Pendekar Sadis (Jilid ke-76) Tamat

Hari telah menjelang sore ketika Kim Hong dan Thian Sin keluar dari dalam gua kecil dan gadis itu mengerutkan alisnya ketika melihat betapa rumah gedung milik keluarganya itu telah banyak dirusak orang. Temboknya dibobol di sana-sini, dan taman itupun sudah rusak tak terawat dan nampak ada bekas-bekas galian di beberapa tempat, seolah-olah tempat itu menjadi tempat orang mencari-cari sesuatu dengan membongkar dinding dan menggali taman. Dan iapun mengajak Thian Sin menyelinap dan menyelidik.

Nampak ada belasan orang sedang beristirahat di samping rumah. Agaknya mereka itu sudah bekerja berat siang tadi. Ada yang membawa cangkul, ada yang membawa alat-alat untuk membongkar dinding. Mereka mengobrol sambil minum arak, dan melihat sikap mereka itu, Kim Hong mengerti bahwa mereka adalah bajak-bajak laut yang kasar dan ganas. Akan tetapi ia memberi isyarat kepada Thian Sin untuk mengikutinya menyelinap masuk melalui jendela samping yang terbuka. Bagaikan dua ekor burung mereka meloncat ke dalam ruangan besar di sebelah dalam bangunan itu di mana terdapat beberapa orang sedang bercakap-cakap menghadapi daging panggang dan arak di atas meja. Lidah selatan mereka terdengar lucu bagi Thian Sin, membuat dia agak sukar menangkap pembicaraan mereka. Akan tetapi agaknya Kim Hong sudah biasa dengan dialek selatan ini, dan gadis ini mendengarkan penuh perhatian, mendekati pintu yang menembus ke ruangan itu. Karena tidak dapat mengerti dengan baik, Thian Sin mengintai dan memperhatikan orang-orangnya. Ada lima orang duduk mengelilingi meja, dan yang membuat mereka terheran-heran adalah kenyataan bahwa seorang di antara mereka berpakaian seperti seorang tosu. Tubuh tosu ini kurus dan agak bongkok, mukanya pucat dan meruncing seperti muka tikus. Empat orang lainnya bertubuh tinggi besar dan bersikap kasar, cara duduknya juga nongkrong seperti cara duduk orang-orang yang biasa hidup di alam liar dan tidak mengenal tata cara kesopanan. Mereka kelihatan kuat dan ganas, wajah mereka membayangkan kekerasan dan kekejaman. Akan tetapi Kim Hong lebih memperhatikan percakapan itu sendiri.

“Kita sudah membuang-buang waktu seminggu lamanya di sini!” Terdengar seorang diantara empat orang kasar itu mengomel dengan mulut dijejali daging setengah matang.

“Kalau kita mencari rejeki di lautan, mungkin sudah ada satu dua kapal yang dapat kita serbu!” kata orang ke dua.

“Pangeran itu tentu telah membawa pusakanya ikut bersamanya ke neraka, kalau memang dia pernah mempunyai pusaka itu!” kata orang ke tiga.

“Hei, Tikus Laut,” kata orang ke empat kepada tosu bermuka tikus yang ternyata berjuluk Tikus Laut itu, “agaknya setelah menjadi tosu engkau kehilangan ketajaman hidungmu sehingga salah duga! Awas kau kalau mempermainkan kami!”

Si Tosu itu meludah karena ada pecahan tulang tergigit olehnya, lalu dia mengomel, “Kalian ini seperti bukan sahabat-sahabat baikku saja, seperti tidak pernah mendengar akan kelihaianku dalam menyelidiki saja. Sejak dahulu aku tahu bahwa isteri pangeran itu berhasil menguasai pusaka peninggalan Menteri The Hoo dan pasti disimpannya di sini.”

“Tapi kau sendiri bilang bahwa puteri mereka telah menjadi orang yang lihai sekali…”

“Jangan khawatir, ia dan Pendekar Sadis sudah dikejar-kejar, dan tentu para tosu Kun-lun-pai takkan mau melepaskan mereka setelah kena kubakar sampai berkobar-kobar kemarahan mereka ha-ha-ha!” kata tosu itu.

“Tikus Laut, sungguh mengherankan sekali mengapa engkau memusuhi mereka. Bukankah engkau telah menjadi orang suci?” ejek seorang di antara bajak-bajak itu.

“Kalau mereka tidak muncul mungkin aku terlanjur menjadi orang suci, dan dengan ilmu yang kudapat dari Jit Goat Tosu, aku dapat menjagoi dan menjadi tokoh Kun-lun-pai. Akan tetapi mereka muncul dan dendamku terhadap Pangeran Toan Su Ong yang tadinya sudah hampir terlupa menjadi bangkit kembali. Dan teringat akan pusaka Menteri The Hoo… selagi mereka dikejar-kejar, dan dengan alasan mencari mereka, aku mengajak kalian bersama-sama mencari pusaka. Eh, kiranya kalian masih ragu-ragu dan kurang percaya padaku…”

Di dalam tempat pengintaiannya, Kim Hong saling bertukar pandang dengan Thian Sin. Kini mereka teringat. Tosu ini adalah seorang di antara para tosu pimpinan di Kun-lun-pai, biarpun tadinya mereka kurang memperhatikan karena agaknya kedudukan tosu ini tidak menonjol. Akan tetapi, punggung yang bongkok itu tiada keduanya di antara para tosu Kun-lun-pai.

Pada saat itu terdengar bentakan keras dari arah belakang mereka. “Heii, siapa kalian! Awas, ada mata-mata mengintai!”

Thian Sin dan Kim Hong menengok dan ternyata ada dua orang di antara para anak bajak laut yang kebetulan lewat dan melihat mereka dari belakang.

“Mereka ini patut dihajar!” kata Kim Hong sambil melangkah masuk ke dalam ruangan di mana lima orang itu sedang bercakap-cakap. Lima orang itupun terkejut mendengar teriakan anak buah mereka dan sudah berloncatan sambil mencabut senjata mereka. Akan tetapi ketika empat orang pimpinan bajak itu melihat bahwa yang muncul hanya seorang pemuda dan seorang gadis cantik yang kelihatan lemah, mereka menyeringai dengan hati lega dan seorang di antara mereka berkata sambil tertawa.

“Ha-ha-ha, kiranya dua orang yang sedang berpacaran tersesat memasuki pulau!”

“Wah, gadis itu manis sekali. Sudah seminggu lebih aku tidak mencium bau keringat wanita, ha-ha, biarlah gadis itu untukku saja!”

“Enak saja kau bicara, apa kaukira akupun tidak membutuhkannya?”

Akan tetapi, kalau empat orang kepala bajak itu bicara dengan cara jorok dan kurang ajar terhadap Kim Hong, sebaliknya tosu bongkok yang berjuluk Tikus Laut itu memandang dengan wajah pucat dan mata terbelalak.

“Celaka…!” katanya, suaranya gemetar. “Inilah mereka… Pendekar Sadis dan Lam-sin…!”

Para bajak laut itu mempunyai daerah di lautan, maka tentu saja mereka tidak begitu mengenal nama Pendekar Sadis dan Lam-sin yang merupakan tokoh-tokoh daratan, sehingga mereka tidak begitu gentar menghadapi dua orang muda ini, walaupun mereka sudah mendengar dari Tikus Laut akan kelihaian mereka. Kini, belasan orang anak buah yang tadinya berada di luar sudah berserabutan masuk dengan senjata di tangan. Melihat ini, Si Kumis Lebat, seorang di antara empat pimpinan perampok yang menjadi kepala mereka, tertawa.

“Ha-ha-ha, kepung dan tangkap mereka! Boleh bunuh yang laki-laki, akan tetapi tangkap yang perempuan untukku, ha-ha-ha!” dan dia sendiri menyimpan kembali goloknya lalu maju dengan tangan kosong hendak menangkap Kim Hong sedangkan tiga orang yang lainnya memimpin anak buah mereka mengurung, dibantu pula oleh tosu bongkok yang sudah mencabut keluar sebatang pedangnya.

Melihat wajah kekasihnya, Thian Sin maklum bahwa nyawa orang-orang ini tidak akan dapat tertolong lagi, dan terbayanglah kembali wajah orang-orang yang dihormatinya, terutama wajah ayah angkatnya dan kakaknya. “Kim Hong… jangan bunuh orang… jangan kita ulangi kembali, kita robohkan saja tanpa membunuhnya.”

Kim Hong mengerling kepada kekasihnya dan tersenyum, senyum yang mengandung ketenangan sehingga lega hati Thian Sin. “Jangan khawatir, terutama sekali Si Muka Tikus itu harus dapat kutangkap hidup-hidup untuk menceritakan semua latang belakang ini!”

Mereka tidak mempupyai banyak kesempatan untuk bicara lagi karena pihak lawan sudah menyerbu. Si Kumis Tebal bersama tiga orang lain dengan muka menyeringai mengepung dan menubruk untuk menangkap Kim Hong. Mereka seperti hendak berlumba dalam menangkap atau menyentuh tubuh gadis cantik itu. Sedangkan yang lain-lain, yaitu tiga orang pimpinan bajak, Si Tosu, dan dua belas orang lain dengan senjata terhunus sudah mengepung dan mengeroyok Thian Sin, seolah-olah mereka hendak menghancurlumatkan tubuh pemuda ini!

Akan tetapi begitu dua orang muda itu menggerakkan tubuh mereka, terdengarlah teriakan-teriakan berturut-turut disusul robohnya para pengeroyok itu! Mula-mula, menghadapi empat orang pengeroyoknya yang seolah-olah berlumba hendak memeluknya itu, Kim Hong yang merasa muak dan marah itu telah menggerakkan tubuhnya mengelak dari serbuan mereka, menyelinap di antara banyak lengan dengan tangan terbuka seperti cakar harimau hendak menerkam domba itu. Kemudian, setelah terlepas dari serbuan mereka dan melihat mereka dengan lebih garang lagi membalik dan hendak menerjangnya, wanita ini sudah menggerakkan kepalanya. Kuncir rambutnya itu terlepas dari sanggulnya, seperti seekor ular cobra hitam terlepas dari kurungan dan menyambar-nyambar ganas. Akibatnya, empat orang anak buah bajak terpelanting dan tak dapat bangkit kembali karena ujung rambut itu telah menotok jalan darah membuat mereka lumpuh dan pingsan! Kini tinggal kepala bajak yang berkumis tebal melintang di bawah hidung itu yang terbelalak keheranan melihat betapa empat orang anak buahnya tiba?tiba roboh berpelantingan dan tidak mampu bangkit kembali. Dia sendiri tidak tahu bagaimana hal itu dapat terjadi, akan tetapi dia makin silau oleh kecantikan Kim Hong yang makin menyolok setelah sanggul rambutnya terlepas itu. Kecantikan ini membuat si kepala bajak menjadi makin ganas dan otaknya menjadi keruh, dia menggereng dan menubruk lagi, kedua lengannya dibuka dan diapun menerkam ke arah Kim Hong. Gadis ini kembali menggerakkan kepalanya, rambutnya menyambar ke depan.

“Dukk!” Tubuh tinggi besar itu menjadi kaku dan dua kali kaki Kim Hong bergerak.

“Krek! Krek!” Orang tinggi besar itu menjerit roboh, mengaduh-aduh dan menggunakan kedua tangan untuk memegangi kedua kakinya yang patah tulang di bagian pergelangan kaki.

Sementara itu, dengan mudah Thian Sin juga sudah merobohkan lima enam orang tanpa membuat mereka menderita luka berat. Dia hanya membagi-bagi tamparan, membuat lawan roboh dengan kepala pening, atau kaki tangan salah urat, atau menotoknya sehingga lawan roboh tak mampu berkutik karena lumpuh.

Apalagi setelah Kim Hong menyerbu membantunya, mereka dengan mudah merobohkan semua pengeroyok kecuali si Tikus Laut ini sungguh-sungguh hebat luar biasa! Gerakan-gerakan Tikus Laut ini mengingatkan mereka kepada kepandaian mendiang Jit Goat Tosu! Gerakan-gerakan aneh membuat Thiah Sin dan Kim Hong berhati-hati sekali, akan tetapi ketika Thian Sin mempergunakan Thi-khi-i-beng, tosu itu tak mampu menarik kembali tangannya yang menempel di tengkuk Thian Sin dan tenaga sin-kangnya yang tidak sekuat dua orang muda itu tersedot, membuat dia berteriak-teriak seperti seekor babi disembelih! Ketika Thian Sin melepaskan tenaga sedotan Thi-khi-i-beng, tosu itu jatuh terkulai dengan tubuh lemas. Dia seperti sebuah balon kempes. Akan tetapi mengingat kehebatan ilmu silatnya tadi, Kim Hong lalu menotoknya, membuat dia tidak berkutik lagi.

“Tosu palsu! Hayo ceritakan apa hubunganmu dengan Jit Goat Tosu dan mengapa engkau memusuhi kami, dan apa pula yang kaulakukan di Kun-lun-pai sehingga engkau membakar hati para pimpinan Kun-lun-pai!” Kim Hong membentak dengan suara nyaring sekali dan Thian Sin hanya pura-pura tak mengerti mengapa gadis itu membentak demikian nyaringnya. Tentu saja dia tahu bahwa seperti juga dia, kekasihnya itu tentu sudah pula melihat adanya bayangan beberapa orang tosu berkelebatan di sebelah luar rumah. Dan seperti juga dia, tentu kekasihnya itu sudah mengenal bahwa tosu itu adalah tosu-tosu Kun-lun-pai dan beberapa orang lain, dan di antara mereka nampak adanya Kui Yang Tosu!

“Lam-sin datuk sesat! Pinto sudah kalah, kalau engkau mau bunuh, bunuhlah. Siapa takut mati?”

“Totiang,” kata Thian Sin sambil mengedipkan matanya kepada kekasihnya dan suaranya juga lantang. “kami mengenalmu sebagai seorang di antara para tosu Kun-lun-pai, bagaimana engkau dapat bersekutu dengan gerombolan bajak laut dan mencari-cari pusaka peninggalan Menteri The Hoo yang dimiliki keluarga Pangeran Toan Su Ong? Lebih baik engkau mengaku terus terang, totiang. Kami tidak akan membunuhmu asalkan engkau mengaku.”

“Pendekar Sadis! Biar engkau tukang siksa orang, jangan kira pinto takut kepadamu!” Tosu bermuka tikus itu berteriak marah. Thian Sin kembali memberi isyarat dengan pandangan matanya kepada Kim Hong, lalu diapun mengangkat tubuh tosu itu dengan leher bajunya.

“Begitukah? Mari kita sama lihat, apakah Tikus Laut ini berani melawan hiu atau macan laut!” Dia lalu membawa tubuh tosu itu melangkah lebar keluar dari rumah itu diikuti oleh Kim Hong. Mereka berdua berjalan terus, pura-pura tidak melihat adanya beberapa pasang mata yang mengikuti gerak-gerik mereka dari tempat persembunyian, kemudian pemilik beberapa pasang mata inipun membayangi mereka menuju ke pantai pulau. Kim Hong yang menjadi penunjuk jalan dan tanpa bicara kedua orang ini sudah tahu akan isi hati masing-masing.

Mereka membawa Si Muka Tikus itu ke perahu besar yang berlabuh di situ dan ketika mereka menaiki perahu itu kosong sama sekali. Ternyata beberapa orang bajak yang tadi berjaga di situ telah ikut pula menyerbu ketika mereka mendengar teriakan-teriakan dari atas pulau.

Tosu itu masih diam saja, akan tetapi Thian Sin yang mencengkeram leher baju tosu itu dapat merasakan ketika lengannya menempel di dadanya betapa jantung tosu itu berdebar kencang. Dia tersenyum. Inilah yang dikehendakinya. Membuat takut tosu itu. Sejenak timbul perasaan dalam hatinya perasaan senang, nafsu untuk menyiksa dan membunuh orang ini yang dia tahu memusuhi Kim Hong. Akan tetapi, wajah kakaknya terbayang di depan mata dan membuatnya tersadar dan nafsu sadis itupun lenyap seperti ditiup angin.

Setelah tiba di atas perahu besar, Thian Sin lalu melepaskan sabuknya yang juga merupakan satu di antara senjatanya, mengikatkan ujung sabuknya pada pinggang tosu itu.

“Kaulihat itu, kenalkah engkau apa itu?” tanyanya sambil menunjuk ke arah sirip ikan-ikan hiu yang berseliweran di sekitar perahu. Wajah tosu itu menjadi semakin pucat.

“Apa… apa yang hendak kaulakukan…?” tanyanya, suaranya masih angkuh akan tetapi sudah agak gemetar.

Thian Sin tersenyum memandang kepada Kim Hong, “Ha-ha, Kim Hong, dia tanya apa yang hendak kita lakukan! Ha-ha!”

Gadis itupun tertawa dan menjawab dengan suara yang nyaring, “Kita hanya ingin melihat bagaimana ramainya tikus laut berhadapan dengan macan laut.”

Dan Thian Sin mulai menurunkan tubuh orang yang sudah diikat pinggangnya itu ke pinggir perahu besar. Karena dia tadi sudah membebaskan totokannya, maka tosu itu dapat meronta-ronta. “Jangan… jangan…!” teriaknya akan tetapi tubuhnya sudah terjatuh ke air.

“Byuuurrr…!” Jatuhnya tubuh tosu itu membuat ikan-ikan hiu terkejut dan berenang menjauh, akan tetapi ketika mereka melihat gerakan-gerakan di permukaan air karena Si Tikus Laut itu menahan tubuhnya agar tidak tenggelam, beberapa ekor hiu sudah cepat berenang datang. Melihat sirip dua ekor ikan hiu dari depan, tosu itu terbelalak.

Thian Sin yang memegang ujung sabuk itu, sengaja mengendurkan sabuk, seolah-olah tidak peduli, akan tetapi sesungguhnya dia sudah siap untuk menarik sabuk itu kalau memang benar-benar keadaan tosu itu terancam. Akan tetapi, tosu yang berjuluk Si Tikus Laut itu tiba-tiba menggerakkan tubuh menyelam ketika dua ekor ikan hiu itu sudah mendekat dan begitu kedua tangannya menyambar, dia telah mendorong dua ekor ikan itu dari bawah. Dua ekor binatang buas yang kena dihantam belakang kepalanya itu meronta akan tetapi agaknya kesakitan dan terkejut karena mereka segera berenang menjauhi. Thian Sin memandang kagum, melihat betapa lawannya itu tidak percuma mempunyai julukan Tikus Laut karena ternyata memang memiliki keahlian bermain di dalam air sehingga dengan satu serangan saja mampu mengusir dua ekor ikan hiu ganas!

Akan tetapi daerah lautan sekitar Pulau Teratai Merah itu memang menjadi kedung ikan hiu. Begitu dua ekor yang kena dihantam itu melarikan diri, muncul enam ekor hiu yang lebih besar dan datang dari segala penjuru! Melihat ini, tosu yang sudah muncul ke permukaan air itu menjadi ketakutan. Sirip-sirip ikan itu meluncur dari sana-sini, dari kanan kiri dan depan dan melihat sirip-sirip itu saja dapat diketahui bahwa beberapa ekor di antaranya adalah hiu-hiu yang besarnya sama dengan kerbau!

“Tolong… ! Tarik aku… tolong…!” teriaknya tanpa malu-malu lagi karena takutnya.

“Asal engkau mengaku terus terang!” kata Thian Sin mempermainkan.

Hiu-hiu itu makin mendekat dan kini mereka berputaran di sekeliling perahu, dalam jarak kurang lebih hanya tiga meter dari tempat tosu itu terapung.

“Tolong…!”

“Katakan dulu engkau mau mengaku terus-terang!” kata Kim Hong dengan nyaring. Tosu itu tidak mau menjawab, aganya merasa enggan untuk berkata terus-terang mengakui perbuatannya. Sementara itu, hiu pertama sudah datang menyerang dengan cepat. Tosu itu mengelak dan menggunakan kakinya menendang dari samping, membuat ikan itu terlempar.

“Bagus! Tikus Laut memang lumayan juga!” Thian Sin memuji sambil tertawa. Akan tetapi dua ekor hiu datang lagi menyerang dari kanan kiri. Tosu itu mengelak ke kanan dan menghantam hiu yang berada di kanan, akan tetapi pada saat itu hiu ke tiga menyambar.

“Celaka…! Tolong… aku akan mengaku…!” Pada saat hiu itu sudah hampir mencaplok pundak si tosu. Thian Sin menarik dengan sentakan keras, sehingga tubuh tosu itu terhindar dari moncong ikan. Dia sudah merasakan angin sambaran ikan hiu itu yang mengejar sambil meloncat ke permukaan air dan sudah mencium bau amis. Tubuh tosu itu gemetaran ketika dia dilempar ke atas dek perahu oleh Thian Sin, akan tetapi pemuda ini masih belum melepaskan ikatan sabuk pada pinggangnya.

“Nah, ceritakantah semuanya!” katanya.

“Sekali ini tidak mau mengasku, akan kami lemparkan kamu ke bawah agar menjadi rebutan ikan!” Kim Hong juga mengancam.

Tosu itu masih gemetaran dan menarik napas panjang. “Baikiah… baiklah…! Tanyakan apa yang kalian ingin ketahui…”

“Engkau ini seorang tosu Kun-lun-pai kenapa berjuluk Tikus Lautan dan berkawan dengan para bajak laut?” Kim Hong mulai dengan pertanyaannya.

“Dahulunya aku seorang bajak laut yang bosan akan kehidupan bajak dan aku tertarik akan soal-soal kebatinan, terutama Agama To, maka aku lalu pergi ke Kun-lun-pai dan berhasil diterima sebagai tosu. Memang tadinya aku ingin bertobat, akan tetapi ternyata gagal…”

“Apa bubunganmu dengan mendiang Jit Goat Tosu? Hayo terangkan semuanya!” bentak Kim Hong lagi.

“Aku mendapat tugas melayaninya selama dia di Kun-lun-pai dan karena jasa-jasaku itu dia mulai mengajarkan satu dua macam ilmu pukulan kepadaku, tapi sialan… kalian muncul dan dia meninggal…”

“Jadi itukah sebabnya maka engkau memusuhi kami?” tanya Thian Sin.

“Kalian merusak rencanaku, siapa tiaak akan membenci kalian!”

“Dan apa yang kaulakukan untuk membakar hati para pimpinan Kun-lun-pai?” desak lagi Thian Sin.

“Kukatakan kepada mereka bahwa sebelum meninggal, sering kali Jit Goat Tosu bercerita kepadaku tentang kejahatan sutenya sehingga kematiannya karena serbuan kalian itu menimbulkan penasaran besar, dan kuhasut mereka untuk menuntut balas mengingat akan kebaikan Jit Goat Tosu yang sudah menurunkan pula beberapa macam ilmu kepada pimpinan Kun-lun-pai…”

“Hemm, dan apa artinya kedatanganmu ke pulau kcluargaku bersama para bajak ini?” tanya Kim Hong.

“Setelah berhasil memanaskan hati para pimpinan Kun-lun-pai sehingga mengejar-ngejar kalian, aku lalu pergi ke sini mengumpulkan bekas rekan-rekanku. Sudah sejak dahulu ketika aku menjadi bajak laut, aku tahu akan ditemukannya pusaka oleh ayah dan ibumu, dan aku sudah beberapa kali berusaha untuk merampasnya, akan tetapi selalu gagal… ahhh, ayah bundamu terlalu lihai, dan juga kegagalan-kegagalan itu, bahkan yang terakhir hampir merenggut nyawaku, yang membuat aku kecewa lalu menjadi tosu. Siapa kira, aku bertemu dengan suheng ayahmu, maka aku mengambil hatinya dengan maksud mempelajari ilmu-ilmunya untuk merajai Kun-lun-pai dan kemudian akan kucari pusaka peninggalan Menteri The Hoo. Akan tetapi kematian Jit Goat Tosu menggagalkan semuanya…”

“Ah, kiranya engkau pernah gagal membajak mendiang ayahku maka engkau menaruh dendam kepadaku? Bagus sekali!” Kim Hong menghampiri dengan sikap mengancam.

“Cukup Kim Hong. Kita sudah berjanji akan membebaskannya. Nah, muka Tikus Lautan, engkau boleh pergi sekarang!” kata Thian Sin sambil memberi isyarat dengan pandang matanya kepada Kim Hong.

“Terima kasih… terima kasih…!” kata tosu itu yang sama sekali tidak pernah mimpi bahwa dia akan terbebas dari kematian mengerikan di tangan Pendekar Sadis! Maka, seperti seekor tikus yang baru saja disiram air, dengan pakaian basah kuyup tosu itu lalu bangkit dan hendak lari dari perahu itu, akan tetapi tiba-tiba wajahnya menjadi pucat sekali dan dia menjatuhkan dirinya berlutut.

“Suhu… tolonglah teecu… hampir saja teecu dibunuh Pendekar Sadis yang telah menyiksa teecu…” katanya dengan suara gemetar. Thian Sin dan Kim Hong membalikkan tubuh mereka dan pura-pura bersikap kaget dan heran melihat munculnya Kui Yang Tosu dan lima orang tosu Kun-lun-pai lainnya, juga nampak Liang Sim Cinjin pertapa Kang-lam itu, dan dua orang Bu-tong-pai wakil dari Thian Heng Losu, juga nampak Lo Pa San, pendekar dari Po-hai itu dan beberapa orang lain yang pernah hadir dalam pertemuan para pendekar di Kun-lun-san!

Melihat mereka itu, yang memang sudah diketahuinya sejak tadi oleh Thian Sin dan Kim Hong, kedua orang muda ini lalu meloneat meninggalkan perahu dan berdiri berdampingan di pantai, siap menghadapi segala kemungkinan. Mereka merasa lebih aman berada di atas pulau daripada di atas perahu, apalagi dengan adanya ahli-ahli silat dalam air seperti Tikus Laut yang lihai itu. Thian Sin sendiri cukup mengerti bahwa melawan Tikus Laut seorang saja, kalau bertanding di air, mungkin sekali dia akan celaka. Dan berada di atas perahu berbahaya sekali, siapa tahu mereka akan menggulingkan perahu!

Akan tetapi, para tosu Kun-lun-pai dan teman-temannya itu agaknya tidak menghiraukan mereka dan Kui Yang Tosu kini melangkah maju mendekati Tikus Laut. Wajah kakek yang merupakan tokoh ke dua dari Kun-lun-pai ini masih nampak berkilat penuh api kemarahan. Suaranya juga masih halus ketika dia bertanya kepada Muka Tikus Laut itu, “Bagaimana engkau bisa berada di tempat ini?” “Suhu, teecu pernah mendengar tentang pulau ini dan teecu membantu suhu untuk menyelidiki Pendekar Sadis dan Lam-sin yang teecu duga tentu melarikan diri ke sini. Dan benar saja… akan tetapi teecu ketahuan dan ditangkap dan disiksa, nyaris dibunuh secara keji, dijadikan umpan ikan-ikan hiu…”

“Dan siapakah bajak-bajak laut itu dan milik siapa pula perahu ini?” Suara Kui Yang Tosu makin lantang dan pendang matanya semakin berapi-api. Akan tetapi agaknya tosu bekas bajak itu tidak sadar akan tanda-tanda ini atau memang dia sudah terlanjur melangkah dan tidak mungkin mundur kembali.

“Bajak-bajak itu adalah kaki tangan Pendekar Sadis…” Akan tetapi tosu itu tidak melanjutkan kata-katanya karena dengan langkah lebar Kui Yang Tosu menghampirinya, mukanya merah dan matanya melotot, dadanya naik turun menahan kemarahan.

“Penipu! Pembohong! Pengkhianat kau manusia busukP’ Dan kaki wakil ketua Kun-lun-pai itu bergerak menendang.

“Desss…!” Dan tubuh tosu bermuka tikus itu terlempar keluar dari perahu itu, jatuh ke dalam air! Ketika semua orang memandang, wajah mereka berubah dan mata mereka terbelalak melihat puluhan ekor ikan hiu menyerbu ke arah tubuh yang baru saja terjatuh ke air itu. Terdengar jeritan-jeritan mengerikan yang berhenti tiba-tiba ketika tubuh itu terseret ke bawah permukaan air. Air bergelombang dan mulai berubah warnanya menjadi merah di tempat di mana tosu tadi jatuh.

“Siancai…!” Kui Yang Tosu memejamkan kedua matanya, alisnya berkerut dan kedua tangannya dirangkap ke depan dada. Sampai lama dia tidak bergerak, wajahnya berkerut-kerut dan akhirnya, setelah beberapa kali dia menarik napas panjang, diapun membuka matanya, lalu dengan tubuh nampak lemas dan lesu dia menuruni perahu itu menghampiri Thian Sin dan Kim Hong yang masih berdiri melihat semua itu dengan sikap tenang waspada.

Kui Yang Tosu menjura kepada mereka. Suaranya terdengar lirih, “Ceng-taihiap, Toan-lihiap, maafkan pinto yang tak dapat mengendalikan perasaan…”

Thian Sin dan Kim Hong membalas penghormatan itu dan Thian Sin berkata, “Saya sudah sering kali mengalami perasaan itu, locianpwe, membuat mata gelap dan menimbulkan tindakan pembalasan yang membuat saya dinamakan Pendekar Sadis. Saya mengerti dan locianpwe tidak bersalah, wajarlah sebagai manusia biasa kadang-kadang dikuasai oleh amarah.”

Kui Yang Tosu kembali menarik napas panjang penuh penyesalan betapa karena marahnya dia telah membunuh Si Tikus tadi, bahkan dengan cara yang mengerikan, tanpa disengaja dia memberikan tosu itu kepada ikan-ikan hiu!

“Tidak pinto kira bahwa dia yang telah kami percaya itu akan melakukan fitnah seperti itu demi kepentingan dirinya dan pemuasan nafsunya,” kata pula Kui Yang Tosu.

Thian Sin tersenyum dan mengangguk, “Locianpwe, saya sendiripun pernah mengalami penipuan seperti itu dan menjadi korban fitnah sehingga melakukan hal yang amat buruk. Tentu locianpwe ingat akan kematian Pangeran Toan Ong? Nah, ketika itupun saya mendengar fitnah orang yang saya percaya.”

Kui Yang Tosu mengangguk-angguk. “Siancai…! Betapa lemahnya kita manusia ini. Kita perlu banyak belajar, Ceng-taihiap…”

“Benar, locianpwe, kita harus tetap belajar selama masih hidup.”

“Maafkan pinto, kini Kun-lun-pai baru mengerti dan mulai saat ini kami tidak lagi memusuhimu, taihiap.”

“Terima kasih, locianpwe, dan sayapun akan belajar agar tidak mudah membiarkan diri dikuasai nafsu dendam dan kekejaman terhadap musuh.”

Kui Yang Tosu lalu berpamit kepada Thian Sin dan Kim Hong, kembali ke tempat di mana perahu mereka tersembunyi, diikuti oleh para pendekar lain yang juga berpamit dengan sikap bersahabat. Thian Sin dan Kim Hong memandang kepada mereka sampai perahu mereka tidak nampak lagi dan tiba-tiba Kim Hong merangkul Thian Sin dengan hati penuh kegirangan dan kebahagiaan. Thian Sin maklum apa yang dirasakan oleh kekasihnya karena diapun merasakan sesuatu kebahagiaan besar menyelubungi hatinya, maka diapun tidak berkata apa-apa kecuali balas merangkul gadis itu. Sampai lama mereka saling rangkul dan tidak mengeluarkan kata-kata. Kata-kata tidak ada artinya lagi dalam keadaan seperti saat itu. Mereka merasa seolah-olah ada batu besar yang selama ini menindih hati mereka berdua telah terangkat dan mereka merasakan suatu kebebasan yang amat nikmat dalam hati mereka. Dan bagi Thian Sin terutama sekali, teringatlah kembali semua kata-kata kakaknya. Kekerasan hanya akan mengakibatkan kekerasan pula. Akibat tidak akan pernah terlepas daripada sebab, akibat hanyalah lanjutan daripada sebab. Dan sebab adalah cara dalam tindakan kita sendiri. Cara yang buruk takkan mungkin mendatangkan akibat yang baik, seperti juga benih buruk takkan mungkinlah menumbuhkan pohon yang baik. Tak mungkinlah mengharapkan bunga indah tumbuh menjadi buah lewat dari tanaman beracun. Siapa menanam, dia sendiri yang akan memetik buah daripada hasil tanamannya. Sayang seribu kali sayang, kita hanya selalu mengingat-ingat akan panen buah lezat saja, tak pernah kita memperhatikan penanamannya yang benar dan pemeliharaannya yang benar. Mata kita selalu tertuju jauh ke depan, kepada tujuan-tujuan dan harapan-harapan baik dan menyenangkan untuk kita, sama sekali tidak mau melihat perbuatan-perbuatan kita setiap saat sekarang inilah yang menjadi pohon penghasil buah di masa mendatang. Bukan buahnya yang penting, melainkan pohonnya, pemeliharaan pohonnya. Buah yang baik, hanyalah menjadi lanjutan dari pohon yang baik. Kita selalu mau enaknya saja.

Thian Sin dan Kim Hong lalu melakukan pemeriksaan ke seluruh bagian pulau itu dan mulailah mereka membangun kembali rumah yang banyak rusak itu. Untuk pekerjaan ini mereka mendatangkan pembantu-pembantu bayaran dan dalam waktu beberapa bulan saja Pulau Teratai Merah kembali menjadi sebuah pulau kecil yang indah.

Mereka berdua menghadiri perayaan pernikahan dari Cia Kong Liang di Cin-ling-pai dan bertemu dengan keluarga Cin-ling-pai dan Lembah Naga, juga bertemu dengan semua sahabat dan kenalan. Kemudian, tak lama sesudah itu, Thian Sin dan Kim Hong juga menghadiri upacara perayaan pernikahan antara Cia Han Tiong dan Ciu Lian Hong yang diadakan secara sederhana di Lembah Naga. Di tempat ini, Thian Sin dan Kim Hong tinggal sampai satu bulan lebih. Kim Hong telah diterima sebagai keluarga oleh keluarga di Lembah Naga. Akan tetapi kalau Cia Sin Liong dan isterinya menyinggung tentang pernikahan antara mereka, Thian Sin dan Kim Hong hanya saling pandang dan tersenyum.

“Ayah dan ibu, harap maafkan… akan tetapi kami sejak pertemuan pertama telah saling bersepakat untuk tidak mengikat diri masing-masing dengan pernikahan. Betapapun juga, kami saling mencinta…”

Mendengar ucapan itu, Cia Sin Liong dan isterinya hanya saling pandang dan menggeleng-geleng kepala mereka. Orang-orang muda memang makin lama makin aneh. Dunia berubah, atau lebih tepat lagi, manusia telah makin berubah. Kerinduan akan kebebasan membuat orang-orang muda makin lama makin cenderung untuk meninggalkan ikatan-ikatan dan hukum-hukum yang mungkin mereka anggap sebagai penghalang daripada kebebasan yang mereka dambakan. Mereka itu, orang-orang muda itu, sama sekali tidak tahu bahwa kebebasan adalah urusan batin, bukan sekedar soal-soal lahir saja. Orang yang bebas hatinya takkan merasa terganggu walaupun diikat oleh seribu macam hukum. Sebaliknya, biarpun meninggalkan semua hukum, orang akan tetap terbelenggu batinnya dan sama sekali tidak bebas.

Sampai di sini pengarang mengakhiri cerita ini dengan harapan semoga cerita ini selain dapat menghibur hati pembaca, juga mengandung manfaat sekedarnya bagi perjuangan kita mendayung biduk masing-masing menempuh gelombang-gelombang di samudera kehidupan yang luas ini. Marilah kita melihat kenyataan bahwa biarpun tidak semua dapat disebut sadis, karena kekejaman turun temurun telah mengalir dalam diri kita, telah mendarah daging. Kita ini sadis! Kita ingin melihat orang-orang yang kita benci menderita kesengsaraan yang hebat! Kita akan senang melihat orang yang kita benci tersiksa. Benar atau tidakkah demikian? Hanya kita masing-masing yang dapat menjawab dengan menjenguk ke dalam batin sendiri!

Lalu bagaimana dengan Pendekar Sadis? Apa jadinya dengan Thian Sin dan Kim Hong di Pulau Teratai Merah? Apakah riwayat mereka habis sampai sekian saja? Harap para pembaca jangan khawatir. Cerita tentang mereka belum tamat. Dan pengarang sedang menyusun cerita selanjutnya tentang mereka berdua. Anda akan bertemu dengan sepasang orang muda perkasa ini dalam cerita serial Pendekar Sadis, di mana Pendekar Sadis dan Lam-sin yang kini hanyalah seorang pemuda perkasa bernama Ceng Thian Sin dan seorang gadis yang gagah bernama Toan Kim Hong, sambil bergandeng tangan bahu membahu menghadapi dan bersama-sama memecahkan persoalan-persoalan yang rumit-rumit penuh bahaya. Petualangan mereka akan dapat anda ikuti dalam serial Pendekar Sadis. Nah, sampai jumpa di lain karangan!

– T A M A T –

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: