Pendekar Sadis (Jilid ke-75)

“Setiap orang memang mempunyai pendapat masing-masing mengenai benar atau salahnya orang lain. Akan tetapi, jelaslah bahwa urusan antara Nona Toan Kim Hong dan supeknya adalah urusan dalam suatu perguruan dan kita semua tidak berhak untuk mencampurinya! Jit Goat Tosu tewas karena kehendaknya sendiri, bukan dibunuh. Bahkan andaikata sampai mati di tangan murid keponakannya sekalipun, hal itu adalah urusan dalam perguruan mereka sendiri.”

Kui Im Tosu kini bangkit berdiri dan dengan suaranya yang halus dia berkata, “Kami Kun-lun-pai mengumpulkan cu-wi sekalian memang untuk diajak bertukar pikiran dalam hal ini. Sekarang menurut pendapat Cia-taihiap sebagai ayah angkat Pendekar Sadis, bagaimana sikap yang harus kita ambil terhadapnya?”

Sikap Sin Liong tetap tenang dan tegas. “Terserah kepada siapapun mau bertindak apapun terhadap Pendekar Sadis. Akan tetapi kalau dengan alasan-alasan yang telah kita bicarakan tadi, jelas bahwa kalau sampai terjadi bentrokan, Pendekar Sadis berada di pihak yang diserang lebih dulu. Dia tidak pernah mengganggu cu-wi, akan tetapi sekarang cu-wi hendak mengganggunya. Saya mengerti bahwa kematian Jit Goat Tosu membuat Kun-lun-pai merasa berduka dan juga malu. Maka kalau Kun-lun-pai hendak bertindak sendiri terhadap Pendekar Sadis, silakan. Hanya satu hal yang hendak kami kemukakan bahwa kami dari Cin-ling-pai dan Lembah Naga, akan mencarinya dan akan menasihatinya agar dia mengubah semua sikap yang kejam terhadap para penjahat, walaupun sudah sepatutnya kalau dia sebagai pendekar menentang kejahatan. Dan hendaknya cu-wi tidak mempunyai alasan yang kuat. Cu-wi tidak pernah menentang para datuk. Pendekar Sadis malah membasmi para datuk. Akan tetapi kini cu-wi hendak menentangnya dengan alasan-alasan yang amat lemah. Silakan dan kami rasa sudah cukup kami bicara!”

Setelah berkata demikian, Cia Sin Liong berpamit dan pergi meninggalkan Kun-lun-pai bersama Bhe Bi Cu, Cia Han Tiong, Yap Kun Liong, dan Cia Giok Keng. Tidak ada seorangpun di antara para pendekar yang berani membantah atau mencegahnya. Pihak Kun-lun-pai maklum bahwa Pendekar Lembah Naga itu diam-diam merasa marah. Pertemuan itu dilanjutkan tanpa adanya wakil dari Cin-ling-pai dan Lembah Naga, akan tetapi mereka tidak dapat mengambil keputusan bulat setelah terpengaruh oleh semua kata-kata Pendekar Lembah Naga tadi. Dan akhirnya hanya tinggal kemengkalan hati terhadap Pendekar Sadis yang ada, tanpa adanya keputusan untuk bersama-sama menentangnya. Bagaimanapun juga mereka maklum akan kelihaiannya, apalagi dengan adanya Lam-sin di sampingnya, siapa berani mencoba-coba dan main-main dengan mereka berdua? Belum diingat lagi bahwa menentang Pendekar Sadis mungkin saja akan melibatkan Cin-ling-pai dan Lembah Naga, apalagi setelah Pendekar Lembah Naga menyatakan pendapatnya seperti itu dan bahkan sudah menyatakan akan mencari dan menasihati Pendekar Sadis agar menghentikan sikapnya yang sadis dan kejam itu. Maka akhirnya, rapat itu hanya memutuskan untuk melihat perkembangannya saja bagaimana, apakah benar-benar Pendekar Sadis akan berubah menjadi pendekar yang tidak kejam, tidak lagi melakukan penyiksaan di luar batas perikemanusiaan seperti yang sudah-sudah. Tentu saja ada kekecualiannya di antara para pendekar itu, ada yang diam-diam merasa penasaran dan diam-diam mereka itu mengambil keputusan untuk sewaktu-waktu, kalau ada kesempatan, menghadapi Pendekar Sadis dan menentangnya, ingin melihat sampai di mana kehebatan ilmu kepandaian Pendekar Sadis yang disohorkan itu.

“Sudahlah Thian Sin, kenapa engkau membiarkan diri terbenam dalam kedukaan? Kalau engkau merasa penasaran, mengapa kita tidak sekarang saja mendatangi tempat pertemuan itu, tidak peduli apa jadinya nanti?” kata Kim Hong melihat kekasihnya itu duduk di atas batu sambil bertopang dagu, wajahnya nampak berduka dan pucat, sinar matanya layu dan muram. Mereka tidak lari jauh dari Kun-lun-pai, melainkan duduk di kaki pegunungan itu setelah semalam mereka bermalam di dalam hutan, melihat para tamu yang berdatangan ke puncak Kun-lun-pai, termasuk juga Kakek Yap Kun Liong bersama Nenek Cia Giok Keng, kemudian Cia Sin Liong bersama isterinya. Melihat neneknya, hampir saja Thian Sin keluar dari persembunyiannya, akan tetapi dia menahan diri dan ketika dia melihat ayah angkatnya lewat, tak tertahankan lagi dua tetes air mata membasahi pipinya.

Pagi ini, dia termenung dan bertopang dagu, bahkan sejak semalam tadi, semalam suntuk dia tidak tidur, membuat Kim Hong menjadi khawatir sekali akan keadaan kekasihnya itu.

Thian Sin menarik napas panjang. “Bagaimana aku tidak akan berduka, Kim Hong? Sejak aku kecil, aku selalu dirundung kemalangan, ditimbun kedukaan. Ayah bunda dibunuh orang, dan menjelang dewasa, banyak sekali peristiwa yang menyakiti hatiku, yang disebabkan oleh orang-orang jahat. Aku menimbun dendam dalam hati, dan setelah aku berhasil melampiaskan dendam, kembali aku menjadi serba salah, bahkan kini aku menyeret Cin-ling-pai dan Lembah Naga! Mereka akan dicela orang karena perbuatanku! Ah, kenapa aku selalu bernasib malang, bahkan membawa kemalangan bagi orang lain?” Pemuda itu menutupi mukanya dengan kedua tangan dan menarik napas panjang berulang-ulang.

Kim Hong merasa terharu, mendekati dan merangkul pemuda itu. “Jangan berduka, Thian Sin. Ada aku di sini yang mencintamu dan akan membelamu sepenuh hatiku!”

Thian Sin balas merangkul. Cinta kasihnya terhadap gadis ini makin mendalam. Di dunia ini, hanya Kim Hong seoranglah yang membela dan tidak menyalahkannya. Bahkan kakaknya yang dicintanya, Cia Han Tiong, kini menyalahkan dia! Hanya Kim Hong yang tidak menyalahkan, yang masih membela dan mencintanya. Hanya Kim Hong yang menghibur kemurungan hatinya. Diciumnya gadis itu dengan hati terharu. “Kalau tidak ada engkau, Kim Hong, entah apa jadinya denganku, entah apa yang akan kulakukan menghadapi semua ini. Rasanya aku ingin mengamuk Kun-lun-pai dan menentang semua orang yang membenciku!”

Kemurungan pasti sekali waktu hinggap di dalam perasaan hati kita. Agaknya di dunia ini, semenjak jaman dahulu sampai sekarang tidak ada manusia yang dapat bebas daripada kemurungan atau kedukaan atau kekecewaan hati. Selalu saja ada persoalan yang mendatangkan kedukaan, kekecewaan dan kesengsaraan, dan kalau sudah datang perasaan duka ini, kita merasa sengsara, kita merasa prihatin, kita menderita batin, seolah-olah hati kita berdarah. Dan tidak jarang kita lalu melarikan diri dari semua derita ini, menghibur diri dengan bermacam kesenangan, atau melarikan diri sama sekali dengan membunuh diri. Atau membunuh diri secara batiniah, yaitu dengan jalan bertapa dan meninggalkan semua keramaian dunia yang sama saja artinya dengan hidup akan tetapi sudah mati. Semua ini hanyalah bentuk-bentuk pelarian belaka.

Kekecewaan, kemurungan atau kedukaan timbul karena batin menginginkan yang lain daripada kenyataan, batin selalu ingin senang sehingga kalau kesenangan yang diinginkan itu tidak terjadi, hati menjadi kecewa dan berduka. Kita tidak tahu bahwa justeru KEINGINAN UNTUK SENANG inilah pencipta kekecewaan dan kedukaan. Kita menginginkan agar hidup ini manis selalu baginya. Kita membutakan mata terhadap kenyataan bahwa sekali ada manis, sudah pasti ada pahit, getir, masam, asin dan sebagainya lagi. Itulah romantika hidup. Manis, pahit, getir, masam dan lain-lain, itu merupakan suatu kumpulan yang tak terpisahkan dan yang membentuk apa yang kita namakan kehidupan ini. Karena kita selalu menginginkan yang manis, maka yang pahit dan getir terasa tidak enak, mengecewakan dan menyiksa. Padahal, belum tentu yang manis itu selalu bermanfaat, dan belum tentu kalau yang pahit itu tidak berguna! Di dalam setiap kenyataan, baik itu diterima sebagai manis atau pahit, tersembunyi sesuatu, suatu rahasia yang maha ajaib, dan yang hanya akan nampak oleh dia yang tidak terpengaruh oleh rasanya, baik manis maupun pahit, yang melihat kenyataan sebagai apa adanya, tanpa menilainya sebagai baik atau buruk, manis atau pahit. Bukankah yang manis-manis itu sering kali malah mengganggu kesehatan dan yang pahit-pahit itu biasanya malah baik bagi kesehatan? Namun, bagaimana juga, kita selalu mengejar-ngejar yang manis-manis!

Seseorang yang kita cinta merupakan hiburan yang amat kuat di kala kita dirundung duka nestapa. Hal ini terasa benar oleh Thian Sin. Sekiranya tidak ada Kim Hong di dekatnya, entah apa yang akan dilakukannya. Mungkin saja dia akan menjadi nekad dan melakukan hal-hal yang lebih mengerikan lagi.

“Sekarang apa kehendakmu, Thian Sin? Apakah demi Cin-ling-pai dan Lembah Naga, engkau hendak menyerahkan diri kepada para tosu Kun-lun-pai?” Kim Hong bertanya untuk mengetahui isi kekasihnya.

Thian Sin mengepal tinju. “Tidak! Sampai matipun aku tidak sudi menyerahkan diri kepada para tosu Kun-lun-pai. Boleh saja mereka menyebut diri mereka sebagai partai beiar, gudang pendekar-pendekar budiman, akan tetapi jelaslah bahwa sikap mereka terhadap kita didasarkan atas dendam karena kita telah dianggap menyebabkan kematian Jit Goat Tosu.”

“BENAR, memang tidak semestinya kita menyerahkan diri kepada Kun-lun-pai karena kita tidak bersalah apa-apa terhadap mereka. Dan jangan kaukira mereka itu hanya mendendam karena kematian supekku saja, melainkan ada hal yang lebih dari itu bagi mereka.”

Thian Sin mengangkat muka memandang wajah kekasihnya dengan heran. “Ada hal apalagi kecuali kematian supekmu itu?”

“Kehormatan mereka! Kita mencari dan menyerang supek di dalam wilayah Kun-lun-pai, dan mereka merasa malu, seolah-olah mereka tidak dapat melindungi orang yang telah menjadi saudara mereka dan telah berada di antara mereka. Selain itu, juga kurasa mereka merasa sayang sekali telah kehilangan sumber ilmu-ilmu silat yang tinggi.”

“Maksudmu?”

“Lupakah engkau betapa lihainya supek? Bahkan kita berdua bergabungpun tidak mampu mengalahkan dia! Padahal dia sudah nampak begitu tua dan lemah, telah bertahun-tahun bertapa dan kurang makan. Bayangkan saja betapa hebatnya ilmu kepandaian supek sehingga tidaklah mengherankan kalau mendiang ayahku takut kepadanya. Dan agaknya para tosu itu mengincar ilmu-ilmu dari supek yang mereka warisi. Kurasa itulah sebabnya mengapa para tosu itu mengejar-ngejarmu, mengejar-ngejar kita!”

Thian Sin mengangguk-angguk. “Mungkin benar sekali pendapatmu itu. Maka, bagaimanapun juga, aku tidak akan mau menyerahkan diri kepada mereka dan kalau mereka bersama orang-orang yang menyebut diri mereka pendekar-pendekar itu mengejarku, aku akan menghadapi mereka sebagai orang-orang jahat yang hendak mengganggu diriku. Akan tetapi…” Dia tidak melanjutkan kata-katanya dan wajahnya nampak muram.

Kim Hong maklum kata-kata apa yang tak terucapkan itu, maka iapun mendesak dengan terus terang, “Bagaimana kalau Cin-ling-pai dan Lembah Naga yang datang menghadapimu, Thian Sin?”

Pemuda itu menarik napas panjang, wajahnya agak pucat. “Itulah… aku tidak mungkin berani melawan mereka. Mereka bukanlah orang-orang sombong seperti tosu-tosu Kun-lun-pai dan orang-orang yang menamakan diri pendekar-pendekar itu. Mereka adalah pendekar-pendekar sejati. Engkau sudah mendengar sendiri kata-kata Tiong-ko. Mereka adalah orang-orang benar yang patut kuhormati dan kutaati. Tidak, aku tidak berani menentang nwreka. Aku akan menyerahkan diri kepada mereka, asalkan bukan untuk dibawa kepada orang-orang Kun-lun-pai untuk dipersalahkan.”

“Kalau begitu, sebaiknya kalau engkau menemui mereka sekarang juga. Nanti setelah selesai pertemuan di puncak itu, tentu mereka akan turun gunung. Nah, itulah saatnya bagimu untuk menemui mereka.”

“Ahhh…!” Wajah pemuda itu nampak gemetar. Ngeri dia membayangkan untuk berhadapan dengan ayah dan ibu angkatnya, dengan neneknya yang galak dan kakeknya yang berwatak lembut itu. Juga kakaknya!

“Thian Sin, di mana kegagahanmu? Tidak baik kalau rasa keragu-raguan itu dipendam dan dibawa pergi ke mana-mana. Seorang gagah harus berani menghadapi kenyataan, betapapun pahitnya kenyataan itu. Kalau bisa dibereskan sekarang juga, mengapa mengulur-ulur waktu dan sementara itu membawa-bawa kekhawatiran di dalam hati? Temui mereka sekarang juga kalau mereka turun gunung dan kita lihat bagaimana pendapat mereka tentang dirimu. Jangan khawatir, aku selalu berada di sampingmu kalau perlu… andaikata engkau harus mati oleh mereka, akupun harus mati di tangan mereka!”

“Kim Hong…!” Thian Sin menjadi terharu sekali dan diapun merangkul. Mereka berangkulan, berciuman dan mata mereka menjadi basah, bukan hanya oleh keharuan dan kedukaan membayangkan kemungkinan itu, akan tetapi juga rasa babagia di dalamnya, bahwa mereka itu saling mencinta sedemikian dalamnya sehingga tidak ragu-ragu untuk kalau perlu mengorbankan nyawa demi kekasihnya.

Tak lama kemudian mereka melihat lima orang pertama yang turun dari puncak di mana terdapat markas Kun-lun-pai dan dapat dibayangkan betapa kaget dan tegang rasa hati Thian Sin dan Kim Hong ketika melihat bahwa mereka itu adalah orang-orang yang mereka tunggu-tunggu, yaitu Kakek Yap Kun Liong, Nenek Cia Giok Keng, Pendekar Lembah Naga Cia Sin Liong dan isterinya, juga puteranya!

Melihat wajah kekasihnya menjadi pucat, Kim Hong memegang tangannya dan berkata halus, “Marilah, Thian Sin. Mari kita menyambut dan menghadap mereka!” Dan iapun menarik pemuda itu keluar dari dalam hutan di mana mereka bersembunyi dan langsung mereka berdua menyongsong kedatangan lima orang itu.

Seperti kita ketahui, dengan perasaan marah, Pendekar Lembah Naga sekeluarga dan kakek nenek yang mewakili Cin-ling-pai meninggalkan pertemuan rapat para pendekar di ruangan tamu Kun-lun-pai.

“Kita harus dapat bertemu dengan Thian Sin. Ingin aku bicara dengan dia dan dia harus mendengarkan kata-kataku sekali ini!” kata Pendekar Lembah Naga dengan muka agak merah. Dia telah membela nama Thian Sin sebagai Pendekar Sadis, bukan hanya karena Thian Sin itu anak angkatnya, akan tetapi juga karena menjaga nama baik Cin-ling-pai dan Lembah Naga, dan juga karena pada hakekatnya, dia tidak menganggap Thian Sin jahat, hanya terlalu kejam terhadap musuh-musuhnya.

“Kurasa dia tidak akan jauh dari tempat ini, ayah,” kata Han Tiong. “Aku mengenal betul watak Sin-te, dia tidak akan melarikan diri kalau didesak.”

Ucapan Han Tiong ini terbukti ketika mereka tiba di lereng dekat puncak dan mencapai hutan pertama, tiba-tiba dia melihat munculnya Thian Sin dan Kim Hong dari dalam hutan itu dan melihat keduanya sengaja menyongsong mereka.

Begitu berhadapan, Cia Sin Liong sudah memandang kepada anak angkatnya itu dan berkata dengan suara lantang mengandung teguran, “Thian Sin, bagus sekali perbuatanmu, ya? Begitukah engkau membalas budi kepada Cin-ling-pai dan Lembah Naga, menyeret nama mereka ke pecomberan dan menjadi bahan celaan dunia kang-ouw?”

Mendengar suara ayah angkatnya yang biasanya halus penuh kasih sayang kepadanya itu kini terdengar penuh kemarahan dan juga kekecewaan dan kesedihan, hati Thian Sin seperti ditusuk rasanya dan diapun segera menjatuhkan diri berlutut di depan ayah angkatnya itu dan tak dapat ditahannya lagi diapun menangis! Untuk kedua kalinya selama ia mengenal Thian Sin, Kim Hong melihat kekasihnya menangis sedemikian sedihnya. Kim Hong merasa terharu dan kasihan sekali, dan iapun lalu ikut berlutut.

“Locianpwe, urusan di Kun-lun-pai adalah urusan saya, dan sayalah yang bertanggung jawab. Thian Sin tidak bersalah, melainkan hanya ikut menemani saya, oleh karena itu, kalau locianpwe hendak marah, sayalah orangnya yang harus dimarahi, bukan dia,” kata Kim Hong sambil menundukkan mukanya, sedangkan Thian Sin di sebelahnya masih menitikkan air mata.

“Lam-sin!” terdengar pula Cia Sin Liong berkata, suaranya berwibawa sekali. “Engkau adalah datuk kaum sesat di selatan, apakah engkau hendak menyeret anak angkatku untuk mengikutimu masuk ke dalam dunia hitam dam melakukan perbuatan sesat?”

“Locianpwe, semenjak saya bertemu dengan Thian Sin, Lam-sin telah kubunuh dan saya telah membubarkan semua pengikut, saya telah menanggalkan semua kedudukan dam julukan, saya telah meninggalkan dunia sesat dam sayalah yang ikut bersama Thian Sin, bukan dia yang ikut saya. Saya membantunya menghadapi datuk-datuk sesat lainnya, adapun ketika dia membantu saya menghadapi supek saya, hal itu adalah urusan pribadi saya, sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan Kun-lun-pai atau orang lain. Karena itu, harap locianpwe jangan persalahkan Thian Sin, sayalah yang bersalah.”

“Ayah, saya mengaku salah, saya telah mencemarkan nama baik Lembah Naga dengan perbuatan saya. Oleh karena itu, terserah kepada ayah, hendak menjatuhkan hukuman apapun juga, akan saya terima dengan rela.”

“Tidak boleh!” Kim Hong berteriak. “Kalau locianpwe menjatuhkan hukuman kepadanya, harus menghukum saya juga. Mau membunuh kami berdua, silakan, kami rela mati berdua untuk menebus dosa kalau memang locianpwe menghendaki demikian!” Ucapan Kim Hong ini mengharukan hati Bhe Bi Cu dan juga Cia Giok Keng lalu berkata dengan suara serak dan mata merah.

“Sin Liong, kauampunkanlah anakmu! Cucuku Ceng Thian Sin itu…”

Memang pada lubuk hatinya, sedikitpun tidak ada niat untuk menghukum anak angkatnya itu, akan tetapi Sin Liong berpikir bahwa amatlah perlu untuk menegur Thian Sin pada saat seperti itu.

“Thian Sin, kenapa hatimu demikian kejamnya, demikian keji dan sadis engkau menyiksa orang-orang yang menjadi musuhmu? Jawablah dan jelaskan kepada kami, mengapa engkau menjadi demikian kejam melebihi iblis sendiri?”

“Saya mengakui semua itu, Ayah. Saya hampir gila oleh dendam, sehingga saya lupa diri, hendak memuaskan rasa dendam dan sakit hati itu dengan menyiksa musuh-musuh saya. Saya… terus terang saja, ayah… saya merasa… senang dan nikmat sekali dalam pemuasan dendam dan sakit hati itu dengan menyiksa mereka dan… dan pada saat itu saya lupa segala-galanya, yang teringat hanya ingin menyiksa orang yang pernah menyiksa hati saya…”

Semua orang yang mendengar kata-kata ini bergidik, bukan hanya karena membayangkan kesadisan, Thian Sin dalam menyiksa musuh-musuhnya seperti yang pernah mereka dengar dibicarakan orang dengan ketakutan, melainkan terutama sekali melihat kenyataan akan adanya sifat sadis dalam diri masing-masing.

Memang, kalau kita mau membuka mata mengenal diri sendiri, di dalam batin kita terdapat sifat sadis itu. Kita akan merasa senang sekali melihat orang yang kita anggap jahat menerima siksaan! Kita akan merasa puas kalau mendengar musuh atau orang yang kita benci menderita malapetaka dan kesengsaraan. Kita ini masing-masing mempunyai watak pendendam, pemarah dan ingin membalas kepada siapa saja yang membuat kita tidak senang, baik yang mengganggu kita itu manusia maupun setan. Setidaknya, kita akan mengumpat cacinya, dan mengutuknya, dan tentu saja kita akan merasa senang dan puas melihat dia tersiksa seperti yang digambarkan oleh benak kita yang penuh dengan kebencian dan racun dendam. Siapakah yang dapat menyangkal bahwa terdapat persamaan dalam batin kita dengan watak Pendekar Sadis yang suka menyiksa orang-orang yang dibencinya? Andaikata kita diberi kekuatan seperti dia, diberi kekuasaan seperti dia, bukan tidak mungkin kitapun suka menyiksa musuh-musuh yang kita benci. Pengenalan diri sendiri ini dapat kita lakukan dengan jelas apabila kita melihat sesuatu, baik melalui bacaan maupun tontonan, yang sifatnya membalas dendam. Kita membenci tokoh yang kita anggap jahat dan kita bersorak penuh kepuasan kalau kita melihat “Si Jahat” itu tertimpa malapetaka dan tersiksa. Namun, betapa sukarnya untuk mengenal diri sendiri!

“Thian Sin, aku mengerti perasaan itu. Akan tetapi, lupakah engkau akan ajaran yang pernah kau terima dari pamanmu Hong San Hwesio dan dariku sendiri selama itu? Lalu apa artinya semua latihan yang kuberikan untuk bersamadhi dan mengenal sifat-sifat buruk diri sendiri? Orang yang melakukan perbuatan kejam dinamakan penjahat, lalu apa artinya orang dianggap pendekar kalau hatinyapun kejam terhadap orang lain? Apakah bedanya antara penjahat kejam dan pendekar kejam? Mungkin saja si penjahat berbuat kejam untuk keuntungan harta atau pemuasan hatinya, akan tetapi kalau seorang pendekar berbuat kejam terhadap penjahat, tentu juga demi untuk memuaskan hatinya yang mendendam. Jadi pada hakekatnya sama saja, yaitu untuk menyenangkan atau memuaskan diri sendiri. Hati yang kejam itu didasarkan oleh kebencian, dan apapun yang dilakukan seseorang, baik dia dinamakan pendekar maupun penjahat, kalau didasari dengan kebencian, maka perbuatannya itu adalah jahat! Seorang pendekar menentang kejahatan, akan tetapi bukan berdasarkan kebencian terhadap sesama manusia, walaupun manusia itu dinamakan penjahat sekalipun. Seorang pendekar menentang kejahatan, karena ingin menyelamatkan orang yang dapat menjadi korban kejahatan, karena ingin menyadarkan orang yang melakukan kejahatan, karena ingin menenteramkan kehidupan manusla di dunia, karena ingin menegakkan kebenaran dan keadilan. Semua itu bebas dari landasan hati yang diracuni kebencian. Akan tetapi, apa yang kaulakukan itu semata-mata adalah karena hatimu penuh dengan dendam sakit hati dan kebencian. Lalu apa bedanya semua kesadisanmu itu dqngan perbuatan para penjahat di dunia ini?”

Cia Sin Liong berhenti bicara dan Thian Sin makin menundukkan kepalanya. Biarpun kadang-kadang dia menyadari akan hal itu, akan tetapi baru sekali inilah hal itu seperti ditusukkan ke dalam perasaannya, membuat matanya terbuka dan dapat melihat dengan jelas akan semua kesalahan yang pernah dilakukannya selama ini. Memang dia telah menjadi buta oleh dendam dan kebencian.

“Saya mengaku salah…” katanya lirih.

“Pengakuan salah tanpa penghayatan dalam hidup tidak ada artinya sama sekali! Penyesalan di mulut dan di hati tidak ada gungnya. Yang penting adalah membuka mata melihat bahwa setiap kita melakukan sesuatu yang jahat, dalam arti kata merugikan orang lain lahir maupun batin, maka pada saat itu kita tidak memiliki kewaspadaan, kesadaran kita menjadi buta oleh nafsu. Oleh karena itu, kita harus waspada setiap saat, terutama sekali waspada terhadap diri sendiri lahir batin. Hanya dengan kewaspadaan dan kesadaran terhadap diri sendiri lahir batin sajalah kita tidak akan bertindak membabi-buta menurutkan nafsu-nafsu kita. Kebencian terhadap orang lain merupakan pangkal segala permusuhan dan kekacauan di dunia ini. Kita harus dapat menghalau kebencian ini jauh-jauh dari batin kita, baik terhadap orang yang kite anggap jahat maupun tidak. Selama masih ada kebencian di dalam batin, bukan kebencian terhadap seseorang tertentu, melainkan kebencian terhadap siapapun juga, maka tak mungkin dia dapat menjadi seorang pendekar dalam arti yang seluas-luasnya!” Thian Sin dan Kim Hong mengangguk-angguk, diam-diam merasa betapa tidak mudahnya menjadi seorang manusia yang pantas dinamakan pendekar.

“Kalian orang-orang muda perlu sekali memperhatikan apa yang telah dikatakan oleh Sin Liong,” kata Kakek Yap Kun Liong dengan suara halus dan tenang. “Memang demikianlah sesungguhnya, selama masih ada kebencian di dalam batin, tidak mungkin orang itu mengenal cinta kasih. Dan seorang pendekar adalah seorang yang penuh cinta kasih, yang hanya satu keinginannya, yaitu membangun, bukan merusak. Memang mungkin saja, untuk membangun orang harus membongkar, akan tetapi bukan berarti merusak. Mungkin seorang pendekar harus bertindak keras terhadap seorang sesat, namun bukan berarti keras karena kebencian atau hendak merusak, melainkan keras yang sifatnya membongkar untuk kemudian dibangun. Atau yang sifatnya mendidik, menuntut agar yang menyeleweng kembali ke jalan benar.”

“Terima kasih atas semua petuah dan peringatan dari ayah dan kakek yang amat berguna itu,” kata Thian Sin.

“Terima kasih kepada locianpwe yang mulia,” kata pula Kim Hong. Hati wanita ini benar-benar tergetar dan membuatnya tunduk benar terhadap para pendekar sakti ini dan dara inipun dapat melihat betapa dahulu ia telah melakukan penyelewengan besar sekali.

“Dan saya mohon petunjuk kepada ayah, apa yang harus saya lakukan selanjutnya? Apakah saya harus menyerahkan diri kepada Kun-lun-pai untuk diadili? Kalau demikian halnya, lebih baik ayah membunuh saya sekarang juga, karena saya tidak merasa bersalah terhadap Kun-lun-pai dan mereka itu hanya ingin membalas dendam karena membenci saya.”

Cia Sin Liong mengangguk-angguk. “Memang tidak sepatutnya kalian menyerahkan diri begitu saja. Kalau kalian mau, marilah ikut bersama kami ke Lembah Naga. Kakakmu akan merayakan pernikahannya dan kalian seharusnya hadir pula. Sudah terlalu lama engkau meninggalkan rumah, Thian Sin. Pulanglah dan kami akan merasa berbahagia sekali.”

“Benar, cucuku. Selain itu, akupun ingin melihat engkau menikah sebelum aku mati,” kata Nenek Cia Giok Keng. “Dan akupun senang sekali dengan pilihanmu. Nona Toan ini memang cocok untuk menjadi jodohmu.”

Dengan hati terharu Thian Sin menghaturkan terima kasih kepada neneknya itu dan dia bertanya kepada ayahnya, “Ayah, kapankah Tiong-ko hendak melangsungkan pernikahannya?”

“Kami sudah memperhitungkan, nanti pada tanggal sepuluh bulan delapan, jadi kurang tiga bulan lagi,” jawab Cia Sin Liong.

“Kalau begitu, biarlah pada waktunya kami akan datang ke Lembah Naga, ayah. Kami hendak pergi ke suatu tempat yang akan kami jadikan tempat tinggal kami…”

“Di manakah itu, Sin-te? Di mana kalian hendak tinggal?” tanya Han Tiong, hatinya merasa kecewa mendengar adiknya itu tidak akan tinggal bersama mereka di Lembah Naga.

“Di Pulau Teratai Merah, Tiong-ko,” tiba-tiba Kim Hong yang menjawab. “Kami berdua telah bersepakat untuk tinggal di bekas tempat tinggal mendiang ayah dan ibu ketika ayah menjadi buronan. Kami masih mempunyai rumah di sana.”

“Tapi… tapi kapankah kalian akan menikah?” tanya Nenek Cia Giok Keng. “Bukankah baik sekali kalau engkau menikahkan kedua puteramu itu secara berbareng saja, Sin Liong?”

“Terserah kepada Thian Sin dan tunangannya,” jawab pendekar itu yang dengan bijaksana menyerahkan urusan perjodohan orang-orang muda itu kepada yang berkepentingan sendiri.

“Bagaimana, Thian Sin, cucuku?” tanya nenek itu kepada Thian Sin.

Thian Sin dan Kim Hong saling pandang, lalu keduanya menundukkan muka yang tiba-tiba menjadi merah. Sungguh mengherankan hati mereka sendiri mengapa setelah keluarga yang mereka hormati ini bicara tentang perjodohan mereka, mereka menjadi tersipu-sipu malu.

“Maaf, nenek, kami masih belum berpikir tentang pernikahan,” akhirnya Thian Sin menjawab dan Nenek Cia Giok Keng hanya dapat menghela napas panjang. Iapun mengerti bahwa urusan pernikahan adalah urusan kedua orang itu sendiri, dan mencampurinya hanya akan mendatangkan kekacauan belaka. Hal ini ia sendiri sudah mengalaminya, maka dengan bijaksana iapun diam saja, tidak membantah lagi.

Akhirnya merekapun berpisah. Sambil berlutut, Thian Sin berkata kepada mereka semua, “Harap ayah dan ibu, juga Tiong-ko, kakek dan nenek yang saya hormati dan saya cinta, suka menjadi saksi. Mulai saat ini, Pendekar Sadis hanya tinggal sebutannya saja, akan tetapi kekejaman dan kesadisan akan saya enyahkan jauh-jauh dari dalam batin saya. Semoga saya selalu akan sadar dan dengan kerja sama dan bantuan Kim Hong, mudah-mudahan saya tidak akan melanggar janji saya ini. Saya akan mengikuti jejak ayah sekalian, menjadi pendekar dalam arti yang sesungguhnya!”

Setelah berpamit dalam suasana mengharukan, terutama sekali Han Tiong yang merasa berat untuk berpisah dari adiknya, akhirnya Thian Sin dan Kim Hong berpisah dari mereka dan dua orang muda ini melakukan perjalanan ke selatan untuk pergi ke Pulau Teratai Merah. Di sepanjang perjalanan mereka selalu menghindarkan diri dari bentrokan-bentrokan, mengambil jalan yang sunyi dan melakukan perjalanan cepat. Kim Hong merasa girang sekali bahwa kekasihnya suka memenuhi keinginannya untuk kembali ke pulau kosong itu dan sebagai rasa terima kasihnya, sikapnya menjadi semakin mesra terhadap Thian Sin.

***

Kalau orang berdiri di pantai muara Sungai Huai yang menuangkan airnya ke dalam Lautan Kuning akan nampaklah banyak pulau-pulau kecil. Sebagian besar dari pulau-pulau ini adalah pulau-pulau karang yang kering-kerontang, akan tetapi ada pula beberapa buah di antaranya yang nampak kehijauan karena pulau itu mengandung tanah sehingga tetumbuhan dapat hidup di situ.

Pulau Teratai Merah adalah satu di antara pulau-pulau itu yang letaknya agak jauh dan tidak dapat dilihat dari pantai muara Sungai Huai itu, kecuali kalau lautan sedang amat tenangnya dan cuaca amat cerahnya. Pulau Teratai Merah adalah sebuah pulau kecil saja, akan tetapi mempunyai tanah yang subur sehingga dapat ditanami. Sebelum Toan Su Ong dan isterinya, yaitu Ouwyang Ci tinggal di pulau itu, pulau itu tidak pernah ditinggali manusia, kecuali hanya menjadi tempat singgahan para nelayan saja. Tentu saja orang enggan tinggal di situ, karena letaknya yang jauh dari pantai daratan, juga jauh dari tetangga manusia lain, dan pula, lautan di sekitar pulau itu terkenal amat buas dan banyak dihuni ikan-ikan hiu yang ganas pula. Karena banyaknya hiu inilah maka daerah kepulauan itu bukan merupakan daerah nelayan yang baik.

Pangeran Toan Su Ong tentu saja berbeda dengan para pelayan itu. Dia adalah seorang buronan yang memang mencari tempat persembunyian yang baik dan pulau kosong itu amat tepat untuknya. Tempatnya terpencil, sukar dikunjungi, bahkan tidak aman karena pulau-pulau itu sering dijadikan tempat persembunyian para bajak laut. Toan Su Ong dan isterinya yang berkepandaian tinggi itu tentu saja tidak takut terhadap para bajak laut. Dan mereka dapat bercocok tanam di tempat itu, bahkan akhirnya mereka dapat membangun sebuah rumah yang cukup besar di pulau kosong itu.

Thian Sin ikut dengan Kim Hong menuju ke pulau itu. Mereka berperahu, sebuah perahu layar kecil yang mereka beli di pantai daratan. Pendekar muda itu mendapat kenyataan bahwa di samping bermacam-macam ilmu kepandaiannya, ternyata Kim Hong pandai pula mengemudikan perahu layar. Dengan keahlian yang mengagumkan, gadis ini mengemudikan perahu yang layarnya mengembung ditiup angin itu, meluncur dengan lincah di permukaan air lautan, menempuh gelombang-gelombang kecil yang membuat perahu itu naik turun mengerikan bagi Thian Sin yang tidak bisa berperahu. Akan tetapi dia ingin belajar dan biarpun pada jam-jam pertama dia merasa pening kepala, akhirnya dia dapat juga membantu Kim Hong mengemudikan perahu.

Berlayar dari pantai daratan menuju ke Pulau Teratai Merah itu memakan waktu setengah hari. Itupun kalau lautan sedang tenang dan arah angin baik. Menurut keterangan Kim Hong, kalau kurang angin pelayaran akan memakan waktu lebih lama, kadang-kadang sehari. Akan tetapi ketika mereka tiba di pulau ini, mereka melihat sebuah perahu besar telah berlabuh di situ! Kim Hong mengerutkan alisnya dan berkata, “Ah, baru beberapa tahun saja kutinggalkan tempat ini, sudah ada yang berani menempatinya! Biasanya hanya para bajak laut saja yang singgah di pulau-pulau kosong. Aku khawatir kalau-kalau mereka merusak bangunan rumah kami!”

Thian Sin bergidik melihat betapa perahu mereka itu dikelilingi ikan-ikan hiu besar. Nampak sirip mereka mcluncur di permukaan air sekitar perahu. Dia pernah mendengar cerita tentang ikan-ikan hiu itu, yang dianggap sebagai harimaunya lautan.

“Hiu di sini ganas, berani menyerang perahu!” kata Kim Hong. “Akan tetapi jangan khawatir, mereka tidak akan berani mengganggu kita.” Berkata demikian, Kim Hong menabur-naburkan bubuk kuning di sekeliling perahunya dan benar saja, tak lama kemudian sirip-sirip ikan hiu itu menjauh dan akhirnya lenyap. Bubuk kuning itu adalah semacam obat yang merupakan racun yang menakutkan bagi ikan-ikan hiu itu, ciptaan mendiang Pangeran Toan Su Ong. Selamatlah mereka mendarat di pulau itu, dan Kim Hong sengaja melakukan pendaratan dari samping, agak jauh dari perahu hitam besar karena ia hendak menyelidiki secara diam-diam siapa orangnya yang kini berada di pulau itu.

Setelah menyembunyikan perahunya di balik semak-semak, Kim Hong lalu mengajak Thian Sin pergi ke sebuah pohon tua di pantai pulau itu dan gadis itu lalu mendorong sebuah batu besar di belakang pohon. Terbukalah sebuah lubang yahg tertutup semak-semak dan batu besar tadi dan ia mengajak memasuki lubang yang ternyata merupakan sebuah terowongan gelap. Batu besar itu mereka geser lagi dari bawah, menutupi lubang yang diperkuat dengan besi-besi itu, tanda bahwa terowongan itu adalah buatan manusia. Dan memanglah, selama berada di pulau ini, Toan Su Ong telah memasang banyak jalan rahasia yang dipersiapkannya kalau-kalau dia dikejar sampai ke situ oleh pasukan pemerintah.

Setelah melalui terowongan dengan jalan berindap-indap sampai seperempat jam lamanya, melalui jalan terowongan berliku-liku dan naik turun, akhirnya mereka keluar dari terowongan dan telah berada di belakang sebuah bangunan. Inilah bangunan rumah yang didirikan oleh Toan Su Ong di pulau itu, sebuah rumah yang cukup besar dan kuat. Jalan rahasia yang mereka lalui tadi berakhir di taman rumah itu, pintunya juga merupakan pintu besi rahasia yang gelap dan tertutup batu besar pula.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: