Siluman Goa Tengkorak (Jilid ke-10)

Pada saat itu dia berada dalam ketakutan yang luar biasa, maka mendengar ucapan itu, tanpa pikir panjang lagi diapun mengaku saja. Pokoknya, apapun yang per-nah dilakukannya akan diakui tanpa malu-malu lagi asal dia dibebaskan dan tidak dibunuh. Hati-nya sudah ketakutan melihat betapa orang-orang Bu-tong-pai itu mengamuk dan membunuhi banyak orang berkedok tengkorak dan begitu Thian Sin muncul, diapun mengenalnya sebagai pemuda yang diperkenalkan sebagai Pendekar Sadis, maka biarpun dengan merangkak-rangkak, dia menghampiri dan minta ampun. “Benar, taihiap… tapi ampunkan saya…” “Desss…!” Tendangan yang dilakukan oleh Thian Sin mengenai dagu pemuda she Phang itu. Tulang rahangnya patah-patah dan pemuda itu menangis, melolong-lolong. Thian Sin sudah menghampiri dengan langkah lebar dan sekali dia menurunkan kaki kanannya, dia telah menginjak pecah kepala orang she Phang itu seperti orang menginjak kepala ular saja. kemudian Thian Sin terjun ke dalam arena perkelahian dan begitu dia terjun, tentu saja keadaan menjadi berobah sama sekali. Setiap gerakan kaki tangannya disusul oleh teriakan mengerikan dan seorang pengeroyok terjengkang dan tewas. Dalam beberapa gebrakan saja dia telah merobohkan enam orang pengeroyok dan hal ini tentu saja membuat para anak buah gerombolan itu menjadi gentar sekali dan sebaliknya membuat lima orang Bu-tong-pai bertambah semangat.

Demikianlah, ketika rombongan orang-orang Hong-kiam-pang tiba di tempat itu, mereka hanya melihat Pendekar Sadis dan lima orang Bu-tong-pai, sedangkan semua anggauta gerombolan Siluman Guha Tengkorak berikut para tamu yang ikut membantu mereka telah rebah malang melintang ada yang tewas dan ada pula yang luka-luka. “Pendekar Sadis, iblis jahat, kau harus menebus kematian murid-murid kami!” Im Yang Tosu yang memandang kepada pendekar itu dengan marah meloncat ke depan. Akan tetapi Thian Sin meloncat ke belakang dan berkata dengan suara nyaring. “Im Yang Tosu, sabarlah dan dengarlah dulu penjelasanku!” Akan tetapi tiba-tiba Bu Beng Tojin sudah menggerakkan pedangnya dan menyerang Thian Sin dengan dahsyat sambil berteriak, “Tak usah banyak cerewet lagi, dosamu sudah bertumpuk!” Serangan itu dahsyat, akan tetapi Thian Sin dapat mengelak dengan sigapnya tanpa membalas melainkan berseru, “Tahanlah, totiang…!” “Ceng Thian Sin, dosamu sudah bertumpuk, mau bicara apa lagi? Pinto sendiri yang menangkapmu sebagai Siluman Guha Tengkorak, dan dalam tawanan kami engkaupun ditolong oleh seorang auggauta gorombolon Siluman Guha Tengkorak! Sekarang engkau mau pura-pura lagi ?” Berkata demikian, Bu Beng Tojin dengan kemarahan meluap-luap sudah menerjang lagi dengan pedangnya, mengirim serangan maut yang amat berbahaya. Agaknya kakek pendeta ini sakit hati benar karena kematian tujuh orang muridnya, maka kini dia menyerang seperti orang yang mata gelap. Kembali Thian Sin mengelak cepat sehingga pedang itu bercuit lewat di atas kepalanya. “Tahan dan biarkan aku bicara, totiang!” Thian Sin berseru. “Sute, biarlah kita dengar apa yang hendak dikatakan Pendekar Sadis alias Siluman Guha Tengkorak ini!” kata Im Yang Tosu. “Perlu apa mendengarkan ucapannya yang palsu, suheng? Bukankah baru saja dia telah melukai dan nyaris membunuh suheng?” bentak Bu Beng Tojin yang tak dapat menahan kemarahannya, sepasang matanya berapi-api dan mukanya merah sekali. “Susiok, suhu minta kita mendengarkan dia bicara dulu. Untuk menyerangnya nanti juga masih belum terlambat,” kata seorang murid Im Yang Tosu dan saudara-saudaranya telah mengurung Pendekar Sadis dengan pedang terhunus. “Tidak perlu bicara lagi dengan iblis kejam ini!” bentak Bu Beng Tojin yang kembali menerjang dan menyerang Thian Sin. Pendekar ini mendongkol bukan main, akan tetapi karena dia teringat bahwa kemarahan tokoh ke dua dari Hong-kiam-pang ini adalah karena sakit hati mengingat muridnya tewas di tangan Siluman Guha Tengkorak, maka diapun menahan kedongkolan hatinya den mengelak ke kiri dengan cepat. Akan tetapi, tiba-tiba ada angin bercuitan dan sinar terang menyambar dari kiri. “Siancai, dosamu memang terlalu banyak, Pen-dekar Sadis!” itulah suara Im Yang Tosu yang sudah menyerangnya, terbangun semangatnya oleh kemarahan sutenya. Dan murid Hong-kiampang juga mulai bergerak menyerang Thian Sin. Tentu saja pendekar ini terkejut sekali dan cepat dia melempar tubuh ke belakang, berjungkir balik menghindarkan sambaran pedang Im Yang Tosu yang amat lihai. “Trang-trang-trang…!” Ketika Bu Beng Tojin menyerang lagi, tiba-tiba pedangnya bertemu dengan pedang di tangan Liang Hi Tojin, tokoh ke dua dari Bu-tong-pai. Keduanya merasa betapa tangan mereka tergetar dan Bu Beng Tojin terkejut lalu melompat ke belakang, memeriksa pedangnya yang ternyata tidak rusak lalu dia menudingkan pedangnya kepada Liang Hi Tojin. “Bagus! Apakah pendeta Bu-tong-pai sekarang berpihak kepada gerombolan penjahat?” bentaknya. “Siancai! Bu Beng toyu dari Hong-kiam-pang, hendaknya bersikap tenang dan sabar. Setiap persoalan dapat dibicarakan dan siapa yang bersalah wajib dihukum. Akan tetapi pinto sendiri sangat ingin tahu mengapa justeru Ceng-taihiap yang dituduh sebagai Siluman Guha Tengkorak, padahal dia yang telah membasmi gerombolan ini?” “Toyu harap jangan mudah tertipu oleh kelicikannya!” Bu Beng Tojin berseru marah. “Sejak dahulu siapa yang tidak mendengar nama Pendekar Sadis yang amat kejam? Dan sekarang, pinto sendiri yang menangkap basah, ketika dia berpakaian dan bortopeng sebagai Siluman Guha Tengkorak. Agaknya dengan licik dia telah bersandiwara, menipu toyu dan kawan-kawan dari Bu-tong-pai, berpura-pura memusuhi Siluman Guha Tengkorak. Lebih baik toyu bantu kami untuk menangkapnya!” Berkata demikian, Bu Beng Tojin sudah hendak menyerang lagi. Suasana menjadi tegang karena para murid- Hong-kiam-pang kembali terpengaruh oleh ucapan susiok mereka, bahkan Im Yang Tosu juga memandang kepada Liang Hi Tojin dengan mata bersinar marah. “Betapapun juga, kami dari Hong-kiam-pang semua menyaksikan bahwa memang benar Pendekar Sadis pernah kami tangkap sebagai Siluman Guha Tengkorak dan dibebaskan oleh seorang anggauta gerombolan penjahat ini!” katanya. Pada saat itu, tiba-tiba pintu sebelah dalam terbuka dan muncullah Kim Hong yang membawa dua buah peti hitam diikuti oleh empat puluh orang gadis-sadis muda cantik yang masih kelihatan berduka itu. Gadis ini cepat meloncat ke depan ketika melihat Thian Sin dikurung oleh orangorang Hong-kiam-pang dan ia sempat mendengar ucapan Im Yang Tosu tadi. “Tahan…!” serunya dengan nyaring sehingga semua orang menengok dan memandang kepadanya. “Memang akulah orangnya yang telah menolongnya dari tangan orang-orang Hongkiam-pang yang haus darah dan yang ceroboh sekali dalam tindakan mereka! Memang kami telah menyamar sebagai anggauta gerombolan Siluman Guha Tengkorak, akan tetapi hal itu kami lakukan untuk dapat membasmi gerombolan ini seperti yang telah kami lakukan hari ini!” “Bohong!” Tiba-tiba Bu Beng Tojin berseru marah. “Gadis ini adalah teman baik Pendekar Sadis, tentu saja hendak membelanya! Kalau toh mereka berdua menentang gerombolan ini, agaknya untuk merampas harta kekayaannya. Buktinya, benda apakah yang dibawa oleh nona ini?” Bu Beng Tojin menunjuk dengan pedangnya ke arah dua peti hitam yang dibawa oleh Kim Hong itu. Gadis itu tersenyum. “Totiang, agaknya engkau terlalu curiga dan memandang bahwa orangorang lain kecuali para pendeta adalah orang-orang yang jahat. Tanyakan saja kepada gadisgadis ini, siapa yang membebaskan mereka dari cengkeraman Siluman Guha Tengkorak kalau bukan kami? Dan tentang dua peti ini, memang isinya adalah harta benda yang amat banyak!” Berkata demikian, Kim Hong sengaja membuka dua peti hitam itu dan semua orang terbelalak memandang kepada dua peti yang isinya penuh dengan benda-benda yang berkilauan, emas perak dan batu-batu permata yang sukar dinilai harganya. Melihat ini, Liang Hi Tojin mengerutkan alisnya dan memandang kepada Pendekar Sadis. “Taihiap, pinto sendiri tidak mengerti apa artinya peti berisi harta itu?” Sebelum Thian Sin menjawab dan memang pendekar ini masih bingun dan belum siap menjawab pertanyaan ini, Kim Hong telah berkata nyaring. “Totiang, harta kami ada puluhan kali lebih banyak daripada isi kedua peti ini. Apa artinya harta ini bagi kami berdua? Kami sengaja merampasnya dari tangan Siluman Guha Tengkorak dan pembantunya yang agaknya hendak melarikan dua buah peti harta ini keluar sarang. Dan kami sudah mengambil keputusan mengenai harta ini. Gadis-gadis ini telah banyak menderita, mereka diculik dan dibujuk oleh gerombolan jahat. Kini, mereka akan kami pulangkan ke keluarga masing-masing dan harta ini akan kami bagi-bagi untuk mereka, juga untuk keluarga Tujun Pendekar Tai-goan yang telah tewas. Bagaimana pendapatmu, Liang Hi Tojin?” “Siancai… sungguh merupakan pikiran yang baik sekali!” Liang Hi Tojin memuji. “Ceng-taihiap, harap maafkan keraguan pinto tadi.” Tokoh Bu-tong-pai ini menjura kepada Thian Sin yang hanya tersenyum dan memandang ke arah kekasihnya dengan kagum dan terima kasih. “Dan bagaimana dengan pendapat para pimpinan Hong-kiam-pang?” Kini Thian Sin bertanya kepada Im Yang Tosu dan Bu Beng Tojin. “Kalau memang benar seperti apa yang pinto dengar tadi, memang tepat sekali kalau harta itu dibagi-bagi kepada bekas para korban,” jawab Im Yang Tosu. “Dan bagaimana pendapatmu, Bu Beng totiang?” Thian Sin bertanya kepada Bu Beng Tojin yang masih kelihatan marah dan penasaran itu. Pendeta ini mengerutkan alisnya. “Kami adalah orang-orang yang mengutamakan kebenaran dan selalu akan menentang kejahatan. Kalau memang benar Pendekar Sadis bukan Siluman Guha Tengkorak, tentu saja kamipun setuju. Akan tetapi kami masih tidak mengerti bagaimana Pendekar Sadis sebagai orang yang menentang Siluman Guha Tengkorak, memakai pakaian anggauta gerombolan itu dan menyerang kami, bahkan tadi telah melukai suheng!” Sepasang mata pendeta ini memandang dengan penuh tantangan dan rasa penasaran. Thian Sin tersenyum. “Tidak aneh, totiang. Ketika itu, aku telah tertawan dan terbius oleh Siluman Guha Tengkorak dan agaknya aku sengaja diberi pakaian dan topeng anggauta gerombolan mereka, kemudian sengaja aku diserahkan kepada Hong-kiam-pang yang mendendam kepada Siluman Guha Tengkorak atas kematian tujuh orang muridnya.” “Tapi kenapa engkau menyerang pinto?” Bu Beng Tojin bertanya, mendesak penasaran. “Dan pinto sendiri yang menawanmu, disaksikan oleh semua anak murid Hong-kiam-pang!” “Huh, kalau dia dalam keadaan sadar mana mungkin engkau dapat menawannya?” Tiba-tiba Kim Hong berkata dengan suara galak dan dingin. Akan tetapi Thian Sin mengangkat tangan memberi isyarat agar kekasihnya itu menahan kemarahannya. “Bu Beng totiang, sudah kukatakan bahwa aku dalam keadaan tidak sadar dan terbius. Kalau aku kelihatan menyerangmu, hal itu tentu hanya akal dari Siluman Guha Tengkorak saja untuk mengelabui mata orang-orang Hong-kiam-pang. Ingat, siluman itu adalah seorang yang mahir menggunakan ilmu sihir! Dan tetang orang yang melukai Im Yang totiang, aku sama sekali tidak melakukannya karena aku dan Kim Hong sibuk menyerbu ke dalam sarang gerombolan ini. Agaknya tentu siluman itu pula yang melakukannya, mungkin ketika hendak melarikan diri, ketahuan oleh Im Yang totiang dan menyerangnya.” Im Yang Tosu mengangguk-angguk. “Sute, agaknya keterangan dari Ceng-taihiap itu benar semua. Sayang bahwa siluman itu tidak dapat berhadapan dengan pinto sendiri.” Dia menoleh ke kanan kiri melihat semua orang bertopeng tengkorak itu malang melintang. “Apakah taihian telah berhasil merobohkan siluman itu yang menjadi kepala gerombolan?” “Sayang, dia berhasil meloloskan diri, totiang. Akan tetapi aku bertekad untuk mencarinya terus dan baru berhenti kalau sudah dapat membekuknya.” Kim Hong dan Thian Sin, dengan disaksikan oleh Liang Hi Tojin, Im Yang Tosu dan Bu Beng Tojin, membagi-bagi harta benda itu kepada para gadis bekas korban gerombolan. Juga bagian untuk Cia Liong dan Cia Ling, diserahkan kepada Im Yang Tosu untuk mengurus dan menyerahkannya. Juga pada gadis itu lalu diantar oleh para anggauta Hong-kiam-pang untuk dikembalikan ke tempat tinggal masing-masing. Sebelum mereka meninggalkan tempat itu, mereka semua berlutut dan menangis, menghaturkan terima kasih kepada Thian Sin dan Kim Hong. “Im Yang totiang,” kata Thian Sin. “Mengingat bahwa mendiang saudara Cia Kong Heng adalah seorang murid Kun-lun-pai sebelum menjadi anggauta Hong-kiam-pang, maka aku harap totiang sudi menaruh kasihan kepada putera dan puterinya dan dapat menyuruh orang mengantar mereka ke Kun-lun-pai agar menjadi murid di sana. Harta bagian mereka dapat dipergunakan untuk perawatan mereka dan untuk bekal mereka setelah dewasa karena mereka sudah kehilangan ayah bunda.” Im Yang Tosu mengangguk-angguk dan mereka semua lalu meninggalkan tempat itu. Thian Sin lalu membakar sarang itu dan menghancurkan semua benda, termasuk tempat pemujaan yang juga menjadi tempat maksiat atau pesta-pesta cabul itu. *** Sampai hampir sebulan lamanya Thian Sin dan Kim Hong melakukan penyelidikan dan mencari jejak kaburnya Siluman Guha Tengkorak, ketua dari Jit-sian-kauw. Perkumpulan itu sendiri, yang merupakan gerombolan penjahat kejam, telah dapat dibasmi. Akan tetapi kalau kepalanya itu masih berkeliaran, maka dunia terancam bahaya besar. Di balik topeng tengkorak itu tersembunyi seorang manusia yang benar-benar berhati iblis, yang loba akan harta benda dan kedudukan, yang haus akan kesenangan cabul, dan terutama sekali amat berbahaya karena selain ilmu silatnya tinggi, juga pandai ilmu sihir. Maka, sudah bulat tekad dalam hati Thian Sin dan Kim Hong untuk mencari sampai ketemu dan membasmi Siluman Guha Tengkorak itu. Akan tetapi, siluman itu seperti telah menghilang ditelan bumi, sama sekali tidak meninggalkan jejak! Dan setelah menanti sebulan sambil menyelidiki dengan teliti, siluman itu tidak pernah terdengar beraksi. Namun, Pendekar Sadis dan kekasihnya itu adalah dua orang pendekar yang biarpun masih muda, telah memiliki pengalaman yang luas di dunia kang-ouw, terkenal pandai dan cerdik sekali sehingga tentu saja mereka tidak tinggal diam dan telah melakukan penyelidikan yang amat teliti, mengambil kesimpulan-kesimpulan dan pertimbangan-pertimbangan yang matang. Sementara itu, Im Yang Tosu telah menyuruh seorang muridnya untuk mengantarkan Cia Liong dan Cia Ling ke Kun-lun-pai dan bersama mereka, dibawakan pula bagian harta mereka untuk bekal kelak kalau mereka sudah dewasa. Dan pada suatu hari, kurang lebih sebulan semenjak gerombolan Siluman Guha Tengkorak ditumpas, Hong-kiam-pang mengadakan pesta. Karena Pendekar Sadis dan kekasihnya masih tinggal di sebuah hotel di Tai-goan, mereka berduapun menerima undangan. Pesta yang diadakan oleh Hong-kiam-pang itu selain untuk merayakan hari ulang tahun ketua Im Yang Tosu yang sudah genap berusia tujuh puluh tahun, juga untuk mengadakan sedikit perobahan dalam susunan pengurus perkumpulan itu. Im Yang Tosu sudah merasa terlalu tua untuk menjadi ketua Hong-kiam-pang dan kedudukannya sebagai ketua akan diserahkan kepada Bu Beng Tojin. Hal ini sebetulnya adalah wajar saja karena bukankan selama ini Bu Beng Tojin telah menjadi pembantu utama dari ketua itu? Akan tetapi, menurut desas-desus orang luaran, tentu akan terjadi perdebatan karena Hong-kiam-pang dianggap sebagai cabang dari Kun-lunpai, sedangkan Bu Beng Tojin sama sekali bukanlah murid Kun-lun-pai, walaupun hal ini bukan berarti bahwa dia asing akan ilmu silat dari Kun-lun-pai. Tokoh ini memang seorang ahli dalam berbagai macam ilmu silat, termasuk Kun-lun-pai dan karena inilah maka Im Yang Tosu percaya dan kagum kepadanya. Karena Hong-kiam-pang merupakan sebuah perkumpulan silat yang cukup ternama di daerah Tai-goan, maka dalam kesempatan itu, banyak juga jago-jago silat dan tokoh-tokoh kang-ouw yang datang berkunjung untuk menghaturkan selamat kepada Im Yang Tosu yang berulang tahun dan kepada Bu Beng Tojin yang diangkat menjadi ketua Hong-kiam-pang baru. Sejak pagi, berbondong-bondong para tamu mendatangi kuil Hong-kiam-pang itu dan mereka dipersilahkan duduk di pekarangan samping yang luas dari rumah perkumpulan yang ada kuilnya itu. Sebuah panggung yang tingginya hampir dua meter dan cukup luas dibangun, dan dua orang pimpinan Hong-kiam-pang sudah nampak duduk di atas kursi di panggung itu. Para anak buah Hong-kiam-pang yang gagah-gagah dan berpakaian serba baru menyambut para tamu, ada pula yang bertugas mengeluarkan arak dan melayani para tamu dengan sikap ramah, gagah dan cekatan. Thian Sin nampak datang sendirian dan dia disambut oleh murid kepala dan dibawa naik ke panggung melalui anak tangga, menghadap dua orang pimpinan Hong-kiam-pang. Pendekar ini memberi hormat dan memberi selamat kepada Im Yang Tosu dan berkata, “Semoga Im Yang totian diberkahi usia panjang oleh Thian dan selalu sehat lahir batin.” Im Yang Tosu mengucapkan terima kasih dan Bu Beng Tojin mengerutkan alisnya karena pendekar itu sama sekali tidak memberi selamat kepadanya. Walaupun secara resmi dia belum diangkat dan pengangkatan itu akan dilakukan nanti, namun tentu pendekar ini, seperti para tamu lain sudah mendengar akan pengangkatannya dan banyak yang sudah memberi selamat. Maka diapun diam saja hanya memandang kepada pendekar ini dengan alis berkerut. Thian Sin maklum pula akan sikap ini dan dia hanya tersenyum melihat tosu yang keras hati ini dan yang agaknya tak pernah dapat melenyapkan kebenciannya kepada dirinya. Dia lalu dipersilahkan duduk di bagian kursi kehormatan, yaitu belasan buah kursi yang berderet di tepi panggung. Di kursi kehormatan ini terdapat pula Thian To Sianjin, tokoh Kun-lun-pai yang mewakili perkumpulan itu menghadiri pesta yang diadakan oleh Hong-kiam-pang. Thian To Sianjin ini adalah seorang tosu Kun-lun-pai tingkat tiga dan usianya sudah enam puluh tahun lebih, sikapnya tenang dan ramah. Dia sudah mengenal baik kepada Thian Sin, maka begitu pemuda ini duduk di dekatnya, dia sudah menegur ketika pendekar itu memberi hormat. “Selamat bertemu, Ceng-taihiap. Kenapa taihiap hanya datang sendirian saja, dan mana Toanlihiap?” Hanya orang yang sudah kenal baik dan akrab sajalah yang berani menanyakan isteri atau kekasih seperti yang diucapkan oleh tokoh Kun-lun-pai kepada Thian Sin itu, Thian Sin tersenyum dan menjawab lirih. “Ia nanti tentu datang, locianpwe. Mungkin ada urusan sedikit yang membuatnya datang terlambat.” Thian Sin memang seorang pendekar yang berwatak halus dan pandai membawa diri sebagai seorang yang terpelajar. Terhadap para tokoh tua, dia tidak segan-segan untuk menyebutnya dengan sebutan locianpwe untuk mengangkat dan menghormati tokoh itu dan merendahkan diri sendiri, walaupun tingkat kepandaiannya tidak kalah oleh tokoh ini. Setelah waktu yang ditentukan tiba dan para tamu sudah memenuhi tempat itu, Im Yang Tosu lalu bangkit berdiri. Tosu tua ini masih memiliki suara yang nyaring ketika dia menghaturkan selamat datang dan terima kasih kepada para tamu yang telah memenuhi undangan Hong-kiampang dan mengucapkan selamat kepadanya yang telah berusia tujuh puluh tahun. Kemudian dia melanjutkan dengan pengumumannya yang ditunggu-tunggu oleh beberapa orang dengan hati berdebar. “Cu-wi yang terhormat, pinto telah berusia tujuh puluh tahun dan sudah tiba saatnya bagi pinto untuk mengundurkan diri dan hanya tekun bersamadhi. Akan tetapi Hong-kiam-pang yang dapat dibilang masih muda, harus hidup terus. Akan tetapi sebuah perkumpulan tak mungkin hidup tanpa pimpinan dan setelah pinto mengundurkan diri, maka pinto akan menyerahkan pimpinan Hong-kiam-pang kepada sute pinto, yaitu Bu Beng Tojin.” Tiba-tiba nampak kegelisahan di antara para murid Hong-kiam-pang. “Suhu…!” Im Yang Tosu menoleh dengan alis berkerut. Seorang laki-laki berusia empat puluh tahun yang bersikap gagah telah naik ke atas panggung, lalu memberi hormat kepada Im Yang Tosu. “Suhu, bukan sekali-kali teecu bermaksud kurang sopan dan membantah keputusan suhu. Akan tetapi teecu mewakili para murid suhu yang juga menjadi murid Kun-lun-pai, menyatakan suara hati kami.” Im Yang Tosu kelihatan tidak senang dan dia membentak, “Sui Lok, apa maksudmu mengganggu pernyataanku?” “Suhu, perkumpulan kita adalah cabang dari Kun-lun-pai dan suhu sendiri adalah seorang tokoh Kun-lun-pai sebagai pendiri Hong-kiam-pang. Kami tahu bahwa susiok Bu Beng Tojin memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan menjadi pembantu dan kepercayaan suhu. Akan tetapi, mengingat bahwa susiok Bu Beng Tojin bukanlah murid Kun-lun-pai, maka kami merasa berat untuk menerima beliau sebagai ketua…” “Sui Lok, apakah engkau menganggap bahwa kedudukan ketua itu sebaiknya dioperkan kepadamu saja?” Tiba-tiba Bu Beng Tojin yang sudah bangkit dan mendekati suhengnya dan memandang kepada murid keponakan itu dengan sinar mata marah. “Biarpun suheng merupakan tokoh Kun-lun-pai, akan tetapi Hong-kiam-pang adalah sebuah perkumpulan yang bebas dan terlepas dari induk perkumpulan manapun. Katakanlah bahwa Ilmu Hong-kiam-sut memiliki sumber dari Kun-lun-pai, akan tetapi ilmu itu terus diperkembangkan dan sama sekali bukan cabang dari Kun-lun-pai. Suheng telah memilihku, dan aku sendiri sudah bertahun-tahun mengurus Hong-kiam-pang. Seorang ketua haruslah anggauta perkumpulan dan hendak kulihat, siapakah di antara para anggauta Hong-kiam-pang yang lebih mahir Ilmu Pedang Hong-kiam-sut dari pada aku. Yang merasa lebih pandai, silakan maju!” “Tapi susiok…” Sui Lok yang mewakili saudara-saudara seperguruannya itu hendak membantah, akan tetapi Im Yang Tosu segera menengahi. “Sui Lok dan semua murid-muridku, hendaknya tidak ada yang membantah apa yang telah menjadi keputusanku. Ketahuilah bahwa dalam hal memperkembangkan ilmu pedang kita, sute Bu Beng Tojin telah banyak membantu dan memberi saran. Pinto sendiri, sebagai pencipta dan pendiri Hong-kiam-pang, belum tentu mampu menandinginya dalam hal ilmu pedang perkumpulan kita. Nah, siapa lagi yang lebih pantas memimpin Hong-kiam-pang kecuali dia? Tentang Kun-lun-pai, agaknya… memang benar pendapat sute. Tadinya kita menganggap perkumpulan kita sebagai cabang Kun-lun-pai hanya karena mengingat bahwa pinto adalah seorang murid Kun-lun-pai. Akan tetapi, mengingat betapa para anggauta dan murid Hong-kiampang terdiri dari bermacam aliran, maka tidak tepatlah kalau dikatakan bahwa Hong-kiam-pang adalah cabang Kun-lun-pai.” Mendengar betapa pendiri Hong-kiam-pang sendiri agaknya berkeras membela Bu Beng Tojin, para murid Hong-kiam-pang menjadi gelisah dan bingung, sedangkan Sui Lok sendiri lalu menoleh ke arah Thian Sin yang duduk di dekat Thian To Sinjin dan dia melihat pendekar itu masih tersenyum-senyum tenang saja. “Suhu, karena di sini terdapat supek Thian To Sinjin sebagai wakil Kun-lun-pai, biarlah teecu mohon petunjuk beliau saja!” akhirnya Sui Lok berkata dengan suara nyaring. Para tamu yang mendengar perbantahan itu tidak ada yang berani mencampuri, akan tetapi diam-diam mereka merasa tegang dan gembira karena dapat menduga bahwa di dalam pengangkatan ketua baru ini agaknya terdapat suatu kericuhan atau mungkin juga perebutan kekuasaan. Karena Sui Lok menyebut namanya, kini semua mata ditujukan kepada tokoh Kun-lun-pai itu. “Siancai…! Kami sebagai tamu sebetulnya tidak seharusnya mencampuri urusan dalam. Akan tetapi karena nama kami disebut, biarlah kami mengemukakan pendapat kami sebagai wakil Kun-lun-pai.” Kakek itu berkata lantang dengan sikap yang gagah. “Sebuah perkumpulan tentu saja ditentukan oleh pendirinya, dan karena Hong-kiam-pang didirikan oleh sute Im Yang Tosu, maka terserah kepadanya kalau hendak memisahkan perkumpulan ini dari Kun-lun-pai. Hanya kami peringatkan bahwa kalau tidak mau disebut sebagai cabang Kun-lun-pai, selanjutnya sama sekali tidak boleh menyebut-nyebut nama Kun-lun-pai dan segala sepak terjang para murid Hong-kiam-pang bukan lagi menjadi tanggung jawab Kun-lun-pai. Hanya itulah yang perlu pinto jelaskan.” Kakek itu lalu duduk kembali. Bu Beng Tojin dengan muka merah lalu berkata, suaranya lantang, “Baik sekali! Memang sejak dahulu tidak ada hubungan apa-apa antara Hong-kiam-pang dan Kun-lun-pai. Kami mempunyai anggaran dasar dan peraturan sendiri. Kami menerima murid-murid dari berbagai aliran, bukan hanya dari aliran Kun-lun-pai. Nah, sebagai seorang ketua baru, sejak detik ini pinto menyatakan bahwa Hong-kiam-pang bukan cabang Kun-lun-pai dan segala sepak terjang Hong-kiam-pang tidak ada sangkut pautnya dengan Kun-lun-pai!” “Bu Beng Tojin, perlahan dulu!” Tiba-tiba terdengar suara yang lebih nyaring lagi, membuat semua orang memandang dan ternyata Thian Sin telah berdiri di depan Bu Beng Tojin dan Im Yang Tosu, di atas panggung. Melihat majunya pendekar ini, Sui Lok lalu cepat mengundurkan diri dan bercampur dengan saudara-saudaranya. Semua orang menjadi semakin tegang dan gembira. Urusan menjadi makin terbelit dan banyak pihak yang tersangkut, apalagi mereka yang mengenal pemuda gagah itu sebagai Pendekar Sadis, menjadi bertanya-tanya di dalam hati apa hubungan Pendekar Sadis dengan pengangkatan ketua Hong-kiam-pang itu. “Pendekar Sadis! Engkau yang banyak dibenci karena kekejaman dan sepak terjangmu, ada urusan apa engkau sebagai orang luar hendak mencampuri urusan dalam Hong-kiam-pang kami?” Bu Beng Tojin membentak dengan mata melotot marah. “Memang banyak yang membenciku, Bu Beng Tojin, akan tetapi yang membenciku adalah para penjahat karena aku selalu menentang kejahatan. Dan apa urusanku, kaudengarkan saja.” Thian Sin lalu menghadapi Im Yang Tosu, sepasang matanya mencorong dan suaranya mengandung getaran kuat sekali. “Im Yang totiang, sadarlah dan ingatlah baik-baik, sudah sepenuh hatimukah maka totiang mengangkat Bu Beng Tojin sebagai penggantimu, menjadi ketua baru Hong-kiampang? Ingat baik-baik dan sadarlah!” Semua orang terkejut melihat kekasaran Thian Sin dan melihat betapa kakek tua itu terbelalak dan mukanya berobah pucat. “Apa…? Pengangkatan ketua baru? Ah, tentu saja… hal it tergantung kepada pemilihan para anggauta…” “Suheng! Bukankah suheng telah mengangkatku sebagai ketua baru? Aku, Bu Beng Tojin, yang suheng tetapkan untuk menjadi ketua baru menggantikan suheng!” Juga dalam suara Bu Beng Tojin ini terkandung kekuatan yang hebat. Wajah Im Yang Tosu nampak semakin pucat dan napasnya terengah-engah. “Ah, ya… itu benar, sute Bu Beng Tojin yang akan menjadi ketua… tapi… tapi tergantung kepada para anggauta…” Kakek itu menjadi bimbang ragu. “Suheng…!” bentak Bu Beng Tojin. “Im Yang totiang!” Thian Sin juga berseru. Im Yang Tosu kelihatan semakin bingung dan pucat, bahkan tubuhnya terguncang dan tergetar, seperti orang yang terserang demam. Pada saat itu nampak Thian To Sinjin dari Kun-lun-pai bangkit dari kursinya, menghampiri ketua Hong-kiam-pang itu dan menuntun tangannya. “Sute, engkau lelah, sebaiknya mengaso dulu.” Dan diapun menarik sutenya itu kembali ke tempat duduknya. Anehnya, Im Yang Tosu kelihatan menurut saja seperti seorang anak kecil! Tidak ada yang tahu bahwa tadi ketua Hong-kiam-pang ini tertarik ke sana-sini di antara dua orang yang menggunakan kekuatan sihir, yang seorang hendak mempengaruhinya dan yang seorang hendak membebaskannya. Hanya Thian To Sinjin saja yang agaknya dapat menduga akan hal itu maka dia cepat menariknya kembali untuk duduk dan beristirahat. “Ha-ha-ha, sebaiknya begitu. Beristirahatlah dengan tenang, Im Yang totiang dan biarkan aku membereskan persoalan ini!” kata Thian Sin. “Pendekar Sadis! Engkau sebagai orang luar, sungguh tidak patut sekali mencampuri urusan dalam dari Hong-kiam-pang! Engkau telah melanggar aturan sopan santun di dunia persilatan!” Bu Beng Tojin berteriak marah. “Bu Beng Tojin, aku memang bukan anggauta Hong-kiam-pang, akan tetapi aku adalah sahabat baik Hong-kiam-pang yang tidak rela melihat Hong-kiam-pang diselewengkan.” “Mulut busuk! Apa maksudmu?” bentak Bu Beng Tojin. Akan tetapi Thian Sin tidak menjawab bentakan ini melainkan menghadapi para tamu dan juga pihak tuan rumah. “Cu-wi yang mulia, para anggauta Hong-kiam-pang yang tercinta! Kita semua tahu bahwa Hong-kiam-pang adalah perkumpulan orang-orang gagah, para pendekar yang menentang kejahatan. Oleh karena itu, tidak sepatutnya kalau sebuah perkumpulan orang gagah diketuai oleh seorang penjahat besar seperti Bu Beng Tojin ini!” Ucapan ini sungguh hebat bukan main. Bukan hanya semua tamu yang terbelalak, bahkan para anggauta Hong-kiam-pang menjadi pucat wajahnya dan juga Im Yang Tosu sendiri yang pada saat itu telah tenang kembali, bangkit dari tempat duduknya. “Ceng-taihiap, apa maksudmu dengan ucapan itu?” tanyanya nyaring, agaknya penasaran mendengar pembantunya disebut penjahat besar! Melihat sikap suhengnya, pada murid Hong-kiam-pang dan para tamu yang agaknya berpihak kepadanya, walaupun dia sendiri menjadi pucat, Bu Beng Tojin lalu tertawa, “Ha-ha, sudah nampak belangnya Pendekar Sadis sekarang, menuduh dan memfitnah membuta tuli. Siapa bilang bahwa aku Bu Beng Tojin yang selama ini dengan jujur memimpin Hong-kiam-pang menjadi penjahat besar?” Akan tetapi, Thian Sin tidak terpengaruh oleh ucapan itu dan dia masih memandang kepada semua yang hadir. “Cu-wi yang mulia, juga Im Yang totiang yang terhormat, biarlah aku memperkenalkan.” Dia lalu menudingkan telunjuknya ke arah muka Bu Beng Tojin. “Inilah dia orang yang menyebut dirinya Sian-su, inilah dia Siluman Guha Tengkorak yang telah memimpin gerombolan penjahat kejam yang kita telah basmi!” Ucapan ini lebih mengejutkan lagi. “Ceng-taihiap, harap jangan menuduh sembarangan saja!” Im Yang Tosu bahkan berteriak marah. Bu Beng Tojin sendiri tadi menjadi pucat sekali wajahnya, akan tetapi dia mengambil sikap tenang, bahkan tersenyum lebar. “Ah, sungguh tuduhan yang menggelikan sekali! Pinto sendiri yang membantu pembasmian gerombolan itu, bagaimana engkau dapat menuduh demikian, apakah engkau sudah menjadi gila?” “Ceng-taihiap, buktikan kebenaran tuduhanmu itu!” Im Yang Tosu yang sudah bangkit berdiri itupun menuntut. Tuduhan itu amat hebat baginya. Kalau tuduhan itu tidak benar, berarti Pendekar Sadis sudah menghina Hong-kiam-pang. Dan kalau benar, hal itu tentu merupakan tamparan yang memalukan sekali bagi Hong-kiam-pang! “Baik, akan kucoba kubuktikan walaupun hal itu tidak mudah karena Siluman Guha Tengkorak memang seorang penjahat yang amat keji, licik, curang, lihai ilmu silatnya dan juga lihai ilmu sihirnya. Cu-wi yang mulia, ketika pertama kali aku berkenalan dengan kejahatan siluman ini, aku melihat mendiang saudara Kwee Siu sekarat oleh luka-lukanya ketika bertanding melawan siluman ini. Dan ucapan terakhir yang keluar dari mulutnya adalah sebutan “susiok”. Tadinya aku tidak mengerti apa dan siapa yang dimaksudkan sampai akhirnya aku mendapat kenyataan bahwa dia hanya mempunyai seorang saja susiok di dunia ini dan susioknya adalah Bu Beng Tojin. Tentu dia mengenal orang bertopeng tengkorak yang membunuhnya, mengenal gerakan silatnya maka dia meninggalkan sebutan susiok itu yang sayang pada waktu itu belum kuketahui artinya.” “Huh, tuduhan kosong! Bisa jadi Kwee Siu menyebut namaku karena hendak minta tolong dan ingat kepadaku!” Bu Beng Tojin mencela dan semua orang juga menganggap bahwa alasan itu terlalu lemah untuk menjadi bukti kebenaran tuduhannya bahwa Bu Beng Tojin adalah Siluman Guha Tengkorak. “Masih ada bukti lain,” kata pula Thian Sin. “Ketika aku tertawan oleh Siluman Guha Tengkorak dalam keadaan pingsan terbius, tahu-tahu aku tertawan oleh orang-orang Hong-kiam-pang dan menurut keterangannya, yang menangkap aku dalam pakaian siluman itu adalah Bu Beng Tojin. Hal ini jelas menunjukkan bahwa dia adalah Siluman Guha Tengkorak itu sendiri karena kalau aku berada dalam keadaan pingsan, bagaimana dari tangan siluman itu aku dapat pindah ke tangan Bu Beng Tojin? Sebaliknya, kalau aku sadar seperti yang dikatakannya kepada muridmurid Hong-kiam-pang, agaknya tidak akan begitu mudah baginya untuk dapat menawanku! Hal itu dapat dibuktikan sendiri!” “Huh, alasan dan bukti apa itu? Pendekar Sadis, semua anggauta Hong-kiam-pang sudah menyaksikan bahwa engkau memakai jubah dan topeng tengkorak. Tentu engkaulah Siluman Guha Tengkorak itu, dan setelah rahasiamu ketahuan, engkau lalu berpura-pura dan membalik untuk membersihkan diri. Cih, sungguh tak tahu malu!” Bu Beng Tojin sudah mencabut pedangnya dan hendak menyerang Thian Sin, akan tetapi pada saat itu, Im Yang Tosu melangkah maju dan mencegahnya. “Sabar dulu, sute.” Lalu kakek ini menghadapi Thian Sin. “Ceng-taihiap, sungguh pinto bingung dan tidak mengerti permainan apa yang taihiap mainkan saat ini. Akan tetapi harus pinto akui bahwa semua alasan yang taihiap ajukan tadi tidak cukup kuat untuk membuktikan kebenaran tuduhan taihiap yang amat berat itu. Tidak mungkin kami menerima begitu saja keterangan sepihak tanpa bukti yang mutlak atau tanpa adanya saksi yang membenarkan keterangan taihiap tadi.” “Saksi-saksi? Ah, totiang benar juga. Memang ada saksi yang kuat!” Thian Sin berkata. “Inilah saksi-saksinya!” Tiba-tiba terdengar suara merdu melengking dan semua orang menengok. Kiranya di sudut panggung itu telah berdiri seorang gadis yang cantik jelita dan gagah. Kim Hong tersenyum manis kepada Bu Beng Tojin. Tosu ini mendengus. “Huh, saksi macam apa ini? Perempuan ini adalah Toan Kim Hong, kekasih dari Pendekar Sadis, tentu saja omongannya akan senada dengan pacarnya. Siapa bisa percaya saksi macam ini?” Suaranya penuh tantangan dan sikapnya mencemooh. “Siluman Guha Tengkorak, jangan tekebur dulu. Lihat siapa mereka ini!” Kim Hong menggapai ke belakangnya dan dari anak tangga di belakang panggung muncullah tiga orang gadis yang cantik dan yang memandang ke arah Bu Beng Tojin dengan mata penuh kebencian. Melihat Thio Siang Ci, bekas kekasihnya, pengantin yang diculiknya dan dipaksanya menjadi kekasihnya itu, bersama dua orang gadis lain yang juga termasuk dayang-dayang yang disukainya, wajah Bu Beng Tojin menjadi pucat. Akan tetapi dia masih sempat mengejek dan mencemooh. “Siapa perempuan-perempuan itu? Pinto tidak mengenal segala macam pelacur!” “Siang Ci, Siok Lan dan Kim Tui, coba katakan, siapa pendeta itu?” Kim Hong bertanya kepada tiga orang gadis itu dengan suara halus. Thio Siang Ci yang lebih dulu menjawab, telunjuk tangan kirinya yang gemetar menuding ke arah Bu Beng Tojin dan terdengar suaranya agak gemetar akan tetapi mantep. “Dialah Sian-su yang menculikku itu!” “Benar, dia itu Sian-su ketua Jit-sian-kauw!” kata Siok Lan, gadis ke dua. “Aku berani sumpah, dialah Sian-su!” kata Kim Tui pula. “Bohong! Fitnah gila! Apa buktinya?” Bu Beng Tojin berteriak marah. “Apakah kalian bertiga dapat mengatakan buktinya dan tandanya bahwa dia itu Sian-su?” Kim Hong bertanya pula. “Di dadanya terdapat daging tumbuh sebesar telur ayam yang berambut panjang!” kata Siang Ci lalu menundukkan muka dan air matanya mengalir karena ia merasa malu sekali. “Ada ukiran ular melingkari pinggangnya,” kata pula Siok Lan yang juga menunduk malu. “Di kedua pahanya ada gambar tengkorak,” Kim Tui menyambung. “Fitnah keji! Bohong! Pelacur-pelacur yang harus mampus!” Tiba-tiba Bu Beng Tojin menggerakkan kedua tangannya dan ada empat sinar terang menyambar ke arah Kim Hong dan tiga orang gadis itu. Akan tetapi dengan gerakan lincah dan tenang, Kim Hong dapat menyambut empat buah hui-to (pisau terbang) itu dengan kedua tangannya, memandang ke arah pisau-pisau itu sambil tersenyum lalu melemparkan sebatang kepada Im Yang Tosu. “Totiang, bukankah pisau terbang yang pernah melukai totiang itu seperti ini dan begitu pula cara melemparnya?” tanya Kim Hong manis. “Kalau fitnah keji, mengapa mencak-mencak? Tunjukkan saja bahwa semua keterangan itu bohong dengan memperlihatkan bagian tubuhmu yang disebut-sebut tadi, Sian-su!” kata Thian Sin mengejek. Im Yang Tosu menerima pisau yang dilemparkan oleh Kim Hong, memandangnya sejenak, kemudian dengan alis berkerut dan muka pucat dia membanting pisau itu ke atas lantai sampai pisau itu amblas lenyap menembus papan lantai panggung. Lalu dia menghampiri Bu Beng Tojin, memandang dengan muka pucat. “Sute, pinto tahu bahwa engkau pandai menggunakan segala senjata, juga pisau itu. Pinto sendiri masih belum percaya akan semua tuduhan itu. Karena itu, sute, buktikanlah bahwa tuduhan semua itu palsu dan bohong. Buka bajumu dan perlihatkan dada dan pinggangmu!” “Gila! Suheng, apakah suheng membiarkan orang menghinaku sampai seperti ini?” “Sute, baru namanya penghinaan kalau tuduhan itu tidak terbukti dan percayalah, pinto tidak akan tinggal diam melihat engkau dihina orang. Maka, bukalah bajumu.” “Tidak, suheng. Aku tidak sudi dihina! Orang-orang harus percaya kepadaku!” “Sute, kalau engkau tidak mau, terpaksa aku sendiri yang akan membukakan bajumu.” Dengan halus ketua Hong-kiam-pang itu lalu melangkah maju dan meraba kancing baju sutenya untuk dibuka. Dia memang masih belum percaya akan semua tuduhan tadi, bahkan mengharapkan sutenya bersih agar nama Hong-kiam-pang juga ikut bersih. Bayangkan saja kalau tuduhan itu benar, berarti selama bertahun-tahun ini dia mempercaya seorang penjahat, dan namanya, juga nama Hong-kiam-pang, akan berlumur lumpur kehinaan. “Awas, totiang…!” Thian Sin memperingatkan, akan tetapi sudah terlambat. Pada saat Im Yang Tosu menggunakan kedua tangannya untuk membuka kancing baju sutenya, tiba-tiba Bu Beng Tojin menggerakkan tangannya menghantam ke arah leher suhengnya itu. Im Yang Tosu hanya dapat miringkan tubuhnya. “Desss…!” Pukulan itu mengenai pundak kiri dan tubuh kakek itu terjengkang, mulutnya menyemburkan darah segar dan tubuhnya terkulai. “Hemmm, siluman jahat!” bentak Thian To Sinjin tokoh Kun-lun-pai yang cepat meloncat ke depan menyerang Bu Beng Tojin. Sementara itu, para murid Hong-kiam-pang cepat mengangkat tubuh suhu mereka yang pingsan ke belakang panggung. Terjadilah perkelahian yang seru antara Thian To Sinjin dan Bu Beng Tojin.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: