Siluman Goa Tengkorak (Jilid ke-6)

Secara resmi, agama ini mengadakan pelajaran-pelajaran agama yang diambil dari Agama Buddha Hinayana dan Agama To, dicampur dengan unsur dari agama kuno seperti Im-yangkauw dan lain-lain yang menjurus kepada pelajaran kebatinan yang mengejar hal-hal gaib. Di antara tujuh dewa yang dipuja oleh Jit-sian-kauw (Agama Tujuh Dewa) itu yang terutama sekali dan menjadi pusat dari pemujaan mereka adalah Dewa Kematian. Di bawah pimpinan Sian-su, para anggauta dituntun untuk memuja dewa ini yang dianggap dapat memberi usia panjang dan dapat mengatur nasib mereka kelak setelah mereka mati. Pemimpin yang disebut Sian-su itu adalah seorang yang selalu bersembunyi di balik topeng tengkorak sehingga belum pernah ada yang melihat atau mengenal wajah aselinya. Akan tetapi semua anggauta dan pengikut amat hormat dan taat kepadanya karena memang orang ini memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, bukan hanya dalam ilmu silat akan tetapi juga ilmu gaib. Sian-su ini dikabarkan memiliki kepandaian seperti dewa, dapat menghilang, dapat mendatangkan tujuh dewa yang dipuja-puja itu.

Bukan itu saja, bahkan dalam upacara-upacara diadakan pesta yang oleh Sian-su dinamakan pesta pembebasan nafsu badaniah! Di dalam pesta seperti ini, mereka membiarkan diri hanyut dalam seretan gelombang nafsu berahi yang melanda mereka di mana mereka boleh melampiaskan nafsu berahi mereka sepuasnya dengan siapapun juga asal tidak ada unsur pemaksaan. Menurut ajaran Sian-su itu, nafsu itu akan meliar dan kalau diberi penyaluran sewajarnya tanpa ada perbuatan paksa, akhirnya nafsu itu akan habis sendiri kekuatannya dan tidak lagi mencengkeram jasmani kita sehingga jasmani kita cukup memenuhi syarat untuk menjadi jasmani yang bersih dan dihuni oleh jiwa yang bersih pula dan yang kelak akan diterima menjadi kesayangan Dewa Kematian. Tentu saja pelajaran yang diberikan ini merupakan pelajaran palsu yang amat berbahaya dan sama sekali tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Yang jelas dapat dinyatakan adalah bahwa nafsu keinginan dalam bentuk apapun juga timbul dari pada si aku yang ingin senang, dan nafsu ini bersifat seperti api yang apabila diberi hati, apabila dituruti akan seperti api yang diberi bahan bakar. Makin banyak diberi bahan bakar, makin bernyala dan makin menjadi, makin membesar dan tidak akan padam lagi. Mengendalikan nafsupun tidak akan ada gunanya. Mematikan nafsu dengan kekerasan kemauanpun percuma karena yang mematikan dengan kekerasan itu adalah kemauan si aku pula yang ingin senang, yang menganggap bahwa kalau dapat mematikan nafsu itu akan lebih senang dari pada kalau dikuasai nafsu. Sering kali terjadi konflik dalam batin sendiri. Di satu pihak keinginan atau nafsu itu timbul, di lain pihak keinginan untuk mematikanpun timbul. Konflik ini merupakan api dalam sekam yang nampaknya saja padam, namun sesungguhnya masih membara dan sewaktu-waktu akan dapat berkobar lagi kalau penutupnya kurang kuat atau terbuka. Nafsu itu sendiri merupakan enersi yang hebat. Nafsu itu sendiri amat penting bagi kehidupan. Hanya cara penggunaannya yang menentukan apakah ia merusak ataukah mendatangkan manfaat. Dan cara yang baik dan benar ini timbul dengan sendiri melalui kewaspadaan dan kesadaran dari pengamatan diri pribadi. Pengamatan diri pribadi akan menimbulkan kebijaksanaan dan dengan sendirinya timbul ketertiban yang tidak diatur lagi oleh si aku yang ingin senang. Pengamatan diri pibadi ini dapat terjadi setiap saat, yang berarti ada perhatian dan waspada sepenuhnya terhadap gerak-gerik kita, baik gerak-gerik hati, pikiran, kata-kata maupun perbuatan. Bukan mengamati sambil menilai karena penilaian itu juga merupakan hasil pekerjaan si aku! Jadi, kita harus sungguh-sungguh waspada akan segala kepalsuan yang terjadi setiap saat, bukan hanya kepalsuan yang terjadi di luar diri, melainkan terutama sekali kepalsuankepalsuan yang terjadi di dalam batin kita sendiri. Dengan umpan kesenangan dalam pemuasan nafsu berahi ini, Sian-su berhasil menarik minat banyak orang untuk menjadi pengikut perkumpulan agamanya. Tentu saja diapun memilih-milih orang, terutama sekali dipilih orang-orang yang berkedudukan, yaitu para bangsawan, hartawan, dan juga orang-orang yang memiliki ilmu silat atau yang menamakan diri mereka pendekarpendekar. Dan kerena sifat dari pesta-pesta agama ini, para pengikut itu sendiri merahasiakannya dari orang luar karena bagaimanapun juga, setiap orang manusia itu mempunyai naluri akan penyelewengannya sendiri dan merasa malu kalau penyelewengannya diketahui orang. Demi kesenangan yang telah mencandu, mereka itu dengan sendirinya memerangi perasaan salah ini dengan berbagai alasan pelajaran keagamaan seperti yang diajarkan oleh Sian-su. Hanya pada hari-hari tertentu saja mereka berdatangan ke tempat itu, dan hanya para anggauta inilah yang tahu jalannya, malalui jalan rahasia yang hanya terbuka untuk mereka, yaitu tempat pemujaan di tengah-tengah pegunungan yang tidak nampak dari luar dan hanya dapat dicapai malalui jalan terowongan rahasia itu. Sudah lebih dari dua tahun perkumpulan agama itu bersarang di situ, akan tetapi tidak ada yang mengetahuinya kecuali para anggauta atau pengikut. Para pengikut ini telah banyak menyerahkan uang sumbangan kepada perkumpulan, akan tetapi mereka tahu pula bahwa uang itu dipergunakan untuk memajukan perkumpulan dan terutama sekali untuk menyenangkan mereka. Pesta-pesta itu, dengan hidangan-hidangan yang lezat, membutuhkan uang. Juga untuk memelihara para anggauta atau murid-murid wanita yang cantik-cantik, muda dan pandai menari itupun membutuhkan uang. Apa lagi untuk membangun “istana” mereka yang berada di puncak bukit tersembunyi itu, membuat pondok-pondok untuk tujuh dewa, semua membutuhkan uang yang amat banyak. Karena itu mereka tidak merasa sayang untuk menyumbangkan harta benda. Tentu saja mereka yang sudah percaya penuh kepada kebjaksanaan Sian-su itu sama sekali tidak mau percaya akan desas-desus bahwa perkumpulan mereka itu melakukan kejahatankejahatan akhir-akhir- ini. Mereka menganggapnya sebagai kabar bohong dan fitnah belaka. Mereka tidak tahu bah-wa nafsu ketamakan orang yang mereka sebut Sian-su itu makin lama semakin menjadi dan untuk membuat pondok-pondok dan benda-benda dari emas tulen itu membutuhkan banyak sekali uang. Dan untuk memenuhinya, orang itu telah mempergunakan kepandaiannya sendiri dan kepandaian anak buahnya untuk melakukan pencurian-pencurian. Juga untuk memperlengkapi persediaan mereka akan wanita-wanita cantik, maka perkumpulan ini mulai pula melakukan penculikan-penculikan atas diri wanita-wanita muda dan cantik. Bahkan, tin-dakan Sian-su sudah sedemikian berani untuk memenuhi “pesanan” dari pemujanya, dan pada ma-lam hari itu dia telah memenuhi pesanan dari pemuda bangsawan Phang yang tergilagila kepada nyonya Cia Kok Heng! Akan tetapi, yang tahu akan hal ini hanyalah pemuda Phang itu dan Sian-su sendiri dan tentu saja untuk jasa ini pemuda Phang yang kaya raya itu tidak sayang untuk memberi hadiah sumbangan yang amat besar! Perkumpulan agama ini mempunyai anak buah yang tidak terlalu banyak, hanya kurang lebih empat puluh orang, terdiri dari berbagai golongan, akan tetapi rata-rata mereka memiliki ilmu silat yang lumayan. Mereka ini adalah anak buah dan juga murid-murid Sian-su yang memiliki dasar ilmu silat berbagai aliran. Tidak semua dari me-reka dari golongan penjahat, bahkan banyak pula yang terdiri dari orang baik-baik yang tertarik akan agama itu dan kemudian menjadi pengikut lalu diangkat menjadi murid dan anak buah. Se-perti juga Sian-su, setelah menjadi anak buah perkumpulan agama itu dalam melaksanakan tugas mereka semua menggunakan pakaian seragam dan juga topeng tengkorak. Mengapa mereka mempergunakan pakaian dan topeng tengkorak? Hal ini adalah untuk menyata-kan pujaan mereka terhadap Dewa Kematian. Tengkorak merupakan lambang kematian, dan kebetulan sekali mereka mendapatkan sarang di Guha Tengkorak yang sungguh merupakan tempat yang amat cocok untuk perkumpulan agama mereka. Anak buah perkumpulan itu telah disumpah setia terhadap Sian-su dan disamping sumpah ini yang diperkuat oleh kepercayaan mereka terhadap Dewa Kematian, juga mereka takut sekali terhadap Sian–su yang mereka tahu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi. Maka, mereka tahu bahwa berkhianat atau melanggar pantangan berarti kematian yang mengerikan bagi mereka, baik di tangan Sian-su ataupun juga di tangan Dewa Kematian yang tentu akan menyiksa mereka di alam baka! Sian-su yang berilmu tinggi itu dapat mencengkeram dan menguasai semua anak buah atau muridnya, juga menguasai semua wanita pelayan dan penari, menguasai para pengikut dengan menggunakan ilmu sihirnya dan ramu-ramuan obat pembius dan perangsang yang dicampurkannya dalam minuman. Perlahan-lahan namun pasti, pengaruhnya meluas dan anggautanya bertambah, para pengikutnya juga bertambah. Melihat betapa pesta itu berobah menjadi tempat pemuasan nafsu tanpa mengenal batas kesopanan lagi, bahkan di antara pasangan-pasangan yang menari-nari dan berpelukan sambil berciuman itu ada yang sambil tertawa-tawa sudah bergandengan tangan menuju ke sudut-sudut di mana terdapat kasur-kasur kecil dengan pakaian si wa-nita sudah tidak karuan lagi, Thian Sin menjadi muak. Dia sendiri adalah seorang pemuda yang romantis. Namun dia memandang hubungan antara pria dan wanita sebagai sesuatu yang indah, sesuatu yang merupakan pencurahan dari pada kasih yang bukan hanya merupakan pemuasan nafsu berahi belaka. Apa lagi kalau dilakukan secara demikian kasar, di depan orang banyak, tanpa sedikitpun memperdulikan kesusilaan dan sopan san-tun, tentu saja perasaannya tersingung dan dia menjadi tidak senang. “Taihiap, marilah… apakah taihiap tidak ingin bersenang-senang? Mari kulayani, taihiap… aku sengaja mengelak dari siapapun juga untuk melayanimu… “Tiba-tiba ada lengan kecil berkulit halus merangkulnya dan hidungnya mencium bau semerbak harum. Thian Sin menengok dan melihat bahwa yang merangkulnya adalah gadis yang tadi menerima sumbangannya. Pada saat itu hati Thian Sin sedang kesal dan murung, marah yang ditahan-tahan. Maka, sikap gadis ini membuatnya marah, apa lagi ketika gadis itu tanpa malu-malu lagi lalu menciumnya dan menarik–narik lengannya. “Pergilah!” bentaknya dan sekali dorong, gadis itu terpelanting dan jatuh sampai beberapa meter jauhnya. Diapun melihat betapa para anggauta perkumpulan itu, yang sejak tadi tidak ikut pesta melainkan berdiri dan berjaga, memandang kepadanya penuh perhatian dan begitu dia mendorong jatuh gadis itu, lima orang di antara me-reka segera berloncatan dan sudah mengurungnya. Thian Sin berdiri tegak dan bersikap tenang, mak-lum bahwa bagaimanapun juga akhirnya dia tidak akan dapat lolos dari pertempuran. “Ceng-taihiap, sebagai tamu, taihiap telah melangqar peraturan dan melakukan penghinaan terhadap murid-murid kami yang terkasih,” terde-ngar suara Sian-su yang ternyata sudah berada pula di situ. Tangannya menunjuk ke arah gadis yang tadi jatuh, yang kini sudah berdiri dan memegangi siku tangan kirinya yang berdarah, kemudian gadis itu melangkah pergi dengan kepala menunduk. “Sian-su, aku memang muak melihat semua ini dan aku telah menolakya, habis kalian mau apa?” tanyanya sambil memandang kepada lima orang yang mengurungnya dan mengambil sikap menyerangnya itu. Dia melihat bahwa di antara lima orang ini terdapat tosu penghuni kuil itu yang dikenalnya dari kebiasaannya memiringkan kepala. “Siancai… agaknya taihiap hendak mengandalkan kepandaian menentang kami. Ataukah taihiap hendak meramaikan pesta ini dengan pertunjukan ilmu silat?” “Terserah apa yang hendak diartikan, akan tetapi yang jelas, aku akan pergi dari tempat kotor ini!” kata Thian Sin. Dia sudah membalikkan tubuhnya hendak pergi melalui anak tangga dari mana dia datang tadi, akan tetapi lima orang itu dengan sekali loncatan telah menghadang di depannya. “Ah nanti dulu, taihiap. Tidak semudah itu untuk pergi meninggalkan tempat ini tanpa seijin kami. Kalau taihiap hendak memperlihatkan ilmu silat, baiklah. Biar aku melihat sendiri sampai mana kehebatan ilmu Pendekar Sadis yang terkenal itu.” Lalu dia memberi isyarat kepada lima orang itu dan berkata, “Tangkap dia!” Lima orang itu adalah lima orang pembantu utama dari Sian-su merupakan murid-murid kepala yang paling lihai di antara semua anggauta atau murid dan di antara lima orang ini memang terdapat tosu penghuni kuil yang tentu saja bukan bertapa di kuil itu melainkan bertugas sebagai penjaga dan pengintai. Biarpun ketua mereka memberi perintah lisan agar menangkap Pendekar Sadis, akan tetapi dari isyarat dengan tangan itu mereka maklum bahwa mereka disuruh membunuh musuh yang berbahaya ini. Maka, begitu tangan mereka bergerak, lima orang bertopeng siluman tengkorak itu sudah mencabut pedang mereka dari balik jubah di mana senjata mereka itu disembunyikan. Melihat ini, Thian Sin tersenyum. “Majulah, kalau kalian menghendaki demikian!” Dia masih berdiri tegak, tidak mau mengeluarkan pedang Gin-hwa-kiam yang tersembunyi di balik bajunya. Lima orang bertopeng tengkorak itu tiba-tiba menggerakkan pedang mereka dan mulailah mereka menyerang bergantian secara bertubi-tubi dan teratur. Pedang mereka berkelebatan menyilaukan mata tertimpa sinar lampu-lampu di sekeliling tempat itu dan setiap gerakan mereka itu selain cepat juga kuat sekali. Hal ini tentu saja diketahui Thian Sin dan pemuda inipun bersikap waspada, mempergunakan kecepatan tubuhnya untuk mengelak dan kadang-kadang dia menggunakan tangannya untuk menangkis. “Plak! Plakk!” Ketika tangan kirinya dengan gerakan cepat menangkis dua batang pedang, si pemegang pedang terhuyung mundur dan mereka terkejut sekali. Dengan tangan telanjang pemuda itu mampu menangkis pedang dengan kekuatan sedemikian dahsyat, maka hal ini saja sudah membuktikan betapa lihainya Pendekar Sadis. Sedangkan Sian-su sejak tadi nonton di pinggiran sambil merangkul pinggang ramping gadis yang tadi melayaninya. Beberapa kali dia mengangguk-angguk dan pandang matanya menjadi semakin kagum. Dari beberapa jurus saja tahulah dia bahwa Pendekar Sadis ini benar-benar amat lihai sekali. Alangkah baiknya dan betapa menguntungkan kalau dia bisa menariknya sebagai pembantu utamanya! Kini, yang menjadi pembantu utamanya adalah lima orang murid kepala ini, akan tetapi agaknya mereka ini tidak akan menang melawan Pendekar Sadis, walaupun mereka semua memegang pedang dan Pendekar Sadis hanya bertangan kosong saja. Pertandingan itu menarik perhatian mereka yang sedang berpesta. Akan tetapi, mereka yang tidak mengenal ilmu silat, para bangsawan dan hartawan yang sedang mabok berahi, tidak memperdulikan pertandingan itu dan melanjutkan kesenangan mereka, berpasang-pasangan dan melanjutkan permainan mereka di sudut-sudut ruangan yang luas itu menyendiri berduaan saja. Mereka yang mengenal ilmu silat, terutama para pengikut yang berasal dari golongan pendekar, menjadi tertarik dan biarpun mereka masih merangkul pinggang pasangan masing-masing, mereka mendekat dan menonton dengan penuh perhatian. Para anak buah perkumpulan itupun sudah mengurung tempat itu dan bersiap-siaga, bahkan ada sepuluh orang yang berderet dengan busur dan anak panah siap diluncurkan. Semua ini tidak terlepas dari pandang mata Thian Sin. Dia maklum bahwa dia akan mengha-dapi pengeroyokan dan karena dia belum tahu sampai di mana kelihaian Sian-su, juga para pendekar yang mabok berahi itu, maka keadaannya cukup berbahaya. Apa lagi dia berada di pusat tempat rahasia itu yang banyak mengandung perangkap-perangkap. Maka diapun tidak mau menjatuhkan tangan maut. Tepat seperti yang diduga oleh Sian-su, kini Thian Sin memperlihatkan ke-pandaiannya dan lima orang itu, walaupun semua-nya bersenjata, terdesak hebat. Setiap tangkisan itu membuat mereka terhuyung dan semua serangan mereka tidak ada gunanya sama sekali, kalau tidak terpental oleh tangan pemuda itu, tentu hanya mengenai tempat kosong saja, se-baliknya setiap tamparan tangan pemuda itu, baru angin pukulannya saja membuat mereka kewalahan. Tiba-tiba Thian Sin berteriak, “Pergilah kalian!” Dan kaki tangannya bergerak cepat sekali. Terdenqar suara berkerontangan dan nampak lima ba-tang pedang terlempar ke sana-sini sedangkan lima orang itupun terjengkang dan terpelanting ke kanan kiri! Mereka tidak terluka parah, akan tetapi senjata mereka terlepas dari tangan dan tubuh mereka terpelanting, ini sudah merupakan bukti cukup bahwa mereka telah kalah! Sian-su, pendeta siluman itu, kini melepaskan rangkulan dari pinggang ramping kekasihnya, dan sekali melompat dia sudah berhadapan dengan Thian Sin. “Siancai, siancai…! Pendekar Sadis memang benar tangguh, cukup pantas untuk menjadi lawan-ku! Mari kita main-main sebentar, taihiap!” Thian Sin melihat perobahan pada sikap para pengikut agama yang datang mendekat. Melihat betapa Sian-su sendiri yang maju, agaknya mereka-pun merasa penasaran dan di antara mereka bah-kan ada yang sudah melepaskan rangkulan mereka kepada gadis pasangan mereka masing-masing dan mereka bersikap mengancam. Akan tetapi pada saat itu, pendeta siluman itu sudah menerjangnya dengan pukulan yang cukup dahsyat. Sebelum tangannya tiba, sudah ada angin pukulan yang dahsyat menyambar dan ini saja menunjukkan bahwa pendeta siluman itu memiliki tenaga sin-kang yang kuat sekali. Thian Sin juga tidak mau main-main lagi dan dia sudah mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang untuk menangkis. Thian-te Sin-ciang (Tangan Sakti Langit Bumi) ini adalah penghimpunan sin-kang yang luar biasa kuatn-ya, yang membuat kedua tangan pemuda itu mampu menangkis senjata tajam tanpa terluka, me-rupakan satu di antara sekian banyak ilmu luar biasa yang dikuasainya. Kini, menghadapi lawan yang diketahuinya amat tangguh, Thian Sin tidak ragu-ragu lagi untuk mengeluarkan ilmunya ini untuk menandingi tenaga dalam lawannya. “Dukk!” Pertemuan dua tenaga sakti yang amat hebat itu terasa oleh semua orang yang menjadi penonton. Ada getaran hebat menyambar ke sekeliling tempat itu. Thian Sin sendiri merasa betapa tubuhnya terguncang yang memaksa dia melangkah mundur dua tindak, akan tetapi Siansu itu sendiri juga terhuyung ke belakang. “Hebat…!” Sian-su memuji, bukan pujian kosong karena dia benar-benar merasa kagum dan semakin besar keinginannya untuk dapat menarik pemuda sehebat ini sebagai sekutunya atau pembantunya. Tentu kedudukannya akan menjadi ma-kin kuat kalau dia dapat menarik pemuda ini menjadi sekutunya. Kini dia menyerang lagi dan dia mengerahkan gin-kangnya. Diam-diam Thian Sin terkejut bukan main. Kiranya siluman ini adalah seorang ahli gin-kang yang hebat! Kim Hong tentu tertarik sekali melihat ini, karena Kim Hong sendiri adalah orang ahli gin-kang yang sukar di-cari bandingnya. Dan agaknya, pendeta siluman ini benar-benar hebat sekali ilmunya meringankan tubuh sehingga tubuhnya berkelebatan sepert terbang saja. Thian Sin harus mengakui bahwa biarpun belum tentu siluman ini dapat menandingi Kim Hong dalam hal ilmu meringankan tubuh, namun dia sendiri masih kalah setingkat oleh pendeta siluman ini! Maka diapun lalu mainkan Ilmu Thai-kek Sin-kun, ilmu yang memiliki dasar amat kuat sehingga biarpun diserang dari jurusan manapun dengan kecepatan yang bagaimanapun, dengan ilmu ini dia dapat menjaga diri dan bahkan balas menyerang dengan tidak kalah hebatnya. Dengan ilmu silat ini, maka boleh dibilang kemenangan pendeta siluman itu dalam hal kecepatan dapat dipunahkan. Setelah lewat lima puluh jurus, agaknya pendeta siluman itu sudah puas dan kagum sekali. Dalam lima puluh jurus dia tidak mampu mengalahkan pemuda ini bahkan kalau dilanjutkan, belum tentu dia akan menang. Maka tiba-tiba dia mengeluarkan bentakan nyaring dan tangannya menampar ke arah kepala Thian Sin. Pemuda itu menangkisnya. “Plakk! Brettt…!” Ujung lengan baju Thian Sin terobek karena begitu tertangkis, pendeta si-luman itu merobah tangannya menjadi cengkeraman yang bergerak ke bawah mencengkeram pergelangan tangan Thian Sin, akan tetapi berkat tenaga Sin-ciang, cengkeraman itu meleset dan hanya merobek ujung lengan baju. “Ha-ha-ha, lengan bajumu robek, taihiap!” Sian-su berkata sambil mengangkat robekan itu ke atas dan memandang penuh rasa puas karena robekan lengan baju itu dapat dijadikan bukti bahwa dia telah menang setingkat. Akan tetapi, pandang mata Thian Sin ke arah jubahnya membuat dia menunduk dan melihat ke arah dadanya dan terkejutlah dia melihat betapa kain jubah di bagian dadanya berlubang dan kini robekan kain putih itu berada di tangan Thian Sin! Kalau saja tidak ada topeng tengkorak yang menutupi, tentu akan nampak wajah itu merah sekali. Saking merasa malu, pendeta siluman itu menjadi marah dan diapun sudah menyerang lagi dengan ganas. Thian Sin menyambutnya dengan tenang dan untuk kedua kalinya, ketika lengan mereka beradu, pendeta siluman itu terhuyung ke belakang sedangkan Thian Sin hanya terdorong mundur dua langkah saja. Hal ini membuat pendeta siluman itu mengambil keputusan untuk mempergunakan ilmu sihirnya. Dia berdiri tegak dan menggerakkan kedua tangan ke atas kepala, bertepuk tangan di atas kepalanya. Ketika kedua telapak tangan itu bertemu, terdengar suara seperti ledakan nyaring dan nampak asap mengepul dari kedua tangan itu. “Ceng Thian Sin, berani engkau melawanku? Lihat, siapakah sebenarnya aku? Aku adalah Thian-liong-ong (Raja Naga Langit)yang menjelma!” Memang hebat kekuatan sihir pendeta siluman itu. Biarpun sihirnya ditunjukkan kepada Thian Sin, akan tetapi semua orang yang berada di situ melihat betapa bentuk Sian-su kini telah berobah. Tubuhnya menjadi tinggi besar dan pakaiannya seperti pakaian raja, yang hebat adalah kepalanya karena kepala yang biasanya memakai topeng tengkorak itu kini berobah menjadi kepala naga! Benar-benar seperti gambar atau patung. Raja Naga Langit! Di antara mereka yang melihat ini segera menjatuhkan diri berlutut saking takutnya. Akan tetapi, Thian sin yang tadi merasa ada-nya kekuatan mujijat yang menyerang panca inderanya, cepat mengerahkan batin dan mempegunakan tenaga batin untuk melawan dan tentu saja dia sebagai orang yang pernah mempelajari ilmu sihir di Himalaya tidak terpengaruh setelah dia mengerahkan tenaga batinnya, dan bagi pandang matanya, pendeta siluman itu tetap sama saja dengan tadi! Ingin dia mentertawakan lawan dan menghinanya, mengatakan bahwa ilmu main sulap itu hanya dapat mengelabui kanak-kanak saja. Akan tetapi Thian Sin adalah seorang yang cerdik sekali. Dia tahu bahwa banyak orang yang tidak berdosa d tempat ini, yang menurut semua kehen-dak pendeta siluman ini karena kekuatan sihir atau mungkin juga obat dalam minuman. Mereka ini tidak berdosa dan sepatutnya kalau dibebaskan dari pengaruh pendeta siluman ini. Akan tetapi, kalau dia mempergunakan kekerasan, mungkin dia akan gagal. Dia sudah mengukur ilmu silat lawan itu yang benar-benar tangguh. Dia yakin tidak akan kalah terhadap Sian-su, akan tetapi kalau para pembantunya maju mengeroyok, juga kalau para pendekar yang menjadi pengikut agama itu ikut pula turun tangan, mungkin sekali dia akan celaka. Apa lagi kalau diingat bahwa dia belum berhasil membebaskan orang-orang yang tidak berdosa, juga bahwa dia masih berada di pusat sarang musuh yang berbahaya, maka kekerasan bukanlah jalan untuk mencapai kemenangan. Thian Sin lalu menunduk dan menjura seolah-olah memberi hormat kepada “dewa” itu, lalu berkata dengan suara membela diri, “Terpaksa saya harus melawan menghadapi siapapun juga kalau keselamatan dan nyawa saya terancam.” “Ceng Thian Sin, siapa bilang bahwa nyawamu terancam? Sian-su bermaksud baik denganmu, berniat untuk mengajakmu bekerja sama!” berkata “Raja Naga Langit” itu dan bagi pendengaran semua orang kecuali Thian Sin, suara itupun berbeda dengan suara Sian-su. Kembali Thian Sin menjura dengan hormat. “Kalau benar demikian, tentu saja saya bersedia untuk berdamai dan bicara.” “Bagus! Bagus sekali!” Manusia berkepala naga itu lalu bertepuk tangan, terdengar ledakan keras disusul asap mengepul dan ketika asap menghilang, di situ telah berdiri Sian-su dengan sikapnya yang tenang. “Ceng-taihiap, kami telah mendengar ucapanmu tadi dan kami merasa gembira sekali. Mari, silahkan duduk dan mari kita bicara dengan baik-baik.” Dia mempersilahkan dan mengajak Thian Sin duduk kembali. Pesta dilanjutkan dan melihat betapa pemuda itu tidak suka menyaksikan adegan-adegan cabul di situ, Sian-su lalu mengajaknya menuruni anak tangga dan bicara di sebuah ruangan lain. Belasan orang anak buah Sian-su ikut pula mengawal, tentu dengan maksud untuk mengeroyok apa bila pemuda itu memberontak. Setelah mereka duduk, Sian-su lalu memberi “kuliah” kepada Thian Sin tentang pelajaran di dalam agamanya yang baru, yang bendak membebaskan manusia dari pada rasa takut akan kematian, dan menjanjikannya kesenangan setelah mati nanti, juga menceritakan bahwa semua kecabulan yang dilihat pemuda itu adalah suatu cara untuk menundukkan nafsu dengan jalan membiarkan nafsu-nafsu itu menggelora dan kemudian mati sendiri. Thian Sin mendengarkan dengan setengah hati saja, akan tetapi dia pura-pura tertarik sekali dan menanggapinya sambil mengangguk-angguk. “Kami memberikan kesenangan dunia akhirat kepada para pengikut kami,” demikian pemimpin agama itu mengakhiri kuliah dan penjelasannya tentang agamanya. “Dan imbalan apakah yang harus diberikan oleh para pengikut?” -Thian Sin bertanya dengan sikap seolah-olah dia tertarik sekali untuk menjadi pengikut pula. “Siancai…! Untuk pekerjaan suci, kami tidak memiliki pamrih untuk kepentingan diri- sendiri. Kami tidak menuntut imbalan, kecuali kesetiaan. Kalu para pengikut hendak menyumbang demi kemajuan agama kita, dan untuk membuat pembangunan-pembangunan, hal itu adalah suka rela. Akan tetapi, walaupun kami tahu bahwa Ceng-taihiap adalah seorang yang kaya raya, buktinya melihat sumbanganmu tadi, namun kami bukan mengharapkan bantuan harta darimu.” “Habis, bantuan apa?” “Bantuan kerja sama dalam bentuk tenaga dan kepandaian silat taihiap. Hendaknya taihiap ketahui bahwa usaha kami ini banyak mendapat tentangan dari agama-agama lain dan sudah sering kali kami mereka cari dan mereka bermaksud membasmi kami. Oleh karena itu, taihiap bukan kami anggap sebagai pengikut biasa, melainkan sekutu kami, sebagai seorang di antara kami dan kalau taihiap dapat memenuhi harapan kami ini, percayalah bahwa dengan segala kemampuanku, taihiap akan menjadi orang pertama sesudah aku untuk berkenalan secara langsung dengan Dewa Kematian.” “Ahhh…!” Thian Sin pura-pura merasa girang sekali. “Aku akan girang sekali!” “Akan tetapi, untuk itu kami harus benar-benar dapat dipercaya kepadamu, dan ini ada syaratnya.” “Syaratnya?” “Menurut pelaporan anak buah kita, ada lima orang pendekar dari agama lain yang sedang menyelidiki tempat kita ini. Mereka merupakan bahaya bagi kita, maka aku minta kepadamu untuk menghadapi mereka dan membasmi mereka. Sanggupkah engkau, Ceng-taihiap?” Thian Sin mengangkat muka dan memandang tajam, bertemu dengan pandang mata lawan yang penuh selidik. Dia berhadapan dengan orang yang cerdik pula. “Sian-su, aku masih dalam taraf percobaan, bagaimana engkau sudah begitu percaya kepadaku? Apakah engkau tidak khawatir kalau aku berkhianat setelah aku tiba di luar tempat ini?” Wajah di balik topeng tengkorak itu tertawa. “Apa boleh buat kami harus menghadapi resiko itu! Kalau taihiap benar-benar mau bekerja sama dengan kami, kami merasa beruntung sekali. Sebaliknya, andaikata taihiap berbalik pikir, kamipun tidak bisa berbuat apa-apa. Akan tetapi belum tentu taihiap akan mampu menemukan kembali tempat rahasia kami, dan di sini banyak terdapat perangkap-perangkap rahasia yang akan mampu membendung serbuan ratusan orang. Selain itu, andaikata mereka mampu menyerbu masuk, kamipun dapat saja setiap waktu meloloskan diri, pin-dah mencari tempat lain, membawa semua barang suci dan berharga, dan terpaksa kami harus meninggalkan para wanita itu dalam keadaan sempurna.” Karena ada penekanan kata-kata aneh dalam kalimat terakhir, Thian Sin curiga. “Dalam keadaan sempurna bagaimana maksudmu?” Pendeta siluman itu menggerakkan pundak. “Yaahh, menyerahkan mereka kepada Dewa Kematian sebagai korban, apa lagi? Kami terpaksa, karena membawa mereka yang lemah untuk melarikan diri tidaklah mungkin, dan membiarkan mereka hidup-hidup tertawan musuh juga amat berbahaya bagi kami.” “Engkau akan membunuh puluhan orang gadis itu?” Hampir Thian Sin berteriak. “Ahhhh, nanti dulu, taihiap. Bukan membunuh, melainkan mengorbankan mereka kepada Dewa Kematian. Mereka akan mendapatkan kesenangan di sana, dan Dewa Kematian akan berterima kasih sekali kepada kami…” Thian Sin tidak bertanya lagi. Dia maklum apa artinya itu. Wanita-wanita itu merupakan sandera! Dengan lain kata-kata pendeta siluman ini hendak menyatakan kepadanya bahwa apa bila dia berbalik pikir dan kelak mengakibatkan perkumpulan agama itu diserbu, wanita-wanita itu akan dibunuhnya. Tentu saja ini merupakan ancaman kepadanya agar dia tidak mengkhianati Sian-su, dan dia tahu bahwa ancaman itu bukan hanya ancaman kosong belaka! “Baiklah, Sian-su, aku akan membuktikan bahwa aku memang ingin bekerja sama karena aku mulai tertarik oleh agama baru ini.” Thian Sin menjadi tamu terhormat di sarang perkumpulan agama Jit-sian-kauw itu, mendapat sebuah kamar yang indah dan mewah. Dia menolak ketika ditawari gadis untuk menemaninya, dan malam itu dia tidur nyenyak untuk melepaskan lelah dan mengumpulkan tenaga. Dia tahu bahwa semua gerak-geriknya diamati dan diintai, maka diapun tidak mau melakukan sesuatu yang mencurigakan. Pada keesokan harinya, diapun sama kali tidak tahu bahwa Kim Hong telah menyusulnya dan mencarinya, bahkan kemudian gadis itu terjebak dan tertawan di dalam sarang rahasia Jit-sian-kauw itu. Pada sore harinya dia diberi tahu oleh Sian-su bahwa lima orang yang memusuhi Jit-sian-kauw itu telah tiba di dekat puncak bukit. Mereka itu tidak menyelidiki dari bagian depan tebing Guha Tengkorak, melainkan dari belakang dan karena sarang Jit-sian-kauw itu terkurung jurang yang dalam, maka lima orang pendekar itu tidak tahu bahwa tempat yang mereka cari-cari itu sebetulnya sudah amat dekat, hanya terhalang jurang, yaitu di puncak yang dikelilingi jurang itu. Tidak mungkin menyeberangi jurang itu, dan tidak mungkin pula menuruni jurang yang demikian dalam dan curamnya. Mereka berkeliaran di daerah itu, memeriksa dan mencari-cari. Thian Sin melakukan pengintaian. Dia sendirian saja dan dia kini telah mengenakan pakaian dan topeng dari anggauta Jit-sian-kauw! Biarpun dia sendirian saja, namun dia mengerti bahwa Siansu dan kaki tangannya tentu membayanginya dan mungkin kini sedang mengintai pula dari tempat-tempat tersembunyi untuk mengikuti sepak terjangaya yang bertugas mengusir lima orang musuh perkumpulan ini. Akan tetapi jantung dalam dada Thian Sin berdebar tegang ketika dia mengenal siapa adanya tosu tua yang memimpin rombongan itu. Tosu berusia kurang lebih enam puluh tahun yang bertubuh tinggi kurus dan berpakaian jubah kuning, dengan pedang di punggung, wajahnya putih itu, bukan lain adalah Liang Hi Tojin, seorang tokoh tingkat dua dari partai persilatan Bu-tong-pai! Liang Hi Tojin ini adalah orang ke dua dari Bu-tong-pai, terkenal sebagai seorang pendekar yang sejak mudanya menjadi pembela keadilan dan kebenaran, seorang ahli pedang yang amat lihai. Dan agaknya, empat orang lainnya itu, yang nampakaya gagah perkasa, tentulah murid-murid keponakannya. Tentu rombongan dari Bu-tong-pai yang datang menyelidiki Jit-sian-kauw ini, bukan semata-mata karena perbedaan paham keagamaan, melainkan tentu karena orang-orang Bu-tong-pai itu mendengar akan kejahatan yang dilakukan Siluman Guha Tengkorak dan kini didorong oleh jiwa kependekaran mereka datang untuk menentang Jit-sian-kauw. Tentu saja Thian Sin merasa serba salah. Bagaimana mungkin dia memusuhi Liang Hi Tojin, seorang pendekar tua Bu-tong-pai yang telah dikenalnya dengan baik? Akan tetapi, kalau dia mengkhianati Sian-su, lalu bagaimana nasib kurang lebih tiga puluh orang wanita yang berada di dalam cengkeraman siluman-siluman itu di di luar kehendak mereka, karena mereka telah dikuasai oleh sihir dan obat bius? Kalau dia memperkenalkan diri mengajak lima orang pendekar Bu- tong-pai ini membalik dan memberontak, apakah dia akan mampu? Memasuki terowongan itu saja sudah merupakan bahaya yang besar dan sebelum mereka berhasil, siluman-siluman itu dapat melarikan diri dari jalan rahasia tersendiri dan meninggalkan puluhan wanita itu dalam keadaan tewas. Tidak, dia harus bersandiwara, menuruti kehendak Sian-su dan menanti saatnya yang baik dan tepat untuk memberi pukulan besar-besaran. Tosu tua tinggi kurus itu memang Liang Hi Tojin dari Bu-tong-pai, dan empat orang pria yang berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun, yang nampak gagah perkasa itu adalah murid keponakannya, yaitu murid Bu-tong-pai yang termasuk sebagai murid-murid kepala. Biarpun tingkat kepandaian mereka masih dua tingkat di bawah tingkat Liang Hi Tojin, namun mereka itu sudah dapat digolongkan pendekar-pendekar yang lihai pada masa itu. Mereka itu turun gunung untuk mengunjungi Louw Ciang Su di Tai-goan, akan tetapi mereka hanya melihat peti matinya saja! Tentu saja para tokoh Bu-tong-pai ini menjadi terkejut dan marah ketika mendengar bahwa Louw Ciang Su, sebagai seorang di antara Tujuh Pendekar Tai-goan, telah tewas oleh Siluman Guha Tengkorak. Itulah sebabnya, mereka langsung melakukan penyelidikan ke daerah Guha Tengkorak dan karena mereka sudah mendengear bahwa pasukan keamanan dari Tai-goan dan para pendekar telah gagal ketika mencari siluman itu dari depan tebing Guha Tengkorak, mereka lalu melakukan penyelidikan dan pencarian dari belakang tebing. “Bagaimana mungkin ada manusia dapat bersembunyi di tempat seperti ini?” terdengar Liang Hi Tojin berkata kepada empat orang murid keponakannya setelah mereka melihat keadaan di belakang tebing Guha Tengkorak itu. “Bukit di depan itu merupakan puncak yang dikelilingi jurang yang tidak mungkin didatangi manusia.” “Akan tetapi, susiok, teecu kira justeru karena sulitnya dicapai orang inilah maka merupakan tempat yang amat baik bagi penjahat untuk menyem-bunyikan diri,” kata seorang murid keponakannya. “Tentu ada suatu rahasia yang dapat membawa orang menyeberang ke puncak bukit itu,” kata murid kedua. “Siancai, siancai, siancai…! Kalau memang ada, tentu tidak akan mudah mencarinya di tempat se-luas ini.” Thian Sin memuji ketelitian mereka. Memang tidak akan mudah. Dia sendiri tiba di belakang tebing ini melalui jalan rahasia yang rumit, yang merupakan “lubang tikus” dan menembus di lereng jurang, tertutup pohon-pohon dan semak-semak, di dekat tepi jurang. Dia tadi merayap di lereng jurang itu melalui akar-akar pohon dan kini mengintai di balik pohon besar. Karena merasa sudah waktunya untuk turun tangan dan agar jangan sampai menimbulkan kecurigaan pada Sian-su yang dia tahu tentu sedang mengamatinya, dia lalu keluar dari tempat sembunyinya dan berlompatan ke depan lima orang itu! Dapat dibayangkan betapa kagetnya lima orang gagah dari Bu-tong-pai ketika mereka melihat munculnya seorang berjubah putih dengan gambar tengkorak merah darah di dada dan memakai topeng tengkorak yang menyeramkan. “Siancai…! Inikah Siluman Guha Tengkorak yang telah membunuh Tujuh Pendekar Tai-goan itu?” Liang Hi Tojin bertanya dan empat orang murid Bu-tong-pai itu telah mencabut pedang masing-masing dari punggung mereka dengan gerakan yang cepat dan indah. Thian Sin tidak mengeluarkan suara. Apa yang dapat diucapkannya? Tugasnya hanyalah menge-nyahkan mereka, maka diapun lalu menerjang ke depan dan menyerang tosu tua itu dengan pukulan dari samping mengarah pelipisnya. Melihat pukulan yang mendatangkan angin pukulan dahsyat itu, tahulah tokoh Bu-tong-pai ini bahwa siluman itu memang lihai sekali. “Siancai sungguh siluman jahat sekali!” Dan diapun cepat meloncat mundur untuk mengelak sambil mencabut pedangnya. Empat orang muridnya sudah menerjang dengan pedangnya masing-masing dan Thian Sin segera dikurung dan dikeroyok. Permainan pedang Bu-tong Kiam-sut memang hebat dan berbahaya sekali. Sinar pedang bergulung-gulung dan menyambar-nyambar dari pelbagai jurusan, menggulungnya dan kalau Thian Sin tidak memiliki gin-kang yang hebat dan langkah-langkah ajaib dari Thai-kek Sin-kun, tentu dia akan terancam bahaya dikeroyok oleh mereka. Terutama sekali pedang di tangan Liang Hi Tojin amat lihainya. Pedang itu mengeluarkan suara berdesing-desing dan sinarnya berkilauan menyambar-nyambar. Thian Sin tidak berani mencabut Gin-hwa-kiamnya karena mungkin pedang itu akan dikenal oleh Liang Hi Tojin. Maka terpaksa diapun mengerahkan Thian-te Sin-ciang untuk kadang-kadang menangkis kalau elakan-elakannya kurang cukup untuk dapat menyelamatkan diri dari sambaran lima batang pedang itu. Liang Hi Tojin dan empat orang muridnya terkejut bukan main melihat betapa siluman itu menangkis pedang mereka dengan tangan kosong saja! Padahal, pedang mereka adalah pedang pilihan, terbuat dari baja yang amat keras dan baik.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: