Pendekar Sadis (Jilid ke-72)

Kim Hong ikut mendengarkan dan hatinya tersentuh. Iapun merasa bahwa ia pernah menyeleweng, bahkan lebih dari penyelewengan biasa. Ia pernah menjadi Lam-sin, menjadi datuk kaum sesat di dunia selatan, bahkan membentuk Bu-tek Kai-pang yang menjagoi seluruh dunia selatan. Pernah membiarkan anak buahnya melakukan kesewenang-wenangan mengandalkan kepandaian, pernah melakukan kejahatan apapun juga. Akan tetapi semenjak ia bertemu dengan Thian Sin, semenjak ia menanggalkan penyamarannya sebagai Lam-sin, ia seolah-olah hidup di dunia lain. Iapun ingin menjadi orang sehat, bahkan lebih dari itu, ia ingin menjadi pendekar! Maka semua kata-kata pemuda putera Pendekar Lembah Naga itu terasa benar oleh sanubarinya. Ia sendiripun bukan keturunan penjahat! Ayahnya adalah seorang pangeran dan ibunya seorang pendekar wanita!

“Ah, Tiong-ko, betapa aku merindukan semua kata-kata dan nasihatmu selama ini…” Akhirnya terdengar Thian Sin mengeluh. “Akan tetapi, apa hendak dikata, semua itu telah kulakukan, Tiong-ko, terdorong oleh rasa sakit hatiku yang bertumpuk-tumpuk. Semua telah terlewat, lalu apa yang dapat kulakukan?”

“Yang sudah-sudah memang tak dapat diperbaiki kembali, Sin-te. Akan tetapi aku mendengar bahwa akhir-akhir ini engkau juga telah menyerbu Kun-lun-pai. Benarkah berita yang kudengar itu? Bahwa engkau telah membunuh seorang tokoh Kun-lun-pai yang sudah tua dan sedang bertapa?”

Thian Sin melirik ke arah Kim Hong, melihat dara itu diam mendengarkan diapun mengangguk.

“Ahh, Sin-te… Sin-te…! Engkau ini pendekar bagaimana? Apakah engkau tidak tahu bahwa Kun-lun-pai adalah perguruan dan perkumpulan silat para pendekar yang terkenal di dunia kang-ouw? Yang menyerbu Kun-lun-pai, pantasnya hanya para penjahat! Bagaimana engkau sampai bisa memusuhi Kun-lun-pai, Sin-te? Kau tahu, sekarang Kun-lun-pai hendak mengadakan pertemuan para pendekar untuk menuntut pertanggungan jawab dan mau tidak mau, ayah kita tentu akan terbawa-bawa. Sin-te, seorang pendekar harus berani mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Dan aku ingin agar engkau, sebagai adikku yang tercinta, juga mau mempertanggungjawabkan perbuatanmu terhadap Kun-lun-pai!”

“Maksudmu bagaimana, Tiong-ko?”

“Mari kau ikut bersamaku menghadap para pimpinan Kun-lun-pai dan pertemuan antara para pendekar itu, untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu.”

“Ah, tidak mungkin, Tiong-ko. Aku tidak mungkin menghadap mereka!” Thian Sin menolak dengan suara terkejut sekali. Menghadap pimpinan Kun-lun-pai sama saja dengan mencari mati!

“Engkau harus, Sin-te! Dan aku akan menanggungmu, aku akan membelamu, kalau perlu aku akan membelamu dengan nyawaku. Akan tetapi, mati atau hidup, kita harus tetap bersikap sebagai seorang pendekar yang berani bertanggungjawab atas semua perbuatannya!”

“Tidak, Tiong-ko, aku tidak mau…”

Han Tiong maju selangkah. “Sin-te mungkin ilmu kepandaianmu sudah jauh melampaui tingkatku, akan tetapi adalah menjadi kewajibanku sebagai pendekar, terutama sekali sebagai kakakmu yang mencintamu, untuk menyadarkanmu dan kalau perlu aku akan memaksamu untuk pergi bersamaku menghadap ke Kun-lun-pai.”

Thian Sin memandang kakaknya dengan muka berubah dan mata terbelalak.

“Maksud… maksudmu…?”

“Kalau engkau tidak mau ikut dengan suka rela, aku akan menggunakan kekerasan, menawanmu dan membawamu menghadap dalam pertemuan para pendekar itu, atau… biarlah aku tewas dalam tanganmu demi membawamu ke jalan yang benar, adikku!”

“Tidak, Tiong-ko… engkau tidak mungkin…”

Akan tetapi Han Tiong sudah menerjang maju untuk menotok jalan darah di kedua pundak adiknya dan karena dia tahu benar akan kelihaian adiknya itu, begitu menyerang dia sudah mempergunakan ilmu andalannya, yaitu It-sin-ci, ilmu menotok yang mempergunakan satu jari. Ilmu ini hebat bukan main dan jarang ada lawan yang mampu menghindarkan diri dari serangan It-sin-ci. Akan tetapi pada waktu itu, tingkat kepandaian Thian Sin sudah amat tinggi, tidak kalah lihainya dibandingkan dengan kakak angkatnya, maka dengan tidak begitu sukar dia berhasil menangkis totokan-totokan itu sambil meloncat ke belakang.

“Tidak, Tiong-ko, jangan…!”

Akan tetapi Han Tiong terus mendesak dan Thian Sin yang tidak mau melawan kakaknya hanya mengelak, menangkis sambil mundur terus. Melihat ini tiba-tiba Kim Hong meloncat ke depan dan ia menangkis totokan berikutnya sambil membentak, “Tahan dulu!”

“Dukk!” Kembali Han Tiong mengadu tenaga dengan Kim Hong dan sekali ini, Kim Hong yang menangkis dan kembali keduanya merasa tergetar oleh kekuaten lawan.

“Nona, urusan kami adalah urusan kakak dan adik, tidak perlu dicampuri oleh orang luar!”

“Cia Han Tiong taihiap, aku bukanlah orang luar! Bahkan dalam urusan Kun-lun-pai, akulah yang menyerbu ke sana, dan akulah yang memusuhi pertapa itu. Thian Sin hanya kumintai bantuan saja, jadi akulah pula yang bertanggung jawab, bukan dia!”

Mendengar ucapan ini, tentu saja Han Tiong menjadi terkejut dan memandang kepada adik angkatnya dengan penuh perhatian dan alis berkerut ketika dia bertanya, “Sin-te, apa artinya ini? Siapakah nona ini?”

“Ia… ia adalah tunanganku, Tiong-ko…”

“Ahh…!” Seketika wajah Han Tiong berseri gembira dan dia cepat menoleh dan memandang kepada Kim Hong penuh perhatian. Makin giranglah hatinya ketika dia mendapat kenyataan betapa nona itu memang sungguh amat cantik setelah kini dia memandang dengan jelas, cantik jelita tidak kalah dibandingkan dengan Lian Hong!

“Begitukah? Kionghi, Sin-te, kiong-hi…! Ah, aku girang sekali… dan suara nona… seperti… pernah aku mendengarnya!”

Kim Hong tersenyum dan nampak semakin manis. “Memang sebelumnya pernah kita saling bertemu, taihiap.” Thian Sin hendak memberi isyarat agar kekasihnya jangan memperkenalkan dirinya, akan tetapi Kim Hong yang masih mendongkol karena pertengkarannya dengan Thian Sin tadi, melanjutkan, “Mungkin taihiap teringat kalau kukatakan bahwa tunangan taihiap, Nona Ciu Lian Hong, pernah menjadi muridku…”

Han Tiong terkejut dan terbelalak heran memandang wajah nona itu. Kini dia teringat! Memang, suara nona ini sama benar dengan suara nenek datuk kaum sesat di selatan itu, yaitu Nenek Lam-sin yang lihai! Tentu saja dia tidak percaya dan berkata, “Tapi… tapi… Hong-moi ditolong dan menjadi murid Nenek Lam-sin…”

“Semenjak bertemu dengan adikmu, taihiap, nenek Lam-sin sudah tidak ada lagi dipermukaan bumi ini, yang ada hanyalah aku, Toan Kim Hong.”

Han Tiong masih belum yakin benar dan dia menoleh kepada adiknya, diguncang-guncangnya. “Apa artinya ini, Sin-te? Apa artinya ini?”

Thian Sin memegang tangan kakaknya, “Tiong-ko, jangan kauserang aku lagi, sampai matipun aku tidak mungkin mau melawan. Marilah kita bicara baik-baik dan dengarkan ceritaku. Yang menjadi Nenek Lam-sin itu adalah nona ini, Toan Kim Hong dan dia telah menjadi kekasihku, tunanganku, isteriku…” Pemuda itu menarik tangan kakaknya diajak duduk di atas padang rumput tak jauh dari tempat itu, diikuti oleh Kim Hong yang tersenyum melihat betapa Han Tiong kini menurut saja ditarik adiknya, tidak lagi marah-marah seperti tadi.

Dengan panjang lebar Thian Sin lalu menceritakan segala pengalamannya, tidak ada yang dirahasiakan kepada kakak angkatnya itu. Betapa dia pernah gagal membalas kepada See-thian-ong dan betapa dia telah mempelajari ilmu-ilmu peninggalkan ayah kandungnya di Himalaya. Diceritakannya ketika dia membalas dendam kepada semua musuh-musuh orang tuanya, dan juga musuh-musuh yang telah membuat keluarga Ciu terbinasa. Betapa dia bertemu dengan Lam-sin yang kemudian menjadi Kim Hong dan menjadi isterinya dan dibantu oleh wanita itu dia berhasil membunuh See-thian-ong dan Pak-san-kui berikut semua muridnya.

“Memang dalam dendam dan sakit hatiku, aku berlaku kejam terhadap mereka, Tiong-ko. Juga para penjahat yang bertemu denganku, kubasmi secara kejam. Aku sakit hati sekali kepada mereka, sakit hati sejak orang tuaku terbunuh, sampai ketika keluarga Ciu terbasmi. Diam-diam aku sudah bersumpah untuk memhasmi semua penjahat di dunia ini!”

Han Tiong mendengarkan dengan penuh perhatian dan kadang-kadang menahan napas ketika adiknya menceritakan cara adiknya itu menyiksa dan membunuh para penjahat dan musuh besar itu. Lalu dia berkata, “Akan tetapi, engkau telah membunuh Pangeran Toan Ong yang terkenal budiman…”

“Itu merupakan kesalahanku mudah terbujuk fitnah seorang wanita jahat,” katanya dan diapun terang-terangan menceritakan tentang pertemuannya dengan Kim Lan dan betapa dia dibohongi Kim Lan sehingga membunuh Toan Ong. Kemudian betapa setelah tahu akan rahasia Kim Lan dia lalu merusak muka wanita itu. Kakak angkatnya bergidik mendengar semua penuturan yang diceritakan dengan terang-terangan itu.

“Nona Toan, engkau tadi mengatakan bahwa urusan di Kun-lun-pai adalah urusanmu. Sesungguhnya, bagaimanakah hal itu terjadi dan mengapa sampai bentrok dengan Kun-lun-pai?”

“Begini, taihiap…”

“Nanti dulu, nona. Kalau engkau bakal menjadi isteri adikku, mengapa engkau menyebutku taihiap segala? Membuat hatiku menjadi tidak enak saja.”

“Baiklah… Tiong-ko,” kata Kim Hong sambil tersenyum, meniru panggilan Thian Sin terhadap Han Tiong.

Han Tiong tersenyum gembira. “Nah, begitu lebih baik bukan, Sin-te? Kelak kalau kalian sudah punya anak, boleh sebut toa-pek (uwak) padaku!” Mereka bertiga tertawa lagi dengan gembira akan tetapi tak lama kemudian Kim Hong lalu menceritakan tentang riwayatnya, tentang kematian ayahnya, seorang pangeran yang dianggap buronan oleh kaisar dan dikejar-kejar sampai akhirnya hidup sengsara dan mati sebagai buronan. Diceritakannya mengapa ia mendendam kepada supeknya, yaitu Gouw Gwat Leng yang kemudian menjadi Jit Goat Tosu dan bertapa di Kun-lun-pai, betapa ia dibantu oleh Thian Sin lalu mendatangi Kun-lun-pai, dengan baik-baik minta menghadap ketua Kun-lun-pai dan minta bertemu dengan Jit Goat Tosu tanpa melibatkan Kun-lun-pai sama sekali. Kemudian tentang pertemuannya dengan supeknya yang amat lihai sehingga terpaksa mereka berduapun akan kalah kalau saja supeknya itu tidak mengalah, bahkan akhirnya supek mereka itu membunuh diri untuk menebus penyesalannya tentang kesengsaraan hidup sutenya, yaitu Pangeran Toan Su Ong.

“Urusan antara keluargaku dan supek Gouw Gwat Leng adalah urusan pribadi dan kami sama sekali tidak menyangkutkan Kun-lun-pai. Akan tetapi sungguh para tosu Kun-lun-pai itu tidak tahu diri. Supek mati karena membunuh diri, karena dia merasa menyesal dan baru setelah dia membunuh diri aku melihat kenyataan bahwa sebenarnya supek amat mencinta mendiang ayahku. Kematian supek sungguh sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan Kun-lun-pai, akan tetapi para tosu itu dengan membabi buta mengeroyok kami, bahkan kini melaporkan kami kepada tokoh-tokoh kang-ouw!” Kim Hong mengepal tinjunya. Gadis ini dengan terus terang menceritakan semua riwayatnya.

Mendengar cerita nona itu, Han Tiong menarik napas panjang. Dia merasa kagum sekali kepada kakek yang bernama Couw Gwat Leng atau Jit Coat Tosu itu. “Beliau seorang bijaksana, sayang kalian tidak tahu akan hal itu sebelumnya sehingga terpaksa nyawa seorang yang demikian bijaksana dikorbankan dengan sia-sia. Tahukah kalian mengapa beliau membunuh diri? Bukan hanya karena penyesalan, melainkan untuk mencegah engkau berdua, karena kalau sampai beliau mati di tanganmu, hal itu akan membuat engkau seorang murid durhaka dan selamanya engkau akan menyesali perbuatanmu itu. Di atas dunia ini, segala perkara tidak akan dapat diatasi dengan kekerasan. Ilmu sliat hanya patut dipergunakan mencegah terjadinya kejahatan melindungi diri sendiri dan juga orang-orang lain yang terancam bahaya. Akan tetapi, kalau ilmu silat dipergunakan untuk melampiaskan dendam, maka itu menjadi ilmu terkutuk, menjadi ilmu hitam.”

Dua orang itu mendengarkan sambil bertunduk. Berhadapan dengan kakaknya, Thian Sin merasa kehilangan semua semangat perlawanannya, membuat dia seperti mati kutu. Hal ini adalah karena perasaan cinta kasih dan hormat yang amat besar, membuat dia tidak mungkin dapat menentang atau membantah. Bukan karena takut, melainkan karena cinta dan juga apapun yang keluar dari mulut kakaknya itu terasa olehnya amat tepat dan tidak mungkin dapat dibantah kebenarannya lagi.

Keadaan menjadi serius lagi setelah Han Tiong bicara dengan sungguh-sungguh. Menghadapi keadaan ini, di mana dia merasa dirinya tenggelam tak berdaya dan bahkan Kim Hong yang agaknya berwatak pemberontak itupun terdiam, Thian Sin merasa tidak enak sekali dan diapun mencoba untuk memecahkan suasana itu dengan berkelakar. “Aduh, Tiong-ko, lama tidak bertemu denganmu, sekali berjumpa, engkau agaknya seperti telah menjadi seorang pendeta! Kuliahmu penuh dengan hal-hal batiniah belaka!”

Han Tiong tersenyum, akan tetapi jawabannya tetap saja serius, “Sin-te, mana mungkin kita mengabaikan soal-soal batiniah? Hidup ini bukan hanya lahirlah belaka, bukan? Lahir dan batin, haruslah serasi, maju bersama, karena kalau tidak demikian, kita tentu akan terjeblos ke dalam lembah sengsara. Batin yang waspada membuat orang menjadi bijaksana, Sin-te.”

“Semua ucapanmu memang benar, Tiong-ko. Akan tetapi aku ingin mendengar tentang segi lain dari hidupmu semenjak kita berpisah. Bagaimana keadaan ayah dan ibu? Dan bagaimana dengan keadaan Lian Hong?” Kini ringan saja lidah Thian Sin menyebut nama ini, tidak ada rasa berat sedikitpun di hatinya, tanda bahwa dia memang sama sekali sudah tidak mengharapkan gadis itu, dan hal inipun terasa oleh Han Tiong yang menjadi lega. Dia tahu bahwa adiknya telah memperoleh seorang pengganti, seorang gadis yang harus diakuinya dalam segala hal tidak kalah dibandingkan dengan Lian Hong. Bahkan lebih cantik dan dalam hal ilmu silat jauh lebih lihai.

“Ayah dan ibu baik-baik saja, sungguhpun mereka juga amat mengharapkan kedatanganmu, Sin-te. Dan Adik Lian Hong juga baik-baik saja, kini sudah tinggal di Lembah Naga bersama kami. Kau tahu, Sin-te, di mana aku menemukan Hong-moi? Di sarang datuk sesat Lam-sin, bahkan sempat menjadi murid datuk itu yang ternyata juga telah menolongnya ketika terjadi keributan itu.” Han Tiong tersenyum dan memandang kepada Kim Hong yang hanya tersenyum saja.

Tentu saja Thian Sin sudah tahu akan hal itu dari Kim Hong. Dia hanya mengangguk-angguk dan berkata, “Syukurlah kalau ia sudah berada di Lembah Naga. Bukankah kalian sudah menikah sekarang, Tiong-ko?”

Han Tiong menggeleng kepala dan memandang kepada adiknya. “Aku selalu mengulur waktu untuk itu, Sin-te. Aku tidak mau menikah sebelum engkau pulang…”

“Eh, kenapa begitu?” Thian Sin bertanya kaget.

Han Tiong mengerling kepada Kim Hong, lalu berkata, “Tadinya aku selalu meragu, adikku… mana mungkin aku hidup bersenang-senang sendiri saja sementara engkau masih belum kuketahui keadaanmu? Tapi sekarang, ah, sekarang lain lagi. Tapi sudahlah, ada hal yang lebih penting yang perlu kubicarakan denganmu, Sin-te, juga denganmu, Nona Toan.”

“Hal penting apakah, Tiong-ko?” jawab kedua orang itu hampir berbareng dan mereka berdua memandang kepada Han Tiong dengan penuh perhatian.

“Bukan lain tentang pertanggungan jawab, adik-adikku. Tanggung jawab akan perbuatan sendiri merupakan syarat mutlak bagi seorang pendekar. Oleh karena itu, aku minta kepadamu, Sin-te, agar engkau suka mempertanggungjawabkan perbuatanmu di Kun-lun-pai dan menyerahkan diri!”

“Tiong-ko…!” Thian Sin memandang dengan mata terbelalak.

“Tiong-ko, sudah kukatakan bahwa urusan Kun-lun-pai adalah urusanku sendiri!” Kim Hong membantah. “Thian Sin tidak bertanggung jawab, aku yang bertanggung jawab!”

Han Tiong menggeleng kepala dan menghela napas. “Adik Kim Hong, biarpun aku tahu bahwa ilmu silatmu amat hebat, akan tetapi agaknya namamu tidaklah sedahsyat nama julukan Sin-te sebagai Pendekar Sadis, sehingga Kun-lun-pai menekankan Pendekar Sadis dalam peristiwa di Kun-lun-pai itu sebagai pelaku utamanya. Pula, jelas bahwa Sin-te ikut pula turun tangan maka dia tidak mungkin dapat lepas dari tanggung jawab. Selain itu, setelah kalian berdua menjadi calon jodoh, bukankah berarti tanggung jawab yang seorang juga menjadi tanggung jawab yang lain? Maka, kuminta, marilah pergi ke Kun-lun-pai, biar aku yang antar kalian. Kun-lun-pai adalah perkumpulan orang-orang gagah yang tentu akan bersikap bijaksana.”

Thian Sin menggeleng kepalanya lalu memegang lengan kakaknya. “Tiong-ko, engkau tidak tahu. Mereka itu memusuhi aku, memusuhi kami. Mereka itu membenciku! Ketika kami berada di Kun-lun-pai, kami sudah menjelaskan bahwa kami tidak memusuhi Kun-lun-pai, bahkan ketika mereka itu mengeroyok dan hendak menangkap kami, kami mengalah dan tidak membunuh seorangpun. Kami melarikan diri. Mana mungkin sekarang kami harus menyerahkan diri begitu saja padahal kami tidak bersalah terhadap mereka?”

Han Tiong membalas pegangan adiknya. “Adikku, sudah kukatakan bahwa Kun-lun-pai bukanlah perkumpulan jahat, melainkan perkumpulan para pendekar dan dijunjung tinggi oleh para pendekar di seluruh dunia persilatan. Kalian telah menyebabkan kematian Jit Goat Tosu yang dianggap sebagai saudara sendiri oleh para pimpinan Kun-lun-pai, dan kematian itu terjadi di Kun-lun-pai, dan engkau masih mengatakan bahwa Kun-lun-pai tidak ada sangkut-pautnya sama sekali? Biarpun begitu, Kun-lun-pai tidak mau membalas dendam begitu saja terhadapmu, Sin-te, melainkan mau minta pertimbangan dan keadilan dalam pertemuan para pendekar. Mereka hendak menangkap kalian untuk dimintakan pengadilan, bukan untuk membalas dendam dan mencelakai kalian. Tahukah engkau bahwa menurut kabar yang kudapatkan di jalan, pihak Kun-lun-pai bahkan akan minta pertanggungan jawab Cin-ling-pai dan ayah kita di Lembah Naga? Nah, sebagai seorang gagah, marilah kuantar engkau menghadap ke Kun-lun-pai, menyerahkan diri dan menghadapi pengadilan dengan gagah pula. Percayalah, kalau terjadi ketidakadilan nanti, aku yang akan membelamu, kalau perlu dengan taruhan nyawaku!”

Thian Sin menjadi ragu-ragu dan menoleh kepada Kim Hong. Akan tetapi Kim Hong mengerutkan alisnya dan gadis itu kemudian menggeleng kepala. “Aku tidak akan menyerahkan diri kepada tosu-tosu bau itu!”

Thian Sin juga membayangkan betapa akan malunya untuk menyerahkan diri, dan tentu para tosu yang merasa sakit hati itu akan berdaya sedapat mungkin untuk membalas dendam. Pula, dia tidak mau kalau sampai perbuatannya harus dipertanggungjawabkan oleh semua keluarga Cin-ling-pai, apalagi harus ayah angkatnya ikut-ikut bertanggung jawab.

“Tiong-ko, ah, Tiong-ko, mengapa begitu? Mengapa engkau malah hendak membantu mereka yang hendak menangkap kami?” Dia mengeluh sambil memandang kepada kakaknya dengan sinar mata sedih.

Han Tiong mengerutkan alisnya. “Adikku, ke manakah kegagahanmu? Lupakan engkau bahwa seorang pendekar adalah pembela kebenaran, bahwa matipun bukan apa-apa, asal mati dalam kebenaran? Aku bukan membantu mereka yang hendak menangkapmu, adikku, melainkan membantumu kembali ke jalan lurus seorang pendekar. Marilah kuantar engkau. Biarlah kalau Adik Kim Hong tidak mau pergi, sudah sepatutnya kalau engkau yang mempertanggungjawabkan pula perbuatan calon isterimu.”

Kembali Thian Sin menjadi ragu-ragu. Menurutkan kata kesadarannya, apa yang dikatakan oleh kakaknya itu memang benar. Kalau dia mempertanggungjawabkan semua perbuatannya, apapun akibatnya, maka urusan akan menjadi selesai dan selanjutnya dia tidak akan merasa dikejar-kejar dan dimusuhi orang lagi. Akan tetapi ketika dia melihat wajah Kim Hong yang cemberut, diapun maklum bahwa kalau dia menuruti kata-kata kakaknya, Kim Hong akan menentang dan marah sekali dan bukan tidak mungkin hubungan antara mereka akan putus sampai di situ saja.

“Tiong-ko, makilah aku, pukullah aku, suruh melakukan apa saja, akan tetapi jangan menyerahkan diri kepada Kun-lun-pai!” akhirnya Thian Sin berkata.

Han Tiong bangkit berdiri dan mukanya menjadi merah, alisnya berdiri dan matanya terbelalak. “Sin-te! Masih begitu lemahkah engkau? Sudah kupikirkan masak-masak dan satu-satunya jalan bagimu untuk dapat kembali ke jalan lurus dan membersihkan namamu, hanyalah menyerahkan dan membiarkan dirimu diadili!”

Akan tetapi Thian Sin sudah mengambil keputusan bulat. Dia menggeleng kepala dan wajahnya menjadi agak pucat. Sakit sekali hatinya bahwa dia terpaksa harus menentang kehendak kakaknya yang amat disayangnya dan yang telah lama sekali baru saja dijumpainya kembali itu. “Tidak, Tiong-ko. Aku tidak akan menyerahkan diri kepada Kun-lun-pai. Maafkan aku, Tiong-ko, akan tetapi sungguh aku tidak bisa menyerahkah diri kepada mereka.”

“Sin-te, apakah engkau sudah menjadi seorang penakut? Engkau takut menghadapi hukuman? Takut mati?”

Thian Sin menggelengkan kepalanya, “Tidak, aku hanya tidak mau diperlakukan tidak adil. Aku tidak merasa bersalah, maka tidak mungkin aku menyerahkan diri seperti orang yang bersalah.”

“Akan tetapi, engkau akan diadili!”

“Hemm, pengadilan terhadap Pendekar Sadis yang dibenci sudah dapat dibayangkan lebih dulu akan bagaimana jadinya.”

“Sin-te, sekali lagi, demi membersihkan nama Cin-ling-pai dan Lembah Naga yang terlibat namanya olehmu, mari ikut aku ke Kun-lun-pai.”

“Sekali lagi, tidak, Tiong-ko, dan maafkan aku.”

“Kalau aku menggunakan kekerasan terhadapmu?”

Thian Sin tersenyum. “Terserah, engkau tahu aku tidak akan melawanmu, aku tidak akan dapat mengangkat tangan terhadapmu. Akan tetapi engkau harus tahu benar bahwa engkau takkan dapat membawaku dan memaksaku ke Kun-lun-pai selama aku masih bernyawa. Engkau harus membunuh aku lebih dulu sebelum dapat memaksa pergi, Tiong-ko. Ah, Tiong-ko, mengapa kita harus begini?” Dan tiba-tiba Thian Sin menubruk, merangkul dan menangis!

Kim Hong memandang dengan wajah pucat dan bengong. Tak pernah dapat disangkanya bahwa kekasihnya, Pendekar Sadis yang demikian gagah perkasa, berani mati, dan keras hati itu kini seakan-akan mencair semua kekerasannya dan menjadi lembek dan lunak dan lemah sekali! Han Tiong sendiri merangkul adiknya dan menengadah, mukanya pucat sekali.

“Kaupun tahu bahwa tak mungkin aku dapat melakukan kekerasan terhadap dirimu, adikku,” katanya dengan suara serak penuh keharuan. “Akan tetapi engkaupun tahu bahwa tak mungkin aku membiarkan saja namamu berlepotan noda dan membawa pula nama Lembah Naga menjadi tercemar. Kalau engkau berkeras tidak mau ikut aku ke Kun-lun-pai, nah, selamat tinggal, adikku. Semoga Thian memberkahimu dan engkau dapat hidup bahagia bersama isterimu. Selamat tinggal, adikku, dan akulah yang akan menebus segalanya, selamat tinggal!”

Setelah berkata demikian, pemuda itu lalu pergi meninggalkan Thian Sin dan Kim Hong yang memandang dengan muka pucat sampai akhirnya bayangan Han Tiong lenyap dari pandang mata mereka.

Thian Sin menjatuhkan dirinya duduk di atas rumput dan menggunakan kedua tangannya untuk menutupi mukanya. Kesedihan besar mencekam hatinya. Dia merasa berduka sekali bahwa pertemuannya dengan kakaknya yang tersayang, terpaksa harus berakhir seperti itu. Kakaknya yang selama ini merindukannya, mencintanya, bahkan tidak mau menikah sebelum bertemu dengannya! Dia tahu bahwa kakaknya itu menunggunya, bahkan dia tahu pula bahwa kakaknya itu akan mau mengalah untuk mundur dan membiarkan Lian Hong menikah dengan dia! Dia tahu benar akan isi hati dan watak kakaknya, tahu akan kasih sayang kakaknya itu terhadap dirinya yang amat mendalam. Kim Hong hanya memandang saja, membiarkan kekasihnya terbenam dalam lamunannya sendiri. Iapun dapat mengerti akan kesedihan Thian Sin. Setelah agak lama, barulah Kim Hong mendekati kekasihnya duduk di dekatnya di atas rumput, memegang tangannya tanpa bicara. Thian Sin yang merasa tangannya dipegang dan digenggam kekasihnya, lalu mengangkat muka dan menurunkan tangannya. Mukanya pucat dan matanya agak kemerahan, pipinya masih basah air mata. Mereka saling pandang sejenak, kemudian Kim Hong mengangguk perlahan dan berkata lirih.

“Engkau benar, Thian Sin. Kakakmu itulah yang terlalu lemah, mau mengalah saja terhadap orang lain. Pihak manapun juga, kalau mau menang sendiri dan terlalu mendesak, harus kita tandingi, bukannya mengalah dan membiarkan diri dihina.”

Thian Sin memandang wajah kekasihnya lalu menarik napas panjang. “Engkau tidak tahu, Kim Hong. Engkau belum mengenal Tiong-ko. Dia sama sekali bukan orang lemah, bukan mengalah begitu saja, dan sama sekali tidak takut. Akan tetapi Tiong-ko selalu bertindak demi kebenaran, dan untuk membela kebenaran, dia tidak segan-segan untuk mengorbankan dirinya sendiri. Dia seorang manusia yang gagah perkasa lahir batin, yang berhati tulus dan cintanya amat tulus. Aku khawatir sekali…”

“Khawatir apa, Thian Sin?”

“Aku tidak dapat menduga apa yang akan dilakukannya di Kun-lun-pai. Aku hanya merasa tidak enak sekali. Apa kata-katanya yang terakhir tadi? Selamat tinggal, akulah yang akan menebus segalanya. Nah, itulah yang membuat hatiku merasa gelisah sekali.”

Kim Hong mengerutkan alisnya. “Lalu, apa yang akan dilakukannya?”

“Kita harus membayanginya, Kim Hong. Aku harus melihat apa yang akan dilakukan Tiong-ko. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan dirinya, karena aku, maka selama hidupku aku akan menderita penyesalan batin yang lebih hebat daripada kematian. Mari, kita bayangi dia dan lihat apa yang akan dilakukannya.”

Kim Hong lalu mengangguk dan keduanya lalu bangkit dan lari cepat mengejar Han Tiong, menuju ke Kun-lun-san.

Para tokoh kang-ouw sudah mulai berdatangan ke Kun-lun-pai. Undangan dari sebuah partai persilatan seperti Kun-lun-pai tentu saja merupakan peristiwa besar dan memperoleh perhatian dari mereka yang diundang, apalagi dalam undangan itu Kun-lun-pai dengan terus terang menyatakan bahwa pertemuan antara para tokoh pendekar itu dimaksudkan untuk membicarakan tentang sepak terjang Pendekar Sadis yang namanya sudah menggemparkan seluruh dunia persilatan itu.

Sehari sebelum hari yang ditetapkan, di Kun-lun-pai telah hadir belasan orang tokoh pendekar dari berbagai aliran. Kui Im Tosu, ketua Kun-lun-pai, ditemani oleh sutenya yang menjadi wakilnya, yaitu Kui Yang Tosu, telah menyambut dan menemani para tamu-tamu yang awal datang itu di ruangan tamu yang luas itu. Di antara belasan orang tamu yang telah datang itu terdapat pula tiga orang Shan-tung Sam-lo-eng (Tiga Pendekar Tua dari Shan-tung) dan Hwa Siong Hwesio, tokoh hwesio Siauw-lim-pai. Mereka ini bersama dengan Kui Yang Tosu pernah menemui Pendekar Sadis untuk menegur pendekar itu karena telah membunuh Toan-ong-ya di kota raja. Selain empat orang pendekar itu, telah hadir pula beberapa orang yang benar-benar merupakan pendekar yang dihormati dan disegani orang, antara lain Lo Pa San yang berjuluk Hui-to-sian (Dewa Golok Terbang), seorang pendekar yang terkenal gagah perkasa bertubuh tinggi besar dan bermuka merah. Pendekar ini terkenal sekali di daerah pantai Lautan Po-hai. Thian Heng Losu, kakek tinggi kurus bertongkat bambu kuning berusia enam puluh tahun lebih, ketua Bu-tong-pai yang berkenan datang sendiri karena selain ingin mendengar tentang Pendekar Sadis, juga ketua Bu-tong-pai ini ingin bertemu dengan para pendekar. Juga hadir pula Liang Sim Cianjin, seorang pendekar yang terkenal sebagai seorang bun-bu-coan-jai (ahli silat dan surat) berusia enam puluh lima tahun. Pertapa ini pakaiannya seperti petani, bercaping lebar dan sikapnya halus, tubuhnya kecil kurus sama sekali tidak membayangkan bahwa dia memiliki kepandaian yang tinggi. Kehadiran ketua Bu-tong-pai, juga dari perkumpulan-perkumpulan besar seperti Siauw-lim-pai, Bu-tong-pai, Thai-san-pai dan lain-lain tentu saja membawa beberapa orang anak murid yang kini berkumpul di lain bagian karena kini kedua orang ketua Kun-lun-pai itu sedang menyambut para tamu yang sejajar atau setingkat dengan mereka berdua. Keadaan dalam kamar tamu yang cukup luas itu meriah namun pembicaraan terjadi dengan serius.

Kui Yang Tosu menceritakan kepada belasan orang tamunya itu dalam suasana ramah tamah karena pertemuan yang resmi belum dilakukan, tentang peristiwa yang terjadi di situ ketika Pendekar Sadis dan gadis lihai itu datang sehingga mengakibatkan kematian Jit Goat Tosu yang telah menjadi saudara yang dihormati dari para pimpinan Kun-lun-pai. Sebagai seorang yang gagah dan jujur, Kui Yang Tosu tidak menyembunyikan sesuatu, menceritakan pula alasan-alasan dua orang itu datang ke Kun-lun-pai dan hubungan antara Toan Kim Hong dan Jit Goat Tosu. Mereka juga menceritakan hendak menangkap mereka namun gagal.

“Kami hendak menahan mereka, minta pertanggungan jawab mereka dan pertimbangan rapat para pendekar, namun Pendekar Sadis dan nona itu mengamuk dan melarikan diri. Ilmu kepandaian mereka memang tinggi sekali dan kamipun tidak berniat untuk membunuh, melainkan hendak menahan mereka, namun kami gagal. Oleh karena itu kami mengundang para orang gagah untuk dimintai pertimbangan.”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: