Raja Pedang (Jilid ke-1)

RAJA PEDANG

“Lima warna membutakan mata….!” Terdengar suara berat dan parau membaca doa.

“Lima warna membutakan mata…….!” Menyusul suara nyaring tinggi, suara kanak-kanak yang berusaha keras menirukan nada suara pertama.

“Lima bunyi menulikan telinga………!” Kembali suara anak kecil tadi mengulang kata-kata itu.

Suara ini saling susul dan selengkapnya diucapkan oleh suara parau ditiru suara anak kecil itu ujar-ujar lengkap dari kitab To-tek-keng seperti berikut :

Lima warna membutakan mata,
Lima bunyi menulikan telinga
Lima rasa merusak mulut
Mengejar kesenangan merusak pikiran,
Barang berharga membuat kelakuan menjadi curang
Inilah sebanya orang budiman,
Mengutamakan urusan perut,
Tidak mempedulikan urusan mata,
Ia pandai memilih ini membuang itu,

Kalau suara-suara ini terdengar dari sebuah klenteng Agama To, hal itu tak perlu diperhatikan lagi karena memang lumrah kalau seorang tosu memberi pelajaran-pelajaran dari kitab To-tek-keng kepada anak muridnya. Atau seorang kepada guru sastra mengajarkan ayat-ayat kitab itu kepada muridnya. Akan tetapi anehnya, dua suara yang saling susul itu terdengar dari dalam sebuah hutan yang lebat, hutan yang jarang didatangi manusia dan menjadi sarang dari harimau-harimau, ular-ular besar dan lain binatang buas. Kalau pun ada manusianya tentulah sebangsa manusia perampok.

Apabila kita melihat ke dalam hutan itu untuk mengetahui siapa orangnya yang mengajarkan ayat-ayat kitab To-tek-keng kepada anak kecil tadi, kita akan merasa heran sekali. Ternyata bahwa yang membaca ayat-ayat kitab itu adalah seorang tosu berbaju kuning, di pungungnya tergantung sebatang pedang. Tosu ini tinggi kurus berkumis tipis, berusia kurang lebih lima puluh tahun, rambutnya digelung ke atas dan ia menunggang seekor kuda kurus yang berjalan seenaknya dan nampaknya sudah amat lelah. Di belakang kuda ini berjalan seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun, pakaiannya penuh tambalan, rambutnya diikat ke belakang, mukanya putih agak pucat dan matanya besar. Anak ini amat miskin pakaiannya sampai-sampai bersepatu pun tidak. Di dekat mata kaki kiri ada boroknya sebesar ibu jari kakinya sehingga agak terpincang pincang jalannya.Akan tetapi, biarpun keadaannya begini, miskin, anak itu tampaknya gembira terus. Mulutnya menyinarkan cahaya gembira dan nakal.

Ayat-ayat yang dibacakan oleh Tosu di atas tadi adalah ayat ke dua belas. Kalau dihitung tosu itu membaca dari ayat pertama dengan suara keras, akan tetapi lambat-lambat, sudah lama jugalah anak itu menirunya.

Pada ayat ke duabelas di mana terdapat kata-kata tentang orang budiman mengutamakan urusan perut, anak laki-laki itu setelah selesai meniru ayat ini sampai habis, segera berkata. Suaranya lantang, nyaring dan tinggi.

“Totiang, benar sekali orang budiman itu. Aku pun mau menjadi orang budiman, mengutamakan urusan perutku yang sudah amat lapar ini. Maka harap Totiang lekas-lekas memberi roti kering atau uang, aku tidak mau pedulikan urusan lain lagi” Sambil berkata demikian, anak itu tidak lagi berjalan di belakang kuda, melainkan berlari mendampingi dan menarik-narik kaki kanan tosu itu.

Akan tetapi tosu itu seperti tidak melihat bocah tadi, juga seperti tidak merasa kakinya dibetot-betot. Ia membuka mulutnya lagi dan berteriak dengan suara keras.

“Ayat ke tiga belas berbunyi……………”

“Aku tidak peduli apa bunyi ayat ketiga belas atau ke tiga ribu!” Anak itu berteriak. “Perutku lapar dan Totiang sudah berjanji akan memberi roti kering dan uang kepadaku!”

Tosu itu nampak tertegun, seakan-akan baru sekarang ia tahu bahwa suara yang tadinya menirunya telah mengeluarkan suara lain. Ia menunda membaca kitabnya dan memandang kepada anak itu dengan mata bersinar-sinar. Tadi ia bertemu dengan anak itu di luar sebuah kampung dekat hutan ini. Pada waktu itu ia sedang beristirahat dan makan roti kering. Lalu datang anak yang dikenalnya ini mendekat, nampaknya ingin sekali akan tetapi tidak mengeluarkan suara.

“Kau mau roti kering?”

Anak itu hanya mengangguk.

“Heh-heh-heh, roti keringku sudah habis di warung sana?”Ia bertanya lagi, Kembali anak itu mengganguk,Tosu itu menjadi gemas juga.

“Gagukah engkau?”

“Tidak, Totiang, hanya sedang malas bicara,”

Jawaban ini membuat si tosu menjadi terheran-heran. Baru kali ini ia bertemu dengan seorang anak kecil yang bicara seenaknya sendiri saja seperti ini.

“Engkau mau roti kering dan uang?” Kembali ia bertanya sambil menunggangi lagi kudanya yang kurus. Anak laki-laki itu kembali mengangguk.

“Baik, akan tetapi kau harus menirukan membaca isi kitab To-tek-keng sambil berjalan di belakang kudaku.”

Demikianlah, tosu itu mulai membaca kitab itu dari ayat pertama sampai ayat ke dua belas. Tadinya anak ini tertarik sekali karena anak ini sebetulnya adalah seorang anak luar biasa yang pernah membaca kitab-kitab kuno bahkan hampir hafal banyak kitab dari agama budha, yaitu ketika ia bekerja sebagai pelayan dari kelenteng Hok-thian-tong, Akan tetapi setelah mendengar tentang “mengutamakan perut”, sehingga anak itu teringat akan perutnya yang lapar dan menagih janji.

Siapakah anak yang bersikap aneh dan terlantar itu? Namanya Beng San, Demikian menurut pengakuannya sendiri, tentang siapa nama keturunannya, ia sendiri tidak tahu, Anak ini adalah korban bencana alam, yaitu benjir besar sungai Huang-ho yang menghabiskan seluruh isi kampungnya. Hampir seluruh kampung habis oleh banjir itu, rumah-rumah lenyap, sawah-sawah rusak, manusia dan binatang hampir tewas dan hanyut semua. Anak ini pun hanyut akan tetapi agaknya tuhan masih melindunginya maka ia dapat tersangkut pada reruntuhan rumah dan terbawa ke pinggir dalam keadaan pingsan. Hal ini terjadi ketika ia berisia lima enam tahun. Ketika siuman kembali, anak ini telah berada di pinggir sebuah hutan di tepi sungai Huang-ho. Ia hanya ingat bahwa namanya Beng San, bahwa ayah bundanya hanyut terbawa air bah, akan tetapi tidak ingat lagi apa nama dusun tempat tinggalnya dan di mana letaknya.

Beng san terlunta-lunta dan nasib membawanya sampai ke depan kelenteng Hok-thian-tong di kota Shan-si, ia amat tertarik melihat kelenteng itu , amat suka melihat-lihat lukisan dan patung-patung yang dipahat indah, kemudian ketua kelenteng, seorang hwesio yang beribadah, merasa kasihan dan suka kepadanya dan mulai saat itulah Beng San diterima sebagai seorang kacung atau pelayan. Para hwesio di kelenteng itu rata-rata memiliki pribudi yang tinggi dan hampir semua tekun mempelajari ayat-ayat suci hwesio mendapat kenyataan bahwa anak yang menjadi pelayan di kelenteng itu selain rajin juga amat cerdas, mereka memberi pelajaran membaca menulis dan demikianlah selama tiga tahun lebih Beng San di “jejali” filsafat-filsafat dan ayat-ayat suci yang amat tinggi. Tentu saja ia hanya menghafal semua inti sarinya. Jangankan seorang anak kecil seperti dia, menusia dewasa sekalipun kalau mempelajari agama, jarang yang betul-betul dapat, menangkap inti sarinya, apabila mengamalkan perbuatannya sesuai dengan ayat-ayat suci itu.

Setelah berusia sembilan tahun lebih, Beng San mulai tidak betah tinggal di kelenteng. Beberapa kali ia minta berhenti akan tetapi semua hwesio melarangnya dan mereka ini hendak menarik Beng San menjdi seorang calon hwesio. Beng San tidak suka dan pada suatu malam anak ini lari minggat dari kelenteng itu. Ia hidup terlunta-lunta, terlantar. Hanya bisa makan kalau ada yang menaruh kasihan dan memberi makanan atau memberi sekedar pekerjaan kemudian diberi upah uang atau makan. Yang amat aneh pada anak ini, ia tidak pernah mau mengeluarkan perkataan minta-minta! Mungkin ia terpengaruh oleh pelajaran para hwesio yang mengharapkan sedekah dari para dermawan, akan tetapi sekali-kali bukan mengemis. Demikian mengapa Beng San juga sama sekali tidak mau minta ketika melihat tosu itu makan roti kering, padahal perutnya lapar bukan main.

Dan siapa adanya tosu itu? Bukan sembarang orang, melainkan seorang bernama Siok Tin Cu. Dia adalah tokoh dari perkumpulan Agama Ngo-lian To kauw (Agama To Lima Teratai ) yang berpusat di Ki-lok. Sebagai tosu tingkat tiga tentu saja ilmu kepandaiannya sudah tinggi sekali. Dan sebagai seorang tokoh Ngo-lian To-kuaw yang mementingkan pelajaran mistik (hoatsut), tentusaja ia terkenal seorang yang amat berbahaya.

Siok Tin Cu bukan mengajak atau memancing Beng San ke dalam hutan itu tanpa maksud tertentu. Begitu melihat anak tadi, ia dapat menduga bahwa anak ini adalah seorang anak yatim piatu, lagi bertulang baik maka tepat sekali kalau hendak dijadikan bahan percobaaan ilmunya. Kalau sampai anak ini tewas sekalipun, tidak ada orang tua kehilangan anaknya, tidak ada orang yang dirugikan maka ia takkan menanggung dosa, demikian jalan pikiran pedeta sesat ini, mari kita kembali ke dalam hutan untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

Di depan telah diceritakan betapa Beng San tidak lagi meniru teriakan Siok Tin Cu yang membaca ayat-ayat To-Tek-keng, malah berteriak-teriak menagih janji tosu itu untuk memberi roti kering atau uang pembeli roti kepadanya. Mereka sudah tiba di tengah hutan yang amat sunyi dan liar. Siok Tin Cu tersenyum dan melompat turun dari atas kudanya. Gerakannya demikian ringan seakan-akan tubuhnya seringan bulu saja .

“Bocah, sejak kapan kau belum makan?” Pertanyaan ini diucapkan dengan halus seakan-akan orang tua ini merasa kasihan dan hendak menolong.

“Sejak dua hari yang lalu,”jawab Beng San singkat, tanpa mengundang suara minta dikasihani.

Tosu itu mengangkat alisnya, lalu tertawa bergelak nampak girang sekali!” Bagus, bagus, kalau begitu perutmu kosong sama sekali. Hal ini berarti membersihkan hawa didalam tubuhmu dan memperkuat daya tahanmu seperti seorang yang memiliki latihan siulin. Bagus, anak yang baik, nah, kaumakanlah ini, hendaklah kulihat sampai di mana kemanjurannya!” Tosu itu mengeluarkan sebuah pil berwarna kuning dan berbau busuk, “Bukalah mulutmu.”

Tentu saja Beng San tidak sudi mentaati perintah ini. Ia mundur selangkah memandang marah dan berkata. “Totiang, kau berjanji hendak memberi roti kering atau uang, kenapa sekarang menyuruh aku makan obat? Aku tidak sakit dan tidak butuh obat!”

“Heh-heh-heh, kalau sudah makan tidak ada artinya lagi, Eh, bocah, aku Siok Tin Cu bukan seorang bodoh. Ketahuilah, pil ini adalah buatanku atau petunjuk kauwcu (ketua agama). Belasan tahun kubuat dari sari segala kebusukan yang mengundang hawa thai-yang dan khasiatnya hebat bukan main. Aku telah membuatnya tiga buah akan tetapi sampai sekarang tidak berani menelannya, Harus lebih dulu kucobakan orang, kau dengan perutmu kosong baik sekali untuk dijadikan kelinci percobaan! Kalau kau mati, tidak ada orang yang kehilangan, kalau kau hidup…… nah, akan kuberi hadiah roti kering atau uang, Heh-heh-heh!’

Sepanjang mata anak itu yang lebar menjadi makin lebar, bukan karena takut melainkan karena marahnya. “Tosu bau apa kau lupa akan ujar-ujar suci bahwa, siapa yang belum membersihkan diri dari perbuatan jahat, dan siapa tidak memperdulikan kebajikan dan kebenaran, dia itu tidak patut memakai pakaian kuning?”

Siok Tin Cu mula-mula terkejut dan heran karena ujar-ujar ini adalah kata-kata suci dalam agama buddha (dalam kitab Dhammapade), akan tetapi ia segera tertawa. “Mau tidak mau kau harus menelan obat ini!”

“Tidak sudi……..! Kau tosu bau!” Beng San mengambil dua buah batu kecil dari atas tanah dan menimpukkan dua buah batu itu kepada Siok Tin Cu. Akan tetapi Siok Tin Cu hanya tertawa dan sekali ia menggerakkan tangan kiri, ujung lengan bajunya “meniup” pergi dua buah batu itu, membuat Beng San tak dapat bergerak lagi. Yang “mati” ini adalah kedua pasang kaki tangan anak itu, akan tetapi dari leher ke atas masih “hidup” anak itu masih dapat menggerakkan leherdan semua anggauta muka.

“Tosu jahat,tosu bau, kau mau apakan aku?” teriakannya berkali-kali.

“Tidak apa-apa, hanya ingin kau menelan obat ini” Pil kuning yang baunya busuk itu didekatkan pada hidung Beng San, membuat anak ini ingin muntah.

“Baunya busuk seperti engkau, aku tak sudi!” ia menggeleng kepala ke kanan kiri menjauhi obat itu.

“Heh-heh-heh, anak bandel. Terpaksa harus kubuka mulutmu,” Tangan kiri tosu itu memegang dagu Beng San dan anak ini merasa betapa tenaga yang amat kuat memaksa betapa tenaga yang amat kuat memaksa mulutnya terbuka. Ia pura-pura menurut, akan tetapi ketika tosu ini lengah hendak memasakkan obat ke dalam mulut yang terbuka, Beng San menggerakkan kepala ke bawah dan menggigit tangan kiri tosu itu.

“Aduh……..!” karena tidak menyangka sama sekali, jari kelingking tosu itu kena tergiti keras sampai mengeluarkan darah.

“Plakkk!” ia menampar pipi Beng San . Demikian keras tamparan ini, demikian nyerinya sampai Beng San tanpa disengaja membuka mulutnya melepaskan gigitannya.

” Plak! Plak! Plak! Plak! Plak!” berkali-kali tosu itu menampar muka Beng San dari kanan kiri, dan sungguh-sungguh, Beng San tidak mengeluh, akan tetapi rasa sakit membuat matanya berair. Setelah anak itu hampir pingsan karena sakit dan pening, baru tosu itu menghentikan tamparannya. Muka Beng San menjadi bengkak-bengkak dan kedua pipinya menjadi biru, anehnya, dari hal ini tidak terasa oleh tosu yang sedang marah itu, tak sepatah kata pun anak itu mengaduh atau mengeluh, benar-benar menunjukkan watak bandel yang luar biasa, membayangkan nyali dan ketabahan yang mengagumkan.

“Hayo telan ini!” Siok Tin Cu memaksakan Beng San yang setengah pingsan itu membuka mulut lalu menjejalkan pil berbau busuk itu ke dalam mulut Beng San.

Anak ini dalam kenekatannya, biarpun sudah pening dan setengah pingsan, hendak meludahkan keluar pil itu akan tetapi Siok Tin Cu menutup mulutnya dan mendorong pil itu dengan telunjuknya sampai ke tenggorokan Beng San. Akhirnya obat itu masuk ke dalam perut Beng San tanpa dapat dicegah lagi!.
“Heh-heh-heh, hendak kulihat akibatnya…….” Siok Tin Cu menggerakkan tangan membebaskan totokannya dan Beng San roboh terduduk di atas tanah, menundukkan muka terduduk di atas tanah, menundukkan muka karena merasa masih pening dan nanar kepalanya. Ia meramkan matanya yang menjadi sempit karena pipinya membengkak besar di kanan kiri. Kasihan sekali anak ini, mukanya sampai menjadi seperti buah labu matang.
Tiba-tiba Beng San menggerak-gerakkan kaki tangannya, kulit badannya mungkin lama makin merah sampai seperti udang rebus. Makin merah kulitnya makin tidak karuan tingkahnya, berkelojotan seperti ular disiram air panas.
“Panas……… panas………..!” akhirnya tak tertahankan juga mulutnya tak pernah mengaduh, hanya bilang “panas…… panas…. berkali-kali. Kulit badannya menjadi merah tua hampir hitam dan dari tubuhnya tampak uap tipis seakan-akan seluruh air di tubuhnya sudah mendidih. Tubuh Beng San melompat ke sana ke mari seperti orang gila, menabrak pohon terjungkal, berdiri lagi, terhuyung-huyung, dan merangkak-rangkak sampai menabrak pohon lagi. Kemudian dia melompat berdiri dan lari!
“Heh-heh-heh, hendak kulihat sampai berapa lama kau dapat bertahan.” Siok Tin Cu juga berlari mengikuti anak yang sedang gila kepanasan itu, meninggalkan kudanya yang diikat pada sebatang pohon. Tidak jauh Beng San berlari karena belum juga dua li, ia menabrak pohon lagi dan terguling, tak dapat bangun lagi hanya berkelojoran dan bergulingan.
Siok Tin Cu berlutut dan memeriksa dengan teliti. Diurut dan diperiksanya seluruh bagian tubuh Beng San yang sudah tak berdaya lagi itu, mulutnya tiada hentinya memuji.
“Hemmm, tubuhnya berisi penuh hawa panas mujijat. Inilah inti sari hawa yang kalau dapat dipelihara dan disalurkan dengan kekuatan Iweekang akan menjadi semacam yang-kang istimewa, kuat dan panas, Bagus sekali! Hendak kulihat apa yang dirusaknya.” Ia memeriksa perut dan dada Beng San.
“Hemmm, hemmmmm …… berbahaya sekali, isi perut melepuh semua, paru-paru penuh hawa panas menguap, jantung mengeriput…… kalau anak ini tidak kosong perutnya, tidak penuh hawa murni tubuhnya dan tidak bersih tulang-tulangnya, ia sudah akan mampus dari tadi. Dengan Iweekang di tubuhku, apakah aku akan dapat menahan hawa panas seperti ini……? Hemmm, berbahaya sekali……” Tosu ini saking asyiknya memeriksa sampai tidak tahu dan tidak terasa bahwa kantong terlepas dan terjatuh. Ketika tubuh Beng San bergerak-gerak, tanpa disengaja kantong obat itu tertindih oleh tubuh anak itu dan tidak kelihatan dari atas.
“Hemmm…….., berbahaya sekali akibatnya, Apa kiranya aku akan kuat?” Tosu itu berdiri dan termenung. Ia ngeri akan akibatnya kalau sampai dirinya kemasukan obat kuat itu dan akhirnya ia tidak dapat menahan. Tanpa terasa digerayangnya pinggangnya dan ia kaget karena tidak mendapatkan kantong obat disitu. Bingung ia mencari, tetapi sia – sia saja. Ia mengingat-ngingat, tak salah lagi, tadi ia mengambil sebuah pil dari kantong obat yang segera dikantongkan kembali ke pinggangnya. Jangan- jangan ketinggalan diatas pelana kuda, pikirnya. Cepat ia berlari meninggalkan Beng San dan berlari ke tempat di mana dia tadi meninggalkan kudanya. Di sini mencari-cari ke sana kemari, membuka-buka rumput dan alang-alang disekitarnya, membongkar semua bekal dari atas sela kuda.
Sementara itu, Beng San masih berkelojotan. “Panas……., lapar….., panas…..,lapar…….,”katanya. Tangannya menggerayang-geranyang, ia mencoba membuka matanya, akan tetapi begitu dibuka air matanya bercucuran saking panas dan perihnya. Tiba-tiba tangannya yang menggerayang itu dapat menangkap sebuah kantong kecil. Kedua tangan itu menarik dan sekali tarik saja kantong itu hancur dan dua butir pel dipegangnya. Karena pikiran Beng San sudah hampir tak dapat dipergunakan lagi saking hebatnya penderitaannya, dua butir pil itu segera dimasukkan kemulutnya terus ditelan habis!
Pada saat itu , terdengar orang bernyanyi-nyanyi kecil, nyanyian kanak-kanak,ketika tiba di tempat itu, ternyata bahwa yang bernyanyi adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi besar akan tetapi mukanya yang hitam itu sama sekali tidak berkumis atau berjenggot, licin seperti muka kanak-kanak. Matanya juga bersinar bodoh dan jujur seperti mata kanak-kanak pula biarpun usianya sudah sudah empatpuluh tahun. Yang lucu adalah pakaiannya, berkembang-kembang dan malahan sepatunya juga sepatu berkembang seperti yang biasa dipakai wanita. Pendeknya, seorang aneh yang mempunyai sifat kanak-kanak berpakaian seperti permpuan dan

Pantasnya hanya orang edan saja yang berkeadaan seperti dia ini. Ia berhenti menyanyi dan berdiri memandang Beng San yang masih bergulingan.
Setelah Beng San menelan pil yang dua butir itu ia seperti cacing terkena abu panas. Berguling ke sana, menggelundung ke sini, berkelojotan dan mulutnya berbusa.
“Ha-ha-ho-ho-hoh, kau main menjadi trenggiling?” Orang yang baru datang itu dengan muka girang lalu rebah pula dan bergulingan, berkelojotan seperti Beng San sambil tertawa-tawa senagn sekali.
“Hayo kita balapan, siapa lebih cepat menggelinding!” katanya mengajak Beng San main balapan. Tentu saja Beng san yang tidak sadar itu semua sekali tidak memperdulikan.
“Eh, kau tidak mau balapan? Kurang ajar kau, diajak bicara diam saja!” Orang itu melonpat bangun dan mendekati Beng san Ia melihat kedua mata Bang san. Ia melihat kedua mata Beng San yang sipit karena mukanya berbusa.
“Eh-eh-eh, setan. Kau malah mengejek?” orang itu marah-marah, megira bahwa Beng San yang sudah sekarat itu mengejeknya. ” Kutendang kau.” Orang tua itu menendang perlahan. Tanpa disengaja ia menendang jalan darah thi-thait-to dipunggung Beng San bocah ini sedang menderita, tubuhnya seakan-akan hendak meletus karena penuh hawa yang, seakan-akan terbuka jalan darahnya kena tendangan itu tiba-tiba ia melompot keatas, tinggi sekali dan tanpa disadarinya pula tangan kananya menampar kepada orang itu.
“Plak!” sehabis menampar ia bergulingan pula. Yang hebat adalah orang aneh itu yang kena tampar. Tubuhnya terlempar dan roboh berguling-guling sambil mengaduh-ngaduh. Ternyata orang itu lihai bukan main. Tamparan yang dilakukan oleh anak tadi, biarpun tidak disengaja namun penuh dengan dengan tenaga yang dan kiranya akan menhancurkan kepala seorang biasa. Namun orang aneh itu hanya terguling-guling dan cepat bangun lagi. Ia marah sekali.
“Eh, Setan, Eh Iblis, kau mengajak berkelahi? Datang-datang mengirim pukulan maut, ya? Berani kau main-main dengan Koai Atong!” Cepat seperti orang main sulap, tahu-tahu di tangan kanan ini sudah terdapat sebuah panah berwarna hijau. Ia maju menubruk Beng San yang sedang bergulingan, tangan kirinya memukul dengan telapak tangan terbuka, sedangkan tangan kanan menggunakan anak panah tadi untuk menusuk.

Dengan tepat tangan kiri Koai Atong memukul dada Beng San sedangkan ujung anak panah itu menancap di pundaknya. Melihat lawannya sama sekali tidak mengelak lawannya sama sekali tidak mengelak atau menangkis, Koai Atong kaget sekali dan cepat sekali kembali anak panahnya. Hebat! Beng San yang terkena pukulan dan terluka anak panah, seketika berhenti bergerak hanya dari mulutnya terdengar bunyi mendesis seperti seekor ular mengamuk, mukanya yang tadi merah menghitam berlahan-lahan berubah menjadi hijau, juga seluruh tubuhnya berubah menjdi kehijauan! Desis pada mulutnya tidak lama, segera terhenti seperti bola kempis kehabisan angin.
“Mati….., celaka…….. aku bunuh orang yang tak melawan dengan pukulan Jing-tok-ciang (Tangan racun Hijau)!” setelah berkata demikian , orang aneh itu cepat berlari meninggalkan tempat itu, larinya bukan main cepatnya seperti terbang saja.
Orang aneh yang bernama Koai Atong ini sesungguhnya bukan orang biasa. Biarpun seperti kanak-kanak dan pakaiannya seperti orang gila, namun justeru keanehannya itu maka ia disebut Koai Atong (Anak Setan). Dia ini adalah murid tunggal dari Ban-tok-sim Giam Kong (Hati selaksa Racun), seorang hwesio dari barat yang berasal dari Tibet. Nama besar Giam Kong ini terkenal diseluruh dunia kang-ouw sebagai seorang tokoh yang amat ditakuti orang. Juga nama murid tunggalnya ini cukup membikin menkeret nyali banyak ahli silat karena kehebatannya, yang paling ditakuti dari dua orang tokoh guru dan murid ini adalah ilmu pukulan mereka yang berdasarkan tenaga Im yang disebut Jing-tok-ciang.Ilmu pukulan racun hijau ini amat dasyat, mengundang sari tenaga Im yang paling dalam sehingga jangankan pukulannya, baru hawa pukulannya saja sudah cukup mendatangkan racun yang akan mematikan orang yang tersambarnya. Sebagai seorang tokoh besar yang tinggi ilmu silatnya. Giam kong memesan kepada muridnya yang ketolol-tololan itu agar tidak sembarangan mempergunakan Jing-Tok-ciang, apalagi mempergunakan senjata anak panah yang ujungnya sudah dimasak dalam racun hijau, kalau tidak amat terpaksa atau menghadapi musuh berat. Oleh karena inilah maka Koai Atong tadi ketakutan melihat akibat pukulannya, ditambah tusukan anak panah terhadap diri Beng San dan serangannya tadi hanya terdorong oleh kemarahan karena ia dipukul secara hebat. Disangkanya bahwa Beng San yang kecil itu memiliki kepandaian tinggi, maka begitu menyerang ia mempergunakan pukulan maut dan anak panahnya. Maklum, jalan pikiran Koai Atong memang masih seperti kanak-kanak maka ia tidak berpikir panjang.

Siok Tin Cu bingung sekali ketika dia mencari-cari di tempat dia meninggalkan kudanya tetap tak dapat menemukan kantong obatnya. Dia menuntun kudanya kembali ke tempat Beng San. Alangkah kagetnya ketika dia melihat anak itusudah tidak bergerak-gerak, terlentang diatas tanah dengan muka dan tubuhnya berwarna hijau! Dia terheran-heran, melepaskan kudanya dan didekatinya anak itu, setelah memriksa sejenak ia mengeluarkan seruan keget!
“Ayaaaaa…..! kenapa anak ini bisa mati seperti itu??” ia benar-benar kaget sekali dan berkali-kali menggeleng-gelengkan kepalanya. Pengaruh obatnya adalah tenaga yang, andaikata anak ini mati karena obat itu tentu tubuhnya hangus, kenapa sekarang tubuh anak ini seperti orang mati kedinginan?
Siok Tin Cu berbidik ngeri. Untung ia mencoba obatnya itu kepada anak tak terkenal ini. Kalau ia sendiri yang menelannya. Alangkah ngerinya.
“Aku telah keliru membuatnya……… pikirnya,” harus segera kulaporkan kepada kauwcu……” karena melihat akibat obatnya begini mengerikan ia tidak begitu kecewa lagi kehilangan dua butir pilnya. Kalau yang sebuah begini berbahaya, yang dua lain lagi juga tidak akan ada gunanya. Biarlah kalau ditemu orang lain dan ditelan, paling-paling orang yang menelannya akan mati seperti bocah ini. Agak ngeri oleh akibat perbuatannya sendiri, tergesa-gesa tosu itu menaiki kudanya dan membalapkan kuda kurus itu pergi dari situ, meninggalkan tubuh Beng San yang menggeletak di tengah hutan.

“Hong-Ji, kau hati-hatilah. Hutan itu lebat, mungkin banyak harimaunya.
Jawabannya hanya suara ketawa nyaring seorang anak perempuan berusia delapan sembilan tahun yang amat lincah berlari-lari cepat memasuki hutan lebat. Yang menegur juga tersenyum, senyum, senyum kecil yang untuk sejenak menerangi wajahnya suram muram. Dia seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, berwajah tampan dan gagah, akan tetapi wajah ini suram-suram nampak tidak ada cahaya kegembiraan hidup, tampan ini menjadi gelap dan muram semenjak ia ditinggal mati isterinya yang tercinta tiga tahun yang lalu, meninggalkan dia hidup berdua saja dengan anak tunggalnya yang bernama Hong.
Kwa Tin Siong adalah seorang jago pedang murid tertua dari Hoa-san-ciang-bunjin (ketua Hoa-san-pai) Lian Bu Tojin, namanya di dunia kang ouw cukup terkenal sebagai seorang paling tua daripada Hoa-san Sie-eng (Empat Pendekar Hoa-san), tidak hanya terkenal karena memang empat orang pendekar Hoa-san ini berkepandaian tinggi, namun lebih terkenal karena perbuatan mereka yang selalu menjunjung tinggi keadilan dan kegagahan. Terkenal sebagai pelindung penjahat-penjahat keji.
Liang Bu Tojin, tosu ketua Hoa san pai sudah berusia enam puluh tahun lebih dan tosa ini biarpun memiliki banyak anak murid, namun kepandaian istimewanya, yakin pedang Hoa-san Kiam-hoat, hanya diturunkan seluruhnya kepada empat orang muridnya yang terkenal sebagai Hoa-san ini yang tertua adalah Kwa Tin Siong bergelar Hoa-san-it-kian (Pedang Tunggal Hoa-san). Orang ke dua adalah Thio Wan It berjuluk Bu-eng-kiam (Pedang Tanpa Bayangan) Orang ke tiga bernama Kui Keng berjuluk Toat-beng kiam (Pedang Pencabut Nyawa) sedangkan orang keempat adalah seorang gadis berusia duapuluh tahun bernama Liam Sian Hwa dengan julukan Kiam-eng-cu (Bayangan Pedang) Kwa Tin Siong sudah berusia empat puluh tahun dan sudah menjadi duda, dua orang sutenya, yaitu Thio Wan it berusia tiga puluh lima dan Kui Keng tiga puluh tahun, keduanya sudah berkeluarga pula. Hanya orang keempat dari Hoa-san Sie-eng, yaitu Liem Sian Hwa, belum berkeluarga, masih gadis berusia dua puluh tahun akan tetapi telah menjadi tunangan Kwee Sin seorang termuda dari tiga pendekar Kun-lun.
Kwa Tin Siong amat dihormat dan disegani adik-adik seperguruannya karena pandangannya yang luas dan sikapnya yang serius. Ia gagah, jujur, dan menjadi pengikut pelajaran-pelajaran filsafat Khong-cu yang setia. Sebaliknya, anak perempuannya Kwa Tin Siong, anaknya ini merupakan matahari hidupnya dan hanya anak inilah yang kadang-kadang dapat memancing senyum di wajahnya yang selalu muram dan sungguh-sungguh.
Kwa Tin Siong terpaksa mengeprak kudanya untuk berjalan lebih cepat memasuki hutan lebat itu. Tadinya Kwa Hong membonceng di depannya, akan tetapi anak itu tiap kali merasa bosan naik kuda, pasti meloncat turun dan berlari-larian cepat. Ia tidak akan merasa khawatir akan diri anaknya, karena sungguhpun baru berusia delapan sembilan tahun, Kwa Hong telah memiliki kepandaian silat yang lumayan. Semenjak anak itu bisa berjalan,ia sudah mendidiknya sehingga sekarang Kwa Hong memiliki gerakan yang cepat dan lincah, juga mempunyai ilmu menjaga diri yang cukup mempunyai ilmu menjaga diri yang cukup kuat.
“Hong-ji (anak Hong),jangan terlalu cepat, kau nanti sesat jalan!” kembali anaknya berkelebat memasuki bagian yang gelap dari hutan besar itu.Ia memajukan kudanya dan tiba-tiba kudanya mengeluarkan bunyi ringkik keras lalu berdiri diatas kedua kaki belakangnya, hidungnya mendesis-desis nampak ketakutan sekali,
Kwa Tin Siong berlaku waspada ,maklum bahwa ada binatang buas ditempat itu. Karena sukar untuk menenangkan kudanya,ia cepat meloncat turun dan mengikatkan kendali kuda pada sebatang pohon.Tiba-tiba kudanya meronta keras, kendali putus dan kudanya lari tunggang langgang, hampir pada saat itu, terdengar bunyi berkeresekan dari atas dan seekor ular besar yang melilitkan ekornya pada batang pohon diatas, menyambarkan kepalanya ke arah Tin Siong.
Tidak percuma Kwa Tin Siong menjadi orang tertua dari Hoa-san sie-eng. Biarpun matanya belum melihat, telinganya telah menangkap sambaran angin dari atas.cepat sekali kakinya bergerak dan ia sudah menggelak sambil mencabut pedangnya. Di lain saat padanganya sudah berkelebat membacok ke atas.
Ular itu terluka pedang, darah menetes. Ular itu kesakitan dan marah, cepat ia menyambar lagi bagaikan menubruk ke arah calon mengsanya.
Tin Siong terkesiap kagum menyaksikan ular yang besar sekali dan yang sisiknya nampak kuning sekali kehijauan,berkembang indah dan bersih Hampir ia merasa sayang untuk membunuh ular ini, akan tetapi karena ia berada dalam bahaya, terpaksa ia memapaki datangnya ular dengan sebuah tusukan ke arah leher sambil miringkan tubuh.
“Cesss”! Pedang yang ditusukkan dengan tenaga lweekang itu dapat menembus leher ular yang dilindungi kulit keras, sebelum ular itu sempat menyerang pedang sudah dicabut kembali dan sebuah tabasan yang dilakukan dengan tenaga sepenuhnya membuat leher itu putus! Kepalanya terlempar ke bawah sedangkan ekor yang melilit dahan pohon berlahan-lahan terlepas sehingga akhirnya tubuhnya yang panjang dan besar itu jatuh berdebuk diatas tanah pula.
Tin Siong menarik napas panjang merasa sayang bahwa ular yang seindah itu kulitnya terpaksa harus ia bunuh, Ular kembang macam ini enak dagingnya dan kulitnya akan laku mahal kalau dijual di kota, pikirnya. Ia teringat akan anaknya, dan teringat akan kudanya yang sudah melarikan diri. Anaknya harus dicari lebih dahulu dan dengan pikiran ini pendekar itu lalu lari mengejar ke arah bayangan Kwa Hong tadi berlkelebat.
Sementara itu, Kwa Hong yang berlari-larian gembira telah berada dibagian yang paling gelap di hutan itu. Memang anak ini semenjak kecil paling senang kalau bermain-main didalam hutan.Semenjak kecil berdiam bersama ayahnya di hoa-san dan hutan besar boleh dibilang adalah tempat ia bermain-main. Akhir-akhir ini ketika ayahnya mengajak ia turun gunung, ia seringkali rindu kepada hutan-hutan besar, rindu kepada binatang-binatang hutan yang amat disayanginya, maka sekarang melihat hutan, tentu saja ia seperti seekor burung, gembira sekali hatinya.
Saking gembiranya ia sampai lupa diri dan lupa bahwa jauh meninggalkan ayahnya dan baru terasa lelah kedua kakinya ketika dia duduk di bawah sebatang pohon besar. Sepanjang matanya berseri-seri dan bersinar-sinar, mulutnya yang kecil tertawa-tawa ketika Kwa hong memetik dua tangkai bunga merah dipasangnya diatas kepala di kanan kiri, menghiasi rambutnya yang hitam panjang.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: