Pendekar Sadis (Jilid ke-69)

Karena tempat itu memang amat sunyi dan jarang sekali didatangi orang luar, maka para murid Kun-lun-pai dapat melatih diri tanpa ada gangguan dan dapat mencurahkan perhatian mereka baik terhadap pelajaran silat maupun pelajaran agama sebagai penggemblengan mental. Semua perguruan silat yang tinggi, juga para guru silat yang benar-benar baik, tidak pernah melupakan penggemblengan mental ini, karena mereka semua tahu betul betapa berbahayanya kalau orang muda dibiarkan belajar ilmu silat tanpa disertai penggemblengan watak dan batin ini. Ilmu silat sama dengan senjata yang ampuh dan berbahaya, maka kalau sampai terjatuh ke tangan orang yang tidak kuat batinnya, tentu saja dengan mudah disalahgunakan, diambil manfaatnya untuk keuntungan diri sendiri sehingga muncullah perbuatan-perbuatan sewenang-wenang mengandalkan ilmu silat.

Sebaliknya, kalau ilmu silat dikuasai orang yang memiliki batin yang kuat, maka ilmu itu akan berguna sekali, baik bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat, karena ahli silat yang bermoral tinggi tentu akan mempergunakannya untuk membela kebenaran dan keadilan, menentang yang lalim dan membela yang lemah.

Biarpun tempat itu merupakan pegunungan yang sunyi dan aman, namun para murid Kun-lun-pai tidak pernah lengah melakukan penjagaan secara bergilir. Mereka tidak memusuhi orang-orang tertentu, akan tetapi mereka tahu bahwa Kun-lun-pai banyak dimusuhi orang-orang dari golongan hitam, karena mereka yang tergolong penjahat-penjahat dan yang pernah ditentang oleh para murid Kun-lun-pai sebagai musuh. Pula, selain untuk menjaga segala kemungkinan buruk, juga penjagaan itu merupakan pelaksanaan ketertiban yang dilaksanakan dengan ketat, yaitu para murid yang sedang digembleng di asrama itu tidak diperkenankan keluar tanpa ijin dari guru mereka.

Kui Im Tosu dan Kui Yang Tosu memimpin Kun-lun-pai dengan bijaksana sehingga nama partai persilatan itu menjadi semakin terkenal. Digalangnya persatuan dan persahabatan yang makin erat dengan partai-partai bersih lainnya, maka nama Kun-lun-pai dibicarakan dengan rasa hormat dan segan.

Hal ini dimengerti benar oleh Thian Sin dan juga Kim Hong yang melakukan perjalanan jauh menuju ke Pegunungan Kun-lun-san itu. Mereka telah melakukan penyelidikan dan mendengar betapa angkernya nama Kun-lun-pai sehingga mereka sudah bersepakat untuk bersikap hati-hati dan sedapat mungkin menghindarkan bentrokan atau kesalahpahaman dengan fihak Kun-lun-pai. Karena nama besar Kun-lun-pai itulah maka biarpun pada suatu senja mereka telah tiba di daerah Kun-lun-pai, mereka tidak mau mengunjungi asrama itu di waktu malam karena hal itu dianggap kurang sopan. Juga mereka membuang niat mereka untuk melakukan penyelidikan secara diam-diam, yaitu mempergunakan kepandaian untuk malam-malam memasuki asrama secara menyelundup. Mereka bersikap hati-hati, karena memasuki Kun-lun-pai sebagai maling adalah amat berbahaya dan sukar, juga kalau sampai mereka ketahuan, hal itu tentu akan menimbulkan permusuhan dan akan mempersulit maksud mereka berurusan dengan Jit Goat Tosu tanpa melibatkan Kun-lun-pai. Mereka bermalam di sebuah gua batu yang banyak terdapat tak jauh dari asrama Kun-lun-pai itu dan baru pada keesokan harinya setelah matahari naik tinggi, setelah mereka membersihkan diri di sumber air dan sarapan pagi daging ayam hutan panggang, mereka berdua pergi mengunjungi asrama Kun-lun-pai.

Kuil Kun-lun-pai bukanlah kuil umum di mana umum suka datang bersembahyang, melainkan kuil yapg khusus dipergunakan belajar agama oleh para murid Kun-lun-pai. Oleh karena itu, tidak ada orang luar datang bersembahyang dan ketika Thian Sin dan Kim Hong tiba di pintu gerbang asrama di mana terpancang sebuah papan nama dengan huruf-huruf besar yang berbunyi KUN LUN PAI, beberapa orang tosu dan beberapa orang murid Kun-lun-pai yang bertugas jaga segera menyambut mereka dengan pandang mata heran dan juga bercuriga.

“Ji-wi (anda berdua) siapakah dan ada keperluan apakah mengunjungi tempat kami?” tanya seorang di antara para murid yang bertugas jaga, tanpa menyembunyikan kekaguman terhadap Kim Hong, kekaguman yang jujur, tidak mengandung berahi atau sikap kurang ajar.

“Kami mohon bertemu dengan ketua Kun-lun-pai,” kata Thian Sin, sikapnya hormat dan bicara singkat, setelah dia dan Kim Hong memberi hormat dan dibalas oleh mereka.

“Maaf,” kata seorang di antara para tosu, “akan tetapi sungguh tidak mudah untuk menghadap para pimpinan kami. Ketua kami sibuk dengan pekerjaan beliau atau sedang siulian (samadhi), sedangkan wakil ketua kami juga lebib banyak lagi pekerjaannya. Kalau tidak ada keperluan penting sekali, kami sungguh tidak berani lancang mengganggu beliau berdua.”

“Totiang,” kata Kim Hong. “Kalau tidak ada keperluan penting, untuk apa kami jauh-jauh datang ke tempat sunyi seperti ini? Terus terang saja, yang mempunyai kepentingan adalah aku, dan kawanku ini hanya menemaniku saja. Nah, sekarang bagaimana caranya kalau kami hendak menghadap para pimpinan?”

“Caranya hanya satu, yaitu nona memperkenalkan nama dan memberitahukan kepentingan nona agar dapat kami laporkan kepada pimpinan. Itupun belum dapat kami menanggung bahwa nona akan pasti diterima menghadap, namun setidaknya kedatangan nona akan kami sampaikan sebagai laporan.”

“Baiklah, katakan bahwa aku Toan Kim Hong bersama temannya minta dapat menghadap pimpinan Kun-lun-pai karena ada urusan yang amat penting.”

“Maaf, Nona Toan. Kami minta agar urusan itu disebutkan sehingga kalau pimpinan kami menanyakan, kami dapat menjawab dan tidak akan mendapat teguran. Kami tidak ingin permintaan nona ditolak hanya karena nona tidak memberitahukan kepentingan nona.”

Kim Hong mengerutkan alisnya. Bagaimanapun juga, permintaan tosu ini masuk di akal dan pantas, maka terpaksa iapun harus mengaku terus terang. “Aku minta menghadap pimpinan Kun-lun-pai untuk minta perkenan mereka agar aku diperbolehkan bertemu dengan Jit Goat Tosu yang sedang bertapa di daerah Kun-lun-pai.”

Tosu itu nampak terkejut. “Siancai…” katanya lirih penuh keheranan karena sesungguhnya dia sendiri sudah hampir lupa kepada seorang kakek yang telah bertahun-tahun bertapa di dalam gua di sebelah belakang ladang Kun-lun-pai di belakang perumahan itu. Seorang kakek yang penuh rahasia dan yang menurut pimpinan Kun-lun-pai, amat sakti dan tidak boleh diganggu sama sekali.

“Ada apa, totiang? Aku sudah berterus terang, masih kurang apa lagi?”

“Ah, tidak apa-apa, nona. Baik kami akan segera melaporkan ke dalam dan harap ji-wi sudi menanti sebentar di luar.” Dan pintu gerbang itu lalu ditutup dari dalam! Kim Hong saling pandang dengan Thian Sin dan pemuda ini hampir tertawa melihat wajah yang muram dan jengkel itu.

“Tenang dan sabar sajalah. Tiada gunanya jengkel.”

“Kalau para tosu itu mempersulit, jangan salahkan aku kalau aku mencari sendiri tanpa seijin mereka!” Gadis itu mengancam dengan hati mengkal dan melihat keadaan gadis itu, Thian Sin merasa lebih aman untuk berdiam diri saja.

Tak lama kemudian, daun pintu itu terbuka lagi, kini terbuka kedua-duanya sehingga nampaklah sebelah dalam pekarangan depan yang luas itu. Para penjaga kini nampak berbaris rapi, dan selain para tosu yang tadi, kini nampak tiga orang tosu yang lain yang lebih tua dan melihat sikap mereka dapat diduga bahwa tentu tingkat mereka lebih tinggi daripada para tosu pertama. Seorang di antara mereka, yang memiliki tahi lalat di dagunya, dengan pandang mata penuh selidik memandang kepada kedua orang tamunya, terutama kepada gadis yang katanya hendak bertemu dengan Jit Goat Tosu itu.

“Siancai… Nona yang masih begini muda berkeras hendak bicara dengan pimpinan kami. Akan tetapi pimpinan kami amat sibuk dan tentu saja tidak mempunyai waktu untuk melayani segala macam orang, terkecuali orang-orang istimewa yang mempunyai keperluan istimewa lagi.”

“Hemm, totiang, tidak perlu bicara seperti teka-teki. Katakanlah, macam yang bagaimanakah orang istimewa itu?” tanya Kim Hong, menahan kemarahannya dan masih tersenyum, walaupun ia merasa dipandang rendah.

“Melihat sikap nona, tentu nona adalah seorang yang biasa berkelana di dunia kang-ouw, maka ucapan pinto tadi kiranya sudah cukup jelas. Hanya tokoh kang-ouw yang berkepandaian sajalah yang kiranya berharga untuk berhadapan dengan pimpinan kami, sedangkan tokoh kang-ouw biasa, cukuplah berurusan dengan kami, anak murid Kun-lun-pai. Tidak tahu apakah nona termasuk golongan pertama ataukah ke dua.”

Hati Kim Hong mulai menjadi panas. “Totiang, apakah yang harus kulakukan untuk membuktikan kepada kalian di sini golongan mana aku termasuk?”

“Maaf nona. Akan tetapi setiap perkumpulan mempunyai peraturan masing-masing dan Kun-lun-pai juga tidak terkecuali. Kami di sini mempunyai peraturan yang telah ditentukan sejak dahulu. Di antara para tamu kami bagi menjadi tiga golongan. Golongan paling rendah adalah mereka yang tidak dapat melewati kami dan golongan ini cukup membicarakan keperluannya dengan kami saja. Adapun golongan ke dua adalah golongan tamu yang biarpun mampu melewati kami namun tidak mampu melewati para suheng kami di ruangan tengah dan golongan itupun cukup disambut dan dilayani oleh para suheng kami itu. Adapun golongan pertama haruslah dapat melewati kami dan kemudian melewati pula para suheng kami di ruangan tengah. Barulah dia berhak untuk bicara dengan pimpinan kami.”

“Begitukah? Kenapa tidak sejak tadi kalian memberitahu kepadaku? Nah, susunlah barisanmu, totiang hendak kulihat sampai di mana kehebatan barisan Kun-lun-pai!” Kim Hong menantang dan dibisikkannya kepada Thian Sin. “Kau jangan mencampuri yang ini.” Thian Sin tersenyum dan mengangguk. Tentu saja dia tidak mau mencampuri karena diapun hanya hendak membantu kekasihnya kalau menghadapi musuh besarnya, Si Pertapa itu. Dia tidak mau bermusuhan dengan Kun-lun-pai dan diapun tidak ingin kalau Kim Hong bermusuhan dengan partai besar itu.

“Ingat, jangan lukai orang,” bisiknya dan Kim Hong mengangguk.

Sementara itu, tiga orang tosu yang baru datang telah mengatur lima orang tosu dan sembilan orang murid Kun-lun-pai yang berpakaian biasa untuk mengatur barisan. Sembilan orang murid itu membentuk setengah lingkaran menghadang di depan, dan di belakangnya berdiri lima orang tosu yang memegang sebatang pedang. Adapun sembilan orang murid terendah dari Kun-lun-pai itu bertangan kosong karena tugas mereka hanya mempergunakan tenaga mencegah wanita itu maju.

“Nona Toan Kim Hong, kami sudah siap, silakan melewati kami kalau kau mampu!” tiba-tiba tosu yang bertahi lalat dagunya berteriak.

Kim Hong tersenyum lalu ia melangkah maju, akan tetapi tiba-tiba sembilan orang itu bergerak menghadangnya dan ke manapun ia melangkah, ia selalu bertemu dengan mereka yang terus membuat gerakan menghadang. “Kenapa menghadang di jalan? Aku mau lewat!” kata Kim Hong dan ia melangkah maju terus. Tentu saja ia tabrakan dengan seorang di antara mereka yang menghadang di jalan dan dengan gerakan sikunya, orang itupun terjengkang. Melihat ini, empat orang sudah menangkap kedua lengan dara itu, dua di kanan dan dua di kiri. Kedua lengannya dipegang kuat-kuat oleh empat orang laki-laki muda yang kokoh kuat dan terlatih. Kim Hong masih tersenyum dan tiba-tiba ia menggerakkan kedua lengannya dan terdengarlah teriakan-teriakan ketika empat orang murid Kun-lun-pai itu terpelanting ke kanan dan ke kiri sampai beberapa meter jauhnya! Empat orang murid lain yang belum jatuh, cepat menubruk dari kanan dan kiri. Akan tetapi Kim Hong menggerakkan kakinya yang kanan dan kiri bergantian dengan kecepatan yang luar biasa dan tahu-tahu empat orang itupun sudah roboh semua. Mereka tidak terluka, akan tetapi mengaduh-aduh karena bekas tendangan dan bekas terbanting itu cukup mendatangkan rasa nyeri, sementara itu dara yang mereka halangi sudah lewat!

Kim Hong melangkah ke depan menghadapi lima orang tosu yang memalangkan toya mereka dan begitu Kim Hong mendekat, mereka sudah mengurung dengan toya di tangan. Sementara itu, Thian Sin tersenyum melihat sembilan orang murid Kun-lun-pai berpelantingan tadi dan dengan lenggang seenaknya diapun masuk mengikuti Kim Hong. Dia tidak mau campur tangan, hanya menonton saja.

Kim Hong sudah dikurung oleh lima orang tosu yang melihat gerakannya, tentu tidaklah selemah sembilan orang pertama tadi. Dan memang benarlah. Lima orang tosu ini adalah murid-murid tingkat tiga dan sudah memiliki dasar ilmu silat Kun-lun-pai yang kokoh kuat dan latihan yang cukup matang walaupun mereka belum mewarisi ilmu-ilmu simpanan dari partai besar itu. Namun ilmu toya mereka cukup hebat karena pada waktu itu, Kui Im Tosu telah mengembangkan Ilmu Toya Kim-kauw-pang-hoat, yaitu ilmu tongkat yang sumbernya dari ilmu tongkat tokoh dongeng Si Raja Monyet Sun Go Kong, dan ilmu tongkat ini diajarkan kepada murid-murid tingkat tiga. Apalagi mereka berlima juga membentuk barisan Ngo-heng-tin maka mereka dapat bekerja sama dan seolah-olah tenaga lima orang digabung menjadi satu!

Kim Hong yang dikepung itu masih tersenyum tenang saja. “Benarkah kalian tidak mau memberi jalan kepada seorang muda seperti aku?” tanyanya. Ditanya begini, lima orang tosu itu sejenak bingung. Menurut pantas memang nampaknya janggal kalau lima orang pendeta seperti mereka tidak mau mengalah terhadap seorang wanita muda yang mau lewat. Kesempatan ini dipergunakan oleh Kim Hong untuk meloncat ke depan. Akan tetapi dua batang tongkat sudah memotong jalan menghadang dua tongkat lain mengancam ke atas kepala dan tongkat ke lima dari belakang siap menyambar kakinya!

“Hebat!” katanya memuji karena memang gerakan refleks lima orang tosu itu sedemikian hebatnya. Akan tetapi ia tidak menghentikan gerakannya dan cepat ia memegang dua tongkat di depannya, dengan gerakan tiba-tiba menarik dua tongkat itu ke atas sambil mengerahkan sin-kangnya kemudian tubuhnya meloncat untuk membiarkan tongkat yang menyambar kaki itu lewat.

“Trak! Trak!” Dua tongkat yang dipegangnya itu menangkis tongkat yang menghantam dari atas dan selain dapat meloloskan diri dari serangan lima orang itu, juga dalam segebrakan ini Kim Hong sudah berhasil mengacaukan mereka. Namun dengan gerakan sigap sekali lima orang tosu itu sudah dapat mengepungnya lagi sebelum ia mampu lewat!

Kim Hong tersenyum. “Bagus, Ngo-heng-tin yang hebat!” katanya memuji dan tiba-tiba saja tubuhnya melayang ke atas! Melihat ini, lima orang tosu itu cepat menggerakkan toya mereka menyerang dan juga mereka berlompatan. Akan tetapi, tubuh nona itu sudah berjungkir balik dan begitu kepalanya digerakkan, rambutnya berkelebat seperti ular dan melibat lima ulung tongkat itu, kemudian tubuhnya membalik lagi dan kedua kakinya bergerak menendang ke arah lima tangan yang memegang tongkat. Lima orang tosu itu terkejut bukan main ketika merasa betapa tongkat mereka tidak dapat mereka tarik kembali, sudah terbelit dengan amat kuatnya oleh rambut wanita itu dan menghadapi tendangan kedua kaki di udara yang mengarah tangan mereka itu, mereka tidak dapat menghindarkan diri lagi. Tangan mereka seketika lumpuh dan tahu-tahu tongkat mereka telah terampas dan sekali Kim Hong menggerakkan kepalanya, tongkat-tongkat itu meluncur ke bawah dan menancap di atas tanah sampai setengahnya! Sebelum lima orang tosu itu sempat menahan lagi, Kim Hong sudah berjungkir balik dan turun di sebelah dalam, telah melewati lima orang tosu itu yang hanya mampu saling pandang, kemudian menarik tongkat masing-masing dari tanah.

Tiga orang tosu yang berada di sebelah dalam, memandang penuh kagum. Mereka merasa kagum karena maklum bahwa dara muda ini selain lihai bukan main, juga tidak mempunyai niat buruk sehingga kini telah mengalahkan barisan pertama dari sembulan orang dan barisan ke dua dari lima orang tanpa melukai mereka sama sekali!

Mereka ini adalah murid-murid tingkat tingkat dua yang sudah memiliki kepandaian tinggi. Melihat gerakan Kim Hong tadi, sebagai ahli-ahli silat tinggi mereka sudah maklum bahwa Kim Hong adalah seorang wanita yang lihai bukan main, yang agaknya mewarisi ilmu silat dari seorang sakti. Kelihaian dan sikap Kim Hong yang tidak mau melukai lawan itu sebetulnya sudah mendatangkan rasa simpati dalam hati mereka dan menurutkan hati mereka, agaknya mereka akan suka membiarkan Kim Hong lolos untuk menemui ketua mereka. Akan tetapi, mereka adalah tosu-tosu yang berdisiplin, maka mereka tidak berani melanggar peraturan dan tata tertib. Sambil menjura, tosu yang bertahi lalat di dagunya itu berkata.

“Ah, kiranya nona sungguh memiliki kepandaian yang luar biasa. Akan tetapi nona masih harus dapat melewati kami bertiga sebelum memasuki ruangan sebelah dalam.” Mereka bertiga lalu bergerak membentuk barisan segi tiga dengan pedang mereka.

Kim Hong menggerakkan kepala untuk memindahkan kuncir rambutnya ke belakang. Manis sekali gerakan ini dan iapun tersenyum. “Ah, aku tidak percaya bahwa para tosu Kun-lun-pai yang bijaksana dan baik budi akan mau mencelakakan seorang tamu wanita muda yang hanya ingin menghadap ketuanya.” Setelah berkata demikian, dara ini lalu menerjang ke depan, menerjang di antara dua batang pedang yang membuat pertahanan dan membentuk dua daun pintu. Akan tetapi dua batang pedang itu bergerak cepat dan nampaklah gulungan sinar pedang yang menghadang di depannya. Adapun pedang ke tiga juga sudah siap menggantikan teman dengan berputar-putar di atas kepalanya. Tahulah Kim Hong. Tiga orang tosu ini yang tingkatnya sudah lebih tinggi tidak akan menyerangnya seperti para penghadang pertama dan kedua tadi, melainkan membentuk sinar pedang untuk menghalangnya dan kalau ia menerjangnya dan sampai terluka oleh sinar pedang, hal itu berarti bahwa ia yang salah sendiri menerjang pedang, bukan pedang yang sengaja menyerangnya! Maka iapun tersenyum dan tentu saja ia tidak tega untuk melukai tosu-tosu yang begini sungkan dan baik kepadanya. Maka ia hendak memaksa agar tiga orang tosu itu memperlihatkan kepandaiannya dan tidak sungkan-sungkan lagi kepadanya, karena bukankah perasaan sungkan itu berarti sudah menyeleweng daripada tugas mereka? Ia tidak ingin mereka itu ditegur atasan mereka sebagai penjaga-penjaga yang kurang ketat.

“Sam-wi totiang harap jangan bersikap sungkan lagi!” katanya dan tiba-tiba saja ia menggerakkan tangannya, bukannya dengan maksud menerobos ke dalam, melainkan menggunakan tangan untuk menyerang mereka! Serangan tangannya tentu saja hebat sekali, didahului oleh hawa pukulan yang amat kuat dan mengeluarkan angin berdesir. Dua orang tosu itu terkejut bukan main. Tak disangkanya bahwa tamu ini malah berbalik menyerangnya demikian dahsyatnya. Cepat mereka memutar pedang untuk menangkis, akan tetapi kekagetan mereka bertambah ketika gadis itu berani mempergunakan tangan kosong untuk menyambar pedang mereka! Dengan tangan dimiringkan, gadis itu begitu saja menangkis pedang dan mereka merasa betapa tangan mereka bergetar hebat ketika pedang bertemu dengan tangan!

Tahulah kini tiga orang tosu itu bahwa lawannya benar-benar amat tangguh dan merekapun tidak bersikap sungkan lagi. Kalau bersikap sungkan dan mengalah terhadap lawan yang tingkat kepandaiannya lebih tinggi, hal itu sungguh lucu dan sama dengan menyerah kalah.

Maka kini merekapun mengubah gerakan mereka, dan Sam-ciok-tin (Barisan Segi Tiga) mereka benar-benar dipergunakan, dengan jurus-jurus serangan dari tiga penjuru sehingga sebentar saja tubuh Kim Hong sudah dijatuhi dan dihujani serangan bertubi-tubi.

“Bagus! Kun-lun Kiam-sut memang hebat!” Kim Hong memuji, bukan hanya untuk menyenangkan lawan melainkan memang ia dapat merasakan hebatnya ilmu pedang yang dimainkan dalam barisan segi tiga ini. Serangan mereka demikian mantap dan kuat, penjagaan mereka demikian ketat sehingga ia menghadapi lawan yang tangguh dan hal ini menimbulkan kegembiraannya. Sementara itu lima orang tosu dan sembilan orang anak murid Kun-lun-pai sudah berdiri menonton dan merekapun merasa kagum bukan main. Tahulah mereka bahwa gadis muda itu tadi bersikap lunak sekali terhadap mereka.

Setelah mencoba ilmu pedang tiga orang tosu tingkat dua itu selama hampir lima puluh jurus, puaslah hati Kim Hong. Ia sudah memperlihatkan kecepatan gerakannya sehingga tiga batang pedang itu tidak pernah dapat menyentuhnya, dan yang terlalu dekat dapat ditangkis dengan tangan terbuka. Sebaliknya, iapun membalas setiap serangan dengan totokan-totokan yang tidak kalah hebatnya dan setelah lewat lima puluh jurus, tiba-tiba ia berseru, “Maaf sam-wi totiang, aku mau lewat!”

Tiba-tiba saja tiga orang tosu itu merasa betapa tangan mereka yang memegang pedang menjadi lemas dan lumpuh untuk beberapa detik lamanya dan kesempatan ini sudah cukup bagi Kim Hong untuk meloncat ke sebelah dalam melewati mereka! Tiga orang itu hanya dapat memutar tubuh dan memandang bengong. Mereka tadi hanya melihat berkelebatnya sinar hitam disertai bau harum dan tahulah mereka kini bahwa wanita tadi telah menotok pundak mereka dengan ujung rambut kunciran itu!

Diam-diam ketiganya bergidik karena kalau wanita itu menghendaki tentu bukan tempat itu yang ditotok, melainkan jalan darah yang lebih berbahaya lagi, misalnya di leher yang dapat membuat mereka roboh atau bahkan tewas! Maka mereka bertiga lalu menjura dengan hormat kepada gadis itu dan berkata, “Nona telah lulus dan dapat melewati kami, silakan masuk.”

“Terima kasih, akan tetapi biarkan temanku lewat juga,” katanya sambil menanti Thian Sin yang berjalan menghampirinya dari luar.

“Akan tetapi, yang dapat melewati kami hanya nona seorang. Dia belum memperkenalkan diri dan…”

“Bukankah sudah kukatakan bahwa aku akan menghadap pimpinan Kun-lun-pai bersama seorang kawanku? Totiang, akulah yang bertanggung jawab atas dirinya!” kata Kim Hong. Tosu bertahi lalat di dagunya itu mengerutkan alisnya akan tetapi dia menarik napas panjang, lalu menggerakkan pundaknya.

“Siancai… kami telah kalah, tidak perlu banyak cakap lagi. Akan tetapi mungkin sekali para suheng kami yang di dalam akan berpikiran lain. Harap nona berhati-hati karena para suheng kami tidak boleh disamakan dengan kami yang masih bodoh.”

Kim Hong menjura ke arah mereka dan tersenyum. “Terima kasih, totiang sekalian sungguh baik sekali!” Dan iapun melangkah masuk bersama Thian Sin, meninggalkan para penjaga di luar yang tentu saja merasa kagum dan tiada hentinya membicarakan nona cantik jelita yang berilmu tinggi itu.

Kim Hong dan Thian Sin melangkah maju terus, melalui lorong yang panjang. Mereka berjalan dengan penuh kewasdaan, siap menghadapi segala macam rintangan. Akan tetapi, lorong itu ternyata tidak mengandung jebakan-jebakan atau rintangan-rintangan apapun. Setelah lorong itu habis, tibalah mereka di sebuah ruangan yang amat luas dan mereka melihat dua orang tosu yang usianya kurang lebih lima puluh tahun, keduanya tinggi kurus dan wajah mereka membayangkan kehalusan budi akan tetapi sikap mereka berwibawa.

Thian Sin menahan kakinya dan membiarkan Kim Hong yang maju sendiri menghadapi dua orang tosu itu. Mereka itu adalah murid-murid kepala dari Kun-lun-pai, yang menerima pendidikan langsung dari ketua dan wakil ketua Kun-lun-pai. Hanya ada lima orang murid kepala dan pada waktu itu, yang berada di dalam asrama hanya dua orang inilah.

“Maaf, ji-wi totiang. Aku mohon lewat untuk menghadap ketua Kun-lun-pai,” kata Kim Hong dengan sikap biasa dan tenang sekali sambil menghampiri mereka.

“Siancai… Nona Toan Kim Hong dapat melewati penjagaan pertama, sungguh lihai sekali dan pinto berdua menyatakan kagum bukan main!” kata seorang di antara mereka yang mukanya pucat dan matanya sipit seperti terpejam. Setelah berkata demikian, tosu ini mengangkat kedua tangan dikepal di depan dada dan memberi hormat sambil melangkah maju ke arah Kim Hong. Angin pukulan menyambar dahsyat dari kedua tangan itu ke arah dada Kim Hong!

Maklumlah dara ini bahwa tosu bermuka pucat itu adalah ahli lwee-keh yang memiliki tenaga sakti kuat, maka mukanya selalu pucat seperti itu, mungkin disebabkan latihan yang terlalu terpaksa sehingga berakibat seperti itu. Maka iapun cepat mengangkat kedua tangan di depan dada membalas penghormatan itu sambil berkata, “Ah, totiang terlalu memuji. Mana aku berani menerimanya?”

Dari kedua tangan nona inipun menyambar tenaga sin-kang yang merupakan angin berkesiur menyambut serangan lawan. Tosu itu nampak terkejut ketika merasa ada hawa dingin menolak tenaganya, maka diapun membuka kedua kepalan tangannya dan kini mengulurkan kedua lengannya itu, dengan kedua telapak tangan terbuka mendorong dengan terang-terangan untuk memperkuat daya serangannya tadi. Melihat lawannya menyerang secara terbuka, Kim Hong juga mengulurkan kedua lengannya menyambut dan kini dua pasang telapak tangan itu saling bertemu dan dari situ mengalir keluar kekuatan sin-kang yang sama dahsyatnya! Adu sin-kang terjadi dan biarpun keduanya hanya berdiri tegak dengar kedua lengan dilonjorkan, kedua tangan terbuka dan saling sentuh, namun bagi Thian Sin dan tosu ke dua merupakan saat menegangkan di mana dua orang yang memiliki sin-kang kuat saling menguji tenaga sinkang mereka!

UNTUK beberapa saat lamanya Kim Hong mengerahkan sin-kangnya dari sedikit dan setelah ia mengerahkan sampai tiga perempat bagian, barulah ia dapat mengimbangi tenaga lawan. Diam-diam ia kagum juga. Murid kepala Kun-lun-pai telah memiliki sin-kang sekuat ini! Akan tetapi, setelah mengukur kekuatan lawan, ia tidak ingin mencelakai lawannya itu, lalu tiba-tiba ia mengeluarkan seruan nyaring dan tosu itu kaget setengah mati. Mendadak saja dia merasa betapa telapak tangan nona itu menjadi lunak sekali dan dia merasa tenaganya seperti terjun ke tempat tanpa dasar dan diapun terjerumus ke depan. Pada saat itu, Kim Hong sudah meloncat ke atas, melalui kepalanya dan melewatinya, tiba di belakangnya sedangkan tosu pucat ini terhuyung ke depan dan nyaris terjelungkup. Dia membalikkan tubuh, mukanya penuh keringat dan napasnya agak memburu, lalu dia menjura. “Terima kasih atas petunjuk nona yang lihai sekali!”

Tosu ke dua, yang mukanya ramah dan jenggotnya panjang, tertawa. “Ha-ha-ha, sungguh luar biasa sekali. Di dunia ini telah bermunculan orang muda yang memiliki kepandaian tinggi sekali. Sungguh membuat pinto merasa seperti seekor katak dalam tempurung! Nona Toan, kalau saudaraku tadi menguji sin-kangmu, maka sekarang tiba giliranku untuk menguji ketinggian gin-kangmu. Nah, aku akan mencegah engkau masuk, dan cobalah engkau melewati aku dengan menggunakan kecepatan gerakanmu!” Setelah berkata demikian, tosu itu berdiri di atas ujung jari kakinya, berjingkat dan mengembangkan kedua lengannya.

Kim Hong tersenyum dan hatinya girang. Tosu Kun-lun-pai ternyata bukanlah orang-orang yang suka mempergunakan kekerasan, walaupun murid-murid mereka di dunia kang-ouw terkenal gagah perkasa dan gigih menentang kejahatan.

“Baik, totiang. Nah kauhalangilah aku!” Tiba-tiba Kim Hong berkelebat lari ke sebelah kiri tosu itu, akan tetapi tosu itupun sudah mcloncat ke sana sehingga jalan bagi Kim Hong terhalang. Nona itu meloncat tinggi ke atas, berjungkir balik sampai tiga kali sehingga ia mencapai langit-langit, akan tetapi tosu itupun mengeluarkan seruan keras dan tubuhnya juga sudah mencelat ke atas menghadang di atas! Kim Hong turun lagi diikuti oleh tosu itu dan selanjutnya dua orang itu seperti sedang bermain kejar-kejaran seperti anak kecil. Tubuh mereka tidak nampak lagi saking cepatnya gerakan mereka. Yang nampak hanya bayangan yang berkelebatan dan memang tosu yang seorang ini memiliki gerakan cepat bukan main. Akan tetapi, kini dia bertemu dengan gadis yang pernah menjadi Lam-sin, yang terkenal sekali dengan ilmu kepandaiannya yang hebat-hebat, di antaranya kecepatan gerakannya. Demikianlah, setelah mengajak tosu itu berkelebatan dengan cepat di mana tosu itu selalu dapat memotong jalan masuk, tiba-tiba Kim Hong mengerahkan seluruh tenaga gin-kangnya dan tubuhnya berpusingan cepat seperti gasing! Tentu saja tosu itu terkejut sekali dan tidak tahu harus berbuat apa. Untuk ikut berpusing seperti itu, dia tidak sanggup dan tiba-tiba saja nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu dara itu telah melesat di sampingnya tanpa dia mampu mencegahnya, saking cepatnya gerakan itu. Tahulah tosu itu bahwa kalau tadi-tadi nona itu mengerahkan seluruh tenaga gin-kangnya, dia tidak akan mampu mencegahnya.

“Hebat, hebat… pinto mengaku kalah!” katanya sambil tertawa dan menghapus keringatnya.

Tosu yang matanya sipit tadi kembali menjura. “Nona telah memperlihatkan ketinggian ilmu silat, kekuatan sin-kang dan ketinggian gin-kang. Nona adalah seorang tamu yang sudah sepatutnya minta berjumpa dengan wakil ketua kami. Akan tetapi, orang muda itu tidak boleh masuk. Dia hanya teman nona, dan dia tidak melalui ujian masuk.”

“Totiang bersikap kurang adil sekali.”

Dua orang tosu itu saling pandang dan yang bermata sipit kembali menghadapi Kim Hong. “Siancai…! Kalau ada kesalahan kami, harap kautunjukkan, nona. Sikap kami yang manakah yang kurang adil menurut pendepatmu?”

“Setiap orang mempunyai peraturan masing-masing. Kun-lun-pai mempunyai peraturan bahwa siapa hendak menghadap ketuanya harus melalui ujian barisan murid-murid Kun-lun-pai. Aku menghormati peraturan tuan rumah dan sudah memenuhi syarat. Sebaliknya, sebagai tamu akupun mempunyai peraturan, peraturan kepantasan yang kiranya dapat dimengerti oleh para tokoh Kun-lun-pai. Aku adalah seorang wanita muda, dan menurut patut, kalau aku menghadap seorang pria, aku harus membawa teman. Karena itulah maka untuk menghadap ketua Kun-lun-pai aku membawa temanku, apakah sudah dianggap tepat oleh ketua Kun-lun-pai untuk menerima tamu wanita muda berdua saja tanpa ada orang lain?”

Wajah kedua orang tosu itu menjadi merah dan mereka merasa bingung, saling pandang karena mereka menganggap alasan nona ini cukup kuat. Memang, dari sudut kesusilaan, amatlah tidak pantas kalau menolak orang yang menemani nona ini menghadap ketua Kun-lun-pai, dan amatlah memalukan dan mendatangkan dugaan yang bukan-bukan kalau ketua atau wakil ketua Kun-lun-pai menerima kunjungan seorang wanita muda cantik jelita yang bukan murid dan bukan keluarga sendiri saja!

Akan tetapi, tosu berjenggot panjang yang ramah itu cerdik. Tiba-tiba dia bertanya, “Nona, apamukah orang muda yang hendak mengantarmu menjumpai wakil ketua kami?”

“Dia adalah kekasihku, tunanganku!” Kim Hong berkata dengan lantang dan terus terang sehingga Thian Sin sendiri menjadi terkejut dan mukanya berubah merah. Akan tetapi diapun lantas dapat menangkap bahwa memang jawaban terus terang itulah yang paling tepat, karena kalau bukan saudara bukan tunangan, melakukan perjalanan berdua saja tentu sudah melanggar kepantasan pula!

Selagi dua orang tosu itu termangu-mangu, tiba-tiba terdengar suara dari balik daun pintu di sebelah dalam, suara yang halus dan ramah, “Siancai… seorang muda yang penuh semangat! Persilakan Nona Toan dan temannya masuk…!”

Dua orang tosu itu nampak lega dan menjura ke arah Kim Hong dan Thian Sin. “Wakil ketua kami, Kui Yang Tosu, mengundang ji-wi untuk datang menghadap. Silakan!” Mereka lalu membuka daun pintu yang besar itu. Kim Hong dan Thian Sin membalas penghormatan mereka lalu melangkah, memasuki ambang pintu memasuki sebuah ruangan lain yang terang. Ternyata kamar itu adalah sebuah kamar buku karena di sudut berdiri rak penuh dengan buku-buku tua, juga merangkap kamar tamu karena di situ terdapat meja kursi dan di atas dipan berkasur duduk bersila seorang tosu yang wajahnya ramah dan tosu itu duduk sambil tersenyum gembira, memandang kepada mereka.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: