Pendekar Sadis (Jilid ke-65)

Ketika pelayan datang membawa masakan yang dipesannya, Thian Sin segera membayarnya sekali agar nanti dia dapat pergi tanpa menunggu-nunggu lagi kalau sudah selesai makan. Dia makan perlahan-lahan, sama sekali tidaj merasa enak karena pikirannya melayang keatas loteng. Seolah-olah dia masih mendengar suara Kim Hong bercakap-cakap dan tertawa-tawa dengan mesra dengan Siangkoan Wi Hong, putera tanggal Pak-san-kui itu dan makin dipikir, hatinya menjadi semakin panas.

Baru saja selesai makan, dia melihat mereka itu turun dari tangga. Sejenak yangan mereka bersentukan, seperti hendak saling bergandengan tangan, akan tetapi lalu terlepas lagi. Akan tetapi yang sedikit itupun cukuplah bagi Thian Sin untuk menumbulkan dugaan di dalam hatinya bahwa pasti “ada apa-apa” antara mereka itu. Dan merekapun keluar, lalu naik sebuah kereta yang sudah menanti di luar rentoran sejak tadi. Thian Sin meninggalkan mejanya, tidak tergesa-gesa agar tidak menimbulkan kecurigaan, dan keluar dari rumah makan. Dengan tenang diapun lalu membanyangi kereta itu yang dijalankan perlahan-lahan menuju ke sebelah utara.

Cuaca sudah mulai gelap dan hal ini memudahkan Thian Sin membayangi kereta. Akhirnya kereta berhenti di depan sebuah penginapan! Mereka berdua itu menginap dalam sebuah penginapan yang mewah! Makin panas hati Thian Sin dan diapun menyelinap ke dalam gelap dan dari situ dia mengintai. Dia melihat mereka berdua turun dari kereta, dan bercakap-cakap sebentar. Agaknya, dari jauh dia dapat menduga bahwa Kim Hong minta kepada Siangkoan Wi Hong untuk lebih dulu berangin-angin di taman bunga rumah penginapan itu sebelum mereka masuk. Siangkoan Wi Hong nampak tersenyum di bawah lampu depan pekarangan itu, lalu keduanya memasuki taman bunga yang letaknya di belakang rumah penginapan dan di sebelah kirinya.

Thian Sin tetap membayangi mereka dan menyelinap di antara pohon-pohon dalam taman itu sampai dia dapat mengintai mereka tidak terlalu jauh dan dapat mendengarkan percakapan mereka. Mereka duduk di atas bangku yang saling berhadapan, dekat kolam ikan emas di mana terdapat sedikit penerangan lampu gantung. Suasana di taman itu sunggu romantis dan pada saat itu amat sunyi. Agaknya tidak terdapat orang lain kecuali mereka berdua.

“Nona Toan, engkau sungguh cantik jelita seperti bidadari, dan aku berbahagia sekali dapat berjumpa dan mengenalmu, nona,” terdengar Siangkoan Wi Hong tiba-tiba menyatakan rasa hatinya dengan sikap dan suara mesra.

Kim Hong tertawa, ketawa ditahan yang sudah amat dikenal Thian Sin itu. “Engkau juga gagah dan tampan sekali, Siangkoan-kongcu, dan akupun gembira dapat berkenalan denganmu.”

“Ah……………,benarkah apa yang kau katakan itu Kim Hong? Boleh kah aku memanggil namamu?”

“Tentu saja benar, dan engkau boleh memanggil namaku”.

“Kim Hong…….aku suka sekali padamu………belum, aku belum dapat mengatakan cinta karena baru beberapa kali kita berkenalan, akan tetapi aku………aku suka sekali padamu.”

“Hemm, akupun suka sekali padamu, kongcu. Engkau baik sekali dan engkau gagah sekali…….”

“Kim Hong………” Pemuda itu bangkit dan menghampiri, lalu duduk di samping gadis itu dan merangkulnya. Kim Hong tidak menolak, bahkan mengangkat mukanya sehingga memudahkan Siangkoan Wi Hong untuk menciumnya. Mencium bibirnya dengan mesra dan lama sekali.

“Keparat jahanam! Siangkoan Wi Hong, besiaplah engkau untuk mampus!” Teriakan ini keluar dari mulut Thian Sin yang sudah meloncat keluar dari tempat persembunyiannya, tidak dapat menahan lebih lama lagi rasa panas di dada dan perutnya menyaksikan adegan mesra antara Kim Hong dan putera Pak-san-kui itu.

Seketika dua orang yang sedang berpelukan dan berciuman itu melepaskan diri masing-masing, dan Siangkoan Wi Hong menyambar yangkim nya dan berbalik. Wajahnya menjadi pucat ketika dia mengenal Thian Sin yang sudah berdiri di bawah lampu, wajah yang biasanya ramah itu kini nampak muram dan menakutkan.

“Thian Sin………!” Dia berseru penuh rasa gentar akan tetapi juga marah.

“Bagus, engkau sudah mengenalku sehingga engkau tidak akan mati penasaran !” Thian Sin berkata dan secepat kilat dia menerjang ke depan dengan serangan maut. Akan tetapi, Siangkoan Wi Hong bukanlah orang yang lemah dan dia sudah mengerakan yangkimnya untuk menangkis.

“Dukk………!!” Dan terkejutlah putera Pak-san-kui itu karena tubuhnya tergetar hebat dan dia terdorong mundur, terhuyung-huyung ! Thian Sin tidak mau memberi hati lagi, terus menerjang lawan yang sudah terhuyung itu.

“Dess………..!!” Thian Sin terkejut melihat bahwa Kim Hong telah menangkis pukulannya. Sejenak mereka saling pandang. Akan tetapi Kim Hong tidak mau membuang waktu lagi dan secepat kilat gadis ini mencabut sepasang pedangnya dan menyerang Thian Sin kalang-kabut ! Tentu saja Thian Sin cepat mengelak. Hatinya seperti ditusuk rasanya. Begini marahkah Kim Hong kepadanya sehingga kini malah membantu Siangkoan Wi Hong dan menyerangnya mati-matian ?. Ingin dia bicara, ingin dia minta maaf. Akan tetapi di situ ada Siangkoan Wi Hong. Dia malu kalau harus memperlihatkan kelemahannya di depan orang lain. Maka diapun mencabut pedangnya dan diputarnya pedang itu untuk menangkis.

Sementara itu, Siangkoan Wi Hong girang sekali melihat Kim Hong membantunya. Dia memang telah tahu bahwa gadis itu memiliki kepandaian silat yang lihai, maka diapun lalu memutar yangkimnya dan membantu Kim Hong.

“Pendekar Sadis, jangan harap engkau dapat lolos dari tanganku sekarang !” Kim Hong membentak. Bentakan ini diterima oleh Thian Sin dengan mata terbelalak. Dia merasa heran sekali mendengar gadis ini mnyebutnya Pendekar Sadis. Ada permainan apa ini ? Akan tetapi karena Kim Hong mendesaknya dengan hebat, dibantu pula oleh pemuda itu, dia merasa serba salah. Kalau dia melawan dengan kekerasan, dia takut kalau-kalau akan melukai gadis itu. Maka diapun meloncat kedalam gelap dan melarikan diri.

“Lekas lapor ayahmu, aku mengejarnya !” kata Kim Hong kepada Siangkoan Wi Hong, dan iapun telah meloncat dengan cepat melakukan pengejaran.

Bagaimana Toan Kim Hong dapat bersama-sama dengan Siangkoan Wi Hong di Tai-goan dan telah berkenalan dengan akrabnya ? Terjadinya tiga hari yang lalu, di sebuah hutan di lembah Sungai Fen-ho. Ketika itu, seperti yang telah menjadi kesukaannya, Siangkoan Wi Hong berburu binatang hutan. Yangkimnya selalu dibawanya, tergantung di punggung sedangkan tangannya memegang busur dan anak panah. Ketika melihat seekor kijang, dia cepat mengejarnya. Kijang itu masih muda dan gesit bukan main, berloncatan amat cepatnya dan menyusup-nyusup ke dalam semak-semak, kalau didekati meloncat lagi. Wi Hong sudah melepaskan anak panah dua kali, yang sekali luput dan yang sekali lagi hanya menyerempet betis binatang itu, membuatnya menjadi semakin ketakutan, liar dan lebih cepat lagi larinya. Akan tetapi akhirnya Siangkoan Wi Hong dapat mendesaknya ke tepi sungai dan binatang itu kebingungan. Wi Hong memasang anak panah pada busurnya dan siap untuk membidikan anak panahnya. Akan tetapi pada saat dia hendak melepaskan anak panah, tiba-tiba saja kijang itu mengeluarkan teriakan nyaring dan roboh terpelanting ! Wi Hong terkejut bukan main dan cepat meloncat, akan tetapi dia melihat bayangan berkelebat dan seorang gadis cantik jelita telah berdiri di dekat bangkai kijang. Siangkoan Wi Hong terpesona dan memandang dengan melongo.

“Hemm, apa yang kau pandang ?” bentak gadis itu sambil memandang dan bertolak pinggang.

Siangkoan Wi Hong baru sadar dan dia tersenyum, menyimpan gandewanya lalu menghampiri.

“Ah, kukira ada bidadari yang turun dari kahyangan. Nona, apakah nona……….eh, manusia biasa?”

Wanita itu adalah Kim Hong dan mendengar ucapan itu, Kim Hong juga tersenyum. Pemuda tampan ini sungguh mengagumkan dan juga menyenangkan hatinya. “Kalau aku bukan manusia, apakah kau kira aku setan atau siluman ?”

Siangkoan Wi Hong memandang ke kanan kiri. “Tempat ini amat sunyi, dan kijang ini tiba-tiba tewas sebelum kupanah, lalu muncul seorang seperti nona ! Begini……….cantik jelita. Aku mendengar bahwa di tempat-tempat sunyi terdapat…………eh, siluman-siluman yang pandai merobah diri menjadi wanita cantik melebihi bidadari, seperti………eh, dongeng tentang Tiat Ki dalam dongeng Hong-sin-pong itu, begitu cantiknya sampai menjatuhkan hati Kaisar Tiu-ong !”

“Hemm, apa kau tidak dapat membedakan antara manusia dan siluman ?” Kim Hong menanggapi, tidak marah disangka siluman karena cara pemuda itu mengatakannya sama sekali tidak terkandung nada menghina, melainkan memuji.

Semakin gembiralah hati Siangkoan Wi Hong melihat betapa gadis yang cantik jelita itu mau menanggapinya, maka dia lalu pasang aksi, pura-pura memikat dan mengingat-ngingat, mengerutkan alisnya, kemudian berkata dengan wajah berseri, “Ah, aku ingat ! Dalam kitab dongeng kuno tentang siluman-siluman yang menyamar sebagai wanita cantik, terdapat tanda-tanda. Ada tanda yang……….ah, sebelumnya maaf, nona. Kata kitab itu, kalau siluman rase atau rubah menyamar sebagai wanita, satu hal tidak dapat dilenyapkannya, yaitu ekornya ! Wanita cantik penyamaran siluman rubah itu tentu mempunyai ekor ! Ah, akan tetapi tentu saja, aku tidak dapat membuktikan pada dirimu……….” dia berhenti untuk melihat reaksi gadis itu. Akan tetapi Kim Hong masih tersenyum saja dan agaknya tidak nampak marah sama sekali. Hal ini membuat Siangkoan Wi Hong menjadi semakin girang dan berani.

“Akan tetapi ada tanda lain lagi yang dapat kubuktikan pada dirimu nona. Kata kitab itu, seorang wanita penyamaran siluman rubah mempunyai dua tanda, yaitu pertama, karena tubuh yang diambilnya adalah tubuh wanita yang telah mati, maka lengannya akan terasa dingin seperti mayat kalau dipegang, dan dari hawanya keluar bau rubah yang khas. Nah, aku boleh menyentuh lenganmu, nona, dan kalau aku boleh mendekatimu tentu aku akan segera dapat membedakan apakah nona seorang manusia biasa atau sebangsa siluman.”

Kim Hong tersenyum, sepasang matanya bersinar-sinar dan wajahnya yang cantik manis itu berseri. Ia juga merasa gembira oleh sikap pemuda itu. Maka ia menyingsingkan lengan baju sebelah kiri dan menyorongkan lengan kirinya kepada Wi Hong sambil berkata dengan senyum, “Nah, periksalah.”

Siangkoan Wi Hong girang bukan main dan dia menelan ludahnya melihat sebuah lengan yang berkulit begitu mulus, putih dan lembut, halus dan seperti lilin diraut. Diapun melangkah maju mendekat, lalu menggunakan tangan kanannya untuk menyentuh, bahkan setelah ujung jari-jari tangannya menyentuh kulit halus lunak hangat itu dengan sepasang matanya tetap menatap wajah Kim Hong untuk melihat reaksinya, dan melihat bibir nona itu tetap tersenyum, jari-jari tangannya lalu melanjutkan dengan meraba-raba lengan dan memegangnya dengan mesra ! Kim Hong menarik lengannya dengan gerakan halus sambil bertanya dengan senyum, “Bagaimana, dingin seperti mayatkah ?”

Siangkoan Wi Hong tersenyum lebar dan memandang dengan mata berseri. “Ah, sama sekali tidak, sebaliknya malah, begitu hangat, halus dan lunak……….ah, dan yang tercium olehku hanya keharuman seperti bunga setaman…….!”

Kim Hong tersenyum gembira, akan tetapi berlagak tak senang. “Hemm, engkau seorang perayu ! Siapakah engkau ?”

Siangkoan Wi Hong menjura, “Perkenalkan, nona, namaku Siangkoan Wi Hong. Aku sedang berburu di hutan ini dan mengejar-ngejar kijang itu sampai ke tepi sungai. Setelah aku berhasil menyudutkannya dan siap hendak melepas anak panah……..eh, tahu-tahu kijang itu roboh dan tewas, lalu muncul nona. Siapakah nona dan bagaimana seorang wanita muda seperti nona dapat berada di tempat sunyi terpencil ini ?”

“Namaku Toan Kim Hong……..”

“Nama yang indah sekali, seperti orangnya ! Dan she Toan…….?” Ah, apakah ada hubungannya dengan keluarga pangeran………?”

Kim Hong mengangguk.

Siangkoan Wi Hong menjura lagi. “Ah, maaf, maaf……..! Kiranya nona adalah puteri yang berdarah bangsawan ! Sungguh sikap saya layah dihukum……….”

Kim Hong menarik nafas panjang. “Sudahlah urusan kebangsawanan itu dahulu, sekarang aku adalah orang biasa saja. Aku kebetulan lewat di sini dan selagi menikmati keheningan di tempat ini, aku melihat seekor kijang. Karena perutku lapar, maka aku segera merobohkannya dengan sabitan jarumku.”

Wi Hong terbelalak. “Apa……..? Membunuh kijang dengan sabitan jarum saja ? Agaknya tak masuk akal…….!”

“Siapa bilang kalau tak masuk akal kalau jarumku memasuki kepala melalui antara matanya lali menembut otak,” jawab Kim Hong. Mendengar jawaban ini, tentu saja Siangkoan Wi Hong menjadi semakin kaget dan heran. Sebagai seorang pemuda yang memiliki ilmu silat yang tinggi, dia tahu bahwa jarum hanya merupakan senjata rahasia ringan yang hanya dapat dipergunakan dari jarak dekat, dan bukan merupakan senjata rahasia yang berbahaya. Akan tetapi gadis ini mampu membunuh seekor kijang dari jarak jauh dengan penyabitan jarum, bahkan tanpa memeriksa lagi gadis ini dapat memastikan bahwa jarumnya telah menembus antara mata kijang itu dan sampai ke otak ! Hal ini, kalau memang benar, menunjukan bahwa gadis ini adalah seorang yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi ! Dan jarum itu pun tentu mengandung racun yang hebat.

Untuk meyakinkan hatinya diapun lalu berjongkok dan memeriksa kijang itu. Dan bertapa kagumnya ketika dia mendapat kenyataan bahwa memang benar pada kepala binatang itu, antara kedua matanya, terdapat luka kecil kemerahan yang mulai membengkak dan mengeluarkan darah ! Dia cepat bangkit berdiri dan kembali dia menjura dengan hormat.

“Ah, kiranya aku berhadapan dengan seorang pendekar wanita lihai ! Toan-lihiap, aku girang sekali dapat berkenalan dengan seorang gadis pendekar sepertimu !”

“Ah, Siangkoan-kongcu terlalu memuji orang. Sebaliknya, akupun pernah mendengar namamu dan melihat yangkim di pundakmu tadipun aku sudah dapat menduga bahwa engkau tentulah Siangkoan-kongcu yang amat terkenal itu, putera dari locianpwe Pak-san-kui, bukan ?”

“Tepat sekali, lihiap.”

“Ah, jangan sebut aku lihiap, membikin aku merasa canggung dan malu saja.”

“Baiklah, kalau begitu biar kusebut engkau Toan-siocia.” Siangkoan Wi Hong lalu memanggul bangkai kijang itu. “Nona, setelah kita bertemu dan saling berkenalan di sini, aku mengundang nona untuk bersama-sama menikmati daging kijang ini. Akan kusuruh masak daging ini di rumahku. Silahkan nona.”

Demikianlah, dua orang itu berkenalan dan Kim Hong mengunjungi rumah pemuda hartawan itu. Sebaliknya, Siangkoan Wi Hong juga sering mengunjungi hotel dimana gadis itu bermalam, mengajaknya pelesir atau makan ke restoran-restoran terbesar di kota Tai-goan, mengajaknya pesiar dengan kereta. Dlam waktu beberapa hari saja hubungan antara mereka amat akrabnya.

Demikianlah pertemuan antara Kim Hong dengan putera Pak-san-kui itu sampai mereka dilihat oleh Thian Sin yang menbayangi mereka dan Pendekar Sadis menyerang Siangkoan Wi Hong ketika melihat betapa putera datuk utara itu berpacaran dengan Kim Hong. Dan dalam waktu beberapa hari itu, Siangkoan Wi Hong sempat mengajak Kim Hong berkunjung pula kepada ayahnya. Pak-san-kui Siangkoan Tiang menerima perkenalan itu dengan girang. Dia melihat bahwa bukan saja gadis itu amat cantik dan menurut puteranya juga memiliki ilmu silat yang lihai, akan tetapi juga mengingat bahwa gadis ini masih keluarga bangsawan tinggi, yaitu Pangeran Toan, maka dia merasa girang kalau puteranya dapat berjodoh dengan gadis ini. Terutama sekali setelah dia mendengar bahwa gadis itu adalah puteri dari mendiang Pangeran Toan Su Ong seperti pengakuannya, diam-diam dia terkejut dan semakin kagum. Dia pernah mengenal pangeran pemberontak itu, dan maklum bahwa kepandaian pangeran itu tidak berada di bawah tingkatnya ! Bahkan akhirnya dia mendengar bahwa sebelum meninggal, pangeran itu bersama istrinya telah menemukan ilmu peninggalan Menteri The Hoo sehingga kabarnya memiliki ilmu kepandaian yang sukar dicari tandingannya.

Ketika Thian Sin menyerang Siangkoan Wi Hong dengan ganas karena pemuda ini sudah marah sekali dan ingin membunuhnya, Kim Hong membela sahabat barunya itu dan ketika Thian Sin melarikan diri karena pemuda tidak mau berkelahi melawan kekasihnya, Kim Hong lalu mengejar dan minta kepada Siangkoan Wi Hong untuk melapor kepada ayah pemuda itu.

Dengan ginkangnya yang memang lebih tinggi dari pada Thian Sin, Kim Hong berhasil membayangi pemuda itu tanpa diketahuinya, dan dara ini dapat melihat pondok kecil yang disewa pemuda itu di tepi kota. Maka iapun cepat meninggalkan tempat itu dan menyusul Siangkoan Wi Hong ke rumah Pak-san-kui.

Ketika ia tiba di rumah datuk itu, ternyata Pak-san-kui telah mengumpulkan murid-muridnya dan ketika melihat Kim Homg datang, Siangkoan Wi Hong cepat menyambut dan memegang tangan dara itu. “Nona, bagaimana……..? Dapatkah engkau mengejarnya ?”

“Aku tahu dimana dia, akan tetapi aku tahu dia lihai sekali, maka aku tidak berani turun tangan sendiri, dan aku cepat menyusulmu untuk memberitahukan hal itu.”

Akan tetapi Pak-san-kui memandang kepada gadis itu dengan sinar mata tajam penuh selidik, “Nona Toan, kenapakah nona membantu puteraku dan memusuhi Pendekar Sadis ?”

Pertanyaan ini diajukan secara tiba-tiba dengan suara keras penuh desakan, karena memang kakek ini menaruh curiga dan sengaja menanya secara tiba-tiba untuk membuat gadis ini tidak dapat membohong tanpa diketahuinya. Akan tetapi gadis itu bersikap tenang, dan di bawah sinar lampu yang terang itu nampak betapa gadis itu memandang kepada penanyanya dengan penasaran. “Ah, apakah locianpwe belum tahu ? Bukankah Pendekar Sadis yang membunuh pamanku, Pangeran Toan-ong di kota raja ? Locianpwe, biarpun mendiang ayahku dianggap pemberontak oleh kota raja, akan tetapi telah diampuni, dan bagaimanapun juga, Toan-ong yang dibunuh Pendekar Sadis itu adalah pamanku sendiri. Maka, aku tentu saja menganggap Pendekar Sadis sebagai musuhku !”

“Ayah, selain itu, juga kami berdua saling mencinta. Aku………aku telah mengambil keputusan untuk memilih nona Toan sebagai calon jodohku, maka sudah sepatutnya kalau ia membantuku ketika Pendekar Sadis menyerangku,” kata Siangkoan Wi Hong. Kim Hong mengerling ke arah pemuda itu dan sepasang pipinya berobah merah, akan tetapi ia tidak berkata sesuatu.

“Jadi engkau sudah tahu dimana dia berada, nona ?” tanya Pak-san-kui Siangkoan Tiang. Gadis ini mengangguk.

“Sebaiknya kalau malam ini juga kita menyerbunya, selagi dia lengah,” katanya.

“Memang itupun menjadi rencana kami,” kata Pak-san-kui. “Akan tetapi, kita masih menanti datangnya pasukan Siong-ciangkun.”

“Ah, jangan menggunakan pasukan, locianpwe !” Tiba-tiba Kim Hong berkata sambil mengerutkan alisnya. “Kenapa menghadapi satu orang saja harus menggunakan pasukan ? Locianpwe sendiri adalah seorang sakti, belum lagi locianpwe dibantu oleh putera locianpwe yang lihai dan juga ada lagi murud-murid locianpwe ini yang terkenal pula. Dan, kalau locianpwe percaya kepadaku, akupun dapat membantu. Padahal, bukan aku sombong, kalau aku dibantu oleh Siangkoan-kongcu seorang saja, akupun sudah akan mampu menandinginya !”

Tentu saja Pak-san-kui menganggap gadis ini bicara sombong. Betapapun lihainya, mana mungkin gadis ini mampu melawan Pendekar Sadis ? Dia sendiri saja gentar menghadapi pendekar yang telah mampu menewaskan See-thian-ong dan para muridnya itu. Akan tetapi karena gadis inipun merupakan pembantu yang lumayan, dia diam saja tidak menanggapi sikap yang dianggapnya sombong itu. Akan tetapi diam-diam Siangkoan Wi Hong mempercayai omongan gadis itu karena dia sudah melihat sendiri betapa gadis itu mampu menandingi Pendekar Sadis, bahkan pendekar itu kelihatan gentar dan melarikan diri, “Ayah, kalau Toan-siocia membantu kita, aku yakin kita akan mampu menghancurkan Pendekar Sadis !”

“Locianpwe, sebetulnya, sudah lama aku sendiri pun ingin sekali bertemu dengan pembunuh pamanku itu dan membalas dendam. Oleh karena itulah, maka sekarang ini sama sekali bukan berarti aku membantu locianpwe, bahkan dapat dikatakan sebaliknya, pihak locianpwe yang membantu aku agar berhasil membalas dendam. Karena aku tidak mau gagal, maka kuharap locianpwe jangan mengerahkan pasukan.”

“Hemm, mengapa nona mengatakan begitu ?”

“Pendekar Sadis adalah seorang yang amat lihai, kalau kita menyerbu menggunakan pasukan besar, tentu sebelumnya dia akan lebih dulu mengetahui dan dapat melarikan diri sehingga usaha kita akan sis-sia belaka. Sebaliknya kalau yang menyergapnya hanya kita saja, yang semua memiliki kepandaian yang cukup tinggi, maka kita tentu akan dapat datang tanpa menimbulkan suara dan dapat menyergapnya, tidak memberi kesempatan kepadanya untuk melarikan diri. Maka, kuusulkan agar locianpwe sendiri, dibantu oleh Pak-thian-sam-liong, Siangkoan-kongcu dan aku sendiri, kita berenam sudah lebih dari cukup untuk menandingi dan merobohkannya. Jangan membawa pasukan.”

Pak-san-kui mengangguk-angguk. Kini dia melihat benarnya ucapan gadis itu, dan diam-diam dia girang bahwa puteranya dapat menarik gadis ini sebagai sahabat. Kini dia yakin pasti akan berhasil membalas dendam, bukan hanya mengalahkan Pendekar Sadis, bahkan membunuhnya.

“Baik, kita berangkat sekarang tanpa pasukan !” katanya dan mereka lalu berangkat. Kim Hong berjalan lebih dulu sebagai penunjuk jalan.

Pondok itu memang terpencil di pinggir kota. Dan malam sudah larut, suasana amat sunyi. Agaknya semua penghuni rumah sudah tidur dan tidak terdengar suara apapun. Dengan hati-hati, Kim Hong memberi isyarat-isyarat kepada teman-temannya dan mereka berenam mengurung pondok kecil itu. Kim Hong sendiri bersama Pak-san-kui menghampiri pintu depan, dan terdengarlah Pak-san-kui berseru, seperti yang telah mereka rencanakan,

“Pendekar Sadis ! Kami telah mengetahui tempat sembunyimu. Keluarlah untuk menerima kematian !”

Sejenak sunyi saja. Pak-san-kui yang menjadi tidak sabaran itu menggedor pintu.

“Pendekar Sadis, keluarlah, kalau tidak, akan kurobohkan pondik ini !”

“Jangan dirobohkan pondokku………..!” Terdengar teriakan dan pintu depan terbuka, seorang laki-laki tua keluar dari pintu itu. Dari dalam terdengar suara nyaring,

“Paman, jangan keluar !”

Akan tetapi terlambat ! Melihat seorang pria tua keluar, Pak-san-kui menggerakan huncwe nya. Terdengar jerit orang itu yang terpelanting roboh tak bergerak lagi. Pak-san-kui sendiri sampai terkejut. Tak disangkanya bahwa orang yang keluar itu sama sekali tidak memiliki kepandaian silat sehingga begitu mudah roboh dan tewas. Karena rumah itu menurut Kim Hong adalah tempat sembunyi Pendekar Sadis, maka tentu saja dia tadi menyangka bahwa yang keluar tentu bukan orang sembarangan. Akan tetapi, membunuh orang, baik bersalah maupun yang tidak, bagi datuk ini tiada bedanya, maka diapun sama sekali tidak peduli. Puteranya, murid-muridnya dan juga Kim Hong memandang tanpa memperdulikan, melainkan memperlihatkan ke dalam pondok melalui pintu yang kini telah terbuka.

Akan tetapi tidak terdengar sesuatu dari dalam pondok, juga tidak nampak sesuatu muncul dari situ. Thian Sin yang tadinya sedang merebahkan diri da dalam pondok itu, begitu mendengar suara Pak-san-kui, sudah meloncat ke atas dan membuka genteng, lalu mengintai dari atas. Dia melihat Pak-san-kui datang bersama Siangkoan Wi Hong dan Pak-thian-sam-liong dan sama sekali tidak merasa gentar. Akan tetapi yang membuat dia meragu adalah melihat Kim Hong berada pula di situ bersama mereka ! Tadipun dia sudah gelisah memikirkan betapa Kim Hong melindungi Siangkoan Wi Hong dan menyerangnya. Dan kini ternyata gadis itu agaknya telah bersekutu dengan musuh besarnya ! Hal ini mendatangkan rasa nyeri dalam hatinya, lebih nyeri dari pada ketika melihat gadis itu berciuman dengan Siangkoan Wi Hong tadi. Kalau memang Kim Hong sudah mengambil keputusan bersekutu dengan datuk utara itu untuk memusuhinya, diapun tidak takut ! Demikian suara hatinya yang terasa nyeri, kecewa, berduka dan marah. Maka diapun bangkit berdiri di atas atap rumah itu. Sinar bintang-bintang membuat dia nampak seperti tubuh siluman yang tiba-tiba muncul di situ. Akan tetapi suaranya masih halus walaupun mengandung teguran keras.

“Kim Hong, begitu tidak tahu malukah engkau, merendahkan diri menjadi kaki tangan Pak-san-kui ?” Kemudian dia melayang turun di depan Pak-san-kui sambil menudingkan telunjuknya. “Pak-san-kui, tua bangka keparat ! kalau memang engkau datuk dan laki-laki sejati, hayo lawanlah aku, keroyoklah dengan murid-muridmu, akan tetapi jangan ikut-ikutkan orang lain !”

Sebelum Pak-san-kui menjawab, tiba-tiba Kim Hong tertawa dan berkata dengan nada menghina, “Hi-hik, Pendekar Sadis ! Apakah engkau sudah buta dan tidak melihat dengan siapa kau berhadapan ? Locianpwe Siangkoan Tiang adalah datuk utara, seorang locianpwe yang gagah perkasa. Dia sendiri saja sudah cukup, siapa yang butuh mengeroyok-mu ?”

Mendengar ucapan ini, Pak-san-kui terkejut. Ucapan itu memang bermaksud baik, akan tetapi sungguh merugikannya ! Dan setelah mendengar gadis itu berkata demikian, tentu saja dia akan merasa rendah dan malu kalau begitu maju lalu mengeroyok musuhnya itu. Maka diapun mengerling ke arah puteranya dan tiga orang muridnya.

“Aku akan menghadapinya sendiri ! Kalian tahu kapan untuk turun tangan mencegah dia melarikan diri !” Setelah berkata demikian dan merasa yakin bahwa puteranya dan tiga orang muridnya dapat mengerti apa yang dimaksudkannya, tiba-tiba saja Pak-san-kui sudah menerjang ke depan dengan senjatanya yang ampuh, yaitu huncwe maut itu. Nampak api menyambar dari dalam huncwe yang kemudian menjadi sinar menyambar ke arah muka dan leher Thian Sin. Cepat bukan main gerakan ini, akan tetapi Thian Sin sudah mengelak ke belakang. Kim Hong melihat gerakan itu, kemudian melihat betapa kakek itu menggerakan tangan kirinya dan lengan kiri itu mulur sampai panjang mengejar atau membuat serangan ke arah kepala Thian Sin.

“Dukkk !!” Thian Sin menangkis dan keduanya terdorong dua langkah ke belakang. Melihat ini, Kim Hong diam-diam terkejut dan kagum akan kelihaian datuk ini yang selain memiliki senjata huncwe yang berbahaya, juga memiliki lengan kiri yang dapat mulur panjang dan tentu saja amat berbahaya pula.

Sementara itu, Siangkoan Wi Hong dan Pak-thian-sam-liong hanya mengurung tempat itu, siap untuk membantu karena mereka maklum bahwa kehadiran Kim Hong tentu saja membuat Pak-sam-kui merasa sungkan untuk melakukan pengeroyokan. Akan tetapi mereka tahu bahwa kalau sampai Pak-san-kui terdesak, mereka berempat tentu akan segera turun tangan mengeroyok. Maka, Siangkoan Wi Hong lalu mendekati Kim Hong.

“Adik manis, kalau dia terlulu berat bagi ayah, kita baru akan turun tangan mengeroyoknya. Dia memang orang yang berbahaya sekali.” Kim Hong tidak menjawab, seperti tidak mendengar ucapan itu, melainkan menonton perkelahian itu dengan penuh perhatian.

Dan perkelahian itu memang amat menegangkan untuk ditonton. Seru dan mati-matian, juga merupakan perkelahian antara orang-orang yang memiliki kepandaian hebat. Dahulu, ketika untuk pertama kalinya Thian Sin mengalahkan Pak-san-kui, dia harus mengandalkan akal, menggunakan air untuk menghadapi serangan api yang kadang-kadang keluar dari huncwe maut itu, yang membuat lawan kewalahan dan panik. Akan tetapi sekarang dia tidak membutuhkan lagi akal seperti itu dan pula, sejak kekalahannya dari Thian Sin dahulu itu, Pak-san-kui sudah berlatih matang dan bersiap-siap kalau lawan menggunakan air lagi. Maka andaikata Thian Sin mengulangi akalnya yang dahulu, dia tentu akan kecelik dan tidak akan berhasil. Pemuda ini hanya menghadapinya dengan memegang kipasnya. Setiap kali ada bunga api menyambar, atau asap yang berbau keras, kipas itulah yang mengebut dan api serta asap itu membalik dan menyerbu kakek itu sendiri ! Sedangkan serangan huncwe itu hanya dihadapi dengan tangan kosong oleh Thian Sin.

Huncwe maut itu menyambar-nyambar dengan ganas, mengeluarkan suara bercuitan mengerikan. Thian Sin selalu dapat mengelak atau menangkis huncwe dengan lengannya, bahkan membalas serangan lawan dengan sama dahsyatnya, menampar dan memukul atau menendang sambil mengerahkan sinkang. Thian Sin dapat melihat kenyataan bahwa dibandingkan dengan dahulu, datuk ini telah memperoleh kemajuan yang cukup banyak, maka diapun lalu mulai merobah gerakan-nya, mainkan ilmu silat warisan ayahnya yaitu Hok-liong-sin-ciang yang hanya delapan belas jurus itu. Akan tetapi, baru saja dia mengeluarkan tiga empat jurus yang masing-masing mempunyai bagian-bagian dan perkembangan-perkembangan yang amat sulit itu, lawan telah terdesak hebat ! Pak-san-kui mengenal jurus-jurus itu, akan tetapi hanya mengenal kulitnya saja dan isinya sungguh membuat dia bingung karena mengandung daya serang yang sama sekali tidak pernah diduganya, dan selain itu, juga amat hebat. Dalam serangan-serangan itu terkandung gerakan-gerakan aneh dan hampir saja dia kena dirobohkan lawan sehingga ketika kaki Thian Sin menyerempet lambungnya, dia terhuyung dan meloncat ke belakang dambil mengeluarkan seruan. Seruan ini dikenal oleh Siangkoan Wi Hong dan Pak-thian-sam-liong, maka mereka itu segera bergerak untuk membantu.

Akan tetapi tiba-tiba berkelebat bayangan menghadang mereka disertai bentakan, “Tahan dulu !”

Siangkoan Wi Hong terkejut melihat bahwa yang menghadang itu adalah Kim Hong ! Gadis ini berkata, “Tadi sudah diadakan janji bahwa tidak akan ada pengeroyokan ! Kalau kalian ingin mencoba kelihaian musuh, biarlah Pendekar Sadis menghadapi kalian. Dan karena tingkat kepandaian kalian masih rendah, kalian berempat boleh saja maju berbareng untuk menghadapinya ! Hey, Pendekar Sadis, tinggalkan dulu Pak-san-kui, dan hadapi mereka ini. Aku sendiri ingin merasakan huncwe maut !” Setelah berkata demikian, Kim Hong sudah meloncat ke dalam arena pertempuran itu sambil mencabut sepasang pedangnya dan langsung menerjang Pak-san-kui !

Perobahan sikap gadis ini sungguh mencegangkan semua orang. Akan tetapi, kalau Siangkoan Wi Hong menjadi kaget dan marah sekali, sebaliknya Thian Sin yang juga kaget itu merasa girang bukan main. Tadinya dia sudah merasa bingung dan gelisah kalau terpaksa harus menghadapi gadis itu sebagai musuh. Biarpun hatinya panas kalau mengingat akan adegan romantis dan mesra antara Kim Hong dan Siangkoan Wi Hong, namun pembalikan sikap Kim Hong yang kini jelas berpihak kepadanya itu membuatnya girang sekali dan begitu melihat Kim Hong menyerbu Pak-san-kui, diapun lalu meloncat ke belakang untuk menghadapi Siangkoan Wi Hong dan Pak-thian-sam-liong yang segera mengurung dan mengeroyoknya dengan serangan-serangan bertubi-tubi. Terutama sekali, Siangkoan Wi Hong menyerang dengan senjata yangkimnya, menyerang dengan penuh kebencian dan kemarahan. Pemuda hartawan ini kecewa bukan main malihat betapa Kim Hong, gadis uang menjatuhkan hatinya, yang disangkanya telah terjerat olehnya, ternyata kini malah membantu Thian Sin ! Dan timbul lah kecurigaannya bahwa memang gadis itu sengaja bersikap baik kepadanya untuk memancingnya, memancing ayahnya untuk menghadapi Pendekar Sadis di tempat sunyi itu. Dan teringatlah dia betapa gadis itu yang menganjurkan agar mereka berenam saja yang menghadapi Pendekar Sadis dan melarang agar jangan menggunakan pasukan ! Teringat akan ini keringat dingin membasahi dahi Siangkoan Wi Hong dan dia menyerang semakin dahsyat, dibantu oleh tiga orang suhengnya yang sudah membentuk barisan Sha-kak-tin (Barisan Segi Tiga) itu.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: