mukanya, yang sesungguhnya bukan merah karena malu-malu, melainkan karena marah! Namun semua ini harus dilakukannya. Betapapun juga, ia harus berkorban untuk Pendekar Sadis. Bukan hanya karena pendekar itu telah mampu membalaskan sakit hatinya terhadap Pangeran Toan, melainkan juga karena ia amat takut kepada pendekar yang luar biasa kejamnya itu, dan disamping rasa takut, juga ia tunduk dan tergila-gila kepada pemuda itu setelah beberapa hari lamanya ia menjadi kekasih pemuda yang lihai, gagah dan juga kejam dan aneh itu. Ia sudah berjanji untuk membantu, untuk menyelidiki tempat persembunyian Tok-ciang Sian-jin dan tentang keadaan di sarang Pek-lian-kauw, dan satu-satunya jalan baginya untuk dapat berhasil tentu saja hanya dengan mengorbankan dirinya dan menggunakan kecantikannya untuk memikat hati seorang pimpinan Pek-lian-kauw. Dan ia berhasil. Dengan baik sekali karena dari percakapan tadi ia diperkenalkan bahwa tamu agung yang harus dilayaninya adalah Giok-lian-cu, seorang tokoh Pek-lian-kauw dari pusat yang tentu saja amat dihormati oleh para pimpinan di situ. Juga, di dalam perjamuan tadi ia diam-diam memperhatikan musuh Pendekar Sadis dan diam-diam ia merasa serem dan ngeri. Tosu itu nampak demikian pendiam dan dingin, memandang rendah segala sesuatu di sekelilingnya, bahkan dialah satu-satunya orang di antara para tosu itu yang tidak bersikap merendah dan menjilat terhadap tosu tamu muka tikus itu. Kim Lan maklum bahwa orang seperti itu tentu amat kejam dan juga amat cerdik, maka ia bersikap amat hati-hati.

Untung bahwa bukan kepada tosu musuh besar Pendekar Sadis itu ia harus melayani, karena biarpun Tok-ciang Sian-jin itu jauh lebih menarik sebagai pria dibandingkan dengan kakek muka tikus, namun ia akan merasa ketakutan dan ngeri terhadap Tok-ciang Sian-jin dan tosu itu tentu akan dengan mudah dapat membongkar rahasianya.

Dengan pengalaman yang luas dalam hal hubungan antara wanita dan pria, Kim Lan dengan mudah saja membuat tosu muka tikus itu semakin terbuai dan tergila-gila kepadanya, dan dari tosu inilah Kim Lan akhirnya dapat memperoleh keterangan selengkapnya tentang diri Tok-ciang Sian-jin, di mana tinggalnya, di pondok mana, dan apa kedudukannya di tempat itu. Satu-satunya pertanyaan Si Muka Tikus yang membayangkan keheranan tanpa kecurigaan hanyalah, “Eh, kenapa engkau tanya-tanya tentang Tok-ciang Sian-jin?”

Kim Lan menjawab sambil merangkul dan tubuhnya agak menggigil seperti orang ketakutan dan ngeri. “Mukanya begitu dingin dan sinar matanya kepadaku seolah-olah hendak menembus jantungku. Itulah sebabnya aku ingin tahu siapa sih manusia bermuka dingin itu.”

Jawaban ini menyenangkan hati Giok-lian-cu dan diapun menceritakan semua keadaan Tok-ciang Sian-jin seperti yang ditanyakan oleh wanita yang malam itu benar-benar telah menghiburnya dan membuatnya merasa senang sekali. Biarpun malam itu merupakan siksaan jasmani dan rohani bagi Kim Lan yang harus melayani seorang kakek yang dibencinya, harus menurut saja apapun yang dilakukan oleh laki-laki itu kepadanya, namun pada keesokan harinya, ketika ia berpamit dan dibekali uang cukup banyak untuk membayar dua gulung kulit harimau dan pelayanannya, Kim Lan pulang dengan hati senang bukan main. Ia telah berhasil, ia akan membikin girang hati Pendekar Sadis yang dipuja dan dicintanya!

Setelah Thian Sin mendengarkan semua keterangan dari Kim Lan tentang musuh besarmya, dia tersenyum girang. “Terima kasih, Kim Lan. Kau tunggu saja di dalam hutan ini, aku mau pergi, tunggu sampai aku kembali!”

“Taihiap…!” Kim Lan berseru, akan tetapi pendekar itu telah lenyap dari depannya dengan cepat sekali. Kim Lan duduk di atas batu sambil termenung, merasa kesepian dan juga gelisah. Malam tadi ia telah melakukan tugas yang berat dan sekarangpun ia masih merasa muak kalau teringat akan kakek si muka tikus. Akan tetapi, pendekar itu tidak mau menghiburnya dan pergi begitu saja, menyuruhnya tinggal seorang diri di tempat sunyi itu. Akan tetapi ia percaya bahwa Pendekar Sadis tentu akan kembali dan kalau pendekar itu sudah berhasil membunuh musuh besarnya, barulah ia akan menagih upah sepuas hatinya atas jasa-jasanya membantu pendekar itu!

Sementara itu, Thian Sin sudah melakukan perjalanan cepat sekali menuju ke sarang Pek-lian-kauw. Dia telah memperoleh keterangan dengan jelas dari Kim Lan. Tok-ciang Sian-jin memang benar berada di sarang Pek-lian-kauw, dan menurut keterangan wanita itu, Tok-ciang Sian-jin bersembunyi di dalam sebuah pondok seorang diri di sebelah utara dusun atau perkampungan Pek-lian-kauw itu. Dan perkampungan itu setiap saat dijaga oleh anak buah Pek-lian-kauw sehingga tidak mungkin ada orang asing dapat memasuki kampung tanpa diketahui mereka dan sebelum dia sempat bertemu dengan musuh besarnya itu, tentu dia telah dilaporkan terlebih dahulu dan fihak musuhnya dapat berjaga-jaga. Akan tetapi, pada waktu pagi itulah kesempatannya yang paling baik karena menurut keterangan Kim Lan, Tok-ciang Sian-jin berlatih samadhi dan tidak keluar dari pondoknya dari pagi sampai sore, tosu itu melatih ilmu silat kepada para pimpinan Pek-lian-kauw, atau setidaknya bertukar pikiran tentang ilmu silat dan saling mengisi. Menurut penuturan kakek muka tikus yang memberi keterangan kepada Kim Lan, katanya Tok-ciang Sian-jin mempunyai hubungan baik sekali dengan Thian-hwa Lo-su dan sering mewakili ketua itu untuk melatih ilmu silat kepada murid-murid ketua itu, dan bahkan kepada para sute ketua itu yang merupakan dewan pimpinan cabang Pek-lian-kauw. Tentu saja hal itu dilakukan sebagai imbalan jasa Pek-lian-kauw yang sudah menerimanya untuk bersembunyi di tempat itu dan juga tentu saja untuk perlindungan yang dijanjikan oleh Pek-lian-kauw kepadanya untuk menghadapi musuh besarnya, demikian pikir Thian Sin. Dan memang sesungguhnya dugaan pemuda ini tidak meleset dari kenyataan. Tok-ciang Sian-jin sudah mendengar tentang Pendekar Sadis itu, sudah dapat menyangka siapa adanya pendekar kejam itu, dan dia merasa gentar sekali. Maka dia sudah berunding dengan pimpinan Pek-lian-kauw untuk minta bantuan mereka apabila musuh besarnya tiba, dan sudah memperoleh janji dari pihak pimpinan Pek-lian-kauw.

Akan tetapi tentu saja Thian Sin tidak merasa takut menghadapi mereka semua itu. Hanya dia bersikap cerdik, tidak mau memasuki sarang Pek-lian-kauw begitu saja, karena kalau dia tidak hati-hati dan masuk begitu saja, sebelum dia bertemu dengan musuhnya, dia akan ketahuan dan musuhnya yang mendengar akan kedatangannya itu sangat boleh jadi akan melarikan diri terlebih dulu. Dia harus dapat menyergap Tok-ciang Sian-jin di pondoknya sebelum orang itu pergi, dan setelah itu, biar dia akan dikeroyok oleh seluruh anggauta Pek-lian-kauw sekalipun, dia tidak merasa gentar. Yang penting dia harus dapat bertemu dengan Tok-ciang Sian-jin dan membunuh musuh besar ini sebelum orang itu sempat melarikan diri lagi.

Ketika Thian Sin menyelinap di antara pohon-pohon di luar dusun sebelah utara. Sampai beberapa lamanya dia diam saja bersembunyi tanpa bergerak dan akhirnya dia dapat melihat tiga orang anggauta Pek-lian-kauw yang mendekam di dalam parit, agak jauh di depannya. Hemm, kiranya mereka itu berjaga sambil bersembunyi di dalam parit, seperti barisan pendam. Tentu saja sukar bagi orang luar untuk memasuki wilayah itu tanpa ketahuan, pikirnya. Dia lalu menyelinap di antara pohon dan semak-semak, mempergunakan kepandaiannya sehingga gerakannya seperti terbang saja, cepat sekali dia berpindah dari pohon ke pohon, bergerak ke sebelah kanan. Tepat seperti yang diduganya, antara jarak seratus meter dari parit itu, terdapat parit lain dengan tiga orang anggauta Pek-lian-kauw yang berjaga sambil enak-enak duduk di dalam parit. Ketika dia memeriksa ke kiri, di sebelah parit pertama, juga dalam jarak seratus meter, terdapat parit lain. Kiranya demikian ketat penjagaannya.

Thian Sin bergerak cepat, setelah dia merunduk dan bergerak sambil tiarap di antara rumput, mendekati parit pertama, setelah tiba dekat tubuhnya terjun ke bawah dan sebelum tiga orang itu sempat mengeluarkan suara, hanya memandang dengan mata terbelalak, dalam beberapa detik saja Thian Sin telah merobohkan mereka dengan menotok mereka. Gerakannya terlampau cepat bagi tiga orang penjaga ini sehingga mereka itu sebelum tahu apa yang terjadi telah roboh terkulai pingsan! Thian Sin cepat menggunakan sabuk mereka untuk mengikat kaki tangan mereka, lalu menggunakan baju mereka untuk menyumbat mulut mereka sehingga kalau mereka siuman kembali, mereka takkan dapat berkutik atau berteriak. Semua ini dilakukannya dalam waktu kurang dari lima menit dan di lain saat, dia sudah bergerak seperti seekor ular, bertiarap dan merangkak maju menuju ke parit ke dua di sebelah kiri. Kembali dia menaklukkan tiga orang penjaga seperti tadi dan tak lama kemudian dia sudah meninggalkan mereka menuju ke parit ke tiga dalam keadaan terikat dan tersumbat mulut mereka seperti tiga orang teman mereka yang pertama tadi. Tanpa banyak mengalami kesukaran, Thian Sin juga membuat tiga orang penjaga di parit ke tiga tidak berdaya. Giranglah hatinya dan diapun cepat bergerak maju. Akan tetapi dia tidak kehilangan kewaspadaannya. Biarpun dia sudah membersihkan jalan masuk dengan menundukkan para penjaga di tiga parit, dan dia percaya bahwa penjaga di parit yang lain jauh untuk dapat melihatnya, dia masih maju dengan sangat hati-hati. Pondok yang paling ujung itu, pondok tempat tinggal Tok-ciang Sian-jin sudah nampak. Akan tetapi Thian Sin menahan kegembiraan hati yang dapat membuat orang menjadi lengah itu. Dia tetap berhati-hati dan memeriksa keadaan sekelilingnya dengan teliti. Dan sikapnya ini berhasil baik ketika tiba-tiba dari jauh dia melihat gerakan di atas pohon. Cepat dia menyelinap di balik semak-semak belukar dan mengintai. Ternyata di atas pohon itu terdapat seorang penjaganya! Ah, tentu di lain-lain pohon yang agaknya sengaja ditanam di sekeliling daerah itu tentu ada penjaganya yang bersembunyi. Untuk melumpuhkan penjaga di atas pohon itu seperti yang dilakukannya terhadap para penjaga di parit tidaklah mudah, pikirnya. Tentu gerakannya itu akan nampak oleh para penjaga lain di pohon lain, atau bahkan nampak dari jendela pondok itu. Siapa tahu Tok-ciang Sian-jin sedang melihat dari sana. Thian Sin memutar otak mencari akal.

Kemudian dia mengambil keputusan untuk mempergunakan kepandaiannya yang lain, yaitu ilmu sihirnya. Dengan langkah tetap dia lalu bangkit dan berjalan menghampiri pohon itu! Dia telah berada di dalam wilayah Pek-lian-kauw setelah dapat melampaui para penjaga di parit tadi, maka biarlah dia berlagak seperti bukan orang asing di daerah itu! Setelah tiba di dekat pohon dia lalu memandang ke atas, ke arah penjaga yang sejak tadi tentu saja telah melihatnya dan sudah mempersiapkan anak panah di busurnya untuk menyerang ke bawah itu.

Akan tetapi penjaga itu menjadi ragu-ragu ketika pemuda yang berada di bawah itu menggapai dengan tangan, tersenyum ramah dan berkata, “Hai, kawan, aku ada pesan penting sekali dari ketua. Turunlah, akan kuberitahukan padamu!”

Penjaga itu meragu, akan tetapi melihat sikap pemuda ini dan melihat bahwa pemuda itu telah berada di daerah mereka sendiri, berarti bukan orang asing karena orang asing takkan mungkin mampu melewati para penjaga parit, dan mendengar bahwa pemuda itu membawa pesan penting dari ketua, dia menjadi ingin tahu dan cepat memanjat turun dari pohon. Pemuda itu tidak membawa senjata dan sikapnya tidak seperti seorang musuh, maka diapun tidak khawatir.

Akan tetapi ketika dia sudah berdiri berhadapan dengan pemuda itu, dia melihat sepasang mata yang mencorong seperti mata harimau. Penjaga itu terkejut sekali, namun terlambat karena dia sudah tunduk di bawah pengaruh pandang mata Thian Sin yang kini berkata dengan suara lirih namun mengandung penuh wibawa, terutama sekaii terasa oleh orang itu sebagai perintah yang tak mungkin dibantah.

“Antarkan aku menghadap Tok-ciang Sian-jin ke pondoknya!”

“Baik, kuantarkan, marilah,” jawab penjaga itu seakan-akan dia bicara dengan seorang rekannya sendiri. Tentu saja hal ini adalah hasil dari kekuatan sihir Thian Sin yang memaksa orang itu percaya bahwa dia adalah seorang temannya.

Para penjaga lain di atas pohon yang berada di kanan kiri tentu saja melihat hal ini, akan tetapi karena penjaga itu menerima Si Pemuda dengan baik, bahkan mengajaknya berjalan menuju ke pondok tempat tinggal Tok-ciang Sian-jin, tentu saja para penjaga lain itu tidak menaruh curiga dan mengira bahwa pemuda itu adalah penduduk dusun atau juga orang yang sudah dikenal oleh penjaga itu maka dapat diterima. Apalagi melihat orang itu dibawa oleh si penjaga menuju ke pondok Tok-ciang Sian-jin, para penjaga lain itu tersenyum. Mereka sudah mengenal watak Tok-ciang Sian-jin, yang lebih suka berdekatan dengan seorang pemuda tampan daripada dengan wanita. Dan pemuda itu, biarpun kelihatan dari jarak agak jauh, memang nampak tampan!

Berdebar tegang juga rasa hati Thian Sin setelah mereka berdua mendekati pondok itu. Di sinilah orang yang selama ini dicari-carinya! Hatinya berdebar karena tegang dan girang, juga khawatir kalau-kalau dia gagal.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: