Pendekar Sadis (Jilid ke-64)

“Desss…!” Pada detik berikutnya, pundak Thian Sin disambar ujung joan-pian, membuat bajunya robek dan juga kulit dan sebagian dagingnya robek oleh senjata itu! Untung bagi pemuda itu bahwa dia masih melihat menyambarnya sinar emas pada saat dia memukul See-thian-ong tadi, sinar emas yang menyambar ke arah kepalanya, dan dia cepat miringkan kepala sehingga ujung joan-pian itu mengenai pundaknya. Ciang Gu Sik memang cerdik sekali, dia menyerang tepat pada saat Thian Sin menghantam gurunya. Tepat pada saat pukulan Thian Sin mengenai dada suhunya yang sudah melindungi diri dengan Hoa-mo-kang, Gu Sik menyerang. Detik setelah pukulan itu dilakukan oleh Thian Sin yang mengerahkan tenaga, tentu saja merupakan detik yang kosong di mana tubuh pemuda itu ditinggalkan kekuatan sin-kang karena baru saja tenaga itu dikerahkan untuk memukul, maka Thian Sin tidak dapat melindungi pundaknya yang terjuka oleh senjata itu.

Begitu pundaknya terluka, Thian Sin membalik dan menyerang dahsyat ke arah Ciang Gu Sik, akan tetapi murid See-thian-ong yang cerdik ini sudah meloncat jauh ke belakang sehingga terbebas dari serangan Thian Sin. Sementara itu, See-thian-ong tertawa girang dan dia sudah menerjang lagi dengan dahsyatnya, menghantam dengan tongkatnya sehingga terpaksa Thian Sin meninggalkan Gu Sik untuk menghadapi kakek itu. Pundaknya yang terluka tidak berbahaya, akan tetapi cukup nyeri dan membuat dia marah.

Seperti kita ketahui, Cian Ling tadi ikut membantu Ching-hai Ngo-liong mengeroyok Kim Hong dan ketika melihat betapa Thian Sin kena dihantam oleh suaminya atau juga suhengnya, wanita ini menjadi khawatir sekali. Betapapun juga, diam-diam Cian Ling masih mencinta Thian Sin, dan melihat betapa pundak Thian Sin terluka oleh joan-pian dan berdarah, hatinya gelisah dan berduka. Disangkanya bahwa Thian Sin tentu akan celaka dan tidak akan mampu menghadapi pengeroyokan See-thian-ong dan Ciang Gu Sik. Kini, melihat betapa Thian Sin masih bertanding melawan See-thian-ong sedangkan suaminya itu masih siap dengan joan-pian di tangan, tentu sedang menanti saat seperti tadi, Cian Ling menjadi marah dengan tiba-tiba. Dugaannya memang benar karena pada saat Thian Sin dan See-thian-ong sedang saling serang dengan hebat, tiba-tiba Gu Sik sudah menerjang lagi dari belakang.

Tanpa banyak cakap, Cian Ling meninggalkan Kim Hong yang masih dikeroyok oleh Ching-hai Ngo-liong yang telah dapat mengatur kembali barisannya itu, dan Cian Ling lalu menyerbu ke dalam medan perkelahlan yang lain itu bukan untuk mengeroyok dan menyerang Thian Sin, melainkan untuk menggunakan pedangnya menusuk ke arah lambung suaminya dari samping! Ciang Gu Sik sama sekali tidak mengira bahwa gerakan pedang isterinya itu untuk menyerang dirinya, maka dia tak dapat menghindarkan diri sama sekali dan tahu-tahu pedang isterinya itu menusuk dan menembus lambungnya di bawah iga, dari kanan ke kiri! Ciang Gu Sik berteriak lalu terbelalak memandang kepada isterinya, joan-pian emas itu terlepas dari pegangannya, kedua tangannya menekan kedua lambungnya dan dia terhuyung ke belakang, pedang isterinya masih terbawa oleh tubuhnya.

Peristiwa yang tak disangka-sangka ini membuat See-thian-ong dan Thian Sin terkejut, sehingga keduanya undur ke belakang memandang kepada Ciang Gu Sik dan Cian Ling. Tiba-tiba See-thian-ong menubruk ke depan dan memukul Cian Ling dengan Ilmu Hoa-mo-kang! Thian Sin yang masih terheran itu tidak sempat mencegahnya. Cian Ling kena terpukul dadanya dan wanita ini menjerit lalu terbanting roboh! Semua itu terjadi sedemikian cepatnya! Melihat isterinya roboh, Ciang Gu Sik terhuyung menghampiri dan diapun terguling roboh tak jauh dari isterinya.

“Cian Ling… kenapa kau… kau membunuhku…?”

“Suheng… maaf… aku cinta padanya…”

Hanya itulah yang terdengar oleh Thian Sin dan tiba-tiba pemuda ini mengamuk. Dengan cepat dia mencabut kipas dan pedang Gin-hwa-kiam dan diserangnya See-thian-ong dengan hebatnya. Datuk ini menangkis dengan tongkatnya dan membalas sehingga dalam detik-detik berikutnya dua orang ini sudah bertanding lagi dengan seru dan mati-matian.

Sementara itu, Kim Hong sudah berhasil merobohkan dua orang pengeroyok. Kalau gadis ini menghendaki, sebetulnya sudah sejak tadi ia mampu merobohkan para pengeroyoknya. Akan tetapi gadis ini memang sengaja hendak mempelajari ilmu barisan mereka yang dianggapnya cukup hebat itu, dan pula, ia tadi melihat bahwa kekasihnya tidak memerlukan bantuannya. Melihat betapa Thian Sin belum juga mengeluarkan senjata, iapun maklum bahwa kekasihnya itu merasa yakin akan keunggulannya. Akan tetapi, tak disangka-sangkanya sama sekali bahwa Thian Sin akan terkena serangan mendadak dari Gu Sik sehingga terluka pundaknya. Maka Kim Hong segera mempercepat gerakan sepasang pedang itu dan lima orang pengeroyoknya kembali kocar-kacir. Apalagi sekarang Cian Ling tidak membantu mereka. Hanya belasan jurus kemudian, sepasang pedang gadis yang pernah menjadi datuk selatan itu merobohkan dua orang pengeroyok yang tewas seketika. Tiga orang saudaranya terkejut dan marah, melawan mati-matian, akan tetapi tentu saja mereka itu tidak merupakan lawan yang berat lagi bagi Kim Hong. Ia terus mempercepat gerakannya dan berturut-turut tiga orang dari Ching-hai Ngo-liong itupun roboh dengan jantung tertembus pedang! Ketika orang ke lima roboh, Kim Hong melihat bahwa sepasang pedang tipisnya tersembunyi di balik jubah orang itu. Ia menjadi girang sekali dan cepat melempar pedang rampasannya dan mengambil kembali sepasang pedangnya. Di pinggang orang ke dua ia menemukan kantong jarum merahnya, maka iapun mengambil senjata rahasia ini.

Setelah memperoleh kembali senjata-senjatanya, Kim Hong menoleh ke arah perkelahian antara dua orang itu. Alisnya berkerut. Ia melihat bahwa kekasihnya memang lebih unggul dan kakek itu telah terluka di sana-sini, bajunya berlumuran darah, kulit dadanya tergurat pedang dan pahanya juga terluka, akan tetapi kakek itu masih dapat melawan dengan tidak kurang kuatnya daripada tadi.

“Thian Sin, mengasolah dan biarkan aku mencoba kelihaian tua bangka ini!” kata Kim Hong dengan suara gembira. Thian Sin meloncat ke belakang. Tentu saja kalau dilanjutkan, akhirnya dia yang akan menang. Akan tetapi dia tahu betapa inginnya hati kekasihnya yang pernah berjuluk Lam-sin dan terkenal sebagai datuk selatan itu ingin sekali mencoba kepandaian datuk barat!

“Maju dan cobalah macan tua ompong ini!” katanya.

Kim Hong menggerakkan sepasang pedangnya menyambut terjangan See-thian-ong. Terdengar bunyi berdencing beberapa kali dan keduanya terkejut, maklum bahwa tenaga mereka berimbang.

See-thian-ong menjadi semakin gentar melihat betapa semua muridnya telah tewas. Tak disangkanya wanita muda ini sedemikian lihainya sehingga Ching-hai Ngo-liong juga sampai tewas semua di tangannya. Mulailah dia meragu dan mulai percaya akan keterangan tadi yang menimbulkan dugaan bahwa gadis ini adalah Lam-sin!

“Tranggg!” See-thian-ong menahan pedang Kim Hong, lalu membentak, “Benarkah engkau Lam-sin?”

Kim Hong tersenyum tanpa memandang mata kakek itu. “Lam-sin sudah tidak ada, yang ada aku Toan Kim Hong!” katanya sambil menyerang lagi. Akan tetapi See-thian-ong meloncat ke belakang dan berkata.

“Tahan dulu! Kalau engkau benar Lam-sin, atau engkau yang menyamar sebagai nenek dan memakai nama Lam-sin, berarti kita masih segolongan! Lam-sin sebagai datuk dunia selatan tidak akan memusuhi See-thian-ong, datuk barat!”

“Hi-hik, kakek pikun. Ketika aku masih menjadi Nenek Lam-sin, tentu saja aku tidak akan memusuhimu. Akan tetapi engkau lupa, aku sekarang bukan lagi Lam-sin, melainkan gadis biasa saja Toan Kim Hong yang ingin mencoba sampai di mana kelihaian orang yang berani berjuluk datuk dunia barat!”

“Bagus, bocah sombong mampuslah!” Dan kakek itu sudah menerjang dengan dahsyatnya. Dia tidak percaya bahwa gadis ini akan sekuat Thian Sin, maka biarpun nanti dia akan kalah, kalau dia sudah dapat morobohkan dan membunuh gadis ini, puaslah hatinya. Setidaknya dia akan dapat membalas kematian murid-muridnya dan juga dapat membuat berduka hati Thian Sin yang kematian kekasihnya. Inilah sebabnya mengapa kakek itu mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya untuk menerjang Kim Hong sebelum Thian Sin sempat membantunya.

Thian Sin kini menghampiri Cian Ling dan memeriksa keadaan gadis itu. Dia terkcjut sekali melihat bahwa gadis itu telah menderita luka yang amat hebat, tulang-tulang dadanya remuk oleh See-thian-ong tadi. Akan tetapi pada saat itu Cian Ling sadar dan melihat Thian Sin berlutut di dekatnya, ia tersenyum.

“Cian Ling…!” Thian Sin berkata dengan terharu. Dia tahu bahwa gadis ini tewas karena mencoba untuk menolongnya. “Kenapa engkau ceroboh sekali, mencoba membantuku?”

“Thian Sin… aku… aku cinta padamu… aku tidak tahan melihat engkau terancam… dan aku… tidak dapat hidup… tanpa engkau…”

Thian Sin menarik napas panjang dan dia merasa kasihan kepada gadis ini. Bagaimanapun juga, dia tidak mencinta gadis ini, sungguhpun dia suka sekali kepadanya. Siapa yang tidak suka kepada seorang gadis semanis Cian Ling?

“Ciang Ling…” Thian Sin menggeleng kepala dan menarik napas panjang. Lalu dia menoleh dan melihat betapa perkelahian antara See-thian-ong dan Kim Hong terjadi amat hebatnya. Ketika dilihatnya bahwa See-thian-ong benar-benar mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk mengalahkan Kim Hong, diapun maklum bahwa agaknya kakek itu berusaha mati-matian untuk membunuh Kim Hong, tentu saja dengan maksud membalas kematian murid-muridnya.

Maka timbul kekhawatirannya dan diapun bangkit berdiri.

“Thian Sin…”

Dia berjongkok lagi mendengar suara Cian Ling ini.

“Kau… kau cinta padanya…?”

Thian Sin maklum apa yang dimaksudkan oleh gadis ini dan diapun mengangguk. Memang, pada saat itu dia berani mengaku bahwa dia mencinta Kim Hong, walaupun dia sendiri tidak yakin apakah perasaannya terhadap Kim Hong itu yang dinamakan cinta, ataukah sama saja dengan perasaannya ketika dia sedang tergila-gila kepada para gadis lain yang pernah dicintanya, seperti Cian Ling.

“Ah… ia… ia bahagia… aku… aku… iri kepadanya…”

Napas gadis itu tinggal satu-satu dan Thian Sin memandang dengan hati kasihan. “Tenangkanlah hatimu, Cian Ling. Seorang gagah tidak takut mati!” Dia membesarkan hati gadis itu.

Cian Ling menggerakkan lehernya seolah-olah hendak mengangguk. “Thian Sin… maukah engkau mengantar kematianku dengan sebuah ciuman…”

Mendengar permintaan ini, Thian Sin merasa semakin iba dan diapun merangkul dan mengangkat tubuh bagian atas gadis itu. Cian Ling menyeringai kesakitan, dan kedua lengannya merangkul ketika Thian Sin menciumnya. Pada saat itu Thian Sin merasa betapa tubuh itu menegang lalu terkulai dan tahulah dia bahwa gadis itu menghembuskan napas terakhir pada saat dia menciumnya, maka dengan perlahan dia lalu merebahkan kembali tubuh itu ke atas tanah.

Akan tetapi pada saat itu dia mendengar angin dahsyat dari belakangnya. Dia menengok dan terkejut bukan main melihat Kim Hong menerjang dan menendangnya. Dia tidak sempat mengelak, maka dia menangkis dan “desss…!” Tubuhnya terlempar sampai beberapa meter jauhnya.

“Eh… kau sudah gila…?”

“Engkau yang gila, bukan aku!” bentak Kim Hong dan gadis ini sekarang menyerang Thian Sin dengan sepasang pedangnya! Thian Sin menangkis beberapa kali, lalu meloncat dan mengejar See-thian-ong yang mempergunakan kesempatan itu untuk melarikan diri! Juga Kim Hong berlari cepat dan ternyata gin-kang dari gadis ini yang paling hebat dan dia yang lebih dulu menghadang dan menyerang See-thian-ong! Kini See-thian-ong diserang oleh dua orang! Tentu saja dia menjadi sibuk sekali, mengelak ke sana ke mari dan menangkis, akan tetapi tiba-tiba terdengar dia menjerit ketika sebatang pedang dari Kim Hong yang marah-marah itu membabat putus lengannya sebatas bawah siku! Akan tetapi, kakek ini masih terus melawan, bahkan mendesak Thian Sin dengan tongkatnya. Thian Sin menangkis lalu menghantamkan tangan kirinya sambil tubuhnya melayang ke depan. Dia telah menggunakan jurus Hok-te Sin-kun yang ampuh. See-thian-ong yang sudah buntung lengan kirinya itu tidak berhasil menghindarkan dirinya dan dadanya kena dipukul.

“Desss…!” Bukan main hebatnya pukulan ini dan kalau bukan See-thian-ong tentu sudah roboh dan tewas. Akan tetapi pukulan itu hanya membuat tubuh See-thian-ong terbanting keras ke belakang dan diapun bergulingan sampai jauh. Ketika dia meloncat berdiri, tubuhnya bergoyang-goyang, wajahnya pucat dan darah bercucuran dari lengan kirinya. Sementara itu, Kim Hong memandang kepada Thian Sin dengan sinar mata berkilat.

“Engkau telah menghinaku!” bentak Kim Hong kepada pemuda itu.

Thian Sin masih belum mengerti mengapa Kim Hong marah-marah kepadanya dan tadi bahkan nyaris membunuhnya. “Eh, kenapakah…?” Lalu dia teringat dan dia tersenyum. “Eh, apakah engkau… marah dan cemburu melihat aku mencium Cian Ling tadi? Kau tahu, ia… ia minta aku mengantarkan kematiannya dengan ciuman, ia sudah mati, harap kau tidak cemburu!”

“Siapa cemburu? Cih, engkau mau menciumi wanita lain sampai mampuspun aku tidak peduli, akan tetapi kalau engkau melakukan di depan mataku, berarti bahwa engkau tidak memandang aku dan berarti engkau menghinaku! Kalau memang engkau ingin mencumbu wanita lain, pergilah dan jangan melakukannya di depanku!”

Thian Sin melongo. Sungguh dia tidak mengerti watak wanita, terutama Kim Hong yang aneh ini. Akan tetapi tiba-tiba See-thian-ong melompat dan lari lagi, maka diapun tidak menjawab dan sudah mengejar, disusul oleh Kim Hong yang kembali mendahuluinya dan sudah menghadang See-thian-ong!

“Hemm, kalian tidak mau melepaskan aku, ya? Kalian menghendaki kematianku? Baiklah, aku akan mati di depanmu!” Dan tiba-tiba saja See-thian-ong menggerakkan tongkatnya dan… terdengar suara keras disusul robohnya tubuh yang tidak bernyawa lagi karena kepalanya pecah dihantam tongkatnya sendiri tadi! Kiranya See-thian-ong sudah putus asa, maklum bahwa dia tidak dapat menang melawan dua orang muda itu, juga tidak dapat melarikan diri. Maka, daripada disiksa oleh Pendekar Sadis dan mati di tangan musuh, dia memilih mati di tangan sendiri!

Thian Sin mendekatinya dan setelah mendapat kenyataan bahwa musuh besarnya ini telah tewas, dia menarik napas panjang. Akan tetapi ketika dia menengok, dia tidak melihat lagi Kim Hong di situ. Ternyata gadis itu telah pergi tanpa pamit, meninggalkannya.

“Kim Hong…!” Dia memanggil dan mencari ke sana-sini sambil memanggil-manggil nama gadis itu. Akan tetapi hasilnya sia-sia belaka, Kim Hong lenyap tanpa meninggalkah bekas. Akhirnya Thian Sin terpaksa kembali ke pondok merah yang tadinya menjadi sarang See-thian-ong dan anak buahnya. Akan tetapi tempat itu telah menjadi sunyi sekali. Kebakaran telah dipadamkan orang dan hanya tinggal bekasnya saja, asap di sana-sini. Akan tetapi mayat-mayat para murid See-thian-ong telah lenyap dan tidak seorangpun berada di tempat itu. Juga ketika dia memasuki pondok besar yang kebakaran itu, tidak nampak seorangpun manusia. Agaknya sisa anak buah See-thian-ong telah melarikan diri sambil membawa mereka yang tewas. Dan pondok-pondok lain yang berada di sekitar tempat itu, agaknya tidak ada yang membuka pintu karena penghuninya ketakutan. Maka Thian Sin meninggalkan tempat itu untuk mencari Kim Hong.

Apa yang dilakukan oleh Thian Sin dan Kim Hong di tepi Telaga Ching-hai itu merupakan peristiwa yang menggemparkan sekali. Terutama dunia kang-ouw segera mendengar berita yang dibawa oleh sisa anak buah See-thian-ong bahwa datuk barat itu tewas di tangan Pendekar Sadis, demikian pula semua murid-murid datuk itu. Sungguh hal ini merupakan berita yang mengejutkan hati para tokoh dunia kaum sesat. Semua orang memang sudah tahu bahwa kemunculan Pendekar Sadis menggegerkan dunia persilatan, bukan hanya karena kejamnya melainkan juga karena kelihaiannya yang dikabarkan amat luar biasa itu. Akan tetapi belum pernah sebelumnya ada yang menduga bahwa Pendekar Sadis akan mampu mengalahkan See-thian-ong bahkan mengobrak-abrik kaki tangan datuk itu, membunuh Si Datuk dan semua muridnya yang terpandai. Maklumlah para tokoh dunia hitam bahwa Pendekar Sadis merupakan ancaman bahaya yang besar bagi kelangsungan hidup mereka.

Hasil yang amat baik dari penyerbuannya yang bukan hanya dapat menyelamatkan Kim Hong, bahkan akhirnya dapat mengalahkan See-thian-ong, membunuhnya dan para muridnya itu mestinya amat menggirangkan hati Thian Sin. Akan tetapi, ternyata tidak demikian. Dia sama sekali tidak merasa puas atau girang, bahkan merasa gelisah dan bingung. Semua ini, dia tahu, disebabkan oleh perginya Kim Hong tanpa pamit.

Baru sekarang dia mengalami hal seperti ini. Merasa gelisah, kesepian dan kehilangan kegembiraan, bahkan kehilangan gairah hidup. Apakah ini disebabkan karena perginya Kim Hong? Mengapa sebelum dia bertemu dan berkumpul dengan Kim Hong dia tidak pernah merasakan kesepian yang menghimpit ini? Apakah ini berarti bahwa dia telah benar-benar jatuh cinta kepada gadis itu?

Thian Sin mengeraskan hatinya. Kalau Kim Hong tidak mau melanjutkan hubungan dengan dia, diapun tidak dapat berbuat apa-apa. Tidak ada ikatan apa-apa di antara mereka, bahkan Kim Hong sudah menjelaskan bahwa di antara mereka tidak ada ikatan apapun! Hubungan mereka adalah atas dasar suka sama suka, demikian kata Kim Hong. Jadi, kalau seorang di antara mereka sudah tidak suka melanjutkan hubungan itupun putus sampai di situ saja! Dan agaknya Kim Hong tidak hendak melanjutkan, maka gadis itu pergi tanpa pamit. Dan sebabnya, menurut dugaannya, dan biarpun dibantah oleh Kim Hong, adalah rasa cemburu.

Thian Sin merasa tidak berdaya. Seorang wanita seperti Kim Hong tidaklah mudah untuk dapat dicarinya begitu saja kalau Kim Hong tidak ingin bertemu dengannya. Wanita itu amat lihai, dan keras hati, percaya kepada diri sendiri dan yang lebih dari kesemuanya itu, Kim Hong memiliki gin-kang yang lebih tinggi daripada dia sehingga andaikata ia dapat mencarinya juga, kalau wanita itu melarikan diri dia tidak akan mampu mengejar dan menyusulnya.

Dalam perjalanannya sekali ini, Thian Sin benar-benar merasa bingung dan kesepian. Dia tidak tahu ke mana harus mencari Kim Hong dan maklum bahwa kalau gadis itu sendiri tidak ingin bertemu dengannya, maka tidaklah ada harapan baginya untuk dapat mencari Kim Hong. Oleh karena itu, diapun lalu pergi menuju ke Tai-goan. Dia telah berhasil menundukkan dua di antara empat datuk kaum sesat. Pertama, Lam-sin telah ditundukkan, dan ke dua, See-thian-ong telah berhasil ditewaskannya. Kini tiba giliran Pak-san-kui! Datuk itupun merupakan musuhnya, dan sekali ini dia harus dapat menghancurkan Pak-san-kui seperti yang telah dilakukannya terhadap See-thian-ong.

Akan tetapi perjalannannya sekali ini terasa kosong dan tidak menyenangkan. Penah dia merasakan hal yang mirip dengan perasaannya sekarang ini, yaitu ketika dia mendapatkan kenyataan bahwa Ciu Lian Hong telah memilih Han Tiong, kakak angkatnya, dari pada dia. Dia merasa nelangsa sekali, merasa ditinggalkan dan terpencil, dan timbullah perasaan kesepian yang menimbulkan rasa iba diri dan merasa dirinya sengsara.

Di dalam perjalanannya menuju ke Tai-goan, Thian Sin sering kali termenung seorang diri dengan perasaan kosong dan sunyi. Dia seringkali membayangkan semua pengalamannya, semua perbuatannya. Dia telah dijuluki Pendekar Sadis, dan dia tidak merasa menyesal atau malu dengan julukan itu. Biarlah dia dikatakan sadis, akan tetapi dia bersikap kejam hanya terhadap penjahat! Dia memang sudah berniat untuk membasmi para penjahat dengan kekerasan, dengan menggunakan ilmu kepandaiannya. Dia akan menghancurkan semua datuk kaum sesat dan memperkenalkan diri sebagai pembasmi para datuk, menjadi jagoan nomor satu di dunia, melanjutkan cita-cita mendiang ayah kandungnya yang ingin menjadi jagoan nomor satu di dunia. Dia menganggap bahwa tindakan itu benar, dan menurut pendapatnya, kalau semua pendekar di dunia ini bertindak seperti dia, membasmi para penjahat tanpa ampun lagi, maka dunia akan bersih dari kejahatan.

Thian Sin mengenang hubungannya dengan semua wanita semenjak yang pertama kali. Pertama-tama dia berdekatan dengan wanita adalah Bhe Cu Ing, gadis dusun dekat Lembah Naga, yang merupakan cinta pertamanya. Kedukaan pertama karena wanita adalah ketika secara paksa Bhe Cu Ing dipisahkan darinya. Kemudian muncul Loa Hwi Leng, Puteri anggota Jeng-hwa-pang itu yang kemudian dibunuh oleh Jeng-hwa-pang, membuat dia merasa amat membeci Jeng-hwa-pang dan mengobrak-abriknya. Lalu bermunculanlah So Cian Ling yang telah berhubungan sangat akrab dengan dia, lebih dari pada wanita-wanita lain sebelumnya. Dan ada pula Bin Biaw, puteri tunggal Tung-hai-sian itu, yang manis dan yang pada pertemuan pertama juga menggerakan hatinya, akan tetapi dia terpaksa mundur karena di situ hadir pula Cia Kong Liang yang terhitung pamannya. Lalu muncul Ang Bwe Nio anak buah Ji Beng Tat yang terpaksa dibuntungi hidungnya karena telah menghianatinya itu, kemudian ada lagi Leng Ci, selir dari Raja Agahai, dan terakhir adalah Kim Hong atau Lam-sin. Dia sering duduk termenung dan bertanya-tanya di dalam hatinya. Apakah artinya semua wanita itu baginya? Itukah cinta? Ataukah semua itu hanya nafsu berahi saja? Atau apa? Dia sendiri tidak tahu. Akan tetapi yang jelas, mereka semua itu mendatangkan duka, setiap kali berpisah. Juga Ciu Lian Hong, dara satu-satunya yang menimbulkan keinginan hatinya untuk memperistrinya, mendatangkan rasa duka dan sengsara karena berpisah darinya, karena harapannya untuk memperistri dara itu gagal. Apakah terhadap Lian Hong itu cinta? Dan bagaimana dengan Kim Hong ini? Cintakah? Atau sekedar nafsu berahi? Kalau cinta, mengapa mendatangkan duka? Dia bingung, tak mampu menjawab!

Tai-goan adalah kota ke dua sesudah ibu kota Peking yang terdekat dengan ibu kota itu, menjadi ibu kota Propinsi Shan-si. Kota ini amat ramai karena kota itu terletak di tepi Sungai Fen-ho yang menjadi cabang dari Sungai Huang-ho. Dengan adanya Sungai Fen-ho ini, maka tentu saja hubungan antara Kota Tai-goan dengan kota-kota lain menjadi lancar, bukan hanya memalui darat, melainkan juga melalui air. Hubungan antara kota Tai-goan dengan kota-kota di dalam Propinsi Ho-nan dan Shan-tung dapat dilalui air dan daerah yang dilalui Sungai Fen-ho yang kemudian bersatu dengan induknya, Sunngai Huang-ho, amatalah luasnya. Karena hubungan daerah dan kota-kota lainnya amat lancar, maka tentu saja perdagangan di Tai-goan menjadi makmur sekali.

Berita tentang terbunuhnya See-thian-ong dan para muridnya oleh Pendekar Sadis, sudah mendahului Thian Sin dan sudah sampai ke Tai-goan, membuat gempar para pendekar dan juga para tokoh dunia hitam di daerah Tai-goan, bahkan sudah sampai pula ke kota raja! Dan tentu saja berita ini telah pula terdengar oleh Pak-san-kui! Seperti kita ketahui, Pak-san-kui hidup sebagai seorang hartawan yang kaya raya di kota Tai-goan. Dia memiliki banyak perusahaan dan toko-toko, terutama sekali penginapan-penginapan, restoran-restoran, rumah-rumah judi dan rumah-rumah pelesiran di seluruh kota Tai-goan, boleh di bilang adalah miliknya, atau kalaupun milik orang lain, tentu berada dibawah kekuasaannya. Datu kaum sesat yang menguasai wilayah utara ini mempunyai banyak kaki tangan. Akan tetapi yang menjadi murid-muridnya dan langsung menerima pelajaran ilmu silat dari datuk ini hanya lah Pak-thian-sam-liong dan tentu saja putera nya sendiri, yaitu Siangkoan Wi Hong. Dan untuk kota Tai-goan, yang mengenalnya sebagai Pak-san-kui juga hanya para tokoh kang-ouw dan para pendekar saja, sedangkan rakyat disitu lebih mengenalnya sebagai hartawan Siangkoan Tiang atau Siangkoan-wangwe (hartawan) atau Siangkoan-loya (tuan besar).

Ketika mendengar tentang terbunuhnya See-thian-ong dan murud-muridnya oleh Pendekar Sadis, Pak-san-kui Siangkoan Tiang menjadi terkejut dan merasa gentar. Dia sudah dapat menduga siapa adanya Pendekar Sadis itu. Dia teringat kepada Thian Sin, putera mendiang Pangeran Ceng Han How itu. Pemuda itu pernah mengalahkannya setelah menipunya dengan kitab-kitab palsu! Biarpun selama ini, semenjak kekalahannya, dia sudah memperdalam ilmunya bersilat dengan menggunaan huncwe, namun diam-diam dia merasa gentar juga. Lawan yang pernah mengalahkannya itu adalah orang muda, dan amat mudahnya bagi seorang pemuda untuk memperoleh kemajuan dalam ilmu kepandaiannya, berbeda dengan orang tua seperti dia yang sudah mulai lemah. Maka diapun lalu memanggil Pak-thian-sam-liong dan puteranya, Siangkoan Wi Hong.

“Hampir dapat dipastikan bahwa Ceng Thian Sin adalah si Pendekar Sadis, dan kalau benar demikian, sudah tentu dia pada suatu hari akan muncul disini,” kata Pak-san-kui.

“Ayah, kalau dia hanya datang seorang diri, takut apa? Dahulupun aku hanya kalah setingkat olehnya dan selama ini aku telah berlatih dengan tekun. Juga ayah telah berlatih memperdalam ilmu. Dengan adnya kita berdua, dibantu oleh para suheng Pak-thian-sam-liong, dan kalau kita mengerahkan lagi sepasukan orang-orang pilihan, tentu kita akan dapat membekuknya! Kita berlima saja kiraku akan cukup untuk membekuknya, bertapapun lihainya. Bukankah benar demikian, suheng?”

Pak-thian-sam-liong mengangguk. “Benar sekali apa yang dikatakan oleh Siangkoan-sute. Dengan suhu sendiri saja, atau melawan sute sendiri, sudah setingkat, apa lagi kalau kita berlima maju bersama. Kami merasa yakin akan dapat membekuknya atau membunuhnya.”

Mendengar ucapan murid-murid dan puteranya, legalah hati Pak-san-kui. “Bertapapun juga kita harus berhati-hati. Penjagaan harus diperketat dan setiap malam harus diadakan perondaan dan penjagaan, jangan sampai jahanam itu menyeludup. Kalian bertiga harus mengatur sendiri penjagaan itu,” katanya kepada Pak-thian-sam-liong yang cepat menyatakan kesanggupan mereka. “Wi Hong,” katanya kepada puteranya. “Engkau pergilah mengunjungi Siong-ciangkun, undang dia ke sini untuk membicarakan tentang kemungkinan Pendekar Sadis mengacau Tai-goan.”

“Baik, ayah.” Siangkoan Wi Hong lalu pergi untuk melaksanakan perintah ayahnya.

Siong-ciangkun atau komandan Siong adalah komandan yang mengepalai pasukan keamanan di Tai-goan. Seperti juga dengan para pembesar tinggi lain, baik di Tai-goan maupun di kota raja, Pak-san-kui mempunyai hubungan baik sekali, tentu saja dengan bantuan kekayaannya. Diapun mempunyai hubungan erat dengan komandan pasukan di Tai-goan itu dan untuk menghadapi kemungkinan datangnya Pendekar Sadis, datuk utara itu kini mengadakan persekutuan dengan Siong-ciangkun. Tentu saja dalam pertemuan itu Pak-san-kui sama sekali tidak membayangkan bahwa dia takut menghadapi Ceng Thian Sin, akan tetapi dia mengatakan bahwa pemuda itu adalah musuhnya dan mungkin saja mengacaukan kota Tai-goan yang tentram itu. Dan dia tidak lupa untuk memberi bekal yang cukup banyak untuk biaya pasukan yang akan mengadakan penjagaan ketat. Seratus orang angggauta pasukan pilihan dibentuk menjadi pasukan yang kuat oleh komandan ini dan mereka itu disebar untuk melakukan penjagaan di kota, memata-matai semua orang yang datang, dan terutama sekali menghubungi Pak-san-kui setiap kali mereka menaruh curiga kepada seorang pendatang baru yang memasuki kota. Hanya repotnya bagi para petugas ini adalah bahwa mereka belum pernah melihat bagaimana macamnya orang yang berjuluk Pendekar Sadis, dan tentu saja nama julukan itu membuat mereka membayangkan wajah seorang laki-laki yang bengis.

Dan Pak-san-kui sendiripun belum berani menentukan bahwa Pendekar Sadis adalah Ceng Thian Sin, karena hal itu baru merupakan dugaan-dugaan saja. Diapun tidak berani ceroboh. Bagaimana kalau ternyata Thian Sin bukan Pendekar Sadis? Dia harus berhati-hati, bukan hanya terhadap Thian Sin yang telah menjadi musuhnya, akan tetapi juga terhadap kemungkinan bahwa Pendekar Sadis bukanlah Thian Sin sehingga dia harus menghadapi seseorang yang berbahaya dan belum pernah dikenalnya, akan tetapi yang mungkin sekali akan mengganggunya, seperti yang dilakukan pendekar itu terhadap See-thian-ong.

Inilah sebabnya maka Thian Sin dapat memasuki kota Tai-goan tanpa banyak halangan. Para anggauta pasukan istimewa yang disebar oleh Siong-ciangkun sebagai mata-mata itu tentu saja sama sekali tidak curiga ketika seorang pemuda yang demikian tampan dan halus, yang pantasnya adalah seorang pemuda terpelajar tinggi, dan melihat pakaiannya yang cukup mewah dan pesolek, pantasnya pemuda itu adalah putera bangsawan atau hartawan yang sedang berpesiar ke Tai-goan dan mungkin datang dari kota raja!

Thian Sin juga bukan orang bodoh. Dia dapat menduga bahwa di tempat itu banyak terdapat kaki tangan Pak-san-kui, maka biarpun dia tidak memasuki kota dengan cara bersembunyi, namun diapun tidak mau menonjolkan diri karena dia tidak ingin bertemu halangan sebelum sempat bertemu muka dengan Pak-san-kui sendiri. Maka sebelum pergi ke tempat lain, dia lebih dulu mencari-cari tempat yang baik untuk bersembunyi atau bermalam. Dia tidak mau bermalam di tempat penginapan karena biarpun dia dapat menggunakan nama palsu, tentu dalam waktu beberapa hari saja Pak-san-kui akan mengetahui tempat itu. Dan hatinya pun girang sekali ketika dia melihat sebuah rumah kecil di sudut kota, rumah seorang miskin yang terpencil dan letaknya ditepi sungai. Ketika melihat bahwa rumah ini hanya dihuni oleh seorang kakek miskin yang pekerjaannya sebagai kuli mengangkut barang-barang yang diangkut oleh perahu-perahu ditempat itu, Thian Sin segera menyewa rumah itu. Kakek yang miskin itu girang sekali dan dia memberikan satu-satunya pembaringan dalam kamar satu-satunya pula, sedangkan dia sendiri mengalah, tidur di lantai bertilam rombeng. Kepada kakek itu Thian Sin memberi tahu bahwa dia datang dari kota raja, ingin berpesiar dan tidak ingin terganggu oleh kenalan-kenalan maka dia sengaja mencari tempat sunyi untuk menginap agar jangan terganggu orang lain. Juga dia berpesan kepada kakek itu agar kehadirannya tidak diberitahukan kepada siapapun juga. Kakek itu menerima uang, tentu saja dia tidak peduli akan urusan orang dan tidak mau bicara tentang tamunya yang mendatangkan rejeki baginya itu.

Setelah memperoleh tempat itu dan menggalkan buntalan pakaiannya di dalam kamar, barulah Thian Sin memasuki daerah kota yang ramai untuk mencari rumah makan. Sebuah rumah makan bercat merah amat menarik hatinya. Baru melihat tempatnya yang mewah dan bersih itu saja sudah menimbulkan selera, maka diapun lalu memasuki rumah makan itu.

“Selamat sore, kongcu.” Seorang pelayan menyambutnya dengan manis. “Kongcu hendak makan dibawah ataukah di loteng?”

Thian Sin menengok ke atas, melihat ada tangga yang indah menuju ke sebuah ruangan di loteng, dibuat dengan cara yang nyeni sekali. Karena melihat bahwa di ruangan itu banyak juga tamunya, diapun menjawab bahwa dia ingin makan di loteng. Pelayan itu lalu mengantarnya naik ke loteng. Tiba-tiba, setelah dia hampir sampai ke loteng, Thian Sin berhenti melangkah dan wajahnya berubah. Dia mendengar suara Kim Hong!

“Kenapa, kongcu?” pelayan yang berjalan dibelakangnya bertanya melihat pemuda itu berhenti.

“Aku tidak senang di ruangan loteng, kausiapkan saja semangkok bakmi dan panggang ayam dengan arak di meja bawah, di sudut jauh dari pintu keluar,” kata Thian Sin.

“Baik, kongcu,” kata pelayan itu yang segera turun kembali. Thian Sin pura-pura melihat-lihat ke dalam ruangan loteng itu, akan tetapi hanya melongok daja dan dia melihat Kim Hong duduk di meja bagian luar loteng, berhadapan dengan seorang pemuda tampan yang membelakangi jalan luar. Jantung Thian Sin berdebar dan terasa panas ketika mengenal pemuda itu. Andaikata dia lupa pemuda itu, pasti dia tidak akan melupakan alat musik yangkim yang terletak di atas meja itu. Siangkoan Wi Hong! Siapa lagi pemuda tampan pesolek yang kemana-mana membawa yangkim, alat musik yang juga merupakan senjatanya yang ampuh itu? Dan Kim Hong duduk semeja dengan pemuda itu, bercakap-cakap dan tertawa-tawa penuh keakraban, bahkan kemesraan! Hatinya terasa panas bukan main. Dia mengenal Siangkoan Wi Hong sebagai penakluk wanita, pemuda pengejar wanita yang amat lihai! Cepat diapun turun dari tangga loteng itu dan memilih tempat duduk ke dalam sehingga tidak akan kelihatan oleh mereka yang masuk atau keluar melalui pintu depan.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: