Siluman Goa Tengkorak (Jilid ke-7)

Tahulah mereka bahwa siluman ini benar-benar amat lihai sekali dan merekapun tidak merasa heran sekarang bahwa Tujuh Pendekar Tai-goan tewas di tangan siluman ini. Liang Hi Tojin menyerang makin hebat karena marah dan karena dia beranggapan bahwa siluman selihai dan sejahat ini harus dilenyapkan dari permukaan bumi agar rakyat terbebas dari pada ancaman malapetaka yang ganas dan jahat. Thian Sin merasa kewalahan juga. Kalau dia mengeluarkan ilmu-ilmu simpanannya seperti Thikhi-i-beng misalnya, sin-kang yang dapat menyedot tenaga lawan, atau Thian-te Sin-ciang atau Thai-kek Sin-kun, tentu kakek Bu-tong-pai itu akan mengenal ilmu-ilmu dari Lembah Naga dan Cin-ling-pai itu. Kalau dia menggunakan ilmu peninggalan mendiang ayah kandungnya, yaitu ilmu-ilmu pukulan yang dahsyat Hok-liang Sin-ciang atau Hok-te Sin-kun, akibatnya bisa berbahaya sekali dan belum tentu lima orang itu akan mampu menahannya. Padahal, tentu saja dia tidak ingin membunuh lima orang tokoh Bu-tong-pai ini. Maka dia hanya mempergunakan Ilmu Silat Pat-hong Sin-kun, ilmu yang dipelajarinya dari kakek sakti Yap Kun Liong dan mengerahkan tenaga Thian–te Sin-ciang untuk menangkisi pedang-pedang itu.

Dia menanti saat yang baik dan tepat untuk me-lakukan serangan terakhir seperti yang sudah di-rencanakannya ketika dia mengintai mereka tadi. Perlahan-lahan dia mundur ke belakang menuju ke bawah sebatang pohon yang daunnya lebar, sele-bar tangan dengan ujung runcing dan daun itu kaku pula, cukup baik dijadikan senjata. Tiba-tiba dia meloncat, mencabut beberapa helai daun dari ranting yang terendah dan begitu tubuhnya turun, dia menyambitkan daun-daun itu ke depan sambil membentak dengan suara nyaring, “Pergilah!” Berturut-turut tangannya bergerak, dengan pengerahan sin-kang yang amat kuat, lima helai daun itu seperti anak panah saja meluncur secepat kilat menuju ke arah lima orang lawannya. Terdengar teriakan-teriakan kesakitan dan empat orang murid Bu-tong-pai itu melepaskan pedang mereka ketika sebatang daun menyambar dan menancap di pergelangan tangan kanan mereka sepert anak panah atau senjata piauw (pisau terbang) dengan kecepatan yang tak dapat dielakkan lagi. Sedangkan Liang Hi Tojin masih dapat menggunakan lengan kirinya menangkap daun yang menyambar pergelangan tangan kanannya itu, dan berbeda dengan empat daun yang lain, daun yang menyambar ke arah pergelangan tangan Liang Hi Tojin itu tidaklah begitu cepat dan kuat sehingga dengan mudah dapat ditangkap oleh tosu ini. Liang Hi Tojin memandang sekilas kepada daun di tangannya kemudian dia berkata, “Ambil pedang, mari kita pergi!” Empat orang murid itu cepat mengambil pedang masing-masing dengan tangan kiri, kemudian bersama tosu itu mereka berloncatan meninggalkan tempat itu. Thian Sin tertawa dan memandang sampai mereka lenyap di balik semak-semak. “Bagus, taihiap. Sungguh senang hatiku melihat engkau menghajar mereka, sayang tidak membunuh saja mereka itu agar kelak tidak mendatangkan penyakit.” Thian Sin menoleh dan melihat pendeta siluman ketua Jit-sian-kauw telah berada di situ. Tentu saja dia tadi mendengar gerakannya, ketika orang ini muncul dengan ringan sekali akan tetapi dia pura-pura tidak tahu membiarkan orang itu merasa bangga bahwa gin-kangnya sedemikian hebatnya, terlalu hebat bagi Pendekar Sadis untuk dapat mengetahui kedatangannya. Kemudian dia menarik napas panjang dan berkata, “Sian-su, kalau mereka itu memusuhi kita, sudah cukup kalau kita hajar dan mereka akan jera untuk mengganggu kita lagi. Membunuh mereka, berarti hanya akan memperdalam permusuhan belaka, membuat kita semakin repot menghadapi usaha mereka untak balas dendam kelak.” “Ha-ha-ha, engkau benar, taihiap. Ah, sungguh beruntung mempunyai seorang sahabat seperti engkau untuk bekerja sama,” kata pula Sian-su dengan girang. Mereka lalu kembali ke sarang Jit-sian-kauw. Thian Sin merasa girang sekali bahwa dia dapat mengelabuhi pendeta siluman itu. Dia tadi telah melakukan siasatnya dengan baik sekali. Dia tahu bahwa biarpun di sana terdapat sekutunya yang paling baik, yaitu Kim Hong, akan tetapi belum tahu Kim Hong dapat mencari tempat rahasia- ini. Maka dia membutuhkan bantuan dan melihat lima orang Bu-tong-pai itu, dia melihat bantuan yang amat baik dan cukup kuat. Maka ketika dia mengintai tadi, diam-diam dia menggunakan sehelai daun untuk digurat-gurat dengan duri, membuat beberapa buah huruf di atas daun. Daun itu disimpannya dalam saku jubahnya dan ketika dia menyerang lima orang itu, daun yang ada huruf-hurufnya itu dia sambitkan ke arah Liang Hi Tojin dengan pengerahan tenaga yang sedikit saja. Untung bahwa tokoh Bu-tong-pai itu cukup cerdik untuk dapat melihat kejanggalan ini- dan menerima daun itu lalu mengajak empat orang murid keponakannya yang telah terluka pergelangan tangannya. Tulisan di atas daun itu berbunyi demikian : SIAP MENYERBU BERSAMA, TUNGGU BERITA. ANG LIAN TO (PULAU TERATAI MERAH). Dia sengaja memakai nama Ang-lian-to yang tentu akan dikenal oleh Liang Hi Tojin yang sudah mengenalnya dan tahu bahwa dia dan Kim Hong tinggal di sebuah pulau kosong yang bernama Ang-lian-to (Pulau Teratai Merah). Dan agaknya tosu itu memang mengenalnya, buktinya tosu itu mengajak empat orang muridnya untuk mundur. Padahal, sesuai dengan watak pendekarnya, sebelum dia sendiri roboh, tidak mungkin tosu itu akan melarikan diri dari pertempuran. Thian Sin merasa lega dan gembira, merasa bahwa dia telah berhasil mengelabui ketua Jit-sian-kauw. Akan tetapi, pendekar ini sama sekali tidak tahu bahwa di balik topeng tengkorak itu, Sian-su tersenyum-senyum dan mentertawakannya. Dia tidak tahu bahwa ada kejutan yang amat tidak menyenangkan baginya. iarpun dia melihat sendiri betapa Pendekar Sadis telah mengusir lima orang musuh itu dan melukai empat orang murid Bu-tong-pai dengan cara yang amat mengagumkan dan menggiriskan hatinya, yaitu hanya dengan mempergunakan daun, namun ketua Jit-sian-kauw itu belum yakin begitu saja. Dia masih belum mau percaya begitu saja. Dia masih belum yakin benar akan kesetiaan Thian Sin. Oleh karena itu, dia masih mempersiapkan suatu ujian yang amat berat bagi pemuda itu. Malam hari itu, ketika Thian Sin sudah merebahkan diri dan mencari akal untuk melihat kesempatan, tiba-tiba dia terbangun dengan kaget. Ada suara di telinganya, dekat sekali di telinganya, yang berbisik dengan suara dengan suara mengandung kekuatan mujijat. “Ceng Thian Sin, engkau telah berada dalam kekuasaan Sian-su. Engkau harus mentaati semua kehendaknya agar hatimu dapat merasa senang dan tenteram! Nah kau rebahlah, kau tidurlah, tidur yang nyenyak…!” Thian Sin yang sudah bangkit duduk itu perlahan-lahan merebahkan diri kembali, dan memejamkan matanya, lalu dia mengatur pernapasannya seperti orang tertidur. Tak lama kemudian, suara itu terdengar lagi, “Ceng Thian Sin, bangkitlah dan turunlah dari tempat tidurmu.” Bagaikan patung hidup, Thian Sin lalu turun dari pembaringan. “Pergilah ke pintu kamar, bukakan daun pintu dan biarkan seorang sahabat masuk!” Thian Sin berjalan ke pintu dan membuka daun pintu. Di depan pintu itu telah berdiri seorang yang bertopeng tengkorak dan berjubah putih pakaian seragam para anggauta Jit-sian-kauw yang membawa sebuah baki terisi cawan arak. Thian Sin tidak tahu apakah orang ini sang ketua sendiri ataukah orang lain, akan tetapi dia percaya bahwa ketua itu tidak begitu ceroboh untuk membiarkan dirinya dekat dengan dia tanpa terlindung. Tentu ini hanya seorang anggauta biasa saja. “Taihiap, harap suka minum arak dalam cawan ini,” kata orang itu sambil menyerahkan cawan arak. Thian Sin hendak menolaknya, akan tetapi dia segera teringat bahwa dia sedang berada da-lam keadaan “tersihir”, maka diapun diam saja, hanya memandang dengan mata kosong dan ber-diri seperti patung. Suara itu lalu terdengar lagi, kini nadanya mengandung kelegaan hati, “Ceng Thian Sin, ambil cawan itu dan minum araknya sampai habis!” Kini Thian Sin mengambil cawan itu dan menempelkannya ke bibirnya. Dari baunya saja dia maklum bahwa arak itu dicampuri obat bius, akan tetapi tanpa ragu-ragu lagi dia lalu menuangkan araknya ke dalam mulut sampai habis. Akan tetapi lebih dulu dia menggunakan kekuatan sihir dalam pandang matanya kepada sepasang mata di balik topeng itu dan melihat mata itu sejenak tercengang lalu melembut, tanda bahwa dia telah berhasil menguasai orang itu yang ternyata hanyalah seorang anggauta biasa saja. Dengan kekuatan sihirnya dia membisikkan bahwa orang itu telah melihat dia minum arak itu sampai habis ditelannya. Padahal arak itu hanya disimpan di mulutnya saja. “Sekarang kembalilah ke tempat tidur dan rebahkan dirimu,” bisik suara di dekat telinganya yang dia tahu adalah suara Sian-su yang menggunakan ilmu mengirim suara dari jauh menggunakan tenaga khi-kang yang amat kuat. Angauta itupun lalu membawa pergi cawan kosong dan menutupkan pintu kamar, sedangkan Thian Sin merebahkan dirinya di atas pembaringan, diamdiam membuang arak di mulutnya yang dimuntahkan di dalam tangannya dan dibuang di atas lantai di belakang pembarirngan. Hal ini dilakukannya dengan cepat lalu dia merasa yakin bahwa tidak ada mata orang lain yang mengikuti gerak-geriknya. “Ceng Thian Sin, mulai saat ini engkau akan selalu percaya sepenuhnya taat, hormat dan tunduk kepadaku, kepada Sian-su, ketua dari Jit-sian-kauw yang akan mendatangkan kesenangan dunia akhirat bagimu! Camkan ini, harus selalu setia dan taat kepada Sian-su!” Kalimat terakhir itu diulangi sampai belasan kali dengan kekuatan yang amat hebat sehingga Thian Sin harus mengerahkan tenaga sin-kang pula untuk melawannya agar jangan sampai terpengaruh.- Tentu saja pengalaman itu membuat Thian Sin tidak dapat tidur pulas. Dia harus bertindak cepat karena kalau terlalu lama, keadaannya bisa semakin berbahaya. Dia tidak tahu bahwa malam itu, Sian-su telah mempersiapkan percobaan terakhir kepadanya, percobaan yang teramat berat dan di sini Sian-su hendak mengambil kepastian apakah pendekar itu akan dianggap kawan ataukah lawan. Setelah merasa yakin bahwa dia tidak diamati, Thian Sin lalu turun dari pembaringannya dan dengan langkah seperti langkah kucing, sama sekali tidak menimbulkan suara, dia mendekati jendela lalu pintu kamarnya untuk mengintai keluar. Ada dua orang penjaga di luar, seorang di luar jendela dan seorang lagi di luar pintu. Dengan hati-hati dia membuka daun pintu. Anggauta Jit-sian-kauw itu memandang dan Thian Sin menggapai, berkata lirih, “Twako, ke sinilah, aku mau bicara penting…” Karena ketika memandang dan menggapai, juga ketika mengeluarkan kata-kata Thian Sin sudah mempergunakan kekuatan sihir melalui mata, gerakan tangan dan suaranya, penjaga itu biarpun ragu-ragu, tidak dapat menahan kakinya melangkah dan memasuki kamar. Secepat kilat tangan kanan Thian Sin bergerak dan tanpa mampu mengeluarkan suara atau melawan, penjaga itu terkulai lemas karena dia telah pingsan tertotok. Dengan hati–hati Thian Sin merebahkan orang itu di atas lantai kamarnya, kemudian dengan berindap-indap dia keluar dari pintu kamar, memutar dan meyergap penjaga yang duduk di luar jendela. “Apa… uhhh…!” Penjaga itu tadinya terkejut dan hendak melawan, namun dalam ke-adaan seperti itu Thian Sin telah menggunakan kepandaiannya, maka mana mungkin penjaga itu mampu melawannya. Diapun roboh pingsan sebe-lum sempat berteriak dan Thian Sin sudah memondong tubuhnya dan membawanya masuk ke dalam kamar, melepaskannya di atas lantai bersama penjaga pertama. Kemudian, dengan cepat Thian Sin menelikung kedua orang itu, diikatnya dengan tali ikat pinggang mereka sendiri, dijadikan satu dan mulut merekapun disumbat dengan kain baju mereka sendiri. Karena dia tahu bahwa dua orang itu memiliki kepandaian yang lumayan, maka dia mengikat kaki tangan mereka kuatkuat, juga menyumbat mulut mereka dan menalikan kain sumbatan itu melilit kepala, dan menambahkan totokan pada beberapa bagian tubuh mereka. Dia merasa yakin bahwa sebelum pagi hari, mereka tidak akan siuman dan andaikata sudah siuman sekalipun, mereka takkan mampu bergerak dan tidak dapat mengeluarkan suara. Setelah melakukan ini, dia lalu mendorong tubuh yang sudah menjadi satu itu ke bawah pembaringannya sehingga tidak nampak dari luar. Kemudian dia bersiap-siap untuk melakukan penyelidikan sendiri dan dengan gesit dia menyelinap keluar dari dalam kamarnya, menutupkan daun pintu kamar dan keluar. Dia sudah tahu di mana adanya kamar-kamar para wanita penari. Dia bermaksud mencari isteri mendiang Cia Kok Heng dan hendak menyelidiki keadaan wanita itu karena dia merasa yakin bahwa ada sesuatu yang memaksa wanita itu berbohong kepadanya ketika ditanyainya. Dan dia akan menggunakan kekuatan sihirnya membuyarkan kekuatan sihir yang mencengkeram para wanita penari dan mengorek rahasia kejahatan Siluman Guha Tengkorak dari mereka. Akan tetapi, baru saja dia keluar dari kamarnya, terdengar suara canang bertalu-talu dan disusul suara hiruk-pikuk kaki orang-orang berlarian. Than Sin terkejut dan cepat dia kembali ke dalam kamarnya, menyangka bahwa tentu perbuatannya ketahuan dan dia harus bersiap siaga menghadapi pengeroyokan kalau perlu. Dia mengintai dari balik jendela dan melihat para anggauta perkumpulan itu berlari-lari dari segala jurusan menuju ke bangunan besar yang menjadi tempat tinggal Sian-su. Tak lama kemudian, suara canang itupun berhenti dan nampaklah Sian-su bersama serombongan anggautanya melangkah lebar menuju ke kamarnya! Thian Sin menanti dengan jantung berdebar. Jelaslah bahwa perbuatannya telah ketahuan! Akan tetapi dia pura-pura tidur miring di atas pembaringannya, dengan seluruh urat ayaraf menegang, siap menerjang keluar, menghadap ke pintu dan menutupi mukanya dengan lengan tangan, mengintai dari bawah lengan. Dapat dibayangkan betapa tegangnya hati pendekar itu ketika pintu kamarnya perlahanlahan terbuka dari luar! Dia sampai merasa seolah-olah jantungnya hendak meloncat keluar dan suara detak jantungnya seperti suara tambur. Akan tetapi, suara Sian-su tidak terdengar marah, bahkan ramah sekali ketika berkata, “Cengtaihiap, bangunlah!” Thian Sin sudah merasakan perobahan dalam suara itu, suara yang sifatnya memerintah. Akan tetapi dia pura-pura tidak merasakan hal ini, dan diapun menurunkan lengannya, dan membuka mata. Dilihatnya bahwa mata itu tidak memancarkan kekuatan sihir, maka diapun mengerti bahwa sekali ini Sian-su hendak menghadapi dia dalam keadaan sadar. Bukankah semalam suara Sian-su telah menanamkan pesan kepadanya bahwa dia harus setia dan taat? Baiklah, dia akan bersikap taat. “Ah, Sian-su, malam-malam begini ada apakah? Aku mendengar suara canang dan mendengar suara kaki berlari-lari, setelah suara canang berhenti akupun tidur lagi.” “Canang itu dipukul untuk mengumpulkan anggauta karena ada laporan dari pengamat di luar bahwa ada serombongan orang yang menyerbu tempat kita.” Reaksi Thian Sin cepat dan wajar, kewajaran sikap seorang yang setia! Dia sudah meloncat turun dari pembaringan dan mengepal tinju. “Kita harus basmi mereka!” Dilihatnya betapa sepasang mata di balik topeng itu memancarkan sinar puas dan gembira melihat sikapnya ini, dan Sian-su berkata, “Tidak perlu tergesa-gesa. Mereka itu tidak akan mampu menemukan tempat kita, taihiap.” “Siapakah mereka?” “Ha-ha, mereka itu adalah orang-orang dari Hong-kiam-pai yang dipimpin oleh Im Yang Tosu.” Diam-diam Thian Sin terkejut. Dia mengenal Im Yang Tosu, tokoh dari Kun-lun-pai yang berkepandaian tinggi. “Apakah taihiap belum mengenal Hong-kiam-pang?” Thian Sin menggeleng kepalanya. “Hong-kiam-pang atau Hong-kiam-pai adalah perkumpulan silat yang mengutamakan ilmu pedang mereka, berpusat di kuil Thian-hong-bio di lembah Fen-ho di luar kota Tai-goan. Mereka dipimpin oleh Im Yang Tosu dan Bu Beng Tojin. Ha-ha, mereka berani memusuhi kita, akan tetapi biarlah, tak mungkin mereka dapat menemukan tempat kita ini. Cukup dengan beberapa orang pengamat saja untuk mengamati gerak-gerik mereka di luar tebing Guha Tengkorak, sedangkan kita akan melanjutkan pesta pengangkatan seorang anggauta atau murid baru.” Thian Sin merasa tidak senang, akan tetapi tidak diperlihatkannya pada wajahnya yag tetap tenang. Sinar matanya ketika memandang kepada Sian-su penuh dengan kekaguman, kehormatan dan kesetiaan, sesuai seperti apa yang dikehendaki oleh pendeta siluman itu. “Murid baru wanita?” Pendeta siluman itu tertawa. “Benar, seorang murid baru yang istimewa, taihiap dan terus terang saja, belum pernah kita mempunyai anggauta wanita seperti ini.” Thian Sin merasa agak heran dan juga timbul kecurigaannya, ada perasaan tidak enak menyelinap dalam hatinya. Dia mencoba untuk menduga-duga, akan tetapi tidak berhasil memecahkan teka-teki ini. Siapakah wanita yang dimaksudkan oleh pendeta siluman ini? Hampir dia menduga bahwa jangan-jangan yang dimaksudkan adalah Kim Hong. Akan tetapi dia membantah sendiri dugaannya ini. Kim Hong terlampau cantik untuk dapat terjebak. Memang besar kemungkinan Kim Hong menyelidiki dan memasuki sarang ini untuk mencari dan menolongnya, akan tetapi Kim Hong tentu maklum akan besarnya bahaya kalau membiarkan dirinya terjebak. Tidak, Kim Hong tidak mungkin membiarkan dirinya dijebak seperti dirinya. “Marilah, taihiap, mari kita menemani mereka yang sudah sejak tadi mulai dengan pesta malam ini. Ada seorang pengikut baru, seorang pembesar yang memiliki kedudukan penting di kota raja. Dari dialah kita dapat mengharapkan sumbangan yang besar untuk menyelesaikan bangunan pondok suci untuk tujuh dewa yang mulia. Untuk menghormati kehadirannya dan untuk meresmikan pengangkatan anggauta baru yang juga akan menjadi pilihanku sebagai murid terbaik dan tersayang, taihiap.” Thian Sin mengikuti pendeta siluman itu naik ke dataran puncak bukit di mana telah berkumpul para pengikut yang kemarin malam pernah dilihat oleh Thian Sin. Dan di antara mereka kini terdapat seorang pria berpakaian mewah yang bermuka merah, usianya sudah enam puluh tahun akan tetapi sikapnya masih genit. Ada tiga orang pelayan wanita yang bergaun tipis melayani orang ini dan Thian Sin dapat menduga bahwa orang inilah yang disebut oleh Sian-su tadi sebagai pengikut baru yang terhormat, seorang bangsawan tinggi dari kota raja. Seperti juga kemarin malam, para penari wanita melakukan upacara dan Lu Sui Hwa atau isteri Cia Kok Heng kini ikut pula di antara para penari, nampak cantik dan agung, paling menarik di antara mereka walaupun mukanya agak pucat dan matanya sayu. Thian Sin masih menghadapi semua ini dengan tenang. Akan tetapi ketika tiba giliran anggauta atau murid baru itu mendaki anak tangga menuju ke dataran itu, tiba-tiba Thian Sin mengepal tinjunya dan wajahnya berobah pucat. Dia mengenal Kim Hong yang kini menghampiri Sian-su, Kim Hong yang mengenakan pakaian gaun tipis putih! Dengan mata terbelalak Thian Sin melihat betapa Kim Hong melangkah seperti boneka berjalan menghampiri Sian-su. Dia masih meragukan apakah Kim Hong tidak bersandiwara? Akan tetapi kemudian dia teringat bahwa biarpun Kim Hong memiliki kepandaian ilmu silat yang tidak mungkin kalah dibandingkan dengan pendeta siluman itu, namun kalau pendeta siluman itu mempergunakan ilmu sihir, tentu Kim Hong akan celaka. Dan agaknya kini gadis itu sudah berada di bawah pengaruh sihir. Agaknya untuk upacara ini, ketua Jit-sian-kauw itu menggunakan cara lain. Mungkin saja karena tadi sudah mengatakan untuk mengangkat anggauta baru itu menjadi pilihannya sebagai murid tersayang, maka kini upacaranyapun berbeda dengan yang sudah-sudah. Setelah Kim Hong menjatuhkan diri berlutut di depan ketua agama itu, Sian-su lalu memberkahi gadis itu dengan kedua tangannya di atas kepala Kim Hong, kemudian dengan gerakan halus membangunkan gadis itu, memegang tangannya dan menuntunnya ke dekat pondok-pondok emas kecil. Akan tetapi di situ sekarang telah dihamparkan sebuah kasur dan kini Sian-su membimbingnya dan menyuruhnya terlentang di atas kasur. Kim Hong melakukannya tanpa ragu sedikitpun dan tubuh yang menggairahkan itu, dengan terbungkus gaun yang tipis sekali, kini telah terlentang di atas kasur dengan kedua kaki lurus dan kedua lengan disilangkan di depan perut. Tujuh orang wanita yang membawa kelinci, pisau dan lain-lain telah maju berlutut dan Sian-su kini dengan gerakan perlahan seolah-olah hendak memperlihatkan pertunjukan yang amat menarik, mulai membukai kancing depan gaun itu! Dan memang pertunjukan itu amat menarik karena para tamu yang hadir menghentikan minum dan memandang dengan mata melotot dan pandang mata penuh nafsu! Kalau pada murid biasa, darah kelinci hanya dikucurkan di atas kepala, maka pada murid pilihan ini, darah kelinci akan dikucurkan di atas badan yang telanjang! Ketika kancing bagian atas membuka gaun dan memperlihatkan dada kekasihnya, Thian Sin sudah tidak dapat menahan dirinya lagi. Dengan teriakan melengking panjang dia meloncat ke tempat itu, lalu mengeluarkan bentakan yang penuh dengan kekuatan sihir untuk membuyarkan pengaruh sihir atas diri Kim Hong, “Kim Hong sadarlah! Engkau berada di tangan musuh-musuh kita!” Teriakan ini memang hebat bukan main dan seketika Kim Hong terbelalak dan sadar. Akan tetapi ia masih bingung dan kepalanya terasa pening sehingga ketika pada saat itu Sian-su menggerakkan tangan menotoknya dari jarak yang dekat, ia tidak mampu mengelak dan Kim Hong yang sudah bangkit duduk itu roboh kembali dalam keadaan tertotok. Sementara itu, para anak buah Jit-sian-kauw sudah menerjang Thian Sin. Memang semua perlakuan terhadap Kim Hong tadi disengaja oleh Sian-su dalam usahanya unuk menguji kesetiaan Thian Sin. Ujian terakkir yang tentu saja amat berat bagi Thain Sin dan pendeta siluman yang amat cerdik itu tahu bahwa andaikata Pendekar Sadis berpura-pura, maka kepurapuraannya itu tentu akan terbongkar kalau menghadapi kekasihnya terancam. Bagaimanapun juga, ketua Jit-sian-kauw ini masih sangsi dan merasa ragu-ragu apakah benar Pendekar Sadis dapat ditundukkannya dengan kekuatan sihir karena diapun sudah mendengar bahwa selain memiliki kepandaian silat yang amat tangguh, juga pendekar itu kabarnya memiliki kepandaian ilmu sihir pula. Kalau pendekar itu tetap taat dan setia kepadanya ketika melihat keadaan Kim Hong, maka dia dapat merasa yakin bahwa dia telah benar-benar dapat menguasai Thian Sin dan dapat menarik pendekar itu menjadi pembantunya yang amat menguntungkan. Dan kalau pendekar itu hanya pura-pura, maka tentu rahasianya akan tebongkar, dan untuk itu dia sudah mempersiapkan anak buahnya yang telah berjaga di situ sejak tadi, mengamati gerak-gerik Pendekar Sadis. Itulah sebabnya, ketika Thian Sin mengeluarkan suara melengking dan membentak, belasan anak buah Jit-sian-kauw telah menghadang dan mengoroyoknya, didahului oleh sambaran beberapa batang anak panah dari samping. Lima batang anak panah yang dilepas oleh pasukan anak panah dari samping itu disusul pula oleh lima batang yang lain. Akan tetapi, lima batang anak panah pertama itu runtuh semua ketika Thian Sin menggerakkan tangan kiri dengan mengerahkan sin-kang sehingga ada hawa pukulan menyambar dan meruntuhkan lima batang anak panah itu sebelum senjata itu menyentuh tubuhnya, kemudian, sambil meloncat ke depan, dia memapaki lima batang yang lain dan kedua tangannya menangkapi lima batang anak panah ini dan langsung melontarkannya ke arah lima orang anggauta pasukan panah itu. Terdengar teriakan-teriakan kasakitan ketika tiga orang di antara mereka itu roboh dengan dada tertusuk anak panah mereka sendiri, sedangkan dua orang yang lain mampu menghindarkan diri dengan elakan. Akan tetapi, belum sempat Thian Sin menerjang ke arah Sian-su, dia telah dikepung dan dikeroyok oleh belasan orang anak buah Jit-sian-kauw yang bertopeng tengkorak. Mereka semua telah mengeluarkan bermacam senjata dan menyerang dari semua jurusan dengan maksud membunuh karena Sian-su telah memberi isyarat untuk membunuh lawan yang amat tangguh ini, yang ternyata sama sekali tidak pernah terpengaruh oleh sihirnya dan yang ternyata hanya purapura saja menyerah itu. Kini Thian Sin benar-benar mengamuk! Melihat kekasihnya terancam penghinaan seperti itu, kemarahannya memuncak dan Pendekar Sadis mem-perlihatkan kelihaiannya. Dia tidak mau mengeluar-kan pedangnya, melainkan menyambut hujan senjata itu dengan kedua tangan kosong saja. Akan tetapi tangan kosong yang bagaimana! Seperti sepasang naga mengamuk saja kedua tangan Thian Sin itu ketika dia menghadapi pengeroyokan anak buah Jit-sian-kauw. Dia mengeluarkan semua ilmu yang dikuasainya untuk menghajar para anggauta Jit-sian-kauw itu. Biarpun mereka itu terdiri dari orang-orang yang berkepandaian tinggi, namun di tangan Pendekar Sadis mereka itu tiada bedanya seperti segerombolan anak-anak kecil saja. Seorang anggauta yang agaknya memiliki dasar ilmu silat Siauw-lim-pai, menggunakan sebatang toya. Ilmu toya Siauw-lim-pai terkenal kuat sekali, didasari dengan gerakan yang mengandung tenaga lwee-kang sehingga ujung toya itu tergetar dan kelihatan menjadi banyak. Dengan gerakan mantap dan penuh tenaga, sambil membentak nyaring, pemegang toya ini menusukkan toyanya ke arah dada Thian Sin. Akan tetapi karena ujung toya itu ter-getar sukarlah untuk diduga apakah benar dada yang diserang itu, ataukah tenggorokan atau pusar, atau juga lambung kanan kiri. Ada semua kemungkinan itu dan inilah lihainya permainan toya itu. Namun, Thian Sin menghadapinya dengan tenang saja, bahkan menanti sampai toya itu mencium tubuhnya dan ternyata ujung toya itu mendarat pada lambungnya yang kiri. Begitu ujung toya mencium bajunya di lambung, Thian Sin menggerakkan tangan kirinya yang dimiringkan dan yang mengandung tenaga Thian-te Sin-ciang sepenuhnya itu, membacok ke bawah ke arah toya. “Krakkk!” Dan toya itu patah-patah menjadi tiga potong, kemudian sebelum pemegang toya yang merasa betapa telapak tangannya berdarah dan terkupas kulitnya itu sempat menguasai keadaannya, kaki Thian Sin sudah menendang orang dan orang itupun terlempar dan terbanting roboh, tidak mampu bangkit kembali. Thian Sin masih ingat bahwa besar sekali kemungkinannya para anggauta Jit-sian-kauw ini bergerak di bawah pengaruh sihir atau setidaknya juga kepercayaan yang membuta terha-dap Sian-su sehingga mereka itu tidak sadar bahwa mereka telah membantu seorang yang amat jahat. Mungkin sekali para anggauta ini adalah orang baikbaik yang telah terseret karena pandainya Sian-su mengambil hati dan menundukkan mereka. Karena itu, maka Pendekar Sadis ini masih merasa kasihan untuk membunuh mereka dan tendangannya tadipun terarah dan terkendalikan sehingga biarpun orang itu tidak mampu bangkit lagi, namun tidak menderita luka yang dapat merenggut nyawaya, hanya patah tulang dan salah urat saja. Anggauta yang memegang toya itu terkenal di antara kawan-kawannya sebagai satu di antara lima murid utama dari Sian-su, maka melihat dia dalam segebrakan saja roboh, para pengeroyok itu menjadi gentar. Akan tetapi merekapun menyerbu dengan berbareng, tidak lagi berani maju satu- satu. Thian Sin mengerling dengan ujung matanya dan melihat betapa Sian-su masih berdiri, dan hanya nonton pertempuran itu, sedangkan Kim Hong sudah rebah miring tak bergerak, dalam keadaan tertotok. Hatinya menjadi gelisah. Ingin dia cepat-cepat menyerang Sian-su dan menyelamatkan Kim Hong, apapun juga yang terjadi. Hal ini membuat dia menjadi semakin marah kepada para anggauta yang mengepungnya. Ketika dia melihat tosu penghuni kuil, yang dikenalnya dari kebiasaannya memiringkan muka, kemarahannya memuncak. Dia tidak memperhatikan serangan yang datang bagaikan hujan itu, melainkan memutar

tubuhnya dan melesat ke arah tosu itu sambil membentak, “Tosu palsu keparat!” Tubuhnya disambut oleh banyak senjata, akan tetapi gerakan tangannya yang mendorong dengan ilmu mujijat Hok-liong Sin-ciang itu sedemikian hebatnya sehingga lima orang yang senjatanya langsung bertemu dengannya itu terjengkang seperti dilanda angin ribut, tosu yang memakai topeng setan itu sudah menusukkan pedangnya ke arah dada Thian Sin. Akan tetapi sebelum ujung pedangnya mengenai dada lawan, angin pukulan dari Hok-liong Sin-ciang sudah lebih dulu menyambutnya dan tosu ini mengeluarkan pekik mengerikan ketika tubuhnya terjengkang dan terbanting sedemikian kerasnya sehingga diapun tak berkutik, pingsan dan hampir mati kalau saja tadi Thian Sin tidak menahan tenaganya! Gegerlah keadaan di ruangan atas itu. Beberapa orang tamu yang memiliki kepandaian silat sudah melangkah maju hendak membantu pihak tuan rumah, akan tetapi Sian-su memberi isyarat dan mereka itu hanya berkumpul di belakang Sian-su, dengan senjata di tangan. Sikap mereka sudah jelas hendak melindungi dan membantu Sian-su kalau Pendekar Sadis berusaha menyerang ketua agama ini! Mereka itu rata-rata telah berjanji setia kepada Sian-su, tentu saja dengan keyakinan sepenuhnya bahwa mereka akan menikmati kesenangan dunia akhirat! Pengeroyokan semakin ketat, akan tetapi Thian Sin kini sudah menjadi marah betul dia ingin segera menyerang Sian-su dan membebaskan Kim Hong, dan ulah para anggauta Jit-sian-kauw ini dengan menghalanginya, maka tiba-tiba dia mengeluarkan pekik nyaring dan membiarkan dirinya menjadi sasaran banyak senjata. Akan tetapi, bukan dia yang terluka atau berteriak kesakitan, sebaliknya malah belasan orang itu kini terbelalak dan berteriak-teriak minta dilepaskan. “Lepaskan aku…! Lepaskan aku…!” “Lepaskan… aaahhh…!” Belasan orang itu membetot-betot senjata mereka yang menempel pada tubuh Pendekar Sadis, akan tetapi makin kuat mereka membetot, semakin kuat pula senjata itu melekat! Thian Sin telah mempergunakan ilmu mujijat Thi-khi-i-beng, yaitu ilmu sin-kang yang sudah sampai di puncak keku-atannya sehingga dapat menyedot tenaga sin-kang lawan melalui senjata atau tangan yang menempel di tubuhnya. Tenaga dalam mereka itu membanjir keluar melalui gagang senjata masing-masing dan terasa tersedot oleh kekuatan yang luar biasa besarnya! Melihat keanehan ini, Sian-su dan para pengikutnya memandang dengan mata terbelalak dan pendeta siluman itu merasa tengkuknya meremang. Belum pernah selama hidupnya dia berhadapan dengan seorang yang seperti itu lihainya-. Dia pernah mendengar tentang ilmu menyedot te-naga lawan ini, akan tetapi menganggapnya ilmu itu hanya dibesar-besarkan saja dan semacam do-ngeng. Akan tetapi sekarang, walaupun tidak meng-alaminya sendiri, dia telah menyaksikan betapa anak buahnya menjadi korban ilmu mujijat itu. Dia sendiri mengerti bagaimana sebaiknya meng-hadapi ilmu menyedot yang berbahaya itu, akan tetapi dia melihat keadaan yang lebih baik dari pada harus mati-matian mencoba untuk menunduk-kan Pendekar Sadis dengan kekerasan. “Hyaaaattt…!” Tiba-tiba Pendekar Sadis me-mekik dan belasan orang yang tadinya tersedot olehnya dan yang mulai pucat mukanya dan lemah gerakan mereka untuk meronta terlempar ke kanan kiri dan jatuh terbanting di atas lantai, mengeluh dan tidak kuat untuk berdiri lagi. Mereka ini harus mengumpulkan tenaga dan hawa murni untuk memulihkan kekuatan. Dengan mata mencorong seperti mata seekor naga sakti, Thian Sin kini melangkah mnaju perlahan-lahan. Para anggauta Jit-sian-kauw yang belum roboh masih mengepungnya dan ikut bergerak melangkah, akan tetapi tidak berani terlalu dekat, muka mereka pucat dan jelas terbayang wajah mereka betapa hati mereka jerih menghadapi pendekar yang luar biasa ini. “Berhenti, Ceng Thian Sin!” Tiba-tiba Sian-su membentak. Thian Sin tersenyum mengejek. “Tidak perlu menggertakku dengan ilmu sihir-mu yang tidak manjur, siluman!” “Berhenti atau pedangku akan menembus jantungnya!” Tiba-tiba Sian-su menggerakkan sebatang pedang dengan ujung pedang itu sudah menempel pada kulit putih di dada Kim Hong yang terbuka, tepat di antara dua bukit dadanya. Melihat ini, seketika Thian Sin menghentikan langkahnya dan matanya mengeluarkan kilat. Topeng tengkorak itu tersenyum lebar, penuh ejekan. “Hemm, kau lihat, aku masih menguasaimu, Pendekar Sadis. Memang engkau hebat dan gagah perkasa, akan tetapi belum tentu aku kalah olehmu.” “Pendeta jahanam! Kalau memang engkau laki-laki sejati dan jantan tulen, jangan mengancam orang yang sudah tidak berdaya karena kecurang-anmu! Hayo lawan aku sebagai laki-laki, atau kaubebaskan Kim Hong lalu melawannya tanpa kecurangan!” “Ha-ha-ha, menggunakan tenaga sedikit mungkin untuk mencapai kemenangan, itu adalah sikap cerdik dan bijaksana. Kalau engkau berkeras, aku akan bunuh wanita ini lebih dulu, berarti aku sudah menang separuh. Kecuali kalau engkau menyerah…” “Hemm, engkau hendak memaksaku untuk mengancam nyawa Kim Hong. Baik, kalau aku menyerah lalu apa yang hendak kaulakukan? Tidak urung engkau akan membunuh kami berdua juga!” Thian Sin mengepal tinjunya. “Dari pada melakukan kebodohan itu, menyerahkan diri untuk akhirnya kaubunuh juga bersama Kim Hong, lebih baik aku membiarkan kau membunuh Kim Hong lalu engkau… hemm.. Pendekar Sadis akan hidup lagi, akan menjadi paling sadis antara semua kesadisannya yang pernah dilakukannya untuk menyiksamu!” Tanpa disadarinya, pendeta siluman itu merasa betapa tengkuknya meremang dan jantungnya berdebar. Sungguh mengerikan mendengarkan ucapan dari pemuda tampan itu dan dia dapat merasakan bahwa ucapan itu bukanlah ancaman belaka. Orang ini harus dienyahkan, harus dibasmi. Kalau tidak, selama hidupnya akan terancam. “Aku bukan orang bodoh, Pendekar Sadis. Aku -berjanji, kalau engkau menyerahkan diri tanpa melawan, aku tidak akan membunuh kalian.” “Katakan, apa yang hendak kaulakukan terha-dap kami kalau aku tidak melawanmu dengan kekerasan!” “Apa yang akan kami lakukan adalah urusan kami. Akan tetapi kalau engkau menyerah tanpa – kekerasan, aku atas nama Jit-sian-kauw, atas nama Dewa Kematian, aku bersumpah untuk tidak membunuh Toan Kim Hong dan Ceng Thian Sin!” Diam-diam Thian Sin mengerti bahwa kalau dia menyerah, berarti dia mempertaruhkan nyawanya dan nyawa Kim Hong. Akan tetapi, dia per-caya bahwa pendeta siluman itu tidak mungkin- akan berani melanggar sumpahnya setelah bersum-pah demi nama Jit-sian-kauw dan Dewa Kematian, apa lagi disaksikan oleh semua pengikutnya. “Sumpahmu disaksikan oleh para tamu yang hadir saat ini!” kata Thian Sin menekan. “Benar, disaksikan oleh para tamu terhormat. Kami bukan golongan pengecut yang suka melanggar janji!” kata Sian-su dengan suara dibikin gagah. “Baik, aku menyerah.” Thian Sin berpendapat bahwa yang paling penting untuk saat itu adalah keselamatan dan keamanan mereka berdua. Soal nanti selanjutnya, biarlah, tentu akan ada jalan lain. “Akan tetapi, engkau harus menyingkirkan dulu Kim Hong dari sini dan biarkan ia mengaso dan jangan mengganggunya selama sehari semalam! Kalau engkau tidak mau berjanji seperti itu, sam-pai mati aku tidak mau menyerah dan kita lihat saja, siapa yang akan binasa dalam pertempuran di antara kita!” Ketua Jit-sian-kauw itu mengerti bahwa kalau pemuda itu mau menyerah, semata-mata adalah karena pemuda itu tidak ingin melihat Kim Hong mati. Dan dia sendiripun tidak berniat untuk membunuh Kim Hong. Sama sekali tidak. Dia mempunyai rencana sendiri terhadap diri Kim Hong. Dia sudah mendengar bahwa dara itu memiliki ilmu silat yang tidak kalah lihainya dibandingkan dengan Pendekar Sadis. Oleh karena itu, biarlah dia kehilangan Pendekar Sadis sebagai pembantu, asal berhasil membuat gadis lihai itu sebagai pembantunya, juga kekasihnya yang baru. Kecantikan Kim Hong sudah menarik hatinya dan diapun da-pat menguasai gadis itu dengan ilmu sihir, tidak seperti Pendekar Sadis yang kebal ilmu sihir. “Baiklah, Pendekar Sadis. Aku berjanji bahwa selain aku tidak akan membunuh kalian berdua, juga nona Toan Kim Hong akan dirawat baik–baik, dibiarkan beristirahat dan tidak akan mengganggunya selama sehari semalam. Nah, aku berjanji, disaksikan semua tamu terhormat!” Thian Sin melihat betapa Kim Hong yang masih lemas tertotok itu diangkut pergi oleh empat orang penari wanita setelah pendeta siluman itu memberikan perintahnya. Diapun lalu melemaskan tubuhnya. “Aku menyerah.” “Kami masih sangsi akan ketulusanmu, maka kami terpaksa akan membelenggu kaki tanganmu.” kata Sian-su. Thian Sin mengangguk dan diapun tidak memberontak dan mandah saja ketika dua orang anggauta Jit-sian-kauw mendekatinya dan membelenggu kedua tangannya ke belakang, juga kedua kakinya. Tiba-tiba, sehelai saputangan ditutupkan mukanya. Thian Sin mencium bau keras dan diapun tak sadarkan diri oleh obat bius yang amat kuat. *** Orang-orang Hong-kiam-pang merasa marah dan sakit hati sekali ketika mendengar bahwa dua orang murid mereka yang terkenal, yaitu Cia Kok Heng dan Kwee Siu, tewas di dalam langan Siluman Gaha Tengkorak. Mereka lalu mengadakan rapat darurat, memanggil semua tokoh murid mereka dan rapat itu dipimpin oleh dua orang pemimpinnya yaitu Im Yang Tosu yang menjadi ketuanya dan Bu Beng Tojin yang menjadi pembantu utama atau wakil ketuanya. Im Yang Tosu adalah seorang tosu berusia hampir tujuh puluh tahun, tubuhnya kurus dan pendek, akan tetapi wajahnya masih nampak segar dan gerakannya juga masih lincah. Tosu ini adalah tokoh Kun-lun-pai, maka tentu saja berhak untuk menjadi ketua Hong-kiam-pang yang menjadi cabang dari Kun-lun-pai. Ilmu kepandaiannya tinggi dan wataknya keras walaupun telah berpuluh tahun dia menjadi pendeta Agama To. Wakilnya yang berjuluk Bu Beng Tojin adalah seorang pendeta yang bertubuh tinggi kurus, bermata tajam dan bersikap lemah lembut dan pendiam. Akan tetapi dia merupakan seorang pembantu yang baik sekali, bahkan hampir semua urusan luar dari Hong-kiam-pang berada dalam pengawasannya. Seperti juga Im Yang Tosu, tentu saja Bu Beng Tojin ini mahir Ilmu Pedang Hong-kiam-sut, akan tetapi berbeda dari Im Yang Tosu yang mang menjadi murid yang pandai dari Kun-lun-pai, sebaliknya Ba Beng Tojin ini bukan murid Kun-lun-pai, melainkan ahli dalam pelbagai cabang ilmu silat berbagai aliran. Akan tetapi, setelah diuji oleh Im Yang Tosu sendiri, ternyata kepandaian Bu Beng Tojin ini cukup lihai, bahkan hanya sedikit di bawah tingkat Im Yang Tosu, oleh karena itu maka dia dipercaya dan diangkat sebagai pembantu utama atau boleh dibilang juga wakil ketua. Dalam banyak urusan, usul-usulnya selalu baik dan dapat diterima. Dalam menghadapi Siluman Guha Teng-korak sekalipun, Im Yang Tosu menyerahkan ke-pada wakilnya itu untuk mengatur bagaimana baiknya untuk membalas kematian dua orang murid mereka. “Sesungguhnya memang serba susah.” kata Bu Beng Tojin dalam rapat itu ketika ditanyai pendapatnya.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: