Pendekar Sadis (Jilid ke-63)

Benarlah dugaannya, seperti yang juga dikehendaki oleh See-thian-ong, melihat Kim Hong mau saja dihina seperti itu, padamlah nafsu para penghinanya untuk menghinanya lebih jauh lagi.

“Bawa ia kembali ke kamar tahanan,” kata See-thian-ong, tidak tertawa karena dianggapnya wanita ini tidak berharga menjadi lawan yang ditakuti. “Biarkan perempuan lemah ini tidur agar jangan ia mati sebelum Thian Sin tiba!”

Maka terhindarilah Kim Hong dari penyiksaan atau penghinaan lebih jauh, sungguhpun penghinaan yang lebih hebat masih menantinya. Ia maklum bahwa ancaman kepadanya tadi, bahwa ia akan diperkosa oleh dua puluh orang apabila Thian Sin tidak muncul, justeru merupakan pertanda bahwa kalau Thian Sin muncul dan tertawan, maka hukuman atau penyiksaan itu akan dideritanya di depan mata Thian Sin. Kalau Thian Sin tidak muncul, belum tentu ia akan mengalami siksaan seperti yang diancamkan kepadanya tadi. Tiada alasan bagi See-thian-ong untuk memperlakukan ia seperti itu. Akan tetapi kalau Thian Sin terkena pancingan dan datang, dikeroyok dan ditangkap, jelaslah bahwa mereka akan menyiksa Thian Sin, pertama-tama menyiksa batinnya dengan membiarkan pemuda itu menyaksikan ia diperkosa oleh banyak orang di depan matanya. Hal ini ia yakin benar! Itu pulalah sebabnya See-thian-ong tidak mau menyiksanya sekarang, dan membiarkan ia makan minum agar keadaan tubuhnya sehat ketika ia kelak “dibantai” oleh dua puluh orang di depan Thian Sin! Diam-diam wanita ini bergidik ngeri.

Sementara itu, Thian Sin mengikuti dengan pandang matanya ke mana kekasihnya dibawa pergi. Ke belakang! Maka diapun dengan cepat dan hati-hati sekali menuju ke wuwungan bagian belakang, dan mengintai. Dari sini dia dapat melihat Kim Hong digiring oleh tiga orang yang dipimpin oleh orang jangkung berjenggot jarang, menuju ke sebuah kamar tahanan. Ketika mereka hendak memasukkan kembali gadis itu ke dalam kamar tahanan, dua orang teman Si Jangkung itu menghampiri Kim Hong. Yang bermuka bopeng segera mencium tengkuk yang berkulit kuning mulus terhias anak rambut halus melingkar-lingkar itu, sedangkan orang ke dua yang matanya sipit menggunakan tangannya menggerayangi buah dada gadis itu.

“Manis, ingatlah, kami berdua adalah dua di antara dua puluh orang yang bernasib mujur untuk melayanimu bermain cinta besok,” bisik Si Muka Bopeng. Tentu saja Kim Hong merasa muak dan marah, akan tetapi ditahannya dan ia bergegas memasuki kamar tahanan itu.

“Nanti dulu,” kata Si Jangkung sambil mengejar dan menghampiri Kim Hong. Gadis ini mengira bahwa Si Jangkung tentu juga akan bertindak kurang ajar seperti kedua orang temannya. Akan tetapi ternyata tidak, Si Jangkung ini hanya melihat bahwa kawat berduri pembelenggu kedua pergelangan tangan agak mengendur, maka dia kini mempereratnya. Ada duri kawat yang kembali menusuk kulit lengan Kim Hong dan gadis ini menggigit bibirnya. Sakit sekali rasa hatinya. Sudah bersusah payah diusahakannya untuk melepaskan kawat berduri. Dua jam lebih ia berusaha menggosok-gosok kawat itu di kaki dipan dan setelah ada sedikit hasilnya, kini dipererat lagi oleh Si Jangkung. Sungguh perbuatan Si Jangkung ini lebih merugikan dan menyakitkan daripada kekurangajaran dua orang temannya.

“Awas kau kubunuh kau lebih dulu nanti…!” kata suara hati Kim Hong ketika Si Jangkung mendorongnya dan keluar dari kamar itu, lalu duduk di luar pintu kamar bercakap-cakap dengan dua orang temannya.

Thian Sin melihat ini semua. Tangannyapun sudah gatal-gatal untuk turun tangan menghajar dua orang yang kurang ajar kepada kekasihnya tadi. Akan tetapi dia menahan diri dan tidak mau gagal. Kalau dia menuruti hatinya dan menyerbu, kemudian seorang di antara mereka sempat berteriak memanggil teman-temannya, tentu usahanya menolong Kim Hong akan menjadi gagal. Diapun lalu meneliti keadaan kamar itu. Kamar itu memang kuat sekali dan lubang satu-satunya hanyalah pintu besi yang berjeruji atasnya. Untuk memasuki dari pintu tidak mungkin. Maka diapun lalu menyelidiki atapnya. Langit-langitnya kamar itu amat tinggi, sehingga akan sukarlah bagi Kim Hong kalau hendak meloncat ke atas, apalagi langit-langitnya tertutup oleh papan tebal. Dia lalu membuka genteng, tepat di atas kamar tahanan. Tangannya meraba-raba dan akhirnya dia dapat menemukan paku-paku yang memaku papan langit-langit. Dengan ujung pedangnya dia mengorek papan pinggir di sekeliling paku sehingga nampak paku itu, kemudian dengan menjepit paku dengan kedua jari telunjuk dan ibu jari, dia mengerahkan tenaganya dan mencabuti paku-paku itu satu demi satu. Akhirnya, berhasillah dia membongkar papan persegi selebar satu meter itu dan mengangkatnya perlahan-lahan tanpa menimbulkan suara. Akan tetapi, sedikit saja suara itu sudah cukup bagi Kim Hong untuk mengetahui bahwa di atas kamar tahanan itu ada suatu gerakan.

Dengan hati-hati Thian Sin menggeser papan langit-langit di sudut itu dan Kim Hong yang sudah menduga dengan hati girang kini dapat melihat wajah kekasihnya! Ia cepat memberi isyarat kepada Thian Sin untuk berdiam diri, lalu gadis ini berjalan, berjingkat ke pintu, mengintai dari jeruji pintu. Dilihatnya betapa tiga orang penjaganya itu duduk bermain kartu dengan asyiknya, maka iapun baru memberi isyarat kepada Thian Sin bahwa keadaan “aman”. Pendekar itu lalu menggeser papan dan tak lama kemudian dia sudah meloncat turun ke dalam kamar itu tanpa mengeluarkan suara.

Tanpa bicara mereka berdua sudah tahu apa yang harus mereka lakukan. Thian Sin memegang dagu itu dan mencium bibir Kim Hong, kemudian diapun sudah melepaskan kawat berduri yang membelenggu kedua lengan kekasihnya. Kim Hong menggosok-gosok kedua pergelangan lengannya yang luka-luka berdarah itu.

“Mereka sedang bermain kartu…” bisiknya.

“Hanya bertiga itu?” bisik Thian Sin kembali. Kim Hong mengangguk.

“Kita pancing mereka masuk,” kata Thian Sin.

Kim Hong mengangguk. “Aku pura-pura hendak bunuh diri. Kau bersembunyi di belakang dipan yang kubalikkan. Aku akan merobohkan yang terdekat, dan kau menjaga agar mereka tidak mengeluarkan suara,” bisik gadis itu dengan sikap tenang. Diam-diam Thian Sin kagum. Tidak percuma gadis ini pernah menjadi Lam-sin, karena memang sikapnya bukan seperti seorang gadis muda, melainkan seorang datuk yang sudah berpengalaman dan tenang sekali.

Thian Sin membantu gadis itu menarik dipan ke tengah, lalu dia mendekam di balik dipan yang dimiringkan oleh Kim Hong. Gadis itu lalu membuat suara berisik dengan dipan yang dipukul-pukulkan ke atas lantai, memasang kembali kawat berduri pada lengannya dan rebah miring di atas lantai dengan rambut awut-awutan, setelah menggunakan darah yang membasahi kedua tangannya, dioleskan ke pipi dan dahinya dan kini ia miring memperlihatkan bagian muka yang berdarah itu. Ia merintih-rintih lirih.

Suara gedobrakan itu tentu saja mengejutkan tiga orang yang berjaga diluar pintu dan nampak wajah tiga orang yang berjaga di luar pintu dan nampak wajah tiga orang penjaga itu. Si jangkung dan temen-temannya terkejut sekali dipan sudah terguling, apa lagi melihat dahi dan pipi sebelah kiri gadis itu berlepotan darah.

“Celaka…….. ia membunuh diri ……..” kata si jangkung yang cepat membuka daun pintu dengan kuncinya, kemudian dia mendorong daun pintu dan berlari masuk diikuti oleh dua orang temannya. Si jangkung cepat menghampiri Kim Hong dan berjongkok de dekat gadis itu, untuk memeriksa apa yang terjadi dengan gadis tawanan itu.

Pada saat itu selagi si jangkung meraba dahi Kim Hong dan dua orang temannya berlari masuk, Kim Hong bergerak cepat sekali, sama cepatnya dengan gerakan Thian Sin yang meloncat dari belakang dipan yang rebah miring.

Kim Hong menyambut si jangkung yang berjongkok itu dengan tendangan kilat yang tepat mengenai anggota kelamin orang itu dan pada detik berikutnya, ketika si jangkung membuka mulut untuk berteriak, secepat kilat tangan kanan Kim Hong menyambar ke arah tenggorokan.

“Krekk!” Hanya itulah suara yang keluar, suara hancurnya tulang kerongkongan yang menghalangi keluarnya teriakan si jangkung yang tewas seketika dan sebelum tubuhnya jatuh ke lantai Kim Hong menyambarnya.

Pada detik yang hampir sama, nampak sinar perak berkelebat dua kali dan dua orang penjaga lainnya telah roboh dengan tenggorokan berlubang ditembusi pedang Gin-hwa-kiam. Begitu cepatnya sinar pedang menyambar sehingga dua orang itu tidak sempat bergerak mengelak atau menangkis, bahkan untuk berteriakpun tidak sempat karena yang dijadikan sasaran ujung pedang Gin-hwa-kiam adalah tenggorokan mereka. Mereka inipun roboh dan disambar oleh tangan Thian Sin sebelum berdebuk.

“Bagaimana pergelangan tanganmu?” bisik Thian Sin setelah mereka merebahkan mayat-mayat itu tanpa mengeluarkan suara, sambil menghampiri Kim Hong. Gadis itu memeriksa pergelangan lengannya dan mengerak-gerakannya.

“Hanya luka di kulit saja, tidak berbahaya,” jawabnya.

“Tidak nyeri kalau digerakan? Kita menghadapi banyak lawan tangguh.”

“Tidak, dan aku sudah siap sedia menghadapi mereka.”

“Bagus. Nih, kau pakai pedangku……”

“Tidak perlu, Thian Sin. Kau pakailah sendiri. Kau tahu, aku biasa menggunakan pedang pasangan dan pedang mereka ini tidak terlalu berat dan sama bentuknya, dapat kupakai sebelum aku menemukan kembali pedang pasanganku yang mereka rampas.” Kim Hong mengambil dua batang pedang milik penjaga-penjaga itu. Setelah mencoba memutar-mutar sepasang pedang itu den kedua pergelangan tangannya digerak-gerakan, Kim Hong tersenyum dan berkata, “Mari, aku sudah siap!”

Thian Sin memandang dengan kagum. Bukan main kekasihnya ini. Baru saja terlepas dari ancaman bahaya yang mengerikan, namun sama sekali tidak nampak gentar atau girang karena tertolong. Seolah-olah yang dihadapinya itu bukan bahaya yang lebih mengerikan dari pada maut.

“Engkau tadi tidak takut…..?” Thian Sin bertanya dengan bisikan.

“Tidak, aku yakin engkau pasti datang menolongku, kalau tidak, akupun tentu akan mendapatkan akal untuk membebaskan diri. Bisa kupancing mereka ini masuk, lalu ku bunuh dua orang, yang seorang lagi dapat kuancam dan kupaksa membukakan belenggu ini,” jawab Kim Hong tenang dan Thian Sin percaya akan kemampuan gadis itu bahwa dengan kedua lengan terbelenggu sekalipun Kim Hong pasti akan mampu membunuh mereka bertiga itu.

“Sekarang mari kita keluar. Tadinya aku hanya ingin mengalahkan See-thian-ong, akan tetapi melihat sambutannya dan perlakuannya kepadamu kita harus membalas dendam dan menghancurkannya!” kata Thian Sin.

“Kita harus berhati-hati, jangan sampai melayani mereka bertempur de dalam tempat ini karena banyak mengandung rahasia dan berbahaya.”

“Kita bakar saja sarang mereka ini dan memaksa semua ularnya keluar untuk dibunuh,” kata Thian Sin gemas dan Kim Hong mengangguk karena memang siasat ini cocok dengan rencanannya.

Kini setelah langit-langit itu berlubang, keduanya tentu saja dapat meloncat dan menerobos melalui lubang dan menangkap kayu penyangga atap, kemudian keluar dari genteng. Setelah memeriksa keadaan di sekeliling pondok itu dari atas, Thian Sin berbisik, “Engkau melakukan pembakaran dari sebelah sana, aku dari sini, kemudian kita bertemu dan berkumpul dilapangan sana itu. Lapangan rumput itu enak untuk menghadapi lawan banyak.”

Kim Hong mengangguk dan merekapun berpencar. Tak lama kemudian, nampaklah api berkobar dari sebelah kanan dan kiri bangunan itu, disusul teriakan-teriakan para penjaga dan keadaan menjadi panik. Apa lagi ketika terdengar pila teriakan-teriakan bahwa gadis tawanan telah lenyap dan para penjaga terbunuh.

See-thian-ong terkejut dan marah bukan main. Tidak disangkanya bahwa Ceng Thian Sin dapat turun tangan seperti itu. Dia merasa yakin bahwa tentu pemuda itulah yang melakukan semua ini, membebaskan gadis tawanan dan melakukan pembakaran. Dia memaki-maki para muridnya yang dianggapnya tolol dan lengah sehingga ada musuh masuk tanpa ada yang melihatnya. Kemudian, diikuti oleh Ching-hai Ngo-liong, Ciang Gu Sik, dan So Cian Ling, juga belasan orang murid lain, dia melakukan pengejaran, sedangkan anak buah yang lain sibuk memadamkan api yang mengamuk dari dua jurusan itu.

See-thian-ong tidak perlu mengejar atau mencari terlalu lama karena kehadiran Thian Sin dan Kim Hong di lapangan rumput sebelah belakang pondok merah itu segera diketahui. Di bawah sinar api yang menerangi cuaca hampir pagi yang masih remang-remang itu, See-thian-ong segera menghadapi mereka bersama murid-muridnya, dan kedua orang muda itu dikepung.

Thian Sin menyambut datangnya See-thian-ong dengan senyum, juga Kim Hong tersenyum mengejek.

“Hemm, kiranya See-thian-ong yang katanya datuk dunia barat itu bukan lain hanya seorang pengecut hina yang beraninya menggunakan kecurangan, jebakan rahasia, dan mengandalkan pengeroyokan banyak anak buahnya. Sungguh tak tahu malu…!” kata Kim Hong.

“Tidak perlu kau heran, Kim Hong, karena memang dari dulu dia itu hanyalah seorang pengecut tua bangka!” Thian Sin menambahkan.

Tentu saja ucapan dua orang muda itu membuat wajah See-thian-ong yang berkulit hitam itu menjadi semakin hitam. Kedua matanya melotot seolah-olah dia hendak menelan bulat-bulat kedua orang muda itu.

“Dua bocah setan, kematianmu sudah di depan mata dan kalian masih bicara sombong sekali!” bentaknya.

“Wah, betulkah? Apakah ada yang bisa mengantarku ke kematian? Hemm, ingin aku melihat siapa yang dapat membuat aku mati!” Kim Hong melangkah maju tanpa mencabut dua batang pedang rampasan yang masih berada di punggungnya. Sikapnya menantang dan tenang sekali.

Akan tetapi, biarpun dia tahu bahwa gadis ini memiliki kepandaian silat, namun tentu saja See-thian-ong memandang rendah kepadanya. Maka diapun lalu menoleh kepada belasan orang muridnya yang tingkatnya lebih rendah setingkat dibandingkan dengan Ching-hai Ngo-liong, dan setingkat dengan tiga orang penjaga yang tewas di kamar tahanan itu. Mereka ini adalah orang-orang yang tadinya sudah dipersiapkan untuk memperkosa Kim Hong di depan Thian Sin!

“Siapa di antara kalian yang dapat menangkapnya, boleh memilikinya!”

Ucapan See-thian-ong ini tentu saja disambut dengan girang oleh belasan orang itu. Dan See-thian-ong sendiri sudah siap-siap untuk menerjang Thian Sin kalau-kalau pemuda ini hendak membantu Kim Hong. Akan tetapi, pemuda itu tersenyum dan enak-enak saja berdiri menonton, seolah-olah melihat gadis cantik itu dikurung empat belas orang merupakan pertunjukan yang menarik sekali.

Melihat gadis cantik itu berdiri sambil tersenyum mengejek, tidak memegang senjata, belasan orang itu menjadi berani. Mereka seperti berlumba dan lima orang sudah menubruk ke depan, dua orang dari belakang hendak memegang pundak, dua orang dari kanan kiri menangkap lengan dan seorang dari depan hendak merangkul pinggang! Mereka bukan menyerang, melainkan hendak menangkap gadis itu yang semalam telah membuat mereka tidak dapat tidur karena mereka telah membayangkan gadis itu sebagai korban mereka!

Kim Hong tidak menjadi gugup, bahkan ia sempat membiarkan dua orang dari kanan kiri menangkap kedua lengannya. Tiba-tiba ia mengeluarkan ketawa, kedua kakinya bergerak seperti kilat cepatnya, dengan beruntun ujung sepatu kedua kakinya telah menendang ke bagian anggauta rahasia dua orang di kanan kiri itu, dan pada saat yang sama, kepalanya digerakkan dan sinar hitam dari kuncir rambutnya yang terlepas dari sanggul menyambar ke arah ubun-ubun kepala orang yang berada di depan. Hanya terdengar suara “tokk!” dan seperti dua orang yang tertendang itu, orang yang terpukul ujung kuncir itu roboh berkelojotan! Secepat kilat Kim Hong sudah memutar tubuhnya dan kedua tangannya menampar. Hanya terdengar suara “Plak-plak!” dan dua orang itupun roboh dengan kepala retak. Lima orang itupun hanya dapat berkelojotan sebentar saja dan semua tewas seketika!

Semua yang melihat peristiwa ini, juga See-thian-ong, terbelalak dan kaget bukan main. Dia dapat menduga bahwa gadis cantik itu lihai, akan tetapi tidak selihai itu! Dan sembilan orang muridnya yang melihat betapa lima orang saudara mereka itu tewas dalam segebrakan saja, menjadi marah dan mereka telah mencabut senjata masing-masing. Ada yang memegang pedang, golok, rantai, akan tetapi sebagian besar sudah menyambar tongkat mereka, senjata istimewa mereka karena guru atau ketua mereka, See-thian-ong juga terkenal lihai sekali dengan permainan tongkat Giam-lo-pang-hoat (Ilmu Tongkat Maut). Dan kini mereka menyerbu dan mengeroyok Kim Hong, bukan lagi untuk menangkap seperti yang diperintahkan tadi, melainkan untuk membunuhnya, untuk membalas kematian kawan-kawan mereka.

Kembali terdengar gadis itu tertawa merdu dan begitu ia bergerak, semua orang terkejut karena tubuhnya lenyap dan sebagai gantinya nampak dua sinar bergulung-gulung, disusul teriakan-teriakan mengerikan, darah-darah muncrat di sana-sini dan sembilan orang pengeroyok itu roboh malang melintang. Ketika dua sinar itu berhenti bergerak, nampak Kim Hong berdiri dengan senyum dan sembilan orang pengeroyok itu telah tewas semua menjadi mangsa sepasang pedang rampasannya!

See-thian-ong melihat gerakan sepasang pedang itu. Dia terkejut, mengerutkan alisnya dan membentak, “Bukankah itu Ilmu Pedang Hok-mo-kiam? Nona, engkau tentu murid Lam-sin! Ada hubungan apakah engkau dengan Lam-sin?” bentakan ini disusul dengan gerakan kaki maju menghampiri, sikapnya marah dan mengancam. Betapapun juga, Lam-sin dapat dibilang masih “rekan”, sama-sama datuk kaum sesat, maka kalau sekarang ada muridnya yang memusuhinya, sungguh hal ini membuat dia penasaran sekali.

“Heii, See-thian-ong, apakah matamu yang tua itu sudah menjadi lamur? Siapakah kiranya yang kauhadapi itu?” kata Thian Sin mengejek.

See-thian-ong terbelalak, akan tetapi masih belum mengerti benar, atau kalaupun dia mengerti, dia sama sekali tidak percaya. “Tapi… Lam-sin adalah datuk selatan, rekan kami, bukan musuh…!” katanya.

“See-thian-ong, Nenek Lam-sin sudah tidak ada lagi, yang ada hanya Toan Kim Hong dan engkau telah menghinaku. Ingatkah betapa engkau memperlakukan sebagai anjing semalam?”

Wajah See?thian?ong menjadi pucat. Jadi benarkah bahwa Lam-sin yang kabarnya seorang nenek yang amat sakti itu adalah dara ini? Dan dia telah menghinanya sedemikian rupa. Akan tetapi dia masih belum mau percaya dan menduga bahwa tentu Thian Sin mempermainkannya, atau sengaja mempergunakan nama Lam-sin untuk membuatnya bingung dan gentar.

“Siapapun adanya engkau, jangan menjual lagak di sini!” katanya dan tiba-tiba saja dia sudah menyerang dengan pukulan tangan kanan kiri terbuka, tubuhnya agak merendah. Hawa pukulan yang amat dahsyat menyambar dan Kim Hong cepat mengerahkan sin-kang untuk menyambutnya, dengan pengerahan Ilmu Bian-kun (Tangan Kapas). Tenaga sin-kang yang amat kuat menjadi tenaga lemas yang membuat tangannya lunak seperti kapas sehingga tangan ini mampu menyambut senjata tajam sekalipun tanpa terluka.

“Plakk!” See-thian-ong terkejut sekali ketika merasa betapa tenaganya yang amat kuat seperti amblas. Maklumlah dia bahwa lawannya benar-benar hebat dan diapun meloncat lagi ke belakang karena ada sinar hitam menyambar dahsyat, yaitu rambut Kim Hong yang sudah menyambar ganas.

“Benarkah… engkau… Lam-sin…?” See-thian-ong berseru, kaget bukan main karena diapun pernah mendengar tentang Ilmu Bian-kun dan ilmu mempergunakan rambut dari Lam-sin.

“Tak perlu banyak ribut, See-thian-ong, kalau engkau berkepandaian, majulah!”

“Nona, jawablab, siapakah engkau sebenarnya?” Tiba-tiba di dalam suara See-thian-ong terkandung getaran mujijat yang membuat tubuh Kim Hong menggigil! Nona ini terkejut dan maklum bahwa lawan menggunakan kekuatan sihir. Maka dengan cepat iapun menundukkan matanya agar tidak sampai dipengaruhi.

“Aku… aku…”

“See-thian-ong, manusia curang!” Tiba-tiba Thian Sin membentak dan menepuk pundak Kim Hong. “Mundurlah, Kim Hong. Tua bangka ini lawanku!” Kim Hong yang tadi hampir saja dapat dipengaruhi dan hampir menjawab, terkejut dan melangkah mundur, membiarkan Thian Sin menghadapi kakek itu.

“Suhu, biarkanlah teecu berlima menghajar perempuan ini!” Tiba-tiba Ching-hai Ngo-liong berseru.

See-thian-ong mengangguk dan Lima Naga Dari Ching-hai itu segera mengepung Kim Hong sambil mencabut senjata mereka yang mengerikan, yaitu golok besar di tangan kanan dan rantai baja di tangan kiri. Akan tetapi Kim Hong tersenyum dan memandang rendah. Dengan tenang ia berdiri mengikuti gerak-gerik mereka dengan sudut kerling matanya, tanpa mengeluarkan sepasang pedang yang tadi sudah disimpannya di balik punggung lagi setelah ia merobohkan semua pengeroyok.

Sementara itu, See-thian-ong yang berhadapan dengan Thian Sin, diam-diam sudah mengerahkan kekuatan sihirnya, mulutnya berkemak-kemik, kemudian tiba-tiba dia membentak dengan suara mengguntur, “Ceng Thian Sin, engkau takkan kuat melawanku. Menyerahlah engkau!” Kedua tangannya dengan jari-jari terbuka dikembangkan ke depan, dengan jari-jari menunjuk ke arah pemuda itu. Dari jari-jari tangan ini keluar getaran yang amat kuatnya, mempunyai daya sihir yang berpengaruh sekali. Akan tetapi, betapa kagetnya hati See-thian-ong, ketika melihat pemuda itu bertolak pinggang dan tertawa!

“Ha-ha-ha, See-thian-ong, simpanlah kembali permainan sulapmu itu! Aku bukan anak kecil yang mudah kautipu dengan permainan sulap tukang jual obat itu, dan marilah kita bertanding sebagai laki-laki sejati!”

Kakek itu maklum bahwa musuhnya ternyata kini telah memiliki ilmu untuk melawan kekuatan sihirnya, maka diapun tidak mau membuang waktu lagi dan segera menerjang sambil mengeluarkan bentakan nyaring, “Bocah sombong mampuslah!”

Begitu menyerang, See-thian-ong telah mengerahkan tenaga Hoa-mo-kang, tubuhnya merendah dan tubuh itu menjadi besar, terutama di bagian perutnya seperti seekor katak membengkak dan ketika kedua tangannya menyambar, maka angin pukulan yang dahsyat menerjang dahsyat ke arah Thian Sin. Ketika Thian Sin merasa betapa sambaran angin dahsyat itu mengandung hawa dingin, tahulah dia bahwa ternyata kakek inipun selama ini telah memperdalam ilmunya. Pukulan ini jauh lebih ampuh dibandingkan dengan dulu. Ternyata Ilmu Hoa-mo-kang dari kakek itu kalau dahulu hanya merupakan pukulan jarak jauh yang amat kuat, kini ditambah lagi dengan mengandung hawa dingin dan beracun! Tentu saja keampuhannya menjadi berlipat ganda dan juga menjadi amat berbahaya. Namun, Thian Sin sekarang bukanlah Thian Sin dahulu ketika dia pernah mengalahkan See-thian-ong. Bukan saja pemuda ini telah memiliki ilmu yang menandingi kekuatan sihir dari datuk dunia barat ini, juga dalam hal ilmu silat, pemuda ini telah mewarisi ilmu peninggalan dari ayah kandungnya. Maka, menghadapi Ilmu Hoa-mo-kang dari lawan, dia sama sekah tidak merasa gentar dan menandinginya dengan Ilmu Silat Hok-liong-sin-ciang sambil mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang.

Di lain fihak, Kim Hong telah dikeroyok oleh lima orang Ching-hai Ngo-liong. Tadinya Kim Hong memang memandang rendah, bahkan tidak mempergunakan pedang rampasannya ketika mereka mulai mengepung. Akan tetapi setelah mereka menyerang dengan bertubi-tubi dengan cara yang amat teratur, saling bantu dan dengan pengerahan tenaga disatukan, Kim Hong terkejut juga dan maklumlah ia bahwa lima orang ini kalau maju satu demi satu memang bukan lawan yang berat baginya. Akan tetapi ternyata mereka itu dapat maju bersama sebagai barisan yang amat kuat, kadang-kadang mirip dengan Ngo-heng-tin (Barisan Lima Unsur) dan kadang-kadang berubah pula dengan barisan yang bernama Ngo-lian-tin (Barisan Lima Teratai). Dan segera ia memperoleh kenyataan bahwa barisan mereka itu sungguh amat berbahaya, maka terpaksa Kim Hong lalu mengeluarkan sepasang pedang rampasan itu dan melawan dengan ilmu pedangnya yang luar biasa, yaitu Hok-mo Siang-kiam. Maka terjadilah pertandingan yang amat hebat, di satu pihak pertandingan antara Thian Sin dan See-thian-ong, dan di lain pihak adalah Kim Hong yang dikeroyok oleh Ching-hai Ngo-liong.

Betapapun lihainya Ching-hai Ngo-liong menghadapi Kim Hong mereka segera terdesak hebat sekali. Pengepungan mereka kadang-kadang demikian kacaunya sehingga mereka tidak dapat bekerja sama lagi dan beberapa kali nyaris ada di antara mereka yang binasa kalau saja tidak cepat mereka saling melindungi lagi. Sepasang pedang di tangan Kim Hong, ditambah lagi dengan rambutnya, sungguh amat berbahaya. Kalau saja senjata-senjata rahasia jarum merah gadis ini tidak dirampas musuh semalamt tentu sejak tadi sudah ada di antara mereka berlima yang roboh oleh jarum merahnya yang beracun itu.

Sementara itu, Ciang Gu Sik dan So Cian Ling masih berdiri menonton. Kedua orang ini menjadi bingung juga. Cian Ling maklum bahwa ternyata wanita yang menjadi kekasih baru Thian Sin itu lihai bukan main. Ia merasa bahwa ia kini tidak berdaya lagi, setelah kedua pergelangan tangannya cacat, sehingga menghadapi lawan-lawan berat itu, bantuannya boleh dibilang tidak ada artinya lagi. Tentu saja ia tidak suka mengeroyok Thian Sin dan untuk maju mengeroyok Kim Hongpun ia merasa bahwa tenaganya terlalu lemah. Sedangkan Ciang Gu Sik sendiri juga bingung. Ingin dia membantu gurunya, akan tetapi mengingat akan watak gurunya, dia takut kalau-kalau hal itu akan membuat gurunya marah. Membantu gurunya sama saja mengaku bahwa gurunya kalah kuat oleh lawan, dan hal ini dapat dianggap merendahkan gurunya.

Akan tetapi, perkelahian antara See-thian-ong melawan Ceng Thian Sin mulai nampak berat sebelah. Terjadi perubahan yang menampakkan gejala terdesaknya kakek datuk barat itu. Setelah kedua orang sakti ini berkelahi lebih dari seratus jurus, See-thian-ong harus mengakui bahwa lawannya kini sungguh amat tangguh, jauh lebih lihai daripada satu setengah tahun yang lalu. Yang membuat dia bingung adalah ilmu-ilmu peninggalan Ceng Han Houw yang sungguh amat luar biasa gerakannya. Kalau saja datuk barat ini belum pernah mempelajari tiga buah kitab milik Thian Sin, agaknya dia tidak begitu bingung. Lebih baik menghadapi ilmu-ilmu itu dengan asing sama sekali dan mengandalkan kepandaiannya sendiri daripada seperti dia itu yang pernah meminjam kitab-kitab itu selama tiga bulan dan telah mempelajari isi kitab-kitab itu dengan ketekunan luar biasa, siang malam. Dia tahu bahwa kitab-kitab itu menyesatkan, mengandung rahasia-rahasia dan dia telah mempelajari secara yang salah tanpa mengetahui rahasianya. Dia telah menghentikan latihan-latihannya berdasarkan kitab itu, tahu bahwa kalau dilanjutkan dia malah akan celaka sendiri. Akan tetapi, setelah sekarang menghadapi lawan yang mempergunakan ilmu-ilmu seperti Hok-liong Sin-ciang dan Hok-te Sin-kun, mau tidak mau, dia teringat akan ilmu-ilmu yang pernah dipelajarinya itu dan mau tidak mau kadang-kadang dia tanpa disengaja teringat dan mempergunakan jurus-jurus yang sebenarnya palsu itu. Inilah yang membuat dia bingung dan sudah dua kali dia terkena tendangan kaki Thian Sin yang membuatnya terhuyung dan lambung serta pahanya terasa nyeri walaupun tidak sampai terluka oleh tendangan kilat itu.

See-thian-ong menjadi marah bukan main, juga merasa penasaran. Selama ini, sejak dikalahkan oleh Thian Sin, kakek ini tidak pernah berhenti melatih diri dan memperdalam ilmu-ilmunya. Akan tetapi setelah kini bertanding lagi menghadapi musuh lama itu, yang betapapun juga hanya seorang pemuda, kembali dia terdesak hebat!

“Singgg…!” Demikian kuatnya dia menyambar dan menggerakkan toya atau tongkat itu sehingga mengeluarkan suara mendesing. Sinar tongkatnya bergulung-gulung ketika kakek itu menyerang. Thian Sin tersenyum mengejek, akan tetapi pemuda inipun maklum akan hebatnya tongkat itu dan Ilmu Giam-lo-pang-hoat, maka biarpun tersenyum mengejek, terpaksa dia harus mengerahkan semua tenaganya untuk dapat menghindarkan diri dengan cara mengelak ke sana-sini secepat kilat, atau kalau sudah tidak ada kesempatan mengelak lagi, menggunakan kedua lengannya itu dengan tenaga Thian-te Sin-ciang. Dalam kegembiraannya karena melihat kenyataan, bahwa dia mampu menggungguli See-thian-ong dengan mudahnya, Thian Sin sengaja tidak mau mengeluarkan senjatanya dan menghadapi tongkat itu dengan tangan kosong saja! Dia hendak memperlihatkan kepada datuk ini bahwa dengan tangan kosongpun dia mampu menaklukkan See-thian-ong yang mempergunakan senjata andalannya! Maka kini perkelahian itu dilanjutkan dengan lebih seru lagi, masing-masing berusaha untuk merobohkan lawan dengan serangan-serangan maut.

Sementara itu, pertempuran antara Kim Hong melawan lima orang Ching-hai Ngo-liong juga memperlihatkan keunggulan gadis itu. Ching-hai Ngo-liong sibuk sekali dan pertahanan mereka bobol, barisan mereka kocar-kocir. Melihat ini, Cian Ling tidak dapat tinggal diam saja. Biarpun cacat pada kedua pergelangan tangannya membuat ia kehilangan banyak tenaga, namun dalam hal ilmu silat, ia masih setingkat lebih lihai daripada masing-masing dari Ching-hai Ngo-liong itu. Ia tahu bahwa lima orang itu hanya bisa diandalkan kalau bekerja sama, kini kerja sama mereka kocar-kacir, maka tentu saja mereka terdesak hebat. Sambil mengeluarkan bentakan nyaring, Cian Ling menerjang dan memutar pedangnya. Melihat cara gadis ini menyerang dan menggerakkan pedang, tahulah Kim Hong bahwa gadis murid See-thian-ong ini memang cukup lihai, maka iapun menyambut dengan tangkisan pedangnya. Akan tetapi Cian Ling tidak berani mengadu tenaga, dan menarik kembali pedangnya lalu mengirim tusukan. Bantuan Cian Ling ini cukup berarti bagi Ching-hai Ngo-liong karena mereka memperoleh kesempatan untuk menyusun kembali barisan mereka yang tadi hampir berantakan itu. Kemudian mereka menyerang lagi dengan kekuatan baru karena mereka sudah dapat menyusun barisan. Kim Hong cepat memutar pedangnya melindungi tubuhnya dari serangan yang datangnya seperti hujan itu. Ternyata bantuan Cian Ling menguntungkan lima orang pengeroyok itu.

Melihat isterinya yang juga sumoinya itu telah terjun ke dalam medan perkelahian membantu Ching-hai Ngo-liong, diam-diam Ciang Gu Sik lalu mencari kesempatan untuk membantu gurunya. Dia melihat dengan jelas betapa gurunya terdesak hebat tadi, dan kini setelah gurunya mempergunakan tongkat sebagai senjata, masih saja gurunya tidak dapat menandingi Pendekar Sadis yang amat lihai itu, Ciang Gu Sik lalu mempersiapkan senjatanya, yaitu joan-pian emas yang amat ampuh itu. Dia tidak mengeluarkan joan-pian itu, melainkan hanya bersiap sedia sambil mendekati dua orang yang sedang berkelahi mati-matian itu.

See-thian-ong kini mulai merasa bingung. Dari ubun-ubun kepalanya mengepul uap putih dan dia mulai merasa lelah sekali. Maklumlah datuk ini bahwa memang lawan yang masih amat muda ini benar-benar lebih unggul dari padanya dan diapun maklum bahwa sekali ini, kalau dia sampai kalah, bukan hanya namanya yang akan jatuh, akan tetapi dia sendiripun agaknya takkan keluar dalam keadaan hidup dari medan perkelahian itu. Hal ini membuatnya menjadi nekat. Maka, setelah mengerahkan tenaga Hoa-mo-kang, diapun lalu mengeluarkan bentakan keras sekali dan menubruk ke depan, tongkatnya menyambar-nyambar ganas, mencurahkan seluruh perhatiannya untuk menyerang tanpa mempedulikan segi pertahanan karena dia sudah mengerahkan tenaga Hoa-mo-kang yang membuat tubuhnya menggembung seperti balon ditiup keras.

Thian Sin cepat mengelak dan menangkis tongkat, kemudian secepat kilat tangan kirinva memukul ke arah dada lawan yang terbuka. Dan pada saat itu, Ciang Gu Sik menubruk dan senjata Kim-joan-pian itu berubah menjadi gulungan sinar emas menyambar ke arah kepala Thian Sin!

“Dukkk…!” Dada See-thian-ong terkena pukulan Thian Sin membuat tubuh kakek itu terjengkang dan terguling-guling, akan tetapi karena tubuhnya terisi penuh tenaga Hoa-mo-kang, pukulan itu tidak melukainya.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: