Siluman Goa Tengkorak (Jilid ke-11) Tamat

Pukulan mereka mengandung angin yang amat kuat sehingga terdengar suara bercuitan dan angin menyambarnyambar sedangkan panggung di mana mereka bertanding itu berderak-derak dan terguncang. Semua tamu menjadi panik, akan tetapi karena mereka itu sebagian besar adalah ahli-ahli silat, mereka masih tetap di tempat sambil menonton perkelahian hebat di atas panggung itu. Bu Beng Tojin ternyata memang hebat sekali. Tokoh tingkat tiga dari Kun-lun-pai itu adalah orang yang berilmu tinggi, akan tetapi menghadapi Bu Beng Tojin, dia mulai terdesak. Setiap kali lengan mereka bertemu, Bu Beng Tojin membentak dan bentakan ini menambah tenaga pada lengannnya. Thian To Sinjin merasa lengannya tergetar dan juga jantungnya terguncang oleh bentakan lawan.

Hanya dengan ilmu silat sakti dari Kun-lun-pai dia dapat bertahan sampai tiga puluh jurus, akan tetapi karena dia terus terdesak, tiba-tiba kakek ini menyambar tongkatnya yang tadi dia tancapkan di atas lantai. Dengan tongkat itu Thian To Sinjin menghadapi Bu Beng Tojin! Akan tetapi, Bu Beng Tojin mencabut pedangnya dan perkelahian dilanjutkan dengan lebih seru lagi karena keduanya mempergunakan senjata dan setiap serangan merupakan serangan maut yang dahsyat. Akan tetapi, kembali Thian To Sinjin terdesak dan kini para murid Hongkiam-pang yang menjadi marah melihat suhu mereka terpukul, sudah naik ke atas panggung dan melakukan pengeroyokan. Mereka belum yakin benar bahwa susiok mereka itu adalah Siluman Guha Tengkorak, akan tetapi melihat susiok mereka memukul suhu mereka secara keji, mereka menjadi marah dan mengeroyok. Akan tetapi, Bu Beng Tojin mengamuk dan tendangan kakinya merobohkan empat orang murid keponakan. Melihat ini, tiba-tiba Thian Sin meloncat ke depan. “Saudara-saudara sekalian, locianpwe Thian To Sinjin, silahkan mundur. Dia ini adalah makananku!” Thian To Sinjin maklum bahwa dia tidak akan mudah menang melawan tosu siluman itu, dan dia tahu akan kelihaian Pendekar Sadis, maka diapun meloncat mundur diikuti oleh para murid Hong-kiam-pang. Kini Thian Sin berdiri berhadapan dengan Bu Beng Tojin yang memegang pedang. Tosu itu memandang dengan mata beringas sedangkan Thian Sin tersenyum-senyum saja. “Nah, Sian-su, sekarang Pendekar Sadis berhadapan satu lawan satu dengan Siluman Guha Tengkorak! Betapapun, aku akan membalas budimu kemarin dulu, yaitu aku tidak akan membunuhmu, hanya akan melucuti kedokmu dan menyerahkanmu kepada Hong-kiam-pang!” “Keparat jahanam engkau!” bentak tosu itu dan pedangnya sudah membabat dahsyat. Namun dengan cekatan sekali Thian Sin mengelak sambil balas memukul dengan tangan kiri yang juga dapat dielakkan oleh lawannya yang tangguh. Terjadilah perkelahian yang amat hebat, pedang melawan tangan kosong dan gerakan mereka sedemikian cepatnya sehingga dua bayangan tubuh itu seperti saling libat menjadi satu, sukar diikuti pandang mata. Para penonton memandang kagum dan juga pandang mata mereka menjadi kabur. Gulungan sinar pedang di tangan Bu Beng Tojin telah menggulung tubuh keduanya dan hanya kadang-kadang nampak pedang, kepalan tangan atau ujung sepatu mencuat dengan dahsyatnya. Semua orang, kecuali Kim Hong, menonton dengan jantung berdebar tegang. Kim Hong berdiri dan bertolak pinggang dengan sikap tenang, bahkan bibirnya tersenyum karena ia tahu pula bahwa kekasihnya itu tidak akan kalah. Terdengar lagi bentakan-bentakan aneh dari Bu Beng Tojin yang menggetarkan jantung mereka yang mendengarnya, akan tetapi Thian Sin tidak terpengaruh sama sekali, bahkan terdengar dia mengejek, “Ha-ha, keluarkan semua ilmu silumanmu, Sian-su!” Ada lima puluh jurus mereka berdua lenyap terbungkus sinar pedang dan tiba-tiba terdengar Thian Sin mengeluarkan suara bentakan yang melengking nyaring dan membuat semua orang memandang pucat karena bentakan Pendekar Sadis itu sungguh kuat sekali seperti membetot jantung. Teriakan ini disusul dengan teriakan Bu Beng Tojin, teriakan kaget dan pedangnya terlempar ke atas lantai menjadi dua potong! Kiranya pedang itu telah dihantam oleh tangan miring Thian Sin yang mengandung penuh tenaga Thian-te Sin-ciang! Akan tetapi, Bu Beng Tojin masih terus mengamuk dengan tangan kosong dan memang kakek ini memiliki kepandaian yang tangguh. Bagaimanapun juga, setelah dia bertangan kosong, nampak bahwa dia bukan lawan yang terlalu berat bagi Pendekar Sadis. Dia seperti dipermainkan saja, kadang-kadang pendekar itu mendorongnya dari samping sampai dia terhuyung, lalu menjegal kakinya sehingga dia hampir jatuh dibarengi suara ketawa-ketawa Thian Sin yang mengejeknya. “Brettt…!” Tiba-tiba jubah Bu Beng Tojin terkoyak lebar dan robekannya berada dalam cengkeraman tangan Thian Sin. “Sian-su, perlihatkan kutil di dadamu!” Thian Sin mengejek dan semua orang memandang dengan mata terbelalak, ingin sekali melihat apakah benar ada tanda-tanda seperti yang disebut oleh tiga orang gadis tadi pada tubuh yang masih tertutup baju dalam itu. Tentu saja Bu Beng Tojin menjadi marah. Matanya menjadi merah dan melotot dan gerakannya semakin liar. “Brettt…!” Kini baju dalamnya terobek dan terdengar semua orang mengeluarkan seruan tertahan melihat bahwa di dada kakek itu, di antara kedua buah dadanya, terdapat tonjolan daging sebesar telur ayam dan di tempat itu ditumbuhi belasan helai rambut! Dan di seputar pinggangnya yang agak gendut itu terdapat lukisan seekor ular yang melilit pinggangnya, dengan kepala di perut. Dengan wajah beringas tosu siluman itu melihat ke arah dada dan perutnya dan wajahnya berobah pucat. Terdengar suara ketawa di sana-sini dan semua murid Hong-kiampang memandang dengan mata melotot “Celaka… celaka…!” Im Yang Tosu yang sudah siuman dan juga melihat kenyataan ini menjadi pucat pula dan terkulai, pingsan! “Ha-ha-ha, kiranya memang benar engkau adalah Siluman Guha Tengkorak! Nah, aku berani bertaruh potong leher bahwa di kedua pahamu tentu ada gambar tengkoraknya!” kata Thian Sin. Bu Beng Tojin atau Siluman Guha Tengkorak itu tidak melihat jalan lain, seperti seekor harimau yang tersudut, diapun menubruk lagi sambil menggeram, persis seekor harimau marah. “Desss…!” Tubuhnya disambut tamparan Thian Sin yang mengenai lehernya. Kakek itu terpelanting dan kepalanya terasa pening, akan tetapi dia tidak tewas karena memang Pendekar Sadis tidak ingin membunuhnya, melainkan hendak menyerahkannya kepada Hong-kiam-pang. Tosu siluman itu bangkit dan menerjang lagi. “Bresss…!” Kini sepatu kaki Thian Sin menyambutnya dan kembali dia terjengkang dan ketika dia bangkit, mulutnya berdarah dan bibirnya pecah. “Thian Sin, jangan habiskan sendiri, beri aku sedikit!” Tiba-tiba Kim Hong berseru dan tubuhnya berkelebat, tahu-tahu gadis manis itu telah berada di samping Thian Sin. Thian Sin tersenyum dan menggelengkan kepala, akan tetapi Kim Hong mendorong dadanya sehingga pemuda itu terpaksa terlompat ke belakang, hampir jatuh dari panggung. Hal ini memang disengaja dan para tamu tertawa gembira menyaksikan kelakar dua orang itu. Melihat majunya Kim Hong, Bu Beng Tojinn menjadi nekat. Ada sedikit harapan dalam benaknya. Tadi menghadapi Pendekar Sadis, dia tidak berdaya. Akan tetapi dia mempunyai harapan untuk mengalahkan gadis ini, kalau tidak dengan ilmu silat, dengan ilmu sihir. Kalau dia dapat menundukkan, dia akan selamat, pikirnya. Dia akan menggunakan gadis ini sebagai tawanan, sebagai sandera agar dia dapat melarikan diri! Maka be-gitu pening kepalanya hilang, dia sudah menubruk ke depan, menggunakan kedua lengannya yang panjang untuk merangkul. Semua orang terkejut me-lihat ini, apa lagi karena Kim Hong bersikap tenang saja. Akan tetapi, sebelum tangan it

u menyentuhnya, tanpa menggerakkan tubuh, gadis itu menggerakkan kepalanya dan sinar hitam menyam-bar ke depan ketika gelungnya terlepas dan ram-butnya yang panjang menyambar bagaikan cambuk baja. “Plakkk!” Rambut panjang harum itu bagaikan cambuk baja melecut muka Bu Beng Tojin. “Aduhhh…!” Tosu itu mengeluh dan matanya terpejam, pipinya berdarah seperti digaris dengan ujung pedang saja. Akan tetapi, Kim Hong tidak mau memberi kesempatan lagi padanya. Gadis ini sudah melangkah maju dan kembali rambutnya menyambar-nyambar, melecut-lecut muka, leher dan tubuh atas yang telanjang itu sampai semua kulit itu nampak pecah-pecah dan merahmerah mengeluarkan darah. Sungguh hebat dan mengerikan sekali rambut yang dipergunakan sebagai senjata ini, seperti pedang saja. Bu Beng Tojin menutupi mukanya dari ancaman rambut, dan tubuhnya menjadi bulan-bulanan kedua kaki Kim Hong. Akhirnya, kakek itu terhuyunghuyung dan tidak kuat berdiri lagi. “Kim Hong, jangan bunuh dia! Serahkan kepada Hong-kiam-pang!” teriak Thian Sin. Kim Hong tersenym lalu untuk akhir kalinya kaki kirinya menendang dan tubuh tosu siluman itu terlempar dan jatuh berdebuk di atas lantai di depan kedua kaki Im Yang Tosu yang duduk di atas kursinya dengan muka pucat. Melihat orang yang pernah menjadi sutenya dan pembantunya ini rebah terlentang di depannya dengan tubuh berdarah-darah dan napat empas-empis, Im Yang Tosu lalu membungkuk, tangan kanan kakek itu mencengkeram ke arah celana sutenya. “Breettt…!” Celana itu terobek dan nampaklah gambar dua tengkorak pada kedua paha itu. “Keparat, engkau Siluman Guha Tengkorak…!” teriak Im Yang Tosu dengan suara parau, tangannya menyambar pedang dan sekali pedang bergerak, dia telah menusukkan pedang itu dengan pengerah-an tonaganya ke dalam dada Bu Beng Tojin. Tubuh itu berkelojot, akan tetapi Im Yang Tosu juga roboh terguling dan ternyata kakek ini juga telah menghembuskan napas terakhir. Dia tadi menderita luka pukulan yang hebat dan pengerahan tenaganya ketika menusuk tadi membuat dia tidak kuat bertahan dan nyawanyapun melayang, hal yang sesungguhnya meringankan penderitaan batin-nya karena kakek ini tentu akan merasa malu dan menyesal sekali kalau dia dalam keadaan hidup melihat kenyataan pahit bahwa pembantunya adalah seorang penjahat keji. Para murid Hong-kiam-pang yang sudah marah itu demikian berduka melihat suhu mereka tewas dan puluhan batang pedang mencacah hancur tubuh Bu Beng Tojin! Sementara itu, Thian Sin mendekati Kim Hong dan mereka berdua saling pandang dan saling tersenyum puas. Berhasil baiklah usaha mereka menentang Siluman Guha Tengkorak, sungguhpun dalam usaha itu berkali-kali mereka nyaris celaka, bahkan nyaris tewas. Mereka lalu menghadap ke arah semua orang di situ dan membungkuk. Thian Sin berkata lantang, “Cu-wi yang terhormat, kami mohon diri karena kami telah menyelesaikan tugas kami!” Mereka bergandeng tangan dengan mesra, lalu bersama-sama meninggalkan tempat itu, diikuti pandang mata kagum oleh semua orang. Sampai di sini, pengarangpun mohon diri dari para pembaca dengan harapan semoga dapat segera berjumpa kembali dalam cerita serial Pendekar Sadis atau dalam cerita-cerita karangan lain. TAMAT Lereng Lawu, tengah Desember 1977

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: