Siluman Goa Tengkorak (Jilid ke-9)

Tosu ini menerima peti, mengangguk dan segera meloncat pergi dari kamar rahasia itu, bersimpang jalan dengan ketuanya. Memang telah terjadi pertempuran semenjak di terowongan. Seperti kita ketahui, Thian Sin dan Kim Hong menuju ke balik tebing untuk menyerbu sarang Jit-sian-kauw itu dari belakang, melalui jalan rahasia, yang telah mereka berdua ketahui. Akan tetapi sebelum menuju ke situ, Thian Sin mengajak Kim Hong untuk lebih dulu memasuki sebuah hutan kecil tak jauh dari situ. “Eh, kita ke mana?” tanya Kim Hong yang seperti juga kekasihnya telah menanggalkan pakaian dan topeng tengkorak. “Sudah kuceritakan kepadamu bahwa aku pernah terpaksa mengusir lima owang tokoh Bu-tongpai dan aku berhasil memberi tahu mereka tentang keadaanku dan minta kepada mereka untuk menanti di hutan ini. Nah, itu mereka!” kata Thian Sin ketika melihat Liang Hi Tojin keluar dari sebuah gubuk kecil bersama empat orang murid Bu-tong-pai. Cepat Thian Sin dan Kim Hong menghampiri mereka. “Siancai, siancai… sungguh tidak sabar kami menanti-nanti berita darimu, Ceng-taihiap,” kata Liang Hi Tojin sambil menjura ke arah dua pendekar itu.

“Dan Toan-lihiap juga sudah datang, sungguh membesarkan hati!” Thian Sin dan Kim Hong yang sudah mengenal tokoh ke dua dari Bu-tong-pai ini segera membalas penghormatan mereka berlima. “Saya menanti saat baik dan kesempatan, totiang. Dan sekaranglah saat baik itu tiba.” “Kita menyerbu Guha Tengkorak? Tapi… kami tidak pernah menemui jalan masuk.” “Jangan khawatir, kami sudah tahu jalannya.” kata Kim Hong. “Mari ngo-wi (kalian berlima) ikuti kami.” Berbondong-bondong merekapun berangkat dengan penuh semangat. Orang-orang Bu-tong-pai ini bukan hanya ingin membalas kematian Louw Ciang Su murid Bu-tong-pai, seorang di antara Tujuh Pendekar Tai-goan, akan tetapi juga mereka merasa bertugas untuk membasmi gerombolan Siluman Guha Tengkorak yang telah melakukan pengacauan dan kejahatankejahatan kejam itu. Setelah menemukan jalan masuk rahasia melalui terowongan itu, Thian Sin masuk lebih dulu, diikuti oleh Kim Hong. Barulah, di belakang dua orang pendekar ini, Liang Hi Tojin dan empat orang murid keponakannya berjalan masuk dengan pedang siap di tangan mereka. Sebagai seorang yang pernah dipertaya oleh Sian-su, Thian Sin pernah melalui terowongan ini dan rahasia jebakan terowongan ini tidak disembunyikan darinya, maka sedikit banyak dia tahu di mana adanya jebakan-jebakan itu. Sebaliknya, ketika melarikan diri dari tempat itu, Kim Hong membawa seorang tawanan yang telah memberi tahu kepadanya adanya jebakan-jebakan sehingga ia bersikap hati-hati dan juga dalam keributan itu, terowongan tidak terjaga dan tidak ada anggauta gerombolan yang menggerakkan alat rahasia jebakan. Ketika tiba di sebuah tikungan terowongan, tiba-tiba Thian Sin berseru, “Awas anak panah!” Dan hampir berbareng dengan ucapannya, dari depan dan belakang menyambar puluhan batang anak panah ke arah mereka! Akan tetapi, orang-orang Bu-tong-pai itu sudah siap dengan pedang mereka dan dengan memutar pedang, anak panah yang menyambar mereka runtuh ke atas tanah. Kim Hong dan Thian Sin menggunakan gerakan tangan mereka menangkis, dan dua batang anak dapat ditangkap oleh Thian Sin yang cepat menggerakkan tangan. Dua batang anak panah itu meluncur ke atas dan terdengarlah jeritan orang disusul jatuhnya sesosok tubuh yang tadinya bersembunyi di bagian atas dan menggerakkan alat-alat yang meluncurkan anak-anak panah itu. Orang itu tewas dengan leher dan dada tertembus dua batang anak panah yang dilemparkan oleh Thian Sin tadi. Mereka melanjutkan perjalanan dengan hati-hati tanpa memperdulikan orang yang sudah tewas itu. Mereka melangkahi mayat itu dan dengan hati-hati Thian Sin terus melangkah maju, diikuti oleh yang lain. Terowongan itu tidak begitu gelap, agak remang-remang karena ada cahaya matahari yang masuk melalui beberapa celah-celah yang berada di langit-langit torowongan. “Berhenti…!” Tiba-tiba Thian Sin berbisik dan semua orang berhenti. Tidak nampak sesuatu yang mencurigakan di situ, akan tetapi mereka melihat Pendekar Sadis memberi isyarat agar mereka berhenti, sedangkan dia sendiri melangkah ke depan sambil melirik ke sana-sini dengan penuh kewaspadan. Tiba-tiba terdengar bunyi berderit dan lantai yang diinjaknya itu terbuka, sedangkan di dalam sumur di bawah itu nampak batu-batu meruncing menanti di bawah! Akan tetapi, Thian Sin sudah mengeluarkan suara melengking dan tubuhnya mencelat ke kanan, ke arah batu karang besar dan sekali tangannya menyambar, dia telah menangkap seorang laki-laki bertopeng tengkorak dan tubuh orang itupun dilemparkannya ke dalam sumur, sedangkan dia sendiri sudah meloncat lagi ke tempat semula di mana teman-temannya berdiri memandang dengan mata terbelalak ke dalam sumur. Orang yang terlempar itu mengeluarkan suara pekik mengerikan dan tubuhnya disambut oleh batu-batu karang yang seperti golok itu dan tewas seketika. Lantai itu masih terbuka dan terpaksa mereka bertujuh lalu melompati sumur itu dan melanjutkan perjalanan lagi ke depan. Tidak ada lagi jebakan yang menghadang perjalanan mereka, akan tetapi begitu mereka keluar dari pintu rahasia, mereka sudah diserbu oleh para anak buah Siluman Guha Tengkorak yang dibantu oleh sepuluh orang tamu pemeluk kepercayaan baru itu sehingga terjadilah perkelahian yang amat seru. Liang Hi Tojin mengamuk dan empat orang murid keponakannya juga mempermainkan pedang mereka, dikeroyok oleh para anggauta gerombolan Jit-sian-kauw yang dibantu oleh sepuluh orang tamu. Melihat betapa sepak terjang Liang Hi Tojin dan empat orang murid Bu-tong-pai itu cukup tangkas dan kuat, Thian Sin dan Kim Hong lalu sama-sama meloncat ke arah dalam. “Engkau dari kiri, aku dari kanan!” kata Thian Sin dan nona itu mengangguk mengerti apa yang dikehejndaki kekasihnya. Mereka berdua sudah tahu di mana adanya kamar Sian-su, dan memang ada dua jalan yang menuju ke kamar itu, sebuah kamar yang mewah dan di mana hampir setiap malam terjadi kecabulan. Pada saat itu, seorang yang berpakaian dan bertopeng Siluman Tengkorak sedang bergegas melarikan diri keluar dari lorong sambil membawa sebuah peti hitam. Orang ini bukan lain adalah Siok Cin Cu, tosu pembahtu utama Sian-su yang bertugas menyelamatkan sebuah peti berisi barang perhiasan itu. Diam-diam tosu ini merasa heran, mengapa Sian-su tidak lebih dulu menyambut dan menahan serbuan lawan melainkan lebih mementingkan untuk menyelamatkan barang-barang berharga itu. Akan tetapi karena dia sendiri maklum betapa lihainya Pendekar Sadis, tugas ini tentu saja menggembirakan hatinya. Dia tidak perlu menghadapi lawan yang mengerikan itu dan lebih enak menyelamatkan diri membawa peti perhiasan yang dia tahu amat berharga ini. Andaikata Sian-su gagal, dia sendiri masih mempunyai sebuah peti yang akan cukup untuk dimakan selama tujuh turunan dalam keadaan mewah! Ketika dia belari melalui lorong itu, tiba-tiba dia melihat seorang wanita cantik berdiri di depan. Dia mengira bahwa tentu seorang di antara para gadis dayang dan penari yang keluar dari tempat mereka dikurung. Melihat wanita cantik ini, Siok Cin Cu tersenyum di balik topengnya. Bagaimana kalau dia membawa wanita cantik itu bersamanya? Selain untuk teman di perjalanan juga untuk menghibur hatinya! “Hei, berani engkau keluar dari ruangan itu? Hayo kau ke sini dan ikut bersamaku….!” Akan tetapi tiba-tiba Siok Cin Cu menghentikan kata-katanya setelah dia datang dekat dan mengenal wanita ini yang bukan lain adalah Toan Kim Hong! Kim Hong berdiri dengan senyum manis dikulum. Ucapan yang keluar dari balik topeng itu dikenalnya dengan baik dan senyumnya makin melebar menghias bibirnya yang merah basah dan manis ini. Ia lalu bertolak pinggang menghadang di tengah lorong. “Aihh, kiranya si pertapa Siok Cin Cu yang suci itupun mempunyai jubah dan topeng tengkorak? Totiong, tentu engkau tidak lupa kepadaku, bukan? Aku tidak pernah dapat melupakanmu dan budi totiang ketika membawaku ke susiok totiang itu sampai sekarang belum juga sempat kubalas!” Kim Hong berkata dengan nada manis dan ramah, akan tetapi sepasang matanya yang mencorong itu mengeluarkan sinar dingin yang membuat Siok Cin Cu merasa bulu tengkuknya meremang. Akan tetapi dia bukan seorang lemah. Dia adalah pembantu utama dari Sian-su dan dia telah memiliki ilmu kepandaiin tinggi. Karena maklum bahwa bicara banyak tiada gunanya dan bahwa wanita ini adalah teman dari Pendekar Sadis, maka sebelum pendekar itu sendiri muncul dia harus dapat merobohkan wanita ini. Maka dia lalu mengeluarkan bentakan nyaring dan dia sudah menggerakkan tangan kanannya untuk mencabut senjatanya, yaitu sebatang pedang dari pinggangnya, lalu dia menubruk ke depan dengan serangan kilatnya! Tangan kirinya masih memeluk peti hitam di dekat dadanya. “Singgg…! Wuuuutt…!” Tusukan pedang itu luput ketika Kim Hong dengan seenaknya mengelak akan tetapi tusukan itu dilanjutkan dengan sabetan sebagai serangan selanjutnya. Gerakan tosu ini memang cukup cepat. Namun, tentu saja dia hanya merupakan lawan yang lunak dari Kim Hong yang pernah menjadi datuk berjuluk nenek Lam-sin ini. Sambil tersenyum mengejek, Kim Hong kembali mengelak. Ia tidak cepat turun tangan terhadap tosu ini karena perhatiannya tertarik kepada peti hitam yang dipeluk si kakek. Tentu terisi benda penting maka hendak dilarikan oleh tosu ini, pikirnya. Oleh karena itu, timbul niat di hatinya merampas peti ini dan memeriksa apa isinya, baru ia akan menghajar tosu palsu ini. “Hyaaaatt…!” Kembali Siok Cin Cu menyerang dengan gerakan pedangnya yang berkelebat seperti kilat menyambar itu. Kim Hong cepat mengelak ke kiri dan ketika pedang itu menusuk ke arah matanya, ia miringkan kepala dan menggunakan tangan kiri untuk menjepit ujung pedang itu dengan ibu jari, telunjuk dan jari tengah, sedangkan kaki kanannya menendang ke arah muka lawan dengan gerakan kilat. “Brettt!” Tosu itu berteriak kaget, bukan hanya karena pedangnya seperti terjepit baja dan topeng tengkoraknya robek terkena ujung sepatu gadis itu, akan tetapi terutama sekali karena pada saat itu tangan kanan gadis itu sudah bergerak dan merampas peti hitamnya! Setelah berhasil merobek topeng sehingga nampak wajah Siok Cin Cu yang agak pucat dan berhasil pula merampas peti hitam, Kim Hong tertawa dan dengan tubuh membuat jungkir balik tiga kali, ia meloncat ke belakang lalu duduk sembarangan di atas lantai, membuka peti hitam itu. Wajahnya berseri, matanya terbelalak dan mulutnya tersenyum girang ketika ia melihat isi peti yang berkilauan, terdiri dari perhiasan-perhiasan emas perak penuh batu permata yang mahal-mahal itu. Dengan wajah pucat Siok Cin Cu memandang. Dia tahu bahwa nona itu lihai bukan main dan kalau berkelahi secara berhadapan, belum tentu dia akan menang. Maka, melihat betapa gadis itu kini terpesona oleh perhiasan di dalam peti seperti seorang anak kecil tertarik oleh mainan yang bagus, diam-diam dia lalu mengambil jalan memutar, mengitari gadis dalam ruangan itu dengan pedang siap di tangan. Setelah tiba di belakang Kim Hong, tiba-tiba dia meloncat, menubruk dan menggerakkan pedangnya untuk melakukan serangan maut yang kiranya tak akan mungkin dihindarkan oleh gadis yang sedang duduk di lantai dan tertarik oleh perhiasanperhiasan itu. Akan tetapi, tanpa menoleh Kim Hong menggerakkan tangan yang sedang memegang tusuk konde kumala tadi ke belakang dan gerakan tosu itu terhenti di tengah udara! Tubuh yang sedang mengangkat pedang hendak membacok itu tiba-tiba terhenti, seperti tertahan oleh kekuatan dahsyat, pedangnya terhenti di atas kepala lalu terlepas dan jatuh ke atas lantai, kedua lututnya terkulai dan tertekuk lalu tubuhnya jatuh berlutut, kedua tangan mendekap dada di mana tusuk konde itu amblas dan memasuki dadanya tepat menusuk jantung. Diapun roboh dan hamya berkelojotan sebentar. Tewaslah Siok Cin Cu tanpa dapat bersambat lagi, matanya terbuka memandang kosong ke arah peti hitam yang terbuka di depan Kim Hong. Kim Hong meloncat bangun dan menutupkan kembali peti hitam, lalu membawa peti itu dan berloncatan menuju ke kamar pusat di mana ia mengharapkan akan dapat bertemu dengan orang yang amat dibencinya, yaitu Sian-su atau Siluman Guha Tengkorak, ketua dari Jit-siankauw. Akan tetapi ia telah kalah dulu oleh Thian Sin. Seperti juga halnya tosu Siok Cin Cu, Sian-su atau Siluman Guha Tengkorak itu melarikan diri membawa sebuah peti hitam yang dipeluknya. Akan tetapi baru saja dia meninggalkan kamarnya dan tiba di ruangan sembahyang, tiba-tiba dia berhenti berlari dan memandang ke depan dengan mata terbelalak. Pendekar Sadis telah berdiri di situ sambil bertolak pinggang dan menentang pandang mata dengan senyum mengejek dan mata mencorong penuh kemarahan! Dapat dibayangkan betapa kaget hati Siluman Guha Tengkorak melihat pendekar ini. “Ah, Ceng-taihiap…!” katanya dengan suara yang ramah sekali, suara yang mengandung kekuatan sihir untuk menundukkan hati lawan. “Aku selalu memegang janji, tidak membunuh engkau atau Toan-lihiap…” “Basus, memang engkau tidak melanggar janji. Dan akupun tidak akan membunuhmu, hanya ingin menangkapmu dan menyerahkanmu kepada para tosu Hong-kiam-pang dan Bu-tong-pai.” “Pengkhianat kau!” bentak Sian-su dan diapun sudah menerjang den memukulkan tangan kanannya ke arah kepala Thian Sin. “Darrr…!” Thian Sin terkejut juga melihat sinar terang dan bunyi ledakan ketika ada benda menghantam dinding di belakangnya. Pukulan Sian-su tadi dielakkannya dan ternyata Sian-su itu tidak hanya memukul, melainkan juga melepaskan sesuatu dari kepalan tangannya ke arah kepalanya yang membentur dinding dan meledak, membuat dinding itu berlubang sebesar kepala orang. Kalau benda itu mengenai kepalanya dan meledak, tentu kepalanya yang akan pecah! Sian-su sudah menerjang lagi dengan penuh kemarahan dan karena tangan kirinya masih memeluk peti hitam, dia menggunakan pukulan tangan kanan secara beruntun dua kali dibantu oleh tendangan kakinya satu kali. “Dukk! Dukk! Desss…!” Thian Sin sengaja menangkis dua kali pukulan dan satu kali tendangan itu sambil mengerahkan tenaga keras lawan keras. Tubuhnya tergetar oleh pertemuan tenaga itu, akan tetapi juga Sian-su terdorong ke belakang sampai dua langkah dan terhuyung. Thian Sin tersenyum mengejek. “Ha-ha-ha, Siluman Guha Tengkorak! Sekarang keluarkanlah semua kepandaianmu. Mari kita lihat siapa di antara kita yang lebih kuat!” Siluman itu hanya menggeram dan kini dia sudah menerjang lagi karena Thian Sin menghalang di depannya. Tangan kanannya bukan memukul melainkan mencengkemm dan melihat betapa gerakan tangan itu berputar disertai bunyi suara mencicit nyaring, tahulah Thian Sin bahwa lawannya menggunakan ilmu pukulan yang amat keji, dan mungkin merupakan tok-ciang (tangan beracun). Akan tetapi, tentu saja Pendekar Sadis tidak takut, bahkan gentar sedikitpun tidak menghadapi cengkeraman ini. Diam-diam dia sudah merasa heran mengapa lawannya tetap memeluk peti hitam itu, padahal dalam pertemuan tenaga tadi saja siluman itu tentu sudah maklum bahwa tenaga siluman itu kalah kuat. Kalau bukan peti yang isinya amat berharga tentu siluman itu akan melepaskannya agar dapat menyerang dengan leluasa dan memper-gunakan seluruh kepandaiannya. “Wuttt… plakk…!” Tangan yang mencengkeram ke arah ubun-ubun itu dielakkan oleh Thian Sin, akan tetapi dibiarkan mengenai pundaknya dan dia telah menyambutnya dengan pengerahan tenaga Thi-khi-i-beng! “Aihhhh…!” Sian-su memekik terkejut bukan main ketika cengkeramannya yang mengenai pundak itu mengakibatkan tenaganya membanjir keluar, tersedot oleh kekuatan yang amat dahsyat dan pada saat itu, petinya telah terampas oleh Thian Sin. “Thi-khi-i-beng…!” serunya dan tiba-tiba tenaga cengkeramannya itu menghilang dan pada saat itu, dua jari tangan kirinya mencuat ke depan, ke arah kedua mata Thian Sin. Memang hebat juga ketua Jit-sian-kauw ini. Agaknya dia telah mengenal baik Thi-khi-i-beng dan tahu bagaimana caranya untuk menghadapinya. Dia telah menghentikan aliran tenaga sin-kangnya sehingga tidak sampai tersedot lagi`dan jari tangan kirinya yang menusuk ke arah sepasang mata lawan itu tentu saja tidak dapat dihadapi dengan Thi-khi-i-beng, karena sin-kang yang bagaimana hebatpun tidak mungkin dapat disalurkan melalui biji mata! Thian Sin maklum akan berbahayanya serangan lawan itu, maka diapun sudah meloncat ke belakang sambil membawa peti hitam. Akan tetapi, gerakannya itu memberi kesempatan kepada lawannya untuk meloncat ke kiri dan tiba-tiba saja siluman itu lenyap di balik sebuah tiang besar. “Siluman keparat hendak lari ke mana engkau?” Thian Sin membentak dan mengejar, akan tetapi di belakang tiang ini tidak ada apa-apanya dan si-luman itu lenyap tanpa meninggalkan jejak. Thian Sin menjadi penasaran sekali. Dia merasa yakin bahwa siluiman itu tidak meninggalkan tempat itu melalui lain jalan. Tadi hanya nampak meloncat ke belakang tiang ini dan lenyap. Maka diapun lalu menggerakkan tangan kanannya menampar ke arah tiang sambil mengerahkan tenaga. “Brakkkkk…!” Tiang yang tebal sekali itu, dua kali ukaran manusia tebalnya, pecah berantakan dan kiranya sebelah dalam tiang itu ber-lubang dan tiang itu adalah tiang palsu, bukan balok kayu melainkan papan yang dibentuk seperti tiang dan di dalamnya berlubang. Setelah pecah berantakan, nampak labang itu ke bawah. Thian Sin maklum bahwa itulah jalan rahasia yang dilalui oleh lawannya, maka tanpa ragu-ragu lagi sambil masih mengempit peti hitam, diapun meloncat ke dalam lubang yang ternyata tidak berapa dalam itu. Dia tiba di sebuah ruangan bawah dan terus meloncat ke arah pintu yang membawanya ke sebuah ruangan lain yang penuh dengan cermin. Cemin-cermin kecil yang bersambung-sambung itu mencerminkan dirinya menjadi banyak sekali. Tiap kali dia bergerak, Thian Sin melihat semua bayangannya itu ikut bergerak sehingga dia merasa seperti dikepung oleh banyak sekali orang, ada tiga puluh banyaknya, semua

merupakan bayangannya sendiri. Akan tetapi sebagai seorang ahli silat, tentu saja gerakan-gerakan itu membuatnya terkejut dan waspada. Setelah yakin bahwa semua bayangan itu adalah bayangannya, barulah dia berani melanjutkan langkahnya, meneliti dan memeriksa cermin-cermin yang merupakan pintu-pintu tanpa kunci itu. Tentu saja, gerakannya memeriksa cermin-cermin itu, diikuti terus oleh semua bayangannya. Tiba-tiba Thian Sin meloncat ke kiri dan tujuh buah pisau terbang menyambar lewat, yang sebuah sempat menyerempet bahunya, merobek baju dan melukai kulitnya. Dia cepat menengok dan mencaricari dengan matanya, akan tetapi yang ikut bergerak-gerak hanya bayangan-bayangannya saja. Tidak ada bayangan orang lain. Dia berhenti dan matanya saja yang melirik ke sana kemarim, ke dalam cermin-cermin itu. Namun, yang nampak hanya dirinya sendiri. Tadi dia merasa sukar menangkap gerakan orang yang menyambitkan hui-to (pisau terbang) karena pandang matanya terpengaruh oleh semua gerakan bayangannya sendiri sehingga kalau ada bayangan orang lain, tentu gerakan orang itu dapat menyelinap dan tersembunyi oleh gerakan semua bayangannya sendiri itu. Thian Sin menjadi penasaran dan marah. Peti hitam itu ditaruhnya ke depan, menghantam ke arah pintu bercermin di depannya sambil mengerahkan tenaga. “Brakkk…!” Cermin itu hancur berkeping-keping dan di balik cermin terdapat dinding bata yang kuat. Akan tetapi pada saat dia memukul tadi, dia melihat sinar berkelebatan dari arah kanannya dan cepat dia menggulingkan tubuhnya. Kembali tujuh batang hui-to lewat dan karena dia tahu bahwa yang menyerangnya secara menggelap itu dari kanan datangnya, diapun lalu menubruk ke kanan ke arah cermin. “Brakkk…!” Cermin-cermin inipun hancur akan tetapi di belakangnya tidak terdapat siapasiapapun, kecuali dinding batu. Kini Thian Sin mengerti. Kalau dia diam saja dan semua bayangannya ikut diam, lawan tidak bergerak, akan tetapi kalau tubuhnya bergerak dan semua bayangannya tentu saja juga bergerak, kesempatan ini dipergunakan oleh lawannya untuk turun tangan karena gerakannya tentu akan kabur dengan gerakan semua bayangan itu. Kini dia pura-pura bergerak lagi dan diam-diam dia memperhatikan sekelilingnya. Benar saja, kini dia melihat bayangan lain, bukan bayangannya sendiri dari arah kirinya. Begitu melihat bayangan yang lain dari pada bayangannya sendiri, Thian Sin memekik dan tubuhnya mencelat ke kiri, kedua kakinya menendang dengan dahsyatnya ke arah cermin di mana tadi dia melihat gerakan yang bukan bayangannya. “Bresss…!” Terdengar suara orang mengaduh dan daun pintu di balik cermin itu pecah berantakan. Thian Sin melihat berkelebatnya orang yang meloncat ke depan dan melarikan diri. Cepat dia menyambar peti hitam dan melakukan pengejaran, akan tetapi Sian-su, orang itu yang biarpun terkena tendangannya akan tetapi ternyata masih terlalu kuat untuk roboh itu, telah lenyap lagi melalui jalan rahasia yang tidak diketahuinya. Karena merasa tidak sanggup mengejar lawan yang menggunakan jalan rahasia itu, dan mengkhawatirkan keadaan orang-orang Bu-tong-pai yang menghadapi keroyokan banyak orang Thian Sin dengan hati kecewa lalu berjalan kembali ke tempat semula. “Thian Sin…!” Ternyata Kim Hong yang memanggilnya itu dan gadis inipun membawa sebuah peti hitam yang serupa benar dengan peti yang dibawanya. “Apa yang kaubawa itu?” Thian Sin bertanya. “Kurampas dari Siok Cin Cu, tosu keparat pembantu ketua siluman. Dia telah kubunuh dan peti ini terisi harta yang agaknya hendak dilarikannya. Dan peti di tanganmu itu?” “Kurampas dari Sian-su, tosu kepara pembantu ketua siluman. Dia telah kubunuh dan peti itu terisi harta yang agaknya hendak dilarikannya. Dan peti di tanganmu itu?” “Kurampas dari Sian-su, sayang dia dapat melarikan diri melalui jalan rahasia yang tidak kukenal. Entah apa isinya…” Thian Sin menurunkan peti itu dan membuka tutupnya. Mereka memandang silau. “Hemm, isinya sama dengan isi peti ini,” kata Kim Hong. “Agaknya siluman itu bersama pembantunya sudah bersiap-siap hendak melarikan diri membawa harta benda hasil kejahatan mereka, seorang membawa sebuah peti penuh perhiasan.” “Sudahlah, mari kita bantu orang-orang Bu-tong-pai menghadapi para anak buah siluman…” “Kaubantulah mereka. Aku sendiri akan membebaskan para gadis yang tertawan sebelum terjadi sesuatu yang buruk terhadap mereka.” “Baik, dan sebaiknya engkau bawa dua peti ini bersamamu. Engkau tentu masih ingat bagaimana untuk membebaskan orang dari pengaruh sihir dan bius?” Gadis itu mengangguk. “Menotok dua belas Keng-siang-meh dan mengurut tujuh Ki-keng-meh, lalu mengguyur mereka dengan air dingin.” Thian Sin mengangguk dan mengelus dagu kekasihnya. “Bagus, engkau memang hebat. Nah, aku pergi.” Diapun lalu lari meninggalkan tempat itu untuk keluar membantu lima orang tokoh Butong-pai yang dikeroyok oleh banyak anak buah Silumah Guha Tengkorak dan para tamunya itu. Kim Hong juga meninggalkan tempat itu, membawa dua buah peti hitam yang diikatnya menjadi satu menggunakan tirai sutera yang terdapat di ruangan itu dan pergilah ia ke ruangan dalam untuk mencari gadis-gadis yang ia duga tentu dikumpulkan di suatu tempat. Dugaannya memang tepat. Ia menemukan hampir empat puluh orang wanita yang rata-rata masih muda dan cantik-cantik, dengan wajah yang pucat dan pandang mata kosong, duduk berkumpul di sebuah ruangan besar. Ada empat orang bertopeng menjaga di depan ruangan, membawa golok dan memandang beringas ketika ia datang membawa dua buah peti hitam itu. Empat orang penjaga ini segera mengenalnya sebagai gadis tawanan yang memberontak dan melarikan diri, maka tanpa banyak cakap lagi mereka sudah menerjang maju. Melihat berkelebatnya empat batang golok itu, Kim Hong menggerakkan tangan yang memegang sutera pengikat dua peti hitam. Sinar hitam yang lebar melayang, menyambut empat batang golok itu dan gerakan ini diikuti oleh kedua kaki Kim Hong yang menendang empat kali beruntun. Akibatnya, empat batang golok yang bertemu dengan peti-peti hitam itu terlempar, disusul tubuh empat orang itu yang terlempar pula, membentur dinding dan terbanting roboh, tak dapat bangun kembali karena ketika menendang tadi, Kim Hong mengerahkan tenaga pada kedua kakinya dan sekali tendang saja remuklah isi perut empat orang itu. Kim Hong mendorong daun pintu ruangan itu terbuka dan puluhan orang gadis itu memandang kepadanya dengan sinar mata ketakutan. Beberapa orang di antara mereka bahkan maju dengan sikap menantang. “Siapa kamu? Tidak boleh ada yang masuk ke sini kecuali ada ijin dari Sian-su!” kata seorang di antara mereka. Kim Hong mengangkat muka memandang dan ia tahu bahwa gadis yang usianya baru tujuh belas tahun lebih ini dan yang berwajah amat cantik adalah kekasih Sian-su atau setidaknya merupakan gadis yang paling disuka oleh ketua siluman itu. Akan tetapi, di balik sikapnya yang genit dan binal, juga pandang mata gadis itu kosong dan sayu tanda bahwa gadis ini penuh oleh hawa jahat atau sihir yang mempengaruhi dan wajahnya yang pucat itupun menandakan bahwa ia telah banyak terkena obat bius. Semua gerakannya itu tidak wajar dan gadis inipun telah kehilangan kepribadiannya. “Siapakah engkau?” Kim Hong bertanya dengan suara mengandung wibawa. Akan tetapi gadis itu tidak nampak takut, bahkan melangkah maju dan mengangkt dagunya dengan sikap tinggi hati. “Aku bernama Thio Siang Ci dan aku adalah murid terkasih dari Sian-su. Pergilah sebelum aku memanggil pengawal dan menangkapmu!” Kim Hong tersenyum dan menurunkan dua buah peti yang dibawanya, lalu tiba-tiba saja tubuhnya bergerak ke depan. Akan tetapi ia kecelik kalau menyangka bahwa gadis itu sebagai murid dan kekasih Sian-su tentu lihai ilmu silatnya. Ternyata gadis itu sama sekali tidak pandai ilmu silat, dan sama sekali tidak dapat menangkis atau mengelak ketika ia menotoknya menjadi lumpuh seketika. Terdengar jeritan-jeritan kaget dan marah dari para wanita itu. Akan tetapi Kim Hong tidak perduli dan cepat digerakkan jari-jari tangannya menotok jalan darah di tempattempat tertentu pada tubuh Thio Siang Ci itu dan mengurut jalan darah Ki-keng-meh. Gadis itu nampak tertidur pulas dan Kim Hong lalu meloncat dan mengambil sepanci air yang berada di sudut ruangan, lalu menyiramkan air itu pada kepala Thio Siang Ci. Gadis itu adalah pengantin yang telah diculik oleh Silumah Guha Tengkorak, yaitu puteri dari Thio Ki, kembang dusun Ban-ceng. Pada malam ia menjadi pengantin bersama The Si Kun, muncul siluman itu membunuh suaminya dan menculiknya. Siluman itu, atau Sian-su, tertarik oleh kecantikannya dan semenjak malam itu, di bawah pengaruh sihir dan bius, Thio Siang Ci menjadi kekasihnya. Begitu kepala dan mukanya terguyur air dingin, Thio Siang Ci gelagapan, terbangun dan seperti baru sadar dari mimpi buruk, ia bangkit dan memandang ke sekelilingnya. Matanya yang sudah tidak kosong lagi pandangannya itu terbelalak, mukanya pucat ketakutan melihat ke arah banyak gadis yang kini sudah serentak bangkit dengan marah itu. “Di mana aku…? Apa… apa yang terjadi…?” Dan agaknya ia teringat, karena tiba-tiba saja ia mendekap mukanya dengan kedua tangan dan menangis mengguguk, memanggil-manggil ayahnya. Sementara itu, gadis-gadis yang hampir empat puluh orang banyaknya itu sudah bangkit berdiri dan sebagian dari mereka yang berwatak pemberani, terdorong oleh kesetiaan mereka yang tidak wajar terhadap Sian-su, sudah maju hendak menyerang Kim Hong dengan cakaran dan gebukan. Kim Hong maklum bahwa mereka itu adalah wanita-wanita tak berdosa yang kehilangan kepribadiannya, maka iapun cepat bergerak berkelebatan di antara mereka dan robohlah mereka itu satu demi satu karena telah tertotok oleh pendekar wanita sakti ini. Yang lain-lain, yang ketakutan, kini berlutut dan tidak berani melawan. Kim Hong lalu bekerja dengan sibuk dan cepat, menotoki wanita-wanita itu dan mengurut jalan darah mereka. Kemudian ia mengguyur kepala mereka dengan air yang diambilnya dari kamar mandi sehingga ruangan itu menjadi becek dan basah. Akan tetapi kini keadaan dan suasana menjadi berobah sama sekali. Wanita-wanita yang sudah sadar akan dirinya itu lalu menangis sehingga suasana menjadi riuhrendah dengan tangis mereka seolah-olah di tempat itu terdapat perkabungan. Kim Hong adalah seorang pendekar wanita yang memiliki kekerasan hati seperti pria dan tidak lagi mengenal kecengengan. Melihat wanita-wanita menangis dengan cengeng ini, hatinya terasa mengkal dan iapun sudah bangkit bediri dan berkata dengan suara nyaring, “Kalian semua diamlah jangan menangis! Apa lagi yang perlu ditangisi? Kalian telah terseret ke tempat neraka ini, baik melalui bujukan beracun maupun diculik, dan kalian hidup dalam cengkeraman pengaruh ilmu sihir dan obat bius. Akan tetapi, hari ini aku Toan Kim Hong dan sahabatku Ceng Thian Sin datang untuk membasmi gerombolan siluman ini dan membebaskan kalian. Berkemaslah dan bawa barang-barang kalian masing-masing, kita akan keluar dari neraka ini dan kalian akan kembali ke keluarga kalian masing-masing!” Mendengar ini, bermacam-macam sambutan para wanita itu. Ada yang menangis mengguguk ada yang tersenyum-senyum gembira, ada pula yang ketakutan karena meragukan apakah keluarga mereka akan sudi menerima mereka kembali. Sebagian besar adalah mereka yang menangis ketakukan dengan penuh keraguan dan kegelisahan ini. Kim Hong agaknya maklum pula akan hal ini, maka iapun lalu berkata lagi. “Jangan khawatir, kami akan menjelaskan kepada keluarga kalian! Dan andaikata keluarga kalian begitu kejam untuk tidak menerima kembali kalian, kalianpun akan dapat hidup sendiri karena kami akan membagi-bagi semua harta peninggalan Siluman Guha Tengkorak ini di antara kalian sehingga kehidupan kalian akan terjamin!” Ucapan ini tentu saja merupakan hiburan dan dengan dipimpin oleh Thio Siang Ci, mereka semua menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Kim Hong sambil menghaturkan terima kasih sehingga bersimpang-siurlah ucapan terima kasih mereka. “Sudah… sudahlah, aku tidak mempunyai waktu untuk segala macam upacara ini!” Kim Hong menggerak-gerakkan tangan dengan sikap hilang sabar. “Di luar masih tedadi pertempuran dan aku harus membantu untuk membasmi para siluman itu. Marilah, cepat, kita harus keluar dari sini!” Para wanita itu kini sibuk berkemas dan merekapun berbondong-bondong keluar meninggalkan ruangan itu, mengikuti Kim Hong yang mengajak mereka keluar ke tempat di mana terjadi pertempuran. Bahkan dengan bantuan wanita-wanita ini, Kim Hong dapat menghindari jebakanjebakan rahasia. Para wanita ini biarpun tadinya hidup dalam keadaan tersihir dan terbius, mereka tidak kehilangan ingatan mereka dan mereka tadinya hanya hidup seperti dalam alam mimpi, kehilangan kepribadian dan mereka itu diberi minuman-minuman yang selain melumpuhkan kemauan sendiri, juga merangsang nafsu-nafsu mereka sehingga mereka hidup seolah-olah menjadi hamba nafsu yang harus melayani kebutuhan Sian-su, para anak buahnya dan para tamu dan semua itu dilakukan dengan rela sebagai bakti mereka terhadap para dewa, terutama Dewa Kematian yang mereka puja. Sementara itu, di luar daerah Guha Tengkorak terjadi pula kesibukan lain. Serombongan orang yang memegang pedang, dengan muka marah sekali berbondong-bondong menuju ke balik tebing Guha Tengkorak. Jumlah mereka ada tiga puluh orang, kesemuanya merupakan orangorang yang bersikap gagah dan dipimpin oleh dua orang tosu. Mereka adalah orang-orang Hongkiam-pang yang dipimpin sendiri oleh Im Yang Tosu dan Bu Beng Tojin, ketua dan pembantu utamanya. Seperti kita ketahui, para murid Hong-kiam-pang dan pemimpinnya ini marah sekali ketika mendapat kenyataan bahwa Siluman Guha Tengkorak yang telah membunuh tujuh orang anggauta atau murid mereka itu adalah Pendekar Sadis Ceng Thian Sin. Kemarahan mereka makin memuncak ketika Pendekar Sadis ditolong oleh seorang bertopeng tengkorak lainnya dan bersama siluman itu melarikan diri. Ten-tu saja mereka melakukan pengejaran dan mereka itu berpencar. Akan tetapi mereka kehilangan jejak Pendekar Sadis dan temannya di luar daerah Guha Tengkorak. Karena dua orang pemimpin mereka dapat berlari lebih cepat dan dalam pengejaran itu meninggalkan mereka, maka mereka kehilangan dua orang pimpinan dan mereka termangu-mangu menanti di depan deretan Guha Tengkorak, tidak tahu harus berbuat apa karena mereka tidak da-pat menemukan jalan masuk dari guha-guha itu. Setelah matahari naik tinggi dan mereka menanti dengan kesabaran yang hampir habis, tiba-tiba muncullah Bu Beng Tojin memanggul tubuh Im Yang Tosu yang terluka! Tentu saja para murid Hong-kiam-pang menjadi terkejut sekali. Akan tetapi hati mereka lega ketika melihat bahwa luka yang diderita oleh Im Yang Tosu itu tidaklah hebat, hanya luka kulit daging saja karena pundak kanannya tertusuk sebuah pisau. Bu Beng Tojin tadi memanggulnya karena ketua Hong-kiampang ini jatuh pingsan! “Pinto mencari-cari sampai ke belakang tebing, akan tetapi pinto kehilangan jejak silumansiluman itu,” kata Bu Beng Tojin menceritakan kepada murid-murid Hong-kiam-pang. “Agaknya subeng juga mencari sampai di sana dan entah apa yang terjadi, tahu-tahu aku mendapatkan suheng sudah menggeletak pingsan dengan sebuah pisau tertancap di pundaknya. Maka pinto lalu cepat-cepat membawanya ke sini untuk merawatnya.” Bu Beng Tojin sendiri yang merawat luka Im Yang Tosu dan akhirnya ketua Hong-kiam-pang ini siuman. Dia mengeluh dan bangkit duduk, lalu teringat akan apa yang terjadi dan menarik napas panjang. “Sungguh berbahaya sekali Pendekar Sadis yang menyamar sebagai siluman itu…” katanya. “Apa yang telah terjadi, suheng? Aku menemukan suheng dalam keadaan pingsan di sana, lalu suheng kubawa ke sini untuk dirawat.” Im Yang Tosu memandang kepada pembantunya itu. “Untung sute datang, dan agaknya musuh lari dan tidak sempat membunuhku melihat sute datang. Aku mengejar sampai di belakang tebing dan melihat bayangan memasuki semak-semak belukar lalu lenyap. Aku sudah memeriksa dan mencari akan tetapi tidak berhasil menemukan sesuatu. Ketika aku mulai menjadi bosan mencari dan hendak pergi, aku mendengar suara dari balik batu karang. Cepat aku mendekati dan ternyata ada rumpun alang-alang yang terkuak dan di balik rumpun alang-alang ini terdapat sebuah lubang. Pada saat itu, berkelebat bayangan di sebelah dalam lubang yang gelap dan tiba-tiba saja ada pisau menyambar. Aku kurang cepat mengelak dan pisau itu mengenai pundakku. Karena lukanya hanya luka daging, tak mungkin aku roboh karena itu, akan tetapi tiba-tiba aku mencium bau keras dam akupun tidak ingat apa-apa lagi. Agaknya iblis itu manggunakan racun atau obat bius…!” Bu Beng Tojin bangkit berdiri dam mengepal tinju mendengar penuturan suhengnya ini. Mukanya merah padam, dan dia nampak marah sekali. “Sungguh keterlaluan Pendekar Sadis itu! Kita harus membuat perhitungan, sekarang juga! Akupun melihat lubang itu, suheng dan agaknya itulah jalan yang menuju ke sarang mereka! Mari kita serbu sekarang juga!” “Tapi, susiok, bukankah suhu sedang terluka dan perlu beristirahat?” bantah seorang murid. “Aku tidak apa-apa, luka ini tidak ada artinya. Mari kita serbu dam basmi iblis kejam itu!” Im Yang Tosu juga berkata marah, bangkit semagatnya oleh sikap pembantunya. Demikianlah, mereka berdua lalu memimpin tiga puluh orang murid Hong-kiam-pang itu, berbondong-bondong pergi menuju ke balik tebing Guha Tengkorak. Karena dua orang pimpinan Hong-kiam-pang itu kini sudah menemukan jalan tembusan rahasia, yang merupakan terowongan membawa mereka ke sarang Jit-sian-kauw, maka mereka dapat memasuki terowougan itu dengan sikap hati-hati sekali. “Bagaimanapun juga, kita harus berhati-hati,” kata Bu Beng Tojin ketika mereka mulai memasuki terowongan dan dia berjalan paling depan. “Orang yang telah mampu melukai suheng, biarpun secara menggelap, amatlah berbahaya.” Di sepanjang jalan terowongan, mereka menemukan jebakan-jebakan yang sudah tidak bekerja dan rusak dan beberapa kali Bu Beng Tojin mengeluarkan seruan marah, “Keparat, sungguh jebakan yang kejam sekali!” terdengar dia berkata. Mereka melanjutkan perjalanan dan akhirnya tibalah mereka di pusat sarang gerombolan itu dan begitu mereka berloncatan keluar dari mulut terowongan, mereka tercengang memandang ruangan itu. Pendekar Sadis berdiri di tengahtengah ruangan bersama lima orang gagah dari Bu-tong-pai, dan di sekeliling ruangan yang luas itu nampak berserakan tubuh orang-orang yang memakai jubah dan topeng tengkorak! Ada pula yang berpakaian biasa, yaitu para tamu yang membantu gerombolan itu menghadapi orangorang Bu-tong-pai yang dibantu oleh Thian Sin! Ketika Thian Sin meninggalkan Kim Hong dan lari keluar, dia melihat betapa lima orang Bu-tongpai itu masih mengamuk. Akan tetapi mereka terkurung rapat dan mulai terdesak. Untung ada Liang Hi Tojin di situ, tokoh ke dua dari Bu-tong–pai yang hebat sekali permainan pedangnya sehing-ga untuk sementara, berkat kelihaian Liang Hi Tojin, kepungan itu dapat dibendung dan belum ada orang Bu-tong-pai yang terluka walaupun mereka telah lelah sekali dan sibuk mempertahankan diri. Pada saat Thian Sin hendak maju, ada orang yang merangkul kakinya. Thian Sin memandang ke bawah. Orang itu adalah seorang pemuda yang berpakaian mewah. Agaknya dia tidak ikut berkelahi akan tetapi keserempet senjata tajam karena pahanya terluka dan dia kelihatan ketakutan setengah mati. “Maafkan aku… ampunkan aku… ah, taihiap, ampunkan aku dan kelak aku akan memberimu uang sebanyak yang kauminta. Emas, perak, apa saja… asal taihiap suka membawa aku keluar dari tempat ini…” Dan orang itu menangis ketakutan. Thian Sin mengenal orang ini sebagai seorang di antara para tamu, yaita pemuda mewah yang dia lihat menerima janda Cia Kok Heng ketika janda muda itu diangkat menjadi anggauta baru, kemudian janda itu oleh Sian-su diberikan kepada pemuda mewah ini yang menggaulinya secara tak tahu malu. Kini dia dapat menduga bahwa tentu ada apa-apa antara pemuda kaya ini dengah Sian-su dan bukan tidak mungkin janda itu diculik oleh gerombolan Siluman Guha Tongkorak atas pesanan pemuda ini. “Ampun sih mudah! Akan tetapi akuilah apakah benar engkau yang memesan janda Kok Heng itu untuk kauperkosa?” Pemuda itu memang pemuda bangsawan dan hartawan she Phang dari Tai-goan.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: